Anda di halaman 1dari 13

1.

Seorang anak perempuan berusia 25 tahun datang ke poliklinik karena mual dan
kembung sejak 10 hari yang lalu. Sejak 6 bulan yang lalu dia merasa begah, nyeri perut,
dan mengalami gangguan buang air besar. Tinjanya kadang encer, dengan frekuensi
buang air besar 3-4kali/hari, tetapi kadang sampai 4 hari baru bias buang air besar yang
konsistensinya keras. Nn S tampak pucat dan kurus. Selama ini ia hanya membeli obat di
warung. Ia mengaku stress sejak putus hubungan dengan pacarnya 7 bulan yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tinggi badan 152cm, berat bedan 40kg, dan abdomen:
nyeri tekan ulu hati dan perut kiri bawah, meteorismus (+).
Pemeriksaan laboratorium:
- kadar hemoglobin 10.1g/dL
- hitung leukosit 7.300/µL
- hitung trombosit 222.000/µL
- kadar SGOT/SGPT normal
- serologi Helicobacter Pylori (+)
- pemeriksaan tinja: positif telur cacing Tricuristrichiuria

Pertanyaan:

a) Apakah diagnosis pasien tersebut?


Irritable bowel syndrome (IBS-M) + infeksi H. pylori
b) Dari data yang ada, apa saja data yang mendukung atau menyingkirkan diagnosis
yang anda tegakkan?
IBS-M : riwayat diare dan konstipasi berulang > 3 bulan, riwayat pencetus psikologis
(putus pacar 7 bulan lalu)
H. pylori : mual, kembung, nyeri tekan ulu hati, anemia, serologi H. pylori (+)
c) Apakah tata laksana yang akan anda berikan?
non farmakologis : edukasi, terapi psikologik/CBT
farmakologis : antidiare (cth: loperamide) / laksatif (cth: Bisacodyl/lactulose),
probiotik, antibiotik untuk H. pylori (lihat regimen terapi)
2. Seorang anak laki-laki berusia 30 tahun tinggal di daerah pemukiman yang kumuh dan
padat di Jakarta, dating ke RS dengan keluhan utama batuk sejak 3 bulan yang lalu.
Sebelum ini, ia telah berobat beberapa kali ke praktek dokter, mendapat pengobatan
selama 5-7hari namun tidak ada perbaikan. Batuk disertai dahak kuning. Ia mengeluh
demam hilang timbul, nafsu makan yang menurun, dan badan yang makin kurus.
Rumahnya kelihatan agak gelap dan lembab karena kurang terkena sinar matahari. Ia
bekerja sebagai buruh pabrik, istrinya seorang ibu rumah tangga dan mempunyai 2 orang
anak masing-masing berumur 7 tahun dan 2 tahun.
Pada pemeriksaan fisik: tampak sakit sedang, kompos mentis, TD: 130/80mmHg, N
98x/mnt, frek napas 20x/mnt, S 36.8°C, JVP 5 – 2 cmH2O. pada pemeriksaan toraks
didapatkan dada asimetris, paru kiri tertinggal, perkusi redup, bising napas menghilang.
Paru kanan sonor, bronkovesikuler, ronki basah kasar di apeks paru kiri. Pemeriksaan
jantung: bunyi jantung murni, gallop (-), murmur (-). Pemeriksaan abdomen dan
ektrimitas tidak didapatkan kelainan.
Hasil pemeriksaan laboratorium ayah:
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hb 11g/dL 11-14 g/dL
Leukosit 10.800/µL 5.000-10.000/µL
Hct 34vol% 38-42vol%
PLT 278.000ribu/µL 150-450ribu/µL
Bas 1%, eos 1%, batang 7%, segmen 34%, lim 56%,
Hitung jenis
mono 1%
Laju endap darah 60 ml/jam

Pertanyaan:
a) Apakah diagnosis dan diagnosis banding pada pasien ini?
TB paru,
DD: CAP, abses paru, tumor paru
b) Dari data yang ada, apa saja data yang mendukung atau menyingkirkan diagnosis
yang anda tegakkan?
anamnesis – status sosio-ekonomi rendah, batuk 3 bulan, demam hilang timbul, BB
menurun, rumah kurang cahaya matahari
pemfis – toraks asimetris, perkusi redup, bunyi napas menurun, ronki di apeks paru,
jantung/abdomen dalam batas normal
lab – leukositosis, limfositosis, LED meningkat
c) Apakah pemeriksaan penunjang lainnya yang anda akan lakukan?
foto thorax PA/lateral, pemeriksaan sputum BTA
d) Apakah tata laksana pada pasien ini?
non-farmakologis : edukasi minum obat teratur hingga 6 bulan, etika batuk,
screening anggota keluarga
farmakologis : 2RHZE + 4R3H3
3. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dibawa ke unit gawat darurat di RS dalam
keadaan tidak sadar oleh teman-temannya. Pasien tidak sadarkan diri setelah terjatuh dari
sepeda motor saat mengikuti balapan liar Bersama teman-temannya. Ia terjatuh tanpa
menggunakan helm pengaman. Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien dalam keadaan
tidak sadar, terdengar ngorok, tidak merespon nyeri, keluar darah dari kedua lubang
hidung dan telinga. Tensi 90/70mmHg, nadi 120x/mnt, teraba lemah dan halus, RR
16x/mnt. Didapatkan deformitas pada wajah, lengan bawah kanan dan luka terbuka pada
paha kanan bagian tengah.
a) Apakah diagnosis lengkap pada pasien tersebut?
Trauma kapitis berat + fraktur basis cranii + fraktur terbuka regio antebrachii dextra +
fraktur terbuka regio femur dextra + syok hemoragik
b) Apakah tindakan selanjutnya (pemeriksaan penunjang dan tata laksana) bagi pasien
tersebut?
Airway – jawthrust maneuver, intubasi endotrakeal, stabilisasi C-spine
Breathing – oksigen via mask
Circulation – pasang IV line, cairan kristaloid
pemeriksaan penunjang dan tatalaksana : CT-scan kepala, X-ray antebrachium dan
femur dextra AP/lateral, pasang collar neck, bersihkan luka dan bidai, rujuk bedah
saraf dan ortopedi
4. Seorang perempuan 28 tahun, pendidikan SMP, menikah, ibu rumah tanggah, dating ke
klinik anda dengan keluhan nyeri saat berkemih yang disertai keputihan seperti nabah
berwarna kuning yang dirasakan sejak 2 minggu terakhir. Suami pasien bekerja sebagai
supir bus antar kota. Hubungan terakhir dengan suami sekitar 1 bulan yang lalu.
Menurutnya suami juga mengeluh hal yang sama dengannya. Suami pasien merokok dan
mengkonsumsi alcohol.
Pada pemeriksaan fisik, inspeksi vagina tampak secret kental berupa nanah dan berbau.
Lain-lain masih dalam batas normal.
a) Apakah diagnosis dan diagnosis banding kasus tersebut?
Uretritis gonore (kuning, nanah, berbau, suami bergejala)
DD : Uretritis non-gonore
b) Apakah tata laksana farmakologis pasien?
Cefixime 400mg SD PO + Azithromycin 1 gr SD PO
c) Apakah tindakan yang dilakukan bagi pasangannya, dan bagaimana tinjauan etika
pada kasus ini?
Melakukan edukasi mengenai cara penularan gonore serta meminta pasien membawa
pasangan agar dapat dilakukan terapi
5. Seorang laki-laki berusia 50 tahun bekerja sebagai petani dating dengan keluhan koreng
di pipi kanan sejak 4 bulan yang lalu. Awalnya berupa benjolan datar berwarna hitam
sebesar biji jagung yang makin lama makin besar. Benjolan tidak tersa nyeri dan gatal.
Benjolan sering di korek-korek dengan kuku oleh pasien, sehingga luka menjadi koreng.
Di leher banyak ditemukan penebalan kulit seperti kutil yang datar berwarna gelap
dengan berbagai ukuran. Sudah diobati dengan salep tetapi keluhan tidak sembuh. Pada
pemeriksaan tampak ulkus di pipi kanan dengan diametr 2cm, tepi tidak rata dan
meninggi, bergaung, dengan dasar krusta hitam. Kulit di sekitar ulkus terlihat normal.
Pada leher didapatkan plak hiperkeratotik dan papul berwarna coklat, multiple, tersebar
diskret.
a) Apakah diagnosis pasien ini?
Karsinoma sel basal + lentigo senilis
b) Buatlah rujukan untuk tta laksana lanjut pasien!
6. Seorang laki-laki, 52 tahun dating ke tempat praktik anda dengan keluhan sering bangun
malam hari karena ingin buang air kecil (BAK). Keluhan ini sudah dialami sejak 3 bulan
yang lalu tapi makin lama makin sering. BAK dalam dalam saat waktu tidur malam
dialami 3-4kali. Pasien juga mengeluh berat badannya turun sekitar 10kg dalam 1 bulan
terakhir. Buang air besar (BAB) tidak ada masalah, makan cenderung lebih banyak
daripada biasanya. Riwayat penyakit dahulu disangkal, riwayat penyakit keluarga: ibu
meninggal karena pemyakit stroke.
Pemeriksaan fisik didapatkan BB 94kg, TB 162cm, TD 120/80mmHg, nadi 84x/mnt.
Kepla, leher, thoraks, abdomen dalam batas normal. Hasil pemeriksaan Gula Darah
Sewaktu 312mg/dL.
Pertanyaan:
a) Tentukan data subyektif dan obyektif yang perlu dicari dalam anamnesis dan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Subjektif : polydipsia, polyuria, polifagia, riwayat penyakit sebelumnya/penyerta,
riwayat penurunan berat badan, riwayat keluarga DM, riwayat pengobatan
Objektif : IMT, lingkar perut, tanda vital, GDS, GDP, TTGO, HbA1C, fungsi hati,
fungsi ginjal, profil lipid
b) Temukan diagnosis kerja
DM tipe 2 + obesitas
c) Tuliskan terapi yang tepat berikut bentuk sediaan, dosis obat, cara dan waktu
pemberian obat, jangka waktu pemberian obat
Terapi nutrisi medis, olahraga
Farmakologik mulai dengan metformin
d) Edikasi kepada pasien dan keluarga dan/atau masyarakat di sekitarnya untuk
mencegah dan memperbaiki kualitas hidup mereka.
Edukasi perjalanan penyakit DM, cegah obesitas, olahraga yang cukup, screening
berkala (tergantung factor resiko, lihat consensus DM), mengingatkan pasien untuk
minum obat teratur.
7. Seorang anak perempuan usia 18 bulan, dibawa orang tuanya ke IGD anda dengan
keluhan diare sejak 2 hari sebelumnya. Frekuensi diare sekita 10x/hari, dengan
konsistensi cair. Selain diare, pasien juga mengalami muntah. Saat ini pasien tampak
lemah, tidak punya keinginan minum. Pada pemeriksaan fisik: tampak sakit berat, lemat,
TD 90/68mmHg , nadi 170x/menit, tangan dan kaki terasa dingin, turgor turun, capillary
refill test >2detik.
Pertanyaan
a) Tentukan diagnosis kerjanya
Diare akut dengan dehidrasi berat
b) Bagaimana tata laksana kasus ini?

8. Seorang laki-laki berusia 18 tahun dating ke UGD RS dengan keluhan demam selama
lima hari. Hari pertama demam tidak tinggi, namun hari selanjutnya demam makin tinggi,
terutama sore hari. Demam disertai sakit kepala, perut kembung, dan pernah mencret.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 39.7C, lidah kotor dengan tepi hiperemis, hepar
membesar dua jari dibawah arkus kosta, lien tidak teraba. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan Hb 8, trombosit 370.000/µL, Ht 26%
Pertanyaan :
a) Tentukan data subyektif dan obyektif yang perlu dicari dalam anamnesis dan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Subjektif : Demam terus-menerus 5 hari, terutama sore hari. Gejala gastrointestinal,
riwayat makan tidak higienis, riwayat penyakit tifoid sebelumnya.
Objektif : TTV bradikardi relative, lidah kotor dengan tepi hiperemis, hepatomegaly
(+), darah perifer lengkap (anemia, leukositosis), Widal test, Tubex test, kultur darah
dengan media empedu.
b) Temukan diagnosis kerja
Suspek demam tifoid + anemia
c) Tuliskan terapi yang tepat berikut bentuk sediaan, dosis obat, cara dan waktu
pemberian obat, jangka waktu pemberian obat
Non-farmakologik : tirah baring, diet bergizi, konsistensi lunak, rendah serat, cukup
kalori dan protein.
Antibiotik : kloramfenikol / ciprofloxacin / ceftriaxone
Antipiretik : Paracetamol 500 mg 3-4x/hari IV
d) Edikasi kepada pasien dan keluarga dan/atau masyarakat di sekitarnya untuk
mencegah dan memperbaiki kualitas hidup mereka
Mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan makanan, edukasi mengenai
pengobatan dan perawatan demam tifoid
9. Seorang laki-laki umur 32 tahun dating ke praktik anda dengan keluhan nyeri saat buang
air kecil sejak 5 hari yang lalu. Saat kencing akan berakhir, keluar cairan seperti susu
kekuningan yang menetes. Pasien sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Saat ini,
pasien sedang jadwal liburnya sebagai pelaut, sehingga pasien pulang ke rumahnya
sendiri dan berkumpul bersama.
Pertanyaan:
a) Tentukan data subyektif dan obyektif yang perlu dicari dalam anamnesis dan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Subjektif : pekerjaan, riwayat ganti pasangan, nyeri BAK, masa inkubasi
Objektif : sekret kekuningan, pembesaran kelenjar limfe regional (-), pewarnaan
gram, kultur sekret
b) Temukan diagnosis kerja dan satu diagnosis banding
Suspek urethritis gonore
DD : urethritis non-gonore
c) Tuliskan terapi yang tepat berikut bentuk sediaan, dosis obat, cara dan waktu
pemberian obat, jangka waktu pemberian obat

d) Bagaimana edukasi dan konseling kepada pasien dan istrinya?


edukasi untuk tidak berganti pasangan, screening dan terapi pasangan tetap dan
pasangan lainnya.
10. Seorang perempuan usia 22 tahun didiagnosis KET dan sudah hemorrhagic shock diantar
oleh laki-laki yang mengaku pacarnya usi 21 tahun. Dokter harus segera menyelamatkan
nyawa pasien untuk melakukan operasi, tapi keadaan pasien setangah sadar dan
memohon kepada dokter untuk tidak memberitahukan kepada orang tuanya perihal
kehamilannya ini.
a) Jika kasus ini terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu melakukan seluruh
tatalaksana kasus ini, bagaimana tindakan yang perlu dilakukan oleh dokter dalam
perilhal informed consent?
b) Jika kasus ini terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan primer tempat anda berpraktik,
buatlah surat rujukan sebagai pengantar bagi pasien untuk mendappatkan penanganan
lebih lanjut.