Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Danau Mawang merupakan salah satu obyek wisata alam yang telah lama
dikenal luas oleh masyarakat Kabupaten Gowa bahkan oleh masyarakat Sulawesi
Selatan pada umumnya yang memiliki parnorama indah, kondisi hidrologi (air
danau) yang masih alami dan jernih dengan beragam jenis ikan dan tumbuhan,
serta sebagai salah situs bersejarah Kerajaan Gowa dan penyebaran agama Islam
di Sulawesi Selatan.

Di Tahun 1980 – 1985, Danau Mawang merupakan salah satu objek wisata
yang sangat diminati oleh wisatawan baik lokal maupun dari luar daerah. Pada
tahun tersebut danau ini banyak dilakukan kegiatan – kegiatan yang menarik,
seperti kegiatan atraksi perahu dayung, tempat berenang atau permandian bagi
warga sekitar, tempat pemancingan ikan air tawar, bahkan danau ini digunakan
sebagai tempat pertunjukan musik dengan mendatangkan artis – artis untuk
menghibur masyarakat. Danau Mawang juga memiliki daya tarik pariwisata
tersendiri, yaitu pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam yang dapat
di lihat dalam satu tempat. Sampai sekarang Masyarakat yang bermukim di sekitar
Danau Mawang masih kental dan mempertahakan nilai-nilai tradisi etnis
Makassar secara umum misalnya Upacara Barazanji, pementasan tari-tarian
tradisional, alat musik tradisional, lagu – lagu tradisional dan suguhan makanan
khas Makassar yang diadakan pada saat acara pernikahan, aqiqah, sunatan
maupun acara tradisional lainnya serta ritual songka bala (tolak bala) yang
kerapkali dilakukan oleh masyarakat sekitar dengan keyakinan akan terhindar dari
bala (bencana) berupa kelaparan, kekeringan, bencana alam, maupun peperangan.

Potensi utama yang di miliki oleh Danau Mawang adalah kondisi hidrologi
air danau yang masih sangat jernih, alami dan masih terjaga dari kerusakan –
kerusakan baik yang dibuat oleh manusia ataupun oleh alam itu sendiri, sehingga
keadaan tersebut membuat banyak flora dan fauna dapat hidup dan bertahan di
danau tersebut. Aktivitas utama yang sangat bisa di angkat pada danau ini adalah
aktvitas wisata pemancingan ikan air tawar, menikmati keindahan danau dengan
perahu wisata maupun melihat keberagaman aneka satwa burung yang ada di
danau tersebut. Membuat pulau buatan di tengah danau dan menempatkan
berbagai macam fauna (termasuk burung yang dilindungi tadi) bisa menjadi
fasilitas wisata yang sinergi dengan kegiatan memancing dan perahu wisata
nantinya.

Perlu diketahui bahwa lokasi Danau Mawang berada di antara dua


universitas negeri yang besar di Sulawesi Selatan, yaitu Universitas Hasanuddin
Gowa dan Universitas Alauddin Samata. Kondisi alami danau, keanekaragaman
flora dan fauna, aspek sejarah dan keunikan lokal di danau tersebut bisa menjadi
objek penelitian di berbagai bidang studi, di antaranya bidang studi sains (fisika,
biologi, kimia), peternakan, perikanan dan kelautan, kehutanan, pertanian dan
perkebunan, sejarah, antropologi, sosiologi dan bidang studi lainnya. Kegiatan
pendidikan tersebut dapat diwadahi menjadi sebuah fasilitas dan tentunya bisa
menjadi aktivitas penunjang wisata alam Danau Mawang.

Menurut I Gede Pitamanadan I Ketut Surya Diarta (2009: 75), selama


wisatawan berada didaerah tujuan wisata (destinasi wisata), mereka memerlukan
pelayanan akomodasi dan transportasi untuk menjelajahi destinasi tersebut,
makanan, toko, suvenir, dan sesuatu yang dilakukan dan yang akan dilihatnya.
Kepuasan wisatawan sebagai pembeli atau penikmat jasa dapat diukur melalui
penilaian keseluruhan wisata. Penilaian tersebut berkaitan dengan kualitas dari
destinasi pariwisata yang didapatkan wisatawan. Destinasi pariwisata yang baik,
tentunya dapat membuat wisatawan merasa puas dan kemudian dapat membuat
wisatawan berkunjung kembali.

Menanggapi hal ini pengelola Danau Mawang berencana membangun dan


memperbaiki fasilitas yang lebih baik lagi, dengan tujuan agar para wisatawan
memiliki perilaku untuk terus berkunjung ke Danau Mawang. Sehingga mampu
mengangkat citra destinasi yang baik bagi kawasan wisata alam Danau Mawang.
Dari uraian di atas maka penulis mengambil judul “Pengaruh Citra
Destinasi Terhadap Minat Kunjung Wisatawan Danau Mawang, Gowa,
Sulawesi Selatan.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa saja citra destinasi yang bisa ditimbulkan dari kawasan wisata Danau
Mawang, Gowa, Sulawesi Selatan?
2. Apakah kawasan wisata Danau Mawang dapat menjadi tolak ukur empat
komponen citra destinasi dalam teori Charlotte M. Echtner dan J.R. Brent
Ritchie?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui citra destinasi yang bisa ditimbulkan dari kawasan


wisata Danau Mawang, Gowa, Sulawesi Selatan.
2. Agar dapat mengetahui jika kawasan wisata Danau Mawang dapat
menjadi tolak ukur empat komponen citra destinasi dalam teori Charlotte
M. Echtner dan J.R. Brent Ritchie

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dengan diadakannya penelitian ini adalah :

1. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi tambahan bagi peneliti


berikutnya, selain itu dapat menambah khasanah akademik sehingga
berguna untuk pengembangan ilmu.
2. Penelitian ini menjadi informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan
khususnya bagi pengelola Danau Mawang dalam meningkatkan
wisatawan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Teori Citra Destinasi Secara Umum

Menurut Jorgensen (2004:13), citra destinasi sebagai “kesan tempat” atau


“persepsi area”. Jorgensen mendeskripsikan bahwa citra destinasi yang positif
menghasilkan peningkatan kunjungan dan berdampak besar padawisatawan.

Menurut Jorgensen (2004:15), citra destinasi didefinisikan tidak hanya


sebagai atribut destinasi tetapi juga kesan menyeluruh yang ditampilkan oleh
destinasi. Citra destinasi terdiri dari karakteristik fungsional yang menyangkut
aspek nyata dari destinasi dan karakteristik psikologis yang menyangkut aspek
tidak berwujud. Selain itu citra destinasi dapat diatur secara kontinum mulai dari
ciri-ciri yang dapat digunakan untuk membandingkan semua destinasi yang unik
menjadi sangat sedikit.

Lopes (2011:307-308), mendefinisikan konsep citra destinasi sebagai ekspresi


dari semua pengetahuan obyektif, prasangka, imajinasi dan pikiran emosional
seorang individu atau kelompok tentang lokasi tertentu. Kemudian Kotler, Haider
dan Rein dalam Lopes, (2011: 307-308), mendefinisikan citra sebagai jumlah dari
semua keyakinan, ide dan kesan bahwa seseorang terkait dengan sebuah destinasi.
Faktor psikologis seperti motivasi wisatawan dan nilai-nilai budaya sangat
mempengaruhi pembangunan citra destinasi pariwisata bahkan sebelum
wisatawan mengunjunginya. Disisi lain Govers dan Buka (2003) memperingatkan
bahwa sulit bagi wisatawan untuk mendapatkan citra yang jelas tentang destinasi
pariwisata tanpa mengunjunginya terlebih dahulu.

Citra pariwisata menurut Pitana dan Diarta (2009) adalah kepercayaan yang
dimiliki oleh wisatawan mengenai produk atau pelayanan yang wisatawan beli
atau akan beli. Citra destinasi tidak selalu terbentuk dari pengalaman atau fakta,
tetapi dapat dibentuk sehingga menjadi faktor motivasi atau pendorong yang kuat
untuk melakukan perjalanan wisatawan ke suatu destinasi pariwisata. Citra
destinasi berdasarkan penilaian wisatawan dapat berbeda-beda antara satu orang
dengan orang lainnya. Coban (2012) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa
citra destinasi terdiri dari hasil penilaian rasional atau citra kognitif (cognitive
image) dan penilaian emosional atau citra afektif (affective image) dari destinasi
itu sendiri.

Citra kognitif menurut Coban (2012) menjelaskan keyakinan dan informasi


yang dimiliki seseorang mengenai suatu destinasi. Dimensi dari citra kognitif
enam, yaitu atraksi wisata, fasilitas dasar, atraksi budaya, aksesibilitas dan
substruktur pariwisata, lingkungan alam dan faktor ekonomi. Sedangkan citra
afektif menurut Artuğer et al. (2013) adalah gambaran emosi atau perasaan
seseorang yaitu wisatawan mengenai suatu destinasi. Artuğer et al. (2013)
membagi dimensi citra afektif menjadi tiga, yaitu kota yang hidup, kota yang
membuat bersemangat, dan kota yang menyenangkan.

Menurut Middleton (1989) dalam teori total tourism product citra merupakan
salah satu komponen yang ada dalam marketing mix pemasaran pariwisata.
Andreassen, et.al., (1998:7), citra tempat tujuan wisata dipercaya dapat
menciptakan efek helo pada kepuasan konsumen, dimana wisatawan
menggunakan citra tempat tujuan wisata sebagai alat untuk evaluasi dan
membandingkan objek wisata satu dengan yang lainnya. Chon’s (1990) dalam
Pike (2008:201), mengungkapkan bahwa citra destinasi berperan dan berpengaruh
dalam perilaku pembelian dan kepuasan. Menurut Middleton (1989) dalam
Ricardson dan Fluker (2004:50), bahwa citra merupakan salah satu komponen
yang ada dalam aktivitas destinasi yang intangible. Tasci dan Konzak (2006:304),
citra destinasi adalah persepsi individu terhadap karakteristik destinasi yang dapat
dipengaruhi oleh informasi promosi, media masa serta banyak faktor lainnya.

B. Citra Destinasi Dalam Pandangan Echtner dan Ritchie

Menurut Echner & Ritchie (dalam Jørgensen, 2004;13) citra destinasi sebagai
“kesan tempat” atau “persepsi area”. Lalu, menurut Hunt (dalam Jørgensen,
2004;13) mendeskripsikan bahwa citra destinasi yang positif menghasilkan
peningkatan kunjungan dan berdampak besar pada wisatawan. Pendapat ini
menjelaskan bahwa destination image secara sederhana mengacu pada impresi
terhadap suatu tempat atau persepsi seseorang terhadap suatu area tertentu. Atas
dasar ini, maka tidak ada komponen yang bersifat baku guna mengukur
destination image suatu tempat atau suatu kota.

Menurut Echtner & Ritchie (dalam Jørgensen, 2004;15) citra destinasi


didefinisikan tidak hanya sebagai atribut destinasi tetapi juga kesan menyeluruh
yang ditampilkan oleh destinasi. Citra destinasi terdiri dari karakteristik
fungsional yang mennyangkut aspek nyata dari destinasi dan karakteristik
psikologis yang menyangkut aspek tidak berwujud. Selain itu citra destinasi dapat
diatur secara kontinum mulai dari ciri-ciri yang dapat digunakan untuk
membandingkan semua destinasi yang unik menjadi sangat sedikit.

Secara umum, omponen destination image ini sebagaimana disajikan gambar


berikut:

Ilustrasi Empat Komponen Destination Image


Sumber: Echtner dan Brent Ritchie (2003)
Menurut Echtner dan Brent Ritchie (2003: 45) bahwa atribut-atribut yang
digunakan untuk mengukur destination image meliputi 34 komponen, dimana
komponen ini yang merupakan atribut dari obyek wisata mulai dari atribut yang
bersifat functional sampai atribut yang bersifat psikologis. Secara terinci Echtner
dan Brent Ritchie (2003: 45) menyebutkan empat komponen pengukuran
destination image, yaitu:

1. Attributes-functional characteristic
Atribut fisik yang berhubungan dengan sebuah kota sebagai menjadi
tujuan wisata. Atribut-atribut itu mencakup: (a) kondisi pemandangan alam
kota, (b) biaya untuk memenuhi kebutuhan, (c) iklim, (d) kondisi obyek-
obyek wisata, (e) kondisi kehidupan malam dan entertein, (f) kondisi berbagai
fasilitas olah raga, (g) kondisi taman-taman kota di kota, (h) kondisi
infrastruktur seperti transportasi, (i) kondisi berbagai bangunan, (j) kondisi
tempat-tempat purbakala, (k) kondisi pantai, (l) kondisi pusat-pusat belanja,
(m) kondisi berbagai akomodasi, (n) kondisi kota, (o) kondisi berbagai event
besar, dan (p) kondisi berbagai informasi mengenai wisata.
2. Functional characteristic-holistic
Atribut fisik yang bersifat fungsional dan holistik berhubungan dengan
dengan sebuah kota sebagai tujuan wisata. Atribut-atribut ini mencakup: (a)
kondisi kepadatan hunian, (b) kondisi kebersihan, (c) kenyamanan hidup, (d)
keamanan pribadi, (e) pertumbuhan ekonomi kota, dan (f) kemudahan
berbagai akses di kota.
3. Holistic - psychological characteristic
Atribut fisik yang bersifat holistik dan psikologis berhubungan dengan
sebuah kota sebagai tujuan wisata. Hal ini mencakup: (a) keteraturan
urbanisasi, (b) pengembangan bisnis kota, (c) stabilitas politik kota, (d)
keramahan penduduk, dan (e) Perbedaan budaya.
4. Attributes - Psychological characteristic
Atribut fisik yang bersifat psikologis berhubungan dengan sebuah kota
sebagai tujuan wisata. Atribut-atribut ini mencakup: (a) perbedaan kuliner
(banyak makanan yang unik dari kota lain), (b) kenyamanan tempat istirahat
(penginapan-penginapan), (c) keasrian lingkungan, (d) kesempatan untuk
berpetualang, (e) kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan, (f) rasa
kekeluargaan masyarakat, (g) kualitas layanan (air minum, penerangan,
telpon, dan lainnya), dan (h) reputasi.

C. Citra Destinasi Danau Mawang, Gowa, Sulawesi Selatan.


Kata Mawang berasal dari bahasa Bugis Makassar Ammawang yang dalam
bahasa Indonesia berarti terapung. Danau Mawang terletak di Kelurahan Romang
Lompoa, Kecamatan Bontomarannu, Gowa.
1. Letak Lokasi

(Sumber Google Earth 2018)


Peta Udara Lokasi Danau Mawang

Secara administratif Danau Mawang terletak di 2 wilayah administratif


yaitu Kelurahan Mawang Kecamatan Somba Opu dan Kelurahan Romang
Lompoa Kecamatan Bontomarannu dengan luas danau ±68 Ha ditambah
daratan sepanjang tepian danau yang lebarnya proporsional dengan bentuk
dan kondisi fisik danau antara 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi ke
arah darat sehingga total luas kawasan adalah ±124 Ha (Kepres No.32 1990).
Bila luasan permukaan danau dihitung keliling sekitar ±500 meter x 1400
meter x 600 meter x 1600 meter.
Secara geografis kawasan Danau Mawang terletak ±7 km dari ibukota
Kabupaten Gowa dan ±18 km dari Kota Makassar dengan batas-batas
kawasan yaitu sebagai berikut; sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan
Somba Opu; Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Romangpolong dan
Kelurahan Tamarunang; Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan
Bontoramba; Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Bontoramba dan
Kecamatan Somba Opu. Lokasi dapat ditempuh dengan melalui Jalan
Macanda yaitu jalan yang berada dekat kampus UIN Alauddin dengan jalan
utama yaitu Jalan Poros Malino.
2. Kondisi Topografi
Kondisi topografi di Kawasan Danau Mawang bervariasi pada umumnya
di sebelah utara kawasan danau berada pada ketinggian 11 – 23 mdpl dengan
kemiringan lereng 3 – 7 %, disebelah selatan kawasan danau berada pada
ketinggian 18 – 22 mdpl dengan kemiringan lereng 3 – 7 %, disebelah barat
kawasan berada pada ketinggian 13 – 20 mdpl dengan kemiringan 3 – 7 %
dan disebelah timur kawasan berada pada 13 – 23 mdpl dengan kemiringan
lereng 3 – 7 %, maka melihat kondisi topografinya pengembangan kawasan
budidaya pangan, holtikultura, palawija dan tanaman obat-obatan potensial
untuk dikembangkan di kawasan ini begitu pula pengadaan sarana dan
prasarana dapat pula dilakukan di kawasan ini.
3. Kondisi Geologi dan Jenis Tanah
Kondisi geologi di kawasan Danau Mawang pada umumnya adalah jenis
batuan konglomerat, lava, breksi, endapan lahar dan tufa. Adapun jenis tanah
di lokasi penelitian adalah alluvial hidromorf mempunyai ciri-ciri fisik warna
kelabu, bertekstur liat, dan memiliki permiabilitas (water run off) lambat.
Ditinjau dari tingkat erosi air, memiliki tingkat kecenderungan pengikisan
tinggi (erosi). Jenis tanah alluvial ini potensial bagi pengembangan kegiatan
pertanian, baik untuk tanaman padi sawah, palawija dan perikanan darat,
Disamping itu juga potensial bagi pengadaan sarana dan prasarana penunjang
wisata alam karena umumnya daerah alluvial ini relatif datar. (Sumber: Dinas
Tata Ruang dan Pemukiman Provinsi Sulawesi Selatan 2010).
4. Kondisi Klimatologi
Kondisi klimatologi Kawasan Danau Mawang pada umumnya tidak
terlalu berbeda dengan kondisi klimatologi Kabupaten Gowa yakni dikenal
dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim
kemarau dimuali pada Bulan Juni hingga september sedangkan musim hujan
dimulai pada Bulan desember hingga Maret. Curah hujan perbulan di
Kabupaten Gowa adalah 237,75 mm/bulan dengan suhu udara pada daratan
adalah 27, 125o C. Kondisi alam sekitar Danau Mawang yang masih alami
membuat kondisi udara masih sangat sejuk dan jauh dari polusi udara.
Kondisi klimatologi yang sifatnya masih stabil serta cuaca yang sejuk akan
memberikan kenyamanan wisatawan yang diharapkan dapat menahan lama
kunjungan wisata di danau mawang ini. (Sumber: Dinas Tata Ruang dan
Pemukiman Provinsi Sulawesi Selatan 2010).
5. Kondisi Hidrologi
Kondisi hidrologi di lokasi penelitian khususnya Danau Mawang itu
sendiri berdasarkan uji fisik, kimiawi dan biologis masih belum tercemar oleh
zat-zat yang berbahaya atau masih sangat alami. melihat kondisi tersebut
danau mawang sangat potensial dalam membudidayakan dan melestarikan
beragam jenis ikan dan biota air lainnya sehingga hal itu pula menjadi daya
tarik tersendiri kepada para wisatawan Adapun kedalaman air permukaan
pada musim kemarau adalah 2,5 meter dan pada musim hujan 3 meter.
Walaupun kawasan ini di buat tanggul namun sering terjadi genangan air atau
banjir di sekitarnya disebabkan terjadinya sedimentasi di danau mawang
seluas ±31,50 Ha (Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Provinsi
Sulawesi Selatan 2010).
6. Penggunaan Lahan
Di lokasi penelitian memiliki jenis penggunaan yang beragam yaitu
persawahan, perkebunan, permukiman, perkantoran, pertambakan,
pendidikan dan industri (Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman
Provinsi Sulawesi Selatan 2010).

(Sumber : Laporan revisi rencana tata ruang wilayah kabupaten


Gowa 2010)
Peta tata guna lahan Danau Mawang

7. Minat Kunjungan
Pada umumnya motivasi kunjungan yang dilakukan wisatawan ke danau
mawang sebagian besar adalah untuk melihat pemandangan alam untuk
mengamati keanekaragaman ikan dan menikmati kesejukan udara di Danau
Mawang. Olehnya itu diperlukan upaya konservasi akan hal itu. Selain itu
motivasi yang lainnya adalah memancing, berolahraga (joging, bersepeda
memutari danau) dan kunjungan spiritual (ritual songka’ bala’).
8. Keanekaragaman Flora
Di kawasan danau mawang terdapat tumbuhan teratai yang menjadi
tanaman khas yang tumbuh dikawasan danau mawang ini. Adapun jenis
tumbuhan teratai yang dimaksud memiliki beragam warna yang dapat
menjadi daya tarik tersendiri terhadap wisatawan.
Selain tumbuhan tersebut terdapat beragam varietas lain yang tumbuh
disekitar kawasan ini baik itu tanaman pangan misalnya padi yang merupakan
varietas utama yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar, ubi kayu dan ubi
jalar yang merupakan bahan pangan cadangan masyarakat sekitar, tanaman
obat misalnya tumbuhan kumis kucing, jahe kunyit, kencur dan berbagai
tanaman obat lainnya maupun tanaman hias lainnya.

(Sumber Foto dokumentasi pribadi)


Lahan perkebunan yang berada di pinggir danau

9. Keanekaragaman Fauna
Di Kawasan Danau Mawang hidup berbagai spesies fauna baik itu fauna
yang dilindungi maupun fauna yang tidak dilindungi yang terdiri dari
beragam spesies ikan, burung, kupu-kupu, maupun reptil. Wisatawan dalam
kunjungan wisatanya dapat mengamati proses kehidupan beragam macam
fauna itu seperti tabiatnya, cara berkembangbiaknya, cara makannya maupun
sisi kehidupan mereka lainnya. Keunikan dan keragaman fauna ini perlu
dilestarikan dari kepunahan karena hal tersebut yang akan menjaga
keseimbangan ekosistem Danau Mawang.
10. Wisata Memancing
Salah satu atraksi wisata yang ditawarkan kepada wisatawan untuk
melakukan kunjungannya di danau mawang adalah memancing. Namun
atraksi wisata memancing ini perlu diarahkan pada zona khusus dalam
pengembangannya karena dikhawatirkan bilamana aktifitas memancing ini
dilakukan di danau mawang akan berdampak pada kerusakan habitat flora
dan fauna.
(Sumber Foto dokumentasi)
Aktivitas memancing di tengah Danau Mawang menggunakan rakit

11. Aspek sejarah


Danau Mawang memiliki peristiwa sejarah yang unik yakni sebagai
tempat memandikan kerbau peliharaan para bangsawan Kerajaan Gowa Tallo
di masa lalu dan tempat bertemunya 3 penyebar agama Islam terbesar di
Sulawesi Selatan yakni Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Al Makassary Al
Khawaltiyah, Syekh Idato Ri Panggentungang dan Ilo’mo Ri Antang.
Danau mawang yang mempunyai cerita sejarah yang sangat panjang dan
beragam ini merupakan potensi wisata yang menunjang pengembangan
wisata alam nantinya karena dengan latar belakang sejarahnya akan menarik
sejumlah sejarahwan maupun budayawan ataupun sejumlah kalangan tertentu
yang memang tertarik kepada aspek sejarahnya saja. Disamping wisatawan
dapat menelaah aspek kesejarahan danau mawang wisatawan juga dapat
disuguhkan akan kealamian dan keindahan alam danau mawang maupun
atraksi wisata penunjang lainnya sehingga akan menjadi cost value daya tarik
wisata di danau ini.
12. Aksesibilitas dan Transportasi
Lokasi danau mawang berada ±7 Km dari Ibukota Kabupaten Gowa dan
terminal Sungguminasa atau ±18 Km dari Kota Makassar. Adapun
aksesbilitas menuju lokasi penelitian dapat dilakukan melalui 2 jalur, yaitu :
melalui jalan poros Hertasning - Tun Abdul Razak yang dapat di tempuh
selama 30 menit dalam kecepatan 50 km/jam dari Kota Makassar. Atau dapat
pula melalui Jalan poros Sungguminasa – Malino yang dapat ditempuh
selama 30 menit dalam kecepatan 50 km/jam dari Kota Makassar.
Pencapaian ke lokasi tujuan dapat menggunakan moda pribadi seperti
motor, mobil ataupun angkutan umum dengan tarif Rp. 5.000,- dari terminal
Sungguminasa menuju ke lokasi penelitian.
13. Jaringan Listrik
Kondisi jaringan listrik di lokasi studi sudah memadai. Pelayanan listrik
telah dapat dinikmati 100 persen masyarakat lokal dengan pemakaian daya
rata – rata 450-900 KWH yang disalurkan dari PLN. Walaupun demikian
masyarakat setempat juga mengembangkan pasokan listrik dari tenaga listrik
alternatif berupa tenaga surya dan tenaga angin.
14. Jaringan Telepon
Jaringan Telepon di kawasan danau mawang belum mendapatkan
pelayanan yang cukup memadai dari PT. Telkom hal itu disebabkan karena
kemampuan masyarakat yang masih kurang namun pada umumnya
masyarakat menggunakan telepon seluler dalam melakukan hubungan
komunikasi karena relatif ekonomis dan praktis.
15. Jaringan air bersih
Masyarakat Mawang pada umumnya menggunakan air tanah dangkal
berupa sumur bor dan sumur timbah untuk memenuhi kebutuhan air bersih
mereka. Disamping itu sebagian masyarakatnya juga menggunakan air yang
didistribusikan oleh PDAM.
16. Jaringan Jalan
Kondisi jaringan jalan menuju lokasi studi 90 persen merupakan jalan
aspal dan selebihnya adalah jalan tanah dan pengerasan. Meskipun demikian
kondisi jalan masih memprihatinkan disebabkan kebanyakan kondisi jalan
mengalami kerusakan yang cukup parah terutama di jalan poros utama
Sungguminasa – Malino.
(Sumber Foto dokumentasi pribadi waktu)
Kondisi Jalan di Danau Mawang

17. Sarana pendukung


Ada beberapa sarana pendukung yang terletak di sekitar kawasan Danau
Mawang. Saran pendukung tersebut berupa warung/kios yang berjumlah 10
unit dengan kondisi baik, Masjid 1 unit dengan kondisi terawat dan 2 Cottage
yang tampak rusak.

(Sumber Foto dokumentasi pribadi waktu)


Danau Mawang disaat matahari terbenam

18. Tingkat Kebisingan


Lokasi danau Mawang dengan lingkungan yang masih alami dan
kurangnya pemukiman penduduk serta dari pola jalan yang sudah ada, dapat
diketahui bahwa tingkat kebisingan tidaklah begitu besar karena lokasi
terletak 200 M dari jalan utama yaitu jalan raya poros Malino.

(Sumber Foto dokumentasi pribadi waktu)


Vegetasi di sekitar Danau Mawang
BAB II
PENUTUP
A. Kesmipulan

Untuk mengukur citra destinasi kawasan wisata Danau Mawang, Gowa,


Sulawesi Selatan membutuhkan penelitian yang mendalam terkait responden
dengan harus menentukan variabel citra destinasi itu sendiri.
Secara umum kawasan wisata Danau Mawang dapat menjadi tolak ukur
empat komponen citra destinasi dalam teori Charlotte M. Echtner dan J.R. Brent
Ritchie dengan melihat berbagai potensi serta kondisi terkini yang ada pada
kawasan Danau Mawang.

B. Saran

Diharapkan Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa dapat mempertahankan


citra sebagai kota wisata, dengan semakin gencar mengenalkan dan
mempromosikan Danau Mawang, terutama berkaitan dengan atraksi wisata yang
beragam. Strategi yang dapat dilakukan dengan memberikan inovasi dan kegiatan-
kegiatan yang berbeda serta unik secara rutin dan berkala agar wisatawan tertarik
untuk berkunjung dan menikmati atraksi wisata tersebut, serta merasakan
pengalaman yang berbeda-beda stiap berkunjung ke Danau Mawang.
Cara lain dengan mengikutsertakan Danau Mawang tersebut dalam paket
wisata, sehingga dapat diketahui pula oleh wisatawan. Solusi lainnya yaitu
membuat kegiatan (event) yang berlokasi di daya tarik wisata Danau Mawang
untuk menarik minat berkunjung wisatawan.
Penulis berharap penelitian selanjutnya dapat menggunakan beberapa variabel
dalam membaca citra destinasi di Danau Mawang, sehingga dapat di analisis lebih
mendalam bagaimana model struktural citra destinasi berpengaruh pada loyalitas
wisatawan, salah satunya berkaitan dengan pelayanan.