Anda di halaman 1dari 2

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan, dan

logos yang berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebgai cabang filsafat yang
mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitas) pengetahuan.
Dalam pengertian lain, epistemologi merupakan pembahasan bagaimana mendapatkan
pengetahuan atau lebih menitikberatkan pada sebuah proses pencarian ilmu: apakah sumber-
sumber pengetahuan, apa hakikat, jangkauan, dan raung lingkup pengetahuan, sampai mana
tahap pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia. Epistemologi merupakan salah
satu ciri-ciri pengetahuan yang spesifik mengenai bagaimana pengetahuan itu didapatkan
dengan cara yang benar. Pengetahuan didapatkan melalui prosedur yang disebut metode
ilmiah (Suriasumantri, 2007)

Teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud lahir dari praktek. Freud
menemukan psikoanalisis dalam usaha untuk menyembuhkan pasien-pasien histeris. Baru
kemudian Freud menarik kesimpulan-kesimpulan teoritis dari penemuannya di bidang
praktis. Dalam sebuah kamus ilmiah Jerman, Freud membedakan psikoanalisis dalam tiga
arti. Pertama, istilah psikoanalisis dipakai untuk menunjukan suatu metode penelitian
terhadap proses-proses psikis (misalnya mimpi). Kedua, istilah ini menunjukan suatu teknik
untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh pasien neurosis dengan
berrtumpu pada metode penelitian tadi. Ketiga, istilah yang sama dipakai untuk menunjukan
seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut di atas.

Penemuan Freud tentang psikoanalisis waktu mengobati pasien-pasien histeria dengan


menggunakan metode katarsis membuktikan adanya kaitan antara ingatan-ingatan yang
dilupakan dengan gejala-gejala histeria, sebab arti gejala-gejala itu dapat dinyatakan seteah
pasien dimasukan kedalam keadaan hipnotis. Tidak lama setelah terbitnya “Studi-sutdi
tentang Histeria” yang merupakan hasi kerja sama dengan Dr Josef Breuer, Freud
meninggalkan sugesti hipnotis karena merasa kurang puas dengan metode ini. Metode
selanjutnya yang ia gunakan adalah sugesti dalam keadaan sadar, yang kemudian ia
tinggalkan karena dirasa hasilnya kurang memuaskan sebab resistensi pasien sering kali tidak
dapat dibongkar, kadang-kadang malah semakin besar.

Ketidakpuasan Freud terhadap metode sugesti dalam keadaan sadar membawanya


kepada metode lain lagi yaitu metode asosiasi bebas. Dalam metode asosiasi bebas pasien
harus meninggalkan setiap sikap kritus terhadap fakta-fakta yang disadari, dan mengatakan
apa saja yang timbul dalam pemikirannya. Freud berkeyakinan bahwa hidup psikis sama
sekali ditentukan, dalam arti tidak ada sesuatu pun yang kebetulan atau sembarangan. Oleh
karena itu, bila pasien benar-benar jujur, dengan menyelami arus pikiran yang bebas dan
tidak terganggu, seorang ahli psikoanalisis dapat menemukan sebab dari neurosis. Metode ini
dikembangkan oleh Freud sebagai metode psikoanalisis yang definitif.

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar
Harapan: Jakarta

Dahlan, Ahmad. 2014. Hakikat Epistemologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu.


http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/hakikat-epistimologi-dalam-kajian-
Filsafat-Ilmu.html. Diakses tanggal 11 November 2017, pukul 15.50 WIB.

Bertens, K. 2006. Psikoanalisis Sigmund Freud.PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta