Anda di halaman 1dari 20

MEKANIKA TEKNIK

SEMESTER 1

1. Elemen-elemen Sistem Struktur Bangunan


a. Pengertian

Struktur bangunan adalah bagian dari sebuah sistem bangunan yang bekerja untuk menyalurkan
beban yang diakibatkan oleh adanya bangunan diatas tanah.

Fungsi struktur dapat disimpulkan untuk memberi kekuatan dan kekakuan yang diperlukan
untuk mencegah sebuah bangunan mengalami keruntuhan.

Struktur merupakan bagian bangunan yang menyalurkan beban-beban. Beban-beban tersebut


menumpu pada elemen-elemen untuk selanjutnya disalurkan ke bagian bawah tanah bangunan,
sehingga beban-beban tersebut akhirnya dapat di tahan.

b. Sejarah Perkembangan Sistem Struktur

Secara singkat sejarah teknik struktur dapat dijelaskan melalui perubahan-perubahan sistem
struktur dari penggunaan desain coba-coba yang digunakan oleh Mesir dan Yunani kuno hingga sistem
struktur canggih yang digunakan saat ini.

Keberhasilan terbesar para ahli teknik Mesir adalah digunakannya batu-batu yang berasal dari
sepanjang sungai Nil untuk membangun kuil dan piramid. Dengan sistem post-and-lintel yaitu balok batu
masif bertumpu pada kolom batu yang relatif tebal, memiliki kapasitas terbatas untuk menahan beban
beban horisontal atau beban eksentris vertikal, bangunan-bangunan menjadi relatif rendah.

Untuk stabilitas kolom harus dibuat tebal, dengan pertimbangan bahwa kolom ramping akan
lebih mudah roboh dibandingkan dengan kolom tebal.

Gambar 1. Struktur post and lintel Bangunan Batu di Mesir

Yunani

Yunani, lebih tertarik dengan kolom batu dengan penampilan yang lebih halus (Gambar 2),
menggunakan tipe yang sama dengan post-and-lintel sistem pada bangunan Parthenon.

1|Modul Mekanika Teknik


Gambar 2. Bangunan Parthenon Gambar 3. Colloseum

Hingga awal abad 20-an, lama setelah konstruksi post-and-lintel digantikan oleh baja dan rangka
beton, para arsitek melanjutkan dengan menutup fasad kuil Yunani klasik pada bagian penerima
bangunan-bangunan.

Sebagai pembangun berbakat, para teknisi Roma menggunakan struktur lengkung secara luas,
seperti yang sering ditemui dalam deret-deret bentuk bertingkat pada stadion (colloseum)(Gambar 3) ,
terowongan air, dan jembatan seperti gambar disamping.

Orang-orang Roma mengembangkan metode pembentukan pelingkup ruangan interior dengan


kubah batu, seperti terlihat pada Pantheon yang ada di Roma. Selama periode Gothic banyak bangunan-
bangunan katedral megah seperti Chartres dan Notre Dame, bentuk lengkung diperhalus dengan hiasan-
hiasan yang banyak dan berlebihan, bentuk-bentuk yang ada menjadi semakin lebar .

Elemen-elemen batu yang melengkung atau disebut flying buttresses (Gambar 4), yang
digunakan bersama dengan tiang-tiang penyangga dari kolom batu yang tebal atau dinding yang
menyalurkan gaya dari kubah atap ke tanah.

Di Eropa pada pertengahan abad ke-18 memulai produksi besi tuang sebagai bahan komersial.
Bahan ini memungkinkan ahli teknik untuk mendesain bangunan dengan sederhana tetapi dengan
balok-balok yang kuat, kolom-kolom dengan penampang yang lebih solid. Hal ini memungkinkan desain
struktur yang ringan dengan bentang yang lebih panjang dan bukaan-bukaan yang lebih lebar.

Pada akhir abad ke-19, Eifel, seorang ahli teknik perancis yang banyak membangun jembatan
baja bentang panjang mengembangkan inovasi-nya untuk Menara Eifel (Gambar 5.), yang dikenal
sebagai simbol kota Paris.

2|Modul Mekanika Teknik


Gambar 4. flying buttresses Gambar 5. Menara Eifel

2. Klasifikasi Struktur

Klasifikasi Struktur Pengertian

1 Berdasarkan a Elemen Garis /elemen klasifikasi elemen yang panjang


Geometri atau yg disusun dari elemen- dan langsing dengan
Bentuk Dasarnya elemen garis potongan melintangnya lebih
kecil dibandingkan ukuran
panjangnya.
Elemen garis dapat dibedakan
atas garis lurus dan garis
lengkung.

b Elemen permukaan klasifikasi elemen yang


ketebalannya
lebih kecil dibandingkan ukuran
panjangnya. Elemen
permukaan,
dapat berupa datar atau
lengkung.
2 Berdasarkan a Elemen Kaku biasanya sebagai batang yang
Karateristik tidak mengalami perubahan
Kekakuan bentuk yang cukup besar
Elemennya apabila mengalami gaya akibat
beban-beban.
Klasifikasi Struktur Pengertian

3|Modul Mekanika Teknik


b Elemen Tidak Kaku/ misalnya kabel yang cenderung
Fleksibel berubah menjadi bentuk
tertentu pada suatu kondisi
pembebanan.
Bentuk struktur ini dapat
berubah drastis sesuai
perubahan pembebanannya.
Struktur fleksibel akan
mempertahankan keutuhan
fisiknya meskipun bentuknya
berubah-ubah.

3 Berdasarkan a Sistem satu arah dengan mekanisme transfer


susunan Elemen beban dari struktur untuk
menyalurkan ke tanah
merupakan aksi satu arah saja.

b Sistem dua arah dengan dua elemen bersilangan


yang terletak di atas dua titik
tumpuan dan tidak terletak di
atas garis yang sama. Suatu
pelat bujur sangkar datar yang
kaku dan terletak di atas
tumpuan pada tepi-tepinya

4 Berdasarkan a Kayu
Material b Baja
pembentuknya c Beton, dll.

3. Elemen-elemen Utama Struktur

Elemen-elemen struktur utama seperti pada Gambar 6, dikelompokan menjadi tiga kelompok
utama, yaitu:
• Elemen kaku yang umum digunakan: balok, kolom, pelengkung, pelat datar, pelat berkelengkungan
tunggal dan cangkang.
• Elemen tidak kaku atau fleksibel: kabel, membran atau bidang berpelengkung tunggal maupun ganda.
• Elemen-elemen yang merupakan rangkaian dari elemen-elemen tunggal: rangka, rangka batang,
kubah, dan jaring.

4|Modul Mekanika Teknik


Gambar 6. Jenis-jenis Elemen Struktur

a. Balok dan Kolom


Elemen horisontal (balok) memikul beban yang bekerja secara transversal dari panjangnya dan
menyalurkan beban tersebut ke elemen vertikal (kolom) yang menumpunya. Kolom dibebani
secara aksial oleh balok, dan akan menyalurkan beban tersebut ke tanah. Balok akan melentur
sebagai akibat dari beban yang bekerja secara transversal, sehingga balok sering disebut
memikul beban secara melentur. Kolom tidak melentur ataupun melendut karena pada
umumnya mengalami gaya aksial saja.

b. Rangka
Struktur rangka secara sederhana sama dengan jenis balok-tiang (post-and-beam), tetapi
dengan aksi struktural yang berbeda. Pada sistem rangka ini, balok maupun kolom akan
melentur sebagai akibat adanya aksi beban pada struktur.

c. Rangka Batang
Rangka batang (trusses) adalah struktur yang dibuat dengan menyusun elemen linier berbentuk
batang-batang yang relatif pendek dan lurus menjadi pola-pola segitiga. Setiap elemen
batangnya tidak melentur tetapi hanya akan mengalami gaya tarik atau tekan saja.

5|Modul Mekanika Teknik


d. Pelengkung
Pelengkung adalah struktur yang dibentuk oleh elemen garis yang melengkung dan
membentang antara dua titik.

e. Dinding dan Plat


Pelat datar dan dinding adalah struktur kaku pembentuk permukaan. Suatu dinding pemikul
beban dapat memikul beban baik beban yang bekerja dalam arah vertikal maupun beban lateral
seperti beban angin maupun gempa.

Struktur pelat datar digunakan secara horisontal dan memikul bebansebagai lentur dan
meneruskannya ke tumpuan. Struktur pelat dapat terbuat dari beton bertulang ataupun baja.

f. Kabel
Kabel adalah elemen struktur fleksibel. Bentuk struktur kabel tergantung dari dasar dan perilaku
beban yang bekerja padanya. Struktur kabel yang ditarik pada kedua ujungnya, berbentuk lurus
saja disebut tie-rod.

g. Membran, Tenda dan Jaring


Membran adalah lembaran tipis dan fleksibel. Tenda biasanya dibentuk dari permukaan
membran. Jaring adalah permukaan tiga dimensi yang terbuat dari
sekumpulan kabel lengkung yang melintang.

( E- Book Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 hal 115 - 124 )

4. Faktor – faktor yang mempengaruhi Struktur

a. Kriteria Desain Struktur


i. Kemampuan Layan ( Serviceability )
Maksudnya Struktur harus mampu memikul beban rancangan. Kemampuan layan meliputi :1.
Pemilihan dimensi dan bentuk struktur, 2. Kekakuan yang dapat mengontrol deformasi akibat
beban. Deformasi merupakan perubahan bentuk bagian struktur yang akan tampak jelas oleh
pandangan mata, 3. Deformasi akibat gerakan pada struktur.
ii. Efisiensi
Mendesain dan menyelesaikan struktur dengan waktu yang cepat dan tepat.
iii. Konstruksi
Konstruksi merupakan kegiatan perakitan elemen-elemen atau material-material struktur.
Konstruksi akan efisien apabila materialnya mudah dibuat dan dirakit.
iv. Ekonomis
Mendesain struktur yang relatif lebih ekonomis.
v. Lain-lain

6|Modul Mekanika Teknik


5. Pembebanan pada Struktur
Diagram pada Gambar 7 menunjukan diagram beban-beban yang harus diperhatikan serta
menunjukkan cara untuk menentukan karateristiknya.

Gambar 7. Diagram Pembebanan

Hal penting yang mendasar adalah pemisahan antara beban-beban yang bersifat statis dan dinamis.

 Gaya statis adalah gaya yang bekerja secara terus-menerus pada struktur. Deformasi ini akan
mencapai puncaknya apabila gaya statis maksimum. Pada umumnya dibagi menjadi

- Beban Mati adalah beban- beban yang bekerja secara vertikal ke bawah terhadap struktur
dan mempunyai karateristik bangunan contoh berat sendiri
- Beban Hidup adalah adalah beban- beban yang bisa ada atau tidak ada pada struktur
untuk suatu waktu yang diberikan contoh beban manusia, Lantai dan Tangga dll

 Gaya dinamis adalah gaya yang bekerja secara tiba-tiba / kadang-kadang pada struktur. Pada
umumnya dibagi menjadi :

- Beban Angin adalah beban- beban yang bekerja secara horizontal terhadap struktur.
- Beban Gempa
-
6. Macam – macam Gaya dalam Struktur Bangunan

Aksi gaya eksternal pada struktur menyebabkan timbulnya gaya internal yaitu:
- Gaya Tarik adalah gaya yang sifatnya cenderung menarik elemen hingga putus.
- Gaya Tekan adalah gaya yang menyebabkan hancur atau tekuk pada elemen.
- Gaya Lentur adalah gaya yang berhubungan dengan melenturnya elemen. Yang
menyebabkan serat-serat pada sisi elemen memanjang.
7|Modul Mekanika Teknik
- Gaya Geser adalah gaya yang berkaitan dengan aksi gaya-gaya yang berlawanan arah
sehingga menyebabkan satu bagian struktur tergelincir terhadap bagian didekatnya.
- Torsi adalah puntir. Tegangan tarik maupun tekan akan terjadi pada elemen yang
mengalami torsi.
- Tegangan Tumpu adalah tegangan yang terjadi pada tumpuan. Tegangan tersebut
mempunyai arah tegak lurus dengan permukaan elemen.

Gambar 8. Arah dari Beban Aksial dan Beban Transversal

Gambar 9. Jenis – jenis Keruntuhan dan Pencegahannya


8|Modul Mekanika Teknik
7. Kestabilan Struktur

Semua struktur akan mengalami deformasi apabila mengalami pembebanan. Maka


kestabilan struktur diperlukan untuk menjamin kestabilan bangunan.
Pada struktur yang stabil, deformasi yang terjadi umumnya kecil. dan gaya internal yang
timbul dalam struktur mempunyai kecenderungan mengembalikan bentuk struktur ke bentuk
semula apabila beban dihilangkan.
Pada struktur yang tidak stabil, deformasi bertambah selama dibebani dan sistem tidak
memberikan gaya internal untuk mengembalikan bentuk struktur ke bentuk semula.

Gambar 10. Analisa Kestabilan Struktur

8. Cara Menyusun Gaya


a. Memahami Konsep Besaran dan Satuan
Satuan
Sistem Satuan Internasional atau lebih dikenal dengan sebutan satuan SI adalah
system satuan yang telah diolah oleh organisasi standar internasional yang juga dikenal
dengan nama ISO (International Organization for Standardization).
Setiap satuan terdiri dari 3 unsur yaitu:
 Besaran, contoh: Luas.
 Nama satuan, contoh: meter persegi.
 Lambang satuan, contoh: m2.
Adapun system SI ini terdiri atas tiga macam satuan, yaitu satuan dasar, satuan
tambahan, dan satuan turunan.

b. Besaran Skalar dan Besaran Vektor


Besaran yang tidak memiliki arah disebut besaran skalar contohnya luas, berat,
massa, volume. Sedangkan besaran yang memiliki arah disebut besaran vektor.
Contohnya percepatan, kecepatan, Gaya.
9|Modul Mekanika Teknik
c. Gaya
Gaya diartikan sebagai besaran usaha yang dikerjakan pada suatu titik atau bidang
dengan arah tertentu. Gaya dapat dilukiskan dalam bentuk diagram panah. Panjang
diagram menjelaskan besar gaya. Sedangkan arah panah menunjukkan arah gaya yang
bersangkutan.Gaya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Gaya mempunyai besaran. Misalnya 100 kg, 10 ton, 2500 Newton.
2. Gaya mempunyai titik kerja.
3. Gaya mempunyai garis kerja.
Garis kerja gaya merupakan garis lurus yang terletak berhimpit dengan gaya itu
sendiri. Sebuah gaya dapat dipindahkan maju atau mundur asal tetap dalam
garis kerjanya.
4. Gaya mempunyai arah

d. Menguraikan Gaya

Gaya yang berarah miring dapat diuraikan terhadap bidang datar, tegak atau bidang
acuan tertentu. Seperti gambar berikut:

Gambar 1.1. Menguraikan gaya

Keterangan
 Pada Gambar (a) gaya yang membentuk sudut lancip () terhadap bidang datar
(bidang X), dapat diuraikan menjadi gaya datar Fx = F cos , dan gaya searah bidang
Fy = F sin .
 Untuk gaya miring F terhadap bidang acuan pada gambar tertentu yang membentuk
sudut lancip  pada Gambar 11.1.(b) dapat diurai menjadi gaya sejajar bidang F// = F
cos  dan gaya tegak lurus bidang F= F sin .

Contoh
F
45°

10 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
e. Menggabungkan Gaya
Besaran gaya merupakan besaran vector. Maka dari itu gaya dapat disusun atau
dijumlahkan. Artinya ada dua buah gaya atau lebih dapat digabung menjadi satu gaya
pengganti yang disebut Resultante. Contohnya:

Menggabungkan/menyusun gaya dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Secara Grafis
Dalam menyusun gaya secara lukisan atau grafis harus menggunakan skala gaya dan
menggambarkannya dengan benar. Kesalahan menggambar akan mempengaruhi hasil
yang sebenarnya.

a. Menyusun gaya-gaya dengan cara jajaran genjang (parallelogram)


Contoh:

Penyelesaian :
1. Tentukan skala gaya misalnya 1 cm = 25 kg.
2. Gambarkan posisi gaya dengan berskala.
3. Buat jajaran genjang dengan P1 dan P2 sebagai sisi.
4. Tarik diagonal (dari sudut yang dibentuk P1 dan P2 dan itulah R1).
5. Buat jajaran genjang dengan R1 dan P3 sebagai sisi.
6. Tarik diagonal dari sudut yang dibentuk R1 dan P3 dan itulah R.
7. Ukur panjang R kemudian kalikan dengan skala gaya dan itulah besar R.

11 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
b. Menyusun gaya-gaya dengan cara segi banyak
Menentukan resultante dengan cara segi banyak gaya, kita hanya menghubungkan
gaya yang satu dengan yang lainnya, kemudian garis penghubung titik tangkap gaya
yang pertama dengan ujung gaya yang terakhir itulah yang disebut resultante (R)
sedangka arahnya menuju ujung gaya yang terakhir.

2. Secara Hitungan atau Analitis

a. Menyusun gaya-gaya yang berada dalam satu garis kerja.


Cukup dengan menjumlahkan angka gaya dengan perjanjian gaya arah ke kanan
positif (+) dan ke kiri negatif(-) atau sebaliknya.
Contoh:

b. Menyusun dua gaya yang satu titik tangkap tapi tidak dalam satu garis kerja.

Resultante kedua gaya P1 dan P2 yang membentuk sudut  dapat dihitung dengan
rumus :

2 2

Gaya yang sering terjadi dalam struktur adalah


1. Gaya Normal
adalah Gaya yang garis kerjanya sejajar dengan arah serat/sumbu batang

2. Gaya Lintang
adalah gaya yang bekerja tegak lurus dengan sumbu batang/serat batang. Ditinjau dari arah
terhadap tampang batang, gaya lintang dapat berupa gaya lintang positif (+) dan gaya lintang
negatif (-).
12 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
3. Momen gaya
adalah gaya yang bekerja pada sebuah benda sehingga mengakibatkan benda tersebut berotasi.
Besarnya momen gaya tergantung pada gaya yang dikeluarkan serta jarak antara sumbu putaran
dan letak gaya. Dengan begitu besaran momen merupakan perkalian antara gaya (tegak lurus)
dengan lengan momen (jarak tumpuan ke gaya).
Berdasarkan arah putaran, untuk momen ada perjanjian :
 Apabila putarannya searah jarum jam maka di sebut momen positif (+).
 Apabila putarannya berlawanan jarum jam maka di sebut momen negatif (-).

9. HUKUM NEWTON I

 Hukum Newton I menyatakan bahwa Aksi (A) suatu gaya akan sama dengan Reaksi (-R) yang
timbul. Dapat ditulis sebagai berikut :
A =-R atau
A+R =0
Ket : A = aksi dan R = Reaksi
 Suatu struktur dikatakan stabil jika resultan antara gaya aksi dan reaksi = 0.

10. Bentuk Struktur Utama dan Tumpuan

(a) Balok Konsol, (b) Balok dua dudukan, (c) Rangka Batang, (d) Rangka Kaku, (e) Rangka 3
sendi

Tumpuan adalah tempat bersandarnya konstruksi dan tempat bekerjanya reaksi. Jenis
konstruksi yang paling banyak dipakai/dijumpai dalam bangunan adalah tumpuan sendi, rol, dan
jepit.
1) Tumpuan sendi dapat menerima gaya dari segala arah tetapi tidak mampu menahan
momen. Dengan demikian tumpuan sendi mempunyai dua gaya reaksi.

13 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
2) Tumpuan Rol hanya dapat menerima gaya dalam arah tegak lurus Rol dan tidak mampu
menahan momen. Jadi tumpuan Rol hanya mempunyai satu gaya reaksi yang tegak lurus
dengan Rol.

3) Tumpuan Jepit dapat menahan gaya dalam segala arah dan dapat menahan momen.

14 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
ANALISIS KONSTRUKSI STATIS TERTENTU

JENIS KONSTRUKSI

Ada dua jenis konstruksi yaitu konstruksi statis tertentu dan konstruksi statis tak tentu. Dalam
mencari gaya reaksi pada konstruksi statis tertentu dapat ditentukan dengan syarat-syarat
keseimbangan yaitu

H=0,  V=0 dan  M=0

Dimana :H = Jumlah Gaya yang bekerja Horizotal pada balok harus sama dengan 0.
V = Jumlah Gaya yang bekerja Vertikal pada balok harus sama dengan 0.
M = Jumlah Momen gaya bekerja pada balok harus sama dengan 0.

Untuk mempermudah dan mempercepat dalam mengetahuijenis konstruksi dalam sebuah


bangunan dapat menggunakan persamaan :

R =B+2

Keterangan :
R = Jumlah reaksi yang akan ditentukan
B = Jumlah Batang
Dengan ketentuan Bila R > B + 2, berarti konstruksi statis tak tentu.
Contoh :

Gambar diatas merupakan konstruksi rol dan sendi terdapat tiga buah gaya yang harus ditentukan,
sedang jumlah batang = 1. Menurut persamaan diatas maka,
R=B+2=1+2=3
3 = 3 --------------= sama , Jadi Konstruksi diatas adalah Konstruksi Statis Tertentu. Sehingga untuk
menentukan gaya reaksi dapat menggunakan persamaan syarat2 keseimbangan.

15 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
Analisis Konstruksi Balok Sederhana (KBS)

Konstruksi balok sederhana adalah konstruksi yang ditumpu pada dua titik tumpu yang masing-
masing berupa sendi dan rol.

1. Analisis KBS dengan beban terpusat

A B
C

a b

Cara Mencari Reaksi Perletakan Ra dan Rb


Misalkan Ra keatas ( + )

Hukum Keseimbangan :H=0,  V=0 dan  M=0

Mb = 0 H=0
Ra . L – P . b = 0 V=0
Ra . L = P.b Ra + Rb – P=0
𝑃. 𝑏
Ra = 0 = 0 ….. benar
𝐿

Ma = 0
 -Rb . L + P . a = 0
-Rb . L = - P . a
𝑃. 𝑎
Rb =
𝐿

Soal

1. Berikut ini adalah Balok dengan Beban Terpusat

P1=6 t Tentukan

a. Reaksi Perletakan – perletakan (A dan B)


A B b. Gambar Bidang momen
C
3m 9m

Jawab :

16 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
2. Analisis KBS dengan beban miring Sin Cos
P2=3 ton
30° 0.5 30° 0.87
P= 3 ton
45° 0.71 45° 0.71

A
45°
B 60° 0.87 60° 0.5
90° 1 90° 0
3m 6m

Hukum Keseimbangan :H=0,  V=0 dan  M=0

Pv = P . Sin 45 Ph = P . cos 45 V =0
= 3 ton .0,71 = 3 ton . 0,71 Rb – Pv = 0
= 2,13 ton = 2,13 ton 0 = 0 ….. oke
Mb = 0
Ra . L – Pv . b = 0 H=0
Ha – Ph = 0
Ma = 0 Ha = Ph
 -Rb . L + Pv . a = 0 Ha = 2,13 ton

SEMESTER 2

3. Analisis KBS dengan 2 beban

Contoh Soal

1. 2.
P1=Y ton P2=Z ton
P1=Y ton P2=Z ton

A
30°
B
A B C
C D D

a b c a b c

17 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
4. Analisis KBS dengan beban merata

q= Z ton/m
q= Z ton/m

A B
A B
a a

5. Analisis KBS tumpuan jepit dengan beban terpusat

P =Z ton

A B
a

6. Analisis KBS dengan beban segitiga

q= Z kg/m

q= ton/m

A B B
A
a
m

7. Analisis KBS dengan beban trapesium


q= ton/m

A B

a b c

18 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
Analisis Rangka Batang (Truss) Sederhana

Struktur rangka batang yang tersusun dari rangkaian bangun segitiga yang merupakan bentuk
dasar yang memiliki sifat stabil. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk kestabilan rangka batang dapat
dituliskan sebagai berikut.

n=2J-R

Dimana: J = Jumlah simpul


n = Jumlah batang
R = Jumlah komponen reaksi, RAV, RAH, RBV,

Rangka batang diatas terdiri dari 9 batang struktur dan 6 titik simpul/sambung. Berdasarkan
persyaratan tersebut kestabilan rangka batang dapat ditulis :
n=2J-R
9=2*6–3
9 = 12 – 3
9 = 9 …… oke, struktur statis tertentu
Metoda yang banyak digunakan dalam perhitungan rangka sederhana adalah metoda
kesetimbangan titik simpul dan metoda potongan (Ritter).

1. Metoda Kesetimbangan Titik Simpul (Buhul).

Metoda ini menggunakan prinsip bahwa jika stabilitas dalam titiksimpul terpenuhi, berlaku
hukum bahwa jumlah komponen reaksi ΣR harussama dengan nol, ΣRh = 0, ΣRV = 0, ΣM = 0.
Dengan begitu gayabatang pada titik simpul tersebut dapat ditentukan besarnya. Metoda ini
meliputi dua cara yakni secara analitis dan grafis.

Secara analitis

Tahapan yang perlu dilakukan untuk menentukan gaya batang padastruktur rangka batang
adalah sebagai berikut.
− Memeriksa syarat kestabilan struktur rangka batang
− Menentukan besar gaya reaksi dudukan
− Menentukan gaya batang di tiap simpul dimulai dari simpul padasalah satu dudukan.
− Membuat daftar gaya batang

19 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k
Dasar – dasar Tegangan

Buku ajar : Soemono R. (1977), Statika 1, Penerbit Unv.ITB., Bandung.

20 | M o d u l M e k a n i k a T e k n i k