Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAWATAN LUKA POST OPERASI

STASE KEPERAWATAN MATERNITAS

OLEH

RATNA SARI I4051181031


MUHAMMAD FISQI FADIL I4051171051

STASE MATERNITAS
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PERAWATAN LUKA POST OPERASI

Topik : Penyuluhan tentang perawatan luka post operasi


Sasaran : Ibu yang baru selesai operasi
Hari/Tanggal : Senin / 15 Oktober 2018
Jam : 10.00 wib
Waktu : 20 menit
Tempat : Ruang nifas RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang

A. Latar Belakang Masalah


Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah infeksi pada tempat operasi merupakan
salah satu komplikasi utama operasi yang meningkatkan morbiditas dan biaya
perawatan penderita di rumah sakit, bahkan meningkatkan mortalitas penderita
(Alsen, 2014). Infeksi luka operasi (ILO) merupakan infeksi yang sering terjadi
pada pasien paska pembedahan (Pandjaitan, 2013).
National Nosocomial Infection Surveillace United States America
mengindikasikan bahwa ILO merupakan infeksi ketiga tersering yang terjadi di
rumah sakit sekitar 14-16% dari total pasien di rumah sakit mengalami ILO
(National Nosocomial Infection Survailance, 2010). Menurut DEPKES RI tahun
2011 angka kejadian ILO pada rumah sakit pemerintah di Indonesia sebanyak
55,1% (Asyifa, 2012).
Faktor kejadian ILO post operasi meliputi nutrisi, personal hygiene, mobilisasi
dan perawatan luka. Perawatan luka >5 hari akan meningkatkan terjadinya ILO.
Prosedur perawatan luka harus dilaksanakan sesuai yang ditetapkan bertujuan agar
mempercepat proses penyembuhan dan bebas dari infeksi luka yang ditimbulkan
dari infeksi nosokomial (Marsaoly, 2016).
Luka operasi dikatakan terinfeksi apabila luka tersebut mengeluarkan nanah
atau pus dan kemungkinan terinfeksi apabila luka tersebut mengalami tanda-tanda
inflamasi (Septiari, 2012). Infeksi luka paska operasi merupakan salah satu
masalah utama dalam praktek pembedahan dan infeksi menghambat proses
penyembuhan luka sehingga menyebabkan angka morbiditas dan mortalitas
bertambah besar yang menyebabkan lama hari perawatan (Potter&Perry, 2006).
Tingginya kejadian ILO pada pasien paska pembedahan maka perawat
dituntut bertanggung jawab menjaga keselamatan klien di rumah sakit, salah
satunya mengurangi angka kejadian ILO. Berdasarkan latar belakang yang telah
dituliskan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penyuluhan kesehatan guna
meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga untuk dapat mengetahui perawatan
luka post operasi.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga
dapat menginformasikan dan mengetahui tentang perawatan luka post operasi
sehingga dapat mengatasi dan mencegah terjadinya infeksi pada luka yang dapat
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.
C. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan mahasiswa dapat
menjelaskan kembali:
1. Pengertian luka
2. Tujuan Perawatan Luka
3. Cara Perawatan Luka
4. Menyebutkan berapa kali sehari perawatan luka dilakukan
5. Meyeutkan komplikasi yang terjadi bila perawatannya tidak dilakukan dengan
benar.

D. Strategi Pelaksanaan
Strategi yang digunakan dalam penyampaian penyuluhan ini berupa:
1. Ceramah
2. Tanya jawab

E. Draft Rencana Proses Pelaksanaan


No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1. 3 Menit Pembukaan :
 Memberi Salam Menjawab Salam
 Menjelaskan tujuan Mendengarkan
Pembelajaran dan
 Menyebutkan materi/pokok memperhatikan
bahasan yang akan
disampaikan
2. 10 Menit Pelaksanaan :
 Menjelaskan materi Menyimak dan
penyuluhan secara berurutan memperhatikan
dan teratur
Materi :
1. Pengertian luka
2. Tujuan Perawatan Luka
3. Cara Perawatan Luka
4. Menyebutkan berapa kali
sehari perawatan luka
dilakukan
5. Menybutkan komplikasi yang
terjadi bila perawatannya tidak
dilakukan dengan benar.

3. 5 Menit Evaluasi : Bertanya,dan


 Meminta ibu dan keluarga menjawab
klien menjelaskan atau pertanyaan
menyebutkan kembali :
1. Pengertian luka
2. Tujuan Perawatan Luka
3. Cara Perawatan Luka
4. Menyebutkan berapa kali
sehari perawatan luka
dilakukan
5. Menybutkan komplikasi yang
terjadi bila perawatannya tidak
dilakukan dengan benar.
 Memberikan pujian atas
keberhasilan pasien dan
keluarga menjelaskan
pertanyaan dan memperbaiki
kesalahan, serta menyimpulkan
4. 2 Menit Penutup : Menjawab salam
 Mengucapkan terimakasih dan
mengucapkan salam
F. Pengorganisasian Tempat
P Keterangan:
P : Peserta
PY PY : Penyaji

G. Media Penyuluhan
Media Penyuluhan yang digunakan:
1. Materi SAP
2. Leaflet
3. Lembar Balik
4. Power Point

H. Metode Evaluasi
1. Metode Evaluasi : Tanya jawab
2. Jenis Evaluasi : Lisan

I. Kriteria Evaluasi
1. Klien dan keluarga klien mampu menjelaskan dan memahami pengertian luka
2. Klien dan keluarga klien mampu menjelaskan dan memahami tujuan perawatan
luka
3. Klien dan keluarga klien dapat menyebutkan dan menjelaskan cara perawatan
luka
4. Klien dan keluarga klien dapat menyebutkan dan menjelaskan tentang berapa kali
sehari perawatan luka dilakukan
5. Klien dan keluarga klien dapat menybutkan komplikasi yang terjadi bila
perawatannya tidak dilakukan dengan benar.

J. Materi
1. Pengertian perawatan luka
2. Tujuan Perawatan Luka
3. Cara Perawatan Luka
4. Komplikasi yang terjadi bila perawatannya tidak dilakukan dengan benar.

K. Materi
1. Pengertian Perawatan luka
Perawatan luka merupakan penanganan luka yang terdiri atas membersihkan luka,
menutup, dan membalut luka sehingga dapat membantu proses penyembuhan
luka. Perawatan luka merupakan tindakan untuk merawat luka dengan tujuan
meningkatkan proses penyembuhan jaringan dan mencegah infeksi. Perawatan
luka operasi adalah Perawatan luka yang dilakukan pada pasien operasi dengan
tujuan mencegah infeksi dan merasa aman.

2. Tujuan Perawatan Luka


a. Melindungi luka dari kontaminasi mikroorganisme
b. Membantu homeostasis
c. Mempercepat proses penyembuhan
d. Menjaga kelembaban luka baik luka bersih maupun kotor
e. Menghilangkan sekresi yang terakumulasi dan jaringan mati dari luka atau tempat
insisi
f. Menurunkan pertumbuhan mikroorganisme pada luka atau tempat insisi

3. Cara Perawatan Luka


a. Cuci tangan dengan sabun atau anti septik sebelum merawat luka
b. Buka balutan dengan hati - hati
c. Bersihkan luka menggunakan kasa atau kapas dengan sabun mengunkan air
matang atau air hangat
d. Untuk membersihkan area luka, bersihkan luka mengusap sekeliling luka dengan
gerakan memutar dari tempat yang terdekat dengan luka kearah luar
e. Lalu keringkan luka dengan kasa
f. Beri salf atau bethadine sesuai instruksi dokter
g. Tutup luka dengan kasa steril dan beri balutan perban
h. Ganti balutan dilakukan sebaiknya sehari sekali atau 3 hari sekali apabila perban
tidak ada rembesan atau pun kotor.

4. Komplikasi bila perawatan tidak dilakukan dengan benar


a. Infeksi.
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau
setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 – 7 hari setelah
pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan
drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan
peningkatan jumlah sel darah putih.
Tanda dan Gejala infeksi
1. Merasa panas pada daerah luka atau suhu badan panas
2. Merasa sakit atau nyeri pada daerah luka
3. Ada kemeraha pada kulit didaerah luka
4. Terjadi bengkak pada daerah luka
5. Gangguan fungsi gerak pada daerah luka
6. Luka berbau tidak sedap
7. Terdapat cairan nanah pada luka
b. Perdarahan.
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku pada garis
jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain).
Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda. Sehingga balutan (dan luka di bawah
balutan) jika mungkin harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah
pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu.Jika perdarahan berlebihan terjadi,
penambahan tekanan balutan luka steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan
dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan.
c. Dehiscence dan Eviscerasi.
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius.
Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah
keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi, kegemukan,
kurang nutrisi, ,multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan,
muntah, dan dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka.
Dehiscence luka dapat terjadi 4 –5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas
di daerah luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup
dengan balutan steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan
untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka

DAFTAR PUSTAKA

Asyifa, A., Suarnianti, Mato. (2012). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan


ILO di RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Vol 1 no 2. Diakses 10
Februari 2016 dari http://library.stikesnh.ac.id/files/disk1 /1/elibrary
%20stikes%20nani%20hasanuddin--ainusasyif-40-1artikel16.pdf.
Marsaoly, S. F. A. (2016). Infeksi Luka Post Operasi Pada Pasien Post Operasi Di
Bangsal Bedah Rs Pku Muhammadiyah Bantul.di akses dalam
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/2838/NASKAH
%20PUBLIKASI.pdf?sequence=12&isAllowed=y
National Nosocomial Infection Survailance NNIS America. (2010)
http://www.ajicjournal.org/article/S0 196-6553(04)00542-5/abstract
Pandjaitan, Costy. (2013). Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit harus diantisipasi.
di akses dalam http://politikindonesia.com/index.php ?
k=wawancara&i=40941-CostyPandjaitan:-Infeksi-Nosokomial-diRumah
Sakit-Harus-Diantisipasi
Potter&Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta: SM.
Septiari, B.B. (2012). Infeksi Nosokomial. Yogyakarta: Nuha Medika.
Singkawang, Oktober 2018
Mahasiswi

Ratna Sari
I4051181031

Mengetahui
Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

Aprisipa S.ST Fitri Fujiana, NS., M.Kep., Sp.Mat


NIP.198805082011012010