Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

SKENARIO 2

SERING MARAH-MARAH

Nn.S, usia 24 tahun, karyawati swasta, datang ke puskesmas diantar oleh


orang tuanya karena dua minggu terakhir sering marah-marah karena hal-hal yang
sepele. Di samping itu, pasien sangat kurang istirahat dan tidur karena terus-
menerus mengerjakan pekerjaan dari tempat kerjanya yang sebelumnya tidak
pernah dilakukan ketika di rumah. Pasien mengatakan bahwa dia akan
mendapatkan promosi jabatan karena paling rajin dan terampil bekerja dibanding
rekan-rekannya. Dalam dua minggu terakhir, pasien hampir menghabiskan seluruh
uang tabungannya untuk membeli barang-barang yang mahal padahal kurang
diperlukan. Menurut orang tuanya, pasien pernah mengalami gangguan seperti ini
3 tahun yang lalu pada saat akan wisuda ahli madya ekonomi manajemen. Pada
saat itu, gangguan yang terjadi berlangsung kurang lebih selama 1 minggu dan
sembuh sendiri. Di antara anggota keluarga ada yang mengalami gangguan jiwa
seperti pasien, yaitu adik kandung ibunya dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa.

Dari hasil pemeriksaan status mental didapatkan psikomotor hiperaktif,


flight of idea, mood irritable, afek meningkat, insight derajat 1.

1
BAB II
DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA
A. Langkah I: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa
istilah dalam skenario.

1. Psikomotor hiperaktif : Psikomotor ialah gerakan badan yang dipengaruhi


oleh keadaan jiwa. Jadi, merupakan efek bersama yang mengenai badan
dan jiwa. Sementara hiperaktif adalah pergerakan atau aktivitas yang
berlebihan. Jadi psikomotor hiperaktif adalah gerak badan yang berlebihan
yang disebabkan/dipengaruhi keadaan jiwa

2. Flight of idea : pikiran melompat-lompat melayang) adalah keadaan


dimana terjadi perubahan yang mendadak, cepat dalam pembicaraan,
sehingga suatu ide belum selesai sudah disusul oleh ide yang lain.

3. Mood yang iritabel (irritable mood) : dengan mudah diganggu atau dibuat
marah

4. Afek : adalah respons emosional saat sekarang, yang dapat dinilai lewat
ekspresi wajah,pembicaraan, sikap dan gerak gerik tubuhnya (bahasa
tubuh). Afek mencerminkan situasi emosi sesaat.

5. Insight/tilikan : adalah kesadaran dan pemahaman seseorang tentang


kondisi yang dialaminya. Insight derajat 1, ketika pasien menyangkal
ataupun sama sekali tidak merasa sakit.

B. Langkah II: Menentukan/ mendefinisikan permasalahan.

1. Apa saja kondisi yang dapat menyebabkan mudah marah?


2. Apa hubungan shopaholic dan workaholic dengan keluhan?
3. Hal apa saja yang dapat mempengaruhi afek seseorang?
4. Apakah kurang tidur termasuk normal? Apa penyebabnya?
5. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan pasien?
6. Apa yang dimaksud dengan gangguan tidur?
7. Apa saja pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan pada kasus?

2
8. Apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada kasus?
9. Mengapa pasien dapat memiliki 2 sisi sikap yang bertentangan?
10. Apa keluhan yang dialami pasien bersifat genetik?
11. Apa hubungan usia dengan keluhan?
12. Apa faktor pencetus keluhan?
13. Bagaimana mekanisme marah?
14. Bagaimana keluhan terdahulu dapat sembuh dengan sendirinya?
15. Apa saja macam-macam gangguan tidur?
16. Apa saja tanda dan gejala pada gangguan mood dan afek?
17. Apa tatalaksana keluhan pasien?

C. Langkah III: Menganalisis permasalahan dan membuat pertanyaan


sementara mengenai permasalahan (tersebut dalam langkah II).

1. Apa saja kondisi yang dapat menyebabkan mudah marah?


a. Keadaan dimana banyak tekanan atau stressor, seperti diberi banyak
kerjaan atau sedang dalam banyak masalah.
b. Perkembangan seseorang dari masa kecil, dimana kemungkinan orang
tersebut sering ter-bully di sekolah, selalu dimarahin orang tua di
rumah, atau melihat orang tua selalu bertengkar.
c. Kekurangan tidur
d. Hipertiroidisme
e. Sindrom pra menstruasi

2. Apa saja hubungan shopaholic dan workaholic dengan keluhan?


Dalam kasus, pasien sedang mengalami gangguan mood manik yang
menyebabkan pikiran pasien semakin hiperaktif, optisme yang tinggi, dan
memiliki kemampuan untuk memutuskan sesuatu yang jelek sehingga
dapat menyebabkan pasien sering belanja-belanja barang yang sebenarnya
kurang bermanfaat baginya. Selain itu juga pada seseorang yang
mengalami gangguan mood manik, juga menjadi memiliki niat untuk
meraih banyak prestasi sehingga akan selalu membuat dirinya sibuk kerja
dan rela melakukan apapun untuk meraih prestasi atau cita-citanya.

3
3. Hal apa saja yang dapat mempengaruhi afek seseorang?
Hal-hal yang dapat mempengaruhi afek seseorang sebagai berikut :
A. Pola asuh orangtua
Pola asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola menurut
apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga ada yang
bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga
dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang tua seperti ini
dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi peserta
didik.
Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan
anak, tempat belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial, karena
keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak dapat
berinteraksi. Dari pengalamannya berinteraksi di dalam keluarga ini
akan menentukan pula pola perilaku anak tehadap orang lain dalam
lingkungannya. Dalam pembentukan kepribadian seorang anak,
keluarga mempunyai pengaruh yang besar. Banyak faktor dalam
keluarga yang ikut berpengaruh dalam perkembangan kepribadian
seorang anak, salah satu faktor tersebut adalah pola asuh orangtua
Pengasuhan ini berarti orangtua mendidik, membimbing, dan
mendisiplinkan serta melindungi anak sesuai dengan norma-norma
yang ada dalam masyarakat (Tarmudji, 2001). Dimana suatu tugas
tersebut berkaitan dengan mengarahkan anak menjadi mandiri di masa
dewasanya baik secara fisik maupun psikologis (Andayani dan
Koentjoro, 2004).
Menurut Goleman (2002) cara orang tua memperlakukan anak-anaknya
akan memberikan akibat yang mendalam dan permanen pada kehidupan
anak. Goleman (2002) juga menemukan bahwa pasangan yang secara
emosional lebih terampil merupakan pasangan yang paling berhasil
dalam membantu anak-anak mereka mengalami perubahan emosi.
Pendidikan emosi ini dimulai pada saat-saat paling awal dalam rentang
kehidupan manusia, yaitu pada masa bayi.
Idealnya orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-
anak karena dari kedua orangtua anak akan belajar mandiri melalui

4
proses belajar sosial dengan modelling (Andayani dan Koentjoro,
2004).
B. Pengalaman traumatik.
Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi
perkembangan emosi seseorang, dampaknya jejak rasa takut dan sikap
terlalu waspada yang ditimbulkan dapat berlangsung seumur hidup.
Kejadian-kejadian traumatis tersebut dapat bersumber dari lingkungan
keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga (Astuti, 2005).
C. Temperamen.
Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan
kehidupan emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu
memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawaan
sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan
hebat dalam rentang kehidupan manusia (Astuti, 2005).
D. Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya
perbedaan hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun
tuntutan sosial yang berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan
karakteristik emosi diantara keduanya (Astuti, 2005).
E. Usia
Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan
pertambahan usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi
oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Ketika
usia semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga
mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Moloney,
dalam Puspitasari Nuryoto 2001). Namun demikian, dalam hal ini tidak
menutup kemungkinan seseorang yang sudah tua, kondisi emosinya masih
seperti orang muda yang cenderung meledak-ledak. Hal tersebut dapat
diakibatkan karena adanya kelainan-kelainan di dalam tubuhnya,
khususnya kelainan anggota fisik. Kelainan yang tersebut dapat terjadi
akibat dari pengaruh makanan yang banyak merangsang terbentuknya
kadar hormonal.
F. Perubahan jasmani.

5
Perubahan jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat
cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan petumbuhan ini hanya
terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur
tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering
mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi peserta
didik. Tidak setiap peserta didik dapat menerima perubahan kondisi tubuh
seperti ini, lebih-lebih perubahan tersebut menyangkut perubahan kulit
yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai
berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat
menyebabkan rangsangan di dalam tubuh peserta didik dan seringkali
menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
G. Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya.
Peserta didik sering kali membangun interaksi sesame teman sebayanya
secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama
dengan membentuk emacam geng. Interaksi antar anggotanya dalam suatu
kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan
solidaritas yang sangat tinggi. Fakor yang sering menimbulkan masalah
emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis.
Gejala ini sebenarnya sehat bagi peserta didik, tetapi tidak jarang
menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada mereka jika tidak diikuti
dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa.
H. Perubahan Pandangan Luar.
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan
konflik-konflik emosional dalam diri peserta didik, yaitu :

- Sikap dunia luar terhadap peserta didik sering tidak konsisten

- Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda


untuk peserta didik laki-laki dan perempuan.

- Seringkali kekosongan peserta didik dimamfaatkan oleh pihak luar yang


tidak bertanggung jawab.

I.Perubahan Interaksi dengan Sekolah.

6
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh pererta
didik. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan
mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh
otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak jarang anak-anak
lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada
kepada orang tuanya. Posisi guru disini amat strategis apabila digunakan
untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang
positif dan konstruktif

4. Apakah kurang tidur termasuk normal? Apa penyebabnya?


Orang yang kurang tidur tidak normal atau tidak sehat bagi tubuh. Hal-hal
yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kurang tidur sebagai berikut :
- Kebiasaan memaksa bangun atau memakai alarm sehingga waktu tidur
kurang mengakibatkan pola tidur seseorang berubah.
- Stress, kecemasan, dan depresi paling sering membuat seseorang
terbangun dan sulit untuk memulai tidurnya.
- Obat-obat atau zat yang bisa menghambat proses tidur seperti kafein.

5. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan pasien?


Psikomotor hiperaktif : menandakan perasaan cemas atau tidak
nyaman.

Flight of idea : perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaraan,


sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh
idea yang lain. Ada gangguan arus berpikir

Mood iritabel : ekspresi perasaan akibat mudah diganggu atau dibuat


marah. Emosi pasien dalam keaadaan yang sedang tidak stabil.

Afek meningkat : respon pasien terhadap kondisi di sekitarnya meningkat.

Insight derajat 1 : pasien tidak merasa dirinya mengalami gangguan.

6. Apa yang dimaksud gangguan tidur?

7
Gangguan tidur adalah kelainan yang bisa menyebabkan masalah pada
pola tidur, baik karena tidak bisa tertidur, sering terbangun pada malam
hari, atau ketidakmampuan untuk kembali tidur setelah terbangun.

7. Apa saja pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan pada kasus?


MRI, CT-Scan, Kadar Tiroid, Tes supresi dexametasone.

8. Apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada kasus?
Anamnesis kejiwaan, memastikan tidak ada kelainan organik maupun
riwayat penyalahgunaan obat-obatan, mengeliminasi diagnosis banding

9. Mengapa pasien dapat memiliki 2 sisi sikap yang bertentangan?


Kemungkinan pasien mengalami gangguan bipolar. Hingga kini para ahli
belum mengetahui penyebab terjadinya gangguan bipolar. Kondisi ini
diduga muncul akibat adanya ketidakseimbangan neurotransmitter di
dalam otak. Neurotransmitter meliputi dopamine, serotonin, dan
noradrenaline yang memiliki fungsi mengendalikan fungsi-fungsi otak.
Dugaan bahwa gangguan bipolar dipengaruhi oleh ketidakseimbangan
neurotransmitter diperkuat dengan bukti medis, yaitu ketika seseorang
memiliki kadar noradrenaline terlalu rendah sehingga memicu episode
depresi. Dan sebaliknya, ketika kadar noradrenaline terlalu tinggi, maka
yang muncul adalah episode mania.

10. Apa keluhan yang dialami pasien bersifat genetik?


Ya. Bipolar disorder dapat diturnkan secara genetic, walaupu begitu masih
belum bisa dijelaskan secara spesifik bagaimana model transmisi
genetiknya. Suatu studi menyebutkan bahwa jika orang tua mengalami
bipolar, maka 10% anaknya memilki kemungkinan mengidap bipolar, dan
jika kedua orang tua mengalami bipolar, maka 45% anaknya memiliki
kemungkinan mengidap bipolar

11.Apa hubungan usia dengan keluhan?

8
Suatu studi yang dilakukan di 200 orang bipolar perempuan menunjukkan
rata2 dari mereka mengalami saat sekitar umur 28 tahun. dan harus
dirawat inap sekitar umur 30 tahun.

12. Apa faktor pencetus keluhan?


o Masalah rumah tangga, keuangan, atau pekerjaan
o Kecanduan minum minuman beralkohol atau obat terlarang
o Gangguan tidur
o Penyakit fisik

13. Bagaimana mekanisme marah?

9
Konsep marah (Beck, Rawlins, Williams, 1986 hlm.447) Cit.Kelliat
(1996)

14. Bagaimana keluhan terdahulu dapat sembuh dengan sendirinya?


Pasien mengalami fase depresi dengan adanya tanda mengalami gangguan
tidur dan mengalami fase manik dengan menghabiskan uang untuk barang
yang tidak berguna. Kedua hal ini terjadi apabila ada pemicu. Maka
keluhan yang sama dialami pasien sebelumnya bisa sembuh karena

10
pemicunya sudah tidak ada lagi dan pasien bisa menangani pemicu
tersebut dengan baik.

15. Apa saja macam-macam gangguan tidur?


Berdasarkan International classification of Sleep Disorder, gangguan tidur
diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok besar yaitu dissomnia, parasomnia,
gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri
dan gangguan tidur yang tidak terklasifikasi.

1. Dissomnia
 Gangguan tidur intrisik
Narkolepsi, gerakan anggota gerak periodik, sindroma kaki gelisah,
obstruksi saluran nafas, hipoventilasi, post traumatik kepala, tidur
berlebihan (hipersomnia), idiopatik.
 Gangguan tidur ekstrisik
Tidur yang tidak sehat, lingkungan, perubahan posisi tidur, toksik,
ketergantungan alkohol, obat hipnotik atau stimulant
 Gangguan tidur irama sirkadian
Jet-lag sindroma, perubahan jadwal kerja, sindroma fase terlambat tidur,
sindroma fase tidur belum waktunya, bangun tidur tidak teratur, tidak
tidur selama 24 jam.
2. Parasomnia
 Gangguan aurosal
Gangguan tidur berjalan, gangguan tidur teror, aurosal konfusional
 Gangguan antara bangun-tidur
Gerak tiba-tiba, tidur berbicara,kramkaki, gangguan gerak berirama
 Berhubungan dengan fase REM
Gangguan mimpi buruk, gangguan tingkah laku, gangguan sinus arrest
 Parasomnia lain-lainnya
Bruxism (otot rahang mengeram), mengompol, sukar menelan, distonia
parosismal
3. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri

11
 Gangguan mental
Psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik (nyeri hebat), alkohol
 Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple sklerosis), epilepsi,
status epilepsi, nyeri kepala, Huntington, post traumatik kepala, stroke,
Gilles de-la tourette sindroma.
 Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit asma,penyakit jantung, ulkus peptikus, sindroma fibrositis,
refluks gastrointestinal, penyakit paru kronik (PPOK)
4. Gangguan tidur yang tidak terklassifikasi

16. Apa saja tanda dan gejala pada gangguan mood dan afek?
- Anoreksia: hilangnya atau menurunnya nafsu makan
- Hiperfagia: meningkatnya nafsu makan dan asupan makanan.
- Insomnia: hilangnya atau menurunnya kemampuan untuk tidur.
o Awal : kesulitan jatuh tertidur.
o Pertengahan: kesulitan tidur sepanjang malam tanpa terbangun
dan kesulitan kembali tidur.
o Terminal: terbangun pada dini hari.
- Hipersomnia: tidur yang berlebihan.
- Variasi diurnal: mood yang secara teratur terburuk pada pagi hari,
segera setelah terbangun, dan membaik dengan semakin siangnya
hari.
- Penurunan libido: penurunan minat, dorongan dan daya seksual
(peningkatan libido sering disertai keadaan manik).
- Konstipasi: ketidakmampuan atau kesulitan defekasi.

17. Apa tatalaksana dari keluhan pasien?


a. Antidepressant and mood stabilizing medications -- especially
combined with psychotherapy have shown to work very well in the
treatment of depression
b. Psychotherapy – seperti cognitive-behavioral and/or interpersonal
therapy.
c. Family therapy
d. Terapi lain, seperti ECT.

12
D. Langkah IV: Menginventariskan permasalahan secara sistematis dan
pertanyaan sementara mengenai permasalahan pada langkah III

E. Langkah V: Merumuskan tujuan pembelajaran.

1. Menjelaskan faktor risiko ruam pada kulit


2. Menjelaskan etiologi dan patofisiologi ruam pada kulit
3. Menjelaskan pemeriksaan fisik ruam pada kulit
4. Menjelaskan pemeriksaan penunjang ruam pada kulit
5. Menjelaskan diagnosis banding ruam pada kulit
6. Menjelaskan diagnosis ruam pada kulit
7. Menjelaskan tatalaksana ruam pada kulit
8. Menjelaskan edukasi ruam pada kulit

13
F. Langkah VI : Mengumpulkan informasi baru.
Pengumpulan informasi telah dilakukan oleh masing-masing anggota
kelompok kami dengan menggunakan sumber referensi ilmiah seperti
buku,jurnal, review, dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan skenario ini.

G. Langkah VII: Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi


baru yang diperoleh.

1. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme dan etiologi marah

MEKANISME MARAH

Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada


penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung
dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (Stuart
dan Sundeen, 1998 hal 33).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena
adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien
marah untuk melindungi diri antara lain (Maramis, 1998, hal 83) :
1. Sublimasi
Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat
untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara
normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan
kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju
tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan
akibat rasa marah.
2. Proyeksi
Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang
tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik
menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
3. Represi
Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam
sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang
tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang

14
diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang
tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya
dan akhirnya ia dapat melupakannya.
4. Reaksi Formasi
Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-
lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya,
akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
5. Displacement
Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek
yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang
membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena
ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di
dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

ETIOLOGI MARAH

Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang


tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya
harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.
Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan /
keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa
terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu
dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya
misalnya dengan kekerasan.
Hilangnya harga diri, pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan
yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya
individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak,
lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.

15
Kebutuhan akan status dan prestise, manusia pada umumnya mempunyai
keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui
statusnya.

2. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme dan etiologi gangguan


tidur

Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering


ditemukan pada penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur
dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin,
berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling
sering ditemukan pada usia lanjut. Pada orang normal, gangguan tidur
yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada
siklus tidur biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan
prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan,
yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau
orang lain. Menurut beberapa peneliti gangguan tidur yang
berkepanjangan didapatkan 2,5 kali lebih sering mengalami kecelakaan
mobil dibandingkan pada orang yang tidurnya cukup Diperkirakan jumlah
penderita akibat gangguan tidur setiap tahun semakin lama semakin
meningkat sehingga menimbulkan maslah kesehatan. Di dalam praktek
sehari-hari, kecendrungan untuk mempergunakan obat hipnotik, tanpa
menentukan lebih dahulu penyebab yang mendasari penyakitnya, sehingga
sering menimbulkan masalah yang baru akibat penggunaan obat yang
tidak adekuat. Melihat hal diatas, jelas bahwa gangguan tidur merupakan
masalah kesehatan yang akan dihadapkan pada tahun-tahun yang akan
datang.
I. TIDUR FISIOLOGIS
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani
dan kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang
dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk

16
menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Semua makhluk hidup
mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam
siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai
irama sirkadian. Pusat kontrol irama sirkadian terletak pada bagian ventral
anterior hypothalamus. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan
kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis
medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf
pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada
bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat penggugah atau
aurosal state.
Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)

Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium,
lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan
REM terjadi secara bergantian antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru
lahir total tidur 16- 20 jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian
menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5
jam/hari pada orang dewasa. Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
1. Tidur stadium Satu.
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. Fase ini
didapatkan kelopak mata tertutup, tonus otot berkurang dan tampak
gerakan bola mata kekanan dan kekiri. Fase ini hanya berlangsung 3-5
menit dan mudah sekali dibangunkan. Gambaran EEG biasanya terdiri
dari gelombang campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta
dengan amplitudo yang rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang
sleep spindle dan kompleks K
2. Tidur stadium dua
Pada fase ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus otot masih
berkurang, tidur lebih dalam dari pada fase pertama. Gambaran EEG
terdiri dari gelombang theta simetris. Terlihat adanya gelombang sleep
spindle, gelombang verteks dan komplek K
3. Tidur stadium tiga

17
Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran EEG
terdapat lebih banyak gelombang delta simetris antara 25%-50% serta
tampak gelombang slee[ spindle.
4. Tidur stadium empat
Merupakan tidur yang dalam serta sukar dibangunkan. Gambaran
EEG didominasi oleh gelombang delta sampai 50% tampak
gelombang sleep spindle.

Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit


sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM
jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih insten
dan panjang saat menjelang pagi atau bangun. Pola tidur REM ditandai
adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah,
apabila dibangunkan hampir semua organ akan dapat menceritakan
mimpinya, denyut nadi bertambah dan pada laki-laki terjadi eraksi penis,
tonus otot menunjukkan relaksasi yang dalam. Pola tidur REM berubah
sepanjang kehidupan seseorang seperti periode neonatal bahwa tidur REM
mewakili 50% dari waktu total tidur. Periode neonatal ini pada EEG-nya
masuk ke fase REM tanpa melalui stadium 1 sampai 4. Pada usia 4 bulan
pola berubah sehingga persentasi total tidur REM berkurang sampai 40%
hal ini sesuai dengan kematangan sel-sel otak, kemudian akan masuk
keperiode awall tidur yang didahului oleh fase NREM kemudian fase
REM pada dewasa muda dengan distribusi fase tidur sebagai berikut:

- NREM (75%) yaitu stadium 1: 5%; stadium 2 : 45%; stadium 3 : 12%;


stadium 4 : 13%

- REM; 25 %.

PERANAN NEUROTRANSMITER

Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS


(Ascending Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini
meningkat orang tersebut dalam keadaan tidur. Aktifitas ARAS

18
menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas ARAS
ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem
serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik.

• Sistem serotonergik

Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam


amino trypthopan. Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka
jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan
menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari
tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak
bisa tidur/jaga. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak
sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di
batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis
dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.

• Sistem Adrenergik

Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak


di badan sel nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron
pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau
hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi
peningkatan aktifitas neuron noradrenergik akan menyebabkan
penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan
jaga.

• Sistem Kholinergik

Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin


intra vena dapat mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur
kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti
dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang
berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang
depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM. Pada obat

19
antikolinergik (scopolamine) yang menghambat pengeluaran
kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase
awal dan penurunan REM.

• Sistem histaminergik

Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur

• Sistem hormon

Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa


hormon seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini
masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar pituitary
anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur
mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter norepinefrin,
dopamin, serotonin yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan
bangun.

II. INSIDENSI
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama
masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang
dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya
mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun
cendrung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia
dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang
lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur.
Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan
psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol. Menurut data
internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab
gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%),
gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam hari
(16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-
15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-
10%), depresi (65). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal

20
kerja (2- 5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%),
penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur)
(0,03%-0,16%)
III. KLASIFIKASI
Internasional Classification of Sleep Disorders
1. Dissomnia
• Gangguan tidur intrisik Narkolepsi, gerakan anggota gerak
periodik, sindroma kaki gelisah, obstruksi saluran nafas,
hipoventilasi, post traumatik kepala, tidur berlebihan
(hipersomnia), idiopatik
• Gangguan tidur ekstrisik Tidur yang tidak sehat, lingkungan,
perubahan posisi tidur, toksik, ketergantungan alkohol, obat
hipnotik atau stimulant
• Gangguan tidur irama sirkadian Jet-lag sindroma, perubahan
jadwal kerja, sindroma fase terlambat tidur, sindroma fase tidur
belum waktunya, bangun tidur tidak teratur, tidak tidur selama
24 jam.
2. Parasomnia
• Gangguan aurosal Gangguan tidur berjalan, gangguan tidur
teror, aurosal konfusional
• Gangguan antara bangun-tidur Gerak tiba-tiba, tidur
berbicara,kramkaki, gangguan gerak berirama
• Berhubungan dengan fase REM Gangguan mimpi buruk,
gangguan tingkah laku, gangguan sinus arrest
• Parasomnia lain-lainnya Bruxism (otot rahang mengeram),
mengompol, sukar menelan, distonia parosismal
3. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan
kesehatan/psikiatri
• Gangguan mental Psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik
(nyeri hebat), alkohol • Berhubungan dengan kondisi
kesehatan Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple
sklerosis), epilepsi, status epilepsi, nyeri kepala, Huntington,
post traumatik kepala, stroke, Gilles de-la tourette sindroma.
• Berhubungan dengan kondisi kesehatan Penyakit
asma,penyakit jantung, ulkus peptikus, sindroma fibrositis,
refluks gastrointestinal, penyakit paru kronik (PPOK)

21
4. Gangguan tidur yang tidak terklasifikasi

3. Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi, epidemiologi gangguan


mood, afek, dan bipolar

Gangguan mood adalah penyakit yang di deskripsikan sebagai


perubahan pada mood yang serius. Penyakit yang termasuk ke dalam
gangguan mood antara lain : Major Depressive Disorder, Bipolar Disorder,
Persisten Depressive disorder, cyclothymic dan SAD (Seasonal Affective
Disorder)

Epidemiologi

Saat ini prevalensi gangguan bipolar dalam populasi cukup tinggi,


mencapai 1,3-3%. Bahkan prevalensi untuk seluruh spektrum bipolar
mencapai 2,6-6,5%. Tujuh dari sepuluh pasien pada awalnya misdiagnosis.
Prevalensi antara laki-laki dan perempuan sama besarnya terutama pada
gangguan bipolar I, sedangkan pada gangguan bipolar II, prevalensi pada
perempuan lebih besar. Depresi atau distimia yang terjadi pertama kali
pada prapubertas memiliki risiko untuk menjadi gangguan bipolar.
(Kusumawardhani 2012).

Etiologi

1. Faktor genetik
Sebanyak 80%-90% pasien dengan gangguan bipolar memiliki riwayat
keluarga yang juga memiliki gangguan mood (misal, gangguan bipolar,
depresi, siklotimia atau dysthymia). Keluarga derajat pertama pasien
dengan gangguan bipolar memiliki prevalensi sebesar 15%-35%
berawal dari gangguan mood dan 5%-10% memiliki risiko langsung
mengalami gangguan bipolar (Drayton & Weinstein, 2008). Pada
penelitian saudara kembar, angka kejadian gangguan bipolar 1 pada
kedua saudara kembar monozigot adalah 33% - 90% dan untuk

22
gangguan depresif berat, angka kejadian pada kedua saudara kembar
monozigot adalah 50%. Pada kembar dizigot angkanya berkisar 5%
-25% untuk menderita gangguan bipolar I dan 10% - 25% untuk
penderita gangguan depresif berat (Kaplan, dkk., 1997).
2. Faktor biokimia
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam
metabolit amin biogenic di dalam darah, urin, dan cairan
serebrospinalis pada pasien gangguan mood. Aminbiogenic
(Norepinefrin dan serotonin) merupakan dua neutransmiter yang
paling berperan dalam patofisiologis gangguan mood (Kaplan, dkk,
1996). Apabila Norepinefrin (NE) dan epinefrin mengalami penurunan
kadar NE dan epinefrin menyebabkan depresi, sebaliknya peningkatan
kadar keduanya menyebabkan mania (Ikawati, 2011).
Serotonin merupakan neurotransmiter aminergic yang paling sering
dihubungkan dengan depresi. Penurunan serotonin dapat menyebabkan
depresi. Pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi
metabolit serotonin yang rendah di cairan serebrospinalnya. Selain
kedua senyawa diatas, ada dopamine yang memiliki peranan dalam
depresi dan mania pula. Data menunjukkan aktivitas dopamine yang
menurun pada depresi dan meningkat pada mania (Kaplan, dkk, 1996).
Ketidakseimbangan hormonal dan gangguan dari sumbu hipotalamus-
hipofisis-adrenal yang terlibat dalam homeostatis dan respon stress
juga dapat berkontribusi pada gambaran klinis gangguan bipolar
(Ikawati, 2011).
3. Faktor lingkungan
Telah lama diamati bahwa peristiwa yang menyebabkan stress sering
mendahului episode pertama dan dapat meningkatkan serta
memperpanjang waktu pemulihan dari gangguan mood (Drayton &
Weinstein, 2008). Kehamilan juga merupakan stress tertentu untuk
wanita dengan riwayat penyakit mania-depresif dan dapat
meningkatkan kemungkinan terjadinya psikosis postpartum (Ikawati,
2011).

23
Pemeriksaan penunjang

a. Lampu Wood
Lampu wood pertama kali digunakan dalam praktek dermatologi
untuk mendeteksi jamur infeksi hair oleh Margaret dan Deveze
tahun 1925. Lampu Wood memancarkan radiasi UV gelombang
panjang (UVR), juga disebut cahaya hitam, yang dihasilkan oleh
tinggi tekanan busur merkuri dilengkapi dengan filter senyawa 18
terbuat dari barium silikat dengan 9% nikel oksida, yang Filter
Wood. Filter ini terlihat buram pada semua sinar kecuali sebuah
band antara 320 dan 400 nm dengan puncak pada 365 nm.
Dermatofita yang menyebabkan fluoresens umumnya anggota
genus Microsporum. Namun, tidak adanya fluoresensi tidak selalu
mengesampingkan tinea capitis seperti kebanyakan spesies
Trichophyton, dengan pengecualian T. schoenleinii, yang
nonfluoresens. Gambaran Tinea kruris tidak terlihat pada
pemeriksaan ini (Kuswadji, 2009)
b. KOH (potassium hidroksida): tampak elemen jamur seperti hifa,
spora dan miselium (Wolff, 2009)

4. Mahasiswa mampu menjelaskan gejala gangguan mood, afek, dan


bipolar

- Sedih yang berkepanjangan


- Perubahan yang signifikan pada napsu makan dan pola tidur
- Sensitif, marah, khawatir, gelisah
- Pesimis
- Cepat lelah
- Merasa bersalah, merasa tidak berharga
- Kesulitan dalam konsentrasi
- Sulit merasa bahagia dalam mengerjakan hobinya
- Mengurung dari lingkungan sosial
- Nyeri dan sakit tanpa sebab
- Memiliki pemikiran untuk bunuh diri dan mati

24
5. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan, tatalaksana, dan
diagnosis banding

PEMERIKSAAN BIPOLAR
Dari penelitian pada penderita gangguan bipolar berusia dewasa, diketahui
bahwa pada pemeriksaan MRI didapatkan pembesaran ventrikel ke-3.
Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomographic) menunjukan
penurunan aktivitas metabolisme pada bagian otak depan (lobus frontalis).
Hingga saat ini dikatakan bahwa abnormalitas yang terjadi pada bagian-
bagian otak tersebut akan menyebabkan gangguan dalam pengaturan mood
dan fungsi kognitif.

GEJALA KLINIS
Terdapat dua pola dasar pada gangguan mood, satu untuk depresi dan satu
untuk mania.
1. Episode depresif
Suatu mood depesi dan hilangnya minat atau kesenangan
merupakan gejala utama dari deprsi. Pasien mengatakan bahwa mereka
merasa murung, putus asa, dalam kesedihan, atau tidak berguna. Bagi
pasien mood depresi seringkali memiliki kualitas yang terpisah yang
membedakannya dari emosi normal dan kesedihan atau dukacita. Pasien
sering kali menggambarkan gejala depresi sebagai suatu rasa nyeri
emosional yang menderita sekali. Pasien terdepresi kadang-kadang
mengeluh tidak dapat menangis, suatu gejala yang hilang saat mereka
membaik.
Hampir semua pasien terdepresi (97%) mengeluh adanya
penurunan energi yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan
tugas, sekolah dan pekerjaan, dan penurunan motivasi untuk mengambil
proyek baru. Pasien juga mengeluh susah tidur, terbangun pad amalam
hari, selama mereka merenungkan masalahnya.

Fase depresi:
a. Perasaan murung atau sedih
b. Mudah menangis
c. Minat dan kegembiraan hilang

25
d. Kelelahan
e. Nafsu makan terganggu
f. Gangguan tidur (insomnia/hipersomnia)
g. Putus asa
h. Pesimis
i. Sulit konsentrasi
j. Berat badan naik/turun secara bermakna
k. Merasa bersalah
l. Sering berpikir untuk bunuh diri.

2. Episode manik
Suatu mood yang meningkat, meluap-luap, atau lekas marah
merupakan tanda dari episode manik. Selain itu mood pasien mudah
tersinggung , khususnya jika rencana pasien yang sangat ambisisus
terancam. Sering kali seorang pasien menunjukkan perubahan mood yang
utama dari euphoria awal pada sebuah perjalanan penyakit menjadi lekas
marah dikemudian waktu.

Fase manik:
a. Rasa haraga diri yang tinggi secara berlebihan. Ia merasa dirinya paling
hebat dan dapat melakukan apa saja.
b. Selalu gembira secara berlebihan
c. Gangguan tidur. Pasien biasanaya hanya butuk waktu 3-4 jam untuk
tidur tapi tidak merasa kelelahan.
d. Bicara cepat, kata-kata dan idenya banyak secara berlebihan.
e. Perhatian gampang teralih
f. Aktivitasnya berlebihan
g. Nafsu seksual yang meninggi.

TERAPI BIPOLAR
Farmakoterapi
a. Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut Pada Gangguan Bipolar
Lini I:
- Injkesi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien
dengan episode mania atau campuran akut. Dosis adalah
9,75mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25mg/hari (tiga kali

26
injeksi per hari dengan interval dua jam). Berespons dalam 45-60
menit.
- Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan
episode mania atau campuran akut. Dosis 10mg/ injeksi. Dosis
maksimum adalah 30mg/hari. Berespons dalam 15-30 menit.
Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien
menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi
lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum lorazepam 4mg/hari.
Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau
Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik karena
mengganggu stabilitas antipsikotika.
Lini II:
- Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang
setelah 30 menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari.
- Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan
bersamaan dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam
satu jarum suntik.(8)
b. Penatalaksanaan Gangguan Bipolar
Sudah lebih dari 50 tahun Lithium digunakan sebagai terapi gangguan
Bipolar. Keefektifitasananya telah terbukti dalam mengobati 60-80 %
psie. “Pamornya” semakin berkibar karena dapat menekan ongkos
perawtan dan angka kematian akibat bunuh diri.
c. Panduan Obat-Obatan Bipolar berdasarkan British Association of
Psychopharmacology (Journal of Psychopharmacology 2003):
- Lithium. Dosis : dosis tunggal 800 mg, malam hari. Dosis
direndahkan pada pasien diatas 65 tahun dan yang mempunyai
gangguan ginjal.
- Valproat (Divalproate Semisoodium)
Dosis :
o rawat inap : dosis inisial 20-30 mg/kg/hari.
o rawat jalan dosis inisial 500 mg, titrasi 250 mg/hari.
o dosis maksimum 60 mg/kg/hari.
- Karbamazepin
Dosis :

27
o Dosis inisial 400 mg.
o Dosis maintenance 200-1600 mg/hari
- Lamotrigine
Dosis : dosis inisial 25 mg/hari pada 2 minggu pertama, lalu 50 mg
pada minggu kedua dan ketiga. Dosis juga diturunkan setengahnya
bila pasien juga mendapat
- Valproate.
Gangguan Bipolar harus diobati secara kontinyu, tidak boleh putus.
Bila putus, fase normal akan memendek sehingga kekambuhan
akan semakin sering. Adanya fase normal pada gangguan Bipolar
sering menngakibatkan buruknya compliance untuk berobat karena
dikira sudah sembuh. Oleh karena itu edukasi sangat penting agar
penderita dapat ditangani lebih dini.

Non Farmakoterapi
a. Konsultasi
Konsultasi dengan seorang psikiater atau psikoffarmakologi selalu
sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi
konvensional dan medikasi.
b. Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan
olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang regular harus
dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang regular merupakan kunci
untuk bertahan dari penyakit ini.

DIFFERENSIAL DIAGNOSIS BIPOLAR


Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat
episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan
campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup.
Episode depresif dari gangguan bipolar memiliki kriteria diagnostik
yang sama dengan gangguan depresi mayor episode tunggal. Sedangkan
pada gangguan bipolar episode campuran terdapat gejala-gejala manik

28
atau hipomanik dan depresi yang berganti-ganti secara cepat pada suatu
periode waktu yang berlangsung sekurangnya satu minggu. Pada tampilan
klinis, seorang yang menderita gangguan bipolar episode campuran
biasanya mengalami kondisi mood yang sangat tidak stabil. Secara umum,
terdapat dua jenis gangguan bipolar, pada gangguan bipolar tipe satu,
ditemukan sekurangnya satu episode manik. Sedangkan pada gangguan
bipolar tipe dua ditemukan sekurangnya satu episode hipomanik.
Jika seseorang memiliki kelainan bipolar, kemungkinan memiliki
kondisi kesehatan yang didiagnosis sebelum dan sesudah diagnosis
kelainan bipolar. Kondisi tersebut perlu didiagnosis dan diobati karena
memperparah kelainan bipolar yang ada. Adapaun kondisi-kondisi tersebut
adalah:
a. Gangguan kecemasan. Contohnya termasuk PTSD (post-traumatic
stress disorder/ gangguan stress pasca trauma), fobia sosial dan
gangguan kecemasan menyeluruh.
b. Defisit atensi/ gangguan hiperaktif (Attention-deficit/hyperactivity
disorder/ADHD). ADHD mempunyai gejala yang tumpang tindih
dengan kelainan bipolar. Oleh karena itu, kelainan bipolar sulit
dibedakan dari ADHD. Terkadang menjadi salah diagnosis. Dalam
beberapa kasus, seseorang dapat didiagnosis untuk kedua kondisi.
c. Adiksi atau penyalahgunaan substansi. Banyak orang dengan kelainan
bipolar juga merokok, minum alkohol, dan menggunakan obat-obatan.
Obat-obatan dan alkohol seperti menghilangkan gejala, tetapi
sebenarnya kedua hal tersebut dapat memicu, memperpanjang, dan
memperparah depresi atau mania.
d. Masalah kesehatan fisik. Orang yang didignosis dengan kelainan
bipolar tampaknya memiliki gangguan kesehatan lainnya, termasuk
penyakit jantung, tiroid dan obesitas.

6. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi, prognosis dari diagnosis

KOMPLIKASI BIPOLAR

29
a. Masalah ekonomi.
Pengeluaran uang yang berlebihan untuk kesenangan dan
kekeliruan dalam bisnis dan usaha dapat menyebabkan pasien
terlibat dalam hutang yang serius
b. Hiperseksualitas dapat menyebabkan kehamilan yang tidak
direncanakan dan tidak diinginkan atau pernikahan yang tidak
dipikirkan terlebih dahulu
c. Masalah psikososial.
Manik iritabel seringkali terlibat dalam permasalahan hukum
(melanggar aturan) dan dapat berkelahi dan menciptakan
perselisihan dengan siapapun yang berkontak dengannya.
Persahabatan dapat hancur dan perceraian dapat terjadi
d. Masalah sosial.
Suicide terjadi sekitar 10% sampai 20% pasien dengan gangguan
bipolar.

PROGNOSIS BIPOLAR
a. Penderita dengan BP I lebih buruk daripada depresi berat. Dalam 2
tahun pertama setelah episode awal, 40 – 50% penderita mengalami
serangan manik lain.
b. Hanya 50-60% penderita BP I dapat dikontrol dengan Lithium
terhadp gejalanya. Pada 7% penderita, gejala tidak
kembali/mengalami penyembuhan, 45% penderita mengalami
episode berulang, dan 40% mengalami gangguan yang menetap.
c. Sering kali perputaran episode depresif dan manik berhubungan
dengan usia.
d. Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara
lain; riwayat kerja yang buruk; penyalahgunaan alkohol; gambaran
psikotik; gambaran depresif diantara episode manik dan depresi;
adanya bukti keadaan depresif, jenis kelamin laki-laki.
e. Indikator prognosis yang baik adalah: fase manik(dalam durasi
pendek); onset terjadi pada usia yang lanjut; pemikiran untuk
bunuh diri yang rendah; gambaran psikotik yang rendah; masalah
kesehatan (organik) yang sedikit.

30
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari hasil diskusi kelompok, pasien pada skenario ini mengalami


gangguan bipolar tipe 1 karena sesuai dengan kriteria pada DSM-5 yakni
mengalami episode manik dan depresi. Keluhan pasien berhubungan
dengan riwayat penyakit keluarga yang sama karena bipolar disorder
bersifat diturunkan secara genetik. Penegakkan diagnosis ini harus
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut berupa MRI maupun PET scan.
Tatalaksana untuk pasien dapat diberikan farmakoterapi seperti mood
stabilizer, golongan anticonvulsant, antipsikotik, dan anti depresi.
Sedangkan untuk non farmakoterapi dapat berupa konsultasi dengan
psikiater, maupun dengan melakukan aktivitas fisik.

B. SARAN

Untuk mahasiswa:

31
Sebaiknya mahasiswa lebih berusaha memahami materi dan
mengumpulkan materi dari sumber serta melakukan pemahaman lebih
lanjut dan mengkaji sumber tersebut apakah informasi yang diberikan
sumber tersebut memiliki keterkaitan dengan learning objective yang
dibahas.

Untuk tutor pembimbing:

Tutor pembimbing sudah baik, kompeten, dapat mengarahkan mahasiswa


untuk menuju learning objective yang hendak dicapai serta memberikan
masukan- masukan kekurangan dalam diskusi

32
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. Mood Disorders. Dalam: Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Ed, Text Revision, DSM-
IV-TR, Washington DC, 2005: hal. 345-429.
Irma, Fransisca. Mengenal Gangguan Bipolar. Available from
URL:http://www.medicalera.com. Last update January 2010.
Kaplan I. H, Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi
Ketujuh, Wiguna M. S; Jakarta, 1997. Hal:799-806.
Maramis, W.F. 1998. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press

Marionate, Gangguan Bipolar: Manik Depresif, Available from


URL:http://www.miracle_Health.com, Last update January 2008.
Marlyn, E.S, Gangguan Afektif Bipolar, available from
URL:http://www.atwordpress.com, Last update 2008.
Stuart dan Sundeen. 1998. Buku Keperawatan (alih bahasa) Achir Yani S.
Hamid. Edisi 3.Jakarta : EGC

33