Anda di halaman 1dari 19

PROSES HILIR PRODUKSI PENICILLIN

Hari Soesanto
PROSES HILIR PRODUKSI PENICILLIN

Sejarah Penicillin

Penicillin adalah salah satu antibiotika grup beta-lactam yang digunakan dalam
pengobatan infeksi oleh bakteri yang biasanya golongan gram positif. Penemuan
penicillin pertama kali dilakukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928. Penicillin
tersebut kemudian diketahui diproduksi oleh sejenis jamur Penicillium notatum. Sejak
penemuan Fleming, pada tahun 1929, ditemukan bahwa penicillin dapat dihasilkan dari
beberapa varietas mold dan memiliki karakteristik antibiotika yang hampir sama dengan
penicillin.
Dengan mengikuti percobaan Fleming, Clutterbuck, Lovell, dan Raistrick
meneliti kimia penicillin. Hasil penelitian mereka pada tahun 1932, mengindikasikan
bahwa penicillin adalah suatu asam organic yang dapat diekstraksi dengan pelarut
organic dari suatu campuran cairan dengan pH yang rendah, tetapi zat itu sangat labil
terhadap ion hydrogen, dan panas. Rendemen yang diperoleh saat itu sangat kecil yaitu
kurang dari 1%. Delapan tahun kemudian, yaitu pada tahun 1940, Chain dan Florey,
melakukan investigasi ulang penicillin. Mereka menanamkan organisme Fleming pada
media permukaan dengan skala pilot plant yang kecil. Dengan menjaga suhu yang rendah
selama proses ekstraksi, mereka dapat memperoleh konsentrasi penicillin yang lebih
tinggi dan menghasilkan bubuk kering (dry powder), dalam bentuk garam penicillin,
dimana memiliki kestabilan yang lebih baik dalam penyimpanan. Hasil ini menunjukkan
perkembangan yang besar dalam produksi penicillin.
Florey dan Chain mendapatkan hadiah nobel dalam bidang obat-obatan bersama
Fleming, dan setelah perang dunia II, Australia adalah negara pertama yang menyediakan
penicillin untuk penggunaan sipil. Penicillin kemudian menjadi antibiotika yang
digunakan secara luas di seluruh negara hingga sekarang.

Hari Soesanto
Kegunaan Terapi Penicillin

Penicillin tanpa diragukan merupakan obat yang luar biasa sejak penemuannya
untuk pengobatan infeksi. Aktivitasnya yang tinggi, dikombinasikan dengan non-toksik,
membuatnya menjadi obat pilihan untuk pengobatan pada kebanyakan kondisi penyakit
yang disebabkan oleh organisme merugikan.
Penicillin aktif terhadap mikroorganisme gram positif dan inaktif terhadap bakteri
gram negatif. Penicillin diketahui efektif melawan strain patogen dari genera :
Micrococcus, Streptococcus, Diplococcus, Neisseria, Clostridium, Treponema, Borrelia,
Leptospira, Corynebacterium, Bacillus, dan Actinomyces. Sebagai tambahan, beberapa
strain dari mikroorganisme tipe lain, termasuk virus dan Rickettsia (seperti
Miyagawanella psittacii) juga ada yang sensitif terhadap penicillin. Secara umum,
penicillin tidak efektif melawan genera seperti Escherichia, Aerobacter, Klebsiella,
Proteus, Salmonella, Shigella, Pasteurella, Eberthella, Pseudomonas, Vibrio, Brucella,
Hemophilus, Mycobacterium, Rickettsia, dan ragi-ragian, jamur, dan virus.
Dosis yang cukup untuk penicillin bervariasi dari 50.000 unit, pengobatan dosis
tunggal untuk gonorrhea sampai beberapa juta unit per hari selama periode yang cukup
panjang dalam pengobatan endocarditis bakteri subakut.
Penicillin dapat digunakan secara oral atau injeksi. Ketika digunakan secara oral,
dosisnya harus lebih besar (setidaknya lima kali) karena akan terjadi kerusakan penicillin
di dalam lambung dan penyerapan penicillin yang bervariasi. Ketika digunakan secara
injeksi maka pilihan melalui jalur intramuskular dapat dilakukan.
Beberapa jenis garam dari penicillin banyak digunakan pada saat ini. Garam
potassium, sodium, dan kalsium adalah garam-garam yang larut baik dalam air. Garam
kalsium belum dapat dikristalkan dan tersedia hanya dalam bentuk kasar, bentuk amorph.
Garam potassium kristal dari penicillin G adalah yang paling banyak digunakan dan
tersebar secara luas karena biaya pembuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan
garam kristal sodium ataupun bentuk amorph lainnya. Hal ini menjadi suatu contoh
bahwa substansi kristal murni relatif lebih murah untuk diproduksi daripada komponen
yang amorph.

Hari Soesanto
Karakteristik Penicillin

Penicillin merupakan campuran asam organik berstruktur komplek yang diisolasi


sebagai garam-garam natrium, kalium dan kalsium, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 1. Penicillin dihasilkan selama pertumbuhan dan metabolisme kapang
Penicillium notatum dan P. chrysogenum. Kultur yang sama dapat menghasilkan
beberapa macam molekul penicillin antara lain penicillin G dan penicillin V. Penicillin G
merupakan penicillin yang paling banyak diproduksi secara komersial dewasa ini. Pada
Gambar 1 diperlihatkan gambar struktur kimia penicillin.

Gambar 1. Struktur Kimia Penicillin

Klasifikasi Penicillin.
Berdasarkan sifat kimia yang menonjol dibedakan ke dalam 5 kelompok sebagai
berikut :
1. Penicillin alami.
Misalnya penicillin-G, yang dihasilkan dari biakan jamur yang diekstraksi dan
kemudian dimurnikan. Kalau diberikan secara oral kelompok penicillin ini cepat
mengalami hidrolisis oleh asam lambung
2. Penicillin yang tahan asam, termasuk asam lambung.
Kelompok penicillin ini memiliki gugus phenoxyl yang terikat oleh gugus alkyl
dari rantai acylnya. Dalam kelompok ini terdapat Phenoxy-methyl-penicillin, Phenoxy-
aethyl-penicillin, Phebenicillin, Amoxicillin dan Ampiciliin.
3. Penicillin yang tahan terhadap enzim penicillinase (β laktamase).

Hari Soesanto
Yang disebabkan oleh penggantian cincin aromatis untuk melindungi cincin
β laktam. Termasuk kelompok ini adalah Methicillin, Azidocillin dan Pirazocillin.
4. Penicillin yang tahan asam dan enzim penicillinase.
Termasuk kelompok ini meliputi Oxacillin, Nafcillin, Cloxacillin, Quinacillin
dan Dicloxacillin.
5. Penicilin yang memiliki spektrum anti bakterial luas terhadap kuman gram positif dan
negatif.
Termasuk kelompok ini adalah Ampicillin, Carbenicillin, Epicillin, Suncillin,
Hetacillin dan Carfecilin.

Mekanisme Kerja Penicillin


Dinding sel kuman terdiri dari suatu jaringan peptidoglikan, yaitu polimer dari
senyawa amino dan gula, yang saling terikat satu dengan yang lain (crosslinked) dan
dengan demikian memberikan kekuatan mekanis pada dinding. Penicillin dan
sefalosporin menghindarkan sintesa lengkap dari polimer ini yang spesifik bagi kuman
dan disebut murein. Bila sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau menyerap air dengan
jalan osmosis, maka dinding sel yang tak sempurna itu akan pecah dan bakteri musnah.
Penicillin bersifat bakterisid dan bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel.
Obat ini berdifusi dengan baik di jaringan dan cairan tubuh, tapi penetrasi ke dalam
cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi. Obat ini diekskresi
ke urin dalam kadar terapeutik. Probenesid menghambat ekskresi penicillin oleh tubulus
ginjal sehingga kadar dalam darah lebih tinggi dan masa kerjanya lebih panjang.
Penicillin berpengaruh terhadap sel yang sedang tumbuh dan hanya berpengaruh kurang
berarti terhadap kuman yang sedang tidak aktif tumbuh (dorman).

Produksi Penicillin

1. The Surface-Culture Fermentation


Metode surface-culture untuk produksi komersial penicillin tidak lagi digunakan
di USA atau Inggris tapi metode ini adalah metode produksi komersial pertama

Hari Soesanto
penicillin. Metode ini memang mahal, memerlukan tenaga kerja yang banyak, secara
ekonomis dan komersial kurang begitu menguntungkan.
Sudah diketahui bahwa metode pertama untuk memproduksi penicillin secara
komersial adalah melalui surface process, dimana metode ini berdasarkan pada
kecenderungan alami mold untuk tumbuh sebagai lapisan tipis pada permukaan media
cair. Banyak variasi dari proses ini, seperti tipe kontainer yang digunakan untuk
pertumbuhan mold yang dikembangkan berbeda-beda oleh laboratorium-laboratorium.
Persyaratan utama untuk kultivasi mold dengan kondisi permukaan yaitu kedalaman
media harus kurang lebih 2 cm. Unit-unit produksi dibuat dari berbagai tipe botol, labu,
dan rak-rak dari logam atau gelas.
Kultur massa spora dari strain yang sesuai dari Penicillium (NRRL 1249-B21,
NRRl 1951-B25 dan lainnya) diproduksi pada agar slant yang besar dalam botol-botol.
Jika diinginkan, suspensi cair dari spora tersebut dapat disiapkan dengan menambahkan
air steril ke dalam kultur spora dan dilakukan pengadukan untuk memecahkan clump
spora dan mencampurkannya ke dalam air. Media steril dalam kontainer yang sesuai
diinolkulasi dengan cara menyemprotkan suspensi spora ke kontainer atau dengan cara
menambahkan beberapa mililiter suspensi tersebut dengan pipet. Setelah inokulasi,
media lalu diinkubasi pada suhu 240C sampai 280C selama 6 sampai 7 hari. Biasanya,
produksi maksimun penicillin diperoleh pada periode ini dan kultur kemudian dipanen.
Kontainer dikosongkan dan broth dikumpulkan, setelah pemisahan mold. Rendemen
maksimum diperoleh pada lot kedua media beberapa hari lebih awal daripada fermentasi
pertama. Prosedur ini dapat diulang beberapa kali.
Banyak kesulitan dalam operasi dari unit produksi industri yang menggunakan
surface-culture process yang luar biasa. Pada berapapun volume produksi diperlukan
banyak sekali kontainer, inkubator yang besar, tenaga kerja yang banyak, dan investasi
yang relatif besar pada bangunan dan peralatan pendukung. Beberapa pabrik menangani
50.000 botol atau lebih setiap harinya. Meskipun pabrik-pabrik menggunakan tray-tray
untuk memproses ribuan botol tersebut per hari untuk mencapai produksi yang signifikan,
dan melibatkan bahan-bahan yang tidak sedikit, ruang, dan tenaga kerja yang digunakan
dalam pabrik surface-culture, produksi harian dari media fermentasi diatur hanya
beberapa ribu galon. Masalah sterilisasi pada metode ini juga menjadi masalah yang

Hari Soesanto
besar yang membuat metode ini menjadi tidak layak untuk produksi besar skala
komersial. Karena begitu besarnya kesulitan yang dihadapi dan kerugian-kerugian pada
proses ini, proses lain yang lebih baik yaitu submerged-culture process dikembangkan
pada skala operasi yang besar.

2. The Submerged-Culture Fermentation


Meskipun submerged-culture process untuk produksi komersial penicillin pada
dasarnya sederhana, sistem unit produksi yang sebenarnya sangat kompleks. Pabrik
penicillin yang modern adalah unit yang sangat tinggi nilai tekniknya, dimana kunci
kesuksesan operasi tergantung pada integrasi yang baik dan pengendalian mesin-mesin
yang cukup banyak dan memerlukan sumber daya yang baik untuk mengkoordinasikan
fungsi-fungsi mesin-mesin tersebut agar berjalan dengan baik.
Pada dasarnya, submerged-culture process adalah sederhana seperti surface
process, terdiri dari menumbuhkan strain Penicillium yang sesuai pada media cair.
Meskipun setiap produsen penicillin mengembangkan metodenya masing-masing dan
detail dari prosesnya tidak tersedia secara terbuka untuk dapat diperbandingkan, tapi pada
umumnya prosesnya mirip dan perbedaannya tidak diragukan hanya pada beberapa hal
kecil. Secara umum, submerged-culture fermentation process terdiri dari tiga langkah :
(1) Persiapan inokulum, (2) Produksi fermentasi, dan (3) Pemanenan media fermentasi.
Setiap pabrik atau produsen memiliki metode detail yang mungkin berbeda satu
dengan lainnya. Akan tetapi, pada dasarnya proses utamanya sama. Pada makalah ini
disajikan disain dasar proses pada pabrik produksi penicillin dengan metode submerged-
culture. Pada Gambar 2, diagram alir proses dari tipe ini memperlihatkan beberapa
langkah proses.

Peralatan Produksi
Peralatan untuk menumbuhkan mold yang menghasilkan penicillin terdapat
berbagai macam ukuran tangki fermentasi dimana digunakan untuk dua tujuan:
menumbuhkan mold untuk inokulum dan menumbukan mold untuk produksi penicillin.
Tangki yang digunakan untuk menumbuhkan inokulum disebut sebagai seed tank,
sedangkan tangki untuk produksi penicillin disebut sebagai fermentor. Biasanya, seed

Hari Soesanto
tank dan fermentor memiliki disain yang identik, dimana ada sedikit perbedaaan-
pernbedaan modifikasi kecil yang diperlukan untuk fungsi-fungsi khusus. Tangki tersebut
dapat dikonstruksi dari bahan carbon steel, stainless steel, inconelclad steel, atau plastic-
coated steel. Tangki dilengkapi dengan pengaduk mekanik, sistem sparging untuk aerasi,
dan biasanya memiliki coil yang terhubungkan dengan steam bertekanan tinggi untuk
sterilisasi dan air untuk pendinginan. Media disterilisasi sebelum dimasukkan ke dalam
tangki.
Banyak tipe-tipe pengaduk yang digunakan. Biasanya tipe turbin yang banyak
digunakan. Bentuk tangki yang silinder dan tingginya biasanya dua sampai tiga kali dari
diameter. Seed tank umumnya memiliki kapasitas sekitar 10% dari fermentor. Tangki
juga dilengkapi dengan alat otomatis yang dapat menambahkan defoamer yang berfungsi
untuk mengurangi foam yang terbentuk akibat adanya aerasi. Pada Gambar 4, disajikan
interior dari fermentor dengan volume 5000 gallon.

Hari Soesanto
Gambar 2. Diagram Alir Proses Produksi Penicillin dengan Metode Submerged-Culture (Sylvester, 1954)

Hari Soesanto
Gambar 4. Interior Tangki Fermentasi 5000 gal (Cutter Laboratorios)

Seed tank dan fermentor dihubungkan dengan pipa yang membentuk sistem
tertutup. Inokulum ditransfer dari seed tank ke fermentor dengan tekanan udara. Selama
operasi, tekanan udara sebesar 5 sampai 10 psi dipertahankan pada tangki. Ketika tidak
digunakan, semua pipa koneksi ke tangki-tangki, dijaga pada tekanan steam 15 sampai 30
psi. Adalah hal yang penting bagi operasi pada tangki fermentasi bahwa sistem terus
dijaga bebas dari kontaminasi.

Persiapan Inokulum
Karena Strain Penicillium yang digunakan dalam produksi penicillin banyak
variasinya, penanganan kultur dan persiapan inokulum untuk produksi di fermentor harus
dikontrol. Stok utama dari organisme P. chrysogenum sebagai starting point untuk setiap

Hari Soesanto
fermentor yang berjalan. Inokulasi dari fermentor produksi dari fermentor produksi yang
lain tidak digunakan kecuali bila keadaan darurat yaitu jika inokulum yang disiapkan
untuk fermentor khusus tersebut tidak dapat digunakan. Seed tank untuk menumbuhkan
inokulum diilustrasikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Seed Tank untuk Pertumbuhan Inokulum

Selama proses inokulasi di dalam seed tank, sampel diambil secara periodik dan
dievaluasi mengenai pertumbuhannya dan kontaminasinya. Evaluasi secara mikroskopik
dan subculture ke media broth dilakukan untuk memeriksa adanya kemungkinan
kontaminasi dengan bakteri atau ragi. Jika memang sudah yakin seed culture sudah
tumbuh secara memuaskan dan bebas dari kontaminasi maka akan digunakan.

Fermentasi Produksi
Fermentasi produksi dilakukan dalam tangki berkapasitas 2.500 sampai 20.000
gallon. Tangki diisi sekitar 75% dari media, dimana dapat dilakukan sterilisasi dalam
fermentor. Sebuah tangki yang berisi 4.000 gallon media memerlukan sekitar 4 jam siklus
sterilisasi dimana tekanan uap sebesar 100 psi digunakan dalam coilnya. Sekitar 90 menit

Hari Soesanto
dibutuhkan untuk meningkatkan suhu dari media sampai 1200C, lalu dijaga selama 30
menit. Tambahan waktu selama 120 menit dibutuhkan untuk mendinginkan media agar
dapat dilanjutkan inokulasi. Contoh fermentor produksi ditunjukkan pada Gambat 5.

Gambar 6. Tangki Fermentasi Produksi

Pemanenan Media Fermentasi


Pada saat pemanenan, kultur yang telah difermentasi dipompa ke reservoir tank
dimana umpan secara kontinyu masuk ke dalam rotary vacuum filter. Mycelium
dipisahkan dari campuran, dicuci dengan filter, dan dikeluarkan sebagai blanket yang
tebal. Beer yang mengandung penicillin dipompa dari filter melalui sebuah heat
exchanger yang mendinginkannya pada suhu 20 sampai 40C, masuk ke dalam tanki
penyimpanan. Selama operasi, filter biasanya disterilisasi dengan steam atau larutan
germisida. Adalah hal penting bahwa pertumbuhan bakteri tidak boleh dibiarkan ada
dalam sisten filtrasi, karena hal ini dapat menghasilkan perusakan besar terhadap
penicillin yaitu dengan aksi penicillinase bakteri. Kapasitas dari rotary vacuum filter
bervariasi sesuai dengan ukuran drumnya, berkisar antara 2.000 sampai 3000 gph untuk
suatu drun berukuran diameter 4 ft dan lebar 28 in. contoh rotary vacuum filter
ditunjukkan pada Gambar 7.

Hari Soesanto
Untuk menghasilkan 1.000 gal kultur fermentasi (5 sampai 6 pound penicillin)
dengan menggunakan submerged-culture process memerlukan sekitar 500 lb nutrient,
7.500 lb steam, 10.000 gal air, 1.000 kwh listrik, dan 250.000 cu ft udara.

Gambar 7. Rotary Vacuum Filter untuk Pemisahan


Mycelium dari Broth (Abott-Laboratories)

Recovery Penicillin
Dua proses untuk recovery penicillin telah digunakan dalam produksi komersial.
Proses pertama berdasarkan adsorpsi penicillin dari beer dengan karbon, sedangkan
proses kedua berdasarkan ekstraksi penicillin dari beer pada pH asam dengan pelarut-
pelarut yang tidak larut dengan air. Proses karbon digunakan secara luas selama periode
awal produksi penicillin, tetapi kemudian secara besar digantikan dengan proses pelarut.
Pada proses adsorpsi penicillin dengan karbon, jumlah karbon yang digunakan
tergantung pada konsentrasi penicillin dalam beer dan akan bervariasi dari 2 sampai 5%
bobot. Satu gram karbon akan mengabsorb kurang lebih 20.000 unit penicillin.
Proses ektraksi penicillin dengan menggunakan pelarut berdasarkan fakta bahwa
penicillin lebih suka larut dalam air atau pelarut-pelarut organik. Beberapa pelarut yang

Hari Soesanto
sering digunakan dalam skala besar yaitu amil asetat, metil isobutil keton, dan butil
asetat. Pemilihan pelarut yang sesuai tergantung pada beberapa faktor seperti biaya,
kelarutan dalam air, titik nyala, toksisitas terhadap manusia, penanganan yang mudah,
dan sebagainya.

Tahapan Proses Polishing Penicillin


Untuk menghasilkan garam penicillin sebagai produk akhir digunakan basa yang
sesuai. Secara komersial, garam-garam yang dihasilkan yaitu sodium, potassium, dan
kalsium. Jika bentuk garam yang amorp dari sodium, potassium, dan kalsium diinginkan,
maka larutan yang diperoleh setelah proses ekstraksi lalu di keringkan beku (freeze
drying) dan selesai tanpa proses lebih lanjut. Kebanyakan produk penicillin diproses
hingga menjadi sodium kristal atau garam potassium.
Ada beberapa prosedur untuk menghasilkan kristal garam penicillin. Salah satu
metode, dimana memberikan hasil yang memuaskan yaitu terdiri dairi larutan sodium
atau potassium penicillin (100.000 sampai 200.000 unit per ml) yang sudah difiltrasi
dimasukkan ke dalam crystallizer. Pelarut yang tidak bercampur dengan air, seperti
butanol, juga difiltrasi, ditambahkan ke dalam crystallizer dan dilakukan distilasi vakum
azeotropik. Selanjutnya air dihilangkan, garam penicillin membentuk kristal lalu
dikumpulkan secara aseptis pada filter. Operasi kristalisasi harus dijalankan dalam
kondisi aseptis untuk menghindari kontaminasi produk dari mikroorganisme. Garam
kristal kemudian dikeluarkan dari filter lalu dikeringkan pada tekanan vakum 200 sampai
400 mikron. Garam yang telah kering kemudian dipisahkan menurut ukurannya lalu
diselesaikan pada berbagai bentuk sediaan farmasi (Gambar 8)

Hari Soesanto
Gambar 8. Stainless-Steel Turnable dalam Operasi Finishing (Chas. Pfizer)

Hari Soesanto
Gambar. Diagram Alir Produksi Penicillin G (Shou Hu, 2007)

Hari Soesanto
Hari Soesanto
Gambar 3. Process Flow Diagram Penicillin (Cooney, 2005)

Hari Soesanto
Standar Penicillin
Sodium atau potassium penicillin G (standar USA) harus memenuhi standar
berikut ini : (1) harus steril, (2) tidak bersifat toksik, (3) non-pyrogenik, (4) mengandung
setidaknya 85% (bobot) dari sodium atau potassium penicillin G, (5) kadar air tidak
melebihi 1,5%, (6) pH-nya dalam larutan, pada konsentrasi 30 mg per ml tidak kurang
dari 5,0 dan tidak lebih dari 7,5, (7) larutan penicillin pada konsentrasi 30 mg per ml
bebas dari kekeruhan.
Standardisasi penicillin ditentukan dengan mengukur potensinya, dinyatakan
dengan satuan intenasional (IU, Internasional unit). Potensi 1 IU adalah besarnya
aktivitas dari 0,6 μg garam penicillin-G dalam bentuk mikrokristal yang distandardisasi
internasional. Satu gram kristal penicillin-G tersebut setara dengan 1667 Oxford Unit.

Pustaka

Admin. 2007. Penicillin dan Penggunaannya dalam Dunia Veteriner.


Komunitas Dokter Hewan Inonesia. www. vet- indo.com/index2.phpoption?
=com_content&do_pdf=1&id=20.

Cooney, C.L. 2005. Bioprocess Simulation, Economics, and Design.


net.shams.edu.eg/ecourses%20download/Chemical%20engineering/undergraduate,
graduate/Separation%20Processes%20for%20Biochemical%20Products,%20Summ
er%202005/lectures%20notes/lecture_10.pdf .

Sylvester, J.C., Coghill, R.D. 1954. The Penicillin Fermentation. Dalam Industrial
Fermentations. Vol. II. Underkofler, L.A., Hickey, R.J. Chemical Publishing Co.
New York.

Shou Hou, W. 2007. Bioseparation Overview. ugroup.cems.umn.edu/Education/Courses/


5751/ Lecture%20Notes / Introduction%20to%20Bioseparations.pdf.

Hari Soesanto