Anda di halaman 1dari 7

Implementasi Al Qur’an dalam Membentuk Keluarga Ideal untuk Tumbuh Kembang Anak

Manusia diciptakan oleh Allah SWT ke muka bumi ini, dengan segala kesempurnaan
ciptaan-Nya. Susunan dan segala keteraturan tentang manusia semuanya merupakan ciptaan-
Nya sebagai makhluk sempurna, bahkan bumi dan seluruh isinya merupakan ciptaan-Nya Yang
Maha Sempurna. Tentu semua yang ada dalam kehidupan ini sudah merupakan ketentuan dan
keteraturan yang telah Dia tuliskan dalam Lauful Mahfudz. Allah SWT berfirman:

‫ت َخلَقَ الذِي ّللاُ َرب ُك ُم ِإن‬ َ ‫ار الل أي َل يُ أغشِي أال َع أر ِش َعلَى ا أست ََوى ثُم أَيام ِست ِة ِفي َو أاْل َ أر‬
ِ ‫ض الس َم َاوا‬ ‫َح ِثيثًا َي أ‬
َ ‫طلُبُهُ الن َه‬
َ ‫وم َو أالقَ َم َر َوالش أم‬
‫س‬ َ ‫اركَ َو أاْل َ أم ُر أالخ أَل ُق لَهُ أ َ َل بِأ َ أم ِر ِه ُم‬
َ ‫سخ َرات َوالنُّ ُج‬ َ َ‫أالعَالَ ِمينَ َربُّ ّللاُ تَب‬

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah
hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al A’raf, 7: 54)

Allah menciptakan segalanya tentu dengan disertai suatu pedoman dalam menjalaninya, seperti
halnya seorang manusia menciptakan sebuah alat tentunya memberikan suatu pedoman agar
alat tersebut dapat bertahan dengan baik hingga waktu yang lama. Allah memberikan suatu
pedoman yang tentunya sangat bermanfaat dan berguna untuk manusia, pedoman tersebut
turun dalam bentuk kitab suci yaitu Al-Qur’an.

‫َاب َعلَيأكَ َونَز ألنَا‬


َ ‫ش أيء ِل ُك ِل ِت أبيَانًا أال ِكت‬
َ ‫ِل أل ُم أس ِل ِمينَ َوبُ أش َرى َو َرحأ َمةً َو ُهدًى‬

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. An-Nahl, 16: 89)

Al-Qur’an merupakan pedoman umat manusia dalam menjalani baik hubungan antara
manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, serta manusia dengan negaranya. Segala
hal yang dinyatakan dalam Al-Qur’an terperinci jelas hingga detailnya untuk menjaga manusia
agar menjadi pribadi yang memiliki kualitas yang baik. Al-Qur’an juga membahas secara
terperinci tentang kehidupan berkeluarga dan cara menjaga keharmonisan keluarga yang
nantinya akan menjadi suatu ruang untuk tumbuh kembang seorang anak. Banyak penelitian
yang mengungkapkan bahwa rata-rata suatu ketidak harmonisan keluarga dikarenakan tidak
dekatnya suatu keluarga dalam dengan Al-Qur’an. Salah satu penelitian tersebut dilakukan oleh
Tirtawinata (2013) yang menyatakan faktor terbesar dalam tidak harmonisan keluarga adalah
kurangnya akhlak dalam berumah tangga yang berujung pada perceraian, perselingkuhan, dan
permasalahan lainnya, hal tersebut tentunya berdampak pada tumbuh kembang anak nantinya.
Keluarga yang tidak paham tentang pentingnya Al-Qur’an akan sangat jauh dengan pencipta-
Nya, ketika suatu keluarga jauh dengan pencipta-Nya maka keluarga tersebut akan rentan
terhadap masalah, maka dari itu penting bagi setiap keluarga untuk megimplementasikan Al-
Qur’an dan kehidupan berkeluarga untuk menciptakan keluarga yang ideal sebagai tempat yang
baik bagi tumbuh kembang seorang anak.

Pada dasarnya, Al-Qur’an mengajarkan setiap keluarga untuk membangun


keharmonisan dengan menghidupkan Al-Qur’an melaui pembacaanya, pemahamannya, dan
pengamalannya. Dalam konfrensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika, di Sant Louis,
wilayah Missuori AS, Dr Ahmad Al-Qadhi pernah melakukan presentasi tentang hasil
penelitiannya (penelitian awal) dengan tema: pengaruh Al-quran pada manusia dalam
prespektif fisiologi dan psikologi dalam kehidupan berkeluarga. Hasil penelitian tersebut
membuktikan bahwa semakin sering suatu keluarga berinteraksi dengan Al-Qur’an maka
sistem saraf dan otot-otot pada individu keluarga tersebut akan menjadi lebih tenang dan
tingkat stress dalam keluarga mendekati angka nol. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah
SWT yaitu,

َ‫للا بِذِك َِر قُلُوبُ ُهم وتطمئِنَ آمنُواَ الَّذِين‬ َِّ َ‫القُلُوبَُ تطمئِن‬
َِّ َ‫للا بِذِك َِر أل‬

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’ad, 13: 28).

Banyak sekali keluarga yang melalaikan akan pentingnya Al-Qur’an dalam keluarga,
seharusnya penerapan Al-Qur’an menjadi prioritas utama. Menurut pakar ahli, Yunus Daud
(2014) Al-Qur’an akan menanamkan suatu pola gradasi emosional yang bagus kepada seorang
anak apabila sudah dibiasakan sejak dini dan anak akan tumbuh menjadi pribadi dengan
karakter insan yang baik. Al-Qur’an sendiri juga mengisahkan suatu kisah inspiratif yang
bahkan nama keturunannya dimasukkan kedalam nama ayat Al-Qur’an yaitu keluarga Imran.
Sebuah ketaatan terhadap agama dengan kitab yang diturunkan pada masanya, keluarga
tersebut sangat taat dan selalu mengamalkan ayat-ayat yang diturunkan dengan sangat baik dan
penuh kesabaran. Imran memiliki keturunan-keturunan yang sangat mulia mulai Maryam r.a.,
Nabi Isa a.s. dan keturunan-keturunan selanjutnya. Begitulah Allah memuliakan suatu
keluarga yang dekat dengan-Nya dengan mengamalkan ayat-Nya dengan penuh ketaatan.
Menurut Henyk Nur (2016) Keluarga yang dibangun melalui konsep penerapan Al-
Qur’an akan mampu mewujudkan delapan fungsi keluarga ideal yang terdiri dari :

Pertama, fungsi reproduksi. Keluarga yang menerapkan ayat Al-Qur’an dengan sangat baik
sudah pasti akan diberikan keturunan yang baik. Istri Imran yang sudah tua dan mandul, ketika
terus mendekatkan diri dengan Allah dan mengamalkan ayat-Nya ia diberikan keturunan yang
baik, yang secara logika itu sangat mustahil tapi akhirnya semua itu dapat terwujud dengan
sabar dan sholat.

Kedua, fungsi ekonomi. Ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an banyak yang meminta setiap
manusia untuk bekerja dan berusaha, kalau hidup dalam kesusahan Al-Qur’an kita diberikan
solusi dengan perbanyak sedekah dan bersyukur. Meski dalam kekurangan suatu keluarga akan
tetap harmonis ketika keluarga mengerti arti kehidupan dunia melalui Al-Qur’an.

Ketiga, fungsi edukasi. Pendidikan dalam Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an akan membawa
anak dalam pembentukan karakter yang insan, dan mengasihi satu dengan yang lain. Akhlakul
karimah akan membawa keluarga dan keturunan ke arah yang lurus dan membentuk
kepribadian yang terpuji karena sudah mengetahui cara menjadi pribadi yang taat dan takut
kepada Allah.

Keempat, fungsi sosial. Hubungan antara manusia dengan manusia sangat ditekankan dalam
Al-Qur’an, baik kepada saudara, tetangga, sesama muslim, maupun kepada yang berbeda
keyakinan. Toleransi sangat ditekankan dalam Islam melalui Al-Qur’an, keluarga yang dididik
dengan penghayatan Al-Qur’an makan akan memiliki rasa toleransi dan menghargai yang besar
tanpa merusak aqidah pribadi anak.

Kelima, fungsi protektif. Aturan yang terkandung dalam Al-Qur’an menjamin keamanan
setiap manusia, terutama wanita. Islam sangat memuliakan dan menjaga wanita dengan
ketentuan yang menjaga setiap keluarga dari keburukan yang tidak diinginkan. Keluarga yang
selalu menerapkan dan mengamalkan Al-Qur’an akan selalu dalam perlindungan oleh Allah
melalui jalan-Nya. Keluarga yang dalam naungan Allah akan senantiasa merasa aman ketika
berada didalamnya, anak sendiri akan merasakan ketenangan tanpa adanya rasa takut karena
telah dididik untuk hanya takut kepada Allah.

Keenam, fungsi rekreatif. Rekreatif akan menghasilkan suatu kesenangan batin dan jiwa,
rekreasi tidak hanya keluar rumah bersenang-senang melainkan untuk mewujudkan fungsi ini
suatu keluarga hanya perlu untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari bersama
dengan anak. Kesenangan batin yang didapatkan akan justru lebih besar ketika menyibukkan
diri dengan Al-Qur’an.

Ketujuh, fungsi afektif. Keluarga sebagai tempat bersemainya kasih sayang, empati dan
kepedulian. Meski hal ini fitrah, namun banyak keluarga yang sudah mengabaikannya. Banyak
keluarga yang terasa formal disetiap interaksinya. Al-Qur’an mengajarkan tanggung jawab
setiap pribadi dalam keluarga sehingga hal yang diinginkan mulai dari kasih sayang, empati,
dan kepedulian akan terwujud secara natural dalam keluarga.

Kedelapan, fungsi relijius. Sudah sangat jelas, ketika keluarga mendekatkan diri dengan Al-
Qur’an maka rohaniah yang ada dalam keluarga akan meningkat dan tertanam dengan baik
seperti layaknya biji yang ditanam ditanah subur yang terus dirawat.

Delapan fungsi tersebut terangkum dalam satu ayat dalam Al-Qur’an,

‫س ُك أم قُوا آ َمنُوا الذِينَ أَيُّ َها يَا‬


َ ُ‫َارا َوأ َ أه ِلي ُك أم أ َ أنف‬
ً ‫اس َوقُودُهَا ن‬ َ ‫صونَ َل ِشدَاد ِغ ََلظ َم ََلئِكَة َعلَ أي َها َو أال ِح َج‬
ُ ‫ارة ُ الن‬ ُ ‫أ َ َم َر ُه أم َما ّللاَ يَ أع‬
َ‫يُؤأ َم ُرونَ َما َو َي أف َعلُون‬

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrîm, 66:6)

Ruang yang terbentuk melalui Al-Qur’an dalam keluarga, selanjutnya akan menjadi
suatu ruang yang nyaman untuk tumbuh kembang seorang anak. Terdapat beberapa langkah
yang akan memudahkan tumbuh kembang anak mulai sejak anak didalam kandungan dengan
mengimplementasikan Al-Qur’an.

Pertama, pembacaan Al-Qur’an. Langkah pertama dalam implementasi Al-Qur’an adalah


dengan membacakannya, ini merupakan tugas bagi kedua orang tua ketika anak masih dalam
kandungan. Lantunan ayat-ayat suci pada jam-jam tertentu akan meningkatkan pertumbuhan
anak dalam perkembangan janinnya. Penelitian yang dilakukan oleh Salim (2016) yang
membandingkan antara pengaruh music klasik (Mozart Effect) dengan Al-Qur’an
menunjukkan bahwa anak yang lahir dengan rutin diperdengarkan lantunan Al-Qur’an dapat
lahir secara normal dengan baik, dan memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan baik
dibandingkan dengan musik klasik atau tidak diperdengarkan apapun.
Langkah pertama ini tentunya merupakan modal awal untuk membentuk suatu tumbuh
kembang seorang anak dengan didukung dengan kerja sama antar orang tua sehingga tumbuh
kembang anak menjadi lebih baik kedepannya sehingga terbiasa dengan lantunan ayat suci.
Langkah ini tidak hanya dilakukan ketika anak berada dijanin, tetapi hingga anak mulai tumbuh
dan akhirnya sudah mulai mampu membaca.

Kedua, pengajaran Al-Qur’an. Ketika anak sudah mulai mengenal Al-Qur’an dengan terbiasa
mendengarkannya dan anak sudah mulai mampu untuk membaca maka tugas kedua bagi orang
tua adalah mengajarkannya membaca Al-Qur’an, mengenalkannya dan mengajarkannya
kepada anak. Pengajaran ini dimulai dengan cara membacanya melalui cara iqro’ atau metode
lainnya untuk mempermudah membaca Al-Qur’an, ketika anak sudah mampu untuk membaca
maka selanjutnya diajarkan untuk membaca Al-Qur’an dan artinya setiap waktu, ketika
langkah ini sudah selesai dilakukan maka anak diajarkan untuk menghafalkannya.

Langkah kedua ini merupakan langkah yang akan memiliki beban yang sangat berat untuk
orang tua, karena orang tua harus sibuk mengajarkan kepada anak baik melalui pengajaran
langsung maupun memasukkan anak ke lembaga yang dapat mempermudah belajar anak.
Selain itu, orang tua sebagai contoh harus menguasai pula dan dituntut harus bisa membaca
dan menghafalkan Al-Qur’an, agar anak juga termotivasi untuk belajar Al-Qur’an.

Ketiga, pengamalan Al-Qur’an. Tahapan terakhir ini biasanya berlangsung semenjak proses
anak mulai interaksi dengan Al-Qur’an baik melalui pemahaman anak atau melalui didikan
orang tuanya. Sesuai yang diketahui sebelumnya, bahwa Al-Qur’an memiliki nilai-nilai luhur
yang tinggi yang dapat berguna untuk kehidupan manusia. Anak yang tumbuh dari keluarga
Al-Qur’an maka akan menjadikan anak tersebut tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang
berkarater dan tangguh.

Keseluruhan langkah dalam penerapan Al-Qur’an ini harus dapat dilakukan sejak awal
mulai dari pernikahan yang dilandasi dengan syari’at Islam, hingga mulai mengandung seorang
anak dan sampai pada membesarkan seorang anak. Studi yang dilakukan oleh Nurwahidin
(2009) tentang tradisi berpikir Qur’ani menjelaskan bahwa ketika seorang anak yang sudah
dibiasakan berinteraksi dengan Al-Qur’an maka hubungan fungsional anak yang terdiri dari
akal, jiwa, dan jasmani akan terbangun serasi untuk perkembangan anak. Hal tesebut sesuai
dengan ungkapan Yulia (2016) yang membahas tentang faktor yang mepengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak usia dini terutama faktor internal yang akan terbentuk dengan baik
melalui keserasian antar fungsional anak.
Penjabaran yang telah dilakukan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan yang
merupakan ini pembahasan tentang membangun keluarga ideal untuk tumbuh kembang anak
melalui implementasi Al-Qur’an secara penuh. Keluarga ideal yang akan menjadi ruang
pertama kali anak untuk bersosialisasi harus terbentuk terlebih dahulu sebelum menjadi tempat
yang nyaman. Hal ini diawali dengan pribadi orang tua yang baik dan dibangun berdasarkan
kedekatan dan pemahaman yang baik tentang Al-Qur’an, karena akan menjadi faktor
terpenting untuk membangun keluarga ideal. Orang tua yang sudah memahami pentingnya Al-
Qur’an sebagai faktor utama dalam menciptakan keluarga yang ideal akan membentuk suatu
ruang yang juga berdasarkan Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an sudah mulai tertanam dalam suatu
keluarga maka akan memberikan cahaya dan selalu memberikan jalan yang lurus untuk seluruh
keluarga yang sesuai dengan firman Allah SWT,

ُ ‫ورا ِإلَ أي ُك أم َوأ َ أنزَ ألنَا َر ِب ُك أم ِم أن ب أُرهَان َجا َء ُك أم قَدأ الن‬


‫اس أَيُّ َها يَا‬ ً ُ‫ُم ِبينًا ن‬

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu.
(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang
benderang (Al Quran).” (QS. An-Nisa, 4:174).

Ketika keluarga sudah mulai diterangi oleh Al-Qur’an maka akan menjadi suatu keluarga yang
terdapat kenyaman serta keharmonisan bagi yang tinggal didalam keluarga tersebut.

Keluarga yang sudah ideal selanjutnya memberikan ruang yang ideal untuk anak, tugas
orang tua sebagai pengendali keluarga adalah dengan memberikan pendidikan Al-Qur’an sejak
anak didalam rahim. Hal tersebut untuk membuat anak sudah siap dan terbiasa dengan
kehidupan keluarga yang Qur’ani yang akan menjadi media anak untuk tumbuh dan
berkembang ketika anak mulai lahir dan bergabung sebagai buah hati. Peran orang tua untuk
menciptakan ruang bagi anak untuk tumbuh berkembang sangatlah besar agar anak mampu
menyesuaikan diri dan terbiasa dengan kehidupan yang ideal dengan Al-Qur’an. Pengajaran
Al-Qur’an dimulai dengan pembacaan yang dimulai dari rahim hingga anak mulai mampu
untuk membaca. Selanjutnya, anak diajak untuk mempelajari Al-Qur’an mulai dari membaca,
memahami, dan menghafalkannya, hal tersebut dimaksudkan untuk menjadikan anak lebih
mengetahui kandungan nilai dari Al-Qur’an. Langkah pengajaran ini dilakukan mulai dari anak
ketika mampu untuk membaca hingga anak terus tumbuh dan berkembang. Langkah yang
terakhir yang merupakan langkah yang dilakukan seumur hidup adalah dengan pengamalan isi
dan kandungan ayat Al-Qur’an yang dimulai semenjak anak mulai lahir hingga tutup usia yang
terus dibimbing oleh orang tua.
Daftar Pustaka

Aba, A.Firdaus. (1999). Melahirkan Anak Saleh. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Al-Qadhi, A. (2014). Pengaruh Al-quran pada Manusia dalam Prespektif Fisiologi dan
Psikologi dalam Kehidupan Berkeluarga. Jurnal Ilmiah Psymphatic, 1 (2), 120-129.

Daud, Y. (2014). Peran Al-Qur’an dalam Mempengaruhi Perkembangan Emosional Anak


Usia Dini. Jurnal Psikologi Anak, 6 (1), 7-11.

Daudy, A. (1983). Allah dan Manusia dalam Konsep Syeckh Nurrudin al-Raniry. Jakarta. CV
Rajawali.

Departemen Agama RI. (1989). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang: CV.Toba Putra.

Nur, H. (2016). Fungsi Keluarga Ideal dalam Tumbuh Kembang Anak. Jurnal Ilmiah Psikologi,
8(10), 127-137.

Nurwahidin. (2009). Membentuk Generasi Qurani Melalui Pendidikan Anak Menurut Al-
Qur’an. Jurnal Studi Al-Qur’an, 5 (1), 40-52.

Rahman S. Abdullah., dkk. (1970). Educational Theory: Qur’anic Outlook. Mekkah: Ummul
Qurra University.

Salim, B. A. (2016). Perbandingan Penggunaan Musik Klasik dengan Al-Qur’an pada


Perkembangan Janin. Journal of Neuromathyc System, 4 (12), 98-123.

Tirtawinata, C. M. (2013). Mengupayakan Keluarga Harmonis. Humaniora, 4 (2), 1141-1151.

Yulia. (2016). Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini.
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7 (5), 78-89.