Anda di halaman 1dari 39

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi

2.1.1 Definisi, Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Menurut kamus, definisi dari komunikasi ada beberapa, antara lain adalah;

bersama, berbagi, menyampaikan informasi, meneruskan, dihubungkan, mengirim

dan menyatakan perasaan seseorang.

Dalam Encyclopedia Americana ditulis, komunikasi adalah serangkaian

kejadian- kejadian yang dihubungkan oleh pesan-pesan. Rangkaian ini

menghubungkan sumber (komunikator) yang menjadi sumber pesan dan tujuan pesan

(komunikan) yang diterjemahkan di tujuannya.

Menurut Lee Iacocca yang dikutip oleh Ramesh,G and Ramesh,M dalam

bukunya,”The ACE of Soft Skill “(2011) : “You can have brilliant ideas,but if you
, ’
can t get them across,you won t get anywhere.” (Bagaimanapun bagusnya ide yang

anda miliki, tapi jika anda tidak bisa meneruskannya kepada orang lain, maka anda

tidak akan mendapat apa-apa atau tidak akan kemana-mana).

Ramesh G dan Ramesh M juga mengatakan bahwa komunikasi selalu

mempunyai siklus yang serial atau berkelanjutan, karena jarang komunikasi bisa

langsung diakhiri dan komunikasi tidak berjalan satu arah. “It takes two to tango and

it takes (at least) two for successful communication” (diperlukan dua orang untuk

menari tango dan juga diperlukan paling tidak dua orang untuk komunikasi yang

Universitas Sumatera Utara


sukses). Jadi harus ada sender / pembicara yang menjadi sumber dari bahan yang

dikomunikasikan dan harus ada receiver / penerima pesan yang diantarkan melalui

sebuah medium.

Ada peribahasa mengatakan”Communication may not save us, but without

communication we will not be saved”. (Komunikasi mungkin tidak menyelamatkan

kita, tapi tanpa komunikasi kita tidak akan selamat). Ini semua menunjukkan betapa

pentingnya komunikasi itu.

Menurut Onong, Uchyana, Efendy dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Teori

dan Praktek (2004), komunikasi mempunyai fungsi dan tujuan.

Fungsi: 1 Mengubah sikap (Attitude change)

2. Mengubah pendapat (Opinion change)

3. Mengubah perilaku (Behavior change)

4. Mengubah sosial (Social change)

Tujuan: 1. Menginformasikan ( to inform)

2. Mendidik (to educate )

3. Menghibur ( to entertain )

4. Mempengaruhi ( to influence )

2.1.2 Proses Komunikasi

Proses komunikasi ini berkembang menurut banyak teori / model antara lain

1) Model Shannon and Weaver

Claude Shannon and Warren Weaver mengembangkan model ini dalam lima

elemen yaitu :

Universitas Sumatera Utara


1. Sumber informasi (information source), yang menghasilkan sebuah pesan.

2. Sebuah transmitter, yang meng encode (merubah) pesan jadi sinyal.

3. Saluran (channel), dimana sinyal disesuaikan unruk pengiriman.

4. Sebuah penerima (receiver), yang meng 'decodes' (reconstructs) membentuk

kembali) pesan dari sinyal.

5. Tujuan (destination), dimana pesan tiba.

2) Model David Berlo (1960)

David Berlo melibatkan empat elemen yaitu : sumber (S=sender), pesan

(M=message), saluran (C=channel) dan penerima (R=receiver). Sifat dan kualitas

komunikasi ditentukan oleh karakteristik keempat elemen itu :

1. Kemampuan berkomunikasi, pengetahuan, sikap dan sistem sosial dari sumber.

2. Ciri-ciri pesan yang menentukan keefektifannya adalah struktur, isi, kode, dan

perlakuan.

3. Saluran berbeda yang dapat dipakai bisa jadi lebih atau jadi kurang efektif bagi

komunikasi adalah melihat, mendengar, menyentuh merasa dan mencium.

4. Ciri-ciri penerima adalah pengetahuan, kemahiran berkomunikasi, sikap, dan latar

belakang budaya.

2.1. 3 Hambatan dalam Komunikasi

Shannon and Weaver menegaskan juga ada tiga level problem komunikasi

yang dijumpai dalam teori ini .

1. Technical Problem: seberapa tepat pesan itu dikirim dari sumber

2. Semantic Problem: seberapa persis arti pesan diantarkan/ diterjemahkan

Universitas Sumatera Utara


3. Effectiveness Problem: seberapa effective arti pesan yang diterim/mempengaruhi

penerima.

2.2 Komunikasi dalam Keperawatan

Komunikasi merupakan proses yang kompleks yang melibatkan perilaku dan

memungkinkan individu dapat berhubungan dengan orang lain dan sekitarnya.

Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi dalam tiga tingkatan yaitu

intrapersonal, interpersonal dan publik. Komunikasi interpersonal adalah interaksi

yang terjadi dalam hubungan sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil. Inilah

yang terjadi dalam hubungan perawat-pasien dalam komunikasi terapeutik. Dengan

komunikasi terapeutik, pengirim (sender) atau perawat mencari suatu respon dari

penerima (receiver) yaitu pasien yang akan menguntungkan bagi pasien; baik

kesehatan mentalnya juga berguna bagi kesehatan fisiknya.

Menurut Nancy Kimmel dalam Therapeutic Communication in the Nursing

Profession (2009) keperawatan adalah suatu professi asuhan (caring) yang juga

memerlukan banyak pengalaman praktis karena berbasiskan evidence / bukti.

Walaupun teknologi semakin hari semakin canggih dan kompleks dalam bidang

keperawatan dan mesin-mesin digunakan disamping tempat tidur pasien, tapi pada

kenyataannya perawatlah yang pertama kali yang berkontak dengan pasien pada

kasus emergency di rumah sakit. Jadi kata “caring” (mengasuh) adalah suatu sense

yang essensial yang mesti dimiliki oleh semua perawat, karena mereka berada pada

posisi terdepan sebagai professi kesehatan. Untuk caring / mengasuh perawat harus

Universitas Sumatera Utara


mempunyai kemampuan yang terlatih untuk dapat melakukan komunikasi terapeutik.

Dalam kasus tertentu perawat mungkin harus tinggal lebih lama dan mengeksplorasi

bagaimana perasaan pasien itu sebenarnya. Pada pasien yang harus menjalani operasi

yang segera, dimana mungkin saja tidak ada waktu untuk berbincang disamping

tempat tidur, tapi pegangan tangan saja bisa memberi penguatan atau dukungan yang

lebih dari kata-kata untuk pasien itu pada saat itu.

Telah terbukti stress mempunyai akibat yang buruk bagi kesehatan individu,

tetapi ternyata komunikasi terapeutik benar-benar dapat menolong. Emosi dapat

diketahui orang tidak hanya dari kata-kata, tapi juga dari sikap tubuh dan ekspressi

wajah. Seorang perawat harus selalu waspada akan ekspressi dari pasiennya.

Misalnya seorang pasien yang kakinya sudah diamputasi tidak mengeluh kepada

perawatnya tapi diam-diam tiap kali melihat kakinya air matanya berlinang. Ini

termasuk jenis komunikasi non-verbal yang disebut meta-communication.

Menurut Potter dan Perry (1993), Szilagy, Swanburg (1990) dan Tappen

(1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal.

2.2.1. Komunikasi Verbal

Ini yang paling sering digunakan dalam keperawatan di rumah sakit dengan

pertukaran informasi secara verbal baik lisan maupun tulisan dan ada pembicaraan

tatap muka. Cara ini biasanya lebih tepat dan akurat mengenai sasaran dari pada cara

yang lain. Dalam cara ini kata-kata adalah alat atau symbol untuk menyampaikan ide

atau perasaan, membangkitkan respon emosi atau menguraikan dan mengobservasi

Universitas Sumatera Utara


objek atau mengembalikan ingatan. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka

adalah untuk memungkinkan tiap individu untuk bereaksi secara langsung dan segera.

Menurut J.V. Vilanilam dalam “More Effective Communication” di Gujarat,

India (2011) komunikasi verbal yang baik haruslah:

1. Ketulusan (integrity). Ini sangat dibutuhkan ,karena hanya sekitar sepuluh persen

dari kata-kata yang disampaikan yang berisi pesan, karena itu pembicara haruslah

tulus dan bertanggung jawab untuk menarik perhatian pendengarnya, mengontrol

keadaan pembicaraan dan ruangannya. Serta membina suatu hubungan yang baik

bagi pendengarnya.

2. Suara. Suara yang menyenangkan adalah sebuah asset yang harus dilatih dan

dijaga. Suara harus relaks, bebas dari stress dan ketakutan. Kenali kelemahan dan

kekuatan dalam suara waktu berbicara.

3. Volume Suara. Pembicara yang baik haruslah dapat berbicara dengan volume

yang tepat. Tidak terlalu keras seperti membentak atau akan dikira pasien marah.

4. Frequency Suara (pitch) tidak boleh terlalu tinggi yang menyakitkan telinga ,juga

tidak terlalu rendah sehingga sulit didengar.

5. Kecepatan bicara haruslah tepat,jangan terlalu cepat hingga tidak bisa ditangkap.

Normalnya kecepatan bicara antara 120-150 kata permenit. Dan kalau terlalu

lambat bisa juga membosankan dan pikiran si penerima jadi kemana-mana karena

otak kita mampu memproses 500 – 750 kata-kata permenit, berarti lebih cepat

dari kecepatan bicara.Karena otak bekerja lebih cepat banyak waktu luang

baginya untuk berpikir tentang yang lain.

Universitas Sumatera Utara


6. Kualitas. Kualitas pembicaraan harus baik. Jangan terlalu banyak variasinya

sehingga sulit menangkap inti pesannya.

7. Pengucapan kata-kata harus benar dan jelas (pronounciation dan accent dan

diction)

2.2.2 Komunikasi Non-Verbal

Semua penyampaian pesan tanpa kata-kata merupakan komunikasi non-

verbal. Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan ada lima kategori komunikasi non

verbal, yaitu :

1. Isyarat vokal, yaitu isyarat paralingustik termasuk semua kualitas bicara non

verbal misalnya tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama dan kecepatan

bicara.

2. Isyarat tindakan, yaitu semua gerakan tubuh termasuk ekspresi wajah dan sikap

tubuh.

3. Isyarat obyek, yaitu obyek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh

seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.

4. Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang. Hal ini

didasarkan pada norma-norma social budaya yang dimiliki.

5. Sentuhan, yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non verbal

yang paling personal. Respon seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi

oleh tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan

harapan. Kasih sayang, dukungan emosional dan perhatian disampaikan melalui

sentuhan, tapi harus memperhatikan norma sosial. Perlu disadari bahwa keadaan

Universitas Sumatera Utara


sakit membuat pasien tergantung pada perawat untuk melakukan interpersonal

sehingga sulit menghindarkan sentuhan.

Ramesh G and Ramesh M (2011) menyebut channel non-verbal ini dengan

bahasa tubuh (body language) yang antara lain adalah :

1. Posture (sikap tubuh)

2. Use of Hands (penggunaan tangan)

3. Eye Contact (kontak mata)

4. Gesture yang terdiri dari ekspressi wajah dan gerakan tubuh.

2.3 Komunikasi Interpersonal

2.3.1 Pengertian Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah tukar informasi antara dua orang ataupun

antara orang-orang dalam kelompok kecil. Komunikasi interpersonal melalui

pertukaran verbal maupun non verbal adalah cara komunikasi yang paling efektif

dibandingkan cara lain dalam mengubah pendapat, sikap, kepercayaan dan perilaku

komunikan. Sebagian besar interaksi manusia adalah verbal ataupun nonverbal

dilakukan dalam tatap muka secara langsung antara komunikator dengan komunikan

dan disinilah dimunculkan kontak pribadi (personal contact) antara para pelaku

komunikasi.

2.3.2 Pengertian Komunikasi Terapeutik

Komunikasi antara perawat dan pasien merupakan komunikasi antar pribadi

(interpersonal communication).

Universitas Sumatera Utara


Komunikasi terapeutik merupakan pengalaman timbal balik dan pengalaman

emosional korektif bagi pasien. Dalam hubungan ini perawat menggunakan diri (self)

dan teknik-teknik klinis tertentu dalam menangani pasien untuk meningkatkan

pemahaman dan perubahan perilaku pasien.

a. Sifat dan Tujuan

Komunikasi terapeutik menurut Stuart G.W diarahkan pada pertumbuhan

pasien meliputi :

1. Realisi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri

2. Rasa personal yang jelas dan peningkatan integritas diri

3. Kemampuan membina hubungan interpersonal, saling tergantung dan intim

dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai

4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai

tujuan personal yang realistis.

Idealnya agar komunikasi terapeutik lebih efektif, perawat harus hati-hati

bagaimana tampaknya mereka. Contohnya; jika si perawat tampaknya tergesa-gesa,

misalnya ia bicara cepat-cepat dan buru-buru, dan bernafas berat,matanya tidak

tertuju pada pasien tapi bisa saja kekantong infuse pasien sebelah. Dalam hal seperti

ini tidak akan ada kata-kata perawat itu dalam rangka melakukan komunikasi

terapeutik yang dapat dipercaya oleh pasien itu.

Beberapa hal emosi yang berhubungan dengan komunikasi terapeutik

termasuklah ; Keahlian (Professionalisme), Keyakinan (Confidentiality), Kesopanan

Universitas Sumatera Utara


(Courtesy), Kepercayaan (Trust,), Ketersediaan (Availability), Empathy, dan

Sympathy. (Potter & Perry, Co. 2003).

Semua hal emosi diatas mempengaruhi relasionship antara perawat- pasien,

yang harus dibentuk oleh perawat sesegera mungkin begitu mereka bertemu untuk

pertama kalinya. Untuk memulai suatu relationship perawat-pasien, perawat harus

mengasses semua pesan yang disampaikan oleh pasien, seperti ketakutannya, sakit,

sedih, kecemasannya, atau ketidak peduliannya, Perawat harus terlatih untuk

menangkap semua pesan yang disampaikan pasiennya. Baru kemudian si perawat

bisa menerapkan terapeutik yang terbaik. Contohnya setiap orang yang sudah harus

masuk rumah sakit atau ruang gawat darurat diakui mempunyai kecemasan dalam

level tertentu. Level ini bisa saja naik tergantung pada bagaimana perasaan pasien

itu ,apakah dia merasa tertekan atau merasa tidak ada satu orang pun disitu yang

peduli pada nya. Ketika pasien mendapatkan komunikasi terapeutik dari perawat yang

bersifat mengasuh tingkat kepercayaannya bisa naik sehingga perlahan-lahan berubah

menjadi lebih baik.

b. Sikap dalam Komunikasi Terapeutik

Townsend (2003) dalam Potter and Perry (2009) ada lima sikap atau cara

untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang

terapeutik, yang dikenal dengan akronim SOLER yaitu :

1. S - Sit facing the client.Duduk menghadap client. Maksud dari posisi ini adalah

kita sudah siap melakukan sesuatu untuk klien.

Universitas Sumatera Utara


2. O - Observe an open posture. Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki

atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi, sebuah sikap

menerima kehadiran orang lain dalam komunikasi.

3. L - Lean forward toward the client. Membungkuk ke arah klien. Posisi ini

menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.

4. E - Establish and maintain intermittent eye contact . Bentuk dan pertahankan

kontak mata. Kontak mata berarti menghargai menyatakan keinginan untuk tetap

berkomunikasi. Ketiadaan kontak mata dapat menimbulkan kesan bahwa perawat

tidak tertarik pada pembicaraan pasien.

5. R - Relax. Tetap rileks. Komunikasikan rasa tenang dan nyaman kepada

pasien.Kegelisahan mengkomunikasikan ketiadaan minat dan akan menimbulkan

rasa tidak aman kepada pasien. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara

ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.

c. Teknik Komunikai Terapeutik

Stuart dan Sundeen (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai

berikut :

1. Mendengarkan (listening) dengan penuh perhatian. Dalam hal ini perawat

berusaha mengerti pasien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan oleh

pasien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan

mendengar perawat mengetahui perasaan pasien. Beri kesempatan lebih banyak

pada pasien untuk berbicara. Perawat juga harus memberi kesan bahwa

pembicaraan pasien cukup menarik. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif.

Universitas Sumatera Utara


Tentang hal mendengar ini ada peribahasa China sejak beratus tahun yang lalu

yang mengatakan bahwa mendengar adalah ibu dari komunikasi (listening is the

mother of all speaking), karena baik sender ataupun receiver selalu melakukannya

dalam berkomunikasi.

2. Membuka pembicaraan dengan terbuka (broad opening) Memberi kesempatan

kepada pasien untuk memulai pembicaraan. Memberi kesempatan kepada pasien

untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.

3. Mengulangi ucapan pasien (restating). dengan menggunakan kata-kata sendiri.

Melalui pengulangan kembali kata-kata pasien, perawat menguatkan apa yang

diungkapkan pasien dan perawat memberikan umpan balik bahwa perawat

mengerti keluhan pasien dan berharap komunikasi dilanjutkan. Juga menguatkan

pesan dan ungkapan pasien dan memberi indikasi bahwa perawat mengikuti

pembicaraan.

4. Menunjukkan penerimaan (acceptance). Perawat menerima pembicaraan pasien

dengan ketertarikan. Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti

bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau

ketidak setujuan. Karena itu perawat harus awas dan sadar terhadap ekspressi non

verbal dari si pasien.

5. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan (klarifikasi). Tujuan perawat bertanya

adalah untuk memastikan dan mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa

yang disampaikan oleh pasien. Hal ini perlu sekali bila perawat ragu, tidak jelas,

kurang mendengar ataupun dalam hal kemungkinan pasiennya marah.

Universitas Sumatera Utara


6. Memfokuskan. Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan

sehingga percakapan menjadi lebih spesifik, dimengerti , lebih jelas dan berfokus

pada realita. Kalau pasien berbicara kemana-mana perawat harus bisa

menggiringnya kepembicaraan yang lebih spesifik.

7. Membagi persepsi. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menguraikan

persepsinya. Apabila perawat ingin mengerti pasien, maka perawat harus melihat

segala sesuatunya dari perspektif pasien, jadi perlu diketahui hal-hal yang

dirasakan dan dipikirkan pasien.

8. Menyatakan hasil observasi atau meng identifikasi “tema”. Dalam hal ini perawat

menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal pasien, yang muncul

dan berguna untuk meningkatkan pengertian dan eksplorasi masalah.

9. Menawarkan informasi (informing). Memberikan tambahan informasi merupakan

tindakan penyuluhan kesehatan untuk pasien yang bertujuan memfasilitasi pasien

untuk mengambil keputusan.

10. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan pasien untuk

mengorganisir. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya

sendiri, mengorganisir pikiran dan memproses informasi. Diam dapat juga

diartikan bahwa perawat mengerti akan masalah, juga bisa menunjukkan perawat

mengajukan kesediannya untuk menanti pasien untuk berfikir.

11. Saran. Memberi saran apa yang harus dilakukan pasien selanjutnya berdasarkan

ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat untuk pemecahan masalah.

Perawat juga bisa memberika saran alternatif untuk pemwcahan masalah.

Universitas Sumatera Utara


Dengan mengenal teknik komunikasi ini kita dapat melihat dan mengetahui

apakah perawat pelaksana sudah melakukannya dengan baik apa belum dan sudah

sejauh mana.

Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan

Sundeen, 1998) yaitu :

1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun

penerima pesan.

2. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu

sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.

d . Ciri-ciri Komunikasi Terapeutik

Ada tiga hal yang mendasar yang menjadi ciri komunikasi terapeutik menurut

konsep Carl Roger yang dikembangkan oleh Mundakir (2006) :

1. Keikhlasan (Genuiness). Perawat harus tulus dan ikhlas dalam memberikan

pertolongan kepada pasien dan biarlah pasien dapat melihat keikhlasan itu

Perawat yang sadar akan keikhlasannya, ia akan sadar bahwa ia harus belajar

berkomunikasi lebih baik lagi dengan pasiennya.

2. Empati (Empathy). Ini merupakan perasaan memahami dan menerima keadaan

dan perasaan pasien dan juga dapat menyelami perasaan pasien. Empati ini

merupakan perasaan yang jujur, sensitif dan spontan untuk dapat merasakan apa

yang dialami orang lain berdasarkan pengalaman yang sama.

3. Kehangatan (Warmth). Suasana hangat memberikan rasa dekat, aman dan nyaman

serta bebas dari ancaman yang dapat mendorong pasiennya lebih berani

Universitas Sumatera Utara


mengutarakan isi hatinya secara mendalam tanpa takut dimarahi. Ini bisa terjadi

bila selain ramah perawatnya juga pandai mencari topik yang dikomunikasikan.

e. Prinsip Komunikasi Terapeutik

Keliat (1996) menyatakan tujuan komunikasi terapeutik akan tercapai bila

perawat memiliki prinsip-prinsip ”helping relationship” dalam menerapkan hubungan

ini. Jadi hubungan ini didasarkan hubungan dengan maksud memberi pertolongan.

Prinsip-prinsip ini adalah :

1. Perawat harus mengenal dirinya sendiri dan memahami nilai-nilai yang dianut dan

dihayatinya.

2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima,saling percaya dan

saling menghargai.

3. Perawat harus memahami dan menghayati nilai-nilai yang dianut oleh pasien.

4. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien,baik fisik maupun mental.

5. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki

motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya sehingga

tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

6. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk

mengetahui dan mengatasi perasaan gembira,sedih,marah,dalam keberhasilan

maupun dalam frustasi.

7. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan

konsistensinya.

Universitas Sumatera Utara


8. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya

simpati bukan tindakan yang terapeutik.

9. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik

10. Mampu berperan sebagai role-model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan

orang lain tentang kesehatan,oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu

keadaan fisik,mental,spiritual dan gaya hidup yang baik

11. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas

berkembang tanpa rasa takut.

12. Altruisme, mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara

manusiawi.

13. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin untuk keputusan

berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.

14. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap dirinya

atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Dengan prinsip-prinsip tersebut diatas,diharapkan perawat akan mampu

memperlakukan dirinya sendiri secara terapeutik.

f. Penerapan Komunikasi Terapeutik

Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi merupakan

critical skill yang harus dimiliki oleh seorang perawat dan merupakan bagian integral

dari asuhan keperawatan. Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi

terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada

saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi

Universitas Sumatera Utara


proses penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang

terjadi antara perawat dan pasien yang terstruktur yang terdiri dari empat tahap yaitu

fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.

1. Fase Pra-Interaksi

Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan

berkomunikasi dengan pasien Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan

menilik dirinya sendiri dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan

kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang pasien

yang akan menjadi lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang

strategi untuk pertemuan pertama dengan pasien. Tahapan ini dilakukan oleh

perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin

timbul dan dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik

dengan pasien. Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi

interaksinya dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh adanya kemungkinan

kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada

saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan dan

mengertikan secara benar apa yang dikatakan oleh pasien, sehingga tidak mampu

melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian),

(Stuart. G. W, 2007)

2. Fase Orientasi

Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat

pertama kali bertemu atau kontak dengan pasien.Tahap perkenalan dilaksanakan

Universitas Sumatera Utara


setiap kali pertemuan dengan pasien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah

memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan

keadaan pasien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.

G. W, 2007). Strategi yang dapat dilakukan perawat dalam tahapan ini adalah:

a) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan

komunikasi terbuka terhadap pasien dengan tidak membebani diri dengan

sikap yang melakukan penolakan diawal pertemuan.

b) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan)

bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali

kontrak yang telah disepakati bersama. Perawat dapat menanyakan kepada

keluarga pasien mengenai topik pembicaraan yang mungkin akan menarik

baginya.

c) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi

masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik

komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika pasien diam saja atau memalingkan

muka, perawat bisa menanyakan apakah si pasien merasakan sakit dan apa

yang membuatnya merasa tidak nyaman.

3. Fase Kerja

Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart.

G. W, 2007). Fase kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan pasien yang

terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan

dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada fase kerja ini perawat perlu

Universitas Sumatera Utara


meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi

terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara

meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau

dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan

dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau

meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan

pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi klien dan

mengurangi ketergantungan klien pada perawat, dan mempertahankan tujuan yang

telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.

Tugas perawat pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang

terjadi pada pasien dengan tepat. Perawat juga perlu mendorong perkembangan

kesadaran diri pasien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, dan

mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku adaptif.

Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik

karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk

menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons

ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien.

Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh

perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah.

Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat

merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya

diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

Universitas Sumatera Utara


4. Fase Terminasi

Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan pasien. Tahap terminasi

dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart, G. W, 2007).

Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan pasien, setelah

hal ini dilakukan perawat dan pasien masih akan bertemu kembali pada waktu

yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama.

Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh

proses keperawatan.

Tugas perawat dalam tahap ini adalah

a) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan

(evaluasi objektif).

b) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan pasien

setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat bisa langsung menanyakan

perasaan. dalam setiap akhir pertemuan dengannya.

c) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukanbaru saja

dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak

lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

2.3.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Komunikasi Terapeutik

Potter dan Perry (2009) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik dapat

dipengaruhi beberapa hal antara lain :

Universitas Sumatera Utara


a. Perkembangan

Perkembangan manusia mempengaruhi bentuk komunikasi dalam dua aspek,

yaitu tingkat perkembangan tubuh mempengaruhi kemampuan untuk

menggunakan teknik komunikasi tertentu dan untuk mempersepsikan pesan yang

yang disampaikan.Agar dapat berkomunikasi efektif seorang perawat harus

mengerti pengaruh perkembangan usia baik dari segi usia baik dari sisi bahasa

maupun proses berpikir orang tersebut.

b. Persepsi

Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian. Persepsi

dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Perbedaan persepsi dapat menyebabkan

terhambatnya komunikasi.

c. Gender

Perbedaan gender menyebabkan pula perbedaan gaya komunikasi dan memiliki

pula perbedaan interpretasi terhadap suatu percakapan.Tannen(1990) menyatakan

bahwa kaum perempuan menggunakan teknik komunikasi untuk mencari

konfirmasi, meminimalkan perbedaan dan meningkatkan keintiman sedangkan

laki-laki lebih menunjukkan independensi dan status dalam kelompoknya.

d. Nilai

Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi perawat

untuk menyadari nilai seseorang.Perawat perlu mengklarifikasi nilai sehingga

dapat membuat keputusan dan interaksi yang tepat dengan pasiennya. Dalam

hubungan profesionalnya tidak boleh terpengaruh oleh nilai pribadinya.

Universitas Sumatera Utara


e. Sosial Budaya

Latar belakang sosial budaya akan mempengaruhi bahasa dan gaya komunikasi.

Budaya juga akan membatasi cara bertindak dan berkomunikasi.

f. Emosi

Emosi merupakan perasaan subyektif terhadap suatu kejadian. Proses marah,

senang, sedih dapat mempengaruhi perawat dalam berkomunikasi dengan pasien.

Perawat juga harus mampu mengkaji emosi pasien dan keluarganya sehingga

mampu memberikan asuhan keperawatan yang baik. Perawat juga harus

mengevaluasi emosi yang ada pada dirinya hingga dalam melakukan asuhan

keperawatan dia tidak terpengaruh oleh emosinya.

g. Pengetahuan

Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan. Seseorang

dengan tingkat pengetahuan rendah akan sulit merespon pertanyaan yang

mengandung bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi.

Hubungan terapeutik akan terjalin dengan baik jika didukung oleh pengetahuan

perawat tentang komunikasi terapeutik baik mengenai tujuan, manfaat dan proses

yang akan dilakukan. Perawat juga perlu mengetahui tingkat pengetahuan pasien

sehingga mereka dapat berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat memberikan

asuhan keperawatan yang baik dan professional.

h. Peran dan hubungan

Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang

berkomunikasi. Berbeda dengan komunikasi yang terjadi dalam pergaulan bebas,

komunikasi antara perawat dan pasien terjadi secara formal dan professional.

Universitas Sumatera Utara


i. Lingkungan

Lingkungan interaksi mempengaruhi komunikasi efektif. Suasana yang

bising,tidak ada privacy akan menimbulkan kerancuan, ketegangan dan ketidak

nyamanan.Karena itu perawat harus menpersiapkan lingkungan yang tepat dan

nyaman sebelum berinteraksi dengan pasien..

j. Jarak

Jarak dapat mempengaruhi komunikasi.Jarak tertentu menyediakan rasa aman dan

terkontrol. Jadi perawat harus tahu dan memperhitungkan jarak yang tepat saat

berinteraksi dengan pasien.

k. Lama Kerja

Makin lama seseorang bekerja di suatu tempat semakin banyak pengalaman yang

dimilikinya sehingga akan makin baik komunikasinya (Kariyoso, 1994).

Dari uraian diatas dapat kita menyimpulkan bahwa hubungan terapeutik

antara perawat dan pasien merupakan pengalaman belajar bagi perawat dan perbaikan

emosi bagi pasien. Kemampuan menerapkan teknik komunikasi memerlukan latihan

serta kepekaan serta ketajaman, karena komunikasi terjadi dalam dimensi nilai,waktu

dan ruang yang turut mempengaruhi kepuasan klien. Keberhasilan komunikasi ini

terlihat dari tercapainya kepuasan pasien dalam menerima asuhan keperawatan yang

berkaitan dengan komunikasi dan juga kepuasan perawat yang memberikan asuhan

keperawatan secara professional.

Pengaruh faktor personal dan faktor situasional terhadap komunikasi

terapeutik. Kedua pendekatan ini menekankan faktor psikologis dan faktor sosial.

Universitas Sumatera Utara


Dengan kata lain faktor yang timbul dari dalam individu disebut faktor personal dan

yang datang dari luar individu disebut faktor environment atau situasional.

Mc.Dougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan

interaksi sosial dan membentuk perilaku manusia. Menurut dia faktor personallah

yang menentukan perilaku manusia.

Edwad E. Simpson mengatakan, terdapat perspektif yang berpusat pada

pesona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada

pesona mempertanyakan factor-faktor internal, apakah berupa instink, motif,

kepribadian serta kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Atraksi interpersonal

adalah kesukaan pada orang lain karena sikap positif dan daya tarik

seseorang.Adanya daya tarik ini membentuk rasa suka. Rasa suka pada seseorang

umumnya membuat orang yang kita sukai menjadi signifikan pada kita.

Dalam kehidupan se hari-hari rasa suka dan daya tarik terhadap seseorang

menjadi faktor penting dalam menjalin hubungan dengan sesama. Adapun faktor yang

membuat daya tarik seseorang pada yang lain adalah:

1. Faktor Personal meliputi :

a) Kesamaan karakteristik personal. Orang cenderung memiliki sikap yang

sama dengan orang yang disukainya.

b) Tekanan emosional (stress). Orang yang mengalami stress akan mudah

senang kalau ada orang yang dapat dipercayainya yang mendekat

kepadanya.

Universitas Sumatera Utara


c) Harga diri yang rendah. Orang yang menganggap dirinya rendah atau kurang

akan lebih mudah senang pada orang lain yang sering dikiranya lebih dari

dia. Maka bila perawat datang untuk berinteraksi dia akan marasa senang.

d) Isolasi Sosial. Orang yang sebelumnya merasa dikucilkan atau pasien karena

penyakitnya atau apa saja yang menyebabkan keluarga atau temannya jarang

datang/berkunjung akan lebih mudah senang bila perawat datang

berkomunikasi.

Mengacu pada Devito (1997) dan Rakhmat (2003) maka, tekanan emosional

(b) dan harga diri yang rendah(c) disatukan menjadi Isolasi Sosial (d).

Dalam hal komunikasi interpersonal pada umumnya faktor daya tarik amat

penting. Kalau kita sudah menyukai seseorang maka segala yang mengenai dia akan

kita sukai dan kita beri nilai positif.

Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (2000) dalam Mundakir manyatakan

beberapa daya tarik dapat mempengaruhi proses hubungan antar manusia adalah

kedekatan geografis (proximity), kemiripan (similarity) dan situasi.

Kalau diperhatikan dengan teori diatas maka kedekatan dan kemiripan

termasuk ke faktor personal dan situasi masuk ke faktor situasional.

Sesudah mengupas tentang faktor personal dan faktor situasional secara

bersama,mari kita lihat pengaruh masing-masing terhadap komunikasi terapeutik.

2.3.3.1.Faktor Personal dan Pengaruhnya terhadap Komunikasi Terapeutik.

Faktor personal adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu yang

indikator dan definisi operasionalnya ada dua yaitu:

Universitas Sumatera Utara


1. Faktor kemiripan (similarity) atau kesamaan karakteritik

Bila ada kesamaan dalam berbagai hal akan lebih disukai untuk menjalin

komunikasi misalnya mirip dalam hal usia, pendidikan, latar belakang etnik,

agama dan ras. Bahkan dari kemiripan dalam bergaya, berbusana, sikap dan

kepribadian serta cara pandang, kita dapat meramalkan tentang siapa yang akan

berkawan dengan siapa. Misalnya seorang pasien akan lebih merasa aman untuk

curhat dengan pasien lain yang penyakitnya sama dengan dia.

2. Isolasi sosial. Ini adalah yang merupakan alasan seorang yang dulunya pernah

terisolasi, sekarang karena ada orang yang hadir untuk berkomunikasi jadi merasa

berbahagia.Jadi yang tadinya ia merasa terisolasi misalnya karena sakit yang

ditakuti orang sekarang bahagia atas kedatangan orang lain.Maka proses

komunikasi pun bisa terjadi lebih mudah berjalan baik dan komunikasi antara

perawat pelaksana dengan pasien yang tadinya terisolasi berjalan lancar.

2.3.3.2.Faktor Situasional dan Pengaruhnya terhadap Komunikasi Terapeutik

1. Faktor daya tarik fisik. Dalam beberapa penelitian dan teori-teori yang telah

dikupas sebelumnya mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi

penyebab utama atraksi personal. Orang-orang yang berwajah cantik dan ganteng

cenderung mendapat penilaian yang baik dan sering dikatakan mempunyai sifat-

sifat yang baik. Penampilan dan gaya yang baik akan membuat orang senang

untuk berkomunikasi dengannya.

2. Faktor ganjaran. Orang akan cenderung menyenangi orang yang memberi

ganjaran / reward kepadanya. Ganjaran itu bisa berupa bantuan, pujian, dorongan

Universitas Sumatera Utara


moral, penghargaan dan yang dapat meningkatkan harga diri kita. Kita akan

cenderung lebih menyukai orang yang menyukai kita.

3. Faktor familiarity. Orang lebih menyukai berkomunikasi dengan orang yang ada

hubungan keluarga/hubungan darah dengannya.

4. Faktor kedekatan geografis (proximity). Orang akan merasa lebih aman dan

nyaman kaiau berhubungan dengan orang yang dekat rumahnya, tempat

tinggalnya, tempat asalnya atau dekat tempat duduknya disatu kantor.

5. Faktor kemampuan. Orang cenderung menyenangi orang-orang yang mempunyai

kemampuan lebih tinggi darinya atau lebih berhasil dan lebih berharta dari dia.

(http://melfit.blogspot.com/2009/12/faktor-personal-dan-situasional-yang.html)

Menurut Fanny (2011) dalam tesisnya: Pengaruh faktor personal dan

situasional terhadap komunikasi terapeutik di RSU.Bunda Thamrin Medan, faktor

familiarty disatukan dengan faktor proximity karena masing-masing mengandung arti

kedekatan dan menurut penulis ini memang lebih sesuai.

2.4. Rumah Sakit

2.4.1 Pengertian Rumah Sakit

Rumah sakit merupakan institusi yang fungsi utamanya memberikan

pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Tugas rumah sakit adalah melaksanakan

upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya

penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan

Universitas Sumatera Utara


upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan (Depkes RI,

(2009).

Depkes RI (2009) juga mengatakan untuk dapat menyelenggarakan upaya-

upaya tersebut dan mengelola rumah sakit agar tetap dapat memenuhi kebutuhan

pasien dan masyarakat yang dinamis, maka setiap komponen yang ada dirumah sakit

harus terintegrasi dalam satu sistem Pelayanan kesehatan di rumah sakit yang terdiri

dari :

1. Pelayanan medis,yang merupakan pelayanan yang diberikan oleh tenaga medis

yang professional dalam bidangnya baik dokter umum maupun dokter spesialis.

2. Pelayanan keperawatan,merupakan pelayanan yang bukan tindakan medis

terhadap terhadap pasien, tetapi merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan

oleh perawat sesuai dengan aturan keperawatan.

3. Pelayanan penunjang medis, misalnya pelayanan gizi, laboratorium, farmasi,

rehabilitasi medis dan lain-lain.

4. Pelayanan administrasi dan keuangan

Menurut Subanegara (2005) rumah sakit adalah organisasi unik karena

merupakan paduan antara organisasi padat teknologi, padat karya dan padat modal

sehingga pengelolaannya menjadi disiplin ilmu tersendiri yang mengedepankan dua

hal sekaligus, yaitu teknologi dan perilaku manusia di dalam organisasi.

Massie dalam Aditama (2002), mengemukakan tiga hal yang menjai ciri khas

rumah sakit yang membedakannya dengan industri lainnya, yaitu:

Universitas Sumatera Utara


1. Bahwa bahan baku dari industri jasa kesehatan adalah manusia. Dalam industri

rumah sakit, tujuan utamanya adalah melayani kebutuhan manusia, bukan semata-

mata menghasilkan dengan proses dan biaya sebaik mungkin tetapi khususnya

menyangkut pertimbangan etika dan nilai kehidaupan manusia seefisien mungkin.

Unsur manusianyalah yang penting mendapat perhatian dan tanggung jawab

utama pengelola rumah sakit.

2. Bahwa dalam industri rumah sakit yang disebut pelanggan (customer) bukanlah

selalu yang menerima pelayanan. Pasien adalah mereka yang diobati di rumah

sakit. Tetapi kadang-kadang bukan mereka sendiri yang menentukan di rumah

sakit mana mereka berobat atau dirawat. Bagi karyawan ditentukan oleh

kebijaksanaan kantornya. Jadi mereka yang datang berobat ke rumah sakit

tertentu belum tentu atas pilihan mereka sendiri. Selain itu jenis tindakan dan

pengobatan mereka bukan tergantung pada pasiennya, tetapi tergantung pada

dokter yang merawatnya. Ini tentulah berbeda dengan jenis bisnis lainnya

misalnya bisnis restoran pelanggannyalah yang menentukan restoran apa dan

menu apa yang dikehendakinya.

3. Bahwa kenyataan menunjukkan betapa pentingnya professional tenaga kesehatan

termasuk dokter, perawat, ahli farmasi ahli gizi, radiographer dan lain-lain. Jadi

begitu banyak professional di sebuah rumah sakit. Para professional ini cara

kerjanya cenderung otonom dan berdiri sendiri, sehingga bisa tidak sejalan

dengan misi manejemen organisasi rumah sakit secara keseluruhannya karena

standar profesi yangdianutnya. Ini bisa menimbulkan kesan fungsi manejemen

Universitas Sumatera Utara


kurang dianggap penting. Rumah Sakit Umum mempunyai tugas melaksanakan

upaya kesehatan secara berdaya guna dengan mengutamakan upaya kuratif dan

rehabilitatf yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya promotif

dan preventif serta melaksanaknan rujukan. Untuk menyelenggarakan upaya

tersebut Rumah Sakit Umum berfungsi antara lain; pelayanan rawat jalan, rawat

inap, penunjang medis seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi dan

penunjang umum antara lain administrasi rumah sakit.

Dalam kerangka tatanan Sistim Kesehatan nasional, Rumah Sakit merupakan

salah satu unsur yang harus dapat memenuhi tujuan pembangunan kesehatan yaitu

untuk mencapai hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan kesehatan

masyarakat yang optimal sebagai salah saru unsur kesejahteraan umum dan tujuan

nasional.

2.4.2 Pelayanan Rawat Jalan

Pelayanan rawat jalan mungkin bukan menjadi pelayanan utama bagi sebagian

rumah sakit.Tetapi karena jumlah pasiennya banyak dan merupakan pintu masuk bagi

pasien rawat inap maka pelayanan rawat jalan di rumah sakit makin lama makin

banyak dan jadinya memegang peranan lebih penting dalam sebuah rumah sakit.

Diseluruh dunia ini semua rumah sakit mempunyai pelayanan rawat jalan

yang jumlah pengunjungnya mengalami peningkatan. Menurut AHC (America Health

Consultant, 1999), di Amerika terjadi kenaikan sebesar 18% jumlah pada pelayanan

rawat jalan per 1000 penduduk diseluruh rumah sakit di Amerika pada tahun 1997

dibandingkan dengan 1993. Ini disebabkan karena :

Universitas Sumatera Utara


1. Jumlah pasien rawat jalan lebih banyak dan akan makin banyak lagi karena

kemauan orang untuk datang ke rumah sakit untuk berobat begitu mulai sakit.

2. Karena makin canggihnya teknologi kesehatan,makin banyak alat-alat kedokteran

yang dipakai untuk mendiagnose sehingga pasien datang untuk pemeriksaan

dengan memakai peralatan tersebut.

3. Karena adanya perusahaan assuransi kesehatan maka masyarakat lebih mudah

berobat dengan memanfaatkan jasa assuransi.

2.4.3 Pelayanan Rawat Inap

Pelayanan rawat inap merupakan pelayanan yang cukup memegang peranan

penting dimana pasien akan tinggal untuk beberapa hari untuk medapat perawatan

sampai kesehatannya memungkinnya untuk pulang kerumah dan kalau perlu berobat

jalan, tergantung dokter yang merawatnya.

Aditama (2002) bahwa sejak pasien dirawat dirawat di rumah sakit hingga

diizinkan pulang, maka pasien rawat inap akan mendapat pelayanan sebagai berikut:

Pelayanan administrasi, pelayanan dokter, pelayanan perawat, pelayanan

makanan/gizi, pelayanan penunjang medik dan non-medik, pelayanan kebersihan

lingkungan.

Didalam ruangan keperawatan pasien diamati secara berkesinambungan

bagaimana pengaruh obat dan respon terhadap pengobatan dan berdasarkan hasil

analisa, bila keadaan sudah memungkinkan pasien diperbolehkan pulang. Disinilah

paling banyak terjadi komunikasi terapeutik antara perawat pelaksana dengan pasien

dan keluarganya karena waktu yang lebih lama.

Universitas Sumatera Utara


2.5 Perawat dan Pelayanan Keperawatan

Perawat yaitu seseorang yang berperan dalam merawat dan memelihara,

membantu dan melindungi sesorang karena sakit, cedera dan proses penuaan. Perawat

professional adalah perawat yang bertanggung jawab dan berwenang memberikan

pelayanan keperawatan secara mandiri dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan

laimmya sesuai dengan kewenangannya (Depkes RI, 2002).

Menurut Potter dan Perry (2009), Keperawatan merupakan suatu seni dan

ilmu pengetahuan. Merupakan suatu seni, karena sebagai seorang yang professional

seorang perawat harus belajar memberikan perawatan dengan penuh kasih

sayang,perhatian dan rasa hormat terhadap harga diri pasien. Merupakan ilmu

pengetahuan, karena keperawatan merupakan ilmu yang terus berubah seiring

penemuan baru dan inovasi. Berdasarkan tugas, kewenangan dan keandalan, Potter

dan Perry (2009) mengklasifikasikan peran perawat sebagai berikut:

1. Pemberi Layanan. Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu

pasien untuk memperoleh kembali kesehatan dan kehidupan yang mandiri dan

optimal melalui proses pemulihan. Tidak saja secara fisik,tetapi juga meliputi

kesejahteraan emosional,spiritual dan sosial. Layanan ini bisa berupa layanan

preventif, curatif terutama rehabilitative.

2. Pembela (Advokasi). Sebagai pembela atau pelindung perawat berupaya

melindungi hak azasi dan hukum pasiennya dan menyediakan bantuan dalam

menegakkan hak-hak tersebut jika dbutuhkan. Juga melindungi pasiennya dari

kecelakaan misalnya dari kemungkinan sal;ah diagnose

Universitas Sumatera Utara


3. Edukator (Pendidik). Melalui edukasi perawat menjelaskan kepada pasien konsep

dan fakta kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti bagaimana aktifitas

merawat diri, memperbaiki tingkah laku ,mengajar dan menevaluasi kemajuan

pasien dalam belajar. Beberapa dari proses belajar ini bersifat informal dan tidak

berencana. Pendidikan ini bisa dengan melibatkan nara sumber lain.

4. Komunikator. Komunikasi amat penting dan essensial dalam hubungan perawat –

pasien dan dengan hubungan ini perawat dapat mengetahui kelemahan dan

kelebihannya, kebutuhannya dan juga ketakutan pasiennya. Juga sebagai

penghubung dengan keluarganya serta berkolaborasi dengan perawat lain serta

professional kesehatan lainnya.

5. Manajer. Lingkungan pelayanan kesehatan sekarang ini berkembang cepat dan

bersifat kompleks karena itu diperlukan seorang manajer untuk menciptakan

lingkungan agar terdapat kenyamanan dan pelayanan kolaboratif agar pelayanan

berkualitas tersedia dan hasil yang baik dapat tercapai.

6. Perkembangan Karier. Inovasi pelayanan kesehatan, sistem pelayanan dan

lingkungan praktek yang terus berkembang, serta kebutuhan pasien yang semakin

bertambah merupakan stimulus untuk peran keperawatan yang baru. Keperawatan

memberikan kesempatan bagi perawat untuk belajar dan mengembangkan karier

seumur hidup dengan tujuan menyediakan layanan yang terbaik bagi pasien.

7. Klinisi. Perawat bisa juga menyediakan perawatan langsung kepada pasien di

tempat pelayanan yang spesifik.Jadi perawat bisa langsung mendidik pasien dan

keluarganya bagaimana memelihara kesehatan dan merawat diri.

Universitas Sumatera Utara


2.5.1 Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit

Keperawatan di rumah sakit merupakan suatu profesi yang penting dalam

penyelenggara upaya pelayanan kesehatan yang bermutu di rumah sakit. John Griffith

membagi keperawatan di rumah sakit menjadi keperawatan klinik dan managemen

keperawatan.

Kegiatan keperawatan klinik antara lain:

1. Pelayanan keperawatan personal, yang berupa pelayanan keperawatan umum atau

spesifik untuk system yang ada dalam tubuh tertentu, pemberian motivasi,

memberi dukungan emosi pada pasien, pemberian obat dan lain-lain.

2. Berkomunikasi dengan dokter dan petugas kesehatan lainnya ,mengingat

perawatlah yang paling tahu keadaan pasiennya, karena dialah yang selalu

berkomunikass dengan oasien.

3. Menjalin hubungan dengan keluarga pasien, karena komunikasi yang baik akan

membantu penyembuhan pasien.

4. Menjaga lingkungan tempat perawatan agar tetap bersih, aman, dan bebas dari

kemungkinan kontaminasi mikrobiologi yang merugikan kesehatan pasien.

5. Memberikan penyuluhan kesehatan dan pencegahan penyakit dengan materi yang

disesuaikan dengan penyakit yang sedang diderita pasien.

2.5.2 Asuhan Keperawatan Rawat Inap

Untuk asuhan keperawatan dipakai metode proses keperawatan. Proses

keperawatan merupakaan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam usaha

memperbaiki dan memelihara kesehatan pasien sampai pada taraf optimum melalui

Universitas Sumatera Utara


suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal dan membantu pemenuhan

kebutuhan khusus pasien. Secara umum disebutkan bahwa makin sempurna

penampilan pelayanan, makin sempurna pula kualitasnya.

Rawat inap adalah salah satu fungsi sebuah rumah sakit dimana pasien yang

dirawat akan tinggal di rumah sakit untuk beberapa waktu yang tidak ditentukan

sampai pasien itu diizinkan pulang oleh dokter yang merawat baik oleh karena

sembuh atau masih memerlukan rawat jalan atau atas permintaan pasien/keluarga

dengan alasan tertentu (Aditama, 2002).

2.5.3 Komunikasi dalam Keperawatan

Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam

hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih

bermakna karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses

keperawatan. Perawat tidak bisa melakukan proses keperawatan dengan baik tanpa

mengetahui apa yang menjadi kebutuhan pasien. Untuk itu perawat memerlukan

kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang mencakup ketrampilan intelektual,

teknikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku “caring” atau kasih sayang

dalam berkomunikasi. Perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara

terapeutik tidak saja mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan pasien,

mencegah terjadinya masalah legal,memberikan kepuasan profesional dalam

pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah

sakit.

Universitas Sumatera Utara


Aditama (2002), masalah yang sering dijumpai dalam pelayanan keperawatan

sering disebabkan oleh :

1. Kurangnya perawat yang mempunyai pendidikan yang cukup.

2. Kurangnya perawat yang mempunyai kemampuan berkomunikasi yang cukup,

baik dalam menyampaikan pesan maupun dalam mendengar keluhan si pasien.

3. Kurangnya kesabaran perawat dalam berinteraksi dengan pasien.

4. Kurangnya perawat yang berkebiasaan bersikap ramah.

5. Beban kerja yang terlalu berat yang diberikan pihak rumah sakit kepada

perawatnya sehingga tidak sanggup lagi melakukan interaksi yang baik.

Menurut hasil penelitian Fanny (2011) di Rumah Sakit Umum Bunda

Thamrin Medan ternyata :

1. Komunikasi terapeutik antara perawat pelaksana dengan pasien dirumah sakit

tersebut termasuk katagori kurang baik .

2. Faktor personal dan situasional berpengaruh terhadap komunikasi terapeutik

antara perawat pelaksana dengan pasien dan ternyata faktor personal mempunyai

pengaruh lebih besar.

3. Kurangnya komunikasi terapeutik ini tampak dari kurangnya didalam hal teknik;

pertanyaan terbuka, mengulang, penerimaan, klarifikasi, memfokuskan, membagi

persepsi, identifikasi tema, informing dan saran. Jadi dihampir semua indikator

komunikasi terapeutik kurang

Menurut Meidiana (2008), dalam melaksanakan komunikasi terapeutik

didapatkan ada empat teknik yang sudah dilaksanakan yaitu penerimaan, menawarkan

informasi, mengklarifikasi dan menanyakan pertanyaan yang berkaitan. Jadi teknik-

teknik yang belum dilakukan oleh perawat dalam memberikan asuhan

Universitas Sumatera Utara


keperawatan adalah mengulang ucapan pasien dengan kata-kata perawat sendiri,

memfokuskan masalah, menyatakan hasil observasi kepada pasien, meringkas hasil

observasi, memberi penghargaan kepada pasien dan menawarkan diri untuk

membantu serta memberi serta memberi waktu untuk merefleksikan diri pasien.

2.6 Landasan Teori

Komunikasi pasien dan perawat pelaksananya belumlah optimal di rumah

sakit dan belum sesuai dengan komunikasi dalam organisasi. Dalam penelitian ini

komunikasi interpersonal antara perawat dan pasien dilihat dari faktor personal dan

situasional mengacu pada teori Devito (1997) dalam Rakhmat (2003). Faktor personal

meliputi :

a. Kesamaan karakteristik personal dan

b. Isolasi sosial

Faktor situasional meliputi:

a. Daya tarik fisik,

b. Ganjaran,

c. Kedekatan (proximity), dan

d. Kemampuan.

Hubungan perawat dan pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar dan

perbaikan emosi pasien.

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), variable yang mempengaruhi komunikasi

terapeutik antara perawat dan pasien melalui teknik komunikasi

Universitas Sumatera Utara


terapeutik antara perawat dan pasien melalui teknik komunikasi terapeutik,yang

terdiri dari:

a. Mendengarkan (listening),

b. Pertanyaan terbuka (broad opening),

c. Mengulang (restating),

d. Penerimaan (acceptance),

e. Klarifikasi,

f. Memfokuskan,

g. Membagi persepsi,

h. Identifikasi “tema”,

i. Informing dan

j. Saran.

Landasan teori tersebut dirangkum seperti yang terlihat pada gambar

dibawah :

Faktor Personal
a. Kesamaan Karakterisik
Personal
b. Isolasi Sosial Komunikasi Terapeutik Perawat

Pelaksana dengan Pasien


Faktor Situasional
a. Daya Tarik Fisik
b. Ganjaran
c. Kedekatan (proximity)
d. Kemampuan

Gambar 2.1. Landasan Teori

(Sumber., Devito dalam Rakhmat (2003) dan Stuart dan Sundeen(1995))

Universitas Sumatera Utara


2.7. Kerangka Konsep

Mengacu kepada landasan teori yang telah diuraikan diatas, maka dapat

disusun kerangka konsep sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor Personal
(X1)

Komunikasi Terapeutik Perawat


Pelaksana dengan Pasien
(Y)

Faktor Situasional
(X2)

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Sumatera Utara