Anda di halaman 1dari 24

1

Kritik Arsitektur

Kritik Arsitektur Deskriptif : Arsitektur Islam


Konsep Kesederhanaan dan Modernitas dalam
Arsitektur Islam Pada Masjid Forum Penzberg Jerman
Dimas Maulana Fasya

NIM: 13660105

Teknik Arsitektur, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Jalan Gajayana No.
50, Malang, Jawa Timur

Email: mdimas366@gmail.com

Abstrak
Arsitektur islam selama ini identik dengan arsitektur Masjid dengan berbagai ornamen
di dalamnya. Penggunaan ornamen tersebut cenderung menggambarkan bahwa arsitektur
islam adalah arsitektur yang mewah dan memerlukan dana yang tidak sedikit dalam
merealisasikannya. Padahal di dalam islam sendiri diajarkan agar tetap hidup sederhana
karena tidak semua hal yang sederhana itu tidak bagus. Dari sebuah konsep
kesederhanaan kita dapat mewujudkan sebuah rancangan yang indah dan elegan dengan
inovasi dan variasi yang dapat dikombinasikan dengan ornamen-ornamen islam yang dulu
pernah populer. Dengan menggunakan metode kajian pustaka dan pengumpulan data, kita
akan melihat konsep kesederhanaan yang dianjurkan dalam islam dapat menjadi sebuah
arsitektur yang dapat diterapkan hingga kini dan dapat berbaur dengan arsitektur di
sekitarnya melalui gubahan bentuk bangunan, fasade, maupun interior bangunan. Dengan
konsep kesederhanaan ini kita juga dapat menunjukkan bahwa islam bersama
arsitekturnya adalah arsitektur yang ramah terhadap alam dan lingkungan sekitarnya
serta terbuka bagi seluruh kaum yang ada.

Kata Kunci: Arsitektur Islam, Konsep Kesederhanaan, Ornamen

Pendahuluan
Masjid merupakan simbol budaya Islam dan juga wadah untuk bersosialisasi bagi umat
Islam, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, bahwa beliau menjadikan masjid sebagai
basis dakwah serta interaksi sosial beliau terhadap umat Islam yang menerima ajarannya.
Dalam sejarah Islam masjid banyak dibangun dalam bentuk dan rupa yang artistik. Titik
puncak kejayaan Islam yang diperlihatkan dari segi karya arsitekturnya setelah
Rasulullah SAW wafat adalah pada masa pemerintahan kekhalifahan Abbasiyah pada
masa 737-961M (Ansary, 2012: 146-161). Arsitektur islam memang erat kaitannya dengan
arsitektur Masjid, mulai dari segi tatanan ruang, ornamentasi, hingga struktur yang
digunakan dalam bangunan tersebut. Banyak yang menilai bahwa arsitektur islam dan
arsitektur masjid identik dengan pemakaian ornamentasi yang cukup banyak dan
2
Kritik Arsitektur

beragam serta terdapat tidak hanya pada eksterior bangunan, melainkan hingga interior
bangunan. Masjid merupakan simbol budaya Islam dan juga wadah untuk bersosialisasi
bagi umat Islam, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, bahwa beliau menjadikan
masjid sebagai basis dakwah serta interaksi sosial beliau terhadap umat Islam yang
menerima ajarannya. Dalam sejarah Islam masjid banyak dibangun dalam bentuk dan
rupa yang artistik. Titik puncak kejayaan Islam yang diperlihatkan dari segi karya
arsitekturnya setelah Rasulullah SAW wafat adalah pada masa pemerintahan
kekhalifahan Abbasiyah pada masa 737-961M (Ansary, 2012: 146-161). Menurut Ismail
Raji Al-Faruqi arsitektur termasuk dalam esensi seni menurut islam, hal ini dikarenakan
arsitektur merupakan seni visual yang mendukung kemajuan islam.

Melalui dunia arsitektur, islam dapat dikenal oleh banyak kalangan, mulai dari
cendekiawan hingga orang awam. Arsitektur Masjid yang khas dengan ornamentasi
bergaya arabesque sering dijadikan patokan bahwa arsitektur islam sama dengan
arsitektur bergaya arabesque memiliki corak ornamentasi yang sifatnya simetris dan
bermain dengan warna. Padahal tidak selamanya arsitektur islam identic dengan
arsitektur bergaya arabesque. Pada hakikatnya arsitektur islam tidak hanya arsitektur
bergaya arabesque, akan tetapi seni arsitektur yang memiliki ketepatan fungsi,
mencerminkan sebuah kesederhanaan, orang yang berada di dalam bangunan terutama
bangunan Masjid dapat merasakan kekhusyukan dan kebesaran Allah, dan saat mereka
melakukan aktivitas di dalamnya dapat merasakan kenyamanan dan ketenangan.
Arsitektur islam tidak harus ditekankan pada ornamentasinya terutama pada interior
karena ornamentasi pada interior bangunan terutama bangunan Masjid dapat mengurangi
konsentrasi pengguna dalam beribadah. Auliyah menuturkan bahwa arsitektur sebagai
salah satu bidang keilmuan hendaknya juga selalu berpijak pada nilai-nilai islam yang
bersumber pada al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an terutama yang
mengenai dengan arsitektur dan lingkungan dapat dijadikan dasar dalam berarsitektur
agar bangunan yang dirancang dapat menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kesederhanaan dalam berarsitektur menjadi suatu pilihan dalam merancang sebuah


bangunan terutama Masjid. Kesederhanaan dengan berpegany pada prinsip fungsionalitas
dapat menjadi pilihan yang tepat dalam mengembangkan sebuah bagunan/Masjid yang
Rahmatan Lil ‘Alamin. Suatu esensi sebuah Konsep kesederhanaan adalah prinsip
funsionalitas ruang pada bangunan dan pemanfaatan alam yang tidak berlebihan. Warisan
terbesar dari islam yang berharga bukanlah tentang kemegahan bangunan, tetapi nilai
kemanusiaan yang menempatkan manusia pada fitrahnya.1 Arsitektur islam tidak hanya
ditekankan pada aspek keindahan bangunan dan ornamentasinya saja, akan tetapi lebih
ditekankan pada aspek fungsionalitas pada bangunan itu sendiri. Menurut Raif Nijem,
esensi perancangan arsitektur islam terlihat dari prinsip dasar dan konsep spiritualitas
pada bangunan/Masjid yang dirancang oleh sang arsitek. Kesederhanaan bentuk dengan
berpegan teguh pada prinsip fungsionalita dapat menjadi pilihan yang tepat dalam
merancang sebuah bangunan terutama Masjid. Hal ini dikarenakan prinsip fungsionalitas

1Utaberta, Nangkula. “Makna Keindahan Dalam Arsitektur Islam”. The Kalam Papers. Malaysia.
Juli: 2003
3
Kritik Arsitektur

yang erat kaitannya dengan tidak berlebih-lebihan dalam merancang telah termaktub di
dalam nilai-nilai al-Qur’an dan prinsip ini dapat menjadi acuan dalam merancang sebuah
bangunan.

Arsitektur sangat erat kaitannya dengan bentuk. Bentuk menjadi salah satu tolak ukur
dalam berarsitektur. Sebagai seorang arsitek terutama sekali arsitek muslim, bentuk yang
fungsional, ideal, dan mengikuti nilai-nilai dalam islam mutlak diperlukan agar tidak
terjadi ketimpangan dalam proses merancang. Pencarian untuk mendapatkan bentuk yang
ideal dari Arsitektur Islam adalah suatu perjuangan dan perjalanan yang panjang. Hal ini
bukanlah suatu pergerakan yang statis dan kaku namun senantiasa bergerak secara aktif
dan progresif. Selama kita memahami prinsip dan kerangka nilai yang membentuknya
ditambah dengan usaha kita untuk menjadi Muslim yang baik maka ia akan senantiasa
menghasilkan produk Arsitektur yang Islami.2

Di dalam bacaan ini kita akan membahas konsep kesederhanaan dalam berarsitektur.
Selain itu juga akan membahas bagaimana cara seorang arsitek menerapkan prinsip-
prinsip kesederhanaan dalam berarsitektur dan penerapan prinsip fungsionalitas yang
tepat dalam sebuah bangunan terutama di dalam sebuah Masjid. Di dalam bacaan ini juga
akan dibahas penerapan konsep kederhanaan dan fungsionalitas ruang dalam sebuah
bangunan dengan mengambil studi kasus pada Masjid Forum Penzberg Jerman yang
mengusung tema berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Pada bacaan ini juga membahas
bagaiman cara sang arsitek menerapkan konsep kederhanaan dan fungsionalitas ruang
pada Masjid Forum Penzberg ini dan akhirnya Masjid ini mudah diterima di tengah-
tengah masyarakat Penzberg yang mayoritas beragama Kristen. Selain itu di dalam
bacaan ini juga akan membahas bagaimana arsitektur islam dapat menjadi sebuah
arsitektur yang terus mengikuti perkembangan zaman dan terus memodifikasi bentukan
dasar dalam berarsitektur dan dapat berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Di dalam
bacaan ini juga akan membahas bagaiman arsitektur islam yang sederhana, fungsional,
dan tetap terlihat modern dan mudah diterima oleh banyak kalangan. Masjid Forum
Penzberg menjadi sebuah rujukan karena Masjid ini menjadi sebuah gambaran bagaiman
sebuah pusat komunitas islam di Penzberg dapat berdiri dengan baik di tengah-tengah
komunitas non muslim dan keterbukaan Masjid ini pada dunia luar menjadikan Masjid ini
sebuah destinasi edukasi tentang dunia islam baik untuk masyarakat muslim maupun non
muslim. Tidak Hanya itu, bahkan Masjid ini juga telah dijadikan bahan riset oleh
mahasiswa Jerman untuk dijadikan contoh bagaimana sebuah komunitas muslim dapat
membaur di tengah-tengah masyarakat non muslim dan prinsip-prinsip apa saja yang
diterapkan pada Masjid ini sehingga banyak orang ingin mengunjungi Masjis yang terletak
di Penzberg Jerman ini. Di dalam bacaan ini juga akan mengkaji penerapan prinsip-
prinsip kesederhanaan dan fungsionalitas ruang di dalam Masjid forum Penzberg ini dan
bagaiman cara Masjid ini menjadi sebuah bangunan yang modern dan kekinian dengan
tetap mempertahankan prinsip kesederhanaan dan fungsionalitas ruang.

2Utaberta, Nagkula. “Pencarian Bentuk Arsutektur Islam Yang Berbasis Nilai”. Paksi Jurnal.
Fakulti Alam Bina, Universiti Teknologi Malaysia. Johor, Malaysia.
4
Kritik Arsitektur

Metode Penelitian
Di dalam kajian ini, metode yang digunakan adalah metode pengumpulan data metode
Kritik Arsitektur yang Normatif. Data yang diambil mencakup data seputar arsitektur
islam yang didalmnya tertuang tentang konsep kesederhanaan, konsep islam pada
bangunan Masjid, arsitektur modern dan modern kontemporer. Untuk kritik normative
kekhususannya perlu dibedakan dalam metode sebagai berikut :

1. Doktrin ( satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur)
2. Sistem ( suatu norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu
tujuan)
3. Tipe ( suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu
kategori bangunan spesifik)
4. Ukuran ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik
secara kuantitatif)

Pada kajian ini, fokus yang yang digunakan adalah kajian kritik normatif yang bersifat
doktrinal atau tidak terukur. Pada kajian kritik ini lebih kepada Mendorong segala
sesuatunya tampak mudah dan mengarahkan penilaian menjadi lebih sederhana ditengah-
tengah kompleksitas arsitektur. Menganggap kebenaran dalam lingkup yang tunggal dan
meletakkan kesalahan pada prinsip lain yang tidak sepaham, Meletakkan kebenaran lebih
kepada pertimbangan secara individual, Terdapat kecenderungan untuk memandang
arsitektur secara partial dan tidak bersifat holistik, Memungkinkan tumbuhnya pemikiran
dengan kebenaran yang “absolut, dan Memperlebar konflik dalam tingkat teoritik dalam
arsitektur

Kajian Pustaka
Arsitektur Islam

Arsitektur Islam adalah itu adalah arsitektur yang di dalamnya nilai Islam diterapkan,
seperti nilai penghambaan terhadap Allah melalui desain bangunan, nilai kesederhanaan,
nilai keadilan, nilai pengakuan terhadap hak orang lain, dan nilai-nilai Islam yang ada.3

Konsep Islam pada bangunan masjid:

a) Ijtihad artinya usaha sungguh-sungguh yang dilakukan seorang mujtahid (orang


yang melakukan ijtihad) untuk mencapai suatu keputusan tentang kasus yang
penyelesaian belum tertera dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW
sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist.
b) Taqlid artinya menerima sesuatu secara dogmatis, apa adanya, tanpa dimengerti
terlebih dahulu, misalnya karena sudah menjadi kebiasaan atau memang sudah
menjadi tradisi secara turun temurun.

3
http://auliayahya.wordpress.com
5
Kritik Arsitektur

c) Anti Mubazir artinya tidak berlebih-lebihan. Dengan demikian, keindahan (elemen


estetika) tidak perlu harus mahal atau memakai ornamen berlebihan yang hanya
bersifat tempelan saja, dan tidak fungsional. Pandangan anti kemubaziran, pada
intinya adalah efisiensi untuk mendapatkan hasil yang optimal.
d) Rasional artinya tidak mengada-ngada. Pandangan Islam mengenai sesuatu
penggunaan suatu hal tidak mengada-ada misalnya melalui penggunaan
simbolisasi yang menjurus kepada sesuatu yang tidak rasional dan menjurus
kepada pembodohan berpikir, terlebihlebih pertanggungjawaban kepada
masyarakat, dan tidak boleh mubazir.

Arsitektur Islami merupakan arsitektur yang memiliki sifat-sifat Islam. Bisa jadi yang
termasuk arsitektur Islami adalah arsitektur yang bukan berasal dari Islam, namun
karena sejalan dengan konsepsi Islam yang tertera dalam Al Quran dan Al Hadits, maka
arsitektur tersebut disebut arsitektur Islami.

Konsep kesederhanaan menjadi sebuah konsep yang harus diterapkan dimana saja dan
kapan saja. Di dalam sebuah hadis juga diterangkan bagaiman rasulullah menyerukan
kepada umatnya agar hidup sederhana dan tidak berlebih lebihan.

Artinya: Sebaik-baiknya pekerjaan itu sederhana.

Dari hadist ini, sederhana yang diamksud bukanlah kita disuruh bekerja sesederhanak
mungkin, akan tetapi Rasulullah menyuruh kita berbuat yang seimbang dan sepadan
dengan keperluan kita. Janganlah kita sebagai manusia berbuat berlebih-lebihan terutama
dalam merancang sebuah bangunan, hal yang harus kita utamakan adalah kehidupan
akhirat bukanlah dunia. Dunia yang hanya sementara ditujukan agar kita dapat
memperoleh manfaat, hidayah, sarta karunia Allah agar kita nantinya dapat hidap lebih
baik di akhirat.4

Selain hadis di atas, terdapat hadis lain yang menjelaskan agar kita sebagai manusia
dapat hidup tidak berlebihan di dunia.

Artinya: “Barang siapa mencintai dunia, niscaya membawa kepada binasa di Akhirat. Dan
barang siapa mencintai Akhiratnya, niscaya beroleh keuntungan di dunia. Maka utamakan
apa yang kekal, atas apa yang fana (lenyap binasa)”. (Riwayat Ahmad, Al Bazzur dan Ath
Thabrani).

Dari hadist ini, dijelaskan agar kita sebagai manusia tidak diperbolehkan terlalu
mencintai kehidupan di dunia yang sementara. Perbuatan yang terlalu berlebihan saat

4Aam, Khadijah. “Konsep Kesederhanaan Dalam Islam Menurut Ustaz Ashaari Muhammad”.
Pustaka Jasa. Kuala Lumpur, Malaysia. 1991
6
Kritik Arsitektur

merancang bias menjadi sebuah tindakan yang terlalu mencintai kehidupan dunia yang
hanya sementara. Kehidupan akhirat nantinya akan menjadi tempat yang kekal bagi kita
manusia ciptaan Allah S.W.T. Maka dari itu, kita dianjurkan agar hidup seperlunya,
seimbang, dan tidak berlebih-lebihan. Dalam merancang seharusnya kita dapat
mengembangkan konsep kesederhanaan dan fungsinalitas bentuk karena sebuah
bangunan menurut nilai-nilai yang islami harus lebih mengutamakan fungsi bangunan
tersebut dari pada elemen-elemen lainnya.

Menurut Raif Nijem, esensi perancangan Islam terlihat dari prinsip dasar dan konsep
spiritual. Dalam Al-Qur’an sebagai sumber utama, Nijem menuturkan beberapa prinsip
bagi arsitek dalam perencana muslim antara lain, Pertama Tidak berlebih-lebihan, tidak
kikir, namun mengambil jalan tengah antara keduanya (Al-Baqarah:67). Kedua Seimbang
dan adil dalam setiap urusan (Al-An’am:165). Ketiga Merancang untuk tujuan dan niat
yang baik (At-Taubah:107). Hal-hal tersebut dapat dikaitkan pada konsep dasar Islam.
Konsep dasar Islam ada 3 macam, Pertama, hubungan manusia dengan Tuhannya
(Hablumminallah=Ma’rifatullah) atau pengenalan manusia pada Allah: wahyu, hikmah,
fitrah, relasi manusia dengan Tuhan, penyembahan, pedoman, perjanjian (syahadat), tidak
memikirkan dzat-dzat-Nya (yang tak terjangkau oleh akal). Kedua, hubungan manusia
dengan manusia (Hablumminannas): persamaan, penegakan, keadilan, kemerdekaan,
persaudaraan, persatuan, saling menolong, menjaga kehormatan dan kesopanan,
menjunjung akhlak mulia, tanggung jawab terhadap alam, musyawarah, saling mengasihi
sesama makhluk, meratakan kekayaan (balance). Ketiga, hubungan manusia dengan
alam (Hablumminal….): melarang persakralan (Al-Ikhlas:4), kepemilikan dan
pemeliharaan Tuhan, manusia hanya mempunyai hak sementara, penciptaan alam yang
bertahap, adanya hukum-hukum pasti (sunatullah), tujuan dan manfaat, pembagian alam
nyata, ghaib, dunia akhirat, berakhirnya alam (kiamat), bil haqq (nyata), konkrit, real,
sengaja bukan main-main, ataupun maya, alam sebagai sumber ilmu pengetahuan
(Kauliyah).

Dalam ajaran Islam tidak ditemukan hal kemegahan material sebagai produk dari
peradaban Islam yang sebenarnya. Bentuk dari kebesaran Islam yang sebenarnya terletak
pada kesederhanaan, Islam tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Tidak baik
meletakkan (monumental) sehingga menentang alam atau membuat ornamen yang
berlebihan tanpa maksud tertentu, hanya sekedar mengejar estetis, sementara masih
banyak pilihan desain yang efektif dan efisien (Al-Isra:27). Agama Islam menganjurkan
agar umatnya sentiasa hidup sederhana dalam semua tindakan, sikap dan amal. Islam
adalah agama yang berteraskan nilai kesederhanaan yang tinggi. Kesederhanaan adalah
satu ciri yang umum bagi Islam dan salah satu perwatakan utama yang membedakan dari
umat yang lain. Ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 yang
artinya: "Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia." Atas prinsip inilah, maka
umat Islam yang sejati merupakan umat yang adil dan sederhana. Merekalah yang akan
menjadi saksi di dunia dan di akhirat di atas setiap penyelewengan, penindasan serta
penyimpangan ke kanan maupun ke kiri dari jalan pertengahan yang lurus. Satu perkara
7
Kritik Arsitektur

yang harus kita sadari sebagai umat Islam yaitu konsep sederhana meliputi aqidah
(keyakinan), aspek ibadah dan cara melaksanakannya, akhlak dan cara hidup,
berinteraksi antar sesama dan segala sesuatu yang menyentuh persoalan kehidupan
dunia.5

Esensi nilai-nilai Islam, dari segi arsitektur secara umum dapat terwadahi
seluruhhnya maupun sebagian pada bangunan Masjid sebagai pengejawantahan
arsitektur. Vocal point dari Masjid merupakan intisari dari nilai-nilai Islam, seperti:
pensakralan, kesucian, kesederhanaan (tawadhu), kemegahan/keagungan, keindahan,
keselarasan, kebersamaan, dan kesamaan derajat manusia (feel is same the infinite eye).
Diambil dari buku Hakim B. S. ”Arabic Islamic Cities: Building and Planning Principles”
KPL London (1986), prinsip-prinsip dasar Islam antara lain: Pertama Haram (harm),
Lingkungan ini mendukung aktivitas manusia untuk tidak merugikan dan mendzalimi
orang lain. Lingkungan ini sangat peka dengan kelangsungan aktivitas kehidupan
terutama untuk tidak saling mengganggu dan merugikan satu sama lainnya. Kedua
Saling ketergantungan (interdependence), Lingkungan dengan penghuninya terjadi saling
ketergantungan. Keseimbangan lingkungan. Ketiga Privasi (privacy), Lingkungan ini
menjaga privasi terutama untuk kaum wanita (akhwat). Keempat Penggunaan asli
(original usage), Memprioritaskan penggunaan yang sudah lama dan sudah terbiasa.
Kelima Ketinggian bangunan (height building), Keberadaan bangunan terutama
ketinggian sebaiknya sama tinggi jika ingin lebih tinggi diusahakan untuk tidak
merugikan orang lain. Keenam Respek (Respect), Menghargai kepemilikan orang lain,
tidak mencari keuntungan sendiri tanpa memperdulikan hak orang lain. Penghargaan
lingkungan yang paling dekat lebih diutamakan. Ketujuh Sirkulasi (Circulation), Sharis:
jalan umum yang terbuka/beban dipakai siapa saja. Finas: jalan serupa dengan culdesac
yang memberikan akses pada sekelompok bangunan dalam kepemilikan/fungsi sama.

Arsitektur Modern Dan Modern Kontemporer

Arsitektur Modern mempunyai spirit yang menawarkan konsep kesederhanaan,


kejujuran dan fungsional serta rasional yang tidak mengada-ada. Arsitektur modern
menolak tradisi, budaya dan unsur-unsur masa lalu sebagai sumber kebenaran.
Pandangan ini membawa moralitas baru dalam arsitektur, yaitu antitradisi, anti ornamen
serta lebih mementingkan kejujuran (kejujuran material, struktur dan fungsi). Akibatnya,
pengertian estetika mengalami pergeseran. Yang disebut ”indah” tidak lagi berupa olahan
yang penuh tempelan ornamen. Produk arsitektur merupakan konsekuensi logis dari
kejujuran tersebut. Visualisasi bangunan mempunyai olahan yang sederhana (simple),
bersih (clean) dan jelas (clear), melalui beberapa slogan yaitu “Ornament is crime”, “Form
Follow Function” atau “Less is More” atau pemakaian beton kasar ekspos (“brutalism”) dari

5Suprapto, Ahmad. http://sayyidulayyaam.blogspot.co.id/2008/03/kesederhanaan-dalam-hidup.html.


Departement Media Informasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko Periode. 2014
8
Kritik Arsitektur

Le Corbusier sebagai elemen estetis. Mengandung pengertian penggunaan ornamen pada


bangunan sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan fungsionalnya dan semangat jaman.
Tawaran konsep yang dimiliki arsitektur modern tersebut merupakan suatu pemikiran
yang menarik dan inspiratif karena sesuai dengan semangat konsep Islami. Pandangan ini
sangat kuat pengaruhnya terhadap konsep karya-karya arsitektur masjid. Konsep tersebut
mencerminkan cara pandang yang Islami, tidak berlebih-lebihan dan tidak mubazir.
Konsep Islam menyatakan bahwa agama Islam ditujukan untuk orang-orang yang berpikir
(rasional) karena pada dasarnya Islam itu sangat rasional. Selain itu, ketertarikannya
pada konsep tersebut karena secara prinsipiil bertolak belakang dengan cara kerja seorang
arsitek yang hanya mengandalkan pencarian bentuk semata-mata (for the sake of form),
tanpa landasan pemikiran yang jelas. Itulah sebabnya kolaborasi antara konsep arsitektur
modern dan konsep Islami tidak bertentangan.

Arsitektur Modern Kontemporer berkembang sekitar awal 1920-an yang dimotori oleh
sekumpulan arsitek Bauhaus School of Design, Jerman yang merupakan respon terhadap
kemajuan teknologi dan berubahnya keadan sosial masyarakat akibat perang dunia. Gaya
kontemporer juga sering diterjemahkan sebagai istilah arsitektur modern (Illustrated
Dictionary of Architecture, Ernest Burden).6

Istilah kontemporer sama artinya dengan modern yang kekinian, tapi dalam desain
kerap dibedakan. Kontemporer menandai sebuah disain yang lebih maju, variatif, fleksibel
dan inovatif, baik secara bentuk maupun tampilan, jenis material, pengolahan material,
maupun teknologi yang dipakai dan menampilkan gaya yang lebih baru. Arsitektur ini
dikenali lewat karakter desain yang praktis dan fungsional dengan pengolahan bentuk
geometris yang simple dan warna-warna netral dengan tampilan yang bersih. Dalam
desainnya banyak diterapkan penggunaan bahan-bahan natural dengan kualitas tinggi
seperti sutera, marmer dan kayu.7

Untuk desain interiornya, misalnya lantai, ditampilkan dengan kesan ringan melaui
penggunaan keramik putih, lantai batu atau kayu atau penggunaan karpet berwarna
lembut dan simple. Pengolahan dinding dengan warna-warna netral (krem, putih bersih
dan abu-abu) atau diolah unfinished dengan media semen plester atau bata ekspos. Untuk
penutup jendela banyak ditemui penutup dari jenis blinds atau tirai yang simple.
Furniture pun tampil dengan bentuk fungsional dan praktis dengan banyak
mengeksplorasi dari kayu, kaca, kulit, krom, stainless steel dan besi.8

Seni kontemporer yang lahir setelah era seni modern sangat mewakili kekinian baik
dalam konsep maupun produk akhir yang dihasilkan. Para seniman atau arsitek yang
menggeluti konsep kontemporer ini menuangkan ide dan konsep modern dalam karya-
karya mereka serta menggabungkan antara idealisme dan trend yang diyakininya.
Arsitektur kontemporer bisa juga dikatakan dengan istilah arsitektur non-vernakular
dimana konsep kontemporer ini sangat memaksimalkan penggunaan produk atau material

6 http://www.daudesain.com/Arsitektur/gunakan-jasa-profesional-untuk-membangun-rumah.html
7 http://www.daudesain.com/Arsitektur/gunakan-jasa-profesional-untuk-membangun-rumah.html
8 http://www.daudesain.com/Arsitektur/gunakan-jasa-profesional-untuk-membangun-rumah.html
9
Kritik Arsitektur

yang baru non-lokal secara aspiratif, inovatif dan memiliki resiko yang tinggi.9 Untuk
menciptakan suatu desain kontemporer yang unik perlu diperhatikan harmonisasi bentuk,
warna, dan material yang digunakan didalam suatu bangunan agar terkesan menyatu.
konsep kontemporer ini ingin menyajikan sesuatu yang baru bagi orang-orang yang telah
jenuh dengan sesuatu yang "biasa".10 Arsitektur kontemporer menonjolkan bentuk unik,
diluar kebiasaan, atraktif, dan sangat komplek. Permainan bentuk dan warna menjadi
modal menciptakan daya tarik bangunan. Selain itu permainan tekstur sangat
dibutuhkan. Tekstur dapat diciptakan dengan sengaja. Misalnya, akar rotan yang dijalin
berbentuk bidang tekstur seperti benang kusut. Bisa juga memilih material alami yang
bertekstur khas seperti kayu.

Diagram 1: Digram integrasi konsep islami dan arsitektur modern pada perancangan Masjid

Sumber: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=72405&val=4913

Penzberg Dan Komunitas Muslim Penzberg

Penzberg adalah sebuah kota dengan jumlah penduduk sekitar 16.000 jiwa yang berada
di bagian selatan Jerman, yaitu di kaki Pegunungan Alpen. Muslim Penzberg merupakan
minoritas di kota ini, hanya berjumlah sekitar seribu jiwa. Penzberg merupakan kota
multikultur, yang ditempati sekitar 70 suku bangsa di dunia. Komunitas Muslim setempat
kebanyakan berasal dari Albania, Turki, dan Bosnia. Masjid Penzber didirikan atas
prakarsa komunitas Muslim Jerman yang tergabung dalam Islamische Gemeinde Penzberg
eV atau Jamaah Islam Penzberg. Organisasi Islam yang didirikan pada 1994 ini, dikenal
sangat multietnis, netral, dan terbuka. Sebelum memiliki masjid seperti sekarang, Muslim
Penzberg dulunya biasa melakukan shalat di sebuah bangunan tua bekas kandang sapi.
Baru pada September 2005 setelah masjid yang diberi nama Forum Islam ini diresmikan,
Muslim Penzberg bisa beribadah dengan sangat nyaman di masjid barunya. Biaya

9 http://studioideal.wordpress.com/2013/09/27/arsitektur-kontemporer/
10 www.anneahira.com
10
Kritik Arsitektur

pembangunan masjid yang mencapai tiga juta Euro yang merupakan sumbangan dari
Sultan bin Muhammad Al-Qassimi, emir dari Uni Emirat Arab (UEA).

Pembahasan
Masjid Forum Penzberg, Jerman

Gambar 1: Masjid Forum Penzberg, Jerman

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/ (tanggal: waktu akses)

Masjid Islam Forum Penzberg tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah semata,
selain itu masjid ini menjadi fasilitas pengembangan Islam di berbagai bidang kehidupan
seperti pendidikan, sosial dan kultural oleh masyarakat Muslim dan juga masyarakat di
sekitarnya. Masjid berlantai tiga ini memiliki berbagai macam fasilitas penunjang lain
diantaranya perpustakaan, multimedia center, aula, ruang administrasi dan beberapa
ruang kelas. Sedangkan bagian luar masjid terdapat fasilitas taman, teras dan parkir.
Dibangun diantara pemukiman warga, masjid ini memiliki luas bangunan 6000 meter
persegi.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid ini juga berfungsi sebagai pusat aktivitas
pendidikan, sosial dan kultural bagi komunitas Muslim atau warga sekitar masjid. Seperti
yang diberitakan oleh Mualaf Center Online, ketua Forum Islam setempat Benjamin Idriz
mengatakan masjid ini mengorganisir kursus bahasa dan agama dan juga forum-forum
lokakarya, selain itu masjid ini juga dijadikan oleh beberapa mahasiswa di Jerman sebagai
tempat untuk mempelajari studi tentang Islam dan Muslim khususnya muslim di Jerman.

Melalui desain arsitektur masjid, akhirnya warga non-Muslim yang berada di sekitar
lingkungan tempat masjid di bangun menerima keberadaan Masjid. Seperti yang terkutip
di harian Republika (12 Januari 2012), “mereka suskes membanguan masjid sederhana
berarsitektur luar biasa, sebuah masjid kontemporer yang melambangkan keterbukaan
dan modernitas”. Masjid Forum Penzberg ini berhasil memberikan kesan kepada orang
lain bahwa sebuah rumah ibadah kaum muslim tidak harus memiliki kubah yang menonjol
dengan dipenuhi ornamentasi yang mencolok, keserhanaan yang di tunjukkan oleh Masjid
11
Kritik Arsitektur

ini sukses menggambarkan kesederhanaan kaum muslim dan kaum muslim dapat berbaur
dengan berbagai kalangan dan kultur budaya tempat kaum muslim hidup dan
berkembang.

Ditengah himpitan yang mempersulit pendirian masjid sebagai sarana ibadah di Eropa,
ada satu kisah pendirian masjid yang sangat menarik, yaitu Masjid Islam di kota kecil
Penzberg-Jerman. Muslim sebagai golongan minoritas di Provinsi Bavaria-Jerman berhasil
membangun sebuah Masjid sekaligus sebuah wadah komunitas muslim yang menyatu
dengan kehidupan masyarakat Jerman pada umumnya. Pendirian masjid inilah sebagai
bukti kebatilan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Masjid Forum Penzberg
ini tidak hanya terbuka bagi kaum muslim saja, akan tetapi kaum non muslimpun boleh
berkunjung ke Masjid. Keterbukaan inilah yang membuat Masjid ini mudah di terima di
tengah-tengah masyarakat Penzberg Jerman.

Masjid yang telah mendapat beberapa penghargaan ini, terletak di tengah permukiman
masyarakat yang heterogen dengan berbagai macam agama, ras, suku, dan budaya di
dalamnya. Tidak sulit untuk menjangkau keberadaan masjid ini, selain karena berada
tepat di sisi jalan dengan dikelilingi beberapa pertokoan dan rumah-rumah penduduk
sekitar, Tidak adanya pagar pada halaman masjid memberikan kesan sangat akrab
dengan lingkungan sekitarnya dan seperti mempersilahkan orang luar untuk berkunjung
ke Masjid ini.

Gambar 2: Masjid Kaum Penzberg di tengah permukiman warga di Penzberg, Jerman

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/

Stigma negatif warga non-Muslim Penzberg terhapus ketika melihat dan merasakan
Masjid ini. Keterbukaan menyambut dengan ramah siapapun yang datang, tanpa melihat
latar belakang agama maupun golongan rasial mereka. Inilah yang menjadi nilai lebih
masjid yang diarsiteki oleh Alen Jasarevic ini, sebagai upaya untuk menghilangkan stigma
negatif masyarakat Barat yang selama ini melekat pada Islam. Adanya Masjid ini telah
banyak memberikan perubahan kepada warga Jerman terutama kesan negative yang
selama ini terus di dengar masyarakat terutama tentang kasus terorisme yang selalu
melekat kepada warga muslim. Jasarevic juga bercita-cita ingin membangun masjid yang
12
Kritik Arsitektur

dapat diterima publik Jerman, sesuatu yang terbuka untuk semua orang, tidak seperti
bentuk masjid Turki Utsmani yang ia samakan dengan bentuk UFO. Walaupun memilih
gaya kontemporer untuk seluruh struktur bangunannya, Jasarevic tidak serta-merta
meninggalkan unsur-unsur seni Islami sebagai penghias sekaligus jiwa dari masjid ini.
Hiasan arabesque berupa permainan garis-garis geometri sederhana dan kaligrafi bahasa
Arab tetap menghiasi seluruh interior ruang shalat. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari
beberapa corak hiasan yang tedapat di Masjid Kordoba, Spanyol. Sementara itu, langit-
langit, panel, dan beberapa buah tiang artistik di ruang shalat utama dihiasi oleh kaligafi
99 nama Allah (Asmaul Husna) dan rangkaian garis geometri yang membentuk bintang-
bintang. Dalam hal ini, walaupun arsitektur islam berusaha berbaur dengan gaya
arsitektur masa kini, akan tetapi unsur-unsur tradisi yang ada tidak serta merta langsung
dihilangkan begitu saja. Penggunaan unsur-unsur/ornamentasi islam terdahulu yang
kemudian dimodifikasi menjadi pilihan Alen agar Masjid tetap terlihat sederhana dan
tidak berlebihan.

Penerapan Konsep kesederhanaan dan keterbukaan sangat jelas terlihat pada eksterior
Masjid. Konsep kesederhanaan yang tampak pada Masjid ini terlihat pada bentuk
bangunan yang kota dan bertujuan memaksimalkan penggunaan ruang di dalamnya.
Bangunan berbentuk kotak berusaha meminimalisir timbulkanya efek ruang negative
pada bangunan. Tidak hanya bentuk bangunan yang kotak, ornamentasi yang digunakan
pada Masjid ini juga tidak terlalu menonjol dan tetap memberikan kesan estetis pada
bangunan Masjid. Fasade bangunan yang didominasi penggunaan batu alam berwarna
krem dengan paduan bukaan kaca memberikan kesan yang tidak berlebihan pada
bangunan. Selain itu bangunanpun tetap terlihat indah walaupun tidak banyak terdapat
ornamentasi pada bangunan. Nilai-nilai keislaman tentang kesederhanaan sangat
diterapkan oleh sang arsitek dalam usaha menciptakan sebuah rumah ibadah kaum
minoritas yang tetap berbaur dengan lingkungan tempat Masjid dibangun.

Gambar 3: Eksterior bangunan Masjid Forum Penzberg Jerman yang minim ornamentasi yang mencolok
dan tampak menyatu dengan lingkungan sekitar

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/
13
Kritik Arsitektur

Konsep keterbukaan lain pada masjid ini terlihat pada material dominan kaca yang
menjadi elemen utama fasad sebagai bagian penyambut kedatangan para pengunjung. Hal
ini menjadikan masjid sangat terbuka, namun tidak mengurangi kekhusyukan ibadah para
jamaah masjid, selain itu memudahkan orang di luar masjid bisa mengetahui aktivitas
jamaah di dalam masjid sehingga akan menghapus kecurigaan masyarakat non-Muslim
tentang aktivitas kaum muslim. Dominasi kaca yang memberikan kesan transparan pada
fasad menciptakan efek visual yang dihasilkan dari estetika yang tercermin dari
lingkungan sekitarnya. selain bentuk bangunan utama yang sederhana dan fungsional
tetapi tetap terlihat indah, minaret pada Masjid juga menunjukkan sebuah makna
kesederhanaan kaum muslim. Minaret yang terbentuk dari ayat-ayat suci al-Qur’an yang
dibentuk tiga tingkatan menyerupai balok yang disusun tiga buah dengan orientasi yang
berbeda-benda membuat Masjid terlihat lebih indah. Walaupun Minaret Masjid terbentuk
dari ayat suci al-Qur’an, akan tetapi minaret ini berhasil menyatu dengan bangunan dan
tidak terlihat dominan dari pada bangunan utama.

Gambar 4: Minaret Masjid Forum Penzberg

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/

Minaret yang dicat dengan warna yang senada dengan bangunan utama memberikan
kesan menyatu dan seperti tidak terpisahkan dari bangunan utama. Selain sebagai
pemberi kesan estetis, minaret yang berfungsi juga berfungsi sebagai focal point pada dan
sebagai node/penanda letak Masjid diantara permukiman dan pertokoan milik warga.
Minaret ini tidak terbuat dari batu bata atau semen seperti pada umunya, tetapi
rangkaian kaligrafi yang membentuk tiga buah kubus baja antikarat. Kaligrafi bahasa
Arab yang membentuk menara ini adalah teks ajakan untuk mendirikan shalat, yaitu
azan. Lantunan ayat Alquran senantiasa bergema selama 24 jam sehari tanpa
mengganggu para tetangga. Berdiri dengan sederhana dan elegan di dekat pusat kota,
gaya arsitektur Masjid Penzberg berbaur dengan gaya arsitektur bangunan-bangunan lain
di sekitarnya. Bentuk minaret yang minimalis dan berbeda dari minaret-minaret Masjid
kebanyakan dengan gaya dan ornamen yang menarik serta sederhana membuat Masjid ini
lebih terlihat modern sekaligus membuktikan bahwa arsitektur islam yang tidak lekang
oleh waktu dan dapat terus melakukan modifikasi dari waktu kewaktu.

Kesan terbuka pada Masjid ini juga diperkuat dengan adanya pintu yang terbuat dari
metal polos yang dilengkapi dua buah balok beton yang dihiasi ayat-ayat suci al-Qur,an
14
Kritik Arsitektur

yang tidak terlalu menonjol dengan terjemahan bahasa Jerman pada sisi satunya. Adanya
ayat suci al-Qur’an yaitu surah al-Fatihah dan al-Hujurat yang bersanding dengan
terjemahanya dalam bahasa Jerman adalah usaha yang ingin diciptakan oleh Alan agar
Masjid ini dapat membaur dengan lingkungan sekitarnya dan membuktikan bahwa agama
Islama adalah agama yang dapat diterima di mana saja dan kapan saja. Di atas pintu
terdapat sebuah jendela besar yang memantulkan warna langit dan awan Kota Penzberg.
Pintu masjid diapit oleh gerbang berupa dua lembar balok beton yang tingginya hampir
setara dengan tinggi bangunan. Penggunaan balok beton yang selalu terbuka ini juga
mengisyaratkan kepada masyarakat sekitar bahwa komunitas muslim Penzberg selalu
menerima kedatangan mereka untuk sekedar berkunjung atau bertukar pikiran dan ilmu
pengetahuan sesama warga Jerman.

Bila biasanya pintu utama masjid langsung mengantarkan jamaah dan pengunjung ke
ruang shalat utama, di Masjid Penzberg, seorang jamaah akan langsung memasuki koridor
(flur) yang mirip dengan rumah-rumah di Jerman, dan sekaligus menghubungkannya
dengan pintu-pintu lainnya. Di sebelah kiri koridor terdapat pintu perpustakaan dan
tangga menuju ruang shalat wanita di lantai kedua, sedangkan di sebelah kanan terdapat
pintu ruang shalat utama untuk laki-laki. Ujung koridor ini terhubung dengan lapangan
parkir dan taman. Dari segi tata ruang yang mengadopsi tat ruang rumah tradisional
Jerman ini adalah salah satu upaya sang arsitek dalam menciptakan suasana keselarasan
agar pengunjung yang datang tidak merasa asing berada di dalamnya.

Gambar 5: Pintu beton yang selalu terbuka dengan dihiasi ayat-ayat suci al-Qur’an dengan dilengkapi
terjemahan ke dalam bahasa Jerman

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/

Tidak seperti Masjid-Masjid di Jerman yang pada umumnya yang menggunakan gaya
arsitektur Turki Ustmani dengan ciri khas kubah seperti Hagia Sofia ataupun Masjid
Sulaiman, pada Masjid Forum Penzberg elemen ini sengaja dihilangkan. Menurut Alen
Jasarevic yang juga arsitek Masjid ini adanya kubah pada Masjid ini akan mengurangi
15
Kritik Arsitektur

keselarasan dan kesan kesatuan dengan lingkungan setempat, sedangkan gaya


kontemporer dengan gubahan bentuk yang sederhana akan mudah diterima oleh
masyarakat setempat. Selain inovatif, hal ini sejalan dengan harapan Muslim Penzberg,
yaitu menginginkan sebuah masjid yang dapat diterima masyarakat sekitarnya tanpa
menimbulkan protes dan juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk berinteraksi antara
sesama Muslim dan warga lainnya. Setelah masjid ini diresmikan, harapan Muslim
Penzberg menjadi kenyataan. Tercatat semenjak hari peresmiannya, masjid ini telah
dikunjungi puluhan ribu pengunjung, baik Muslim ataupun non-Muslim. Selain karena
gaya arsitektur kontemporer dirasa lebih modern dan kekinian, gaya ini juga telah ada di
Jerman dari tahun 1920-an. Arsitektur Kontemporer yang menyatu dengan arsitektur
islam coba ditunjukkan oleh Masjid ini melalui gubahan bentuk dasar Masjid dan
penggunaan material alam pada eksterior Masjid. Selain itu penggunaan gaya arsitektur
kontemporer sebagai salah satu bentuk bahwa komunitas muslim juga dapat dengan
mudah menyatu dengan komunitas lain dimanapun mereka berada.

Gambar 6: Bentuk Masjid yang dominan di Jerman yang mengadopsi bentuk Masjid di Turki contohnya adalah
Masjid Sehitlik

Sumber: http://www.bsukses.com/2015/01/inilah-5-masjid-keren-di-negara.html?m=0

Konsep Keselarasan

Masjid Forum Penzberg ini tidak begitu besar dan juga tidak terlalu
monumental. Ground floornya berbentuk L terbagi beberapa fungsi seperti ruang utama
sholat, ruang kelas, ruang administrasi dan beberapa fasilitas penunjang lainnya.
Gubahan bentuk dasar masjid ini berbentuk kotak kubus dan mengutamakan
fungsionalitas ruang, akan tetapi arsitek mengimbanginya dengan permainan detail
ornamentasi yang kaya dan tidak terlalu mencolok agar kesan arsitektur kontemporer
tidak hilang.
16
Kritik Arsitektur

Gambar 7: Layout Masjid Forum Penzber yang berbentuk L

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/

Tampilan warna masjid ini menggunakan komposisi warna monokromatik abu-abu, putih,
dan kuning kecoklatan menjadikan masjid ini tidak mencolok diantara bangunan
sekitarnya. Warna yang tidak mencolok sebagai upaya menjadikan masjid menyatu, tidak
saling mengintervensi dan tidak saling mendominasi. Selain itu penggunaan warna-warna
monokromatik juga sebagai upaya untuk memperkuat kesan modern kontemporer dan Hal
ini juga didukung dengan gaya arsitektur yang menunjukkan spirit modernitas masa kini
dan tetap mempertahankan esensi ‘kesederhanaan’ yang menjadi satu kesatuan dengan
lingkungan. Esensi kesederhanaan inilah yang membuat Masjid ini sering dipuji oleh
banyak kalangan dan berhasil mencuri perhatian para wisatawan yang berkunjung ke kota
Penzberg untuk datang ke Masjid ini.

Gambar 8: Penggunaan Warna monokromatik pada Masjid Forum Penzberg, Jerman dengan dipadukan gaya
arsitektur yang mengusung spirit medernitas

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/
17
Kritik Arsitektur

Gambar 9: Keselarasan yang ditunjukkan oleh Masjid dengan lingkungan di sekitarnya

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/

Dari gambar di atas terlihat Masjid Forum Penzberg berusaha selaras dengan
bangunan sekitarnya. walaupun dengan gaya yang lebih modern, tetapi Masjid ini tetap
terlihat selaras dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya melalui penggunaan warna
yang monokromatis dan tidak mencolok. Selain itu bangunan yang tidak monumental juga
menjadi salah satu bukti lain Masjid ini berusaha tidak menonjol dari bangunan di
sekitarnya. Kesederhanaan dan keselrasan tidak hanya ditunjukkan melalui gubahan
bentuk dan warna saja, Jendela kaca bermotif gubahan kaligrafi arabesk yang lebih
sederhana dan simpel menunjukkan budaya pop juga turut berpengaruh dalam Masjid ini,
dan tanpa menghilanngkan pola dasar geometri kaligrafi sebagai maha karya seni
kebudayaan Islam.

Interior

Konsep kesederhanaa, keselarasan, dan arsitektur modern kontemporer tidak hanya


ditunjukkan melalui eksterior bangunan, interior bangunan Masjid juga ikut berperan
dalam memberikan kesan menyatu dengan lingkungan sekitar melalui penggunaan
interior bergaya islam kontemporer.
18
Kritik Arsitektur

Gambar 10: bentuk mihrab pada Masjid yang mengusung tema arsitektur islam kontemporer

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/

Penggunaan mihrab yang meyatu dengan tempat makmum dan dilengkapi partisi
berbahan logam yang dihiasi ornamentasi islam berupa adalah bentuk kesederhanaan
yang berusaha dimunculkan oleh Masjid ini. Tidak seperti mihrab Masjid pada umunya
yang dipenuhi ornamentasi yang terletak menjorok lebih kedalam dari pada barisan
makmum, mihrab pada Masjid Forum Penzberg seakan-akan tidak ingin terpisah dari
barisan makmum, mihrab hanya dilengkapi sebuah partisi berbentuk setengah tabung
yang dihiasi ayat-ayat suci al-Qur’an yang terbuat lagi logam. Selain itu, pada Masjid
forum Penzberg tidak dilengkapi mimbar bagi tempat imam berkhotbah atau ceramah
agama, setiap khotbah atau ceramah agama imam akan berdiri ataupun duduk bersila
sejajar dengan makmumnya. Hal ini membuat derajat antara imam dan makmum menjadi
setara dan tidak ada hirarki yang membatasi antar keduanya. Karena hal inilah, konsep
kesederhanaan dan kesetaraan semakin kental terasa pada Masjid Forum Penzberg
Jerman.

Gambar 11: suasana imam yang sedang berceramah pada area mihrab Masjid Forum Penzberg Jerman

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/
19
Kritik Arsitektur

Gambar 12: Mihrab pada Masjid pada umunya yang sangat menonjol dan terkesan berlebihan dan tidak
menyatu dengan bagian lainnya

Sumber: http://www.grcmandiri.com/mihrab-mesjid-raya-pt-semen-padang/

Selain pada mihrab, area sholat pada masjid inipun terasa sangat sederhana dan tidak
berlebihan. Hal Ini dilakukan agar para jama’ah lebih khusyuk dalam menjalankan
ibadah. Sang arsitek disini berusaha menciptakan suasan yang nyaman dan tenang karena
fungsi Masjid sendiri sebagai tempat ibadah diperlukan suasana yang dapat menyejukkan
hati dan jiwa. Pemilihan warna monokromatis dapat menjadi pilihan yang tepat dalam
menciptakan suasan yang tenang dan nyaman di dalam Masjid. Warna yang monokromatis
dapat dimaksudkan agar konsentrasi para jama’ah terfokus pada imam bukan pada
ornament yang ada pada Masjid.

Pencahayaan interior ruang shalat mengandalkan beberapa buah lampu kecil khas
gaya minimalis yang ditempatkan di langit-langit dan lantai dekat jendela. Selain itu,
pada siang hari pencahayaan interior didukung oleh jendela-jendela besar di sebelah
kanan dan kiri ruang shalat. Bagian terdepan ruang shalat ini bukanlah sebuah dinding
beton, melainkan rangkaian 24 jendela daur ulang berwarna biru yang menghadap ke arah
kiblat. Pada waktu siang, cahaya matahari akan dibiaskan oleh rangkaian jendela ini dan
menghasilkan cahaya berwarna kebiruan.

Gambar 13: Kaca daur ulang pada Masjid Forum Penzberg

Sumber: https://arsitekkampung.wordpress.com/2013/02/19/masjid-islam-forum-penzberg-jerman-bahasa-
arsitektur-muslim-minoritas-di-barat/
20
Kritik Arsitektur

Konsep Hemat Energi

Selain hal-hal yang telah disampaikan di atas, konsep lain yang diterapkan pada
Masjid ini adalah konsep hemat energi. Sebagai tambahan sumber energi, di atap masjid
yang berbentuk datar ini dipasang 22 panel tenaga matahari seharga 40 ribu Euro. Panel-
panel ini merupakan sumber energi untuk sistem penghangat ruangan dan pemanas air.
Konsep hemat energi sendiri di dalam islam bukanlah hal yang baru. Di dalam al-Quran
konsep hemat energi berulang kali disampaikan diantaranya, Pertama : “ Dan berikanlah
kepada keluarga yang dekat, akan haknya, kepada orang-orang miskin, dan orang- orang
dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara
berlebih-lebihan (boros)”. .( QS.17: 26), Kedua : “ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” .(QS.
17: 27). Ketiga : “ Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.6;141). Keempat : “ Dan makanlah dan
minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.” (QS.7 : 31). Dari empat ayat tersebut, terlihat, bahwa Tuhan
sangat membenci orang-orang yang boros, sehingga dikatakan pemboros itu “bersaudara
dengan setan.” ( IKHWAN SYAITAN ). Dari keempat ayat diatas jelas dinyatakan bahwa
Allah menyerukan kepada umat manusia agar dapat hidup hemat terutama dalam hal
penggunaan energi. Hal inilah berusaha dilakukan oleh Masjid melalui penggunaan solar
panel yang berada di atap Masjid. Hal ini dimaksudkan sebagai bahan bakar cadangan
agar Masjid tidak bergantung pada energy listrik kota.

Gambar 14: Solar panel yang terdapat pada atap Masjid

Sumber: http://footage.framepool.com/en/shot/431619343-islamisches-forum-penzberg-solar-roof-green-
electricity-fotovoltaics

Hasil
Dari pembahasan di atas dapat dihasilkan bahwa Masjid Forum Penzberg Jerman ini
telah berusaha menimbulkan kesan sederhana lewat bentuk bangunan yang tidak
berlebihan dan lebih fungsional daripada harus memaksakan bentukan yang rumit dan
akhirnya menimbulkan ruang-ruang negatif. Konsep kesederhanaan pada Masjid ini juga
diperkuat melalui fasade bangunan yang minimalis, memberikan kesan nyaman dan tetap
21
Kritik Arsitektur

menyatu dengan lingkungan di sekitarnya. Selain fasade yang minimalis, masjid yang
tidak memiliki kubah ini juga tetap terlihat modis melalui penggunaan material bangunan
yang modern dan warna monokromatis yang dipilih membuat Masjid ini tampak elegan
dan tidak berlebihan. Penggunaan material seperti logam dan material alam seperti batu
alam pada fasade bangunan merupakan upaya untuk menimbulkan kesan modern
kontemporer yang banyak berkembang di Jerman agar Masjid terkesan menyatu bukan
hanya pada lingkungan sekitar saja tetapi juga dapat menyatu dengan kebudayaan dan
arsitektur Negara tempat Msjid itu berdiri yaitu Jeman.

Konsep kesederhanaan tidak hanya terlihat pada eksterior bangunan, interior


bangunan juga ikut andil dalam mewujudkan kesan sederhana pada Masjid lewat
penggunaan warna-warna monokromatis yang lembut seperti putih, abu-abu, dan biru
yang berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi jamaah saat melakukan ibadah di
dalamnya. Selain itu penggunaan ornamentasi islam yang tidak berlebihan membuat
kesan sederhana pada Masjid semakin kuat. Tidak hanya itu, konsep kederhanaan juga
ditunjukkan oleh mihrab Masjid yang terkesan menyatu dengan area ma’mum. Mimbar
yang cukup sederhana, terbuat dari logam setengah tabung yang dibentuk kaligrafi yang
kemudian difinishing atau diclearing agar terlihat lebih elegan. Selain itu, khotib yang
akan melakukan khutbah jum’at tidak lagi menggunakan mimbar yang tinggi, mimbar
yang rendah seakan menyatu dengan jama’ah menjadi pilihan Arsitek untuk mewujudkan
dan memperkuat konsep kesederhanaan dan kesetaraan pada bangunan Masjid.

Warna monokromatis yang dipilih sesuai dengan konsep kesederhanaan, ditambah lagi
ornamentasi islam yang tidak berlebihan dengan teknik pewarnaan yang menyesuaikan
dengan cat dinding pada Masjid menambah kesan kesederhanaan pada interior Masjid.
Konsep lain yang juga diterapkan pada Masjid ini adalah konsep hemat energi yang
sejalan dengan konsep kesederhanaan yang aplikasinya melalui penggunaan sel surya
pada bagian atap bangunan yang berfungsi sebagai cadangan listrik pada bangunan
Masjid dan penggunaan kaca yang besar segabai sumber cahaya matahari sat siang hari.
Konsep hemat energi yang sejalan dengan konsep kesederhanaan dapat dijadikan contoh
dan panduan dalam membangun sebuah bangunan atau kawasan agar tidak terkesan
berlebihan dan dapat menyatu dengan lingkungan disekitarnya. Sikap sederhana yang
diajurkan oleh Rasulullah juga dapat dijadikan patokan bagaimana bangunan sederhana
dapat hadir tanpa harus mengurangi kesan estetika pada Masjid maupun bangunan di
sekitarnya.

Tabel
Kesesuaian Penerapan Konsep Kesederhanaan Pada Masjid Forum Penzberg

Elemen Arsitektural Elemen Pada Masjid Kesesuaian Dengan


Forum Penzberg Konsep
Kesederhanaan
Material Dinding Eksterior Menggunakan batu alam dan Sudah sesuai, karena
dinding beton dengan warna penggunaan batu alam
22
Kritik Arsitektur

monokromatis/warna yang yang menimbulkan kesan


senada tidak berlebihan dan lebih
natural dengan warna
yang senada
Minaret Menggunakan baja berbentuk Masih terlalu mencolok
kubus yang disusun 3 tingkat walaupun disamarkan
saling silang yang berbentuk dengan penggunaan warna
kaligrafi berwarna yang monokromatis
monokromatis
Pintu Depan Menggunakan pintu metal Sesuai, karena
polos yang dapat penggunaan pintu metal
memantulkan lingkungan agar terkesan terbuka
sekitarnya yang dilengkapi karena pintu yang yang
dua buah beton yang dihiasi dapat memantulkan area
ayat suci al-Qur’an dan di sekitarnya, ditambah
terjemahan dalam bahasa dua buah beton yang
Jerman terbuka dengan warna
yang menyesuaikan
Mihrab dan Mimbar Mihrab menyatu dengan Sudah sesuai, karena
barisan/area ma’mum yang mihrab yang dapat enyatu
dihiasi kaca berwarna dengan area ma’mum, dan
kebiruan hasil dari daur ulang mimbar yang tidak
berjumlah 24 buah. Mimbar berlebihan
berupa partisi logam setengah
tabung yang berbntuk kaligrafi
Pencahayaan Alami Mengandalkan kaca yang Sesuai, karena
berjumlah 24 buah pada memaksimalkan bukaan
mihrab, bukaan berupa kaca dengan penggunaan kaca
yang dihiasi ornamentasi yang cukup banyak
arabes pada bagian kanan dengan ukuran yang
mihrab, dan kaca di atas pintu cukup besar, dapat
utama memaksimalkan cahaya
masuk saat pagi dan siang
hari
Pencahayaan Buatan Mengandalkan lampu-lampu Sesuai, karena lampu
kecil yang menjadi ciri khas yang tidak terlalu besar
arsitektur modern saja sudah cukup dengan
kontemporer penataan yang
diperhatikan untuk
menghemat energi
Dinding Interior Menggunakan dinding beton Sudah sesuai, karena
dengan warna monokromatis interior Masjid tidak
dengan dilengkapi seharusnya berlebihan
ornamentasi islam yang karena fungsinya sendiri
sederhana dan dengan warna sebagai tempat ibadah
yang senada dengan dinding
23
Kritik Arsitektur

Atap Menggunakan dak beton yang Sesuai, karena


dilengkapi sel surya sebagai memfungsikan area ini
pasokan energy tambahan sebagai tempat sel surya
pada Masjid yang nantinya berguna
dalam memasok energi
tambahan pada Masjid

Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa arsitektur islam erat kaitanya dengan
arsitektur Masjid. Dari dunia arsitekturlah islam dapat dikenal luas oleh masyarakat
karena keindahan ornamen yang sering ditonjolkan pada bangunan Masjid. Walaupun
demikian tidak selamanya arsitektur islam identik dengan penggunaan ornamen yang
mencolok, kesederhanaan dan fungsionalitas dalam berarsitektur dapat menjadi pilihan
perancang dalam merancang sebuah Masjid untuk menunjukkan kesederhanaan umat
islam. Salah satu yang menerapkan prinsip kesederhanaan dalam berarsitektur adalah
Masjid Forum Penzberg di Jerman dengan merapkan nilai-nilai kesederhanaan dalam
arsitektur islam yang dikombinasikan dengan arsitektur modern kontemporer yang
berkembang di Jerman agar bangunan Masjid dapat menyatu dengan lingkungan
sekitarnya.

Masjid Forum Penzberg tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, akan tetapi
juga digunakan sebagai kantor komunitas muslim Penzberg, tempat musyawarah,
multimedia center, perpustakaan, dan juga madrasah bagi para pendatang ataupun aggota
komunitas muslim Penzberg yang ingin lebih mendalami ilmu-ilmu tentang islam.
Ditengah himpitan sulitnya membangun Masjid di Eropa, Masjid ini mampu membuktikan
kebatilan islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin dan dapat diterima ditengah-tengan
masyarakat tanpa harus takut terusik dan hal-hal semacamnya. Stigma negatif warga
Penzberg langsung hilang saat memasuki dan merasakan Masjid ini. keterbukaan Masjid
membuat siapapun yang datang merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam Masjid
serta keramahtamahan para pengurus Masjid membuatnya sering mendapat penghargaan.

Konsep kesederhanaan dan keterbukaan sangan jelas terlihat pada eksterior Masjid.
Mulai dari penggunaan material dinding berupa batu alam dengan warna yang
natural/senada dengan warana elemen ekterior lainnya, penggunaan minaret yang
berwarna monokromatis bersusun tiga, kaca dengan tambahan ornamen arabs yang
dipengaruhi budaya pop, dan pintu metal polos yang dapat memantulkan lingkungan
disekitarnya yang dilengkapi dua buah beton yang bertuliskan ayat suci al-Qur’an beserta
terjemahannya. Pada interior bangunan juga tidak terlalu berlebihan, dinding dicat
dengan warna monokromatis yang lebut dilengkapi mihrab yang menyatu dengan area
ma’mum dengan tambahan di depannya berupa kaca daur ulang sejumlah 24 buah.
Mimbar Masjid hanya berupa partisi setengah tabung terbuat dari logam yang berbentuk
kaligrafi. Selain itu saat malam hari, interior bangunan disinari lampu-lampu kecil untuk
menambah kesan akrab pada Masjid
24
Kritik Arsitektur

Konsep kesederhanaan lain pada Masjid adalah penggunaan sel surya pada bagian
atap Masjid sebagai pemasok energi tambahan sekaligus pemanfaatan dak beton agar
berfungsi dengan baik. Dari penjabaran tentang konsep kesederhanaan pada Masjid ini
sudah sewajarnya kita dapat bercermin dan harus memikirkan betapa kesederhanaan
rancangan juga dapat memberikan keindahan pada Masjid. Masjid tidak harus dibuat
berlebihan dengan dipenuhi ornamen, dengan adanya konsep kesederhanaan Masjid dapat
dirancang dengan baik dan indah dan kita dapat menunjukkan betapa terbukanya dan
sederhananya islam.

Daftar Pustaka
 Utami, Ilman Thinthowi, Sri Wahyuni, Luqman Nulhakim, 2013. Penerapan
Konsep Islam Pada Perancangan Masjid Salman ITB Bandung. Bandung: Jurnal
Reka Karsa Jurnal Institut Teknologi Nasional
 Rony. 2014, Ikonografi Arsitektur Dan Interior Masjid Kristal Khadija
Yogyakarta. Samarinda: Journal Of Urban Society’s Arts Volume 14 Nomor 2
 Ansary, Tamim. 2009. Destiny Disrupted: A History Of The World Through
Islamic Eyes Atau Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam.
Terjemahan. Yuliani Liputo. 2012. Jakarta: Zaman
 Faridl. Miftah. 1995. Masjid. Bandung: Penerbit Pustaka
 Noe’man, Achmad. 2002. Arsitektur Islam. Bandung: Makalah Tidak
Diterbitkan
 Rochim, Abdul. 1983. Masjid Dalam Karya Arsitektur Nasional. Bandung:
Angkasa
 Aam, Ustazah Khadijah. 1991. Konsep Kesederhanaan Menurut Pandangan
Islam. Kuala Lumpur: Pustaka Jasa
 Sativa. 2011. Arsitektur Islam Atau Arsitektur Islami. Yogyakarta: Nalars