Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTEK LAPANG ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN BENIH

SERTA TEKNOLOGI BENIH DI UD. WONG TANI SAE JEMBER

Koordinator : Ir. Moch. Bintoro, MP


Teknisi : 1. Prayit, SP.
2. Alfian, S, ST

Oleh

Ayu Widyawati Endah Prasetya


A41161660
Gol C

PROGRAM STUDI D-4 TEKNIK PRODUKSI BENIH


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sektor pertanian di indonesia sebagian besar penduduk memiliki mata


pencaharian sebagai petani. Indonesia sendiri adalah negara agraris. Keadaan iklim dan
cuaca akan perperan paling besar dalam sektor ini dalam proses pengolahan pertanian. Untuk
itu dengan adanya teknologi berupa alat dan mesin pertanian guna mempermudah pekerjaan
dalam sektor pertanian.

Petani Indonesia masih banyak yang memakai cara-cara tradisional dalam kegiatan
pengolahan pertanian, cara-cara itu selain menghabiskan tenaga dan waktu, juga
menghabiskan biaya. Dengan adanya hal ini proses perkembangan dibidang teknologi
pertanian indonesia akan berjalan lambat. Sedangkan manfaat dari penggunaan teknologi
seperti alat dan mesin akan mempermudah pekerjaan dalam sektor pertanian sehingga dapat
menekan biaya operasional yang semakin tinggi.

Teknologi dalam pertanian adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan pekerjaan
dan menghasilkan output yang lebih baik. Pembangunan pertanian tanpa teknologi ialah hal
yang mustahil. Keduanya berjalan secara beriringan saling mengikat . Dalam pembangunan
pertanian tentu akan sangat berbeda dalam segi kepraktisan maupun hasil tani apabila petani
tersebut mengadopsi teknologi lain. Teknik pertanian meliputi usaha tani (teknik penanaman,
pemupukan, pengairan perlindungan tanaman secara terpadu ) dan pasca panen (pengolahan
hasil pengenalan alat perontok yang dapat menekan kehilangan hasil, penyimpanan
hasil pertanian yang dapat meningkatkan kualitas produk pertanian ) dan teknologi yang
digunakan dalam pertanian, seperti mesin - mesin.

Setiap perusahaan memiliki tujuan utama yaitu mempermudah pekerjaan dengan hasil
produksi yang optimal. Proses produksi merupakan salah satu faktor penting yang dicapai
dalam tujuan pertanian. Apabila proses produksi terhambat maka kegiatan operasional
lainnya dalam perusahaan akan mengikuti dampaknya. Untuk itu dalam pelaksanaan proses
produksi adalah penggunaan dibidang teknologi pertanian seperti alat dan mesin. Dengan
penggunaan sesuai prosedur yang ada untuk menekan kerugian produksi dan untuk
meningkatkan produksi dalam perusahaan.
Namun penggunaan alat dan mesin harus diikuti dengan perkembangan sumber daya
manusia. Saat ini, para petani sebagian besar menggunakan dengan cara konvensional
daripada penggunaan alat dan mesin. Sehingga pada bidang teknologi pertanian saat ini
masih terhambat dengan kebiasaan yang dilakukan petani dalam mengolah produk
pertaniannya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses produksi padi dan gabah hingga menjadi benih komersil ?
2. Apa saja alat dan masin yang terlibat dalam proses produksi benih ?
3. Bagaimana tata letak mesin pada perusahaan UD Wong Tani Sae ?
4. Bagaimana efektivitas dan efisiensi penggunaan alat dan mesin pada perusahaan UD
Wong Tani Sae ?
5. Bagaimana perawatan alat dan mesin pertanian dalam jangka waktu panjang dan
pendek ?
6. Bagaimana cara mengecek KA padi oleh perusahaan UD Wong Tani Sae ?
7. Bagaimana cara menghitung rendemen ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui proses produksi padi dan gabah hingga menjadi benih komersil.
2. Untuk mengetahui alat dan masin yang terlibat dalam proses produksi benih.
3. Untuk mengetahui tata letak mesin pada perusahaan UD Wong Tani Sae.
4. Untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi penggunaan alat dan mesin pada
perusahaan UD Wong Tani Sae.
5. Untuk mengetahui perawatan alat dan mesin pertanian dalam jangka waktu panjang
dan pendek.
6. Untuk mengetahui cara mengecek KA padi oleh perusahaan UD Wong Tani Sae.
7. Untuk mengetahui cara menghitung rendemen.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Mahasiswa


1. Sebagai proses belajar secara nyata dalam mengaplikasikan pendapat yang
bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.
2. Sebagai proses pembentukan karakter kerja mahasiswa dalam persaingan di dunia
kerja.
3. Sebagai sarana dalam menerapkan ilmu yang didapat dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi pertanian.

1.4.2 Bagi Masyarakat

1. Mendorong masyarakat umum agar berfikir ilmia dan aktif dalam dunia teknologi
yang semakin berkembang.
2. Membantu dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan alat dan
mesin guna untuk mengolah lahan pertanian.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) merupakan komoditas tanaman pangan yang
memiliki peran penting dan strategis di indonesia, karena seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk indonesia kebutuhan akan bahan pangan juga terus meningkat. Salah satu
upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan meningkatkan produktifitas tanaman
padi sawah adalah dengan melakukan pengananan panen dan pasca panenyang tepat dan
benar (Kasim dalam Misran, 2014).

Alat pertanian merupakan salah satu alat yang sangat membantu petani. Maka dari itu
maka diperlukanlah mekanisasi pertanian. Mekanisasi pertanian diartikan secara bervariasi
oleh beberapa orang. Mekanisasi pertanian diartikan sebagai pengenalan dan penggunaan dari
setiap bantuan yang bersifat mekanis untuk melangsungkan operasi pertanian. Bantuan yang
bersifat mekanis tersebut termasuk semua jenis alat atau perlengkapan yang digerakkan oleh
tenaga manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, dan sumber energi lainnya.
Secara umum mekanisasi pertanian dapat juga diartikan sebagi penerapan ilmu teknik untuk
mengembangkan, mengorganisasi, dan mengendalikan operasi di dalam produksi
pertanian(Robbins,2005).

Ruang lingkup mekanisasi pertanian juga berkembang sejalan dengan perkembangan


teknologi dan modernisasi pertanian. Ada pula yang mengartikan bahwa pada saat ini
teknologi mekanisasi yang digunakan dalam proses produksi sampai pasca panen
(penanganan dan pengolahan hasil) bukan lagi hanya teknologi yang didasarkan pada energi
mekanis, namun sudah mulai menggunakan teknologi elektronika atau sensor, nuklir, image
processing, bahkan sampai teknologi robotik. Dan digunakan baik untuk proses produksi,
pemanenan, dan penanganan atau pengolahan hasil pertanian (Mugniesyah, 2006).

Mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktifitas


tenaga kerja, meningkatkan produktifitas lahan, dan menurunkan ongkos produksi.
Penggunaan alat dan mesin pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi,
efektifitas, produktifitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban kerja petani. Pengalaman dari
negara-negara tetangga Asia menunjukkan bahwa perkembangan mekanisasi pertanian
diawali dengan penataan lahan (konsolidasi lahan), keberhasilan dalam pengendalian air,
masukan teknologi biologis, dan teknologi kimia. Penerapan teknologi mekanisasi pertanian
yang gagal telah terjadi di Srilangka yang disebabkan kecerobohan akibat penerapan mesin-
mesin impor secara langsung tanpa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik
pertaniannya. Berbeda halnya dengan Jepang yang melakukan modifikasi sesuai dengan
kondisi lokal, kemudian baru memproduksi sendiri untuk digunakan oleh petani mereka (
Hamilton dkk,1996).

Suatu hal yang paling mendasar yang masih belum diperhatikan dalam pengembangan
teknologi pertanian di Indonesia hingga kini adalah kurang memadainya dukungan prasarana
pertanian. Prasarana pertanian kita belum dikelola secara baik, sehingga masih agak sulit atau
lambat dalam melakukan introduksi mesin-mesin pertanian (Robbins,2005).

Pengelolaan lahan, pengaturan dan manejemen pengairan yang meliputi irigasi dan
drainase, serta pembuatan jalan-jalan transportasi daerah pertanian, dan masih banyak lagi
aspek lainnya yang belum disentuh secara sungguh-sungguh dan profesional. Relevansinya
dengan hal tersebut, beberapa hal penting yang harus dilaksanakan antara lain adalah
merencanakan atau memperbaiki kondisi lahan (konsolidasi lahan). Selain itu juga
mendatangkan dan mengupayakan agar prasarana dan sarana pertanian sampai dan tersedia di
lapangan tepat waktu sehingga dapat mengakselerasi pencapaian visi dan misi pertanian
modern (Anonim, 2011).

Pengembangan teknologi pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan


kemandirian masyarakat kita umumnya dan petani khususnya. Dapat dipastikan bahwa jika
teknologi pertanian yang cocok tersebut telah berhasil dikembangkan dan diterapkan di
negara kita, maka ketahanan pangan atau swasembada pangan pasti akan tercapai sehingga
kemandirian dalam hal ekonomi dan politik dapat kita wujudkan (Siahan,2001).

Pada akhirnya kita punya modal kemandirian minimal dalam satu aspek pangan dan
beberapa aspek lainnya misalnya keutuhan bangsa dan semangat untuk berkompetesi demi
kemajuan bangsa yang berdaulat dan bermartabat (Siahan,2001).

Pembangunan pertanian akan bergerak dengan baik apabila mengandung 5 (lima)


syarat pokok seperti , teknologi yang selalu berubah pasar bagi hasil –hasil usaha tani
tersedianya saprotan secara local perangsang bagi petani transpotasi selain syarat pokok
tersebut juga terdapat syarat pelancar yaitu pendidikan pembangunan kredit produksi,
kegiatan bersama atau kelompok oleh petani perbaikan dan perluasan areal lahan
perencanaan nasional pembangunan pertanian (Mugniesyah, 2006).
BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Pada praktikum alat dan mesin pengolahan benih dengan judul pengenalan alat dan
mesin pengolahan benih padi dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Oktober 2018 pukul 07.00 –
selesai dilakukan ditempat perusahaan UD Wong Tani Sae.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum alat dan mesin pengolahan
benih. Alat yang digunakan meliputi alat tulis dan buku. Bahan yang digunakan yang sudah
ada diperusahaan UD Wong Tani Sae yaitu padi.

3.3 Prosedur Kerja

1. Menyiapkan alat tulis dan buku serta mendengarkan dengan jelas yang dijelaskan oleh
petugas dari UD Wong Tani Sae.
2. Menulis yang dijelaskan petugas dari UD Wong Tani Sae.
3. Membuat laporan dengan judul Praktek lapang Alsin Tekben di UD Wong Tani Sae
Jember.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Blower sisi kiri blower 1 sap, sisi


Sealer
kanan blower 2 sap

Grain moisture meter Mesin penjahit karung plastik

Lantai jemur padi perlompang Timbangan pengemasan plastik


Mesin penjahit karung

Tata letak perusahaan UD Wong Tani Sae

Kering gabah Padi stlah

Pintu Gerbang
diblower
Blower

Gudang 2 Gudang 1
Padi dipacking
plastik
Pintu

Lantai jemur
4.2 Pembahasan

UD. Wong tani sae merupakan salah satu produsen benih inbrida yang terletak di
Kabupaten Jember Jawa Timur, tepatnya di Desa Curah Kates Kecamatan Ajung Jember.
UD. Wongtani sae berdiri pada tahun 2004. Pada tahun tersebut UD. Wongtani sae masih
menyewa tempat yaitu didaerah Bangsalsari dan SHS (Sang Hyang Seri) untuk
melakukan kegiatan produksi. Pada tahun 2007 UD Wong Tani sae berpindah dilokasi
Pecoro dan telah memiliki lantai jemur. Pada tahun 2011 UD. Wong tani sae berdiri
sendiri dengan memiliki total lahan 4900 m2. Pada tahun 2011-2012 lokasi gudang
berada didepan. Pada tahun 2013 lokasi gudang berpindah didepan. Perusahaan masih
mengembangkan lagi pabriknya dengan mencari lahan yang sesuai.

4.2.1 Proses produksi Tata Kelola Produksi Benih di UD. Wongtani sae dari gabah –
komersial.

Proses produksi yang terdapat di Pabrik Pengolahan Benih UD. Wong tani sae
adalah melakukan pengolahan terhadap GKP (gabah kering panen) menjadi benih
bersertifikat. Produk yang dihasilkan adalah benih unggul bersertifikat, dimana benih ini
mengalami proses produksi dan pengujian di laboratorium. Benih yang lulus pengujian
merupakan benih unggul dan diberi sertifikat. UD. Wongtani sae memproduksi 2 jenis
benih yaitu benih non premium dan premium.

Berikut proses – proses pengolahan benih yang dilakukan di UD. Wongtani sae.

 Persiapan Pengolahan Benih

Persiapan-persiapan yang perlu dilakukan untuk mengolah benih padi adalah


sebagai berikut :

1. Pembersihan lantai jemur, mesin dan peralatan, tempat-tempat


penyimpanan (gudang dan selokan).
2. Pemeliharaan dan perbaikan mesin-mesin dan peralatan.
 Penerimaan calon benih

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan pada saat penerimaan GKP yaitu
pemeriksaan dokumen dan penimbangan Gabah Kering Panen (GKP).
Pemeriksaan dokumen yang dilakukan berupa Surat Pengantar Hasil Panen
(SPHP) disertai surat sortasi dari tim panen, diantaranya adalah nomor induk
lapangan, musim tanam, nama petani penggarap, blok sertifikasi, luas tanam, luas
panen, tanggal panen, varietas, kelas benih, tonase, pemeriksaan kadar air, kadar
kotoran dan kemurnian varietas yang kemudian disimpan kedalam gudang untuk
sementara.

Gambar 1. Penerimaan calon benih

 Pengeringan

Pengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air pada benih, agar benih
tahan lama dalam penyimpanan, adapun cara pengeringan dilakukan dengan cara
manual. Pengeringan secara manual dilakukan dengan cara menjemur benih agar
terkena sinar matahari (sun drying). Dalam kondisi cuaca cerah, pengeringan
dengan cara manual membutuhkan waktu kira-kira 2-3 hari. Pengeringan dengan
cara manual ini dilakukan karena dapat menghemat biaya. Penjemuran benih padi
dilakukan hingga kadar air maksimal 13% dan minimal 8%.

Gambar 2. Proses penjemuran Gambar 3. Penjemuran dilakukan secara manual

 Pembersihan
Benih padi yang telah dikeringkan dengan kadar air 13% kemudian
dibersihkan dengan mesin blower. Mesin ini memisahkan antara jerami, benih
hampa dan benih bernas. Benih bernas akan turun dari mesinnya dan kemudian
dikemas. Pada jenis benih non premium dilakukan pembersihan sebanyak 3 kali
sedangkan benih premium dilakukan pembersihan sebanyak 5 kali.

Gambar 4. Proses pemisahan dan pembersihan Gambar 5. Pengemasan

 Pengemasan dan penyimpanan

Benih yang bernas dikemas menggunakan plastik ukuran 10 Kg dengan diberi


label warna ungu. Setelah dikemas, benih disimpan dalam tempat yang aman.
Penyimpanan benih di gudang harus menggunakan alas berupa palet / papan kayu
atau balok-balok kayu agar karung benih tidak langsung bersentuhan dengan
lantai gudang.

Standar mutu dari benih yang dihasilkan oleh UD. Wong tani sae harus disesuaikan
dengan spesifikasi standar mutu BPSBTPH (Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman
Pangan dan Hortikultura) dan harus dilakukan pengujian benih. Hal ini dilakukan agar
produk yang dihasilkan pabrik dapat diterima oleh pasar. Sehingga, untuk meningkatkan
daya saing, benih yang dihasilkan harus memenuhi spesifikasi mutu. Mutu benih lulus
adalah suatu ukuran mutu yang sangat penting karena mempengaruhi pertumbuhan benih
dan mutu hasil dari penanaman benih.

4.2.2 Kapasitas lantai jemur (luasan lantai).

Desain lantai jemur membentuk gundukan. Tujuan agar saat memasuki musim hujan
air dapat turun dan tidak menggenang.
Lebar :6–8m

Panjang : sesuai luas lahan.

Kapasitas : 3,5 – 4 Ton.

Waktu penjemuran : Saat musim hujan bisa sampai 4 hari penjemuran. Saat musim
kemarau 2-3 hari telah kering.

Ketebalan padi saat penjemuran : Apabila tipis penjemuran memakan waktu selama 2 hari
dan apabila tebal penjemuran memakan waktu 4 hari.

Waktu pembalikan : Saat musim hujan dilakukan 15 menit sekali dan saat musim kemarau 2
jam atau sesuai kondisi gabah.

4.2.3 Kapasitas mesin (kemampuan mesin memproses benih), waktu operasional


(waktu yang dibutuhkan selama proses tersebut).

1. Adapun cara menghitung kapasitas dan waktu kerja mesin air screen
cleaner yaitu:
Diketahui: waktu 40 detik menghasilkan 1 karung benih
Jam kerja = 8-12 = 4 jam

Dicari : banyaknya benih yang dikemas dalam karung saat jam kerja

Jawab:
 Waktu = 4 jam =14400 detik
 Banyaknya benih yang dikemas/4jam = 4 jam : 40 detik

= 14400:40

= 360 karung/4jam
2. Cara menghitung kapasitas dan waktu kerja mesin air screen cleaner dengan
kemasan 10 kg / 4 jam

Diketahui: waktu 7 detik menghasilkan 1 karung benih dengan berat 10kg

Jam kerja = 8-12 = 4 jam

Dicari: banyaknya benih yang dikemas dengan berat 10 kg dalam karung saat jam
kerja (4 jam)

Jawab:

 Waktu = 4 jam =14400 detik


 Banyaknya benih yang dikemas/4jam = 4 jam : 7 detik
= 14400:7
= 2057 kemasan benih 10 kg/4 jam

4.2.4 Perawatan apa saja pada alsin tersebut

Perawatan mesin air screen cleaner yaitu membersihkan mesin dari benih yang
sebelumnya diproses agar benih tidak tercampur dengan benih varietas lain dan
kemurnian benih terjaga. Pembersihan benih dapat dilakukan menggunakan alat
facum cleaner agar mesin bersih dari benih sekaligus material lain seperti debu.

4.2.5 Bagaimana menghitung KA secara teknis dilapangan.

Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang “dikandung” dan yang
kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang
dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air
adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya
kandungan air tersebut & dinyatakan dalam % terhadap berat asal contoh benih.
Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk mengetahui kadar air benih
sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama penyimpanan
dalam rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut. Cara menghitung Kadar Air
calon benih untuk dilapang dapat dilakukan dengan pengambilan dengan alat stick
tryer dengan 3 sampel dan diukur dengan alat moister meter .
Moisture meter merupakan instruments yang digunakan untuk mengetahui
kelembaban kadar air pada suatu zat, bisa itu biji-bijian ataupun yang lainnya.
Kandungan kelembaban dipengaruhi oleh zat yang mempunyai sifat fisik seperti
berat, densitas, indeks bias, kekentalan, konduktivitas, dan lain-lain. Metode
pengukuran dapat dibagi dalam beberapa metode, yaitu metode termogravimetri,
metode kimia, metode spektroskopi, dan lain-lain.
Kelebihan moisture tester tipe adalah dapat mengetahui kadar air yang
terkandung dalam benih tertentu secara cepat dan mudah dibawa-bawa, karena
menggunakan batu baterai, sehingga tidak harus mencari sambungan listrik. Adapun
kekurangannya adalah terbatas hanya untuk benih (padi, jagung, gandum, kedelai, dan
satu jenis lainnya). Namun, hasil yang didapatkan tidak selalu sesuai dengan
penggunaan alat penguji kadar air lainnya.

4.2.6 Rendemen (banyaknya rendemen benih yang dihasilkannya)

Cara menghitung :
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
Menghitung Rendemen = 𝑥 100 %
Berat awal

Rendemen digunakan untuk mengetahui perbandingan kadar air sebab bila rendemen
tinggi maka Kadar airnya akan rendah dan kebalikan jika rendemen rendah makan
kadar air tinggi .

4.2.7 Jenis benih yang diproduksi.

benih padi varietas Cimelati, Bondoyudo, Cibogo, Ciherang, Mikongga,


Walanie, Touti, Sintanur, Logawa, Inpari sidenuk, Inpari 30, Inpari 33, Inpari 13,
Bestari, Yuwono, IPB3S, Situbagendit, Waiapopuru
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil kunjungan di wongtani sae adalah dalam produksi benih
membutuhkan alat teknologi yang canggih agar produksi lebih cepat dan terjaga kualitas
benihnya. Untuk menundukung peralatan yang lebih baik kinerjanya dibutuhkan perawatan
yang sangat intensif agar tidak mengganggu produksi benih padi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Anonima.,2011.Pengenalan Alat dan Mesin Pertanian. http://ictsleman.ath.cx/pustaka/

pertanian/agro_industri_non_pangan/15_pengenalan_alat_dan_mesin_pertanian.pdf

Anonimb.,2011.FungsiMesin Alat Pertanian.http:// mekanisasi. litbang. deptan. go.id.

Diakses pada tanggal 7 maret Pukul 20.54.

Mugniesyah, Siti Sugiah M. 2006. Peranan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan

Pertanian .Bogor : IPB Press.

Mulyoto, dkk. 2002. Mesin-Mesin Pertanian. PT Graha persada : Jakarta.


Robbins,2005. CRC handbook of engineering in agriculture. Boka Raton .F1.CRC Press