Anda di halaman 1dari 22

SURVEI 2D METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI

DIPOLE-DIPOLE : AKUISISI DATA


(Laporan Praktikum Geolistrik)

Oleh
Rizky MF Naibaho
1715051042

LABORATORIUM TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
Judul Praktikum : Survei 2D Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole:
Akuisisi Data

Tanggal Praktikum : 2 Desember 2018

Tempat Praktikum : Lapangan sepak bola Unila

Nama : Rizky MF Naibaho

NPM : 1715051042

Fakultas : Teknik

Jurusan : Teknik Geofisika

Kelompok : II (Dua)

Bandar Lampung, 2 Desember 2018

Mengetahui,
Asisten,

Puteri Indriyanni AF
NPM 1615051042

i 3 cm
SURVEI 1D METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI DIPOLE-
DIPOLE : AKUISISI DATA

Oleh
RIZKY MF NAIBAHO

ABSTRAK

Geolistrik ialah salah satu metode yang digunakan dalam eksplorasi bidang
geofisika terutama dalam penentuan potensi mineral bawah permukaan
(eksplorasi mineral). Metode ini menggunakan prinsip penginjeksian arus listrik
DC dibawah permukaan untuk mendapatkan data bawah permukaan bumi tentunya
dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan. Adapun tata letak penempatan
batang elektroda dalam survei geolistrik terbagi menjadi delapan belas kali
perubahan. Latar belakang dari praktikum ini adalah sesuai tujuan agar
mahasiswa mampu melakukan pengukuran menggunakan konfigurasi elektroda
dipole-dipole. Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah agar dapat
memahami, menggunakan serta mengaplikasikan konfigurasi elektroda dipole-
dipole, dan agar dapat menganalisis data yang diperoleh. Pada praktikum
mengambilan data 2D ini kami menggunakan konfigurasi elektroda dipole-dipole
dengan pengaturan spasi elektroda arus dan potensial yang telah ditentukan
sebelumnya. Bentangan line yang kami buat adalah 300 meter dengan lokasi base
berada ditengah bentangan. Alat yang dipakai pada pengambilan data ini adalan
Naniura Resistivitymeter 300HF yang menampilkan nilai I dan V pada hasil yang
didapat. Cara menggunakannya cukup mudah yakni cukup menancapkan elektroda
arus dan potensial di lokasi yang telah ditentukan spasinya dan tangan lupa untuk
dihubungkan ke alat dengan kabel. Lalu, alat diaktifkan dan mengatur I agar
menunjukan angka 0.0 menggunakan tombol khusus. Setelah itu, tekan tombol start
sampai nilai I stabil dan ditekan tombol hold untuk menahan nilai P.

ii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ i

ABSTRAK ........................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... iv

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Tujuan Percobaan.........................................................................................1

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Daerah Pengamatan.....................................................................................2
B. Peta dan Posisi Daerah Pengamatan............................................................2
C. Geomorfologi, Litologi, Fisiografi dan Stratigrafi......................................3

III. TEORI DASAR

IV. METODOLOGI PENELITIAN


A. Alat dan Bahan.............................................................................................7
B. Diagram Alir ...............................................................................................7

V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Data Pengamatan..........................................................................................8
B. Pembahasan..................................................................................................8

VI. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar.1 Peta Lokasi Pengukuran ...………………………………....................3

Gambar.2 Diagram Alir..........................................................................................8

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Metode resistivitas adalah salah satu metode aktif geolistrik yang digunakan
untuk mengetahui nilai resistivitas dari lapisan atau batuan, sangat berguna
untuk mengetahuikemungkinan adanya lapisan akuifer, yaitu lapisan batuan
yang merupakan lapisan pembawa air. Umumnya lapisan akuifer yang dicari
adalah yang diapit oleh lapisan batuan kedap air pada bagian bawah dan
bagian atas. Geolistrik sendiri dapat digunakan untuk mendeteksi adanya
lapisan mineral yang mempunyai kontras resistivitas dengan lapisan batuan
pada bagian atas dan bawahnya. Selainitu, dapat digunakan juga untuk
mengetahui perkiraan kedalaman bedrock untuk fondasi bangunan. Metode
Geolistrik juga bisa untuk menduga adanya panas bumi di bawah permukaan.
Mengingat besarnya sumber daya alam di Indonesia, rasanya sangat penting
untuk memahami tentang metode Geolistrik dan langkah-langkah dalam
menggunakan metode ini. Oleh karena itu dilakukanlah praktikum tentang
survei 2D metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi dipole-dipole : akuisisi
data.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Mampu memahami konfigurasi Dipole-dipole.
2. Dapat memahami keunggulan dan kelemahan dari konfigurasi Dipole-
dipole.
3. Dapat melakukan pengukuran dan pengambilan data (akuisisi data) dengan
konfigurasi elektroda Dipole-dipole sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Daerah Pengamatan

Daerah pengamatan yang diamati pada praktikum kali ini adalah di Universitas Lampung
tepatnya di koordinat x=105,23987 dan y=-5,36399. Universitas Lampung adalah salah
satu perguruan tinggi negeri di Provinsi Lampung . Universitas Lampung terletak di
Gedung Meneng Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No. 1, Rajabasa, Kota Bandar
Lampung. Universitas Lampung memiliki luas wilayah 700.000 m2 dan berpenduduk
sebanyak kurang lebih 923.002 jiwa (LSDA 2007). Wilayah Universitas Lampung
terletak antara 1050 sampai dengan 1050450 Bujur Timur dan 50150 sampai dengan 60
Lintang Selatan. Mengingat letak yang demikian ini daerah Universitas Lampung seperti
halnya daerah-daerah lain di Indonesia merupakan daerah tropis. Saat ini Universitas
Lampung dengan jumlah penduduk 923.002 jiwa (LSDA 2007), memiliki luas daratan +
2.109,74 km2 yang terbagi dalam 8 Fakultas dan terdiri dari 47 Jurusan dan Program
Studi. Berdasarkan pada peta topografi, wilayah Provinsi Lampung dapat digolongkan
menjadi satuan morfologi dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan bergelombang dan
morfologi pegunungan. Morfologi pegunungan dan dataran tinggi menempati wilayah
tengah, morfologi perbukitan bergelombang menempati wilayah barat dan timur di kaki
pegunungan sedangkan dataran rendah menempati wilayah pantai.

B. Peta dan Posisi Daerah Pengamatan

Berikut ini adalah peta dan posisi daerah pengamatan dimana kita sebagai praktikan
mengambil data:
3

Gambar. 1 Peta Lokasi Pengukuran

Tektonik di wilayah ini berada pada zona sesar, yaitu dengan adanya kenampakan
berupa depresi yang diakibatkan karena adanya pergeseran sesar. Di beberapa tempat
ditemukan pola struktur yang berarah hampir utara-selatan. Struktur regional yang
terdapat di daerah
ini adalah perlipatan, sesar, kekar dan kelurusan yang mempunyai arah baratlaut-
tenggara. Sesar Sumatera merupakan sesar besar yang memotong daerah tengah,
yang masih aktif. Struktur kekar yang Berkembang di daerah ini adalah kekar
gerus (shear fracture), kekar tarik (gash fracture) dan kekar kolom (setting joint).

C. Geomorfologi, Litologi, Fisiografi, dan Stratigrafi

Tempat penelitian berada di peta geologi Tanjung Karang.Susunan Stratigrafi peta


Tanjung Karang terdiri dari: pra- Tersier, Tersier dan Kuarter. Batuan tertua yang tersingkap
adalah runtunan batuan malihan derajat rendah-sedang,yang termasuk dalam komplek
Gunung kasih. Komplek Gunung kasih terdiri atas sekis kuarsa pelitik dan grafitik, pualan
dan sekis gampingan, kuarsit serisit, suntikan migmatit, sekis amfibol dan ortogenesis.Sesar
merupakan salah satu unsur struktur yang menguasai peta ini, dan lebih banyak dijumpai
pada batuan praTersier dari pada didalarm runtunan batuan yang menutupinya. Arah sesar
yang sama terdapat juga di dalam satuan- satuan pra-Holosen, dengan arah utama sesar dan
kelurusan ialah barat laut- tenggara. Secara umum daerah ini dapat dibagi menjadi tiga
satuan morfologi: dataran bergelombang di bagian timur dan timur laut, pegunungan kasar
di bagian tengah dan barat daya, dan daerah pantai berbukit sampai datar. Daerah dataran
bergelombang menempati lebih dari 60% luas lembar dan terdiri dari endapan
vulkanoklastika Tersier-Kuarter dan Aluvium dengan ketinggian beberapa puluh meter di
atas muka laut. Pegunungan Bukit Barisan menempati 25-30 % luas lembar, terdiri dari
4

batuan beku dan malihan serta batuan gunungapi muda. Lereng-lereng umumnya curam
dengan ketinggian sampai dengan 500-1.680 m di atas muka laut. Daerah pantai
bertopografi beraneka ragam dan seringkali terdiri dari pebukitan kasar, mencapai
ketinggian 500 m di atas muka laut dan terdiri dari batuan gunung api Tersier dan Kuarter
serta batuan terobosan. Setiap satuan batuan yang diperikan secara Litostratigrafi, telah
diberi nama berdasarkan rekomendasi Sandi Stratigrafi Indonesia pada tahun 1975 dan
Panduan Stratigrafi Internasional (Hedberg, 1976), sehingga urutan tata nama yang dipakai
untuk batuan-batuan berlapis adalah anggota, formasi, dan 8 kelompok. Istilah “Kompleks”
dipakai berdasarkan American Geological Institute.
III. TEORI DASAR

Geolistrik resistivity merupakan metode geolistrik yang mempelajari sifat


resistivitas (tahanan jenis) listrik dari lapisan batuan di dalam bumi. Pada metode
ini arus listrik diinjeksikan kedalam bumi melalui dua buah elektroda arus dan
dilakukan pengukuran beda potensial melalui dua buah elektroda potensial. Dari
hasil pengukuran arus dan beda potensial listrik akan dapat dihitung variasi harga
resistivitas pada lapisan permukaan bumi di bawah titik ukur (Apparao, 1997).

Pada metode ini dikenal banyak konfigurasi elektroda, yaitu : konfigurasi Wenner,
konfigurasi Schlumberger, konfigurasi Wenner-Schlumberger , konfigurasi Dipole-
dipole, Rectangle Line Source dan sistem gradien 3 titik Berdasarkan pada
tujuan penyelidikan metode ini dibagi menjadi dua yaitu mapping dan sounding.
Metode resistivitas mapping merupakan metode resistivitas yang bertujuan mempelajari
variasi resistivitas lapisan bawah permukaan secara horisontal. Sedangkan
metode resistivitas sounding bertujuan mempelajari variasi resistivitas batuan
di bawah permukaan bumi secara vertikal. Pada metode ini, pengukuran pada suatu titik
sounding dilakukan dengan jalan mengubah-ubah jarak elektroda.Pengubahan
jarak elektroda ini tidak dilakukan secara sembarang, tetapi mulai jarak elektroda kecil
kemudian membesar secara gradual. Jarak elektroda ini sebanding dengan kedalaman
lapisan batuan yang terdeteksi. Dari kedalaman lapisan batuan yang terdeteksi,
akan diperoleh ketebalan dan resistivitas masing-masing lapisan batuan. Konfigurasi
elektoda yang sering digunakan dalam teknik sounding yaitu konfigurasi
Schlumberger (Hendrajaya dan Idam, 1990).

Geolistrik merupakan alat yang dapat diterapkan untuk beberapa metode


geofisika, prinsip kerja metode ini adalah mempelajari aliran listrik di dalam bumi
dan cara mendeteksinya di permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi pengukuran
potensial, arus, dan medan elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah
maupun akibat injeksi arus ke dalam bumi (buatan). Metode geofisika tersebut di
antaranya adalah metode potensial diri, metode arus telurik, magnetotelurik,
elektromagnetik, IP (Induced Polarization), dan resistivitas (tahanan jenis)
(Wuryantoro, 2007).
6

Dari sekian banyak metode geofisika yang diterapkan dalam geolistrik, metode
tahanan jenis adalah metode yang paling sering digunakan. Metode ini pada
prinsipnya bekerja dengan menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi melalui dua
elektroda arus sehingga menimbulkan beda potensial. Beda potensial yang terjadi
diukur melalui dua elektroda potensial. Hasil pengukuran arus dan beda potensial
untuk setiap jarak elektroda yang berbeda dapat digunakan untuk menurunkan
variasi harga tahanan jenis lapisan dibawah titik ukur (sounding point).
Berdasarkan letak (konfigurasi) elektroda-elektroda arus dan potensialnya, dikenal
beberapa jenis metode geolistrik tahanan jenis, antara lain metode Schlumberger,
metode Wenner dan metode Dipole Sounding. Metode ini lebih efektif dan cocok
digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal, karena jarang memberikan
informasi lapisan di kedalaman lebih dari 1000 kaki atau 1500 kaki. Pada metode
tahanan jenis konfigurasi Schlumberger, bumi diasumsikan sebagai bola padat
yang mempunyai sifat homogen isotropis. Dengan asumsi ini, maka seharusnya
resistivitas yang terukur merupakan resistivitas sebenarnya dan tidak bergantung
atas spasi elektroda, namun pada kenyataannya bumi terdiri atas lapisan-lapisan
dengan ρ yang berbeda- beda sehingga potensial yang terukur merupakan
pengaruh dari lapisan-lapisan tersebut. Maka harga resistivitas yang terukur bukan
merupakan harga resistivitas untuk satu lapisan saja, tetapi beberapa lapisan. Hal
ini terutama untuk spasi elektroda yang lebar (Reynold, 1997).

Metode geolistrik merupakan metode yang banyak sekali digunakan dan hasilnya
cukup baik yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai lapisan tanah dibawah
permukaan. Metode geolistrik merupakan metode yang digunakan untuk
mengetahui sifat aliran listrik di dalam bumi dengan cara mendeteksinya di
permukaan bumi. Pendeteksian ini meliputi pengukuran potensial, arus dan medan
elektromagnetik yang terjadi baik itu oleh injeksi arus maupun secara alamiah.
Kegunaan metode ini untuk mengetahui karakteristik lapisan bawah permukaan
dan sangat berguna untuk mengetahui kemungkinan adanya lapisan akuifer,
umumnya yang dicari merupakan lapisan akuifer yang diapit oleh lapisan batuan
kedap air sehingga dapat diketahui letak akuifer serta pola aliran air tanah pada
daerah penelitian (Sanggra,2015).

Harga faktor geometri berdasarkan konfigurasi yang dipakai. Metode


pengukuran resistivitas konfigurasi elektroda dipole-dipole. Pada konfigurasi
dipole-dipole, kedua elektroda arus dan elektroda potensial terpisah dengan jarak
a. Sedangkan elektroda arus dan elektroda potensial bagian dalam ter- pisah
sejauh na, dengan n adalah bilangan bulat (Waluyo, 2005).
IV. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Naniura Resistivitymeter NRD 300HF
2. Elektroda Arus dan Potensial
3. Kabel Arus dan Potensial
4. Palu
5. Baterai
6. Meteran
7. Multimeter
8. Alat Tulis

B. Diagram Alir

Adapun diagram alir dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

Mulai

Melakukan desain survei lokasi

Melakukan akuisisi data

Catat nilai arus,beda potensial dan hitung nilai resistivitas

Analisis data hasil pengukuran

Selesai

Gambar.1 Diagram Alir


V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan

Adapun data hasil pengamatan pada praktikum ini terlampir di lampiran.

B. Pembahasan

Praktikum mengenai Survei 2D akuisisi data konfigurasi dipole-dipole ini


berjalan dengan kurang baik, karena banyaknya titik atau step yang diukur
adalah sebanyak 80 titik/step dari 299 titik yang dibutuhkan hal ini
dikarenakan waktu yang kurang memadai. Praktikum ini diadakan di daerah
Universitas Lampung tepatnya di lapangan sepakbola Unila. Latar belakang
diadakannya praktikum didaerah ini yaitu guna mengetahui kandungan
potensi mineral apa saja yang berada pada daerah tersebut. Pengambilan data
dengan menggunakan metode konfigurasi dipole-dipole ini dimulai dengan
mempersiapkan segala sesuatunya seperti alat dan bahan yang digunakan, lalu
melihat kondisi yang baik untuk titik tengah pengukuran agar lebar lapangan
cukup untuk dibentangkan kabel sebesar pada data yang akan diukur. Lalu,
mulai menyambungkan berbagai kabel, seperti kabel baterai disambungkan
dengan Naniura NRD 300HF, lalu kabel arus dan potensial disambungan ke
Naniura NRD 300 HF, kabel dari multimeter disambung ke Naniura.
Kemudian dilakukan pengukuran dengan menentukan panjang kabel. Lalu,
mengaktifkan nilai ON pada alat naniura. Selanjutnya menolkan nilai pada
multimeter, lalu, klik start input arus pada naniura dan jika sudah stabil stop
dan klik hold pada multimeter. Lalu catat masing-masing nilai I (Arus) dan
V(tegangan) dan nanti dapat kita cari berapa nilai resistivitasnya.

Konfigurasi elektoda yang sering digunakan dalam pengukuran ini yaitu


konfigurasi dipole-dipole. Konfigurasi dipole-dipole memiliki jangkauan
yang paling dalam dibandingkan konfigurasi yang lain, dengan kelebihannya
yaitu :
9

1. Kemampuan penetrasi yang dalam tanpa mengurangi resolusi


horizontal/lateral secara signifikan dibanding konfigurasi Wenner ataupun
Schlumberger.
2. Konfigurasi Dipole-dipole memiliki jarak AB dan MN yang tetap serta
masing-masing elektroda (arus dan potensial) bergerak secara berpasangan
memudahkan dalam pembuatan geometri pengukuran.

Sedangkan untuk kelemahannya dengan menggunakan konfigurasi ini adalah


sebagai berikut :
1. Dalam pelaksanaannya, tidak sepraktis konfigurasi Wenner, dsb.
2. Jumlah data/step yang banyak menyebabkan waktu pengukuran menjadi
lebih panjang.

Pada konfigurasi dipole-dipole, kedua elektroda arus dan elektroda potensial


terpisahdengan jarak a. Sedangkan elektroda arus dan elektroda potensial
bagian dalam terpisahsejauh na, dengan n adalah bilangan bulat. Variasi n
digunakan untuk mendapatkan berbagai kedalaman tertentu, semakin besar n
maka kedalaman yang diperoleh juga semakin besar. Tingkat sensitivitas
jangkauan pada konfigurasi dipole-dipole dipengaruhi oleh besarnya a dan
variasi n . persamaan Metode resistivitas ini juga biasa dikenal sebagai
resistivitas mapping-sounding. Hal ini terjadi karena pada metode ini
bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas di bawah permukaan bumi
secara vertical maupun secara horizontal.

Pada praktikum Geolistrik ini dapat mengetahui nilai resistivity semu nya.
Nilai resistivitas semu itu adalah nilai resistivitas pengukuran, jadi jika kita
kita bawa pulang adalah data resistivitas semu, yang harus diolah dahulu
sampai menjadi data resisitvitas sebenarnya, penyebabnya adalah bumi yang
berlapis, sedangkan pada teori, diasumsikan bumi ini satu lapisan saja. Secara
teoritis, berdasarkan hukum ohm diketahui bahwa besar hambatan listrik
suatu material bergantung pada kuat arus I, tegangan V. Setelah diolah
didapatkan data dan menghitung nilai resistivitas semunya dengan
menggunakan Ms. Exel dan didapatkan nilai rho seperti pada table
pengamatan yang terdapat pada lampiran.
VI. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :


1. Konfigurasi dipole-dipole cocok digunakan untuk akuisisi data sounding
mapping.
2. Konfigurasi dipole-dipole memiliki kemampuan penetrasi yang dalam tanpa
mengurangi resolusi horizontal/lateral secara signifikan.
3. Jarak antar elektroda arus dan potensial membuat besar arus yang terekam
tidak terlalu resposif karena jarak yang jauh.
4. Sebelum menggunakan alat geolistrik Naniura perlu dilakukan kalibrasi alat
dengan memastikan aliran listrik telah mengalir ke dalam tanah.
5. Konfigurasi Dipole-dipole memiliki jarak AB dan MN yang tetap serta
masing-masing elektroda (arus dan potensial) bergerak secara berpasangan
memudahkan dalam pembuatan geometri pengukuran.
DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, S., dkk. 2010. Metode Geolistrik Imaging Konfigurasi Dipole-dipole


Digunakan untuk Penelusuran Sistem Sungai Bawah Tanah Pada Kawasan
Karst Di Pacitan, Jawa Timur. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Apparao, A. 1997. Developments in Geoelectrical Methods. A.A. Belkema.


Rotterdam.

Hendrajaya, L. dan Arif, I. 1988. Geolistrik Tahanan Jenis. Laboratorium Fisika


Bumi. Jurusan FMIPA. ITB. Bandung.

Reynold, J.M. 1997. An Introduction to Applied and Enviromental Geophysics.


John Willey & Sons Ltd. Newyork.

Wijaya, Andrias Sanggra.2015. Aplikasi Metode Geolistrik Resistivitas


Konfigurasi Wenner Untuk Menentukan Struktur Tanah di Halaman
Belakang SCC ITS Surabaya. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Waluyo dan Edy Hartantyo. 2000. Teori dan Aplikasi Metode Resistivitas. FMIPA
Fisika. Yogyakarta.
LAMPIRAN
DATA AKUISISI GEOLISTRIK DIPOLE-DIPOLE

*note: a=6
STEP C1 C2 P1 P2 n K I (mA) V (mV) Rho
1 2 1 3 4 1 113.04 122 543.0 503.121
2 2 1 4 5 2 452.16 212 102.0 217.549
3 2 1 5 6 3 1130.4 214 23.7 125.189
4 2 1 6 7 4 2260.8 214 10.3 108.814
5 2 1 7 8 5 3956.4 214 5.9 109.078
6 2 1 8 9 6 6330.24 213 3.9 115.906
7 2 1 9 10 7 9495.36 212 1.8 80.621
8 2 1 10 11 8 13564.8 214 2.0 126.774
9 3 2 4 5 1 113.04 146 480.0 371.638
10 3 2 5 6 2 452.16 148 46.0 140.536
11 3 2 6 7 3 1130.4 151 47.5 355.589
12 3 2 7 8 4 2260.8 150 5.6 84.403
13 3 2 8 9 5 3956.4 150 3.9 102.866
14 3 2 9 10 6 6330.24 150 1.5 63.302
15 3 2 10 11 7 9495.36 150 1.4 88.623
16 3 2 11 12 8 13564.8 150 1.2 108.518
17 3 1 11 13 4 4521.6 178 332.0 8433.546
18 3 1 13 15 5 7912.8 178 88.0 3911.946
19 3 1 15 17 6 12660.48 177 6.0 429.169
20 3 1 17 19 7 18990.72 178 5.0 533.447
21 3 1 19 21 8 27129.6 178 3.0 457.240
22 4 3 5 6 1 113.04 148 369.0 281.836
23 4 3 6 7 2 452.16 148 31.0 94.709
24 4 3 7 8 3 1130.4 149 12.0 91.039
25 4 3 8 9 4 2260.8 150 6.0 90.432
26 4 3 9 10 5 3956.4 150 3.0 79.128
27 4 3 10 11 6 6330.24 151 49.0 2054.184
28 4 3 11 12 7 9495.36 152 1.0 62.469
29 4 3 12 13 8 13564.8 153 1.0 88.659
30 4 2 12 14 4 4521.6 123 12.0 441.132
31 4 2 14 16 5 7912.8 122 7.0 454.013
32 4 2 16 18 6 12660.48 122 6.0 622.647
33 4 2 18 20 7 18990.72 122 4.0 622.647
34 4 2 20 22 8 27129.6 122 3.0 667.121
35 4 1 22 25 6 18990.72 179 28.0 2970.615
36 4 1 25 28 7 28486.08 180 9.0 1424.304
37 4 1 28 31 8 40694.4 179 7.0 1591.401
38 5 4 6 7 6 113.04 94 86.0 103.420
39 5 4 7 8 7 452.16 94 16.0 76.963
40 5 4 8 9 8 1130.4 95 9.0 107.091
41 5 4 9 10 1 2260.8 95 4.0 95.192
42 5 4 10 11 2 3956.4 92 34.0 1462.148
43 5 4 11 12 3 6330.24 95 2.0 133.268
44 5 4 12 13 4 9495.36 94 3.0 303.043
45 5 4 13 14 5 13564.8 94 1.0 144.306
46 5 3 13 15 6 4521.6 106 10.0 426.566
47 5 3 15 17 7 7912.8 106 4.0 298.596
48 5 3 17 19 8 12660.48 106 2.0 238.877
49 5 3 19 21 4 18990.72 106 1.0 179.158
50 5 3 21 23 5 27129.6 105 0.3 77.513
51 5 2 23 26 6 18990.72 108 6.6 1160.544
52 5 2 26 29 7 28486.08 108 2.7 712.152
53 5 2 29 32 8 40694.4 108 0.9 339.120
54 6 5 7 8 1 113.04 106 75.8 80.834
55 6 5 8 9 2 452.16 106 20.0 85.313
56 6 5 9 10 3 1130.4 104 297.0 3228.162
57 6 5 10 11 4 2260.8 103 3.0 65.849
58 6 5 11 12 5 3956.4 103 3.0 115.235
59 6 5 12 13 6 6330.24 103 1.0 61.459
60 6 5 13 14 7 9495.36 103 1.0 92.188
61 6 5 14 15 8 13564.8 103 47.0 6189.763
62 6 4 14 16 4 4521.6 128 10.0 353.250
63 6 4 16 18 5 7912.8 128 29.0 1792.744
64 6 4 18 20 6 12660.48 127 1.0 99.689
65 6 4 20 22 7 18990.72 139 3.0 409.872
66 6 4 22 24 8 27129.6 127 6.0 1281.713
67 6 3 24 27 6 18990.72 127 5.0 747.666
68 6 3 27 30 7 28486.08 120 4.0 949.536
69 7 6 8 9 1 113.04 122 2.0 1.853
70 7 6 9 10 2 452.16 121 3.0 11.211
71 7 6 10 11 3 1130.4 121 2.0 18.684
72 7 6 11 12 4 2260.8 121 2.0 37.369
73 7 6 12 13 5 3956.4 121 2.0 65.395
74 7 6 13 14 6 6330.24 104 1.0 60.868
75 7 6 14 15 7 9495.36 103 1.0 92.188
76 7 6 15 16 8 13564.8 103 1.0 131.697
77 7 5 15 17 4 4521.6 102 1.0 44.329
78 7 5 17 19 5 7912.8 102 16.5 1280.012
79 7 5 19 21 6 12660.48 102 7.0 868.856
80 7 5 21 23 7 18990.72 102 3.5 651.642
Results of plagiarism analysis from 2018-12-08 13:38 UTC
b ab iv.d o cx
22.0%

Date: 2018-12-08 13:37 UTC

All sources 6 Internet sources 6

ikoenk13.blogspot.com/2012/
[0]
11.1% 2 matches

www.academia.edu/10975172/LAPORAN_PRAKTIKUM_GEOLISTRIK
[1]
8.4%3 matches

https://www.scribd.com/document/21095558...DI-PACITAN-JAWA-TIMU
[2]
4.4% 2 matches

https://www.scribd.com/document/363074343/Geolistrik
[3]
2.8% 1 matches

https://vdocuments.site/konfigurasi-metode-geolistrik.html
[4]
2.1% 1 matches

download.portalgaruda.org/article.php?ar...gurasi Dipole-dipole
[5]
1.7%1 matches

2 p ag es, 491 wo rd s

Plag L evel: selected / o verall


6 matches from 6 sources, of which 6 are online sources.

Settin g s
Data policy: Compare with web sources, Check against my documents
Sensitivity: Medium
Bibliography: Consider text
Citation detection: Reduce PlagLevel
Whitelist: --
V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan

Adapun data hasil pengamatan pada praktikum ini terlampir di lampiran.

B. Pembahasan

Praktikum mengenai Survei 2D akuisisi data konfigurasi dipole-dipole ini


berjalan dengan kurang baik, karena banyaknya titik atau step yang diukur
adalah sebanyak 80 titik/step dari 299 titik yang dibutuhkan hal ini
dikarenakan waktu yang kurang memadai. Praktikum ini diadakan di daerah
Universitas Lampung tepatnya di lapangan sepakbola Unila. Latar belakang
diadakannya praktikum didaerah ini yaitu guna mengetahui kandungan
potensi mineral apa saja yang berada pada daerah tersebut. Pengambilan data
dengan menggunakan metode konfigurasi dipole-dipole ini dimulai dengan
mempersiapkan segala sesuatunya seperti alat dan bahan yang digunakan, lalu
melihat kondisi yang baik untuk titik tengah pengukuran agar lebar lapangan
cukup untuk dibentangkan kabel sebesar pada data yang akan diukur. Lalu,
mulai menyambungkan berbagai kabel, seperti kabel baterai disambungkan
dengan Naniura NRD 300HF, lalu kabel arus dan potensial disambungan ke
Naniura NRD 300 HF, kabel dari multimeter disambung ke Naniura.
Kemudian dilakukan pengukuran dengan menentukan panjang kabel. Lalu,
mengaktifkan nilai ON pada alat naniura. Selanjutnya menolkan nilai pada
multimeter, lalu, klik start input arus pada naniura dan jika sudah stabil stop
dan klik hold pada multimeter. Lalu catat masing-masing nilai I (Arus) dan
V(tegangan) dan nanti dapat kita cari berapa nilai resistivitasnya.

Konfigurasi elektoda yang sering digunakan dalam pengukuran ini yaitu


konfigurasi dipole-dipole. Konfigurasi dipole-dipole memiliki jangkauan
yang paling dalam dibandingkan konfigurasi yang lain, dengan kelebihannya
yaitu :
1. Kemampuan penetrasi yang dalam tanpa mengurangi resolusi
horizontal/lateral secara signifikan dibanding konfigurasi Wenner ataupun
Schlumberger.
2. Konfigurasi Dipole-dipole memiliki jarak AB dan MN yang tetap serta
masing-masing elektroda (arus dan potensial) bergerak secara berpasangan
memudahkan dalam pembuatan geometri pengukuran.

Sedangkan untuk kelemahannya dengan menggunakan konfigurasi ini adalah


sebagai berikut :
1. Dalam pelaksanaannya, tidak sepraktis konfigurasi Wenner, dsb.
2. Jumlah data/step yang banyak menyebabkan waktu pengukuran menjadi
lebih panjang.

Pada konfigurasi dipole-dipole, kedua elektroda arus dan elektroda potensial


terpisahdengan jarak a. Sedangkan elektroda arus dan elektroda potensial
[1]
bagian dalam terpisahsejauh na, dengan n adalah bilangan bulat. Variasi n
digunakan untuk mendapatkan berbagai kedalaman tertentu, semakin besar n
[2]
maka kedalaman yang diperoleh juga semakin besar. Tingkat sensitivitas
jangkauan pada konfigurasi dipole-dipole dipengaruhi oleh besarnya a dan
[1]
variasi n . persamaan Metode resistivitas ini juga biasa dikenal sebagai
[4]
resistivitas mapping-sounding. Hal ini terjadi karena pada metode ini
bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas di bawah permukaan bumi
secara vertical maupun secara horizontal.
[0]
Pada praktikum Geolistrik ini dapat mengetahui nilai resistivity semu nya.
Nilai resistivitas semu itu adalah nilai resistivitas pengukuran, jadi jika kita
kita bawa pulang adalah data resistivitas semu, yang harus diolah dahulu
sampai menjadi data resisitvitas sebenarnya, penyebabnya adalah bumi yang
[0]
berlapis, sedangkan pada teori, diasumsikan bumi ini satu lapisan saja. Secara
teoritis, berdasarkan hukum ohm diketahui bahwa besar hambatan listrik
suatu material bergantung pada kuat arus I, tegangan V. Setelah diolah
didapatkan data dan menghitung nilai resistivitas semunya dengan
menggunakan Ms. Exel dan didapatkan nilai rho seperti pada table
pengamatan yang terdapat pada lampiran.