Anda di halaman 1dari 3

BAB I

Latar Belakang
Pertumbuhan wilayah perkotaan pada suatu kawasan dipengaruhi oleh keberadaan
berbagai macam kegiatan bagi masyarakat seperti kegiatan kantor dengan pembangunan
gedung instansi pemerintahan, penempatan beberapa fasilitas pendidikan termasuk perguruan
tinggi, kegiatan industri dan pengembangan pusat perdagangan serta munculnya beberapa
komplek perumahan, dilengkapi dengan prasarana perkotaan seperti jalur transportasi,
komunikasi dan utilitas lainnya. Kondisi tersebut berperan sebagai simpul-simpul kegiatan
yang berakibat terhadap percepatan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kabupaten Sleman merupakan salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta
yang mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Salah satunya, hal itu
dipengaruhi oleh strategisnya posisi kabupaten ini sebagai pintu gerbang bagi Provinsi DIY
melalui transportasi darat dari arah utara (dari Semarang/Magelang) dan arah timur (dari
Solo/Klaten) maupun transportasi udara di Bandara Adisutjipto yang telah menjelma menjadi
bandara internasional pada tanggal 21 Februari 2004. Dalam posisi semacam itu, kawasan
perkotaan di Sleman menjadi kawasan pertumbuhan yang berdekatan dengan kota
Yogyakarta dan merupakan kawasan strategis perbatasan karena sifat pertumbuhannya sangat
dipengaruhi pola pertumbuhan konsentris Kota Yogyakarta.
Secara fungsional wilayah Kota Yogyakarta telah tumbuh dan berkembang melampaui
batas wilayah administrasinya sehingga membentuk suatu aglomerasi perkotaan yang dikenal
sebagai Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta (APY) dengan wilayah fungsionalnya terdiri dari
Kota Yogyakarta, sebagian wilayah Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul yang berada di
sekitar Kota Yogyakarta (www.phpkartamantul.pemda-diy.go.id) menurut Kuncoro (2011),
melihat komposisi penduduk Sleman, maka dapat disimpulkan bahwa wilayah selatan
Kabupaten Sleman yang meliputi kecamatan Gamping, Mlati, Ngaglik dan Depok memang
merupakan basis pertumbuhan perkotaan yang membentuk satu aglomerasi dengan Kota
Jogja.
Terjadinya perluasan kawasan kota Yogyakarta pada wilayah aglomerasi, terlihat
sangat jelas di Jalan Seturan Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Jalan Seturan melingkupi
beberapa universitas dengan segala dinamika kehidupan mahasiswa didalamnya. Seiring
dengan bertambahnya Mahasiswa di Yogyakarta, fasilitas-fasilitas yang disediakan pun
semakin menjamur. Kawasan ini tadinya merupakan kawasan mahasiswa YKPN dan UPN,
juga Atma Jaya. Semakin tinggi tingkat pembangunan di kawasan ini, semakin banyak
kegiatan sosial yang berubah. Kawasan Seturan ini masuk ke dalam Kecamatan Depok,
Sleman, yang berkarakteristik kawasan aglomerasi (perkembangan kota dalam kawasan
tertentu). Pertumbuhan dikawasan ini terhitung pesat mengingat fasilitas-fasilitas yang
bertambah dalam kurun waktu beberapa tahun saja (Ramadhana, 2014). Jalan Seturan
merupakan wilayah dari dusun Seturan Kelurahan Caturtunggal Kecamatan Depok Sleman.
Kawasan Seturan khususnya Jalan Seturan mulai berkembang sejak dibangun kampus
terpadu Universitas Pembangunan Nasional (UPN), sekitar tahun 1990an. Pada saat yang
hampir bersamaan juga dibangun jalan lingkar Yogyakarta atau biasa disebut Ringroad Utara.
Pembangunan kampus terpadu UPN kemudian disusul dengan pembangunan STIE YKPN di
kawasan Jalan Seturan. Sejak saat itu banyak sawah di pinggir Jalan Seturan kemudian
dialihfungsikan menjadi bangunan komersial. Selain itu, Jalan Seturan adalah salah satu jalur
singkat dari Jalan Ringroad Utara menuju kota. Jalan Seturan merupakan jalur kolektor
sekunder penghubung Jalan Arteri Luar Kota Outer Ringroad dengan jalan utama menuju
Kota Yogyakarta. Jalan Laksda Adisucipto mempunyai peranan strategis untuk kepentingan
dalam kota, dari atau menuju luar kota dan kawasan primer. Menurut RUTRK (Rencana
Umum Tata Ruang Kota Kecamatan Depok) tahun 2005 – 2014, kawasan Seturan dan
Babarsari akan dikembangkan sebagai kawasan pendidikan (campus estate) dan kawasan
komersial. Sedangkan dalam penggal Jalan Seturan dalam RUTRK Kecamatan Depok akan
dikembangkan sebagai koridor komersial atau perdagangan (Meiarsa, 2014).

Landasan Teori
Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi
menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Dari teori ini, dapat
dimengerti bahwa kota merupakan pusat penyediaan fasilitas, terutama pada jasa. Ada dua
macam bentuk kota, yaitu geometri dan organik. Hal ini disebut juga sebagai planned, yaitu
adanya pengaturan kota yang selalu regular dan rancangan bentuk geometrik (design guide)
dan unplanned, yaitu segmen kota yang berkembang secara spontan dengan bermacam-
macam kepentingan yang saling mengisi, sehingga akhirnya kota akan memiliki bentuk
semaunya yang kemudian disebut dengan organic pattern (bentuk kota organik tersebut
secara spontan, tidak terencana dan memiliki pola yang tidak teratur dan non geometrik.

Perkembangan Jalan Seturan


Pertumbuhan kawasan Seturan ini ada pada penyediaan fasilitas umum yang
kemungkinan memang ditargetkan pada mahasiswa-mahasiswa yang ada didalam kawasan
ini. Ada tiga universitas besar yang ada didalam kawasan ini, yaitu Atma Jaya, YKPN, dan
UPN. Setiap tahunnya, mahasiswa yang diterima semakin meningkat, menyebabkan kawasan
ini semakin padat. Semakin banyak pengadaan fasilitas untuk kebutuhan dasar, seperti tempat
tinggal (kost) dan tempat makan. Seiring kemajuan zaman, dan semakin banyak budaya dan
status ekonomi pendatang yang masuk, gaya hidup pun berubah karena adanya saling
berpengaruh. Hal ini didukung oleh fasilitas tambahan yang menjamur. Mengingat
karakteristik kawasan Seturan sebagai kawasan aglomerasi dan juga sebagai lingkungan yang
kental dengan mahasiswa, sudah sewajarnya kawasan ini tumbuh dengan pesat. Banyak
fasilitas yang disediakan untuk mempermudah kehidupan mahasiswa dengan menyediakan
segala lapis kebutuhannya, yaitu primer, sekunder dan tersier. Namun dampak dibangunnya
fasilitas-fasilitas ini, terjadi kondisi yang tak terkendali, seperti pengunjung yang datang
bukan hanya mahasiswa setempat, tapi juga berbagai lapisan masyarakat dari luar kawasan
yang sengaja datang untuk menikmati fasilitas yang ada dalam kawasan ini. Dengan kondisi
ini, keramaian kawasan dimanfaatkan oleh pebisnis lain untuk menyediakan fasilitas yang
general, seperti hotel, apartemen, dan mal.
Pembangunan merebak, seiring dengan bertumbuhnya kawasan ini dan mulai terasa
kental nuansa bisnisnya. Dari segi arsitektur, pemilik penyedia fasilitas berusaha untuk
menonjolkan bangunannya agar lebih menarik perhatian dan dapat menampung pengunjung
sebanyak-banyaknya. Mulai terbentuk pola pembangunan yang unplanned. Sebagai implikasi
dari pertumbuhan kawasan ini, kawasan yang tadinya menjadi lingkungan mahasiswa
menjadi kawasan bisnis. Lalu lintas didalam kawasan pun menjadi lebih padat sehingga perlu
adanya perubahan sistem sirkulasi. Dari segi ekonomis, tentu saja hal ini membawa dampak
positif, baik bagi masyarakat setempat maupun pendatang atau pelaku bisnis luar kawasan
yang datang untuk memanfaatkan kondisi ini.