Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

Penulis melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin fisiologis pada Ny. NW

pada tanggal 1 November 2018 di Puskesmas Geyer 1 Kabupaten Grobogan,

didapatkan hasil sebagai berikut.

Pengkajian yang dilakukan pada tanggal 1 November 2018 pukul 01.15 WIB

pada Ny. NW usia 28 tahun G1P0A0 hamil 38 minggu didapatkan keluhan kenceng-

kenceng yang kuat, teratur, dan tidak hilang saat beristirahat sejak jam 22.00 WIB

menjalar dari perut bagian bawah hingga ke punggung dan mengeluarkan lendir darah.

Kenceng-kenceng yang dirasakan ibu semakin lama semakin sering dalam 10 menit 4

kali dengan durasi 40 detik. Keluhan yang dialami oleh Ny. NW menunjukkan adanya

tanda-tanda persalinan kala 1, yaitu mules-mules sering dan teratur dan pengeluaran

pervaginam berupa lendir darah (Jaringan Nasional Pelatihan Klinik, 2014).

Berdasarkan hasil anamnesa ibu mengatakan terakhir makan jam 19.00 WIB

dengan ½ porsi nasi dengan lauk, dan sayur serta 1 potong pisang dan minum terakhir

jam 19.00 WIB dengan 1 gelas air susu dan 1gelas air putih. Ibu mengatakan istirahat

dari jam 21.00 WIB (31 Oktober 2018) sampai jam 22.00 WIB (31 Oktober 2018)

tetapi ibu mengatakan tidurnya nyenyak.

Pemeriksaan dalam dilakukan pada tanggal 1 November 2018 pukul 01.15 WIB

didapatkan hasil VT Ø 5cm, efficement 40 %, KK (+), presentasi kepala, POD UUK

kanan depan, penyusupan 0, penurunan bagian terbawah janin turun Hodge II. Data

subyektif dan obyektif yang didapat dari wawancara dan pemeriksaan Ny. NW, maka
Ny. NW telah mengalami inpartu kala I fase aktif. Pada masa kala 1, dibutuhkan

motivasi untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam, endorphin masase dan

pendampingan suami, untuk mengurangi nyeri akibat kontraksi. Kebutuhan nutrisi,

eliminasi, mobilisasi, dan istirahat juga diberikan pada fase ini.

Kebutuhan yang diperlukan ibu untuk mengurangi nyeri persalinan kala 1 fase

aktif adalah dengan mengajarkan ibu teknik nafas dalam. Teknik relaksasi nafas dalam

dapat mengurangi nyeri persalinan. Dibawah ini merupakan patofisiologi metode

relaksasi nafas dalam terhadap penutunan nyeri (Prasetyo, 2010) :

Metode Hormon
Relaksasi Nyeri Adrenalin
Nafas Dalam

Rasa Tenang
Oksigen
Konsentrasi Dalam Darah

Detak
Jantung
Mempermudah
Pernafasan
Tekanan
Nyeri Menurun Darah
Manajemen nyeri lain yang dapat mengurangi nyeri persalinan adalah endorphin

masase yang dikombinasikan dengan relaksasi genggam jari. Endorhin masase dapat

mengurangi nyeri persalinan karena endorfin memengaruhi transmisi impuls yang

diinterprestasikan sebagai rasa nyeri. Endorfin dapat berupa neurotransmitter yang

dapat menghambat transmisi atau penggiriman pesan nyeri. Keberadaan Endorfin pada

sinaps sel saraf menyebabkan penurunan sensasi nyeri. Kadar Endorfin berbeda antara

satu orang dengan orang lain. Orang yang memiliki kadar endorfin tinggi lebih sedikit

mengalami nyeri, dan sebaliknya orang yang memiliki kadar endorfin rendah akan

mengalami tingkat nyeri yang sangat tinggi. Beberapa tindakan pereda nyeri dapat

bergantung pada endorfin yang dapat dilakukan dengan cara masase (pijatan) di daerah

tubuh yang dapat merangsang atau melepaskan hormon endorfin untuk mengurangi

nyeri (Reeder, Martin, & Koniak, 2012).


Mekanisme Endorfin Masase dalam Mengurangi Nyeri

Endorfin masase

Merangsang system Menimbulkan


endokrinologi rangsangan dikulit
dan diterima oleh
serabut serat Beta A
Hipotalamus
Menurunkan
neurotransmitter
Hipofisis serabut saraf delta A
Anterior dan C

Hormon Pelepasan
endorfin substansi P
terhambat

Rileks dan
nyaman
Penutupan
gerbang nyeri di
Menurunkan kornu dorsalis
kecemasan

Impuls nyeri tidak


diteruskan ke
korteks serebri

Menurunkan Nyeri

Sumber : Reeder, Martin & Koniak (2012)


Teknik relaksasi genggam jari juga dapat mengurangi nyeri persalinan karena

tangan (jari dan telapak tangan ) merupakan alat bantu sederhana dan ampuh untuk

menyelaraskan dan membawa tubuh menjadi seimbang. Setiap jari tangan beruhungan

dengan sikap sehari-hari. Ibu jari berhubungan dengan perasaan khawatir, jari telunjuk

berhubungan dengan ketakutan, jari tengah berhubungan dengan kemarahan, jari manis

berhubungan dengan kesedihan dan jari kelingking berhungan dengan rendah diri dan

kecil hati. Relaksasi genggam jari digunakan untuk memidahkan energi yang terhambat

menjadi lancar (Rachel Y. Hill, 2011).

Perlakuan relaksasi genggam jari akan menghasilkan impuls yang dikirim

melalui serabut saraf aferen non nosiseptor. Serabur saraf non nosiseptor

mengakibatkan ‘ pintu gerbang ‘ tertutup sehingga stimulus nyeri terhambat dan

berkurang (Pinandita et al., 2012).

Menggenggam jari dan menarik nafas dalam-dalam dapat mengurangi dan

menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi, karena menggenggam jari akan

menghangatkan titik-titik keluar masuknya energi pada meridian ( saluran energi ) yang

berhubungan dengan organ-organ di dalam tubuh serta emosi yang terletak pada jari

tangan kita. Pada saat genggaman titik-titik refleksi pada tangan akan memberikan

rangsangan secara spontan. Rangsangan tersebut akan mengalirkan semacam

gelombang kejut atau listrik menuju ke otak kemudian diproses secara cepat,

selanjutnya diteruskan menuju syaraf pada organ tubuh yang mengalami gangguan,

sehingga sumbatan di jalur energi menjadi lancar (Sulung & Rani, 2017). Sumbatan di

jalur energi tersebut merupakan perasaan yang tidak seimbang seperti perasaan
khawatir, kecemasan, marah, takut dan kesedihan yang dapat menghambat aliran

energi di dalam tubuh dan mengakibatkan ketidaknyamanan dalam tubuh (Rachel Y.

Hill, 2011).

Relaksasi genggam jari dapat mengendalikan dan mengembalikan emosi yang

akan membuat tubuh menjadi rileks. Ketika tubuh dalam keadaan rileks, secara alamiah

akan memicu pengeluaran hormon endorfin, hormon ini merupakan analgesik alami

dari tubuh sehingga nyeri akan berkurang, mengurangi ketegangan otot serta

mengurangi kecemasan (Haniyah, Setyawati, & Sholikah, 2016)


Mekanisme Relaksasi Genggam Jari dalam Mengatasi Kecemasan dan Nyeri

Relaksasi genggam jari

Menghasilkan rangsangan
spontan

Diterima oleh serabut syaraf


aferen non nociceptor

Menghantarkan gelombang
(arus listrik) ke otak

Melalui syaraf aferen rangsangan


diteruskan menuju organ yang mengalami
gangguan

Diproduksi hormon endorphin

Sumbatan dijalur energi


lancar

DiproduksiRileks
hormondanendorphin
nyaman

Mengurangi nyeri dan kecemasan

Sumber : Haniyah, Setyawati, & Sholikah, 2016


Masase endorphin dan teknik relaksasi gengam jari dilakukan selama 30 menit,

15 menit diberikan masase endorphin dan 15 menit selanjutnya diberikan teknik

relaksasi nafas dalam. Sebelum diberikan terapi tersebut skala nyeri yang dirasakan ibu

bernilai 7 dan setelah diberikan skala nyeri yang dirasakan ibu menjadi 6. Penulis juga

mengajarkan suami yang mendampingi ibu untuk melakukan masase endorphin dan

teknik relaksasi nafas dalam selama ibu mengalami kontraksi.

Penulis menganjurkan suami untuk mendampingi istri selama proses persalinan

untuk memberikan dukungan psikologis pada ibu dan memberikan makan dan minum

pada ibu. Penulis juga menganjurkan ibu untuk tidak menahan keinginan BAK dan

BAB, kemudian penulis menyiapkan partus set, hecting set, alat resusitasi BBL,

pakaian ibu dan bayi, jarit 2 helai,air klorin dan air DTT. Observasi yang dilakukan

setiap 30 menit dan didokumentasikan di partograf karena ibu telah memasuki fase

aktif serta merencanakan untuk melakukan pemeriksaan dalam 4 jam lagi.

Pada tanggal 1 November 2018 pukul 06.30 WIB dilakukan pengkajian dan

pemeriksaan ulang, Ny. NW mengeluh kenceng-kenceng semakin kuat, sering, dengan

frekuensi 5 kali dalam 10 menit durasi 60 detik, dan ingin meneran. Terdapat tanda

gejala kala II yaitu terlihat adanya dorongan meneran, tekanan pada anus, perineum

menonjol, dan vulva membuka. Hasil pemeriksaan dalam didapatkan hasil VT Ø 10

cm, efficement 100%, KK (-) jernih, presentasi kepala, POD UUK kanan depan arah

jam 12 dan penyusupan 0, penurunan kepala turun hodge III+, sehingga berdasarkan

data subyektif dan obyektif pada Ny. NW sudah masuk inpartu kala II. Pada kala II ibu
mengambil posisi meneran miring ke kiri dan posisi berbaring dengan dibantu suami

mengangkat kepala ketika ibu meneran. Kala II Ny. NW berlangsung selama 50 menit.

Asuhan yang diberikan selama kala II persalinan mengacu pada persalinan

asuhan persalinan normal 58 langkah yang mencakup kala I hingga kala IV. Selama

persalinan kala III dilakukan IMD yang bertujuan untuk menciptakan kontak kulit

antara ibu dan bayinya, megurangi perdarahan, dan meningkatkan kontraksi. Pada Ny.

NW IMD tidak berhasil dilakukan karena pada menit ke 30 bayi di ambil oleh bidan.

Pada kala IV dilakukan penjahitan perineum yang ruptur akibat proses persalinan

kala II dengan anestesi lidokain menggunakan teknik jelujur. Bayi setelah dilakukan

pengukuran antropometri, kemudian memberikan suntikan vitamin K 0,1 mg dan salep

mata pada bayi. Pada asuhan kala IV, ibu di bersihkan dengan cara menyibin ibu, alat

dan tempat dibereskan, pengawasan 2 jam postpartum, mengajarkan ibu dan keluarga

melakukan masase uterus, dan melengkapi partograf. ASI awal diberikan pada bayi

segera setelah asuhan bayi baru lahir dilakukan, dengan hasil bayi menghisap kuat.