Anda di halaman 1dari 24

TUGAS RMK AUDIT FORENSIK

“ PERKEMBANGAN AUDIT DAN PROFESI AKUNTAN “

Disusun Oleh :

1. DIMAS LAKSONO FAJAR


(1602114365)
2. MUHAMMAD MARTA
(1602114274)

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Riau
Statement of Authorship

Saya/kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa RMK/ makalah/


tugas terlampir murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan
orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Makalah ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk


makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan
jelas bahwa saya/ kami menggunakannya.

Saya/ kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya
plagiarisme.

Mata Kuliah : Audit Forensik


Judul RMK/Makalah/Tugas : Perkembangan Audit dan Profesi Akuntan
Tanggal : 09 Februari 2019
Dosen : Dr. M. Rasuli, SE., M.Si., Ak., CA

Nama & NIM : 1. Dimas Laksono Fajar (1602114365)


2. Muhammad Marta (1602114274)
PEMBAHASAN

Ruang Lingkup Audit

Definisi Audit
Report of the Committee on Basic Auditing Concepts of the American Accounting
Association” (Accounting Review, vol. 47) dalam Boynton (2003:5) memberikan definisi
auditing sebagai: “suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti
secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan
menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.” Definisi ini juga serupa dengan definisi yang disampaikan oleh Mulyadi
(1998:7) yang mengemukakan bahwa “auditing adalah suatu proses sistematik untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan
tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan kesesuaian
antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta
penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.”
Definisi auditing secara umum tersebut memiliki unsur-unsur penting yang diuraikan
sebagai berikut.

 Suatu proses sistematik. Auditing merupakan suatu proses sistematik, yaitu berupa
suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, terstruktur dan terorganisir. Auditing
dilaksanakan dengan suatu urutan langkah yang direncanakan, terorganisasi dan
bertujuan. Auditing Standards Board (ASB=Dewan Standar Auditing) menerbitkan
Generally Accepted Auditing Standards (GAAP=Standar Auditing yang Berlaku
Umum) yang digunakan sebagai pedoman profesional berkaitan dengan proses audit.

 Memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif. Maksudnya ialah memeriksa


dasar asersi serta mengevaluasi hasil pemeriksaan tersebut tanpa memihak dan
berprasangka, baik kepada pemberi kerja (manajemen) atau pihak ketiga (pemakai hasil
audit)
 Asersi/pernyataan tentang kegiatan dan peristiwa ekonomi. Yang dimaksud
dengan peristiwa ekonomi disini adalah hasil proses akuntansi, dimana akuntansi
sendiri merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran dan penyampaian informasi
ekonomi yang dinyatakan dalam satuan uang. Proses akuntansi ini menghasilkan suatu
pernyataan atau asersi yang dimuat dalam laoporan keuangan, laporan operasi intern,
dan surat pemberitahuan pajak (SPT).

 Derajad kesesuaian. Yaitu menunjuk pada kedekatan dimana asersi/pernyataan dapat


diidentifikasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Ekspresi
kesesuaian ini dapat berbentuk kuantitas, seperti jumlah kekurangan dana kas kecil,
atau dapat juga berbentuk kualitatif, seperti kewajaran (keabsahan laporan keuangan.

 Kriteria yang telah ditetapkan. Yaitu standar-standar yang digunakan sebagai dasar
untuk menilai asersi/ pernyataan, dimana hal ini dapat berupa:
(1) peraturan-peraturan spesifik yang ditetapkan atau dibuat oleh badan legislatif, (2)
Anggaran atau ukuran kinerja lainnya yang ditetapkan oleh manajemen, (3) Generally
Accepted Accounting Principle (GAAP=Prinsip akuntansi yang berlaku umum) yang
ditetapkan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB= Badan standar
akuntansi keuangan).

 Penyampaian Hasil. Penyampaian hasil auditing sering disebut dengan atestasi


(attestation). Penyampaian hasil ini dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan
audit yang menunjukkan derajad kesesuaian antara asersi dan kriteria yang telah
ditetapkan. Penyampaian hasil inidapat meningkatkan atau menurunkan derajad
kepercayaan pemakai informasi keuangan atas asersi yang dibuat oleh pihak yang
diaudit.

 Pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu mereka yang menggunakan atau


mengandalkan temuan-temuan auditor. Dalam lingkungan bisnis, mereka adalaj para
pemegang saham, manajemen, kreditor, kantor pemerintah, calon investor dan kreditor,
organisasi buruh, kantor pelayanan pajak, dan masyarakat umum.
Selain pengertian Auditing yang diungkapkan diatas, pengertian Auditing juga
diungkapkan oleh Castle (2010) yaitu “Auditing is the accumulation and evaluation of
evidence about information to determine and report on the degree of correspondence
between the information and estabished criteria. Auditing should be done by a competent,
Independen person.”

Jenis-Jenis Audit

 Audit Laporan Keuangan


Audit laporan keuangan (financial statement audit) adalah audit yang dilakukan
terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan untuk menyatakan pendapat
apakah laporan-laporan tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan kriteria-
kriteria yang telah ditentukan, yaitu prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum
(GAAP).
 Audit Kepatuhan
Audit kepatuhan (Compliance audit) adalah audit yang berkaitan dengan kegiatan
memperoleh dan memeriksa bukti-bukti untuk menetapkan apakah kegiatan keuangan
atau operasi suatu entitas telah sesuai dengan persyaratan, ketentuan, atau peraturan
tertentu. Kriteria yang ditetapkan dalam audit jenis ini dapat berasal dari berbagai
sumber, seperti kebijakan manajemen, hukum, peraturan atau persyaratan lain dari
pihak ketiga. Laporan audit kepatuhan umumnya ditujukan kepada otoritas yang
menerbitkan kriteria tersebut dan dapat terdiri dari (1) ringkasan temuan atau (2)
pernyataan keyakinan mengenai derajad kepatuhan dengan kriteria tersebut.
 Audit Operasional
Audit operasional adalah audit yang berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan
mengevaluasi bukti-bukti tentang efisiensi dan efektivitas kegiatan operasi entitas
dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan tertentu. Menurut Mulyadi [1998:30]
tujuan audit operasional adalah untuk: (1) Mengevaluasi Kinerja, (2) Mengindentifikasi
kesempatan untuk peningkatan, (3) membuat rekomendasi untuk perbaikan atau
tindakan lebih lanjut. Oleh karena itu audit operasional tidak hanya memuat
pengukuran efiensi dan efektivitas saja, namun juga memuat rekomendasi untuk
peningkatan kinerja.
Jenis-Jenis Auditor

 Auditor Independen
Menurut Boynton (2003:8) auditor independen di Amerika Serikat biasanya adalah
CPA yang bertindak sebagai praktisi perorangan ataupun anggota kantor akuntan
publik yang memberikan jasa auditing profesional kepada klien. Menurut Mulyadi
(1998:27) auditor independen merupakan auditor profesional yang menyediakan
jasanya kepada masyarakat umum terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan
yang dibuat oleh kliennya.
Untuk berpraktik sebagai auditor independen, seseorang harus memenuhi persyaratan
pendidikan dan pengalam kerja tertentu. Auditor independen harus telah lulus dari
jurusan akuntansi fakultas ekonomi atau memiliki ijazah yang disamakan, telah
mendapat gelar akuntan dari Panitia Ahli Pertimbangan Persamaan Ijasah Akuntan, dan
mendapat izin dari Menteri Keuangan.

 Auditor Internal
Menurut Boyton (2003:8) Auditor internal adalah pegawai dari organisasi yang diaudit.
Menurut Mulyadi (199:28) auditor internal adalah auditor yang bekerja dalam
perusahaan (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya
adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen
puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan
organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi , serta
menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

 Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah adalah auditor profesional yang bekerja di instansi pemerintah
yang tugas pokoknya melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang
disajikan oleh unit-unit organisasi atau entitas pemerintah atau pertangjawaban
keuangan yang ditujuan kepada pemerintah. Umumnya auditor pemerintah adalah
auditor yang bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta instansi pajak. BPKP adalah instansi
pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia
dalam bidang pengawasan keuangan dan pembangunanyang dilaksanakan oleh
pemerintah. Auditor yang bekerja di BPKP mempunyai tugas pokok melaksanakan
audit atas laporan keuangan instansi pemerintah, proyek-proyek pemrintah, Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan-perusahaan swasta yang pemerintah
mempunyai modal yang besar didalamnya.
BPK adalah unit oraganisasi dibawah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR, yang
tugasnya melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan presiden RI dan aparat
dibawahnya kepada dewan tersebut. Instansi pajak adalah unit organisasi dibawah
Departemen Keuangan yang tugas pokoknya adalah mengumpulkan beberapa jenis
pajak yang dipungut oleh pemerinyah. Tugas poko auditor yang bekerja di instansi
pajak adalah mengaudit pertanggung jawaban keuangan masyarakat wajib pajak
kepada pemerintah dengan tujuan untuk memverifikasi apakah kewajiban pajak telah
dihitung oleh wajib pajak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam undang-
undang pajak yang berlaku.

Perkembangan Profesi Akuntan

Akar Auditing
Menurut catatan seorang ahli sejarah akuntansi, dikatakan bahwa :
“ Asal usul auditing dimulai jauh lebih awal dibandingkan dengan asal usul
akuntansi.. ketika kemajuan membawa pada kebutuhan akan adanya orang yang dalam
batas tertentu dipercaya untuk mengelola harta milik orang lain, maka dipandang patut
untuk melakukan pengecekan atas kesatuan orang tersebut, sehingga semua nya akan
menjadi jelas.
Awal audit terhadap perusahaan dapat dikaitkan dengan perundangan inggris selama
revolusi industri pada pertengahan tahun 1800-an, kemajuan teknologi transportasi dan
industri telah menimbulkan skala ekonomi dalam perusahaan yang lebih besat,
munculnya manajer professional, serta pertumbuhan kepemilikan perusahaan oleh
banyak orang. Pada awalnya, audit terhadap perusahaan harus dilakukan oleh satu atau
lebih pemegang saham yang bukan merupakan pejabat perushaaan, serta mereka yang
ditunjuk oleh pemegang saham lainnya sebagai perwakilan pemegang saham. Profesi
akuntansi segera bangkit dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan pasar serta
perundangan yang segera dirvisi, sehingga memungkinkan orang yang bukan
pemegang saham dapat mlakukan audit. Hal ini mendorong munculnya berbagai
formasi kantor-kantor audit. Beberapa diantara kantor-kantor audit inggris kuno seperti
Deloitte & Co., Peat, Marwick, & Mitchell, dan Price Waterhouse & Co., dapat
ditelusuri serta masih membuka praktik di AS. Ataupun di luar AS sampai saat ini.
Pengaruh Inggris juga turut berimigrasi ke Amerika Serikat pada akhir tahun 1800-an
ketika para investro Inggris dan Skotlandia mengirimkan para auditor nya sendri untuk
memeriksa kondisi perusahaan-perusahaan Amerika, di mana mereka telah berinvestasi
dalam jumlah yang sangat besar. Secara khsuus mereka melakukan nvestasi dalam
saham pabrik pembuatan bir dan pekeretaapian. Fokus awal audit ini mula-mula adalah
untuk menemukan penyimpangan dalam akun neraca serta menangkal pertumbuhan
kecurangan yan berkaitan dengan meningkatnya fenomenanya manajer profesional
serta pemilik saham yang pasif.

Bangkitnya Profesi Auditor di A.S.


Pada ahun 1889, negara bagian New York menjadi yang pertama dalam pembuatan
perundangan yang mengatur lisensi CPA. Pada tahun 1921, empat puluh delapan negara
bagian telah menerbitkan perundangan serupa. Pada tahun 1917, American Institute of
Accountants didirikan. Institusi tesebut kemudian berganti nama menjadi American
Institute of Accountant didirikan. Institusi tersebut kemudian berganti nama menjadi
pembawa suara profesi yang paling utama sampai sekarang.
Selama awal tahun 1900-an, permintaan audit meningkat demikian besar sebagai
akibat pertumbuhan kepemilikan publik yang sangat cepat atas sekuritas perusahaan.
Bersamaan dengan itu, adanya kebutuhan akan pelaporan keuangan yang seragam menjadi
semakin jelas. Pada tahun 1917, para pejabat Federal Reserve Board dengan dibantu oleh
beberapa anggota profesi akuntansi, mengembangkan sebuah proposal untuk
menyeragamkan akuntansi. Pada tahun berikutnya, sebuah buku kecil yang berjudul
“Approved Method for The Preparation of Balance Sheet Statements” memberikan
pertimbangan positif untuk meningkatkan pelaporan keungan dan untuk menyadarkan
para pengusaha akan perlunya mempekerjakan akuntan yang memahami pelaporan yang
dipersyaratkan.
Namun demikian, satu dekade berikutnya, mengikuti runtuhnya pasar saham pada
tahun 1929, ditemukan adanya kekurangan yang signifikan dalam pelaporan keuangan
sehingga profesi ditantang lebih lanjut untuk memberikan kepemimpinan yang lebih kuat
dalam pengembangan akuntansi dan auditing. Kemudian, laporan laba rugi memperoleh
pengakuan status, dimana perhatian harus lebih diberikan pada pengukuran kinerja operasi
dan konsep pengahsilan, sama halnya dengan perhatian pada kondisi keuangan.
Pada tahun 1932, New York Stock Exchange (NYSE) mengesahkan persyaratan
yang mengharuskan semua perusahaan yang terdaftar mendapatkan sertifikat audit dari
CPA independen. Terbitnya Securities Act pada tahun 1933 serta Securities Exchange Act
pada tahun 1934, lebih meningkatkan akan jasa audit untuk perusahaan-perusahaan yang
dimiliki publik.
Sebagai tanggapan atas meningkatnya permintaan dan pertumbuhan besarnya
ukuran dan kompleksitas bisnis, pada tahun 1940an secara perlahan telah terjadi 3
perubahan penting atas praktek audit, yaitu:
 Suatu pergeseran dari verifikasi rinci atas akun-akun menjadi penarikan sampel atau
pengujian sebagai dasar untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan
 Pengembangan praktek mengaitkan pengujian yang akan dilakukan pada evaluasi
auditor atas pengendalian internal perusahaan
 Mengurangi penekanan atas deteksi kecurangan(fraud) sebagai tujuan audit.
Perubahan terakhir menjadi subjek kontroversi sampai hari ini, dan sedang dalam proses
balik sesuai dengan harapan publik agar auditor dapat tetap mendeteksi kecurangan yang
masih bertahan.
Selama tahun 1980an, pengetahuan yang dibutuhkan pada semua bidang
tumbuh demikian cepat. Profesi akuntan publik mengambil langkah lain untuk
meyakinkan tingginya mutu jasa profesional. Selama rentan waktu itu, kebanyakan negara
bagian mengesahkan persyaratan bahwa para CPA harus menguikuti pendidikan
profesional berkelanjutan tahunan, agar dapat menjaga lisensi yang dimilikinya. Selain itu,
profesi akuntan publik mengambil langkah sukarela dengan menetapkan program review
sejawat (peer review). Dengan program ini, sebuah kantor CPA akan menyerahkan praktek
akuntansi dan auditingnya untuk direview oleh sejawat independen lain setiap 3 tahun
sekali.
Selama tahun 1980an, profesi akuntan juga mengembangkan standar atestasi
baru, misalnya para CPA diminta memberikan pendapat profesional independennya
tentang asersi selain asersi laporan keuangan. Secara rutin para CPA dipekerjakan untuk
melakukan atestasi bagi para pemberi pinjaman tentang ketaatan perusahaan pada
perjanjian utang, atau pada penerapan prosedur yang telah disepakati pada perjanjian
royalti.
Pada tahun 1990an dimulailah tahap transisi untuk industri akuntansi dan
auditing. Saat itu praktek bisnis sedang berubah dengan cepat, dan teknologi informasi
memberikan dampak yang besar pada akuntansi. Selama tahun 1980an dan 1990an banyak
perusahaan mendesain ulang struktur pengendalian internal mereka dan informasi yang
tersedia untuk pengambilan keputusan. Teknologi telah menyediakan lebih banyak
informasi bagi para pembuat keputusan. Sebagai tanggapan atas peluang baru tersebut,
Komite Jenkins AICPA menerbitkan sebuah laporan yang berisikan kritik atas laporan
keuangan modern karena tidak memenuhi kebutuhan para pengambil keputusan.

Memandang Ke depan
Pada tahun-tahun terakhir ini, AICPA telah melaksanakan 2 poyek yang
memberikan pandangan masa depan bagi profesi pada abad ke-21. Pertama, AICPA
menjadi sponsor pada Proyek Visi CPA. Oleh karena perusahaan, pemerintah, dan
perorangan dipaksa untuk mempercepat perubahannya sendiri, maka mereka memerlukan
CPA sebagai tempat bergantung untuk bertahan atau keluar dari keadaan itu. Lebih dari
4000 anggota AICPA dilibatkan dalam proyek akar rumput ini untuk mendefinisikan visi
bagi profesi CPA. Para anggoota tersebut harus menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai
berikut :

 Apa yang kami nilai dan bagaimana kami mempertahankan nilai-nilai itu ?
 Siapakah kami dan apa kompetensi kami ?
 Apa bahaya dan peluang yang menanti serta bagaimana kami dapat berdaptasi?

Proyek Visi CPA


Pada tahun 1997, AICPA mensponsori Proyek Visi CPA, untuk melakukan
tinjauan serius terhadap nilai, kompetensi, dan ja sa inti yang akan membawa profesi
akuntansi memasuki abad mendatang. Audit laporan keuangan hanya merupakan salah
satu dari sekian banyak keterampilan yang dapat dipratikkan oleh para CPA. Pada
umumnya, auditor juga dipercaya menjadi penasihat bisnis untuk membantu perusahaan
menilai risiko bisnis strategis, merancang sistem informasi, atau membantu perencanaan
pajak dan keuangan, selain mengaudit laporan keuangan perusahaan. Lebih jauh lagi,
pengetahuan tentang organisasi yang didapatkan melalui pemberian jasa-jasa di atas dapat
meningkatkan kemampuan auditor untuk menilai kewajaran penyajian laporan keuangan.
Dalam banyak bidang jasa informasi, telah terjadi pergeseran kekuatan dari
penghasil informasi ke pengguna informasi. Sekarang ini, para pengambil keputusan
meminta informasi yang lebih tepat waktu pada saat dibutuhkan daripada laporan tahunan
multi-guna tradisional yang disajikan oleh laporan keuangan pada umumnya. Industri
akuntansi dan auditing harus dapat menyatakan lingkungan perubahan yang cepat dewasa
ini. Yogi Berra mungkin dapat mengatakannya dengan lebih tepat, ”Masa depan bukan
lagi seperti yang biasanya!”
Proyek Visi CPA telah melibatkan diskusi akar rumput yang dilakukan oleh lebih
dari 4.000 CPA di Amerika Serikat guna menyatakan nilai, kompetensi, dan jasa inti yang
dapat diberikan oleh profesi CPA kepada publik pada tahun 2011 dan selanjutnya.

Perkembangan Audit Fraud

Periode waktu perubahan auditing ke arah preventive auditing


Pandangan konvensional atas auditing bahwa auditing lebih mengutamakan
pencegahan adanya kecurangan (fraud),yaitu auditing diperlukan terutama untuk
mengetahui dan mencegah adanya pencurian harta suatu organisasi (perusahaan atau
pemerintah).Karena berubahnya lingkungan audit yaitu tuntutan masyarakat pada waktu
itu, jasa auditing yang hanya mendeteksi dan membuktikan adanya kecurangan (represif)
dianggap tidak mencukupi, maka perlu diutamakan tindakan preventif. Setelah masa itu
lahirlah system pengendalian intern yang built indalam organisasi. Setelah tahun 1700,
auditing sudah sistematik yaitu auditing bertugas memelihara berjalannya sistem
pengendalian intern organisasi, yang merupakan suatu sistem yang dirancang sebagai
bagian tak terpisahkan dari suatu organisasi. Sistem pengendalian intern tersebut bertujuan
untuk menjaga harta, mendorong dipatuhinya kebijakan,meningkatkan efisiensi usaha, dan
dapatdiandalkannya catatan dan laporan akuntansi. Auditor lebih berkepentingan dengan
memberikan saran perbaikan atas system pengendalian intern dan mendorong dipatuhinya
dijalankannya secara konsisten system tersebut oleh seluruh jajaran organisasi.
perubahan tersebut melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
 Masyarakat sadar bahwa tindakan represive dalam menemukan kecurangan adalah
tidak mencukupi.
 Jasa auditor dianggap kurang berguna sehingga eksistensi auditor dipertanyakan.
 Para auditor dalam praktiknya berusaha memenuhi tuntutan masyarakat dengan
menekankan pada tersedianya sistem pengendalian intern yang memadai.
 Para ilmuan dan organisasi profesi auditor meneliti ke arah mana dan bagaimana
seharusnya jasa auditing dilaksanakan, yaitu dengan menemukan prosedur dan teknik
audit serta menyusun standar audit yang lebih megutamakan sistem pengembangan
intern yang built in dalam organisasi.
 Para auditor dalam menjalanakan tugasnya menggunakan standard auditing yang
menekankan pada tersedianya sistem pengendalian intern yang memadai dan
dilaksanakanya sistem tersebut secara konsisten oleh seluruh jajaran organisasi.

Periode waktu perubahan auditing ke arah dapat dipercayainya informasi keuangan


Dengan berubahnya lingkungan auditing terutama berkaitan dengan semakin berkembangnya
investasi bisnis dan pemberian pinjaman untuk mendanai bisnis, maka tuntutan pada jasa
auditor juga berubah. Mulai tahun 1830 auditing pada perusahaan publik menuntut auditor
lebih menekankan pada verifikasi atas laporan keuangan perusahaan. Hal tersebut
menyebabkan profesi auditor menghadapi kesulitan besar dalam mempertemukan antara
harapan masyarakat dengan apa yang dikerjakan dalam auditing (Chandler, Edwards,
Anderson, Changing Perceptions of the Role of the Company Auditor 1840-1940,1993). Pada
saat auditor telah melakukan pekerjaannya sesuai dengan standard audit yang telah mereka
yakini kebenarannya, namun masyarakat merasa bahwa kepentingan mereka tidak dapat
dipenuhi oleh hasil audit, hal ini dianggap telah terjadi anomaly. Akibatnya timbul
ketidakpercayaan masyarakat terhadap auditing, inilah yang disebut periode insecurity. Pada
periode ini auditor akan merasakan bahwa pekerjaannya tidak ada gunanya. Maka para praktisi
auditing mulai mengembangkan ide-ide baru dalam bidang auditing untuk berusaha memenuhi
harapan masyarakat pada hasil pekerjaannya agar mereka masih tetap dapat diakui
eksistensinya. Tahap ini merupakan tahap ketiga. Selanjutnya para ilmuwan yang tertarik pada
bidang auditing dan organisasi profesi auditor meneliti lebih lanjut terjadinya fenomena
tersebut, sehingga mereka berusaha mencari rumusan-rumusan baru menjadi teori-teori baru
dan standard audit yang baru. Tahap ini merupakan tahap yang keempat. Dengan ditemukannya
teori yang baru dan telah disepakati oleh profesi auditor maka ilmu auditing bisa mencapai apa
yang diharapkan masyarakat. Hal ini merupakan tahap kelima. Dalam periode waktu tertentu
praktek auditing yang baru itu akan bertahan sampai terjadinya perubahanlingkungan audit
yang menyebabkan harapan masyarakat berubah pula. Maka tahapan 1 sampai dengan 5 di atas
akan terulang kembali, dan seterusnya. Dengan cara itulah auditing yang kita kenal saat ini
telah berkembang.
Periode waktu perubahan auditing ke arah investigative auditing
Sampai dengan tahun 1970-an, profesi external (independent) auditor juga telah mengalami
masa kejayaannya. Pada waktu itu tuntutan masyarakat terhadap profesi auditor adalah hanya
memberikan jaminan bahwa laporan keuangan perusahaan telah wajar dengan memberikan
pendapat (opini) atas kewajaran laporan keuangan. Sehingga laporan keuangan yang telah
dipublikasikan tersebut dapat dipercaya oleh para pihak pemakai laporan keuangan, seperti
pemegang saham, kreditur, bank, pemerintah serta pihakpihak lainnya, sebagai dasar
pengambilan keputusan bagi kepentingan mereka masing-masing. Namun, menjelang tahun
1980-an terjadi suatu kecaman dan tuntutan hukum oleh para investor yang mengalami
kerugian besar karena mendasarkan keputusan investasi mereka pada laporan keuangan
perusahaan yang telah mendapat unqualified opinion oleh auditor. Auditor gagal mendeteksi
adanya kecurangan perusahaan pada account persediaan (inventory) perusahaan besar di
Amerika Serikat, walaupun telah melaksanakan prosedur audit yang lazim. Terakhir kali pada
awal abad 21 Enron Corporation yang juga telah mendapatkan unqualified opinion tiba-tiba
bangkrut dan mengakibatkan kerugian besar bagi pihakpihak yang mendasarkan keputusannya
pada laporan keuangan perusahaan yang audited. Terjadi kekecewaan masyarakat terhadap
profesi auditor. Kecurangan (fraud) dapat dikategorikan dalam dua jenis yaitu management
fraud dan corporate fraud (Yehudah Barlev, 2004). Management fraud yaitu kecurangan yang
dilakukan oleh seluruh jajaran manajemen untuk berusaha meninggikan performance dan
menyembunyikan keburukan mereka dengan mengelabuhi pemegang saham, investor, kreditur
dan pihak-pihak eksternal lainnya. Corporate fraud yaitu kecurangan yang dilakukan oleh
pegawai perusahaan untuk mengambil keuntungan pribadinya yang berakibat merugikan
organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Jenis fraud ini sudah ada
sejak jaman sebelum masehi sampai dengan saat ini. Namun biasanya hanya mengakibatkan
kerugian yang relative kurang material bagi organisasi maupun pihak-pihak yang terkait
dengan organisasi tersebut. Profesi auditing telah mengantisipasi problem ini dengan cara
repressive yaitu dengan mendeteksi dan membuktikan adanya fraud, dan cara preventif yaitu
mendorong tersedianya system pengendalian intern yang built-in pada organisasi. Pada kasus
Enron Corporation yang terjadi adalah management fraud, yaitu manajemen perusahaan
tersebut telah berhasil mengelabuhi para pihak eksternal sehingga pada akhirnya mereka
menderita kerugian. Jenis fraud ini dilakukan secara sistematis, melibatkan kerjasama seluruh
jajaran manajemen, berlangsung dalam periode waktu yang panjang, dan merugikan pihak
eksternal secara material, misalnya perusahaan bangkrut. Profesi auditor selanjutnya berusaha
mengantisipasi terjadinya kedua jenis fraud tersebut dengan merancang struktur pengendalian
intern yang memasukkan komponen lingkungan pengendalian sebagai unsur yang terpenting.
Menurut COSO of Treadway Commmission, komponen struktur pengendalian intern meliputi
lingkungan pengendalian,penaksiran resiko pengendalian, aktivitas pengendalian, informasi
dan komunikasi, dan pemantauan atas pengendalian (Institute of Internal Auditor, 1985). Selain
itu pada akhir abad 20 investigative audit dan fraud auditing mulai dikenal sebagai cara untuk
mengatasi adanya kedua jenis fraud tersebut. Dalam article dengan judul The Role of
Investigative Auditing, dikatakan bahwa: “The conclusion derived from these failures is the
need for professionals in the field of fraud, the answer to such professional services lies in
investigative auditing. (Yehudah Barlev, 2004). Selanjutnya dikatakan bahwa sasaran dari
audit investigatif biasanya membuktikan adanya kecurangan (fraud), pencucian uang (money
laundering), dan aliran dana panas. Audit investigative biasanya dilaksanakan dengan audit
investigative eksternal yang terdiri dari para certified accountants yang dilatih dan
berpengalaman dalam kecurangan dan pelanggaran peraturan. Menurut Yehudah, peran audit
investigative hampir sama dengan forensic accounting.

Audit Kecurangan dan Forensik


Semakin maraknya kecurangan (fraud) di bidang ekonomi, bisnis, bahkan hingga ke
pemerintahan, menjadi keprihatinan dan sorotan bagi sebagian besar kalangan masyarakat.
Bentuk fraud yang terkenal di Indonesia adalah Korupsi. Tindakan korupsi seakan telah
menjadi penyakit kronis, hampir semua lini terjadi atau berpotensi melakukan korupsi.
Maraknya masalah kecurangan, maka diperlukan peran seorang auditor profesional di bidang
Audit Forensik.
Audit forensik makin mengemuka setelah di tahun 2013 terdapat maha kasus Bank
Century. Akhir-akhir ini pun kita ketahui, sederet kasus korupsi yang membuat amarah rakyat
Indonesia. Kasus yang paling menjadi sorotan adalah mega korupsi KTP elektronik. Nilai
kerugian negara atas kasus ini mencapai Rp2,3 Triliun dan hebatnya lagi dilakukan secara
berjama’ah oleh pejabat yang rata-rata merupakan anggota DPR.

Apa sebenarnya audit forensik itu?


Audit Forensik terdiri dari dua kata, yaitu audit dan forensik. Audit adalah tindakan untuk
membandingkan kesesuaian antara kondisi dan kriteria. Sementara forensik adalah segala hal
yang bisa diperdebatkan di muka hukum/pengadilan. Menurut Association of Certified Fraud
Examiners (ACFE), forensic accounting/auditing merujuk kepada fraud examination, yaitu:
“Forensic accounting is the application of accounting, auditing, and investigative skills to
provide quantitative financial information about matters before the courts.”
Sehingga, audit forensik merupakan fokus dari bidang audit untuk mengumpulkan dan
menyajikan informasi secara mendalam dalam bentuk yang dapat diterima oleh sistem hukum
di pengadilan untuk melawan para pelaku kejahatan ekonomi setelah adanya dugaan/indikasi
fraud.

Mengapa audit forensik diperlukan?


Audit Forensik ini sangat penting dilakukan oleh seorang auditor yang kompeten karena tugas
dari auditor forensik adalah memberikan pendapat hukum dalam pengadilan dan ada juga peran
auditor forensik dalam bidang hukum di luar pengadilan, misalnya dalam hal membantu
merumuskan alternatif penyelesaian perkara dalam sengketa, perumusan perhitungan ganti rugi
dan upaya menghitung dampak pemutusan atau pelanggaran kontrak. Adapun tujuan dari audit
forensik yaitu untuk mendeteksi atau mencegah berbagai jenis kecurangan (fraud).
Dalam praktik di Indonesia, audit forensik hanya dilakukan oleh auditor BPK, BPKP dan KPK
yang merupakan lembaga pemerintahan yang memiliki sertifikat CFrA (Certified Forensic
Auditor). Oleh karena itu, ilmu audit forensik dalam penerapannya di Indonesia hanya
digunakan untuk deteksi dan investigasi fraud, deteksi kerugian keuangan, serta untuk menjadi
saksi ahli di pengadilan.
Penggunaan audit forensik oleh BPK maupun KPK ternyata terbukti memberikan hasil yang
luar biasa positif. Hasil tersebut ialah kasus BLBI yang diungkap BPK. BPK mampu
mengungkap penyimpangan BLBI sebesar Rp84,8 Triliun atau 59% dari total BLBI yaitu
Rp144,5 Triliun. Temuan tersebut berimbas pada diadilinya beberapa mantan petinggi bank
swasta nasional.

Lantas, Keterampilan seperti apa yang harus dimiliki seorang auditor forensik agar
fraud terungkap?
Kompetensi khusus harus dimiliki oleh seorang auditor forensik agar dugaan/indikasi fraud
dapat terungkap benar/tidaknya, inilah yang membedakan auditor forensik dengan auditor
eksternal keuangan pada umumnya. Kompetensi tersebut antara lain:
·Keterampilan melakukan audit
·Pengetahuan dan keterampilan menginvestigasi
·Keahlian secara khusus di bidang psikologi kriminalitas.
·Pengetahuan akuntansi secara umum
·Pengetahuan mengenai hukum
·Pengetahuan dan keterampilan mengenai teknologi informasi (TI)
·Keterampilan berkomunikasi

Bagaimana proses audit forensik dilakukan?


1.Identifikasi masalah : auditor melakukan pemahaman awal terhadap kasus yang
hendak diungkap. Pemahaman awal ini berguna untuk mempertajam analisa dan
spesifikasi ruang lingkup sehingga audit bisa dilakukan secara tepat sasaran.
2.Pembicaraan dengan klien : auditor akan melakukan pembahasan bersama klien
terkait lingkup, kriteria, metodologi audit, limitasi, jangka waktu, dan sebagainya. Hal
ini dilakukan untuk membangun kesepahaman antara auditor dan klien terhadap
penugasan audit.
3.Pemeriksaan pendahuluan : Dalam tahap ini, auditor melakukan pengumpulan data
awal dan menganalisanya. Hasil pemeriksaan pendahuluan bisa dituangkan
menggunakan matriks 5W + 2H (who, what, where, when, why, how, and how much).
Investigasi dilakukan apabila sudah terpenuhi minimal 4W + 1H (who, what, where,
when, and how much). Intinya, dalam proses ini auditor akan menentukan apakah
investigasi lebih lanjut diperlukan atau tidak.
4.Pengembangan rencana pemeriksaan : auditor akan menyusun dokumentasi kasus
yang dihadapi, tujuan audit, prosedur pelaksanaan audit, serta tugas setiap individu
dalam tim. Setelah diadministrasikan, maka akan dihasilkan konsep temuan. Konsep
temuan ini kemudian akan dikomunikasikan bersama tim audit serta klien.
5.Pemeriksaan lanjutan : auditor akan melakukan pengumpulan bukti serta
melakukan analisa. Dalam tahap inilah audit sebenarnya dijalankan. Auditor akan
menjalankan teknik-teknik auditnya guna mengidentifikasi secara meyakinkan adanya
fraud dan pelaku fraud.
6.Penyusunan Laporan : Pada tahap akhir, auditor melakukan penyusunan laporan
hasil audit forensik. Dalam laporan ini setidaknya ada 3 poin yang harus diungkapkan.
Poin-poin tersebut antara lain adalah:
 Kondisi, yaitu kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.
 Kriteria, yaitu standar yang menjadi patokan dalam pelaksanaan kegiatan. Oleh karena
itu, jika kondisi tidak sesuai dengan kriteria maka hal tersebut disebut sebagai temuan.
 Simpulan, yaitu berisi kesimpulan atas audit yang telah dilakukan. Biasanya mencakup
sebab fraud, kondisi fraud, serta penjelasan detail mengenai fraud tersebut.
Bentuk fraud terutama korupsi memang merupakan kejahatan yang luar biasa, maka harus
secara luar biasa pula penanganannya, dibongkar dan dituntaskan melalui teknologi forensik
sehingga diperoleh alat bukti yang dapat diterima oleh hukum yang berlaku. Tidak serta merta
penanganan fraud dapat dilakukan oleh auditor laporan keuangan pada umumnya, hal tersebut
ibarat mengikat kuda menggunakan benang jahit. Sehingga diperlukan tim khusus forensik
untuk membedah kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Peran proaktif dari masyarakat juga
diperlukan untuk melakukan pengaduan apabila dalam lingkup organisasinya mengendus hal-
hal yang mencurigakan. Dengan demikian, fraud yang terjadi di Indonesia dapat ditekan
seminimal mungkin.

Hubungan Audit Khusus dan Forensik


Audit Khusus disebut juga Audit Investigasi. Audit Investigasi berhubungan dan
berkaitan dengan tugas auditor untuk mengungkap kecurangan. Hubungan antara auditor
investigasi dan forensik yaitu karena sifat dasar dari audit forensik yang berfungsi untuk
memberikan bukti di muka pengadilan, maka fungsi utama dari audit forensik adalah untuk
melakukan audit investigasi terhadap tindak kriminal dan untuk memberikan keterangan
saksi ahli di pengadilan.
Akuntan forensik memiliki keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang
terkait dengan siklus penipuan, termasuk resolusi hukum. Karena ruang lingkup penipuan,
fakta bahwa penipuan terjadi di banyak area yang berbeda, ada banyak kelompok yang
berbeda yang bisa mendapatkan keuntungan dari jasa seorang akuntan forensik.
Auditor yang berkompeten dalam melakukan audit investigasi dinamakan auditor
fraud, auditor investigasi dan akuntan forensik. Walaupun memiliki nama yang berbeda
namun tugas yang dilaksanakan sama yaitu untuk mengungkapkan kecurangan, sejak
kapan kecurangan terjadi, bagaimana kecurangan itu dilakukan, berapa kerugian yang
ditimbulkan, siapa saja yang terlibat, apa motifnya, dimana dilakukan, hukum atau aturan
apa yang dilanggar, siapa yang dirugikan, dan hal-hal yang berkaitan dengan bukti.

Praktik Audit Kecurangan

Fraud
Menurut hasil riset Indonesian Transparency yang dirilis pada akhir tahun 2014,
peringkat Indonesia menempati urutan 107 negara terkorup dari total 175 negara. Peringkat
Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina,
Singapura bahkan negera berkembang lainnya seperti Srilangka. Sedemikian korup nya
Negara kita ini, dan mengakar pada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat. Baik di
pemerintahan kita maupun ranah swasta. Lalu muncul pertanyaan mendasar dalam benak
kita, apakah korupsi itu dapat diberantas? Bagaimana cara memberantas korupsi tersebut?
Untuk dapat memberantas korupsi, kita perlu memahami faktor yang mendorong kenapa
terjadinya korupsi, bagaimana bentuk korupsi dan modus terjadinya korupsi. Pada tulisan
ini kita akan membahas bentuk-bentuk kecurangan.

Bentuk-Bentuk Fraud (Kecurangan)


Ternyata korupsi adalah salah satu dari bentuk kecurangan atau sering disebut
dengan fraud. Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), fraud adalah
perbuatan curang yang dilakukan dengan berbagai cara secara licik dan bersifat menipu
dan sering tidak disadari oleh korban yang dirugikan. Dan kecurangan dapat dibagi
menjadi tiga bagian besar yaitu

1. Penyalahgunaan Aset Perusahaan (Asset Misappropriation)


Merupakan bentuk kecurangan dengan cara menggunakan atau mengambil asset
perusahaan untuk kepentingan pribadi. Seperti mengambil uang perusahaan, barang
dagang perusahaan, menggunakan mobil dinas untuk keperluan pribadi.
2. Kecurangan Laporan Keuangan (Fraudulent Financial Statement)
Merupakan bentuk kecurangan dengan menyembunyikan informasi keuangan,
mengatur laporan keuangan dan mengubah laporan keuangan dengan tujuan
mengelabui pembaca laporan keuangan untuk kepentingan pribadi atau perusahaan.
Sepert contoh perusahaan mengatur laporan keuangannya agar harga sahamnya
meningkat.
3. Korupsi (Corruption)
Korupsi adalah salah satu bentuk kecurangan dengan menyalahgunakan kewenangan
jabatan atau kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Bentuk-bentuk korupsi dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu
o Benturan kepentingan (conflict of interest)
Benturan kepentingan (conflict of interest) terjadi saat seorang pegawai, manajer, atau
eksekutif memiliki kepentingan ekonomis perorangan dalam transaksi yang
bertentangan dengan kepentingan pemberi kerjanya.
Dalam beberapa hal, kepentingan tersebut tidaklah selalu berupa kepentingannya
sendiri. Terdapat beberapa kasus dimana si pegawai melakukan tindakan yang
bertentangan dengan kepentingan perusahaan demi keuntungan kaawan atau
saudaranya, walaupun dia sendiri tidak memperoleh keuntungan finansial dari
tindakannya tersebu
o Pemberian Hadiah Yang Illegal (illegal gratuity)
Pemberian sesuatu yang mempunyai nilai kepada seseorang tanpa disertai dengan niat
untuk mempengaruhi keputusan bisnis tertentunya. Pemberian tersebut biasanya
dilakukan setelah keputusan bisnis yang menguntungkan orang atau pemasok tertentu
telah dilakukan. Pihak-pihak yang diuntungkan dengan adanya keputusan tersebut
memberikan hadiah sesuatu kepada pegawai yang mengambil keputusan.
o Pemerasan (economic extortion)
Pemerasan ini dilakukan oleh orang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan
sesuatu. Dengan kewenangan yang dimilikinya maka pelaku kecurangan meminta
pihak yang terkait untuk memberikan keuntungan keuangan. Contoh kecurangan ini,
pemasok bukannya menawarkan pembayaran suap untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan si pembeli, namun justru pegawai perusahaan pembelilah yang meminta
pemasok untuk membayar sejumlah tertentu pada dia agar membuat keputusan yang
menguntungkan si pemasok. Jika si pemasok menolak membayar, dia akan menghadapi
kerugian, seperti kehilangan kesempatan untuk menjadi pemasok perusahaan tersebut.
o Penyuapan (bribery)
Suap dapat didefinisikan sebagai penawaran, pemberian, atau penerimaan segala
sesuatu dengan niat untuk mempengaruhi aktivitas pegawai. Sering dikenal juga dengan
istilah commercial bribery yaitu berkaitan dengan penerimaan uang di bawah meja
sebagai imbalan atas penggunaan pengaruhnya dalam pelaksanaan transaksi
bisnis. Dalam kejahatan suap tersebut, si karyawan / pegawai menerima pembayaran
tanpa sepengetahuan si pemberi kerja.
Jadi korupsi itu hanya sebagian dari bentuk kecurangan, dan bentuk korupsi bukan
hanya dalam bentuk suap saja.

Etika Profesi Dalam Akuntansi


Etika profesi akuntansi yaitu suatu ilmu yang membahas perilaku atau perbuatan
baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia terhadap
pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan
khusus sebagai akuntan.
Seperti yang disebutkan di atas, etika ini mengatur bagaimana seorang akuntan
melakukan pekerjaannya. Tanpa kode etik, seorang akuntan bisa saja langsung
diberhentikan. Karena dalam profesi akuntansi, skandal yang bertentangan dengan kode
etik merupakan masalah besar. Itulah sebabnya Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI)
megeluarkan kode etik yang harus dipatuhi oleh akuntan. Terdapat delapan prinsip dasar
etika profesi akuntansi yang harus dipahami oleh setiap akuntan yang menjalankan
pekerjaannya.

Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk menjauhi
tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi sebagai perwujudan
tanggungjawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi
kerja, dan masyarakat umum. Dalam upaya memasarkan dan mempromosikan diri dan
pekerjaan, akuntan professional sangat tidak dianjurkan mencemarkan nama baik profesi.
Akuntan wajib mempunyai sikap jujur dan dapat dipercaya.

Tanggung Jawab Profesi


Seorang akuntan dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai harus senantiasa
menggunakan pertimbangan moral dan profesional terhadap semua kegiatan yang
dilaksanakannya. Anggota memiliki tanggung jawab kepada pemakai jasa mereka dan
tanggung jawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi
akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut diperlukan
untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

Standar Teknis
Setiap kegiatan harus mengikuti standar teknis dan standar profesional yang relevan.
Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan berkewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa, selama penugasan tersebut sejalan dengan
prinsip integritas dan objektivitas. Standar teknis dan standar professional yang harus
ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-
undangan yang relevan.

Kepentingan Publik
Anggota akuntan profesional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka pelayanan
kepada publik, menghormati kepercayaan publik serta menunjukkan sikap
profesionalisme. Salah satu ciri dari profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada
publik. Profesi akuntan juga memegang peranan penting di masyarakat. Arti publik dari
profesi akuntan meliputi klien, pemerintah, pemberi kredit, pegawai. Investor, dunia bisnis
dan pihak-pihak yang bergantung kepada integritas dan objektivitas akuntan dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib.

Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi
tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. Integritas
mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus
mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh
dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau
peniadaan prinsip.

Kerahasiaan
Prinsip kerahasiaan mengharuskan setiap akuntan untuk tidak melakukan hal berikut ini.
a. mengungkapkan informasi rahasia yang diperolehnya dari hubungan profesional dan
hubungan bisnis pada pihak di luar kantor akuntan atau organisasi tempat akuntan bekerja
tanpa diberikan kewenangan yang memadai dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak
dan kewajiban secara hukum atau profesional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut.
b. Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga. Informasi
yang diperoleh baik melalui hubungan profesional maupun hubungan bisnis.

Objektivitas
Prinsip kerahasiaan mengharuskan setiap akuntan untuk tidak melakukan hal berikut ini.
a. mengungkapkan informasi rahasia yang diperolehnya dari hubungan profesional dan
hubungan bisnis pada pihak di luar kantor akuntan atau organisasi tempat akuntan bekerja
tanpa diberikan kewenangan yang memadai dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak
dan kewajiban secara hukum atau profesional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut.
b. Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga. Informasi
yang diperoleh baik melalui hubungan profesional maupun hubungan bisnis.

Kompetensi & Kehati-hatian Profesional


Prinsip kompetensi dan kehati-hatian professional mengharuskan setiap anggota akuntan
untuk:

a. Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjamin


pemberi kerja (klien menerima layanan yang profesional dan kompeten.
b. Bertindak tekun dan cermat sesuai teknis dan profesional yang berlaku ketika
memberikan jasa profesional.

Etika profesi dalam bidang akuntansi sangat perlu diperhatikan oleh setiap akuntan untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan memahami etika profesi dengan baik,
maka akuntan seharusnya dapat bekerja dengan maksimal, salah satunya dengan membuat
laporan keuangan yang terperinci.

Auditor Sebagai Saksi Ahli


Salah satu peran auditor Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam perkara
tindak pidana korupsi (Tipikor) adalah peran sebagai pemberi keterangan ahli yang
merupakan salah satu jenis alat bukti (sesuai KUHAP pasal 184). Auditor merupakan
seorang yang mempunyai keahlian dalam bidang akuntansi dan auditing, sehingga
keahliannya dapat dipandang sebagai suatu alat bukti dengan melakukan pemberian
keterangan ahli di sidang pengadilan tindak pidana korupsi. Pasal 1 butir 28 KUHAP
menyatakan bahwa keterangan ahli merupakan keterangan yang diberikan oleh seorang
yang memiliki keahlian yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana
guna kepentingan suatu pemeriksaan.
Seorang auditor yang ditugaskan sebagai pemberi keterangan ahli, walaupun bukan
seorang ahli dalam ilmu hukum, hendaknya perlu memahami ketentuan-ketentuan
hukum yang terkait dengan pemberian keterangan ahli. Beberapa ketentuan hukum yang
perlu dipahami oleh auditor adalah ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-undang
Hukum Acara Pidana. Keterangan ahli sebagai salah satu alat bukti diatur dalam pasal
184 KUHAP yang menyatakan bahwa alat bukti yang sah ialah keterangan saksi,
keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa.
Selanjutnya dalam pasal 186 KUHAP dinyatakan bahwa keterangan ahli ialah apa yang
seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Selanjutnya dalam penjelasan pasal 186
tersebut dinyatakan bahwa keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu
pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk
laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau
pekerjaan. Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau
penuntut umum, maka pada pemeriksaan di sidang, diminta untuk memberikan
keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan. Keterangan tersebut diberikan
setelah ia mengucapkan sumpah atau janji di hadapan hakim.
DAFTAR ISI

Boynton C.William., Johnson, dan Kell.2003. Modern Auditing. Jakarta: Erlangga

https://www.coursehero.com/file/25766024/bab-1-audit-forensik-4-dan-5docx/

http://jtanzilco.com/blog/detail/875/slug/membedah-fraud-melalui-audit-forensik

https://www.jurnal.id/id/blog/2017-8-prinsip-dasar-etika-profesi-akuntansi/