Anda di halaman 1dari 42

SKENARIO 4

Kasihan Sekali Lisa...


Oleh :

KELOMPOK 5
ANATOMI DAN FISIOLOGI
TUBA EUSTACHIUS (TE)
DEFINISI
DAN
KLASIFIKASI
DEFINISI

• Otitis media adalah peradangan sebagian


atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel
mastoid.
KLASIFIKASI
OM. Supuratif Akut (OMA)

OM. Supuratif Tipe Benigna

OM. Supuratif Kronik ( OMSK)

Tipe Maligna
OM. Spesifik
Otitis media

OM. Adhesiva
OM. Serosa Akut

OM. Non Supuratif Otitis Media Serosa

OM. Serosa Kronik


EPIDEMIOLOGI
• Prevalensi OMA di setiap negara bervariasi, berkisar antara 2,3 - 20%
• Berbagai studi epidemiologi di Amerika Serikat (AS), dilaporkan prevalensi terjadinya OMA
sekitar 17 - 20%
• Studi epidemiologi OMA di negara-negara berkembang sangat jarang. prevalensi OMA pada
anak-anak di bawah 12 tahun pada tahun 2005 sebesar 11,8 %
• Berdasarkan survei kesehatan Indera Pendengaran tahun 1994 1996 pada 7 provinsi di
Indonesia didapatkan prevalensi penyakit telinga tengah populasi segala umur di Indonesia
sebesar 3.9 %. Di Indonesia belum ada data nasional baku yang melaporkan angka kejadian
OMA
• Pada penelitian di Kotamadya Jakarta Timur tahun 2012 didapatkan angka prevalensi OMA pada
anak-anak sebesar 5,4% (Umar, 2013).
ETIOLOGI OMA
Sumbatan Perubahan
pada Tuba Tekanan Udara Alergi
Eustacius Mendadak

Virus Bakteri
FAKTOR RESIKO
OMA
PPK, 2017
<2 th

1st  <6 bln


LO PATOFISIOLOGI
OMA
-Belum
Stadium Oklusi demam
-Sulit
dibedakan
dengan
tanda dari
ISPA
otitis media
Bakteri (S.
serosa yang
pneumoniae >>)
disebabkan
Viral (adenovirus >>)
virus dan
alergi.
Oedem mukosa sal.
napas atas (nasofaring,
tuba Eustachius)

Obstruksi osteum tuba Gangguan ventilasi


Eustachius dalam cavum timpani

O2 dlm cavum timpani Tekanan dlm cavum


diresorpsi mukosa timpani menurun (P<1
atm)

RETRAKSI MEMBRAN
TIMPANI
16
Stadium Presupurasi/hiperemis

ISPA
Bakteri (S.
pneumoniae >>)
Viral (adenovirus >>)

Penurunan defensi
mukosilier + Obstruksi TE

Ascending bacterial
(±viral) infection via TE

Sekret bersifat
Peningkatan kolonisasi eksudat yang
Peningkatan adhesi serosa
bakteri
Pelepasan mediator-mediator Hiperemis
inflamasi (prostaglandin, Edema
Fagositosis bakteri Demam
bradikinin, C3, C3a)
Nyeri (otalgia)
17
-edem hebat
-eksudat
Stadium Supurasi purulen
-nadi dan
suhu
meningkat
Pasokan udara tidak -nyeri hebat
Nekrosis mukosa dan
ada sedangkan Iskemia MT
submukosa MT
resorbsi O2 terus jalan

Tekanan dlm cavum “yellow spot”


timpani terus menurun

Permeabilitas pem.
darah meningkat

Transudasi cairan dari


pem. darah ke dlm
cavum timpani
(hydrops ex vacuo)

Cairan mukopurulen
Tekanan dlm cavum Cairan dlm cavum timpani
timpani meningkat (P<1 diikuti oleh infeksi kuman dari
atm) ISPA MT BULGING
18
Stadium Perforasi -Px >> tenang
-suhu badan
turun

MT bulging

Cairan terus bertambah

Ruptur MT (perforasi)

Cairan keluar
mengalir ke liang
telinga luar >3 mgg: OM supuratif subakut
(bersifat pulsasi) >1,5-2 bln: OMSK

19
Stadium Resolusi

Otorrhea mulai
berhenti

MT menjadi normal,
perforasi menutup

Sekret purulen mulai


berkurang dan
mengering
SYARAT:
MT utuh,
Pendengaran kembali normal virulensi rendah,
daya tahan tubuh baik

GAGAL OMSK

20
KRITERIA
DIAGNOSIS
American Family Physician, 2007
0 – 3 : OMA ringan
>3 : OMA berat
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
OMA
Pemeriksaan otoskopi
memberikan informasi
tentang gendang telinga
yang dapat digunakan
untuk mendiagnosis otitis
media.
Otitis media akut ditandai
dengan penonjolan
gendang telinga yang
merah pada pemeriksaan
otoskopi. Penanda tulang
dan reflek cahaya
mungkin kabur.
Timpanogram
• Timpanogram, suatu
pemeriksaan yang
mencangkup pemasangan
sonde kecil pada telinga
luar dan pengukuran
gerakan membrane
timpani (gendang telinga)
setelah adanya tonus
yang terfiksasi, juga
dapat digunakan untuk
mengevaluasi mobilotas
membrane timpani.
• Pemeriksaan audiologi
• Kultur dan
memperlihatkan deficit
pendengaran, yang sensitivitas
meruapakan indikasi
penimbunan cairan
(infeksi atau alergi).
TATALAKSANA OMA
DIAGNOSIS BANDING
OTITIS MEDIA OTITIS EKSTERNA
EFUSI DIFUS

MIRINGITIS
OTITIS MEDIA EFUSI (OME)

1. Rasa penuh ditelinga


2. Pendengaran berkurang
3. Tidak didapatkan adanya tanda-tanda infeksi dan demam
4. MT suram, keabuan atau kemerahan,
5. MT retraksi atau terdorong ke luar atau pada posisi normal
6. MT menipis/menebal, vaskularisasi bertambah.
7. Kadang-kadang tampak adanya gelembung udara atau cairan di kavum timpani
OTITIS EKSTERNA DIFUS

1. Sakit telinga yang memburuk setelah memasukkan korek kuping atau menekan telinga
2. Gatal dalam telinga
3. Sedikit demam (kadang-kadang)
4. Keluar nanah dari dalam telinga
5. Kehilangan pendengaran sementara
6. Kadang-kadang terdapat benjolan kecil atau bisul di dekat saluran telinga. Benjolan tersebut
menyebabkan sakit yang luar biasa. Dan apabila kempes, darah atau nanah akan mengucur
dari sana
MIRINGITIS

1. Nyeri daerah telinga onset 2-3 hari (Karena terbentuknya Bula didaerah yang banyak
persarafan)
2. Didapatkan nyeri ketika pinna di tarik.
3. Adanya riwayat trauma pada telinga (akibat membersihkan telinga ataupun riwayat penetrasi
benda asing ke dalam telinga)
4. Gangguan pendengaran berupa tuli konduksi atau tuli sensorineural
5. MT meradang dengan satu atau lebih bula
6. Limfadenopati servikal posterior
TATALAKSANA MENURUT STADIUM NYA
STADIUM OKLUSI :
obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam STADIUM PERFORASI :
larutan fisiologik untuk anak <12 thn. obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari
HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik serta antibiotik yang adekuat sampai 3
untuk anak yang berumur >12 thn atau minggu.
dewasa

STADIUM RESOLUSI :
biasanya akan tampak sekret mengalir
keluar. Pada keadaan ini dapat
dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu.
STADIUM PRESUPURASI :
diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan
STADIUM SUPURASI :
analgesik.
pasien harus dirujuk untuk dilakukan
Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari.
miringotomi bila membran timpani masih
Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100
utuh. Selain itu, analgesik juga perlu
mg/KgBB, amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari,
diberikan agar nyeri dapat berkurang.
atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.
ANTIBIOTIC THERAPY

AAFP, 2013
OBSERVATION VS ANTIBIOTIC THERAPY

AAFP, 2013
ANALGESIK

AAFP, 2013
Myringotomy & Tympanostomy Tube Placement
KOMPLIKASI
PROGNOSIS
Department of Otolaryngology in The University of Texas Medical Branch (2009)

Intratemporal Intrakranial

Mastoiditis Meningitis

Facial Nerve Paralysis Brain Abcess

Labyrinthitis Extradural Abcess

Gradenigo’s Syndrome
Prognosis
• Risiko komplikasi meningkat jika OMA bertahan > 2 minggu 
prognosis cukup jelek
• Pada masa pra AB  komplikasi intracranial 76,4 %
• OMA  Meningitis  sembuh  meninggalkan gejala sisa
neurologis (kejang dan gangguan perilaku).