Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN IMUNOLOGI DAN SEROLOGI

Imunologi
Imunologi adalah cabang ilmu biomedis yang berkaitan dengan respons
organisme terhadap penolakan antigenic, pengenalan diri sendiri dan bukan
dirinya, serta semua efekbiologis, serologis dan kimia fisika fenomena imun.
Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur pathogen
misalnya: bakteri, virus, jamur, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan
infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada manusia normal umumnya singkat
dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia
memiliki suatu sistem yaitu sistem imun yang melindungi tubuh terhadap unsur-
unsur patogen. Reaksi imunologis merupakan mekanisme yang berkaitan dengan
pertahanan host terhadap suatu antigen seluler ataupun non seluler. Respon imun
seseorang terhadap unsur-unsur patogen sangat bergantung pada kemampuan
system imun untuk mengenal molekul-molekul asing atau antigen yang terdapat
pada permukaan unsur patogen dan kemampuan untuk melakukan reaksi yang
tepat untuk menyingkirkan antigen. Test imunologis secara in vitro dapat
digunakan sebagai test diagnostik yang membantu diagnose suatu penyakit dan
imunoprofilaksis secara luas.

1. Definisi
• Imunologi (imun: kebal dan logos: ilmu) : ilmu yang mempelajari kekebalan
tubuh
• Imunitas : perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit infeksi.
• Sistem imun : Sel-sel dan molekul yang terlibat dalam perlindungan

2. Perkembangan Imunologi
Imunologi mempunyai relevansi dengan disiplin ilmu yang lain seperti
kedokteran, biokimia, farmasi. Reaksi imunologis merupakan mekanisme yang
berkaitan dengan pertahanan host terhadap suatu antigen seluler ataupun non
seluler. Test imunologis secara in vitro dapat digunakan sebagai test diagnostik
yang membantu diagnose suatu penyakit dan imunoprofilaksis secara luas.
Kemajuan bioteknologi memungkinkan teknologi hibridoma dalam produksi
antibody monoclonal serta imunoterapi.
Perkembangan imunologi tidak lepas dari beberapa para ahli yang berjasa
dalam bidang ini, antara lain :
a. Edward Jenner (1878), penggunaan vaksin cacar sapi avirulen untuk proteksi
infeksi cacar.
b. Metchnikoff (1883), peranan fagosit dalam proses kekebalan.
c. Von Behring (1890), penemuan antibody terhadap toksin difteri dalam serum.
d. Erlich (1897), teori reseptor “rantai samping” tentang sintesis antibody.
e. Bordet (1899), peranan komplemen sebagai sitolitik.
f. Landsteiner (1900), golongan darah ABO manusia dan isohemaglutinin.
g. Richet dan Portier (1920), mengemukakan proses anafilaksis.
h. Wright (1903), aktivitas opsonin dalam fagositosis.
i. Von Pirquet (1906), interaksi antara imunitas dan hipersensitivitas.
j. Fleming (1922), penemuan lisosim.
k. Zinsser (1925), perbedaan hipersensitivitas tipe lambat dan cepat.Heidelberger
dan Kendall (1935), reaksi antigen antibody prinsip presipitasi.
l. Portar dan Edelman (1959), penemuan struktur immunoglobulin.

3. Pengenalan self dan non self


• Manusia dan hewan multiseluler, mempunyai daya faal untuk mengenal bahan
atau substansi yang dianggap
”diri sendiri” (self) dan membedakan dari yang ”asing” (non self). Dasar sistem
imun dalam tubuh berusaha
untuk mengeluarkan atau memusnahkan bahan asing / antigen yang masuk ke
dalam tubuh.
• Pengenalan self dan non self dicapai dengan setiap sel menunjukkan suatu
penanda berdasarkan pada Major Histocompatibility Complex (MHC). Beberapa
sel yang tidak menunjukkan penanda ini diperlakukan sebagai non self dan
diserang.
• Kadang-kadang sistem imun menyerang sel-selnya sendiri (penyakit autoimun)
misalnya multiple sclerosis, systemic lupus erythematosus, rheumatoid arthritis,
diabetes serta myasthenia gravis.

4. Sistem Cairan Tubuh


Ada 2 macam system cairan tubuh yaitu :
a. Sistem Darah
b. Sistem Limfe
a. Sistem Darah meliputi
• Plasma Darah, terdiri dari
- Solven (pelarut) yaitu air
- Solut (zat terlarut) yaitu : protein (albumin, globulin, fibriniogen) dan zat lain
(glukosa, mineral dan lain-lain)

Pemeriksaan Serologi

Pemeriksaan serologi mempunyai hasil yang sangat bervariasi tergantung pada


respon imun saat pemeriksaan laboratorium dilakukan dan lamanya kelainan yang
dialamipenderita.

Pemeriksaan serologi adalah pemeriksaan yang menggunakan serum seperti


pemeriksaan pada dugaan demam dengue. Demam dengue dapat merupakan
infeksi pertama kali yang disebut infeksi primer dan dikenal sebagai demam
dengue, serta infeksi kedua kali yang disebut infeksi sekunder yang dapat
menimbulkan penyakit demam berdarah yang dikenal sebagai Dengue
Haemorragic Fever (DHF). Penyakit ini dapat berlanjut dengan renjatan dan
berakhir dengan kematian. Pada demam dengue, pemeriksaan serologi yang
tersedia adalah pemeriksaan antigen NS-1, antibodi dengue IgG dan IgM.

 Pemeriksaan antigen NS-1 dengue dapat dilakukan pada hari pertama


sampai hari kesembilan dari demam baik pada infeksi primer maupun
infeksi sekunder, sehingga antigen NS-1 ini merupakan pemeriksaan dini
untuk mengetahui adanya infeksi dengan virus dengue.
 Pada infeksi primer didapatkan kadar antibodi IgM setelah hari ke 4 - 5
demam dan antibodi IgG akan timbul setelah hari ke 14 demam dan
bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pada infeksi sekunder, antibodi
IgG akan timbul lebih dahulu yaitu 1 – 2 hari setelah gejala demam timbul
dan antibodi IgM akan timbul pada setelah hari ke 5 – 10 demam.

Pemeriksaan antibodi terhadap virus Chikungunya IgM dilakukan terhadap


pasien demam dengan gejala pusing, sakit kepala, nyeri sendi dan ruam berwarna
merah pada kulit. Untuk memastikan perlu dilakukan pemeriksaan antibodi
terhadap virus Chikungunya IgM. Bila hasil negatif sebaiknya diulang 2 – 4 hari
kemudian.

Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan yang bertujuan mengetahui adanya


demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi A,B,C. Pemeriksaan Widal sering menunjukkan reaksi
silang dengan kuman yang berasal dari usus sehingga pemeriksaan ini tidak
bersifat spesifik. Untuk mendeteksi infeksi dengan Salmonella typhi yang spesifik
dapat diperiksa Salmonella typhi IgM.

Pada infeksi lambung yang disebabkan oleh kuman Helicobacter pylori yang
dapat menyebabkan radang, tukak lambung dan dapat menimbulkan keganasan.
Oleh karena itu adanya infeksi dengan kuman Helicobacter pylori dapat diketahui
dengan pemeriksaan antibodi terhadap H.pylori IgG-IgM.

Penyakit infeksi lain yang banyak di Indonesia adalah infeksi dengan parasit
Entamoeba histolityca yang dapat menyebabkan perdarahan usus bahkan dapat
menimbulkan kerusakan dinding usus (perforasi). Pasien yang diduga pernah
mengalami infeksi dengan parasit tersebut dapat diketahui dengan pemeriksaan
antibodi IgG terhadap amoeba.
Terhadap penyakit tuberculosis (TBC), khususnya yang telah menyebar di
dalam tubuh dapat diketahui dengan pemeriksaan antibodi terhadap kuman
tuberculosis.

Untuk penyakit syphilis yang disebabkan oleh Treponema pallidum dapat


dilakukan pemeriksaan VDRL/TPHA. VDRL adalah pemeriksaan yang tidak
spesifik tetapi cukup sensitif untuk penyakit syphilis. Tetapi pada beberapa
penyakit seperti TBC, kusta, frambusia dapat menimbulkan hasil positif palsu.
Sedangkan syphilis stadium dini dan syphilis stadium lanjut sering menghasilkan
reaksi negatif palsu. Untuk membuktikan seseorang pernah kontak dengan kuman
Treponema pallidum dilakukan pemeriksaan serologi TPHA yang menguji adanya
antibodi spesifik terhadap kuman Treponema pallidum.

Chlamydia trachomatis adalah bakteri Gram negatif yang hidup


intraseluler. Infeksi dengan bakteri ini dapat menimbulkan non-gonorrheal
urethritis, lymphogranuloma venereum, trachoma, neonatal pneumonia dan
sindrom Reifer's. Penyakit terbanyak yang ditimbulkan oleh bakteri ini adalah
non-gonorrheal urethritis. Empat puluh persen (40%) kasus non-gonorrheal
urethritis disebabkan oleh infeksi bakteri Chlamydia, 70% kasus pada wanita
menyebabkan infeksi endoserviks dan 50% pada lelaki timbul urethritis
asimptomatik. Pemeriksaan untuk mengetahui adanya infeksi dengan bakteri C.
trachomatis dapat dilakukan dengan mendeteksi antibodi atau antigen C.
trachomatis. Pemeriksaan dengan antibodi terhadap C. trachomatis menggunakan
serum atau plasma. Antibodi C. trachomatis ada 2 macam yaitu golongan IgG dan
IgM. Deteksi antibodi C. trachomatis IgM mempunyai banyak kelemahan karena
antibodi IgM tidak selalu timbul pada infeksi akut demikian juga dengan antibodi
IgG. Antibodi IgG dapat menimbulkan hasil positif palsu bila terdapat faktor
rheumatoid dalam darah yang mengganggu reaksi pada pemeriksaan.

Virus measles menyebabkan penyakit demam akut pada anak yang sangat
menular. Penyakit ini ditandai oleh radang selaput lendir saluran napas atas
disertai ruam pada kulit. Penyakit ini disertai komplikasi radang paru, telinga dan
otak. Pada telinga dapat menyebabkan hilang pendengaran dan pada wanita hamil
infeksi virus Measles dapat mengakibatkan abortus spontan, kematian janin dan
cacat kongenital. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan fisik dan antibodi IgM terhadap virus Measles di dalam serum pada
keadaan akut dan antibodi IgG setelah penyembuhan karena antibodi IgG ini
bertahan dalam waktu yang cukup lama atau akibat vaksinasi.

Infeksi virus Mumps dalam keadaan akut dapat menimbulkan radang


kelenjar liur (parotitis), radang selaput otak (meningitis) dan radang pada testis
(orchitis). Untuk memastikan adanya infeksi akut diperiksa antibodi IgM terhadap
virus Mumps dan infeksi masa lampau diketahui dengan memeriksa antibodi IgG.
Antibodi IgG terhadap Mumps mungkin didapatkan setelah imunisasi 12 – 24
bulan.

Pemeriksaan Imunologi/Serologi di Laboratorium

Pemeriksaan serologi adalah pemeriksaan yang menggunakan serum


seperti pemeriksaan pada dugaan demam dengue. Demam dengue dapat
merupakan infeksi pertama kali yang disebut infeksi primer dan dikenal sebagai
demam dengue, serta infeksi kedua kali yang disebut infeksi sekunder yang dapat
menimbulkan penyakit demam berdarah yang dikenal sebagai dengue
haemorragic fever (DHF) yang dapat mengalami renjatan dan berakhir dengan
kematian. Pada demam dengue, pemeriksaan serologi yang tersedia adalah
pemeriksaan antigen NS-1, IgA-anti dengue, antibodi dengue IgG dan IgM.

Pemeriksaan antigen NS-1 dengue dapat dilakukan pada hari pertama


sampai hari kesembilan dari demam baik pada infeksi primer maupun infeksi
sekunder, sehingga antigen NS-1 ini merupakan pemeriksaan dini untuk
mengetahui adanya infeksi dengan virus dengue.
Pada infeksi primer didapatkan kadar antibodi IgM setelah hari ke 4 – 5 demam
dan antibodi IgG akan timbul setelah hari ke 14 demam dan bertahan dalam
jangka waktu yang lama. Pada infeksi sekunder, antibodi IgG akan timbul lebih
dahulu yaitu 1 – 2 hari setelah gejala demam timbul dan antibodi IgM akan timbul
pada setelah hari ke 5 – 10 demam.
Selain itu dikenal juga pemeriksaan antibodi dengue IgA yang merupakan
pertanda serologi infeksi yang aktif. Kadar antibodi dengue IgA lebih tinggi pada
infeksi akut yang akan mengalami renjatan dibanding dengan penderita infeksi
primer/sekunder sehingga dapat dikatakan kadar IgA berkorelasi dengan beratnya
penyakit.

Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan yang bertujuan mengetahui


adanya demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi A,B,C. Pemeriksaan Widal sering menunjukkan reaksi
silang dengan kuman usus sehingga pemeriksaan ini tidak bersifat spesifik. Untuk
mendeteksi infeksi dengan Salmonella typhi yang spesifik dapat diperiksa
Salmonella typhi IgM.

Pada infeksi lambung yang disebabkan oleh kuman Helicobacter pylori


yang dapat menyebabkan radang, tukak pada lambung dan dapat menimbulkan
keganasan. Oleh karena itu, adanya infeksi dengan kuman Helicobacter pylori
dapat diketahui dengan pemeriksaan antibodi terhadap H.pylori IgG-IgM.

Penyakit infeksi lain yang banyak di Indonesia adalah infeksi dengan


parasit Entamoeba histolityca yang dapat menyebabkan perdarahan usus bahkan
dapat menimbulkan kerusakan dinding usus (perforasi). Pasien yang diduga
pernah mengalami infeksi dengan parasit tersebut dapat diketahui dengan
pemeriksaan antibodi terhadap amoeba golongan IgG.

Terhadap penyakit tuberculosis (TBC), khususnya yang telah menyebar di


dalam tubuh dapat diketahui dengan pemeriksaan antibodi terhadap kuman
tuberculosis.

Untuk penyakit syphilis yang disebabkan oleh Treponema pallidum dapat


dilakukan pemeriksaan VDRL/TPHA. VDRL adalah pemeriksaan yang tidak
spesifik tetapi cukup sensitif untuk penyakit syphilis. Tetapi pada beberapa
penyakit seperti TBC, kusta, frambusia dapat menimbulkan hasil positif palsu.
Sedangkan syphilis stadium dini dan syphilis stadium lanjut sering menghasilkan
reaksi negatif palsu. Untuk membuktikan seseorang pernah kontak dengan kuman
Treponema pallidum dilakukan pemeriksaan serologi TPHA yang menguji adanya
antibodi spesifik terhadap kuman Treponema pallidum.

C-reactive protein (CRP) adalah protein yang dihasilkan oleh hati pada
proses kerusakan jaringan dan peradangan. Kadarnya akan meningkat di dalam
darah 6 – 10 jam setelah peradangan akut atau kerusakan jaringan dan mencapai
puncak 24 – 72 jam. Peningkatan kadar CRP dapat terjadi pada arthritis
rheumatoid, infeksi akut, infark jantung, dan keganasan. Kadar CRP akan menjadi
normal 3 hari setelah kerusakan jaringan membaik. Makin tinggi kadar CRP,
maka makin luas proses peradangan atau kerusakan jaringan. Pemeriksaan CRP
lebih dini menunjukkan hasil yang abnormal dibanding dengan pemeriksaan laju
endap darah.

hsCRP adalah uji yang sangat sensitif untuk deteksi risiko kelainan
kardiovaskuler dan penyakit pembuluh darah tepi. Pemeriksaan ini biasanya
dilakukan bersamaan dengan profil lipid. Dalam kepustakaan dikatakan, sepertiga
dari pasien yang mendapat serangan jantung menunjukkan kadar kolesterol dan
tekanan darah yang normal tetapi hsCRP sudah menunjukkan peningkatan
sehingga peningkatan dari hsCRP menunjukkan adanya risiko tinggi untuk
timbulnya penyakit pembuluh darah koroner dan stroke. Pada angina pectoris,
hsCRP tidak meningkat. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya
inflamasi/peradangan pada proses arterosklerosis, khususnya pada arteri
koroneria.

Rheumatoid Arthritic Factor (RAF) adalah pemeriksaan penyaring untuk


mendeteksi adanya antibodi golongan IgM, IgG atau IgA yang terdapat dalam
serum pada penderita arthritis rheumatoid. Pemeriksaan ini berhasil positif pada
53 – 94% pasien dengan arthritis rheumatoid. Selain itu, RAF bisa didapatkan
pada bermacam-macam penyakit jaringan ikat seperti lupus erythematosus,
sklerodema, dermatomiositis serta pada penyakit TBC, leukemia, hepatitis, sirosis
hati, sipilis dan usia lanjut.
Bakteri β-hemolytic Streptococcus mengeluarkan enzim yang disebut
streptolysin-O yang mampu merusak/melisiskan eritrosit. Streptolysin-O ini
bersifat sebagai antigen dan merangsang tubuh untuk membentuk antibodi
antistreptolysin-O (ASO). Kadar ASO yang tinggi di dalam darah berarti terdapat
infeksi dengan kuman Streptococcus yang menghasilkan ASO seperti pada
demam rematik, penyakit glomerulonephritis akut. Peningkatan kadar ASO
menandakan adanya infeksi akut 1 – 2 minggu sebelumnya dan mencapai puncak
3 – 4 minggu dan dapat bertahan sampai berbulan-bulan.

Petanda tumor umumnya diperiksa dari darah. Kegunaan dari petanda


tumor untuk deteksi kanker. Petanda tumor ini dipakai untuk menyaring dan
membantu menegakkan diagnosis untuk kanker, mengikuti perjalanan penyakit
dan ingin mengetahui adanya kekambuhan (relapse). Umumnya pemeriksaan
petanda tumor tidak dapat diperiksa secara tunggal untuk mendeteksi adanya
kanker, harus dengan menggunakan beberapa petanda tumor.

Alpha fetoprotein (AFP) adalah glikoprotein yang dihasilkan oleh kantung


telur yang akan menjadi sel hati pada janin. Ternyata protein ini dapat dijumpai
pada 70 – 95% pasien dengan kanker hati primer dan juga dapat dijumpai pada
kanker testis. Pada seminoma yang lanjut, peningkatan AFP biasanya disertai
dengan human Chorionic Gonadotropin (hCG). Kadar AFP tidak ada hubungan
dengan besarnya tumor, pertumbuhan tumor, dan derajat keganasan. Kadar AFP
sangat tinggi pada kasus dengan keganasan hati primer sedangkan pada metastasis
tumor ganas ke hati (keganasan hati sekunder) kadar AFP kurang dari 350 – 400
IU/mL. Pemeriksaan AFP ini selain diperiksa di dalam serum, dapat juga
diperiksakan pada cairan ketuban untuk mengetahui adanya spinabifida,
ancephalia, atresia oesophagus atau kehamilan ganda.

Carcinoembryonic antigen (CEA) adalah protein yang dihasilkan oleh


epitel saluran cerna janin yang juga dapat diekstraksi dari tumor saluran cerna
orang dewasa. Pemeriksaan CEA ini bertujuan untuk mengetahui adanya kanker
usus besar, khususnya ardenocarcinoma. Pemeriksaan CEA merupakan uji
laboratorium yang tidak spesifik karena 70% kasus didapatkan peningkatan CEA
pada kanker usus besar dan pankreas. Peningkatan kadar CEA dapat pula
dijumpai pada keganasan oesophagus, lambung, usus halus, dubur, kanker
payudara, kanker serviks, sirosis hati, pneumonia, pankreatitis akut, gagal ginjal,
penyakit inflamasi dan trauma pasca operasi. Yang penting diketahui bahwa kadar
CEA dapat meningkat pada perokok.

Cancer antigen 72-4 atau dikenal dengan Ca 72-4 adalah mucine-like,


tumor associated glycoprotein TAG 72 di dalam serum. Antibodi ini meningkat
pada keadaan jinak seperti pankreatitis, sirosis hati, penyakit paru, kelainan
ginekologi, kelainan ovarium, kelainan payudara dan saluran cerna. Pada keadaan
tersebut spesifisitas sebesar 98%. Peningkatan Ca 72-4 mempunyai arti diagnostik
yang tinggi untuk kelainan jinak tersebut. Pada keganasan lambung, ovarium dan
kanker usus besar mempunyai arti diagnostik yang tinggi. Pada kanker lambung,
uji diagnostik Ca 72-4 mempunyai nilai sensitifitas 28 – 80% ; pada kanker
ovarium, sensitifitas 47 – 80% ; sedangkan pada kanker usus besar, sensitifitasnya
20 – 41%.

Pemeriksaan petanda tumor ini dipakai untuk menegakkan diagnosis, bila


diperlukan harus digunakan lebih dari 1 petanda tumor. Selain itu pemeriksaan Ca
72-4 juga dipakai pada pasca operasi dan pada waktu relapse.

Cancer antigen 19-9 (Ca 19-9) adalah antigen kanker yang dideteksi untuk
membantu menegakkan diagnosis, keganasan pankreas, saluran hepatobiliar,
lambung dan usus besar. Kadar Ca 19-9 meningkat pada 70 – 75% kanker
pankreas dan 60 – 65% kanker hepatobiliar. Pada peningkatan ringan, kadar Ca
19-9 dapat dijumpai pada radang seperti pankreatitis, sirosis hati, radang usus
besar.

Cancer antigen 12-5 (Ca 12-5) dipakai untuk indikator kanker ovarium
epitel non-musinous. Kadar Ca 12-5 meningkat pada kanker ovarium dan dipakai
untuk mengikuti hasil pengobatan 3 minggu pasca kemoterapi.

Human chorionic gonadotropin (HCG) adalah hormon yang dihasilkan


plasenta, didapatkan pada darah dan urin wanita hamil 14 – 26 hari setelah
konsepsi. Kadar HCG tertinggi pada minggu ke 8 kehamilan. HCG tidak
didapatkan pada wanita yang tidak hamil, pada kematian janin dan 3 – 4 hari
pasca melahirkan. HCG meningkat pada keganasan seperti mola hidatidosa,
koreonepitelioma, koreocarcinoma dari testis.

Cancer antigen 15-3 (Ca 15-3) dipakai untuk mengidentifikasi kanker


payudara dan monitoring hasil pengobatan. Pemeriksaan petanda tumor ini akan
lebih sensitif bila digunakan bersama CEA. Kadar Ca 15-3 meningkat pada
keganasan payudara, ovarium, paru, pankreas dan prostat.

Prostat Spesific Antigen (PSA) dipakai untuk diagnosis kanker prostat.


Dahulu kala pemeriksaan kanker prostat dilakukan pemeriksaan aktifitas prostatic
acid phosphatase (PAP), diikuti dengan pemeriksaan colok dubur. Tetapi aktifitas
PAP yang tinggi disertai dengan pembesaran kelenjar prostat selalu sudah terjadi
metastasis.

Untuk pemeriksaan dini kanker prostat dipakai pemeriksaan PSA. Kadar


PSA dapat meningkat pada hipertrofi prostat jinak dan lebih tinggi lagi pada
kanker prostat. Kadar PSA meningkat setelah colok dubur atau bedah prostat.
Pemeriksaan PSA disarankan untuk pemeriksaan rutin pada pria usia lebih dari 40
thn. Total PSA (tPSA) terdiri dari PSA bebas dan PSA kompleks. Kadar PSA
total dipakai untuk mendapatkan persen (%) PSA bebas.

Neuron Specific Enolase (NSE) dipakai untuk menilai hasil pengobatan


dan perjalanan penyakit, keganasan small cell bronchial carcinoma,
neuroblastoma, dan seminoma. Kadar NSE tidak mempunyai hubungan dengan
adanya metastasis, tapi memiliki korelasi yang baik terhadap stadium perjalanan
penyakit. Peningkatan ringan kadar NSE dapat dijumpai pada penyakit paru jinak
dan penyakit pada otak.

Squamous cell carcinoma (SCC) antigen diperoleh dari jaringan karsinoma


sel skuamosa dari serviks utri. Pemeriksaan SCC bertujuan untuk menilai
prognosis, kekambuhan dan monitoring penyakit. Umumnya SCC meningkat pada
keganasan sel squamosa seperti faring, laring, palatum, lidah dan leher.
Cyfra 21-1 dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis kelainan paru
yang jinak seperti pneumonia, sarcoidosis, TBC, bronchitis kronik, asma, dan
emfisema. Kadarnya juga meningkat pada kelainan hati dan gagal ginjal. Kadar
cyfra 21-1 lebih dari 30 ng/ml didapatkan pada primary bronchial carcinoma.

Triidothyronine (T3) adalah hormon tiroid yang ada dalam darah dengan
kadar yang sedikit yang mempunyai kerja yang singkat dan bersifat lebih kuat
daripada tiroksin (T4). T3 disekresikan atas pengaruh thyroid stimulating
hormone (TSH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise dan thyroid–releasing
hormone (TRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus. T3 didalam aliran darah terikat
dengan thyroxine binding globulin (TBG) sebanyak 38 – 80%, prealbumin 9 –
27% dan albumin 11 – 35%. Sisanya sebanyak 0.2 – 0.8% ada dalam bentuk
bebas yang disebut free T3. Free T3 meningkat lebih tinggi daripada free T4 pada
penyakit graves dan adenoma toxic. Free T3 dipakai untuk monitoring pasien
yang menggunakan obat anti-tiroid, karena pada pengobatan tersebut, produksi T3
berkurang dan T4 dikonversi menjadi T3. Selain itu, kadar free T3 diprediksi
untuk menentukan beratnya kelainan tiroid.

Thyroxine (T4) di dalam aliran darah ada dalam bentuk free T4 dan yang
terikat dengan protein. Protein pengikat T4 adalah TBG sebanyak 75%, albumin
10% dan prealbumin 15% dari T4 total. Sebagian kecil yaitu 0.03% dari T4 ada
dalam bentuk bebas yang disebut free T4. Free T4 ini merupakan suatu uji
laboratorium yang paling baik untuk mengetahui adanya disfungsi dari kelenjar
tiroid.

Thyroid stimulating hormone (TSH) adalah hormon yang dihasilkan oleh


hipofisa interior. TSH berfungsi merangsang produksi hormon tiroid seperti T4
dan T3 melalui receptornya yang ada di permukaan sel thyroid. Sintesis dari TSH
ini dipengaruhi oleh thyrotropin releasing hormone (TRH) yang dihasilkan oleh
hypothalamus bila didapatkan kadar hormon tiroid yang rendah di dalam darah.
Bila kadar T3 dan T4 meningkat, produksi TSH akan ditekan sehingga akan
terjadi penurunan kadar T3 dan T4.
Sebagaimana diketahui, hormon tiroid di dalam aliran darah terikat pada protein
yang disebut thyroxin binding protein. Banyaknya thyroxin binding protein yang
tidak mengikat hormon tiroid merupakan ukuran dari T-Uptake.

Sebagaimana diketahui T4 didalam aliran darah terikat pada beberapa


protein seperti yang telah disebutkan diatas. Selain itu T4 dapat meningkat pada
kehamilan, pengobatan dengan estrogen, hepatitis kronik aktif, sirosis bilier atau
kelainan bawaan pada tempat pengikatan T4. Pada keadaan ini , peningkatan T4
seolah-olah menunjukkan gangguan fungsi tiroid yang berlebihan, yang
sebenarnya peningkatan itu bersifat palsu. Oleh karena itu, untuk mengetahui
fungsi tiroid yang baik dapat diperiksa dengan FTI. Pemeriksaan kadar T3, T4,
FTI, Free T3, Free T4, dan TSH dapat dilakukan dengan metoda ELISA.

Anti-thyroglobulin antibody adalah autoantibodi terhadap tiroglobulin


dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Pada penyakit autoimmune tiroid akan dihasilkan
antibodi tiroid yang akan berikatan dengan tiroglobulin yang menimbulkan reaksi
radang daripada kelenjar tiroid. Pada tirotoxikosis, titer anti-thyroid antibody
dapat mencapai 1/1600 dan pada thyroiditis Hashimoto lebih dari 1/5000. Pada
keadaan tertentu seperti kanker tiroid dan penyakit rheumatoid, titer anti-
thyroglobulin antibody dapat meningkat.

Luteinizing hormone (LH) adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar


hipofisa anterior yang kerjanya bersamaan dengan Follicle Stimulating Hormone
(FSH) yang menyebabkan terjadinya ovulasi. Setelah ovulasi, LH membantu
merangsang timbulnya corpus luteum yang menghasilkan progesteron. Selain itu,
LH juga merangsang produksi testosteron bersamaan dengan FSH akan
mempengaruhi pematangan spermatozoa. Oleh karena itu, pemeriksaan LH
dipakai untuk mengetahui infertilitas baik pada pria maupun wanita. Kadarnya
yang sangat tinggi didapatkan pada disfungsi kelenjar gonad seperti testis dan
ovarium, dan kadarnya rendah dikaitkan dengan kelainan pada hipotalamus dan
hipofisa.

Prolaktin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisa anterior


yang kerjanya pada kelenjar payudara saat menyusui, serta merangsang dan
mempertahankan laktasi pada saat melahirkan. Bila ibu tidak menyusui, kadar
prolaktin serum menurun menjadi normal. Kadar prolaktin dalam darah menurun
pada pertumbuhan tumor hipofisa dan pada penggunaan bromocriptine yang
mengakibatkan penurunan kadar prolaktin serum dan mengurangi pertumbuhan
tumor hipofisa. Pemeriksaan kadar prolaktin dipakai untuk monitoring pasca
bedah, pasca kemoterapi dan pasca radiasi pada keganasan kelenjar yang
menghasilkan prolaktin.

Estradiol (E2) mempunyai sifat lebih kuat daripada estrone (E1) dan
estriol (E3). Pemeriksaan estradiol dipakai untuk mengetahui kelainan kelenjar
gonad, juga dipakai untuk mengevaluasi siklus haid dan masa fertilisasi pada
wanita. Pada pria, estradiol meningkat pada keganasan tumor testis dan tumor
adrenal, sedangkan wanita pada tumor ovarium.

Progesteron adalah hormon primer yang dihasilkan oleh corpus luteum


dari ovarium dan dalam jumlah yang kecil diproduksi oleh korteks adrenal. Kadar
progesteronemencapai puncak pada fase lutheal dari siklus haid selama 4 – 5 hari
dan selama kehamilan. Pemeriksaan serum progesteron berguna untuk konfirmasi
ovulasi, masalah infertilitas dan untuk mengetahui fungsi plasenta pada
kehamilan.

Testosteron adalah hormon seks pada pria yang dihasilkan oleh testis dan
kelenjar adrenal. Pada wanita, hormon ini selain dihasilkan ovarium, juga
dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Pemeriksaan testosteron serum untuk
menegakkan diagnosis male sexual precocity sebelum usia 10 thn dan infertilitas
pada pria. Kadar testosteron serum tertinggi pada pagi hari. Kadar rendah
didapatkan pada hipogonadism primer dan sekunder.

Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) adalah faktor pertumbuhan yang


mempunyai fungsi sangat kompleks. Faktor pertumbuhan IGF-1 merupakan
perantara terhadap hormon pertumbuhan, memicu pengambilan asam amino,
sintesis protein dan utilisasi penggunaan glukosa. Faktor pertumbuhan ini
diproduksi oleh hati yang membantu kerja dari fungsi endokrin. Kadar IGF-1
dalam serum meningkat pada saat pertumbuhan dan menurun setelah dewasa.
Kortisol adalah hormon golongan glikokortikoid yang dihasilkan oleh korteks
adrenal atas pengaruh adrenocorticotropic hormone (ACTH). Hormon ini
mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein dan lemak ; sebagai anti
inflamasi ; mempertahankan tekanan darah ; memperlambat kerja insulin dan
memicu terjadinya glikogenesis di hati. Kadar kortisol di dalam darah dipengaruhi
oleh waktu pengambilan, pada pagi hari kadarnya lebih tinggi dan rendah pada
sore hari. Pemeriksaan kadar kortisol bertujuan untuk mengetahui fungsi korteks
adrenal.

Transferin adalah protein yang tergolong dalam fraksi beta globulin yang
dihasilkan oleh hati. Transferin berfungsi mengangkut besi dari dinding usus atau
cadangan besi ke sumsum tulang untuk pembentukan prekursor eritrosit dan
limfosit. Kadar transferin ini meningkat bila didapatkan defisiensi besi dan
menurun pada infeksi menahun, peradangan, penyakit kanker, penyakit ginjal
dengan proteinuria dan penyakit kelainan hati.

Fosfatase asam adalah enzim yang dihasilkan terutama oleh kelenjar


prostat dan didapatkan dalam kadar tinggi di dalam semen. Selain itu, enzim ini
didapatkan pula dalam sumsum tulang, eritrosit, limpa dan hati. Sepertiga sampai
seperempat dari kadar fosfatase asam total dihasilkan oleh kelenjar prostat yang
disebut sebagai fosfatase asam prostat yang merupakan isoenzim fosfatase asam.
Kadar fosfatase asam dan fosfatase asam prostat ini meningkat terutama pada
kanker prostat, sedangkan kadarnya pada hipertrofi prostat jinak normal. Setelah
prostatic massage atau extensive palpation dapat meningkatkan kadar fosfatase
asam. Untuk menentukan adanya kanker prostat lebih baik dilakukan pengukuran
kadar Prostate Spesific Antigen (PSA).

Beta crosslaps adalah pemeriksaan yang dipakai untuk monitoring pasien


dengan pengobatan yang menghambat resorbsi tulang seperti pada penggunaan
biphosphonate, Hormone Replacement Therapy (HRT) dan pada wanita post
menopausal.
Total Procollagen type 1 amino-terminal propeptide (P1NP) dipakai untuk
monitoring pengobatan penderita dengan osteoporosis, pada wanita post
menopausal dan penyakit Paget pada tulang.

N-MID Osteocalcin adalah pemeriksaan yang dipakai untuk mengontrol


hasil pengobatan yang menghambat resorbsi tulang seperti pada kasus dengan
osteoporosis atau dengan hiperkalsemi.