Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATAN

STATUS ASMATIKUS

DISUSUN OLEH :
ADE IRMA SAFITRI
ADHAN AZHARI RAUF
FAJRIN JUNIARTO
NOVI DWI YANTI
OLGA JADHA CASMIRA
SITI AISYAH

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan
waktu yang ditentukan. Adapun materi yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah mengenai Asuhan Keperawatan Kegawatan Status Asmatikus.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kegawatdaruratan
Kardiopulmonal dan untuk menambah wawasan kepada para pembaca. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Semoga segala upaya kami dalam membuat makalah ini dapat bermanfaat.
Terima kasih.

Samarinda, 24 September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................... ii


Daftar isi ............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2
C. Tujuan ..................................................................................................... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Status Asmatikus ............................................................ 3
B. Algoritma Penanganan Kegawatdaruratan Status Asmatikus ................ 12
C. Asuhan Keperawatan Kegawatan Status Asmatikus ............................. 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 31
Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan
perubahan pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun
zat-zat yang ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak
terjadi di masyarakat adalah penyakit asma (Medlinux, (2008).
Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa
disembuhkan secara total. Kesembuhan dari satu serangan asma tidak
menjamin dalam waktu dekat akan terbebas dari ancaman serangan
berikutnya yaitu status asmatikus.
Status asmatikus merupakan serangan asma yang tidak dapat diatasi
dengan pengobatan konvensional dan ini merupakan keadaan darurat medis,
bila tidak segera diatasi akan terjadi gagal napas. Status asmatikus adalah
asma yang berat dan persisten yang tidak merespons terapi konvensional
(Muttaqin, 2008).
Apalagi bila karena pekerjaan dan lingkungan serta factor ekonomi,
penderita harus selalu berhadapan dengan faktor alergen yang menjadi
penyebab serangan. Biaya pengobatan simptomatik pada waktu serangan
mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi pengobatan
profilaksis yang memerlukan waktu lebih lama sering menjadi problem
tersendiri (Medlinux, (2008).

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah mengenai
konsep dasar status asmatikus, algoritma penanganan kegawatdaruratan status
asmatikus, dan asuhan keperawatan kegawatan status asmatikus.

1
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui konsep dasar status asmatikus
2. Untuk mengetahui algoritma penanganan kegawatdaruratan status
asmatikus
3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan kegawatan status asmatikus

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Status Asmatikus


1. Pengertian
Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi
hipersensitif mukosa bronkus terhadap alergen. Reaksi hipersensitif pada
bronkus dapat mengakibatkan pembengkakan pada mukosa bronkus.
(Sukarmain, 2009).
Status asmatikus adalah keadaan suatu asma yang refraktor terhadap
obat-obatan yang konvensional. Status asmatikus merupakan keadaan
emergensi dimana keadaan asma tidak langsung memberikan respon
terhadap dosis umum bronkodilator (Depkes RI, 2007).
Status Asmatikus yang dialami penderita asma dapat berupa
pernapasan wheezing, ronchi ketika bernapas (adanya suara bising ketika
bernapas), kemudian bisa berlanjut menjadi pernapasan labored
(perpanjangan ekshalasi), pembesaran vena leher, hipoksemia, respirasi
alkalosis, respirasi sianosis, dispnea dan kemudian berakhir dengan
takipnea. Namun makin besarnya obstruksi di bronkus maka suara
wheezing dapat hilang dan biasanya menjadi pertanda bahaya gagal
pernapasan (Purnomo, 2008).
Status asmatikus adalah kegawatan medis dimana gejala asma tidak
membaik pada pemberian bronkodilator inisial di unit gawat darurat.
Biasanya, gejala muncul beberapa hari setelah infeksi virus di saluran
napas, diikuti pajanan terhadap alergen atau iritan, atau setelah beraktivitas
saat udara dingin. Seringnya, pasien telah menggunakan obat-obat
antiinflamasi. Pasien biasanya mengeluh rasa berat di dada, sesak napas
yang semakin bertambah, batuk kering dan mengi dan penggunaan beta-
agonis yang meningkat (baik inhalasi maupun nebulisasi) sampai hitungan
menit.

3
2. Etiologi
Penyebab hipersensitifitas saluran pernapasan pada kasus asma
banyak diakibatkan oleh faktor genetik (keturunan). Sedangkan faktor
pemicu timbulnya reaksi hipersensistifitas saluran pernapasan dapat
berupa :
1. Hirup debu yang didapatkan dijalan raya maupun debu rumah tangga.
2. Hirupan asap kendaraan, asap rokok, asap pembakaran.
3. Hirup aerosol (asap pabrik yang bercampur gas buangan seperti
nitrogen).
4. Pajanan hawa dingin.
5. Bulu binatang.
6. Stress yang berlebihan.
Selain faktor-faktor diatas kadang juga ada individu yang sensitif
terhadap faktor pemicu diatas tetapi penderita lain tidak (Sukarmin, 2009).

3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik pada pasien asmatikus adalah batuk, dyspnoe
(sesak nafas), dan wheezing (terengah-engah). Pada sebagian penderita
disertai dengan rasa nyeri dada, pada penderita yang sedang bebas
serangan tidak ditemukan gejala klinis, sedangkan waktu serangan tampak
penderita bernafas cepat, dalam, gelisah, duduk dengan tangan menyangga
ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :
a. Tingkat I :
1) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi
paru.
2) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun
dengan test provokasi bronkial di laboratorium.

4
b. Tingkat II :
1) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas (batuk, sesak
nafas, wheezing).
2) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.

c. Tingkat III :
1) Tanpa keluhan.
2) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi
jalan nafas.
3) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah
diserang kembali.

d. Tingkat IV :
1) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
2) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi
jalan nafas.

e. Tingkat V :
1) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan
asma akut yang berat bersifat refrakter (tak beraksi) sementara
terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
2) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang
reversibel (Sukarmin, 2009).

Gambaran klinis pada pasien dengan status asmatikus antara lain :


a. Penderita tampak sakit berat dan sianosis.
b. Sesak nafas, bicara terputus-putus.
c. Banyak berkeringat, bila kulit kering menunjukkan kegawatan sebab
penderita sudah jatuh dalam dehidrasi berat.

5
d. Pada keadaan awal kesadaran penderita mungkin masih cukup baik, tetapi
lambat laun dapat memburuk yang diawali dengan rasa cemas, gelisah
kemudian jatuh ke dalam koma.

4. WOC

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan fungsi paru adalah cara yang paling akurat dalam
mengkaji obstruksi jalan nafas akut.
b. Pemeriksaan gas darah arteri dilakukan jika pasien tidak mampu
melakukan manufer fungsi pernafasan karena obstruksi berat atau
keletihan, atau bilapasien tidak berespon terhadap tindakan
c. Arus puncak ekspirasi (APE) mudah di periksa dengan alat yang
sederhana, flowmeter dan merupakan data yang objektif dalam
menentukan derajat beratnnya penyakit

6
d. Pemeriksaan foto thorax pemeriksaan ini terutama dilakukan untuk
melihat hal – hal yang ikut memperburuk atau komplikasi asma akut
yang perlu juga mendapat penanganan seperti atelektasis, pneuonia, dan
pneumothorax
e. Elektrokardiografi tanda- tanda abnormalita sementara dan reversibel
setelah terjadi perbaikan klinis adalah gelombang p meninggi ( p =
pulmonal), takikardi dengan atau tanda aritmia supraventrikuler, tanda
– tanda hipertrofi ventrikel kanan dan defiasi aksis ke kanan (Nugroho,
2016).

6. Komplikasi
Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkiolus berkepanjangan
yang mengancam jiwa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan
dapat terjadi pada beberapa individu. Pada kasus ini, kerja pernapasan
sangat meningkat. Apabila kerja pernapasan meningkat, kebutuhan
oksigen juga meningkat. Karena individu yang mengalami serangan asma
tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen normalnya,individu semakin
tidak sanggup memenuhi kebutuhan oksigen yang sangat tinggi yang
dibutuhkan untuk berinspirasi dan berwkspirasi melawan spasme
bronkiolus, pembengkakan bronkiolus, dan mukus yang kental. Situasi ini
dapat menyebabkan pneumotoraks akibat besarnya tekanan untuk
melakukan ventilasi. Apabila individu kelelahan, dapat terjadi asidosis
respiratorik,gagal nafas,dan kematian.

7. Penatalaksanaan
a. Penanganan pada saat hospitalisasi
Penatalaksanaan status asmatikus semua penderita yang dirawat inap di
rumah sakit menunjukkan keadaan obstruktif jalan napas yang berat.
Perhatian khusus harus diberikan di dalam perawatannya, sedapat
mungkin dirawat oleh dokter dan perawat yang berpengalaman.
Pemantauan harus dilakukan secara ketat, berpedoman pada klinis, uji

7
faal paru (APE) untuk dapat menilai respon pengobatan apakah
membaik atau justru memburuk.
Perburukan mungkin saja terjadi baik oleh karena konstriksi bronkus
yang lebih hebat lagi maupun sebagai akibat terjadinya komplikasi
seperti infeksi, pneumothoraks, pneumomediastinum yang sudah
barang tentu memerlukan pengobatan yang lainnya. Efek samping obat
yang berbahaya dapat terjadi pada pemberian drip aminofilin.
Penderita status asmatikus yang dirawat inap di ruangan, setelah dikirim
dari UGD dilakukan penatalaksanaan sebagai berikut :
1) Pemberian oksigen diteruskan
2) Agonis β2
Dilanjutkan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis setiap jam,
kemudian dapat diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila sudah
ada perbaikan yang jelas. Sebagai alternatif lain dapat diberikan
dalam bentuk inhalasi dengan nebuhaler/volumatic atau secara
injeksi. Bila terjadi perburukan, diberikan drip salbutamol atau
terbutalin.
3) Aminofilin
Diberikan melalui infuse atau drip dengan dosis 0,5-0,9
mg/kgBB/jam. Pemberian per drip didahului dengan pemberian
secara bolus apabila belum diberikan. Dosis drip aminofilin
direndahkan pada penderita dengan penyakit hati, gagal jantung atau
bila penderita menggunakan simetidin, siprofloksasin atau
eritromisin. Dosis tinggi diberikan pada perokok. Gejala toksik
pemberian aminofilin perlu diperhatikan. Bila terjadi mual,muntah
atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi konvulsi, aritmia
jantung drip aminofilin segera dihentikan karena terjadi gejala toksik
yang berbahaya.
4) Kortikosteroid
Kortikosteroid dosis tinggi intravena diberikan setiap 2-8 jam
tergantung beratnya keadaan serta kecepatan respon. Preparat pilihan

8
adalah hidrokortison 200-400mg dengan dosis keseluruhan 1-4 gr/24
jam. Sediaan lain yang juga dapat diberikan sebagai alternatif adalah
triamisinolon 40-80 mg, deksametason/betametason 5-10 mg. dalam
tersedianya kortikosteroid intravena, dapat diberikan kortikosteroid
peroral yaitu prednisone atau prednisolon 30-60 mg/hari.
5) Antikolinergik
Iptropium bromide dapat diberikan baik sendiri maupun dalam
kombinasi dengan agonis β2 secara inhalasi nebulisasi, penambahan
ini tidak diperlukan bial pemberian agonis β2 sudah memberikan
hasil yang baik.
6) Pengobatan lainnya
a) Hidrasi dan keseimbangan elektrolit
Dehidrasi hendaknya dinilai secara klinis, perlu juga pemeriksaan
elektrolit serum, dan penilaian adanya asidosis metabolic. Ringer
laktat dapat diberikan sebagai terapi awal untuk rehidrasi dan
pada keadaan asidosis metabolic diberikan natrium bikarbonat.
b) Mukolitik dan ekspektorans
Walaupun manfaatnya diragukan pada penderita dengan obstruksi
jalan napas berat, ekspektoran seperti obat batuk hitam dan
gliseril guaikolat dapat diberikan, demikian juga mukolitik
bromeksin maupun N-asetilsistein.
c) Fisioterapi dada
Drainase postural, vibrasi dan perkusi serta teknik fisioterapi
lainnya hanya dilakukan pada penderita dengan hipersekresi
mucus sebagai penyebab utama eksaserbasi akut yang terjadi.
d) Antibiotic
Diberikan kalau jelas ada tanda-tanda infeksi seperti demam,
sputum purulen dengan neutrofil leukositosis.
e) Sedasi dan antihistamin
Obat-obat sedative merupakan indikasi kontra, kecuali di ruang
perawatan intensif. Sedangkan antihistamin tidak terbukti

9
bermanfaat dalam pengobatan asma akut berat, malahan dapat
menyebabkan pengeringan dahak yang mengakibatkan sumbatan
bronkus.

b. Penatalaksanaan lanjutan adalah sebagai berikut :


Setelah diberikan terapi intensif awal, dilakukan monitor yang ketat
terhadap respons pengobatan dengan menilai parameter klinis: sesak
napas, bising mengi, frekuensi napas, frekuensi nadi, retraksi otot bantu
napas. APE, foto toraks, analisis gas arteri, kadar serum aminofilin,
kadar kalium dan gula darah diperiksa sebagai dasar tindakan
selanjutnya.
Indikasi Perawatan Intensif :
Penderita yang tidak menunjukkan respons terhadap terapi intensif yang
diberikan perlu dipikirkan apakah penderita akan dikirim ke Unit
Perawatan Intensif. Penderita dengan keadaan berikut biasanya
memerlukan perawatan intensif sebagai berikut :
1) Terdapat tanda-tanda kelelahan
2) Gelisah, bingung, kesadaran menurun.
3) Henti napas membakat (PaO2 < 40 mmHg atau PaCO2 > 45 mmHg)
sesudah pemberian oksigen.

c. Penatalaksanaan Lanjutan di Ruangan :


Pada penderita yang telah memberiakn respons yang baik terhadap
pengobatan, terapi intensif dilanjutkan paling sedikit 2 hari. Pada 2-5
hari pertama semua pengobatan intravena diganti, diberikan steroid oral
dan aminofilin oral serta agonis β2 dengan inhaler dosis terukur 6-8 kali
per hari atau preparat oral 3-4 kali perhari. Pada hari 5-10, steroid oral
(prednisone, prednisolon) diturunkan, obat β2 dan aminofilin diteruskan.

10
d. Penatalaksanaan Lepas Rawat :
Penderita dapat dipulangkan, apabila :
1) Tidak ada sesak waktu istirahat
2) Bising tidak ada atau minimal
3) Retraksi otot bantu napas minimal
4) Tidur sudah normal
5) APE > 70% dari nilai normal atau nilai terbaik
Selama minggu pertama penderita dipulangkan, diberikan pengobatan
yang sama dengan hari-hari terakhir perawatan di rumah sakit. Yang
terpenting adalah mengenai penggunaan steroid. Penurunan dosis
steroid 5mg/hari baru dilakukan pada minggu kedua pasca perawatan.
Pada penderita asma kronik yang tergantung steroid penurunan steroid
dilakukan sampai dosis rendah yang masih ditoleransi penderita,
sebaiknya diberikan dosis tunggal pagi hari setiap hari atau selang
sehari. Kalau memungkinkan, lebih baik diberikan steroid aerosol.
Pendidikan terhadap penderita juga penting, diberikan pengetahuan
tentang obat-obat yang harus dipergunakan, cara menggunakan inhaler,
mengenal tanda-tanda perburukan asmanya dan kapan harus segera
mencari pertolongan medic ke unit pelayanan kesehatan

11
B. Algoritma Penanganan Kegawatan Status Asmatikus

Primary Survey :
 Airway : Terdapat sputum
 Breathing : Terdapat sumbatan jalan nafas, sesak nafas / nafas lemah
/ henti nafas, wheezing, Takipnea
 Circulation : Kaji TTV, Takikardi, Penurunan tekanan darah sistolik,
pulsus paradoksus, sianosis, kaji saturasi O2 danCRT
 Disability : Kaji tingkat kesadaran klien

Secondary Survey

Pemeriksaan AMPLE : Pemeriksaan Penunjang :


 A : Alergi (adakah alergi pada obat-  Saturasi O2
obatan, debu, makanan, dll)  Pemeriksaan faal paru (APE atau
 M : Medikasi/obat-obatan (obat- VPE)
obatan yang diminum) dosis,  Pemeriksaan AGD
 Pemeriksaan foto thoraks
atau penyalahgunaan obat
 Pemeriksaan EKG
 P : Pertinent medical history
(penyakit yang pernah diderita dan
pengobatan yang dilakukan)
 L : Last meal (obat atau makanan
yang baru saja dikonsumsi sebelum
kejadian)
 E : Events, hal-hal yang
bersangkutan dengan sebab cedera
(kejadian yang menyebabkan adanya
keluhan utama)

12
SERANGAN ASMA SERANGAN ASMA SERANGAN ASMA
RINGAN SEDANG/BERAT MENGANCAM JIWA

Pengobatan awal :
 Oksigenasi dengan kanul nasal
 Inhalasi agonis beta 2 kerja singkat (nebulisasi setiap 20 menit
dalam satu jam) atau agonis beta2 injeksi ( terbutalin 0,5 cc
subkutan atau adrenalin 1/1000 0,3 cc subkutan)
 Kortikosteroid sistemik :
- serangan asma berat
- tidak respon segera dengan bronkodilator
- dalam pengobatan kortikosteroid oral

Penilaian ulang setelah 1 jam :


Pemeriksaan fisik, saturasi O2 dan pemeriksaan lain atas indikasi

Respon baik : Respon tidak sempurna : Respon buruk dalam 1 jam


 Respon baik dan stabil  Resiko tinggi distress  Resiko tinggi disstres
dalam 60 menit  Pemeriksaan fisik :  Pemeriksaan fisik :
 Pemeriksaan fisik gejala ringan – sedang berat, gelisah dan
normal  APE > 50% tetapi kesadaran menurun
 APE >70%  PaO2<70%  APE<30%
 predikdi/nila terbaik  Saturasi O2 tidak  PaCO2 > 45%
 Saturasi O2 > 90% ada perbaikan  PaO2 < 60%
(95% pada anak)

13
Pulang : Dirawat di RS : Dirawat di ICU :
 Pengobatan  Inhalasi agonis beta 2  Inhalasi agonis beta 2
dilanjutkan dengan ± anti - kolinergik ± anti – kolinergik
inhalasi agonis beta 2  Kortikosteroid  Kortikosteroid IV
 Membutuhkan sistemik  Pertimbangkan agonis
kortikosteroid oral  Aminofilin drip beta 2 injeksi SC/IM/IV
 Edukasi penderita :  Terapi oksigen :  Terapi O2 menggunakan
- Memakai obat yang pertimbangkan kanul masker venturi
benar nasal atau masker  Aminofilin drip
- Ikuti rencana venturi  Mungkin perlu intubasi
pengonatan  Pantau APE, sat O2, dan ventilasi mekanik
sekanjutnya nadi, kadar teofilin

Ada Perbaikan Tidak Ada Perbaikan

Pulang : Dirawat di ICU :


 Bila APE > 60% Bila tidak ada
 Prediksi/terbaik. perbaikan dalam
 Tetap berikan waktu 6 - 12 jam
pengobatan oral/
inhalasi

14
C. Asuhan Keperawatan Kegawatan Status Asmatikus

Resume Kasus :

Ny. D 20 tahun masuk ke IGD AWS pada tanggal 31 Mei 2017 dan sebelumnya
klien pernah di diagnose oleh dokter dengan diagnose medis “ Asma Bronchial “.
Keluarga klien yang mengantar mengatakan mengatakan klien bertambah sesak +
2 hari dan mempunyai riwayat asma sudah 2 tahun, pada saat masuk IGD klien
tidak dapat berbicara, klien terlihat kesulitan bernafas, klien terlihat tidak nyaman
saat bernafas, lelah saat bernafas, klien terlihat lemas, klien terlihat berkeringat
lebih banyak, kemudian setelah pemeriksaan fisik di dapatkan hasil kesadaran
compos mentis, GCS 15, klien tampak pucat, klien tampak lesu, turgor kulit tidak
elastis, mata cekung, konjungtiva anemis, membrane mukosa pucat, RR klien 34
x/menit, klien menggunakan otot bantu pernafasan, bunyi nafas klien wheezing.
TTV klien : Tekanan Darah : 119/80 mmHg Suhu : 36 oC
Nadi : 100 x/ menit RR : 34 x/
menit

Dari data tersebut, makaditemukan masalah keperawatan : pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan penyempitan bronkus. Untuk mengatasi masalah tersebut
dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan kaji TTV klien, monitor RR
klien, monitor bunyi nafas klien, atur posisi klien senyaman mungkin, dan
kolaborasi dengan dokter dalam pembeian obat inhalasi ventolin + filxotide,
sanbutamol 2 mg 3x1, metilprenisolon 3x1, dan ambroxol.

Riwayat Keperawatan
1. Riwayat kesehatan sekarang adalah sesak mempunyai riwayat asma, factor
pencetus lingkungan, kejadian bertahap, upaya mengarasi minum obat dari
dokter

15
2. Riwayat kesehatan masa lalu yang di dapatkan berdasarkan wawancara
dengan klien yaitu klien tidak memiliki riwayat kecelakaan, tidak ada riwayat
alergi obat atau pun makanan

3. Pengkajian Primer
a. Airway
Bersih, tidak ada sumbatan, tidak ada sputum, tidak ada edema, tidak
ada spasme, tidak ada darah, pangkal lidah tidak jatuh, tidak ada
benda asing, dan tidak ada batuk. Tidak ada masalah keperawatan .
evaluasi tidak ada masalah dalam pengkajian airway.
b. Breathing
RR klien 34 x / menit irama nafas irregular, pola nafas dispnu, suara
nafas wheezing, pernafasan dada/perut. Masalah keperawatan resiko
gangguan pola nafas. Implementasi mengatur posisi semi fowler,
monitor frekuensi, irama, dan kedalaman nafas, monitor retraksi dan
pengembangan paru, kolaborasi O2 : 3 liter/ menit memakai inhalasi.
Evaluasi masalah sedang diatasi dalam pengkajian breathing.
c. Circulation
Nadi teraba , frekuensi 100 x/ menit, irama nadi teratur, tekanan
darah 119/80 mmHg, suhu 36oC , luka bakar tidak ada ral hangat,
klien pucat, klien tidak ada sianosis, tidak ada pendarahan, kulit/
mukosa lembab, mata normal, fontanel datar, tidak ada lika bakar.
Tidak ada masalah keperawatan, tidak ada implementasi. Evaluasi
tidak ada masalah dalam pengkajian circulation.
d. Disability
Kesadaran compos mentis, GCS 15 ( E=4, C=6, S=5), pupil isokor,
tidak ada muntah proyektil, tidak ada riwayat kejang, fungsi bicara
normal, kekuatan otot ekstremitas atas 5/5, ekstremitas bawah 5/5,
sensibilitas normal, tidak ada gangguan menelan.
e. Eksprosure

16
Setelah dilakukan pengkajian dan pemeriksaan fisik klien tidak
didapatkan cedera dibagan seluruh tubuhnya.

4. Pengkajian Sekunder
a. Sistem pencernaan
Berat badan : 55 kg, tiggi badan 160 cm, lingkar lengan atas 18 cm,
lingkar perut 40 cm, reflek mengisap normal, tidak kesulitan menelan,
nafsu makan baik, tidak mual, tidak muntah, jenis makanan padat,
abdomen datar, bising usus 9 X/menit, tidak hepatomegaly, tidak
splenomegaly, tidak ada masalah kepearawat, tidak ada implementasi,
evaluasinya tidak ada masalah.
b. Kebutuhan aktivitas dan istirahat
Jumlah tidur : malam 8 jam, siang 3 jam, kebiasaan sebelim tidur
berdoa, gangguan dalam tidur sesak, pergerakan bebas, kekuatan
sendi normal, tidak ada kelemahan, kekuatan otot kuat, integritas kulit
normal, tidak ada masalah keperawata, tidak ada implementasi,
evaluasinya tidak ada masalah.
c. Pengkajian
1) Kepala
Bagian kepala simetris, tidak ada ketombe, kepala bersih, tidak
ada rambut rontok, tidak ada benjolan atau massa
2) Leher
Bagian leher simetris, tidak ada kelenjar getah bening, tidak ada
benjolan, tidak ada edema, tidak ada nyeri/ kelainan
3) Thorak
Bagian thorak tidak ada benjolan, tidak ada massa, thorak simetris.
4) Abdomen
Bagian abdomen lembek, tidak kembung, tidak ada benjolan/
massa, bising usus 9 x/ menit, tidak ada nyeri tekan bagian
abdomen dan abdomen simetris.

17
5) Ekstremitas
Bagian ekstremitas normal, tidak ada kelainan, tidak ada kelainan
pada sendi atau kekuatan otot ekstremitas atas 5/5 kekuatan otot
bawah 5/5
6) Integument
Turgor kulit elastis, temperature kulit hangat, warna kulit pucat,
keadaan kulit baik, tidak ada rada kulit daerah pemasangan infus

d. Pemeriksaan penunjang
1) Radiologi
Tidak ada pemeriksaan
2) Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan
3) Pemeriksaan lain
Tidak ada pemeriksaan
4) Terapi medis
Inhalasi ventolin + filxotide, sanbutamol 2 mg 3x1,
metilprenisolon 3x1, dan ambroxol.
Data Fokus
1. Data Subjektif :
Klien mengatakan sesak + 2 hari dan mempunyai riwayat asma sudah 2 tahun,
klien mengatakan tidak bisa bernafas, klien mengatakan tidak nyaman saat
bernafas, lelah saat bernafas, klien mengatakan lemas, klien mengatakan
berkeringat lebih banyak, klien mengatakan perlu dibantu saat aktivitas.
2. Data Objektif :
klien tampak pucat, klien tampak lesu, turgor kulit tidak elastis, mata cekung,
konjungtiva anemis, membrane mukosa pucat, klien tampak lemas, RR klien 34
x/menit, klien menggunakan otot bantu pernafasan, bunyi nafas klien wheezing.

18
TTV klien : Tekanan Darah : 119/80 mmHg Suhu : 36 oC
Nadi : 100 x/ menit RR : 34 x/
menit
Analisa Data
Nama klien : Ny. D
Umur : 20 tahun
Dx medis : Asma Bronchial
Ruang/kamar : IGD RSPI Sulianti Saroso

No. DATA MASALAH ETIOLOGI


Dx
1 Data Subjektif Pola napas tidak Penyempitan
1. klien mengatakan sesak + 2 efektif bronkus
hari dan mempunyai riwayat
asma sudah 2 tahun
2. klien mengatakan tidak
bisa bernafas
3. klien mengatakan tidak
nyaman saat bernafas, lelah
saat bernafas
4. klien mengatakan lemas
5. klien mengatakan
berkeringat lebih banyak
6. klien mengatakan perlu
dibantu saat aktivitas.
Data Objektif
1. klien tampak pucat
2. klien tampak lesu
3. turgor kulit tidak elastis
4. mata cekung

19
5. konjungtiva anemis
6. membrane mukosa pucat
7. klien tampak lemas, RR
klien 34 x/menit
8. klien menggunakan otot
bantu pernafasan
9. bunyi nafas klien
wheezing.
10. TTV klien : Tekanan
Darah : 119/80 mmHg

Suhu : 36 oC
Nadi : 100 x/ menit
RR : 34 x/ menit

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan bronkus.

E. PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN EVALUASI


Diagnosa keperawatan:
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan bronkus.
Data subjektif :
klien mengatakan sesak + 2 hari dan mempunyai riwayat asma sudah 2 tahun,
klien mengatakan tidak bisa bernafas, klien mengatakan tidak nyaman saat
bernafas, lelah saat bernafas, klien mengatakan lemas, klien mengatakan
berkeringat lebih banyak, klien mengatakan perlu dibantu saat aktivitas.
Data objektif:
klien tampak pucat, klien tampak lesu, turgor kulit tidak elastis, mata cekung,
konjungtiva anemis, membrane mukosa pucat, klien tampak lemas, RR klien 34
x/menit, klien menggunakan otot bantu pernafasan, bunyi nafas klien wheezing.
TTV klien : Tekanan Darah : 119/80 mmHg Suhu : 36 oC

20
Nadi : 100 x/ menit RR : 34 x/
menit

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, klien mampu :
1. Respiratory status : Ventilation
2. Respiratory status : Airway patency
3. Vital sign Status
Dengan Kriteria Hasil :
a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak
ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
c. Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi,
pernafasan)
Intervensi :
No. Intervensi Rasional
Dx
1. 1. Airway Management 1. Airway management
a. Buka jalan nafas, a. Mempermudah jalan
guanakan teknik chin napas
lift atau jaw thrust bila b. Untuk mempermudah
perlu jalan napas
b. Posisikan pasien c. Memberikan
untuk memaksimalkan kemaksimalan jalanya
ventilasi napas
c. Identifikasi pasien d. Untuk tidak adanya
perlunya pemasangan panghambat pada jalan
alat jalan nafas buatan napas

21
d. Pasang mayo bila e. Untuk mengetahui
perlu adanya komplikasi paru-
e. Lakukan fisioterapi paru
dada jika perlu f. Untuk memaksimalkan
f. Keluarkan sekret jalan napas
dengan batuk atau g. Untuk mengetahui
suction adanya suara napas
g. Auskultasi suara tambahan
nafas, catat adanya h. Untuk mengurangi
suara tambahan cairan pada rongga mulut
h. Lakukan suction pada i. Untuk mencairkan
mayo cairan pada rongga mulut
i. Berikan j. Untuk mempermudah
bronkodilator bila perlu jalan napas
j. Berikan pelembab k. Untuk mengetahui
udara Kassa basah intake cairan
NaCl Lembab l. Untuk mengetahui
k. Atur intake untuk keadan normal saat
cairan mengoptimalkan respirasi dan mengetahui
keseimbangan. kadar O2
l. Monitor respirasi
2. Terapi oksigen
dan status O2 a. Untuk mengurangi
secret pada mulut dan
2. Terapi Oksigen hidung
a. Bersihkan mulut, b. Untuk
hidung dan secret mempertahankan
trakea keadaan normal
b. Pertahankan jalan c. Untuk mempermudah
nafas yang paten tindakan yang dilakukan
c. Atur peralatan d. Untuk mengetahui
oksigenasi oksigen

22
d. Monitor aliran e. Untuk memberikan
oksigen kenyamanan pada klien
e. Pertahankan posisi f. Untuk mengetahui
pasien adanya tanda-tanda
f. Observasi adanya hipoventilasi
tanda tanda g. Untuk mengetahui
hipoventilasi adanya kecemasan
g. Monitor adanya dikarnakan kadar
kecemasan pasien oksigen yang dibutukan
terhadap oksigenasi kurang
3. Vital sign Monitoring 3. Vital sign monitoring
a. Monitor TD, nadi, a. Untuk mengetahui
suhu, dan RR keadaan normal TD,
b. Catat adanya nadi, suhu dan RR
fluktuasi tekanan darah b. Untuk mengetahui
c. Monitor VS saat perkembangan fluktuasi
pasien berbaring, tekanan darah
duduk, atau berdiri c. Untuk mengetahui
d. Auskultasi TD pada keadaan normal saat VS
kedua lengan dan saat pasien berbaring,
bandingkan duduk, atau berdiri
e. Monitor TD, nadi, d. Untuk mengetahui
RR, sebelum, selama, adanya peningkatan
dan setelah aktivitas oksigen dalam darah
f. Monitor kualitas dari e. Untuk mengetahui
nadi keadaan umum dan
g. Monitor frekuensi perkembangan saat
dan irama pernapasan aktivitas
h. Monitor suara paru f. Untuk mengetahui
i. Monitor pola kualitas nadi
pernapasan abnormal g. Untuk mengetahui

23
j. Monitor suhu, frekuensi dan irama
warna, dan kelembaban pernapasan
kulit h. Untuk mengetahui
k. Monitor sianosis adanya suara napas
perifer tambahan
l. Monitor adanya i. Untuk mengetahui
cushing triad (tekanan pola napas yang tidak
nadi yang melebar, abnormal
bradikardi, peningkatan j. Untuk mengetahui
sistolik) keadaan normal suhu,
warna dan kelembaban
kulit
k. Untuk mengetahui
adanya kekurangan
oksigen bisa dilihat pada
jaringan perifer yang
berwarna biru
l. Untuk mengetahui
adanya cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)

24
Implementasi / Pelaksanaan Keperawatan
Nama klien : Ny. D
Umur :20 tahun
Dx medis : Asma Bronchial
Ruangan/kamar : IGD/ RSPI Sulianti Saroso

No. Hari, tanggal Tindakan Intervensi Nama


Dx dan jam Paraf
1. Senin, 31 Mei
1. Airway Management
2017 a. Buka jalan nafas, guanakan
Pukul 09.00 teknik chin lift atau jaw thrust
WIB bila perlu
R/ : mempermudah jalan napas
b. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
R/ : untuk mempermudah jalan
napas
c. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas
buatan
R/ : Memberikan kemaksimalan
jalanya napas
d. Pasang mayo bila perlu
R/ : Untuk tidak adanya
panghambat pada jalan napas
e. Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
R/ : Untuk mengetahui adanya
komplikasi paru-paru
f. Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction

25
R/ : Untuk memaksimalkan
jalan napas
g. Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
R/ : Untuk mengetahui adanya
suara napas tambahan
h. Lakukan suction pada mayo
R/ : Untuk mengurangi cairan
pada rongga mulut
i. Berikan bronkodilator bila
perlu
R/ : Untuk mencairkan cairan
pada rongga mulut
j. Berikan pelembab udara
Kassa basah NaCl Lembab
R/ : Untuk mempermudah jalan
napas
k. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
R/ : Untuk mengetahui intake
cairan
l. Monitor respirasi dan status
O2
R/ : Untuk mengetahui keadan
normal saat respirasi dan
mengetahui kadar O2

2. Terapi Oksigen
a. Bersihkan mulut, hidung dan
secret trakea
R/ : Untuk mengurangi secret

26
pada mulut dan hidung
b. Pertahankan jalan nafas yang
paten
R/ : Untuk mempertahankan
keadaan normal
c. Atur peralatan oksigenasi
R/ : Untuk mempermudah
tindakan yang dilakukan
d. Monitor aliran oksigen
R/ : Untuk mengetahui oksigen
e. Pertahankan posisi pasien
R/ : Untuk memberikan
kenyamanan pada klien
f. Observasi adanya tanda tanda
hipoventilasi
R/ : Untuk mengetahui adanya
tanda-tanda hipoventilasi
g. Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi
R/ : Untuk mengetahui adanya
kecemasan dikarnakan kadar
oksigen yang dibutukan kurang
3. Vital sign Monitoring
a. Monitor TD, nadi, suhu, dan
RR
R/ : Untuk mengetahui keadaan
normal TD, nadi, suhu dan RR
b. Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
R/ : Untuk mengetahui
perkembangan fluktuasi

27
tekanan darah
c. Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
R/ : Untuk mengetahui keadaan
normal saat VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
d. Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
R/ : Untuk mengetahui adanya
peningkatan oksigen dalam
darah
e. Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
R/ : Untuk mengetahui keadaan
umum dan perkembangan saat
aktivitas
f. Monitor kualitas dari nadi
R/ : Untuk mengetahui kualitas
nadi
g. Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
R/ : Untuk mengetahui frekuensi
dan irama pernapasan
h. Monitor suara paru
R/ : Untuk mengetahui adanya
suara napas tambahan
i. Monitor pola pernapasan
abnormal
R/ : Untuk mengetahui pola
napas yang tidak abnormal

28
j. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
R/ : Untuk mengetahui keadaan
normal suhu, warna dan
kelembaban kulit
k. Monitor sianosis perifer
R/ : Untuk mengetahui adanya
kekurangan oksigen bisa dilihat
pada jaringan perifer yang
berwarna biru
l. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
R/ : Untuk mengetahui adanya
kekurangan oksigen bisa dilihat
pada jaringan perifer yang
berwarna biru

Evaluasi Keperawatan
Nama klien : Ny. D
Umur :20 tahun
Dx medis : Asma Bronchial
Ruangan/kamar : IGD/ RSPI Sulianti Saroso
No. Hari, tanggal Evaluasi Nama
Dx dan jam paraf
1. Senin, 31 Mei S :
2017 1. Klien mengatakan sesak sudah
Pukul 12.00 berkurang
WIB 2. Klien mengatakan sudah tenang
O:

29
1. Klien tampak tenang
2. RR klien 24 x/ menit
A:
Tujuan sudah tercapai masalah teratasi
sebagian
P:
Lanjutkan intervensi

30
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Status asmatikus merupakan serangan asma yang tidak dapat diatasi
dengan pengobatan konvensional dan ini merupakan keadaan darurat medis,
bila tidak segera diatasi akan terjadi gagal napas. Status asmatikus adalah
asma yang berat dan persisten yang tidak merespons terapi konvensional

31
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Ester. 2009. Patofisiologi Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta:


EGC
Kosasih, Alvin. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Kegawatdaruratan Paru
Dalam Praktik Sehari-Hari. Jakarta: Sagung Seto
Muttaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika
Morton, Patricia Gonce. 2011. Keperawatan Kritis : Pendekatan Asuhan
Keperawatan Holistik, Ed. 8. Jakarta: EGC
Sadguna, Dwija. 2011. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pasien
Gagal Nafas. http://www.scribd.com. Diakses Pada Tanggal 20 Sptember
2018 Pukul 21.10 WITA
Swidarmoko, Boedi. 2010. Pulmonologi Intervensi dan Gawat Darurat Napas.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma


Berat. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Carpenoto, L. J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis,
edisi 6. Jakarta : EGC.
GINA (Global Initiative for Asthma). 2006. Pocket Guide for Asthma
Management and Prevension In Chilidren. Jakarta : EGC.
Saheb. A. 2011. Penyakit Asma. Bandung : CV Medika.
Santosa, Budi. 1007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta : Prima Medika.
Sundaru H. 2006. Apa yang Diketahui Tentang Asma. Jakarta : Departermen Ilmi
Penyakit Dalam.