Anda di halaman 1dari 17

Interaksi Transportasi & Guna Lahan:

PENGENALAN
TATA GUNA LAHAN

Dipakai di lingkungan terbatas—Bahan kuliah ke 1b:


Achmad Djunaedi
E-mail: achmaddjunaedi@yahoo.com
Edisi 2017

Topik-topik Bahasan
1. Mengapa guna lahan perlu ditata?
2. Sistem-sistem yang mempengaruhi
guna lahan
3. Teori Deskriptif tata guna lahan
4. Teori Eksplanatoris tata guna lahan
5. Diskusi

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 1


Bahasan ke 1:

Mengapa guna lahan perlu


ditata?
Bacaan:
Guidelines for land-use planning. FAO Development Series 1. FAO, Rome,
1993

Alasan (konflik guna lahan, dsb.)


 Antar guna lahan yang berdekatan agar tidak
saling menganggu (misal: industri dekat
permukiman; tempat pembuangan sampah akhir
dekat permukiman).
 Guna lahan berdekatan dapat saling menunjang;
dan guna lahan tertentu berlokasi lebih tepat
(misal: perdagangan di pusat kota, sedangkan
permukiman di sekitarnya agar belanja sama
dekatnya dari semua asal perjalanan).
 Pengaturan sebaran guna lahan sedemikian rupa
sehingga mempunyai pengaruh (beban) terbaik
bagi transportasi. 4

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 2


Contoh Jumlah konflik guna lahan

Syarat Pengaturan Guna lahan


agar Bermanfaat
 Adanya kebutuhan untuk merubah jenis guna lahan
yang ada (misalnya: dari sawah menjadi
perumahan) dan kita semua ingin tidak timbul
masalah/konflik di masa depan.
 Adanya kemauan politik (dari pemerintah dan
masyarakat) untuk mengatur guna lahan dan
adanya kemampuan/kewenangan untuk
menegakkan aturan tsb.

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 3


Pemahaman bahwa ruang/lahan
itu sumberdaya terbatas
 Diantara kita perlu ada pemahaman bahwa lahan/ruang
di muka bumi itu merupakan sumberdaya yang
mempunyai keterbatasan.
 Kita perlu memahami pemeran/ siapa saja/ kegiatan
apa saja yang saling memperebutkan sumberdaya
lahan yg terbatas tsb. (misal: hutan lindung diubah
menjadi lahan pertanian)
 Perebutan tsb bersifat dinamis (perubahan guna lahan
berlangsung terus menerus: misal dari sawah ke persil
rumah, lalu suatu ketika menjadi pertokoan, dst.).
7

Bahasan ke 2:

Sistem-sistem yang
mempengaruhi guna lahan
Bacaan:
(1) File “ADJ-Pengenalan Guna Lahan.doc”
(2) Chapin, Jr. F. & Kaiser, EJ., .1979, Urban Land Planning, University of Illinois
Press, Urbana, IL.: Chapter 2 “The Theoretical Underpinnings of Land Use”, pp.
26-67.

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 4


Sistem-sistem yang mempengaruhi
guna lahan
a. Sistem Kegiatan (guna b. Sistem Pengembangan
lahan mencerminkan lahan (ada lahan yang
macam kegiatan yang belum dikembangkan
berlangsung di atas untuk fungsi perkotaan,
lahan tsb.) Guna dan ada yang sudah)
Lahan

c. Sistem Lingkungan
(lokasi
sumberdaya yang Sumber: Chapin, Jr.
perelu dilindungi & Kaiser (1979)

dan lokasi pemakai


sumberdaya) 9

a. Sistem Kegiatan
 Sistem Kegiatan (activity systems) berkaitan dengan cara
manusia dan institusinya (keluarga, perusahaan, pemerintah,
dan sebagainya) mengorganisasikan kesibukan sehari-
harinya dalam memenuhi kebutuhannya dan berinteraksi
dengan sesamanya dala.m ruang dan waktu

10

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 5


b. Sistem Pengembangan Lahan
 Sistem Pembangunan Lahan (land development systems)
berkaitan dengan penyediaan lahan (yang diubah dari lahan
non-perkotaan, pertanian ke lahan perkotaan) untuk manusia
perkotaan dan kegiatannya (seperti pada sistem kegiatan di
muka).

11

c. Sistem Lingkungan
Sistem Lingkungan (environmental systems) berkaitan
dengan sumber daya alam:
 Biotik: tumbuhan dan binatang (ekosistem)

 Abiotik: air, udara, dan zat-zat (sistem hidrologis,


sistem aerologis, dan sistem geologis).

12

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 6


Bahasan ke 3:

Teori Deskriptif Tata Guna


Lahan
Deskriptif dalam arti diangkat (di-induksi-kan) dari
temuan empiri/lapangan

Bacaan:
File “ADJ-Pengenalan Guna Lahan.doc”

13

Teori Deskriptif dari LN (1)


Ada tiga teori deskriptif (yg populer) dari luar negeri
(AS) terkait pola kota, yaitu:
a. Konsep Zona Konsentrik (Burgess 1923, model ini
diangkat dari kasus kota Chicago sbg. kota radial,
berlapis-lapis).
1. Pusat kota
2. Industri kecil
3. Permukiman kelas rendah
4. Permukiman kelas
menengah
5. Permukiman kelas atas
6. --
7. --
8. --
9. --
10. Kawasan penglaju 14

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 7


Teori Deskriptif dari LN (2)
b. Konsep Sektor/Busur daerah (Hoyt 1939,
memperbaiki konsep Konsentrik, bahwa ada area
kota yang berkembang secara busur/sektor
karena faktor kebutuhan kedekatan antar guna
lahan yang sama)

1. Pusat kota
2. Industri kecil
3. Permukiman kelas rendah
4. Permukiman kelas
menengah
5. Permukiman kelas atas

15

Teori Deskriptif dari LN (3)


c. Konsep Pusat Ganda (McKenzie 1933 dan Harris
& Ullman 1945, berpendapat kota tdk selalu
berkembang dari satu pusat kota tapi sering punya
banyak pusat kota; makin besar kotanya, makin
banyak pusatnya).

1. Pusat kota
2. Industri kecil
3. Permukiman kelas rendah
4. Permukiman kelas
menengah
5. Permukiman kelas atas
6. Industri berat
7. Sub pusat kota
8. Permukiman pinggiran
kota
9. Industri pinggiran kota 16

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 8


Catatan Penerapan Teori Deskriptif
dari LN
Ketiga Teori/Konsep klasik tsb. terdistorsi akibat
perkembangan baru di AS pasca PD II (Hoyt 1971), yaitu:
1) Pesatnya perkembangan jumlah penduduk
2) Meningkatnya penghasilan per kapita
3) Meningkatnya kepemilikan mobil pribadi
4) Meningkatnya pembangunan jalan bebas hambatan
di perkotaan
5) Perubahan kriteria pemilihan lokasi bagi fungsi-fungsi
perkotaan (perbelanjaan, perkantoran, hotel, industri,
perumahan)
Teori pola kota di AS tidak begitu saja berlaku bagi
kota-kota di negara lain karena berbagai alasan. 17

Teori Deskriptif dari Indonesia (1)


Berbagai tipe teori/konsep pola kota di Indonesia
terjadi/ada karena keragaman sejarah, macam lokasi
geografis, ukuran kota, kultur, dsb.
a. Pola Kota kolonial
batas administrasi kota
1 Perumahan mewah
3 1
(gedongan)
2 3 2 Pusat usaha (perdagangan)
3 Perkampungan kumuh
4 4 Bagian kota yang masih
bersifat pedesaan

18

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 9


Teori Deskriptif dari Indonesia (2)
b. Pola kota tepi sungai besar

sungai besar

1. Kota asli
2 4
3 2 Kota usaha (perdagangan)
3 Permukiman padat dan kumuh
4 Permukiman mewah dan
perkantoran
19

Teori Deskriptif dari Indonesia (3)


c. Pola kota tepi laut
Keterangan:
1. Pusat Usaha
2 Pemukiman kota
3 Jalan regional
4 Pemukiman nelayan
5 Pelabuhan laut
6 Laut
7 Sungai

20

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 10


Teori Deskriptif dari Indonesia (4)
d. Pola kota pedalaman/ dataran tinggi

Jalur
transportasi
regional
Pusat usaha
CBD)
Pemukiman kota
Pemukiman semi-urban
(pemukiman bercampur
dengan sawah/tegalan)

21

Teori Deskriptif dari Indonesia (5)


e. Pola kota berukuran sedang

1
3
Jalan ke luar kota
Keterangan:
1. Pusat Usaha
(pertokoan, pasar los,
dan industri kecil)
2 Pemukiman
3 Alun-alun 22

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 11


Bahasan ke 4:

Teori Explanatoris Tata Guna


Lahan
Eksplanatoris dalam arti penjelasan terhadap
perkembangan empiri (fakta) dilakukan dengan
bersumber dari teori

23

Teori Eksplanatoris—Bagian A
Pada Bagian A dijelaskan tiga teori eksplanatoris, yaitu:

a. Teori Klasik guna lahan (Alonso 1960)


b. Teori guna lahan yang berorientasi ke
Transportasi (Wingo 1961)
c. Teori nilai sosial (Walter Firey 1947)

Bacaan: File “ADJ-Pengenalan Guna Lahan.doc”

24

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 12


Teori Klasik Guna Lahan (Alonso, 1960)

 Teori klasik guna lahan bersumber dari karya


Alonso (pada tahun 1960 dan 1964) yang
menjelaskan tentang interaksi nilai lahan dan
penggunaan lahan.
 Teori ini dikembangkan berdasar lokasi rumah
tinggal dan perusahaan dalam kota; antara
permintaan dan penyediaan. Lokasi termahal
adalah lokasi yang paling banyak diminta (paling
tinggi penawaran untuk membelinya).

25

Teori Guna Lahan berorientasi ke


Transportasi (Wingo, 1961)
 Teori Guna Lahan yang berorientasi ke
Transportasi dikembangkan oleh Wingo (tahun
1961), yang merupakan teori keseimbangan
antara lokasi perumahan pekerja dengan
kemampuan mereka untuk membayar biaya
transportasi.
 Pekerja yang mampu membayar rumah yang
dekat tempat kerjanya (pusat kota) akan
mengurangi biaya transportasinya.
 Demikian pula sebaliknya, pekerja yang tinggal
jauh dari kota (pada lahan yang lebih murah) akan
mengeluarkan biaya transportasi lebih besar
26

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 13


Teori Nilai Sosial (W. Firey, 1947)
 Teori nilai sosial dikonstruksikan terutama oleh
Walter Firey (pada tahun 1947), yang menyatakan
bahwa lahan tidak hanya dilihat secara ekonomi,
tapi juga fungsi dari: nilai sosial, rasa (taste), dan
simbol.
 Beberapa kawasan bernilai lahan mahal bukan
karena dekat kota tapi karena simbol permukiman
kaum kaya. Demikian juga, ras tertentu cenderung
berkumpul di kawasan tertentu.

27

Teori Eksplanatoris—Bagian B
Pada Bagian B dijelaskan tiga teori eksplanatoris, yaitu:

a. Technical Theories: Urban Mobility Systems


b. Economic Theories: Cities as Markets
c. Social Theories: Society and Urban Space

Sumber: Michael Wegener, Franz Fürst. Land-Use Transport Interaction: State


of the Art. Institut für Raumplanung, Fakultät Raumplanung, Universität
Dortmund, Dortmund, November 1999.

28

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 14


Technical Theories: Urban Mobility
Systems (1)
 Mengapa dulu banyak kota dibangun/berkembang di
rute-rute perdagangan, pelabuhan dan persimpangan
sungai?
 Eksplanasinya karena kota-kota tsb strategis dilihat dari
jalur perjalanan (yg pada saat itu dilakukan dengan
moda kuda dan perahu/kapal). Sewaktu jalur perjalanan
berubah (karena ada yg lebih nyaman atau karena
perubahan teknologi) maka kota-kota tsb akan sekarat
dan akan tumbuh kota-kota lain di jalur yg baru.
 Bayangkan bila suatu ketika kapal yg menjadi tren saat
itu berukuran sangat besar shg tdk bisa melewati Selat
Malaka; apa yg akan terjadi dg Singapura?
29

Technical Theories: Urban Mobility


Systems (2)
 Dengan teknologi angkutan saat ini, ada beberapa
daerah/lokasi yang terisolasi (jauh dari mana-mana).
 Tapi dengan kemajuan teknologi informasi (via satelit),
maka keter-isolasi-an daerah tsb akan berkurang. Tiap
tempat akan terjangkau layanan e-commerce, e-
government, dsb via internet melalui satelit atau
wireless.
 Meskipun demikian, teknologi informasi tidak akan
sepenuhnya menggantikan peran angkutan.

30

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 15


Economic Theories:
Cities as Markets (1)
 Menurut Krugman (1991, 1996), pertumbuhan
keruangan wilayah dipengaruhi sebagian besar oleh dua
faktor, yaitu: (1) skala ekonomi, dan (2) biaya
transportasi.
 Migrasi penduduk masuk kota semakin banyak, maka
skala ekonomi makin besar (makin banyak pelanggan);
timbul banyak layanan perkotaan karena skala ekonomi
yg cukup besar tsb (misal: layanan bis kota menjadi
layak). Keberadaan bis kota akan memacu lebih lanjut
pertumbuhan kota.
 Apalagi bila biaya transportasi makin murah, maka akan
lebih banyak orang bermukim jauh dari pusat kota/
tempat kerja (daerah perkotaan makin meluas).
31

Economic Theories:
Cities as Markets (2)
 Theory of long waves (menurut Kondrateiff, 1926;
Schumpeter, 1939) menjelaskan bhw perkembangan
kota (lahir, tumbuh, berkembang, dan akhirnya ada yg
sekarat) dipengaruhi oleh “inovasi dasar” (seperti: mesin
uap, kereta api, dan mobil).
 Perhatikan bagaimana keberadaan angkutan darat
(mobil dan sepeda motor) merubah pola kota-kota
sungai di Kalimantan. Deretan rumah yg tadinya
menghadap ke sungai (karena angkutan utamanya
adalah perahu/kapal) kemudian membalik muka
rumahnya ke jalan raya (yg tadinya belakang rumah).
 Perkembangan kota (lahir, tumbuh, berkembang, dan
akhirnya ada yg sekarat) disebut sbg siklus hidup kota.
32

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 16


Social Theories:
Society and Urban Space
 Pemaknaan individu dan kelompok terhadap ruang dan
budaya hidupnya mempengaruhi perkembangan kota.
 Dulu, di Nusantara, bangsa kita lebih memberi makna
lebih ke laut (daripada daratan) dan budaya hidupnua
adalah sbg nelayan dan perdagangan laut, sehingga
mereka lebih banyak bermukim di kawasan pantai
(terutama di laut yg nyaman, aman).
 Berkembangnya teknologi pertanian (budaya bertani) yg
dibawa oleh para pendatang, merubah budaya maritim
tsb menjadi budaya agraris; maka lebih banyak kota-
kota terbangun di pedalaman (ibukota kerajaan juga
berpindah ke pedalaman, misal: Mataram Islam).
33

6. Diskusi
1) Apakah kebanyakan penataan kota di
Indonesia berhasil? mengapa demikian?
2) Pengelompokan permukiman dari ras
tertentu terjadi di beberapa kota. Mengapa
demikian ? (terangkan dengan teori).
3) Betulkah lokasi yang dekat tempat kerja
(pusat kota) selalu yang paling mahal?

34

Kuliah ke 1b--Pengenalan Tata Guna Lahan—(A. Djunaedi, 2017)—Hal. 17