Anda di halaman 1dari 3

A.

Pengertian Ittishal Sanad


Kata ‫اطصل‬berasal dari kata ‫وصل‬yang berarti sampai atau datang ketempat. Sanad
bentuk jamaknya ialah ‫اسنا د‬. Segala sesuatu yang disandarkan kepada yang lain disebut
‫مسند‬. Adapun pengertian sanad secara terminologi, para ahli hadis memberikan definisi
yang beragam, salah satunya ialah rangkaian para perawi yang memindahkan matan dari
sumber primernya.1 Sanad bisa juga diartikan rangkaian mata rantai para rawi yang
meriwayatkan hadist dari yang satu kepada yang lainnya hingga sampai kepada
sumbernya.
Jadi bisa kita simpulkan bahwa ittishal sanad adalah tiap-tiap periwayat dalam
sanad hadist menerima riwayat hadist dari periwayat terdekat sebelumnya, keadaan itu
berlangsung demikian samapai akhir sanad dan hadist itu.

Pengertian Ittisahal Sanad


Ittishal sanad artinya Setiap perawi bertemu dan merima periwayatan dari perawi
sebelumnya baik secara langsung (‫ )مباشرة‬atau secara hukum (‫ )حكمي‬dari awal sanad sampai pada
akhir sanad. Pendapat lain menyatakan yang dimaksud dengan ittshal sanad adalah setiap rawi
hadis yang bersangkutan benar-banar menerimanya dari rawi yang berada diatasnya dan begitu
selanjutnya sampai kepada pembicara yang pertama(Rasulallah).
C. Lafadz- Lafadz Untuk Meriwayatkan hadits
Dalam meriwayatkan hadits ada beberapa lafadz yang digunakan berdasarkan cara rawi
menerima, baik itu secara langsung maupun secara hukum. Berikut cara dan lafdz-lafadz yang
digunakan dalam meriwayatkan hadits.
1. Pertemuan secara langsug( mubasyarah),seoarang langsung bertatap muka dengan syaikh yang
menyampaikan periwayatan. Maka ia mendengar berita yang disampaikan atau melihat apa yang
dilakukan. Periwayatan dalam bentuk pertemuan seperti ini pada umumnya menggunakan lafadz:
‫ = سمعت‬aku mendengar
Lafadz ini menjadikan nilai hadits yang diriwayatkan tinggi martabatnya,lantaran rawi
mendengarlangsung dari gurunya.
‫ أخبرناحد‬/ ‫ حدثنا‬/‫ أخبرني‬/ ‫ = سني‬memberitahukan kepadaku/kami
‫ = رأيت فالنا‬aku melihat si fulan,dan masih ada beberapa ungkapan lainnya.
Jika dalam periwayatan sanad menggunakan ungkapan tersebut atau sesamanya maka dapat
dipastikan sanad hadis tersebut muttasil.

1 M. Solahudin, Ulumul Hadist, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 89


.2. Pertemuan secara hukum(hukum), seseorang meriwayatkan hadis dari seseorang yang hidup
semasanya dengan ungkapan kata yang mungkin mendengaratau mungkin melihat. Misalnya:
melakukan begini.
‫ فعل فالن‬/ ‫ عن فالن‬/ ‫ = قال فالن‬si fulan berkata:…/ dari sifulan/si fulan
3. Kaedah Ke-shahīh-an sanad hadis adalah segala syarat, kriteria atau unsur yang harus
dipenuhi oleh suatu sanad hadis yang berkualitas shahīh.[6] Meskipun dalam definisi ini tidak
ditonjolkan matan hadis, akan tetapi tetap tercakup, karena berbicara tentang sanad berarti juga
berbicara matan. Tujuan utama meneliti sanad adalah untuk mengetahui
kualitas matan.[7] Sebagaimana diungkapkan oleh Syuhudi Ismail bahwa “kaedah ke-shahīh-an
hadis meliputi sanad dan matan hadis”.

Untuk mengetahui bersambung tidaknya suatu sanad, biasanya ulama hadits menempuh tata
kerja penelitian sebagai berikut :
1. Mencatat semua nama periwayat dalam sanad yang diteliti.
2. Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat :
a. Melalui kitab-kitab Rijal al-Hadits, misalnya kitab Tahdzib al-Tahdzib (susunan Ibnu Hajar al-
Asqalaniy), dan kitab al-Kasyf (susunan Muhammad bin Ahmad al-Dzahaby).
b. Apakah antara periwayat dengan periwayat lain yang terdekat dalam sanad itu terdapat hubungan :
a). Kesezamanan pada masa hidupnya dan b). guru-murid dalam periwayatan hadits.
3. Meneliti kata-kata yang menghubungkan antara periwayat dengan periwayat yang terdekat
dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasaniy, haddatsana, akhbarana, ‘am,
anna, atau kata-kata lainnya.[2]
Jadi, suatu sanad hadits barulah dapat dikatakan bersambung apabila:
a. Seluruh periwayat dalam sanad itu benar-benar siqat (adil dan dhabith).
1) Perawi yang adil adalah rawi yang menegakkan agama Islam, serta dihiasi akhlak yang baik, selamat
dari kefasikan juga hal-hal yang merusak muru’ah.
2) Perawi yang dhabith adalah rawi tersebut hafal betul dengan apa yang ia riwayatkan dan mampu
menyampaikannya dengan baik hafalannya, ia juga memahami betul bila diriwayatkan secara makna, ia
memelihara hafalan dengan catatan dari masuknya unsur perubahan huruf dan penggantian serta
pengurangan di dalamnya bila ia menyampaikan dari catatannya.[3]
b. Antara masing-masing periwayat dengan periwayat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah
terjadi hubungan periwayatan hadits secara sah menurut ketentuan Tahammul wa ada’ al-hadits.[4]
Dalam hubungannya dengan tidak terpenuhinya unsur sanad bersambung, secara garis besar Ibn
Hajar al-‘Asqalany membagi hadis dha’if kepada 5 macam yakni haditsMu’allaq (hadits yang periwayat
di awal sanad-nya gugur (terputus) seorang atau lebih secara berurut), hadits mursal (hadits yang
disandarkan langsung kepada Nabi oleh al-Tabi’in, baik al-Tabi’iy besar maupun al-Tabi’iy kecil tanpa
terlebih dahulu hadits itu disandarkan kepada sahabat Nabi), hadits mu’dhal (hadits yang terputus
sanadnya dua orang periwayat atau lebih secara berurut), hadits munqathi’ (hadits yang sanad-nya
terputus di bagian mana saja baik di bagian periwayat yang berstatus sahabat maupun periwayat yang
bukan sahabat) dan hadits mudallas (hadits yang terdapat tadlis atau terjadi persembunyian
(pengguguran) periwayat. Kelima macam istilah ini menerangkan letak dan jumlah periwayat yang
terputus dalam sanad.