Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumber pengetahuan ada dua, yaitu a priori knowledge dan posteriori knowledge.
Posteriori merupakan kebalikan dari a priori knowledge, posteriori adalah pengetahuan yang
diperoleh berdasarkan pengalaman atau adanya bukti empiris, sehingga sebagian besar di
dalamnya termasuk scieceatau pengetahuan ilmiah dan pengalaman pribadi. Pada paper ini
kami akanmenekankan pembahasan pada salah satu bagian dari sumber pengetahuan
posteriori kowledge, yaitupersepsi.
Menurut para filusuf, persepsi merupakan pengetahuan atau informasi yang kita
peroleh dari apa yang kita alami dengan indera-indera kita, seperti misalnya apa yang kita
lihat dengan mata kita, apa yang kita dengarkan dengan telinga kita,apa aroma yang kita
cium, dan apa yang kita rasakan dengan lidah kita. Persepsi dibentuk oleh pembelajaran,
ingatan, harapan, dan perhatian.Persepsi dianalisis sebagai proses kognitif di mana informasi
yang diterima oleh panca indera kita selanjutnya ditransfer ke dalam pikiran, di mana hal itu
berkaitan dengan informasi lainnya, selanjutnya bergabung menjadi satu kesatuan dan
memberikan informasi atau pengetahuan. Paper ini akanmembahas lebih lajut mengenai
objek persepsi serta pembenaran dan hubungan antara perceptual experience, perceptual
belief, dan perceptual knowledge.

1.2 Rumusan Masalah


1. Direct Realism (Realisme Langsung)
2. Indirect Realism (Realisme Tak Langsung)
3. Rejecting Realism (Penolakan Realisme)
4. The Intentionalist Theory of Perception (Teori Persepsi dari Para Intensionalis)
5. Phenomenology (Feomenalogi)
6. Questions (Latihan Soal)

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Direct Realism (Realisme Langsung)

Realisme langsung menyatakan bahwa objek persepsi terkait dengan apa yang secara
langsung kita lihat dan rasakan secara sadar serta objek-objek tersebut adalah hal yang
memang sudah tidak asing lagi dalam pemikiran kita, yang mana hal tersebut bukan hanya
gagasan atau representasi kita tentang objek tersebut.
Realisme langsung dapat dibagi menjadi dua, yakni naive direct realisme dan
scientific direct realism. Perbedaan diantara keduanya tersebut terletak pada penilaian
terhadap objek persepsi. Naive realist berfokus pada objek persepsi, artinya bahwa sesuatu
yang dapat kita rasakan secara langsung oleh panca indria yang dimiliki oleh setiap individu.
Naive realist mengabaikan perbedaan antara apa yang dilihat pada si pengamat, seperti
kehangatan, kelembutan, dan lainnya.
Sedangkan scientific realism menyatakan bahwa penilaian objek persepsi tidak
tergantung pada subjek yang menilai, melainkan berdasarkan pada deskripsi ilmiah, sehingga
scientific realism membedakan dua kondisi, yaitu primary qulites dan secondary qualities.
Primary qualities adalah penilaian suatu objek terlepas dari yang menilai. Penilaian
dilakukan sesuai dengn fakta karakteristik yang ada, misalnya adalah bila papan tulis ini
berbentuk segi empat, tidak akan ada yang bias mengatakan bentuknya bulat. Sedangkan
secondary qualities adalah penilaian suatu objek yang menghasillkan perasaaan ketika
pengamatan, meliputi warna, rasa, bau, dan suara. Hal tersebut dapat di dideskripsikan
sebagai pengaruh dari suatu benda yang dirasakan oleh seseorang, sehingga pengetahuan
yang diperoleh dari secondary qualities tidak memiliki fakta secara objektif.

2.2 Indirect Realism (Realisme Tak Langsung)

Menurut pendapat indirect realist penilaian terhadap objek persepsi tidak tergantung
pada yang menilai. Kita tidak secara langsung mengetahui objek fisik sendiri, melainkan
hanya melalui representasi kita tentang objek tersebut atau hanya melalui gejala yang tampak
saja. Indirect realist berpendapat bahwa objek yang dikenal oleh seseorang melalui gambar.

2
2.2.1 The Argument From Illusion (Pendapat dari Para Ilusi)

Menurut para ilusi,terkadang kita berhalusinasi dan melihat hal-hal yang sebenarnya
tidak demikian, yang disebut dengan ilusi dan halusinasi. Veridical cases pada dasarnya
identik dengan ilusi dan halusinasi. Persamaan antara veridical cases dan non-veridical cases
terletak pada adanya sense data. Sense data adalah penilaian pada suatu objek atau benda,
menilai benda itu sama karena memiliki karakteristik yang sama walaupun dalam kasus atau
kondisi yang berbeda akibat adanya konsep pemikiran terhadap benda tersebut.
Ada beberapa penyangkalan terhadap argument dari para illusionist ini, penyangkalan
ini dilakukan oleh para idealist dan phenomenalist. Mereka menerima keberadaan sense data,
tetapi menolak konsep persepsi intermediary atau perantara.

2.2.2 Dualism (Dualisme)

Indirect realist meyakini bahwa ada beberapa hal di dunia berbeda dengan apa yang
kita alami sesungguhnya. Para dualism juga menyatakan bahwa realita terdiri dari dua hal
yang berlainan dan bertolak belakang. Masing-masing substansi bersifat unik dan tidak dapat
dirubah, misalnya jiwa dengan raga, roh dengan materi. Dualism sering memikirkan
bagaimana hal-hal yang dipikirkan dapat sejalan dengan keadaan fisik yang ada, dalam hal ini
pikiran kita bisa menerima pernyataan tersebut tapi permasalahannya bagaimana
membuatnya serasi dengan alam fisik. Dualism membedakan antara substansi pikiran dan
substaansi badan.

2.3 Rejecting Realism (Penolakan Terhadap Realisme)


2.3.1 Idealism (Idealisme)

Perdebatan terhadap direct realism adalah adanya keraguan terhadap apa yang
langsung dirasakan dengan objek yang dinilai. Apa yang kita rasakan tidak bisa benar-benar
kita deskripsikan secara sungguh-sungguh. Uskup george berkeley (1685-1753) adalah
idealis. Baginya benda-benda fisik hanya terdiri dari pikiran dan pemahaman, sehingga
penilaian terhadap objek persepsi akan tergantung pada yang menilainya. Konsekuensi dari
hal itu adalah, ketika kita tidak melihat sesuatu, maka kita akan menganggapnya tidak ada.
Bishop george berkeley (1685-1753) juga adalah seorang idealis. baginya, benda-
benda fisik terdiri dalam kumpulan ide (yang kemudian kemudian disebut Data akal): alam
semesta hanya terdiri dari pikiran dan data arti bahwa mereka memandang. Data akal tidak
bisa ada jika mereka tidak sedang dirasakan, sehingga benda-benda fisik tergantung pada

3
yang menilai. Berkely mencoba mennentang kesimpulan tersebut dengan menyatakan bahwa
benda-benda yang ada namun tidak terlihat tersebut ditopang dan dikendalikan oleh Tuhan,
meskipu pemikiran itu hanya dalam bentuk pemikiran. Jadi, aliran idealis menilai suatu
oobjek persepsi berdasarkan apa yang mereka pikirkan, pahami, dan rasakan.

2.3.2 Phenomenalism (Fenomenalisme)

Berbeda dengan kaum idealis, femonenalis tidak mempercayai adanya Tuhan untuk
mempertahankan keberadaan objek. Menurut mereka, keberadaan benda-benda fisik berasal
dari pengalaman. Misalnya, saya mengatakan bahwa klip kertas ada di laci saya, dan saya
mengatakan bahwa saya akan melihat melihat klip kertas itu ketika saya membuka laci itu.
Hal ini berarti bahwa banyak hal yang masuk akal saat ini dan dalam hal bersyarat keadaan
saat ini akan membawa keterkaitan yang akan dirasakan di masa depan.

2.3.3 Problems For Phenomenalism (Permasalahan dalam Fenomenalisme)

Menurut para fenomenalis, bahwa keberadaan benda-benda fisik adalah berasal dari
pengalaman yang berasal dari pikiran. Hal ini melahirkan pernyataan bahwa jika tidak ada
pikiran, maka tidak ada dunia ini. Jika tidak ada mahluk yang memiiliki pengalaman
deminkian, maka dunia ini tidak ada, padahal kenyataan yang terjadi bahwa dunia ini ada
sebelum mahluk hidup itu ada. Selain itu, fenomenalis tidak dapat menjelaskan hubungan
data fisik dengan perasaan, ia hanya diijinkan berbicara data akal dan hubungannya di antara
mereka, tidak ada pernyataan bersyarat yang menggambarkan hubungan antara perasaan dan
dianggap terpisah dari aspek fisik tertentu, misalnya ada banyak lampu berderet, semakin ke
kanan lampu akan semakin terang, hal ini tidak akan dapat dirasakan oleh seseorang yang
buta.

2.4 The Intentionalist Theory of Perception (Teori Persepsi Para Intensional)


2.4.1 Adverbalism (Adverbalisme)
Intentionalist menjelaskan persepsi dengan adverbalism, yaitu pengalaman persepsi
harus dijelaskan dalam hal modifikasi adverbal atau dijelaskan bagaimana sifat yang kita
rasakan dari keterangan suatu persepsi, bukan sifat dari item mental objek tersebut,
melainkan kita berbicara tentang cara di mana kita langsung mengalami dunia luar, apa
sebenarnya maknanya.

2.4.2 Intentionalist (Intensionalis)

4
Intensionilt menekankan persepsi pada kesejajaran anatara keyakinan dan pegalaman.
Keyakinan dianggap sebagai representasi dari dunia luar. Misalnya saya memiliki keyakinan
tentang berat badan saya, saya percaya bahwa berat badan saya mengalami kenaikkan.
Keyakinan adalah bagian yang penting dari pikiran. Itensionalisme juga disebut
representasional, dimana ada aspek pembiaran di dalamnnya.
Reaksi intentionalist terhadap illusi adalah klaim terhadap bahwa saya dapat memiliki
keyakinan yang salah. Keyakinan tersebut analog dengan kasus persepsi non-tulus dari ilusi
dan halusinasi.. Misalnya : saya yakin bahwa Susana mengunjungi saya. Intensionalis
memiliki aspek veridical dan non-veridical seperti kesamaan, misalnya persepsi saya
memiliki kandungan representasional, ada pensil membungkuk di sana, apakah benar-benar
ada pensil seperti di dunia (saya mungkin telah ditipu dan pensil membungkuk sebenarnya
ditempatkan di kaca). Dalam kasus veridical, konten ini benar mewakili dunia; dalam kasus
non-veridical tidak. Oleh karena itu, intentionalist setuju dengan teori akal datum bahwa ada
aspek persepsi yang dibagi oleh veridical dan non-veridical.

2.4.3 Phenomenology (Fenomenologi)


Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif serta
introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman
langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Perhatian filsafat, menurutnya,
hendaknya difokuskan pada penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atau
Erlebnisse (kehidupan subjektif dan batiniah). Penyelidikan ini hendaknya menekankan
watak intensional kesadaran, dan tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari ilmu-
ilmu empiris.
Tradisi fenomenologi berkonsentrasi pada pengalaman pribadi termasuk bagian dari
individu – individu yang ada saling memberikan pengalaman satu sama lainnya.
Fenomenologi adalah suatu tradisi untuk mengeksplorasi pengalaman manusia. Dalam
konteks ini ada asumsi bahwa manusia aktif memahami dunia disekelilingnya sebagai sebuah
pengalaman hidupnya dan aktif menginterpretasikan pengalaman tersebut dengan
memberikan makna atas sesuatu yang dialaminya. Oleh karena itu interpretasi merupakan
proses aktif untuk memberikan makna atas sesuatu yang dialami manusia. Dengan kata lain
pemahaman adalah suatu tindakan kreatif, yakni tindakan menuju pemaknaan.
Manusia memiliki paradigma tersendiri dalam memaknai sebuah realitas. Pengertian
paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata.
Fenomenologi menjelaskan fenomena perilaku manusia yang dialami dalam kesadaran.

5
Penelitian fenomenologi harus berupaya untuk menjelaskan makna dan pengalaman hidup
sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala. Artinya fenomenologi merujuk kepada
semua pandangan sosial yang menempatkan kesadaran manusia dan makna subjektifnya
sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial.

2.5 Seeing That, Seeing As, and Raw Seeing


Berdasarkan pengalaman persepsi, ada beberapa istilah seperti seeing that, seeing as,
dan raw seeing. Seeing as adalah suatu persepsi atas apa yang memang benar-benar terjadi,
misalnya saya melihat keluar jendela dan sedang hujan di luar. Hal ini berarti bahwa untuk
menerima bahwa hujan, memang benar sedang hujan di luar.
Seeing that berarti kita menilai sesuatu berdasarka apa yang kita rasakan dan amati,
hal itu berarti bahwa terkkadang memang benar dan terkadang salah, dimana dunia ini tidak
seperti apa yang kita lihat sesungguhnya. raw seeing adalah kita hanya dapat melihatnya
secara detail dan fokus jika hal-hal tersebut berada tepat di depan kita,namun hal ini dapat
menjadi masuk akal terhadap persepsi tanpa konsep.

2.6 Jawaban Kasus


1. Menurut kelompok kami, pantun jenaka tersebut relevan dengan teori penganut
realisme tak langsung atau indirect realism, dimana meurut para realis secara tak
langsung bahwa apa yang kita lihat di dunia ini sesungguhnya tidak dapat kita lihat
secara langsung. Contohnya terkait dengan keberadaan Tuhan, Tuhan berada di mana-
mana dan keberadaan pohon itu dan kemustahilannya dapat tumbuh adalah bukti
bawa Tuhan ada di sana meskipun tidak dapat kita lihat secara langsung, namun
keberadaannya diketahui dari pertumbuhan pohon tersebut.
2. Menurut para ilusi, tidak semua yang kita lihat di dunia ini adalah yang sebenarnya.
Objek persepsi tergantung pada yang menilai, maksudnya adalah objek yang dilihat
tergantung pada yang melihat, bagaimana cara mereka menerima objek tersebut untuk
dilihat. Misalnya saja kita mellihat fatamorgana, dimana kita melihat jalan dari
kejauhn begelombang, padahal sesungguhnya itu tidak ada. Hal tersebut hanya
disebabkan oleh penglihatan kita pada jalan yang suhunya sangat panas. Sehingga
terkadang kita juga dikatakan berhausinasi.

BAB III

6
KESIMPULAN

1. Persepsi adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan, yang merupakan bagian dari
posteriori knowledge. Persepsi merupakan pengetahuan atau informasi yang kita
peroleh dari apa yang kita alami dengan indera-indera kita. Persepsi dibentuk oleh
pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian. Persepsi dianalisis sebagai proses
kognitif di mana informasi yang diterima oleh panca indera kita selanjutnya ditransfer
ke dalam pikiran, di mana hal itu berkaitan dengan informasi lainnya, selanjutnya
bergabung menjadi satu kesatuan dan memberikan informasi atau pengetahuan.
2. Berdasarkan penilaian terhadap objek persepsi, maka pada dasarnya ada empat teori,
yaitu :
a) Direct realism : Naïve direct realism, Scientific direct realism
b) Indirect realism : Illusion, Dualism
c) Rejecting realism : Idealism, Phenomenalism
d) Intentionalist : Adverbalism, Intentionalism, Phenomenomolgy
3. Berdasarkan pengalaman persepsi, ada beberapa istilah seperti seeing that, seeing as,
dan raw seeing.

7
DAFTAR PUSTAKA
O’Brien, Dan. 2006. An Introduction to The Theory of Knowledge. UK.