Anda di halaman 1dari 14

MEMAHAMI REVOLUSI PENAFSIRAN TERHADAP TEMA-TEMA

AL-QUR’AN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Pendekatan Studi Islam

Dosen Pengampu :

Dr. H. M. Lutfi Mustofa, M.Ag

Disusun oleh :

Mohammad Ramdhan Vidi Zafrizal Firdaus

18770039

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM


MALANG

2018
ABSTRAK

Memahami Revolusi Penafsiran Terhadap Tema-Tema al-Qur’an


Muhammad Ramdhan Vidi Zafrizal Firdaus
mrvidizf@gmail.com

Salah satu metode penafsiran al-Qur’an di masa sekarang ini yang sangat populer
dikalangan umat islam secara umum dan para mufassir secara khusus adalah
metode tafsir tematik. Metode ini menafsirkan al-Qur’an dengan cara
menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan suatu tema tertentu. Di era
informasi dan globalisasi, metode ini Sangat berperan penting karena dapat
menyelesaikan problem-problem yang dihadapi masyarakat. Persoalan-persoalan
yang muncul dibelahan bumi dapat di lihat solusinya lewat pendekatan penafsiran
al-Qur’an dengan menggunakan metode tematik. Oleh karena itu, tafsir tematik
sangat di gemari masyarakat luas akhir-akhir ini, karena disamping disusun
secara praktis dan sistematis dengan mengikuti kronologi turunnya ayat juga dapat
menjawab tantangan zaman.

Kata kunci : metode, tafsir tematik

A. Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di turunkan kepada umat islam.


Kitab ini menempati sangatlah penting bagi hidup dan kehidupan mereka. Di
dalamnya terdapat petunjuk (hudan), nasehat (maw’izah), peringatan (al-dhikir),
hukum dan hikmah (al-hukm dan al-hikmah), kisah-kisah ummat terdahulu (qisos
al-ummah as-sabiqoh), dan sebagainya. Semua itu tidak lepas dari tujuan utama
kehidupan manusia yaitu meraih keridhoan Allah Swt di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, al-Qur’an al-Karim tidak cukup hanya dibaca sebagai
ritual umat islam, tetapi perlu pula dipahami kandungan makna yang ada
didalamnya. Memahami kitab suci ini merupakan suatu kewajiban utama bagi
umat islam. Kewajiban selanjutnya, adalah mempraktekan kandungan al-Qur’an
itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika al-Quran hanya di baca secra ritual, tanpa
disertai pemahaman dan pengamalan, pada hakekatnya meraka terjebak pada
rutinitas belaka. Bahkan bisa dikatakan, meraka inilah yang dinilai oleh Allah Swt
sebagai orang-orang yang lalai, yang mana keadaan mereka jauh lebih buruk dari
hewan ternak (al-An’am), yang mana mereka mempunyai akal, tetapi tidak
digunakan untuk memahami : mempunyai mata tidak digunakan untuk melihat
dan mempunyai telinga tidak digunkan untuk mendengar ayat-ayat al-Qur’an.

Maka tidak diragukan lagi pentingnya ilmu tafsir al-Qur’an bagi umat
islam dalam memahami isi kandungan dalam kitab suci ini. Dari waktu ke waktu,
penafsiran al-Qur’an terus dilakukan, karena hasil penafsiran bukanlah sesuatu
yang bersifat mutlak. Al-Qur’an al-Karim turun untuk menghadapi dan
menundukkan orang-orang yang ingkar dan dalam waktu yang sama, sekaligus
untuk memberi petunjuk kepada mereka dengan argumen dan bukti-bukti yang
kuat.

Kajian tafsir al-Qur’an mutlak dibutuhkan, guna mengetahui sesuai


kemampuan akan maksud Allah Swt yang terdapat di dalam semua perintah dan
larangan yang telah Ia tetapkan bagi hamba-Nya, dan untuk menemukan serta
memahami petunjuk Allah Swt dibidang akidah, ibadah, dan akhlak, dengan
harapan tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sudah banyak Kitab-kitab tafsir yang telah dikarang oleh ulama-ulama


terdahulu maupun modern dengan metode pembahasannya yang aneka ragam itu,
tetapi dirasakan tidak banyak membantu para pelajar segera sampai dan mencapai
tujuan yang dimaksudkan di atas, sebab para ulama kita cenderung kepada
pembahasan tafsir al-Qur’an yang memuat bermacam-macam aspek pembicaraan,
dari bentuk uraian yang panjang lebar sampai kepada yang sangat ringkas. Di
antara mereka ada yang sangat panjang lebar mengemukakan uraian mengenai
aliran-aliran kalam serta menjelaskan pendapat masing-masing aliran tersebut; ada
pula yang, di dalam kitab tafsirnya, cenderung mengetengahkan pembahasan
mengenai aspek balaghah, sementara yang lain lebih menekankan pembahasan
aspek fikih, sedangkan yang lain lagi cenderung menitikberatkan kepada
pembahasan-pembahasan.
Tidak ditemukan secara terpampang jelas dikalangan mereka itu ulama
tafsir yang melakukan pembahasan sesuai dengan tema-tema al-Qur’an atau yang
lebih dikenal dengan “Tafsir Maudhu’i”, yang mencoba mengungkap dan
menjelaskan kepada manusia segala hukum dan peraturan yang terdapat di dalam
al-Qur’an, yang berhubungan langsung dengan kehidupan nyata dan masalah yang
tengah mereka hadapi.

Jelasnya, al-Qur’an itu penuh dengan masalah-masalah yang perlu dikaji


dan dibahas melalui metode maudhu’i atau kajian secara tematik. Seandainya para
pembahas mau memerhatikan dan melakukan kajian tafsir secara tematik ini,
niscaya perbendaharaan kandungan al-Qur’an itu akan tampak jelas dihadapan
mereka yang menunjukkan bahwa kita mampu melahirkan hukum universal bagi
seluruh masyarakat Islam yang sumbernya al-Qur’an al-Karim itu sendiri, dalam
bentuk materi undang-undang riil dan praktis, yang gampang dipahami dan mudah
dilaksanakan.

Untuk mencapai semua tujuan ini, kiranya tidak ada yang harus kita
lakukan selain harus melakukan kajian dan pembahasan tafsir dengan
menggunakan metode “Tafsir Maudhu’i”.

Oleh karena itulah, pada pembahasan kali ini akan dibahas uraian
mengenai tafsir maudhu’i beserta cara-cara pembahasan yang digunakan dalam
metode ini.

A. Tafsir Tematik (Maudu’i)


1. PENGERTIAN
Secara bahasa, kata Maudlu’ berasal dari kata madzi (‫ )وضع‬yang berarti
meletakkan, menjadikan, menghina, mendustakan, dan membuat-buat.1
Sedangkan Istilah metode tafsir Tematik (Maudhu’i) berarti metode yang
di tempuh mufassir dengan cara menghimpum seluruh ayat-ayat yang
berbicara suatu masalah/tema (Maudhu’) serta mengarah pada satu
pengertian dan satu tujuan, sekalipun ayat-ayat itu (cara) turunnya

1
. AWarson Munawir, Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya:
Pustaka Progesif, 1997), h. 1564-156
berbeda, tersebar pada berbagai surat dalam al-Qur’an dan berbeda pula
waktu dan tempat turunnya.2
Kemudian ia menentukan urutan ayat-ayat itu sesuai dengan masa
turunnya, mengemukakan sebab turunnya sepanjang hal itu
memungkingkan (jika ayat-ayat itu diturunkan karena sebab-sebab
tertentu), menguraikannya dengan sempurna, menjelaskan makna dan
tujuannya, mengkaji terhadap seluruh segi dan apa yang diistimbathkan
darinya, segi i’rab-nya, unsur-unsur balagahnya, segi-segi i’jaz-nya
(kemu’jizatannya) dan lain-lainnya, sehingga satu tema itu dapat
dipecahkan secara tuntas berdasarkan seluruh ayat al-Qur’an itu dan oleh
karenanya tidak diperlukan ayat-ayat lain.3
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan
metode tafsir jenis ini adalah tafsir yang menjelaskan beberapa ayat al-
Qur’an yang mengenai sesuatu judul/tema tertentu, dengan memerhatikan
urutan tertib turunnya masing-masing ayat, sesuai dengan sebab-sebab
turunnya yang dijelaskan dengan berbagai macam keterangan dari segala
seginya dan diperbandingkan dengan keterangan berbagai ilmu
pengetahuan yang membahas topik/tema yang sama, sehingga lebih
mempermudah dan memperjelas masalah, karena al-Qur’an banyak
mengandung berbagai macam tema pembahasan yang perlu dibahas secara
maudhu’i, supaya pembahasannya lebih tuntas dan lebih sempurna. Itulah
cara pertama dari tafsir maudhu’i dan cara yang kedua yaitu penafsiran
yang dilakukan seorang mufassir dengan cara mengambil satu surat
tertentu sebagai suatu kesatuan tema, didalamnya dijelaskan tentang
makna dan koerelasi ayat per ayat. Dengan tujuan surat tersebut dapat
dipahami secara utuh dan sempurna. 4

2
Manna’ Qattan, Studi Ilmu Ilmu Qur;an, Terj. Mudzakir AS ( Bogor, Pustaka Litera Antar
Nusa, 2001 ), h. 445
3
Sejarah dan metologi tafsi 78
4
Su’aib Muhammad, Tafsir Temati, Konsep Alat Bantu dan Contoh Penerapanya, (
Malang, UIN Maliki Press, 2013) h. 34
2. SEJARAH TAFSIR TEMATIK
Mengenai pencetus tafsir tematik, terjadi perbedaan pendapat antara
para pakar ilmu tafsir modern. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat
perkembangan ilmu tafsir terjadi perkembangan di banyak tempat studi
keislaman.
Salah satu pendapat mengatakan pencetusnya adalah Muhammad Baqir
al-Shadr. Dia merupakan tokoh intelektual Syi’ah dalam kehidupan Islam
Kontemporer yang juga memberikan tawaran metodologis dalam dunia
penafsiran al-Qur’an.5 Kemudian al-Farmawi memiliki pandangan lain,
menurutnya pencetusnya adalah Muhammad Abduh, kemudian ide
pokoknya diberikan oleh Mahmud Syaltut, yang kemudian dikenalkan
secara konkret oleh Sayyid Ahmad Kamal al-Kumy. 6
Sedangkan didalam catatan Qurasiy Syihab, tafsir tematik berdasarkan
surat al-Qur’an dikenalkan pertama kali oleh Guru Besar Tafsir
Universitas al-Azhar Syaikh Mahmud Syaltut didalam karyanya yang
fenomenal dalam tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-Karim. Sedangkan
berdasarkan subjek digagas pertama kali oleh Sayyid Ahmad Kamal al-
Kumy pada tahun 1960-an.7
Tafsir tematik mengalami pekembangan pesat sejak awal
kemunculannya, masih dizaman ahli-ahli tafsir yang dianggap sebagai
pencetus tafsir tematik bermunculan tafsir tematik dengan berbagai tema,
misalnya: 1) al-Mar’ah fi al-Quran, karya Abbas al-Aqqad, 2) ar-Riba fi
al-Qur’an, karya Abu A’la al-Maududi, 3) al-Aqidah fi al-Qur’an, karya
Abu Zahrah, dan lain-lain. Munculnya karya-karya diatas menjadi bukti
perkembangan tafsir tematik yang memiliki kinerja tersendiri dari
metode yang lain. Dan hal ini tidak hanya terjadi di timur tengah, tetapi
juga di negara lain, seperti Quraisyihab di Indonesia dengan karyanya
terhitung baru di dunia tafsir Indonesia “ Wawasan al-Qur’an, tafsir

5
Lilik Ummi Kaltsum, Mendialogkan Realitas Dengan Teks, (Surabaya: Putra Media
Nusantara, 2010), h. 15
6
35
7
M.Qurais Syihab, Wawasan al-Qur’an : Tafsir Maudlu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (
Bandung, Mizan, 1996 ), h. 112
Maudhu’i atas berbagai persoalan umat”, yang memuat sekitar 33 tema,
mulai dari persoalan keyakinan hingga persoalan waktu.8
Jika ditelusuri lagi, ternyata metode tafsir tematik mirip dengan
metode yang digunakan oleh beberapa ulama terdahulu, seperti: 1) ibnu
al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya al-Bayan fi Aqsam al-Qur’an, 2)
Abu ‘Ubaidah ibn al-Mufti dalam kitabnya Majaz al-Qur’an, 3) Abu
Bakr Ahmad ibn Ali al-Jasos dalam kitabnya Ahkam al-Qur’an.
Sebenarnya dapat dikatakan bahwa tafsir tematik sudah ada dizaman
Rosulullah SAW, walaupun hanya dalam bentuk yang sederhana. Upaya
mempertemukan beberapa ayat yang semakna atau yang berkaitan
dengan masalah tertentu sudah ada dengan munculnya penafsiran ayat al-
Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain.
3. LANGKAH-LANGKAH TASFSIR TEMATIK
Tafsir tematik termasuk tafsir yang masih baru didalam dunia islam,
tetapi tafsir ini sudah banyak dikenal oleh banyak para mufassir di dunia.
Mereka telah menuliskan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh
mufassir dalam menggunakan pendekatan tafsir tematik dan salah satu
muffassir yang menuliskan hal itu adalah Prof. Dr. Abdul Hayyi al-
Farmawi, dalam kitabnya al-Bidayah Fi al-Tafsir al-Maudhu’i
perinciannya sebagai berikut :
1. Menetapkan masalah yang akan dibahas
2. Melacak dan menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang
berkaitan dengan masalah yang dibahas tersebut
3. Menyusun tuntutan ayat-ayat sesuai dengan masa turunnya
disertai pengetahuan tentang latar belakang turunnya ayat
atau Asbab al-Nuzul (bila ada).
4. Memahami munasabah antara ayat-ayat tersebut dalam
suratnya masing-masing.
5. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna
sistematis dan utuh.

8
35 tafsir tematik
6. Melengkapi penjelasan ayat dengan hadis riwayat sahabat
dan lain-lain yang relevan bila dipandang perlu sehingga
pembahasan semakin sempurna dan semakin jelas.
7. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan
jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai
pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang
‘am (umum) dan yang khas (khusus), mutlaq dan muqayyad
(dibatasi), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga
kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan
atau pemaksaan.9

4. URGENSI TAFSIR TEMATIK

Bagi orang yang mengamati tafsir dengan seksama akan mengetahui


bahwa tafsir itu merupakan satu usaha yang amat berat lagi terpuji, karena
dapat memudahkan orang dalam memahami dan menghayati ajaran-ajaran
al-Qur’an, dan dapat melayani siapa saja yang menyelesaikan masalah-
masalah yang dihadapinya, karena pemaparan teks-teks al-Qur’an
diwujudkan dalam bermacam-macam tema atau masalah. Melalui metode
yang relevan dengan metode modern ini bermunculan, niscaya manusia
modern akan hidup tenang dan bebas dari kegoncangan pemikiran yang
diakibatkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi serta akibat dari
ketidakpedulian mereka terhadap agama.

Untuk mengenal lebih jauh betapa pentingnya keberadaan corak dan


metode tafsir maudhu’i ini, di samping penjelasan yang telah dikemukakan,
berikut akan dikemukakan beberapa faedah dan keistimewaan metode
maudhu’i dimaksud sebagai berikut :

1) Menghimpun berbagai ayat-ayat yang berkaitan dengan satu topik


masalah, menjelaskan sebagian ayat dengan ayat lainnya sehingga satu ayat
menjadi penafsir bagi ayat yang lain. Hal ini menjadi corak tafsir maudhu’i

9
Al-Farmawi study tafsir tematik (hal-7)
tersebut sebagai tafsir bi al-Ma’tsur, suatu metode yang jauh dari kesalahan
dan dekat dengan kebenaran.

2) Dengan menghimpun beberapa atau sejumlah ayat al-Qur’an seorang


penafsir akan mengetahui adanya keteraturan dan keserasian serta korelasi
antara ayat-ayat tersebut. Karenanya penafsir akan menjelaskan makna dan
petunjuk al-Qur’an tersebut seraya mengemukakan kelugasan dan keindahan
bahasanya.

3) Dengan menghimpun seluruh atau sebagian ayat, seorang penafsir dapat


memberikan buah pemikiran yang sempurna dan utuh mengenai satu topik
masalah yang sedang dibahas, di mana ia telah menyelidiki semua masalah
yang terdapat di dalam ayat-ayat dalam satu waktu, kemudian ia menarik
salah satu pokok masalah yang betul-betul telah ia kuasai sepenuhnya.

4) Dengan menghimpun ayat-ayat dan meletakkannya di bawah satu tema


bahasan, seorang penafsir dapat menghapus anggapan adanya kontradiksi
antara ayat-ayat al-Qur’an, dan mampu menolak berbagai tuduhan negatif
yang disebarluaskan oleh pihak yang berniat jelek. Begitu pula penafsir akan
mampu membantah tuduhan sebagian orang bahwa antara agama dan ilmu
terdapat pertentangan, terutama ketika seorang penafsir mengemukakan
sebagian teori ilmiah yang juga dikemukakan oleh al-Qur’an al-Karim.

5) Corak kajian tafsir maudhu’i ini sesuai dengan semangat zaman modern
yang menuntut agar kita berupaya melahirkan suatu hukum yang bersifat
universal untuk masyarakat Islam, suatu hukum yang bersumber dari al-
Qur’an dalam bentuk materi dan hukum-hukum praktis yang mudah
dipahami dan diterapkan. Dengan upaya ini diharapkan semoga orang-orang
yang selama ini lebih cenderung kepada hukum positif, walaupun
sumbernya beraneka ragam dan jauh dari karakter masyarakat dan jiwa
agama lain, mau menerima dan mengaplikasikan hukum-hukum al-Qur’an
tersebut.

6) Metode tafsir maudhu’i ini memungkinkan seseorang untuk mengetahui


inti masalah dan segala aspeknya, sehingga ia mampu mengemukakan
argumen yang kuat, jelas, dan memuaskan. Begitu pula hal ini
memungkinkan bagi penafsir untuk mengungkapkan segala rahasia al-
Qur’an sehingga hati dan akal manusia tergerak untuk mensucikan Allah
Swt dan mengakui segala rahmat-Nya yang terdapat di dalam ajaran yang Ia
peruntukkan kepada hamba-hamba-Nya.

7) Metode ini memungkinkan seseorang segera sampai kepada inti persoalan


yang dimaksud tanpa susah payah harus mengemukakan pembahasan dan
uraian kebahasaan atau fikih dan lain sebagainya, seperti yang terdapat di
dalam kitab-kitab Tafsir Tahliliy, yang justru akan mempersulit seseorang
untuk sampai kepada tujuan yang ingin dicapai.

8) Terakhir, sesungguhnya zaman modern sekarang ini, demikian ungkap


Ahmad al-Sayyid al-Kumy, sangat membutuhkan kehadiran corak dan
metode tafsir maudhu’i ini. Dengan cara kerja yang sedemikian rupa,
metode ini memungkinkan seseorang memahami masalah yang dibahas dan
segera sampai kepada hakikat masalah dengan jalan yang singkat dan cara
yang praktis dan mudah.10

Berangkat dari uraian di atas, maka kedudukan metode ini menjadi semakin
kuat di dalam khazanah intelektual Islam. Oleh karenanya, metode ini perlu
dipunyai oleh para ulama, khususnya oleh para mufassir atau calon mufassir
agar mereka dapat memberikan kontribusi menuntut kehidupan di muka
bumi ini ke jalan yang benar demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TAFSIR TEMATIK

A. Kelebihan
Di antara kelebihan metode ini ialah sebagai berikut :
1) Menjawab tantangan zaman
Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai
dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Semakin modern kehidupan,

10
9 Abd al-Hayy al-Farmawi, Al-Bidayah fi Tafsir al-Maudhu’i. ter. Suryan A. Jamrah (Cet. 2;
Jakarta: PT Raja Grafindo, 1994), hlm. 52-54.
permasalahan yang timbul semakin kompleks dan rumit, serta mempunyai
dampak yang luas.
Untuk menghadapi permasalahan yang demikian, dilihat dari sudut tafsir al-
Qur’an, tidak dapat ditangani dengan metode-metode penafsiran selain
tematik. Hal itu dikarenakan kajian metode tematik ditujukan untuk
menyelesaikan permasalahan. Itulah sebabnya metode ini mengkaji semua
ayat al-Qur’an yang berbicara tentang kasus yang sedang dibahas secara
tuntas dari berbagai aspeknya.
2) Praktis dan sistematis
Tafsir dengan metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam
memecahkan permasalahan yang timbul. Kondisi semacam ini sangat
cocok dengan kehidupan umat yang semakin modern dengan mobilitas
yang tinggi sehingga mereka seakan-akan tak punya waktu untuk membaca
kitab-kitab tafsir yang besar, padahal untuk mendapatkan petunjuk al-
Qur’an mereka harus membacanya. Dengan adanya tafsir tematik, mereka
akan mendapatkan petunjuk al-Qur’an secara praktis dan sistematis serta
dapat lebih menghemat waktu, efektif, dan efisien.
3) Dinamis
Metode tematik membuat tafsir al-Qur’an selalu dinamis sesuai dengan
tuntutan zaman sehingga menimbulkan image di dalam benak pembaca dan
pendengarnya bahwa al-Qur’an senantiasa mengayomi dan membimbing
kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan strata sosial. Dengan
demikian, terasa sekali bahwa al-Qur’an selalu aktual (updated), tak pernah
ketinggalan zaman (outdated). Dengan tumbuhnya kondisi serupa itu, maka
umat akan tertarik mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur’an karena al-Qur’an
mereka rasakan betul-betul dapat membimbing mereka ke jalan yang benar.
4) Membuat pemahaman menjadi utuh
Dengan ditetapkan judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-
ayat al-Qur’an dapat diserap secara utuh. Pemahaman serupa itu sulit
menemukannya di dalam corak penafsiran yang lain. Maka dari itu, metode
tematik ini dapat diandalkan untuk pemecahan suatu permasalahan secara
lebih baik dan tuntas.
B. Kekurangan

Di samping mempunyai kelebihan, metode ini juga tak luput dari


kekurangan yang antara lain sebagai berikut:

1) Memenggal ayat al-Qur’an

Memenggal ayat al-Qur’an yang dimaksudkan disini ialah mengambil satu


kasus yang terdapat di dalam satu ayat atau lebih yang mengandung banyak
permasalahan yang berbeda. Misalnya, petunjuk tentang shalat dan zakat.
Biasanya kedua ibadah itu diungkapkan bersamaan dalam satu ayat.
Apabila ingin membahas kajian tentang zakat, misalnya maka mau tak mau
ayat tentang shalat harus ditinggalkan ketika menukilkannya dari mushaf
agar tidak mengganggu pada waktu melakukan analisis.

Cara serupa ini kadang-kadang dipandang kurang sopan terhadap ayat-ayat


suci sebagaimana dianggap terutama oleh kaum tekstualis. Namun, selama
tidak merusak pemahaman, sebenarnya cara serupa itu tidak perlu dianggap
sebagai suatu yang negatif. Apalagi para ulama sejak dulu sering
melakukan pemenggalan ayatayat al-Qur’an sesuai dengan keperluan kajian
yang sedang mereka bahas seperti terdapat dalam kitab-kitab fikih, tauhid,
tasawuf, tafsir, dan sebagainya.

2) Membatasi pemahaman ayat

Dengan ditetapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat


menjadi terbatas pada permasalahan yang dibahas tersebut. Akibatnya,
mufassir terikat oleh judul itu. Padahal tidak mustahil satu ayat itu dapat
ditinjau dari berbagai aspek, karena seperti dinyatakan Darraz ayat al-
Qur’an itu bagaikan permata yang setiap sudutnya memantulkan cahaya.
Jadi, dengan ditetapkan judul pemabahasan, berarti akan dikaji hanya satu
sudut dari permata tersebut. Dengan demikian, dapat menimbulkan kesan
kurang luas pemahamannya. Kondisi yang digambarkan itu memang
merupakan konsekuensi logis dari metode tematik. Namun itu tak perlu
terlalu dirisaukan karena tidak akan mengurangi pesan-pesan al-Qur’an,
kecuali bila dinyatakan bahwa penafsiran ayat itu hanya itu saja, tidak ada
yang lain, ternyata tafsir tematik tidak demikian.11

Penutup

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode tafsir jenis ini
adalah: pertama, merupakan cara terpendek dan termudah menggali hidayah al-
Qur’an dibandingkan dengan metode tafsir lainnya; kedua, menafsirkan ayat
dengan ayat sebagai cara terbaik dalam tafsir ternyata diutamakan oleh metode
maudhu’i; ketiga, dapat menjawab persoalan-persoalan hidup manusia secara
praktis dan konsepsional berdasarkan petunjuk al-Qur’an; keempat, dengan
menghimpun beberapa ayat dalam masalah tertentu dapat dihayati ketinggian
fashahah-nya dan balaghah; kelima, dengan studi maudhu’i ayat-ayat yang
kelihatan bertentangan dapat dipertemukan dan didamaikan dalam satu kesatuan
yang harmonis.

11
Nashiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an…, hlm. 168-169