Anda di halaman 1dari 25

Makalah

ERGONOMI

Disusun oleh:
Dwi Lisa Nur’aini 04054821820045
Febby Astria 04054821820069
Humairoh Okba Vekos Putri 04054821820070
M. Ali Ridho 04054821820135
Muhammad Ma’ruf Agung 04054821820143

Pembimbing:
dr. Anita Masidin, MS, Sp.OK

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT-


ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Makalah dengan judul:


ERGONOMI

Oleh:
Dwi Lisa Nur’aini 04054821820045
Febby Astria 04054821820069
Humairoh Okba Vekos Putri 04054821820070
M. Ali Ridho 04054821820135
Muhammad Ma’ruf Agung 04054821820143

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat – Ilmu Kedokteran
Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 4 Februari 2019 –
15 April 2019

Palembang, Februari 2019


Pembimbing,

dr. Anita Masidin, MS, Sp.OK


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Ergonomi” sebagai salah satu tugas kepaniteraan klinik di
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat – Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Melalui kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada dr.
Anita Masidin, MS, Sp.OK selaku pembimbing atas bimbingan dan nasihat
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan
demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi berbagai pihak yang turut membaca.

Palembang, Februari 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ..............................................................................................iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Definisi Ergonomi.......................................................................................... 3
2.2 Perkembangan Ergonomi ............................................................................... 3
2.3 Konsep Ergonomi .......................................................................................... 4
2.4 Tujuaan Ergonomi ......................................................................................... 5
2.5 Manfaat Penerapan Egronomi di Tempat Kerja ............................................ 6
2.6 Ruang Lingkup Egronomi ............................................................................. 6
2.7 Prinsip-Prinsip Egronomi .............................................................................. 7
2.8 Metode Egronomi .......................................................................................... 7
2.9 Upaya penanggulangan Kelelahan................................................................. 8
2.10 Egronomik Fisik .......................................................................................... 9
2.11 Egronomik Kognitif .................................................................................... 11
2.12 Egronomik Organisasi ................................................................................ 13
2.13 Egronomik Lingkungan .............................................................................. 13
2.14 Contoh Ergonomi ........................................................................................ 16
2.15 Masalah Akibat Lingkungan Kerja yang Tidak Ergonomi ........................ 18

BAB III KESIMPULAN .................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 22

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, sehingga peralatan sudah


menjadi kebutuhan pokok pada lapangan pekerjaan, artinya peralatan dan
teknologi merupakan salah satu penunjang yang penting dalam upaya
meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu, akan
terjadi dampak negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial
yang mungkin akan timbul (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI,
2010).

Hal ini tentunya dapat di cegah dengan adanya antisipasi berbagai risiko,
antara lain kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat
menyebkan kecacataan dan kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua
pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja.
Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomi (Pusat Kesehatan Kerja
Departemen Kesehatan RI, 2010).

Dalam dunia kerja terdapat Undang-Undang yang mengatur tentang


ketenagakerjaan yaitu Undang-Undang No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan-
ketentuan pokok tenaga kerja merupakan subjek dan objek pembangunan.
Ergonomi yang bersasaran akhir efisiensi dan keserasian kerja memiliki arti
penting bagi tenaga kerja, baik sebagai subjek maupun objek. Akan tetapi sering
kali suatu tempat kerja mengesampingkan aspek ergonomi bagi para pekerjanya,
hal ini tentunya sangat merugikan perusahaan dan para pekerja itu sendiri (Pusat
Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010).

Pada umumnya ergonomi belum diterapkan secara merata pada sektor


kegiatan ekonomi. Gagasannya telah lama disebarluaskan sebagai unsur hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes), tetapi sampai saat ini kegiatan-
kegiatan baru sampai pada taraf pengenalan, khususnya pada pihak yang

1
bersangkutan, sedangkan penerapannya baru pada tingkat perintisan. Fungsi
pembinaan ergonomi secara teknis merupakan tugas pemerintah. Pusat Bina
Hiperkes dan Keselamatan Kerja memiliki fungsi pembinaan ini melalui
pembinaan keahlian dan pengembangan penerapannya (Manuaba, 2000).

Namun begitu, sampai saat ini pengembangan kegiatan-kegiatannya baru


diselenggarakan dan masih menunggu kesiapan masyarakat untuk menerima
ergonomi dan penerapannya. Dalam hal menunggu kesiapan tersebut maka perlu
pemberitahuan kepada masyarakat itu sendiri mengenai ergonomi ini. Salah satu
cara dalam pemberitahuan tersebut adalah melalui tulisan-tulisan formal maupun
informal, dimana salah satunya adalah melalui pembuatan makalah. Oleh karena
itu, penulis merasa perlu untuk membuat makalah yang berjudul ergonomi di
tempat kerja.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Ergonomi


Ergonomi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Ergon dan Nomos. Ergon
memiliki arti kerja dan Nomos memiliki arti hukum; jadi pengertian Ergonomik itu
sendiri secara garis besar adalah “Studi tentang manusia untuk menciptakan system
kerja yang lebih sehat, aman dan nyaman” (Arif, 2009).
Menurut Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan Kerja RI, ergonomic
adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan
mereka. Definisi lain menyebutkan bahwa ergonomic adalah sebuah ilmu untuk
“fitting the job to the worker”, sementara itu ILO antara lain menyatakan, ergonomic
adalah ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi
pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal
selain meningkatkan produktivitasnya.
Definisi ergonomi yang dikemukakan Chapanis (1986), yaitu ilmu untuk
menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia,
kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang
peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan
produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.

2.2 Perkembangan Ergonomi


Perkembang ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai
judul buku yang dikarang oleh Prof. K. F. H. Murrel (1949). Sedangkan kata
ergonomi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu ergon (kerja) dan nomos
(aturan/prinsip/kaidah). Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika
Serikat dikenal istilah human factor atau human engineering. Kedua istilah tersebut
(ergonomic dan human factor) hanya berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata
tersebut sama-sama menekankan pada performansi dan perilaku manusia.
Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak
4000 tahun yang lalu (Dan Mac Leod, 1999). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai
saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan
dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada

3
alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan
tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara
kebetulan.
Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu
pada saat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah melakukan studi
tentang waktu dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata dimulai pada Perang
Dunia I untuk mengoptimasikan interaksi antara produk dengan manusia. Pada tahun
1924 sampai 1930 Hawthorne Works of Wertern Electric (Amerika) melakukan suatu
percobaan tentang ergonomi yang selanjutnya dikenal dengan “Hawthorne Effects”
(Efek Hawthorne). Hasil percobaan ini memberikan konsep baru tentang motivasi
ditempat kerja dan menunjukan hubungan fisik dan langsung antara manusia dan
mesin. Kemajuan ergonomi semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya
bukti nyata bahwa penggunaan peralatan yang sesuai dapat meningkatkan kemauan
manusia untuk bekerja lebih efektif. Hal tersebut banyak dilakukan pada perusahaan-
perusahaan senjata perang.

2.3 Konsep Ergonomi


Pusat dari ergonomi adalah manusia. Konsep ergonomi adalah berdasarkan
kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha
untuk mencegah cidera, meningkatkan produktivitas, efisiensi dan kenyamanan
dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja, pekerjaan dan manusia yang terlibat
dengan pekerjaan tersebut.
Menurut Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan Kerja RI, upaya
ergonomic antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi
tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar
sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.
Konsep ergonomi serta keselamatan kesehatan kerja merupakan konsep
penting untuk diterapkan dalam suatu industri, khususnya dalam perancangan stasiun
kerjanya. Kecenderungan yang ada saat ini adalah, pada industri skala kecil
menengah. Konsep tersebut kurang begitu diperhatikan, sehingga dapat menimbulkan
resiko kerja baik dari segi bahaya kondisi lingkungan fisik, sikap dan cara kerja
(Laksmiwaty, 2009).

4
Ergonimi dapat dijabarkan dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai
ergonomi (Mc Coinick 1993) yang dikutip dalam Sucipto (2014), disebutkan sebagai
berikut:
a. Secara fokus
Ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk,
peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan
bekerja.
b. Secara tujuan
Tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja
serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja,
pengurangan rasa lelah dan sebagainya.
c. Secara pendekatan
Pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-
keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk
merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari.

2.4 Tujuan Ergonomi


Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari yang
sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan ergonomi akan
dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta dapat
menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman dan sehat
(Nurmianto, 2003)
Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah: (Nurmianto, 2003)
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan
cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial,
mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan
sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis,
ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga
tercipta kualitas kerja dan hidup yang tinggi.

5
2.5 Manfaat Penerapan Egronomi di Tempat Kerja
Manfaat dari penerapan ergonomik adalah sebagai berikut :
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
2. Menurunnya kecelakaan kerja.
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
4. Stress akibat kerja berkurang.
5. Produktivitas membaik.
6. Alur kerja bertambah baik.
7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
8. Kepuasan kerja meningkat

2.6 Ruang Lingkup Egronomi


Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi:
1. Teknik
2. Fisik, berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri, karakteristik
fisiologi dan biomekanika yang berhubungan dnegan aktifitas fisik. Topik-topik
yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain: postur kerja, pemindahan
material, gerakan berulan-ulang, MSD, tata letak tempat kerja, keselamatan dan
kesehatan.
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan
persendian
5. Sosiologi
6. Fisiologi, kaitanya dengan temperature tubuh, oxygen up take, dan aktifitas otot
7. Desain
8. Ergonomi Kognitif: berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di
dalamnya: persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia
terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi
kognitif antara lain: beban kerja, pengambilan keputusan, performance, human-
computer interaction, keandalan manusia, dan stres kerja.
9. Ergonomi Organisasi, berkaitan dengan optimasi sistem sosioleknik, termasuk
sturktur organisasi, kebijakan dan proses. Topik-topik yang relevan dalam
ergonomi organisasi antara lain: komunikasi, perancangan kerja, perancangan

6
waktu kerja, timwork, perancangan partisipasi, komunitas ergonomi, kultur
organisasi, organisasi virtual, dll.
10. Ergonomi Lingkungan, berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan,
dan getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi lingkungan antara lain:
perancangan ruang kerja, sistem akustik,dll.

2.7 Prinsip – prinsip Ergonomi


Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau
pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan
dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip
ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja, menurut
Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi yaitu:
a. Bekerja dalam posisi atau postur normal;
b. Mengurangi beban berlebihan;
c. Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan;
d. Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh;
e. Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan;
f. Minimalisasi gerakan statis;
g. Minimalisasikan titik beban;
h. Mencakup jarak ruang;
i. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman;
j. Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja;
k. Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti;
l. Mengurangi stres.

2.8 Metode-Metode Ergonomi

a. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi


tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan
pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari
yang sederhana sampai kompleks (Nurmianto, 2003).

b. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada


saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak

7
pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi
fisik pekerja (Nurmianto, 2003).

c. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya


dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku,
keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter
produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain (Nurmianto,
2003).

2.9 Upaya penanggulangan Kelelahan

Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang


mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi
kelelahan yang tidak seharusnya terjadi : (Manuaba, 2000; Nurmianto, 2003)

a. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi harus
memadai dan tidak ada gangguan bising,

b. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat
makan siang.,

c. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor,

d. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus,

e. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau
memungkinkan,

f. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat


kerja,

g. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja,

h. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja,

i. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;

- Pekerja remaja dan usia tua

- Wanita hamil dan menyusui

- Pekerja shift

- Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan atau zat
addiktif lainnya perlu diawasi

8
2.10 Ergonomi Fisik
Ergonomi fisik membahas mengenai antropometri, lingkungan fisik di tempat
kerja, dan biomekanik. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain:
posisi tubuh (duduk, berdiri), posisi tubuh pada saat mengangkat, menjinjing beban.
a. Antropometri dan aplikasinya dalam ergonomi
Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan
ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil
diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:
 Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain- lain)
 Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools)
 Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer
dan lain-lain.
 Perancangan lingkungan kerja fisik.
Data ini akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang
berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan
atau menggunakan produk tersebut.
Antropometri merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang berhubungan
dengan dimensi tubuh manusia yang meliputi bentuk, ukuran dan kekuatan dan
penerapannya untuk kebutuhan perancangan fasilitas aktivitas manusia. Data
antropometri sangat diperlukan untuk perancangan peralatan dan lingkungan kerja.
Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan
ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan
mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa lelah, nyeri, pusing.
b. Pertimbangan desain antropometri dan faktor manusia
 Setiap manusia mempunyai bentuk yang berbeda - beda, seperti : Tinggi-
Pendek, Kurus-Gemuk, Tua-Muda, Normal-Cacat,
 Manusia mempunyai keterbatasan Fisik, Contoh: Letak tombol
operasional / kontrol panel yang tidak sesuai dengan bentuk tubuk
menyebabkan terjadinya sikap paksa / salah operasional.
Cara penggunaan antropometri dalam ergonomi fisik adalah dapat digunakan
untuk memperkirakan posisi tubuh yang baik dalam bekerja. Pengukuran dimensi
struktur tubuh (pengukuran dalam dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak
seperti berat, tinggi saat duduk/berdiri, ukuran kepala, tinggi, panjang lutut saat

9
berdiri/duduk, panjang lengan. Hal ini dapat dilakukan dengan tujuan mencegah
terjadinya fatigue/ kelelahan pada pekerja pada saat melakukan pekerjaannya.
c. Pedoman yang mengatur ketinggian landasan kerja pada posisi duduk perlu
pertimbangan sebagai berikut:
 Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama.
 Jika memungkinkan menyediakan meja yang dapat diatur turun dan naik.
 Ketinggian landasan dan tidak memerlukan fleksi tulang belakang yang
berlebihan.
 Landasan kerja harus memungkinkan lengan menggantung pada posisi rileks
dari bahu, dengan lengan bawah mendekati posisi horizontal atau sedikit
menurun.
d. Pedoman Kerja Posisi Berdiri
Kerja posisi berdiri lebih melelahkan dari pada posisi duduk dan energi yang
dikeluarkan lebih banyak 10% - 15% dibandingkan posisi duduk.
Ketinggian landasan kerja posisi berdiri sbb :
• Pekerjaan dengan ketelitian, tinggi landasan adalah 5 - 10 cm di atas tinggi siku
berdiri.
• Pekerjaan ringan, tinggi landasan adalah 10-15 cm di bawah tinggi siku berdiri.
• Pekerjaan dengan penekanan, tinggi landasan adalah 15 - 40 cm di bawah tinggi
siku berdiri.
e. Posisi Duduk - Berdiri mempunyai keuntungan secara Biomekanis dimana tekanan
pada tulang belakang dan pinggang 30% lebih rendah dibandingkan dengan posisi
duduk maupun berdiri terus menerus.
• Kerja suatu saat duduk dan suatu saat berdiri
• Kerja perlu menjangkau sesuatu > 40 cm ke depan atau 15 cm diatas landasan
f. Tinjauan Umum Tentang Mengangkat Beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu,
tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang
punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
 Menjinjing beban
Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb:
 Laki-laki dewasa 40 kg
 Wanita dewasa 15-20 kg

10
 Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
 Wanita (16-18 th) 12-15 kg
g. Metode mengangkat beban
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetic dari
Pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip:
 Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
 Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan.
Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :
• Posisi kaki yang benar
• Punggung harus kuat
• Posisi lengan dekat dengan tubuh
• Mengangkat dengan benar
• Menggunakan berat badan

2.11 Ergonomi Kognitif


Secara spesifik membahas tentang hubungan display dan kontrol. Topik-topik yang
relevan dalam ergonomi kognitif antara lain ; beban kerja, pengambilan keputusan,

dan stres kerja. 


a. Beban Kerja
Analisis beban kerja merupakan salah satu sub bagian dalam melakukan
perancangan kerja. Beban kerja harus dianalisa agar sesuai dengan kemampuan dari
pekerja itu sendiri. Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus
dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi “permintaan” dari pekerjaan tersebut.
Sedangkan Kapasitas adalah kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat
diukur dari kondisi fisik maupun mental seseorang.
Seperti halnya mesin,jika beban yang diterima melebihi kapasitasnya, maka
akan menurunkan usia pakai mesin tersebut, bahkan menjadi rusak. Begitu pula
manusia, jika ia diberikan beban kerja yang berlebihan, maka akan menurunkan
kualitas hidup (kelelahan, dsb) dan kualitas kerja orang tersebut (tingginya error rate
dan sebagainya), dan juga dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja.
Analisis Beban Kerja ini banyak digunakan diantaranya dapat digunakan
dalam penentuan kebutuhan pekerja (man power planning); analisis ergonomi;
analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); hingga ke perencanaan penggajian,

11
dan sebagainya.
Perhitungan Beban kerja setidaknya dapat dilihat dari 3 aspek, yakni fisik,
mental, dan penggunaan waktu. Aspek fisik meliputi perhitungan beban kerja
berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia. Aspek mental merupakan perhitungan
beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis). Sedangkan
pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk
bekerja.
Secara umum, beban kerja fisik dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi fisiologis
dan biomekanika. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi
tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dll. Sedangkan biomekanika
lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti
kekuatan otot, dan sebagainya.
Perhitungan beban kerja berdasarkan pemanfaatan waktu bisa dibedakan
antara pekerjaan berulang (repetitif) atau pekerjaan yang tidak berulang (non-
repetitif). Pekerjaan repetitif biasanya terjadi pada pekerjaan dengan siklus pekerjaan
yang pendek dan berulang pada waktu yang relatif sama. Contohnya adalah operator
mesin di pabrik-pabrik. Sedangkan pekerjaan non-repetitif mempunyai pola yang
relatif “tidak menentu”. Seperti pekerjaan administratif, tata usaha, sekretaris, dan
pegawai-pegawai kantor pada umumnya.

b. Pengambilan Keputusan
Merupakan suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang
membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang
tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final.
Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap pilihan.
Dihubungkan dengan ergonomi kognitif, pekerja akan berpikir terlebih dahulu untuk
melakukan suatu pekerjaan. Dalam mengambil suatu keputusan untuk menerima
pekerjaan atau beban kerja, pekerja akan menimbang untung dan ruginya, begitu juga
dengan perusahaan. Didalam memberi keputusan terhadap suatu pekerjaan, akan
melihat aspek lainnya.

2.12 Ergonomi Organisasi


Dalam ergonomi ini bisa dilihat mengenai komunikasi di dalam lingkungan
pekerjaan, perancangan waktu kerja, organisasi diperusahaan yang membuat pekerja

12
merasa nyaman dalam bekerja.

2.13 Ergonomi Lingkungan


Ergonomi lingkungan : berkaitan dengan pencahayaan, udara ruangan, kebisingan,
dan getaran.
a. Pencahayaan.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam iluminasi ialah kadar (intensitas)
cahaya, distribusi cahaya, dan sinar yang menyilaukan.
 Kadar Cahaya : untuk pekerjaan tertentu diperlukan kadar cahaya tertentu
sebagai penerangan. Pekerjaan yang memerlukan kejelian dan ketelitian
seperti memperbaiki jam tangan menuntut kadar cahaya yang lebih tinggi. 

 Distribusi Cahaya : pengaturan yang ideal adalah jika cahaya dapat
didistribusikan secara merata pada keseluruhan lapangan visual. Memberikan
cahaya penerangan pada suatu daerah kerja yang lebih tinggi kadar cahayanya
daripada daerah yang mengelilinginya akan menimbulkan kelelahan mata
setelah jangka waktu tertentu.
 Sinar yang Menyilaukan : silau menimbulkan peningkatan kesalahan dalam
kerja rinci selama 20 menit. Selain ketegangan mata, silau juga dapat
mengaburkan pandangan. Hal-hal yang harus diperhatikan agar silau di tempat
kerja dapat dihindari, antara lain:
 Jangan ada sumber cahaya yang ditempatkan pada bidang visual dari operator.
 Sumber sinar yang tidak tersaring jangan dipakai di ruang kerja
 Penyaringan harus sedemikian rupa sehingga rata-rata terangnya tidak
melebihi 0.3 Sb (umum) dan 0.2 Sb (ruang kerja)
a. Sudut antara garis pandang horizontal dengan garis penghubung antara
mata dan sumber cahaya harus lebih dari 30 derjat.
b. Jika sudut kurang dari 30 derajat lampu harus disaring dan jika memakai
lampu pendar, arah tabung harus menyilang garis pandang
c. Untuk menghindari silau karena pantulan, tempat kerja harus diletakkan
sedemikian rupa hingga garis pandang yang paling sering dipakai jangan
berhimpit dengan cahaya yang terpantul dan area pantulan dengan kontras
yang melebihi 1 : 10 jangan sampai terjadi pada bidang visual
d. Pemakaian perabot, mesin, papan wesel, dan perkakas kerja yang

13
berkilauan hendaknya dihindari.

b. Udara Ruangan
Penyehatan udara ruang adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan kelembaban, debu,
pertukaran udara, bahan pencemar dan mikroba di ruang kerja memenuhi persyaratan
kesehatan.
1. Suhu
Dua faktor yang memiliki pengaruh yang besar terhadap suhu di tempat kerja adalah
sifat kerja yang dilakukan dan lamanya karyawan mengalami suhu ekstrem itu. Pada
pekerjaan mental dan kognitif subjek yang bekerja dibawah pengaruh suhu tinggi yang
berkepanjangan membuat lebih banyak kesalahn dibandingkan dengan subjek yang
berada di bawah suhu yang lebih rendah. Akan tetapi pada pekerjaan manual biasanya
akan lebih terpengaruh oleh suhu yang sangat dingin, namun bila pekerjaan manual
sangat berat, kebanyakan orang kelihatannya lebih efisien dan lebih nyaman dengan
suhu dibawah suhu yang mana bisanya tugas kognitif bisanya dilaksanakan secara
efektif. Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
upaya- upaya sebagai berikut:
2. Debu
Agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja perkantoran memenuhi
persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upaya upaya sebagai berikut :
 Kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada pagi dan
sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau pompa hampa
(vacuum pump).
 Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 kali/tahun dan dicat
ulang 1 kali setahun.
 Sistem ventilasi yang memenuhi syarat.
c. Desain Ruang Kerja
Ruang kerja yang baik adalah ruang kerja yang nyaman dan memenuhi
persyaratan ergonomi. Desain yang baik untuk ruang kerja yang paling banyak
digunakan adalah model terbuka dengan penyekat. Bisa dilihat contohnya
pada gambar dibawah.
Antar pekerja dibatasi oleh dinding pemisah yang tidak terlalu tinggi, sehingga
pekerja masih tetap dapat berinteraksi dengan sesama rekan kerja yang lain. Namun
kekurangan dari bentuk model ruang kerja ini adalah pekerja tidak lagi memiliki
privasi, mengalami gangguan konsentrasi ketika rekan disebelahnya berbicara dengan
14
keras ditelepon.
Tetapi bila dibandingkan dengan ruang kerja model tertutup dimana pekerjanya
diberikan ruangan tersendiri, pekerja akan merasa lebih cepat untuk lelah dan jenuh,
disamping dana dan tempat yang cukup besar dibutuhkan untuk mendukungnya.
Sehingga model ruang kerja cubicle ini lebih banyak digunakan dalam perkantoran
pada saat ini.
Ada beberapa hal yang menjadi faktor sebuah ruang kerja dapat dikatakan
nyaman dan ergonomis, diantarnya adalah:
 Desain dan seluruh perlengkapan yang ada didalamnya disesuaikan dengan
ukuran tubuh pekerjanya .
 Seluruh perlengkapan dan penunjang mudah diatur dan disesuaikan dengan
pekerjanya.
 Ruangan dapat mengakomodir seluruh pekerjanya dan tidak terlalu padat.
Berdasarkan aturan, ruangan untuk pribadi pekerja harus berukuran 2.4 mx 2.4
m to 3.6 m x 3.6 m
 Dinding pemisahnya tidak boleh lebih dari 1.37 meter, sehingga masih bisa
ada kontak antar pekerja.
 Ada jendela untuk masuk cahaya matahari dari luar. Bila dibandingkan dengan
pekerja yang tidak ada akses untuk melihat keadaan diluar, pekerja yang
memiliki akses untuk melihat keluar memiliki efek positif didalam
pekerjaannya
 Tidak banyak mesin-mesin yang dapat menggangu pekerjaan.
 Warna untuk ruang kerja terang dan cerah. Ruang kerja yang diberi cat hitam,
merah, atau warna-warna mencolok lainnya akan membuat pekerja tersebut
akan mengalami stress. Bila dibandingkan dengan ruang kerja yang diberi
warna-warna lembut 
seperti putih, krem akan memberi mood yang baik bagi
pekerja tersebut.
 Partisi yang digunakan terbuat dari bahan yang permanen dan tidak mudah
lepas. Dipasang tidak terlalu tinggi.
 Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
 Bila suhu > 28oC perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner
(AC), kipas angin.
 Bila suhu udara luar < 18OC perlu menggunakan pemanas ruang.

15
2.14 Contoh Kasus Ergonomi
Terdapat beberapa kasus dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Kasus-kasus
tersebut antara lain:
a) Dalam pengukuran performansi atlet. Pengukuran jangkauan ruang yang
dibutuhkan saat kerja. Contohnya: jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif
pada saat bekerja, yang dilakukan dengan berdiri atu duduk.
b) Pengukuran variabilitas kerja. Contohnya: analisis kinematika dan kemampuan
jari-jari tangan dari seseorang juru ketik atau operator komputer.
c) Antropometri dan Aplikasinya dalam Perancangan Fasilitas Kerja
Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan
ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia.
d) Kasus bekerja sambil duduk: Seorang pekerja yang setiap hari menggunakan
komputer dalam bekerja dengan posisi yang tidak nyaman, maka sering kali ia
merasakan keluhan bahwa tubuhnya sering mengalami rasa sakit/nyeri, terutama
pada bagian bahu, pergelangan tangan, dan pinggang.
e) Kasus manual material handling: Kuli panggul di pasar sering sekali mengalami
penyakit herniadan juga low back pain akibat mengangkut beban di
luar recommended weighting limit (RWL).
f) Kasus information ergonomic atau kognitive ergonomic: Operator reaktor sulit
untuk membedakan beraneka macam informasi yang disampaikan
oleh display terutama pada saat situasi darurat/emergency. Hal ini disebabkan
karena informasi tersebut sulit dimengerti oleh operator tersebut. Kejadian yang
serupa sering juga dialami oleh pilot, dimana harus menghadapi
banyak display pada waktu yang bersamaan.
Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda-tanda suatu sistem kerja yang
tidak ergonomik:
 Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan
 Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan
 Pekerja sering melakukan kesalahan (human error)
 Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau
pinggang
 Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja
 Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang

16
 Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau
jongkok
 Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup
 Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan
 Komitmen kerja yang rendah
 Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya
sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan
Dengan ergonomi, sistem-sistem kerja dalam semua lini departemen dirancang
sedemikian rupa memperhatikan variasi pekerja dalam hal kemampuan dan
keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio-teknis) dengan pendekatan human-centered
design (HCD). Konsep evaluasi dan perancangan ergonomi adalah dengan
memastikan bahwa tuntutan beban kerja haruslah dibawah kemampuan rata-rata
pekerja (task demand < work capacity). Dengan inilah diperoleh rancangan sistem
kerja yang produktif, aman, sehat, dan juga nyaman bagi pekerja (Laksmiwaty, 2009).

2.15 Masalah Akibat Lingkungan Kerja yang Tidak Ergonomi

Masalah terbesar yang dihadapi para pekerja setelah melakukan pekerjaannya


adalah kelelahan. Menurut Tarwaka (2014) kelelahan adalah suatu mekanisme
perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi
pemuliham setelah istirahat.

Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja.
Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja
dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (static muscular loading) jika
dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain
Injuries), yaitu nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis
pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive) (Nurmianto, 2003).

Sebab-sebab kelelahan yang utama adalah pekerjaan yang monoton, beban


dan lama kerja terlalu berat, lingkungan pekerjaan, sakit dan gizi yang buruk, dan
kurangnya waktu istirahat (Nurmianto, 2003).

Lamanya pekerja dalam sehari yang baik pada umumnya 6 – 8 jam sisanya
untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam hal lamanya
kerja melebihi ketentuan-ketentuan yang ada, perlu diatur istirahat khusus dengan

17
mengadakan organisasi kerja secara khusus pula.pengaturan kerja demikian bertujuan
agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani serta rohani dapat dipertahankan
(Nurmianto, 2003).

Dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya,
beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut :

a. Kelelahan fisik

Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat


dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat
kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup (Manuaba, 2000).

b. Kelelahan yang patologis

Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-
tiba dan berat gejalanya (Manuaba, 2000).

c. Psikologis dan emotional fatique

Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis


“mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita psikosomatik. Semangat
yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja
(Manuaba, 2000).

Gejala klinis dari kelelahan adalah perasaan lesu, ngantuk, dan pusing, sulit
tidur, kurang atau tidak mampu berkonsentrasi, menurunnya tingkat kewaspadaan,
persepsi yang buruk dan lambat, tidak ada atau berkurangnya keinginan untuk
bekerja, dan menurunnya kesegaran jasmani dan rohani (Manuaba, 2000).
Jika kelelahan yang terjadi sudah dalam batas waktu kronis, maka gejala yang
ditimbulkan adalah meningkatnya ketidaksatbilan jiwa, depresi, dan meningkatnya
sejumlah penyakit fisik (Manuaba, 2000).

Faktor resiko yang terpenting jika kita mengabaikan faktor ergonomi dalam tempat
kerja adalah kita akan mengalami MSDs (musculoskletal disorders). Hal ini terjadi
jika melakukan sesuatu pekerjaan dalam waktu yang lama. Adapun faktor-faktor
kumulatif yang akan menyebabkan MSDs:
e. Gerakan repetitive.
Melakukan gerakan berulang. Bergantung pada berapa kali 
aktifitas itu

18
dilakukan, banyak otot yang terlibat, kecepatan dalam pergerakan atau perpindahan.
Gerakan ini akan menimbulkan ketegangan pada syaraf dan otot yang terakumulatif
dan akan semakin meningkat jika tidak ada gerakan untuk meregangkan.
f. Awkward postur
Sikap tubuh sangat menentukan sekali pada tekanan yang diterima otot pada saat
melakukan suatu aktivitas. Postur ini meliputi reaching, twisting, bending, kneeling,
squatting, working overhead dan menahan benda dengan posisi yang tetap.
g. Contact Stresses
Tekanan yang diakibatkan oleh interaksi antara bagian tubuh pekerja dengan benda.
Hal ini dapat menghambat kerja syaraf dan aliran darah.
h. Vibration
Getaran yang diterima oleh anggota tubuh akibat penggunaan mesin dan alat-alat
penunjang pekerjaan.
i. Durasi
Jumlah waktu yang digunakan dalam melakukan suatu pekerjaan. Semakin lama
melakukan suatu pekerjaan, maka semakin besar resiko yang diterima, dan semakin
besar pula waktu yang dibutuhkan untuk proses pemulihan.
j. Kondisi lain
Kondisi selain yang diatas, yaitu:
- Temperatur
- Jam istirahat

19
BAB III
KESIMPULAN

Ergonomi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Ergon dan Nomos. Ergon memiliki
arti kerja dan Nomos memiliki arti hukum; jadi pengertian Ergonomik itu sendiri
secara garis besar adalah “Studi tentang manusia untuk menciptakan system kerja
yang lebih sehat, aman dan nyaman”. Menurut Pusat Kesehatan Kerja Departemen
Kesehatan Kerja RI, ergonomic adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia
dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka
Konsep ergonomi adalah berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan
kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan
produktivitas, efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan
kerja, pekerjaan dan manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.
Tujuan dari penerapan ergonomi adalah: (1) meningkatkan kesejahteraan fisik
dan mental; (2) meningkatkan kesejahteraan social dan; (3) Menciptakan
keseimbangan rasional antara berbagai aspek dalam bekerja sehingga dapat
meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan
sistem serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman dan sehat
Manfaat penerapan ergonomic di tempat kerja diharapkan dapat: (1) menurunnya
angka kesakitan akibat kerja; (2) Menurunnya kecelakaan kerja; (3) biaya pengobatan
dan kompensasi berkurang; (4) stress akibat kerja berkurang; (5) produktivitas
membaik; (6) alur kerja bertambah baik; (7) rasa aman karena bebas dari gangguan
cedera; serta (8) kepuasan kerja meningkat.
Fungsi pembinaan ergonomi secara teknis merupakan tugas pemerintah. Pusat
Bina Hiperkes (Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja) dan Keselamatan Kerja
memiliki fungsi pembinaan ini melalui pembinaan keahlian dan pengembangan
penerapannya. Pada umumnya ergonomi belum diterapkan secara merata pada sektor
kegiatan ekonomi. Gagasannya telah lama disebarluaskan sebagai unsur hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja, tetapi sampai saat ini kegiatan-kegiatan baru sampai
pada taraf pengenalan, khususnya pada pihak yang bersangkutan, sedangkan
penerapannya baru pada tingkat perintisan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Arif, C. 2009. Aspek Ergonomik di Bidang Kedokteran Gigi. Bandung: Universitas


Padjajaran.
Chapanis, A. R. 1986. Human-Factors Engineering. In The new Encyclopaedia
Britannica (Vol 21) (15th ed.). (pp. 227-229). Chicago: Encyclopaedia
Britannica.
Laksmiwati, P.2009. Penerapan Ergonomi dan Keselamatan Kesehatan Kerja untuk
Desain Stasiun Kerja dan Perilaku Pekerja. Skripsi Jurusan Teknik Industri
ITS. Surabaya.
MacLeod Dan. 1999, The Ergonomics Kit For General Industry. Lewis Publisher.
Washington, D.C.
Manuaba. 2000. Hubungan Beban Kerja Dan Kapasitas Kerja. Jakarta: Rinek Cipta.
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan
Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Pemberian
Program Kembali Kerja serta Kegiatan Promotif dan Kegiatan Preventif
Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja.
Nurmianto, Eko. 2003. Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Surabaya: Guna
Widya.
Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010. Ergonomi. Available from:
www.searo.who.int. Diakses 11 Februari 2019.
Sucipto CD. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: Gosyen Publising; 2014.
Tarwaka, dkk. 2004, Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja Dan
Produktivitas.
Tarwaka. 2014. Ergonomi Industri Revisi Edisi II. Surakarta: HARAPAN PRESS.
Wignjosoebroto, Sritomo. 2012. Ergonomi studi gerak dan waktu. Surabaya: Guna
Widya

21