Anda di halaman 1dari 3

KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGKRIMINALISASI TERHADAP TINDAK

PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING ).

I. Pendahuluan.

Tindak pidana pencucian uang (money laundering) merupakan salah satu tindak
pidana yang merebak pesat secara global pada tahun 1980 – an yakni decade saat
itu yang sebagian besar nagara – negara di dunia ini telah
memasuki pembangunan ekonomi, industri dan keuangan yang begitu baik.
Tumbuh suburnya dan berkembangnya tindak pidana pencucian uang bersifat
lintas batas negara yang karena itu dikatakan juga sebagai “transnational
crime” dan karakteristiknya menggunakan sistem keuangan (financial system)
terutama sistem perbankan (banking system) dan dengan penamaan
serta karakteristik tersebut maka makna dari tindak pidana pencucian uang
adalah perbuatan untuk menyembunyikan dan menyamarkan asal usul harta
kekayaan yang di peroleh dari tindak pidana. Sedangkan motif dari tindak pidana
pencucian uang yakni untuk menghindari dari dan agar tidak dapat dengan
mudah dilacak oleh penegak hukum mengenai sumber di perolehnya harta
kekayaan tersebut.
Sebagai suatu tindak pidana yang menggunakan sistem perbankan baik nasional
maupun internasional untuk menyembunyikan atau mengaburkan asal –
usul dana yang diperoleh hasil dari tindak pidana, maka tindak
pidana pencucian uang sangat membahayakan setiap negara tidak hanya akan
merusak terhadap stabilitas perekonomian nasional atau keuangan negara namun
tidak kalah penting adalah minimnya kepercayaan masyarakat internasional
terhadap negara tersebut. Tidak sedikit tindak pidana yang mempunyai korelasi
dengan tindak pidana pencucian uang ini yakni tindak pidana korupsi,
penyuapan, penyelundupan barang, narkotika, psikotropika, pemalsuan uang
dan sebagainya.
Menyadari dan mencermati akan perkembangan pesat dan dampak dari tindak
pidana pencucian uang tersebut, maka masyarakat internasional melalui lembaga
PBB telah melahirkan beberapa instrumen hukum internasional
guna pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, yakni seperti
antara lain :
- Un Convention on Corruption, 2003
- Un Convention on Transnational Organized Crime, 2002
- Un Convention Against Ulicif Traffic in Narcotic Drug and Psychotropic
Substances, 1988.
Salah satu ketentuan dari berbagai instrumen internasional adalah materi yang
mengatur mengenai mekanisme bantuan hukum timbal balik (mutual legal
assistance) adalah merupakan mekanisme yang tepat untuk kerja sama
internasional dalam penegakan hukum memberantas tindak pidana pencucian
uang.

II. Kebijakan Kriminalisasi Tindak Pidana Pencucian Uang.

Seiring dengan merebaknya tindak pidana pencucian uang ditingkat


internasional juga kemudian ditempuh langkah dengan membentuk satuan tugas
yang disebu dengan The Financial Action Task Forse (TATF) on menay
laundering oleh kelompok 7 negara (G – 7) dalam G-7 Summit di Prancis
pada Juli 1989. Saat ini beranggotakan 29 negara dan 2 organisasi
regional yakni European Commision dan Gulf Cooperation Council.
Indonesia belum bergabung dengan FATP dan dari hasil penilaian FATF
tersebut sampai saat ini Indonesia masih dimasukkan kategori “non cooperative
countries” dalam penanggulangan money laundering. Hal ini didasarkan
pertimbangan bahwa perangkat kebijakan legislative (peraturan perundanga –
undangan) belum memadai misalnya dalam kerjasama internasional mengenai hal
tersebut belum disiapkan undang – undang tentang bantuan hukum timbal balik
(mutual legal assistance in criminal matters) yang menjadi payung dalam
kerjasama internasional, walaupun dalam kenyataannya Indonesia telah
melakukan perjanjian MLA dengan beberapa negara sahabat seperti Australia,
China dan Indonesia mendorong kerjasama regional bersama – sama dengan
Malaysia untuk menyujudkan MLA Asean Countries. Indonesia telah menjadi
anggota The Asia Pacific Group on money laundering (APG) yakni suatu badan
kerja sama internasional dalam pengembangan anti money laundering region
untuk wilayah asia pasifik yang didirikan tahun 1977. Saat ini APG
beranggotakan 26 anggota yang tersebar di Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia
Timur dan Pasifik Selatan. Indonesia sendiri terlibat aktif dalam upaya mencegah
dan memberantas kejahatan transnasional dengan dikeluarkannya UU No 15
tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Jo UU No 25 tahun 2003
Tantang Perubahan atas UU No 15 tahun 2002. Dengan lahirnya UU tersebut dan
didukung dengan perangkat hukum lainnya yang terkait, maka Indonesia telah
memiliki landasan hukum yang baik guna pemberantasan tindak pidana
pencucian uang. Dan jauh sebelum itu pemerintah telah meratifikasi Konvensi
PBB tahun 1988 tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan
Psikotropika dengan UU No 21 tahun 1977.
Sifat transnasional dari tindak pidana pencucian uang, maka hal ini perlu
adanya kerjasama antar negara guna penegakan hukumnya melalui mekanisme
bantuan hukum timbal balik (mutual legal assistance). Konvensin PBB tentang
TOC dan Konvensi PBB tentang Korupsi masih dalam upaya untuk diratifikasi
oleh Indonesia dan ditambah lagi dengan belum adanya UU khusus tentang yang
mengatur tentang MLA, hal ini akan dapat menjadi kendala yang dihadapi
Indonesia dalam upaya penegakan hukum memberantas tindak pidana pencucian
uang. Sedangkan kerjasama 2 negara dibentuk MLA dengan mengandalkan
prinsip resiprasitas belum menjamin keberhasilannya.