Anda di halaman 1dari 6

Nama : AGUS PRIYANTO, S.

Pd
NO. Peserta PPG : 19051922010218

Tugas Akhir M4
TINJAUAN OLAHRAGA PADA ASPEK SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI

1. Implementasi yang diwujudkan oleh guru PJOK dalam meningkatkan stabilitas sosial-psikologis
dan memainkan peran dalam menggairahkan hidup sehari-hari, serta mengatasi kecemasan
dan keteganggan mental dalam menjalani kehidupan ditengah masyarakat modern saat ini yang
serba kompetitif.
A. Peran Guru PJOK Dalam Meningkatkan Stabilitas Sosial-Psikologis
Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidik harus dituntut untuk benar-benar
memahami mengenai segala bentuk perilaku, baik itu perilakunya sendiri ataupun perilaku orang-
orang yang terlibat dalam tugasnya termasuk perilaku peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar guru
mampu menerapkan kewajiban dan perannya dengan efektif, efisien dan bermanfaat nyata dalam
mencapai tujuan pendidikan di sekolah sebagai tempat dia mengajar. Berikut adalah beberapa
peran guru pjok dalam psikologi perkembangan :
 Membuat konsep yang tepat
Peran guru dalam psikologi perkembanga yang pertama adalah membuat konsep yang tepat.
Konsep yang dimaksud adalah konsep perkembangan dalam mewujudkan tujuan pendidikan
khususnya pengajaran PJOK. Dengan guru memahami psikologi perkembangan, maka akan lebih
mudah untuk memutuskan bentuk perubahan perilaku guna mencapaI tujuan pembelajaran.
 Strategi yang tepat
Selain membuat konsep tujuan yang tepat, guru PJOK harus memahami psikologi pendidikan atau
psikologi perkembangan, tepat mengambil strategi atau cara pengajaran yang sesuai dengan
karakteristik peserta didik, segala bentuk metode belajar dan gaya belajar yang sedang dihadapi
siswanya.
 Memberikan bimbingan atau konseling
Selain mampu memberikan pengajaran yang baik bagi peserta didik, peran guru PJOK dalam
psikologi perkembangan yang lain adalah seorang guru mampu memberikan saran psikokogis
yang tepat dan benar yakni dengan menumbuhkan hubungan interprsonal dalam suasana
keakraban antar individu satu dengan individu lainnya.
 Memberikan fasilitas dan mendorong motivasi belajar
Memfasilitasi merupakan usaha untuk meningkatkan segala bentuk potensi yang dimiliki
oleh siswa antara lain bakat, intelegensi dan minat. Dengan adanya fasilitas dan motivasi belajar
guru dapat memberikan pacuan semangat kepada siswanya dalam mencapai prestasi dalam
belajar.
 Suasana belajar kondusif
Belajar akan lebih efektif jika terjadi di dalam suasana yang kondusif. Dengan pengetahuan
psikologi yang baik, guru akan lebih mudah dalam mencipatakan suasanan yang kondusif di dalam
suatu pembelajaran kelas sehingga tujuan belajar menjadi lebih cepat tercapai sebab peserta didik
mendapatkan pelajaran dengan rasa senang.
 Lebih cepat tanggap dan berinteraksi
Guru dengan memiliki pemahaman psikologi yang baik akan lebih bisa membaca segala sesuatu
yang terjadi pada peserta didik. Seperti misalkan ketika ada seorang siswa yang akhir-akhir ini
mengalami penurunan prestasi, guru yang tanggap akan segera mencari informasi, berinteraksi
dengan siswa yang bersangkutan serta akan berusaha menjadi penasehat yang baik bagi
siswanya tersebut.
 Menilai dengan adil
Psikologi yang baik juga akan mengarahkan guru PJOK dalam memberikan penilaian secara adil
baik itu dari segi teknis penilaian, bentuk-bentuk prinsip penilaian guru terhadap siswa hingga pada
penentuan hasil-hasil pendidikan.
 Menguasai bahan materi
Dengan memiliki pemahaman psikologi yang baik, guru akan lebih bertanggung jawab untuk
mempersiapkan segala bentuk materi sehingga peserta didik dapat lebih mudah untuk menerima
dan memahami materi yang disampaikan.
 Memiliki pengetahuan yang luas
Selain memiliki pengetahuan tentang bahan ajar yang diajarkan di dalam maupun luar kelas, guru
PJOK seyogyanya juga harus memiliki pengetahuan yang luas dalam segala topik permasalahan
terbaru atau terupdate pada saat itu. Sebab, siswa yang memiliki pemikiran kritis tidak segan akan
lebih banyak bertanya apalagi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang baru.

 Sebagai mediator yang baik


Selain pengetahuan yang luas akan segala hal, guru yang memiliki pemaham psikologi yang baik
juga akan menguasai media pendidikan. Media pendidikan adalah alat bantu komunikasi agar
proses pembelajaran lebih efektif dan peserta didik dapat menangkap dengan jelas maksud dari
materi yang diajarkan.
Demikian peran guru dalam psikologi perkembangan. Guru bukan hanya sekedar
memberikan pelajaran atau materi namun guru dituntut untuk mengembangkan dan meningkatkan
faktor-faktor di dalam suasana pembelajaran sehingga peserta didik dapat menangkap materi
dengan lebih mudah.

B. Peran Guru PJOK Dalam Mengatasi Kecemasan dan Keteganggan Mental


Berikut upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh guru PJOK untuk mencegah dan mengurangi
kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui:
 Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa.
Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang
memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam
proses pembelajarannya.
 Mengembangkan “sense of humor”
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan “sense of
humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau “joke” yang dilontarkan
tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.
 Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break”
Terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif.. Dalam hal ini,
keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.
 Kegiatan pembelajaran di luar kelas
Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga
dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.
 Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat.
Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan
kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.
 Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas
Dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh
kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat
mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan
indisipliner pada siswanya.
 Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan
Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self
assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya
pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan
objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu
asesmen atau pengujian.
 Menanamkan kesan positif
Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat
memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan
positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas,
penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.
 Menyediakan sarana dan prasarana
Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan prasarana
pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis,
tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai
lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang
manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang
dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.
 Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna
mencegah dan mengatasi kecemasan siswa. Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di
sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.
Melalui upaya – upaya di atas diharapkan para siswa dapat terhindar dari berbagai bentuk
kecemasan dan keteganggan mental. Mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu
yang sehat secara fisik maupun psikis, yang pada gilirannya dapat menunjukkan prestasi belajar
yang unggul.

2. Olahraga yang terkelola secara baik atau paripurna mampu berperan bukan hanya sebagai
bagian dari budaya tetapi juga sebagai media pengembangan budaya luhur masyarakat,
meningkatkan kepercayaan diri, mengembangkan etika, menepis diskriminasi gender, serta
menekan kecemasan dan membangkitkan motivasi diri.

A. Olahraga sebagai media pengembangan budaya luhur masyarakat


Pada dasarnya olahraga bukan hanya mengandung manfaat dalam menyehatkan tubuh saja,
tetapi juga menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur yang sangat bermanfaat dalam kehidupan.
Karena di dalamnya bukan hanya menyangkut keterlibatan individu saja, tetapi juga keterlibatan
masyarakat luas. Bidang ini telah memiliki kaitan dengan kehidupan orang banyak, dan karena itu
memiliki dimensi sosial serta fungsional yang sangat luas. Secara fungsional olahraga berperan
atau berfungsi menyehatkan tubuh, sementara pada dimensi sosial, olahraga berperan dalam
menanamkan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang patut diamalkan dalam kehidupan.
Jika dikaji secara mendalam nilai-nilai tersebut sangat berguna dalam kehidupan bersama.
Terlepas dari merosotnya prestasi olahraga kita dewasa ini, yang ditandai dengan seringnya terjadi
insiden dalam beberapa kompetisi sehingga mencoreng reputasi olahraga kita, maka patut kiranya
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dihayati, ditanamkan dan diimplementasikan secara luas.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini nilai-nilai luhur semacam itu, justru
sangat dibutuhkan sebagai landasan dan inspirasi bersama. Di tengah ancaman erosi nilai-nilai
kebangsaan yang belakangan ini semakin nyata, maka perlu kiranya kita menggali kembali melalui
berbagai momen dan wahana kehidupan yang ada.

B. Olahraga meningkatkan kepercayaan diri


Setiap orang pasti pernah mengalami hari-hari di mana rasa percaya diri menurun. Salah satu cara
yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan berolahraga, karena olahraga
juga mampu meningkatkan rasa percaya diri. Perubahan fisik yang terjadi karena olahraga akan
membuat kita terlihat lebih baik. Olahraga memang memberikan dampak besar tak hanya bagi
fisik, tapi juga bagi kesehatan mental. Inilah yang akhirnya meningkatkan rasa percaya diri
seseorang. Berikut manfaat olahraga untuk meningkatkan rasa percaya diri :
1. Rasa Pencapaian
Ketika berolahraga, rasa percaya diri akan meningkat karena kita telah mau menyemangati diri
sendiri untuk aktif bergerak. Aktif bergerak, tentu lebih sehat ketimbang duduk santai tanpa
melakukan apapun.
2. Meningkatkan Rasa Nyaman
Saat fisik aktif, tubuh melepaskan senyawa endorfin yang mampu mencegah stres dan membuat
kondisi psikologi seseorang terasa lebih nyaman. Hal inilah yang membuat rasa percaya diri
meningkat ketika sedang berolahraga.
3. Kesehatan Fisik
Olahraga secara rutin akan membuat sistem imun meningkat dan menangkal berbagai virus serta
penyakit yang berbahaya. Dengan fisik yang sehat, membuat kita merasa lebih mencintai diri
sendiri.
4. Penampilan Lebih Menarik
Olahraga membuat penampilan dan bentuk tubuh menjadi lebih baik. Penampilan yang cantik dan
menarik akan meningkatkan rasa percaya diri setiap orang.
5. Memperbaiki Mood
Jika perasaan sedang sedih ataupun buruk, olahraga dapat membuat kita merasa lebih baik dan
kembali percaya diri. Olahraga juga salah satu solusi yang baik yang dapat membuat hidup lebih
terkontrol, sehingga mood kita siap untuk melakukan hal-hal dan tantangan baru.
6. Bersosialisasi dengan Orang Baru
Megikuti kelas di gym, jogging di sekitar rumah, ataupun mengikuti kelas yoga, membuat kita dapat
mengenal dan menjalin hubungan dengan orang-orang baru di sekitar kita. Bersosialisasi, dapat
meningkatkan rasa percaya diri.
7. Membangkitkan Semangat Kompetisi
Dengan berolahraga, kita menantang diri dalam suatu kompetisi, di mana kita mencoba untuk
melebihi limit ataupun batasan sendiri. Setelah tantangan itu tercapai, otomatis kita akan lebih
menghargai diri sendiri yang akhirnya membentuk kepercayaan diri.
8. Meningkatkan Performa Seksual
Olahraga dapat meningkatkan stamina dan performa seksual serta meningkatkan rasa percaya
diri, yang akan membuat kehidupan seksual seseorang menjadi lebih baik.
9. Perhatian dan Konsentrasi yang Lebih Baik
Olahraga dapat meningkatkan perhatian dan konsentrasi yang lebih baik. Hal ini merupakan salah
satu faktor yang baik dalam pekerjaan, karena kita dapat menjadi lebih fokus dalam mengerjakan
tugas-tugas yang diberikan.

C. Olahraga mengembangkan etika


Guru pendidikan jasmani harus mencoba mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar
mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak. Karakter anak didik
yang dimaksud tentunya tidak lepas dari karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak,
selain harus dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga, juga dapat diupayakan melainkan
pendidikan nilai di sekolah.

Cara melakukannya yaitu Pendidik jasmani dalam proses pendidikan sebaiknya


mengembangkan karakter yang menampilkan : compassion (rasa belas kasih), fairness (keadilan),
sportsmanship (ketangkasan) dan integritas. Dengan adanya rasa belas kasih, murid dapat diberi
semangat untuk melihat lawan sebagai kawan dalam permainan, sama-sama bernilai, sama sama
patut menerima penghargaan. Keadilan melibatkan tidak keberpihakan, sama-sama tanggung
jawab. Ketangkasan dalam olahraga melibatkan berusaha secara intens menuju sukses. Integritas
memungkinkan seseorang untuk membuat kesalahan pada yang lain, sebagai contoh meskipun
tindakannya negatif penerimannya oleh wasit, teman satu tim ataupun fans

D. Olahraga menepis diskriminasi gender


Secara fisiologis wanita dan pria memang merupakan sosok yang berbeda , namun dalam proses
aktifitas fisik terutama pendidikan jasmani tidak ada hal yang mengatur tentang perbedaan
perlakuan pada wanita dan pria, tuntutan agar wanita harus mengikuti gerakan pria dan
pendidikan jasmani masih sering diperdebatkan , tidak terkecuali oleh guru pendidikan jamani itu
sendiri, masih ada guru pendidikan jasmani yang memberikan perlakuan berbeda terhadap wanita
dan pria, bahkan ada juga yang menempatkan wanita sebagai penonton saja apabila pendidikan
jasmani sedang berlangsung.

Jika ditinjau lebih jauh bahwa pendidikan jasmani merupakan sebuah proses belajar
tentang manusia bergerak, dimana gerak manusia adalah suatu rangkaian yang muncul dari
kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup . Gerakan muncul dikarenakan adanya tiga
faktor , yaitu faktor individu, faktor tugas, dan faktor lingkungan, gerakan dipengaruhi oleh dua hal
yaitu spesifikasi tugas dan dibatasi oleh lingkungan.
Individu mengasilkan gerakan karena adanya sebuah kebutuhan didalam tugasnya dan adanya
lingkungan yang mengharuskan individu bergerak, kapasitas Individu untuk berinteraksi dengan
tugas, lingkungan, yang kemudian akan mencerminkan kapasitas fungsional seseorang.

Ditinjau dari teori tersebut menggambarkan bahwa wanita akan dapat mengikuti gerakan
pria apabila terdapat tuntutan gerak terutama dalam lingkungan yang memang megharuskan
wanita melakukan gerakan tersebut, bisa dilihat dalam kehidupan masyarakat berbagai peran pria
yang di lakukan oleh wanita baik itu menjadi budaya setempat maupun karena tuntutan ekonomi.
Sebenarnya jika melihat lebih jauh pada aktivitas fisik yang tinggi sekalipun , seperti prestasi
olahraga, banyak wanita yang mampu tampil sempurna dalam kegiatan olahraga, meskipun dari
segi fisik sangat berbeda dari pria namun dari keterampilan banyak wanita yang mempunyai
gerakan gerakan dengan koordinasi yang baik seperti halnya wanita.
Cara yang bisa dilakukan untuk penyetaraan gender dalam bidang olahraga yaitu melalui
kurikulum. Muatan kurikulum yang berisi berbagai aktifitas jasmani sama sekali tidak memberikan
gambaran perbedaan perlakuan pada pria dan wanita karena aspek yang ditekankan adalah suatu
proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, aktivitas yang dilakkukan dalam pendidikan jasmani
bukanlah hal yang tidak dapat dilakukan oleh wanita, terutama pada pendidikan jasmani nilai
afektif individu sangat diutamakan, sikap disiplin, bekerja sama, kerja keras dan pantang menyerah
adalah karakter yang harus ditanamkan pada diri seorang wanita yang kelak mendidik generasi
penerus bangsa mulai dari tingkat keluarga

E. Olahraga dapat menekan kecemasan


Kondisi psikologis yang mengganggu penampilan seorang atlet atau siswa diantaranya
kecemasan. Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Kecemasan (stress) adalah
tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri seseorang. Perasaan tertekan ini timbul
karena banyak faktor yang berasal dari dalam diri sendiri atau dari luar.

Teknik untuk mengatasi atau mengurangi rasa kecemasa n adalah sebagai berikut;
Pemusatan perhatian (Centering). Penggunaan cara ini pertama-tama singkirkan
aneka ragam pikiran yang mengganggu atlet. Pusatkan seluruh perhatian dan pikiran
pada tugas yang sedang dihadapi. Keadaan mental atlet beragam, ada yang mampu
dengan cepat menghalau berbagai pikiran yang mengganggu konsentrasi disaat
pertandingan akan dihadapi, tapi ada pula atlet yang begitu lama terhasut oleh
gangguan-gangguan pikiran yang demikian.
Pengaturan pernapasan. Orang yang mengalami kecemasa n, tonus otot,denyut jantung
serta respirasi akan meninggi. Keadaan seperti ini dapat diatasi dengan pernapasan
yang dalam dan pelan, sehingga irama pernapasan yang semula cepat atau meninggi
secara berangsur-angsur lambat atau menurun. Mengatur pernapasan juga merupakan
usaha penenagan diri.
Relaksasi otot secara progresif , caranya dengan melakukan kontraksi otot secara
penuh kemudian dikendurkan. Latihan ini dilakukan berulang -ulang selama kurang
lebih 60 menit. Keadaan ini dapat merelakskan otot -otot, bila otot-otot telah mencapai
keadaan relaks yang sungguh-sungguh maka keadaan ini dapat mengurangi
ketegangan emosional, menurunkan tekanan darah serta denyut nadi. Orang yang
merasakan saat-saat kecemasan sedapat mungkin memusatkan perhatiannya pada
relaksasi otot dengan cara seperti ini.
Pencarian sumber kecemasan. Peran guru atau pelatih untuk mencari sumber
kecemasan besar sekali. Jalinan hubungan emosional yang baik antara pelatih dan
atlet akan memungkinkan dan memudahkan pelatih untuk menelusuri apa y ang
sebenarnya sedang dialami oleh atlet, begitu juga halnya atlet akan sangat terbuka
menceritakan banyak hal apa yang sebenarnya dialaminya.
Pembiasaan, cara ini dimaksudkan untuk melatih atlet menghadapi situasi -situasi yang
bisa timbul dalam pertandingan. Latihan untuk pembiasaan ini dilakukan dalam bentuk
simulasi-
simulasi. Simulasi terhadap beragam situasi latihan sengaja dibuat untuk menimbulkan
kecemasan dalam batas-batas tertentu, sehingga atlet tidak lagi peka terhadap
pengaruh lingkungan yang berlaku.
Teknik penanganan individu. Penanganan individu adalah teknik khusus mengatasi
kecemasan yang penekanannya pada pendekatan individu, misalnya melalui musik
yang menjadi kegemaran atlet, menanamkan keyakinan kepada atlet bahwa persiapan
yang mereka lakukan sudah mantap, baik dan menyeluruh, menjauhkan atlet dari
official atau orang-
orang yang didekatnya sebagai orang pencemas atau pencetus rasa cemas, atau
sekalian saja jelaskan pada atlet bahwa rasa cemas itu muncul wajar dan memang
diperlukan.

F. Olahraga memotivasi diri


Prestasi olahraga tidak dapat dipisah dengan sistem pembinaan terhadap
aspek-aspek kepribadian seperti motivasi, kemampuan konsentrasi, rasa cemas,
kepercayaan diri dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Studi ilmiah dan pengalaman
menunjukkan bahwa motivasi merupakan energi psikologis yang sangat penting dalam
kegiatan olahraga.
Teknik untuk meningkatkan motivasi beberapa dikenal sebagai, (1) teknik verbal, (2)
tingkahlaku, (3) insentif, (4) supertisi, (5) citra mental.

1)Teknik verbal dapat dilakukan dengan cara:


pembicaraan pembangkit semangat,
pendekatan individu,
diskusi.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik verbal adalah:
a)Berikan pujian terhadap apa yang telah dilakukan oleh atlet dan jelaskan apa yang
dibuatnya. Pujian ini diberikan untuk mendorong atlet percaya diri dan mampu
menampilkan kemampuannya dengan baik. Contoh, pelatih mengatakan “saya yakin
kau bisa, karena saya lihat kau sudah sungguh -sungguh latihan”.
b)Berikan koreksi dan sugesti. Koreksi hendaknya tidak mengecewakan atlet,
malainkan evaluasi yang obyektif akan kelemahan dan kekurangan dengan
menunjukkan cara yang seharusnya baik dilakukan. Saran hendaknya diberikan tetapi
tidak memaksa. Contoh pelatih mengatakan “Saya kira teknik yang kau lakukan cocok
untuk kamu pertahankan, saya menyarankan pertahan teknik tersebut kal au kau masih
bisa”.
c) Berikan semacam petunjuk yang dapat meyakinkan atlet bahwa dengan latihan yang
baik ia dapat mengatasi semua kelemahan, atau dengan latihan -latihan selama
persiapan, ia dapat memenangkan pertandingan.

2)Teknik tingkahlaku (behavioral).


Keberhasilan atlet dalam latihan atau pertandingan menuntut sikap tertentu, seperti
jujur, sportif, tekun, kreatif, dinamis, dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas -tugas
dan latihan. Sikap-sikap tersebut agar terwujud menjadi tingkahlaku laku atlet,
mengharuskan pelatih bersikap demikian dalam kehidupan sehari -harinya. Sikap-sikap
itu akan diamati dan dirasakan oleh atlet, kemudian menjadi sikap mereka dan
akhirnya menjadi tingkahlaku dalam hidup mereka. Teknik ini menekankan relasi
antara pelatih dan atlet. Pelatih hendaknya berlaku sebagai orangtua terhadap anak -
anaknya, dan pada saat-saat tertentu berlaku sebagai pemimpin terhadap anggota,
dan sebagai guru terhadap siswanya. Relasi pelatih -atlet yang baik akan menjadi
pelatih model panutan bagi atletnya. Tingkahlaku positif yang dipertunjukkan pelatih
diharapkan dapat memberi motivasi kepada atlet dalam melaksanakan latihan -latihan.
Ini merupakan motivasi yang diperoleh atlet dari contoh nyata pelatihnya.

3)Teknik intensif; Teknik ini adalah dengan pemberian hadiah berupa materi
atau lainnya. Tujuan teknik ini adalah menambah semangat berlatih atau bertanding,
meningkatkan gairah untuk berprestasi, meningkatkan konsentrasi dan memenangkan
pertandingan. Intensif hendaknya diberikan pada waktu yang te pat, dan diusahakan
agar tidak menjadi kebiasaan, yang dapat menurunkan semangat atlet bila sewaktu
-waktu insentif itu ditiadakan.

4)Supertisi; supertisi adalah kepercayaan akan sesuatu yang secara logis atau ilmiah
kurang diterima, namun dianggap memba wa keberuntungan dalamberkompetisi,
misalkan ketika hendak memasuki lapangan seorang atlet secara kesadaran penuh
dan keyakinannya harus memasuki lapangan dimaksud dengan mengawali kaki kanan
dahulu baru kemudian kaki kiri. Supertisi ini dimaksud penambah semangat, atau
dianggap pembawa keberuntungan, jika kebiasaan ini dilarang, maka atlet merasa ada
yang kurang, menjadi kurang semangat, dan tidak mungkin menang. Supertisi ini tidak
perlu dilarang, asalkan tidak merugikan secara fisik, psikologis maupun ma teri.

5)Citra mental; citra mental dimaksudkan melatih atlet membuat gerakan -gerakan yang
benar melalui imajinasi. Gerakan -gerakan dimatangkan dalam imajinasi kemudian
benar-benar dilaksanakan untuk dievaluasi.