Anda di halaman 1dari 15

1.

Tujuan dan Manfaat Takhrjul Hadist


tujuannya adalah sebagai berikut:

a) Mengetahui sumber otentik suatu hadist dari buku hadist apa saja yang

didapatkan.

b) Mengetahui ada berapa tempat hadist tersebut dengan sanad yang

berbeda di dalam sebuah buku hadist atau dalam beberapa buku induk

hadist.

c) Mengetahui kualitas hadist makbul(diteirma) atau mardud( ditolak).

d) Mengetahui eksistensi suatu hadist apakah benar suatu hadist yang

ingin diteliti terdapat dalam buku-buku hadist atau tidak.8

e) Mengetahui asal-usul riwayat hadist yang akan diteliti.

f) Mengetahui seluruh riwayat bagi hadist yang akan diteliti.

g) Mengetahui ada atau tidak adanya syahid dan mutabi‟ pada hadist yang

akan diteliti.

manfaat takhrijul hadist cukup banyak diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Menghimpun sejumlah sanad hadist, dengan takhrij seseorang dapat

menemukan sebuah hadist yang akan diteliti di sebuah atau beberapa

tempat di dalam kitab Al-Bukhori saja, atau di dalam kitab-kitab lain.

Dengan demikian ia akan menghimpun sejumlah sanad.

2) Mengetahui referensi beberapa buku hadist, dengan takhrij seseorang

dapat mengetahui siapa perawi suatu hadist dan yang diteliti dan

didalam kitab hadist apa saja hadist tersebut didapatkan.

3) Mengetahui keadaan sanad yang bersambung(muttashil) dan yang

terputus(munqothi‟) dan mengetahui kadar kemampuan perawi dalam

mengingat hadist serta kejujuran dalam periwayatan.


4) Mengetahui status suatu hadist. Terkadang ditemukan sanad suatu

hadist dhoif, tetapi melalui sanad lain hukumnya sahih.

5) Meningkatkan suatu hadist yang dhoif menjadi hasan lighorihi karena

adanya dukungan sanad lain yang seimbang atau lebih tinggi

kualitasnya, atau meningkatnya hadist hasan menjadi shohih ligoirihi

dengan ditemukannya sanad lain yang seimbang atau lebih tinggi

kualitasnya.

6) Mengetahui bagaimana para imam hadist menilai suatu kualitas hadist

dan bagaimana kritikan yang disampaikan.

7) Seseorang yang melakukan takhrij dapat menghimpun beberapa sanad

dan matan hadist.10

8) Dengan takhrij dapat diketahui banyak sedikitnya beberapa jalur

periwayatan suatu hadist yang sedang menjadi topik kajian.

9) Dengan takhrij akan diketahui kuat dan tidaknya periwayatan. Makin

banyaknya jalur periwayatan akan menambah kekutan riwayat,

sebaliknya tanpa dukungan periwayatan lain maka berarti kekuatan

periwayatan tidak bertambah.

10) Dengan takhrij kekaburan suatu periwayatan, dapat diperjelas dari

periwayatan jalur isnad yang lain. Baik dari segi rawi, isnad maupun

matan hadist.

11) Dengan takhrij akan dapat ditentukan status hadist shahih dzatihi atau

shahih lighoirihi li ghoirihi, hasan li dzatihi atau hasan lighoirihi.

Demikian juga akan diketahui istilah hadist mutawatir, masyhur, aziz,

dan ghorib.

12) Dengan takhrij akan dapat diketahui persamaan dan perbedaan atau
wawasan yang lebih luas tentang berbagai periwayatan dan beberapa

hadist terkait.

13) Memberika kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah

mengetahui bahwa hadist tersebut adlah maqbul(dapat diterima),

sebaliknya orang yang tidak mengamalkannya apabila mengetahui

bahwa hadist tersebut mardud(ditolak).

14) Mengetahui keyakinan bahwa suatu hadist adalah benar-benar berasal

dari Rosulululloh SAW yang harus diikuti karena adanya bukti-bukti

D. Manfaat Takhrij Al-Hadits


Ada beberapa manfaat dari takhrij al-hadits antara lain sebagai berikut:
1. Memberikan informasi bahwa suatu hadits termasuk hadits shahih, hasan, ataupun
dhaif, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya.
2. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu
hadits adalah hadits makbul (dapat diterima). Dan sebaliknya tidak mengamalkannya
apabila diketahui bahwa suatu hadits adalah mardud (tertolak).
3. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah
SAW. Yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran
hadits tersebut, baik dan segi sanad maupun matan.

2. Sejarah Takhrij Al-Hadits

Sejarah dan Pengenalan Kitab – Kitab Takhrij


1. Sejarah Ilmu Takhrij
Ulama-ulama terdahulu belum begitu membutuhkan ilmu takhrijhadits ini, khususnya ulama
yang berada pada awal abad kelima, karena Alloh memberi karunia kepada mereka suka
menghafal dan banyak mengkaji kitab-kitab yang bersanad yang menghimpun hadits-hadits Nabi
SAW. Keadaan ini terus berlanjut sampai beberapa abad, hingga tradisi kecintaan terhadap
hafalan dan kajian kitab-kitab hadits serta sumber rujukan pokoknya menjadi lemah.[4] Ketika
tradisi ini lemah, para ulama selanjutnya mulai menemui kesulitan untuk mengetahui sumber
suatu hadits yang terdapat dalam Kitab Fiqih Tafsir dan Tarikh, maka muncullah segolongan
ulama yang mulai melakukan Takhrijhadits terhadap karya-karya ilmu tersebut dan menjelaskan
kedudukan hadits itu apakah statusnya shohih. Hasan atau doif. Waktu itulah muncul kutub at-
takhrij (kitab-kitab takhrij).
Kitab-kitab Takhrij generasi pertama, seperti yang dikemukakan oleh Mahmud al-Thahhan
adalah kitab-kitab buah pena al-Khatib al-Baghdadiy [w. 463 H]. Diantara kitab yang terkenal
adalah:
a. Takhrij al-Fawaid al-Muntakhobah al-Shihah wa al-Ghoroib karya Abi Al-Ghoroib,
b. Takhrij al-Fawaid al-Muntakhobah al-Shihah wa al-Ghoroib karya Abi Qosim al-Mahrowani.
c. Kitab Takhrijhadits al-Muhazzab oleh karya Muhammad bin Musa al-Hazimi.[5]

Kemudian pada masa selanjutnya, karya-karya dalam bidang ilmu takhrijhadits semakin
meluas hingga mencapai puluhan. Sumbangan karya-karya tersebut tidak dapat dipungkiri sangat
signifikan terhadap perkembangan ilmu-ilmu ke-Islaman lainnya.
Mahmud At-Tahhan menyebutkan bahwa tidak diragukan lagi cabang ilmu takhrij ini sangat
penting sekali bagi setiap ilmuan yang bergelut dibidang ilmu syariah khususnya bagi yang
bergelut dibidang ilmu hadits dengan ilmu ini seseorang bisa memeriksa hadis ke sumber
asalnya.

2. Pengenalan kitab-kitab takhrij


Berikut adalah kitab-kitab takhrij yang termasyhur.
1. Nashb ar-Royah li Ahadits al-Hidayah karya Abdulloh bin Yusuf al-Zaila’i (w. 762 H).
Kitab ini mentakhrijhadits-hadits yang dijadikan oleh al-Allamah Ali bin Abi Bakar al-
Marghinani al-Hanafi (w.593 H) dalam kitab al-Hidayah. Kitab ini merupakan kitab fikih
Hanafi,sedangkan kitab takhrij ini merupakan yang paling luas dan yang paling dikenal
dibanding kitab takhrij lainnya.
Al- Kattani berkata, “kitab ini adalah kitab takhrij yang sangat bemanfaat sekali dijadikan
patokan oleh kalangan pensyarah kitab al-Hidayah, bahkan Ibnu Hajar banyak mengambil
manfaat dari buku dalam disiplin ilmu hadits, nama-nama perawi dan luasnya pandangan beliau
tentang haditsmarfu’
2. Takhrij Ahadits al-Mukhtashar al-Kabir karya Muhammad bin Ahmad Abd al-Hadi al-Maqdisy
(w. 744 H).
3. Takhrij Ahadits al-Kasysyaf li az- Zamakhsyari karya Abdullah bi Yusuf az-Zaila’i. Ia sudah
dicetak.
4. Irwa’ al Ghalil fi Takhtij Ahadits Manar as-Sabil, karya asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani.
5. At-Talkhish al-Habir, Takhrij Ahadits al-Wajiz al-Kabir fi Li ar-Rifa”i, ditulis olehal-Hafidz
Ibnu Hajar, sudah dicetak.
6. Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, karya al-Hafidz Ibnu Hajar.
7. Al-Badr al-Munir fi al-Takhrij al-Ahaditz wa al-Atsar al-Waqi`ah fi al-Syarh al-Kabirli ar-
Rafi’i [Abu al-Qasim Abd al-Karim Ibn Muhammad al-Qazwayniy al-Rafi`iy al-Syafi`iy – w.623
H], karya Umar Ibn Ali Ibn al-Mulqan (w. 804 H); telah ditahqiq di dalam risalah Majister di
Universitas Islam Madinah.
8. Al-Mughniy `an Haml al-Ashfar fi al-Ashfar fi Takhrij Ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar[al-
Ghazaliy], karya al-Hafizh Zayn al-Din Abd al-Rahim Ibn al-Husayn al-Iraqiy (w. 806 H);
9. Al-Takhrij al-Ahadits al-latiy Yusyiru Ilayha al-Tirmidziy fi Kulli Bab, karya al-Iraqiy;
10. Ad- Dirayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah, karya al-Hafidz Ibnu Hajar.
11. Tuhfah ar-Rawi fi Takhrij Ahadits al-Baidhawi, karya al-Hafidz Abdurra’uf al-Munawi.
Diantara kitab-kitab takhrij yang disebutkan di atas yang sudah banyak dipergunakan oleh
penuntut ilmu, yaitu:Nashb ar-Royah li Ahadits al-Hidayah dan At-Talkhish al-Habir, Takhrij
Ahadits al-Wajiz al-Kabir fi Li ar-Rifa”i.[6]

Dalam melakukan takhrij, seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan
pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai
sasaran yang dituju. Diantara kitab-kitab yang dapat dijadikan pedoman dalam mentakhrijadalah:
a) Usul al – Takhrij wa Dirasat Al – Asanid oleh Muhammad Al-Tahhan,
b) Husul al-Tafrij bi Usul al-Takhrij oleh Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al- Gharami,
c) Turuq TakhrijHadits Rasul Allah Sawkarya Abu Muhammad al-Mahdi ibn `Abd al-Qadir ibn
`Abd al Hadi,
d) Metodologi Penelitian Hadits Nabi oleh Syuhudi Ismail.
e) al-Mu’jam al-Mufharos li Alfazi Ahadis al-Nabawi oleh A.J. Wensinck
f) Miftah Kunuz al-Sunnah oleh pengarang yang sama diterjemahkan oleh Muhammad Fuad Abd
Baqi.
g) Mausu’ah Athraful Hadis an-Nabawi oleh Zaglul.
h) Al-Istiab oleh Ibnu Abd Barr
i) Usul al-Ghabah oleh Abd Atsir
j) Al-Ishobah oleh Ibn Hajar al-Asqolani.
k) Al-Jarh wa at-Ta’di juga karya Ibnu Hajar.

Sejarah Takhrij Hadist

Para ulama dan peneliti hadist terdahulu tidak membutuhkan kaidahkaidah

dan pokok-pokok takhrij ( Ushulut-Takhrij ), karena pengetahuan

mereka sangat luas dan ingatan mereka sangat kuat terhadap sumber-sumber

sunnah. Ketika mereka membutuhkan hadist sebagai penguat, dalam waktu

singkat mereka dapat menemukan tempatnya dalam kitab-kitab hadist

berdasarkan dugaan yang kuat. Disamping itu, mereka mengetahui sistematika


penyusunan kitab-kitab hadist, sehingga mudah bagi mereka untuk

mempergunakan dan memeriksa kembali guna mendapatkan hadist. Hal

seperti itu juga mudah bagi orang yang membaca hadist pada kitab-kitab

selain hadist, karena ia berkemampuan mengetahui sumbernya dan dapat

sampai pada tempatnya dengan mudah.

Keadaan seperti itu berlangsung sampai berabad-abad, hingga

pengetahuan para ulama tentang kitab-kitab hadist dan sumber aslinya

menjadi sempit, maka sulitlah bagi mereka untuk mengetahui tempat-tempat

hadist yang menjadi dasar Ilmu Syar‟i, seperti fikih, tafsir, sejarah, dan

sebagainya. Berangkat dari kenyataan inilah sebagaian ulama‟ bangkit untuk

membela hadist dengan cara menakhrijkannya dari kitab-kitab selain hadist,

menisbatkannya pada sumber asli, menyebutkan sanad-sanadnya, dan

membicarakan kesahihan dan kedhoifan sebagian atau seluruhnya maka

timbullah kitab-kitab takhrij.5

Ulama yang pertama kali melakukan Takhrij menurut Mahmud AthThohan

adalah Al- Khatib Al-Baghdadi (w, 436 H) , Kemudian dilakukan

pula oleh Muhammad bin Musa Al-Hazimi (w. 584 H) dengan karyanya yang

berjudul Takhrij Ahadist Al-Muhadzdzab. Ia mentakhrij kitab fikih karya Abu

Ishaq Asy-Syirazi. Ada juga ulama lainnya seperti Abu Qosim Al-Husaini dan

Abu Al-Qosim Al-Mahrawani. Karya kedua ulama ini hanya beberapa

mahthuthah (manuskrip) saja.

5 Mahmud Ath-Thahan, Metode Takhrij dan Penelitian Sanad Hadist, (Surabaya: PT.Bina Ilmu,

1995), 7-8

5
Pada perkembangan selanjutnya, cukup banyak bermunculan kitab

yang berupaya mentakhrij kitab-kitab dalam berbagai ilmu agama.6

Ulama-ulama hadist telah menulis berpuluh-puluh kitab-kitab tentang

Takhrij, yang populer di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Kitab Takhrij Ahadisil Muhadzab, karya Abu Ishaq Al-Syirozi, tulisan

Muhammad bin Musa Al-Hazimi(w. 584 H).

2. Kitab Takhriju Ahadisil Mukhtashoril Kabir, karya Ibnu Hajib, tulisan

Ahmad bin Abdul Hadi Al-Maqdisi(w. 774 H).

3. Kitab Nasbur Royah Li Ahadisil Hidayah , karya Al-Margigani, tulisan

Abdulloh bin Yusuf Az-Zaila‟i(w. 762 H).

4. Kitab Takhriju Ahadisil Kassyaf li Az-Zamakhsyari, karya Al-Jahiz,

tulisan Hafidz Az-Zailai.

5. Kitab Al-Badrul Munir fi Takhrijil Ahadisti wa Asiril Waqi‟ati FishSyrkhil

Kabiri, karya Rofi‟i, tulisan Umar bin Ali bin Al-Mulqin(w. 804

H).

6. Kitab Al-Mughni An Hamilil Asfar Fil Al-Ashfar Fi Takhriji Ma Fil Ihya‟

Minal Akhbar, tulisan Abdur-Rahim bin Al-Husain Al-Iroqi(W.806 H).

7. Kitab-kitab Takhrij At-Turmudzi yang ditandainya dalam setiap tulisan

Al-Hafidz Al-Iroqi juga.

8. Kitab-kitab Talkhisul Kabir Fi Takhrijil Ahadisti Syarkhil Wajizil Kabir,

Kitab Ar-Rofi‟i, tulisan Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Ashqolani(w. 852 H).

9. Kitab Ad- Diroyah fi Takhrijil ahadisil Hidayah, tulisan Al-Hafidz Ibnu

Hajar juga.

10. Kitab Tuhfatur-Rawi Fi Takhriji Ahadisil Baidawi, tulisan Abdur Rouf Al

Munawi(w.1031 H).
TAKHRIJ AL-HADITS

Kata takhrij ( (‫تخريج‬adalah bentuk mashdar dari (‫تخريجا‬-‫يخرج‬


ّ -‫خرج‬
ّ ) yang secara bahasa berarti
mengeluarkan sesuatu dari tempatnya.

Definisi TakhrijHadits

Takhrij menurut bahasa memiliki beberapa makna. Yang paling mendekati disini adalah berasal dari kata
kharaja (‫ )خرج‬yang artinya nampak dari tempatnya atau keadaaannya, dan terpisah, dan kelihatan.
Demikian juga kata al-ikhraj (‫ )االخرج‬yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan kata al-
makhraj (‫ )المخرج‬yang artinya tempat keluar.[1]

Secara bahasa takhrijhadits adalah:

“Mengeluarkan sesuatu dari suatu tempat”[2]

Sedangkan menurut istilah Muhaditsin, takhrij diartikan dalam beberapa pengertian :

1. Sinonim dan ikhraj, yakni seorang rawi mengutarakan suatu hadits dengan menyebutkan sumber
keluarnya (pemberita) hadits tersebut.

2. Mengeluarkan hadits-hadits dari kitab-kitab, kemudian sanad-sanadnya disebutkan.

3. Menukil hadits dari kitab-kitab sumber (diwan hadits) dengan menyebut mudawinnya serta dijelaskan
martabat haditsnya

Dari ketiga definisi di atas, maka Mahmud al-Thahhan mendefinisikan tentang ta’rif takhrij adalah :

‫التخريجهوالداللةعلىموضعالحديثفىمصادرهاالصليةالتىاخرجتهبسندهث‬
‫مبيانمرتبتهعندالحاجة‬
“Takhrij ialah penunjukan terhadap tempat hadits dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan
martabatnya sesuai dengan keperluan”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa takhrij meliputi kegiatan :

a. Periwayatan (penerimaan, perawatan, pentadwinan, dan penyampaian) hadits.

b. Penukilan hadits dari kitab-kitab asal untuk dihimpun dalam suatu kitab tertentu.

c. Mengutip hadits-hadits dari kitab-kitab fan (tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, dan akhlak) dengan
menerangkan sanad-sanadnya.
d. Membahas hadits-hadits sampai diketahui martabat kualitas (maqbul-mardudnya).

Utang Ranuwijaya menyimpulkan bahwa dalam pentakhrijan hadits ada dua hal yang mesti dilakukan:

1. Berusaha menemukan para penulis hadits tersebut dengan rangkaian sanad-sanadnyadan


menunjukannya pada karya-karya mereka, seperti kata-kata akhrojahu al-Baihaqi, akhrojahu at-Tabrani
fi mu’jamihi atau akhrojahu Ahmad fi musnadihi.

2. Memberikan kwalitas hadits apakah hadits itu sohih atau tidak. Peniliaian ini dilakukan andaikata
diperlukan. Artinya, bahwa penilaian kwalitas suatu hadits dalam mentakhrijhadits tidak selalu harus
dilakukan. Kegiatan ini hanya melengkapi kegiatan takhrij tersebut. Sebab, dengan diketahhui dari mana
hadits itu diperoleh sepintas dapat dilihat sejauh mana kwalitasnya.[3]

Faktor Penyebab Takhrij Al-Hadits


Adapun faktor utama yang menyebabkan kegiatan penelitian terhadap hadits
(takhrij al-hadits) dilakukan oleh seorang peneliti hadits adlah sebagai berikut:
a) Mengetahui asal-usul riwayat hadits yang akan diteliti
Maksudnya adalah untuk mengetahui status dan kualitas hadits dalam
hubungannya dengan kegiatan penelitian, langkah awal yang harus dilakukan oleh
seorang peneliti adlah mengetahui asal-usul periwayatan hadits yang akan diteliti,
sebab taanpa mengetahui asal-usulnya sanad dan matan hadits yang bersangkutan
mengalami kesulitan untuk diketahui matarantai sanadnya sesuai dengan sumber
pengambilannya, sehingga tanpa diketahui secara benar tentang matarantai sanad dan
matan, maka seorang peneliti peengalami kesulitan dalam melakukan penelitian secara
baik dan cermat. Makanya dari faktor ini, kegiatan penelitian hadits (takhrij) dilakukan.
b) Mengetahui dan mencatat seluruh periwayatan hadits bagi hadits yang akan diteliti.
Maksudnya adalah mengingat redaksi hadits yang akan diteliti itu bervariasi
antara satu dengan yang lain, maka diperlukan kegiatan pencarian seorang peneliti
terhadap semua periwayatan hadits yang akan diteliti, sebab boleh jadi salah satu sanad
haadits tersebut berkualitas dha’if dan yang lainnya berkualitas shahih.

c) Mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada mata rantai sanad
Mengingat salah satu sanad hadits yang redaksinya bervariasi itu dimungkinkan
ada perawi lain yang sanadnya mendukung pada sanad hadits yang sedang diteliti,
maka sanad hadits yang sedang diteliti tersebut mungkin kualitasnya dapat dinaikkan
tingkatannya oleh sanad perawi yang mendukungnya.
Dari dukungan tersebut, jika terdapat pada bagian perawi tingkat pertama (yaitu
tingkat sahabat) maka dukungan ini dikenal dengan syahid. Jika dukungan itu terdapat
pada bagian perawi tingkat kedua atau ketiga (seperti pada tingkatan tabi’I atau tabi’it
tabi’in), maka disebut sebagai mutabi’ .

Dengan demikian, kegiatan penelitian (takhrij) terhadap hadits dapat


dilaksanakan dengan baik jika seorang peneliti dapat mengetahui semua asal-usul
matarantai sanad dan matannya dari sumber pengambilannya. Begitu juga jalur
periwayatan mana yang ada syahid dan mutabi’nya, sehingga kegiatan penelitian
(takhrij) dapat dengan mudah dilakukan secara baik dan benar dengan menggunakan
metode pentakhrijannya.
Metode Takhrij
1. Metode Pertama, takhrij dengan cara mengetahui perawi hadits dari shahabat
Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits, lalu kita
mencari bantuan dari tiga macam karya hadits :
 Al-Masaanid (musnad-musnad) : Dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh
setiap shahabat secara tersendiri. Selama kita telah mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan
hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-masaanid hingga mendapatkan petunjuk
dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut.
 Al-Ma’aajim (mu’jam-mu’jam) : Susunan hadits di dalamnya berdasarkan urutan musnad para
shahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah).
Dengan mengetahui nama shahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya.
 Kitab-kitab Al-Athraf : Kebanyakan kitab-kitab al-athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para
shahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui
bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-
kitab al-athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap.

2. Metode Kedua, takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits


Cara ini dapat dibantu dengan :
 Kitab-kitab yang berisi tentang hadits-hadits yang dikenal oleh orang banyak, misalnya : Ad-Durarul-
Muntatsirah fil-Ahaaditsil-Musytaharah karya As-Suyuthi; Al-Laali Al-Mantsuurah fil-Ahaaditsl-
Masyhurah karya Ibnu Hajar; Al-Maqashidul-Hasanah fii Bayaani Katsiirin minal-Ahaaditsil-
Musytahirah ‘alal-Alsinah karya As-Sakhawi; Tamyiizuth-Thayyibminal-Khabits fiimaa Yaduru ‘ala
Alsinatin-Naas minal-Hadiits karya Ibnu Ad-Dabi’ Asy-Syaibani; Kasyful-Khafa wa Muziilul-Ilbas
‘amma Isytahara minal-Ahaadits ‘ala Alsinatin-Naas karya Al-‘Ajluni.
 Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus, misalnya : Al-Jami’ush-Shaghiir
minal-Ahaaditsil-Basyir An-Nadzir karya As-Suyuthi.
 Petunjuk-petunjuk dan indeks yang disusun para ulama untuk kitab-kitab tertentu, misalnya : Miftah
Ash-Shahihain karya At-Tauqadi; Miftah At-Tartiibi li Ahaaditsi Tarikh Al-Khathib karya Sayyid
Ahmad Al-Ghumari; Al-Bughiyyah fii Tartibi Ahaaditsi Shahih Muslim karya Muhammad Fuad Abdul-
Baqi; Miftah Muwaththa’ Malik karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi.

3. Metode Ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh
orang dari bagian mana saja dari matan hadits
Metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfaadzil-Hadits An-Nabawi, berisi
sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits, yaitu : Kutubus-Sittah,
Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad Ad-Darimi. Kitab ini disusun oleh seorang
orientalis, yaitu Dr. Vensink (meninggal 1939 M), seorang guru bahasa Arab di Universitas Leiden
Belanda; dan ikut dalam menyebarkan dan mengedarkannya kitab ini adalah Muhammad Fuad
Abdul-Baqi.

4. Metode Keempat, takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits


Jika telah diketahui tema dan objek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrij-nya
dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. Cara ini banyak
dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun
berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan
Belanda yang bernama Dr. Arinjan Vensink juga. Kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits
yang terkenal, yaitu :
 Shahih Bukhari
 Shahih Muslim
 Sunan Abu Dawud
 Jami’ At-Tirmidzi
 Sunan An-Nasa’i
 Sunan Ibnu Majah
 Muwaththa’ Malik
 Musnad Ahmad
 Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi
 Sunan Ad-Darimi
 Musnad Zaid bin ‘Ali
 Sirah Ibnu Hisyam
 Maghazi Al-Waqidi
 Thabaqat Ibnu Sa’ad

5. Metode Kelima, takhrij dengan cara melalui pengamatan terhadap ciri-ciri tertentu pada
matan atau sanad
Metode ini dilihat dari ciri-ciri tertentu dalam matan maupun sanad-nya (klasifikasi) maka akan
ditemukan hadits itu berasal. Ciri-ciri yang dimaksud adalah ciri-ciri maudhu�, ciri-ciri hadits qudsi,
ciri-ciri dalam periwayatan dengan silsilah sanad tertentu, dll.
Contoh Takhrij Hadits :

Berikut ini contoh takhrij dari kitab At-Talkhiisul-Habiir (karya Ibnu Hajar) :
Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,”Hadits ‘Ali bahwasannya Al-‘Abbas meminta kepada
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum sampai
tiba haul-nya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan untuknya.
Diriwayatkan oleh Ahmad, para penyusun kitab Sunan, Al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi;
dari hadits Al-Hajjaj bin Dinar, dari Al-Hakam, dari Hajiyah bin ‘Adi, dari ‘Ali. Dan diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi dari riwayat Israil, dari Al-Hakam, dari Hajar Al-‘Adawi, dari ‘Ali. Ad-Daruquthni
menyebutkan adanya perbedaan tentang riwayat dari Al-Hakam. Dia menguatkan riwayat Manshur
dari Al-Hakam dari Al-Hasan bin Muslim bin Yanaq dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan
derajat mursal. Begitu juga Abu Dawud menguatkannya. Al-Baihaqi berkata,”Imam Asy-Syafi’I
berkata : ‘Diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau mendahulukan
zakat harta Al-‘Abbas sebelum tiba masa haul (setahun), dan aku tidak mengetahui apakah ini benar
atau tidak?’. Al-Baihaqi berkata,”Demikianlah riwayat hadits ini dari saya. Dan diperkuat dengan
hadits Abi Al-Bakhtari dari ‘Ali, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Kami
sedang membutuhkan lalu kami minta Al-‘Abbas untuk mendahulukan zakatnya untuk dua tahun”.
Para perawinya tsiqah, hanya saja dalam sanadnya terdapat inqitha’. Dan sebagian lafadh
menyatakan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Umar,”Kami pernah
mempercepat harta Al-‘Abbas pada awal tahun”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi dari
hadits Abi Rafi’” [At-Talkhiisul-Habiir halaman 162-163]

Metode Takhrij
Di dalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman, yaitu;

1. Takhrij Berdasarkan Perawi Sahabat


Metode ini adalah metode dengan cara mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan
hadits, adapun kitab-kitab pembantu dari metode ini adalah:
a. Al-Masanid (musnad-musnad). Dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh
setiap sahabat secara tersendiri. Selama kita sudah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan
hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab ini hingga mendapatkan petunjuk dalam
satu musnad dari kumpulan musnad tersebut.[7]Musnad yang dapat digunakan adalah; musnad
Ahmad ibn Hanbal , Musnad Dawud Al Tayalisi, Musnad Al Humaidi, Musnad Abu Hanifah,
Musnad As Syafi’i, dsb. Cara penggunaannya adalah; misalnya sahabat yang meriwayatkan
hadits itu bernama Ali, maka pencarian atau penelusuran dilakukan melalui huruf ‘ayn.
b. Kitab-kitab Al-Atraf. Kebanyakan kitab al-atraf disusun berdasarkan musnad-musnad para
sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui
bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-
kitab al-atraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap. Di antara kitab-kitabAtraf
yang dapat dipergunakan adalah; Atraf As Shohihayn, karya Al Wasiti dan Al Dimashqi,
Tuhfatul Al Ashrof bi Ma’rifat Al Atraf karya Al Mizzi yang merupakan Syarah kitab Al
Ashraf bi ma’rifat Al Atraf karya ibn ‘Asakir, Ithaf Al Mahram bi Atraf Al ‘Ashrah karya Ibn
Hajar Al Asqalani, dsb. Cara penggunaan kitab ini seperti seperti cara menggunakan kitab
musnad, artinya disusun secara alfabetis Hija’iyah.
c. Al- ma`ajim (mu`jam-mu`jam). Susunan hadits di dalamnya berdasarkan urutan musnad para
sahabat atau syuyukh (guru-guru) sesuai huruf kamus hijaiyah. Dengan mengetahui nama
sahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya. Dan kitab mu’jam yang dapat kita
gunakan adalah; mu’jam Al Kabir, Mu’jam Al Awsat, dan Mu’jam Al Saghir yang kesemuanya
adalah karya Al Tabrani. Juga kitab Mu’jam As Shahabah karya Al Mawasili, Mu’jam As
Sahabh karya Al Hamdani, dsb. Dan cara penggunaannya tidak jauh berbeda dengan kitab
musnad dan kitab Atraf.
Kelebihan metode ini adalah bahwa proses takhrij dapat diperpendek. Akan tetapi,
kelemahan dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik, apabila perawi yang
hendak diteliti itu tidak diketahui.[8]

2. Takhrij Melalui Lafadz Pertama Matan Hadits


Metode takhrijhadits menurut lafadz pertama, yaitu suatu metode yang berdasarkan pada
lafadz pertama matan hadits, sesuai dengan urutan huruf-huruf hijaiyah dan alfabetis, sehingga
metode ini mempermudah pencarian hadits yang dimaksud.[9]Misalnya, apabila akan men-
takhrijhadits yang berbunyi;
َ ‫ع ِة ُلَي‬
‫ْس‬ َ ‫ص ْر‬ َّ ‫ال‬
ُ ‫ش ِديْد ِبال‬
Untuk mengetahui lafadz lengkap dari penggalan matan tersebut, langkah yang harus
dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat
penggalan matan yang dimaksud. Dalam kamus yang disusun oleh Muhammad fuad Abdul Baqi,
penggalan hadits tersebut terdapat di halaman 2014. Bearti, lafadz yang dicari berada pada
halaman 2014 juz IV. Setelah diperiksa, bunyi lengkap matan hadits yang dicari adalah;
َ ‫ش ِد ْيدُالَّ ِذ ْييَ ْم ِل ُكنَ ْف‬
ِ ‫س ُه ِع ْندَالغَ ْي‬
‫ب‬ َ ‫ع ِةاِنَّ َماال‬ َ ‫لَ ْي‬: ‫سلَّ َمقَا َ َل‬
َّ ‫سال‬
ُ ‫ش ِد ْيدُبِاال‬
َ ‫ص ْر‬ َ ‫صلَّىاللّ ُهعَلَ ْي ِه َو‬
َ ‫س ْو ََلللّ ِه‬
ُ ‫َع ْناَبِ ْي ُه َري َْرة َأَنَّ َر‬

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “(Ukuran) orang yang kuat
(perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang
yang kuat adalh orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah”.
Metode ini mempunyai kelebihan dalam hal memberikan kemungkinan yang besar bagi
seorangmukharrij untuk menemukan hadits-hadits yang dicari dengan cepat. Akan tetapi, metode
ini juga mempunyai kelemahan yaitu, apabila terdapat kelainan atau perbedaan lafadz
pertamanya sedikit saja, maka akan sulit untuk menemukan hadits yang dimaksud.
Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan huruf kamus, misalnya: “Al-Jami’u Ash
Shoghir min Ahadits Al-Basyir An Nadzir” karya As Suyuti.[10]

3. Takhrij Melalui Kata-Kata dalam Matan Hadits


Metode ini adalah metode yang berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan
hadits, baik berupa kata benda ataupun kata kerja. Dalam metode ini tidak digunakan huruf-
huruf, tetapi yang dicantumkan adalah bagian haditsnya sehingga pencarian hadits-hadits yang
dimaksud dapat diperoleh lebih cepat. Penggunaan metode ini akan lebih mudah manakala
menitik beratkan pencarian hadits berdasarkan lafadz – lafadznya yang asing dan jarang
penggunaanya.
Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya adalah kitab Al – Mu`jam Al – Mufahras
li Al-faz Al – Hadit An – Nabawi. Kitab ini mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat di dalam
Sembilan kitab induk hadits sebagaimana yaitu; Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmizi,
Sunan Abu Daud, Sunan Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Sunan Darimi, Muwaththa’ malik, dan
Musnad Imam Ahmad.[11]
Contohnya pencarian hadits berikut;
ِ َ‫ام ْال ُمتَب‬
‫ار َي ْينِأ َ ْنيُؤْ َك َل‬ َ ‫سلَّ َم َن َهىعَ ْن‬
ِ َ‫طع‬ َ ‫صلَّىاللّ ِهعَلَ ْي ِه َو‬
َ َ‫اِنَّالنَّبِي‬

Dalam pencarian hadits di atas, pada dasrnya dapat ditelusuri melalui kata-kata naha (‫)نَ َهى‬
َ ), yu’kal (‫ )يُؤْ ك َْل‬al-mutabariyaini (‫ين‬
ta’am(‫ط َعام‬ ِ َ‫)ال ُمتَب‬. Akan tetapi dari sekian kata yang dapat
ِ َ‫اري‬
dipergunakan, lebih dianjurkan untuk menggunakan kata al-mutabariyaini (‫ار َيي ِْن‬ ِ َ‫ )ال ُمتَب‬karena kata
tersebut jarang adanya. Menurut penelitian para ulama hadits, penggunaan kata tabara (‫ارى‬ َ َ‫ )تَب‬di
dalam kitab induk hadits (yang berjumlah Sembilan) hanya dua kali.
Penggunaan metode ini dalam mentakhrij suatu hadits dapat dilakukan dengan mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:
Langkah pertama, adalah menentukan kata kuncinya yaitu kata yang akan dipergunakan
sebagai alatuntuk mencari hadits. Sebaiknya kata kunci yang dipilih adalah kata yang jarang
dipakai, karena semakin asing kata tersebut akan semakin mudah proses pencarian hadits.
Setelah itu, kata tersebut dikembalikan kepada bentuk dasarnya. Dan berdasarkan bentuk dasar
tersebutdicarilah kata-kata itu di dalam kitab Mu’jammenurut urutannya secara abjad (huruf
hijaiyah).
Langkah kedua, adalah mencari bentuk kata kunci tadi sebagaimana yang terdapat di
dalam hadits yang akan kita temukan melalui Mu’jam ini. Di bawah kata kunci tersebut akan
ditemukan hadits yang sedang dicari dalam bentuk potongan-potongan hadits (tidak lengkap).
Mengiringi hadits tersebut turut dicantumkan kitab-kitab yang menjadi sumber hadits itu yang
dituliskan dalm bentuk kode-kode sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu; Metode ini mempercepat pencarian hadits
dan memungkinkan pencarian hadits melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan
hadits. Selain itu, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu; Terkadang suatu hadits
tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-
kata lain.
4. Takhrij Berdasarkan Tema Hadits
Metode ini berdasrkan pada tema dari suatu hadits. Oleh karena itu untuk
melakukantakhrijdengan metode ini, perlu terlebih dahulu disimpulkan tema dari suatu hadits
yang akan di –takhrijdan kemudian baru mencarinya melalui tema itu pada kitab-kitab yang
disusun menggunkan metode ini. Seringkali suatu hadits memiliki lebih dari satu tema. Dalam
kasus yang demikian seorang men – takhrij harus mencarinya pada tema – tema yang mungkin
dikandung oleh hadits tersebut. Contoh :
َ َ‫ضان ََو َح ّج ْال َب ْيتِ َمنِا ْست‬
ّ‫طا َع ِالَ ْي ِه َس ِب ْيال‬ َ ‫الزكاَةِ َو‬
َ ‫ص ْو ِم َر َم‬ َّ ‫صالَ ِة َوا ْيت َِاء‬ ِ َ‫س ْو َُلللَّ ِه َواِق‬
ّ ‫امال‬ َ ‫اَل ْسالَ ُم َعلَى َخ ْم ٍس َش َهادَةِا ْنالَاِل َه ِاَلَّاللّ ُهوانَّ ُم َح َّمد‬
ُ ‫ّار‬ ِ َ‫بُنِي‬

“Dibangun Islam atas lima pondasi yaitu : Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, berpuasa
bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.”
Hadits diatas mengandung beberapa tema yaitu iman, tauhid, shalat, zakat, puasa dan
haji. Berdasarkan tema-tema tersebut maka hadits diatas harus dicari didalam kitab-kitab hadits
dibawah tema-tema tersebut.
Cara ini banyak dibantu dengan kitab “Miftah Kunuz As-Sunnah” yang berisi daftar isi
hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan.[12]
Dari keterangan diatas jelaslah bahwa takhrij dengan metode ini sangat tergantung
kepada pengenalan terhadap tema hadits. Untuk itu seorang mukharrij harus memiliki beberapa
pengetahuan tentang kajian Islam secara umum dan kajian fiqih secara khusus.
Metode ini memiliki kelebihan yaitu : Hanya menuntut pengetahuan akan kandungan
hadits, tanpa memerlukan pengetahuan tentang lafadz pertamanya. Akan tetapi metode ini juga
memiliki berbagai kelemahan, terutama apabila kandungan hadits sulit disimpulkan oleh seorang
peneliti, sehingga dia tidak dapat menentukan temanya, maka metode ini tidak mungkin
diterapkan.