Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori
1. Definisi
Gastroenteritis akut adalah gangguan transportasi larutan di usus
yang menyebabkan kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui feses
( Sodikin, 2012 ).
Gastroenteritis akut merupakan inflamasi pada membrane
mukosa lambung dan usus halus, yang bisa terjadi akibat kesalahan
makan, maupun akibat gangguan secara mikrobiologis (Utami, 2015).
Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare dengan ataupun tanpa disertai muntah, dan
sering kali disertai peningkatan suhu tubuh ( Ardiansyah, 2012 ).

2. Etiologi
Ada beberapa faktor penyebab munculnya gastroenteritis akut
menurut Sasanti, ( 2013 ) berikut ini beberapa diantaranya :
a. Infeksi oleh virus :Rotavirus, Enterovirus, Adenovirus, dan Norwalk.
b. Infeksi oleh bakteri :Esherichia coli, Shigella sp, Vibriocholera,
Salmonella, Campulobacter, Yersinia enterecolitic.
c. Infeksi Parasit :
Biasanya disebabkan oleh cacing ( Ascaris, Trichuris, Oxyuris,
Strongyloides ), protozoa ( entamoeba histolytica, Grandia Lamblia,
Trichomonas hominis ), dan jamur (candida albicans .
d. Obat-obatan
e. Keracunan makanan dan malabsorbsi
f. Sanitasi lingkungan yang buruk
g. Hygiene yang buruk

8
9

3. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus ( Rotavirus,
adenovirus enteris, Norwalk ), bakteri atau toksin ( compulobacter,
salmonella, esheria coli, Yesinia, dan lainnya ), dan parasit ( biardia
lambai dan cryptosporidium ) penularan gastroenteritis akut bisa melalui
fekal oral, dalam beberapa kasus, terjadinya penyebaran pathogen
dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja, ekskresi
yang buruk, makanan yang tidak matang bahkan makanan yang disajikan
tanpa dimasak.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya gastroenteritis adalah
gangguan osmotic ( makanan yang tidak dapat diserap dan menyebabkan
tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus, akibatnya isi rongga
usus menjadi berlebihan sehingga timbulnya gastroenteritis. Selain itu
gangguan ini juga dapat menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di
dinding usus, sehingga skresi air dan elektrolit meningkat, kemudian
terjadi diare.
Gangguan motalitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik
dan hipoperistaltik. Akibat dari gastroenteritis itu sendiri adalah
kehilangan air dan elektrolit ( dehidrasi ) yang mengakibatkan gangguan
asam basa ( asidosis metabolic dan hipokalemia (, gangguan gizi ( intake
kurang, output berlebihan ), hypoglikemia dan gangguan sirkulasi.
Sebagai akibat gastroenteritis baik akut maupun kronis akan
terjadi: (a) Kehilangan air dan elektrolit ( dehidrasi ) yang
mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa ( asidosis
metabolic, hypokalemia dan sebagainya ). (b) Gangguan gizi sebagai
akibat kelaparan ( masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah ).
(c) Hipoglikemia, (d) Gangguan sirkulasi darah .( Ardiansyah M, 2012 ).
10

4. Pathway

Infeksi Makanan Psikologi

Berkembang diusus Toksik tidak dapat Ansietas


diserap

Hipersekresi air &


elektrolit
Malabsorbsi KH,
Hiperperistaltik
Lemak, Protein
Isi Usus
Penyerapan makanan
diusus menurun Tekanan osmotic
meningkat

Pergeseran air dan


elektrolit ke usus

Diare

Frekuensi BAB Distensi Abdomen


meningkat
Mual muntah

Hilang cairan & Kerusakan Nafsu makan


elektrolit berlebihan integritas kulit menurun
perianal
Ketidakseimbanga
Gangguan Asidosis metabolik n nutrisi kurang
keseimbangan cairan dari kebutuhan
& elektrolit tubuh
Sesak

Dehidrasi Gangguan
pertukaran gas

Kekurangan Resiko Syok (


volume cairan Hipovolemi )

Gambar 2.1 Pathway ( Nurarif Amin Huda, 2016 )


11

5. Tanda dan Gejala


Menurut Sodikin ( 2012 ), beberapa tanda dan gejala pada kasus
gastroenteritis akut antara lain :
a. Bayi atau anak menjadi cengeng, rewel, gelisah
b. Suhu badan meningkat
c. Nafsu makan berkurang atau tidak ada
d. Timbul diare
e. Feses makin cair, mungkin mengandung darah atau lender
f. Warna feses berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur
empedu
g. Muntah baik sebelum maupun sesudah diare
h. Terdapat gejala dan tanda dehidrasi yaitu ubun-ubun besar cekung
pada bayi, tonus otot dan turgor kulit berkurang, selaput lender pada
mulut dan bibir terlihat kering, berat badan menurun, pucat, lemah.
Klasifikasi tingkat dhidrasi anak dengan gastroenteritis akut :
a. Tanpa dehidrasi
Tidak terdapat cukup tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi
ringan atau berat
b. Dehidrasi ringan atau sedang
Terdapat 2 atau lebih tanda :
1) Rewel, gelisah
2) Mata cekung
3) Minum dengan lahap, haus
4) Cubitan kulit kembali dengan lambat
c. Dehidrasi berat
Terdapat 2 atau lebih tanda :
1) Lateragis / tidak sadar
2) Mata cekung
3) Tidak bisa minum atau malas minum
4) Cubitan kulit perut kembali sangat lambat ( > 2 detik )
12

6. Komplikasi
Menurut Widiastuti et al, ( 2012: 182 ), komplikasi pada
gastroenteritis diantaranya :
a. Dehidrasi
Adalah kehilangan atau pengeluaran cairan.Dalam tubuh, keadaan
dehidrasi timbul ketika asupan cairan tidak dapat menggantikan
kehilangan cairan. Dehidrasi ringan ( < 5% BB ), dehidrasi sedang (
5 – 10 % BB ), dehidrasi berat ( 10 – 15 % BB )
b. Hipovolemik
Adalah berkurangnya jumlah total darah dalam tubuh. Hipokalemia
adalah kadar dalam darah yang rendah secara abnormal, normal
kalium 3,8 – 5,0 mEq/L
c. Hipoglikemia
Adalah penurunan kadar glukosa dalam darah, normalnya kurang
dari 200 g/dl

7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada gastroenteritis akut menurut IDAI (
2011 ) :
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada gastroenteritis akut pada
umumnya tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin
diperlukan misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada
sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan
dehidrasi berat. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan
gastroenteritis akut :
1) Darah : darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah,
kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika
2) Urine : urine lengkap kultur dan tes kepekaan terhadap
antibiotika
3) Tinja :
13

a) Pemeriksaan makroskopik : tinja perlu dilakukan pada semua


penderita gastroenteritis meskipun pemeriksaan laboratorium
tidak dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa mucus atau
darah biasanya disebabkan oleh endotoksin virus, protozoa,
atau disebabkan oleh infeksi diluar saluran gastrointestinal
tinja yang mengandung darah atau mucus bisa disebabkan
infeksi bakteri yang menghasilkan sitotoksin bakteri
enteroinvasif yang menyebabkan peradangan mukosa atau
parasit usus
b) Pemeriksaan mikroskopik : untuk mencari adanya leukosit
dapat memberikan informasi tentang penyebab gastroenteritis,
letak anatomis serta adanya proses peradangan mukosa.
Leukosit dalam tinja diproduksi sebagai respon trhadap
bakteri yang menyerang mukosa kolon.

8. Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer (2010), penalaksaan untuk gastroenteristis
adalah sebagai berikut :
1. Diare cair membutuhhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa
melihat etiologinya. Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi
kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat kemudian mengganti
cairan yang hilang sampai diarenya berhenti (terapi rumatan).
Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah cairan yang
telah hilang melalui diare atau muntah (previous water losses =PWL)
; ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat,
urine, dan pernafasan (normal water losses=NWL) ; dan ditambah
dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang
masih terus berlangsung (concomitant water losses=CWL). Jumlah
ini tergantung pada derajat dehidrasi, berat badan anak, dan
golongan umur.
14

2. Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk


menghindarkan efek buruk pada status gizi.
3. Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin, tidak
ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan
diare dengan panas, kecuali pada disentri, suspek kolera dengan
dehidrasi berat, dan diare persisten.
4. Obat-obatan antidiare meliputi anti motilitas (misal loperamid,
difenoksilat, kodein, opium), adsorben (misal norit, kaolin,
attapulgit). Antimuntah termasuk prometazim, klorpromazin. Tidak
satupun obat-obat ini terbukti mempunyai efek yang nyata untuk
diare akut dan beberapa malahan mempunyai efek yang
membahayakan. Obat-obat ini tidak boleh diberikan pada anak < 5
tahun.
15

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, M. (2012). Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Diva


Press.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2011). Kumpulan Tips Pediatrik. Jakarta:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Mansjoer, Arief. (2010). Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media
Aesculapius.

Nurarif, A.H, 2016. Asuhan Keperawatan Praktis. Jogyakarta: MediAction


Sasanti, L,P. 2013. Asuhan Keperawatan Pada Ny. M dengan Gangguan Sistem
Pencernaan Gastroenteritis di Bangsal Multazam RS PKU Muhammadiyah.
Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sodikin. 2012. Gangguan pencernaan. Jakarta : EGC

Utami, Rahayu, Sari. 2015. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan


Gastroenteritis Dehidrasi Sedang. Indonesian Journal On Medical Science.
Vol. 2 No. 1 – Januari 2015