Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kerja Praktek 2018

Tugas Umum

Teknologi Kimia Industri i


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air bersih sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan aktifitas sehari-
hari. Dan hampir seluruh dari penduduk Bontang telah menerima pelayanan
pemenuhan kebutuhan air minum dari Pemerintah Kota Bontang yang
diselenggarakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bontang.
Sehingga untuk mememenuhi kebutuhan tersebut, PDAM telah mengoperasikan
Instalasi Pengolahan Air (IPA) dibeberapa lokasi.

Adanya kandungan Fe dalam air menyebabkan warna air tersebut berubah


menjadi kuning coklat setelah beberapa saat kontak dengan udara. Disamping dapat
mengganggu kesehatan juga menimbulkan bau kurang enak serta menyebabkan
warna kuning pada dinding bak serta bercak-bercak kuning pada pakaian.

Zat besi dalam air biasanya terlarut dalam bentuk senyawa atau garam
bikarbonat, garam sulfat, hidroksida dan juga dalam bentuk koloid atau dalam
keadaan bergabung dengan senyawa organik. Oleh karena itu cara
pengolahannyapun harus disesuaikan dengan bentuk senyawa besi dalam air yang
akan diolah.
Salah satu cara untuk menghilangkan zat besi dalam air yakni dengan oksidasi
dengan udara atau aerasi. Ada beberapa jenis aerator yang biasa digunakan untuk
pengolahan air minum antara lain cascade aerator, multiple plat form aerator, spray
aerator, bubble aerator (pneumatic system) dan multiple tray aerator.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :

Teknologi Kimia Industri 1


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

a) Bagaimana kandungan besi dalam sampel air pada unit aerator dalam Water
Treatment Plant (WTP) I dan II Loktuan?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan tugas khusus ini adalah untuk mengetahui kerja dari
aerator dalam pengolahan air bersih pada WTP Loktuan 1 dan WTP Loktuan 2
berdasarkan hasil analisa dari kadar besi pada aerator.

Teknologi Kimia Industri 2


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air
Air merupakan salah satu unsur ekosistem yang sangat diperlukan untuk
kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan serta makhluk hidup lain yang
ada di alam ini. Siklus hidrologi air bergantung pada proses evaporasi dan
prespitasi. Air yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air pada
lapisan atmosfer melalui proses evaporasi (penguapan) air sungai, danau, dan laut;
serta proses evapotranspirasi atau penguapan air oleh tanaman. Air yang memiliki
karakteristik yang khas, tidak dimiliki oleh senyawa kimia yang lain. Karakteristik
tersebut adalah air memiliki kisaran suhu, yakni 0oC-100oC air berwujud cair,
penyimpanan panas yang sangat baik, memerlukan panas yang tinggi dalam proses
penguapan, pelarut yang baik (Effendi, 2003).
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan
menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih
adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum. Adapun
persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi
kualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak
menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes
No.492/Menkes/Per/IV/2010).

2.2 Pengolahan Air Bersih


Pengolahan air merupakan suatu upaya untuk mendapatkan air bersih dan
sehat dengan standar mutu air yang memenuhi syarat kesehatan. Proses pengolahan
air merupakan proses perubahan fisik, kimia, dan biologi air baku. Adapun tujuan
pengolahan air adalah :
a. Memperbaiki derajat keasaman
b. Mengurangi bau

Teknologi Kimia Industri 3


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

c. Menurunkan dan mematikan mikroorganisme


d. Mengurangi kadar bahan-bahan terlarut

2.2.1 Pengolahan Air Secara Fisika


Pengolahan air secara fisika yang telah dilakukan adalah penyaringan,
pengendapan atau sedimentasi, absorbsi, dan adsorbsi.
A. Penyaringan atau Filtrasi
Penyaringan merupakan pemisahan antara padatan atau koloid dengan
cairan. Proses penyaringan air melalui pengaliran air pada media butiran.
Secara alami penyaringan air terjadi pada permukaan yang mengalami
peresapan pada lapisan tanah. Bakteri dapat dihilangkan secara efektif
melalui proses penyaringan demikian pula dengan warna, kekeruhan, dan
besi.
Pada proses penyaringan, partikel-partikel yang cukup besar akan
tersaring pada media pasir, sedangkan bakteri dan bahan koloid yang
berukuran lebih kecil tidak tersaring seluruhnya. Ruang antara butiran
berfungsi sebagai sedimentasi dimana butiran terlarut mengendap. Bahan-
bahan koloid yang terlarut kemungkinan akan ditangkap karena adanya gaya
elektrokinetik. Banyak bahan-bahan yang terlarut tidak dapat membentuk
flok dan pengendapan gumpalan-gumpalan masuk ke dalam filter dan
tersaring. Setelah filter digunakan beberapa saat, filter akan mengalami
penyumbatan. Untuk itu perlu dilakukan pembersihan, yaitu pencucian
dengan udara dan pencucian dengan air (pencucian permukaan filter dengan
penyemprotan dan pencucian dengan backwash).
Jenis saringan pasir yang sering digunakan :
1. Saringan Pasir Lambat
Saringan pasir lambat adalah saringan pasir yang mempunyai kerja
mengolah air baku secara gravitasi melalui lapisan pasir sebagai media
penyaringan. Kecepatan penyaringan berkisar antara 0,1 – 0,4 m³/jam.

Teknologi Kimia Industri 4


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Proses penyaringan dapat berjalan baik apabila tinggi pasir penyaring


minimal 70 cm, karena aktifitas mikroorganisme terjadi di lapisan sampai
30 – 40 cm di bawah permukaan. Mikroorganisme ini berfungsi
menghancurkan zat organik sewaktu air mengalir melewati pasir
tersebut. Ketebalan pasir di bawahnya lagi berfungsi sebagai saringan zat
kimia, karena disini terjadi proses kimiawi. Diameter pasir berkisar
antara 0,2 -0,3 mm, dapat menyaring telur cacing, kista amoeba, larva
cacing, dan bakteri.
2. Saringan Pasir Cepat
Saringan pasir cepat juga bekerja atas dasar gaya gravitasi melalui pasir
berdiameter 0,2 – 2,0 mm, dan kerikil berdiameter 25– 50 mm, kecepatan
filtrasi 100- 125 m/hari. Tebal pasir efektif sekitar 80 – 120 cm. Saringan
pasir cepat ini dapat menyaring telur cacing, kista amoeba, larva cacing.
Pasir cepat ini juga bisa digunakan untuk mengurangi Fe dan Mn.
B. Sedimentasi atau Pengendapan
Sedimentasi adalah proses pengendapan partikel padat yang
tersusupensi dalam cairan atau zat cair dengan menggunakan pengaruh
gravitasi atau gaya berat secara alami. Kegunaan sedimentasi untuk
mereduksi bahan-bahan yang tersuspensi pada air dan kandungan organisme
tertentu di dalam air. Ada dua jenis pengendapan yaitu Discrete Settling dan
Flocelent Settling. Discrete Settling terjadi apabila proses pengendapan suatu
partikel tidak terpenuhi oleh proses pengelompokkan partikel sehingga
kecepatan endapannya akan konstan. Flocelent Settling dipengaruhi oleh
pengelompokkan partikel sehingga kecepatan pengendapan yang dimiliki
berubah semakin besar.
Proses sedimentasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Diameter butiran
b. Berat jenis butiran
c. Berat jenis zat cair

Teknologi Kimia Industri 5


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

d. Kekeruhan cairan
e. Kecepatan aliran.

2.2.2 Pengolahan Air Secara Kimia


A. Koagulasi
Pada proses koagulasi, koagulan dicampur dengan air baku selama
beberapa saat hingga merata. Jenis koagulan yang biasa ditambahkan antara
lain : Al2(SO4)3, FeSO4, FeCl3, atau PAC (Poly Alumunium Chlorida). Selain
pembubuhan koagulan diperlukan pengadukan sampai flok-flok ini terbentuk
dari partikel-partikel kecil dan koloid yang bertumbukan dan akhirnya
mengendap bersama-sama. Flok-flok yang telah terbentuk dipisahkan dari
larutannya dengan sedimentasi. Sedimentasi merupakan proses pemisahan
partikel dari cairannya, baik partikel yang memang telah ada di dalam air
baku, yang terbentuk sebagai akibat penambahan bahan kimia, maupun
partikel yang dihasilkan dari flokulasi fisis yang digabungkan dengan
pengolahan biologis,dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan proses koagulasi (proses
destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan muatan berlawanan.
Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel yang
berlawanan cenderung bergabung membentuk inti flok. Proses koagulasi
selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan intiflok atau flok
kecil menjadi flok yang berukuran besar. Proses koagulasi-flokulasi terjadi
pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat. Pada bak pengaduk cepat,
dibubuhkan bahan kimia (disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan
agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur secara merata/ homogen.
Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran besar
hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.
Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah
aluminium sulfat atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-

Teknologi Kimia Industri 6


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

pembantu, seperti polielektrolit dibutuhkan untuk memproduksi flok yang


cepat mengendap. Faktor utama yang mempengaruhi koagulasi dan flokulasi
air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi, temperatur, pH, komposisi dan
konsentrasi kation dan anion, durasi serta dosis koagulan.
B. Flokulasi
Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-
partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan
dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Proses flokulasi adalah proses
pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok
dengan ukuran yang lebih besar (makroflok). Flok-flok kecil yang sudah
terbentuk di koagulator diperbesar di sini. Faktor-faktor yang mempengaruhi
bentuk flok yaitu kekeruhan pada air baku, tipe dari suspended solids, pH,
alkalinitas, bahan koagulan yang dipakai, dan lamanya pengadukan.
Beberapa tipe flokulator adalah channel floculator (buffle channel horizontal,
buffle channel vertikal, buffle channel vertikal dengan diputar, melalui plat
berlubang, dalam Cone, dan dengan pulsator), pengadukan secara mekanik,
pengadukan melalui media, pengadukan secara pneumatic (dengan udara).
C. Aerasi
Aerasi dalah proses pengolahan air dengan mengontakkan air dengan
udara yang bertujuan untuk menyisihkan gas yang terlarut di air permukaan
atau untuk menambah oksigen ke air untuk mengubah substansi yang di
permukaan menjadi suatu oksida. Dalam keadaan teroksidasi, besi dan
mangan terlarut di air. Bentuk senyawa dengan larutan ion, keduanya terlarut
pada bilangan oksidasi +2, yaitu Fe+2 dan Mn+2. Ketika kontak dengan
oksigen atau oksidator lain, besi dan mangan akan teroksidasi menjadi valensi
yang lebih tinggi, bentuk ion kompleks baru yang tidak larut ke tingkat yang
cukup besar. Oleh karena itu, mangan dan besi dihilangkan dengan
pengendapan setelah aerasi. Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut:
4 Fe+2 + O2 + 10 H2O  4Fe(OH)3 ¯ + 8 H+

Teknologi Kimia Industri 7


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

2 Mn+2 + O2 + 2 H2O  2MnO2 ¯ + 4 H+

Ada empat tipe aerator yang sering digunakan, yaitu gravity aerator,
spray aerator, air diffuser, dan mechanical aerator. Fungsi dari proses aerasi
adalah menyisihkan methana (CH4), menyisihkan karbon dioksida (CO2),
menyisihkan H2S, menyisihkan bau dan rasa, menyisihkan gas-gas lain.

2.2.3 Pengolahan Air Secara Mikrobiologi


Upaya untuk memperbaiki mikrobiologi air yang paling konvensional
adalah dengan mematikan mikroorganisme dalam air. Desinfeksi air minum
bertujuan membunuh bakteri patogen yang ada dalam air. Desinfektan air
dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: pemanasan, penyinaran antara
lain dengan sinar UV, ion-ion logam antara lain dengan copper dan silver,
asam atau basa, senyawa-senyawa kimia, dan chlorinasi. Proses desinfeksi
dengan klorinasi diawali dengan penyiapan larutan kaporit dengan
konsentrasi tertentu serta penetapan dosis klor yang tepat. Metode
pembubuhan dengan kaporit yang dapat diterapkan sederhana dan tidak
membutuhkan tenaga listrik tetapi cukup tepat pembubuhannya secara
kontinu adalah: metoda gravitasi dan metode dosing proporsional.

2.3 Standar Kualitas Air


Standart Kualitas Air adalah Karakteristik mutu yang dibutuhkan untuk
pemanfaatan tertentu dari sumber – sumber air. Dengan adanya standar kualitas air,
semua orang dapat mengukur kualitas dari berbagai macam air. Setiap jenis air
dapat diukur konsentrasi kandungan unsur yang tercantum didalam standar kualitas,
dengan demikian dapat diketahui syarat kualitasnya, dengan kata lain standar
kualitas dapat digunakan sebagai tolak ukur.
Standar kualitas air bersih dapat diartikan sebagai ketentuan-ketentuan
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan standar kualitas air minum

Teknologi Kimia Industri 8


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

No.492/MENKES/PER/1V/2010 yang biasanya dituliskan dalam bentuk


pernyataan atau angka yang menunjukkan persyaratan–persyaratan yang harus
dipenuhi agar air tersebut tidak menimbulkan gangguan kesehatan, penyakit,
gangguan teknis, serta gangguan dalam segi estetika. Peraturan ini dibuat dengan
maksud bahwa air minum yang memenuhi syarat kesehatan mempunyai peranan
penting dalam rangka pemeliharaan, perlindungan serta mempertinggi derajat
kesehatan masyarakat. Dengan peraturan ini telah diperoleh landasan hukum dan
landasan teknis dalam hal pengawasan kualitas air bersih. Demikian pula halnya
dengan air yang digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari, sebaiknya air tersebut
tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, jernih, dan mempunyai suhu yang sesuai
dengan standar yang ditetapkan sehingga menimbulkan rasa nyaman.

2.4 Aerasi
Aerasi adalah penambahan oksigen ke dalam air sehingga oksigen terlarut di
dalam air semakin tinggi. Pada prinsipnya aerasi itu mencampurkan air dengan
udara atau bahan lain sehingga air yang beroksigen rendah kontak dengan oksigen
atau udara. Aerasi termasuk pengolahan secara fisika, karena lebih mengutamakan
unsur mekanisasi dari pada unsur biologi. Aerasi merupakan proses pengolahan
dimana air dibuat mengalami kontak erat dengan udara dengan tujuan
meningkatkan kandungan oksigen dalam air tersebut. Dengan meningkatnya
oksigen zat-zat mudah menguap seperti hiddrogen sulfide dan metana yang
mempengaruhi rasa dan bau dapat dihilangkan. Kandungan karbondioksida dalam
air akan berkurang. Mineral yang larut seperti besi dan mangan akan teroksidasi
membentuk endapan yang dapat dihilangkan dengan sedimentasi dan filtrasi.

Proses aerasi merupakan peristiwa terlarutnya oksigen di dalam air.


Efektifitas dari aerasi tergantung dari seberapa luas dari permukaan air yang
bersinggungan langsung dengan udara. Fungsi utama aerasi adalah melarutkan
oksigen ke dalam air untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air dan
melepaskan kandunngan gas-gas yang terlarut dalam air, serta membantu
pengadukan air. Aerasi dapat dipergunakan untuk menghilangkan kandungan gas

Teknologi Kimia Industri 9


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

terlarut, oksidasi besi dan mangan dalam air, mereduksi ammonia dalam air melalui
proses nitrifikasi.

Proses aerasi sangat penting terutama pada pengolahan limbah yang proses
pengolahan biologinya memanfaatkan bakteri aerob. Bakteri aerob adalah
kelompok bakteri yang mutlak memerlukan oksigen bebas untuk proses
metabolismenya. Dengan tersedianya oksigen yang mencukupi selama proses
biologi, maka bakteri-bakteri tersebut dapat bekerja dengan optimal. Hal ini akan
bermanfaat dalam penurunan konsentrasi zat organik di dalam air limbah. Selain
diperlukan untuk proses metabolisme bakteri aerob, kehadiran oksigen juga
bermanfaat untuk proses oksidasi senyawa-senyawa kimia di dalam air limbah serta
untuk menghilangkan bau. Aerasi dapat dilakukan secara alami, difusi, maupun
mekanik.

1. Aerasi alami
Aerasi Alami merupakan kontak antara air dan udara yang terjadi karena
pergerakan air secara alami. Beberapa metode yang cukup populer digunakan
untuk meningkatkan aerasi alami antara lain menggunakan cascade
aerator, waterfalls, maupun cone tray aerator.
2. Aerasi Secara Difusi
Pada aerasi secara difusi, sejumlah udara dialirkan ke dalam air limbah
melalui diffuser. Udara yang masuk ke dalam air limbah nantinya akan berbentuk
gelembung-gelembung (bubbles). Gelembung yang terbentuk dapat berupa
gelembung halus (fine bubbles) atau kasar (coarse bubbles). Hal ini tergantung dari
jenis diffuser yang digunakan.
3. Aerasi secara mekanik
Aerasi secara mekanik atau dikenal juga dengan istilah mechanical
agitation menggunakan proses pengadukan dengan suatu alat sehingga
memungkinkan terjadinya kontak antara air dengan udara.

Teknologi Kimia Industri 10


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

2.5 Jenis-Jenis Aerator


1. Waterfall aerator ( aerator air terjun).
Pengolahan air aerasi dengan metoda Waterfall/Multiple aerator seperti pada
gambar, susunannya sangat sederhana dan tidak mahal serta memerlukan ruang
yang kecil.

Gambar 2.1 Multiple aerator

Jenis aerator terdiri atas 4-8 tray dengan dasarnya penuh lobang-lobang pada
jarak 30-50 cm. Melalui pipa berlobang air dibagi rata melalui atas tray, dari sini
percikan-percikan kecil turun ke bawah dengan kecepatan kira-kira 0,02 m/detik
per m2 permukaan tray. Tetesan yang kecil menyebar dan dikumpulkan kembali
pada setiap tray berikutnya. Tray-tray ini bisa dibuat dengan bahan yang cocok
seperti lempengan-lempengan absetos cement berlubang-lubang, pipa plastik yang
berdiamter kecil atau lempengan yang terbuat dari kayu secara paralel.

2. Cascade Aerator
Pada dasarnya aerator ini terdiri atas 4-6 step/tangga, setiap step kira-kira
ketingian 30 cm dengan kapasitas kira-kira ketebalan 0,01 m3 /det permeter2.
Untuk menghilangkan gerak putaran (turbulence) guna menaikan effesien
aerasi, hambatan sering di tepi peralatan pada setiap step. Dibanding dengan tray

Teknologi Kimia Industri 11


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

aerators, ruang ( tempat ) yang diperlukan bagi casade aerators agak lebih besar
tetapi total kehilangan tekanan lebih rendah. Keuntungan lain adalah tidak
diperlukan pemeliharaan.

Gambar 2.2(a) Cascade Aerator

Keterangan:
A = Air baku
B = Air sudah diaerasi
C = Inlet
D = Lubang pembersih
E = Out let.

Gambar 2.2(b) Cascade aerator tampak atas


Aerasi tangga aerator seperti pada gambar di bawah ini penangkapan
udaranya terjadi pada saat air terjun dari lempengan-lempengan trap yang
membawanya. Oksigen kemudian dipindahkan dari gelembung-gelembung udara

Teknologi Kimia Industri 12


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

ke dalam air . Total ketinggian jatuh kira-kira 1,5 m dibagi dalam 3-5 step. Kapisitas
bervariasi antara 0,005 dan 05 m3 /det per meter luas.

3. Sumberged Cascade Aerator

Gambar 2.3 Sumberged Cascade Aerator

Submerged Cascade Aerator atau aerasi tangga meluncur, penangkapan


udara terjadi pada saat air terjun dari lempengan-lempengan trap yang membawa
masuk ke dalam air yang dikumpulkan ke lempengan di bawahnya. Total
ketinggian jatuh ±1,5m yang dibagi dalam 3-5 step. Kapasitas peralatan ini antara
0,005 sampai 0,5m3/detik per m2.

4. Multiple Plat Form Aerator


Memakai prinsip yang sama, lempengan-lempengan untuk menjatuhkan air
guna mendapatkan kontak secara penuh udara terhadap air.

Teknologi Kimia Industri 13


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Gambar 2.4 Multiple Plat From Aerator

5. Spray Aerator
Terdiri atas nosel penyemprot yang tidak bergerak (Stationary nozzles)
dihubungkan dengan kisi lempengan yang mana air disemprotkan ke udara
disekeliling pada kecepatan 5-7 m /detik. Spray aerator sederhana dierlihatkan pada
gambar, dengan pengeluaran air kearah bawah melalui batang-batang pendek dari
pipa yang panjangnya 25 cm dan diameter 15 -20 mm. Piringan melingkar
ditempatkan beberapa centimeter di bawah setiap ujung pipa, sehingga
bisa berbentuk selaput air tipis melingkar yang selanjutnya menyebar menjadi
tetesan-tetesan yang halus.
Nosel untuk spray aerator bentuknya bermacam-macam, ada juga nosel yang
dapat berputar-putar.

Teknologi Kimia Industri 14


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Gambar 2.5 Spray Aerator

6. Aerator Gelembung Udara ( Bubble aerator)


Jumlah udara yang diperlukan untuk aerasi bublle (aerasi gelembung udara)
tidak banyak, tidak lebih dari 0,3 – 0,5 m3 udara/m3 air dan volume ini dengan
mudah bisa dinaikan melalui suatu penyedotan udara. Udara disemprotkan
melalui dasar dari bak air yang akan di aerasi

Gambar 2.6 Bubble Aerator


Keterangan :
A = Out Let
B = Gelembung udara
C = Pipa berlubang buat udara
D = Inlet air baku
E = Bak air

Teknologi Kimia Industri 15


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

2.6 Besi
Kehadiran besi pada air tanah yang bersama-sama dengan mangan (Mn),
ditandai oleh larutan yang berasal dari batuan dan mineral, oksida-oksida, sulfide,
karbonat dan silikat yang mengandung logam-logam ini. Sumber besi yang ada di
alam adalah pyrite (FeS2), hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4), limonite
(FeO(OH)), goethite (HFeO2), ochre (Fe(OH)3) dan siderite (FeCO3) yang mudah
larut dalam air (Razif dalam Siswoyo, 1998).

Besi yang berada di dalam air dapat berbentuk kation ferro (Fe2+) atau ferri
(Fe3+). Pada umumnya besi membentuk senyawa dalam bentuk ferri daripada dalam
bentuk ferro, dan membentuk kompleks yang stabil dengan senyawa-senyawa
tertentu. Dalam kondisi sedikit basa, ion ferro akan dioksidasi menjadi ion ferri dan
akan berikatan dengan hidroksida membentuk Fe(OH)3 yang bersifat tidak larut dan
mengendap di dasar perairan berwarna kuning-kemerahan. Sementara dalam
kondisi asam dan banyak mengandung karbondioksida akan membuat FeCO3 larut
dan meningkatkan kadar Fe2+ di perairan (Effendi, 2003).

Besi diperlukan oleh tubuh manusia dalam jumlah tertentu, apabila


kelebihan besi juga dapat menimbulkan efek yang buruk yaitu melemahnya kondisi
badan, kerusakan hati, jantung, pankreas dan organ-organ tubuh manusia yang lain
(Istikasari, 2001). Beberapa masalah terkait adanya besi di dalam air selain menurut
Effendi (2003) yaitu prespitasi dari logam besi dapat merubah air menjadi keruh
berwarna kuning kecoklatan, menyebabkan mikroorganisme berkembang yang
dapat mencemari air dan mengganggu dalam sistem distribusi air dalam pipa,
keberadaan besi dengan konsentrasi beberapa mg/L saja akan menyebabkan air
berasa logam, akibat prespitasi dapat menimbulkan kesukaran pada proses
pengolahan air, misalnya dengan metoda penukaran ion atau destilasi, karena
endapan yang terbentuk akan menutupi pertukaran ion atau menimbulkan kerak
pada pipa (Siswoyo,1998).

Teknologi Kimia Industri 16


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Kelarutan besi (Fe) dalam air dipengaruhi oleh (Taufan, 2002):

1. Kedalaman
Kelarutan besi dalam air akan semakin tinggi jika semakin dalam air
meresap ke dalam tanah. Besi terlarut dalam bentuk Fe(HCO3)2.
2. pH
Nilai pH rendah (pH<7) akan mempengaruhi kelarutan besi dan logam lain dalam
air. Menurut Said (2005) kecepatan oksidasi besi dipengaruhi oleh pH air, semakin
tinggi pH air kecepatan reaksi oksidasinya makin cepat dan terkadang diperlukan
waktu tinggal beberapa jam setelah proses aerasi agar reaksi berjalan selain itu
tergantung pula pada karakteristik air bakunya (air sampel).
3. Suhu
Peningkatan suhu dalam air akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar
O2 dan peningkatan kelarutan besi dalam air.
4. Oksigen (O2)
Oksigen dapat menyebabkan terjadinya aerasi yang akan mengubah ion Fe2+
menjadi Fe3+. Ion Fe3+ ini akan mengendap sehingga akan mengurangi kelarutan
besi dalam air.

1.7 Metode Analisa Data


Analisa kualitas air yang didistribusikan oleh IPA PDAM Tirta Taman
menggunakan acuan pada Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang
syarat-syarat dan pengawasan kualitas air. Kemudian dibandingkan dengan kualitas
air PDAM Tirta Taman dengan menganalisa penurunan maupun peningkatan
kualitas air, yang dianalisa tentang kualitas air PDAM Tirta Taman dari awal masuk
air baku hingga air produk khususnya unit clarifier dan unit reservoir, kemudian di
buat table dan grafik analisa kualitas air per parameter untuk mengetahui
perbandingan secara sistematik.

Teknologi Kimia Industri 17


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

BAB III
Pelaksanaan Tugas Khusus

Laboratorium PDAM Tirta Taman berfungsi sebagai tempat pengontrol


kualitas air agar air produksi tidak melebihi ambang batas yang diperbolehkan
dan juga dijadikan acuan untuk penambahan bahan kimia untuk penambahan
kimia untuk menjaga kualitas air produksi. Air yang dianalisa meliputi air baku
deep wall (DW), unit aerator, unit clarifier, unit filter, unit reservoir, hingga
distribusi ke pelanggan di Water Treatment Plan (WTP) I dan II Loktuan.

3.1 Alat
Alat yang digunakan antara lain Iron High Range ( Hanna HI 96721),
Turbidity Meter (Hanna HI 93703), pH meter (Hanna HI 8424 ), Free Chlorine
(Hanna HI 6701), kuvet, dan beaker glasss.

3.2 Bahan
Bahan yang digunakan antara lain sampel air PDAM, pereaksi besi dan klor,
gunting dan tisu.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Sampling Air PDAM
1. Menyiapkan wadah sampel yang diberi label identitas sampel.
2. Melakukan sampling air PDAM.
3. Membawa sampel ke laboratorium PDAM untuk langsung diuji
kualitasnya.
3.3.2 Anlisa Kadar Besi
1. Dimasukkan sampel air ke dalam kuvet hingga tanda tera.
2. Ditambahkan 1 bungkus pereaksi besi. Dihomogenkan larutan hingga
terlarut sempurna.
3. Memasukkan kuvet tersebut ke alat Iron High Range. Penempatan
kuvet sejajarkan tanda yang yang tertera pada kuvet dengan tanda yang
tertera pada Iron High Range.

Teknologi Kimia Industri 18


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

4. Kemudian tekan tombol Read untuk pembacaan kadar. Ulangi hingga


mendapat hasil yang konstan.
5. Dicatat hasilnya.
3.3.3 Analisa Kekeruhan
1. Dimasukkan sampel ke dalam kuvet hingga tanda tera.
2. Memasukkan kuvet tersebut ke alat Turbidity Meter.
3. Kemudian tekan tombol Read untuk pembacaan tingkat kekeruhan.
Ulangi hingga mendapatkan hasil yang konstan.
4. Dicatat hasilnya.
3.3.4 Analisa pH
1. Dimasukkan sampel air ke dalam beaker glass 50 ml.
2. Dimasukkan elektroda pH meter ke dalam beaker glass.
3. Ditunggu hingga angka pada pH meter stabil.
4. Dicatat hasilnya.

Teknologi Kimia Industri 19


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan


Hasil analisis kandungan besi, kekeruhan dan pH air PDAM yang dilakukan
di laboratorium PDAM Tirta Taman Kota Bontang untuk WTP I dan II Loktuan
sebagai berikut :
Tabel 4.1 Data Analisa Bulan April
Parameter Uji Standar PERMENKES RI
No. 416 Tahun 1990
Periode Nama WTP Unit WTP Fe Turbidity untuk air bersih
pH
(mg/l) (NTU) Fe Turbidit pH
(mg/l) y (NTU)
DW 01 2.37 0.12 5.62
DW 04 2.15 1.57 6.30
WTP Q 40 Aerasi >5.01 15.39 6.65
L/DT 6.5-
Clarifier 1.39 3.65 6.76 1 25
Loktuan I 9.0
Filter 0.84 0.63 6.84
Reservoir 1.00 1.90 6.95
Distribusi 0.46 0.99 6.96

April DW BPN 3.94 2.30 5.64


Aerasi 2.40 9.48 6.82

Clarifier 1 0.61 4.15 6.97


WTP Q 25
Clarifier 2 1.04 1.87 6.94 6.5-
L/DT 1 25
9.0
Loktuan II Filter 1 0.90 3.36 6.97
Filter 2 0.47 1.28 6.96
Reservoir 0.75 2.00 6.85
Distribusi 0.56 1.43 7.16

Teknologi Kimia Industri 20


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Tabel 4.2 Data Analisa Bulan Mei


Parameter Uji Standar PERMENKES RI
No. 416 Tahun 1990 untuk
Periode Nama WTP Unit WTP Fe Turbidity air bersih
pH
(mg/l) (NTU) Fe Turbidity pH
(mg/l) (NTU)
DW 01 2.15 0.81 5.48
DW 04 >5.01 4.66 6.17
WTP Q 40 Aerasi >5.01 17.67 6.50
L/DT 6.5-
Clarifier 1.48 1.98 6.80 1 25
Loktuan I 9.0
Filter 0.53 0.49 6.89
Reservoir 0.75 0.57 7.03
Distribusi 0.89 4.65 6.97

Mei
DW BPN 3.77 1.32 5.72
Aerasi 2.77 8.59 6.63
Clarifier 1 0.70 3.72 7.25
WTP Q 25 Clarifier 2 0.82 1.58 7.24 6.5-
L/DT 1 25
Filter 1 0.36 1.54 7.30 9.0
Loktuan II
Filter 2 0.40 0.35 7.23
Reservoir 0.42 1.05 7.25
Distribusi 0.40 0.54 7.46

Teknologi Kimia Industri 21


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Tabel 4.3 Data Analisa Bulan Juni


Parameter Uji Standar PERMENKES RI
No. 416 Tahun 1990 untuk
Periode Nama WTP Unit WTP Fe Turbidity air bersih
(mg/l) (NTU) pH Fe Turbidity
pH
(mg/l) (NTU)
DW 01 2.18 0 5.36
DW 04 34.1 5.47 6.19
Aerasi 5.01 15.78 6.47
WTP Q 40
6.5-
L/DT Clarifier 1.16 1.86 6.8 1 25
9.0
Loktuan I
Filter 0.36 0.32 6.89
Reservoir 0.62 0.32 6.9
Distribusi 0.94 1.71 7.15

DW BPN 4.31 2.23 5.58

Juni Aerasi 3.14 13.1 6.68

Clarifier 1 1.28 1.77 7.42

Clarifier 2 1.07 1.98 7.46


WTP Q 25
6.5-
L/DT 1 25
Filter 1 0.72 1.12 7.51 9.0
Loktuan II

Filter 2 0.54 0.62 7.51

Reservoir 0.32 0.84 7.59

Distribusi 0.54 1.01 7.92

Teknologi Kimia Industri 22


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

4.2 Pembahasan

Tugas khusus ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi kinerja dari
aerator pada unit aerasi di WTP Loktuan I dan II PDAM Tirta Taman Bontang.
Untuk mencapai tujuan ini dilakukan analisa terhadap kadar besi, tingkat kekeruhan
dan pH air pada WTP Loktuan I dan II dengan acuan PERMENKES RI No.
416/MenKes/IX/1990.

Aerasi merupakan proses pengolahan dimana air dibuat mengalami kontak


erat dengan udara dengan tujuan meningkatkan kandungan oksigen dalam air
tersebut. Dengan meningkatnya oksigen zat-zat mudah menguap seperti hiddrogen
sulfide dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dapat dihilangkan.
Kandungan karbondioksida dalam air akan berkurang. Mineral yang larut seprti
besi dan mangan akan teroksidasi membentuk endapan yang dapat dihilangkan
dengan sedimentasi dan filtrasi.

Proses aerasi merupakan peristiwa terlarutnya oksigen di dalam air.


Efektifitas dari aerasi tergantung dari seberapa luas dari permukaan air yang
bersinggungan langsung dengan udara. Fungsi utama aerasi adalah melarutkan
oksigen ke dalam air untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air dan
melepaskan kandungan gas-gas yang terlarut dalam air, serta membantu
pengadukan air. Aerasi dapat dipergunakan untuk menghilangkan kandungan gas
terlarut, oksidasi besi dan mangan dalam air, mereduksi ammonia dalam air melalui
proses nitrifikasi.

Dari analisa yang dilakukan pada bulan April hingga Juni diperoleh data
seperti berikut:

Teknologi Kimia Industri 23


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Kandungan Fe
40
35 34.01
30
25
20
15
10
5 5.01 5.01
2.37
2.18
2.15 2.15
0
DW
1 1
AE
DW2 2 3

April Mei Juni

Gambar 4.1 Grafik Analisa Kandungan Besi Pada WTP Loktuan 1

Kandungan Fe
5
4.5
4.31
4 3.94
3.77
3.5
3 3.14
2.77
2.5 2.4
2
1.5
1
0.5
0
DW
1 AE
2

April Mei Juni

Gambar 4.2 Grafik Analisa Kandungan Besi Pada WTP Loktuan 1

Pada analisa kadar Fe berdasarkan prinsip metode kolorimentri. Semua ion


besi direduksi oleh Natrium Sulfit untuk ion besi. Kompleks Phenanthroline
dengan ion besi untuk membentuk larutan berwarna orange. Intensitas warna
larutan menentukan kadar zat besi. Reagen khususnya dapat mengukur seberapa
besar kadar Fe tergantung dari kepekaan warna. Bila pucat, menandakan kadar Fe
rendah. Sebaliknya, bila warnanya jelas dan terang, maka kadar Fe tinggi.

Teknologi Kimia Industri 24


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa nilai kandungan besi pada aerator
selama 3 bulan tetap sama yaitu 5,01 mg/l. Untuk sumur 1 nilai kandungan besi
dari bulan April hingga Juni berkisar antara 2,15 hingga 2,37 sementara untuk
sumur 2 berkisar antara 2,15 hingga 5,01 pada bulan April hingga Mei kemudian
menjadi 34,01 pada bulan Juni.
Nilai kandungan besi yang tetap sama pada aerator menunjukkan bahwa
aerator WTP Loktuan 1 tidak bekerja secara maksimal. Terbukti dari tidak
berkurangnya nilai kandungan besi pada air sumur setelah melalui proses aerasi,
bahkan cenderung meningkat dibandingkan dengan nilai kandungan besi awal
yang terdapat pada air sumur.
Tidak berkurangnya nilai kandungan besi pada air setelah melalui proses
aerasi disebabkan oleh tidak maksimalnya kontak antara air dengan udara. Hal ini
bisa disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah temperatur yang rendah,
waktu kontak yang singkat, makin sempitnya permukaan kontak antara air dan
udara, makin sedikitnya volume gas yang melakukan kontak dengan air serta nilai
pH yang cenderung rendah karena pada pH yang rendah proses aerasi akan menjadi
semakin lama sebab kecepatan reaksi oksidasi besi dengan oksigen akan menjadi
lebih lambat.
Sementara untuk gambar 4.2 menunjukkan nilai kandungan besi pada air
sumur WTP Loktuan 2 selama 3 bulan selalu mengalami penurunan setelah melalui
proses aerasi. Hal ini menunjukkan aerator pada WTP Loktuan 2 bekerja dengan
baik sesuai dengan fungsinya.

Teknologi Kimia Industri 25


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisa yang diperoleh menunjukkan kinerja aerator pada WTP
Loktuan 2 lebih baik dibandingkan dengan kinerja dari aerator WTP Loktuan 1.

5.2 Saran
Disarankan untuk melakukan pengecekkan dan pembersihan pada unit
aerator WTP Loktuan 1 atau melakukan pengkondisian awal pada air sumur
sebelum melalui unit aerator.

Teknologi Kimia Industri 26


Politeknik Negeri Samarinda
Laporan Kerja Praktek 2018
Tugas Umum

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Pengertian Air Bersih. https://nacenaarlyn.wordpress.com/pengertian-


air-bersih/. Diakses pada 26 Maret 2018

Anonim. 2014. Pengertian Air Bersih. https://id.wikipedia.org/wiki/Air_bersih. Diakses


pada 26 Maret 2018

Anonim. 2015. Air Bersih. https://brightfuture.unilever.co.id/stories/475442/Air-Bersih-


Adalah-Sumber-Kehidupan-Yang-Sehat.aspx. Diakses pada 26 Maret 2018

Anonim. 2015. Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPAL)


https://www.mrtekno.net/2013/05/instalasi-pengolahan-air-limbah-ipal.html
Diakses pada 12 April 2018

Anonim. 2015. Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPAL)


https://id.wikipedia.org/wiki/Instalasi_pengolahan_air_limbah Diakses pada
12 April 2018

Anonim. 2016. Pengertian Koagulasi.


http://www.temukanpengertian.com/2016/02/pengertian-koagulasi.html?m=1.
Diakses pada 28 Maret 2018

Dhee, kka. 2015. http://dhekkabersama.blogspot.co.id/2015/02/uji-jartest-dengan-


koagulan-pac.html. Diakses pada 29 Maret 2018

Teknologi Kimia Industri 27


Politeknik Negeri Samarinda