Anda di halaman 1dari 5

TATALAKSANA PASCA PAJANAN HIV

Petugas terpajan dengan resiko penularan dirujuk kepada dokter untuk evaluasi medis,
penilaian resiko dan resep profilaksis pasca pajanan. Keputusan tentang apakah profilaksis pasca
pajanan perlu atau tidak diambil harus berdasarkan rekomendasi yang telah ditunjukkan pada tabel
1 dan tabel 2, informasi yang tepat dan konseling tentang kepatuhan dan efek samping obat anti
retroviral.

Tabel 1. Profilaksis Pasca Pajanan HIV

Profilaksis Pasca Pajanan Profilaksis Pasca Pajanan Tidak


Direkomendasikan Direkomendasikan

Pofilaksis pasca pajanan dianjurkan jika Profilaksis pasca pajanan tidak dianjurkan jika
pajanan memenuhi semua kriteria berikut : ada salah satu kondisi berikut:
1. Paparan masih dalam waktu 72 jam 1. Pajanan lebih dari 72 jam
2. Petugas yang terpajan tidak diketahui 2. Petugas yang terpapar sudah HIV positip
terinfeksi HIV 3. Pajanan cairan tubuh dari sumber pajanan
3. Sumber pajanan terinfeksi HIV atau tidak yang diketahui HIV negatif ( kecuali sumber
diketahui pajanan ini diidentifikasi beresiko tinggi baru
4. Terjadi pajanan satu atau lebih dari hal terinfeksi dan dalam periode jendela)
berikut : 4. Pajanan tubuh non infeksi cairan ( misalnya
a. Darah faeces, air liur, urine atau keringat )
b. Jaringan tubuh 5. Pajanan tidak menimbulkan resiko transmisi ,
c. Tampak cairan bernoda darah karena :
d. Cairan cerebrospinal a. Hanya kulit utuh terkena cairan tubuh
e. Cairan sinovial yang berpotensi menular
f. Cairan pleura b. Petugas yang terpajan sudah HIV positif
g. Cairan peritoneal
h. Cairan perkardial
i. Cairan ketuban
5. Pajanan melalui satu atau lebih hal
berikut:
a. Penetrasi kulit dengan perdarahan
spontan atau tusukan yang dalam.
b. Percikan sejumlah besar cairan
melalui selaput lendir
c. Kontak berkepanjangan dari zat
beresiko dengan kulit tidak utuh.
6. Jika penetrasi kulit terjadi, pajanan adalah
dari jarum lubang berongga yang baru
digunakan atau benda tajam lainnya
tampak terkontaminasi dengan darah.

Tabel 2. Evaluasi Resiko Infeksi HIV


Keterangan:
* Pernyataan “Pertimbangkan ARV untuk PPP” menunjukkan bahwa ARV untuk PPP merupakan
pilihan tidak mutlak dan harus diputuskan secara individual tergantung dari orang yang terpajan
dan keahlian dokternya. Namun, pertimbangkanlah pengobatan ARV untuk PPP bila ditemukan
faktor risiko pada sumber pajanan, atau bila terjadi di daerah dengan risiko tinggi HIV.
ϒ Bila diberikan PPP dan diterima, dan sumber pajanan kemudian diketahui HIV negatif, maka
PPP harus dihentikan.
Н Pada pajanan kulit, tindak lanjut hanya diperlukan bila ada tanda-tanda kulit yang tidak utuh
(seperti, dermatitis, abrasi atau luka)

Apabila petugas terpajan memenuhi kriteria yang harus dilakukan profilaksis pasca pajanan
petugas dirujuk ke klinik VCT ( Voluntary Counseling and Testing ) untuk tindak lanjut.

Tindak Lanjut Dari Pajanan HIV


Seseorang petugas kesehatan yang terpajan harus mencari atau dirujuk untuk tindak lanjut secara
medis. Tujuan dari tindak lanjut tersebut adalah :

1. Dukungan kepatuhan terhadap profilaksis pasca pajanan


2. Mencegah atau mengobati efek samping profilaksis pasca pajanan
3. Mengidentifikasi kemungkinan serokonversi :
a. Test antibodi HIV pada awal, kemudian 6 minggu dan 6 bulan setelah pajanan
b. Uji antibodi HIV jika penyakit sesuai dengan terjadinya sindrom retroviral akut
c. Ulangi test untuk antibodi HIV pada 6 minggu dan 6 bulan setelah pajanan, jika
serokonversi terjadi, rujuk petugas terpajan untuk pengobatan, perencanaan dan
dukungan.
d. Berikan saran kepada siapa saja yang terkena untuk menggunakan tindakan pencegahan
sehingga mencegah penularan sekunder selama masa tindak lanjut.
Tindakan pencegahan tersebut meliputi:
1) Menghindari kehamilan
2) Mencari alternatif yang aman untuk menyusui
3) Menghindari donor darah dan menggunakan kondom untuk melakukan hubungan
seksual sampai test pada 6 bulan menunjukkan bahwa petugas yang terpajan tetap
test negatif.

Pemberian ARV untuk PPP

Dosis pertama PPP harus selalu ditawarkan secepat mungkin setelah pajanan dalam waktu
tidak lebih dari 3 kali 24 jam, dan jika perlu, tanpa menunggu konseling dan tes HIV atau hasil tes
dari sumber pajanan. Strategi ini sering digunakan jika yang memberikan perawatan awal adalah
bukan ahlinya, tetapi selanjutnya dirujuk kepada dokter ahli dalam waktu singkat. Langkah
selanjutnya setelah dosis awal diberikan, adalah agar akses terhadap keseluruhan pasokan obat
PPP selama 28 hari dipermudah.

Evaluasi petugas yang menggunakan profilaksis pasca pajanan dalam waktu 72 jam untuk
memantau efek samping obat yang mungkin dan kepatuhan pengobatan. Ikuti perkembangan
sampai dua minggu.
Sumber :

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Petunjuk Teknis Program Pengendalian HIV/AIDS Dan PIMS di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.