Anda di halaman 1dari 10

VOL…………….

2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku orang tua dalam


menghadapi sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo
Kecamatan Gunungpati

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG

Maria Nuky Nurvita*Poppy Fransisca**Hermeksi Rahayu**

ABSTRAK

Latar Belakang : Anak sebagai individu yang unik mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan.
Perilaku orang tua dalam menghadapi sibling rivalry dengan memberitahu anak yang lebih tua bahwa dengan
mempunyai adik dia tidak akan kehilangan kasih sayang dari orangtuanya, dan tidak boleh cemburu kepada
adiknya, melainkan harus sayang kepada adiknya karena dia masih kecil memerlukan pengasuhan yang lebih
dari orangtuanya. Tujuan penelitian : Untuk mengetahui Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku orang
tua dalam menghadapi sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian survei analitik dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam penelitian ini dimana subjeknya yaitu orang tua yang mempunyai anak dengan sibling
rivalry pada usia balita di desa Kwasen Rejo kecamatan Gunungpati sebanyak 36 orang. Hasil penelitian : Anak
usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mempunyai dukungan keluarga skor
rata-rata 15.97. dan mempunyai perilaku i skor rata-rata 11.94, standar deviasi 1.819 dan skor terendah 9
tertinggi 14. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku orang tua dalam menghadapi sibling
rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang
Kata Kunci : dukungan keluarga dan perilaku sibling rivalry

Relationship between family support and parents' behavior in facing sibling rivalry in
children under five in Kwasenrejo Village, Gunungpati Subdistrict

ABSTRACT

Background: Children as unique individuals have needs according to the stage of development. Parents'
behavior in dealing with sibling rivalry by telling older children that by having a younger sibling he will not lose
the love of his parents, and should not be jealous of his sister, but must love his younger siblings because he still
needs more care from his parents. Objective: To find out the relationship between family support and parents'
behavior in facing sibling rivalry in children under five in Kwasenrejo Village, Gunungpati Subdistrict.
Methods: This study used an analytical survey research design with a cross sectional approach. The population
in this study where the subjects were parents who had children with sibling rivalry at the age of five children in
the village of Rejo Kwasen Gunungpati district as many as 36 people. Results: Children under five in
Kwasenrejo Village, Gunungpati Subdistrict, Semarang City had family support an average score of 15.97. and i
have an average score of 11.94, standard deviation of 1.819 and the lowest score of 9 highest 14. There is a
relationship between family support and parental behavior in facing sibling rivalry in children under five in
Kwasenrejo Village, Gunungpati District, Semarang City

Keywords: family support and sibling rivalry behavior

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Pendahuluan
Anak sebagai individu yang unik mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap
perkembangan. Sebagai individu yang unik, anak memiliki kebutuhan yang berbeda satu
dengan yang lain sesuai dengan usia tumbuh kembang. Perkembangan anak dalam
kehidupannya banyak ditentukan oleh perkembangan psikologis, termasuk didalamnya
perasaan kasih sayang orang tua dengan anaknya atau orang lain disekelilingnya, karena akan
memperbaiki perkembangan psikososial anak. Terpenuhinya kebutuhan psikososial anak
meningatkan ikatan kasih sayang yang erat (bonding) dan terciptanya basic trust atau rasa
percaya yang kuat. [1]
Anak yang berumur 3 sampai 5 tahun lebih cenderung mementingkan diri sendiri
sehingga akan mengalami kesulitan untuk berbagi perhatian orangtuanya dengan saudara
yang lain, lebih –lebih apabila ancaman itu datang dengan kehadiran adik baru (bayi). Oleh
karena itu, mereka sangat sulit mengerti mengapa adik baru (bayi) memerlukan lebih banyak
perhatian dan kasih sayang. Mereka akan cenderung mengabaikan dan cemburu. Pola
perilaku yang negatif tersebut apabila tidak ditangani dengan baik maka akan terekam
dibawah alam sadar mereka dan bisa menjadi cikal bakal akan perilaku – perilaku yang lebih
merusak bahkan bisa terbawa hingga mereka dewasa. [1]
Sibling rivalry mempunyai dampak negatif dan dampak positif. Dampak positif
sibling rivalry memberikan pengalaman belajar yang berharga bagi anak, mengatasi rasa
kesal dan menyelesaikan perselisihan dengan baik (melalui bimbingan orangtua). Dampak
negatif sibiling rivalry menjadikan anak merasa tidak memiliki harga diri di mata
orangtuanya karena merasa terus menerus disalahkan dan kakak akan menyimpan dendam
[3]
kepada sang adik karena orang selalu membela adiknya. Salah satu fenomena dampak
buruk sibling yaitu munculnya sikap temper tantrum yaitu anak memperlihatkan emosi
dengan menangis kencang, berteriak- teriak, memukul, melukai, menendang sampai
melempar barang. [17]
Dukungan keluarga yang mencerminkan ketanggapan keluarga atas kebutuhan anak
merupakan hal yang sangat penting bagi anak. dukungan yang diberikan sebagai interaksi
yang dikembangkan oleh keluarga yang dicirikan oelh perawatan, kehangatan, persetujuan
dan berbagai perasaan positif keluarga terhadap anak. Dukungan keluarga membuat anak
merasa nyaman terhadap kehadiran keluarga dan menegaskan dalam benak anak bahwa
dirinya diterima dan di akui sebagai individu. Dukungan orangtua dalam menghadapi sibling

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

rivalry dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya memberitahu kepada anak yang
lebih tua bahwa anak yang lebih tua bisa menerima adiknya. [4]
Perilaku ibu terhadap anak dipengaruhi oleh sejauh mana anak mendekati keinginan
dan harapan orang tua. perilaku ibu juga di pengaruhi oleh sikap dan perilaku anak terhadap
anak yang lain dan terhadap ibu. Bila terdapat rasa persaingan dan permusuhan, sikap ibu
terhadap semua anak kurang menguntungkan dibandingkan bila mereka satu sama lain
bergaul cukup baik.[18]
Wilayah kerja Puskesmas Gunungpati meliputi 11 desa, yaitu yang mempunyai balita
cukup banyak. Dari hasil studi di Puskesmas Gunungpati, didapatkan data jumlah balita
sebanyak 3.745 anak. Usia anak 3-5 tahun pada bulan Desember 2017 sebanyak 1789 anak.
Jumlah balita usia 3-5 tahun pada bulan Agustus 2018 sebanyak 1728 anak.
Desa Kwasen Rejo salah satu desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas
Gunungpati adalah desa yang mempunyai jarak kelahiran dekat. Berdasarkan studi
pendahuluan yang saya lakukan terdapat angka sibling yang tinggi di desa tersebut dan
tercatat 1.062 jiwa dengan jumlah balita didesa kwasenrejo sebanyak 233 balita.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap ibu yang mempunyai anak balita 2 atau lebih
dalam satu rumah, mengatakan balita sering terjadi persaingan serta pertengkaran dalam
kesehariannya. Mereka saling berebut barang mainan yang tidak dimiliki oleh masing-
masing anak, berkelahi, kadang tidak akur. Bentuk dukungan yang diberikan keluarga
mengajarkan kepada anak- anak cara-cara yang positif untuk mendapatkan perhatian satu
sama lain, memisahkan anak dari perkelahian dan tidak menyalahkan satu sama lain. Ibu juga
mengatakan bahwa perilaku sang ayah terkadang tidak menunjukkan perhatiannya kepada
anak semisal melihat anaknya berkelahi, ayah hanya mengatakan bahwa itu hal yang biasa
terjadi pada anak- anak dan tidak terlalu difikirkan. Sementara dari hasil wawancara terhadap
ibu lain yang juga memiliki 2 balita lain tidak menunjukkan persaingan dan pertengkaran
yang sering karena mereka cenderung memiliki karakter yang berbeda dan satu sama lain
akan saling melengkapi. Tidak berebut mainan atau barang- barang lain karena masing-
masing anak memiliki kesukaan yang berbeda- beda. Orang tua dan anggota keluarga lain
ikut terlibat dalam memberikan dukungan kepada anak akan hal- hal yang positif dan
mendapatkan perhatian satu sama lain.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul
“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perilaku Orang Tua Dalam Menghadapi Sibling

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Rivalry Pada Anak Usia Balita Di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang
Tahun 2018”.
Tinjauan Teori
Sibling rivalry adalah bentuk perilaku anak yang memiliki adik baru. Anak cenderung
bersikap lebih nakal karena merasa cemburu dan tersaingi atas kehadiran adiknya, terlebih
lagi ketika ia melihat ibunya sedang bersama adiknya. Perilaku ini biasanya ditunjukkan
untuk menarik perhatian ibu dan biasanya muncul pada anak- anak usia 12-18 bulan. [6]
Sibling rivalry adalah kecemburuan , persaingan antara saudara laki- laki dan
perempuan. Hal ini terjadi pada semua orangtua yang mempunyai dua orang anak atau lebih.
Oleh karena itu, untuk mengurangi terjadinya sibling rivalry maka dibutuhkan perilkau
orangtua yang baik. Perilaku orangtua adalah memberikan kasih sayang dan mendidik anak.
Pencapaian perilaku orangtua adalah suatu proses interaksi dan perkembangan yang terjadi
dalam suatu kurun waktu, dan selama itu pula akan terjalin ikatan kasih sayang dengan
anaknya. [7]
Respon kanak- kanak atas kelahiran seorang bayi bergantung kepada umur dan
tingkat perkembangan. Biasanya anak- anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota
baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih sayang orang
tua. Tingkahlaku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak- anak
ini.
Dukungan adalah suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari
orang lain yang dapat dipercaya sehingga seseorang akan tahu bahwa ada oranglain yang
[4]
memperhatikan, menghargai dan mencintainya. Keluarga adalah kumpulan dua orang atau
lebih yang hidup bersama dengan keterkaitan aturan atau emosional dimana individu
mempunyai peran masing- maisng yang merupakan bagian dari keluarga.[4]

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan menggunakan desain
penelitian survei analitik. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross
sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 36 orang dimana subjeknya yaitu orang tua
yang mempunyai anak dengan sibling rivalry pada usia balita di desa Kwasen Rejo
kecamatan Gunungpati. Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total
sampling.

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Hasil Penelitian
1. Analisa Univariat
Hasil uji normalitas menunjukkan mdukungan keluarga dan perilaku sibling
rivalry dengan nilai p-value 0.063 dan sesudah 0,057 > 0,05 sehingga data disimpulkan
terdistribusi normal sehingga menggunakan mean dalam menentukan kategori.
a. Dukungan keluarga
Tabel 4.1. Distribusi frekuensi persentase dukungan keluarga dalam menghadapi
sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan
Gunungpati Kota Semarang
Persentase
Dukungan keluarga Frekuensi
(%)
Baik 22 61.1
Kurang baik 14 38.9
Total 36 100.0

Berdasarkan tabel 4.1. di atas maka dapat diketahui bahwa anak usia balita di
Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang sebagian besar mempunyai
dukungan keluarga baik sebanyak 22 responden (61,1%) dan sebagian kecil
mempunyai dukungan keluarga kurang baik sebanyak 14 responden (38,9%).
b. Perilaku ibu dalam menghadapi sibling
Tabel 4.2. Distribusi frekuensi perilaku ibu dalam menghadapi sibling rivalry pada
anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota
Semarang

Persentase
Perilaku Frekuensi
(%)
Baik 20 55.6
Kurang baik 16 44.4
Total 36 100.0

Berdasarkan tabel 4.2. di atas maka dapat diketahui bahwa anak usia balita di
Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang sebagian besar mempunyai
perilaku baik sebanyak 20 responden (55,6%) dan sebagian kecil mempunyai perilaku
kurang baik sebanyak 16 responden (44,4%).

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

2. Analisa Bivariat
Tabel 4.3. Tabel silang antara dukungan keluarga dengan perilaku ibu dalam
menghadapi sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang

Perilaku
Dukungan Jumlah p-value
Baik Kurang baik
keluarga
F % F % F %
Baik 18 81,8 4 18,2 22 100 0,000
Kurang baik 2 14,3 12 85,7 14 100
Jumlah 20 55,6 16 44,4 36 100

Berdasarkan tabel silang di atas maka dapat diketahui bahwa anak usia balita di
Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang yang mempunyai dukungan
keluarga baik sebagian besar mempunyai perilaku baik sebanyak 18 responden (81,8%),
yang mempunyai dukungan keluarga kurang baik sebagian besar mempunyai perilaku
kurang baik sebanyak 12 responden (85,7%), yang mempunyai dukungan baik salah
satunya keluarga menasehati anak saat terjadi perkelahian namun ada yang mendapat
perilaku kurang baik seperti salah satu perilaku ibu yang sulit mengendalikan emosi diri
sendiri saat mengasuh anak dan dalam dukungan kurang baik salah satunya keluarga
memarahi anak saat melakukan kesalahan tetapi mempunyai perilaku baik yaitu ibu dapat
memperlakukan anak dengan adil, baik anak laki – laki maupun perempuan.
Dari hasil olah data dengan chi square, maka didapatkan hasil terdapat 0 sel (0%)
yang mempunyai nilai harapan kurang dari 5 didapatkan nilai p value sebesar 0,000 <
0,05, maka berdasarkan kriteria penolakan Ho dapat dinyatakan hipotesa (Ho) ditolak dan
Hipotesa (Ha) diterima berarti ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku
orang tua dalam menghadapi sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

Pembahasan
1. Analisa Univariat
a. Dukungan keluarga
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa anak usia balita di Desa
Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang dengan skor rata-rata 15.97,
standar deviasi 2.006 dan skor terendah 13.00 tertinggi 18.00. Sebagian besar
mempunyai dukungan keluarga baik sebanyak 22 responden.

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Dukungan baik orang tua yang diberikan kepada anak dengan selalu
memberikan pengertian kepada anak untuk tidak berkelahi dengan memberikan
dukungan kepada anak untuk selalu akur dalam bermain dalam lingkungan keluarga
maupun lingkungan luar. Seiring dengan perkembangan anak peran penting dari
orang tua sangat dibutuhkan. Orang tua adalah kunci bagi munculnya sibling rivalry
dan juga berperan memperkecil munculnya hal tersebut. Beberapa peran yang dapat
dilakukan adalah antara lain memberikan kasih sayang dan cinta yang adil bagi anak
ataupun mempersiapkan anak yang lebih tua menyambut kehadiran adik baru (19)
b. Perilaku ibu dalam menghadapi sibling rivalry
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa anak usia balita di Desa
Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mempunyai skor rata-rata 11.94,
standar deviasi 1.819 dan skor terendah 9 tertinggi 14. Sebagian besar mempunyai
perilaku baik sebanyak 20 responden.
Perilaku baik diberikan kepada anak karena ibu tidak membedakan kasih
sayang dan perhatian antara anak satu sama lain dan bereaksi positif terhadap perilaku
anak.(5)
Faktor terjadinya sibling rivalry antara kakak dan adik terjadi karena dua
factor yaitu factor intrernal dan factor eksternal. Salah satu factor internal yang
membuat anak merasa ada persaingan adalah Temperament yang berbeda. Tiap
anak memiliki temperament yang berbeda yang dapat menyebabkan permusuhan
dan iri. Anak yang diam dan pemalu mungkin saja iri terhadap saudara
kandungnya yang selalu menjadi pusat perhatian.(20)
Salah satu penyebab sibling rivalry adalah sikap orang tua, hal ini
disebabkan karena orang tua yang salah dalam mendidik anaknya seperti sikap
membanding-bandingkan, dan adanya anak emas diantara anak yang lain.
Disamping itu sikap orang tua yang khas terdiri dari melindungi secara berlebihan,
permisivitas, memanjakan, penolakan, penerimaan, dominasi, tunduk pada anak,
favoritisme dan ambisi orang tua.(21)
2. Analisa Bivariat
Dari hasil olah data dengan chi square, didapatkan nilai p value sebesar 0,000 <
0,05, ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku orang tua dalam
menghadapi sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan
Gunungpati Kota Semarang.

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Orang tua adalah kunci bagi munculnya sibling rivalry dan juga berperan
memperkecil munculnya hal tersebut. Juga menjelaskan beberapa peran yang dapat
dilakukan orang tua adalah: memberikan kasih sayang dan cinta yang adil bagi
anak, mempersiapkan anak yang lebih tua menyambut kehadiran adik baru,
memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan anak bukan karena adanya anak emas
atau bukan, sharing antar orang tua dan anak, serta memperhatikan protes anak
terhadap kesalahan orang tua. (24)
Hasil penelitian tentang kejadian sibling rivalry yang dilakukan oleh Zuhrotun
Nisa (2010) di Desa Gendong Kulon Lamongan yang signifikan. Penelitian di Kabupaten
Purbalingga tepatnya di Kecamatan Bukateja oleh Wasis Eko Kurniawan (2012) pada 30
ibu yang memiliki anak dibawah 5 tahun tentang pencegahan sibling rivalry setengahnya
dalam kategori buruk sisanya dalam kategori cukup dan sebagian kecil baik. Sedangkan
hasil penelitian oleh Naning Septiani (2015) dalam jurnal penelitian tentang Persiapan
Kelahiran Adik Baru dengan Perilaku Sibling rivalry di Gorontalo tepatnya di wilayah
kerja kecamatan Limboto menunjukkan bahwa dari 50 responden, hampir setengahnya
mengalami kejadian sibling rivalry. Hal tersebut menjelaskan bahwa tingginya angka
kejadian sibling rivalry di masyarakat dipengaruhi oleh orang tua dalam hal ini ibu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sibling rivalry antara lain lingkungan, yakni
hubungan antara anggota keluarga terutama seorang ibu yang dituntut mampu
berkomunikasi dengan anak di dalam suatu keluarga, faktor psikis anak, pengetahuan ibu
tentang reaksi sibling rivalry dan peran ibu. Ciri-ciri terjadinya sibling rivalry pada anak
diantaranya adalah egois, suka berkelahi, memiliki kedekatan yang khusus dengan salah
satu orang tua, ketakutan neurotik, mengalami gangguan tidur, kebiasaan menggigit kuku
dan menuntut perhatian lebih banyak.(21)
Hasil penelitian menunjukkan anak balita mempunyai dukungan keluarga baik ada
14 anak (38,9%) tetapi mempunyai perilaku kurang baik sebanyak 16 anak (44,4%) hal
tersebut karena orang tua tidak mempunyai komunikasi dengan anak yang baik, anak
cenderung lebih dekat kesalah satu keluarga atau orang tua, jadi anak merasa egois dan
maunya menang sendiri. Sedangkan anak yang mempunyai dukungan kurang baik
sebanyak 14 anak (38,9%) tetapi mempunyai perilaku baik sebanyak 20 anak (55,6%),
hal tersebut dimungkinkan anak mempunyai komunikasi yang baik dengan semua
anggota keluarga sehingga anak saling menyayangi antar anggota keluarga, sehingga
anak merasa nyaman didalam keluarga maupun diluar keluarga.

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

Keismpulan
Anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang
sebagian besar mempunyai dukungan keluarga baik sebanyak 22 responden (61,1%) dan
sebagian kecil mempunyai dukungan keluarga kurang baik sebanyak 14 responden (38,9%).
Anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang sebagian besar
mempunyai perilaku baik sebanyak 20 responden (55,6%) dan sebagian kecil mempunyai
perilaku kurang baik sebanyak 16 responden (44,4%). Didapatkan nilai p valae sebesar 0,000
< 0,05 yang artinya ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku ibu dalam
menghadapi sibling rivalry pada anak usia balita di Desa Kwasenrejo Kecamatan Gunungpati
Kota Semarang

Saran
1. Bagi Orangtua
Orangtua khususnya ibu sebaiknya memberikan dukungan kepada anak balitanya dan
melakukan pendampingan yang baik pada anaknya agar tidak terjadi perilaku sibling
rivalry pada anak balitanya.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Disarankan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber tambahan pengajaran
terutama mengenai kejadian sibling rivalry pada anak balita .
3. Bagi peneliti
Disarankan untuk peneliti perlu mengadakan penelitian mengenai faktor faktor lain yang
mempengaruhi perilaku sibling rivalry pada anak.

DAFTAR PUSTAKA
1. Purnamasari, D. 2014. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Sibling
Rivalry Pada Usia Balita. (https://ejournal.poltekkes-tjk.ac.id) Diakses pada 14 Mei 2017
2. Putri, A. 2013. Dampak Sibling Rivalry (Persaingan Saudara Kandung) pada Anak Usia
Dini. (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/dcp). Diakses pada 8 Mei 2017
3. Suhermi. 2008. Bounding Attachment And Sibling Rivalry. Yogyakarta : Fitramaya
4. Safitri, F. 2013.Pengaruh Motivasi Dan Dukungan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar
Mahasiswa Tingkat Ii Prodi D-Iii Kebidanan Stikes U’budiyah Banda Aceh.
(http://simtakp.uui.ac.id) Diakses pada 1 Juni 2018
5. Notoadmodjo, S. 2007. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT. Rienka Cipta
6. Laili,S. 2013. Hubungan Peran Ibu Dengan Tingkat Kejadian Sibling Rivalry Pada Anak
Usia Toddler (1-3 Tahun) Di Desa Sumberrejo Purwosari Pasuruhan.
(https://ejournal.stikes-ppni.ac.id) Diakses pada 8 Mei 2018
Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)
VOL……………. 2019 *) *ISSN:2301-6213(BIDAN)

7. Marmi. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas “Peurperium Care”. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
8. Sari, M. 2015. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Remaja Terhadap
Pernikahan Dini Di Desa Sukowono Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember.
(http://journal. repository.unej.ac.id). Diakses pada 1 Juni 2018
9. Notoadmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rienka Cipta
10. Saryono dan Mekar Dwi Anggreani. 2013. Metode Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif
Dalam Bidang Kesehatan. Nuha Medika Yogyakarta
11. Arita, Murwati. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep Dan Aplikasi Kasus.
Yogyakarta : Mitra Cendikia Press.
12. Alimul, Hidayat A.A. 2010. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kunatitatif. Jakarta
: Heath Books.
13. Azwar, Saifuddin. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
14. Siswanto, H. 2010. Pendidikan Kesehatan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Pustaka Rihama.
15. Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga. Yogyakarta : graha ilmu
16. Arikunto, Suharti. 2008. Prosedur penelitian. Jakarta : rineka cipta
17. Khasanah, Nur. 2015. Kejadian Sibling Rivalry Pada Anak Usia Sekolah.
(http://jurnal.unissula.ac.id) diakses pada tanggal 14 November 2018
18. Herdian. 2013. Bentuk Perilaku Sibling Rivalry. Fak Psikologi UMP.
(http://jurnal.repositort.ump.ac.id) diakses pada tanggal 14 November 2018
19. Setiawati, Santun dan Agus Citra Dermawan. 2008. Penuntun Praktik Asuhan Keluarga.
Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika
20. Sujiono Yuliana Nurani. 2009. Konsep Dasar Anak Usia Dini. Jakarta : Indeks
21. Hurlock, E.B. 2009. Psikologi Perkembangan : Suatu Perkembangan Sepanjang Rentan
Kehidupan. Jakarta : Balai Pustaka
22. Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika
23. Suririnah, T, dkk. 2010. Perawatan Ibu Nifas. Jakarta : Fitramaya

Jurnal SMART *Kebidanan/*Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada
Semarang * www.stikesyahoedsmg.ac.id/ojs/index.php/sjkb(bidan)