Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL PENELITIAN

Monitoring Kebijakan Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional


di 34 Provinsi di Indonesia:
2014 - mid 2015
Pemanfaatan Dana Kapitasi, Non Kapitasi,
Klaim INA-CBG’s, dan Potensi “Dana Sisa” Program Jaminan Kesehatan Nasional

BAGIAN II. STUDI PUSTAKA


B. Sistem Pembiayaan Kesehatan
Negara mencapai Universal Health Coverage (UHC) dengan berbagai cara dan sistem
kesehatan. Meskipun demikian, cara menuju UHC secara teratur memiliki tiga aspek. Yang
pertama adalah proses politik yang didorong oleh berbagai kekuatan sosial untuk membuat
program atau peraturan yang memperluas akses ke pelayanan kesehatan publik,
meningkatkan ekuitas, dan tempat penampungan (pooling) risiko keuangan. Yang kedua
adalah pertumbuhan pendapatan yang diiringi naiknya anggaran kesehatan, bertujuan
membeli layanan kesehatan yang lebih dengan mencakup lebih banyak orang. Yang ketiga
adalah peningkatan porsi belanja kesehatan yang dikumpulkan dibandingkan dengan yang
membayar sendiri (out-of pocket) oleh rumah tangga. Pengumpulan dana ini dimobilisasi
sebagai pajak dan disalurkan oleh pemerintah dengan menyediakan atau mensubsidi
pelayanan kesehatan, dalam kasus lainnya dimobilisasi dalam bentuk kontribusi untuk
skema asuransi wajib.[1]
Gambar 1. Intermediate and final objectives of Universal Health Coverage that health financing can influence (Sumber: Kutzin
(2013) )

Hubungan antara pembiayaan kesehatan dan tujuan sistem secara keseluruhan, secara
langsung dan tidak langsung melalui tujuan antara, yang digambarkan dalam Gambar. 1.
Salah satu konsep penting yang diilustrasikan pada gambar 1 adalah bahwa sistem
pembiayaan kesehatan tidak bertindak sendiri dalam mempengaruhi tujuan antara
(intermediate) dengan tujuan akhir pada UHC yaitu tujuan yang diinginkan dalam mencapai
UHC; kebijakan terkoordinasi dan implementasi di seluruh fungsi sistem kesehatan sangat
penting untuk membuat kemajuan pada tujuan yang diinginkan, seperti meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan (Kutzin, 2013)6. Kebijakan pembiayaan tidak dapat bertindak
sendiri untuk meningkatkan kualitas, meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan
pelayanan kesehatan atau menghilangkan hambatan penggunaan layanan kesehatan.
Namun, kebijakan pembiayaan dapat mempengaruhi secara langsung setiap komponen
sistem kesehatan. Sebagai contoh, pemerintah mengalokasikan penerimaan negara untuk
kesehatan dengan meningkatkan penampungan dana, sehingga memberikan pencapaian
yang lebih besar pada tujuan yaitu perlindungan keuangan dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan. Dengan demikian pencapaian menuju UHC bisa dilakukan melalui tahapan
efisiensi, equity pada distribusi sumber daya, transparansi, dan akuntabilitas.
1. Revenue Collection
WHO mendefinisikan pembiayaan kesehatan sebagai:
"Fungsi sistem kesehatan berkaitan dengan mobilisasi, akumulasi dan alokasi
uang untuk menutupi kebutuhan kesehatan masyarakat, baik secara individu
maupun kolektif dalam sistem kesehatan”.
Tujuan pembiayaan kesehatan adalah untuk membuat dana yang tersedia, serta untuk
mengatur insentif keuangan yang tepat untuk provider kesehatan, hal ini berfungsi untuk
memastikan bahwa semua individu memiliki akses terhadap kesehatan masyarakat yang
efektif dan pelayanan kesehatan individu (WHO 2000). Sistem pembiayaan kesehatan yang
baik yaitu mengumpulkan dana yang memadai untuk kesehatan, mencari cara yang
memastikan orang dapat menggunakan layanan yang dibutuhkan, dan dilindungi dari
bencana keuangan atau pemiskinan akibat pembayaran layanan kesehatan. Hal tersebut
juga memberikan insentif bagi penyedia dan pengguna untuk efisien (WHO, 2007).
Dalam konteks negara berkembang, mengingat kurangnya informasi ekonomi pasar yang
terorganisir dan variabilitas data pendapatan dari waktu ke waktu, maka informasi
mengenai konsumsi rumah tangga, dan belanja konsumsi rumah tangga, dianggap sebagai
ukuran indikator kesejahteraan dan kemampuan membayar (ATP) yang baik. Pada
prinsipnya, ATP harus dapat menunjukkan kesejahteraan sebelum pembayaran untuk
pelayanan kesehatan. Pengukuran ATP dengan menggunaan indikator konsumsi
membutuhkan asumsi, yaitu penyediaan sarana layanan kesehatan pembiayaan dengan
tidak mempengaruhi keputusan dalam konsumsi (kesehatan). Konsumsi Makanan Rumah
Tangga diasumsikan sebagai pengeluaran yang tidak dapat dipisahkan, sering digunakan
sebagai ukuran kesejahteraan (WHO, 2000). Konsumsi untuk layanan kesehatan dalam
rumah tangga terbagi menjadi 2 bagian; pembiayaan langsung ke layanan kesehatan dan
pembiayaan melalui pihak ketiga (pembayaran premi asuransi)
Ada 3 kelompok utama sumber pembiayaan pelayanan kesehatan: 1). Melalui Pemerintah
(Penarikan pajak langsung dan pajak tidak langsung), 2). Melalui skema pihak ketiga
(asuransi sosial dan asuransi swasta), dan 3). Pembayaran langsung tunai masyarakat
(OOP). Gambaran mengenai sumber pembiayaan kesehatan bisa dilihat kepada tabel 1
berikut[1]:
Tabel 1. Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan dan Model Pembayaran
Sumber Pembiayaan Model
Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Pembayaran
Pemerintah Pajak Langsung Individu (Pajak Pembayaran melalui penarikan
Pribadi dan Pajak Pemilikan Proprerti) pajak dari wajib pajak (pajak
penghasilan).
Pajak Langsung dari pendapatan Pembayaran melalui pemotongan
perusahaan keuntungan perusahaan sebagai
pemasukan negara dari pajak
perusahaan
Pajak Tidak Langsung seperti, Pajak Pembayaran melalui pemotongan
Penjualan barang, dan Pajak pajak atas barang dan jasa yang
pertambahan nilai. dikonsumsi oleh masyarakat
Pihak Ke-tiga Asuransi sosial bagi tenaga kerja Pembayaran melalui pemotongan
pemerintah, swasta dan perusahaan gaji untuk premi asuransi
Asuransi komersial bagi tenaga kerja Pembayaran langsung dengan
pemerintah, swasta, dan perusahaan memotong gaji karyawan
Masyarakat Asuransi Swasta Komersial dan Melalui pembayaran premi dan
Pembiayaan Tunai pendanaan tunai langsung dari
kantung masyarakat (OOP)
Source: Wagstaff, 1999[1]
Dari perspektif keuangan publik, semua pajak (sumber pendapatan lain juga) harus dinilai
dengan kriteria sebagai berikut[1]:

a. Kecukupan pendapatan dan stabilitas: pajak harus meningkatkan jumlah


pendapatan yang signifikan, relatif stabil, dan kemungkinan besar akan tumbuh dari waktu
ke waktu.
b. Efisiensi: pajak harus meminimalkan distorsi ekonomi
c. Ekuitas: pajak harus memperlakukan kelompok pendapatan yang berbeda secara
adil.
d. Kemudahan pengumpulan: pajak harus sederhana untuk mengelola.
e. Penerimaan politik: harus ada transparansi, penyebaran yang luas, dan kejelasan
tentang penggunaan pajak untuk menenjukkan penerimaan.

Hal penting yang perlu diingat bahwa, meskipun penerimaan pajak membentuk sebagian
besar pendapatan pemerintah di semua wilayah dan kelompok kelas pendapatan, jenis
pendapatan pemerintah, seperti penjualan sumber daya alam, juga merupakan sumber
pendapatan penting di negara dan wilayah tertentu (misalnya, Timur Tengah dan Afrika
Utara)[2].
2. Konsep Pooling
Pooling adalah bagaimana pengumpulan dana dibagikan yang mempunyai risiko kesehatan
diantara pengumpul dana /atau anggota kelompok (pool member)[3]. Dana yang
dikumpulkan untuk kesehatan akan dibayarkan ke provider kesehatan, namun tempat
penampungan (pools) dana bisa berbagai macam, seperti anggaran pemerintah pusat dan
pemerintah daerah, asuransi kesehatan publik dan swasta, dan asuransi kesehatan
berbasis masyarakat. Risk pooling dan prepayment merupakan hal yang penting dalam
memberikan perlindungan finansial.
Tabel 1 menjelaskan sumber pembiayaan dari pemerintah dari pajak juga digunakan untuk
mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Ada dua mekanisme atau pooling
penggunaan sumber pembiyaan dari pajak. Pertama, dipergunakan untuk pelayanan
kesehatan masyarakat melalui pembangunan kesehatan dengan program dan kegiatan
sektor kesehatan. Kedua, melalui skema asuransi kesehatan.
a. Anggaran Kesehatan untuk Program Pembangunan Kesehatan
Kenaikan yang diusulkan untuk pengeluaran kesehatan masyarakat harus
dipertimbangkan dalam konteks ruang anggaran yaitu pada kapasitas fiskal. Hal ini
memungkinkan pemerintah untuk menyediakan sumber daya untuk tujuan yang
diinginkan tanpa mengurangi keberlanjutan posisi keuangan.
Pada prinsipnya, pemerintah dapat menciptakan ruang fiskal dengan cara berikut[4]:

1.
1. Melalui langkah-langkah pajak atau dengan memperkuat administrasi
perpajakan;
2. Memotong pengeluaran yang prioritasnya rendah untuk memberikan ruang
bagi pengeluaran yang mempunyai prioritas lebih;
3. Sumber pinjaman, baik dari dalam negeri atau dari sumber eksternal /atau
luar negeri;
4. Meminta kepada bank sentral untuk mencetak uang yang akan dipinjamkan
kepada pemerintah; atau
5. Menerima hibah dari sumber luar.

Menciptakan ruang fiskal memberikan anggapan bahwa pengeluaran tinggi dan jangka
pendek dan pengeluaran yang akan datang dapat dibiayai dari pendapatan saat ini
(fiskal) dan masa depan. Apabila anggaran dibiayai dari hutang, harus dilihat
dampaknya, pertumbuhan ekonomi atau kapasitas negara untuk menghasilkan
penerimaan untuk membayar hutang tersebut.
Kementrian Kesehatan mempunyai tiga fungsi; Pertama, sebagai pemberi dana, Kedua
sebagai penyedia layanan kesehatan, dan Ketiga, sebagai regulasi dan koordinasi. Di
negara berpenghasilan rendah dan sedang, kementrian kesehatan berfungsi sebagai
national health service (NHS). Penyediaan layanan kesehatan oleh kementrian
kesehatan melalui fasilitas publik dan individu. Tetapi prakteknya layanan juga melalui
kontrak dengan organisasi masyarakat, keagamaan amupun swasta. Meskipun sistem
pelayanan keseahtan nasional (national health service), mempunyai manfaat teoritis
sperti pelayanan gratis kepada warganya, namun hal ini masih belum
menggembirakan. Ketergantungan pada anggaran pemerintah secara umum rentan
terhadap perubahan-perubahan dalam pembahasan anggaran tahunan dan proses
politik.
Pelayanan kesehatan di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah
digunakan oleh rumah tangga yang berpenghasilan menengah dan tinggi dan di
daerah perkotaan, untuk masyarakat desa sendiri menemui hambatan dikarenakan
adanya masalah akses. Masyarakat pedesaan biasanya menggunakan fasilitas
pelayanan dasar setempat yang lebih murah, masyarakat yang kaya menggunakan
pelayanan di rumah sakit. Penyediaan pelayanan kesehatan juga menghadapi
inefisensi karena anggaran tidak menghasilkan insentif dan akuntabilitas yang baik.
Negara-negara berkembang berperan penting dalam meningkatkan kapasitas untuk
meningkatkan pendapatan, kualitas pemerintahan dan lembaga, kemampuan untuk
mencapai cakupan universal. Ini mendorong agar ada peningkatan alokasi anggaran
untuk pelayanan primer. Di negara yang berpenghasilan rendah, hampir separuh
pendanaan kesehatan berasal dari individu yaitu out of pocket yang digunakan untuk
membayar provider kesehatan atas pelayanan dan biaya obat. Pemerintah melalui
Kementrian Kesehatan memberikan pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan lain
termasuk rujukan ke rumah sakit. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
emberikaanggaran pemerintah juga akan tinggi karena ada hubungannya dengan
pajak yang dibayarkan dari sektor formal. Namun di negara berpenghasilan menengah,
40 persen untuk pembiayaan kesehatan berasal dari pendanaan swasta dan biasanya
melalu asuransi swasta. Dan Kementrian Kesehatan melanjutkannya dengan
memberikan dana untuk pelayanan kesehatan dasar dan untuk masyarakat miskin
atau untuk populasi yang memiliki masalah kesehatan kronis dengan mekanisme
asuransi sosial.[5]
b. Asuransi Kesehatan
Pooling risiko kesehatan memungkinkan pembentukan asuransi kesehatan dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memungkinkan individu untuk
membayar jumlah yang telah ditetapkan untuk melindungi diri terhadap biaya
pengobatan yang besar tak terduga. Ada berbagai cara bagi pemerintah untuk
membiayai program jaminan kesehatan masyarakat, dan masing-masing harus dinilai
berdasar pemerataan, efisiensi, keberlanjutan, kelayakan administrasi, dan biaya
administrasi. Sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah memiliki
beberapa pengaturan dalam pengumpulan dana publik dan swasta, dan pemerintah
harus berusaha mengurangi fragmentasi dengan demikian dapat meningkatkan ekuitas
dan efisiensi, biaya administrasi yang lebih rendah, dan tersedianya pooling risiko dan
pembelian layanan kesehatan yang lebih efektif.[6]
Semua dana untuk kesehatan ditampung pada asuransi kesehatan baik publik mapun
swasta dan di anggaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penampungan
dana tersebut mengalokasikan kembali dana dari individu yang sehat ke individu yang
sakit, kemudian dari individu dengan risiko sakit lebih rendah untuk risiko sakit tinggi
yang memerlukan biaya perawatan yang tinggi. Negara yang sedang berkembang,
penampungnan dana kesehatan pada sistem pembiayaan nasional dan asuransi
kesehatan mendominasi dari pendanaan ini dari pada pembayaran dari pengguna
(user payment)[7]. Tujuan pooling ini adalah mengurangi harga pembayaran langsung
(out of pocket) terhadap pasien yang membayar langsung pada saat menerima
pelayanan kesehatan dan meyakinkan kembali perlindungan keuangan terhadap
pengeluaran katastropik kesehatan dan equity pada pelayanan yang digunakan.
Namun, mengelola dana keshatan adalah sebaga cara agar pengumpulan nya adil dan
efisien. Hal ini yang menjadi tantangan terbesar bagi pengelola dana
kesehatan.14 Peningkatan pengumpulan dana berkontribusi terhadap tingginya
pembiayaan kesehatan dengan meningkatkan sisi permintaan (demand) terhadap
pelayanan kesehatan.
Di sebagian besar negara, beberapa pengaturan penampungan dijalankan bersamaan,
hal ini mengarah pada risiko fragmentasi. Pada umumnya, pekerja sektor formal
tercakup dalam asuransi sosial wajib; kelompok berpenghasilan lebih tinggi mampu
membayar premi yang lebih tinggi untuk mendaftar dengan asuransi sukarela swasta
(untuk mengakses pelayanan spesialis dan provider swasta); dan secara otomatis
pemerintah menyediakan cakupan di fasilitas kesehatan umum bagi mereka yang
dikecualikan dari aturan asuransi tersebut, terutama kelompok berpenghasilan rendah
dan sektor informal. Akibatnya, kelompok sosial ekonomi yang berbeda mengumpulkan
risiko kesehatan mereka di antara mereka sendiri di lembaga-lembaga yang berbeda
dengan tingkatan kapasitas pendapatan yang berbeda dan akses terhadap manfaat
kesehatan yang berbeda. Fragmentasi yang dihasilkan menimbulkan kekhawatiran
terhadap ekuitas dalam pelayanan yang digunakan di kelompok yang berbeda (across
different group). Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan
keuangan pool risiko yang kecil.15
c. Mekanisme Pemerataan Resiko (risk equalization mechanism)
Pembiayaan kesehatan yang terpecah ke dalam beberapa pengelola dana, kapasitas
perlindungan risiko menjadi berkurang[8]. Kapasitas perlindungan risiko ditentukan oleh
dua elemen yaitu tingkat pendpatan per kapita dan struktur risiko (campuran antara
peserta yang sehat dan sakit dalam kelompok risiko). Skema pemerataan risiko
bertujuan menyesuaikan sumber daya yang tersedia pada pengelola dana asuransi
yang berbeda, dengan memperhitungkan risiko kesehatan dan kapasitas iuran dari
peserta. Bentuk pemerataan risiko ada dua yaitu peenyesuaian risiko (risk adjuster)
dan ex post. Di dalam risk adjuster terdapat karakteristik yang digunakan untuk
memperkirakan kemungkinan pengeluaran kesehatan. Hal ini dapat digunakan oleh
pengelola asuransi untuk menyeimbangkan dampak dari profil risiko yang berbeda,
meskipun memakai perkiraan. Caranya adalah memberikan subsidi ke peserta yang
berisiko (diperkirakan) ltinggi dari peserta berisiko (diperkirakan) lebih rendah. Berbeda
dengan ex-post, dimana pemerataan risiko ini dapat dirancang. Pemerataan risiko ex-
post merupakan penggantian biaya secara restopektif oleh pengelola dana menurut
bagiannya masing-masing. Catatannya bahwa penggantian retrospektif yang sangat
tinggi dan lengkap sebenarnya merupakan sistem pengelola dana tunggal dengan
administrasi yang terpecah-pecah.
Tabel 2. Insentif dan Tantangan dalam Pengaturan Pooling Risiko Berbeda

Salah satu tantangan utama dalam sistem kesehatan pemerintah (cakupan otomatis) di
negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah adalah bahwa alokasi
pemerintah sering tidak pro masyarakat miskin. Sebaliknya, bagian yang lebih tinggi
dari dana yang dialokasikan untuk rumah sakit di daerah perkotaan, yang terutama
digunakan oleh kaya (Tabel 1). Untuk meningkatkan pengeluaran pro-poor, beberapa
negara telah mengalokasikan transfer langsung ke provider terutama digunakan oleh
kelompok yang berpenghasilan rendah. Di Meksiko, misalnya, Seguro Popular
merupakan transfer pendapatan antar pemerintah dalam sistem kesehatan nasional
dari pusat ke negara bagian. Transfer ditentukan dengan berdasarkan jumlah individu
berpenghasilan rendah berafiliasi dengan Seguro Populer dan dibiayai oleh negara
3. Konsep Purchasing
Pembelian mengacu pada proses di mana dana dialokasikan untuk penyedia layanan
kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan atas nama penduduk atau untuk
menghubungkankebutuhan pelayanan kesehatan dan prioritas untuk alokasi sumber
daya keuangan untuk berbagai intervensi pelayanan kesehatan. Pembelian layanan
kesehatan bisa strategis ataupasif[1]: pembelian strategis terkait dengan usaha terus
menerus untuk mencari jalan yang terbaik untuk memaksimalkan kinerja sistem
kesehatan dengan memutuskan; intervensi apa yang harus dibeli, bagaimana caranya
intervensi itu dibeli dan siapa penyedia layanan tersebut,
sementara pembelian pasif terjadi dengan mengikuti anggaran yang telah ditentukan atau
hanyamembayar tagihan ketika sudah ada bentuknya. Pembelian strategis
dapat meningkatkan kinerjasistem kesehatan dengan mengedepankan kualitas,
efisiensi, pemerataan dan responsif terhadapa penyediaan
pelayanan kesehatan dan, dengan demikian hal ini dapat mendorong tercapainya Universal
Health Coverage[2].
Pembelian melibatkan tiga
rangkaian keputusan (WHO 2000; Figueras, Robinson et al 2005;Preker dan Langenbrunne
r 2005):

a. Mengidentifikasi tiga hal yang berhubungan dimana intervensi atau jasa yang akan
dibelisesuai kebutuhan penduduk, dengan mempertimbangkan prioritas kesehatan
nasional danefektivitas biaya mereka (yaitu apa yang harus dibeli dan untuk siapa?);
b. Memilih penyedia jasa dari siapa yang akan dibeli,
mempertimbangkan kualitas, efisiensidan pemerataan penyediaan pelayanan
kesehatan (yaitu dari siapa untuk membeli?); dan
c. Menentukan bagaimana layanan ini harus dibeli, termasuk pengaturan
kontrak danmekanisme pembayaran ke penyedia layanan (yaitu
bagaimana membayar nya dan berapa harganya?).

Purchasing memiliki tiga komponen utama yaitu alokasi sumber


daya, paket manfaat danmekanisme pembayaran provider[3]. Alokasi sumber
daya mengacu pada aliran sumber dayakeuangan dari tingkat
pusat (pooled fund) ke tingkat yang lebih rendah (misalnya: kabupaten, fasilitas
kesehatan). Mekanisme alokasi sumber daya menentukan kriteria yang dikumpulkanaliran
dana dalam sistem kesehatan yang pada akhirnya sampai pada tingkatan penyedia
layanan kesehatan (provider). Dimana hal ini melibatkan proses-prioritisasi untuk
menentukanjumlah sumber daya yang dialokasikan untuk tingkatan yang berbeda, jenis
layanan dan intervensi yang digunakan. Paket manfaat mengacu pada jenis
layanan yang harusnya diterima penduduk dari dana yang dikumpulkan,
sementara mekanisme pembayaran penyedia layanan
kesehatan merupakan proses dimana penyedia menyediakan layanan
kesehatan. Desain inimerupakan komponen kunci yang sangat penting
untuk pemerataan akses yang adil dan perlindungan terhadap resiko keuangan. Gambar 2
berikut merupakan hubungan Principal dan Agent dalam pembelian strategis.
Gambar 2. Hubungan principal-agent dalam pembelian strategis

Contoh mekanisme pembiayaan pelayanan kesehatan dalam hal mekanisme pembelian


layanan kesehatan di beberapa negara
Tabel 3. Mekanisme Pembelian di beberapa Negara
Wajib
Jenis Jumlah
Deskripsi atau Target/cakup
Negara Mekanisme pengadaan mekanisme penampung
singkat sukarel an
pra-bayar an
a
India Pelayanan kesehatanyang Dana Wajib Sector formal Tunggal
didanaipemerintah negara pemerintah dan informal
bagian
Skema asuransi Kesehatan ter Asuransi Asuransi Wajib Sector Tunggal
baru, 2012 (NHIS 2012)) kesehatan wajib kesehatan wajib formal(pegawa
bagi pegawai bagi pegawai i pemerintah)
pemerintah pemerintah
negara bagian
(sebelumnya
dikenal sebagai,
Skema Dana
Kesehatan pega
wai
pemerintah Tamil
Nadu)
Kenya Asuransi kesehatan berbasis Sukarel Sektor informal Beberapa
masyarakat Swasta (non- a
profit) asuransi
kesehatan
secara sukarela
organisasi Asuransi Swasta (nirlaba) Sukarel Sector Formal Multiple
kesehatan swasta bersama kesehatan swasta asuransi a and pools
sukarela dengan kesehatan informal berda
biaya rendah secara sukarela sar
kemampuan
Wajib
Jenis Jumlah
Deskripsi atau Target/cakup
Negara Mekanisme pengadaan mekanisme penampung
singkat sukarel an
pra-bayar an
a
bayar
Nigeria Pelayanan kesehatan yang Pendanaan Wajib Sector formal Tunggal
dibiayai oleh pajak Umum pemerintah dan informal
Program Jaminan Kesehatan Asuransi Asuransi Wajib Sector formal Beberapa
Nasional (NHIS) kesehatan wajib kesehatan wajib
bagi pekerja bagi pekerja
sektor formal sektor formal
Afrikaselat Pelayanan kesehatan yang Pendanaan Wajib Sector formal Tunggal
an dibiayai oleh pajak umum pemerintah dan informal
Skema medis Asuransi Swasta (nirlaba) Sukarel Sector formal Beberapa
kesehatan swasta asuransi a
sukarela yang kesehatan
disebut "skema secara sukarela
medis"
Tanzania Layanan kesehatan yang Pendanaan Wajib Sector foemal Tunggal
dibiayai oleh pajak umum pemerintah dan informal
Dana Asuransi Kesehatan Asuransi Kewajiban Wajib Sector formal
Nasional (NHIF) kesehatan wajib asuransi (pegawai
bagi pegawai kesehatanuntuk pemerintah)
pemerintah pegawai
pemerintah
Dana Asuransi Kesehatan Skema asuransi asuransi Sukarel Sector informal Beberapa
berbasis masyarakat (CHF) sukarela berbasis kesehatan a
masyarakat yang sukarela(non-
menargetkan profit) swasta
populasidi sektor
informal
Thailand Skema cakupan semesta Pelayanan Dana Wajib Sector informal Tunggal
kesehatan yang pemerintah
dibiayai oleh untuk
pajak umum bagi penduduk di sek
penduduk di sekt tor informal
or informal
Skema manfaat Medis Asuransi Asuransi Wajib Sector formal
Pegawai Negeri Sipil (CSMBS) kesehatan wajib kesehatan wajib sector
bagi pegawai bagi pegawai (pegawai
pemerintah pemerintah pemerintah)
Vietnam Jaminan SosialVietnam (VSS) Asuransi Asuransi Wajib Tunggal
kesehatan wajib kesehatan
(Asuransi wajib: asuransi
Kesehatan kesehatan
Sosial), sosial
mekanisme pemb
eli-tunggal
Layanan kesehatan yang Pendanaan Wajib Sector informal Tunggal
dibiayai oleh pajakuUmum pemerintah

[5] (Savedof W, et.al, 2013)


[6] Kutzin, J., Cashin, C., Jakab, M. (2010). Implementing Health Financing Reform. Geneva: World
Health Organization (WHO)
[7] Wagstaff et al., 1999
[8] Wagstaff et al., 1999
[9] IMF and World Bank 2005
[10] Gottret, P. dan Schieber, G. (2006). Health Financing Revisited. A Practitioner's Guide. The World
Bank
[11] World Bank, 2014
[12]
World Bank. (2006). Health Financing Revisited. Washington DC: http://sit
eresources.worldbank.org/INTHSD/Resources/topics/HealthFinancing/ HFRChap2.pdf
[13] Scieber, Baeza, Kress. Et.al, 2014
[14] Gottret, P. dan Schieber, G. (2006). Health Financing Revisited. A Practitioner's Guide. The World
Bank.
[15] World Bank, 2014
[16] Trisnantoro dan Hendrartini, 2014
[17] (WHO, 2000
[18] Robinson, Jakubowski et al 2005; World Health Organization (WHO). (2010a). Health Systems
Financing: The Path to Universal Coverage. The World Health Report. Geneva: World Health
Organization
[19] Preker and Langenbrunner, 2005