Anda di halaman 1dari 8

TUGAS HIDROGEOLOGI

PNGARUH MORFOLOGI TERHADAP AIR TANAH

Disusun Oleh:
YUDANTOKO ADITYA WIDIANTO 21100114120037
ALI KURNIAWAN 21100114140098
SANTA HILARY SITUMORANG 21100116120003
ERA REFORMIS SINURAYA 21100116120015
FARIS NUGRAHA 21100116120025
RINO DWI HUTAMA 21100116130041
FAUZAN AZIMA 21100116130052
FATHONI TRI KURNIAWAN 21100116140061
CATUR SETIYAWAN 21100116130075
ABDURRAHMAN HAKIM P H 21100116140085
STEFANUS YUDA 21100116130067

DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
OKTOBER
1. Pengertian Air Tanah
Airtanah bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor
alam (Adji dan Noordianto, 2006). Geologi dan geomorfologi sangat
mendikte prospek airtanah di suatu daerah. Struktur geologi dapat pula
mempengaruhi arah aliran airtanah, serta jenis dan ketebalan akuifer
(Santosa dan Adji, 2014).
Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan
geologi. Lapisan tanah yang terletak di bawah permukaan tanah
dinamakan lajur jenuh (saturated zone), dan lajur tidak jenuh terletak di
atas lajur jenuh sampai ke permukaan tanah, yang rongga-rongganya berisi
air dan udara (Soemarto, 1989).

2. Pengertian Bentuklahan
Bentuklahan merupakan bentangan permukaan lahan yang
mmepunyai relief khas karena pengaruh kuat dari struktur kulit bumi dan
akibat dari proses alam yang bekerja pada batuan di dalam ruang dan
waktu tetentu (Strahler, 1983; Whittoon, 1984). Jadi aspek-aspek
penyusun satuan bentuklahan adalah : mofologi, proses termasuk
struktural dan litologi, serta kronologi.

3. Hubungan Morfologi Terhadap Air Tanah


Airtanah bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor
alam (Adji dan Noordianto, 2006). Geologi dan geomorfologi sangat
mendikte prospek airtanah di suatu daerah. Struktur geologi dapat pula
mempengaruhi arah aliran airtanah, serta jenis dan ketebalan akuifer
(Santosa dan Adji, 2014). Stratigrafi pada perlapisan batuan dapat pula
mengontrol jenis, kedalaman, dan ketebalan akuifer (Sejati dan Adji,
2013). Jenis mineral yang dikandung batuan juga mempengaruhi
permeabilitas akuifer dan konsentrasi ion terlarut. Di sisi lain, morfologi
relief permukaan bumi akan memicu pergerakan dan arah gerakan
airtanah. Perubahan topografi permukaan mempengaruhi kedalaman dan
fluktuasi muka airtanah. Sementara itu, morfogenesis pasti mengontrol
permeabilitas, porositas, dan laju infiltrasi (Adji, 2003). Karena adanya
hubungan yang kuat antara kondisi geologi-geomorfologi dan sifat
airtanah, maka kondisi geologi dan geomorfologi dapat digunakan untuk
menentukan distribusi sumber daya potensial airtanah di suatu wilayah.

4. Hubungan Morfologi dengan Air Tanah


4.1 Vulkanik
Sumber air panas
Air tanah berasal dari hujan yang meresap ke dalam tanah. Begitu
pula di gunung api, air hujan meresap ke dalam bergerak ke bagian
yang lebih dalam dan mendekati batuan yang masih panas (sisa
kegiatan vulkanis). Akibatnya air menjadi panas, bahkan sampai
mendidih. Melalui celah-celah batuan di bagian bawah air itu keluar
sebagai mata air panas.Misalnya, sumber air panas di Garut dan Cianjur
Jawa Barat, Baturaden Jawa Tengah, Tretes Jawa Timur, dan di tempat
lainnya.
Sumber air mineral
Seperti halnya sumber air panas, sumber air mineral terjadi karena
pemanasan air oleh sisa kegiatan vulkanik. Namun dalam sumber air ini
terlarut zat kimia produk
gunung api, sehingga air itu mengandung belerang atau zat kimia lain.
Sumber air mineral ini banyak ditemukan di daerah sekitar gunung api
yang aktif atau yang sudah istirahat, misalnya di Maribaya dan Ciater
sekitar gunung Tangkuban Perahu
Jawa Barat.
Geyser
Geyser adalah sumber mata air panas yang memancar secara
berkala. Geyser terjadi karena gas panas yang asalnya dari batuan
magma memanaskan bagian bawah air yang terdapat dalam celah di
dalam bumi. Uap air yang terjadi tidak dapat mengadakan sirkulasi
sampai ke permukaan bumi sehingga terjadilah akumulasi uap air
setempat. Ketika ada jalan keluar ke permukaan bumi terjadilah
pancaran air dengan suhu yang cukup tinggi. Contoh geyser yang
sangat terkenal terdapat di Yellow Stone National Park California
Amerika Serikat.

4.2 Hidrologi karst


Pada awalnya, berbicara mengenai hidrologi karst tentunya
mempunyai konsekwensi logis yang dapat terbagi menjadi dua topic
pembicaraan utama yaitu hidrologi dan karst. Hidrologi , menurut
Linsley et. al. (1975) adalah cabang dari ilmu geografi fisik yang
berurusan dengan air dimuka bumi dengan sorotan khusus pada sifat,
fenomena dan distribusi air di daratan. Hidrologi dikategorikan secara
khusus mempelajari kejadian air di daratan/bumi, deskripsi pengaruh
sifat daratan terhadap air, pengaruh fisik air terhadap daratan dan
mempelajari hubungan air dengan kehidupan. Pada sisi yang lain, karst
dikenal sebagai suatu kawasan yang unik dan dicirikan oleh topografi
eksokarst seperti lembah karst, doline, uvala, polje, karren, kerucut
karst dan berkembangnya sistem drainase bawah permukaan yang jauh
lebih dominan dibandingkan dengan sistem aliran permukaannya (Adji
dkk, 1999)
Gambar 1 Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi secara umum disajikan pada gambar dibawah
ini seperti disebutkan diatas, karena sifatnya, fokus dari hidrologi
karst adalah bukan pada air permukaan tetapi pada air yang tersimpan
di bawah tanah pada sistem-sistem drainase bawah permukaan karst.

Gambar 2. Drainase bawah permukaan di daerah karst

Untuk lebih jelasnya, Gambar 4 mengilustrasikan drainase


bawah permukaan yang sangat dominan di daerah karst. Dari Gambar
4 terlihat bahwa karena sifat batuan karbonat yang mempunyai banyak
rongga percelahan dan mudah larut dalam air,maka sistem drainase
permukaan tidak berkembang dan lebih didominasi oleh system
drainase bawah permukaan. Sebagai contoh adalah sistem pergoaan
yang kadang-kadang berair dan dikenal sebagai sungai bawah tanah.
Selanjutnya, dalam bahasan ini akan lebih banyak dideskripsikan
hidrologi karst bawah permukaan yang selanjutnya akan kita sebut
sebagai airtanah karst. Secara definitif, air pada sungai bawah tanah di
daerah karst boleh disebut sebagai airtanah merujuk definisi airtanah
oleh Todd (1980) bahwa airtanah merupakan air yang mengisi celah
atau pori-pori/rongga antar batuan dan bersifat dinamis. Sedangkan,
air bawah tanah karst juga merupakan air yang mengisi
batuan/percelahan yang banyak terdapat pada kawasan ini, walaupun
karakteristiknya sangat berbeda dibandingkan dengan karakteristik
airtanah pada kawasan lain.
Pada daerah non-karst, dengan mudah kita dapat
membedakan antara sistem hidrologi permukaan dan bawah
permukaan. Secara sederhana, konsep Daerah Aliran Sungai (DAS)
dapat dianggap sebagai unit untuk mengkaji sistem hidrologi baik itu
permukaan maupun bawah permukaan. DAS sering pula dikenal
sebagai drainage basin (cekungan yang mempunyai sistem aliran)
yang mempunyai karakteristik aliran permukaan dan bawah
permukaan dan keluar melalui satu outlet dibatasi oleh batas topografi
berupa igir. Batas dari DAS dapat dikatakan selalu tetap dan tidak
berubah sepanjang masa, terutama jika kita berbicara mengenai air
permukaan. Sementara itu, system airtanah (akuifer) dapat memotong
batas topografi DAS dan menjadi bagian dari beberapa DAS.
Sebaliknya, konsep DAS aliran permukaan di daerah karst sulit
dikenali karena lebih berkembangnya bawah permukaan.
DAFTAR PUSTAKA

Adji, T.N., 2003, Studi Pemodelan Recharge Airtanah Tahunan Kotamadya


Yogyakarta,
Lembaga Penelitian UGM Adji, T.N., Noordianto, M.H. 2006. A
Discussion of Groundwater Deterioration by Means of Its Recharge Within
The Southern Part of Merapi
Volcano, Proceeding of International Interdisciplinary Conference-
Volcano International Gathering
White, M., and Anderson, G. (1975) Hydrology and Morphology, CIRIA Project
Report 44, CIRIA, London.
Whitton, et al (1964). Analisis of Landsforms, Jhon Wiley & Sons Australasia Pty
Ltd,
Fetter, C.W., (1994), Applied Hydrogeology. 3rd Ed. Macmillan Publishing
Company, New York
Schumm, S. A., (1964), The shape of alluvial channels in relation to sediment
type: U.S. Geol. Survey
Strahler, A. N. (1964). Quantitative geomorphology of drainage basins and
channel networks. In Chow, V. T. (ed.). Handbook of Applied
Hydrology. McGraw-Hill, New York
Sweeting, M.M., (1972), Karst Landforms, Macmillan, London.
Todd, D.K., (1980). Groundwater Hydrology. 2nd Ed. John Wiley & Sons
Trudgil, S., (1985), Limestone Geomorphology, Longman, New York.
Vrba J. and Zaporozec A. (Eds.) (1979), Guidebook on Mapping Groundwater
Vulnerability. International Contributions to Hydrogeology, vol.
16, Int. Assoc. of Hydrogeol, Heise, Hanover.
Singapore.
Ford, D. and Williams, P. (1992). Karst Geomorphology and Hydrology,
Chapman and Hall, London
Linsley, R.K., Kohler, M.A., Paulhus, J.L., (1975). Hydrology for Engineers. 2nd.
Ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd. Tokyo, Japan.
Lohman, S.W. and Robinove, C.J., (1964). Photographic description and appraisal
of water resources. Photogrammetria.
Newson, M. D., and Large, A. R. L. (2006). “‘Natural’ rivers,
‘hydromorphological quality’ and river restoration: A challenging
new agenda for applied fluvial geomorphology.” Earth Surf.
Processes Landforms.
Adji, T.N., Suyono, (2004), Bahan Ajar Hidrologi Dasar, Fakultas Geografi UGM
Bogli, (1980). Karst Hydrology and Physical Speleology. Springler-Verlag
Domenico,P.A. and Schwartz, F.W., (1990), Physical and Chemical
Hydrogeology. 2nd Ed. John Wiley & Sons