Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH FITOTERAPI DASAR

DIARE

DISUSUN OLEH :
YUNANDA SRI ANGGRAYTA 1608010048
NURLIKA MAHARANI 1608010052
ANISA YUMNA NABILA 1608010054
KRISNA MEITHA WILIYANTI 1608010056
INFIRO KHATU SUBIYAH 1608010058
AFIFAH CHAERUNNISA 1608010060
ALIFAH YUNESTRI 1608010062
ANNISA AZHAR JANNAH 1608010064
AYUDYA PUTRI RAMADHANTI 1608010066
FAISAL ZULHI AL-FAUZI 1608010068
AHMAD RYAN FAUZI 1608010070

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul......................................................................................... i

Isi ............................................................................................................ 1

1. Pengertian Diare .......................................................................... 1


2. Etiologi Diare .............................................................................. 1
3. Penyebab ..................................................................................... 1
4. Patofisiologi ................................................................................ 1
5. Gejala .......................................................................................... 3
6. Fitoterapi .................................................................................... 3
7. Interaksi dengan Obat ................................................................. 9
8. Terapi Non Farmakologi ............................................................. 10
9. Contoh Produk Herbal ................................................................ 12

Daftar Pustaka ......................................................................................... 16

ii
1. Pengertian Diare
Diare diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cairan atau setengah cair (setengah cair setengah padat),
kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram
atau 200 ml/24jam. Defenisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang
air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat
atau tanpa desertai lendir dan darah (Simadibrata, 2006).
2. Etiologi Diare
Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi
(bakteri, parasit, virus), keracunan makanan, efek obat dan lain-lain. (Tabel
2.2). Menurut World Gastroenterology Organisation global guidelines
2005, etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab: bakteri, virus, parasit
dan non-infeksi (Simadibrata, 2006).
3. Penyebab Diare

Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit. Diare
dapat juga disebabkan oleh malabsorpsi makanan, keracunan makanan,
alergi ataupun karena defisiensi (Harianto, 2004).

Higiene dan sanitasi yang buruk mempermudah penularan diare baik


melalui makanan, air minum yang tercemar kuman penyebab diare maupun
air sungai. Faktor sosial budaya yang berupa pendidikan, pekerjaan dan
kepercayaan masyarakat membentuk perilaku positif maupun negatif
terhadap berkembangnya diare. Perilaku masyarakat yang negatif misalnya
membuang tinja di kebun, sawah atau sungai, minum air yang tidak dimasak
dan melakukan pengobatan sendiri dengan cara yang tidak tepat (Harianto,
2004).Kepadatan penduduk dan sosial ekonomi yang rendah serta
lingkungan yang kurang mendukung sering menimbulkan wabah diare.
Dehidrasi yang terjadi pada penderita diare karena usus bekerja tidak
sempurna sehingga sebagian besar air dan zat-zat yang terlarut didalamnya
dibuang bersama tinja sampai akhirnya tubuh kekurangan cairan. (Harianto,
2004)

4. Patofisiologi Diare
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi sebagai berikut :

1. Diare osmotik: diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik


intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat – obat atau zat
kimia yanghiperosmotik, malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi
mukosa usus seperti pada defisiensi disararidase, malabsorpsi glukosa
atau galaktosa (Simadibrata, 2006).

1
2. Diare sekretorik: diare tipe ini disebabkan meningkatnya sekresi air dan
elektrolit dari usus dan menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini
yaitu secara klinis ditemukan volume tinja yang banyak sekali. Diare
tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan dan
minum. Penyebab dari diare tipe ini antara lain kerena efek dari
enterotoksin pada infeksi Vibrio cholerae, atau Escherichia coli,
penyakit yang menghasilkan hormon (VIPoma), reseksi ileum
(gangguan absorbsi garam empedu), dan efek obat laktasif (dioctyl
sodium sulfosuksinat dll) (Simadibrata, 2006).
3. Malabsorbsi asam empedu dan malabsorpsi lemak: diare tipe ini
didapatkan pada gangguan pembentukan micelle empedu dan penyakit
– penyakit saluran bilier dan hati (Simadibrata, 2006).
4. Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit :
diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif
Na+ K+ ATP ase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal
(Simadibrata, 2006).
5. Motilitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe ini disebabkan
hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan
absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan motilitas
antara lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid (Simadibrata,
2006).
6. Gangguan permeabilitas usus: diare tipe ini disebabkan permeabilitas
usus yang abnormal akibat adanya kelainan morfologi membran epitel
spesifik pada usus halus (Simadibrata, 2006).
7. Inflamasi dinding usus: diare tipe ini disebabkan adanya kerusakan
mukosa usus karena proses inflamasi, sehingga terjadi produksi mukus
yang berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit ke dalam lumen serta
gangguan absorpsi air-elektrolit. Inflamasi mukosa usus halus dapat
disebabkan infeksi (disenteri Shigella) dan noninfeksi (kolitis ulseratif
dan penyakit Crohn) (Simadibrata, 2006).
8. Diare infeksi disebabkan infeksi oleh bakteri dan merupakan penyebab
tersering diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas
non invasif (tidak merusak mukosa) dan invasif ( merusak mukosa).
Bakteri non invasive menyebabkan diare karena toksin yang disekresi
oleh bakteri tersebut, yang disebut diare toksigenik. Contoh diare
toksigenik yaitu kolera (Eltor). Enterotoksin yang dihasilkan kuman
vibrio cholare/eltor merupaka protein yang dapat menempel pada epitel
usus, yang lalu membentuk adenosine monofosfat siklik (AMF siklik)
di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang
diikuti air, ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium. Mekanisme
absorbsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak
terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air,
natrium, ion kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorbsi

2
ion natrium (diiringi oleh air, ion kalium dan ion bikarbonat, klorida).
Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang
diabsorbsi secara aktif oleh dinding sel usus (Simadibrata, 2006).
5. Gejala Diare

Gejala diare dibedakan menjadi 2 yaitu gejala diare tanpa komplikasi


dan gejala diare dengan komplikasi. Diare yang disertai dengan komplikasi
dapat merupakan tanda adanya penyakit yang berat.

Gejala diare tanpa komplikasi adalah:

 Perut kembung atau kram perut


 Tinja lembek dan berair
 Adanya keinginan mendesak untuk BAB (buang air besar)
 Mual dan muntah

Gejala diare dengan komplikasi adalah gejala diare tanpa komplikasi


yang disertai dengan:

 Adanya darah, lendir, atau makanan yang tidak tercerna pada tinja
 Penurunan berat badan
 Demam

6. Fitoterapi Diare
a. Tumeric (Curcuma longa)
Klasifikasi tanaman kunyit menurut Becker dan Van Den brink,
(1968) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma longa L.
Bagian tanaman yang dimanfaatkan yaitu rimpang kunyit. Rimpang
kunyit mempunyai bau khas aromatik, rasa agak pahit, agak pedas, dan
dapat bersifat adstringensia. Kandungan aktif dari rimpang kunyit yaitu

3
minyak terbang, pati, damar, mineral curcumin. (Mardisiswojo &
Harsono1985).
Kandungan aktif kunyit untuk pengobatan diare adalah tanin, tannin
bersifat adstringensia (pengelat) karena dapat menciutkan selaput lender
usus. Sehingga mengurangi pengeluaran cairan diare dan desentri (Tan
dan Raharja 2002). Penggunaan kunyit untuk pengobatan diare dengan
cara ditumbuk, atau di parut, diperas lalu disaring, air hasil saringan di
peras dan di minum.
Grade C : Unclear of conflicting scientific evidence.
Mekanisme aksi
Senyawa – senyawa yang bertanggung jawab untuk warna
kunnyitkuning terang juga merupakan agen farmakologis pada kunyit.
Curcuminoid diyakini untuk merangsang sekresi empedu yang dapat
berkontribusi untuk efek terupetik dyspepsia. Pemberian oral kunyit ke
tikus 500mg/kg secara signifikan mengurangi insidensi ulkus duodenum
yang diinduksi secara kimia dan berhubungan dengan peningkatan
lendir dinding usus dan kadar sulfhidril nonprotein. Namun penelitian
pada babi guinea melaporkan bahwa berbagai penggunaan kunyit tidak
melindungi terhadap histamine yang disebabkan usus lambung.
Bukti ilmiah yang efektif.
Tumeric telah digunakan secara tradisional untuk mengobati
berbagai gangguan gastrointestinal, perticularty gangguan pencernaan
yang terkait dengan makanan berlemak. Data terbatas di bidang terapi
dispepsia, meskipun bukti awal menunjukkan bahwa tumeric dapat
memberikan beberapa manfaat. Tumeric dapat menyebabkan iritasi GI,
khususnya dalam dosis tinggi atau berkepanjangan. Pada pasien yang
diberi curcuma xanthoriza mengalami penurunan IBS. Turmeric juga
bisa digunakan untuk terapi gastritis dan ulcer duodenal. Dan digunakan
sebagai terapi pertama untuk gastritis ulcer di Thailand pada tahun 1986.
Dosis
Tumeric terstandarisasi mengandung curcuminoids 95% per dosis.
Akar kunyit kering dilaporkan mengandung kurkumin 3% sampai 5%.
Dosis efektif dari kunyit untuk dispepsia belum ditentukan. Dosis
tradisional berkisar antara 1,5 hingga 3 gram akar kunyit dengan dosis
terbagi. penelitian telah menggunakan 750 mg hingga 1,5 gram per hari
akar kunyit dalam tiga atau empat dosis terbagi. Dosis hingga 8 gram
setiap hari digunakan untuk ulkus duodenum. Sebagai teh dapat
digunakan 1 hingga 1,5 gram akar kering dapat direndam dalam 150 ml
air selama 15 menit dan dipakai dua kali sehari.

4
Untuk pasien IBS mengkonsumsi 60mg curcuma xanthoriza tiga
kali sehari selama 18 minggu. Untuk gastritic ulcer, dalam pembelajaran
klinik telah menggunakan 250 mg bubuk akar kunyit kapsul dalam 4
kali sehari.
 Struktur Curcuma

 StrukturTanin

b. Arrowrot (Maranta arundinacea)

Grade C : Unclear of conflicting scientific evidence.

5
Mekanisme aksi : arrowroot merupakan pati yang dapat dimakan yang
ditujukan untuk efek menenangkan.
Bukti ilmiah yang efektif
Bukti ilmiah tentang efektifitas arrowroot (tanaman Garut) adalah
obat tradisional yang terkenal untuk diare dan keluhan gastrointestinal.
Pasien mengalami pengurangan episode diare, mengalami penurunan
IBS dan penguranganrasa sakit setelah penggunaan 1 bulan. Untuk
konstipasi penggunaannya lebih lama.
Dosis penggunaan.
Dosis penggunaan arowrot untuk diare yaitu 2 sendok makan 3 kali
sehari selama 1 bulan.

c. Psyllium (Plantago spp)


Grade B : Bukti Ilmiah yang baik (Sembelit dan diare )
Grade C : Bukti Ilmiah yang tidak jelas atau bertentangan (Wasir,
penyakit radang usus, anal fissures, irritable bowel disease)
Mekanisme aksi : Psyllium mengandung banyak laksatif. Sifat
pencahar psyllium dihasilkan dari komponen serat larut dari kulit yang
membengkak ketika kontak dengan air. Laksatif membantu
membersihkan usus secara teratur tanpa menghasilkan gas perut.
Bukti ilmiah yang efektif
Beberapa percobaan mempelajari psyllium sebagai treartmet untuk
diare, terutama pada pasien yang menjalani feeding tabung (pipa
makanan). Sebagai tambahan untuk terapi orlistat, Psyllium digunakan
untuk menurunkan manifestasi gastrointestinal dari obat penurun berat
badan. Dibandingkan dengan loperamide, psyllium dalam kombinasi
dengan kalsium tampaknya efektif dalam mengurangi urgensi dan
meningkatkan konsistensi tinja.
Dosis penggunaan.
Dosis tunggal atau terbagi. 7-30 gram psyllium diminum setiap hari
selama 2 sampai 16 minggu.

6
d. Rhubarb (Rheum spp.)
Grade C : Bukti Ilmiah yang tidak jelas atau bertentangan (konstipasi
kronik, diare)
Mekanisme aksi : Rhubarb mengandung tanin, antrakuinon, dan pektin.
Pada dosis tinggi antrakuinon mendominasi dan mengasilkan efek
stimulan-pencahar. Konstituen ini mengarahkan tindakan pada dinding
usus besar dan terjadi peningkatan motillitas. Dalam dosis redah
aktivitas tanin menggantikan aktivitas antrakuinon, sehingga
menyebabkan efek sembelit dan mengurangi jumlah tinja. Dan pektin
dalam rhubab juga cenderung sebagai antidiare.
Bukti ilmiah yang efektif
Rhubarb mengandung konstituen tanin dan mungkin bermanfaat untuk
pengobatan diare ketika dikonsumsi dalam dosis rendah.
Dosis penggunaan.
Digunakan bubuk rhubarb 1 gram direbus dalam 1 gelas air dan
diminum 1 sendok makan (15ml) pada waktu hingga 1 cangkir setiap
hari.
Struktur Tanin

e. Jambu Biji (Psidium Guajava L.)


Klasifikasi tanaman daun jambu biji menurut Becker dan Van Den
brink (1968) :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta

7
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium Guajava L.
Bagian yang dimanfaatkan adalah Daun. Salah satu bahan aktif yang
terkandung dalam daun Psidium guajava L yang mememiliki peranan
paling efektif sebagai antidiare adalah Flavonoid. Senyawa turunan
flavonoid yang terkandung dalam daun Psidium guajava L adalah
quercertin. Senyawa queretin memiliki potensi sebagai agen antidiare
dengan menghambat pelepasan asetilkolin yang dapat meningkatkan
kontraksi usus akibat adanya iritasi oleh bakteri penyebab diare seperti
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, salmonella enteriditis,
Bacillus cereus, dan Vibrio cholera.
Selain itu juga terdapat senyawa aktif terkandung dalam daun
Psidium guajava L adalah Tanin yang memiliki jumlah sebanyak 9-
12%. Tanin mempunyai sifat sebagai pengelat berefek spasmolitik yang
mengkerutkan selaput lendir usus sehingga gerak peristaltik usus
berkurang.

 Struktur flavonoid

 Struktur Tanin

8
f. Pepaya (Carica papaya L)
Klasifikasi tanaman daun jambu biji menurut Becker dan Van Den
brink (1968) :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Violales
Famili : Caricaceae
Genus : Carica
Spesies : Carica papaya L.
Bagian yang dimanfaatkan adalah Biji. Salah satu bahan aktif yang
terkandung dalam Biji Carica papaya L yang mememiliki peranan
paling efektif sebagai antidiare adalah Alkaloid dan Tanin. Alkaloid
mempunyai sifat antidiare yang kerjaya menerak peristaltik usus dan
Tanin bersifat Adstringensia yang menciutkan selaput lendir usus
sehingga bersifat obstipansia.

Struktur Tanin

7. Interaksi Obat
1. Jambu Biji (Psidium Guajava L.)
a. Interaksi dengan Herbal Lain
Interaksi yang terjadi antara perlakuan kombinasi ekstrak daun
jambu biji dan daun lidah buaya menunjukkan adanya sinergis jika
dibandingkan dengan ekstrak tunggal dalam menghambat
pertumbuhan bakteri E-Coli.
b. Interaksi dengan Obat
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Adwan et al (2009)
menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji memiliki interaksi

9
dengan obat antimikroba pada infeksi bakteri S. Aureus. Mekanisme
antimikroba dari obat yang digunakan di sini adalah inhibitor sintesis
asam nukleat tidak menunjukkan efek sinergis. Namun, inhibitor
kompetitif (asam folat) dan inhibitor sintesis protein menunjukkan
interaksi sinergis yang paling kuat. Tabel 1. Efek sinergis antara obat
antimikroba dan ekstrak tumbuhan terhadap empat strain
Staphylococcus aureus dengan metode difusi yang baik.

S = Sinergis; A = Antagonis
c. Interaksi dengan Makanan
Kandungan tanin dalam daun jambu biji dapat menghambat
absorbsi zat besi, protein, vitamin, dan mineral yang terkandung
dalam makanan atau minuman. Bahkan dalam dosis besar dapat
menimbulkan konstipasi dan malnutrisi.
2. Kunyit (Curcumae domesticae Val.)
a. Interaksi dengan Herbal Lain
Kombinasi antara kunyit dengan bawang putih dapat
menurunkan kolesterol total, penurunan kadar LDL, trigliserida,
glukosa darah dan peningkatan kadar HDL.
Interaksi yang dihasilkan secara in vitro dari semua kombinasi
ekstrak herbal rimpang kunyit dengan daun pepaya terhadap A.
hydrophila menggunakan metode microdilution checkerboard adalah
sinergis dengan nilai FIC indeks ≤ 0,50.
Kunyit bisa memperlambat pembekuan darah sehingga konsumsi
kunyit bersama dengan obat-obatan yang juga memperlambat
pembekuan mungkin meningkatkan kemungkinan memar dan
pendarahan. Beberapa obat yang memperlambat pembekuan darah
termasuk aspirin, heparin, warfarin dan lainnya.
b. Interaksi dengan Obat
Kurkumin dalam kunyit dapat menghambat metabolisme
pioglitazone sehingga kadarnya dalam darah akan meningkat.
Kurkumin pada kunyit bersifat menghambat aktivitas GST.
GST adalah enzim pemetabolisme fase II yang berperan penting dalam
pengeluaran obat. Sehingga metabolit obat yang beracun bisa
dikeluarkan dari tubuh. Namun jika ada obat yang aktif lalu bertemu

10
dengan GST maka akan merugikan karena obat cepat dikeluarkan,
sehingga bioavaibilitasnya jadi rendah dan belum sempat berefek pada
tubuh. Dengan GST dihambat, maka metabolisme obat lain akan
berkurang sehingga meningkatkan ketersediaan hayatinya.
Kunyit bisa memperlambat pembekuan darah sehingga
konsumsi kunyit bersama dengan obat-obatan yang juga memperlambat
pembekuan mungkin meningkatkan kemungkinan memar dan
pendarahan. Beberapa obat yang memperlambat pembekuan darah
termasuk aspirin, heparin, warfarin dan lainnya.
3. Pepaya (Carica papaya)
a. Interaksi dengan Obat
Pepaya mengandung enzim papain yang merupakan campuran
enzim proteolitik dari buah pepaya. Enzim ini dapat meningkatkan efek
warfarin dalam memperlambat pembekuan darah dan dapat
meningkatkan resiko memar dan pendarahan.
Pepaya mempuyai efek menurunkan kadar gula darah seingga
penggunaan bersama dengan obat antidiabetes dapat menyebabkan efek
hipoglikemia.
4. Rhubab (Rheum spp)
a. Interaksi dengan Obat
Penggunaan obat antasida bisa mengurangi efektivitas dari
produk herbal rhubarb jika digunakan dalam kurun waktu 1 jam
pemakaian herbal. Penggunaan rhubarb jangka panjang bisa
mengakibatkan kadar kalium rendah (hipokalemia) dan meningkatkan
pengaruh obat anti-arrhytmic, cardiac glycosides, dan kortikosteroid.
b. Interaksi dengan herbal lain
Hipokalemia bisa terjadi dari penggunaan rhubarb dengan akar
licorice, hindari penggunaan secara bersamaan.
5. Psyllium spp
a. Interaksi dengan obat
Dapat mengganggu absorbsi digoxin, karbamazepin, vitamin
B12, tetrasiklin dan aspirin. Pengguaan bersama antidepresant TCA
dapat menurunkan tekanan darah. Dengan cholestryramine dapat
mengurangi kadar LDL.
b. Interaksi dengan makanan
Psyllium dapat membuat lemak makanan lebih sulit dicerna
dan dapat meningkatkan jumlah lemak hilang adalah tinja ketika
dikonsumsi bersamaan dengan lemak makanan seperti minyak
kedelai atau minyak kelapa.
6. Arrowroot (Maranta arundinaceae L.)

11
a. Interaksi dengan herbal lain
Kombinasi arrowroot dengan herbal laksatif dapat
menyebabkan konstipasi.

8. Terapi Non Farmakologi


a. Fluid and Electrolyte Management
Dapat dilakukan dengan cara pemberian oral rehydration atau
memperbanyak intake cairan seperti air mineral,sup atau jus buah,dengan
tujuan untuk mengembalikan komposisi cairan dan elektrolit tubuh yang
sebelumnya mengalami dehidrasi akibat diare (Berarrdi,etal.,2009).
Oral rehydration solution (ORS) atau oralit digunakan pada kasus
diare ringan sampaisedang.Rehidrasi dengan menggunakan ORS harus
dilakukan secepatnya yaitu 3-4 jam untuk menggantikan cairan serta
elektrolit yang hilang selama diare untuk mencegah adanya dehidrasi.Cara
kerja dari ORS adalah dengan menggantikan cairan serta elektrolit tubuh
yang hilang karena diare dan muntah,namun ORS tidak untuk mengobati
gejala diare(Berarrdi,etal,2009;Nathan,2010).
ORS mengandung beberapa komponen yaitu Natrium dan kalium
yang berfungsi sebagai pengganti ion essensial, sitrat atau bicarbonate yang
berfungsi untuk memperbaiki keseimbangan asam basa tubuh serta glukosa
digunakan s ebagai carrier pada transportion natrium dan air untuk melewati
mukosa pada usus halus.Komposisi ORS yang direkomendasikan oleh
WHO yaitu adalah komponen natrium 75 mmol/L dan glukosa 200 mmol/L
(Nathan,2010).
Dalam 1 sachet ORS serbuk harus dilarutkan dengan menggunakan 200mL
air.Penting sekali untuk membuat larutan ORS sesuai dengan volume yang
direkomendasikan,sebab apabila terlalu pekat konsentrasinya,maka larutan
akan mengalami hiperosmolar,dan dapat menyebabkan penarikan air pada
usus halus sehingga dapat memperparah diarenya.Larutan ORS yang telah
dilarutkan tersebut sebaiknya digunakan tidak lebih dari 24 jam dan
disimpan didalam lemari es.Dosis ORS yang direkomendasikan untuk

12
orangdewasa adalah 200-400mL diminum tiap setelah buang air besar,atau
2-4 liter selama 4-6 jam (Nathan,2010).
b. Dietary management

Saat mengalami diare,umumnya pasien menahan untuk tidak


makandikarenakan khawatir diare yang dialami akan bertambah parah.Hal
tersebut justru memperparah keadaan pasien,sebab pada saat yang sama
pasien juga mengalami mal absorbs nutrisi. Oleh Karena itu,pasien
dianjurkan makan tetap seperti biasa,namunsedapat mungkin menghindari
makanan berlemak dan makanan dengan kadar gula yang tinggi karena akan
dapat menimbul kan diare osmotik,serta dihindari pula makanan pedas
karena akan mengganggu saluran cerna seperti timbul rasa mulas dan
kembung pada perut.Perlu dihindari juga minuman yang mengandung
kafein,karena kafein dapat meningkatkan siklik AMP sehingga berakibat
pada peningkatan sekresi cairan kesaluran cerna, hal ini dapat memperparah
diare.Pasien dianjurkan untuk banyak minum air putih, dan jika diperlukan
dapat disertai pemberian ORS

9. Contoh Produk Herbal AntiDiare


1. Diapet

Kandungan

Ekstrak psidii folium, ekstrak curcumae domesticae rhizoma, ekstrak coix


lacrima jobi semen, ekstrak phello dendri radix, ekstrak coptidis rhizom

13
Khasiat

Diapet digunakan untuk membantu mengobati mencret dan memadatkan


kembali faeces yang cair, mengatasi rasa mulas.

Cara Pakai

Dosis pemakaian diapet diminum 2 sampai 3 kali sehari 2 kapsul ,untuk


menyembuhkan diare akut diminum 2 kali sehari 2 kapsul .

EfekSamping

Sembelit, Perut kembung, Sakit perut, Mual.

14
2. Nodiar

3. Entrostop

15
Pertanyaan :

1. Febry Fitrianingrum (1608010016)


Apa yang terjadi dalam tubuh kita ketika terjadi diare komplikasi
disertai dengan mual dan muntah?
Jawab : Krisna Meirha Wiliyanti (1608010056)
Diare ada yang disebabkan oleh virus dan bakteri, vius dan bakteri
tersebut merupakan perangsang pusat muntah, apabila pusat muntah terangsang,
maka akan memerintahkan lambung untuk mengeluarkan isinya sehingga terjadilah
muntah.
2. Fatkhurohmah (16080100300
Penaganan pertama pada saat diare melanda saat di rumah?
Jawab : Faisal Zulhi AF. (1608010068)
Penanganan pada saat diare melanda saat di rumah adalah dengan
membuat cairan oralit, caranya yaitu dengan melarutkan garam dan
gula dengan air putih. Alasan digunakan larutan tersebut adalah
karena gula dan garam dapat digunakan sebagai pengganti cairan
oralit yang mengandung natrium dan glukosa.
3. Aulia Normasari (1608010116)
Mana tanaman yang paling efektif untuk mengobati diare?
Jawab : Achmad Ryan Fauzi (1608010070)
Tanaman yang paling efektif sebagai fitoterapi diare adalah daun
jambu biji. Namun untuk diare dengan pendarahan yang paling poten
adalah antimikroba contohnya seperti jahe. Karena pada diare dengan
pendarahan terdapat bakteri pada tinja maka harus dihilangkan bakteri
tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adwan, G. M., Abu-shanab, B. A., dan Adwan, K. M. 2009. In Vitro activity of


certain drugs in combination with plant extracts agains Staphylococcus
aureus infections. African Journal of Biotechnology. 8 (17): 4239-4241.

Aswarita, Rika. 2013. Interaksi Ekstrak Daun Lidah Buaya (Aloe vera L.) dan Daun
Jambu Biji (Psidium guajava L.) terhadap Daya Hambat Escherichia
coli secara In Vitro. Jurnal EduBio Tropika. 1(2): 61-120.
Azizah.2004.Sensitivitas Salmonella Typimurium Terhadap Ekstrak Daun

Psidium Guajava L (skripsi) Bandung: Departemen Biologi FKIP

Universitas Lambung mangkurat.

Becker C.A. and Van Den Brink J.R, Bakhuizen R.C. 1968.Flora ofJava

(Spermatophytes Only)Vol.1. Netherland: WoltersNoordhoff N.V-

Groningen.

Diah Permatasari, Diniatik, Dwi Hartanti. 2011. Studi Etnofarmakologi


ObatTradisional Sebagai Anti Diare Di Kecamatan
Baturaden Kabupaten Banyumas, PHARMACY, Vol.08 No. 01

Mardisiswojo, Sudarman dan Harsono Rajak mangun sudarso. 1985. Cabe

Puyang Warisan Nenek Moyang I. Jakarta: BalaiPustaka.

Miller, LG., 1998, Herbal Medicinals: Selected Clinical Considerations Focusing


on Known or Potential Drug-Herb Interactions, Arch Intern
Med.;158:2200-11
Simadibrata M (2014). Dismotilitas Gastrointestinal.Dalam: Setiati S, Alwi I,
Sudoyo, AW, Simadibrata M, Setyohadi B dan Syam AF (eds). Buku ajar
ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing, pp: 1798-1804.
Tan T.H, dan Rahardja.K.,2002.Obat Obat Penting,p. 270-279, Edisi 5.Jakarta:

PT ELEX Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Yolanda Fratiwi. 2015. The Potential Of Guava Leaf (Psidium guajava L.) For

17
Diarrhea, Faculty Of Medicine, Vol.4 No. 1

Ulbricht Catherine 2010. Natural Standard Herbal Pharmacotherapy An


Evidence-Based Approach.PharmD

18