Anda di halaman 1dari 19

PERCOBAAN 6

PEMISAHAN ZAT AKTIF DENGAN EKSTRAKSI FASE PADAT

I. Tujuan Percobaan
1. Melakukan pemisahan parasetamol dari sediaan obat tradisional (jamu)
dengan etode ekstrasi fase padat.
2. Melakukan analisis kualitatif hasil ekstraksi fase padat dengan metode
kromatografi lapis tipis dan KCKT.

II. Prinsip Percobaan


Ekstraksi fase padat merupakan metode pemisahan dimana senyawa yang
terlarut atau tersuspensi dalam campuran cairan dipisahkan oleh senyawa lain dalam
campuran sesuai dengan sifat fisika dan kimianya. Ekstraksi ini digunakan untuk
memekatkan atau memurnikan sampel untuk analisis. Prinsipnya adalah analit yang
terlarut dalam suatu pelarut yang memiliki daya elusi rendah dimasukkan ke dalam
catridge dan kemudian terperangkap dalam edium EFP. Analit kemudian dielusi
dengan pelarut berdaya elusi kuat bervolume kecil (Watson, 2010)

III. Teori Dasar


Ektraksi Fase Padat atau yang biasa disebut Solid Phase Extraction
merupakan metode pemisahan dimana senyawa yang terlarut atau tersuspensi dalam
campuran cairan dipisahkan dari senyawa lain dalam campuran sesuai dengan sifat
fisik dan kimianya. Prinsip Ekstraksi Fase Padat yaitu analit yang terlarut dalam suatu
pelarut yang memiliki daya elusi rendah dimasukkan ke dalam cartridge dan
kemudian akan terperangkap pada media SPE. Analit tersebut kemudian dapat dibilas
dengan pelarut lain yang berdaya elusi rendah dan kemudian akhirnya dielusi dengan
pelarut berdaya elusi kuat bervolume kecil (Watson, 2010).
Pada ekstraksi fase padat larutan sampel dilewatkan pada partikel penyerap
(fase padat) dimana analit memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap penyerap
daripada diekstraksi dengan elusi menggunakan pelarut yang sesuai. Metode ini
memudahkan analisis dengan menghilangkan matriks pengganggu. Ektraksi fase
padat pada mulanya digunakan untuk polutan organikk dalam air, namun sekarang
penggunaannya bertambah luas untuk berbagai matriks meliputi serum darah, urin,
susu, minyak, endapan, tanah, tanaman dan jaringan hewan serta sediaan obat
(Gandjar, 2012).
Menurut Simpson (2000), SPE atau Solid Phase Extraction merupakan salah
satu variasi dari teknik analisis yang tersedia untuk memperbaiki kesenjangan yang
ada antara sampel dengan tahap-tahap analisis. Filtrasi, homogenisasi, presipitasi,
reaksi kimia, pertukaran pelarut, konsentrasi, penghapusan matriks, solubilisasi
merupakan komponen yang dapat digunakan secara tunggal atau kombinasi untuk
mendapatkan sampel dengan bentuk kompatibel dengan analisis yang diperlukan.
SPE memiliki keunggulan jika dibandingakan dengan ekstraksi cair-cair yaitu
dengan menggunakan SPE proses ekstraksi menjadi lebih sempurna, pemisahan
matriks dari analit menjadi lebih efisien, dan mengurangi pelarut organik yang
digunakan. SPE merupakan proses pemisahan yang efisien sehingga recovery yang
tinggi (<99%) mudah dicapai jika dibandingan dengan ekstraksi cair-cair. Pada
ekstraksi cair-cair masih diperlukan beberapa kali ektraksi untuk memperoleh
recovery yang tinggi, sedangkan dengan menggunakan SPE hanya dibutuhkan satu
tahap saja (Rohman, 2009).
Menurrut Royle et al, SPE memiliki beberapa keunggulan dan telah banyak
digunakan karena dapat menggunakan fase diam yang beragam, prosedur yang cepat
dan sederhana serta troughput yang tinggi (Royle et al, 2008).
Menurut Ferenc et al dalam Berthod, keuntungan utama dari ekstraksi fase
padat adalah penggunaannya, waktu cepat dan umumnya hanya dibutuhkan pelarut
ekstraksi dengan volume yang kecil. Selain itu, teknik SPE telah dimodifikasi
menjadi teknik SPME (Solid Phase Microextraction) yang memiliki serat silica
dilapisi dengan fase diam (Berthod, 2014).
Terdapat dua tipe metode dalam SPE yaitu fase normal dan fase balik. Dalam
SPE fase normal mekanisme retensi didasarkan padaa interaksi-interaksi polar yaitu
interaksi dipol-dipol, ikatan hydrogen, interkasi π-π, dan interaksi dipol-dipol
terinduksi. Jenis-jenis interkasi dapat dikelompokkan ke dalam interaksi yang lemah
sampai sedang. Absorben organik yang paling umum digunakan dalam SPE fase
normal adalah silica gel, alumina, magnesium silikat dan tanah diatom. Penjerap-
penjerap ini bersifat efisien dalam mengekstraksi senyawa-senyawa dengan kepolaran
yang tinggi atau menengah (Berthod, 2014).
Untuk SPE fase balik partisi terjadi malalui interaksi-interaksi hidrofobik
(yaitu melalui daya van der walls). Penjerap yang digunakan pada fase terbalik
mungkin lebih familiar dikenali berdasarkan jenis fase diam yang umum digunakan
dalam KCKT fase balik seperti C8, C18, fenil serta fase polimerik. SPE fase terbalik
efisein digunakan untuk ekstraksi analit-analit dengan kepolaran rendah sampai
menengah atau analit-analit hidrofobik dari matriks air atau buffer sehingga fase ini
merupakan fase SPE yang ideal utnuk analisis sediaan farmasi. Pada kenyataannya,
metode KCKT yang diguakan untuk analisis suatu ektrak dan kondisi-kondisi elusi
pita-pita utama dapat merupakan petunjuk yang bermanfaat untuk penegmbangan
metode SPE (Berthod, 2014).
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid
Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia.
KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa
gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. Menurut Synder dan Kirkland (1979)
terdapat banyak kelebihan dari KCKT diantaranya:
1. Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran
2. Pengerjaan yang mudah
3. Kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi
4. Dapat dihindari terjadinya dekomposisi atau kerusakan bahan yang dianalisis
5. Resolusi yang baik
6. Dapat menggunakan berbagai macam detector
7. Kolom dapat digunakan kembali
8. Mudah melakukan sample recovery
Prinsip dasar dari HPLC, dan semua metode kromatografi adalah memisahkan
setiap komponen dalam sampel untuk selanjutnya diidentifikasi (kualitatif) dan
dihitung berapa konsentrasi dari masing-masing komponen tersebut (kuantitatif).
Analisa kualitatif bertujuan untuk mengetahui informasi tentang identitas kimia dari
analit dalam suatu sampel. Sedangkan analisa kuantitaif untuk mengetahui jumlah
dan konsentrasi analit tersebut dalam sampel (Riyadi, 2009).
Teknik HPLC merupakan satu teknik kromatografi cair- cair yang dapat
digunakan baik untuk keperluan pemisahan maupun analisis kuantitatif. Analisis
kuantitatif dengan teknik HPLC didasarkan kepada pengukuran luas atau area puncak
analit dalam kromatogram, dibandingkan dengan luas atau area larutan standar. Pada
prakteknya, perbandingan kurang menghasilkan data yang akurat bila hanya
melibatkan satu standar, oleh karena itu maka perbandingan dilakukan dengan
menggunakan teknik kurva kalibrasi. Saat ini, HPLC atau KCKT merupakan teknik
pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu
dalam suatu sampel pada sejumlah bidang, antara lain : farmasi; lingkungan;
bioteknologi; polimer; dan industri- industri makanan. Kegunaan umum HPLC
adalah untuk: pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa
biologis ; analisis ketidakmurnian (impurities); analisis senyawa- senyawa mudah
menguap (volatile); penentuan molekul- molekul netral, ionik, maupun zwitter ion;
isolasi dan pemurnian senyawa; pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya
hampir sama; pemisahan senyawa- senyawa dengan jumlah sekelumit (trace
elements), dalam jumlah yang banyak, dan dalam skala proses industry. HPLC
merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisis
kualitatif maupun kuantitatif. Analisis kuantitatif dengan HPLC didasarkan pada
pengukuran luas atau area puncak analit dalam kromatogram, dibandingkan dengan
luas/area standar (Riyadi, 2009).
Parasetamol merupakan obat penurun panas dan pereda nyeri yang telah lama
dikenal oleh masyarakat Indonesia. Metabolit Fenasetinini diklaim sebagai zat
antinyeri yang paling aman sebagai swamedikasi (Tjay dan Rahardja, 2007).
Parasetamol cenderung aman ketika digunakan sesuai dengan takarannya dan dapat
menimbulkan hepatotoksik pada pemakaian lebih dari 4 gram atau seseorang yang
beresiko terkena hepatotoksik. Di Amerika, lembaga Food and Drug Administration
(FDA) mencatat sebanyak 307 kasus hepatotoksik yang berkaitan dengan penggunaan
Parasetamol dari Januari 1998 hingga 2001. Sebanyak 60%penderita hepatotoksik
dikategorikan sebagai pasien gagal hati parah, sedangkan 40% penderita meninggal
dunia. Reaksi pada kulit dan hipersensitivitas lain dilaporkan pernah terjadi meski
jarang terjadi (AHFS, 2005).
Secara umum, Parasetamol digunakan per-oral. Pada pasien yang tidak dapat
menggunakan secara per-oral, Parasetamol sering diberikan dalam bentuk supositoria.
Parasetamol sering digunakan untuk analgesik pada penatalaksanaan sakit ringan
hingga moderat. Selain itu, Parasetamol juga digunakan dalam pengobatan migrain
pada kombinasi dengan aspirin dan kafein. Pada pemakaian lain, Parasetamol
ditujukan untuk pengobatan sakit karena osteoartritis (OA) khususnya pada pasien
yang bermasalah dengan saluran gastro intestinal (AHFS, 2005).

Gambar 3.1 Struktur Kimia Paracetamol

Efek analgetik Paracetamol dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri


ringan sampai sedang. Paracetamol mengjhilangkan nyeri, naik secara sentral maupun
secara pperifer. Secara sentral diduga Paracetamol bekerja pada hipotalamus
sedangkan secara perifer menghambat pembentukan prostaglandin di tempat
inflamasi, mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanin atau
kimiawi. Efek antipiretik dapat menurunkan suhu demam. Pada keadaan demam,
diduga thermostat di hipotalamus terganggu sehingga suhu badan lebih tinggi.
Senyawa Paracetamol memiliki waktu paruh 1-3 jam dan tidak menyebabkan
perdarahan gastrointestinalis atau gangguan asam basa seperti asam asetilsalisilat,
tetapi mempunyai bentuk toksisitas hepatik sedang sampai berat (Zubaidi, 1980).

IV. Data Fisik Zat Kimia


4.1. Paracetamol (Dirjen POM, 2014)
Pemerian : Serbuk, hablur, putih, ahit dan berbau.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air dan dalam 7 bagia etanol.
Titik leleh : 168-172oC
Terhirup : Pindahkan korban ke tempat berudara segar.
Terkena kulit : Bilas dengan sabun dan air mengalir.
Terkena mata : Bilas dengan air mengalir selama 15 menit.

4.2. Methanol (Peraturan UE, 2017)


Bentuk : Cair
Warna : Tidak berwarna
Bau : Alkohol
TD/TL : -97oC / 64,7oC
Tertelan : Kumur-kumur menggunakan air.
Terhirup : Pindahkan korban ke tempat berudara segar.
Terkena mata : Bilas dengan hati-hati dengan air untuk beberapa menit.
4.3. Aquadest (Dirjem POM, 2014)
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
TD/TL : 100oC / 0oC

4.4. NH4OH (Peraturan UE, 2017)


Bentuk : Cair
Warna : Tidak berwarna
Bau : Pedih
TL/TD : -57,5oC / 37,7oC
Tertelan : Basuh mulut dan jangan merangsang muntah.
Terkena mata : Bilas dengan air beberapa menit.

4.5. Asam Format (Peraturan UE, 2017)


Bentuk : Cair
Warna : Tidak berwarna
Bau : Pedih
TL/TD : 4oC / 101oC
Terhirup : Biarkan korban menghirup udara segar.

4.6. Kloroform (Peraturan UE, 2017)


Bentuk : Cair
Warna : Tidak berwarna
Bau : Manis
Terhirup : Pindahkan korban ke tempat berudara segar.
Terkena kulit : Cuci dengan banyak sabun dan air.

V. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada percobaan pemisahaan zat aktif dengan ekstraksi
fase padat adalah alat-alat gelas yang digunakan seperti (labu ukur, beaker glass,
pipet volume, pipet tetes, corong dan vial ) yang biasa digunakan di lab analisis. Juga
timbangan analitik( Radwag XA 82/220/2X), seperangkat KCKT (Agillent) dengan
detektor UV 254 nm, kolom dan filter membrane PTFE 0,45 µm, penampak bercak
UV 254 nm, pipet mikro Eppendorf 100-1000 µl, pipa kapiler dan bejana KLT.
Bahan yang digunakan yaitu baku pembanding paracetamol yang diperoleh
dari industri farmasi, serbuk simplisia Curcumae xanthorrizhae rhizome (temulawak),
Curcumae domesticate rhizome (rimpang kunyit) dan Zingiberis officinalis rhizome
(jahe), metanol pro KCKT, metanol p.a, kloroform p.a catridge EFP C-18 200 mg
3ml, Aquabides steril, aquadest, NH4OH, Asam format, plat KLT GF254 (Merck).

VI. Prosedur Percobaan


6.1. Ekstraksi Fase Padat
Sampel jamu simulasi ditimbang sebanyak 1 gram yang telah ditambahkan
paracetamol, ditambahkan 8 ml Asam format 5 % kedalam air. Kemudian dikocok
dengan shaker selama 15 menit. Lalu campuran disaring, diambil filtratnya yang
sebelumnya dilakukan pengondisian kolom EFP C-18 berturut-turut dengan 1,5 ml
metanol dan 1,5 ml aquabidestilata. Sampel jamu dimasukan sebanyak 800 µl
kedalam kolom EFP dan dibiarkan menetes perlahan. Kolom dicuci dengan 3 ml
dengan aquadestilata. Kemudian analit dielusi dengan 3ml NH4OH 2,5% dalam
metanol dan dilakukan analisis kualitatif dengan KLT.

6.2. Analisis Kualitatif dengan KLT


Pada plat KLT ditotolkan larutan standar paracetamol filtrat jamu simulasi,
larutan sisa retensi, larutan hasil cucian dan hasil elusi pada plat KLT GF254
digunakan pipa kapiler. Lalu Plat dimasukan kedalam bejana yang telah dijenuhkan
dengan fasa gerak, dan dielusi dengan eluen kloroform-metanol (9:1) (v/v) hingga
eluen mencapai tanda batas. Selanjutnya plat dikeringkan dan dilihat dibawah
penampak bercak sinar UV 254 nm dan dibandingkan antara bercak ekstrak dengan
standar.
6.3. Analisis Kualitatif dengan KCKT
6.3.1. Larutan Standar
Baku pembanding paracetamol ditimbang dengan seksama 25 mg kedalam
labu takar 50 ml, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan dikocok
hingga homogen. larutan dipipet sebanyak 1,0 ml larutan kedalam labu takar 10 ml,
diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan
membran PTFE ukuran 0,45 µm. Selanjutnya larutan siap diinjeksikan ke dalam
KCKT.

6.3.2. Larutan Uji


Masing-masing dari dari filtrat jamu simulasi, larutan sisa retensi, larutan
hasil cucian, dan hasil elusi ekstraksi fase padat disaring dengan membrane PTFE
ukuran 0,45 µm. Lalu ditampung dengan vial dan larutan siap untuk diinjeksikan ke
dalam KCKT. Injeksikan masing-masing larutan standardan larutan uji kedalan alat
KCKT. Rekam kromatogramyang terbentuk dan dibandingkan antara kromatogram
larutan uji dan larutan standar. Waktu retensi puncak larutan uji harus sama dengan
waktu retensi puncak larutan standar.

6.3.3. Sistem KCKT


Sistem Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan menggunakan fase diam:
ODS, Packing L1; Fase gerak : (aquadestilata : Metanol) perbandingan (3:1) (v/v);
Laju alir : 1,5 ml/menit; Lempeng teoritis : 1000; dan Detektor : UV 243 nm.
VII. Data Pengamatan

Gambar Hasil pengamatan

Terdapat bercak pada sampel larutan


standar 1000 ppm , pada filtrate terdapat
bercak dan pada terdapat bercak tipis
dan juga pada sampel hasil elusi spot
terlihat tipis yang menandakan bahwa
pada saat tahap elusi terdapat
parasetamol.

Tabel 7.1 Hasil Pengamatan


Keterangan:
1. Larutan standar 1000 ppm
2. Filtrate
3. Retensi
4. Pencucian
5. Elusi

VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pemisahan parasetamol dari
sediaan tradisional dengan menggunakan metode ekstraksi fase padat serta
melakukan analisis kualitatif hasil ekstraksi fase padat dengan menggunakan metode
kromatografi lapis tipis dan kromatografi cair kinerja tinggi, dengan prinsip
percobaan untuk mengisolasi atau memurnikan sampel untuk dianalisis serta
membandingkan kromatogram larutan uji dengan larutan standar.
Pemisahan parasetamol dari sediaan tradisional yaitu jamu. Jamu menurut
Permenkes No.007 tahun 2012 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenika), atau campuran
bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan
dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarakat. Sebagian besar
masyarakat mengkonumsi jamu karena dipercaya memberikan andil yang cukup
besar dalam hal menjaga kebugaran, kecantikan,dan meningkatkan stamina tubuh.
Dengan banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi jamu, harapan
masyarakat perihal jamu semakin tinggi. Bagi masyarakat, jamu yang bagus adalah
jamu yang memberikan efek yang cepat terhadap penyakit yang diderita. Banyak
produsen obat tradisional yang menambahkan bahan kimia obat (BKO) ke dalam
jamu, sehingga efek yang dihasilkan lebih cepat. BKO merupakan senyawa kimia
obat yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam jamu dengan tujuan agar efek yang
diinginkan tercapai lebih cepat. Penambahan BKO ke dalam sediaan tradisional
seperti jamu sangat berbahaya bagi tubuh, karena biasanya BKO yang ditambahkan
ke dalam jamu tidak dilakukan perhitungan dosis yang benar sehingga dapat
membayakan kesehatan. BKO (bahan kimia obat) yang ditambahkan ke dalam obat
tradisional diantaranya yang mempunyai khasiat sebagai antipiretik dan analgetik
seperti parasetamol.
Parasetamol merupakan obat analgetik perifer karena tidak mempengaruhi
susunan saraf pusat. Obat-obat analgetika perifer mampu meringankan atau
menghilangkan rasa nyeri tanpa memepengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran,
juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya antipiretik dan
atau antiradang, oleh karena itu tidak hanya digunakan sebagai obat anti nyeri,
melainkan juga pada demam (inveksi virus/kuman, selesma, pilek) dan peradangan
seperti encok. Obat-obat ini banyak diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang, yang
penyebabnya beranekaragam, misalnya nyeri kepala, gigi, otot atau sendi. Tetapi
penggunaan parasetamol dapat menimbulakn efek samping yaitu tukak lambung, usus,
kerusakan hati (hepatoksin) jika digunakan terus-menerus. Dengan melihat bahaya
dan efek sanping yang ditimbulkan dari parasetamol, maka jika BKO tersebut
ditambahkan ke dalam obat tradisional tanpa perhitungan khusus maka dapat
membahayakan kesehatan tubuh. Adapun pemerian parasetamol yaitu serbuk hablur,
putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. Kelarutannya larut dalam air mendidih dan
dalam natrium hidroksida 1N , mudah larut dalam etanol (Dirjen POM, 2014).
Dari percobaan kali ini dilakukan ekstraksi fase padat atau dikenal dengan
SPE (Solid Phase Extraction) yang merupakan metode ekstraksi alternatif dari
ekstraksi cair-cair, karena pada SPE ini pelarut pengekstrak yang digunakannya
adalah padatan yang berupa sorben sehingga SPE disebut juga ekstraksi padat-cair.
Sorben yang digunakan pada SPE kali ini adalah C18. C18 ini memiliki senyawa
atom karbon sebanyak 18, semakin Panjang atom karbon yang terbentuk semakin non
polar. Metode yang digunakan pada ekstraksi ini adalah reversed phase, dimana fase
diam nya adalah EFP C-18 yang bersifat non polar. Percobaan kali ini dilakukan
secara analisis kualitatif. Dimana sebelum melakukan analisis tersebut maka
dilakukan ekstraksi terlebih dahulu untuk mengekstraksi parasetamol dari sampel
jamu simulasi.
Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam SPE ini. Sampel jamu simulasi
yang telah mengandung BKO yaitu paracetamol ditimbang sebanyak 1 gram dan
dilarutkan dengan asam format sebanyak 8 mL pada vial. Digunakan asam format
karena asam format ini bisa menurunkan kepolaran paracetamol sehingga pada saat
diekstraksi dapat terjerap di fase diam. Selain itu asam format memiliki daya elusi
yang rendah sehingga dapat menahan analit lebih lama terjerap pada fase diam.
Kemudian dikocok selama 15 menit, dimana pengocokan ini salah satu cara untuk
meningkatkan kontak partikel sampel dengan asam format, sehingga campuran
tersebut akan homogen dan akan banyak sampel yang bereaksi dengan asam format.
Setelah 15 menit kemudian larutan sampel disaring dengan menggunakan kertas
saring agar memisahkan filtrat dari partikel padatnya, sehingga yang tertampung
hanya cairan filtratnya saja. Kemudian, dilakukan tahap awal dalam ekstraksi fase
padat yaitu pengkondisian kolom. Dimana pengkondisian ini pelarut yang digunakan
adalah methanol dan aquadest. Tujuan dari pengkodisian ini adalah untuk membuka
pori-pori fase diam, untuk menyamakan sifat sampel dengan fase diamnya yang
bertujuan agar tidak terjadi reaksi kimia yang tidak diinginkan. Pada pengkondisian
ini digunakan eluen yang memiliki sifat elusi yang kuat, yaitu methanol dan aquadest.
Methanol dan aquadest ini memiliki sifat elusi yang kuat karena bersifat polar dan
dapat melarutkan senyawa-senyawa yang bersifat polar. Pengkondisian dilakukan
dengan memasukan metanol dan aquadest masing-masing sebanyak 1,5 mL secara
bergantian ke dalam cartridge hingga pelarut dari cartridge tersebut tidak menetes
lagi. Kemudian dimasukkan filtrat sebanyak 800 µL kedalam cartridge. Pada fase ini
merupakan fase retensi atau penjerapan senyawa. Tahap penjerapan ini berfungsi
untuk menjerap analit yaitu paracetamol pada fase diam, sehingga yang keluar dari
cartridge adalah matriks-matriks pada jamu simulasi selain analit yang berada pada
eluen. Eluen yang digunakan pada tahap ini adalah asam format yang dicampurkan
dengan jamu simulasi yang selanjutnya diambil filtratnya. Dipilihnya asam format
sebagai pelarut karena asam format dipilih dari hasil optimasi serta memiliki daya
elusi yang rendah yang dapat membuat parasetamol terjerap atau tertahan lebih lama
pada fase diam dan juga dapat menurunkan kepolaran dari parasetamol. Selanjutnya,
tahap ketiga adalah pencucican atau pembilasan, dimana pencucian atau pembilasan
ini digunakan mengguakan aquadest. Pencucian ini bertujuan untuk menghilangkan
pengotor atau sisa matriks yang masih tertinggal pada fase diam. Prinsipnya,
pencucian ini harus menggunakan pelarut yang tidak dapat melarutkan analit.
Sehingga digunakan aquadest untuk pencucian ini, karena parasetamol berdasrkan
Farmakope Indonesia Edisi V memiliki kelarutan yang agak sukar larut dalam air.
Pada pembilasan ini tidak digunakan methanol, karena methanol ini dapat melarutkan
analit dalam jumlah sedikit. Dan sampai di tahap yang keempat yaitu elusi. Dimana
elusi ini adalah fase untuk mengeluarkan analit yang terjerap pada fase diam.
Paracetamol ini memiliki nilai pKa yang tinggi yaitu 9, dimana semakin tingga pKa
semakin bersifat asam lemah. Eluen yang digunakan pada tahap elusi ini adalah
NH4OH 2,5% dalam methanol. NH4OH ini bersifat basa lemah, dimana bereaksi
dengan paracetamol yang bersifat asam lemah maka akan terjadi netralisasi atau
terbentuk garam, dimana ketika sudah terbentuk garam akan dan mudah larut,
sehingga analit akan ikut terelusi.
Setelah melakukan proes ekstraksi fase padat dengan menggunakan kolom
EFP C-18, selanjutnya dilakukan analisis kualitatif menggunakan KLT dan KCKT.
Karena tujuan dari dilakukannya ektraksi fase padat ini untuk mengisolasi
parasetamol dari jamu simulasi. Pertama adalah melakukan analisis kualitiatif
menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Pada proses analisis kualitatif
menggunakan KLT bertujuan untuk memastikan ada atau tidaknya parasetamol dalam
larutan yang di uji. Fase diam yang digunakan adalah silika gel dan fase gerak yang
digunakan adalah kloroform : metanol (9:1). Pada proses analisis kualitiatif
menggunakan KLT ini digunakan 5 sampel yaitu larutan standar 1000 ppm, larutan
filtrat, larutan hasil retensi atau penjerapan, larutan hasil pencucian, dan larutan hasil
elusi. Sebelum dilakukan penotolan sampel pada plat KLT, terlebih dahulu plat KLT
di aktivasi menggunakan metanol dan dimasukan ke dalam oven pada suhu 105oC
selama 15 menit karena air akan menguap pada suhu 100oC sehingga air yang
terdapat pada plat KLT akan menguap semuanya sehingga plat akan kering sehingga
proses elusi dapat bergerak dengan cepat. Setelah semua sampel ditotolkan pada plat
KLT dan dilakukan elusi dalam fase gerak yang telah dijenuhkan. Proses penjenuhan
fase gerak atau eluen dilakukan menggunakan chamber atau wadah yang transparan
terbuat dari kaca atau gelas (pada praktikum ini wadah yang digunakan adalah beaker
glass), kemudian wadah tersebut diisi dengan eluen dan dimasukan kertas saring dan
ditutup. Untuk mengetahui fase gerak tersebut sudah jenuh dilihat dari basahnya
seluruh bagian kertas saring tersebut. Eluen atau fase gerak yang digunakan adalah
kloroform : metanol dengan perbandingan 9:1. Pada saat KLT, fase gerak (eluen)
yang digunakan tidak oleh menggunakan air karena gipsum pada plat KLT akan larut.
Perbandingan eluen yang digunakan 9:1 (9 mL kloroform 1 mL metanol) sehingga
fase gerak bersifat nonpolar. Karena kloroform bersifat nonpolar sedangkan metanol
bersifat polar dan komposisi eluen lebih banyak kloroformnya sehingga fase grak
bersifat nonpolar. Setelah dilakukan elusi sampai mencapai garis atas selanjutnya plat
KLT tersebut diangkat dan dikeringkan untuk selanjutnya di lihat di bawah penampak
bercak lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm. Hasil dari pengamatan yang
diperolah, dari ke-lima sampel yang dianalisis 4 dari 5 sampel tersebut menunjukan
adanya spot atau bercak yaitu pada larutan standar 1000 ppm, filtrat, larutan hasil
penjerapan, dan larutan hasil elusi.
Dari hasil pengamatan yang diperoleh, seharusnya pada sampel larutan retensi
atau penjerapan tidak terdapat spot atau bercak. Karena pada larutan hasil penjerapan,
parasetamol yang terdapat di dalam filtrat terjerap pada sorben C-18. Sehingga hasil
dari penjerapan hanya berisi matriks-maktriks selain analit (parasetamol) yang ada di
jamu simulasi. Adanya bercak pada larutan hasil penjerapan di plat KLT dikarenakan
paracetamol ikut terelusi saat tahap penjerapan atau tidak terjerap pada fase diam. Hal
ini bisa disebabkan pelarut yang digunakan untuk melarutkan jamu simulasi yang
menggandung parasetamol yaitu asam format tidak bekerja menurunkan kepolaran
parasetamol dengan baik sehingga parasetamol tetap bersifat semi polar atau masih
bersifat lebih polar dari fase diamnya sehingga dapat terelusi dari fase diam. Selain
itu, bisa disebabkan karena kurangnya terhomogenisasi kontak paracetamol dengan
asam format saat pengocokan, serta C-18 yang digunakan sebagai fase diam tidak
selektif dalam memisahkan sampel.
Selanjutnya, dari data yang diperoleh dari KLT dilakukan uji lanjutan
menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang bertujuan untuk
mengkonfirmasi spot atau bercak yang terbentuk pada KLT benar parasetamol atau
senyawa lain. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan waktu retensi larutan
standar dan lautan uji. Untuk melakukan analisis kualitatif menggunakan KCKT
digunakan 3 sampel yaitu larutan standar 100 ppm, larutan hasil retensi, dan larutan
hasil elusi. Pertama, larutan standar 100 ppm diinjeksikan ke dalam alat KCKT dan
diperoleh data waktu retensi dari larutan standar adalah 3,320. Pada kromatogram
larutan standar puncak yang terbentuk tidak sempurna yang menandakan adanya zat
pengotor di dalam larutan standar parasetamol tersebut. Kemudian, larutan hasil
penjerapan diinjeksikan ke dalam alat KCKT, hasil dari data pengamatan yang
diperoleh larutan hasil penjerapan memiliki banyak waktu retensi yang menandakan
banyaknya matriks-matriks di dalam larutan tersebut, tetapi ada dua yang membentuk
puncak maksimum dengan waktu retensi 1,767 dan 3,403. Sebelumnya pada
pengujian analisis kualitatif menggunakan KLT pada larutan hasil penjerapan
terdapat spot yang menandakan adanya parasetamol pada larutan tersebut. Dengan
diperolehnya data dari KCKT ini menunjukan bahwa di dalam larutan hasil
penjerapan terdapat parsetamol karena terdapat satu puncak dengan waktu retensi
3,403 yang mendekati waktu retensi larutan standar. Terakhir, yaitu pengujian
terhadapan larutan hasil elusi. Data pengamatan yang diperoleh, larutan hasil elusi
memiliki banyak waktu retensi yang menandakan banyaknya matriks-matriks lain
yang terkandung di dalam larutan tersebut. Tetapi terdapat satu buah puncak
maksimum dengan waktu retensi 2,370, namun senyawa pada waktu retensi tersebut
bukan senyawa parasetamol karena memiliki waktu retensi yang berbeda dengan
waktu retensi larutan uji. Dari banyaknya waktu retensi yang terbentuk terdapat satu
waktu retensi yang mendekati waktu retensi larutan standar yaitu 3,707. Pada waktu
retensi 3,707 tidak terbentuk sebuah puncak maksimum, tetapi hal tersebut
menunjukan adanya parasetamol dalam larutan hasil elusi meskipun jumlahnya
sedikit. Hal ini terjadi karena parasetamol yang terdapat pada filtrat jamu simulasi
tidak terjerap secara maksimal di fase diam C-18 pada tahapan penjerapan sehingga
parasetamol banyak yang ikut keluar atau terelusi dan tertampung dalam larutan hasil
penjerapan yang mengakibatkan sedikitnya parasetamol di dalam larutan hasil elusi
dan adanya parasetamol di dalam larutan hasil penjerapan.
KESIMPULAN

Parasetamol dapat dipisahkan dari sediaan obat tradisional (jamu) dengan


metode ekstraksi fase padat meskipun hasil yang diperoleh tidak sempurna, karena
parasetamol masih dapat keluar pada proses penjerapan yang mengakibatkan adanya
senyawa parasetamol pada larutan hasil penjerapan.
Berdasarkan hasil analisis kualitatif hasil ekstraksi fase padat dengan metode
KLT dan KCKT larutan yang mengandung parasetamol adalah larutan standar 1000
ppm & 100 ppm, larutan filtrat, larutan hasil penjerapan, dan larutan hasil elusi.
DAFTAR PUSTAKA

AHFS. (2005). Drug Information. American Society of Health System Pharmacists.


Berthor L, Robert G, Mills G.A. (2014). A Solid Phase Extraction Approach for the
Identification of Pharmaceutical Sludge Absorbtion Mechanisms. Journal
of Pharmaceutical Analysis: 4 (2): 117-124.
Dirjen POM. (2014). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Gandjar, J.G. dan Abdul. R. (2014). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Jususf Zubaidi. (1980). Analgesic, Antipiretik, Antireumatik dan Obat Pirai. Dalam:
Farmakologi dan Terapi (Sulistia Gan, Bambang Suharto, Udin Sjamsudin,
Rianto Setiabudy, Arini Setiawati, Vincent H.S. Gan eds). Edisi 2. Jakarta:
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universsitas Indonesia. Hal.
166-168.
Peraturan (UE). (2017). Lembar Data Keselamatan Bahan. Jakrta: Merck Indonesia.
Riyadi, W. (2009). Identifikasi signal kromatogram HPLC.
Rohman, A. (2009). Kromatografi untuk Analisis Obat. Yogyakarta: Pustaka Graha
Ilmu.
Royle, L, Camphell MP, Radcliffe CM, White DM, Harvey DJ et al. (2008). HPLC
Base Analysis of Serum N-glicans on a 96. Well Platform With Dedicated
Database Software: 376: 1-12.
Simpson, Nigel J. K. (2000). Solid Phase Extraction: Principles, Techniques and
Applications. New York: CRC Press.
Synder, L. dan Kirkland J. J. (1979). Introduction to Modern Liquid Chromatography.
Second Edition. John Wiley & Sons. Inc New York, Chihester, Briebane,
Toronto, Singapore.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. (2007). Obat-Obat Penting Khasiat,
Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi Keenam, 262, 269-271.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Watson, D. G. (2010). Analisis Farmasi: Buku Ajar untuk Mahasiswa Farmasi dan
Pproduksi Kimia Farmasi. Jakarta: EGC.
World Health Organization. (2011). Traditional, Complementary and Herbl Medicine.

Anda mungkin juga menyukai