Anda di halaman 1dari 19

A.

Tinjauan Pustaka
1. Complex Odontoma
a. Definisi
Complex odontoma merupakan suatu struktur komponen jaringan
yang dapat bervariasi, mulai dari tidak beraturan, tetapi berbentuk
massa dari jaringan gigi.1 Complex odontoma adalah tumor
odontogenik yang terdiri dari massa jaringan keras dan lunak gigi
berbentuk irregular, dengan morfologi tidak sama seperti gigi.2 Selain
itu, complex odontoma juga merupakan suatu densitas yang menonjol,
kasar dan gabungan dari email, dentin, dan pulpa yang terlihat sebagai
masa radiopak solid didalam tulang.3
Complex odontoma adalah salah satu tipe dari odontoma yang
merupakan malformasi perkembangan (hamartomas) jaringan gigi dan
bukan suatu neoplasma.2,4 Komposisi jaringan terdiri dari enamel dan
dentin yang terdiferensiasi yang menunjukkan adanya kerusakan.4
Odontoma diklasifikan berdasarkan posisinya terhadap rahang yaitu,
central, peripheral, dan erupted. Central odontoma adalah odontoma
yang terdapat didalam rahang, sementara peripheral terdapat pada
jaringan lunak diatas tulang alveolar, dan erupted odontoma adalah
massa hamartoma yang secara klinis terlihat berada didalam rongga
mulut.5
b. Etiologi

Etiologi complex odontoma tidak diketahui secara pasti.7 Penyebab


yang paling sering ditemukan adalah impaksi gigi permanen dan
persistensi gigi sulung.1,6,7 Complex odontoma merupakan tumor
odontogenik, yang berarti pertumbuhan sel epitel dan sel mesenkimal
menunjukkan diferensiasi lengkap, dengan hasil ameloblas fungsional
dan odontoblas membentuk enamel dan dentin. Enamel dan dentin ini
biasanya memiliki pola abnormal karena organisasi sel odontogrnik
gagal mencapai keadaan normal dari morfodiferensiasi. 6 Selain itu, ada
beberapa teori yang sudah diajukan seperti trauma lokal, infeksi,
mutasi genetik, dan diwariskan kemungkinan dari gen post natal
mutasi dengan kontrol genetik perkembangan gigi.6

c. Epidemiologi
Complex odontoma biasanya terjadi pada usia muda, tapi dapat
terjadi juga pada usia lanjut.2 Usia rata-rata kejadian adalah pada
dekade kedua. Lesi tidak menunjukkan adanya predileksi jenis
kelamin.1 Literatur menyebutkan sedikit predileksi untuk angka
kejadian pada laki-laki (59%) dibandingkan dengan perempuan
(41%).7 Prevalensi complex odontoma 70% ditemukan pada area
posterior rahang bawah molar pertama dan molar kedua.1,5 Sebanyak
61,6% berhubungan dengan impaksi gigi yang berdekatan. 3,8,10 Selain
itu, 68% kasus complex odontoma lebih sering terjadi pada sisi kanan
rahang daripada kiri.6

d. Gambaran klinis
Gambaran klinis khas dari complex odontoma, terlihat
pembengkakan keras tanpa rasa sakit (asimptomatik), sebagian besar
ditemukan pada region posterior mandibula. 1,2,3,6,7 Complex odontoma
yang besar dapat menyebabkan perubahan tempat gigi didekatnya dan
ditandai dengan ekspansi rahang dari sekitar batas tulang kortikal
dalam arah bukolingual.1 Ekspansi tulang tersebut akan menyebabkan
asimetri wajah.6 Lesi tersebut tidak rekuren dan tidak menginvasi
secara lokal.1,6
Pada kasus lain, lesi tersebut dapat menempati posisi gigi,
memblokir erupsi gigi, atau terlibat dalam pembentukan kista.2 Sama
seperti susunan struktur gigi yang terklasifikasi tetapi mengalami
kelainan bentuk.2 Pada complex odontoma, pulpa, dentin, email, dan
sementum berada dalam hubungan anatomis normal satu sama lain dan
dapat mengalami erupsi serta diikuti dengan infeksi.2 Ketika odontoma
erupsi, kemungkinan dapat disertai rasa sakit, peradangan jaringan
lunak yang berdekatan, atau infeksi yang umumnya diikuti
pembentukan abses.2,12 Massa juga dapat mengalami perubahan kistik.2
Odontoma cenderung mempunyai potensi pertumbuhan yang terbatas
kecuali berhubungan dengan kista dentigerous.3

e. Gambaran radiografis
Complex odontoma biasanya menunjukkan gambaran radiografi
yang khas karena gambaran opasitas yang padat dalam hubungannya
dengan gigi.4 Secara radiografi, terlihat masa radiopak irreguler
dengan densitas radiopak mirip enamel.1,2 Lesi tunggal, amorphous,
atau gambaran yang sangat radiopak dengan batas tidak teratur,
1,7
berbatas jelas dengan gambaran radiolusen (halo radiolucent). Lesi
tersebut dikelilingi batas kortikasi yang terlihat sebagai gambaran
radiopak tipis, yang merupakan batas kapsul jaringan lunak yang
berada pada tulang kortikal.1,8 Odontoma dapat menggangu erupsi gigi
normal dan berhubungan dengan kelainan seperti impaksi, malposisi,
diastema, aplasia, malformasi, dan devitalisasi gigi yang berdekatan. 1
Gambaran radiografis lesi ini paling sering ditemukan diatas mahkota
gigi, namun bisa juga diantara akar gigi impaksi.4 Lesi complex
odontoma sering terletak pada daerah gigi yang megalami impaksi,
yaitu menempati posisi gigi molar ketiga.
Complex odontoma yang besar dapat menyebabkan ekspansi
rahang dengan kontinyuitas batas tulang kortikal mandibular masih
terlihat.1 Ekspansi tulang kortikal lebih sering terjadi dalam arah
bukal/labial dan atau lingual/palatal yang dapat dilihat menggunakan
radiografi oklusal.1 Jika lesi terlalu besar dari standar ukuran film
radiografi gigi, Computed tomography (CT) atau cone beam computed
tomography (CBCT) merupakan alternatif pilihan yang dapat
dipertimbangkan dalam menentukan batas lesi odontoma, ekspansi dan
batas tulang kortikal.1,7 Selain itu, kanalis alveolaris inferior dapat
terdorong kearah inferior dan masih terlihat tulang kortikal mandibular
tipis disekitar lesi.7 Derajat radiopak sama atau melebihi dari struktur
gigi yang berdekatan dan dapat bervariasi dalam tingkat radiopak dari
satu daerah ke daerah lain, tergantung variasi dari refleksi jaringan
keras yang terbentuk.1 (Gambar 1)

Gambar 1. Gambaran radiografi lesi radiopak complex odontoma1

f. Gambaran histologis
Gambaran histologis dikarakteristikkan sebagai produk dari
enamel, dentin, sementum, dan jaringan pulpa yang matang.
Komponen tersebut terlihat bervariasi pada tahap histodiferensiasi dan
morfodiferensiasi. Dikarenakan pertumbuhan yang terlambat dan
jaringan gigi yang terdiferensiasi dengan baik, lesi ini dipertimbangkan
sebagai hamartoma dan bukan tumor yang sebenarnya. 1 Massa terdiri
dari semua jaringan gigi yang tidak tersusun secara teratur, tapi sering
kali dengan pola radial. Pulpa biasanya bercabang halus sehingga
massa seperti mengalami perforasi, seperti spons, dengan cabang kecil
dari pulpa.2 Kapsul jaringan ikat di sekitar odontoma serupa dengan
folikel yang mengelilingi gigi normal. Salah satu fitur tambahan yang
menarik adalah keberadaan sel ‘ghost cell’ di odontoma.6

g. Diagnosis Banding
Beberapa gambaran lesi radiopak yang mungkin mirip dan dapat
menjadi diagnosa banding complex odontoma adalah cemento-
ossifying fibromas (COF), mature stage of periapical cemental
dysplasia (PCD), dan dense bone island (DBIs).1,4 Pada COF terdapat
beberapa persamaan, berupa lesi radiopak berbatas jelas, dikelilingi
garis tipis radiolusen, menggambarkan kapsul fibrous, yang
memisahkannya dari jaringan sekitar kadang-kadang membentuk batas
sklerotik dan paling sering terjadi di mandibular pada inferior gigi
premolar dan molar dan superior dari kanalis alveolar inferior. COF
dapat menyebabkan pergeseran gigi atau kanalis alveolar inferior dan
ekspansi outer cortical plate. Meskipun mengalami ekspansi dan
menipis, outer cortical plate tetap menyatu. COF asimptomatik dan
dapat menyebabkan ekspansi rahang. Perbedaannya, Complex
odontoma lebih cenderung berhubungan dengan gigi molar yang tidak
erupsi atau impaksi, sedangkan COF tidak berhubugan dengan gigi
impaksi. Complex odontoma juga memiliki densitas lebih radiopak
dikarenakan COF cenderung memiliki densitas campuran antara
radiolusen dan radiopak.1,7
Secara radiografis, PCD tipe mature stage merupakan lesi radiopak
berbatas jelas, dengan batas ruang radiolusen yang dikelilingi
sekelompok tulang sklerotik. Lesi dapat berbentuk tidak beraturan atau
mungkin memiliki bentuk bulat atau oval. Lesi PCD asimptomatik dan
pada lesi yang besar dapat mengakibatkan ekspansi rahang. PCD tipe
mature stage yang terjadi pada region gigi molar mungkin dapat
menyerupai complex odontoma, tetapi lesi biasanya multiple dan lebih
sering berpusat pada daerah periapikal gigi anterior. PCD tidak
berhubungan dengan gigi impaksi. Namun, jika lesi tunggal dan
berlokasi pada daerah edentulous rahang, diagnosa banding lebih sulit.
PCD biasanya memiliki batas sklerotik dengan gambaran radiopak
yang lebih tebal dan tidak homogen, sedangkan complex odontoma
memiliki batas kortikasi dengan gambaran garis radiopak tipis
homogen.1,7
Pada DBIs juga memiliki kesamaan dengan complex odontoma,
merupakan lesi yang asimptomatik. Memiliki gambaran radiopak
tunggal, irregular, berbatas jelas, dan paling sering terjadi di
mandibular regio gigi premolar dan molar. Perbedaanya, DBIs tidak
memiliki batas radiolusen atau kapsul jaringan lunak, berbatasan
langsung dengan tulang dan kadang menyatu dengan trabekular,
berlokasi di daerah apikal gigi dan berhubungan dengan resopsi akar
eksternal. Lesi DBIs juga tidak berhubungan dengan impaksi gigi,
umumnya tidak mengalami perubahan, dan tidak menyebabkan
ekspansi rahang.1,7

h. Perawatan
Odontoma memiliki potensi tumbuh yang terbatas, tetapi tetap
harus dibuang karena dapat menggangu erupsi gigi molar ketiga,
menjadi faktor predisposisi terjadinya kistsa dentigerous serta dapat
menyebabkan kerusakan tulang.5 Complex odontoma biasanya
dihilangkan dengan bedah konservatif atau eksisi sederhana.1,2 Pada
lesi odontoma yang kecil dilakukan bedah eksisi sebatas jaringannya
saja.5,7

Enukleasi odontoma ditekankan untuk membuang secara


keseluruhan tumor yang terkapsulasi agar menghindari kemungkinan
relaps pada complex odontoma yang belum matang dan biasanya
dilakukan tanpa pengangkatan gigi yang berdekatan. 5 Tetapi, kadang
dikarenakan perluasan dari odontoma, gigi yang berdekatan dapat
terganggu saat pengangkatan odontoma, maka perlu juga dilakukan
pengangkatan.5,7 Setelah itu dilakukan follow-up pasca bedah terkait
proses penyembuhan jaringan.7 Penyembuhan jaringan lunak mulai
terlihat 8 hari setelah prosedur bedah.15 Follow-up juga diperlukan
untuk evaluasi perkembang dari erupsi gigi permanen yang berdekatan
dengan lokasi pengangkatan tumor.13 Selain itu, pasien disarankan
untuk melakukan pemeriksaan radiografi kembali untuk konfirmasi
penyembuhan.7 Secara radiografis, pembentukan tulang mulai terlihat
3 bulan pasca bedah dan pembentukan tulang sempurna terlihat pada 9
bulan pasca bedah.14,15

Literatur lain menyebutkan bahwa pasca pengangkatan kasus


odontoma yang besar, diperlukan rekonstruksi linggir alveolar
menggunakan bonegraft. Pertimbangan lain untuk dilakukan bone
graft adalah sebagai persiapan bedah implan atau alasan ortodontik.
Tetapi tidak direkomendasikan pada anak dalam masa tumbuh
kembang.11

B. Laporan Kasus
Abstrak
Pendahuluan:
Odontoma dipertimbangkan sebagai tumor jinak yang berasal dari jaringan
odontogenik dan tidak agresif. Odontoma juga dapat dikategorikan sebagai
hamartomas dan merupakan hasil dari malformasi perkembangan dari
jaringan odontogenik. Seperti yang sudah disebutkan, odontoma terdiri dari
jaringan gigi yang matang. Odontoma memiliki potensi pertumbuhan yang
lambat dan terbatas serta terdiferensiasi dengan baik. Odontoma dapat berasal
dari ektodermal, mesodermal atau campuran. Variasi campuran dapat dibagi
menjadi compound atau complex tergantung atas kemiripan secara radiografis
dengan gigi. Compound odontoma dilaporkan dua kali lebih sering terjadi
daripada complex odontoma. Diantara keduanya, complex odontoma
asimptomatik kecuali mengarah pada ekpansi tulang rahang.

Laporan Kasus :
Makalah ini bertujuan untuk melaporkan dan mendisukusikan kasus complex
odontoma dengan ukuran yang besar dan mengarah pada asimetri wajah.
Selain itu, akan menekankan informasi penting yang harus dokter gigi miliki
untuk mendiagnosa lesi tersebut pada tahap awal.

Kesimpulan :
Odontoma adalah tumor jinak odontogenik, dengan ukuran yang besar
mengarah pada asimetri wajah. Dokter gigi harus memiliki pengetahuan dan
informasi penting untuk mendiagnosa lesi pada tahap awal.

Kata Kunci : Complex Odontoma, Mandibula, Tumor odontogenik,


Hamartomas, Tumor jinak.

PENDAHULUAN
Odontoma adalah tumor jinak yang berasal dan muncul dari jaringan
odontogenik. Hal ini dilaporkan merupakan perkembangan dari jaringan asal.
Berasal dari sel epitelium odontogenik yang terdiferensiesi dengan baik yaitu
odontoblas dan ameloblas, secara radiografis dan histologis dikatakteristikan
dengan produksi enamel, dentin, sementum, dan pulpa yang matang. Hal
tersebut terbukti dari produksi enamel, dentin, sementum dan pulpa yang
abnormal.
Pada tahun 1947 istilah odontoma diciptakan oleh Paul Broca. Etiologi
tumor ini tidak tiketahui meskipun beberapa penulis mengungkapkan berasal
dari genetik ,disebabkan trauma, atau infeksi. Tidak ada predisposisi jenis
kelamin. Secara klinis tumor ini asimptomatik dan nonagresif dan dapat
terlihat dengan kehilangan gigi pada rahang. Terlihat asimetri wajah pada
kasus odontoma mencapai ukuran yang lebih besar.
Beberapa peneliti mengklasifikasikan odontoma kedalam beberapa tipe.
Pada tahun 2015 WHO mengklasifikasikan odontoma kedalam dua tipe, yaitu
compound dan complex odontoma. Literatur menyatakan bahwa dapat juga
diisitilahkan sebagai central, pheripheral, dan erupted odontoma. Central
odontomas terdapat di dalam tulang rahang, peripheral terdapat pada jaringan
lunak di atas tulang aveolar dimana gigi impregnasi.
Secara radiografis, complex odontoma merupakan jaringan gigi
terklasifikasi yang memiliki bentuk irreguler. Selanjutnya massa tidak
memiliki kesamaan dalam hal morfologi dengan gigi.
Erupting odontoma adalah salah satu massa hemartomatous yang secara
klinis dapat telihat dalam rongga mulut.
Meskipun ordontoma termasuk jinak dan dapat dengan mudah didiagnosis,
dokter gigi harus hafal dengan presentasi klinis serta presentasi radiologis.
Terkadang lesi mencapai ukuran yang luar biasa besar. Selain itu, tujuan
makalah ini adalah untuk mendeskripsikan kasus giant complex odontoma
pada laki-laki berusia 35 tahun, berlokasi pada sudut mandibula. Makalah ini
juga menekankan kepada praktisi mengenai aspek radiologis dari penyakit
terkait dengan perawatan bedah.

Laporan Kasus :
Pasien laki-laki 35 tahun datang ke departemen bedah mulut Consultation
Centre of Dental Treatment (CCDT) Rabat, dengan pembengkakan pada
mandibular sebelah kiri. Pembengkakan tidak disertai rasa sakit dan muncul
sejak dua minggu lalu. Riwayat medis tidak signifikan. Secara klinis, terlihat
wajah pasien asimetris. Terdapat pembengkakan, keras, menyebar pada region
sudut kiri mandibula. Sebaliknya, kulit diatasnya normal, tidak lunak dan
normal saat membuka mulut.9
Secara intraoral, tampak gigi molar pertama hilang dan molar ketiga kiri
tidak erupsi bersamaan dengan keterlibatan mukosa alveolar pada region 38
(Gambar 2). Terdapat ekspansi arah buko-lingual pada mandibular diregio
yang sama, keras dan tidak lunak saat palpasi. Selanjutnya tidak ada
limfadenopati yang signifikan. Diagnosa sementara dikarenakan impaksi gigi
molar ketiga dengan suspek kista dentigerous. Pemeriksaan
orthopantomogram dilakukan (Gambar 3,4).9

Gambar 2. Pre-operatif9

Gambar 3. Radiografi panoramik menunjukkan lesi radiopak berbatas jelas pada


regio sudut kiri mandibula9
Gambar 4. Radiografi panoramik menunjukkan lesi radiopak berbatas jelas pada
regio sudut kiri mandibula dengan perpindahan sekunder kanal mandibula pada regio
37 ke arah inferior9

Pada gambaran radiografi, terdapat gambaran radiopak heterogen dengan


sebagian densitas radiopak yang mirip email, terletak pada daerah distal gigi
37 meluas sampai ke dinding ramus, berbatas jelas berupa gambaran
radiolucent pada sisi mesial lesi yang meluas sampai apikal mesial gigi 37 dan
dikelilingi batas kortikasi yang terlihat sebagai gambaran radiopak tipis yang
homogen. Berbentuk irregular, tunggal, dan berukuran ± 6cm x 6cm. Terdapat
pergeseran kanalis alveolar inferior disekitar gigi 37 kearah inferior, serta
terdapat migrasi gigi 37 disertai resopsi tulang sampai 1/3 apikal.

Orthopantomogram memperlihatkan gambaran radiopak berbatas jelas


yang sangat besar, berukuran ± 6 cm x 6 cm, dikelilingi gambaran radiolucent
halo dengan batas kortikal mendekati apikal gigi 37. Selanjutnya terdapat
terdapat pergeseran sekunder kearah inferior pada kanalis alveolar inferior
disekitar gigi 37. Pemeriksaan klinis dan radiografi menunjukkan lesi
mengarah pada complex odontoma. Bedah dilakukan, setelah pemberian
anastesi lokal, terdiri dari bedah eksisi gigi impaksi utuh dan lesi yang ada
disekitarnya (Gambar 5,6). Kemudian spesimen dikirimkan ke patologi
anatomi yang menyimpulkan bahwa lesi tersebut adalah complex odontoma.
Pemeriksaan histologis menunjukkan bahwa lesi terenkapsulasi dengan
struktur mirip seperti sementum dan dentin disepanjang sisa-sisa jaringan
pulpa dan epithelial remnants. Pasien di follow-up selama satu bulan (Gambar
7). 9

Gambar 5. Pembedahan pada tumor9


Gambar 6. Eksisi lesi9

Gambar 7. Post-operatif dengan jahitan9


Diskusi
Odontoma adalah tumor odontogenik yang paling sering terjadi dengan
tingkat insidensi sebesar 22%. Literatur lebih lanjut menyatakan
perkembangan odontoma dimulai bersamaan dengan perkembangan gigi
normal. Meskipun odontoma dapat terjadi dibagian mana saja pada rahang,
compound odontoma paling sering terjadi pada regio lengkung kaninus dan
insisivus maksila. Secara berlawanan, complex odontoma lebih umum
ditemukan pada regio mandibula.
Seperti yang didiskusian di awal, biasanya complex odontoma
asimptomatik. Selanjutnya hal tersebut juga membuktikan bahwa odontoma
seringkali memiliki ukuran yang kecil, jarang meluas, dan jarang melebihi
ukuran gigi yang berhubungan. Terkadang odontoma memiliki ukuran yang
luar biasa besar seperti yang dipresentasikan pada kasus. Dalam beberapa
kasus, terdapat pembengkakan alveolar pada rahang yang mengarah pada
asimetri wajah dan ekspansi plat kortikal. Gigi tersebut akan tidak erupsi atau
hilang secara klinis. Dapat juga menyebabkan malposisi, deviasi atau impaksi
gigi yang berdekatan. Hal ini juga terlihat pada kasus.
Literatur juga menyebutkan adanya erupsi odontoma didalam rongga
mulut pada lengkung alveolar sering terasa sakit yang kemudian menyebabkan
imflamasi dari jaringan lunak yang berdekatan. Kondisi ini juga dapat
membingungkan dengan beberapa lesi tulang. Sejak kebanyakan dari kasus
complex odontoma asimptomatik, odontoma dapat terdeteksi selama
pemeriksaan gigi rutin. Kebanyakan tejadi pada usia dekade kedua (12-18
tahun).
Seperti yang dijelaskan diawal, odontoma dapat terjadi central
(intraosseous) / pheripheral (exstraosseous). Pada kasus tersebut merupakan
odontoma intraosseous yang terjadi secara keseluruhan di dalam rahang dan
mengarah pada ekspansi tulang. Tipe ketiga odontoma adalah erupted
odontoma. Prosedur erupsi odontoma di rongga mulut berbeda jika
dibandingkan dengan erupsi gigi normal. Hal ini dikaitkan dengan ketiadaan
serat ligamen periodontal pada odontoma. Pada kasus tersebut meskipun
termasuk odontoma intraosseous, belum terlihat adanya penembusan mukosa
alveolar pada regio lesi. Hal ini mungkin menandakan adanya erupsi progresif
dari odontoma kedalam rongga mulut.
Beberapa penulis berpendapat bahwa, karena complex odontoma dikaitkan
dengan gigi yang tidak erupsi, gaya atau tekanan erupsi pada gigi yang tidak
erupsi tersebutlah yang dapat menyebabkan odontoma erupsi kedalam rongga
mulut. Teori odontoma erupsi mungkin sesuai pada kasus ini, odontoma
terlihat pada bagian koronal lesi. Hal tersebut dapat dikarenakan resopsi tulang
yang terlihat pada radiografi. Selanjutnya, pada kasus tersebut odontoma dapat
mengarah pada resopsi tulang seiring meningkatnya ukuran lesi. Selaras
dengan hal tersebut, Ragalli et al menyatakan pertumbuhan kapsul memiliki
kontribusi pada erupsi odontoma. Literatur menyatakan bahwa perawatan
yang dipilih untuk lesi tersebut adalah enukleasi. Hal tersebut akan
membiarkan gigi impaksi erupsi. Bertentangan pada kasus ini, lesi tersebut
dibatasi oleh gambaran radiolusen yang disuspek sebagai kista dentigerous,
perawatan yang dilakukan melibatkan pengangkatan gigi disepanjang lesi.

KESIMPULAN:
Complex odontoma adalah tumor odontogenik dan asimptomatik. Biasanya
ditemukan pada pemeriksaan radiografi gigi rutin dan tidak berhubungan
dengan penyakit sistemik yang lain. Complex odontoma dapat erupsi didalam
rongga mulut dan menyebabkan rasa sakit dan inflamasi. Lesi yang besar
dapat menyebabkan ekspansi rahang pada plat kortikal rahang yang mengarah
pada asimetri wajah. Untuk selanjutnya, dokter gigi harus lebih waspada
terhadap tampilan klinis sebagaimana pada temuan radiografis lesi, sehingga
dapat menyediakan perawatan yang cepat dengan prognosis yang baik.

C. Pembahasan
Penegakkan diagnosis complex odontoma dapat dipertimbangkan melalui
pemeriksaan subjektif dan pemeriksaan objektif yang meliputi pemeriksaan
klinis, radiografi, dan histologi. Pemeriksaan subjektif pada kasus tersebut
menyatakan bahwa pasien mengeluhkan pembengkakan pada mandibula
sebelah kiri dan tidak disertai rasa sakit yang muncul sejak dua minggu lalu.
Pemeriksaan ekstraoral pasien menunjukkan bahwa wajah pasien terlihat
asimetris, terdapat pembengkakan wajah dengan kulit diatasnya normal, tidak
lunak, pada region sudut kiri mandibular, dan normal saat membuka mulut.
Pemeriksaan intraoral terdapat pembengkakan dan ekspansi arah buko-lingual,
keras, pada daerah gigi molar ketiga madibula yang tidak erupsi.9
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa pada
complex odontoma terlihat pembengkakan, keras tanpa rasa sakit
(asimptomatik), sebagian besar ditemukan pada regio posterior
mandibula.1,2,3,6,7. Beberapa penelitian menunjukan complex odontoma lebih
sering terjadi pada daerah molar mandibular, berhubungan dengan gigi yang
tidak erupsi atau gigi impaksi yang berdekatan, dan menunjukkan terdapat
ekspansi rahang.8-10 Pada pasien terdapat ekspansi tulang dalam arah buko-
lingual, hal tersebut sesuai dengan literatur bahwa ekspansi tulang kortikal
lebih sering terjadi dalam arah bukal/labial dan atau lingual/palatal. Ekspansi
tulang itulah yang menyebabkan asimetri wajah. 6 Keluhan adanya rasa
bengkak dan hilangnya gigi molar ketiga pasien dapat dicurigai sebagai
complex odontoma.
Pada kasus ini, penulis menyebutkan bahwa diagnosa sementara kasus
tersebut adalah kista dentigerous. Pasien dengan kista dentigerous biasanya
tidak mengeluhkan adanya rasa sakit ataupun rasa tidak nyaman. 1 Pada
pemeriksaan ekstraoral kista dentigerous, terlihat pembengkakan dan asimetri
wajah, sedangkan pada pemeriksaan intraoral terlihat pembengkakan yang
keras dan ekspansi tulang kortikal pada daerah daerah gigi molar ketiga
mandibula ataupun maksila yang tidak erupsi.1,6 Berdasarkan kasus tersebut
didapatkan adanya kemiripan pada pemeriksaan subjektif maupun objektif
pasien dengan kista dentigerous, maka secara klinis diagnosa sementara kasus
adalah kista dentigerous. Tetapi, pemeriksaan radiografi tetap perlu dilakukan
untuk menegakkan diagnosis.
Pada gambaran radiografi pasien, terdapat gambaran radiopak heterogen
dengan sebagian densitas radiopak yang mirip email, terletak pada daerah
distal gigi 37 meluas sampai ke dinding ramus, berbatas jelas berupa
gambaran radiolucent pada sisi mesial lesi yang meluas sampai apikal mesial
gigi 37 dan dikelilingi batas kortikasi yang terlihat sebagai gambaran radiopak
tipis yang homogen. Berbentuk irregular, tunggal, dan berukuran
± 6cm x 6cm. Terdapat pergeseran kanalis alveolar inferior disekitar gigi 37
kearah inferior, serta terdapat migrasi gigi 37 disertai resopsi tulang sampai
1/3 apikal. Berdasarkan gambaran radiografis pasien, didapatkan
radiodiagnosis sebagai complex odontoma. Hal tersebut dikarenakan memiliki
gambaran radiografis yang sama dengan complex odontoma. Secara
radiografis complex odontoma memiliki gambaran radiopak dengan densitas
radiopak setara dengan email, berbatas jelas berupa gambaran radiolusen yang
dikelilingi batas kortikasi yang terlihat sebagai gambaran radiopak tipis pada
daerah gigi molar ketiga, dan berbentuk irregular tunggal.1,2,7 Pada lesi yang
besar, complex odontoma dapat mempengaruhi pergerakan posisi kanalis
alveolaris inferior. Kanalis alveolaris inferior dapat terdorong kearah inferior
dan masih terlihat kontinyuitas tulang kortikal mandibular tipis disekitar lesi.7
Pada kasus ini, lesi tersebut termasuk kedalam central odontoma yang
sepenuhnya terdapat didalam rahang.9 Pada gambaran radiografis pasien, juga
terdapat gambaran radiolusen yang meluas sampai apikal mesial gigi 37 yang
menjadi suspek kista dentigerous. Hal ini dikarenakan pada literatur
menyatakan bahwa complex odontoma dapat menjadi faktor predisposisi
terjadinya kista dentigerous dengan gambaran radiolusen yang dikelilingi
batas kortikasi dan terlihat sebagai gambaran radiopak tipis yang homogen.1,3,5
Berdasaran radiodoagnosis kasus tersebut, cemento-ossifying fibromas
(COF) merupakan jenis lesi radiopak yang dapat menyerupai dan dijadikan
diferensial diagnosis. Pada kasus ini ditemukan pembengkakan asimptomatik
dan secara radiografis ditemukan adanya gambaran radiopak berbatas jelas,
dikelilingi garis tipis radiolusen pada daerah posterior mandibular, disertai
adanya pergeseran gigi atau kanalis alveolar inferior dan ekspansi outer
cortical plate. Hal tersebut juga ditemukan pada COF, namun perbedaannya
COF tidak berhubungan dengan daerah gigi molar yang tidak erupsi atau
impaksi dan juga cenderung memiliki densitas campuran antara radiolusen dan
radiopak.1
Pada laporan kasus diatas, penatalaksaan lesi dilakukan dengan bedah
eksisi yang melibatkan pengangkatan gigi yang berdekatan dan kemudian
dilanjutkan dengan follow-up satu bulan setelahnya. Penatalaksanaan bedah
eksisi didasarkan pertimbangan bahwa odontoma harus dibuang karena
menyebabkan resopsi tulang sehingga tulang menjadi lemah dan rentan
terhadap fraktur, selain itu juga dapat menyebabkan pergeseran kanalis
alveolaris inferior dan posisi gigi didekatnya. Pada kasus ini juga dilakukan
pengangkatan gigi 37 karena posisi gigi yang telah migrasi dan mengalami
resopsi 1/3 apikal yang menunjukkan prognosis buruk untuk dipertahankan.
Selaras dengan literatur, penatalaksanaan lesi complex odontoma dilakukan
dengan bedah konservatif atau eksisi sederhana.1,2,7
Setelah bedah eksisi dan pengangkatan, spesimen jaringan dikirim ke
bagian patologi anatomi untuk dilakukan pemeriksaan histopatologis dan
didapatkan hasil berupa jaringan yang serupa dengan email, dentin, pulpa, dan
epithelial remnants. Hal tersebut menunjukkan gambaran yang sama dengan
hasil histologi complex odontoma, tetapi tidak ditemukan gambaran seperti
jaringan ikat fibrosa dan epitelial skuamosa stratifikasi yang terdapat pada
kista dentigerous.4 Hal tersebut menunjukan bahwa complex odontoma pada
pasien tidak disertai kista dentigerous. Setelah itu dilakukan follow-up terkait
proses penyembuhan, dan pasien disarakan untuk melakukan pemeriksaan
radiografi kembali untuk konfirmasi penyembuhan.7

D. Kesimpulan
Complex odontoma merupakan tumor odontogenik yang berhubungan
dengan gigi impaksi, biasanya disertai pembengkakan dan tanpa gejala dan
dapat menyebabkan ekspansi rahang yang mengakibatkan asimetri wajah.
Secara radiorafi terlihat sebagai gambaran lesi radiopak tunggal, irregular,
berbatas jelas berupa gambaran radiolusen yang dikelilingi batas kortikasi
pada daerah molar ketiga mandibula.

DAFTAR PUSTAKA
1. White SC, Pharoah MJ. Oral radiology: principles and interpretation. 7 th.
St Louis: Mosby-Elsiver; 2014
2. Silverman S, Eversole RL, Truelive EL. Essentials of oral medicine by
Sol Silverman, BC Decker, New York, 2001.
3. Langlais RP, Miller CS, Neildh-gehrig. Color atlas of common oral
disease. 4th. Philadelpia: Wolters Kluwer. 2003
4. Regezi AJ, Sciubba JJ, Jordan RCK. Oral pathology cinical pathologic
corelations. 6th. St Louis: Mosby-Elsiver; 2012.
5. Satish V, Prabhadevi MC, Sharma Rajesh. Odontome: A brief overview.
IJCPD. 2011:4(3):177-185
6. Rajendran R, Sivapathasundharam B. Shafers’s textbook of oral pathology.
7th ed. New Delhi: Elsiver, adivision of Reed Elsivier India Pvt. Ltd. 2012
7. Nasution FA, Sita S. Analisis gambaran radiograf panoramik pada
complex odontma. J. Ked Gig. 2018;30(3);102-107
8. Peranovic V, noffke CEE. Clinical and radiological feature of 90
odontomas diagnosed in the oral health centre at Sefako Makgatho Health
Science University. S Afr Dnt J. 2016;71(10):489-92\
9. Akerzoul, Chbicheb S, Wady WE. Giant complex odontoma of mandible:
a spectacular case report. Open Dent J. 2017:11:p.413-9
10. An SY, An, CH, Choi KS. Odontoma: aretrospective study of 73 cases.
Imaging Sci Dent. 2012;42:77-81
11. Lee J, Lee EY, Park EJ, Kim ES. An alternative treatment option for bony
defect from large odontoma using recycled demineralization at chairside. J
Korean Assoc oral Maxillofac Surg. 2015;41:109-115
12. Barba LT, Rascon AN. Descriptive aspects of odontoma: literature review.
Revista Odontologica Mexicana. 2016;20(4):272-6
13. Iatrou I, Vardas E, Lygidakis NT, Leventis M. A retrospective analysis of
the characteristics, treatment and follow-up of 26 odontoes in Greek
children. Journal of Oral Science. 2010;52(3):439-47
14. Ladani P, Shetye, Shah M. Dental rehabilitation of patient with complex
odontoma: A case report and review of literature. J Dent Implant.
2017;7:28-32
15. Ricardo JH, Lomonaco SH, Martinez AM. Hybrid lesion formed by a
complex odontoma and dentigerous cyst: radiographic and
histomorphological findings. Acase report. J Oral Res. 2018; 7(4):145-9

JURNAL READING RADIOLOGI

COMPLEX ODONTOMA
Oleh :

Msy. Rizkika Fathiyah, S.KG

04074821719015

Dosen Pembimbing :

Drg. Shanty Chairani., M. Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018