Anda di halaman 1dari 113

APLIKASI PRAKTIS

ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA
(Bagi mahasiswa Keperawatan
&
Praktisi Perawat Perkesmas)

Ns. Komang Ayu Henny Achjar, SKM, MKep, SpKom

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
RahmatNyalah kami dapat menyelesaikan buku Aplikasi praktis asuhan keperawatan
keluarga. Buku ini mencakup beberapa teori/ model yang melandasi asuhan keperawatan
keluarga, yang dapat digunakan oleh mahasiswa dan petugas perkesmas di Puskesmas
beserta contoh kasus yang sangat mudah diaplikasikan secara operasional. Bagi pengelola
institusi pendidikan, buku ini dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kompetensi
mahasiswa terkait asuhan keperawatan keluarga yang meliputi penilaian pengetahuan
(kognitif), sikap (afektif) dan psikomotor.
Saat ini, kondisi yang ada di Indonesia, program basic six Puskesmas hanya meliputi
promosi kesehatan, KIA/KB, gizi, kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit menular dan
pelayanan kesehatan dasar. Sedangkan program perawatan kesehatan masyarakat
(Perkesmas) merupakan upaya kesehatan pengembangan yang terintegrasi kedalam upaya
kesehatan wajib Puskesmas. Kondisi inilah yang akan menjawab seberapa besar masalah
kesehatan keluarga melalui program perawatan kesehatan keluarga yang ada di Puskesmas
dapat terdeteksi sedini mungkin dengan mengunggulkan upaya promosi kesehatan dan
upaya preventif, tidak hanya kuratif dan rehabilitatif. Kurangnya pemahaman petugas
kesehatan terhadap pentingnya asuhan keperawatan keluarga, melalui keluarga binaan
wilayah Puskesmas dengan melakukan kunjungan rutin ke keluarga, membantu mengatasi
masalah keluarga, memberdayakan peran keluarga, juga mempunyai andil besar terhadap
bagaimana status kesehatan di keluarga. Untuk itulah penulis berinisiatif memberikan
gambaran konsep dan tehnik asuhan keperawatan keluarga secara lebih operasional.
Dengan adanya buku ini, kiranya semua pihak yang tertarik atau berminat dalam
keperawatan kesehatan keluarga dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya, sehingga
program perkesmas terutama kunjungan keluarga binaan sudah tidak lagi menjadi program
titipan. Hal ini tidak akan terjadi, bila perawat perkesmas bersungguh-sungguh dan secara
rutin melakukan kunjungan rumah di keluarga binaannya.
Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan berupa
saran dan petunjuk dalam penerbitan buku ini, terutama Ibu Wayan Mulati dan Ibu Dra.
IGA Mandriwati, MKes yang banyak memberikan inspirasi dengan semangat dan motivasi
beliau untuk maju. Juga ucapan terima kasih kepada orang tua tersayang (Alm S.Sjamsoel
Achjar dan Sringati Oetami), suami tercinta (Agus Pujosiswono, SSi) dan kedua anak kami
tercinta (Della Firsty Apskania dan Ganda Yudha Pamungkas), sehingga buku ini dapat
terselesaikan. Kami sangat mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak untuk
perbaikan dan penyempurnaannya. Terima kasih.

Denpasar, Agustus 2009


Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I : KONSEP KEPERAWATAN KESEHATAN KELUARGA:
A. Pengertian Keluarga
B. Tipe keluarga
C. Fungsi keluarga
D. Tahapan dan tugas perkembangan keluarga
E. Level pencegahan keperawatan keluarga
F. Tugas keluarga
G. Tingkat kemandirian keluarga
BAB II: ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian
1. Penjajagan tahap I
2. Penjajagan Tahap II
3. Analisis data
4. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga
5. Prioritas masalah
B. Perencanaan
1. Penetapan tujuan
2. Rencana tindakan
C. Implementasi
D. Evaluasi
BAB III : KOMPETENSI PERAWAT KOMUNITAS DALAM ASUHAN
KEPERAWATAN KELUARGA
A. Level/ tingkatan praktik keperawatan keluarga
B. Peran perawat komunitas dalam asuhan keperawatan keluarga
C. Pemberdayaan keluarga (Empowering)
D. Pendidikan kesehatan keluarga (Health Education)
E. Terapi modalitas dan terapi komplementer
BAB IV:METODE DAN MEDIA (ALAT PERAGA) PENDIDIKAN KESEHATAN
KELUARGA
A. Metode pendidikan kesehatan keluarga
1. Pengertian
2. Tujuan Pemilihan Metode Pendidikan Kesehatan
3. Macam Metode Pendidikan Kesehatan
a. Ceramah
b. Diskusi kelompok
c. Ceramah
d. Demonstrasi
e. Studi kasus
f. Panel
g. Simposium
h. Role play
i. Pemutaran film
j. Siaran terprogram
k. Interview/ Tanya jawab
B. Media (alat peraga) pendidikan kesehatan
1. Leaflet
2. Poster
3. Papan tulis
4. Flipchart
5. Buletin
6. Flash card
7. Buku cerita bergambar
8. Chart
9. Diorama
10. Flannel Graph
BAB V: KOMPETENSI KRITIS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengetahuan / knowledge
B. Sikap/ attitude
C. Psikomotor
BAB VI: APLIKASI PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian
B. Perencanaan
C. Pelaksanaan & Evaluasi
BAB VII: APLIKASI PRAKTIS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA BAGI PRAKTISI PERAWAT PERKESMAS.
A. Pengkajian
B. Perencanaan, Pelaksanaan & Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 : Kriteria tingkat kemandirian keluarga


Tabel 2.1 : Analisis data keperawatan
Tabel 2.2 : Prioritas masalah asuhan keperawatan
keluarga
Tabel 2.3 : Rencana keperawatan keluarga Bpk A
Tabel 2.4 : Contoh catatan perkembangan keperawatan keluarga Bpk A
Tabel 5.1 : Format penilaian kompetensi pengetahuan
Tabel 5.2 : Format penilaian kompetensi sikap
Tabel 5.3 : Format penilaian kompetensi ketrampilan
Tabel 7.1 :Analisis masalah keperawatan keluarga Bpk RS

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.2 : Model Family Centre Nursing Friedman


Gambar 3.1 : Peran perawat Puskesmas minimal dan ideal
Gambar 4.1 : Macam alat peraga berdasar tingkat intensitasnya
Gambar 7.1 : Upaya kesehatan wajib dan upaya pengembangan di Puskesmas
Gambar 7.2 : Pengorganisasian Perkesmas di Puskesmas
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Web of caution keluarga Bpk RS dengan masalah kesehatan reproduksi


remaja
Lampiran 2 : Laporan pendahuluan (LP) kegiatan asuhan keperawatan keluarga Bpk RS
BAB I
KONSEP KEPERAWATAN KESEHATAN KELUARGA

A. PENGERTIAN KELUARGA
Pengertian Keperawatan Kesehatan Keluarga (Family Health Nursing) dapat
dinyatakan berdasar berbagai sumber sebagai berikut:
1. Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi dan
kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari individu-individu yang
ada di dalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai
tujuan bersama (Friedman, 1998)
2. Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan ikatan
adopsi yang hidup bersama dalam satu rumah tangga, anggota keluarga berinteraksi dan
berkomunikasi satu sama lain dengan peran sosial keluarga (Burgess dkk, 1963).
3. Keluarga adalah suatu sistem sosial yang berisi dua atau lebih orang yang hidup bersama
yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi, atau tinggal bersama dan saling
menguntungkan, mempunyai tujuan bersama, mempunyai generasi penerus, saling
pengertian dan saling menyayangi (Murray & Zentner, 1997).
4. Keluarga adalah kumpulan dua atau lebih individu yang saling tergantung satu sama
lainnya untuk emosi, fisik dan dukungan ekonomi (Hanson, 1996).
5. Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena hubungan perkawinan,
darah atau adopsi dan hidup dalam satu rumah yang saling berinteraksi satu sama lain dalam
perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan
(Baylon dan Maglaya, 1978).
6. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam
keadaan saling ketergantungan (Dep Kes R.I, 1988).
6. Keluarga menurut Stuart (1991), meliputi 5 sifat yaitu:
a. Keluarga merupakan unit suatu sistem.
b. Setiap anggota keluarga dapat atau tidak dapat
saling berhubungan atau dapat dan tidak selalu tinggal dalam satu atap.
c. Keluarga dapat mempunyai anak ataupun tidak mempunyai anak.
d. Terdapat komitment dan saling melengkapi antar anggota keluarga.
e. Keluarga mempertahankan fungsinya secara konsisten terhadap perlindungan,
kebutuhan hidup dan sosialisasi antar anggota keluarga.

Keluarga merupakan subsistem komunitas sebagai sistem sosial yang bersifat unik dan
dinamis. Oleh karena itu perawat komunitas perlu memberikan intervensi pada keluarga
untuk membantu keluarga dalam mencapai derajat kesehatan yang diinginkan, dengan
mengambil langkah peningkatan pemberdayaan peran keluarga. Allender & Spradley,
(1997) memberikan alasan mengapa keluarga menjadi penting, karena keluarga sebagai
sistem, membutuhkan pelayanan kesehatan seperti halnya individu agar dapat melakukan
tugas sesuai perkembangannya. Tingkat kesehatan individu berkaitan dengan tingkat
kesehatan keluarga, begitu juga sebaliknya dan tingkat fungsional keluarga sebagai unit
terkecil dari komunitas dapat mempengaruhi derajat kesehatan sistem diatasnya. Keluarga
sebagai suatu sistem, dimana sistem keluarga merupakan bagian dari suprasistem yang lebih
besar dan disusun dari beberapa subsistem, perubahan pada salah satu anggota keluarga akan
mempengaruhi semua anggota keluarga. Mempelajari keluarga secara utuh lebih mudah
daripada mempelajari masing-masing anggotanya
Keluarga merupakan sentral pelayanan keperawatan karena keluarga merupakan
sumber kritikal untuk pemberian pelayanan keperawatan, intervensi yang dilakukan pada
keluarga merupakan hal penting untuk pemenuhan kebutuhan individu. Disfungsi apapun
yang terjadi pada keluarga akan berdampak pada satu atau lebih anggota keluarga atau
keseluruhan keluarga, bila ada satu orang yang sakit akan berpengaruh pada keluarga secara
keseluruhan. Adanya hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan setiap
anggota keluarga, sangat memerlukan peran keluarga pada saat menghadapi masalah yang
terjadi pada keluarga. Juga keluarga merupakan sistem pendukung yang vital untuk individu,
merupakan support sistem utama individu dengan mengkaji setiap sumber yang tersedia.
Karakteristik keluarga yang sehat, bila anggota keluarganya berinteraksi satu dengan
yang lainnya, anggota keluarga terlibat dalam peran masing-masing secara fleksibel, anggota
keluarga selalu termotivasi untuk berkomunikasi dengan keluarga lainnya dan juga dengan
masyarakat sekitar serta setiap anggota keluarga menguasai salah satu tugas keluarga seperti
pengambilan keputusan atau upaya pencarian informasi.

B. TIPE KELUARGA
Berbagai bentuk dan tipe keluarga, berdasarkan berbagai sumber, dibedakan
berdasarkan keluarga tradisional dan keluarga non tradisional seperti:
1. Menurut Maclin (1988), pembagian tipe keluarga:
a. Keluarga tradisional
1). Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang hidup
dalam rumah tangga yang sama
2). Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu kelurga hanya dengan satu orang yang
mengepalai akibat dari perceraian, pisah atau ditinggalkan.
3). Pasangan inti, hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak atau tidak ada anak yang
tinggal bersama mereka.
4). Bujang dewasa yang tinggal sendirian.
5). Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari nafkah, istri tinggal di
rumah dengan anak sudah kawin atau bekerja.
6). Jaringan keluarg besar : terdiri dari dua keluarga inti atau lebih atau anggota keluarga
yang tidak menikah hidup berdekatan dalam daerah geografis.

b. Keluarga non tradisional.


1). Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak menikah (biasanya terdiri
dari ibu dan anak saja).
2). Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai anak.
3). Keluarga gay/ lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin sama hidup bersama
sebagai pasangan yang menikah.
4). Keluarga komuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu pasangan monogami
dengan anak-anak, secara bersama menggunakan fasilitas, sumber dan memiliki
pengalaman yang sama.

2. Menurut Allender & Spradley (2001), membagi tipe keluarga berdasarkan:


a. Keluarga tradisional
1). Keluarga inti (nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak
kandung atau anak angkat
2). Keluarga besar (extended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang
mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, paman dan bibi.
3). Keluarga Dyad yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
4). Single parent yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak kandung
atau anak angkat, yang disebabkan karena perceraian atau kematian.
5). Single adult, yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dari seorang dewasa saja.
6). Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri yang berusia lanjut.
b. Keluarga non tradisional
1). Commune family, yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah hidup serumah.
2). Orang tua (ayah/ ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup bersama dalam
satu rumah tangga.
3). Homoseksual yaitu dua individu yang sejenis kelamin hidup bersama dalam satu rumah
tangga.

3. Menurut Carter & Mc Goldrick (1988) dalam Setiawati & Dermawan (2005), membagi
tipe keluarga berdasar:
a. Keluarga berantai (sereal family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang
menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
b. Keluarga berkomposisi, yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup
secara bersama-sama.
c. Keluarga kabitas, yaitu keluarga yang terbentuk tanpa pernikahan.

C. FUNGSI KELUARGA
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau
sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarga. Terdapat beberapa fungsi keluarga
menurut Friedman (1998) ; Setiawati & Dermawan (2005) yaitu:
1. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan pemeliharaan
kepribadian dari anggota keluarga. Merupakan respon dari keluarga terhadap kondisi dan
situasi yang dialami tiap anggota keluarga baik senang maupun sedih, dengan melihat
bagaimana cara keluarga mengekspresikan kasih sayang.
2. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada anak,
membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan perilaku yang boleh
dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. Bagaimana keluarga
produktif terhadap sosial dan bagaimana keluarga memperkenalkan anak dengan dunia luar
dengan belajar berdisiplin, mengenal budaya dan norma melalui hubungan interaksi dalam
keluarga sehingga mampu berperan dalam masyarakat.
3. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam melindungi
keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta menjamin pemenuhan kebutuhan
perkembangan fisik, mental dan spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota
keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
4. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan,
papan dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana keluarga. Mencari sumber
penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penghasilan keluarga,
menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
5. Fungsi biologis
Fungsi biologis, bukan hanya ditujukan untuk meneruskan keturunan tetapi untuk
memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
6. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis, terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih saying dan rasa
aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan kepribadian
anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
7. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan pengetahuan,
ketrampilan, membentuk perilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa,
mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkembangannya.

D. TAHAPAN DAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA


Perawat keluarga perlu mengetahui tentang tahapan dan tugas perkembangan
keluarga, untuk memberikan pedoman dalam menganalisis pertumbuhan dan kebutuhan
promosi kesehatan keluarga serta untuk memberikan dukungan pada keluarga untuk
kemajuan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Tahap perkembangan keluarga menurut
Duvall & Miller (1985) ; Carter & Mc Goldrick (1988), mempunyai tugas perkembangan
yang berbeda seperti:
1. Tahap I, keluarga pemula atau pasangan baru
Tugas perkembangan keluarga pemula antara lain membina hubungan yang
harmonis dan kepuasan bersama dengan membangun perkawinan yang saling memuaskan,
membina hubungan dengan orang lain dengan menghubungkan jaringan persaudaraan
secara harmonis, merencanakan kehamilan dan mempersiapkan diri menjadi orang tua.
2. Tahap II, keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur 30 bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II yaitu membentuk keluarga muda
sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memperluas
persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran orang tua kakek dan nenek
dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan.
3. Tahap III, keluarga dengan anak usia prasekolah (anak tertua berumur 2-6 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III yaitu memenuhi kebutuhan anggota
keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap
memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan hubungan yang sehat dalam
keluarga dan luar keluarga, menanamkan nila dan norma kehidupan, mulai mengenalkan
kultur keluarga, menanamkan keyakinan beragama, memenuhi kebutuhan bermain anak.
4. Tahap IV, keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap IV yaitu mensosialisasikan anak termasuk
meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya,
mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan
fisik anggota keluarga, membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak saat
menyelesaikan tugas sekolah.
5. Tahap V, keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V yaitu menyeimbangkan kebebasan
dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan mandiri, memfokuskan kembali
hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak,
memberikan perhatian, memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab,
mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
6. Tahap VI, keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak pertama
sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap VI yaitu memperluas siklus keluarga
dengan memasukkan anaggota keluarga baru yang didapat melalui perkawinan anak-anak,
melanjutkan untuk memperbaharui hubungan perkawinan, membantu orang tua lanjut usia
dan sakit sakitan dari suami maupun istri, membantu anak mandiri, mempertahankan
komunikasi, memperluas hubungan keluarga antara orang tua dengan menantu, menata
kembali peran dan fungsi keluarga setelah ditinggalkan anak.
7. Tahap VII, orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan ,pensiun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap VII yaitu menyediakan lingkungan yang
meningkatkan kesehatan, mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti para
orang tua dan lansia, memperkokoh hubungan perkawinan, menjaga keintiman,
merencanakan kegiatan yang akan datang, memperhatikan kesehatan masing-masing
pasangan, tetap menjaga komunikasi dengan anak-anak.
8. Tahap VIII, keluarga dalam masa pensiun dan lansia.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap VIII yaitu mempertahankan pengaturan
hidup yang memuaskan, menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun,
mempertahankan hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan,
mempertahankan ikatan keluarga antar generasi, meneruskan untuk memahami eksistensi
mereka, saling memberi perhatian yang menyenangkan antar pasangan, merencanakan
kegiatan untuk mengisi waktu tua seperti berolahraga, berkebun, mengasuh cucu.

E. LEVEL PENCEGAHAN PERAWATAN KELUARGA


Pelayanan keperawatan keluarga, berfokus pada tiga level prevensi yaitu:
1.Pencegahan primer (primary prevention), merupakan tahap pencegahan yang
dilakukan sebelum masalah timbul, kegiatannya berupa pencegahan spesifik (specific
protection) dan promosi kesehatan (health promotion) seperti pemberian pendidikan
kesehatan, kebersihan diri, penggunaan sanitasi lingkungan yang bersih, olah raga,
imunisasi, perubahan gaya hidup. Perawat keluarga harus membantu keluarga untuk
memikul tanggung jawab kesehatan mereka sendiri, keluarga tetap mempunyai peran
penting dalam membantu anggota keluarga untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
2. Pencegahan sekunder (secondary prevention), yaitu tahap pencegahan kedua yang
dilakukan pada awal masalah timbul maupun saat masalah berlangsung, dengan
melakukan deteksi dini (early diagnosis) dan melakukan tindakan penyembuhan (promp
treatment) seperti screening kesehatan, deteksi dini adanya gangguan kesehatan.
3. Pencegahan tersier (tertiary prevention), merupakan pencegahan yang dilakukan pada
saat masalah kesehatan telah selesai, selain mencegah komplikasi juga meminimalkan
keterbatasan (disability limitation) dan memaksimalkan fungsi melalui rehabilitasi
(rehabilitation) seperti melakukan rujukan kesehatan, melakukan konseling kesehatan
bagi yang bermasalah, memfasilitasi ketidakmampuan dan mencegah kematian.
Rehabilitasi meliputi upaya pemulihan terhadap penyakit atau luka hingga pada tingkat
fungsi yang optimal secara fisik, mental, sosial dan emosional.

F. TUGAS KELUARGA
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan. Asuhan keperawatan
keluarga, mencantumkan lima tugas keluarga sebagai paparan etiologi / penyebab masalah
dan biasanya dikaji pada saat penjajagan tahap II bila ditemui data maladaptif pada keluarga.
Lima tugas keluarga yang dimaksud adalah:
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, termasuk bagaimana persepsi
keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab
dan persepsi keluarga terhadap masalah yang dialami keluarga.
2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauhmana keluarga
mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana masalah dirasakan oleh keluarga,
keluarga menyerah atau tidak terhadap masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap
akibat atau adakah sikap negatif dari keluarga terhadap masalah kesehatan, bagaimana
system pengambilan keputusan yang dilakukan keluarga terhadap anggota keluarga yang
sakit.
3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, seperti bagaimana
keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat dan perkembangan perawatan yang diperlukan,
sumber-sumber yang ada daam keluarga serta sikap keluarga terhadap yang sakit.
4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan, seperti pentingnya hygiene sanitasi
bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit yang dilakukan keluarga, upaya pemeliharaan
lingkungan yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam menata
lingkungan dalam dan luar rumah yang berdampak terhadap kesehatan keluarga.
5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti
kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan,
keberadaan fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan keluarga terhadap penggunaan fasilitas
kesehatan, apakah pelayanan kesehatan terjangkau oleh kelurga, adakah pengalaman yang
kurang baik yang dipersepsikan keluarga.

G. TINGKAT KEMANDIRIAN KELUARGA


Keberhasilan asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan perawat keluarga, dapat
dinilai dari seberapa tingkat kemandirian keluarga dengan mengetahui criteria atau ciri-ciri
yang menjadi ketentuan tingkatan mulai dari tingkat kemandirian I sampai tingkat
kemandirian IV, menurut Dep-Kes (2006) sebagai berikut:
1. Tingkat kemandirian I ( keluarga mandiri tingkat I / KM -I)
a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan
Masyarakat
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan
sesuai dengan rencana keperawatan.
2. Tingkat kemandirian II (keluarga mandiri tingkat II/ KM-II)
a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan.
c. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar.
d. Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif.

3. Tingkat kemandirian III (keluarga mandiri tingkat III/ KM-III)


a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan.
c. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar.
d. Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif.
f. Melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran

4. Tingkat kemandirian IV (keluarga mandiri tingkat IV/ KM-IV)


a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan.
c. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar.
d. Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif.
f. Melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran
g. Melakukan tindakan promotif secara aktif

Kriteria tingkat kemandirian keluarga, diuraikan seperti tabel 1.1

Tabel 1.1
Kriteria tingkat kemandirian keluarga

No Kriteria Tingkat kemandirian


keluarga
I II III IV
1 Menerima petugas Perawatan V V V V
Kesehatan Masyarakat

2 Menerima pelayanan keperawatan V V V V


yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.

3 Tahu dan dapat mengungkapkan V V V


masalah kesehatan secara benar

4 Melakukan tindakan keperawatan V V V


sederhana sesuai yang dianjurkan.

5 Memanfaatkan fasilitas pelayanan V V V


kesehatan secara aktif.

6 Melaksanakan tindakan V V
pencegahan sesuai anjuran

7 Melakukan tindakan promotif V


secara aktif

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. TEORI MODEL FAMILY CENTRE NURSING FRIEDMAN


Model ini menjelaskan bahwa keluarga sebagai suatu system sosial yang merupakan
kelompok terkecil dari masyarakat. Keluarga merupakan sekumpulan orang yang
dihubungkan karena perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental,
emosional dan social dari individu yang didalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling
ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama. Model family centre nursing Friedman,
seperti gambar 2.1.

Gambar 2.1
Model Family Centre Nursing Friedman

Pengkajian keluarga: Pengkajian individu sebagai


-Identifikasi data sosiokultural anggota keluarga:
-Data lingkungan -Mental
-Struktur keluarga -Fisik
-Fungsi keluarga -Emosi
-Strategi koping dan stress -Sosial
keluarga -Spiritual

Identifikasi keluarga, subsistem keluarga


dan masalah kesehatan individu
(diagnosis keperawatan)

Rencana tindakan:
-Setting tujuan
-Identifikasi sumber daya
-Alternatif pendekatan
-Memilih alternatif tindakan
-Prioritas masalah

Intervensi
Implementasi dari rencana tindakan

Evaluasi perawatan

Data yang terkumpul dilakukan analisis menggunakan diagram masalah untuk menyusun
diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan 5 tugas perawatan keluarga seperti potensial,
risiko dan aktual. Tahap awal perencanaan adalah penyusunan tujuan baik tujuan jangka
panjang maupun tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang ditujukan untuk mengatasi
masalah sedangkan tujuan jangka pendek ditujukan untuk mengatasi etiologi/ penyebab
masalah. Rencana intervensi dirancang berdasarkan tujuan khusus dengan menggunakan
media informasi kesehatan seperti leaflet, buku panduan, booklet, lembar balik untuk
merubah pengatahuan, sikap dan tindakan keluarga terhadap masalah kesehatan yang
dialami keluarga. Implementasi keperawatan dilakukan untuk membantu memandirikan
keluarga, sedangkan evaluasi menggambarkan keberhasilan dalam proses keperawatan
keluarga dan dapat digunakan untuk perencanaan kegiatan berikutnya.

A. PENGKAJIAN (ASSESSMENT)
Pengkajian asuhan keperawatan keluarga menurut teori/model Family Centre
Nursing Friedman, meliputi 7 komponen pengkajian yaitu:
I. Data Umum
a. Identitas kepala keluarga
1. Nama kepala Keluarga (KK) :
2. Umur (KK) :
4. Pekerjaan Kepala Keluarga (KK) :
5. Pendidikan kepala Keluarga (KK) :
6. Alamat dan nomor telpon :
b. Komposisi anggota keluarga :
Na U Se Hub Pendi Pe Ketera
ma mur x dengan KK dikan ker ngan
ja
an

c. Genogram :
Genogram harus menyangkut minimal 3 generasi, harus tertera nama, umur, kondisi
kesehatan tiap keterangan gambar. Terdapat keterangan gambar dengan simbul berbeda
(Friedman, 1998) seperti :
Laki-laki :
Perempuan :
Meninggal dunia : X
Tinggal serumah : ----------------
Pasien yang diidentifikasi :

Kawin

Cerai

Anak adopsi
Anak kembar

Aborsi/keguguran

d. Tipe keluarga
e. Suku bangsa :
1. Asal suku bangsa keluarga
2. Bahasa yang dipakai keluarga
3. Kebiasaan keluarga yang dipengaruhi suku yang
dapat mempengaruhi kesehatan.
f. Agama :
1. Agama yang dianut keluarga
2. Kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
g. Status sosial ekonomi keluarga:
1. Rata-rata penghasilan seluruh anggota keluarga
2. Jenis pengeluaran keluarga tiap bulan
3. Tabungan khusus kesehatan
4. Barang (harta benda) yang dimiliki keluarga
(perabot, transportasi)
h. Aktifitas rekreasi keluarga

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


a. Tahap perkembangan keluarga saat ini (ditentukan dengan anak tertua)
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
c. Riwayat keluarga inti:
1. Riwayat terbentuknya keluarga inti
2. Penyakit yang diderita keluarga orang tua (adanya penyakit menular atau penyakit
menular di keluarga)
d. Riwayat keluarga sebelumnya (suami istri) :
1. Riwayat penyakit keturunan dan penyakit
menular di keluarga
2. Riwayat kebiasaan/ gaya hidup yang
mempengaruhi kesehatan

III. Lingkungan
a. Karakteristik rumah :
1. Ukuran rumah (luas rumah)
2. Kondisi dalam dan luar rumah
3. Kebersihan rumah
4. Ventilasi rumah
5. Saluran pembuangan air limbah (SPAL)
6. Air bersih
7. Pengelolaan sampah
8. Kepemilikan rumah
9. Kamar mandi/ wc
8. Denah rumah

b. Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal :


1. Apakah ingin tinggal dengan satu suku saja
2. Aturan dan kesepakatan penduduk setempat
3. Budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan
c. Mobilitas geografis keluarga:
1. Apakah keluarga sering pindah rumah
2. Dampak pindah rumah terhadap kondisi keluarga (apakah menyebabkan stress)
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
1. Perkumpulan/ organisasi sosial yang diikuti oleh
anggota keluarga
2. Digambarkan dalam ecomap
e. Sistem pendukung keluarga
Termasuk siapa saja yang terlibat bila keluarga mengalami masalah

IV. Struktur keluarga


a. Pola komunikasi keluarga:
1. Cara dan jenis komunikasi yang dilakukan
keluarga
2. Cara keluarga memecahkan masalah
b. Struktur kekuatan keluarga :
1. Respon keluarga bila ada anggota keluarga yang
mengalami masalah
2. Power yang digunakan keluarga
c. Struktur peran (formal dan informal) :
1. Peran seluruh anggota keluarga
d. Nilai dan norma keluarga

V. Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif :
1. Bagaimana cara keluarga mengekspresikan
perasaan kasih sayang.
2. Perasaan saling memiliki
3. Dukungan terhadap anggota keluarga
4. Saling menghargai, kehangatan
b. Fungsi sosialisasi :
1. Bagaimana memperkenalkan anggota keluarga
dengan dunia luar
2. Interaksi dan hubungan dalam keluarga
c. Fungsi perawatan kesehatan :
1. Kondisi perawatan kesehatan seluruh anggota
keluarga (bukan hanya kalau sakit diapakan tetapi bagaimana prevensi/ promosi).
2. Bila ditemui data maladaptif, langsung lakukan penjajagan tahap II (berdasar 5
tugas keluarga seperti bagaimana keluarga mengenal masalah, mengambil
keputusan, merawat anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan).

VI. Stress dan koping keluarga


a. Stressor jangka panjang dan stressor jangka pendek serta kekuatan keluarga.
b. Respon keluarga terhadap stress
c. Strategi koping yang digunakan
d. Strategi adaptasi yang disfungsional :
Adakah cara keluarga mengatasi masalah secara maladaptif

VII. Pemeriksaan fisik (head to toe)


a. Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan
b. Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga
c. Aspek pemeriksaan fisik mulai vital sign, rambut, kepala, mata mulut THT, leher, thorax,
abdomen, ekstremitas atas dan bawah, sistem genitalia.
d. Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik

VII. Harapan keluarga


1. Terhadap masalah kesehatan keluarga
2. Terhadap petugas kesehatan yang ada

ANALISIS DATA

Setelah dilakukan pengkajian, selanjutnya data dianalisis untuk dapat dilakukan


perumusan diagnosis keperawatan. Analisis data dibuat dalam bentuk matriks seperti tabel
2.1 berikut:

Tabel 2.1
Analisis data keperawatan
NO DATA Diagnosis keperawatan
1 Data subjektif: Gangguan rasa nyaman, nyeri haid
- Keluarga mengatakan anak L pada keluarga Bapak A khususnya
mengalami nyeri haid yang
berlangsung 1-2 hari. Anak L berhubungan dengan

- Keluarga mengatakan tidak ketidakmampuan keluarga merawat


diobati apapun tetapi anggota keluarga yang mengalami
terkadang diberikan feminax 1
butir sehari bila terasa nyeri. nyeri haid.

- Anak L mengatakan bila haid,


badan terasa malas
beraktivitas, perut mulas,
pegal, merasa lelah dan
inginnya marah-marah.
- Anak L mengatakan kadang
mendapatkan haid 2 kali
sebulan.
- Keluarga mengatakan tidak
tahu penyebab, akibat, cara
perawatan nyeri haid.
Data objektif:
- Anak L Tampak malas
- Nyeri bila ditekan pada
abdomen

Diagnosis keperawatan keluarga disusun berdasarkan jenis diagnosis seperti:

1. Diagnosis sehat / wellness

Diagnosis sehat/ wellness, digunakan bila keluarga mempunyai potensi untuk


ditingkatkan, belum ada data maladaptif. Perumusan diagnosis keperawatan
keluarga potensial, hanya terdiri dari komponen problem (P) saja atau P (problem)
dan S (symptom/ sign), tanpa komponen etiologi (E).

Contoh perumusan diagnosis sehat/ wellness:

Potensial peningkatan kemampuan keluarga Bapak A dalam meningkatkan kesehatan


reproduksi pada ibu N.

2. Diagnosis ancaman (risiko)

Diagnosis ancaman, digunakan bila belum terdapat paparan masalah kesehatan,


namun sudah ditemukan beberapa data maladaptif yang memungkinkan timbulnya
gangguan. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga risiko, terdiri dari problem
(P), etiologi (E) dan symptom/ sign (S).

Contoh diagnosis risiko:

Risiko cedera pada keluarga Bapak A khususnya ibu N berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan hipertensi.
3. Diagnosis nyata/ gangguan.

Diagnosis gangguan, digunakan bila sudah timbul gangguan/ masalah kesehatan di


keluarga, didukung dengan adanya beberapa data maladaptif. Perumusan diagnosis
keperawatan keluarga nyata/ gangguan, terdiri dari problem (P), etiologi (E) dan
symptom/ sign (S).

Contoh diagnosis nyata/ aktual:

Gangguan cerebral pada keluarga Bapak A khususnya ibu N berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan hipertensi.

Perumusan problem (P) merupakan respon terhadap gangguan pemenuhan


kebutuhan dasar. Sedangkan etiologi (E) mengacu pada 5 tugas keluarga yaitu:

1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, meliputi :

a. Persepsi terhadap keparahan penyakit

b. Pengertian

c. Tanda dan gejala

d. Faktor penyebab

e. Persepsi keluarga terhadap masalah

2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, meliputi:

a. Sejauhmana keluarga mengerti mengenai sifat

dan luasnya masalah.

b. Masalah dirasakan keluarga

c. Keluarga menyerah terhadap masalah yang

dialami.

d. Sikap negatif terhadap masalah kesehatan

e. Kurang percaya terhadap tenaga kesehatan

f. Informasi yang salah

3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, meliputi:

a. Bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakit.

b. Sifat dan perkembangan perawatan yang

dibutuhkan.

c. Sumber-sumber yang ada dalam keluarga.

d. Sikap keluarga terhadap yang sakit

4. Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan, meliputi:

a. Keuntungan/ manfaat pemeliharaan lingkungan


b. Pentingnya higyene sanitas

c. Upaya pencegahan penyakit

5. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas keluarga, meliputi:

a. Keberadaan fasilitas kesehatan

b. Keuntungan yang didapat

c. Kepercayaan keluarga terhadap petugas

kesehatan

d. Pengalaman keluarga yang kurang baik

e. Pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh

keluarga

Setelah data dianalisis dan ditetapkan masalah keperawatan keluarga, selanjutnya masalah
kesehatan keluarga yang ada, perlu diprioritaskan bersama keluarga dengan memperhatikan
sumber daya dan sumber dana yang dimiliki keluarga. Prioritas masalah asuhan keperawatan
keluarga seperti tabel 2.2.

Tabel 2.2

Prioritas masalah asuhan keperawatan keluarga

KRITERIA BOBOT SKOR

Sifat masalah: 1 Aktual = 3


Risiko = 2
Potensial = 1
Kemungkinan masalah 2 Mudah = 2
untuk dipecahkan Sebagian = 1
Tidak dapat = 0
Potensi masalah untuk 1 Tinggi = 3
dicegah Cukup = 2
Rendah = 1
Menonjolnya masalah 1 Segera diatasi = 2
Tidak segera diatasi = 1
Tidak dirasakan adanya masalah = 0

B. PERENCANAAN (PLANNING)

Tahap berikutnya setelah merumuskan diagnosis keperawatan keluarga adalah


melakukan perencanaan. Perencanaan diawali dengan merumuskan tujuan yang ingin
dicapai serta rencana tindakan untuk mengatasi masalah yang ada. Tujuan dirumuskan untuk
mengatasi atau meminimalkan stressor dan intervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat
pencegahan. Pencegahan primer untuk meperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan
sekunder untuk memperkuat garis pertahanan sekunder dan pencegahan tersier untuk
memperkuat garis pertahanan resisten (Anderson & Mc Farlane, 2000)

Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Penetapan tujuan
jangka panjang (tujuan umum) mengacu pada bagaimana mengatasi problem/ masalah (P)
di keluarga, sedangkan penetapan tujuan jangka pendek (tujuan khusus) mengacu pada
bagaimana mengatasi etiologi (E). Tujuan jangka pendek harus SMART (S= spesifik, M =
measurable / dapat diukur, A=achievable / dapat dicapai, R=reality, T=time limited/ punya
limit waktu).

Contoh pembuatan rencana keperawatan keluarga seperti tabel 2.3.

Tabel 2.3
Rencana keperawatan keluarga Bapak A

DIAG TUJUAN KRITERIA STANDAR RENCANA


EVALUASI EVALUASI INTERVEN
NOSIS
SI
KEPE
RAWA
TAN
Gangguan Tujuan umum:
rasa nyaman,Setelah
nyeri haid
dilakukan
pada keluarga
tindakan
Bapak A
keperawatan
khusus selama 6
nya Anak L minggu,
berhubungan diharapkan
dengan nyeri haid
ketidakmam berkurang.
puan keluar
ga merawat
anggota
keluarga
yang menga
lami nyeri
haid.
Tujuan
Khusus:
Setelah
pertemuan
6x45 menit,
keluarga
mampu:
1. Mengenal
masalah nyeri
haid dengan:

a. Menjelaskan Haid adalah Diskusikan


apa yang peristiwa dengan
dimaksud Respon verbal
meluruhnya lapisan keluarga
nyeri haid
dinding rahim yang pengertian
banyak mengan haid.
dung pembuluh Anjur
darah. kan keluarga
untuk
mengung
kap kembali
pengertian
haid.

b.Menjelaskan Diskusikan
tanda/gejala tanda dan
Respon verbal Menyebutkan 5
haid gejala yang
dari 8 tanda/gejala
yang terjadi biasanya
sebelum haid: terjadi pada
malas beraktivitas, anak L
lemas, mudah lelah, Anjurkan
emosi labil, kram keluarga
perut, nyeri kepala, untuk
pingsan, sakit pada menyebut
payudara.
kan kembali
tanda
sebelum
haid.

Beri pujian
atas jawaban
yang benar.

c. Menjelaskan Diskusikan
penyebab bersama
Menyebutkan 3 keluarga
nyeri haid. Respon verbal dari 4 penyebab penyebab
nyeri haid: nyeri haid.
hormon, posisi Motivasi
rahim, penyakit keluarga
infeksi rahim, untuk
faktor psikis seperti mengulang
stress kembali
penyebab
nyeri haid.
Jelaskan
kembali
tentang hal-
hal yang
telah
didiskusikan
.
2. Mengambil
keputusan
untuk
mengatasi
masalah nyeri
haid :
Respon verbal Menyebutkan Identifikasi
akibat bila nyeri akibat nyeri
haid tidak diatasi haid yang
a.Menjelaskan
seperti syok, lalu.
akibat yang
TD/N/RR
terjadi bila Motivasi
meningkat.
nyeri haid keluarga
tidak diatasi. untuk
mengungka
pkan
kembali
akibat nyeri
haid bila
tidak diatasi.

Respon verbal Keputusan keluarga Diskusikan


untuk mengatasi dengan
b.Mengambil
nyeri haid agar keluarga
keputusan
tidak bertambah tentang
untuk
berat. rentangan
mencegah
nyeri haid agar nyeri yang
tidak dialami
bertambah remaja
parah. untuk
mengambul
keputusan
selanjutnya.
Gali
pendapat
keluarga
bagaimana
cara
mengatasi
nyeri haid.
Motivasi
keluarga
untuk
memutuskan
mengatasi
nyeri haid
secara tepat.
Beri
reinforce
ment atas
keputusan
yang
diambil
keluarga.
3. Merawat
keluarga
dengan nyeri :
a. Menjelaskan
cara perawatan Respon verbal. Cara perawatan Gali
nyeri haid. nyeri haid: pengetahuan
1. Kompres dengan keluarga
dalam
air hangat.
mengatasi
2.Mandi air hangat nyeri haid.
3.Minum hangat Diskusikan
dengan
keluarga
4.Kurangi makanan cara
perawatan
bergaram
nyeri haid.
5.Posisi
Motivasi
menungging
keluarga
6.Menggosok untuk
pinggang/perut mengung
yang sakit.
kapkan
7.Kurangi makanan kembali apa
yang mengandung yang telah
cafein/ coklat. disampaikan
8.Minum air putih, .
juice buah-buahan,
teh chamomile.
9.Jika banyak
mengeluarkan
darah, makan
suplemen zat besi
b.Mendemons
trasikan cara Respon psikomotor Demonstarsi
perawatan Keluarga kan cara
nyeri haid. mendemonstasikan perawatan
kembali cara nyeri haid
perawatan nyeri seperti yoga,
haid seperti yoga, imagery
imagery guidance, guidance,
tehnik nafas dalam, nafas dalam,
relaksasi, obat relaksasi,
tradisional. obat
Keluarga dapat tradisional.
menilai Motivasi
keberhasilan keluarga
pelaksanaan untuk
tindakan yang redemonstra
dilakukan dengan si.
menggunakan self Beri pujian
control yang positif atas
disediakan dengan upaya
mengobservasi keluarga
adanya penurunan dalam
denyut nadi, menilai
penurunan skala keberhasilan
nyeri dan lamanya terapi
nyeri terjadi. modalitas
yang dilaku
kan.
4. Keluarga Respon verbal Menciptakan Diskusikan
mampu suasana rumahdengan
memodifikasi yang tenang,
keluarga
lingkungan kembangkan tentang
dalam perawa komunikasi yang lingkungan
terbuka, menyedia dan
tan nyeri haid:
kan waktu dan komunikasi
menjadi pendengar yang efektif
yang baik bagi untuk
mengurangi
remaja.
nyeri haid.
Beri kesem
patan keluar
ga untuk
bertanya
tentang hal
yeng belum
jelas.
5. Keluarga Menjelaskan Klarifikasi
mampu manfaat fasilitas pengetahuan
Respon verbal
memanfaatkan kesehatan yang keluarga
pelayanan dapat digunakan tentang
kesehatan bila untuk mengatasi manfaat
nyeri haid nyeri bila haid fasilitas
berlanjut: berlanjut. kesehatan.
a.Menyebutka Diskusikan
n manfaat dengan
fasilitas keluarga
kesehatan. tentang
manfaat
pelayanan
kesehatan.

Anjurkan
keluarga
untuk
periksa ke
pelayanan
kesehatan
bila haid
lebih dari 1
kali sebulan
dengan
jumlah
banyak dan
rasa nyeri
hebat.

b. Respon psikomotor Kunjungan Tanyakan


Memanfaatkan keluarga ke fasilitas perasaan
fasilitas pelaya kesehatan bila haid keluarga
lebih dari satu kali setelah
nan kesehatan sebulan. mengunjung
i fasilitas
kesehatan.

C. IMPLEMENTASI

Implementasi merupakan langkah yang dilakukan setelah perencanaan program.


Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubah dari keluarga, memandirikan
keluarga. Seringkali perencanaan program yang sudah baik tidak diikuti dengan waktu yang
cukup untuk merencanakan implementasi.

D. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi merupakan
sekumpulan informasi yang sistimatik berkenaan dengan program kerja dan efektifitas dari
serangkaian program yang digunakan terkait program kegiatan, karakteristik dan hasil yang
telah dicapai (Patton, 1986 dalam Helvie, 1998). Program evaluasi dilakukan untuk
memberikan informasi kepada perencana program dan pengambil kebijakan tentang
efektifitas dan efisiensi program. Evaluasi merupakan sekumpulan metode dan ketrampilan
untuk menentukan apakah program sudah sesuai dengan rencana dan tuntutan keluarga.
Evaluasi digunakan untuk mengetahui seberapa tujuan yang ditetapkan telah tercapai
dan apakah intervensi yang dilakukan efektif untuk keluarga setempat sesuai dengan kondisi
dan situasi keluarga, apakah sesuai dengan rencana atau apakah dapat mengatasi masalah
keluarga. Evaluasi ditujukan untuk menjawab apa yang menjadi kebutuhan keluarga dan
program apa yang dibutuhkan keluarga, apakah media yang digunakan tepat, ada tidaknya
program perencanaan yang dapat diimplementasikan, apakah program dapat menjangkau
keluarga, siapa yang menjadi target sasaran program, apakah program yang dilakukan dapat
memenuhi kebutuhan keluarga. Evaluasi juga bertujuan untuk mengidentifikasi masalah
dalam perkembangan program dan penyelesaiannya.
Program evaluasi dilaksanakan untuk memastikan apakah hasil program sudah
sejalan dengan sasaran dan tujuan, memastikan biaya program, sumber daya dan waktu
pelaksanaan program yang telah dilakukan. Evaluasi juga diperlukan untuk memastikan
apakah prioritas program yang disusun sudah memenuhi kebutuhan keluarga, dengan
membandingkan perbedaan program terkait keefektifannya.
Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur, proses dan hasil. Evaluasi program
merupakan proses mendapatkan dan menggunakan informasi sebagai dasar proses
pengambilan keputusan, dengan cara meningkatkan upaya pelayanan kesehatan. Evaluasi
proses, difokuskan pada urutan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan hasil. Evaluasi
hasil dapat diukur melalui perubahan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan
perubahan perilaku.
Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif, menghasilkan informasi untuk umpan balik
selama program berlangsung. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai
dan mendapatkan informasi tentang efektifitas pengambilan keputusan. Pengukuran
efektifitas program dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi kesuksesan dalam
pelaksanaan program. Evaluasi asuhan keperawatan keluarga, didokumentasikan dalam
SOAP (subjektif, objektif, analysis, planning) seperti tabel 2.4.
Tabel 2.4
Contoh catatan perkembangan keperawatan
Keluarga Bapak A
Tanggal No Dx Implementasi Evaluasi Paraf
17/8/2009 1.1 Dengan SUBJEKTIF:
menggunakan -Keluarga mengatakan
leaflet, nyeri haid yang terjadi
mendiskusikan pada anak L termasuk
bersama keluarga nyeri ringan dengan skala
tentang: pengertian 2, terjadi 1-2 hari
haid, gejala sebelum menjelang haid.
haid, penyebab-Keluarga mengatakan
nyeri haid. haid merupakan proses
Menanyakan pada meluruhnya/ pelepasan
keluarga tentang
sel telur yang tidak
hal-hal yang belum dibuahi, yang terkadang
dimengerti dapat menimbulkan sakit
menyangkut perut pada wanita.
pengertian, gejala, -Keluarga mengatakan
penyebab nyeri
gejala yang biasanya
haid. terjadi sebelum haid
Meminta keluarga seperti adanya perasaan
untuk menjelaskan malas beraktivitas, lemas,
kembali pengertian, emosi labil, nyeri kepala,
gejala, penyebabkeram perut, pingsan.
nyeri haid. -Keluarga mengatakan
nyeri haid pada remaja
Memberi pujian atas dapat disebabkan karena
jawaban yang benar hormon, pengaruh posisi
dari keluarga. rahim, penyakit infeksi
rahim, faktor psikis
seperti stress.

OBJEKTIF:
Keluarga menyimak
setiap penjelasan dengan
baik.

ANALYSIS:
Tujuan instruksional
khusus (TUK 1) tercapai
sesuai rencana.

PLANNING:
Evaluasi kembali TUK 1
tentang pengertian,
gejala, penyebab nyeri
haid pada pertemuan
kunjungan berikut.

Lanjutkan ke TUK 2
tentang bagaimana
mengidentifikasi nyeri
haid untuk pengambilan
keputusan yang akan
diambil keluarga.

BAB III
KOMPETENSI PERAWAT KOMUNITAS DALAM ASUHAN
KEPERAWATAN KELUARGA
Keperawatan keluarga sepenuhnya tidak hanya menjadi tanggung jawab perawat keluarga,
namun tanggung jawab perlu pula diberikan kepada keluarga dengan mempertimbangkan
kapasitas, kompetensi dan sumber daya yang dimiliki oleh keluarga (Feeley & Gottlieb,
2000). Tingkatan praktik keperawatan keluarga tergantung dari perawat mengartikan
keluarga dan pemahamannya dan tergantung bagaimana perawat memandang keluarga
tersebut. Penekanan praktik keperawatan keluarga dengan menggabungkan holistik,
sistemik berdasarkan kekuatan yang ada pada keluarga. Keluarga dapat menjadi fokus
perawatan, perawat keluarga harus bisa bekerja secara simultan antara individu dan
keluarga.
A. LEVEL/ TINGKATAN PRAKTIK KEPERAWATAN KELUARGA
Terdapat beberapa level / tingkatan keperawatan keluarga menurut Bozzet, 1987
dalam Friedman, (1998) yaitu:
1. Level 1
Individu merupakan fokus intervensi dan keluarga sebagai background. Keluarga
dipandang sebagai konteks bagi klien yang merupakan latar belakang atau fokus sekunder,
sedangkan individu merupakan bagian terdepan atau fokus primer yang berkaitan dengan
pengkajian dan intervensi keperawatan. Dalam hal ini perawat keluarga, dapat menganggap
keluarga sebagai bagian sistem pendukung sosial klien tetapi hanya dengan sedikit
keterlibatan keluarga ke dalam rencana perawatan klien.
2. Level 2
Keluarga sebagai penjumlahan dari anggota-anggotanya (keluarga sebagai kumpulan
dari anggota keluarga). Dalam praktik keperawatan keluarga, keluarga dipandang sebagai
kumpulan dari anggota keluarga, sehingga asuhan keperawatan bisa digunakan untuk
seluruh anggota keluarga tersebut. Asuhan keperawatan diberikan bukan hanya pada satu
individu, tetapi bisa lebih individu.

3. Level 3
Subsistem dalam keluarga bisa dilihat dari hubungan antara anggota-anggota
keluarga. Subsistem keluarga merupakan pusat perhatian sebagai penerima pengkajian dan
intervensi keperawatan keluarga. Sebagai contoh, hubungan antara anak dengan anak, akan
beda dengan hubungan antara ayah dengan anak atau ibu dengan anak.
4. Level 4
Seluruh anggota keluarga merupakan fokus intervensi. Keluarga dipandang sebagai
klien atau sebagai fokus utama pengkajian dan perawatan keluarga. Keluarga menjadi yang
utama dengan anggota keluarga sebagai latar belakang atau konteks. Keluarga sebagai
sistem yang berinteraksi, adanya saling ketergantungan antara subsistem keluarga dengan
keseluruhan keluarga dan lingkungan sekitar.
Karakteristik dari optimalisasi fungsi keluarga, dapat dilihat dari bagaimana keluarga
menghargai perasaan orang lain, mendorong otonomi dari anggota-anggotanya,
mengharapkan anggota-anggotanya bertanggung jawab terhadap kebutuhannya sendiri,
bersikap terbuka dan spontan dalam mengekspresikan perasaan, kepercayaan dan perbedaan
yang ada.

B. PERAN PERAWAT KOMUNITAS DALAM ASUHAN KEPERAWATAN


KELUARGA
Pengertian peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang
lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran juga diartikan
sebagai bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu atau
peran merupakan cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik yang diakui oleh
pemerintah dan diberi kewenangan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab secara
profesional sesuai kode etik keperawatan.
Peran perawat komunitas dalam asuhan keperawatan keluarga meliputi peran sebagai
pendidik (educator), peneliti (researcher), konselor (counselor), manajer kasus (case
manager), kolaborator (collaborator), penghubung (liaison), pembela (advocate) (Helvie,
1998; Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999). Berikut dijelaskan masing-masing peran
tersebut.

1. Pendidik (educator)
Peran perawat komunitas dalam asuhan keperawatan keluarga sebagai pendidik
(educator), diharapkan perawat komunitas harus mampu memberikan informasi
kesehatan yang dibutuhkan keluarga melalui pendidikan kesehatan, pemberian
pendidikan kesehatan dapat dilakukan di rumah pada saat kunjungan rumah (home visit)
atau pada institusi formal dan pilihan sesuai dengan tingkatan kemampuan masyarakat
(Stanhope & Lancaster, 2000). Fokus dan isi pendidikan kesehatan kepada keluarga
meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dampak dari penyakit (Friedman,
Bowden & Jones, 2003).
2. Peneliti (researcher)
Peran sebagai peneliti ditunjukkan oleh perawat komunitas dengan berbagai aktivitas
penelitian yang berfokus pada individu, keluarga, kelompok atau komunitas. Perawat
dapat mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, analisis data, intepretasi data,
mengaplikasi penemuan, mengevaluasi, desain dan menerapkan hasil temuan dalam
pengembangan dan perbaikan praktik keperawatan komunitas. Perawat komunitas
mengaplikasikan hasil riset dalam praktik keperawatan keluarga, mengumpulkan data,
merancang dan mendesiminasikan hasil riset.
3. Konselor (counselor)
Peran perawat komunitas dalam asuhan keperawatan keluarga, mendengar keluhan
keluarga secara objektif, memberikan umpan balik dan informasi serta membantu
keluarga melalui proses pemecahan masalah dan mengidentifikasi sumber yang dimiliki
keluarga (ICN, 2002). Perawat memberikan bantuan secara profesional dengan metode
yang disesuaikan kebutuhan dan masalah yang dihadapi keluarga, sehingga keluarga
memahami dan menggunakan pengertiannya atas tujuan yang ditetapkan bersama secara
wajar, dan akhirnya keluarga dapat menjadi lebih produktif. Perawat membantu
mengidentifikasi alternatif solusi, membuat keluarga menyadari proses pemecahan
masalah yang dihadapinya.
4. Manajer kasus (case manager)
Perawat komunitas dapat mengkaji dan mengidentifikasi kebutuhan kesehatan keluarga,
merancang rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mengawasi dan
mengevaluasi dampak terhadap pelayanan yang diberikan. Perawat perlu menunjukkan
kemampuan dalam mengidentifikasi sumber daya dan sumber dana keluarga,
memotivasi dan melakukan koordinasi dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan
keluarga.
5. Kolaborator (collaborator)
Peran sebagai kolaborator dapat dilaksanakan antara perawat dengan keluarga dalam
memberikan pelayanan kesehatan keluarga secara komprehensif. Perawat komunitas
dapat berpartisipasi bekerjasama membuat keputusan kebijakan, berkomunikasi dengan
anggota tim kesehatan, berpartisipasi bekerjasama melaksanakan tindakan untuk
menyelesaikan masalah keluarga. Perawat harus mampu melakukan komunikasi secara
lebih efektif. Kolaborasi yang efektif dapat dilihat dari komunikasi dengan keluarga,
kelompok dan tim serta pemecahan masalah yang dilakukan (Clark, 1999).
6. Penghubung (liaison)
Perawat sebagai peran penghubung (liaison) membantu mempertahankan kontinuitas
diantara petugas profesional dan non profesional. Perawat komunitas diharapkan
merujuk permasalahan klien kepada sarana pelayanan kesehatan serta sumber yang ada
di masyarakat seperti Puskesmas, RS, tokoh agama, tokoh masyarakat (Alender &
Spradley, 2001).
7. Pembela (advocate)
Peran sebagai advocate ditunjukkan oleh perawat yang tanggap terhadap kebutuhan
komunitas dan mampu mengkomunikasikan kebutuhan tersebut kepada pemberi
pelayanan secara tepat. Perawat komunitas juga mampu menggunakan sumber-sumber
atau dukungan yang tersedia di masyarakat serta membantu komunitas mengambil
keputusan guna mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Advokasi ditujukan
untuk mempengaruhi kebijakan bagi decision maker atau pengambil kebijakan.
8. Pemberi perawatan langsung
Perawat komunitas memberikan asuhan keperawatan pada keluarga secara langsung
dengan menggunakan prinsip tiga tingkatan/ level pencegahan (pencegahan primer
(primary prevention), pencegahan sekunder (secondary prevention) dan pencegahan
tersier (tertiary prevention).
9. Role model, dengan menampilkan perilaku yg dapat dipelajari oleh orang lain, menjadi
panutan bagi keluarga, memberikan contoh yang benar bagi keluarga
10. Referral resourse, dengan membuat rujukan dan follow up rujukan ke pelayanan
kesehatan lain atau ke tenaga kesehatan lain yang diperlukan keluarga.
11. Pembaharu (inovator), dengan cara membantu melaksanakan perubahan kearah yang
lebih baik untuk perbaikan dan kepentingan kesehatan keluarga.
Gambaran peran perawat Puskesmas minimal dan ideal, seperti gambar 3.1
Gambar 3.1
Peran perawat Puskesmas minimal dan ideal

PERAN PERAWAT PUSKESMAS


(MINIMAL VS IDEAL)

PEMODIFIKASI KONSULTAN
LINGKUNGAN

PENDIDIK KESEHATAN
KOORDINATOR
PENEMU KASUS /PENGHUBUNG
PEMBAHARU
PENELITI
(CHANGE AGENT) KLIEN
KONSELOR ROLE MODEL

PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN

MANAJER KASUS ADVOKAT

Ditwat 25

Keterangan:
= peran dan fungsi perawat minimal
= peran dan fungsi perawat ideal

C. PEMBERDAYAAN KELUARGA (EMPOWERING)


Pemberdayaan merupakan proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga
membentuk interaksi transformatif kepada keluarga. Pemberdayaan merupakan upaya
memobilisasi keluarga agar mampu berperan dalam pengambilan keputusan dan tindakan
strategis, juga merupakan upaya fasilitasi agar keluarga mengenal masalah yang dihadapi,
merencanakan dan melakukan pemecahan masalah dengan memanfaatkan potensi keluarga
sesuai kebutuhannya (Hitchock, Schubert dan Thomas,1999)
Pemberdayaan ditujukan untuk meningkatkan partisipasi keluarga menuju kualitas
kehidupan yang lebih baik serta meningkatkan potensi keluarga dalam bidang kesehatan,
membantu keluarga agar mampu membantu dirinya sendiri, mandiri, berswadaya dan
mampu mengadopsi inovasi. Fokus peningkatan kesadaran keluarga melalui kegiatan
promosi kesehatan, membutuhkan partisipasi aktif dan hubungan kerjasama. Pemberdayaan
dilakukan untuk membantu keluarga dalam kegiatan promosi kesehatan, preventif,
pemulihan kesehatan sehingga berfungsi secara optimal.
Perawat komunitas perlu mengetahui karakteristik keluarga setempat yang akan
diberdayakan, termasuk perbedaan karakteristik, dengan cara mengumpulkan pengetahuan
yang menyangkut informasi keluarga seperti nilai, norma dan sikap, pengambilan keputusan
keluarga, kepemimpinan dan sebagainya. Selain itu perlu melakukan pendekatan agar
keluarga sadar bahwa mereka punya masalah yang harus dipecahkan dan kebutuhan yang
harus dipenuhi, dengan cara merangsang keluarga untuk mendiskusikan masalahnya dan
merumuskan pemecahannya dalam suasana kebersamaan. Membantu mengidentifikasi
masalah yang paling menekan, membangun rasa percaya diri keluarga, mengorganisir
kekuatan dan sumber yang dapat dimanfaatkan keluarga, meningkatkan kemampuan
keluarga untuk mandiri.
Keberhasilan pemberdayaan keluarga dapat dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk
kelompok yang diajak bekerjasama, situasi sosial politik yang mendukung dan pengalaman
keluarga. Adanya hubungan saling percaya, saling menghormati, ketertarikan anggota
terhadap manfaat dan kemampuan mengambil langkah kompromi dari keluarga.
Ketersediaan sumber daya manusia yang trampil, adanya ketersediaan sumber dana,
memiliki tujuan yang jelas dengan peran masing-masing anggota serta adanya keterlibatan
pengambil kebijakan.
Strategi yang dapat dilakukan dalam upaya pemberdayaan keluarga antara lain
menumbuhkembangkan potensi yang ada di keluarga seoptimal mungkin untuk mengatasi
masalah keluarga dan meningkatkan status kesehatan keluarga, berprinsip meningkatkan
kontribusi keluarga baik secara fisik maupun non fisik, mengembangkan kegiatan keluarga
melalui fasilitas dan memotivasi dengan memperkuat sumber daya keluarga sehingga
nantinya agar terjadi alih peran antara petugas kesehatan kepada keluarga, memanfaatkan
potensi yang dimiliki keluarga.

D. PENDIDIKAN KESEHATAN KELUARGA (HEALTH EDUCATION)


Pendidikan kesehatan merupakan upaya terencana untuk perubahan perilaku
masyarakat sesuai dengan norma-norma kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan upaya
persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan yang terjadi, seharusnya didasarkan pengetahuan dan kesadaran
melalui proses pembelajaran yang dihasilkan akibat pendidikan kesehatan. Pendidikan
kesehatan merupakan strategi penting dalam asuhan keperawatan komunitas, karena
pendidikan kesehatan merupakan upaya transformasi pengetahuan tertentu dari perawat
kepada masyarakat. Pendidikan kesehatan diberikan agar masyarakat menjadi tahu, mau dan
mampu dalam menyelesaikan masalah.
Pendidikan kesehatan ini dilakukan dalam berbagai upaya pelayanan kesehatan,
yaitu upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pendidikan kesehatan merupakan
proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna baik fisik, mental dan
sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasinya,
kebutuhannya dan mampu mengubah dan mengatasi lingkungannya baik lingkungan fisik,
sosial maupun budaya (Notoatmodjo, 2005).
Pendidikan kesehatan (health education), merupakan salah satu bentuk kegiatan
promosi kesehatan (health promotion) yang dapat dilakukan kepada keluarga. Promosi
kesehatan merupakan pendidikan kesehatan plus atau promosi kesehatan adalah lebih dari
kegiatan pendidikan kesehatan (Notoatmodjo, 2005). Promosi kesehatan salah satunya dapat
dilakukan dengan melakukan pendidikan kesehatan, selain itu dapat juga dilakukan dengan
menggunakan media kesehatan keluarga seperti menggunakan spanduk, VCD, penyebaran
leaflet dan sebagainya. Promosi kesehatan merupakan program kesehatan yang dirancang
untuk membawa perubahan, baik perubahan yang terjadi di keluarga juga perubahan yang
terjadi di lingkungannya (lingkungan fisik, sosial, budaya). Promosi kesehatan tidak hanya
ditujukan untuk peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik kesehatan saja, tetapi juga
meningkatkan atau memperbaiki lingkungan fisik dan lingkungan non fisik dalam rangka
memelihara dan meningkatkan kesehatan keluarga.
Pendidikan kesehatan diperlukan pada lima tingkat pencegahan yaitu pada health
promotion, dalam upaya peningkatan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hygiene
dan perbaikan sanitasi lingkungan. Specific protection (pencegahan spesifik), dalam
program imunisasi. Early diagnosis and prompt treatment, ditujukan pada keluarga yang
sulit mendeteksi penyakit yg terjadi di keluarga. Disability limitation, ditujukan pada
keluarga yg tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yg lengkap terhadap penyakitnya.
Rehabilitation, diperlukan pendidikan kesehatan pada pemulihan cacat dengan latihan atau
ditujukan pada masyarakat untuk kembali diterima sebagai anggota keluarga dan masyarakat
setelah sembuh dari penyakit.

E. TERAPI MODALITAS & TERAPI KOMPLEMENTER


Terapi modalitas merupakan terapi yang dilakukan perawat secara mandiri sebagai
alternatif pengobatan yang dapat dilakukan klien dan keluarga dalam hal pengobatan dan
sudah dibuktikan secara riset dampaknya terhadap kesehatan klien. Sedangkan terapi
komplementer merupakan terapi alternatif yang dipakai oleh tenaga praktisi lainnya dalam
pengobatan sebagai terapi pelengkap tindakan perawat. Perawat dapat memberikan
alternatif pengobatan nyeri haid yang dapat dilakukan di rumah tanpa harus meminum obat
dengan penggunaan terapi modalitas (modality therapies) seperti thermal therapy (kompres
hangat), relaksasi progresif, imagery guidance. Penggunaan terapi modalitas biasanya
dilengkapi dengan penggunaan terapi komplementer (complementary therapies) / terapi
pelengkap seperti senam haid, yoga, meditasi. Penggunaan terapi modalitas dan terapi
komplementer merupakan cara sehat bagi keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan
masalah kesehatan reproduksinya, karena penggunaan obat-obatan yang secara bebas dibeli
di warung tanpa resep, akan berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh remaja.
Penggunaan terapi modalitas dan komplementer di rumah, dapat meningkatkan kemampuan
keluarga secara mandiri dengan mengenal perawatan organ reproduksi secara sehat.

BAB IV
METODE DAN MEDIA (ALAT PERAGA) PENDIDIKAN
KESEHATAN KELUARGA
A. METODE PENDIDIKAN KESEHATAN KELUARGA
1. Pengertian
Implementasi kegiatan asuhan keperawatan komunitas ditujukan untuk melakukan
perubahan masyarakat baik perubahan pengetahuan, perubahan sikap dan perubahan
perilaku kesehatan. Setiap perubahan di masyarakat, memerlukan peran perawat komunitas
dengan melihat tujuan apa yang ingin dicapai pada setiap kegiatan keperawatan komunitas
yang dilakukan. Apakah program yang dilakukan mengharapkan adanya perubahan
pengetahuan, sikap atau tindakan. Salah satu bentuk program kegiatan yang dilakukan
perawat komunitas adalah melakukan pendidikan kesehatan (health education).
Pendidikan kesehatan (health education), merupakan salah satu kegiatan yang
ditujukan dalam rangka promosi kesehatan (health promotion). Pendidikan kesehatan
merupakan kegiatan penyampaian pesan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok
ataupun masyarakat agar mereka memperoleh pengetahuan kesehatan sehingga nantinya
berpengaruh terhadap sikap dan perubahan perilaku kesehatannya. Perubahan yang terjadi
di masyarakat, dapat dipengaruhi oleh peran perawat komunitas dalam menyampaikan pesan
kesehatan, sasaran penerima pesan kesehatan yang dalam hal ini adalah masyarakat, juga
dipengaruhi oleh bagaimana pesan tersebut sampai di masyarakat dengan memperhatikan
aspek waktu, kesesuaian metode dan media/ alat peraga yang digunakan, ketersediaan sarana
dan fasilitas yang ada di masyarakat, tujuan penyampaian pendidikan kesehatan, besarnya
kelompok masyarakat yang akan diberikan pesan kesehatan dan kemampuan masyarakat
dalam menerima pesan kesehatan tersebut.
Metode merupakan cara untuk melaksanakan pendidikan kesehatan kepada sasaran,
sedangkan tehnik adalah segala upaya tertentu agar cara yang dilaksanakan dapat terwujud
secara baik dan sempurna. Pemilihan metode pendidikan kesehatan, disesuaikan dengan
tujuan pendidikan, kemampuan sasaran, kemampuan pemberi pendidikan kesehatan,
besarnya kelompok masyarakat, tingkat pendidikan masyarakat serta waktu penyampaian
pendidikan kesehatan.

2. Tujuan pemilihan metode pendidikan kesehatan


Pemilihan metode pendidikan kesehatan tergantung daripada tujuan yang akan
dicapai yaitu terjadinya perubahan perilaku (apakah program mengharapkan terjadinya
perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan). Berikut ini beberapa metode pendidikan
kesehatan untuk merubah masing-masing unsur perilaku yang diharapkan seperti:
1. Perubahan pengetahuan/ knowledge, dapat menggunakan metode ceramah, seminar, studi
kasus, curah pendapat, panel, symposium.
2. Perubahan sikap/ attitude, dapat menggunakan metode diskusi kelompok, tanya jawab,
roleplay, pemutaran film, sisran terprogram.
3. Perubahan tindakan/ practice, dapat menggunakan metode demonstrasi, bengkel kerja,
latihan mandiri, eksperimen
3. Macam metode pendidikan kesehatan
Pada sasaran individu dan keluarga, perawat komunitas dapat menggunakan metode
ceramah, tanya jawab, demonstrasi. Sedangkan pada sasaran kelompok dan masyarakat,
perawat komunitas dapat menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok, curah pendapat
(brain storming), demonstrasi, studi kasus, panel, symposium, role play, film, siaran
terprogram.
a. Ceramah.
Ceramah merupakan salah satu metode penyampaian informasi yang disampaikan
oleh perawat komunitas kepada masyarakat untuk menjelaskan ide, pengertian atau pesan
kesehatan disertai diskusi dan tanya jawab secara langsung. Tujuan penyampaian ceramah
untuk menyajikan satu pandangan tentang masalah yang menarik, secara langsung dan logis,
menyajikan satu masalah untuk dibahas secara diskusi umum sehingga merangsang
masyarakat untuk berfikir dan belajar lebih lanjut tentang suatu masalah.
Keuntungan penggunaan metode ceramah adalah dapat dipakai pada orang dewasa
dengan kelompok besar, tidak melibatkan terlalu banyak alat bantu, mudah untuk
menyelenggarakannya, dapat dilakukan pada masyarakat berpendidikan tinggi maupun
hanya menggunakan kata-kata saja, sehingga bila daya ingat masyarakat terbatas akan
menyebabkan pesan kesehatan tidak sampai ke masyarakat karena hanya menggunakan satu
indera saja. Perawat komunitas harus menguasai pokok pembicaraan, dan harus dapat
memanfaatkan pendengarannya dengan cara menilai reaksi masyarakat baik verbal maupun
non verbal. Pandangan harus tertuju pada semua sasaran masyarakat, dengan menggunakan
suara yang cukup jelas dengan penampilan yang meyakinkan dan menguasai seluruh topik
materi yang disampaikan.

b. Diskusi kelompok
Diskusi kelompok dapat dilakukan bila peserta diskusi kurang dari 15 orang. Agaar
semua peserta diskusi dapat berpartisipasi, diperlukan tata letak duduk berhadapan dan
saling memandang satu sama lainnya, seperti saat melakukan kegiatan refleksi diskusi kasus
(RDK) yang sudah dibahas di bab sebelumnya. Tujuan diskusi diharapkan terjadi
keterbukaan dan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, sehingga diperlukan peran
fasilitator atau pemimpin diskusi untuk mengarahkan dan mengatur jalannya diskusi
sehingga semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan
pendapatnya tanpa ada dominasi diantara mereka.
Keuntungan diskusi kelompok, dapat mendorong rasa kesatuan dan menciptakan
rasa kepemimpinan bersama dengan saling memberikan pendapat dan memperoleh pendapat
dari orang lain. Sedangakn kerugiannya, diskusi kelompok tidak dapat dipakai pada
kelompok besar karena dianggap kurang efektif dan diskusi dapat berlarut-larut, terutama
bila diskusi didominasi oleh orang-orang tertentu saja dan pemimpin diskusi tidak dapat
mengarahkan jalannya diskusi.

c. Curah pendapat (brain storming)


Curah pendapat merupakan proses pemecahan masalah dimana anggota-anggotanya
mengusulkan semua kemungkinan pemecahan yang difikirkan olehnya, tanpa ada kritik dan
evaluasi atas pendapat mereka. Kegiatan curah pendapat dapat dilakukan pada saat focus
group discussion (FGD) yang sudah dibahas pada bab sebelumnya. Prinsip pelaksanaan
curah pendapat sama dengan diskusi kelompok, memerlukan pemimpin diskusi untuk
memancing satu masalah yang menarik untuk dibahas bersama dan menjadi kebutuhan
masyarakat. Tujuan kegiatan curah pendapat, untuk menciptakan suasana menyenangkan
bagi peserta diskusi, dengan cara mengembangkan daya kreatif untuk berfikir dan menggali
pendapat masyarakat dengan merangsang partisipasi semua peserta diskusi.
Keuntungan curah pendapat, dapat digunakan pada kelompok besar maupun kecil
dengan cara membangkitkan dan merangsang pendapat baru tanpa memberikan evaluasi atas
pendapat yang disampaikan, merangsang semua peserta untuk berbicara dan mengeluarkan
pendapatnya, tidak menyita waktu lama. Sedangkan kekurangan curah pendapat, sangat sulit
membuat anggota mengerti bahwa segala pendapatnya dapat diterima dan ada
kecenderungan peserta mengadakan evaluasi segera setelah pendapat diajukan, terkadang
diskusi mudah terlepas dari kontrol terutama bila pemimpin diksusi atau fasilitator kurang
bias mengarahkan.

d. Demonstrasi
Demonstrasi merupakan cara penyampaian ide yang dipersiapkan dengan teliti untuk
mengevaluasi adanya perubahan psikomotor dengan memperlihatkan bagaimana cara
melaksanakan suatu tindakan, prosedur dengan disertai alat peraga dan tanya jawab.
Demonstrasi biasanya dilakukan oleh perawat komunitas untuk memberikan gambaran
tentang prosedur atau langkah-langkah pelaksanaan terapi modalitas dan terapi
komplementer (terapi alternatif) di masyarakat. Evaluasi pencapaian pelaksanaan
demonstrasi, dapat diketahui dari redemonstrasi yang dilakukan ulang oleh masyarakat.
Tujuan demonstrasi adalah untuk mengajarkan bagaimana melaksanakan dan
memperagakan suatu tehnik yang baru, dengan cara meyakinkan masyarakat bahwa
prosedur baru tersebut telah memberikan manfaat. Selain itu juga untuk meningkatkan minat
belajar dengan mencoba sendiri prosedur yang didemonstrasikan.
Keuntungan demonstrasi, lebih meyakinkan masyarakat karena dapat segera ditiru
dan dibuktikan, tidak hanya sekedar memberikan berita yang didengar dan dibaca saja.
Kerugiannya, memerlukan waktu dan biaya besar dalam mempersiapkan bahan yang
diperlukan, karena menggunakan benda dan bahan yang sesungguhnya. Selain itu peserta
dapat memperoleh kesempatan memperagakan kembali apa yang sudah didemonstrasikan.
Metode ceramah dan curah pendapat (brain storming), dilakukan dengan tujuan
untuk merubah pengetahuan (knowledge) masyarakat dari tidak tahu menjadi tahu,
sedangkan diskusi kelompok ditujukan untuk merubah sikap (attitude) masyarakat dari tidak
mau menjadi mau serta demonstrasi ditujukan untuk merubah tindakan (practice)
masyarakat dari tidak mampu menjadi mampu melakukan kegiatan kesehatan sesuai
harapan.
Kegiatan promosi kesehatan di masyarakat, dapat dilakukan secara langsung
berhadapan dengan masyarakat seperti penyampaian pendidikan kesehatan dalam bentuk
ceramah, diskusi, curah pendapat, demonstrasi. Juga dapat dilakukan secara tidak langsung
(penyampaian pesan kesehatan kepada masyarakat tanpa berhadapan langsung), yaitu
menggunakan perantara media cetak dan elektronik seperti adanya kegiatan diskusi
interaktif yang membahas masalah kesehatan masyarakat melalui televisi atau radio, tulisan
di majalah, koran atau internet tentang konsultasi dan tanya jawab kesehatan. Selain itu
promosi kesehatan juga dapat dilakukan dengan melakukan pemasangan spanduk, poster
yang dipasang di pinggir jalan, Puskesmas, Rumah Sakit, pasar, sekolah, tempat keramaian
yang sering dilalui dan menjadi tempat pertemuan dan berkumpul masyarakat. Semua
kegiatan promosi kesehatan tersebut, ditujukan untuk merubah perilaku masyarakat ke arah
yang lebih baik dan menguntungkan kesehatannya.

e. Studi kasus / case study


Studi kasus merupakan gambaran sekumpulan situasi masalah termasuk detail detail
yang memungkinkan kelompok menganalisa masalah. Permasalahan yang digambarkan
merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang memerlukan analisa diagnosa dan terapi,
dapat disampaikan secara lisan maupun tertulis.
Tujuan penggunaan metode studi kasus, untuk menghubungkan masalah dengan
situasi hidup, menganalisis situasi masalah, membantu anggota memahami suatu masalah,
menganalisis fakta yang ada tentang suatu masalah, mencari kemungkinan pemecahan
masalah. Studi kasus dapat dilakukan secara tertulis, lisan, difilmkan, diperankan atau
diceritakan dengan memberi kesempatan peserta untuk menggunakan pengetahuan dan
ketrampilannya. Diperlukan pemimpin studi kasus yang terampil, dan memerlukan banyak
waktu jika dilakukan secara mendalam.
Keuntungan yang didapatkan terhadap penggunaan metode studi kasus, memberikan
kesempatan kepada anggota secara merata untuk mengusulkan pemecahan, serta
memungkinkan dilakukannya tindak lanjut dengan menggunakan simulasi.

f. Panel
Panel merupakan pembicaraan tentang sebuah topik yang sudah direncanakan,
dilakukan di depan pengunjung. Diskusi panel memerlukan tiga atau lebih panelis yang
menjadi pembicara dalam diskusi, didampingi seorang moderator.
Panel bertujuan untuk memberikan pendapat yang berbeda dari berbagai aspek
tentang suatu masalah, membahas pokok pembicaraan yang terlalu luas untuk didiskusikan
dalam kelompok dan juga untuk menggali suatu masalah. Panel dapat memberikan
kesempatan mengemukakan pandangan yang berbeda-beda terhadap suatu masalah dengan
cara meningkatkan kemampuan analisis dan membangkitkan berfikir kritis diantara peserta.
Pertukaran pendapat diantara pembicara dapat membangkitkan suasana diskusi.
Panel memerlukan persiapan yang matang dan waktu yang cukup, karena panel dapat
berlarut-larut sehingga tujuan diskusi tidak tercapai serta memungkinkan pembicara
berbicara terlalu banyak terutama bila moderator tidak trampil dalam memanfaatkan waktu
yang tersedia. Panel dapat memecahbelahkan peserta, bila mereka memihak pembicara
tertentu.

g. Simposium
Simposium merupakan serangkaian pidato pendek di depan pengunjung dengan
mengungkapkan aspek-aspek yang berbeda dari suatu topik tertentu dan dipimpin oleh
moderator.
Simposium bertujuan untuk mengupas aspek yang berbeda dari topik tertentu,
mengungkap pokok pembicaraan yang sudah ditentukan dengan tidak memerlukan reaksi
peserta. Simposium dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil, dapat
mengungkapkan banyak informasi dalam waktu singkat. Kekurangan simposium secara
umum membatasi pendapat pembicara, sulit mengadakan kontrol waktu, kurang spontanitas
dan kurang kreatifitas, agak terlalu formal, hanya menakankan pada pokok pembicaraan
serta kurang adanya interaksi sosial. Simposium memerlukan perencanaan sebelumnya
dengan hati-hati untuk menjamin jangkauan yang tepat.

h. Bermain peran/ role play


Role play merupakan permainan sebuah situasi dalam hidup manusia dengan atau
tanpa melakukan latihan sebelumnya, dimainkan oleh beberapa orang untuk dipakai sebagai
bahan analisis oleh kelompok.
Role play bertujuan untuk menganalisis kemungkinan pemecahan bagi satu masalah
yang melibatkan emosi dengan memberikan gambaran tentang berbagai sikap yang berbada
dalam satu masalah. Melalui role play dapat membantu anggota menambah rasa percaya
diri, membantu anggota memperoleh pengalaman yang dialami orang lain serta membantu
anggota menyelami masalah dan membangkitkan semangat untuk pemecahan masalah. Role
play dapat dipakai pada kelompok besar dan kelompok kecil, memerlukan seorang
pemimpin yang terlatih.

i. Pemutaran film
Pemutaran film merupakan penyampaian informasi kepada sasaran melalui media
film. Media pemutaran film digunakan untuk mencapai sasaran yang lebih besar, lebih
menarik perhatian, membantu proses pengamatan/ pengenalan dan ingatan karena bersifat
visual.
Kekurangan pemutaran film, memerlukan peralatan dan tehnologi tinggi, mahal,
memerlukan ruangan khusus karena tidak dapat dilaksanakan di sembarang tempat serta
kesulitan dalam menerima informasi tidak dapat segera diatasi.

j. Siaran terprogram
Siaran terprogram merupakan penyampaian informasi secara terprogram melalui
siaran radio dan televisi yang bertujuan merubah pengetahuan, sikap dan tindakan
masyarakat.
Siaran terprogram dapat dipakai secara efektif untuk menambah pengetahuan umum,
dapat mencakup sasaran yang luas, tenaga pengajar dapat dikurangi sampai seminimal
mungkin. Kekurangan penggunaan metode siaran terprogram, radio dan televisi belum
merata dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, memerlukan perencanaan yang matang dan
memerlukan penyiar yang mahir.

k. Interview/ Tanya jawab


Interview merupakan tanya jawab yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang
telah ditentukan untuk membahas topik masalah secara mendalam. Keuntungan interview
adalah topik pembahasan sesuai dengan minat dan perhatian publik, tidak kaku seperti
ceramah/ kuliah sehingga interviewer harus tahu permasalahan, tahu kehendak publik serta
menguasai tehnik wawancara.

B. MEDIA (ALAT PERAGA) PENDIDIKAN KESEHATAN


Faktor yang mempengaruhi proses pendidikan kesehatan antara lain tergantung pada
media atau alat bantu yang digunakan, disamping faktor masukan (input) berupa sasaran
pendidikan, juga faktor metode, materi yang ingin disampaikan serta faktor pemberi
informasi kesehatan (Ajik, 1995 ; Notoatmodjo, 1993). Kegiatan pendidikan kesehatan yang
dilakukan perawat komunitas, dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat
terhadap pesan yang disampaikan, dapat lebih mudah diterima bila menggunakan media (alat
bantu) yang sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Alat bantu merupakan alat yang
digunakan dalam menyampaikan pesan pendidikan. Alat bantu lebih sering disebut alat
peraga karena berfungsi memperagakan sesuatu untuk membantu agar pesan yang
disampaikan lebih jelas dan masyarakat dapat menerima pesan secara jelas pula, dengan
memanfaatkan seluruh panca indera sehingga mempermudah masyarakat menerima pesan
yang disampaikan
Media digunakan sebagai alat bantu penyampaian pesan pendidikan kesehatan
dengan menjelaskan adanya fakta-fakta, prosedur, tindakan secara lebih sisitimatis. Semakin
banyak indera yang digunakan untuk menerima pesan, semakin jelas pula pengetahuan yang
diperoleh. Media dapat mempermudah penyampaian pesan kesehatan kepada masyarakat,
dapat menghindari kesalahan persepsi dengan menampilkan objek secara jelas sehingga
mencapai sasaran lebih banyak dan membantu sasaran belajar lebih cepat dan jelas.
Menumbuhkan minat terhadap kelompok sasaran, sehingga sasaran apat menyampaikan dan
meneruskan pesan kepada orang lain yang ada disekelilingnya.
Penggunaan alat peraga harus disesuaikan dengan sasaran, apakah individu atau
kelompok/ masyarakat, bahasa yang digunakan oleh sasaran, minat dan perhatian sasaran,
pengetahuan dan pengalaman sasaran dalam mmenerima pesan yang disampaikan, adat$
istiadat serta kebiasaan sasaran, serta kategori sasaran seperti pendidikan, umur, pekerjaan
sasaran. Sehingga pembuatan alat peraga harus memenuhi kebutuhan masyarakat, sesuai
dengan situasi dan kondisi sasaran. Masing-masing alat peraga mempunyai intensitas yang
berbeda-beda di dalam membantu persepsi masyarakat. Penggunaan media (alat bantu)
pendidikan kesehatan menurut Elgar Dale, yang mempunyai intensitas yang paling tinggi
adalah benda asli, sedangkan yang mempunyai intensitas yang paling rendah adalah dengan
kata-kata, seperi gambar 4.1.

Gambar 4.1
Macam alat peraga berdasarkan tingkat intensitasnya

1. Kata-kata
2. Tulisan 1
3. Rekaman radio 2
4. Film 3
5. Televisi 4
6. Pameran 5
7. Field trip 6
8. Demonstrasi 7
9. Sandiwara 8
10. Benda tiruan 9
11. Benda asli 10
11

Media/ alat peraga mempunyai faedah untuk menimbulkan minat sasaran, mencapai sasaran
lebih banyak, membantu dalam mengatasi banyak masalah dalam penyampaian,
mempermudah penyampaian bahan oleh pendidik, mempermudah penerimaan informasi
oleh sasaran serta merangsang sasaran untuk pesan-pesan yang diterima kepada orang lain.
Jenis alat peraga yang sederhana, yang dalam dilakukan pada saat kunjungan
keluarga di rumah seperti leaflet, buku cerita bergambar, diorama, flash card, benda nyata.
Sedangkan penggunaan di instansi seperti kantor, Rumah sakit, Puskesmas dan sekolah
seperti papan tulis, poster, diorama, flannel graph, fliph chart, buku cerita bergambar. Media
/ alat peraga yang sering digunakan di masyarakat seperti leaflet, poster, flipchart, lembar
balik, pemutaran film, VCD, Over head projector (OHP), papan tulis, televisi, sticker,
majalah.
1. Leaflet
Leaflet merupakan selembar kertas yang berisi tulisan cetak tentang masalah
kesehatan tertentu yang ingin disampaikan, untuk menambah pengetahuan sasaran, dapat
digunakan sebagai bahan diskusi sehingga mencapai sasaran yang lebih luas. Leaflet dapat
disebarkan kepada sasaran oleh perawat komunitas sebelum atau sesudah penyampaian
pendidikan kesehatan, agar sasaran lebih memahami informasi yang disampaikan. Leaflet
dapat dibawa pulang dan dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kepada sasaran yang
lebih luas seperti keluarga dan masyarakat lain yang ada di lingkungannya.
Leaflet harus dibuat semenarik mungkin, dengan warna dan gambar yang sesuai
dengan pesan yang ingin disampaikan, menerangkan pesan kesehatan selengkap mungkin.
Hindari kesalahan penulisan karena hal ini dapat mempengaruhi kesalahan persepsi sasaran.
Leaflet berisi tulisan yang terdiri dari 200- 400 kata, isi leaflet harus dapat ditangkap dengan
sekali baca, leaflet harus dapat menerangkan dirinya sendiri, ukuran leaflet 20 x 30 cm.

2. Poster
Poster merupakan selembar kertas dalam bentuk gambar untuk mempengaruhi
seseorang agar tertarik terhadap pesan yang akan disampaikan. Poster dibuat dengan gambar
dan warna yang merangsang, dapat menerangkan pesan yang disampaikan secara jelas,
dibuat tidak lebih dari 7 kata dan dapat dibaca dengan jarak 6 meter. Poster biasanya
dipasang di tempat-tempat umum atau di tempat banyak orang berkumpul seperti di
pemberhentain bis, dekat pasar, persimpangan jalan, Rumah sakit, Puskesmas, sekolah.
Poster harus dapat menggugah emosi bagi masyarakat yang melihatnya, sehingga mudah
untuk merubah perilaku masyarakat, poster dapat dibuat dengan ukuran 50 x 70 cm atau 35
x 50 cm.

3. Papan tulis.
Papan tulis biasanya digunakan oleh perawat komunitas saat melakukan pendidikan
kesehatan pada setting sekolah. Papan tulis dapat digunakan berulang kali, untuk
mengungkapkan berbagai macam informasi yang akan disampaikan. Pemanfaatan papan
tulis harus disesuaikan dengan tempat duduk sasaran, bagian bawah papan tulis harus
diletakkan sejajar dengan mata sasaran agar sasaran tidak menengadah atau terlalu
menunduk. Papan tulis diletakkan pada tempat yang mudah dilihat dan tidak terdapat
pantulan sinar yang dapat mengganggu pandangan sasaran. Tulisan yang ingin disampaikan
harus jelas, singkat, mudah dibaca sasaran, jangan menghalangi sasaran menghadap papan
tulis.

4. Flipchart
Flipchart merupakan koleksi chart yang disusun dalam urutan tertentu, dengan
ukuran sama dengan poster. Flipchart dapat dibawa kemana-mana, urutan penyajian dapat
diatur dengan tepat. Penulisan dan jumlah flipchart tergantung pesan yang ingin disampaikan
dan waktu penyampaian. Sebelum memulai pendidikan kesehatan, sebaiknya chart ditutup
dahulu, urutan penyajian dapat diatur dengan tepat sesuai kebutuhan.

Leaflet, poster, majalah, lembar balik, sticker merupakan media cetak, dengan fungsi
utamanya memerikan informasi kesehatan melalui gambar, kata-kata dan foto dalam tata
warna yang menarik. Media cetak tidak dapat menstimulir efek suara dan gerak, biaya
murah, tidak memerlukan listrik dan dapat dibawa kemana-mana. Sedangkan media
elektronik seperti televise, film, VCD merupakan media bergerak, dapat dilihat dan didengar
melalui alat Bantu elektronika. Media elektronik lebih mudah memberi pemahaman ke
masyarakat, dengan mengikutsertakan semua panca indera, lebih menarik karena terdapat
gambar dan suara, jangkauan relatif lebih luas. Tetapi penggunaan media elektronik
memerlukan biaya tinggi, perlu persiapan matang dan memerlukan ketrampilan khusus
untuk operasionalnya, perlu listrik dan sedikit rumit.
Selain faktor media, faktor individual subjek sasaran juga mempengaruhi keberhasilan
pendidikan kesehatan seperti umur, tingkat pendidikan, kepercayaan dan adat istiadat
sehingga sulit untuk berubah, lingkungan tenpat tinggal sasaran yang tidak mungkin terjadi
perubahan perilaku, disamping pengaruh kondisi fisik dan psikologi sasaran seperti
pengamatan, intelegensi, daya tangkap, ingatan, motivasi (Notoatmodjo, 1993). Faktor
pemberi pesan kesehatan seperti petugas kesehatan juga mempengaruhi keberhasilan
pendidikan kesehatan seperti kurangnya persiapan, kurangnya penguasaan materi yang akan
disampaikan, bahasa yang disampaikan kurang dapat dimengerti sasaran, penampilan
kurang meyakinkan sasaran, suara terlalu kecil, penyampaian materi terlalu monoton
sehingga membosankan, disamping pemilihan tempat dan penetapan waktu yang tidak
sesuai dengan keinginan sasaran (Effendy, 1998)

5. Buletin
Buletin merupakan alat peraga yang berukuran 90x120 cm yang biasanya
ditempelkan gambar, tulisan dari topik tertentu. Prinsip pembuatan bulletin, tepatkan pada
tempat yang mudah dilihat, gunakan pada peristiwa tertentu saja seperti pada waktu libur,
judul harus menarik, tentukan jangka waktu pemasangan supaya tidak membosankan seperti
1-2 minggu untuk sekolah dan 3 minggu untuk ruangan umum. Keuntungan bulletin antara
lain merangsang perhatian sasaran, menghemat waktu dan membiarkan pembaca belajar
masalah dalam urutan tertentu, sebagai review terhadap bahan yang pernah diajarkan.

6. Flash card
Flash card merupakan alat peraga berupa kartu bergambar ukuran 25x30 cm untuk
menyampaikan masalah tertentu, tulisan diletakkan di belakang gambar. Keuntungan
penggunaan flash card, mudah dibawa kemana-mana, dapat disimpan.

7. Buku cerita bergambar


Buku cerita bergambar merupakan alat peraga berupa buku yang berisi gambar,
garis-garis, foto yang terdiri dari 12 halaman, dapat digunakan sebagai bahan diskusi
kelompok, keterangan gambar ditulis pada setiap gambar. Keuntungan penggunaan buku
cerita bergambar adalah mudah dibuat, murah, mudah dibawa kemana-mana.

8. Chart
Chart merupakan penyampaian pesan dengan menggunakan gambar atau diagram
dengan ukuran 50x75cm atau 75x100cm, yang digunakan pada kelompok kecil. Keuntungan
chart adalah mudah dibuat, pesan yang ruwet dapat diperlihatkan dengan cara sederhana.

9. Diorama
Diorama merupakan visualisasi tiga dimensi yang disajikan seolah-olah seperti
bentuk nyata. Figur orang dan lainnya disusun tata letak untuk menggambarkan situasi.
10. Flannel Graph
Flannel Graph merupakan alat peraga yang menggunakan papan keras ditutup
dengan flannel.

BAB V
KOMPETENSI KRITIS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Penilaian kompetensi kritis asuhan keperawatan komunitas, meliputi penilaian aspek


pengetahuan (knowledge), penilaian aspek sikap (attitude) dan penilaian aspek ketrampilan.
Penilaian pencapaian kompetensi kritis ditetapkan berdasarkan pembobotan dengan standar
pencapaian minimal yang ditetapkan yaitu aspek pengetahuan ditetapkan 20%, aspek sikap
20% sedangkan aspek ketrampilan 60%.

A. PENGETAHUAN (KNOWLEDGE)
Penilaian kompetensi pada aspek pengetahuan, ditetapkan 20% dengan standar
pencapaian minimal / nilai batas kelulusan mencapai 60, seperti tabel 5.1 berikut:.
Tabel 5.1
FORMAT PENILAIAN KOMPETENSI PENGETAHUAN

Nama mahasiswa : …………………………….


NIM : …………………………….
Semester : …………………………….
Kompetensi 28 : Melaksanakan asuhan keperawatan keluarga

Aspek kompetensi/ Kisi-kisi pengetahuan kritis Nilai (0-10) Keterangan


bobot

Penilaian 1. Pengertian keluarga


pengetahuan (20%)
Nilai batas lulus 2.Tipe keluarga
(NBL)= 60
3.Fungsi keluarga:
a. Fungsi afektif
Sub kompetensi: b. Fungsi sosialisasi
c. Fungsi biologis
28.1.Pengkajian d. Fungsi ekonomi
keperawatan e. Fungsi psikologis
keluarga f. Fungsi perawatan kesehatan

1.
4.Tahapan dan tugas
perkembangan keluarga.

5.Penjajagan tahap I (menggunakan


pengkajian model family centre
nursing Friedman):
a. Data umum
b. Tahap perkembangan keluarga
c. Lingkungan
d. Struktur keluarga
e. Fungsi keluarga
f. Stress dan koping keluarga
g. Pemeriksaan fisik
h. Harapan keluarga

6.Penjajagan tahap II (berdasar 5


tugas keluarga):
a. Mengenal masalah
b. Mengambil keputusan
c. Merawat anggota keluarga
d. Modifikasi lingkungan
e. Pemanfaatan sarana pelayanan
kesehatan.
28.2. Diagnosis 7.Analisis data:
keperawatan a. Data Subjektif (DS)
keluarga b. Data Objektif (DO)
8.Perumusan diagnosis
keperawatan keluarga:
a.Wellness/sehat (potensial)
b. Ancaman (risiko)
c. Aktual (gangguan)

9.Penapisan masalah (skoring):


a. Sifat masalah
b. Kemungkinan masalah
untuk diubah
c. Potensi masalah untuk
dicegah
d. Menonjolnya masalah

28.3. Rencana 10.Penetapan kriteria perumusan


keperawatan tujuan:
keluarga a. Tujuan jangka panjang
b. Tujuan jangka pendek

11. Penetapan kriteria evaluasi:


a. Respon verbal
b. Respon afektif
c. Respon psikomotor

28.4. 12. Pengertian dan tujuan


Memberdayakan pemberdayaan keluarga
keluarga
(empowerment)

28.5. Pendidikan 13. Pengertian pendidikan


kesehatan keluarga kesehatan
(health education)
14. Jenis media dan alat bantu
pendidikan kesehatan yang dapat
dimanfaatkan pada keperawatan
keluarga serta tingkat intensitas
berdasar teori Elgar Dale.

28.7. Evaluasi 15. Penetapan evaluasi asuhan


asuhan keperawatan keperawatan keluarga (SOAP)
keluarga
16. Tingkat kemandirian keluarga:
a. Tingkat kemandirian I
b. Tingkat kemandirian II
c. Tingkat kemandirian III
d. Tingkat kemandirian IV

28.8. Dokumentasi 17. Prinsip pendokumentasian


asuhan keperawatan asuhan keperawatan keluarga
keluarga secara benar dan tepat.

SUB TOTAL

NILAI RATA-RATA ……./170 x 100 = ……..

Keterangan :
1. Penilaian untuk aspek pengetahuan ditekankan pada penilaian terhadap
pengetahuan dan teori singkat yang berkaitan dengan tindakan/ kompetensi yang
akan dilakukan.
2. Metode penilaian bisa diperoleh dari laporan, presentasi atau responsi.
3. Instrumen pertanyaan menggunakan daftar pertanyaan dengan nilai 0-10.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

B. SIKAP (ATTITUDE)
Penilaian kompetensi pada aspek sikap, ditetapkan 20% dengan standar pencapaian minimal
/ nilai batas kelulusan mencapai 60, seperti tabel 5.2 berikut:
Tabel 5.2
FORMAT PENILAIAN KOMPETENSI SIKAP
Nama mahasiswa : …………………………….
NIM : …………………………….
Semester : …………………………….
Kompetensi 28 : Melaksanakan asuhan keperawatan keluarga

ASPEK Kisi-kisi sikap Selalu (2) Kadang- Tidak


KOMPETENSI/ kadang (1) pernah (0)
BOBOT
1. Bekerja secara
Penilaian sikap sistimatis
(20%) 2.Bekerja dengan
Nilai batas lulus hati-hati dan cermat.
(NBL) = 60
3.Berkomunikasi
dengan pendekatan
yang tepat dan sesuai
kondisi keluarga.

4.Menghargai
pendapat keluarga.

5.Menghargai
privacy sesuai
budaya keluarga

SUB TOTAL

NILAI RATA-RATA .........../10 x 100 = ..........

Keterangan:
1. Penilaian sikap ditekankan pada sikap pelaksanaan kegiatan sesuai standar.
2. Metode penilaian melalui observasi pada saat penilaian praktek.
3. Instrumen penilaian menggunakan lembar observasi /check lyst dengan skala likert.

Denpasar, Agustus 2009 Penilai

C. PSIKOMOTOR
Penilaian kompetensi pada aspek ketrampilan, ditetapkan 60% dengan standar
pencapaian minimal / nilai batas kelulusan mencapai 100. Pada kompetensi ketrampilan
asuhan keperawatan komunitas, dapat dievaluasi berdasarkan sub kompetensi seperti
asuhan keperawatan komunitas, melaksanakan promosi kesehatan, kolaborasi lintas sector,
pemberdayaan komunitas dan melaksanakan rujukan kesehatan. Sub kompetensi komunitas
seperti tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3
FORMAT PENILAIAN KOMPETENSI KETRAMPILAN
Nama mahasiswa : …………………………….
NIM : …………………………….
Semester : …………………………….
Kompetensi 28 : Melaksanakan asuhan keperawatan
keluarga

Aspek yang Kriteria pencapaian Penilaian Ketrampi


dinilai/ bobot ketrampilan lan
Ya Tidak
Penilaian Tahap persiapan:
ketrampi 1. Menyerah
lan (60%) kan dan mendikusikan
Nilai batas laporan pendahuluan
lulus kepada pembimbing.
(NBL)=100
2.Menyiapkan sistem klien
dan lingkungan
Sub kompeten
si: 3.Menyiapkan alat-alat yang
diperlukan.
28.1.
Pengkajian Tahap pelaksanaan:
keperawatan 1.Salam dan perkenalan pada
keluarga. keluarga.

2. Menjelaskan tujuan
prosedur yang akan
dilakukan.

3. Kontrak waktu dengan


keluarga.

4.Berbicara dengan kontak


mata

5. Mendengar secara aktif

6. Selama intervensi, selalu


melibatkan respon keluarga
(verbal dan non verbal).

7. Menggunakan bahasa dan


kata-kata yang dimengerti
oleh keluarga.

8. Melakukan prosedur/
tindakan dengan tepat.

9. Menggunakan alat Bantu


dengan cara yang tepat.

10. Melibatkan semua


anggota keluarga.

11. Pengkajian dilakukan


secara sistimatis
menggunakan model family
centre nursing Friedman.

12. Melakukan pemeriksaan


fisik pada seluruh anggota
keluarga (head to toe).
13. Melakukan pengkajian
penjajagan tahap II, bila
ditemui data maladaptif
berdasar 5 tugas keluarga.

28.2. 1. Melakukan analisis data:


Diagnosis a. Data Subjektif (DS)
keperawatan b. Data Objektif (DO)
keluarga
2. Perumusan diagnosis
keperawatan keluarga secara
tepat.

3. Penentuan skoring untuk


prioritas masalah, dilakukan
secara tepat.

28.3. Rencana 1. Adanya tujuan jangka


asuhan panjang dan jangka pendek
keperawatan dalam keperawatan keluarga.
keluarga
2. Tujuan dibuat sesuai
kriteria SMART:
S=spesifik
M=Measurable/ dapat
diukur
A=Achievable/ dapat
dicapai
R= Reality
T= Time limited/ punya
limit waktu

3. Identifikasi sumber yang


dimiliki keluarga.

4. Identifikasi konsekuensi
bila tidak melakukan
tindakan.

5. Rencana tindakan disusun


bersama keluarga sesuai
sumber daya keluarga.

6. Penetapan kriteria evaluasi


berdasar pada rencana
keperawatan keluarga
mencakup respon verbal,
afektif dan psikomotor.

28.4. 1.Mengikutkan seluruh


Memberdaya anggota keluarga pada setiap
kan keluarga tindakan keperawatan yang
dilakukan.

2. Tindakan yang dilakukan


selalu memandirikan
keluarga dengan
memanfaatkan potensi yang
ada di keluarga.

28.5. 1. Media dan alat bantu yang


Pendidikan digunakan sesuai dan tepat
kesehatan untuk keluarga.
pada keluarga
2. SAP disiapkan sesuai
topik bahasan
28.6. 1. Demonstrasi cara
Melakukan perawatan yang dilakukan
tindakan sesuai kasus keluarga.
keperawatan
klinis secara 2. Melakukan perubahan
lingkungan keluarga
langsung pada
seoptimal mungkin.
keluarga
3. Mengenalkan fasilitas
kesehatan yang ada di
lingkungan keluarga.

4. Membantu keluarga
menggunakan fasilitas
kesehatan yang ada.

28.7. Evaluasi Tahap terminasi:


asuhan
keperawatan 1. Mengawasi keluarga
keluarga melakukan perawatan
(redemonstrasi)

2. Evaluasi asuhan
keperawatan keluarga
dilakukan secara tepat
berdasar SOAP.

3. Melakukan rencana tindak


lanjut (RTL) keperawatan
keluarga selanjutnya.

4. Mengevaluasi tingkat
kemandirian yang diperoleh
keluarga.

28.8. 1. Mendokumentasikan
Dokumentasi semua asuhan keperawatan
asuhan keluarga yang sudah
keperawatan dilakukan.
keluarga
2. Mencantumkan tanggal,
nama terang, tanda tangan
pada tindakan keperawatan
yang dilakukan.

3. Semua kegiatan asuhan


keperawatan ditulis sesuai
standar format asuhan
keperawatan keluarga.

SUB TOTAL

NILAI RATA-RATA

Keterangan:
1. Penilaian ditekankan pada pencapaian pelaksanaan langkah-langkah
kegiatan sesuai standar, penilaian dengan memberikan tanda (V).
2. Mahasiswa dinyatakan lulus bila telah kompeten / menguasai semua sub
kompetensi untuk setiap kompetensi yang diharapkan.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai
PERENCANAAN PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI

PROGRAM STUDI : D3 Keperawatan


STANDAR KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga
BIDANG KAJIAN : Komunitas
NAMA PENILAI :

Sub Kompetensi & indikator Ranah Metode penilaian


Es Pg Sk Ob Rp In
Sub Kompetensi :
28.1.Melaksanakan pengkajian
keperawatan keluarga

Kognitif
28.1.1.Menjelaskan prinsip konsep C2 X X
keperawatan keluarga
28.1.2.Menjelaskan model asuhan C2 X
keperawatan keluarga
28.1.3.Menguraikan data dasar dan data C2 X
fokus pengkajian keperawatan
keluarga

Psikomotor/Afektif P3/A3 X
28.1.1.Melakukan pengkajian kep
keluarga berdasar etika, norma,
budaya dan aspek legal.
28.1.2.Menunjukkan prosedur P3/A3 X
pengkajian keluarga.
28.1.3. Menunjukkan aspek/komponen P3/A3 X
penting dalam pengkajian
keluarga.
28. 1.4. Mengidentifikasi masalah P2/A2 X
kesehatan keluarga

Sub kompetensi
28.2.Merumuskan diagnosa
keperawatan keluarga
Kognitif
28.2.1.Menjelaskan perumusan C3 X
diagnosa keperawatan keluarga
berdasarkan analisa data pada
keluarga.

Psikometor/ Afektif
28.2.1. Analisa data keperawatan P3/A2 X
keluarga dilakukan
28.2.2.Merumuskan diagnosa P3/A2 X
keperawatan secara tepat pada
tiap keluarga
28.2..3.Merumuskan skoring masalah P3/A2 X
keperawatan keluarga.
28.2.4. Memprioritaskan masalah
keperawatan keluarga P3/A3 X

Sub Kompetensi
28.3. Menyusun rencana asuhan
keperawatan keluarga

Psikomotor /Afektif
28.3.1.Merumuskan tujuan setiap P3/A2
diagnosis keperawatan keluarga X
dengan benar
28.3.2.Merumuskan indikator tujuan P3/A3 X
asuhan keperawatan keluarga.
28.3.3.Menyusun rencana tindakan P3/A2 X
keperawatan keluarga
P3/A2 X
28.3.4. Memilih rencana tindakan
keperawatan keluarga sesuai
prioritas masalah.

Sub kompetensi
28.4.Melakukan pendidikan kesehatan
pada keluarga

kognitif: C2 X
28.4.1 Menjelaskan prinsip pendidikan
kesehatan pada keperawatan
keluarga

Psikomotor /Afektif P3/A2 X


28.4.1. Mengidentifikasi kebutuhan
pendidikan kesehatan pada
keperawatan keluarga P3/A3 X
28.4.2 Menunjukkan pra- planning
pendidikan kesehatan pada
perawatan keluarga P2/A3 X
28.4.3 Menunjukkan prosedur
pendidikan kesehatan keluarga
28.4.4 Mengimplementasikan P3/A2 X
komunikasi terapeutik pada
keluarga P3/A3 X
28.4.5 Menunjukkan advokasi
kesehatan pada keluarga

Sub Kompetensi :
28.5 .Melakukan tindakan keperawatan
klinis secara langsung pada
keluarga

Psikomotor /Afektif P3/A2 X


28.5.1. Melaksanakan komunikasi
bersama keluarga sebelum
tindakan keperawatan. P3/A3 X
28.5.2. Melaksanakan tindakan
keperawatan sesuai dengan
rencana keperawatan keluarga P3/A2 X
28.5.3 Melakukan tindakan
keperawatan dengan
memberdayakan keluarga

Sub kompetensi
28.6.Melaksanakan evaluasi asuhan
keperawatan keluarga

Kognitif C2 X
28.6.1.Menjelaskan tingkat
kemandirian keluarga

Psikomotor /Afektif P3/A3 X


28.6.1. Mengidentifikasi aspek yang
dinilai pada evaluasi keperawatan
keluarga. P3/A3 X
28.6.2. Mengidentifikasi indikator
keberhasilan tujuan
keperawatan. P3/A3 X
28.6.3 Menunjukkan bukti keberhasilan
sesuai kriteria tujuan. P2/A3 X
28.6.4 Membuat kesimpulan hasil
keperawatan P3/A2 X
28.6.5 Merumuskan tindak lanjut
asuhan keperawatan keluarga

Sub kompetensi
28.7 Melaksanakan dokumentasi asuhan
keperawatan pada keluarga

Psikomotor/ afektif P3/A3 X


28.7.1. Menuliskan seluruh data dan
informasi tentang keperawatan
keluarga dan tindakan yang
diberikan dalam dokumen. P3/A2 X
28.7.2. Menulis diagnosa keperawatan
dalam dokumen P3/A2 X
28.7.3. mencatat perencanaan
keperawatan keluarga dalam
dokumen P3/A2 X
28.7.4. Mencatat respon pasien dan hasil
evaluasi setelah dilakukan
tindakan keperawatan. P3/A3 X
28.7.5. Menandatangani catatan
keperawatan

Keterangan :

Es= essay ; Pg = Pilihan ganda : Ob=observasi: Sk=studi kasus: Rp=Roleplay


In=interview

DAFTAR PERTANYAAN TULISAN

STANDAR KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga


SUB KOMPETENSI :

KRITERIA ITEM JENIS KUNCI JAWABAN


PENCAPAIAN PERTANYAAN EVALUA
KOMPETENSI SI
(KPK)
1.1. Menjelaskan Jelaskan pengertian Essay Keluarga adalah dua orang
prinsip konsep keluarga atau lebih yang mempunyai
keperawatan hubungan darah atau adopsi,
keluarga pernikahan, tinggal serumah
(Friedman).

Jelaskan macam/ Essay Macam/Tipe keluarga:


tipe keluarga - keluarga inti (nuklear
family): keluargayg
terdiri dari ayah, ibu
dan anak.
- Keluarga besar
(extended family):
keluarga inti ditambah
dg saudara lainnya.
- Keluarga berantai :
keluarga yg terdiri dari
pria dan wanita yg
menikah lebih dari satu
kali dan merupakan satu
keluarga inti.
- Keluarga duda/janda:
keluarga yg terjadi krn
kematian atau
perceraian
- Keluarga berkomposisi;
keluarga yg
perkawinananya
berpoligami dan hidup
bersama-sama.
- Keluarga kabitas:
keluarga yg terbentuk
tanpa perkawinan.

Respon keluarga Pilihan A


terhadap kondisi ganda
dan situasi yang
dialami tiap anggota
keluarga baik
senang atau sedih
termasuk fungsi :
a. Afektif
b. Sosialisasi
c. Bologi
d. Ekonomi
e. Psikologis

Tahapan keluarga Pilihan D


dengan tugas ganda
perkembangan
membantu anak
mandiri
mempertahankan
komunikasi,
memperluas
hubungan keluarga
antara orang tuadan
menantu, menata
kembali peran dan
fungsi keluarga
setelah ditinggal
anak, merupakan
tahapan
perkembangan
keluarga :
a. keluarga dg
anak pra
sekolah
b. keluarga dg
anak usia
sekolah
c. keluarga dg
anak remaja
d. keluarga dg
melepaskan
anak ke
masyarakat.

1.2. Menjelaskan Jelaskan model Essay Model Family centre nursing


model askep asuhan keperawatan Friedman, dengan
keluarga yang dipakai pada menggunakan keluarga
askep keluarga. sebagai pusat perawatan.

1.3. Menguraikan Jelaskan data apa Essay Penjajagan tahap I berisi


data dasar dan data saja yang harus tentang: Data Umum, riwayat
fokus pengkajian dikaji menggunakan dan tahap perkembangan
keperawatan model family center keluarga,lingkungan, struktur
keluarga nursing ( fredman) keluarga, fungsi keluarga,
stres dan koping keluaga,
pemeriksaan fisik( head
toToe), harapan keluarga.

Penjajagan tahap II, dilakukan


bila ditemui adanya data
maladaptif, berisi tentang 5
tugas keluarga yaitu mengenal
masalah, meengambil
keputusan, merawat anggota
keluarga, memelihara
lingkungan dan menggunakan
fasilitas pelayanan kesehatan.

2.1. Menjelaskan Jelaskan rumusan Essay Rumusan diagnosis


perumusan diagnosis keperawatan keluarga:
diagnosis keperawatan a. Wellness/ sehat
keperawatan keluarga (potensial), bila belum
keluarga berdasar ada data maladaptif
analisa data atau paparan masalah,
keluarga keluarga punya potensi
untuk ditingkatkan.
Paparan diagnosis
hanya mencantumkan
problem saja tanpa
etiologi (P).
b. Ancaman (risiko),
belum terdapat
paparan masalah,
namun sudah
ditemukan beberapa
data maladaptif yang
memungkinkan
timbulnya gangguan.
Paparan diagnosisnya
PES/PE.
c. Aktual (gangguan),
sudah timbul
gangguan didukung
dengan beberapa data
maladaptive, dengan
paparan PES/PE.

4.1. Menjelaskan Prinsip pendidikan Pilihan C


prinsip pendidikan kesehatan pada ganda
kesehatan pada keperawatan
keperawatan keluarga, kecuali:
keluarga. a. Menyampaikan
tujuan
b. Kontrak waktu
c. Tidak perlu
mengetahui
sasaran
d. Pemilihan media
yang tepat

6.1. Menjelaskan Jelaskan tingkat Essay a. Kemandirian I :


evaluasi askep kemandirian menerima petugas
keluarga keluarga. puskesmas, menerima
berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan
kemandirian sesuai rencana.
keluarga b. Kemandirian II :
ditambah menyatakan
masalah secara benar,
memanfaatkan sarana
kesehatan sesuai
anjuran, melaksanakan
perawatan sederhana
sesuai anjuran.
c. Kemandirian III:
ditambah
melaksanakan
tindakan pencegahan
secara aktif
d. Kemandirian IV:
Ditambah melaksanakan
tindakan promosi secara
aktif.

LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga
SUB KOMPETENSI : Melaksanakan pengkajian keperawatan keluarga
Uraian kompetensi : Kompetensi ini meliputi tindakan mengkaji status
kesehatan keluarga, masalah kesehatan keluarga. Tindakan
ini dapat dilakukan dilaboratorium, dan keluarga
NO ELEMEN KRITERIA PENCAPAIAN SKALA KET
KOMPETENSI (KPK) PENILAIAN

YA TIDAK
1 Melakukan 1.1.Salam dan perkenalan
pengkajian disampaikan pada keluarga
keperawatan berdasar 1.2.Informasi tentang kunjungan
etika, norma, budaya, rumah dijelaskan pada
aspek legal. keluarga
1.3.Kontrak dengan keluarga
sudah disampaikan, meliputi:
- Tujuan
- Waktu

2 Menunjukkan 2.1.Informasi tentang prosedur


prosedur pengkajian pengkajian disampaikan
keluarga kepada keluarga
2.2.Lingkungan yang aman dan
nyaman diciptakan
2.3.Alat dan bahan untuk
pengkajian disiapkan sesuai
kebutuhan seperti leaflet,
poster, benda asli, benda
tiruan dsb
2.4.Alat dan bahan disediakan
secara rapi.

3 Menunjukkan aspek / 3.1.Pengkajian dilakukan secara


komponen penting sistematis
dalam pengkajian 3.2.Data umum, riwayat dan
keluarga tahap perkembangan
keluarga, lingkungan,
struktur keluarga, fungsi
keluarga, stres dan koping
keluarga, harapan keluarga
dikaji.
3.3. Pengkajian penjajagan tahap
II bila ditemui data
maladaptif dikaji berdasar 5
tugas keluarga.
3.4.Pemeriksaan fisik pada
seluruh anggota keluarga
dilakukan (head to toe)

4 Mengidentifikasi 4.1. Masalah kesehatan keluarga


masalah kesehatan diperoleh berdasarkan
keluarga pengkajian model Friedman.
4.2. Merumuskan masalah
keluarga untuk semua
anggota keluarga.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai
LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
SUB KOMPETENSI : Merumuskan diagnosis keperawatan keluarga
Uraian Unit : Kompetensi ini meliputi tindakan merumuskan diagnosa
keperawatan keluarga. Tindakan ini sebagai rangkaian dalam
membantu keluarga yang mengalami masalah kesehatan
keluarga. Tindakan ini dapat dilakukan dilaboratorium
maupun di keluarga

NO ELEMEN KRITERIA PENCAPAIAN SKALA KET


KOMPETENSI (KPK) PENILAIAN

YA TIDAK
1 Analisa keperawatan 1.1.Data subjektif dan data
keluarga dilakukan objektif dikelompokkan
1.2. Data hasil yang sudah
dikelompokkan
dibandingkan dengan data
normal
1.3. Rumusan masalah
keperawatan keluarga
berdasarkan ada/tidaknya
data maladaptif pada seluruh
anggota keluarga
1.4. Rumusan etiologi
berdasarkan 5 tugas
keluarga.

2 Merumuskan 2.1. Rumusan masalah Wellnes/


diagnosis sehat hanya P saja, Risiko
keperawatan secara dan gangguan rumusan PE
tepat pada tiap atau PES.
keluarga.

3 Merumuskan scoring 3.1. Data hasil analisa diskoring


masalah keperawatan berdasarkan rumus
keluarga
4 Memprioritaskan 4.1.Diagnosis keperawatan
masalah keperawatan dipritaskan berdasarkan hasil
keluarga perhitungan skoring sesuai
pedoman Friedman.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
Kompetensi 28 : Melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Keluarga
Sub Kompetensi 28.3 : Menyusun Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga
No Elemen Kriteria Pencapaian Kompetensi Skala Penilaian Ket
Ya Tdk
1. Merumuskan tujuan 1.1 Tujuan ditetapkan dengan
setiap diagnosis melibatkan keluarga
keperawatan 1.2 Tujuan jangka pendek dan
keluarga dengan tujuan jangka panjang
benar ditentukan
1.3 Tujuan jangka pendek
sesuai pedoman SMART
2. Merumuskan 2.1. Tujuan jangka pendek
indikator tujuan mengacu pada problem (P)
asuhan keperawatan 2.2. Tujuan jangka pendek
keluarga mengacu pada etiologi (E)
3. Menyusun rencana 3.1 Rencana keperawatan
keperawatan dipilih bersama dengan
keluarga keluarga
3.2 Rencana keperawatan
disusun berdasarkan tingkat
kemampuan perawat
3.3 Rencana keperawatan
sesuai dengan kemampuan
sumberdaya keluarga

4. Memilih rencana 4.1 Rencana tindakan


tindakan keperawatan keluarga
keperawatan disusun berdasar prioritas
keluarga sesuai masalah
prioritas masalah 4.2. Mengikutsertakan keluarga
dalam menyusun rencana
tindakan keperawatan
sesuai prioritas masalah
yang ditetapkan.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga
SUB KOMPETENSI : Melakukan pendidikan kesehatan pada keluarga
NO ELEMEN KRITERIA PENCAPAIAN SKALA KET
KOMPETENSI (KPK) PENILAIAN

YA TIDAK
1 Mengidentifikasi 1.1 Kebutuhan pendidikan
kebutuhan kesehatan pada keluarga
pendidikan kesehatan ditetapkan / diidentifikasi
pada keperawatan 1.2 Topik penyuluhan ditetapkan
keluarga
2 Menunjukan pra 2.1 Pra planning diserahkan
planning pendidikan maksimal sehari sebelum
kesehatan pada pelaksanaan.
perawatan keluarga 2.2. Praplaning berisi tentang
latar belakang, tujuan, media dan
alat Bantu, sasaran, tehnik
evaluasi.

3 Menunjukkan 3.1 Satuan acara penyuluhan


prosedur pendidikan disiapkan
kesehatan keluarga 3.2 Lingkungan yang aman dan
nyaman bagi keluarga
disiapkan
3.3 Alat dan bahan untuk
penyuluhan disiapkan
3.4 Penyuluhan dilaksanakan
sesuai dengan masalah
3.5 Respon keluarga saat dan
setelah penyuluhan dievaluasi
3.6. Menggunakan media dan
alat bantu sesuai sasaran.

4 Mengimplementasika 4.1. Menggunakan tehnik


n komunikasi komunikasi yang benar.
terapeutik pada 4.2 Menggunakan bahasa sesuai
keluarga sasaran.
4.3. Bersikap sopan
4,4. Menghargai pendapat
keluarga

5 Menunjukan 5.1. Mengikutkan keluarga


advokasi kesehatan dalam setiap kegiatan.
pada keluarga 5.2. Melakukan advokasi
kesehatan pada keluarga

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga
SUB KOMPETENSI : Melakukan tindakan keperawatan klinis secara langsung
pada keluarga

NO ELEMEN KRITERIA PENCAPAIAN SKALA KET


KOMPETENSI (KPK) PENILAIAN

YA TIDAK
1 Melaksanakan 1.1. Komunikasi dengan
komunikasi bersama keluarga sebelum melakukan
keluarga sebelum tindakan keperawatan.
tindakan keperawatan 1.2. Bersikap sopan

2 Melaksanakan 2.2. Tindakan keperawatan


tindakan keperawatan dilakukan sesuai rencana.
sesuai dengan 2.2. Melakukan rujukan
rencana keperawatan kesehatan bila diperlukan.
keluarga 2.3. Melakukan tindakan
keperawatan klinis secara
langsung pada keluarga.

3 Melakukan tindakan 3.1. Mengikutsertakan seluruh


keperawatan dengan keluarga dalam setiap tindakan
memberdayakan yang dilakukan.
keluarga 3.2. Berusaha untuk
memandirikan keluarga sesuai
sumber daya keluarga

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga
SUB KOMPETENSI : Melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan keluarga
NO ELEMEN KRITERIA PENCAPAIAN SKALA KET
KOMPETENSI (KPK) PENILAIAN

YA TIDAK
1 Mengidentifikasi 1.1. Aspek evaluasi keperawatan
aspek yang dinilai keluarga ditetapkan berdasarkan
pada evaluasi jangka pendek, menengah dan
keperawatan keluarga panjang
1.2. Limit waktu pencapaian
evaluasi berdasarkan sumber
daya dan sumber dana keluarga.

2 Mengidentifikasi 2.1. Indikator Keberhasilan


indicator evaluasi ditetapkan
keberhasilan tujuan 2.2. Indikator kriteria evaluasi
keperawatan berdasar respon verbal, respon
afektif dan respon psikomotor
keluarga.

3 Menunjukkan bukti 3.1. Keberhasilan kegiatan


keberhasilan sesuai ditetapkan sesuai kriteria tujuan
kriteria tujuan 3.2. Evaluasi asuhan
keperawatan keluarga sesuai
dengan kriteria SOAP.

4 Membuat kesimpulan 4.1. Kesimpulan hasil


hasil keperawatan keperawatan yang sudah
dilakukan ditetapkan.

5 Merumuskan tindak 5.1. Rumusan tindak lanjut


lanjut asuhan asuhan keperawatan keluarga
keperawatan keluarga ditetapkan bersama keluarga.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

LEMBAR OBSERVASI

NAMA MAHASISWA :
TANGGAL :
KOMPETENSI 28 : Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga
SUB KOMPETENSI : Melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan pada
keluarga

NO ELEMEN KRITERIA PENCAPAIAN SKALA KET


KOMPETENSI (KPK) PENILAIAN

YA TIDAK
1 Menuliskan seluruh 1.1.Seluruh data yang diperoleh
data dan informasi ditulis dengan jelas dan benar.
tentang keperawatan 1.2. Semua tindakan yang
keluarga dan tindakan dilakukan ditulis dengan jelas
yang diberikan dalam dan benar.
dokumen 1.3. Menyertakan inform
concent sebagai bukti
keikutsertaan keluarga

2 Menulis diagnosis 2.1. Diagnosis keperawatan yang


keperawatan dalam telah ditetapkan bersama
dokumen keluarga ditulis dengan jelas dan
benar.
3 Mencatat 3.1. Rencana tindakan
perencanaan keperawatan keluarga ditulis
keperawatan keluarga dengan jelas dan benar.
dalam dokumen
4 Mencatat respon 4.1. Respon keluarga ditulis
pasien dan hasil secara jelas dan benar.
evaluasi setelah 4.2. Tindakan keperawatan
dilakukan tindakan ditulis secara jelas dan benar
keperawatan 4.3. Evaluasi tindakan ditulis
secara jelas dan benar.

5 Menandatangani 5.1. Catatan keperawatan ditanda


catatan keperawatan tangani dengan nama jelas.
5.2. Menghindari salah tulis.
5.3. Tanggal pelaksanaan
tertulis.
5.4. Menggunakan format yang
sudah baku asuhan keperawatan
keluarga.

Denpasar, Agustus 2009


Penilai

BAB VI
APLIKASI PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2009, Asuhan keperawatan keluarga Bapak
RS dengan remaja PT
I. Data Umum
a. Identitas kepala keluarga :
1. Nama kepala keluarga : Bpk RS
2. Umur : 36 tahun
3. Pekerjaan : Pedagang kain keliling
4. Pendidikan : SD
5. Alamat : RT 02 RW 10 Kelurahan Gentengan
b. Komposisi anggota keluarga :
NAMA UMUR SEX HUB Dg PENDIDIKAN KET
KK
Ibu N 34 th P Istri SMEA Sehat
Anak PT 12 th P Anak SMP klas I Sakit
Anak 5,5 th L Anak TK Sehat
HN

c. Genogram :

Keterangan :
= meninggal
--------------------- = tinggal serumah

d. Tipe keluarga :
Tipe keluarga Bapak RS adalah keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah,
ibu dan anak.
e. Suku bangsa :
Keluarga Bpk RS merupakan keluarga suku Sunda, bahasa yang digunakan sehari-hari
Bahasa Indonesia, tidak ada kebiasaan keluarga yang dipengaruhi oleh suku yang dapat
mempengaruhi kesehatannya.
f. Agama :
Keluarga Bpk RS beragama Islam dan seluruh anggota keluarganya melaksanakan sholat
lima waktu.
g. Status sosial ekonomi keluarga:
Penghasilan keluarga Bpk RS diperoleh dari Bpk RS yang bekerja sebagai pedagang kain
keliling luar kota. Penghasilan rata-rata sebulan Rp 800.000,- yang dipergunakan untuk
bayar kontrakan rumah Rp 300.000,-/ bulan, transport/ jajan sekolah/ bayar sekolah anak PT
dan anak HN, keperluan makan sehari-hari. Keluarga tidak mempunyai tabungan khusus
untuk kesehatan, tiap bulannya keluarga tidak bisa menabung. Barang yang dimiliki
keluarga di rumah seperti kompor minyak, kipas angin, seterika, televisi 14 inchi.

h. Aktivitas rekreasi keluarga:


Keluarga jarang pergi ke tempat rekreasi secara bersama, karena Bpk RS 4 bulan sekali baru
pulang ke rumah sebagai pedagang kain keliling keluar kota. Kebiasaan kumpul bersama
biasanya dilakukan keluarga di malam hari.

B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini:
Tahap perkembangan keluarga Bpk RS saat ini termasuk keluarga dengan anak remaja, tugas
perkembangan keluarga dengan anak remaja seperti:
a. Mempertahankan pola komunikasi, keluarga Bpk RS mempunyai 1 anak usia remaja
putrid, keluarga tidak terbuka terhadap anaknya. Anak PT tampak pendiam di depan ibunya,
bila ada permasalahan yang menyangkut remaja selalu dibicarakan dengan teman atau
saudara, tidak dengan ibu N karena menurut anak PT, ibu N selalu mengatakan tidak boleh,
tidak baik dan sebagainya. Anak PT tidak begitu dekat dengan ibu N, jarang berkomunikasi.
Apalagi Bpk RS jarang di rumah, karena berdagang kain keliling luar kota yang datangnya
hanya 4 bulan sekali.
b. Memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab, keluarga Bpk RS menerapkan
keseimbangan antara kebebasan yang diberikan dengan tanggung jawab masing-masing. Ibu
N sudah memberikan pembagian tugas dengan anak PT dalam melakukan kegiatan mencuci
baju, menyeterika, memasak, menyapu. Anak PT jarang bergaul dengan tetangga sekitar
rumah, sepulang sekolah selalu dihabiskan dengan tidur atau pergi ke rumah sepupu yang
tinggal di RT yang sama.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Anak-anak Bpk RS tidur bersama ibunya dalam 1 kamar, karena kamar keluarga Bpk RS
cuma 1 kamar. Bila Bpk RS dating, Bpk RS selalu tidur di ruang tamu.
3. Riwayat keluarga inti
Bpk RS dan ibu N menikah sudah 13 tahun yang lalu, perkawinannya direstui oleh kedua
orang tua masing-masing. Ibu N merupakan pilihan sendiri dan tidak dijodohkan. Penyakit
yang diderita oleh orang tua dan saudara ibu N kebanyakan hipertensi.
4. Riwayat keluarga sebelumnya
Riwayat orang tua pihak Bpk RS dan ibu N tidak mempunyai kebiasaan kawin cerai, tidak
pemabuk dan tidak penjudi. Orang tua Bpk RS (Bpk B) meninggal karena penyakit paru-
paru. Sedangkan kedua orang tua dan kakak ibu N meninggal karena hipertensi.
C.LINGKUNGAN
1. Karakteristik rumah
Rumah yang dihuni Bpk RS merupakan rumah kontrakan, berukuran 7x7 m² terdiri dari
ruang tamu yang berfungsi juga sebagai kamar tidur bila Bpk RS dating, 1 kamar tidur,
dapur, kamar mandi dan WC. Jarak dengan septic tank lebih dari 15 meter, kondisi WC
bersih dengan model WC leher angsa. Lantai terbuat dari keramik, rumah permanen,
sirkulasi udara diperoleh dari pintu depan, pintu belakang dan jendela depan. Keluarga tidak
mempunyai halaman rumah, sampah keluarga diletakkan di tempat sampah depan rumah.
Kebersihan rumah cukup, air minum sehari-hari diperoleh dari air sumur bor dengan kondisi
air bersih yang biasanya digunakan keluarga untuk mandi dan mencuci semua perabot
keluarga. Kondisi got lancar, tidak berbau dan terbuka.

Denah rumah

3 4 2
1
5 1

Keterangan gambar :
1. Ruang tamu
2. Kamar tidur
3. Kamar mandi
4. Dapur
5. Teras

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


Keluarga Bpk RS tinggal di lingkungan yang berpenduduk padat, mayoritas penduduknya
bersuku Betawi dan Sunda, rata-rata pedagang. Mertua, sepupu, kakak kandung ibu N
tinggal di belakang rumah ibu N. Lingkungan tetangga cukup akrab dan saling menolong
bila ada kesusahan.
3. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Bpk RS sudah lama tinggal dan mengontrak di rumah ini. Rumah Bpk RS berada
200 meter dari jalan raya, jenis kendaraan yang dipakai biasanya angkot.
3. Perkumpulan keluarga & interaksi dengan masyarakat
Ibu N sangat aktif mengikuti perkumpulan. Setiap 3 kali seminggu, ibu N mengikuti
pengajian dan sebulan sekali mengikuti arisan PKK, senam dilakukan setiap 2 kali
seminggu. Bpk RS tidak mengikuti perkumpulan apapun di rumah, karena Bpk RS selalu
pulang hanya 4 bulan sekali.
4. Sistem pendukung keluarga
Keluarga Bpk RS bila ada masalah keluarga termasuk masalah keuangan, biasanya dibantu
oleh keluarga yang lain, mertua dan tetangga yang tinggal berdekatan dengan rumah Bpk
RS dengan meminjam uang untuk keperluan berobat dan lainnya.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. Pola komunikasi keluarga
Interaksi dalam keluarga paling sering dilakukan pada malam hari, pola komunikasi keluarga
tertutup antara anak dan ibu N. Apabila ada masalah keluarga biasanya ibu N selalu
mendiskusikan dengan mertua, saudara yang tinggal di belakang rumah.
2. Struktur kekuatan keluarga
Kaluarga Bpk RS saling mendukung satu dengan lainnya, respon keluarga bila ad anggota
keluarga yang bermasalah selalu mencari jalan keluarnya bersama-sama. Bila ada anggota
keluarga yang sakit, diusahakan untuk berobat dan mendapatkan perawatan semampu
keluarga sampai membaik.
3. Struktur peran
Bpk RS sebagai kepala keluarga, pencari nafkah yang menjadi pedagang kain keliling ke
luar kota yang biasanya kembali ke rumah setiap 4 bulan sekali. Ibu N sebagai pengasuh
anak, pengatur rumah tangga. Anak PT sebagai anak sekolah yang menginjak usia remaja,
tampak pendiam dan tertutup, tidak pernah melakukan kegiatan yang merugikan keluarga
dan orang lain, berperan membantu kegiatan sehari-hari keluarga seperti menyeterika
pakaian, menyapu dan mencuci pakaian.
4. Nilai dan norma keluarga
Keluarga menerapkan nilai-nilai agama pada setiap anggota keluarga seperti mengaji, sholat,
berpuasa pada bulan Romadhon. Bila akan pulang terlambat harus memberitahu dulu kepada
orang tua, saat magrib harus sudah ada di rumah dan pada malam hari hanya boleh berada
di luar rumah sampai jam 22.00 malam karena Bpk RS tidak ada di rumah. Anak PT juga
jarang bermain dengan teman tetangga rumahnya. Bila lewat jam 21.00 atau pulang
terlambat tidak memberitahu keluarga, biasanya ibu N selalu memarahi anaknya untuk tidak
lagi melakukan hal serupa.

E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi afektif
Respon keluarga sangat bangga bila ada anggota keluarga yang berhasil dan keluarga sangat
sedih bila ada anggota keluarga yang meninggal, sakit atau kehilangan.
2. fungsi sosialisasi
Keluarga Bpk RS membiasakan anak-anaknya bermain dengan teman-teman tetangganya,
tetapi anakPT memang jarang keluar rumah dengan alas an tidak suka dengan gaya hidup
teman-teman disekitar rumahnya yang suka keluar malam dan sering nongkrong di pinggir
jalan. Ibu N sangat kawatir dengan lingkungan sekitar rumahnya sehingga ibu N selalu
membatasi anak remajanya untuk tidak pulang larut malam, selalu marah bila anak PT
membicarakan masalah teman pria dan mengajaknya ke rumahnya.
3. Fungsi perawatan kesehatan
Ibu N mengatakan anak PT sudah mendapatkan haid 5 bulan yang lalu. Anak PT mengatakan
mengalami nyeri haid yang biasanya timbul 1 hari sebelum haid, dengan skala nyeri 4. Anak
PT mengatakan bila haid badan terasa lemas, malas melakukan aktivitas, mudah lelah. Saat
nyeri tidak pernah diberi obat apapun. Keluarga mengatakan tidak tahu proses terjadinya
haid sampai menyebabkan nyeri haid, penyebab dan akibat bila haid tidak diatasi. Keluarga
juga tidak tahu bagaimana cara mengatasi nyeri haid. Ibu N mengatakan belum pernah
membicarakan masalah haid sebelumnya kepada anak PT. Anak PT juga mengatakan
mengalami keputihan yang timbul 1 hari sebelum haid dan terasa gatal, berwarna putih
kekuningan menempel di celana dalam, tidak begitu berbau. Anak PT mengatakan mandi
rata-rata 1 kali sehari yaitu pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dan jarang mandi
sore hari karena alas an dingin dan malas. Anak PT akan mandi bila dimarahi oleh ibu N.
Pemakaian pembalut bila haid, biasanya diganti 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan
alas an air di sekolah kotor dan malas bila harus menggantinya, kebiasaan mengganti celana
dalam kadang 1 kali sehari. Keluarga mengatakan tidak tahu penyebab keputihan, cara
membersihkan alat kelamin dan perlunya kebersihan diri pada alat kelamin wanita yang
dapat menyebabkan infeksi nantinya.
Ibu N mengatakan bau badan anak PT sangat menyengat. Setelah ditanyakan ke anak
PT, dia juga mengatakan merasakan mempunyai masalah bau badan. Anak PT mengatakan
malu karena bau badannya. Tindakan yang dilakukan anak PT untuk mengatasi bau badan
dengan selalu menjaga jarak terhadap temannya bila duduk, menggunakan deodorant,
mengurangi pengeluaran keringat berlebih saat olahraga dengan membatasi gerak dan ganti
baju tiap hari. Ibu N mengatakan hanya anak PT yang mempunyai kebiasaan mandi 1 kali
sehari, keluarga lainnya sudah melakukan mandi minimal 2 kali sehari, menggunakan sabun,
sikat gigi dan mencuci rambut 2 kali seminggu. Keluarga mengatakan tidak tahu penyebab
keringat bau dan cara pencegahannya.
Menurut ibu N, anak PT termasuk anak yang pendiam dan jarang bergaul dengan
tetangga. Ketika ditanyakan ke Anak PT, dia mnegatakan tidak suka dengan gaya hidup
teman-temannya di sekitar rumahnya yang suka keluar malam. Pada saat pengkajian, anak
PT tampak pendiam dan cenderung menunduk serta pemurung.
Anak PT mengatakan jarang membicarakan masalah remaja wanita dengan ibu N,
karena ibu N selalu mengatakan tidak baik, tidak boleh, masih kecil, jangan genit dan
sebagainya. Terkadanga anak PT suka dimarahi bila ketahuan membawa deodorant ke
sekolah, padahal menurut anak PT hal itu dilakukan untuk mengurangi bau badan saat di
sekolah. Anak PT senang membicarakan masalah remaja dengan sepupu dan teman
sekolahnya, karena merasa nyaman dan bebas. Ibu N sangat kawatir dengan lingkungan
sekitar rumahnya, sehingga ibu N selalu membatasi anak remajanya untuk tidak pulang larut
malam, selalu marah bila anak PT membicarakan teman pria atau mengajaknya ke rumah.
Ibu N mengatakan masih terlalu kecil untuk membicarakan masalah teman remaja pria,
masalah seks kepada anak PT. Keluarga menerapkan pola komunikasi tertutup kepada
remaja, keluarga mengatakan tidak tahu perlunya komunikasi terbuka dengan remaja serta
akibatnya terhadap remaja.
Menurut ibu N, anggota keluarga Bpk RS terkadang tidur siang jam 13.00-14.30,
tidur malam rata-rata jam 21.00 sampai jam 04.30 pagi. Ibu N sangat aktif senam 2 kali
seminggu dibalai RW. Kebiasaan makan keluarga sehari-hari nasi, lauk pauk tempe/tahu/
telur selalu ada, protein hewani, sayur dan buah kadang-kadang. Yang difikirkan ibu N saat
ini terkait bayar sewa rumah dan biaya sekolah anak PT dan anak HN.
F. STRESS DAN KOPING KELUARGA
1. Stressor jangka pendek dan panjang serta kekuatan keluarga
Stressor jangka pendek yang dirasakan ibu N bersumber pada masalah keuangan keluarga
seperti biaya sekolah anak PT dan anak HN yang masih sekolah di SMP dan TK, biaya
kontrak rumah tiap bulan. Tetapi kondisi ini tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari
keluarga. Sedangkan stressor jangka panjang yang dialami ibu N seperti cemas karena Bpk
RS jarang pulang ke rumah, semua masalah keluarga ditanggung sendiri oleh ibu N bila Bpk
RS belum pulang.
2. Respon terhadap stressor
Upaya ibu N dalam mengatasi stress biasanya dengan cara menghibur sendiri dengan aktif
mengikuti pengajian, arisan dan senam, pasrah dan memperbanyak berdoa dan saling
komunikasi dengan keluarga yang lain. Hasil yang diperoleh ibu N merasa sedikit terobati
setelah berdoa dan sembahyang.

3. Strategi koping yang digunakan


Kalau tidak menemukan jalan keluar, baiasanya keluarga berkomunikasi dengan tetangga
dan saudara-saudaranya untuk mengurangi beban yang dideritanya. Biasanya keluarga
merasa nyaman setelah berkomunikasi dan curhat dengan tetangga yang mempunyai nasib
yang sama melalui pengajian dan arisan yang diikuti.
4. Strategi adaptasi yang disfungsional
Dari hasil pengkajian, tidak didapatkan adanya cara-cara keluarga dalam mengatasi masalah
secara maladaptif.

G. PEMERIKSAAN FISIK
Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan tanggal 2 Agustus 2009 :
ASPEK Ibu N Anak PT Anak HN

Tensi (mmHg) 114/75 103/ 67


TB dan BB 170cm, 65 kg 150cm, 40 kg 85 cm, 20 kg
Suhu (ºC) 36,7 ºC 36,5 ºC 36,7 ºC
Nadi (x/mnt) 78 x/mnt 74 x/mnt 35x /mnt
Rambut kepala Normal, rambut Normal, rambut
keriting keriting
Mata, telinga, Tidak ditemui Tidak ditemui Tidak ditemui gangguan
mulut, hidung, gangguan pada gangguan pada mata, pada mata, telinga, mulut
tenggorokan mata, telinga, telinga, mulut & gigi & gigi bersih, hidung &
mulut & gigi bersih, hidung & tenggorokan normal
bersih, hidung tenggorokan normal
& tenggorokan
normal
Leher Tidak ada kaku Tidak ada kaku leher, Tidak ada kaku leher,
leher, pembesaran kelenjar pembesaran kelenjar
pembesaran tidak ada, pembesaran tidak ada, pembesaran
kelenjar tidak kelenjar jugularis kelenjar jugularis tidak
ada, tidak ada. ada.
pembesaran
kelenjar
jugularis tidak
ada.
Thorax Simetris, bunyi Simetris, bunyi Simetris, bunyi jantung
jantung normal, jantung normal, tidak normal, tidak ada
tidak ada ada kelainan, suara kelainan, suara nafas
kelainan, suara nafas vesicular vesicular
nafas vesicular
Abdomen Tidak ada Tidak ada Tidak ada pembengkakan
pembengkakan pembengkakan hepar, hepar, ginjal, limpa, tidak
hepar, ginjal, ginjal, limpa, tidak teraba benjolan, bising
limpa, tidak teraba benjolan, usus positif, tidak ada
teraba benjolan, bising usus positif, nyeri tekan
bising usus terdapat nyeri haid
positif, tidak dengan skala nyeri 4.
ada nyeri tekan.
Ektremitas atas Tidak ada Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
dan bawah, kelainan pergerakan, kekakuan pergerakan, kekakuan
persendian. pergerakan, sendi, kekuatan otot sendi, kekuatan otot 5,
kekakuan sendi, 5, ROM aktif. ROM aktif.
kekuatan otot 5,
ROM aktif.

Sistem genitalia Tidak diperiksa. Tidak diperiksa Tidak diperiksa

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, dapat disimpulkan adanya nyeri haid pada anak PT
dengan skala nyeri 4, adanya nyeri tekan pada perut saat haid.

G.HARAPAN KELUARGA
Keluarga berharap petugas dapat membantu mengurangi masalah kesehatan yang terjadi
pada anak PT dan berharap tidak terjadi hal-hal yang merugikan kesehatan pada anak PT.

II. ANALISIS DATA


Berdasarkan pengkajian yang telah diuraikan, maka dapat dilanjutkan dengan melakukan
analisis masalah yang digambarkan dalam tabel 6.1
Tabel 6.1
Analisis masalah keperawatan keluarga Bpk RS
NO DATA Diagnosis Keperawatan
1 DS : Keluarga mengatakan anak PT mengalami Gangguan rasa nyaman, nyeri haid
nyeri haid yang biasanya timbul 1 hari sebelum pada keluarga Bpk RS khususnya
haid, dengan skala nyeri 4. anak PT berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga
Anak PT mengatakan bila haid badan terasa merawat anggota keluarga yang
lemas, malas beraktivitas, mudah lelah. mengalami nyeri haid.

Keluarga mengatakan bila nyeri haid, tidak Gangguan aktifitas sehari-hari


pernah diobati dengan apapun. pada keluarga Bpk RS khususnya
anak PT berhubungan dengan
Keluarga mengatakan tidak tahu proses ketidakmampuan keluarga
terjadinya, penyebab dan cara perawatan nyeri merawat keluarga dengan nyeri
haid. haid sebagai akibat kontraksi otot
rahim saat pelepasan dinding rahim
DO: Anak PT tampak nyeri tekan pada perut. waktu haid.

2 DS : Anak PT mengatakan mengalami Risiko infeksi organ reproduksi


keputihan yang timbul 1 hari sebelum haid, wanita (keputihan) pada keluarga
terasa gatal, berwarna putih kekuningan Bpk RS khususnya anak PT
menempel pada celana dalam, tidak berbau. berhubungan dengan
Kebiasaan anak PT mengganti pembalut bila ketidakmampuan keluarga
haid 2 kali sehari dengan alas an air di sekolah merawat anggota keluarga yang
kotor dan malas, kebiasaan mengganti celana mengalami keputihan.
dalam kadang 1 kali sehari, mandi rata-rata 1
kali sehari.
Kebiasaan personal hygiene
Keluarga mengatakan tidak tahu penyebab keluarga rendah berhubungan
keputihan, cara membersihkan alat kelamin dan dengan ketidakmampuan keluarga
perlunya kebersihan diri pada alat kelamin yang mengenal kesehatan reproduksi
dapat menyebabkan infeksi. dan perlunya personal hygiene.

DO: Terdapat bercak kekuningan pada celana


dalam.

3 DS: Anak PT mengatakan mandi rata-rata 1 kali Harga diri rendah pada anak PT di
sehari dengan alasan malas dan dingin. keluarga Bpk RS berhubungan
Anak PT mengatakan malu mempunyai masalah dengan ketidakmampuan keluarga
bau badan. menciptakan komunikasi efektif
Tindakan yang sudah dilakukan anak PT untuk dengan keluarga.
mengurangi bau badan dengan menggunakan
deodorant, mengurangi pengeluaran keringat
berlebih.
Anak PT mengatakan jarang bermain dengan
teman tetangga karena alasan tidak suka dengan
gaya hidup tetangga yang suka keluar malam
dan sering nongkrong di jalan.
Ibu N mengatakan anak PT pendiam.
DO : Anak PT tampak pendiam dan jarang
melihat petugas, cenderung pemurung dan
jarang tersenyum.

DS: Anak PT mengatakan lebih senang Ketidakefektifan komunikasi


membicarakan masalah remaja dengan teman remaja dengan orang tua di
atau sepupu karena nyaman dan bebas. keluarga Bpk RS berhubungan
Anak PT mengatakan ibu N selalu bilanhg tidak dengan ketidakmampuan keluarga
baik, tidak boleh, masih kecil tidak boleh mengenal pertumbuhan dan
pacaran dan tidak boleh membawa teman pria ke perkembangan remaja.
rumah.
Ibu N mengatakan anak PT memang pendiam Gangguan hubungan interpersonal
dan jarang berkomunikasi dengannya. antara remaja dengan orang tua dan
Komunikasi yang dilakukan keluarga tidak teman berhubungan dengan
terbuka. ketidakmampuan keluarga
menciptakan komunikasi efektif
DO: dengan remaja.
Terlihat jarang berkomunikasi dengan Ibu N

III. PENAPISAN MASALAH


1. Gangguan rasa nyaman, nyeri haid pada keluarga Bpk RS khususnya anak PT
KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: actual 3/3 x 1 1 Setiap haid, anak PT merasakan nyeri yang
berlangsung 1 hari sebelum haid, tidak
dilakukan tindakan apapun.
Kemungkinan ½x2 1 Harapan keluarga terhadap kesembuhan tinggi
masalah untuk tetapi kondisi nyeri haid yang dialami anak PT
diubah : sebagian dapat disebabkan karena stress, kurang darah,
hormon, posisi rahim.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Anak PT merasakan nyeri saat haid. Keluarga
dapat dicegah: tidak tahu penyebab, akibat dan perawatan
cukup sehingga perlu pemberian informasi tentang
perawatan nyeri haid.
Menonjolnya ½x1 ½ Keluarga menganggap nyeri haid yang dialami
masalah : masalah anak PT merupakan hal biasa dan tidak perlu
ada tapi tidak perlu segera ditangani.
segera ditangani
TOTAL SKOR 3 1/6

2. Risiko infeksi organ reproduksi wanita pada keluarga Bpk RS khususnya anak PT
KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: risiko 2/3 x 1 2/3 Keputihan yang dialami anak PT timbul 1 hari
sebelum haid, tetapi tidak terasa gatal dan
berisiko untuk terjadinya infeksi organ
reproduksi, tidak diobati apapun, keluarga tidak
tahu cara perawatan organ reproduksi wanita,
tidak tahu penyebab dan akibat
Kemungkinan 2/2 x 2 2 Penyebab keputihan yang dialami anak PT
masalah untuk kemungkinan akibat kebiasaan yang dilakukan
diubah : mudah terkait perawatan organ reproduksi yaitu
mengganti pembalut 2 kali sehari, mengganti
celana dalam kadang 1 kali sehari.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Keluarga tidak mengetahui penyebab, akibat,
dapat dicegah: perawatan keputihan serta dampak terhadap
cukup kesehatan reproduksi wanita, sehingga perlu
pemberian informasi secara jelas.
Menonjolnya ½x1 ½ Keluarga mengganggap masalah keputihan
masalah : masalah yang terjadi merupakan hal alami terhadap
ada tapi tidak perlu remaja, tetapi tidak perlu segera ditangani.
ditangani
TOTAL SKOR 3 5/6

3. Harga diri rendah pada anak PT di keluarga Bpk RS


KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: 3/3 x 1 1 Anak PT mengatakan malu mempunyai
gangguan masalah bau badan, ibu N mengatakan anak PT
pendiam. Anak PT jarang menatap petugas,
jarang tersenyum dan pemurung.
Kemungkinan ½x2 1 Kebiasaan anak PT mandi 1 kali sehari dengan
masalah untuk alas an malas dan dingin, anak PT sudah
diubah : sebagian berusaha mengurangi bau badan dengan
menggunakan deodorant, mengurangi
pengeluaran keringat berlebih.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Keuarga tidak mengetahui pentingnya
dapat dicegah: cukup perawatan diri pada remaja dan akibat
pengaruh perubahan pada remaja, sehingga
perlu pemberian informasi secara jelas.
Menonjolnya ½x1 ½ Keluarga menganggap masalah penurunan
masalah : masalah harga diri yang terjadi merupakan hal alami
ada tapi tidak perlu terhadap remaja, tetapi tidak perlu segera
segera ditangani ditangani.
TOTAL SKOR 3 1/6

4. Ketidakefektifan komunikasi remaja dengan orang tua di keluarga Bpk RS


KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: risiko 2/3 x 1 2/3 Anak PT mengatakan lebih senang
membicarakan masalah remaja dengan teman
dan sepupu, anak PT tidak perlu
membicarakan dengan ibu N karena selalu
bilang tidak baik, tidak boleh, masih kecil. Ibu
N mengatakan anak PT jarang berkomunikasi
dengannya.
Kemungkinan ½x2 1 Komunikasi yang dilakukan keluarga tidak
masalah untuk terbuka antara anak dan orang tua. Anak PT
diubah : sebagian sudah terlanjur merasa tidak enak dan malu
bila harus berdiskusi dengan ibu N.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Keluarga tidak mengetahui apa yang harus
dapat dicegah: dilakukan terhadap remaja, apa akibatnya bila
cukup tidak berkomunikasi terbuka sehingga perlu
pemberian informasi secara jelas.
Menonjolnya 0/2 x 1 0 Keluarga tidak merasakan adanya masalah
masalah : masalh akibat komunikasi dengan remaja, karena
tidak dirasakan menganggap hal yang memang harus dia
lakukan sebagai ibu.
TOTAL SKOR 1 4/6

5. Gangguan aktifitas sehari-hari pada keluarga Bpk RS khususnya anak PT


KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: actual 3/3 x 1 1 Setiap haid, anak PT merasakan malas
beraktivitas, malas bergerak, inginnya tiduran
terus.
Kemungkinan ½x2 1 Keinginan keluarga terhadap kesembuhan
masalah untuk tinggi tetapi kondisi nyeri haid dengan skala
diubah : sebagian nyeri 4 yang dialami anak PT dapat disebabkan
kerena stress, kurang darah, hormon, posisi
rahim.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Anak PT merasakan nyeri saat haid. Keluarga
dapat dicegah: tidak tahu penyebab, akibat dan perawatan
cukup sehingga perlu pemberian informasi tentang
perawatan nyeri haid.
Menonjolnya ½x1 ½ Keluarga menganggap nyeri haid yang dialami
masalah : masalah anak PT merupakan hal biasa dan tidak perlu
ada tapi tidak perlu segera ditangani.
segera ditangani
TOTAL SKOR 3 1/6

6. Kebiasaan personal hygiene keluarga rendah


KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: actual 3/3 x 1 1 Keluarga khususnya anak PT mandi rata-rata
1 kali sehari, mengganti pembalut 2 kali
sehari, mengganti celana dalam 2 kali sehari.
Kemungkinan ½x2 1 Perilaku keluarga sudah terbentuk sejak lama
masalah untuk sehingga perlu waktu untuk merubahnya.
diubah : sebagian Penyebab keputihan yang dialami anak PT
kemungkinan akibat perilaku yang dilakukan
terkait perawatan organ reproduksi.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Keluarga tidak mengetahui penyebab, akibat,
dapat dicegah: perawatan keputihan serta dampak terhadap
cukup kesehatan reproduksi wanita sehingga perlu
pemberian informasi secara jelas.
Menonjolnya ½x1 ½ Keluarga menganggap masalah kurangnya
masalah : masalah kebiasaan personal hygiene merupakan hal
ada tapi tidak perlu yang tidak perlu segera ditangani.
ditangani
TOTAL SKOR 3 1/6

7. Gangguan hubungan interpersonal antara remaja dengan orang tua dan teman
KRITERIA NILAI SKOR PEMBENARAN
Sifat masalah: actual 3/3/x 1 1 Anak PT jarang keluar rumah, tidak bergaul
dengan teman sekitar rumah, jarang
berkomunikasi dengan orang tua.
Kemungkinan ½x2 1 Kondisi murung dan tidak suka keluar rumah
masalah untuk dan bergaul sudah dilakukan remaja sejak
diubah : sebagian lama dengan alas an malas bergaul karena
tidak suka dengan gaya hidup teman di sekitar
rumahnya.
Potensi masalah 2/3 x 1 2/3 Keluarga tidak mengetahui apa yang harus
dapat dicegah: dilakukan terhadap remaja, apa akibatnya bila
cukup remaja tidak bergaul dengan lingkungan,
sering murung, tidak komunikasi terbuka
sehingga perlu pemberian informasi secara
jelas.
Menonjolnya 0/2 x 1 0 Keluarga tidak merasakan adanya masalah
masalah : masalah akibat komunikasi dengan remaja, karena
tidak dirasakan menganggap hal yang memang harus dia
lakukan sebagai ibu.
TOTAL SKOR 1 4/6

III. PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN


1. Risiko infeksi organ reproduksi wanita (keputihan) pada keluarga Bpk RS khususnya anak
PT berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang
mengalami keputihan.
2. Gangguan rasa nyaman, nyeri haid pada keluarga Bpk RS khususnya anak PT
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang mengalami
nyeri haid.
3. Harga diri rendah pada anak PT di keluarga Bpk RS berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mempersiapkan perubahan yang terjadi pada remaja.
4. Gangguan aktifitas sehari-hari pada keluarga Bpk RS khususnya anak PT berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga merawat keluarga dengan nyeri haid sebagai akibat
adanya kontraksi otot rahim saat pelepasan dinding rahim waktu haid.
5. Kebiasaan personal hygiene keluarga rendah berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga mengenal kesehatan reproduksi dan perlunya personal hygiene.
6. Ketidakefektifan komunikasi remaja dengan orang tua di keluarga Bpk RS berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan remaja.
7. Gangguan hubungan interpersonal antara remaja dengan orang tua dan teman
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menciptakan komunikasi efektif dengan
remaja.

B. PERENCANAAN
Rencana asuhan keperawatan keluarga Bpk RS
DIAGNOSIS TUJUAN KRITERIA STANDAR RENCANA
KEPERAWATA EVALUAS EVALUASI INTERVENS
N I I
Risiko infeksi Tujuan
organ reproduksi umum:
wanita (keputihan) Setelah
pada keluarga Bpk dilakukan
RS khususnya kunjungan
anak PT rumah selama
berhubungan 4 minggu,
dengan tidak terjadi
ketidakmampuan risiko infeksi
keluarga merawat pada organ
anggota keluarga reproduksi
yang mengalami wanita pada
keputihan. anak PT.

Tujuan
khusus:
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 4x45
menit,
keluarga
mampu:
Respon Keputihan adalah Diskusikan
verbal keluarnya cairan dengan
1. Mengenal selain darah dari keluarga
keputihan liang vagina. pengertian
dengan: keputihan.
Ajarkan
a. keluarga
Menjelaskan untuk
pengertian mengungkap
keputihan. kembali
pengertian
keputihan.
b. Respon Menyebutkan jenis -Diskusikan
Menjelaskan verbal keputihan dan dengan
jenis tandanya: keluarga jenis
keputihan 1. Keputihan keputihan
beserta fisiologis: yang terjadi
tandanya. -Tidak berbau, pada anak PT.
gatal, bengkak, -Gali
panas dan pedih pendapat
saat buang air kecil. keluarga
-Biasanya tentang tanda
disebabkan karena keputihan
hormone. yang terjadi
-Biasanya terjadi pada keluarga.
sebelum & sesudah -Motivasi
haid. keluarga
-Warna jernih tidak untuk
begitu banyak, mengungkap
putih. kan kembali
jenis dan
Keputihan tanda
patologis: keputihan.
-Disertai gatal,
nyeri, bengkak,
pedih saat buang air
kecil.
-Putih seperti susu
basi, berbau amis.
-Jumlahnya
banyak, berwarna
kuning/hijau
bercampur darah.
c. Respon Menyebutkan 3 -Diskusikan
Menyebutkan verbal dari 5 penyebab dengan
penyebab keputihan: keluarga
keputihan 1. Kurangnya penyebab
perawatan organ keputihan.
reproduksi. -Beri
2. Infeksi akibat kesempatan
keganasan keluarga
3. Benda asing bertanya.
dalam rahim. -Motivasi
4. Pemeriksaan keluarga
yang tidak steril untuk
5. Penyakit menular mengungkap
seksual. kan kembali
penyebab dari
keputihan.
2. Keluarga -Beri
mampu penjelasan
mengambil keluarga
keputusan tentang tanda
untuk penyakit yang
mencegah dapat
infeksi organ diketahui dari
reproduksi: Respon Menyebutkan tanda adanya
a. verbal terjadinya penyakit keputihan
Menjelaskan yang disebabkan berlebihan.
akibat yang keputihan -Beri
terjadi bila berlebihan seperti: kesempatan
keputihan 1. Kanker leher keluarga
tidak diatasi. rahim untuk
2. Infertilitas bertanya.
b. Mengambil Respon Keputusan keluarga -Gali
keputusan verbal untuk mengatasi pendapat
untuk keputihan agar keluarga
mencegah cepat sembuh dan bagaimana
agar tidak berlanjut. cara
keputihan mengatasi
agar tidak keputihan.
berlanjut. -Beri pujian
atas keputusan
yang diambil
keluarga.
3. Keluarga
mampu
merawat
keputihan
dengan:
a. Respon Cara perawatan -Gali
Menjelaskan verbal keputihan: pengetahuan
cara 1. Gunakan air keluarga
perawatan bersih untuk dalam
keputihan. mencuci vagina. mengatasi
2. Gunakan celana keputihan.
dalam yang -Diskusikan
menyerap keringat. dengan
3. Ganti pembalut keluarga cara
bila haid 4-5x/ hari perawatan
4.Hindari yang sudah
penggunaan celana dilakukan.
panjang yang ketat. -Motivasi
5. Pakai celana keluarga
dalam yang untuk
menyerap keringat. mengungkap
6. Hindari terlalu kan kembali
sering apa yang telah
menggunakan disampaikan.
pembilas vagina.
Respon Keluarga -Demonstrasi
psikomotor mendemonstrasika kan cara
n kembali cara perawatan
perawatan keputihan.
keputihan seperti -Motivasi
membasuh vagina keluarga
dengan gerakan untuk
dari atas ke bawah, redemonstrasi
obat tradisional .
dengan cara : 1 -Beri pujian
genggam gambir positif atas
direndam dalam ½ upaya yang
gelas air, lalu sudah
gunakan untuk dilakukan
mencuci vagina keluarga.
sesudah BAK atau
setiap terasa gatal

Respon Keluarga bersedia -Memotivasi


verbal melakukan control keluarga
diri (self control) terhadap
terhadap perawatan perawatan
organ reproduksi organ
yang dilakukan reproduksi.
setiap hari dengan -Memberikan
panduan yang pujian
sudah disiapkan. terhadap
upaya yang
dilakukan
keluarga.
4. Respon Menciptakan -Diskusikan
Memodifikasi verbal lingkungan rumah dengan
lingkungan yang bersih, keluarga cara
dalam pakaian yang menciptakan
perawatan bersih, kebersihan lingkungan
keputihan. badan dengan rumah yang
mandi teratur bersih.
minimal 2 kali -Beri
sehari. kesempatan
keluarga
untuk
bertanya.
Respon Keluarga bersedia -Memotivasi
verbal menciptakan keluarga
kebersihan rumah, terhadap
pakaian dan perawatan
kebersihan tubuh organ
untuk membantu reproduksi.
perawatan organ -Memberikan
reproduksi yang pujian
dilakukan setiap terhadap
hari. upaya yang
dilakukan
keluarga.
5. Keluarga Respon Memberi -Klarifikasi
mampu verbal penyuluhan tentang pengetahuan
memanfaatka manfaat fasilitas keluarga
n fasilitas pelayanan tentang
kesehatan kesehatan dalam manfaat
untuk mengatasi fasilitas
mengatasi keputihan. kesehatan.
keputihan. -Motivasi
keluarga
untuk
memanfaatka
n pelayanan
kesehatan bila
keputihan
berlanjut
dengan
disertai gatal.
2. Gangguan rasa Tujuan
nyaman, nyeri umum: setelah
haid pada keluarga dilakukan
Bpk RS khususnya tindakan
anak PT keperawatan
berhubungan selama 6
dengan minggu,
ketidakmampuan diharapkan
keluarga merawat nyeri haid
anggota keluarga berkurang.
yang mengalami
nyeri haid.
Tujuan -Diskusikan
khusus: dengan
Setelah keluarga
pertemuan pengertian
6x45 menit, haid.
keluarga Anjurkan
mampu: keluarga
1. Mengenal untuk
masalah nyeri mengungkap
haid dengan: kembali
a. Respon Haid adalah pengertian
Menjelaskan verbal peristiwa luruhnya haid.
apa yang lapisan dinding -Diskusikan
dimaksud rahim yang banyak tanda dan
haid. mengandung gejala yang
pembuluh darah. biasanya
terjadi pada
anak PT.
-Anjurkan
keluarga
untuk
menyebutkan
kembali haid.

b. Respon Menyebutkan 5 -Diskusikan


Menjelsakna verbal dari 8 tanda/gejala tanda/gejala
tanda/gejala yang terjadi yang biasanya
sebelum haid. sebelum haid: terjadi pada
1. Malas anak PT.
2. Mudah lelah -Anjurkan
3. Lemas keluarga
4. Emosi stabil untuk
5. Nyeri kepala menyebutkan
6. Pingsan kembali tanda
7. Kram perut sebelum haid.
8. Sakit pada -Beri pujian
payudara atas jawaban
yang benar.
c. Respon Menyebutkan 3 -Diskusikan
Menjelaskan verbal dari 4 penyebab bersama
penyebab nyeri haid: keluarga
nyeri haid 1. Hormon penyebab
2. Posisi rahim nyeri haid.
3. Penyakit infeksi -Motivasi
rahim keluarga
4. Faktor psikis untuk
seperti stress, shock mengulang
kembali
penyebab
nyeri haid.
-Jelaskan
kembali
tentang hal-
hal yang telah
didiskusikan.
2. Mengambil -Identifikasi
keputusan akibat nyeri
untuk haid yang lalu.
mengatasi -Motivasi
nyeri haid: keluarga
a. untuk
Menjelaskan Respon Menyebutkan mengungkap
akibat yang verbal akibat bila nyeri kan kembali
terjadi bila haid tidak diatasi akibat nyeri
nyeri haid seperti syok, haid bila tidak
tidak diatasi. TD/N/RR diatasi.
meningkat.
b. Mengambil Respon Keputusan keluarga -Diskusikan
keputusan verbal untuk mengatasi dengan
untuk nyeri haid agar keluarga
mencegah tidak bertambah tentang
nyeri haid parah. rentangan
agar tidak nyeri yang
bertambah dialami
parah. remaja untuk
mengambil
keputusan
selanjutnya.
-Gali
pendapat
keluarga
bagaimana
cara
mengatasi
nyeri haid.
-Motivasi
keluarga
untuk
memutuskan
mengatasi
nyeri haid
secara tepat.
-Beri
reinforcement
atas keputusan
yang diambil
keluarga.
3. Merawat Respon Cara perawatan -Gali
keluarga verbal nyeri haid: pengetahuan
dengan nyeri 1. Kompres dengan keluarga
haid: air hangat. dalam
a. 2. Mandi air hangat mengatasi
Menjelaskan 3. Minum minuman nyeri haid.
cara hangat -Diskusikan
perawatan 4. Menggosok dengan
nyeri haid. perut/ pinggang keluarga cara
yang sakit. perawatan
5. Posisi nyeri haid.
menungging -Motivasi
6. Kurangi keluarga
makanan bergaram untuk
7. Minum air putih, mengungkap
juice buah-buahan, kan kembali
the chamomile. apa yang telah
disampaikan.
8. Kurangi
makanan yang
mengandung
kafein, coklat.
9. Jika banyak
mengeluarkan
darah, makan
suplemen zat besi.

C. PELAKSANAAN & EVALUASI


Catatan perkembangan asuhan keperawatan keluarga Bpk RS
TANGGAL NO DX IMPLEMENTASI EVALUASI PARAF
2-8-2009 1.1 Diskusikan bersama Subjektif:
keluarga dengan -Keluarga
menggunakan leaflet: mengatakan bahwa
-Pengertian keputihan jenis keputihan
-Jenis keputihan yang terjadi pada
-Tanda keputihan anak PT gatal, tidak
-Penyebab keputihan begitu berbau,
warna kekuningan
Menanyakan pada dan meninggalkan
keluarga hal-hal yang bekas di celana
belum dimengerti. dalam.
-Keluarga
Meminta keluarga untuk mengatakan bahwa
menjelaskan kembali keputihan
tentang pengertian, jenis, merupakan cairan
tanda dan penyebab selain darah yang
keputihan. keluar dari vagina.
-Keluarga
Memberi pujian atas mengatakan
jawaban yang benar dari penyebab keputihan
keluarga. adalah infeksi,
kurangnya
perawatan diri dan
kebersihan vagina.
Objektif:
-Keluarga
menyimak
penjelasan dengan
baik.
-Keluarga berusaha
menjawab setiap
pertanyaan yang
diajukan.
Analysis:
TUK 1 tercapai
sesuai rencana
Planning:
Evaluasi kembali
TUK 1 tentang
pengertian, jenis,
tanda dan penyebab
keputihan pada
pertemuan
kunjungan berikut.
Lanjutkan ke TUK
2 tentang
bagaimana
mengidentifikasi
keputihan berlanjut
untuk pengambilan
keputusan yang
akan dilakukan
keluarga.
6-8-2009 1.2 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Menjelaskan akibat bila mengatakan kalau
keputihan berlanjut. keputihan tidak
dirawat, dapat
Bersama keluarga timbul infeksi
identifikasi adanya berlanjut.
keputihan yang berlebih. -Keluarga
mengatakan akan
Memotivasi keluarga memperhatikan
untuk memutuskan anak PT secara
merawat keputihan anak lebih perhatian
PT. untuk mengurangi
keputihan supaya
Memberi pujian atas tidak berlanjut.
keinginan keluarga dalam
memutuskan untuk
merawat keputihan anak
PT.
Objektif:
-Keluarga
menyimak setiap
penjelasan dengan
baik.
-Keluarga berusaha
menjawab setiap
pertanyaan yang
diajukan.
Analysis:
TUK 2 tercapai
sesuai rencana.

Planning:
Evaluasi kembali
TUK 2 terhadap
identifikasi adanya
keputihan berlanjut
pada kunjungan
berikutnya.
Lanjutkan TUK 3
tentang cara
mengatasi
keputihan dan cara
perawatan organ
reproduksi wanita.
9-8-2009 1.3 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
mengatakan cara
perawatan
Menggali pengetahuan keputihan dengan
keluarga dalam mengatasi mencuci vagina
keputihan. pakai air bersih,
mengganti celana
Mendiskusikan dengan dalam minimal 2
keluarga cara perawatan kali sehari,
keputihan yang sudah menggunakan
dilakukan. celana dalam yang
menyerap keringat,
Memotivasi keluarga hindari penggunaan
untuk mengungkapkan pembilas vagina,
kembali cara perawatan ganti pembalut 4-5
keputihan sesuai dengan kali sehari.
yang dijelaskan.

Menanyakan pada
keluarga cara yang akan
dipilih dalam merawat
keputihan terkait
penggunaan celana dalam,
pembalut dan air bersih.
Memberi penguatan atas
pilihan keluarga.
Objektif:
-Keluarga
menyimak
penjelasan dengan
baik
-Keluarga
menjawab
pertanyaan yang
diajukan.
Analysis:
TUK 3 tercapai
sebagian
Planning:
-Demonstrasi cara
membasuh bagina
dan obat tradisonal
yang telah
disampaikan.
-Evaluasi kembali
TUK 3 tentang cara
perawatan organ
reproduksi wanita
pada kunjungan
berikutnya.
12-8-1009 1.3 Mengevaluasi TUK 1,2,3 Subjektif:
yang telah dilakukan pada -Keluarga
pertemuan minggu yang mengatakan akan
lalu mengenai pengertian, berusaha mencoba
jenis, tanda, penyebab merawat keputihan
keputihan dan cara pada anak PT
perawatan organ seperti yang
reproduksi wanita. dijelaskan.
Mendemonstrasikan
kepada keluarga cara
merawat/ membasuh
vagina.
Meminta keluarga untuk
mendemonstrasikan cara
membasuh vagina.
Menjelaskan cara menilai
keberhasilan dari
perawatan kebersihan
organ reproduksi sehari-
hari menggunakan self
control.
Memberi pujian atas
tindakan demonstrasi cara
membasuh vagina yang
telah dilakukan keluarga.
Objektif:
-Keluarga
mendemonstrasikan
cara perawatan
keputihan sesuai
dengan yang
dianjurkan.
Analysis:
TUK 3 tercapai
sebagian
Planning:
Lanjutkan TUK 4
tentang cara
modifikasi
lingkungan untuk
mengurangi risiko
infeksi organ
reproduksi wanita.
18-8-2009 1.4 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Mendiskusikan cara mengatakan
menciptakan lingkungan keputihan juga
rumah yang bersih, dapat diakibatkan
pakaian dan kebersihan lingkungan,
badan. pakaian dan
kebersihan badan
Menanyakan pada yang kurang sehat.
keluarga hal-hal yang
belum dimengerti.
Objektif:
-Keluarga
menyimak dengan
serius dan antusias.
Analysis:
TUK 4 tercapai
sebagain.
Planning:
-Evaluasi kembali
TUK 1,2,3,4 pada
pertemuan
selanjutnya.
-Lanjutkan TUK 5
mengenai
penggunaan
fasilitas kesehatan
yang dimanfaatkan
keluarga.
26-8-2009 1.5 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Mendiskusikan dengan mengatakan kalau
keluarga jenis-jenis nantinya keputihan
pada anak PT
fasilitas kesehatan yang berlanjut, gatal dan
digunakan keluarga. banyak, akan
dibawa ke
Mendiskusikan tentang Puskesmas
manfaat fasilitas kesehatan terdekat.
yang dapat digunakan
untuk menangani
keputihan.

Memotivasi keluarga
untuk mengunjungi
pelayanan kesehatan bila
keputihan berlanjut dan
gatal.
Objektif:
-Keluarga tampak
kooperatif.
Analysis:
TUK 4,5 tercapai
sebagian.
Planning:
-Evaluasi kembali
TUK 4,5 mengenai
cara modifikasi
lingkungan rumah
dan pemanfaatan
fasilitas kesehatan.
-Evaluasi perilaku
keluarga dalam
perawatan organ
reproduksi vagina
dengan self control.
30-8-2009 2.2 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Menjelaskan akibat dan mengatakan nyeri
bahayanya bila nyeri haid haid yang terjadi
tidak diatasi. pada anak PT
termasuk nyeri
Bersama keluarga ringan dengan skala
identifikasi adanya nyeri 2, terjadi 1-2 hari
haid berlanjut. menjelang haid.
-Keluarga
Memotivasi keluarga mengatakan haid
untuk merawat nyeri haid merupakan proses
pada anak PT. meluruhnya sel
telur yang tidak
Memberi pujian atas dibuahi.
keinginan keluarga dalam -Keluarga
memutuskan untuk mengatakan gejala
merawat nyeri haid pada yang terjadi
anak PT. sebelum haid
seperti perasaan
malas, emosi labil,
nyeri kepala, kram
perut, pingsan.
-Keluarga
mengatakan nyeri
pada remaja dapat
disebabkan
hormon, posisi
rahim,penyakit
infeksi rahim,
faktor psikis seperti
stress.
Objektif:
-Keluarga
menyimak setiap
penjelasan dengan
baik.
Analysis:
TUK 1 tercapai
sesuai rencana.
Planning:
-Evaluasi kembali
TUK 1 tentang
pengertian, gejala,
penyebab nyeri haid
pada kunjungan
berikutnya.
-Lanjutkan ke TUK
2 tentang
bagaimana
mengidentifikasi
nyeri haid untuk
pengambilan
keputusan yang
akan diambil
keluarga.
4-9-2009 2.3 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Menggali pengetahuan mengatakan cara
keluarga dalam mengatasi perawatan nyeri
nyeri haid. haid dengan
Mendiskusikan dengan kompres air hangat,
keluarga cara perawatan mandi air hangat,
nyeri haid yang sudah minum minuman
dilakukan. hangat, menggosok
Memotivasi keluarga perut yang sakit,
untuk mengungkapkan relaksasi, kurangi
kembali cara perawatan makanan bergaram,
nyeri haid sesuai dengan minum air
yang dijelaskan. putih/juice buah/the
Menanyakan pada chamomile, kurangi
keluarga cara yang akan kafein/coklat,
dipilih dalam mengurangi minum suplemen
nyeri haid dengan kompres zat besi agar
air hangat dan imagery terhindar dari
guided. anemia.
Memberi penguatan atas
pilihan keluarga.
Objektif:
-Keluarga
menyimak
penjelasan dengan
baik.
-Keluarga
menjawab
pertanyaan yang
diajukan.
Analysis:
TUK 3 tercapai
sebagian.
Planning:
-Demonstrasi cara
mengatasi nyeri
haid dengan
kompres hangat
dipadu imagery.
-Evaluasi kembali
TUK 3 tentang cara
mengatasi nyeri
haid dengan
kompres hangat
dipadu imagery.
-Evaluasi nyeri haid
setelah dilakukan
terapi
menggunakan self
kontrol.
6-9-2009 2.4 Menevaluasi TUK 1,2,3 Subjektif:
yang telah dilakukan pada -Keluarga
pertemuan minggu yang mengatakan akan
lalu mengenai pengertian, berusaha mencoba
gejala dan penyebab nyeri merawat nyeri haid
haid, cara mengurangi pada anak PT
nyeri haid. seperti yang
dijelaskan.
Mendemonstrasikan
kepada keluarga cara
mengurangi nyeri haid
dengan imagery, kompres
hangat.

Meminta keluarga untuk


redemonstrasi cara
mengurangi nyeri haid
dengan kompres hangat
dan imagery.
Menjelaskan cara menilai Objektif:
keberhasilan dalam-Keluarga
mengurangi nyeri haid mendemonstrasikan
dengan menggunakan self cara mengurangi
control terhadapnyeri haid sesuai
perubahan penurunan dengan yang
denyut nadi, skala nyeri dianjurkan.
dan lama nyeri. -Keluarga tampak
antusias.
Memberi pujian atas Analysis:
tindakan demonstrasi cara TUK 3 tercapai
mengurangi nyeri haid sebagian.
yang telah dilakukan
kleuarga.
Planning:
Lanjutkan TUK 4
tentang cara
modifikasi
lingkungan untuk
mengurangi nyeri
haid berlanjut
dengan
menciptakan
suasana tenang,
komunikasi dengan
remaja.
2.3 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Mendiskusikan cara mengatakan nyeri
menciptakan lingkungan haid juga dapat
yang tenang, komunikasi diakibatkan
dengan remaja, menjaga lingkungan,
makanan dan psikis remaja makanan, psikis
untuk mengurangi nyeri yang kurang sehat.
haid.

Menanyakan pada Objektif:


keluarga hal-hal yang Keluarga
belum dimengerti. menyimak dengan
serius dan antusias.
Analysis:
TUK 4 tercapai
sebagian.
Planning:
-Evaluasi kembali
TUK 1,2,3,4 pada
pertemuan
selanjutnya.
-Lanjutkan TUK 5
mengenai
penggunaan
fasilitas kesehatan
yang dimanfaatkan
keluarga bila nyeri
haid berlanjut.
2.4 Dengan menggunakan Subjektif:
leaflet: -Keluarga
Mendiskusikan dengan mengatakan kalau
keluarga jenis fasilitas nantinya nyeri haid
kesehatan yang digunakan anak PT berlanjut
keluarga. akan segera dibawa
Mendiskusikan manfaat ke Puskesmas.
fasilitas kesehatan yang
digunakan untuk
menangani nyeri haid.
Memotivasi keluarga
untuk mengunjungi
pelayanan kesehatan bila
nyeri haid berlanjut.
Objektif:
Keluarga tampak
kooperatif.
Analysis:
TUK 4,5 tercapai
sebagian.
Planning:
-Evaluasi kembali
TUK 4,5 mengenai
cara modifikasi
lingkungan rumah
dan pemanfaatan
fasilitas kesehatan.
-Evaluasi perilaku
keluarga dalam
pelayanan nyeri
haid dengan self
control.
BAB VII

APLIKASI PRAKTIS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN


KELUARGA BAGI PRAKTISI PERAWAT PERKESMAS.

Upaya keperawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan salah satu upaya


kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas, yang merupakan bagian integral upaya
kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan (DepKes, 2006). Upaya Perkesmas
dilaksanakan secara terpadu baik upaya kesehatan perorangan maupun kesehatan
masyarakat dalam enam upaya kesehatan wajib Puskesmas (Promosi kesehatan, KIA/KB,
Gizi, P2M, Kesehatan lingkungan dan Pengobatan) maupun upaya pengembangan yang
wajib dilaksanakan didaerah tertentu. Sasaran prioritas Perkesmas adalah sasaran yang telah
ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai kesepakatan daerah, dengan tetap
memfokuskan pada keluarga rawan kesehatan yaitu keluarga rentan (miskin) dan keluarga
dengan masalah risiko tinggi. Pencapaian target sasaran diharapkan mendukung tercapainya
target pelayanan kesehatan bermutu yang diukur berdasarkan Standar Pelayanan Minimal
(SPM), seperti gambar 7.1.
Gambar 7.1
Upaya kesehatan wajib dan upaya pengembangan di Puskesmas

STRATEGI PELAYANAN
PERKESMAS
PERKESMAS
PENGO-
PROMKES KIA &KB GIZI KESLING P2M BATAN (sedang
diupayakan)

UPAYA UPAYA
PENGEM-
BANGAN
PERKESMAS PENGEM
BANGAN

INDIKATOR STANDAR PELAYANAN MINIMAL


(SPM)

Ditwat 29

Pelaksanaan kegiatan perkesmas di Puskesmas, dilakukan oleh perawat perkesmas


menggunakan pendekatan proses keperawatan (nursing process) yaitu tahap pengkajian,
penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi menggunakan
pendekatan proses keperawatan yang didokumentasikan. Pengkajian asuhan keperawatan
keluarga di Puskesmas, menggunakan format pengkajian keluarga yang diterbitkan oleh
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Departemen Kesehatan R.I tahun 2006 yaitu:
A. PENGKAJIAN
a. Format pengkajian tahap I
Nama Kepala Keluarga : Bapak SW
Nomor register :
Alamat : Jl. Bengawan RT 05 RW 06 Kelurahan Padang
Griya
Tanggal pengumpulan data : 3 Agustus 2009
1. Data dasar anggota keluarga
No Nama L/P Tanggal. Hub Pendidikan Pekerjaan Agama Suku
Th lahir dg KK bangsa
1 Bpk SW L 38 th KK SMEA Kuli Islam Indonesia
bangunan
2 Ibu I P 34 th Istri SD - Islam Indonesia
3 Anak S P 16 th Anak SMP klas1 - Islam Indonesia
4 Anak D L 8 th Anak SD klas 2 - Islam Indonesia
5 Anak DD L 1,5 th Anak Belum skl - Islam Indonesia

II. Status kesehatan anggota keluarga


Kelu TB B TD N S R K.U Kon Riwa Alat Olah Tidur A
han B jung yat Bantu Raga Na
tiva peny/ / prote Li
ketu sa sis
runan ma
sa
lah
- 165 60 125/8 80 3 24 Se normal - - Tdk 8 jam/hr
5 6 hat per
nah
- 150 45 120/8 80 3 26 Se normal - - Tdk 8 jam/hr
0 6 hat per
nah
Nye 160 50 110/7 88 3 22 Normal - - Tdk 9 jam/hr
ri 5 6 per
haid nah
Risi 130 30 - 80 3 24 Se Normal - - Tdk 10 jam/hr
ko 6 hat per
cide nah
ra
Bi 8, - 88 3 - normal - - Tdk 12 jam/hr
ang 5 7 per
keri nah
ngat

III. Upaya peningkatan kesehatan


No Uraian pertanyaan Ya Tidak Alasan jika tidak
A Bayi/balita
Tanyakan pada ibu apakah:
1. Imunisasi dasar lengkap V
2. KMS di rumah V
3. Vit A pada 6 bln terakhir V
4. Stimulasi tumbuh kembang secara efektif V
5. Mengenal PASI-PMT V
6. Menggunakan buku KIA V
B Remaja
Tanyakan pada remaja apakah:
1. Tidak mempunyai kebiasaan merokok. V
2. Pernah mendapat informasi tentang pertumbuhan dan V Karena masih
dianggap anak
perkembangan remaja.
kecil, belum
3. Pernah mendapat informasi tentang narkoba dan V pantas, segan,
tidak bebas
Kesehatan reproduksi.

C Ibu Hamil (Bumil)


1 Tanyakan pada bumil apakah:
1. ANC dilakukan sesuai usia kehamilan sesuai buku
KIA.
2. Sudah mendapat imunisasi pada kehamilan ini.
3. Sudah mendapat tablet Fe pada 3 bulan terakhir.
2 Melakukan perawatan payudara
3 Observasi keadaan ibu, apakah anemia
D Ibu meneteki (Buteki)
Tanyakan pada ibu apakah:
1. Memberikan ASI eksklusif pada bayinya sampai umur
6 bulan.
2. Menjadi akseptor KB-MKET
3. Melakukan perawatan payudara selama menyusui.
4. Memeriksakan diri ke petugas kesehatan
menggunakan buku KIA.
E Usia lanjut (Lansia)
Tanyakan apakah lansia:
1. Mendapat nutrisi & cairan dalam jumlah cukup (BBS)
2. Mengikuti kegiatan social seperti kelompok lansia,
keagamaam dll.
3. Melakukan pemeriksaan rutin kepada petugas
kesehatan
4. Memiliki KMS lansia di rumah.
F Pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga.
Tanyakan kepada ibu rumah tangga/ anggota keluarga lain
apakah:
1. Komposisi makanan bervariasi V
2. Cara mengolah makanan tepat V
3. Frekuensi makan anggota keluarga minimal 3x/hari V
4. Apakah keluarga terbiasa dengan pola makan bersama V

IV. Psikososial
No Uraian pertanyaan Ya Tidak Alasan jika tidak
1 Tanyakan kepada salah satu anggota keluarga apakah:
1. Pengambil keputusan di keluarga adalah : ayah, ibu, V
anak, kakek, nenek atau …. (pilih salah satu)
2. Pemecahan masalah dilakukan dengan cara V
musyawarah.
2 Observasi apakah hubungan antara anggota keluarga erat V

V. Sosial budaya spiritual


No Uraian pertanyaan Ya Tidak Alasan jika tidak
1 Tanyakan apakah:
1. Keluarga beribadah sesuai agama V
2. Mempunyai kepercayaan (tabu) yang berlawanan V
dengan kesehatan.
3. Aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (misal : V
perkumpulan warga, arisan, kerja bakti)

VI. Sosial ekonomi


No Uraian pertanyaan Ya Tidak Alasan jika tidak
1 Tanyakan pada KK apakah
1. Keluarga memiliki penghasilan tetap. V
2. Keluarga memiliki dana untuk pemeliharaan kesehatan V Keluarga
sebagai
(misal: uang, kartu sehat, Askes/JPKM)
pedagang kaki
keliling dengan
penghasilan pas
pasan.

VII. Kesehatan lingkungan


No Uraian pertanyaan Ya Tidak Alasan jika
Tidak
1 Di luar rumah observasi apakah:
1. Keluarga memanfaatkan pekarangan yang ada V
2. Kondisi secara umum bersih (tidak ada sampah) V
3. Tempat pembuangan sampah tertutup (sampah tidak V
berserakan)
4. Tidak ada sumber pencemaran
- Air V
- Udara V
5. Ada faktor risiko yang mengakibatkan cidera V Kurang
pengawasan,
lingkungan
rumah sempit,
balita sering
berlari-larian,
gulat, bertinju
dengan anak
tetangga
2 Di dalam rumah, observasi apakah:
1. Luas rumah bangunan sama dengan jumlah anggota V
Keluarga (lebih 8 meter per orang)
2. Penataan perabotan rapi bersih V
3. Penerangan dan sinar matahari cukup V
4. Luas ventilasi rumah > 10% V
5. Jenis lantai :
- Ubin V
- Tanah
6. Dinding : - Papan/ tembok V
- Anyaman bamboo
7. Atap: - Genteng/ asbes/seng V
- Daun nipah
8. Sumber air bersih : - Sumur V
- PAM
9. Bila sumber air bersih menggunakan sumur, jarak V
dengan jamban ≥ 10 meter, harus ada cincin dan lantai
sumur.
10. Kondisi fisik air minum memenuhi kriteria air sehat V
(tidak beras, tidak berwarna, tidak berbau)
11. Tempat pembuangan air minum tertutup. V
12. Tempat sampah tertutup. V
13. Tempat penyimpanan makanan tertutup dan V
terlindungi.
14. Tidak banyak vektor penyakit (misal: lalat, nyamuk, V
tikus dll).
15. Jamban memenuhi syarat jamban sehat. V

b. Format pengkajian tahap II


Masalah Kesehatan : Gangguan rasa nyaman, nyeri haid pada keluarga Bpk SW
khususnya anak S.
NO Uraian pertanyaan Hasil penjajagan
1 Kemampuan mengenal masalah: Keluarga tidak tahu penyebab,
1. Apa yang keluarga ketahui tentang masalah kesehatan akibat dan cara perawatan nyeri
tersebut di atas. haid.
2. Apa yang keluarga ketahui tanda/gejala tentang masalah
kesehatan tersebut diatas. Keluarga mengatakan bila haid,
3. Sebutkan penyebab masalah kesehatan tersebut diatas. badan terasa lemas, malas
beraktivitas, mudah lelah.
II Kemampuan mengambil keputusan: Keluarga menganggap nyeri haid
1. Menurut keluarga apa akibat lanjut tentang masalah yang dialami anak S merupakan
kesehatan tersebut diatas. hal biasa dan tidak perlu segera
2. Apakah menurut keluarga sangat penting melakukan ditangani.
penanggulangan masalah kesehatan tersebut diatas.

III Kemampuan memberikan perawatan anggota keluarga yang Keluarga mengatakan bila nyeri
mempunyai masalah kesehatan: haid, diobati dengan feminax 1
1. Jelaskan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah butir sehari yang dibeli di warung
masalah kesehatan tersebut di atas. sebelah rumah.
2. Jelaskan bagaimana caranya merawat anggota keluarga
dengan masalah kesehatan tersebut diatas. Anak S minum air teh hangat
3. Apakah keluarga mengetahui alternatif perawatan untuk mengurangi nyeri haid.
anggota keluarga dengan masalah kesehatan tersebut
diatas.
4. Hambatan apa yang ibu hadapi dalam melakukan
penanggulangan masalah dirumah.

IV Kemampuan memodifkasi lingkungan:


1. Bagaimana keluarga mengatur lingkungan (fisik,
psikologis, sosial) yang dapat menunjang keberhasilan
penanggulangan masalah atau kesembuhan penyakit.
2. Apa yang keluarga ketahui alasan pentingnya menjaga
kesehatan lingkungan (sebutkan data lingkungan yang
maladaptif)

V Kemampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan:


1. Jelaskan apa saja yang diperoleh dari Polindes/
Pustu/Puskesmas/RS.
2. Adakah hambatan yang dihadapi untuk memanfaatkan
sarana/ fasilitas kesehatan.

Masalah Kesehatan : Risiko kerusakan integritas kulit pada keluarga Bpk SW


khususnya anak DD
NO Uraian pertanyaan Hasil penjajagan
1 Kemampuan mengenal masalah: Ibu I mengatakan tidak tahu cara
1. Apa yang keluarga ketahui tentang masalah kesehatan perawatan biang keringat.
tersebut di atas.
2. Apa yang keluarga ketahui tanda/gejala tentang masalah Ibu I mengatakan biang keringat
kesehatan tersebut diatas. yang dialami anak DD akibat
3. Sebutkan penyebab masalah kesehatan tersebut diatas. udara panas, sudah 1 bulan yang
lalu.
II Kemampuan mengambil keputusan: Keluarga mengatakan biang
1. Menurut keluarga apa akibat lanjut tentang masalah keringat yang dialami merupakan
kesehatan tersebut diatas. hal biasa dan tidak perlu segera
2. Apakah menurut keluarga sangat penting melakukan ditangani.
penanggulangan masalah kesehatan tersebut diatas.

III Kemampuan memberikan perawatan anggota keluarga yang Biang keringat pada anak DD
mempunyai masalah kesehatan: tidak diobati apapun, cukup
1. Jelaskan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah digaruk saja.
masalah kesehatan tersebut di atas.
2. Jelaskan bagaimana caranya merawat anggota keluarga
dengan masalah kesehatan tersebut diatas.
3. Apakah keluarga mengetahui alternatif perawatan
anggota keluarga dengan masalah kesehatan tersebut
diatas.
4. Hambatan apa yang ibu hadapi dalam melakukan
penanggulangan masalah dirumah.

IV Kemampuan memodifkasi lingkungan:


1. Bagaimana keluarga mengatur lingkungan (fisik,
psikologis, sosial) yang dapat menunjang keberhasilan
penanggulangan masalah atau kesembuhan penyakit.
2. Apa yang keluarga ketahui alas an pentingnya menjaga
kesehatan lingkungan (sebutkan data lingkungan yang
maladaptif)

V Kemampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan:


1. Jelaskan apa saja yang diperoleh dari Polindes/
Pustu/Puskesmas/RS.
2. Adakah hambatan yang dihadapi untuk memanfaatkan
sarana/ fasilitas kesehatan.

Masalah Kesehatan : Risiko cidera pada keluarga Bpk SW khususnya anak D


NO Uraian pertanyaan Hasil penjajagan
1 Kemampuan mengenal masalah:
1. Apa yang keluarga ketahui tentang masalah kesehatan
tersebut di atas.
2. Apa yang keluarga ketahui tanda/gejala tentang masalah
kesehatan tersebut diatas.
3. Sebutkan penyebab masalah kesehatan tersebut diatas.

II Kemampuan mengambil keputusan:


1. Menurut keluarga apa akibat lanjut tentang masalah
kesehatan tersebut diatas.
2. Apakah menurut keluarga sangat penting melakukan
penanggulangan masalah kesehatan tersebut diatas.

III Kemampuan memberikan perawatan anggota keluarga yang


mempunyai masalah kesehatan:
1. Jelaskan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah
masalah kesehatan tersebut di atas.
2. Jelaskan bagaimana caranya merawat anggota keluarga
dengan masalah kesehatan tersebut diatas.
3. Apakah keluarga mengetahui alternatif perawatan
anggota keluarga dengan masalah kesehatan tersebut
diatas.
4. Hambatan apa yang ibu hadapi dalam melakukan
penanggulangan masalah dirumah.

IV Kemampuan memodifkasi lingkungan: Keluarga kurang memberikan


1. Bagaimana keluarga mengatur lingkungan (fisik, pengawasan kepada anak D.
psikologis, sosial) yang dapat menunjang keberhasilan
penanggulangan masalah atau kesembuhan penyakit. Keluarga mengatakan anak D
2. Apa yang keluarga ketahui alasan pentingnya menjaga sering bermain gulat, bertinju,
kesehatan lingkungan (sebutkan data lingkungan yang menendang.
maladaptif)
Keluarga mengatakan kemarin
Anak D jatuh saat berlarian
dengan temannya.
V Kemampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan:
1. Jelaskan apa saja yang diperoleh dari Polindes/
Pustu/Puskesmas/RS.
2. Adakah hambatan yang dihadapi untuk memanfaatkan
sarana/ fasilitas kesehatan.

Masalah kesehatan : Harga diri rendah pada anak S di keluarga Bapak SW


No Uraian pertanyaan Hasil penjajagan
1 Kemampuan mengenal masalah: Keluarga mengatakan tidak tahu
1. Apa yang keluarga ketahui tentang masalah kesehatan cara melakukan perawatan
tersebut di atas. jerawat.
2. Apa yang keluarga ketahui tanda/gejala tentang masalah
kesehatan tersebut diatas. Keluarga mengatakan anak S
3. Sebutkan penyebab masalah kesehatan tersebut diatas. termasuk anak yang pendiam dan
jarang bergaul dengan tetangga
II Kemampuan mengambil keputusan:
1. Menurut keluarga apa akibat lanjut tentang masalah Anak S mengatakan sangat malu
kesehatan tersebut diatas. dengan adanya jerawat di wajah.
2. Apakah menurut keluarga sangat penting melakukan
penanggulangan masalah kesehatan tersebut diatas.

III Kemampuan memberikan perawatan anggota keluarga yang Anak S mengatakan sudah
mempunyai masalah kesehatan: memberikan obat jerawat, tetapi
1. Jelaskan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah belum juga sembuh.
masalah kesehatan tersebut di atas.
2. Jelaskan bagaimana caranya merawat anggota keluarga
dengan masalah kesehatan tersebut diatas.
3. Apakah keluarga mengetahui alternatif perawatan
anggota keluarga dengan masalah kesehatan tersebut
diatas.
4. Hambatan apa yang ibu hadapi dalam melakukan
penanggulangan masalah dirumah.

IV Kemampuan memodifkasi lingkungan:


1. Bagaimana keluarga mengatur lingkungan (fisik,
psikologis, sosial) yang dapat menunjang keberhasilan
penanggulangan masalah atau kesembuhan penyakit.
2. Apa yang keluarga ketahui alas an pentingnya menjaga
kesehatan lingkungan (sebutkan data lingkungan yang
maladaptif)
V Kemampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan:
1. Jelaskan apa saja yang diperoleh dari Polindes/
Pustu/Puskesmas/RS.
2. Adakah hambatan yang dihadapi untuk memanfaatkan
sarana/ fasilitas kesehatan.

Masalah Kesehatan : Ketidakefektifan komunikasi remaja dengan orang tua di keluarga


Bpk SW.
NO Uraian pertanyaan Hasil penjajagan
1 Kemampuan mengenal masalah: Anak S mengatakan senang
1. Apa yang keluarga ketahui tentang masalah kesehatan membicarakan masalah remaja
tersebut di atas. dengan sepupu dan teman
2. Apa yang keluarga ketahui tanda/gejala tentang masalah sekolah.
kesehatan tersebut diatas.
3. Sebutkan penyebab masalah kesehatan tersebut diatas. Keluarga tidak tahu apa yang
harus dilakukan terhadap remaja.
II Kemampuan mengambil keputusan: Ibu I mengatkan sangat heran
1. Menurut keluarga apa akibat lanjut tentang masalah dengan anak S yang jarang
kesehatan tersebut diatas. komunikasi dengannya.
2. Apakah menurut keluarga sangat penting melakukan
penanggulangan masalah kesehatan tersebut diatas.

III Kemampuan memberikan perawatan anggota keluarga yang Komunikasi yang dilakukan
mempunyai masalah kesehatan: keluarga tidak terbuka antara anak
1. Jelaskan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah remaja dan orang tua
masalah kesehatan tersebut di atas.
2. Jelaskan bagaimana caranya merawat anggota keluarga
dengan masalah kesehatan tersebut diatas.
3. Apakah keluarga mengetahui alternatif perawatan
anggota keluarga dengan masalah kesehatan tersebut
diatas.
4. Hambatan apa yang ibu hadapi dalam melakukan
penanggulangan masalah dirumah.

IV Kemampuan memodifkasi lingkungan:


1. Bagaimana keluarga mengatur lingkungan (fisik,
psikologis, sosial) yang dapat menunjang keberhasilan
penanggulangan masalah atau kesembuhan penyakit.
2. Apa yang keluarga ketahui alasan pentingnya menjaga
kesehatan lingkungan (sebutkan data lingkungan yang
maladaptif)

V Kemampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan:


1. Jelaskan apa saja yang diperoleh dari Polindes/
Pustu/Puskesmas/RS.
2. Adakah hambatan yang dihadapi untuk memanfaatkan
sarana/ fasilitas kesehatan.

Analisis data
NO DATA Diagnosis Keperawatan
1 Data subjektif: Gangguan rasa nyaman,
Keluarga mengatakan anak S baru mendapatkan haid nyeri haid pada keluarga
2 bulan yll, Anak S mengalami nyeri haid yang Bpk SW khususnya anak
biasanya timbul 1-2 hari lamanya sebelum haid. S berhubungan dengan
ketidakmampuan
Anak S mengatakan bila haid badan terasa lemas, keluarga merawat
malas melakukan aktivitas, mudah lelah. anggota keluarga yang
mengalami nyeri haid.
Keluarga mengatakan bila nyeri haid diobati dengan
feminax 1 butir sehari saat nyeri yang dibeli di warung
sebelah rumah dan minum air teh hangat.
Keluarga mengatakan tidak tahu penyebab, akibat dan
cara perawatan nyeri haid.

Data objektif :
Anak S tampak nyeri tekan pada perut

2 Data Subjektif: Risiko kerusakan


Anak DD mengalami biang keringat hampir di seluruh integritas kulit pada
tubuhnya, wajah, lengan, punggung, dada. keluarga Bpk SW
khususnya anak DD
Ibu I mengatakan biang keringat yang dialami anak berhubungan dengan
DD sudah 1 bulan yll, tidak diobati apapun, biasanya ketidakmampuan
bila gatal cukup digaruk saja, terjadi akibat udara keluarga merawat anak
panas. dengan biang keringat.

Ibu I mengatakan tidak tahu cara perawatan biang


keringat.

Data objektif:
Anak DD tampak sering menggaruk badannya.

Terdapat biang keringat di sekujur badan, wajah,


lengan, punggung, dada.

3 Data subjektif: Risiko terjadinya cidera


Keluarga mengatakan anak D, Anak DD sering pada keluarga Bpk SW
bermain bersama tetangga dan saudaranya berlari-khususnya anak D
larian. berhubungan dengan
ketidakmampuan
Ibu I mengatakan kemarin anak D jatuh karena keluarga menciptakan
berlarian dengan temannya. lingkungan yang dapat
memfasilitasi
Data Objektif: keselamatan bagi
Tampak pengawasan terhadap permainan anak-anak anggota keluarga.
kurang, sehingga terkadang mereka saling gulat,
bertinju, menendang sesama mereka.

4 Data subjektif: Harga diri rendah pada


Keluarga mengatakan anak S termasuk anak yang anak S di keluarga Bpk
pendiam dan jarang bergaul dengan tetangga. SW berhubungan dengan
ketidakmampuan
Anak S mengatakan sangat malu dengan adanya keluarga mempersiapkan
jerawat diwajahnya, sudah diobati dengan obat jerawat perubahan yang terjadi
tetapi belum juga sembuh. pada remaja.

Anak S mengatakan tidak tahu cara merawat jerawat.

Data Objektif:
Anak S tampak pendiam, cenderung menunduk dan
pemurung. Tampak jerawat di hamper seluruh wajah
anak S.

5 Data subjektif: Ketidakefektifan


Anak S mengatakan jarang membicarakan masalah komunikasi remaja
remaja dengan ibu I karena merasa segan dan tidak dengan orang tua di
bebas. keluarga Bpk SW
berhubungan dengan
Ibu I mengatakan sangat heran dengan anak S, sampai- ketidakmampuan
sampai kalau sakitpun jarang minta tolong ke ibu I. keluarga mempersiapkan
pertumbuhan dan
perkembangan remaja.
Anak S mengatakan senang membicarakan masalah
remaja dengan sepupu dan teman sekolahnya karena
merasa bebas dan nyaman.

Data objektif:
Terlihat anak S jarang komunikasi dengan ibu I.

B. Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi

No Diagnosis Rencana Hari/tgl Evaluasi Paraf


Keperawatan Keperawatan Pelaksanaan

1 Gangguna rasa nyaman, Diskusikan Tanggal 13-8-2009. Subyektif (S):


nyeri haid pada dengan Dengan -Keluarga mengatakan
keluarga Bpk SW keluarga menggunakan nyeri haid yang terjadi
khususnya anak S tentang: leaflet: pada anak s termasuk
berhubungan dengan 1. Pengertian Mendiskusikan nyeri ringan dengan
ketidakmampuan haid. bersama keluarga skala 2, terjadi 1-2 hari
keluarga merawat 2. Tanda dan tentang: menjelang haid.
anggota keluarga yang gejala haid. -Pengertian haid. -Keluarga mengatakan
mengalami nyeri haid. 3. Penyebab -Gejala sebelum haid merupakan proses
nyeri haid haid. meluruhnya pelepasan
4. Rentangan -Penyebab nyeri sel telur yang tidak
nyeri yang haid. dibuahi.
dialami remaja -Akibat bila nyeri -Keluarga mengatakan
untuk haid tidak diatasi. gejala yang biasanya
mengambil terjadi sebelum haid
keputusan Menanyakan pada adanya perasaan malas
selanjutnya. keluarga tentang beraktivitas, lemas,
5. Cara hal-hal yang belum emosi labil, nyeri
perawatan nyeri dimengerti kepala.
haid. menyangkut -Keluarga mengatakan
6. Lingkungan pengertian, gejala, nyeri haid pada remaja
dan komunikasi penyebab nyeri disebabkan karena
yang efektif haid. hormone, posisi rahim,
untuk penyakit infeksi, factor
mengurangi Meminta keluarga psikis.
nyeri haid. untuk menjelaskan
7. Manfaat kembali pengertian, Objektif (O):
fasilitas gejala, penyebab Keluarga menyimak
kesehatan. nyeri haid. setiap penjelasan
dengan baik.
Demonstrasikan Memberi pujian atas
cara perawatan jawaban yang benar Analysis (A):
nyeri haid dari keluarga. Masalah tercapai
seperti yoga, sebagian
imagery guided, Motivasi keluarga
nafas dalam, untuk merawat Planning (P):
relaksasi, nyeri haid pada -Identifikasi kembali
thermal terapy. anak S. adanya nyeri haid
berlanjut pada
Beri Bersama keluarga pertemuan selanjutnya.
kesempatan identifikasi adanya -Lanjutkan tentang
keluarga untuk nyeri haid berlanjut. bagaimana
bertanya mengidentifikasi nyeri
tentang hal yang haid untuk
belum jelas. pengambilan
keputusan yang akan
Beri pujian diambil keluarga.
positif atas -Lanjutkan tentang
upaya keluarga cara mengatasi nyeri
dalam menilai haid dengan
keberhasilan menggunakan imagery
yang dilakukan. guided, thermal terapy.

Anjurkan
keluarga untuk
periksa ke
pelayanan
kesehatan bila
haid lebih dari 1
kali sebulan
dengan jumlah
banyak dan rasa
nyeri hebat.

Tgl 17-8-2009 Subjektif (S):


Keluarga mengatakan
Dengan merawat anak S nyeri
menggunakan haid dengan kompres
leaflet: hangat dan relaksasi
-Menggali nafas dalam.
pengetahuan -Keluarga mengatakan
keluarga dalam nyeri haid yang terjadi
mengatasi nyeri pada anak S dapat
haid. disebabkan karena
psiskis dan makanan
- yang kurang sehat.
Mendemonstrasikan -Keluarga mengatakan
kepada keluarga sudah ke pelayanan
cara mengatasi kesehatan untuk
nyeri haid. berobat.

-Meminta keluarga Objektif(O):


untuk redemonstrasi Keluarga
cara mengurangi mendemonstrasikan
nyeri haid. cara mengatasi nyeri
haid sesuai dengan
-Mendiskusikan anjuran.
cara menciptakan
lingkungan yang Analysis (A):
tenang, komunikasi Masalah tercapai
efektif, menjaga sebagian
makanan dan psikis
untuk mengurangi Planning (P):
nyeri haid. -Evaluasi kembali cara
mengatasi nyeri haid .
-Memotivasi -Evaluasi kembali cara
keluarga untuk modifikasi lingkungan
mengunjungi untuk mengurangi
pelayanan nyeri haid berlanjut
kesehatan bila nyeri dengan menciptakan
haid berlanjut. suasana tenang dan
komunikasi.

Pemantauan asuhan keperawatan keluarga di Puskesmas dilakukan secara periodik setiap


bulan oleh Kepala Puskesmas dan perawat koordinator. Hasil pemantauan terhadap
pencapaian indiator kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningakatan kinerja
perawat serta peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. Penilaian dilaksanakan
minimal setahun sekali, meliputi aspek input, proses dan output, berguna untuk masukan
dalam penyusunan perencanaan kegiatan Puskesmas tahun berikutnya, seperti gambar 7.2.
Gambar 7.2
Pengorganisasi Perkesmas di Puskesmas
PENGORGANISASIAN DI PUSKESMAS
PENANGUNGJAWAB PERKESMAS DI PUSKESMAS
KEPALA PUSKESMAS

PENANGGUNGJAWAB TEKNIS
PERAWAT KOORDINATOR

PERAWAT P J PERAWAT P J PERAWAT PJ


DARBIN /DESA DARBIN/DESA DARBIN/ DESA

PERAWAT PERAWAT PERAWAT PERAWAT PERAWAT PERAWAT


PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA

KADER

INDIVIDU, KELUAGA, KELOMPOK/


Ditwat MASYARAKAT PRIORITAS 36

Pencatatan dan pelaporan kegiatan perawat Puskesmas, dicatat dalam:


a. Register : Buku/ format pendaftaran tentang identitas pasien rawat jalan, rawat inap sesuai
dengan yang digunakan di Puskesmas, kohort pembinaan keluarga rawan kesehatan.
b. Formulir asuhan keperawatan keluarga (menggunakan formulir pengkajian tahap I dan
formulir pengkajian tahap II)
c. Formulir pengkajian individu yang digunakan bagi individu pasca rawat inap di RS atau
Puskesmas.
d. Family folder yang merupakan kumpulan berkas keluarga yang memuat catatan status
kesehatan keluarga maupun individu yang disimpan dalam satu map yang diperlukan untuk
pembinaan keluarga.
e. Buku inventarisasi peralatan perkesmas yang mencatat tentang hal-hal yang berkaitan
dengan perkesmas.
DAFTAR PUSTAKA:
Ajik, S. (1995). Kelompok sebaya sebagai media informasi kesehatan masalah seks
remaja. Buletin penelitian FKM UI. Jakarta.2 (3).

Allender, J.A & Spradley, B.W (2001). Community health and nursing, concept and
practice, Lippincott : California.

Anderson, E.T & Mc Farlane, J.M. (2000). Community as partner, theory and practice
nursing, Lippincott : Philadelpia.

Clark, M.J. (1999), Nursing in the community. Stanford : CT Appleton & Land.

Departemen Kesehatan, (2003), Kemitraan menuju Indonesia sehat 2002, Jakarta

__________________, (2006), Pedoman penyelenggaraan keperawatan kesehatan


masyarakat di Puskesmas, Jakarta.

___________________. (2006). Pedoman kegiatan perawat kesehaan masyarakat di


Puskesmas. Jakarta.

Effendy, N. (1998). Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat, Jakarta: EGC

Ervin, N.E, (2002). Advance community health nursing practice, Prentice Hall : New
Jersey.

Fleming, M.L & Parker, E. (2001), Health promotion. Docupro: Canbera

Friedman, M.M. (1998). Family nursing research. Theory and practice, 4th edition.
Connecticut : Applenton & Lange.

Friedman, Bowden, Jones. (2003). Family nursing research, theory & practice, fifth
edition. New Jersey : Pearson Education Inc.

George, J.B. (1995). Nursing theories. New Jersey : Appleton & Lange

Helvie, C.O. (1998). Advance practice nursing in the community. London : SAGE
Publication.

Hitchcock, J.E, Schubert, P.E & Thomas, S.A. (1999). Community health nursing caring
in action. New York: Delmar Publishers.

ICN. (2002). Nurses always there for you : caring for families. Geneva : Switzerland.

Mc Murray. (2003). Community health and wellness. Philadelphia : Mosby.

Nies, M.A & Swanson, J.M. (1997). Community health nursing, promoting the health of
aggregate. Philadelpia : WB Saunders

Notoatmodjo, S. (2005). Promosi kesehatan teori dan aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta

Partao, Z.A. (2006). Tehnik negosiasi dan diplomasi, untuk insan public relations.
Jakarta : PT Indeks

Porche, D.J. (2004). Public and community health nursing practice : a population based
approach. California : SAGE Publication, Inc

Stanhope, M dan Lancaster, J. (2000). Community health nursing : Process and practice
for promoting health. St Louis : Mosby.

________________________. (2004). Community and publich health nursing, sixth


edition. St Louis : Mosby
Tomey, A.M. (1994). Nursing theorists and their work. Mosby : Philadelphia

WHO. (2003). Modul ketrampilan managerial SPMKK. Jakarta : BKKBN


Lampiran 1

Web of caution keluarga Bpk RS dengan masalah kesehatan reproduksi remaja

Gangguan hubungan
interpersonal antara
remaja dengan orang
tua dan teman.

Gangguan aktifitas
Harga diri rendah sehari-hari

Risiko infeksi organ Komunikasi tidak Gangguan rasa nyaman


Reproduksi : keputihan efektif dengan orang nyeri haid pada keluarga
tua/ keluarga.

Kebiasaan personal Kurang pemahaman Adanya kontraksi otot


hygiene keluarga keluarga tentang kese rahim saat pelepasan
rendah. hatan reproduksi dan dinding rahim waktu
personal hygiene. haid.

Berdasarkan analisis data yang tergambar dalam web of caution keluarga Bpk RS, masalah
asuhan keperawatan Bpk RS adalah:
1. Gangguan aktivitas sehari-hari pada anak PT berhubungan dengan adanya gangguan rasa
nyaman nyeri haid.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri haid pada anak PT berhubungan dengan adanya kontraksi
otot dinding rahim saat pelepasan dinding rahim yang banyak mengandung pembuluh darah.
3. Gangguan hubungan interpersonal pola interakis antara remaja dengan orang tua dan
teman berhubungan dengan komunikasi tidak efektif dengan orang tua.
4. Komunikasi tidak efektif antara remaja dan orang tua berhubungan dengan kurangnya
pemahaman keluarga tentang kesehatan reproduksi dan personal hygiene.
5. Gangguan hubungan interpersonal pada anak PT berhubungan dengan harga diri rendah
6. Harga diri rendah pada anak PT berhubungan dengan adanya risiko infeksi organ
reproduksi (keputihan)
7. Risiko infeksi organ reproduksi wanita pada anak PT berhubungan dengan kurangnya
kebiasaan personal hygiene yang dilakukan sehari-hari.
8. Kurangnya personal hygiene yang dilakukan sehari-hari pada anak PT berhubungan
dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang kesehatan reproduksi dan personal hygiene.
9. Gangguan rasa nyaman nyeri haid pada anak PT berhubungan dengan komunikasi tidak
efektif antara remaja dengan orang tua.
10. Gangguan kontraksi otot rahim pada anak PT berhubungan dengan kurang pemahaman
keluarga tentang kesehatan reproduksi.
11. Risiko infeksi organ reproduksi (keputihan) pada anak PT berhubungan dengan
komunikasi yang tidak efektif antara remaja dengan orang tua.

Lampiran 2
Laporan Pendahuluan (LP) kegiatan asuhan keperawatan keluarga Bpk RS
(pertemuan ke III, Jumat/ 9 Agustus 2009)

A. Latar Belakang
1. Karakteistik keluarga Bapak RS
Pada pertemuan sebelumnya, petugas dan keluarga sudah mendiskusikan tentang perubahan
yang terjadi pada remaja wanita dan cara mengatasi masalah bau badan. Berdasarkan data
pengkajian sebelumnya dan hasil analisis data, didapatkan anak PT mengatakan mengalami
keputihan yang timbul 1-2 hari sebelum haid, berwarna putih kekuningan menempel di
celana dalam, tidak terasa gatal, tidak berbau. Kebiasaan anak PT dalam perawatan diri
seperti mandi rata-rata satu kali sehari, mengganti celana dalam kadang satu kali sehari,
mengganti pembalut 2 kali shari (pagi dan sore hari) dengan alas an air di sekolah kotor dan
malas ganti balutan. Anak PT mengatakan lebih senang curhat masalah remaja dengan
sepupu daripada dengan orang tua. Keluarga tidak tahu perlunya perawatan alat kelamin
remaja wanita dan risikonya seperti perlunya penggunaan celana dalam yang menyerap
keringat, penggunaan air bersih, cara membasuh alat kelamin. Fokus kegiatan pada
pertemuan kali ini adalah penyampaian pendidikan kesehatan kepada keluarga Bpk RS
mengenai perawatan organ reproduksi remaja wanita untuk mengurangi keputihan dan
mencegah terjadinya infeksi.

2. Data yang perlu dikaji lebih lanjut: -


3. Masalah keperawatan keluarga Bpk RS:
Risiko infeksi organ reproduksi pada remaja Anak PT di keluarga Bpk RS

B. Proses Keperawatan Keluarga


1. Diagnosis keperawatan keluarga : Risiko infeksi organ reproduksi pada remaja anak PT
di keluarga Bpk RS berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat kebersihan
diri remaja.
2. Tujuan umum :
Setelah pertemuan selama 60 menit, diharapkan keluarga dapat merawat anggota keluarga
yang mengalami keputihan setelah mendengarkan penjelasan petugas.
3. Tujuan khusus :
Setelah pertemuan selama 60 menit, diharapkan remaja dan keluarga dapat:
a. Mengenal kemungkinan terjadinya infeksi organ reproduksi seperti keputihan dan
akibatnya :
- Keluarga dapat menjelaskan kembali jenis keputihan.
- Keluarga dapat menjelaskan tanda-tanda keputihan dengan benar.
- Keluarga dapat menjelaskan penyebab keputihan yang terjadi.
b. Mengambil keputusan untuk merawat keluarga dengan keputihan.
c. Mencegah keputihan dengan melakukan perawatan organ reproduksi :
- Keluarga dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan kembali cara perawatan
organ reproduksi untuk mencegah infeksi dan keputihan.
d. Modifikasi lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah dan pakaian remaja
untuk mencegah keputihan.
e. Memanfaatkan pelayanan kesehatan bila keputihan berlanjut.

C. Implementasi
1. Metode : Ceramah, diskusi, demonstrasi
2. Media dan alat : Leaflet, lembar balik, alat/bahan (pantom)
3. Waktu dan tempat : Jumat/ 2 Agustus 2009 di keluarga Bpk RS, RT 02 RW 10
Kelurahan Gentengan pukul 12.30-13.30 wita.

D. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria struktur :
a. LP sudah dibuat dan dikonsultasikan kepada pembimbing 2 hari sebelum
pelaksanaan.
b. Media sudah disiapkan dan tersedia.
c. Kontak dengan keluarga sudah dilakukan.
2. Kriteria proses :
a. Selama kegiatan, keluarga aktif bertanya tentang hal-hal yang belum jelas.
b. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
c. Kontrak telah diingatkan oleh petugas dan keluarga
3. Kriteria hasil :
a. 100% keluarga dapat menyebutkan kembali jenis keputihan.
b. 90% keluarga dapat menjelaskan tanda keputihan.
c. 90% keluarga dapat menjelaskan penyebab keputihan.
d. 90% keluarga dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan kembali cara
perawatan organ reproduksi wanita.
e. Kontrak pertemuan selanjutnya dapat disepakati bersama keluarga.

Denpasar, 9 Agustus 2009


Petugas,

(………………………..)

BIODATA PRIBADI PENULIS


 Nama : Ns. Komang Ayu Henny Achjar, SKM, MKep, SpKom.
 TTL : Lumajang / 21 Maret 1966
 Alamat : Jl. Taman Sekar IX no 4 Padang Griya, Padang Sambian, Denpasar
 NIP : 196603211988032001
 Pangkat/Gol : Pembina / IV a
 Phone : 08124631094
 Tempat tugas : Poltekkes Dep Kes Denpasar, Sejak 1988.
 Bidang mata ajar : Komunitas
 Email : della_ganda@yahoo.com
 Blogspot : http//komanghenny.blogspot.com
 Riwayat Pendidikan

No Tingkat Nama Institusi Tempat Tahun


Lulus
1 SMA SMAN I Banyuwangi 1984

2 Diploma (D3) AKPER DepKes R.I Jakarta 1987

3 Sarjana (S1) Sarjana Kesehatan UNAIR Surabaya 1994


Masyarakat
4 Pasca Sarjana -S2 Keperawatan UI Jakarta 2006
(S2)

5 Spesialis I Spesialis Keperawatan UI Jakarta 2007


Komunitas

 Riwayat Posisi/Jabatan-Sampai Saat Ini


No Posisi/Jabatan Institusi Tahun Keterangan
1 Kepala Sub seksi laboratorium Akper Denpasar 1998-1999
klinik
2 Kepala sub seksi pendidikan dan Akper Denpasar 1999-2002
akademik
3 Kepala bidang kelompok fungsional Akper Denpasar 2002-2004
dosen komunitas
4 Sekretaris jurusan keperawatan Jurusan keperawatan 2002-2004
Poltekkes Denpasar
5 Sekretaris Persatuan Donor Darah Dinkes Propinsi Bali 1999-2002
Indonesia (PDDI) tingkat Propinsi
Bali
6 Ketua bidang pendidikan dan Propinsi Bali 2000-2004
latihan PPNI
7 Sekretaris Lembaga Penjaminan Poltekkes Denpasar 2007-2011
Mutu (LPM) tingkat Poltekkes
Denpasar
8 Tim pakar penelitian Risbinakes Poltekkes Denpasar 2007-2009

9 Kepala bidang kelompok fungsional Jurusan keperawatan 2007-2011


dosen komunitas

 Penelitian/ Karya Tulis yang pernah dilakukan :

No Judul Tahun Publikasi ilmiah


1 Perilaku pengobatan tradisional masyarakat 1994 Jurnal IKM Unair
desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi
2 Perilaku ibu hamil terhadap antenatal care di 1995 Biaya Dinkes
Propinsi Bali
kelurahan Bebalang Kecamatan Bangli
Kabupaten Bangli (peneliti utama)
3 Studi komparatif efektifitas minyak kelapa dan 1997-1999 Biaya Risbinakes
kamfer spiritus untuk mencegah decubitus di Pusdiknakes
RS umum Propinsi Bali (peneliti kedua) Jakarta (majalah
Diknakes)
4 Dampak semiloka terhadap peningkatan peran 1999 Biaya Risbinakes
keluarga dalam penanggulangan demam Pusdiknakes
berdarah di Desa Tegal Kerta Denpasar Jakarta (majalah
(peneliti utama) Diknakes)
5 Studi eksplorasi tentang manfaat air tajin untuk 1999/2000 Biaya Risbinakes
memperbanyak produksi ASI pada ibu pasca Pusdiknakes
persalinan di kotamadya Denpasar dan Jakarta (majalah
kabupaten Badung (peneliti kedua). Diknakes)
6 Persepsi konsep diri wanita pasca mastektomi di 2000 Biaya Risbinakes
Pusdiknakes
RSUP Sanglah Denpasar (peneliti utama).
Jakarta (majalah
Diknakes)
7 Pengaruh penyampaian pendidikan kesehatan 2006 Jurnal Poltekkes
reproduksi oleh kelompok remaja (peer group) DepKes
terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan Jogjakarta
reproduksi remaja di Kelurahan Kemiri Muka
Depok (peneliti utama).
8 Aplikasi community as parthner dan health 2007 Perpustakaan UI
promotion model dalam penatalaksanaan (dalam rangka
kesehatan reproduksi dan nyeri haid pada Spesialis
aggregate remaja. keperawatan)
9 Perilaku seksual remaja berdasarkan pola Jurnal Skala
interaksi keluarga di SMA wilayah kerja 2008/2009 Husada Poltekkes
Puskesmas III Denpasar Utara (peneliti utama) DepKes Denpasar
(Sept 09)
10 Perilaku caring perawat dalam penerapan Biaya Daparmas
asuhan keperawatan klien rawat inap di Rumah 2008/2009 Poltekkes
Sakit Sanglah Denpasar (peneliti kedua) Denpasar

Penulisan Buku/ diktat/ makalah


Kegiatan Tahun Penerbit Publikasi
No
1 Diktat Kesehatan 2009 Kalangan terbatas Perpustakaan
Reproduksi remaja Poltekkes
Jurusan
Keperawatan
2 Diktat Tips untuk 2009 Kalangan terbatas Perpustakaan
kesehatan reproduksi Poltekkes
remaja Jurusan
Keperawatan
3 Metoda dan media 2009 Kalangan terbatas Perpustakaan
pembelajaran Poltekkes
Jurusan
Keperawatan
4 Pro kontra 2008 Jurnal Skala Husada Poltekkes Diterbitkan
pemanfaatan ATM Denpasar vol 5 september 2008 kalangan
kondom dalam terbatas
penanggulangan HIV poltekkes
AIDS pada remaja Denpasar
http//komanghenny.blogspot.com
Internet
5 Save community 2008 http//komanghenny.blogspot.com Internet
(Pelayanan
keperawatan
komunitas pantai) Majalah Vijaya Cakram, Jurusan Diterbitkan
keperawatan untuk
kalangan
jurusan
keperawatan

6 Pedoman 2008 Poltekkes DepKes Denpasar Diterbitkan


penyusunan karya kalangan
tulis ilmiah untuk terbatas
mahasiswa poltekkes poltekkes
Depkes Denpasar Denpasar
(edisi revisi)

7 Panduan penilaian 2009 Kalangan terbatas Perpustakaan


kompetensi bidang Poltekkes
komunitas kurikulum Jurusan
berbasis kompetensi Keperawatan
DIII keperawatan
8 Terapi modalitas 2009 Disampaikan pada saat Proseding
(therapeutik simposium nasional di Denpasar Direktorat
modalities) sebagai Poltekkes
alternatif tindakan DepKes
mengatasi nyeri haid Denpasar
remaja
http//komanghenny.blogspot.com Internet

9 Asuhan keperawatan 2009 Kalangan terbatas Perpustakaan


komunitas Poltekkes
Jurusan
Keperawatan

10 Asuhan keperawatan 2009 Penerbit EGC Nasional


komunitas
(Teori dan aplikasi)

11 Terapi 2009 http//komanghenny.blogspot.com Internet


komplementer
(complementary
therapiest) sebagai
alternatif tindakan
mengatasi nyeri haid.
12 Klinik pelayanan 2009 http//komanghenny.blogspot.com Internet
keperawatan
komunitas pantai
(nursing care for
beach community)

 Pengalaman Seminar
No Kegiatan Tahun Tempat Keterangan
1 Pembicara seminar nasional “Terapi modalitas dan 14-4- Poltekkes Pembicara
terapi komplementer untuk penanganan nyeri haid 2009 DepKes
Denpasar
2 Moderator Seminar nasional keperawatan 21 Des FIK Moderator
2008 UNUD
Dps
3 Moderator seminar nasional keperawatan “New 3-8-2009 RSUP Moderator
perspective wound care” sanglah
Dps
4 Pembicara “Pelatihan Perkesmas di Kota Denpasar” 18-20 Dinkes Pembicara
untuk Dokter dan perawat Puskesmas agust 09 Kota Dps
dan 24-
26 agust
09

Denpasar, 23 Juli 2009

(Ns.Komang Ayu Henny, SKM, Mkep, SpKom)