Anda di halaman 1dari 8

Tahap Tahapan Normalisasi Sungai

A. Pengertian Normalisasi Sungai


suatu metode yang digunakan untuk menyediakan alur sungai dengan kapasistas
mencukupi untuk menyalurkan air, terutama air yang berlebih saat curah hujan tinggi.
Tujuan normalisasi sungai antara lain untuk keperluan navigasi, melindungi tebing
sungai karena erosi (kikisan), atau untuk memperluas profil sungai guna menampung
banjir–banjir yang terjadi.

B. Tahap Tahapan Normalisasi Sungai


1. Persiapan
a. Penyusunan waktu kegiatan pada bagian-bagian pekerjaan
b. Penyusunan waktu pengadaan bahan serta peralatan sesuai jumlah yang
diperlukan sebelum pekerjaan dimulai.
c. Penyusunan waktu penyerahan tenaga kerja sesuai kebutuhan dan sifat
pekerjaan.
d. Hal-Hal yang dimaksud tersebut diatas menjadi dasar monitoring pelaksanaan
dan segala perubahan dari rencana pelaksanaan yang telah disusun.
e. Mobilisasi peralatan yang diperlukan untuk mengerjakan proyek antara lain :
Excavator, Bulldozer, Vibrator Roller dll.
f. Mobilisasi Tenaga Personil Pelaksanaan
g. Observasi Lapangan
h. Pengadaan bahan-bahan konstruksi

2. Pekerjaan Konstruksi Galian :


2.1 Galian Tanah Normalisasi Sungai
Yang dimaksud dalam pekerjaan galian tanah normalisasi sungai pada proyek
ini adalah galian tanah pada alur-alur sungai atau pada badan sungai, yang
dikerjakan dengan menggunakan alat
Excavator dimana pelaksanaannya bertujuan untuk mengarahkan aliran air ke
bagian-bagian tertentu agar tidak terjadi perpidahan aliran air yang tidak
terkontrol pada saat banjir.
Pelaksanaan pekerjaan galian hendaknya memperhatikan kemiringan sungai
dengan cermat dan memakai waterpass atau theodolite untuk menentukan
kemiringan dasar sungai maupun as sungai.
Selanjutnya galian tanah dilakukan untuk menyiapkan tanah
dasar dan dibentuk sebagai peletakan dasar bronjong.Tanah hasil galian
ditempatkan pada sisi tepi sungai sebagai stock pile yang nantinya digunakan
sebagai bahan timbunan setempat untuk pembentuk tanggul konstruksi
bronjong.
o Pada setiap kemajuan tahapan kostruksi ini perlu dibuat dokumentasi dan laporan
kemajuan pekerjaan.

Pengadaan & Pemasangan Tiang Pancang Kayu Nani Dia. 10-12 cm o Pengadaan dan
pemasangan tiang pancang kayu nani pada konstruksi bronjong dilakukan agar berfungsi
sebagai angker atau jangkar supaya posisi bronjong menjadi stabil/tidak bergeser dan sudah
harus terpasang sebelum konstruksi bronjong digelar.

o Dalam pelaksanaan terlebih dahulu disetting posisi dan jarak antara tiang pancang serta
tinggi agar pemancangan dapat dilakukan sekaligus secara menyeluruh membujur sungai.

o Selanjutnya menyiapkan tiang kayu nani yang terlebih dahulu diruncingkan salah satu
ujung agar memudahkan masuknya kedalam tanah pada saat pemancangan dilakukan.

o Pemancangan dapat dilakukan dengan menggunakan tripot yang dilengkapi dengan


kerekan/katrol dan wire rub (tali kawat
besi/slank) yang diberi pemberat kubus, balok atau pelat besi yang digantung pada ujung wire
rub dan dilepaskan pemberat besi tersebut dengan tinggi jatuh tertentu, secara terus menerus /
berulang-ulang terhadap kepala tiang sehingga tiang kayu tersebut masuk kedalam lapisan
tanah yang cukup keras dan sebagian tiang kayu dibiarkan muncul sesuai dengan gambar
rencana atau disain.

Alternatif pemancangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat excavator dimana kepala
tiang ditekan atau dipukul dengan bagian dalam bucket sehingga tiang kayu tersebut masuk
kedalam lapisan tanah yang cukup keras dan sebagian tiang kayu dibiarkan muncul sesuai
dengan gambar rencana atau

disain.

o Pada setiap kemajuan tahapan kostruksi ini perlu dibuat dokumentasi dan laporan
kemajuan pekerjaan.

3. Bronjong

Bronjong adalah sistem konstruksi yang terbuat dari anyaman kawat baja berlapis zenk yang
berbentuk matras keranjang persegi/persegi panjang yang diisi dengan batu dan dipasang
pada tebing-tebing dan tepi-tepi sungai, yang berfungsi sebagai

dinding penahan dan memberikan perlidungan terhadap gerusan dan erosi sungai.
Pelaksanaannya dilakukan setelah tiang pancang kayu nani terpasang dan galian tanah dasar
konstruksi bronjong selesai dikerjakan, maka keranjang bronjong direntangkan/dibentangkan
untuk memperoleh bentuk serta posisi yang benar kemudian diisi dengan

batu antara 15-25 cm.

Batu ditempatkan satu demi satu sehingga rongga sesedikit mungkin sampai penuh sehingga
diperoleh kepadatan maksimum dan rongga seminimal mungkin, kemudian kawat anyaman
penutup ditutup, disambung dan diikat dengan kawat pada tepi-tepi ujungnya dan Sambungan
antara keranjang haruslah sekuat seperti anyaman itu sendiri.
o Pemasangannya harus sesuai dengan dimensi/ukuran dan ketinggian yang ditunjukan
dalam gambar rencana.

Setiap tahapan pemasangan diikuti dengan tanah timbunan setempat secara bertahap pula
sesuai dengan jumlah teras - sering bronjong seperti pada gambar rencana yaitu pemasangan
bronjong lapisan ketiga (dihitung dari bawah ke atas) akan dipasang setelah tanah timbunan
setempat selesai dikerjakan dan dipadatkan dengan vibrator roller sesuai elevasi permukaan

atas bronjong lapisan kedua, demikian seterusnya sampai tinggi rencana bonjong terpasang.

o Pada setiap kemajuan tahapan kostruksi ini perlu dibuat dokumentasi dan laporan
kemajuan pekerjaan.

4. Timbunan Tanah Setempat

o Material timbunan atau tanah timbunan untuk penimbunan setempat dapat


diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu:

Material timbunannya mengunakan bahan material dari hasil galian yang memenuhi syarat
spesifikasi teknis.

Atau material timbunannya menggunakan bahan material yang berasal dari sumber bahan
yang disetujui oleh Direksi, biasanya disebut borrow area.
o Sebelum kegiatan penimbunan dilaksanakan harus terlebih dahulu diadakan pemadatan
tanah dasar dengan menggunakan alat vibrator roller agar kondisi tanah dasar menjadi stabil.

o Selanjutnya excavator menggali tanah timbunan dari stock hasil galian normalisasi sungai
dan mengangkutnya kemudian menghamparnya dilokasi rencana bronjong.

o Excavator membuat perapihan kemudian dilakukan pemadatan dengan menggunakan


Vibratory Roller pada setiap penghamparan mencapai ketebalan 20 cm dan pemadatan
tersebut dipadatkan dengan 6 pasing (12 lintasan) hingga didapatkan tebal padat 15 cm.

o Untuk mencapai kepadatan maksimum, maka perlu diberi air dengan takaran optimum
(tidak lebih dan tidak kurang).
o Penimbunan setempat pada lokasi pemasangan konstruksi bronjong harus dilakukan
secara bertahap sesuai tahapan pemasangan konstruksi bronjong seperti yang sudah dijelaskan
diatas pada point 3 (tiga).

o Penimbunan akhir dilakukan setelah selesai pemasangan konstruksi bronjong dan setelah
itu diadakan pembentukan profil timbunan, perapihan dengan excavator sesuai dengan gambar
rencana atau disain.

o Pada setiap kemajuan tahapan kostruksi ini perlu dibuat dokumentasi dan laporan
kemajuan pekerjaan.

C. Pekerjaan Akhir :

o Pekerjaan akhir dilaksanakan setelah pekerjaan telah mencapai 100%, maka seluruh
lapangan dibersihkan dari sisa-sisa kotoran dan peralatan kontraktor harus dikeluarkan dari
lokasi proyek.

Kontraktor harus membuat laporan akhir dan As Built Drawing (gambar bangunan atau
konstruksi terpasang/jadi) dalam rangkap 3 (tiga) disertai dengan dokumentasi pekerjaan mulai
tahap 0 %, 50 % dan 100 % dan termasuk tahapan pekerjaan yang dianggap penting, kemudian
dokumentasinya disusun rapi pada album sesuai urutan dan jenis pekerjaan, hasil dokumentasi
tersebut dicopy dalam CD sebanyak 3 (tiga) keping untuk diserahkan kepada Pemilik
Proyek/Owner pada saat penyerahan pertama (PHO).
Kontraktor membuat berita acara penyerahan akhir (FHO) setelah masa pemeliharaan selesai.