Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI MULTIBEAM ECHOSOUNDER NORBIT WBMS UNTUK PENENTUAN

JALUR PELAYARAN
(Studi Kasus : Teluk Awur, Jepara)

ABSTRAK
Indonesia sebagai Negara maritim yang memiliki kawasan laut yang luas menjadikan
transportasi kapal menjadi transportasi yang sangat penting untuk keberlangsungan baik
aktivitas perekonomian maupun moda transportasi masyarakat Indonesia. Kabupaten Jepara
sebagai salah satu kawasan di Jawa Tengah yang dekat dengan laut menjadikan kapal sebagai
suatu moda transportasi yang penting. Perencanaan jalur pelayaran menjadi hal yang utama
dalam navigasi kapal. Hal ini dilakukan karena adanya objek objek yang ada di bawah laut
menjadi perhatian penting dalam pelayaran guna menghindari terjadinya pergesekan lunas
kapal dengan objek bawah laut yang dapat menyebabkan kapal karam atau rusak. Dengan
memanfaatkan teknologi echosounder guna pemeruman bawah laut untuk pengambilan data
berupa koordinat xyz bawah laut yang bertujuan untuk mengetahui kondisi topografi yang ada
di Teluk Awur, Jepara. Pemeruman dilakukan pada daerah yang dekat dengan dermaga dan
diharapkan dapat menjadi suatu acuan bagi pelayaran warga Jepara khususnya daerah Teluk
Awur agar tercipta keamanan dalam pelayaran kapal. Berdasarkan peraturan dari direktorat
Jendral Perhubungan Laut, batas minimal kedalaman untuk kapal yang dengan ukuran kurang
dari 86 meter adalah 1.725 meter dibawah permukaan laut, sehingga, melihat dari hasil
pemeruman menggunakan echosounder, terdapat daerah yang memiliki kedalaman kurang dari
2 meter yang dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kapal karam akibat kedalaman
laut terlalu dangkal sehingga perlu adanya peringatan kepada seluruh kapal mengenai daerah
bahaya pelayaran pada daerah Teluk Awur.
Kata Kunci :Echosounder, Maritim, Pelayaran, Pemeruman, Topografi

I. Pendahuluan teknik survei yang digunakan adalah survei


bathimetri dan survei hidrografi. Survei
I.1 Latar Belakang
bathimetri adalah survei yang dilakukan
Indonesia dengan wilayah perairan
untuk mengetahui dan mengukur nilai
yang luas memiliki potensi-potensi yang
kedalaman dari dasar laut. Menurut Pipkin
masih belum sepenuhnya dikelola dengan
et al., (1987) batimetri berasal dari bahasa
baik. Hal ini terlihat dari minimnya
Yunani yang berarti pengukuran dan
pemetaan bawah laut yang dilakukan di
pemetaan topografi di bawah laut. Survei
kawasan perairan Indonesia. Pemetaan
hidrografi adalah proses penggambaran
bawah laut dapat menjadi salah satu
dasar perairan tersebut, sejak pengukuran
langkah pengelolaan potensi perairan
dan pengolahan hingga visualisasinya
Indonesia dengan menentukan dan
(Poerbandono dan Djunarsah, 2005).
mempelajari titik titik potensi dan titik titik
Survei hidrografi umumnya banyak
jalur pelayaran kapal di wilayah Indonesia
dimanfaatkan untuk memetakan dasar laut
menggunakan dua teknik survei. Kedua
yang digunakan untuk berbagai kegiatan di melalui survei menggunakan alat berupa
laut seperti pengerukan, navigasi, Singlebeam Echosounder System (SBES)
pengendalian sedimentasi dan dan Multibeam Echosounder System
banjir.Kondisi hidrografi di suatu perairan (MBES). SBES adalah suatu alat pemancar
mengalami perubahan tanpa batas waktu sinyal tunggal gelombang suara yang
tertentu.Perubahan kondisi hidrografi memiliki transceiver (transfer dan receiver)
umumnya disebabkan oleh beberapa faktor yang terpasang di badan kapal. MBES
seperti pengikisan pantai oleh gelombang, adalah alat pemancar multi sinyal
sedimentasi, penggunaan lahan di wilayah gelombang suara yang memiliki transceiver
pesisir, dan lain sebagainya (Dianovita, (transfer dan receiver) yang terpasang di
2011). badan kapal.

Informasi mengenai batimetri I.2 Tujuan Penelitian


sangat penting untuk dasar penelitian, Tujuan dari penelitian ini adalah:
seperti pada dinamika pantai, sebagai
1. Memperoleh bentuk peta bathimetri
operasi kelautan seperti kabel komunikasi
dari pengukuran menggunakan
bawah laut, atau untuk menyediakan peta
MBES dan SBES pada Teluk Awur.
navigasi yang akurat untuk keselamatan
2. Memperoleh peta jalur pelayaran
pelayaran. Pemetaan bathimetri berguna
untuk dijadikan sebagai
untuk menggali potensi kawasan laut
rekomendasi pelayaran kapal pada
Indonesia dan mengetahui keamanan
Teluk Awur.
pelayaran yang dilakukan di kawasan laut
Indonesia. Keselamatan dan keamanan I.3 Ruang Lingkup Penelitian
pelayaran penting untuk diperhatikan agar Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini
kapal-kapal yang berlayar terhindar dari adalah sebagai berikut :
bahaya yang ada di bawah laut yang dapat
1. Daerah yang menjadi objek
merusak lunas kapal atau bagian kapal
penelitian adalah wilayah Pantai
lainnya dan menyebabkan karamnya kapal.
Marine Station, Teluk Awur,
Potensi laut dan keamanan pelayaran di
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
wilayah Indonesia dapat diketahui dengan
2. Alat menggunakan Multibeam
melihat topografi yang terbentuk, sehingga
Echosounder NORBIT WBMS.
dilakukan permodelan bawah laut untuk
mengetahuinya.
II. Tinjauan Pustaka
Studi kasus dilakukan pada daerah II.1 Gambaran Umum
Teluk Awur, Jepara dengan menggunakan Kabupaten Jepara terletak di
data Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) pantura timur Jawa Tengah dibatasi oleh
yang diperoleh dari Badan Informasi laut pada bagian barat dan utara. Bagian
Geospasial (BIG) dan data pengukuran timur wilayah kabupaten ini merupakan
sebelumnya yang diperoleh menggunakan daerah pegunungan. Wilayah Kabupaten
alat berupa sounder singlebeam. Penelitian Jepara juga meliputi Kepulauan
ini akan dilakukan penentuan daerah Karimunjawa, yakni gugusan pulau-pulau
sapuan, penentuan jalur pelayaran kapal, di Laut Jawa bagian Utara. Dua pulau
dan penentuan daerah pelayaran yang terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa dan
berbahaya. Data bawah laut diperoleh Pulau Kemujan. Sebagian besar wilayah
Karimunjawa dilindungi dalam Cagar Multibeam echosounder memancarkan
Alam Laut Karimunjawa. Penyeberangan beam dalam jumlah yang banyak dengan
ke kepulauan ini dilayani oleh kapal ferry frekuensi rentang 12-500 kHz. Pola
yang bertolak dari Pelabuhan Jepara. pancarannya melebar dan melintang
Karimunjawa juga terdapat Bandara terhadap badan kapal. Setiap beam akan
Dewandaru yang didarati pesawat dari mendapatkan satu titik kedalaman
Bandara Ahmad Yani Semarang. selanjutnya titik-titik kedalaman tersebut
dihubungkan akan membentuk profil dasar
Pantai Teluk Awur adalah pantai
sungai. Jika kapal bergerak maju hasil
yang terletak di Desa Telukawur, Tahunan
sapuan multibeam echosounder tersebut
4 km dari pusat kota Jepara. Pantai ini
akan menghasilkan suatu luasan yang akan
ditandai dengan banyaknya pohon
menggambarkan permukaan dasar sungai
mangrove yang berfungsi sebagai peneduh
(Moustier, 1998). Sistem sapuan tersebut
dan penahan abrasi. Dengan lokasi
digambarkan seperti dibawah ini:
koordinat 6,1268°LS 110,4°BT, Teluk
Awur telah banyak dijadikan sebagai lokasi
penelitian baik dalam bidang ilmu Geodesi
maupun bidang keilmuan yang lain.
Terdapat sebuah stasiun pasut yang terletak
di koordinat 6°35'29.71"LS
110°38'55.60"BT sehingga situasi pasang
surut yang terjadi di Teluk Awur dapat di
amati setiap saat.
II.3 GPS
II.2 Multibeam Echosounder GPS (Global Positioning System)
Multibeam Echosounder System adalah sistem satelit navigasi dan
(MBES) adalah alat yang digunakan dalam penentuan posisi yang dimiliki dan
proses pemeruman dalam suatu survei dikeolola oleh Amerika Serikat. Sistem ini
hidrografi. Pemeruman (sounding) sendiri di desain untuk memberikan posisi pada
adalah proses dan aktivitas yang ditunjukan kecepatan tiga-dimensi serta informasi
untuk memperoleh gambaran (model) mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh
bentuk permukaan (topografi) dasar dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca
perairan (seabed surface). Survei hidrografi (Poerbandono,2005).
adalah proses penggambaran dasar perairan
tersebut, sejak pengukuran, pengolahan, Space segment terdiri atas
hingga visualisasinya. (Poerbandono dan konstelasi 24 satelit. Masing-masing satelit
Djunarsah, 2005). mengirimkan sebuah sinyal, yang memiliki
sejumlah komponen: dua buah gelombang
Penggunaan multibeam sinus (yang juga dikenal sebagai carrier
echosounder sendiri diperuntukkan untuk frequency / frekuensi pembawa), dua kode
mencari titik-titik koordinat berbentuk data digital, dan sebuah pesan navigasi. Segmen
(*.xyz) di seluruh sapuan yang dilewati kontrol dari sistem GPS terdiri atas jaringan
oleh kapal. Perbedaan yang paling terlihat lima stasiun pemantau di seluruh pelosok
dengan single beam adalah cakupan data dunia. Tugas utama segmen kontrol
yang di dapat di ambil. Pada MBES, operasional adalah menjejaki satelit GPS
cakupan beam dapat di atur hingga sebesar dengan tujuan untuk menentukan dan
mendekati 180 derajat. Pada SBES cakupan memprediksikan lokasi satelit, integritas
beam hanya sebesar kurang dari 20 derajat. sistem, jam atom satelit, data atmosfer,
perkiraan satelit, dan sebenarnya pada transducer, bukan
pertimbanganpertimbangan lain. Informasi pada titik GPS.
ini kemudian digabungkan dan di-upload ke 2. Kalibrasi roll
satelit GPS melalui jalur S- band. User Afifudin (2016) mengungkapkan
segment mencakup semua pengguna baik bahwa kalibrasi roll merupakan
militer maupun sipil. Dengan sebuah kalibrasi yang digunakan untuk
penerima GPS yang terhubung dengan mengkoreksi kesalahan akibat
antena GPS, seorang pengguna dapat pergerakan atau rotasi kapal pada
menerima sinyal GPS. sumbu X. Kesalahan roll juga bisa
terjadi akibat pemasangan
transducer yang tidak rata antara
kedua sisi. Kalibrasi roll dilakukan
dengan cara mengukur jalur survei
yang sama dari dua arah yang
berbeda pada kondisi dasar laut
yang relatif datar.
3. Kalibrasi Yaw
Kalibrasi yaw disebut juga kalibrasi
azimuth atau kalibrasi gyro
II.4 Kalibrasi merupakan kalibrasi untuk
Kesalahan dalam kegiatan survei mengkoreksi kesalahan yang
dapat terjadi karena banyak faktor. disebabkan rotasi kapal pada sumbu
Kalibrasi digunakan untuk meminimalisir Z atau heading kapal selama survei
kesalahan dan merupakan tahapan yang berlangsung. Kesalahan ini
harus dilakukan untuk memeriksa dan mengakibatkan adanya selisih sudut
menentukan besarnya kesalahan yang ada antara gryo-compass heading
dalam suatu peralatan. Kalibrasi MBES dengan sumbu X tranducer,
diperlukan untuk memperoleh data yang sehingga beam yang menyebar
baik dan memiliki ketelitian yang baik, dikedua sisi garis nadir mengalami
sehingga sistem perlu dilakukan kalibrasi kesalahan posisi seiring
untuk melakukan survei. menjauhnya beam dari garis nadir.
Kesalahan yaw berbanding lurus
1. Kalibrasi sensor statis (Sensor
dengan kedalaman dan sudut
Static Offset)
pancaran beam (Godin, 1998).
Transducer, Vertical Reference
Kalibrasi untuk mengurangi
Unit (VRU), antena GPS dan sensor
kesalahan yaw dilakukan dengan
lainnya terkadang terpasang pada
mengukur dari dua jalur yang
lokasi yang tidak sama pada sebuah
bersebelahan dengan sebuah objek
kapal survei. Kalibrasi statik linier
di dasar laut.
diukur dari suatu titik referensi pada
4. Kalibrasi pitch
kapal dan digunakan dalam
Kalibrasi pitch adalah kalibrasi
transformasi koordinat pada
yang digunakan untuk mengkoreksi
pengukuran kedalaman. Sensor
kesalahan akibat pergerakan rotasi
static offset ini pada dasarnya untuk
kapal pada sumbu y yang berupa
menentukan posisi sebenernya titik
anggukan kapal. Kesalahan ini
kedalaman, maka dari itu sensor
mengakibatkan pergeseran jalur
static offset ini akan dihitung posisi
akibat geometri jalur pengukuran (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
yang tidak sesuai (Kurnia, 2014). Fenomena pembangkit pasut dibagi
Godin (1998) mengungkapkan menjadi 3 macam, yaitu :
bahwa kontribusi kesalahan pitch
1. Pasut purnama (spring tide) Pasang
relatif kecil pada perairan dangkal
surut air laut dengan kedudukan
dan pada kondisi topografi yang
tertinggi, disebabkan karena
datar. Kesalahan akan semakin
kedudukan matahari segaris dengan
besar pada kedalaman yang
sumbu bumi dan bulan sehingga
semakin dalam dan kesalahan posisi
memperkuat pengaruh gaya tarik
akan terlihat pada daerah yang
dari masingmasing sumber
memiliki kelerengan yang curam.
pembangkit pasut, fenomena ini
5. Kalibrasi Time Delay
terjadi pada saat bulan baru dan
Kalibrasi ini dilakukan untuk
bulan mati.
mengurangi kesalahan akibat
2. Pasut perbani (neap tide) Pasang
adanya perbedaan waktu antara data
surut air laut dengan tunggang
posisi yang dikirimkan GPS dan
minimum terjadi pada keadaan
pada saat sinyal akustik diterima
dimana garis hubung pusat bumi
oleh transducer. Hal ini akan
dan matahari tegak lurus dengan
menyebabkan posisi dari nilai
garis hubung pusat bumi dengan
kedalaman menjadi tidak akurat.
bulan. Fenomena ini terjadi di
Mann (1998) mengemukakan
perempat bulan awal dan perempat
bahwa nilai waktu jeda ini dapat
bulan akhir.
ditentukan dengan melakukan
3. Tunggang air pasut (tidal range)
pengukuran pada jalur pemeruman
Perbedaan antara puncak tertinggi
yang mengalami perubahan, dari
pada saat spring tide dengan air
sepasang jalur yang digunakan
surut terendah pada saat neap tide
dilakukan pemeruman dengan
yang bisa mencapai beberapa meter
kecepatan yang berbeda dan pada
hingga puluhan meter. Besarnya
topografi yang memiliki
selain dipengaruhi posisi bulan
kemiringan atau fitur yang
terhadap bumi juga dipengaruhi
menonjol.
faktor jarak antara bumi dengan
II.5 Pasang Surut bulan dan jarak antara bumi dan
Pasang surut atau pasut laut (ocean matahari dalam masing-masing
tide) merupakan suatu fenomena naik dan lintasan orbit.
turunnya permukaan air laut secara periodik
II.6 Persyaratan Teknis Penentuan
akibat pengaruh gravitasi benda-benda
Rute Pelayaran
langit terutama bulan dan matahari
Berdasarkan standarisasi
(Poerbandono dan Djunarsah, 2005).
Kementerian Perhubungan Direktorat
Periode rata-rata pasut sekitar 12,4 jam atau
Jendral Perhubungan Laut secara umum
24,8 jam. Gravitasi bulan adalah tenaga
penentuan kedalaman rute pelayaran di luar
pembangkit utama untuk pasut, meskipun
pelabuhan / laut lepas dapat ditentukan
massa matahari jauh lebih besar dibanding
dengan rumus sebagai berikut :
massa bulan tetapi jarak matahari ke bumi
lebih jauh dibanding jarak bulan ke bumi
sehingga pengaruh bulan jauh lebih besar
dibanding pengaruh matahari
dimana : k = koefisien yang tergantung ukuran kapal
sebagaimana pada tabel .
t4 merupakan angka keamanan
Keterangan: H = kedalaman laut yang layak untuk pekerjaan pengerukan alur, nilainya
bagi rute pelayaran. D = draft kapal. t1 ± 0.40 meter. Kepentingan keselamatan dan
adalah angka keamanan navigasi di bawah kelancaran berlayar pada perairan tertentu,
lunas kapal berdasarkan jenis tanah dasar pemerintah menetapkan sistem rute
alur sungai dan danau. Nilai t1 seperti pada pelayaran yang meliputi skema pemisah
tabel dibawah ini . lalu lintas, rute dua arah rute air dalam,
garis haluan yang direkomendasikan,
daerah yang harus dihindari, daerah lalu
lintas pedalaman, daerah kewaspadaan dan
daerah putaran. Koefisien dapat dilihat
melalui tabel berikut.
t2 merupakan angka kemanan
karena adanya timbulan gelombang. Nilai
t2 didapat melalui persamaan berikut .

III. Metodologi Penelitian


dimana: III.1 Diagram Alir Penelitian
Secara garis besar tahapan penelitian
H = timbulan gelombang akibat gerakan dilakukan sesuai dengan diagram dibawah
kapal ini.
Timbulan gelombang dipengaruhi
oleh kecepatan kappa dengan Bilangan
Froude dibawah kecepatan kritis (Fn < 1 )
disajikan pada tabel berikut.

Jika t2 adalah negatif, maka angka kemanan


yang disebabkan oleh gerakan kapal yang
didapat melalui persamaan berikut :

dimana:
v = kecepatan kapal (km/jam)
III.2 Diagram Alir Pengolahan Data 2. Software EIVA untuk melakukan
Data yang diperoleh kemudian diolah pengolahan data multibeam
menggunakan perangkat lunak EIVA echosounder
dengan alur seperti pada diagram dibawah 3. Software ArcGIS 10.4 untuk
ini. ploting data
4. Software microstation untuk
filtering data
5. Software Microsoft Office 2013
untuk pembuatan laporan
III.4 Tahap Analisis Data
Pengolahan data multibeam
echosounder menggunakan perangkat
lunak EIVA. Data yang digunakan antara
lain data multibeam echosounder, data
SVP, data pasang surut. Data yang telah di
gabung menjadi satu database kemudian
dilakukan kalibrasi untuk dilakukan koreksi
data agar data yang dihasilkan sesuai
dengan kondisi yang ada di lapangan.
Kalibrasi yang dilakukan diantaranya ialah
kalibrasi heading, kalibrasi pitch dan
kalibrasi roll.
Pengolahan untuk visualisasi
multibeam dilakukan dengan menggunakan
perangkat lunak EIVA NaviModel
Producer. Pengolahan juga termasuk
penghilangan noise yang ada dan
perubahan format data multibeam menjadi
data *.xyz agar data multibeam dapat
dilihat melalui berbagai perangkat lunak.

III.3 Peralatan dan Bahan Penelitian IV. Hasil dan Pembahasan


Perangkat keras dan perangkat lunak yang IV.1 Hasil Pemeruman Multibeam
digunakan dalam penelitian ini Antara lain Echosounder
: Hasil yang didapatkan dari
1. Laptop, dengan spesifikasi : pelaksanaan pemeruman adalah data
a. System manufacture : mentah berupa raw data berbentuk *.sbd
ASUSTek Computer INC. sebanyak 29 data. Banyaknya data yang
b. System model : X450CC didapatkan sesuai dengan jalur yang dilalui
c. Processor : Intel(R) Core(TM) multibeam yaitu sebanyak 29 jalur. Jumlah
i5-3337U CPU titik yang terekam sejumlah 64.655.533
d. Memory : 12288MB RAM point data dengan format .xyz. Hasil akhir
e. System Operation : Windows 10 data multibeam dengan menggunakan
Pro 64-bit (10.0, Build 17134) perangkat keras NORBIT WBMS ialah
berbentuk *.xyz.
Total kapasitas yang digunakan
untuk menyimpan data keseluruhan baik
pada hari pertama maupun pada hari kedua
pemeruman menggunakan multibeam ialah
berjumlah 2.431 MB. Daftar data pada
gambar dibawah merupakan data yang
belum diolah dengan memasukkan data
SVP dan data pasut.
IV.3 Hasil Pengolahan Data Multibeam
Echosounder
Visualisasi 3D dari hasil
pengolahan data multibeam echosounder
menggunakan EIVA secara keseluruhan
cenderung memiliki tekstur yang rata dan
tidak terlalu banyak obyek yang terlihat di
kedalaman ±6 meter. Adanya objek yang
IV.2 Hasil Pengamatan Lingkungan cukup dangkal pada daerah yang terdapat di
Telur Awur untuk Keamanan dekat dermaga. Luasan penelitian yang
Pelayaran digunakan ialah sebesar 400 m x 1500 m, di
Berdasarkan studi lapangan yang dapat beberapa objek yang tertangkap oleh
telah dilakukan selama 3 hari pada tanggal MBES.
11 Mei 2018 hinggai 13 Mei 2018 di Teluk
Visual hasil MBES yang
Awur, Jepara, tidak terlihat adanya
ditunjukkan pada gambar dibawah ini
pengamanan daerah-daerah berbahaya
menggambarkan bahwa tidak adanya objek
yang dapat membahayakan kapal-kapal
yang tertangkap pada daerah terluar dari
berlayar. Hal ini ditunjukkan dengan tidak
garis yang memiliki kedalaman 6 meter
adanya buoy berlogo hitam merah yang
hingga 3 meter. Terjadi adanya
menandakan kawasan berbahaya.
pendangkalan pada daerah terdekat dengan
Daerah Teluk Awur tidak memiliki garis pantai yang menyebabkan kedalam
satupun buoy tanda bahaya yang terletak berubah drastis hingga mencapai
pada Teluk Awur seperti pada gambar kedalaman kurang dari 2 meter. Rencana
dibawah ini, sehingga dapat dikatakan pemeruman yang awalnya akan dilakukan
bahwa pelayaran pada daerah Teluk Awur sejauh 200 meter hingga 1000 meter dari
belum memenuhi standar keamanan garis pantai harus dikurangi menjadi 400
berlayar. Selain itu, dari studi lapangan meter dari garis pantai dengan alasan
yang dilakukan, tidak terlihat adanya keamanan.
mercusuar yang digunakan sebagai fasilitas
penunjang keselamatan pelayaran di daerah
Teluk Awur. Hal ini menghambat kegiatan
transportasi warga yang tidak dapat
berlayar pada malam hari karena tidak
adanya fasilitas penunjang yang memadai.
Geodesi Fakultas Teknik Unversitas
Pakuan Bogor
Mulawarman, Reza Al Arif, Dkk. 2019.
Aplikasi Multibeam Echosounder Norbit
Wbms untuk Penentuan Jalur Pelayaran
(Studi Kasus : Teluk Awur, Jepara).
Departemen Teknik Geodesi Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro
Satria, Eka Andhika, Kurnia Brahmana.
Pemakaian Modul Gps LR9540 (NMEA)
untuk Mendapatkan Data Waktu
V. Kesimpulan Universal Berbasis Mikrokontroller
Setelah melakukan pengolahan data Atmega8535. FMIPA USU
dan melakukan analisis, maka kesimpulan
yang dapata diambil berdasarkan maksud
dan tujuan pada penelitian ini adalah :
1. Pemeruman menggunakan
multibeam echosounder NORBIT
WBMS membentuk keadaan
topografi bawah laut yang ada di
Teluk Awur dengan berbagai jenis
kedalaman yang berbeda-beda. Hal
ini menyebabkan adanya daerah
daerah dangkal yang tidak
terdeteksi oleh kapal kapal yang
melintas disana akibat kurangnya
teknologi yang memadai pada
setiap kapal. Kedalaman laut pada
Teluk Awur terdeteksi memiliki
kedalaman mulai dari 0 hingga -6
meter. Terdapat beberapa objek
yang ada di tengah laut yang
memiliki kedalaman 0 hingga -1
meter yang dapat membahayakan
kapal yang sedang melintas
sehingga perlu adanya tanda bahaya
atau penanggulangan objek tersebut
untuk keamanan kapal.

Daftar Pustaka
Kusuma, Yuridho Agni, Dkk. Pembuatan
Peta Batimetri dan Peta Profil Lapisan
Tanah dengan Menggunakan Data
Multibeam Echosounder dan Sub
Bottom Profiler. Program Studi Teknik