Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara kepulauan, yang dilihat dari letak geografis

terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik dan dikelilingi cincin api yang

menyebabkan indonesia rawan akan bencana letusan gunung berapi, gempa bumi,

tsunami, banjir dan tanah longsor. Menurut data badan nasional penanggulanan bencana

(BNPB) bahwa kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia sejak januari sampai

dengan september 2018 sebanyak 1,999 kejadian meliputi : gempa, tsunami, erupsi gunung

api, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung, dan cuaca

ekstrem (Farisa, 2018). Bencana tersebut merupakan suatu keadaan yang sangat sulit yang

tidak dapat ditolak ataupun dihindari oleh manusia.

Dampak yang terjadi akibat bencana alam tersebut dapat menimbulkan korban

jiwa, kerusakan fasilitas infrastruktur baik milik pemerintah maupun masyarakat, adanya

korban yang mengalami gangguan secara fisik berupa luka –luka sampai meninggalkan

kecacatan pada tubuh, gangguan secara psikis, dll. Kejadian ini tidak saja menimbulkan

korban jiwa, tetapi juga korban dan keluarga korban mengalami perasaan duka yang

mendalam, akibat kehilangan orang-orang yang dicintai, serta kehilangan harta benda.

Banyak pula diantara korban bencana alam mengalami kecelakaan fisik dan gangguan

mental (Nawangsih, 2014). Selain menimbulkan kerugian secara materi, bencana alam

juga mengakibatkan dampak psikologis yang disebabkan oleh perasaan takut dan putus

asa akibat bencana alam. Kondisi traumatik tersebut seringkali berakhir dengan Post-

Traumatic Stress Disorder (PTSD).


Menurut Ehreinreich (2001) dalam Taufigh (2014), sepertiga dari korban bencana

adalah anak-anak. Hal ini dapat dipahami, karena dari jumlah seluruh populasi suatu

masyarakat, anak-anak merupakan bagian dari populasi tersebut. Selain itu anak memiliki

keterbatasan fisik dan ketergantungan yang tinggi pada orang tua. Kejadian bencana

tersebut mengakibatkan “trauma” psikologis pada korban khususnya pada anak-anak dan

dampaknya berbeda-beda untuk setiap orang yang mengalaminya.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan seseorang sehingga

beresiko terhadap bencana adalah: semakin tinggi tingkat keparahan bencana dan tingkat

kengerian pengalaman yang dialami semakin besar pula efek psikologis, fisik maupun efek

sosial yang dirasakan (Ehreinreich, 2001).

Bagi seorang anak dampak yang terjadi dari gempa dapat menimbulkan trauma

yang mendalam karena ketakutan meliwat pristiwa bencana, gelisah yang tidak

berkesudahan, perasaan akan adanya bahaya yang segera menyerang atau ada

malapetaka yang akan segera menimpa ulang disertai dengan adanya dorongan untuk

melarikan diri dari situasi tesebut. Hal ini akan menjadi pengalaman traumatis bagi seorang

anak yang dapat berlanjut pada post traumatic syndromes disorders (PTSD) (Nawangsih,

2014).

Menurut DSM IV- TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV-

Text Revised), PTSD adalah suatu gangguan melibatkan sekelompok gejala kecemasan

yang terjadi setelah seseorang telah terkena peristiwa traumatis yang mengakibatkan

perasaan ngeri, tidak berdaya atau takut. Gangguan emosional tersebut dialami seseorang

setelah mengalami kejadian traumatis. Gangguan tersebut dapat meliputi tiga gejala pokok

yakni perasaan mengalami kembali (re-experiencing), keinginan untuk menghindari

semua stimulus yang berhubungan dengan peristiwa traumatis (avoidance), dan


peningkatan kesadaran yang berlebihan (arousal), yang dialami selama kurun waktu satu

bulan atau lebih (Pratiwi, Karini & Agustin,2011).

Anak sebagai salah satu korban bencana yang rentan pula mengalami PTSD,

perlu mendapat penanganan yang serius agar akibat yang ditimbulkan tidak

berkepanjangan dan menghambat perkembangannya. Pengalaman yang dirasakan oleh

anak-anak korban bencana memiliki karakteristik yang khas, sehingga memerlukan

bentuk-bentuk intervensi yang sesuai dengan karakteristik dan tahap perkembangannya

agar gangguan stress pasca trauma yang dialami dapat menurun. Apabila tidak terdeteksi

dan dibiarkan tanpa penanganan, maka dapat mengakibatkan komplikasi medis maupun

psikologis yang serius yang bersifat permanen yang akhirnya akan mengganggu

kehidupan sosial maupun pekerjaan penderita (Mashar, 2010).

Menurut Hawari (2011) menyatakan bahwa pada umumnya masyarakat dan

pemerintah dalam menyikapi korban berbagai macam peristiwa, lebih menitik-beratkan

pada aspek yang sifatnya fisik; misalnya bantuan pengobatan, sandang, pangan dan papan.

Aspek kejiwaan/mental/psikologik yang mengarah pada gangguan stress pasca trauma

kurang diperhatikan. Stress pasca trauma itu sendiri bila tidak ditangani dengan sungguh-

sungguh dan profesional dapat berlanjut pada gangguan jiwa seperti kecemasan, depresi,

psikosis (gangguan jiwa berat) bahkan sampai pada tindakan bunuh diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi, Karini & Agustin (2011), menunjukkan

bahwa anak remaja yang mengalami PTSD kategori sedang sebanyak 53,85%

dibandingkan dengan orang dewasa 53,12% dan remaja yang membutuhkan dukungan

empati, lebih banyak diperlukan oleh remaja dalam meminimalkan tingkat PTSD

(15,38%).

Penelitian yang dilakukan oleh Mashar (2011) menunjukkan bahwa perlu adanya

permainan kelompok teman sebaya bagi anak usia sekolah dengan PTSD. Hasil
penelitian ini didukung oleh Nawangsih (2014) bahwa anak-anak dengan PTSD

kemungkinan menunjukkan kebingungan atau agitasi, sehingga diperlukan rancangan

intervensi khusus bagi anak-anak yang mengalami PTSD yakni teknik Play Therapy.

Kabupaten Donggala merupakan salah daerah daerah yang terkena bencana gempa

Tsunami, terletak di Provinsi Sulawesi Tengah bagian barat di pulau Sulawesi, Indonesia.

Donggala masuk dalam kawasan lempeng tektonik aktif, terutama dengan keberadaan

Sesar Palu-Koro yang berpotensi mengalami gempa bumi besar, tsunami, banjir, dan

kebakaran hutan. Menurut data BNPB (2013) menyatakan bahwa Kabupaten Donggala

memiliki Angka Indeks Risiko Bencana BNPB 189 (tinggi) dan menduduki peringkat ke-

80 dari 496 kabupaten yang memiliki resiko bencana. Hal ini terbukti bahwa pada tanggal

28 september 2018 terjadi gempa dan tsunami di palu dan donggala yang menyebabkan

banyak korban yang meninggal dunia, luka – luka dan korban yang hilang serta terjadi

kerusakan bangunan – bangunan.

Berdasarkan data BPNB korban bencana gempa - tsunami di Palu dan Donggala

sebanyak 2.045 korban meninggal dunia dengan perinciannya 171 di Donggala, 1.636 di

Palu, 222 di Sigi, 15 di Moutoung, dan 1 orang di Pasang Kayu, sedangkan untuk korban

luka berat dan luka ringan jumlahnya 10.679 orang, dengan rincian 2.549 luka berat dan

8.130 luka ringan, jumlah korban hilang 671 orang. Selain itu terjadi kerusakan ribuan

bangunan termasuk bangunan sekolah yang menyebabkan kegiatan sekolah terhenti untuk

sementara waktu (www.liputan6.com).

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Pengalaman

Anak Usia Sekolah Korban Pasca Bencana Gempa – Tsunami Dengan PTSD Di

Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah”.


1.2 Pernyataan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti ingin mengungkap secara mendalam
pengalaman anak usia sekolah korban pasca bencana gempa trusnami dengan PTSD di
Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah yang meliputi bagaimana anak usia sekolah
dapat memulihkan traumanya, mempertahankan semangat hidupnya, menghadapi
kehidupannya kembali untuk beraktivitas sehari-harinya.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian kualitatif ini diharapkan dapat memberi pemahaman mengenai
pengalaman anak usia sekolah korban pasca bencana gempa trusnami dengan PTSD
di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Aspek Teoritis
Temuan dari penelitian kualitatif ini diharapkan dapat memberi pemahaman
mengenai pengalaman anak usia sekolah korban pasca bencana gempa trusnami
dengan PTSD di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat bagi perawat anak yaitu dapat dijadikan pedoman dalam melakukan
asuhan keperawatan sehingga lebih memahami perjalanan sebagai seorang
peneliti. Sementara manfaat bagi institusi pendidikan adalah untuk
mengembangkan teori keperawatan khususnya pengalaman pada anak usia
sekolah korban pasca bencana gempa tsunami.

1.5 Pengertian Istilah


1.5.1 Pengalaman
Pengalaman dapat diartikan sebagai sesuatu yang pernah dialami,
dijalani maupun dirasakan, baik sudah lama maupun yang baru saja terjadi
(Mapp dalam Saparwati, 2012). Pengalaman dapat diartikan juga sebagai
memori episodik, yaitu memori yang menerima dan menyimpan peristiwa yang
terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertantu, yang berfungsi
sebagai referensi otobiografi (Bapista et al, dalam Saparwati, 2012).
Pengalaman adalah pengamatan yang merupakan kombinasi pengelihatan,
penciuman, pendengaran serta pengalaman masa lalu (Notoatmojo dalam
Saparwati, 2012). Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami, dijalani maupun dirasakan
yang kemudian disimpan dalam memori.

1.5.2 Anak
Menurut Wong (2009) usia anak sekolah adalah anak pada usia 6 - 12
tahun yang artinya sekolah menjadi pengalama inti anak. Periode ketika anak -
anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam
hubungan dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia
sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar – dasar pengetahuan untuk
keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh
keterampilan tertentu.

1.5.3 Bencana
Gempa bumi adalah getaran asli dari dalam bumi, bersumber di dalam
bumi yang kemudian merambat ke permukaan bumi akibat rekahan bumi pecah
dan bergeser dengan keras. Penyebab gempa bumi dapat berupa dinamika bumi
(tektonik), aktivitas gunung api, akibat meteor jatuh, longsoran (di bawah muka
air laut), ledakan bom nuklir di bawah permukaan.
Tsunami, kata ini berasal dari Jepang, tsu berarti pelabuhan, nami berarti
gelombang. Tsunami dipergunakan untuk gelombang pasang yang memasuki
pelabuhan. Pada laut lepas misal terjadi gelombang pasang sebesar 8 m tetapi
begitu memasuki daerah pelabuhan yang menyempit tinggi gelombang pasang
menjadi 30 m. Tsunami biasa terjadi jika gempa bumi berada di dasar laut
dengan pergerakan vertikal yang cukup besar. Tsunami juga bisa terjadi jika
terjadi letusan gunungapi di laut atau terjadi longsoran di laut.