Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum

Elektronika Telekomunikasi
Osilator Op-Amp

Dosen Pengajar:
Isa Mahfudi, S.S.T

OLEH :

Moch. Ali Wasil


NIM. 1731130069

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
Unit 5

OSILATOR OP-AMPP

5.1. Tujuan

1. Menghubungkan osilator jembatan wein.

2. Menghitung dan mengukur frekuensi osilator.

5.2. Alat dan Bahan

1. IC 741 : 1 buah

2. R1 = 1 kΩ : 1 buah

3. R2 = 1 kΩ : 1 buah

4. R3 = 22 kΩ : 1 buah

5. VR = 10 kΩ : 1 buah

6. C1 = 0.1 µF : 1 buah

7. C2 = 0.1 µF : 1 buah

8. Osiloskop : 1 buah

9. Generator sinyal : 1 buah

10. Multimeter : 1 buah

11. Power supply : 1 buah

12. Modul : 1 buah

13. Kabel penghubung secukupnya

5.3. Teori dasar

Salah satu osilator gelombang sinus paling sederhana yang menggunakan jaringan RC
menggantikan rangkaian tangki tuned LC konvensional untuk menghasilkan bentuk
gelombang keluaran sinusoidal, disebut Osilator Jembatan Wien .

Osilator Jembatan Wien disebut demikian karena rangkaiannya didasarkan pada


bentuk selektif frekuensi rangkaian Jembatan Wheatstone. Osilator Jembatan Wien adalah
rangkaian penguat RC dua tahap yang memiliki stabilitas yang baik pada frekuensi
resonannya, distorsi rendah dan sangat mudah disesuaikan sehingga menjadikan rangkaian ini
populer sebagai osilator frekuensi audio namun pergeseran fasa dari sinyal keluarannya
sangat jauh. Berbeda dengan pergeseran sebelumnya Osilator RC .
Osilator Jembatan Wien menggunakan rangkaian umpan balik yang terdiri dari
rangkaian RC seri yang dihubungkan dengan RC paralel dari komponen nilai yang sama yang
menghasilkan fase penundaan atau rangkaian fasa di muka bergantung pada frekuensi. Pada
frekuensi resonansi ƒr pergeseran fasa adalah 0o . Perhatikan rangkaian di bawah ini.

1. Jaringan Pergeseran Fasa RC

Gambar 5.1 Jenis pergeseran Fasa RC

Jaringan RC di atas terdiri dari rangkaian RC seri yang terhubung ke RC


paralel yang pada dasarnya membentuk High Filter Pass yang terhubung ke Low
Filter Pass yang menghasilkan frekuensi orde kedua yang sangat selektif Band Filter
Pass dengan faktor Q yang tinggi pada frekuensi yang dipilih, ƒr.

Pada frekuensi rendah reaktansi dari kapasitor seri ( C1 ) sangat tinggi


sehingga bekerja sedikit seperti rangkaian terbuka, menghalangi sinyal input di Vin
yang menghasilkan hampir tidak ada sinyal output, Vout .

Demikian juga, pada frekuensi tinggi, reaktansi kapasitor paralel, ( C2 )


menjadi sangat rendah, jadi kapasitor paralel yang terhubung ini bekerja sedikit
seperti arus pendek di seluruh output, jadi sekali lagi tidak ada sinyal output.

Jadi harus ada titik frekuensi antara dua ekstrem C1 yang menjadi rangkaian
terbuka dan C2 dihubungkan arus pendek dimana tegangan outputnya, V OUT
mencapai nilai maksimumnya. Nilai frekuensi dari bentuk gelombang input di mana
ini terjadi disebut Osilator Frekuensi Resonan , ( ƒr ). Pada frekuensi resonansi ini,
reaktansi rangkaian sama dengan resistansinya, yaitu: Xc = R, dan perbedaan fasa
antara input dan output sama dengan nol derajat. Besarnya tegangan output maksimal
dan sama dengan sepertiga (1/3) dari tegangan input seperti yang ditunjukkan.

2. Output Gain dan Pergeseran Fasa Osilator


Gambar 5.2 Gambar Kurva Output Gain

3. Frekuensi Osilator Jembatan Wien

Dimana:

 ƒr adalah Frekuensi Resonansi di Hertz

 R adalah Resistansi di Ohm

 C adalah Kapasitansi di Farad

Dikatakan sebelumnya bahwa besarnya tegangan output, Vout dari jaringan RC


berada pada nilai maksimum dan sama dengan sepertiga (1/3) dari tegangan input , Vin
untuk memungkinkan terjadinya osilasi. Tapi kenapa sepertiga dan bukan nilai lain.
Untuk memahami mengapa output dari rangkaian RC di atas perlu sepertiga, yaitu
0.333xVin , kita harus mempertimbangkan impedansi kompleks ( Z = R ± jX ) dari dua
rangkaian RC yang terhubung.
Kita tahu dari tutorial Teori AC bahwa bagian nyata dari impedansi kompleks adalah
Resistansi, R sedangkan bagian imajiner adalah Reaktansi, X . Saat kita berhadapan
dengan kapasitor disini, bagian reaktansi akan menjadi reaktansi kapasitif, Xc .

4. Jaringan RC

Jika kita menggambar ulang jaringan RC di atas seperti yang ditunjukkan, kita
dapat dengan jelas melihat bahwa itu terdiri dari dua rangkaian RC yang dihubungkan
bersamaan dengan output yang diambil dari persimpangan mereka. Resistor R1 dan
Kapasitor C1

Gambar 5.3 Gambar rangkaian jaringan RC

Mari kita berasumsi kemudian bahwa nilai-nilai komponen R1 dan R2 adalah sama di:
12kΩ , kapasitor C1 dan C2 adalah sama di: 3.9nF dan frekuensi supply , ƒ adalah
3.4kHz.

5. Rangkaian Seri

Total impedansi dari kombinasi seri dengan resistor, R1 dan Kapasitor, C1 adalah
sederhana:
Kita sekarang tahu bahwa dengan frekuensi supply, 3.4kHz, reaktansi kapasitor sama
dengan resistansi resistor pada 12kΩ . Ini kemudian memberi kita impedansi seri atas ZS
dari 17kΩ . Untuk impedansi paralel bawah ZP , karena kedua komponen secara paralel,
kita harus memperlakukan ini secara berbeda karena impedansi rangkaian paralel
dipengaruhi oleh kombinasi paralel ini.

6. Rangkaian Paralel

Impedansi total dari kombinasi paralel yang lebih rendah dengan resistor, R2 dan
kapasitor, C2 diberikan sebagai:

Pada frekuensi supply 3400Hz, atau 3,4 kHz, impedansi DC gabungan dari rangkaian
paralel RC menjadi 6kΩ (R|| Xc) dengan jumlah vektor dari impedansi paralel yang
dihitung sebagai:

Jadi kita sekarang memiliki nilai untuk jumlah vektor dari impedansi seri: 17kΩ ,
(ZS=17kΩ) dan untuk impedansi paralel: 8.5kΩ , (ZP = 8.5kΩ). Oleh karena itu total
impedansi output, Zout dari jaringan pembagi tegangan pada frekuensi yang diberikan
adalah:

Kemudian pada frekuensi osilasi, besarnya tegangan output, Vout akan sama dengan Zout
x Vin yang seperti yang ditunjukkan sama dengan sepertiga (1/3) dari tegangan input, Vin
dan ini adalah jaringan selektif frekuensi RC yang terbentuk dasar rangkaian Osilator
Jembatan Wien. Jika sekarang kita menempatkan jaringan RC ini di penguat non-
pembalik yang memiliki gain 1+R1/R2 rangkaian osilator jembatan wien dasar berikut
dihasilkan.

7. Rangkaian Osilator Jembatan Wien Sederhana


Gambar 5.4 Gambar rangkaian jembatan Wien

Output penguat operasional diberi umpan balik ke input penguat. Salah satu
bagian dari sinyal umpan balik dihubungkan ke terminal input pembalik (umpan balik
negatif atau degeneratif) melalui jaringan pembatas resistor R1 dan R2 yang
memungkinkan penguatan gain-tegangan disesuaikan dalam batas sempit. Bagian
lain, yang membentuk kombinasi seri dan paralel R dan C membentuk jaringan
umpan balik dan diberi umpan balik ke terminal input non-pembalik (umpan balik
positif atau regeneratif) melalui jaringan jembatan RC Wien dan kombinasi umpan
balik positif inilah yang menimbulkan osilasi. Jaringan RC terhubung di jalur umpan
balik positif penguat dan memiliki pergeseran fasa nol satu frekuensi saja. Kemudian
pada frekuensi resonansi yang dipilih, ( ƒr ) tegangan yang diterapkan pada input
pembalik dan non-pembalik akan sama dan "dalam fase" sehingga umpan balik positif
akan membatalkan sinyal umpan balik negatif yang menyebabkan rangkaian
berosilasi.

Gain tegangan dari rangkaian penguat HARUS sama juga atau lebih besar dari
tiga "Gain = 3" untuk osilasi dimulai karena seperti yang telah kita lihat di atas,
inputnya 1/3 dari output. Nilai ini, ( Av ≥ 3 ) diatur oleh jaringan resistor umpan balik,
R1 dan R2 dan untuk penguat non-pembalik ini diberikan sebagai rasio 1+ (R1/R2) .
Juga, karena keterbatasan gain loop terbuka dari penguat operasional, frekuensi di
atas 1MHz tidak dapat dicapai tanpa menggunakan frekuensi tinggi op-amp khusus.

5.4. Gambar Rangkaian


Gambar 5.5 Modul Rangkaian Osilator pergeseran fasa

5.5. Prosedur dan Hasil Percobaan

1. Percobaan Jaringan Lead lag/jaringan RC

1. Buatlah Rangkaian seperti pada gambar 5.5.

2. Dengan osiloskop mengatur Volt/div osiloskop sebesar 10 Vpp.

3. Hubungkan output generator fungsi dengan meggunakan kabel bnc to bnc


dan bnc to banana.

Gambar 5.6 generator fungsi

3. Hubungkan kabel bnc to bnc ke chanel A osiloskop (sebagai Vin) dan


hubungkan kabel BNC to banana ke ke dua titik Vi pada modul rangkaian.
Gambar 5.7 Modul Rangkaian Osilator Jaringan lead lag

4. Dengan menggunakan fungsi generator set frekuensi Fo dan set amplitudo


agar 10 Vpp.

5. Dengan menggunakan osiloskop ukur apa yang terjadi pada titik seperti
gambar 5.7 dan amati bentuk gelombangnya lakukan langkah 4 dengan
mengubah frekuensi sesuai table 5.1.

berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :

Tabel 5.1 Pengukuran VR sebelum berisolasi

F Vpp Ap
4 kHz 2,8 V -11 dB
3 kHz 3,2 V -9,8 dB
2,5 kHz 3,4 V -9,8 dB
Atas
2,3 kHz 3,4 V -9,8 dB
2 kHz 3,6 V -8,8 dB
1,7 kHz 3,6 V -8,8 dB
fosc 1,5 kHz 3,6 V -8,8 dB
1,2 khz 3,6 V -8,8 dB
1 kHz 3,2 V -9,8 dB
Bawah
800 Hz 3,2 V -9,8 dB
500 Hz 3,8 V -8,4 dB

2. Percobaaan Rangkaian Osilator jembatan Wein

1. Buatlah Rangkaian seperti pada gambar 5.5.

2. Ukur power supply agar tegangan ouput dari power supply 15V.

3. Hubungkan output power supply (+) ke Kaki nomer 7 dan (-) ke kaki
nomer 4 sedangkan Com ke ground pada modul rangkaian dengan
menggunakan kabel banana to banana.
Gambar 5.8 Power Supply

3. Dengan menggunkan generator fungsi hubungkan output osiloskop pada Vin


pada modul rangkaian dengan menggunakan kabel bnc to banana.

Gambar 5.9 Generator fungsi

4. Dengan menggunakan osiloskop catat hasil frekuensi dan Vpp.

5. Putar VR hingga bentuk gelombang terlihat jelas.

berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :

Tabel 5.2 kondisi berisolasi

Teori Osiloskop
1
Fosc=
2 πRC
1 103,7
= 3
2 π (1 x 10 x 0,1 x 10−6 )
= 15 Khz

5.6. Analisa dan Pembahasan


1. Percobaan jaringan lead lag

1 1
Perhitungan : Fosc= = 3
2 πRC 2 π (1 x 10 x 0,1 x 10−6 )

= 15 Khz

 Ap = Vout/Vin

= 3,4/10 = 0,34

 Ap(dB) = 20 log Ap

= 20 log 0,34 = -9,3 dB

 Ap = Vout/Vin

= 3,6/10 = 0,36

 Ap(dB) = 20 log Ap

= 20 log 0,36 = -8,8 dB

 Ap = Vout/Vin

= 3,2/10 = 0,32

 Ap(dB) = 20 log Ap

= 20 log 0,32 = -9,8 dB

 Ap = Vout/Vin

= 2,8/10 = 0,28

 Ap(dB) = 20 log Ap

= 20 log 0,28 = -11 dB

 Ap = Vout/Vin

= 3,8/10 = 0,38

 Ap(dB) = 20 log Ap

= 20 log 0,38 = -8,3 dB


5.7. Kesimpulan

1. Gain tegangan penguat harus lebih besar dari 3.

2. Jaringan RC dapat digunakan dengan penguat non-pembalik.

3. Resistansi input penguat harus tinggi dibandingkan dengan R sehingga


jaringan RC tidak kelebihan beban dan mengubah kondisi yang dibutuhkan.

4. Resistansi output penguat harus rendah sehingga efek pemuatan eksternal


diminimalkan.

5.8. Lampiran

1. Tabel 5.3 Jaringan lead lag


Ouput
Atas
Bawah
2. Tabel 5.4 Osilator jembatan wein

Output

5.9 Daftar Pustaka

http://www.tespenku.com/2018/01/osilator-jembatan-wien.html