Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI SYARIAH

(PERBEDAAN ANTARA AKUNTANSI KONVENSIONAL DAN AKUNTANSI


SYARIAH)

OLEH
KELOMPOK 2

1.ADELA YOHANA (16043035)


2.AWIN SAPUTRA DAULAY (16043036)
3.M.NUR IKHWANSYAH (16043037)
4.RAUDHATUL ZAHRA (16043038)

DOSEN PEMBIMBING: VANICA SERLY,SE,M.Si

AKUNTANSI (S1)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
PERBEDAAN ANTARA AKUNTANSI KONVENSIONAL DAN
AKUNTANSI SYARIAH

Menurut Haniffa dan Hudaib (2001): Muhammad (2002:16),Perbedaan Postulat


antara Akuntansi konvensional dengan Akuntansi Syariah,yang meliputi:
1) Entitas,Akuntansi Konvensional mengakui adanya pemisahan antara
entitas bisnis dan pemilik,dalam Akuntansi Syariah entitas tidak memiliki
kewajiban yang terpisah dari pemilik.
2) Going concern,bisnis terus beroperasi sampai dengan tujuan tercapai
(Akuntansi konvensional),kelangsungan usaha tergantung pada kontrak
dan kesepakatan yang didasari oleh saling ridha(Akuntansi Syariah).
3) Periode Akuntansi,meskipun ada kesamaan dalam menentukan periode
akuntansi selama 12 bulan (satu tahun) namun Akuntansi konvensional
periode dimaksudkan mengukur kesuksesan kegiatan
perusahaan,sedangkan dalam akuntansi syariah periodisasi bertujuan untuk
penghitungan kewajiban zakat.
4) Unit pengukuran,akuntansi konvensional menggunakan unit moneter
sebagai unit pengukuran,akuntansi syariah menggunakan harga pasar
untuk barang persediaan,dan emas sebagai alat ukur dalam penghitungan
zakat.
5) Pengungkapan penuh (menyeluruh),pengungkapan ini ditujukan sebagai
alat dalam pengambilan keputusan,dalam akuntansi syariah pengungkapan
penuh ditujukan untuk memenuhi kewajiban kepada Allah swt,kewajiban
sosial,dan kewajiban individu.
6) Obyektivitas,bebas dari biaya subjektif,dalam akuntansi syariah
objektifitas dimaknai dengan konsep ketakwaan,yaitu pengeluaran materi
maupun non materi untuk memenuhi kewajiban.
7) Materialitas,ukuran materialitas dihubungkan dengan kepentingan relatif
mengenai informasi terhadap pengambilan keputusan,sedangkan akuntansi
syariah mengakui materialitas berkaitan dengan pengukuran yang adil dan
pemenuhan kewajiban kepada Allah,sosial,dan individu.
8) Konsistensi,yang dimaksudkan adalah pencatatan dan pelaporan secara
konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima oleh
umum,dalam akuntansi syariah konsistensi dimaknai dengan pencatatan
dan pelaporan secara konsistensi sesuai dengan prinsip syariah.
9) Konservatisme,akuntansi konvensional memiliki teknik akuntansi yang
paling memberikan pengaruh kecil terhadap pemilik,sedangkan akuntansi
syariah memilih teknik akuntansi yang paling menguntungkan (berdampak
positif) bagi masyarakat.
Secara jelas perbandingan dapat diamati sebagai berikut:

No Postulat Akuntansi konvensional Akuntansi Syariah

1 Entitas Pemisahan antara entitas Entitas didasarkan pembagian


bisnis dan pemilik laba
Entitas tidak memiliki kewajiban
terpisah dari pemilik

2. Going concern Bisnis terus beroperasi Kelangsungan usaha tergantung


(kesinambungan) sampai tercapai tujuan dan pada kontrak persetujuan antara
semua asset terjual. pihak yang terlibat dalam
kegiatan bagi hasil.

3. Periode Akuntansi tidak dapat Tahun hijriah untuk perhitungan


akuntansi menunggu sampai akhir zakat,kecuali untuk sektor
kehidupan perusahaan pertanian berdasarkan musim
untuk mengukur sukses panen.
tidaknya kegiatan
perusahaan.

4. Unit Pengukuran Pengukuran nilai moneter. Kuantitas atau harga pasar untuk
ternak,barang pertanian,dan
emas untuk memenuhi
kewajiban zakat.

5. Pengungkap Untuk tujuan pengambilan Untuk menunjukkan pemenuhan


an penuh keputusan kewajiban kepada
(menyeluruh) Allah,kewajiban sosial,dan
kewajiban individu.

6 Obyektifitas Kepercayaan terhadap Berhubungan erat dengan


pengukuran yaitu bebas konsep ketaqwaan,yaitu
dari bias subjektif. pengeluaran materi maupun non-
materi untuk memenuhi
kewajiban.

7. Materialitas Dihubungkan dengan Berkaitan dengan pengukuran


kepentingan relatif yang adil dan pemenuhan
mengenai informasi kewajiban kepada
terhadap pengambilan Allah,soaial,dan individu.
keputusan.

8. Konsistensi Dicatat dan dilaporkan Dicatat dan dilaporkan secara


secara konsisten sesuai konsisten sesuai dengan prinsip
GAAP. syariah.

9. Konservatisme Memilih teknik akuntansi Memilih teknik akuntansi yang


yang paling memberikan paling menguntungkan (dampak
pengaruh kecil terhadap positif) bagi masyarakat.
pemilik.
Hanifa dan hudaib (2001): Harahap (2001:226): Muhammad (2002:116)

No Karakteristik Akuntansi konvensional Akuntansi Syariah

1 Sistem Ekonomi yang rasional Ketahuiddan (unity of God)


Akuntansi Syariah

2. Prinsip Sekuler Kepentingan ummat


Akuntansi Individualis Keuntungan yang wajar
Memaksimalkan Persamaan
keuntungan Rahmatan lil al-alamin
Survival of the fittest
Penekanan pada proses.

3. Kriteria Berdasarkan pada hukum Berdasarkan pada etika yang


perdagangan masyarakat bersumber pada hukum Al-
kapitalis modern. Qur’an dan sunnah.

Penyajian informasi yang Full disclosure untuk memenuhi


sangat terbatas. kebutuhan informasi keuangan
yang sesuai dengan syariah dan
memenuhi kebutuhan Islamic
Financial Report User.

Informasi yang ditujukan Pertanggungjawaban kepada


pada pertanggungjawaban umat/masyarakat luas
kepada pemilik modal (khususnya dalam
memanfaatkan sumberdaya)

Ringkasan Perbedaan Prinsip yang melandasi Akuntansi


Syari’ah dan Konvensional

Akuntansi Konvensional Akuntansi Syari’ah


Postulat Pemisahan antara bisnis Entitas didasarkan pada bagi hasil.
Entitas dan pemilik
Postulat Kelangsungan bisnis Kelangsungan usaha tergantung
Going-concern secara terus menerus, pada persetujuan kontrak antara
yaitu didasarkan pada kelompok yang terlibat dalam
realisasi keberadaan aktivitas bagi hasil.
aset.
Postulat Tidak dapat menunggu Setiap tahun dikenai zakat, kecuali
Periode sampai akhir kehidupan untuk produk pertanian yang
Akuntansi perusahaan dengan dihitung setiap panen
mengukur keberhasilan
aktivitas perusahaan
Postulat Unit Nilai uang Kuantitas nilai pasar digunakan
Pengukuran untuk menentukan zakat binatang,
hasil pertanian dan emas.
Prinsip Bertujuan untuk Menunjukkan pemenuhan hak dan
Penyingkap- pengambilan keputusan kewajiban kepada Allah, masyarakat
an Penuh dan individu.
Prinsip Reliabilitas pengukurang Berhubungan erat dengan konsep
Obyektivitas digunakan dengan dasar ketaqwaan, yaitu pengeluaran
bias personal materi maupun non materi untuk
memenuhi kewajiban.
Prinsip Materi Dihubungan dengan Berhubungan dengan peng-ukuran
kepentingan relatif dan pemenuhan tugas/ kewajiban
mengenai kepada Allah, masyarakat Dan
informas individu
i pembuatan keputusan
Prinsip Dicatat dan Dicatat dan dilaporkan secara
Konsistensi dilaporkan konsisten sesuai dengan
menurut pola GAAP prinsip yang dijabarkan
oleh syari’ah
Prinsip Pemilihan teknik Pemilihan teknik akuntansi dengan
Konservatisme akuntansi yang sedikit dengan memperhatikan dampak
pengaruhnya terhadap baiknya terhadap masyarakat.
pemilik
Baydoun dan Willet (1994:82): Harahap (2001:216)

Menurut Syahatah(2001:94-95) segi-segi perbedaan antara akuntansi konvensional


dengan akuntansi syariah dalam menyajikan laporan keuangan dapat diidentifikasi sebagai
berikut:
1. Akuntansi Konvensional menganut sistem penilaian aktiva dan modal dengan
prinsip historical cost,sedangkan akuntansi syariah lebih menghendaki konsep
penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku (current value),hal ini didasari oleh
keinginan melindungi modal pokok yang hakiki dari kemampuan produksi di
masa akan datang dalam ruang lingkup perusahaan dan kontinuitas.
2. Akuntansi konvensional membagi modal (aktiva)dalam dua golongan
yakni,aktiva lancar ( modal yang beredar) dan aktiva tetap (modal
tetap),akuntansi syariah membedakan modal yang terdiri dari harta berupa uang
tunai (cash),dan harta berupa barang,harta dalam bentuk barang ini kemudian
dibagi lagi menjadi barang milik dan barang dagangan.
3. Konsep akuntansi syariah menilai mata uang seperti emas,perak,dan barang-
barang lain yang sama kedudukannya,bukanlah merupakan tujuan,melainkan
hanya sebagai alat tukar,perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai.
4. Konsep akuntansi konvensional mempraktikkan teori pencadangan dan ketelitian
dari menanggung semua kerugian (conservatisme),dan mengabaikan laba-laba
yang belum direalisasi.perbedaanya akuntansi syariah sangat memperhatikan hal-
hal cara menentukan harga dengan berdasarkan pada nilai tukar yang berlaku
serta membentuk cadangan untuk kemungkinan-kemungkinan bahaya dan risiko.
5. Akuntansi konvensional menerapkan laba secara menyeluruh,yang terdiri dari
laba usaha,laba dari modal pokok,dan lain sebagainya.konsep akuntansi syariah
membedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari
modal,juga wajib memberikan penjelasan pendapatan-pendapatan yang diperoleh
yang tidak sesuai dengan syariah laba dari aktivitas ini tidak boleh dibagikan
kepada mudharib dan musyarik (stakeholders)atau dicampurkan pada modal
pokok.
6. Konsep akuntansi konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada
ketika adanya jual-beli (aktivitas usaha berjalan),sedangkan konsep akuntansi
syariah mengakui laba apabila nilai barang mengalami perkembangan atau
pertambahan,baik hal itu terjadi karena adanya proses jual-beli maupun tidak.
Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba dan laba itu
tidak boleh dibagi kecuali setelah nyata laba itu diperoleh.
Konsep Economic Entity
Menurut AAOIFI (1998: 49), konsep ini bisa diterima karena dalam fiqh Islam mengakui
bahwa organisasi adalah unit pertanggungjawaban yang terpisah dari entitas lain. Contohnya
adalah lembaga- lembaga wakaf, masjid, darul mal (treasury), dan juga lembaga- lembaga
pemerintahan. Pemikiran fiqh modern telah memperluas konsep tersebut kepada perusahaan dan
entitas lainnya yang sejenis seperti bank Islam. Akan tetapi, Khan (1994:9) melihat adanya
masalah etika berkaitan dengan pengakuan perusahaan sebagai suatu entitas tersendiri di mana
para pemilik tidak bertanggungjawab terhadap hutang-hutang perusahaan jika perusahaan
bangkrut tetapi berhak menerima sisa laba (residual profits). Hal inilah yang oleh sebagian
cendekiawan Muslim dinilai tidak simetris, di mana kemungkinan laba yang diperoleh tidak
seimbang dengan risiko yang diterima.
Terlepas dari segala kontroversi, penulis melihat bahwa konsep ini dapat diterima dan
diterapkan pada lembaga-lembaga keuangan syariah karena manfaatnya yang jelas sementara
mudaratnya masih harus ditelusuri lebih mendalam. Hal ini sejalan dengan pendapat sebagian
besar cendekiawan Muslim yang fokus di bidang ini seperti Adnan, Graffikin, Gambling dan
Karim serta lembaga AAOIFI yang melihat konsep ini dapat diterima dalam hukum Islam.

Konsep Going Concern

Konsep ini mengasumsikan bahwa suatu benda akan terus berlanjut sampai adanya
bukti yang memperlihatkan kebalikannya. Dalam AAOIFI (1998) dijelaskan bahwa walaupun
akad mudarabah dan musyarakah dibuat untuk jangka waktu tertentu, tetapi akad ini
diasumsikan terus berlanjut sampai satu atau semua pihak yang terlibat memutuskan untuk
mengakhirinya. Ahmed (1994) berpendapat bahwa konsep ini tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip Islam. Menurut Ahmed, dalam fiqh Islam, ada satu konsep yang mirip dengan
konsep ini yang disebut dengan istishab, yang bisa diartikan dengan retaining (berlanjut)
atau accompaniment (tambahan). Walaupun demikian, ide-ide penting yang ada dibalik
konsep ini serta konsekuensinya masih dipertanyakan dalam sudut pandang Islam.
Adnan dan Gaffikin (1997) menolak konsep ini karena menerima konsep ini berarti
juga mengakui ada yang lain selain Allah yang akan terus berlanjut atau abadi (indefinite)—
dalam hal ini sebuah entitas usaha—yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Jadi, walaupun
Islam membolehkan perdagangan dan investasi, tetapi menolak konsep keberlangsungan
jangka panjang (long- term continuity).
Dalam pandangan peneliti, konsep ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam karena
kontinuitas yang ada dalam konsep ini bukanlah abadi (indefinite) akan tetapi hanya
berlangsung selama sesuatu itu ada. Islam juga menekankan keberlangsungan (continuity)
aktivitas-aktivitas bisnis karena hal itu merupakan sumber-sumber zakat yang potensial yang
harus dibayar tiap tahun. Peneliti juga sependapat dengan Ahmed (1994) bahwa implikasi dari
yang ada dibalik konsep ini masih melahirkan banyak argumen.

Penggunaan Unit Moneter (Monetary Unit)

Konsep ini mengasumsikan bahwa tingkat daya beli dengan menggunakan unit moneter
dianggap stabil. Penggunaan unit moneter sebagai faktor pengukur dapat diterima dalam
pandangan Islam karena sebelumnya sudah dikenal adanya penggunaan emas dan perak
sebagai unit pengukur (Ahmed, 1994). Penggunaan uang sebagai unit pengukur dapat
diterima Islam di dalam suatu sistem moneter yang stabil. Akan tetapi dalam kondisi
inflasi, penggunaan uang sebagai alat pengukur mengundang banyak pertanyaan dalam
sudut pandang Islam.
Hal ini membuat uang menjadi tidak fair untuk digunakan sebagai standar pengukur
pembayaran