Anda di halaman 1dari 97

Konsep Sehat-Sakit

Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga
meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan
spiritual. Sehat dan sakit merupakan dua konsep yang bertentangan. Pengertian sehat dan sakit
itu subjektif, karena sakit menerut seseorang belum tentu sakit menurut orang lain. Dengan
kata lain konsep sehat dan sakit tergantung dari pengalaman sesorang, atau karena faktor
lainnya sepeti faktor sosial budaya. Definisi sakit menurut Depkes RI adalah seseorang
dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain
yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah
sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan
kegiatannya, maka ia dianggap tidak sakit. Menurut WHO (1947) sehat dapat diartikan suatu
keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari
penyakit atau kelemahan. Sedangkan sakit dapat diartikan suatu kondisi dimana kesehatan
tubuh lemah. Lengkapnya sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam
keadaan, bisa suatu kelainan, kejadi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan
jaringan tubuh manusia, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan dari
anggota tubuhnya. Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat
meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994) : 1. Memperhatikan
individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. 2. Memandang sehat dengan
mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal. 3. Penghargaan terhadap pentingnya peran
individu dalam hidup. Sehat menurut Depkes RI Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak
terlalu mutlak dan universal karena ada faktor -faktor lain di luar kenyataan klinis yang
mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Setiap pengertian saling mempengaruhi dan
pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli
filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan
telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-
masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan
kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara
biologis, psikologis maupun sosio budaya. Definisi kesehatan menurut Undang-Undang nomor
36 tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial untuk
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Konsep sehat
menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi
tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977),
sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan
ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan. Kesehatan bersifat menyeluruh
dan mengandung empat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam
kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:
1. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual,
yaitu :
• Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
• Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan
emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
• Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian,
kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang
Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan
ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status
sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya
sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau
mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh
sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni
mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi
siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan
lainnya bagi usia lanjut.
Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana
individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis,
intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi) dalam
mempertahankan kesehatannya. Menurut While (1997) kesehatan adalah keadaan dimana
seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunya keluhan ataupun tidak terdapat
tanda-tanda suatu penyakit atau kelainan. Dalam setiap hal di dunia, termasuk kesehatan, pasti
memiliki maslah-masalah tertentu. Tidak selamanya masalah kesehatan merupakan masalah
kompleks yang merupakan resultant dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah
maupun masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika,
dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psychosocio somatic
health well being, merupakan resultant dari empat faktor yaitu Environment atau lingkungan,
Behaviour atau perilaku, antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological
balance. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan
sebagainya, Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif,
kuratif, dan rehabilitatif. Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku
merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan).
Pengertian sakit adalah berasal tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita
sesuatu (demam, sakit perut, dan lain-lain). Sakit juga merupakan gangguan dalam fungsi
normal individu sebagai totalitas, termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis dan
penyesuaian sosialnya (Parson, 1972).

Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Hal ini berarti, bahwa dalam rangka
mewujudkan derajat kesehatan ini, baik individu, kelompok, atau masyarakat harus
diupayakan. Upaya mewujudkan kesehatan ini dilakukan oleh individu, kelompok, masyarakat
baik secara lembaga oleh pemerintah ataupun swadaya masyarakat. Dilihat dari upaya
mewujudkan kesehatan tersebut dapat dilihat dari 2 (dua) aspek, yaitu
1. Pemeliharaan kesehatan
a. Kuratif (pengobatan penyakit)
b. Rehabilitatif (pemulihan kesehatan setelah sembuh dari sakit)
2. Peningkatan kesehatan.
a. Preventif (pencegahan penyakit)
b. Promotif (peningkatan kesehatan)
Kesehatan perlu ditingkatkan karena kesehatan baik individu, kelompok dan masyarakat sangat
relatif dan mempunyai rentang yang luas. Oleh sebab itu, upaya kesehatan promotif harus
selalu diupayakan sampai ketingkat kesehatan yang optimal.
Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan diwujudkan dalam suatu wadah pelayanan
kesehatan yang disebut sarana fasilitas kesehatan (health services). Sarana fasilitas kesehatan
adalah tempat atau sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Dilihat
dari sifat upaya penyelenggaraan, maka sarana fasilitas kesehatan pada umumnya dibedakan
menjadi :
1. Fasilitas kesehatan primer (primer care)
Fasilitas kesehatan primer adalah yang paling dekat dengan masyarakat, artinya fasilitas
kesehatan yang paling pertama menyentuh masalah kesehatan di masyarakat. Di fasilitas
kesehatan ini ditujukan bagi kasus-kasus atau penyakit ringan. Contoh fasilitas kesehatan
primer : Puskesmas, Poliklinik, dokter praktik swasta dan sebagainya.
2. Fasilitas kesehatan sekunder (seconder care)
Fasilitas kesehatan sekunder adalah sarana fasilitas kesehatan rujukan bagi kasus-kasus atau
penyakit-penyakit dari fasilitas kesehatan primer, fasilitas kesehatan ini menagani kasus-
kasus yang tidak atau belum bisa ditangani oleh sarana fasilitas kesehatan primer yang
disebabkan karena baik keterbatasan sarana/ alat dan atau kurangnya kemampuan ahlian
yang dimiliki tenaga kesehatan yang ada. Contoh fasilitas kesehatan sekunder : Puskesmas
rawat inap, Rumah Sakit kabupaten, Rumah Sakit tipe D dan C, Rumah Sakit bersalin
3. Fasilitas kesehatan primer (tertier care)
Fasilitas kesehatan primer adalah fasilitas kesehatan rujukan bagi kasus-kasus yang tidak
dapat ditangani oleh sarana-sarana fasilitas kesehatan sekunder. Contoh fasilitas kesehatan
primer : Rumah Sakit provinsi, Rumah Sakit tipe B dan A.

Peran Promosi Kesehatan Dalam Kesehatan


Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor baik internal (dari dalam diri manusia)
dan juga eksternal (dari luar diri manusia).
1. Faktor internal terdiri :
a. Fisik dan
b. Psikis
2. Faktor eksternal terdiri :
a. Sosial
b. Politik
c. Ekonomi
d. Pendidikan
Menurut Blum (1974) secara garis besar faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan baik
individu, kelompok dan masyarakat dikelompokkan menjadi 4, yaitu :
1. Lingkungan (environment)
2. Perilaku (behavior)
3. Pelayanan kesehatan (health services)
4. Keturunan (herideter)
Semua faktor tersebut dalam memengaruhi kesehatan tidak berdiri sendiri tetapi masing-
masing saling memengaruhi satu dengan lainnya, maka dalam rangka memelihara dan
meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat hendaknya intervensi diarahkan
kepada semua faktor tersebut.
Intervensi terhadap faktor lingkungan fisik dalam bentuk perbaikan sanitasi lingkungan,
sedangkan intervensi terhadap lingkungan sosial, budaya, politik dan ekonomi dalam program
peningkatan pendidikan, perbaikan sosial ekonomi, penstabilan politik dan keamanan dan
sebagainya. Intervensi terhadap faktor pelayanan kesehatan adalah dalam bentuk penyediaan/
perbaikan sarana fasilitas kesehatan, perbaikan sistem manajemen pelayanan kesehatan dan
sebagainya. Sedangkan intervensi terhadap faktor keturunan antara lain konseling perkawinan
dan penyuluhan kesehatan bagi kelompok yang mempunyai resiko penyakit-penyakit hirediter.
Pendidikan dan promosi kesehatan merupakan bentuk intervensi yang ditujukan khusus
terhadap faktor perilaku, walaupun begitu faktor lingkungan, pelayanan dan keturunan juga
bisa memerlukan intervensi promosi kesehatan. Blum menyebutkan terdapat empat pilar yang
mempengaruhi derajat kesehatan seseorang, diantaranya adalah keturunan, lingkungan,
pelayanan kesehatan, dan perilaku. Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan
dan perilaku. Menurut While (1997) kesehatan adalah keadaan dimana seseorang pada waktu
diperiksa oleh ahlinya tidak mempunya keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu
penyakit atau kelainan.Dalam setiap hal di dunia, termasuk kesehatan, pasti memiliki masalah
masalah tertentu. Tidak selamanya masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang
merupakan resultant dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah
buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat
kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psychosocio somatic health well being, merupakan
resultant dari empat faktor yaitu environment atau lingkungan, behaviour atau perilaku, antara
yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance, heredity atau keturunan
yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya, health care service
berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Dari
empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar
pengaruhnya (dominan)

Promosi Kesehatan
Definisi Promosi Kesehatan
Definisi istilah promosi kesehatan dalam ilmu kesehatan masyarakat (health promotion)
mempunyai dua pengertian. Pengertian promosi kesehatan yang pertama adalah sebagai bagian
dari tingkat pencegahan penyakit. Level and Clark, mengatakan adanya 4 tingkat pencegahan
penyakit dalam perspektif kesehatan masyarakat, yakni :
a. Health promotion (peningkatan/promosi kesehatan).
b. Specific protection (perlindungan khusus melalui imunisasi).
c. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera).
d. Disability limitation (membatasi atau mengurangi terjadinya kecacatan).
e. Rehabilitation (pemulihan).
Promosi kesehatan dalam konteks ini adalah peningkatan kesehatan. Sedangkan yang kedua,
promosi kesehatan diartikan sebagai upaya memasarkan, menyabarluaskan, mengenalkan, atau
menjual kesehatan. Dengan perkataan lain, promosi kesehatan adalah memasarkan atau
menjual atau memperkenalkan pesan-pesan kesehatan atau upaya-upaya kesehatan, sehingga
masyarakat menerima, atau membeli (dalam arti menerima perilaku kesehatan) atau mengenal
pesan-pesan kesehatan tersebut, yang akhirnya masyarakat mau berprilaku hidup sehat. Dari
pengertian promosi kesehatan yang kedua ini, maka sebenarnya sama dengan pendidikan
kesehatan (health education), karena pendidikan kesehatan pada prinsipnya bertujuan agar
masyarakat berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Memang, promosi kesehatan dalam
konteks kesehatan masyarakat pada saat ini dimaksudkan sebagai revitalisasi atau pembaruan
dari pendidikan kesehatan pada waktu yang lalu.
Promosi kesehatan termasuk kedalam upaya peningkatan kesehatan yang menurut WHO
adalah proses mengupayakan individu-individu dan masyarakat untuk meningkatkan
kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan sehingga
dapat meningkatkan derajat kesehatannya Fitrian (2011).Salah satu tonggak promosi kesehatan
di Indonesia adalah Deklarasi Jakarta (1997) dalam Depkes RI (2008) yang merumuskan priori
tas promosi kesehatan abad 21 untuk meningkatkan tanggung jawab sosial dalam kesehatan,
meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan dan perluasan kemitraan untuk
kesehatan, meningkatkan kemampuan masyarakat dan perberdayaan individu serta menjamin
tersedianya infrastruktur promosi kesehatan. Menurut Simnett dan Elwes (1994) promosi
kesehatan sebagai memperbaiki kesehatan: memajukan, mendukung, mendorong dan
menempatkan kesehatan lebih tinggi pada agenda perorangan maupun masyarakat
umum.Menurut Notoatmodjo (2010)promosi kesehatan pada hakikatnya merupakan kegiatan
atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat kelompok atau
individu.Pelaksanaan promosi kesehatan menurut Ginting (2011) dikenal adanya 3 (tiga) jenis
sasaran, yaitu (1) sasaran primer, (2) sasaran sekunder dan (3) sasaran tersier.Salah satu
tonggak promosi kesehatan dalam Departemen Kesehatan RI (2008) adalah Deklarasi Jakarta
(1997) yang lahir dari Konferensi International Promosi Kesehatan ke-4. Deklarasi ini
merumuskan:
1) Promosi kesehatan adalah investasi utama yang memberikan dampak pada determinan
kesehatan, memberikan manfaat kesehatan terbesar pada masyarakat.
2) Promosi kesehatan memberikan hasil positif yang berbeda dibandingkan upaya lain dalam
meningkatkan kesetaraan bagi masyarakat dalam kesehatan.
3) Deklarasi Jakarta juga merumuskan prioritas promosi kesehatan abad 21:meningkatkan
tanggung jawab sosial dalam kesehatan, meningkatkan investasi untuk pembangunan
kesehatan, konsolidasi dan perluasan kemitraan untuk kesehatan, meningkatkan
kemampuan masyarakat dan pemberdayaan individu-individu serta menjamin tersedianya
infrastruktur promosi kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan komponen yang penting
dalam promosi kesehatan.
Upaya promosi kesehatan Fitriani (2011) terdapat strategi yang dilakukan diantaranya: (1)
Advokasi kesehatan, (2) Binasuasana.Strategi promosi kesehatan juga terdapat dalam Surat
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 585/MENKES/SK/V/2007 tentang Pedoman
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas dengan strategi dasar utama yaitu, (1)
pemberdayaan, (2) bina suasana, (3) advokasi, serta dijiwai semangat (4) kemitraan.
Lawrence Green (1984) merumuskan promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi
pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang
dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan. Dari batasan ini jelas, bahwa promosi kesehatan adalah pendidikan kesehatan plus,
atau promosi kesehatan adalah lebih dari pendidikan kesehatan. Berdasarkan Piagam Ottawa
(Ottawa Charter: 1986), sebagai hasil rumusan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di
Ottawa, Canada, menyatakan bahwa :
“Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve
their health. To reach a state of complete physical, mental, and social well-being, an individual
or group must be able to identify and realize aspiration, to satisfy needs, and to change or cope
with the environment”.
Dari kutipan diatas bahwa promosi kesehatan adalah suatu proses untuk memandirikan
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. Dengan kata lain,
promosi kesehatan adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau
dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Batasan promosi
kesehatan ini mencakup dua dimensi yakni kemauan dan kemampuan, atau tidak sekadar
meningkatnya kemauan masyarakat seperti dikonotasikan oleh pendidikan kesehatan. Lebih
lanjut dinyatakan, bahwa dalam mencapai derajat kesehatan yang sempurna baik fisik, mental,
maupun social, masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasinya,
kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya. Lingkungan disini
mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosio budaya, dan lingkungan ekonominya.
Batasan promosi kesehatan yang lain dirumusan oleh Yayasan Kesehatan Victoria (1997)
promosi kesehatan adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh,
dalam konteks masyarakatnya. Bukan hanya perubahan perilaku (within people) tetapi juga
perubahan lingkungannya. Perubahan perilaku tanpa diikuti perubahan lingkungan tidak akan
efektif, perilaku tersebut tidak akan bertahan lama. Oleh sebab itu, promosi kesehatan bukan
sekadar mengubah perilaku saja tetapi juga mengupayakan perubahan lingkungan, sistem, dan
sebagainya.
Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang
memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan. (WHO, 1986).
Promosi kesehatan menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna,
baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal serta
mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu mengubah atau
mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Untuk itu,
promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan
tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986).
Taylor (2003) penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan
mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka,
melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari
pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan
pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif. Bagi
individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan kesehatan
yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia. Termasuk didalamnya adalah sehat
secara fisik, mental dan sosial sehingga individu atau masyarakat dapat merealisasikan cita-
citanya, mencukupi kebutuhan-kebutuhannya, serta mengubah atau mengatasi lingkungannya.
Kesehatan adalah sumberdaya kehidupan bukan hanya objek untuk hidup. Kesehatan adalah
suatu konsep yang positif yang tidak dapat dilepaskan dari sosial dan kekuatan personal. Jadi
promosi kesehatan tidak hanya bertanggungjawab pada sektor kesehatan saja, melainkan juga
gaya hidup untuk lebih sehat. Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat
memberdayakan dirinya untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya.
Menurut WHO (1986) Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan
manusia untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Jadi, tujuan
akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya
kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk
menyehatkan diri mereka. Menurut Green dan Ottoson (1998) promosi kesehatan adalah
kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan
perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan.
Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Kesehatan, Promosi Kesehatan
itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara,
meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan
kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat. Dalam pengertian Promosi Kesehatan
tersebut terkandung beberapa pengertian operasional sebagai berikut: Promosi Kesehatan
merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public Health) secara keseluruhan, yang
fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya agar masyarakat dapat memelihara,
meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan demikian, Promosi Kesehatan lebih
bersifat upaya promotif-preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif.
Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan
perilaku dan lingkungan sehat. Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan
berbagai pihak dan merupakan upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga
masyarakat aktif sebagai pelaku atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata.
Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi
Kesehatan diwarnai oleh suasana local promosi kesehatan merupakan proses intelektual,
psikologikal, dan sosial meningkatkan kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk
hidup sehat. Proses ini didasarkan pada prinsip ilmiah, fasilitasi proses belajar, dan
perubahan perilaku secara suka rela. Promosi kesehatan bertujuan mengubah pengetahuan
dan perilaku agar masyarakat dapat memelihara kesehatannya sendiri. Konsep promosi
kesehatan merupakan pengembangan dari konsep pendidikan kesehatan, yang berlangsung
sejalan dengan perubahan paradigma kesehatan masyarakat (public health). Menurut
Lawrence Green (1984) definisi promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi
pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi , politik, dan organisasi,
yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan. Untuk mencapai keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial, individu atau
kelompok harus mampu mengidentifkasi dan mewujudkan aspirasi untuk memenuhi
kebutuhan dan untuk mengubah atau mengatasi lingkungan (Notoatmodjo, 2005). Sesuai
dengan perkembangan promosi kesehatan tersebut diatas, WHO memberikan pengertian
promosi kesehatan sebagai proses mengupayakan individu-individu dan masyarakat untuk
meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yangmempengaruhi
kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya. Bertolak dari pengertian yang
dirumuskan WHO tersebut di Indonesia pengertian promosi kesehatan dirumuskan sebagai
berikut upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh,
untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat
dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
Disisi lain Nutbeam dalam Keleher, et.al (2007) menerangkan bahwa promosi kesehatan
adalah proses sosial dan politis yang menyeluruh, yang tidak hanya menekankan pada
kekuatan ketrampilan dan kemampuan individu , tetapi juga perubahan sosial, lingkungan dan
kondisi ekonomi yang mempengaruhi kesehatan individu dan masyarakat. Jadi promosi
kesehatan adalah proses untuk memungkinkan individu mengontrol faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan dan mengembangkan kesehatan individu dan masyarakat.
WHO (1998) menyebutkan bahwa promosi kesehatan adalah strategi inti untuk
pengembangan kesehatan, yang merupakan suatu proses yang berkembang dan
berkesinambungan pada status sosial dan kesehatan individu dan masyarakat.
Dari beberapa definisi diatas, promosi kesehatan mempunyai beberapa level pengertian,
sehingga konsep promosi kesehatan adalah semua upaya yang menekankan pada perubahan
sosial, pengembangan lingkungan, pengembangan kemampuan individu dan kesempatan
dalam masyarakat, dan merubah perilaku individu, organisasi dan sosial untuk meningkatkan
status kesehatan individu dan masyarakat. (Keleher,et.al, 2007). Berlandaskan konsep dasar
tersebut, maka area promosi kesehatan pun tidaklah sempit, menurut Keleher,et.al, (2007)
terdapat 10 (sepuluh) area tindakan promosi kesehatan, yaitu :
1. Membangun kebijakan kesehatan public
2. Menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan
3. Memberdayakan masyarakat
4. Mengembangkan kemampuan personal
5. Berorientasi pada layanan kesehatan
6. Promote social responbility of health
7. Meningkatkan investasi kesehatan dan ketidakadilan sosial
8. Meningkatkan konsolidasi dan memperluas kerjasama untuk kesehatan
9. Memberdayakan masayarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat.
10. Infrastuktur yang kuat untuk promosi kesehatan
Pada realitasnya, area-area promosi kesehatan itu harus dilakukan dengan menekankan pada
prioritas supaya pelaksanaannya lebih terarah, efektif dan tepat sehingga tujuan tercapai.
Keleher,et.al, (2007) menyampaikan 5 (lima ) strategi (pendekatan) sebagai berikut :
1. Primary care / pencegahan penyakit
2. Pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku
3. Partisipasi pendidikan kesehatan
4. Community action
5. Socio-ecological health promotion.
Masing-masing dari pendekatan tersebut mempergunakan metode-metode/ teknik yang
berbeda-beda, misalnya kita akan melakukan suatu promosi kesehatan yang berkelanjutan (area
no 4) maka strategi yang dapat digunakan salah satunya adalah dengan pendidikan kesehatan
dan perubahan perilaku. Bilamana mempergunakan strategi ini maka media informasi
kesehatan, kelompok-kelompok diskusi, pengembangan ketrampilan personal akan lebih tepat
sebagai metodenya. Dan tentunya pemilihan pendekatan atau metode selalu didahului dengan
community analysis, karena menurut Dignan & Carr (1992) bahwa dalam setiap upaya promosi
kesehatan melalui langkah-langkah berikut ini : Community analysis, targeted assessment,
program plan development, implementation, evaluation.
Sebagai bentuk kesinambungan promosi kesehatan maka langkah-langkah peromosi kesehatan
tidak bisa dilepaskan dari monitoring dan evaluasi. Suatu monitoring adalah Berikut ini tipe-
tipe evaluasi (Fertman & Allensworth, 2010):
1) Formative evaluation, menekankan pada informasi dan materi-materi selama program
perencanaan dan pengembangan.
2) Process evaluation, berkenaan dengan evaluasi pada informasi sistematis yang didapat
selama implementasinya.
3) Impact evaluation, menekankan pada efek atau isi mengenai tujuan yang akan dicapai.
4) Outcome evaluation, menekankan apakah program ini dapat emmberikan hasil sampai
sejauh mana perubahan perilaku yang didapatkan.
Selanjutnya, perlu disadari bahwa upaya promosi kesehatan merupakan tanggungjawab kita
bersama, bahkan bukan sektor kesehatan semata, melainkan juga lintas sektor, masyarakat dan
dunia usaha. Promosi kesehatan perlu didukung oleh semua pihak yang berkepentingan
(stakeholders). Kesamaan pengertian, efektifitas kerjasama dan sinergi antara aparat kesehatan
pusat, provinsi, kabupaten/kota dan semua pihak dari semua komponen bangsa adalah sangat
penting dalam rangka mencapai visi, tujuan dan sasaran promosi kesehatan secara nasional.
Semuanya itu adalah dalam rangka menuju Indonesia Sehat, yaitu Indonesia yang
penduduknya hidup dalam perilaku dan budaya sehat, dalam lingkungan yang bersih dan
kondusif dan mempunyai akses untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu,
sehingga dapat hidup sejahtera dan produktif.

Tujuan Promosi Kesehatan


Tentunya akan mudah dipahami bahwa visi dari promosi kesehatan tidak akan terlepas
dari koridor Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 serta organisasi kesehatan dunia
WHO(World Health Organization). Adapun visi dari promosi kesehatan adalah:
“Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.”
Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik pemberantasan penyakit
menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program
kesehatan lainnya dan bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
individu, kelompok, maupun masyarakat. Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan
diperlukan adanya suatu upaya yang harus dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah “ Misi ”.
Misi promosi kesehatan merupakan upaya yang harus dilakukan dan mempunyai keterkaitan
dalam pencapaian suatu visi.
Secara umum Misi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Advokasi (Advocation)
Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang ditujukan kepada para
penentu kebijakan dalam rangka mendukung suatu isyu kebijakan yang spesifik. Dalam hal
ini kegiatan advokasi merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan
(decission maker) agar dapat mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang
ditawarkan perlu mendapat dukungan melalui kebijakan atau keputusan-keputusan.
1. Menjembatani (Mediate)
Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu kerjasama dengan
program lain di lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu
adanya suatu jembatan dan menjalin suatu kemitraan (partnership) dengan berbagai program
dan sektor-sektor yang memiliki kaitannya dengan kesehatan.Karenanya masalah kesehatan
tidak hanya dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu
peduli terhadap masalah kesehatan tersebut.Oleh karena itu promosi kesehatan memiliki
peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau kemitraan ini.
2. Kemampuan/Keterampilan (Enable)
Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan memelihara serta
meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan dari pemberian keterampilan
kepada masyarakat adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga sehingga
diharapkan dengan peningkatan ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan keluarga akan meningkat.
Tujuan umum dari promosi kesehatan adalah meningkatnya kemampuan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya
kesehatan yang bersumber masyarakat, serta terciptanya lingkungan yang kondusif untuk
mendorong terbentuknya kemampuan tersebut.
Tujuan khususnya adalah :
1. Individu dan keluarga
a. Memperoleh informasi kesehatan melalui berbagai saluran baik langsung maupun
media massa
b. Mempunyai pengetahuan, kemauan dan kemampuan untuk memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya.
c. Mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menuju keluarga atau
rumah tangga yang sehat
d. Mengupayakan paling sedikit salah seorang menjadi kader kesehatan bagi
keluarganya
e. Berperan aktif dalam upaya/ kegiatan kesehatan
2. Tatanan sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat kerja dan tempat umum
a. Masing-masing tatanan mengembangkan kader-kader kesehatan
b. Mewujudkan tatanan yang sehat menuju terwujudnya kawasan sehat
3. Organisasi kemasyarakatan/ organisasi profesi/ LSM dan media massa
a. Menggalang potensi untuk mengembangkan perilaku sehat masyarakat
b. Bergotong royong untuk mewujudkan lingkungan sehat
c. Menciptakan suasana yang kondisuf untuk mendukung perubahan perilaku
masyarakat
4. Program/ petugas kesehatan
a. Melakukan integrasi promosi kesehatan dalam program dan kegiatan kesehatan
b. Mendukung tumbuhnya perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat, khususnya
melalui pemberdayaan individu, keluarga, dan atau kelompok yang menjadi
kliennya
c. Meningkatkan mutu pemberdayaan masyarakat dan pelayanan kesehatan yang
memberikan kepuasan kepada masyarakat
5. Lembaga Pemerintah/ politisi/ swasta
a. Peduli dan mendukung upaya kesehatan, minimal dalam mengembangkan
lingkungan dan perilaku sehat
b. Membuat kebijakan dan peraturan perundang-undangan dengan memperhatikan
dampak dibidang kesehatan

Manfaat Promosi Kesehatan


a. Mempererat kerjasama dengan berbagai pihak
b. Meningkatkan hubungan terhadap program kesehatan
c. Meningkatkan percaya diri terhadap kesehatan
d. Meningkatkan pembangunan lingkungan, sistem dan kebijakan kesehatan

Ruang Lingkup Promosi Kesehatan


Secara sederhana ruang lingkup promosi kesehatan diantaranya sebagai berikut :
1. Promosi kesehatan mencakup pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya
pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan
kemampuan.
2. Promosi kesehatan mencakup pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya
pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye.
3. Promosi kesehatan adalah upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang
tekanannya pada penyebaran informasi.
4. Promosi kesehatan merupakan upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada
upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
5. Promosi kesehatan mencakup upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk
mempengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang
berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan
suasana dan lain-lain di berbagai bidang /sektor, sesuai keadaan).
6. Promosi kesehatan adalah juga pengorganisasian masyarakat (community organization),
pengembangan masyarakat (community development), penggerakan masyarakat (social
mobilization), pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll.
Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Menurut Soekidjo Notoadmodjo (2012) ruang
lingkup promosi kesehatan dapat dilihat dari 2 dimensi yaitu:
a) Dimensi aspek pelayanan kesehatan, dan
b) Dimensi tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi kesehatan.
Ruang lingkup berdasarkan aspek kesehatan secara umum bahwa kesehatan masyarakat itu
mencakup 4 aspek pokok, yakni:
 Promotif,
 Preventif,
 Kuratif, dan
 Rehabilitatif.
Sedangkan ahli lainnya membagi menjadi dua aspek, yakni :
a. Aspek promotif dengan sasaran kelompok orang sehat,
b. Aspek preventif (pencegahan) dan kuratif (penyembuhan) dengan sasaran kelompok orang
yang memiliki resiko tinggi terhadap penyakit dan kelompok yang sakit. Dengan demikian
maka ruang lingkup promosi kesehatan dikelompok menjadi dua yaitu :
a. Pendidikan kesehatan pada aspek promotif.
b. Pendidikan kesehatan pada aspek pencegahan dan penyembuhan.
Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan pelaksanaan dikelompokkan menjadi :
a. Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga).
b. Pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah.
c. Pendidikan kesehatan di tempat kerja.
d. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat umum.
e. Pendidikan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan.


Pada ruang lingkup tingkat pelayanan kesehatan promosi kesehatan dapat dilakukan
berdasarkan lima tingkat pencegahan (five level of prevention) dari Leavel and Clark.
a. Promosi Kesehatan.
b. Perlindungan khusus (specific protection).
c. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment).
d. Pembatasan cacat (disability limitation)
e. Rehabilitasi (rehabilitation).

Sasaran Promosi Kesehatan


Sasaran promosi kesehatan diarahkan pada individu/ keluarga; tatanan kesehatan ,
institusi pendidikan, tempat kerja, dan tempat umum; organisasi kemasyarakatan/ organisasi
profesi/ LSM/ dan media massa; program/ petugas kesehatan; dan lembaga pemerintah/
politisi/ swasta.
Menurut Weiss (1991), program promosi dikembangkan pada tiga daerah utama yaitu
sekolah, tempat kerja dan kelompok/ masyarakat. Dalam pelaksanaan program promosi
kesehatan, telah terbukti bahwa promosi kesehatan di masyarakat, sekolah dan tempat kerja
cenderung paling efektif (Carleton, 1991). Kolbe (1988) menambahkan sasaran lain dalam
promosi kesehatan adalah pelayanan medis dan media.
Agar lebih spesifik sasaran promosi kesehatan dibagi menjadi sasaran primer, sekunder,
dan tersier.
1. Sasaran Primer (primary target)
Sasaran primer adalah sasaran yang mempunyai masalah, yang diharapkan mau berperilaku
sesuai harapan dan memperoleh manfaat paling besar dari perubahan perilaku tersebut.
Sasaran umumnya adalah masyarakat yang dapat dikelompokkan menjadi, kepala keluarga
untuk masalah kesehatan umum, Ibu hamil dan menyusui anak untuk masalah KIA
(Kesehatan Ibu dan Anak) serta anak sekolah untuk kesehatan remaja dan lain sebagianya.
Sasaran promosi ini sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat (empowerment).
2. Sasaran Sekunder (secondary target)
Sasaran sekunder adalah individu atau keompok yang memiliki pengaruh oleh sasaran
primer, dan diharapkan mampu mendukung pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran
primer. Sasaran sekunder dalam promosi kesehatan adalah tokoh-tokoh masyarakat, tokoh
agama, tokoh adat, serta orang-orang yang memiliki kaitan serta berpengaruh penting dalam
kegiatan promosi kesehatan, dengan harapan setelah diberikan promosi kesehatan maka
masyarakat tersebut akan dapat kembali memberikan atau kembali menyampaikan promosi
kesehatan pada lingkungan masyarakat sekitarnya. Tokoh masyarakat yang telah
mendapatkan promosi kesehatan diharapkan pula agar dapat menjadi model dalam perilaku
hidup sehat untuk masyarakat sekitarnya.
3. Sasaran Tersier (tertiary target)
Sasaran tersier adalah para pengambil kebijakan, penyandang dana, pihak pihak yang
berpengaruh di berbagai tingkatan (pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan dan kelurahan).
Yang menjadi sasaran tersier dalam promosi kesehatan adalah pembuat keputusan
(decission maker) atau penentu kebijakan (policy maker). Hal ini dilakukan dengan suatu
harapan agar kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok tersebut
akan memiliki efek/dampak serta pengaruh bagi sasaran sekunder maupun sasaran primer
dan usaha ini sejalan dengan strategi advokasi (advocacy)

Strategi Promosi Kesehatan


Penerapan promosi kesehatan dalam program kesehatan pada dasarnya merupakan bentuk
penerapan strategi global, yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Berdasarkan rumusan
WHO (1994) strategi promosi kesehatan secara global terdiri dari 3 hal yaitu :
1. Advokasi
Upaya pendekatan pada pimpinan atau pengambil keputusan supaya dapat memberikan
dukungan, kemudahan, pada upaya pembangunan kesehatan. Dukungan tersebut dapat
berupa kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah,
surat keputusan, dan sebagainya. Kegiatannya bisa secara formal dan informal. Secara
formal misalnya presentasi atau seminar tentang issu atau usulan program yang ingin
dimintakan dukungan. Secara informal misalnya datang kepada pejabat untuk minta
dukungan dalam bentuk dana atau fasilitas lain.
2. Dukungan sosial
Suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma)
baik formal maupun infromal. Bentuk kegiatannya berupa pelatihan para toma, bimbingan
pada toma.
3. Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)
Upaya memandirikan individu, kelompok dan masyarakat agar berkembang kesadaran ,
kemauan, dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Bentuk
kegiatannya yaitu penyuluhan kesehatan, pelatihan.(Heri M, 2009).
Berdasarkan Piagam Ottawa tahun1986 strategi baru promosi kesehatan adalah
1. Kebijakan berwawasan kebijakan (Healhty Public Policy)
Bahwa kebijakan yang diambil harus berorientasi pada kesehatan publik dan harus
memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan
2. Lingkungan yang mendukung (supportive Environment)
Bahwa pemerintah atau pengelola tempat umum harus menyediakan fasilitasyang
mendukung terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat.
3. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)
Bahwa penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus
melibatkan dan memberdayakan masyarakat.
4. Ketrampilan individu (Personnel Sklill)
Dengan memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara memelihara
kesehatan, mencegah penyakit , mencari pengobatan.
5. Gerakan masyarakat (Community Action)
Promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegiatan di masyarakat dalam
mewujudkan kesehatan mereka.(Notoatmodjo, 2005)
Berdasarkan Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan tahun 2004, strategi peningkatan promosi
kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan kebijakan promosi kesehatan daerah
2. Peningkatan sumber daya promosi kesehatan
3. Pengembangan organisasi promosi kesehatan
4. Integrasi dan sinkronisasi promosi kesehatan
5. Pendayagunaan data dan pengembangan sistem informasi promosi kesehatan
6. Peningkatan kerjasama dan kemitraan
7. Pengembangan metode, teknik dan media
8. Fasilitasi peningkatan promosi kesehatan

Perilaku Manusia Dalam Kesehatan


Semakin majunya dunia kesehatan tidak berjalan beriringan dengan perilaku sehat dari
masyarakat. Perilaku sehat pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan
(Simons – Morton et al., 1965). Dasar orang berperilaku dapat ditentukan oleh nilai, sikap,
dan pendidikan atau pengetahuan (Notoadmojo, 2010). Derajat kesehatan masyarakat
ditentukan oleh faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor hereditas.
Berikut beberapa pendapat tentang pengertian dan aspek-aspek yang mempengaruhi perilaku
seseorang. Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi
antara manusia dengan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan
tindakan. Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia
dan lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan
menjadi dua, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan,
kecerdasan, emosi, inovasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari
luar. Faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik separti iklim,
sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.Perilaku yang terbentuk di dalam diri seseorang
dari dua faktor utama, yaitu stimulus yang merupakan faktor dari luar diri seseorang (faktor
eksternal) dan respon yang merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor
internal). Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik
maupun non fisik dalam bentuk sosial budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor
eksternal yang paling besar perannya dalam membentuk perilaku manusia adalah faktor sosial
dan budaya tempat seseorang tersebut berada. Faktor internal yang menentukan seseorang
merespon stimulus dari luar adalah perhatian, pengamatan, persepsi motivasi, fantasi, sugesti
dan sebagainya. Terdapat empat cara untuk membentuk perilaku, yaitu melalui penguatan
positif, penguatan negatif, hukuman dan pemunahan. Bila suatu respon diikuti dengan sesuatu
yang menyenangkan, respon tersebut penguatan positif. Bila suatu respon diikuti oleh
dihentikannya atau ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, disebut penguatan
negatif. Kedua penguatan positif dan negatif tersebut akan menentukan hasil dari proses
belajar. Keduanya memperkuat respon dan meningkatkan kemungkinan untuk mengulangi
perilaku yang dipelajari. Penghukuman akan mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak
dalam suatu usaha untuk menyingkirkan suatu perilaku yang tidak diinginkan. Proses
pembentukan sikap dan perilaku berlangsung secara bertahap dan melalui proses belajar yang
diperoleh dari berbagai pengalaman atau menghubungkan pengalaman dengan hasil belajar.
Pendapat lain menyatakan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang
terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu perilaku terjadi melalui proses
adanya stimilus terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut merespon (teori
Skinner atau teori Stimulus-Organism-Response). Berdasarkan teori S-O-R perilaku
manusia dikelompokan menjadi dua, yaitu perilaku tertutup dan perilaku terbuka.Perilaku
tertutup (covert behavior), terjadi jika respon terhadap stimulus masih belum dapat diamati
orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian,
perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk
covert behavior yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap. Sedangkan perilaku terbuka
(overt behavior), terjadi jika respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan atau praktek
yang dapat diamati orang dari luar. Perilaku adalah suatu fungsi dari interaksi antara person
atau individu dengan lingkungannya. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak faktor.
Adakalanya perilaku seseorang dipengaruhi oleh kemampuannya, adapula karena
kebutuhannya dan ada juga yang dipengaruhi oleh pengharapan dan lingkungannya. Perilaku
merupakan respon seseorang terhadap stimulus yang berasal dari dalam maupun dari luar
dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif atau tanpa tindakan seperti berpikir, berpendapat,
bersikap maupun aktif atau melakukan tindakan. Menurut Bloom perilaku dapat dipilah dalam
3 domain, yaitu domain kognitif (cognitive), domain afektif (affective) dan domain
psikomotor (psychomotor). Terbentuknya perilaku dimulai pada domain kognitif, yaitu
dimulai tahu terlebih dahulu terhadap stimulus sehingga menumbulkan pengetahuan baru.
Pengetahuan baru ini selanjutnya akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap baru
yang pada akhirnya akan menimbulkan respon yang lebih tinggi lagi yaitu adanya tindakan
sehubungan dengan stimulus atau objek tadi. Terdapat beberapa teori determinan perilaku,
atau faktor yang menentukan atau membentuk perilaku menurut Green (didasarkan pada
masalah kesehatan), membedakan dua determinan masalah kesehatan yaitu faktor
perilaku (behavioral factors) dan faktor non perilaku (non behavioral factors). Sedangkan
faktor pembentuk perilaku, antara lain : Predisposing factors, adalah faktor yang
mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan,
sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi. Faktor berikutnya adalah enabling
faktor, yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan.
Antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta sumberdaya.
Sedangkan faktor terakhir berupa faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors), yaitu
faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku misalnya dengan adanya contoh
dari para tokoh masyarakat yang menjadi panutan. Sedangkan menurut teori WHO,
beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku antara lain pemikiran dan perasaan (thoughts
and feeling) atau pertimbangan pribadi seseorang terhadap objek atau stimulus. Faktor
selanjutnya adalah faktor personal references, faktor sumber daya (resources) serta faktor
sosial budaya (culture) setempat.

Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku


Perubahan perilaku manusia dalam kesehatan dapat digolongkan menjadi :
a) Perubahan alamiah (natural change): Perubahan perilaku karena terjadi perubahan alam
(lingkungan) secara alamiah
b) Perubahan terencana (planned change): Perubahan perilaku karena memang direncanakan
oleh yang bersangkutan
c) Kesiapan berubah (Readiness to change): Perubahan perilaku karena terjadinya proses
internal (readiness) pada diri yang bersangkutan, dimana proses internal ini berbeda pada
setiap individu.

Pendekatan Untuk Mengubah Perilaku


Strategi pendekatan yang dapat dilakukan untuk meubah perilaku manusia dalam kesehatan
anttara lain, yaitu :
a. Informasi
b. Pemasaran
c. Insentif
d. Restriksi (memberikan pembatasan untuk mencegah perilaku tertentu)
e. Indoktrinasi (memberikan paksaan untuk perilaku tertentu)
f. Peraturan

Strategi Perubahan Perilaku


a) Inforcement (Paksaan):
- Perubahan perilaku dilakukan dengan paksaan, dan atau menggunakan peraturan atau
perundangan.
- Menghasilkan perubahan perilaku yang cepat, tetapi untuk sementara (tidak langgeng)
b) Persuasi
Dapat dilakukan dengan persuasi melalui pesan, diskusi dan argumentasi.
Misalnya :
Melalui pesan seperti jangan makan babi karna bisa menimbukkan penyakit H1N1.
Melalui diskusi seperti diskusi tentang abortus yang membahayakan jika digunakan untuk
alasan yang tidak baik
c) Fasilitasi
Strategi ini dengan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Dengan penyediaan
sarana dan prasarana ini akan meningkatkan knowledge (pengetahuan) Untuk melakukan
strategi ini mmeerlukan beberapa proses yakni kesediaan, identifikasi dan internalisasi.
Ketika ada rangsangan yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan keyakinan akan
menimbulkan aksi dan kemudian hal itu menjadikan perbahan perilaku.
d) Education :
Perubahan perilaku dilakukan melalui proses pembelajaran, mulai dari pemberian informasi
atau penyuluhan-penyuluhan. Menghasilkan perubahan perilaku yang langgeng, tetapi
makan waktu lama.
Tahapan Perubahan Perilaku “Model Transteoretikal” (Simon-Morton, Greene & Gottlieb,
1995) Terdapat 6 tahapan perubahan :
a. Prekontemplasi
Pada tahap ini klien belum menyadari adanya permasalahan ataupun kebutuhan untuk
melakukan perubahan. Oleh karena itu memerlukan informasi dan umpan balik untuk
menimbulkan kesadaran akan adanya masalah dan kemungkinan untuk berubah. Nasehat
mengenai sesuatu hal/informasi tidak akan berhasil bila dilakukan pada tahap ini.
b. Kontemplasi
Sudah timbul kesadaran akan adanya masalah. Namun masih dalam tahap keraguraguan.
Menimbang-nimbang antara alasan untuk berubah ataupun tidak. Konselor mendiskusikan
keuntungan dan kerugian apabila menerapkan informasi yang diberikan.
c. Preparasi (Jendela kesempatan untuk melangkah maju atau kembali ke tahap kontemplasi).
d. Aksi (Tindakan)
Klien mulai melakukan perubahan. Goalnya adalah dihasilkannya perubahan perilaku sesuai
masalah.
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan perubahan perilaku yang telah dicapai perlu dilakukan untuk terjadinya
pencegahan kekambuhan.
f. Relaps
Saat terjadi kekambuhan, proses perubahan perlu diawali kembali. Tahapan ini bertujuan
untuk kembalinya upaya aksi.
Peran Perawat Dalam Promosi Kesehatan
Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan oleh individu sesuai dengan status
sosialnya. Peran menggambarkan otoritas seseorang yang diatur dalam sebuah aturan yang
jelas. Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran aktif dalam upaya
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan UU No. 36 Tahun 2014
Pasal 1 ayat 6 yang menyatakan bahwa “Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan
untuk melakukan upaya kesehatan”. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
HK.0.02.02/Menkes/148/I/2010 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat,
dijelaskan bahwa perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam
maupun diluar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Fungsi utama perawat adalah membantu klien mencapai derajat kesehatan yang optimal
melalui layanan keperawatan. Intervensi keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan
kesehatan, mencegah penyakit, menyembuhkan, serta memelihara kesehatan melalui upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sesuai wewenang, tanggung jawab, etika profesi
keperawatan yang memungkinkan setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan
produktif. Dari penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa peran perawat sangatlah penting dalam
rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Perawat sebagai bagian
integral dari layanan kesehatan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan
derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan
kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang didasarkan
pada ilmu dan kiat keperawatan. Layanan ini berbentuk layanan bio-psiko-sosio-spiritual
komprehensif yang ditujukan bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, baik sehat
maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Lokakarya Keperawatan
nasional, 1983).
Sebagai tenaga kesehatan, perawat memiliki sejumlah peran didalam menjalankan
tugasnya sesuai dengan hak dan kewenangannya. Peran perawat yang utama meliputi
pelaksanan layanan keperawatan (care provider), pengelola (manager), pendidik (educator),
dan peneliti (researcher). Peran utama dari perawat adalah sebagai pelaksana, pengelola,
pendidik dan peneliti :
1. Pelaksana layanan keperawatan (care provider). Perawat memberikan layanan berupa
asuhan keperawatan secara langsung kepada klien baik individu, keluarga maupun
komunitas sesuai dengan kewenangannya. Dalam perannya sebagai care provider, perawat
bertugas untuk :
a. Memberi kenyamanan dan rasa aman bagi klien
b. Melindungi hak dan kewajiban klien agar tetap terlaksana dengan seimbang
c. memfasilitasi klien dengan anggota tim kesehatan lainnya
d. berusaha mengembalikan kesehatan klien
2. Pengelola (Manager). Perawat mempunyai peran dan tanggung jawab dalam mengelola
layanan keperawatan disemua tatanan layanan kesehatan baik dirumah sakit, puskesmas
dan sebagainya maupun tatanan pendidikan yang berada dalam tanggungjawabnya sesuai
dengan konsep manajemen keperawatan. Dalam fungsi perawat sebagai manager berarti
perawat melakukan fungsi manajemen keperawtan yaitu planning, organizing, actuating,
staffing, directing dan controlling.
a. Perencana (planning).seorang manajer keperawatan harus mampu menetapkan
pekerjaan yang akan dilaksanaka untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi
perencana meliputi, mengenali masalah, menetapkan dan mengkhususkan tujuan
jangka panjang dan jangka pendek, mengembangkan tujuan dan terakhir menguraikan
bagaimana tujuan dan sasaran tersebut dapat dicapai.
b. Pengorganisasian (Organizing). Fungsi ini meliputi proses mengatur dan
mengalokasikan suatu pekerjaan, wewenang serta sumber daya keperawatan sehingga
tujuan keperawatan dapat tercapai
c. Gerak aksi (actuating) mencakup kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer
keperawatan untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang telah ditetapkan dalam
unsur perencanaan dan pengorganisasian agar dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
d. Pengelolaan staf (staffing) mencakup memperoleh, menempatkan dan mempertahankan
anggota atau staf pada posisi yang dibutuhkan dalam pekerjaan keperawatan
e. Pengarahan (directing) mencakup mampu memberikan arahan kepada staf sehingga
mereka menjadi perawat yang berpengetahuan dan mampu bekerja secara efektif guna
mencapai sasaran yang telah ditetapkan
f. Pengendali (controlling) mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan
yang dilaksanakan oleh staf telah berjalan dengan baik.
3. Pendidik dalam keperawatan (educator). Perawat berperan mendidik individu, keluarga
dan masyarakat serta tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya. Perawat bertugas
untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada klien sebagaiupaya menciptakan perilaku
individu atau masyarakat yang kondusif bagi kesehatan. Untuk dapat melaksanakan
perannya sebagaipendidik, ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki seorang perawat
antara lain wawasan ilmu pengetahuan yang luas, kemampuan berkomunikasi, pemahaman
psikologis dan kemampuan menjadi model atau contoh dalam perilaku profesional.
4. Peneliti (researcher) Mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode
penelitian, serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau
pelayanan dan pendidikan keperawatan (Asmadi, 2008).

Promosi kesehatan adalah upaya memberdayakan perorangan, kelompok, dan masyarakat


agar memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan
pengetahuan, kemauan, dan kemampuan serta mengembangkan iklim yang mendukung,
dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat sesuai dengan faktor budaya setempat.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan sangat erat kaitannya dengan sarana fasilitas
kesehatan semisal rumah sakit, puskesmas, dan posyandudan lain-lainya. Di lingkungan rumah
sakit perawat selain berhadapan dengan pasien yang dirawat juga berinteraksi dengan anggota
keluarga yang memerlukan informasi mendalam yang berkenaan dengan status kesehatan.
Upaya promosi kesehatan dalam hal ini, pendidikan kesehatan sangat bermanfaat untuk
meningkatkan status kesehatan pasien dan keluarga. Hal yang dapat dilakukan pada lingkungan
rumah sakit adalah melakukan penyuluhan baik secara massal ataupun individu di rumah sakit.
Kegiatan pendidikan kesehatan maupun penyuluhan dilakukan di sisi pasien serta keluarga
secara khusus mengenai suatu penyakit dan upaya penyelesaian masalah kesehatan yang
dihadapi.
Perawat di Puskesmas sebagai bagian tenaga kesehatan, dapat berperan sebagai pemberi
pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan, pendidik atau penyuluh kesehatan, penemu
kasus, penghubung dan koordinator, pelaksana konseling keperawatan dan model peran. Dua
peran perawat kesehatan komunitas yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan serta
pelaksana konseling keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
merupakan bagian dari ruang lingkup promosi kesehatan. (Efendi dan Makhfudi, 2009)
Di lingkungan Puskesmas upaya promosi kesehatan lebih ditekankan dari pada di rumah
sakit. Sebagai contoh perawat di komunitas menyikapi dan menindaklanjuti perilaku
masayarakat bantaran sungai yang selalu melakukan BAB (Buang Air Besar) di sungai
sehingga mengotori dan mencemari sungai yang menjadi sumber air bersih keperluan
masyarakat setempat sehingga dapat menyebabkan penyakit daire. Diare yang terjadi akibat
tercemarnya sumber air bersih tidak akan tuntas apabila hanya mengobati pasien di rumah sakit
tanpa memotong atau menyingkirkan penyebab utamanya. Penyebab utamanya yaitu
pencemaran serta pengkontaminasian sumber air sungai yang menyebabkan keadaan diare
pada masayarakat setempat.
Di lingkungan posyandu baik posyandu balita maupun lansia sama halnya dengan program
yang ada di puskesmas yaitu upaya promosi kesehatan seperti penyuluhan dan upaya preventif
seperti pemberian imunisasi pada balita serta pemeriksaan kesehatan secara berkala pada lansia
yang berada di wilayah lingkungan posyandu.
Di lingkungan kerja peran perawat sangat diharapkan karena keterbatasan pengetahuan
yang dimiliki para pekerja, misalkan upaya promosi kesehatan dalam tatanan Kesehatan
Keselamatan Kerja (K3). Lingkungan pabrik yang umumnya mempunyai paparan terhadap
debu, polusi serta risiko adanya cidera sangat penting bagi perawat dalam memberikan
pemahaman baik dengan cara pendidikan kesehatan maupun penyuluhan mengenai pemakaian
Alat Pelindung Diri (APD). APD yang mereka pakai diharapkan dapat melingdungi dari segala
risiko yang mungkin terjadi pada para pekerja.
Di tempat umum peran perawat dalam upaya promosi kesehatan dimana masyarakat sering
berkumpul, bercengkrama bahkan melakukan aktivitas. Beberapa contoh tempat umum antara
lain Pasar, Halte Bus, Terminal, Stasiun, Pelabuhan bahkan Bandara yang semuanya sangat
diharapkan tidak terdapat kegiatan ataupun perilaku yang merugikan bahkan membahayakan
orang lain dalam bidang kesehatan. Sebagai contoh merokok di tempat umum dilarang karena
dapat menyebabkan polusi udara. Peran perawat untuk mensosialisasikan peraturan tentang
pelarangan kegiatan merokok di tempat umum merupakan salah satu upaya dalam promosi
kesehatan. Upaya promosi kesehatan dilakukan agar tercapai masyarakat yang sehat dan
mandiri, hal ini tidak hanya dilakukan oleh perawat maupun tenaga kesehatan namun harus
bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan/LSM/organisasi profesi dan media massa
yang peduli dengan kesehatan. Kerja sama tersebut dapat berupa pemberian informasi yang
terus-menerus agar klien dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek
knowledge) dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu melakukan
perilaku yangdiperkenalkan (aspect practise).
Agar terjalin kerja sama yang baik maka peran perawat pada tatanan ini adalah memberikan
advokasi, hal ini penting untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari sasaran advokasi.
Pada tatanan ini umumnya advokasi dapat beberapa tahap antara lain :
1. Menyadari adanya suatu masalah.
2. Tertarik untuk ikut mengatasi masalah.
3. Peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan beberapa alternatif
pemecahan masalah.
4. Sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif dan memutuskan
tindak kanjut kesepakatan.

Peran Perawat dalam Promosi Kesehatan ditatanan Program/Petugas Kesehatan.


Kegiatan yang dilakukan terintegrasi sesuai fungsi manajemen meliputi perencanaan,
penggerakan pelaksanaan, pengawasan pengendalian dan penilaian, yang dilakukan diberbagai
tingkat administrasi baik dipusat, provinsi maupun kabupaten/ kota. Kegiatan tersebut memuat
strategi promosi kesehatan yaitu pemberdayaan masyarakat, bina suasana dan advokasi.
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut :
1. Pengkajian yang dimaksud untuk mendapatkan informasi tentang besaran masalah dan
penyebabnya, potensi yang dapat didayagunakan dalam pemecahan masalah.
2. Menggalang komitmen dan dukungan dari lintas program dan sektor dalam pelaksanaan
integrasi melalui pertemuan lintas program dan sektor terkait dalam promosi kesehatan.
3. Menyusun perencanaan integrasi promosi kesehatan dan program kesehatan.
b. Penggerakan pelaksanaan
1. Melaksanakan integrasi promosi kesehatan dalam program kesehatan di kabupaten/kota
sesuai rencana yang telah disepakati bersama.
2. Melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program dan sektor secara berkala untuk
menyelaraskan kegiatan.
c. Pengawasan, pengendalian dan penilaian
Pengawasan, pengendalian dan penilaian dilakukan disetiap tahap fungsi manajemen.
1. Pengawasan untuk melihat apakah kegiatan dilaksanakan sesuai rencana yang telah
ditetapkan.
2. Pengendalian dilakukan agar kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan arah dan
tujuan, mengantisipasi masalah/ hambatan yang mungkin terjadi.
3. Penilaian dilakukan untuk melihat keberhasilan pelaksanaan integrasi `pada akhir
kegiatan.
4. Mendokumentasikan kegiatan integrasi, untuk bahan pembelajaran perbaikan program
integrasi mendatang.
5. Memberikan umpan balik kepada lintas program dan sektor terkait untuk perbaikan
kegiatan integrasi selanjutnya.

Kegiatan integrasi promosi kesehatan


Kegiatan yang dilakukan dalam berbagai tatanan rumah tangga, bina suasana dan advokasi
yang meliputi :
a. Integrasi promosi kesehatan dengan program KIA dan Anak
b. Integrasi promosi kesehatan dengan program gizi masyarakat
c. Integrasi promosi kesehatan dengan program lingkungan sehat
d. Integrasi promosi kesehatan dengan program jaminan pemeliharaan kesehatan ( JPK ).
e. Integrasi promosi kesehatan dengan program pencegahan dan penanggulangan penyakit
tidak menular (P2PTM). (Pusat promosi kesehatan Departemen kesehatan RI, tahun 2006)

Peran Perawat dalam Promosi Kesehatan ditatanan Lembaga Pemerintahan/Politisi/


Swasta.
Promosi kesehatan sebagai proses mengupayakan individu dan masyarakat
untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang memengaruhi
kesehatan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya. Perawat mempunyai peran
penting dalam meningkatakn kesehatan salah satunya bekerjasama dengan tenaga kesehatan
lain memanfaatkan dan memaksimalkan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai tempat untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Setiap
indivividu memiliki kesempatan untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu dan aman, hal
ini sejalanan dengan UU RI no. 36 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa, setiap orang
mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.
Dalam UU tersebut pasal 16 dinyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas
ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat
untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Perawat mempunyai banyak peran dimana dalam setiap perannya bertujuan untuk
mensukseskan dan mendukung program pemerintah, antara lain mendukung dalam program :
1. Integrasi dengan Program Kesehatan Ibu dan Anak
2. Integritasi dengan program jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK).
3. Integrasi dengan Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
(P2PTM) (Panduan Integrasi Promosi Kesehatan, 2006)
Sesuai dengan tujuan promosi kesehatan, pemerintah dapat peduli dan mendukung upaya
kesehatan, minimal dalam mengembangkan lingkungan dan perilaku sehat. Selain itu,
membuat kebijakan dan peraturan perundang-undangan dengan memperhatikan dampaknya
dibidang kesehatan. Dukungan yang optimal dari berbagai pihak seyogyanya dapat
memecahkan masalah kesehatan dan dapat membantu tenaga kesehatan terutama dalam hal
promosi kesehatan. Perawat diharapkan menjadi lini terdepan dalam upaya promosi kesehatan
untuk mempengaruhi semua sasaran yang ada.

.
Pendidikan Kesehatan Dalam Promosi Kesehatan
Pendidikan dalam arti secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk
mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka
melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan. Dan
batasan ini tersirat unsure-unsur input (sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses (upaya
yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output (melakukan apa yang
diharapkan). Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah
perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan. (Notoadmojo, 2012)
Teori Precede-Proceed digunakan dalam promosi kesehatan dikutif dari Fertman pada tahun
2010 bahwa pendekatan terkenal untuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam
program pendidikan kesehatan adalah model Precede-Proceed yang dikemukakan oleh
Green & Kreuter pada tahun 2005. Bagian Precede pada model (fase 1-4) berfokus pada
perencanaan program dan bagian proceed (fase 5-8) berfokus pada pelaksanaa dan
evaluasi. Delapan fase dari model pedoman perencanaan dalam membuat program promosi
kesehatan, dimulai dengan keluaran yang lebih umum dan berubah menjadi keluaran yang
lebih spesifik. Pada akhirnya, proses memimpin untuk membuat program,
menghantarkan program dan mengevaluasi program. (Gambar 1. Menampilkan model
Precede-Proceed untuk perencanaan program kesehatan dan evaluasi; tanda panah menunjukan
jalur utama kegiatan menuju masukan program dan determinan kesehatan untuk hasil.)

Gambar 1. Model Precede-Proceed (Green & Kreuter, 2005)


Fase 1: Diagnosis Sosial
Dalam fase ini, program menentukan bagaimana kualitas hidup dari masyarakat tersebut
secara spesifik. Untuk mengetahui masalah itu maka sering digunakan indikator sosial dari
kesehatan dalam populasi spesifik (contohnya derajat kemiskinan, rata-rata kriminalitas,
ketidakhadiran, atau tingkat pendidikan yang rendah) yang berefek kepada kesehatan dan
kualitas hidup.

Fase 2: Diagnosis epidemiologi


Masalah sosial pada fase pertama dalam hal kesehatan adalah hal yang dapat mempengaruhi
kualitas kehidupan masyarakat. Dalam fase ke-2 ini program mengidentifikasi faktor
kesehatan atau faktor lain yang berperan dalam perburukan kualitas hidup.

Fase 3: Penilaian Pendidikan dan Ekologis


Fokus dalam fase 3 bergantian menjadi faktor mediasi yang dapat mendorong atau
penghindar sebuah lingkungan positif atau perilaku positif. Faktor-faktor ini dikelompokan
kedalam tiga kategori: faktor-faktor predisposisi, faktor- faktor pemungkin dan faktor
faktor penguat (Green & Kreuter, 2005).

Fase 4: Administrasi & Penilaian Kebijakan & Keselarasan Intervensi


Pada fase ini berisi tentang upaya untuk memperbaiki status kesehatan dapat didukung
atau dihambat oleh peraturan dan kebijakan yang ada. Sehingga dapat dilihat bahwa
fokus utama dalam administrasi dan penilaian kebijakan dan keselarasan intervensi dalam
fase ke empat adalah pemastian kenyatan, unuk meyakinkan bahwa ini ada dalam aturan
(sekolah, tempar kerja, organisasi pelayanan kesehatan, atau komunitas) semua dukungan
yang memungkinkan, pendanaan, kepribadian, fasilitas, kebijakan dan sumber daya
lainnya akan ditampilkan untuk mengembangkan dan pelaksanaan program.

Fase 5: Implementasi atau Pelaksanaan


Penyampaian program terjadi selama fase 5. Juga, proses evaluasi (fase 6), yang mana
dalam fase evaluasi yang pertama, terjadi dengan simultas dengan pelaksanaan program.

Fase 6: Proses Evaluasi


Proses evaluasi adalah sebuah evalusi yang formatif, sesuatu yang muncul selama
pelaksanaan program.

Fase 7: Pengaruh Evaluasi


Fokus dalam fase ini adalah evaluasi sumatif, yang diukur setelah program selesai, untuk
mencari tahu pengaruh interfensi dalam prilaku atau lingkungan.

Fase 8: Hasil atau Keluaran Evaluasi


Fokus dari fase evualusi terakhir sama dengan fokus ketika semua proses berjalan indikator
evaluasi dalam kualitas hidup dan derajat kesehatan.
3. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut
Green dalam (Notoadmojo, 2012) yaitu :
a. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
Promosi kesehatan bertujuan untuk mengunggah kesadaran, memberikan atau
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan dan penigkatan
kesehatan bagi dirinya sendiri, keluarganya maupun masyarakatnya. Disamping itu,
dalam konteks promosi kesehatan juga memberikan pengertian tentang tradisi,
kepercayaan masyarakat dan sebagainya, baik yang merugikan maupun yang
menguntungkan kesehatan. Bentuk promosi ini dilakukan dengan penyuluhan
kesehatan, pameran kesehatan, iklan-iklan layanan kesehatan, billboard, dan
sebagainya.
b. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling (penguat)
Bentuk promosi kesehatan ini dilakukan agar masyarakat dapat memberdayakan
masyarakat agar mampu mengadakan sarana dan prasarana kesehatan dengan cara
memberikan kemampuan dengan cara bantuan teknik, memberikan arahan, dan cara-
cara mencari dana untuk pengadaan sarana dan prasarana.
c. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (pemungkin)
Promosi kesehatan pada faktor ini bermaksud untuk mengadakan pelatihan bagi tokoh
agama, tokoh masyarakat, dan petugas kesehatan sendiri dengan tujuan agar sikap
dan perilaku petugas dapat menjadi teladan, contoh atau acuan bagi masyarakat tentang
hidup sehat.

4. Faktor – faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan


Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pendidikan kesehatan dapat mencapai
sasaran (Saragih, 2010) yaitu :
a. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap informasi baru
yang diterimanya. Maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikannya,
semakin mudah seseorang menerima informasi yang didapatnya.
b. Tingkat Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin mudah pula dalam
menerima informasi baru.
c. Adat Istiadat
Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap adat istiadat sebagai
sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
d. Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh orang-orang
yang sudah mereka kenal, karena sudah ada kepercayaan masyarakat dengan
penyampai informasi.
e. Ketersediaan waktu di masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat aktifitas masyarakat
untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat dalam penyuluhan.

Metode Promosi Kesehatan


Proses belajar mengajar yang efisien dan efektif yang dilakukan dipengaruhi oleh metode
yang digunakan. Pemilihan metode dalam pelaksanaan promosi kesehatan harus
dipertimbangkan secara cermat dengan memperhatikan materi atau informasi yang akan
disampaikan, keadaan penerima informasi (termasuk sosial budaya) atau sasaran, dan hal-hal
lain yang merupakan lingkungan komunikasi seperti ruang dan waktu. Masing – masing
metode memiliki keunggulan dan kelemahan, sehingga penggunaan gabungan beberapa
metode sering dilakukan untuk mamaksimalkan hasil.
1. Pengertian Metode
Metode diartikan sebagai cara atau pendekatan tertentu. Pemberdayaan dapat
dilakukan dengan melihat metode : ceramah dan tanya jawab, dialog, debat, seminar,
kampanye, petisi/resolusi, dan lain-lain. Sedangkan advokasi, dapat dilakukan dengan
pilihan metode : seminar, lobi dialog, negosiasi, debat, petisi/resolusi, mobilisasi, dan lain-
lain.
2. Jenis – Jenis Metode Promkes
Secara garis besar, metode dibagi menjadi dua, yaitu metode didaktif dan metode sokratik.
a. Metode Didaktif
Metode ini didasarkan atau dilakukan secara satu arah. Tingkat keberhasilan metode
didaktif sulit dievaluasi karena peserta didik bersifat pasif dan hanya pendidik yang
aktif. Misalnya: ceramah, film, leaflet, booklet, poster dan siaran radio.
b. Metode Sokratif
Metode ini dilakukan secara dua arah. Dengan metode ini, kemungkinan antara pendidik
dan peserta didik bersikap aktif dan kreatif. Misalnya: diskusi kelompok, debat, panel,
forum, seminar, bermain peran, curah pendapat, demonstrasi, studi kasus, lokakarya dan
penugasan perorangan.
Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik Komunikasi, Sasaran yang
dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi. Metode berdasarkan tekhnik komunikasi:
a. Metode Penyuluhan Langsung
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan sasaran.
Termasuk disini antara lain: kunjungan rumah, pertemuan diskusi, pertemuan di balai desa
pertemuan di posyandu, dll.
b. Metode Penyuluhan Tidak Langsung
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran,
tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara media. Contohnya, publikasi dalam
bentuk media cetak, melalui pertunjukkan film dan sebagainya berdasarkan jumlah sasaran
yang dicapai.
Metode berdasarkan jumlah sasarannya dibagi menjadi 3 (Menurut Notoatmodjo, 1993 dan
WHO, 1992):
a. Metode Pendidikan Individual (Perorangan)
Metode yang bersifat individual digunakan untuk membina perilaku baru atau membina
seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Setiap orang
memiliki masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau
perilaku baru tersebut. Bentuk pendekatannya :
1) Bimbingan dan penyuluhan (Guidence and counceling)
Perubahan perilaku terjadi karena adanya kontak yang intensif antara klien dengan
petugas dan setiap masalahnya dapat diteliti dan dibantu penyelesainnya.
2) Wawancara (interview)
Untuk mengetahui apakah klien memiliki kesadaran dan pengertian yang kuat tentang
informasi yang diberikan (prubahan perilaku ynag diharapkan).
b. Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pada kelompok,yang harus diperhatikan adalah besarnya kelompok
sasaran dan tingkat pendidikan formalnya. Besarnya kelompok sasaran mempengaruhi
efektifitas metode yang digunakan.
1) Kelompok besar
a) Ceramah
Sasaran dapat berpendidikan tinggi maupun rendah. Penceramah harus menyiapkan dan
menguasai materi serta mempersiapkan media. Metode dengan menyampaikan
informasi dan pengetahuan saecara lisan. Metode ini mudah dilaksanakan tetapi
penerima informasi menjadi pasif dan kegiatan menjadi membosankan jika terlalu
lama.
b) Seminar
Metode seminar hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan formal
menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi)dari suatu ahli atau
beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat
di masyarakat.
2) Kelompok kecil
a) Diskusi kelompok
Metode yang dilaksanakan dalam bentuk diskusi antara pemberi dan penerima
informasi, biasanya untuk mengatasi masalah. Metode ini mendorong penerima
informasi berpikir kritis, mengekspresikan pendapatnya secara bebas, menyumbangkan
pikirannya untuk memecahkan masalah bersama, mengambil satu alternatif jawaban
atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan
pertimbangan yang seksama.
Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :
- Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
- Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
- Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
- Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal
b) Curah pendapat (Brain storming)
Adalah suatu pemecahan masalah ketika setiap anggota mengusulkan dengan cepat
semua kemungkinan pemecahan yang dipikirkan. Kritik evaluasi atas semua pendapat
tadi dilakukan setelah semua anggota kelompok mencurahkan pendapatnya. Metode ini
cocok digunakan untuk membangkitkan pikiran yang kreatif, merangsang, partisipasi,
mencari kemungkinan pemecahan masalah, mendahului metode lainnya, mencari
pendapat-pendapat baru dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam
kelompok.
c) Bola salju (snow balling)
Metode ini dilakukan dengan membagi secara berpasangan (satu pasang- dua orang).
Setelah pasangan terbentuk, dilontarkan suatu pernyataaan atau masalah, setelah kurang
lebih 5 menit setiap 2 pasangan bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan
masalah yang sama dan mencari kesimpulannya. Selanjutnya, setiap 2 pasang yang
sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya, demikian
seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
d) Kelompok-kelompok kecil (Buzz group)
Kelompok dibagi menjadi kelompok kecil untuk mendiskusikan masalah kemudian
kesepakatan di kelompok kecil disampaikan oleh tiap kelompok dan kemudian di
diskusikan untuk diambil kesimpulan.
e) Memainkan peranan (role play).
Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran
tertentu untuk memainkan peranan.
f) Permainan simulasi (simulation game)
Merupakan gabungan antara role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan
disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli,
menggunakan dadu, petunjuk arah dan papan monopoli. Beberapa orang menjadi
pemain dan sebagian lainnya berperan sebagai narasumber.
3) Metode pendidikan massa
Metode ini untuk mengomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada
masyarakat. Sasaran pendidikan pada metode ini bersifat umum tanpa membedakan umur,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi dan sebagainya, sehingga pesan-
pesan kesehatan dirancang sedemikian rupa agar dapat ditangkap oleh massa tersebut.
Metode ini bertujuan untuk mengguagah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi.
Metode ini biasanya bersifat tidak langsung.
a) Ceramah umum (public speaking)
b) Pidato/diskusi
c) Simulasi
d) Menggunakan media televise
e) Menggunakan media surat kabar
f) Bill board
Metode berdasarkan Indera Penerima. Metode melihat/memperhatikan. Dalam hal ini pesan
diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan
Gambar/Photo, Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film
a. Metode pendengaran. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera pendengar,
umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll
b. Metode kombinasi. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dicium,
diraba dan dicoba).

3. Kelebihan dan Kekurangan Masing-masing Metode


a. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah adalah suatu hubungan langsung antara penyuluh dengan
masyarakat sasaran dan keluarganya di rumah ataupun ditempat biasa mereka
berkumpul. Biasanya kegiatan ini disebut anjang sono, anjang karya, dan sebagainya.
Cara melakukannya dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut :
1) Ada maksud dan tujuan tertentu
2) Tepat waktunya dan tidak membuang-buang waktu
3) Rencanakan beberapa kunjungan berurutan untuk menghemat waktu
4) Kunjungi pula sasaran yang jauh dan terpencil
5) Metode ini untuk memperkuat metode-metode lainnya atau bila metode-metode
lainnya tidak mungkin.
Selama berkunjung harus diingat hal-hal seperti :
1) Membicarakan soal-soal yang menarik perhatian
2) Biarkan keluarga sasaran berbicara sebanyak-banyaknya dan jangan memotong
pembicaraannya
3) Bicara bila keluarga sasaran itu ingin mendengarkannya
4) Bicara dalam gaya yang menarik sasaran
5) Pergunakan bahasa umum yang mudah, bicara pelan-pelan dan suasana
menyenangkan
6) Harus sungguh-sungguh dalam pernyataan
7) Jangan memperpanjang mempersilat lidah
8) Biarkan keluarga sasaran merasa sebagai pemrakarsa gagasan yang baik
9) Harus jujur dalam mengajar maupun belajar
10) Meninggalkan keluarga sasaran sebagai kawan
11) Catat tanggal kunjungan, tujuan, hasil dan janji
12) Membawa surat selebaran, brosur, dsb untuk diberikan kepada keluarga sasaran. Ini
akan menjalin persahabatan.
Keuntungan metode ini :
1) Mendapat keterangan langsung perihal masalah-masalah kesehatan
2) Membina persahabatan
3) Tumbuhnya kepercayaan pada penyuluh bila anjuran-anjurannya diterima
4) Menemukan tokoh-tokoh masyarakat yang lebih baik
5) Rintangan-rintangan antara penyuluh dengan keluarga sasaran menjadi kurang
6) Mencapai juga petani yang terpencil, yang terlewat oleh metode lainnya
7) Tingkat pengadopsian terhadap perilaku kesehatan yang baru lebih tinggi
Kerugian:
1) Jumlah kunjungan yang mungkin dilakukan adalah terbatas
2) Kunjungan-kunjungan yang cocok bagi keluarga sasaran dan penyuluh adalah
terbatas sekali
3) Kunjungan yang terlalu sering pada satu keluarga sasaran akan menimbulkan
prasangka pada keluarga lainnya
b. Pertemuan Umum
Pertemuan umum adalah suatu pertemuan dengan peserta campuran dimana disampaikan
beberapa informasi tertentu tentang kesehatan untuk dilaksanakan oleh masyarakat
sasaran.
Cara melakukannya dengan perencanaan dan persiapan yang baik, seperti:
1) Rundingkan dahulu dengan orang-orang yang terkait
2) Konsultasi dengan tokoh-tokoh setempat dan buatlah agenda acara sementara
3) Jaminan kedatangan para nara sumber lainnya (bila diperlukan)
4) Usahakan ikut sertanya semua golongan di tempat itu.
Hal-hal perlu diperhatikan :
1) Rapat diselenggarakan ditempat yang letaknya strategis, dengan penerangan dan
udara yang segar
2) Waktu yang dipilh adalah waktu luang masyarakat
3) Pada siang hari, bila tempat-tempat tinggal orang berjauhan
4) Tepat memulai dan mengakhiri pertemuan
5) Perhatikan ditujukan kepada tujuan pertemuan dengan memberikan kesempatan
untuk berdiskusi. Hindari pertengkaran pendapat
6) Anjuran mempergunakan alat-alat peraga
7) Usaha-usaha menarik perhatian, menggugah hai dan mendorong kegiatan
8) Memberikan penghargaan kepada semua golongan yang hadir
9) Libatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat
10) Usahakan kegiatan lanjutan (bila ada)
11) Berikan selembaran-selembaran yang sesuai dengan materi yang didiskusikan.
Keuntungan metode ini:
1) Banyak orang yang dicapai
2) Menjadi tahap persiapan untuk metode lainnya
3) Perkenalan pribadi dapat ditingkatkan
4) Segala macam topik/judul dapat diajukan
5) Adopsi suatu anjuran secara murah/sedikit biaya
Kerugian metode ini:
1) Tempat dan sarana pertemuan tidak selalu cukup
2) Waktu untuk diskusi biasanya terbatas sekali
3) Pembahasan topik sedikit lebih sulit karena peserta yang hadir adalah campuran
4) Kejadian-kejadian di luar kekuasaan seperti cuaca buruk, dsb dapat mengurangi
jumlah kehadiran
c. Diskusi
Diskusi adalah untuk kelompok yang lebih kecil atau lebih sedikit pesertanya yaitu
berkisar 12-15 orang saja. Harus ada partisipasi yang baik dari peserta yang hadir.
Biasanya dipergunakan untuk menjelasan suatu informasi yang lebih rinci dan mendetail
serta pertukaran pendapat mengenai perubahan perilaku kesehatan. Keberhasilan
pertemuan FGD banyak tergantung dari petugas penyuluh untuk :
1) Memperkenalkan soal yang dapat perhatian para peserta
2) Memelihara perhatian yang terus menerus dari para peserta
3) Memberi kesempatan kepada semua orang untuk mengemukakan pendapatnya dan
menghindari dominasi beberapa orang saja
4) Membuat kesimpulan pembicaraan-pembicaraan dan menyusun saran-saran yang
diajukan
5) Berikan bahan-bahan informasi yang cukup agar peserta sampai pada
kesimpulan yang tepat.
d. Demonstrasi
Demontrasi adalah memperlihatkan secara singkat kepada suatu kelompok bagaimana
melakukan suatu perilaku kesehatan baru. Metode ini lebih menekankan pada bagaimana
cara melakukannya suatu perilaku kesehatan. Kegiatan ini bukan lah suatu percobaan
atau pengujian, tetapi sebuah usaha pendidikan. Tujuannya adalah untuk meyakinkan
peserta bahwa sesuatu perilaku kesehatan tertentu yang dianjurkan itu adalah berguna
dan praktis sekali bagi masyarakat. Demonstrasi ini mengajarkan suatu ketrampilan yang
baru. Cara melakukannya dengan segala perencanaan dan persiapan yang diperlukan,
seperti :
1) Datang jauh sebelum kegiatan di mulai untuk memeriksa peralatan dan bahan yang
diperlukan
2) Mengatur tempat sebaik mungkin, sehingga semua peserta dapat melihatnya dan
ikut dalam diskusi
3) Demonstrasi dilakukan tahap demi tahap sambil membangkitkan keinginan peserta
untuk bertanya
4) Berikan kesempatan pada wakil peserta untuk mencoba ketrampilan perilaku yang
baru.
5) Berikan selebaran yang cepat (brosur, dll) yang bersangkutan dengan demostrasi
itu
Anjuran :
1) Pilihlah topik yang berdasarkan keperluan masyarakat
2) Demonstrasi dilakukan tepat masanya
3) Pengumuman yang luas sebelum waktunya untuk menarik banyak perhatian dan
peserta
4) Pergunakan alat-alat yang mudah di dapat orang
5) Hilangkan keraguan-raguan, tetapi hindarikan pertengkaran mulut
6) Hargai cara-cara yang biasa dilakukan masyarakat
Kelebihan / keuntungan metode ini :
1) Cara mengajar ketramilan yang efekif
2) Merangsasang kegiatan
3) Menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri.
Kekurangan / keterbatasannya :
a. Memerlukan banyak persiapan, peralatan dan ketrampilan
b. Merugikan bila demonstrasi dilaksanakan dengan kualitas yang buruk

Pendidikan Kesehatan Pada Orang Dewasa


Knowles (1984) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang
berbeda dengan pedagogi. Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang bermula dari
konsep diri dan ketergantungan total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. Secara singkat
dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa
konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa
membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri.
Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing
maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak. Asumsi kedua, sebagaimana individu
tumbuh matang akan banyak pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi
sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas
untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh sebab itu dalam teknologi andragogi terjadi penurunan
penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih
mengembangkan teknik pengalaman (experimental technique). Maka penggunaan teknik
diskusi, kerja laboratorium, simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai.
Asumsi ketiga, pendidikan secara langsung atau tidak langsung, secara implisit atau
eksplisit, pasti memainkan peran besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk
memperjuangkan eksistensinya di tengah masyarakat. Karena itu, kampus dan pendidikan
menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah
masyarakat. Sejalan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang, maka
kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan
biologisnya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk
melakukan peranan sosialnya. Dengan kata lain, orang dewasa belajar sesuatu karena
membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah
sebagai perawat, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka
bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk
melaksanakan tugas peran sosialnya. Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-
olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya. Secara umum prinsip-
prinsip pembelajaran untuk orang dewasa dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam
kegiatan- kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan
ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang
belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk
memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam
waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh berbagai pengalaman lalu dan daya pikir dari peserta didik
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa
membantu pencapaian tujuan dalam belajar.

Kondisi Pembelajaran Orang Dewasa


Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif jika pengajar tidak
terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara, namun mengupayakan agar
individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan
kepribadian mereka. Pengajar yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan dan
menerima gagasan seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan
mereka. Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang
mampu menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya ini
diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut.
Di samping itu orang dewasa dapat dikondisikan lebih aktif apabila mereka merasa ikut
dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan memberi
sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga
diri di depan sesama temannya. Artinya, orang dewasa akan belajar lebih baik apabila
pendapat pribadinya dihormati dan akan lebih senang kalau ia bisa memberikan pemikiran
dan mengemukakan ide pikirannya, daripada pengajar hanya memberikan teori dan
gagasannya sendiri kepada mereka. Oleh karena sifat belajar bagi orang dewasa bersifat
subyektif dan unik, maka terlepas dari benar atau salah, ungkapan pendapat, perasaan,
pikiran, gagasan, teori, sistem ataupun nilai yang dianut perlu dihargai. Tidak menghargai
mereka hanya akan mematikan motivasi belajar orang dewasa. Namun demikian
pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pengajarnya dan pada
akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada diri sendiri. Tanpa kepercayaan diri
tersebut maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud.
Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang
berbeda pula. Dengan terciptanya suasana belajar yang baik, mereka akan dapat
mengemukakan ide dan pikirannya tanpa rasa takut dan cemas walaupun mereka saling
berbeda pendapat.
Orang dewasa setidaknya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar
yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa dirinya
terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan, ditertawakan, cemoohan dll).
Keterbukaan seorang pengajar sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam
mengembangkan potensi pribadinya di kelas atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan
untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan gagasan akan berdampak baik
bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu harus dihindari segala bentuk
tindakan yang akan membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan.
Jalan terbaik hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga
berbagai alternatif kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.
Tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui
sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama
dengan pribadi orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam
pribadi sebab akan sangat membosankan jika terdapat suasana yang seakan hanya mengakui
satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu
latar belakang pendidikan, latar belakang kebudayaan dan pengalaman masa lampau
masing-masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang
diambil. Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu
fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat
berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh.
Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun kesalahan,
dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dalam proses
belajar.
Pada akhirnya orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi
orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya.
Dengan demikian diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok
dirasakannya berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat mengevaluasi
dirinya dan orang lain yang bisa saja memiliki perbedaan persepsi.

Pengaruh Penurunan Faktor Fisik dalam Pembelajaran Orang Dewasa


Proses belajar manusia berlangsung hingga akhir hayat (long life education). Namun
ada korelasi negatif antara pertambahan usia dengan kemampuan belajar orang dewasa,
artinya setiap individu orang dewasa, makin bertambah usianya akan semakin sukar baginya
belajar (aspek kemampuan fisiknya semakin menurun). Beberapa faktor yang secara
psikologis dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam suatu program pendidikan
diantaranya:
1. Tajam penglihatan yang mulai menurun,
2. Diperlukan penerangan yang bagus dan mencukupi,
3. Perlu digunakan warna-warna cerah yang kontras untuk alat-alat peraga,
4. Kemampuan pendengaran berkurang,
5. Kemampuan membedakan bunyi makin berkurang dengan bertambahnya usia. Dengan
demikian bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkap.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang dewasa dalam situasi belajar
sehingga perlu diperhatikan hal-hal tersebut di bawah ini:
1. Terciptanya proses belajar adalah suatu proses pengalaman yang hendak diwujudkan
oleh orang dewasa. Oleh sebab itu kita berkewajiban memotivasi/mendorong orang
dewasa untuk belajar pengetahuan yang lebih tinggi.
2. Setiap individu dewasa dapat belajar secara efektif bila individu tersebut mampu
menemukan makna pribadi bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu
berhubungan dengan keperluan pribadinya.
3. Kadangkala proses pembelajaran orang dewasa kurang kondusif, hal ini dikarenakan
belajar hanya diorientasikan terhadap perubahan tingkah laku, sedang perubahan perilaku
saja tidak cukup kalau perubahan itu tidak mampu menghargai budaya bangsa yang luhur
di samping metode berpikir tradisional yang sukar diubah.
4. Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal unik dan khusus serta bersifat
individual. Setiap individu dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri untuk mempelajari
dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran tersebut.
Dengan adanya peluang untuk mengamati kiat dan strategi individu lain dalam belajar
diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan gaya belajar yang efektif.
5. Faktor pengalaman masa lampau sangat berpengaruh pada setiap tindakan yang
akan dilakukan sehingga pengalaman yang baik perlu digali dan ditumbuhkembangkan ke
arah yang lebih bermanfaat.
6. Pengembangan intelektualitas seseorang melalui suatu proses pengalaman secara
bertahap dapat dikembangkan. Optimalisasi hasil belajar dapat dicapai apabila setiap
individu dapat memperluas pola pikirnya.
Di satu sisi belajar dapat diartikan sebagai suatu proses evolusi, artinya penerimaan
ilmu tidak dapat dipaksakan sekaligus begitu saja, tetapi dapat dilakukan secara bertahap
melalui suatu urutan proses tertentu. Dalam kegiatan pendidikan, umumnya pendidik
merencanakan materi pengetahuan dan ketrampilan yang akan diberikan jauh hari
sebelumnya. Mereka mengatur materi ke dalam unit-unit, kemudian memilih alat yang paling
efisien untuk menyampaikan unit-unit dan materi tersebut, misalnya ceramah, membaca,
laboratorium, audio- video dan lain-lain. Selanjutnya mengembangkan suatu rencana untuk
menyampaikan unit-unit isi ini dalam suatu bentuk urutan. Dalam andragogi, pendidik atau
fasilitator mempersiapkan dengan matang satu perangkat prosedur untuk melibatkan siswa,
selanjutnya dalam prosesnya melibatkan elemen-elemen sebagai berikut: (a) menciptakan
iklim yang mendukung belajar, (b) menciptakan mekanisme untuk perencanaan bersama,
(c) diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar, (d) merumuskan tujuan-tujuan program yang
memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar, (e) merencanakan pola pengalaman belajar, (f)
melakukan pengalaman belajar ini dengan teknik teknik dan materi yang memadai, dan (g)
mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar (Dryden
at all., 1994).

Metode Pendidikan Orang Dewasa


Dalam pembelajaran orang dewasa banyak metode yang diterapkan. Untuk keberhasilan
pembelajaran semacam ini, apapun metode yang diterapkan seharusnya mempertimbangkan
faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran, yakni
agar peserta dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang bermutu. Merupakan suatu
kekeliruan besar bilamana dalam hal ini, pembimbing secara kurang wajar menetapkan
pemanfaatan metode hanya karena faktor pertimbangannya sendiri yakni menggunakan metode
yang dianggapnya paling mudah, atau hanya disebabkan oleh keinginannya agar dikagumi oleh
peserta di kelas itu ataupun mungkin ada kecenderungan hanya menguasai satu metode tertentu
saja (Supriadi, 2006). Penetapan pemilihan metode seharusnya mempertimbangkan aspek
tujuan yang ingin dicapai, yang dalam hal ini mengacu pada garis besar program pengajaran
yang dibagi dalam dua jenis:
1. Rancangan proses untuk mendorong orang dewasa mampu menata dan mengisi
pengalaman baru dengan berpedoman pada masa lampau yang pernah dialami, misalnya
dengan latihan keterampilan, melalui tanya jawab, wawancara, konsultasi, latihan
kepekaan, dan lain-lain, sehingga mampu memberi wawasan baru pada masing-masing
individu untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahuinya.
2. Proses pembelajaran yang dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer pengetahuan
baru, pengalaman baru, keterampilan baru, untuk mendorong masing-masing individu
dewasa dapat meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkannya, apa
yang menjadi kebutuhannya, ketrampilan yang diperlukan, misalnya belajar
menggunakan program komputer yang dibutuhkan di tempat ia bekerja.
Baik metode pembelajaran kuliah, seminar/diskusi/presentasi, praktikum/studi lapangan,
computer aided learning dan belajar mandiri hasilnya akan kurang optimal jika tidak
berfokus pada kompetensi yang akan dicapai oleh peserta didik. Unsur-unsur lain yang perlu
diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran adalah sarana/prasarana, bahan kajian atau
materi ajar serta tingkat kemampuan mahasiswa. Terdapat beragam model pembelajaran
dengan pendekatan student centre learning yang bisa diaplikasikan diantaranya :
1. Small Group Discussion
2. Role-Play & Simulation
3. Case Study
4. Discovery Learning (DL)
5. Self-Directed Learning (SDL)
6. Cooperative Learning (CL)
7. Collaborative Learning (CbL)
8. Contextual Instruction (CI)
9. Project Based Learning (PjBL)
10. Problem Based Learning and Inquiry (PBL)

Supaya dapat memberikan pengajaran yang optimal maka kita perlu memahami karakter
dari peserta didik dewasa yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
2. Orang dewasa lebih suka menerima saran dari pada digurui
3. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan
menjadi kebutuhannya
4. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
5. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecenderungan
untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
6. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
7. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
8. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk
akal
9. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena
itu ia lebih cenderung tidak mau tergantung dengan orang lain
11. Orang dewasa menyukai hal-hal yang praktis
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalin
hubungan dekat dengan teman baru.
Keberhasilan andragogi juga ditentukan oleh kemampuan pengajar dalam menciptakan
suasana kelas yang kondusif. Keyakinan pengajar akan potensi manusia dan kemampuan
semua peserta didik untuk belajar dan berprestasi merupakan hal penting yang perlu
diperhatikan. Pengajar harus memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan
terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya. Secara umum karakteristik pengajar
orang dewasa diantaranya:
1. Menjadi bagian dari kelompok yang diajar
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk
kerjanya
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa
di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang
10. Menyadari bahwa "perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar"
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi positif dan negatif.
Media Promosi Kesehatan
Pengertian
Kata media berasal dari bahasa latin “medius” yang berarti tengah, perantara, atau
pengantar. Secara harfiah dalam bahasa Arab, media berarti perantara atau pengantar pesan
dari pengirim ke penerima pesan. Media adalah alat yang digunakan oleh pendidik dalam
menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran ( Herry D.J. Maulana). Media promosi
kesehatan adalah alat yang dipakai untuk mengirimkan pesan kesehatan (Ferry Efendy &
Makhfudli). Media pendidikan kesehatan disebut juga alat peraga karena berfungsi membantu
dan memeragakan sesuatu dalam proses pendidikan atau pengajaran.Pembuatan alat peraga
atau media mempunyai prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima dan
ditangkap melalui pancaindra. Semakin banyak pancaindra yang digunakan maka semakin
jelas juga pengetahuan yang didapatkan. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan alat peraga
dapat melibatkan indra sebanyak mungkin pada suatu objek sehingga dapat memudahkan
pemahaman bagi peserta didik.
Alat peraga atau media mempunyai intensitas yang berbeda dalam membantu
pemahaman seseorang.Elgar menggambarkan intensitas setiap alat peraga dalam suatu kerucut.
Berdasarkan gambar alat peraga yang memiliki intensitas paling tinggi adalah benda asli
sedangkan yang memiliki intensitas paling rendah adalah kata-kata. Hal ini berarti bahwa
penyampaian materi hanya menggunakan kata-kata saja kurang efektif jadi akan leih efektif
dan efisien jika menggunakan beberapa alat peraga atau gabungan beberapa media.
Pemilihan media promosi kesehatan ditentukan oleh banyaknya sasaran, keadaan
geografis, karakteristik partisipan, dan sumber daya pendukung.Contohnya didaerah terpencil
yang hanya dapat dicapai dengan peswat terbang khususdan pendidikan kesehatan yang
diinginkan adalah yang mencapai sebanyak mungkin sasaran, maka media yang dapat dipilih
adalah flyer atau media elektronik jika sumber dayanya memungkinkan.

2. Manfaat Media
Secara terperinci, faedah alat peraga antara lain adalah sebagai berikut.
a. Menimbulkan minat sasaran pendidikan
b. Mencapai sasaran yang lebih banyak
c. Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
d. Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang
lain
e. Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku
pendidikan
f. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan. Seperti diuraikan diatas
bahwa pengetahuan yang ada pada seseorang diterima melalui indra. Menurut penelitian
para ahli, indra yang paling banyak menyalurkan pengetahuanke dalam otak adalah mata.
Kurang lebih 75% sampai 87% dari pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui
mata. Sedangkan 13% samapi 25% lainnyatersalur melalui indra lain. Dari sini dapat
disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan
informasi atau bahan pendidikan.
g. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya
mendapatkan pengertian yang lebih baik. Orng yang melihat sesuatu yang memang
diperlukan tentu akan menarik perhatiaanya, dan apa yang dilihat dengan penuh perhatian
akan memberikan pengertian baru baginya, yang merupakan pendorong untuk
melakukan/memakai sesuatu yang baru tersebut.
h. Membantu menegakan pengertian yang diperoleh. Didalam menerima sesuatu yang baru,
manusia mempunyai kecenderungan untuk melupakan atau lupa terhadap pengertian yang
telah diterima. Untuk mengatasi hal ini alat bantu akan membantu menegakan pengetahuan-
pengetahuan yang telah diterima sehingga apa yang diterima akan lebih lama tersimpan
didalam ingatan.
Ada banyak manfaat dari media atau alat peraga yaitu sebagai berikut:
a. Menimbulkan minat sasaran
b. Mencapai sasaran yang lebih banyak
c. Membantu mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
d. Merangsang sasaran untuk meneruskan pesan pada orang lain
e. Memudahkan penyampaian informasi
f. Memudahkan penerimaan informasi oleh sasaran
g. Menurut penelitian 75-87% pengetahuan manusia diperoleh atau disalurkan melalui mata,
13-25% lainnya disalurkan melalui pancaindra lainnya. Oleh karena itu, dalam aplikasi
pembuatan media disarankan lebih banyak menggunakan alat-alat visual karena akan
mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi oleh masyarakat.
h. Mendorong keinginan untuk mengetahui, mendalami dan mendapat pengertian yang lebih
baik.
i. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh, yaitu menegakkan pengetahuan yang
telah diterima sehingga apa yang diterima lebih lama tersimpan dalam ingatan.

3. Jenis-jenis Alat Peraga


Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartika sebagai alat bantu
promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk
memperlancar komunikasi dan oenyebarluasan informasi. Media promosi kesehatan adalah
semua saranana atau upaya menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh
komunikator, baik melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga
pengetahuan sasaran dapat meningkat dan akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah positif
terhadap kesehatan (Soekidjo, 2005).
Alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan tulis dengan
foto dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi maupun
tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu alat peraga harus mudah dimengerti oleh
masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima
oleh sasaran. Alat peraga yang digunakan secara baik memberikan keuntungan-keuntungan,
antara lain :
1. Dapat menghindari kesalahan pengertian/pemahaman atau salah tafsir.
2. Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.
3. Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang mengesankan.
4. Dapat menarik serta memusatkan perhatian.
5. Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan.
a. Tujuan Media Promosi
1. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.
2. Media dapat menghindari kesalahan persepsi.
3. Media dapat memperjelas informasi.
4. Media dapat mempermudah pengertian.
5. Media dapat mengurangi komunikasi yang verbalistis.
6. Media dapat menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap mata.
7. Media dapat memperlancar komunikasi.
b. Langkah-Langkah Penetapan Media
Langkah-langkah dalam merancang pengembangan media promosi kesehatan adalah
sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan
Tujuan harus relaistis, jelas, dan dapat diukur (apa yang diukur, siapa sasaran yang akan
diukur, seberapa banyak perubahan akan diukur, berapa lama dan dimana pengukuran
dilakukan). Penetapan tujuan merupakan dasar untuk merancang media promosi dan
merancang evaluasi.
3. Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan
dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan. Tujuannya antara lain
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, memberikan kepuasan pada masing-
masing segmen, menentukan ketersediaan jumlah dan jangkauan produk, serta
menghitung jenis dan penempatan media.
4. Memposisikan pesan (positioning)
Memposisikan pesan adalah proses atau upaya menempatkan suatu prosuk perusahaan,
individu atau apa saja ke dalam alam pikiran sasaran atau konsumennya. Positioning
membentuk citra.
5. Menentukan strategi positioning
Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen, menentukan posisi pesaing,
menganalisis preferensi khalayak sasaran, menetukan posisi merek produk sendiri, serta
mengikuti perkembangan posisi.
6. Memilih media promosi kesehatan
Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran. Media yang dipilih harus
memberikan dampak yang luas. Setiap media akan memberikan peranan yang berbeda.
Penggunaan beberapa media secara seremoak dan terpadu akan meningkatkan cakupan,
frekuensi, dan efektivitas pesan.

c. Penggolongan Media Kesehatan


Media dapat digolongkan menjadi dua, berdasarkan bentuk umum penggunaan dan
berdasarkan cara produksi.
1. Berdasarkan bentuk umum penggunaan.
a. Bahan bacaan : modul, buku rujukan/bacaan, leaflet majalah, buletin, tabloid, dan
lain-lain.
b. Bahan peragaan : poster tunggal, poster seri, flip chart, transparansi, slide, film,
dan lain-lain.
2. Berdasarkan cara produksi
a. Media cetak.
Media cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Pada
umumnya terdiri atas gambaran sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata
warna. Contohnya poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik,
stiker, dan pamflet. Fungsi utamanya adalah memberi informasi dan menghibur.
Kelebihan yang dimiliki media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak
orang, biaya tidak terlalu tinggi, tidak perlu energi listrik, dapat dibawa,
mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar. Kelemahannya
tidak dapat menstimulasi efek suara dan efek gerak serta mudah terlipat.
b. Media elektronik.
Media elektronik aitu suatu media bergerak, dinamis, dapat dilihat, didengar, dan
dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Contohnya
televisi, radio, film, kaset, CD, VCD, DVD, slide show, CD interaktif, dan lain-
lain. Kelebihan media elektronik antara lain sudah dikenal masyarakat,
melibatkan semua pancaindra, lebih mudah dipahami, lebih menarik karena ada
suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, janagkauan
relatif lebih besar/luas, serta dapat diulang-ulang jika digunakan sebagai alat
diskusi. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, memerlukan energi
listrik, diperlukan alat canggih dalam proses produksi, perlu persiapan matang,
peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan,
dan perlu keterampilan dalam pengoprasian
c. Media luar ruang
Media luar ruang yaitu suatu media yang penyampaian pesannya di luar ruang
secara umum melalui media cetak dan elektronik secara statis. Contohnya papan
reklame, spanduk, pameran, banner, TV layar lebar, dan lain-lain. Kelebihan
media luar ruang diantaranya sebagai informasi umum dan hiburan, melibatkan
semua pancaindra, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap
muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih luas. Kelemahannya
yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, ada yang memerlukan listrik atau alat
canggih, perlu kesiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang dan
berubah, perlu keterampilan penyimpanan.

d. Jenis/Macam Media
Alat-alat peraga dapat dibagi dalam empat kelompok besar :
1. Benda asli.
Benda asli adalah benda yang sesungguhnya, baik hidup maupun mati. Jenis ini merupakan
alat peraga yang paling baik karena mudah dan cepat dikenal serta mempunyai bentuk atau
ukuran yang tepat. Kelemahan alat peraga ini tidak selalu mudah dibawa kemana-mana
sebagai alat bantu mengajar. Termasuk dalam alat peraga, antara lain benda sesungguhnya
(tinja dikebun, lalat di atas tinja, dan lain-lain), spesimen (benda yang telah diawetkan
seperti cacing dalam botol pengawet, dan lain-lain), sampel (contoh benda sesungguhnya
untuk diperdagangkan seperti oralit, dan lain-lain).
2. Benda tiruan
Benda tiruan memiliki ukuran yang berbeda dengan benda sesungguhnya. Benda tiruan
bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam promosi kesehatan karena benda asli
mungkin digunakan (misal, ukuran benda asli yang terlalu besar, terlalu berat, dan lain-
lain). Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam-macam bahan seperti tanah, kayu, semen,
plastik, dan lain-lain.
3. Gambar atau media grafis
Grafis secara umum diartikan sebagai gambar. Media grafis adalah penyajian visual
(menekankan persepsi indra penglihatan) dengan penyajian dua dimensi. Media grafis
tidak termasuk media elektronik. Termasuk dalam media grafis antara lain, poster, leaflet,
reklame, billboard, spanduk, gambar karikatur, lukisan, dan lain-lain.

e. Pesan Dalam Media


Pesan adalah terjemahan dari tujuan komunikasi ke dalam ungkapan atau kata yang sesuai
untuk sasaran. Pesan dalam suatu media harus efektif dan kreatif. Oleh karena itu, pesan
harus memenuhi hal-hal sebagai berikut :
1. Memfokuskan perhatian pada pesan (command attention)
Ide atau pesan pokok yang merefleksikan strategi desain suatu pesan dikembangkan.
Bila terlalu banyak ide, hal tersebut akan membingungkan sasaran dan mereka akan
mudah melupakan pesan tersebut.
2. Mengklarifikasi pesan (clarify the message)
Pesan haruslah mudah, sederhana dan jelas. Pesan yang efektif harus memberikan
informasi yang relevan dan baru bagi sasaran. Kalau pesan dalam media diremehkan
oleh sasaran, secara otomatis pesan tersebut gagal.
3. Menciptakan kepercayaan (Create trust)
Pesan harus dapat dipercaya, tidak bohong, dan terjangkau. Misalnya, masyarakat
percaya cuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyakit diare dan untuk itu harus
dibarengi bahwa harga sabun terjangkau atau mudah didapat di dekat tempat
tinggalnya.
4. Mengkomunikasikan keuntungan (communicate a benefit)
Hasil pesan diharapkan akan memberikan keuntungan. Misalnya sasaran termotivasi
membuat jamban karena mereka akan memperoleh keuntungan dimana anaknya tidak
akan terkena penyakit diare.
5. Memastikan konsistensi (consistency)
Pesan harus konsisten, artinya bahwa makna pesan akan tetap sama walaupun
disampaikan melalui media yang berbeda secara berulang; misal di poster, stiker, dan
lain-lain.
6. Cater to heart and head
Pesan dalam suatu media harus bisa menyentuh akal dan rasa. Komunikasi yang
efektif tidak hanya sekadar memberi alasan teknis semata, tetapi juga harus
menyentuh nilai-nilai emosi dan membangkitkan kebutuhan nyata.
7. Call to action
Pesan dalam suatu media harus dapat mendorong sasaran untuk bertindak sesuatu bisa
dalam bentuk motivasi ke arah suatu tujuan. Contohnya, “Ayo, buang air besar di
jamban agar anak tetap sehat”.
f. Imbauan Dalam Pesan
Dalam media promosi, pesan dimaksudkan untuk memengaruhi orang lain atau
menghimbau sasaran agar mereka menerima dan melaksanakan gagasan kita.
1. Imbauan rasional
Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa manusia pada dasarnya makhluk rasional.
Contoh pesan : “Datanglah ke posyandu untuk imunisasi anak Anda. Imunisasi
melindungi anak dari penyakit berbahaya”. Para ibu mengerti isi pesan tersebut,
namun kadang tidak bertindak karena keraguan.
2. Imbauan emosional
Kebanyakan perilaku manusia, terutama kaum ibu, lebih berdasar pada emosi
daripada hasil pemikiran rasional. Beberapa hal menunjukan bahwa pesan dengan
menggunakan imbauan emosional lebih berhasil dibanding dengan imbauan dengan
bahasa rasional. Contoh : “Diare penyakit berbahaya, merupakan penyebab kematian
bayi. Cegahlah dengan stop BAB sembarangan”. Kombinasikan hubungan gagasan
dengan unsur visual dan nonverbal dalam poster, misalnya dengan gambar anak balita
sakit, kemudian tertera pesan, “Lindungi anak Anda”.
3. Imbauan ketakutan
Hati-hati menggunakan imbauan dengan pesan yang menimbulkan ketakutan. Pesan
ini akan efektif bila digunakan pada orang yang memiliki tingkat kecemasan tinggi.
Namun, sebagian orang yang mempunyai kepribadian kuat justru tidak takut dengan
imbauan semacam ini.
4. Imbauan ganjaran
Pesan dengan imbauan ganjaran dimaksudkan menjanjikan sesuatu yang diperlukan
dan dinginkan oleh si penerima pesan. Teknik semacam ini cukup masuk akal karena
pada kenyataannya orang akan lebih banyak mengubah perilakunya bila akan
memperoleh imbalan (terutama materi) yang cukup.
5. Imbauan motivasional
Pesan ini dengan menggunakan bahasa imbauan motivasi yang menyebtuh sisi
internal penerima pesan. Manusia dapat digerakan lewat dorongan kebutuhan biologis
seperti lapar, haus, keselamatan, tetapi juga lewat dorongan psikologis seperti kasih
sayang, keagamaan, prestasi, dan lain-lain.

g. Beberapa Media Grafis


Media grafis adalah penyajian visual dua dimensi yang dibuat berdasarkan unsur dan
prinsip rancangan gambar dan sangat bermanfaat. Media grafis sangat efektif sebagai
media penyampaian pesan.
a. Poster
Poster adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambar-gambar dengan sedikit
kata-kata. Poster merupakan pesan singkat dalam bentuk gambar dnegan tujuan
memengaruhi seseorang agar tertarik atau bertindakan pada sesuatu. Makna kata-kata
dalam poster harus jelas dan tepat serta dapat dengan mudah dibaca pada jarak kurang
lebih enam meter. Poster biasanya ditempelkan pada suatu tempat yang mudah dilihat
dan banyak dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir jalan, papan
pengumuman, dan lain-lain. Gambar dalam poster dapat berupa lukisan, ilustrasi,
kartun, gambar atau foto.
Poster terutama dibuat untuk memengaruhi orang banyak dan memberikan pesan
singkat. Oleh karena itu, cara pembuatannya harus menarik, sederhana, dan hanya
berisikan satu ide atau satu kenyataan saja. Poster yang baik adalah poster yang
mempunyai daya tinggal lama dalam ingatan orang yang melihatnya serta dapat
mendorong untuk bertindak. Poster tidak dapat memberi pelajaran dengan sendirinya
karena keterbatasan kata-kata. Poster lebih cocok digunakan sebagai tindak lanjut dari
suatu pesan yang sudah disampaikan beberapa waktu yang lalu. Dengan demikian
poster bertujuan untuk mengingatkan kembali dan mengarahkan pembaca ke arah
tindakan tertentu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator.
Berdasarkan isi pesan, poster dapat disebut sebagai thematic poster, tactical poster,
dan practical poster. Thematic poster yaitu poster yang menerangkan apa dan
mengapa, tactical poster menjawab kapan dan dimana; sedangkan practical poster
menerangkan siapa, untuk siapa, apa, mengapa, dan dimana.
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan poster :
1. Dibuat dalam tata letak yang menarik, misal besarnya huruf, gambar, dan warna
yang mencolok.
2. Dapat dibaca (eye cather) orang yang lewat.
3. Kata-kata tidak lebih dari tujuh kata.
4. Mengunakan kata yang provokatif, sehingga menarik perhatian.
5. Dapat dibaca dibaca dari jarak enam meter.
6. Harus dapat menggugah emosi, misal dengan menggunakan faktor ini, bangga,
dan lain-lain.
7. Ukuran yang besar: 50 x 70 cm, kecil : 35 x 50 cm.
Dimana tempat pemasangan poster :
1. Poster biasanya dipasang ditempat-tempat umum dimana orang sering
berkumpul, seperti halte bus, dekat pasar, dekat toko/warung.
2. Persimpangan jalan desa, kantor kelurahan, balai desa, posyandu, dan lain-lain.
Kegunaan poster :
a. Memberikan peringatan, misalnya tentang selalu mencuci tangan dnegan sabun
setelah buang air besar dan sebelum makan.
b. Memebrikan informasi, misalnya tentang pengolahan air dirumah tangga.
c. Memberikan anjuran, misalnya pentingnya mencuci makanan mentah dan buah-
buahan dengan air bersih sebelum makan.
d. Mengingatkan kembali, misalnya cara mencuci tangan yang benar.
e. Memberikan informasi tentang dampak, misalnya informasi tentang dampak
buang air besar (BAB) dijamban.
Keuntungan poster :
1. Mudah dibuat.
2. Singkat waktu dalam pembuatannya.
3. Murah.
4. Dapat menjangkau orang banyak.
5. Mudah menggugah orang banyak untuk berpartisipasi.
6. Bisa dibawa kemana-mana.
7. Banyak variasi.
Cara pembuatan poster :
a. Pilih subjek yang kan dijadikan topik, misal kesehatan lingkungan, sanitasi, PHBS,
dan lain-lain.
b. Pilih satu pesan kesehatan yang terkait, misal keluarga yang menggunakan jamban
untuk BAB.
c. Gambarkan pesan tersebut dalam gambar.
d. Pesan dibuat menyolok, singkat, cukup besar, dan dapat dilihat pada jarak enam
meter, misalnya “Stop buang air besar sembarangan !”.
e. Buat dalam warna yang kontras sehingga jelas terbaca, misal kombinasi warna
merah yang tidak bertabrakan yaitu biru tua-merah, hitam-kuning, merak kuning,
biru tua-biru muda.
f. Hindarkan tambahan-tambahan yang tidak perlu ditulis.
g. Gambar dapat sederhana.
h. Perhatikan jarak huruf, bentuk dan ukuran.
i. Tes/uji poster pada teman, apakah poster sudah bisa memcapai maksudnya atau
tidak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain poster. Poster secara umum terdiri
atas beberapa bagian, yaitu :
1. Judul (head line)
2. Subjudul (sub head line)
3. Body copy/copy writing, dan
4. Logo dan indentitas.
Judul harus dapat dibaca jeas dari jarak enam meter, mudah dimengerti, mudah diingat.
Subjudul harus menjelaskan, melengkapi, dan menerangkan judul secara singkat. Poster
juga memerlukan adanya ilustrasi. Ilustrasi ini harus atraktif berhubungan erat dengan
judul dan terpadu dengan penampilan secara keseluruhan. Warna merupakan salah satu
unsur grafis. Pengertian warna bisa meliputi warna simbolik atau rasa kejiwaan. Warna
dapat dibagi menjadi tiga kelompok menurut jenisnya, yaitu warna primer (merah,
kuning, biru), warna sekunder (hijau, kuning, lembayung), dan warna tersier (cokelat
kemerahan, cokelat kekuningan, cokelat kebiruan). Warna sebagai simbol mempunyai
arti tersendiri. Misalnya, merah berarti berani, putih berarti suci, kuning berarti
kebesaran, hitam berarti abadi, hijau berarti harapan, dan merah muda berarti cemburu.
Mengenal rasa warna dapat diartikan sebagai berikut merah adalah warna panas, biru
adalah warna dingin, dan hijau adalah warna sejuk.
b. Leaflet
Leaflet adalah selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat
singkat, padat, mudah dimengerti, dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet atau
sering juga disebut pamflet merupakan selembar kertas yang berisi tulisan cetak tentang
suatu masalah khusus untuk sasaran dan tujuan tertentu. Ukuran leaflet biasanya 20 x
30 cm yang berisi tulisan 200 – 400 kata. Ada beberapa leaflet yang disajikan secara
berlipat.
Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat tentang suatu masalah,
misalnya deskripsi pengolahan air ditingkat rumah tangga, deskripsi tentang diare serta
pencegahannya, dan lain-lain. Isis harus bisa ditangkap dnegan sekali baca. Leaflet dpat
diberikan atau disebarkan pada saat pertemuan-pertemuan dilakukan seperti pertemuan
Focus Group Discussion (FGD), pertemuan posyandu, kunjungan rumah, dan lain-lain.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat leaflet :
1. Tentukan kelompok sasaran yang ingin dicapai.
2. Tuliskan apa tujuannya.
3. Tentukan isi singkat hal-hal yang mau ditulis dalam leaflet.
4. Kumpulan tentang subje yang kaan disampaikan.
5. Buat garis-garis besar cara penyajian pesan, termasuk didalamnya bagaimana
bentuk tulisan gambar serta tata letaknya.
6. Buatkan konsepnya. Konsep dites terlebih dahulu pada kelompok sasaran yang
hampir sama dengan kelompok sasaran, perbaiki konsep, dan buat ilistrasi yang
sesuai dengan isi.
Kegunaan leaflet :
1. Mengingat kembali tentang hal-hal yang telah diajarkan atau dikomunikasikan.
2. Diberika sewaktu kampanye untuk memperkuat ide yang telah disampaikan.
3. Untuk memperkenalkan ide-ide baru kepa orang banyak.
Keuntungan leaflet :
1. Dapat disimpan lama
2. Sebagai referensi
3. Jangkauan dapat jauh
4. Membantu media lain
5. Isi dapat dicetak kembali dan dapat sebagai bahan diskusi
c. Papan Pengumuman
Papan pengumuman biasanya dibuat dari papan dengan ukuran 90 x 120 cm, biasa
dipasang di dinding atau ditempat tertentu seperti balai desa, posyandu, masjid,
puskesmas, sekolah, dan lain-lain. Pada papan tersebut gambar-gambar atau tulisan-
tulisan dari suatu topik tertentu.
Cara menggunakan papan pengumuman :
1. Tentukan jangka waktu pemasangan sehingga tidak membosankan, misal 1-2
minggu.
2. Gunakan pada peristiwa-peristiwa tertentu saja, misal pada waktu pertemuan besar
atau hari libur.
3. Cari sumber untuk melengkapi tampilan, misal dari perpustakaan, kantor humas, dan
lain-lain.
Keuntungan papan pengumuman :
1. Dapat dikerjakan dengan mudah.
2. Merangsang perhatian orang.
3. Menghemat waktu dan membiarkan pembaca untuk belajar masalah yang ada.
4. Merangsang partisipasi.
5. Sebagai review atau pengingat terhadap bahan yang pernah diajarkan.
d. Gambar Optik
Gambar optik mencakup foto, slide, film, dan lain-lain.
a) Foto
Foto sebagai bahan untuk alat peraga digunakan dalam bentuk album ataupun
dokumentasi lepasan. Album merupakan foto-foto yang isinya berurutan,
menggambarkan suatu cerita, kegiatan, dan lain-lain. Album ini bisa dibawa dan
ditunjukkan kepada masyarakat sesuai dengan topik yang sedang didiskusikan.
Misalnya album foto yang berisi kegiatan-kegiatan suatu desa untuk mengubah
kebiasaan buang air besarnya menjadi di jamban. Dokumentasi lepasan yaitu foto-
foto yang berdiri sendiri dan tidak disimpan dalam bentuk album. Menggambarkan
satu pokok persoalan atau titik perhatian. Foto ini digunakan biasanya untuk bahan
brosur, leaflet, dan lain-lain.
a) Slide
Slide pada umumnya digunakan untuk sasaran kelompok. Penggunaan slide cukup
efektif karena gambar atau setiap materi dapat dilihat berkali-kali dan dibahas lebih
mendalam. Slide sangat menarik, terutama bagi kelompok anak sekolah dibanding
dengan gambar, leaflet, dan lain-lain.
b) Film
Film merupakan media yang bersifat menghibur, disamping dapat menyisipkan
pesan-pesan yang bersifat edukatif. Sasaran media ini adalah kelompok besar dan
kolosal.

a. Pembagian alat peraga secara umum


1) Alat bantu lihat (Visual aids)
Alat ini digunakan untuk membantu menstimulasi indra penglihatan pada saat proses
pendidikan. Terdapat dua alat bantu visual yaitu:
- Alat bantu yang diproyeksikan seperti slide, OHP, dan film strip.
- Alat bantu yg tidak diproyeksikan misalnya dua dimensi seperti gambar, peta,
da bagan. Termasuk alat bantu cetak dan tulis misalnya leaflet, poster, lembar balik,
dan buklet. Termasuk tiga dimens seperti bola dunia dan boneka.
2) Alat bantu dengar (Audio aids)
Alat ini digunakan untuk menstimulasi indra pendengaran misalnya piringan hitam,
radio, tape, CD.
3) Alat bantu dengar dan lihat (Audio visual aids)
Alat bantu ini digunakan untuk menstimulasi indra penglihatan dan pendengaran
seperti televisi, film dan video.
b. Pembagian alat peraga berdasarkan fungsinya
1) Media cetak
- Buklet merupakan media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam
bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar. Sasaran buklet adalah
masyarakat yang dapat membaca.
- Leaflet merupakan selembar kertas yang terdiri dari 200-400 kata dengan tulisan
cetak yang berisi tentang informasi atau pesan-pesan kesehatan. Isi informasi dapat
berupa kalimat, gambar atau informasidapat berupa gambar atau kombinasi.
Leaflet berukuran 20x30 cm dan biasannya disajikan dalam bentuk dilipat.
Biasanya leaflet diberikan kepada sasaran setalah selesai kuliah atau ceramah agar
dapat digunakan sebagai pengingat pesan atau dapat juga diberikan sewaktu
ceramah untuk memperkuat pesan yang sedang disampaikan.
- Flyer (selebaran) bentuk seperti leaflet tetapi tidak dilipat.
- Flip chart (lembar balik) merupakan alat peraga yang menyerupai kalender balik
bergambar. Lembar balik mempunyai dua ukuran, ukuran besar terdiri dari
lembaran-lembaran yang berukuran 50x75 cm, sedangkan yang berukuran kecil
38x50 cm. lembar balik yang berukuran lebih kecil (21x28 cm) disebut flip
book atau flip chart meja. Lembaran-lembaran ini disusun dalam urutan
tertentudan dibundel pada salah satu sisinya. Dibawah gambar, dituliskan pesan-
pesan yang dapat dibaca oleh komunikan. Lembar balik ini digunakan dengan cara
membalik lembaran-lembaran bergambar tersebut satu per satu. Lembar balik ini
biasanya digunakan untuk pertemuan kelompok dengan jumlah maksimal peserta
30 orang. Flip chart biasanya digunakan untuk pendidikan individu atau kelompok
yang lebih kecil (kurang dari 5 orang).
- Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu
masalah kesehatan atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
- Poster merupakan bentuk media yang berisi pesan-pesan singkat atau informasi
kesehatan yang biasanya menempel di dinding, tempat-tempat umum atau
kendaraan umum dan dalam bentuk gambar. Ukuran poster biasanya sekitar 50-60
cm, karena ukurannya sangat terbatas maka tema dalam poster tidak terlalu banyak
biasanya hanya ada satu tema dalam satu poster. Tata letak kata dan warna dalam
poster hendaknya menarik. Kata-kata dalam poster tidak lebih dari tujuh kata dan
hurufnya dapat dibaca oleh orang lewat dari jarak 6 meter. Biasanya isinya bersifat
pemberitahuan atau propaganda. Poster sesuai untuk tindak lanjut dari pesan yang
sudah disampaikan pada waktu lalu. Jadi tujuan poster adalah untuk megingatkan
kembali dan mengarahkan pembaca kearah tindakan tertentu atau sebagai bahan
diskusi kelompok.
- Foto yang mengungkapkan informasi kesehatan.
- Flannelgraph merupakan guntingan-guntingan gambar atu tulisan yang
dibelakangnya diberi kertas amril (ampelas). Guntingan gambar tersebut kemudian
ditempelkanpada papan berlapis kain flannel atau kain berbulu yang lain.
Keuntungan menggunakan flannelgraph adalah pesertadapat mendekat dan
memilih sendiri gambar atau kata yang diinginkannya untuk ditempel ditempat
yang ia inginkan. Dengan cara ini para peserta menunjukkan gagasannya sendiri
tentang masalah yang sedang didiskusikan. Flannelgraph yang telah dipergunakan
dalam suatu pendidikan juga dapat digunakan kembali untuk pendidikan kesehatan
dengan topik yang berbeda.
- Flascard merupakan kartu bergambar berukuran 25x30cm. Gambar-gambarnya
dapat dibuat dengan tangan atau dicetak dari foto dan diberi nomor urut.
Keterangan tentang gambar tercantum dibelakang setiap kartu. Flascard ini
dipergunakan untuk sasaran yang berjumlah kurang dari 30 orang. Apabila
pendidik kesehatan ingin membuat sendiri media yang akan dipergunakannya,
maka langkah-langkah berikut ini harus diterapkan.
a) Membuat konsep (draft) pesan yang berisi materi pendidikan kesehatan
b) Melakukan pre-test terhadap konsep pesan
c) Memperbaiki konsep pesan
Konsep pesan perlu dilakukan pre-test agar terdapat kesesuaian pesan sehingga
pesan tersebut dapat diterima oleh sasaran.Selain itu, agar terdapat kelayakan
kultural sehingga pesan tersebut dapat dipergunakan.
2) Media elektronik
Adapun jenis-jenis media elektronik dapat digunakan sebagai media pendidikan kesehatan,
antara lain sebagai berikut:
- Televisi, penyampaian pesan kesehatan melalui media televisi dapat berbentuk
sandiwara, sinetron, forum diskusi, pidato (ceramah), TV spot,dan kuis atau cerdas
cermat.
- Radio, bentuk penyampaian informasi diradio berupa obrolan (tanya jawab), konsultasi
kesehatan, sandiwara radio, dan radio spot.
- Video, penyampaian informasi kesehatan melalui video
- Slide, slide dapat juga digunakan untuk menyampaikan informasi kesehatan
- Film strip
3) Media papan (billboard)
Media papan besar yang berukuran 2x2 meter yang bersisi tulisan atau gambar yang
dipasang ditempat-tempat umum dapat diisi pesan-pesan atau informasi kesehatan sehingga
dapat dibaca atau dilihat oleh pemakai jalan.Tulisan dalam billboardharus cukup besara
agar dapat dibaca oleh pengenara yang berkecepatan tinggi tanpa mengganggu konsentrasi
berkendaraan.Media ini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng dan
ditempel dikendaraan umum (bus atau taksi).
Bulletin board berupa papan berukuran 90- 120 cm yang biasanya dipasang didinding
fasilitas umum (puskesmas, rumah sakit, balai desa, dan kantor kecamatan. Pada papan ini
dapat ditempelkan gambar-gambar, pamplet, atau media lain ayng mengantdung informasi
penting yang secara berkala diganti dengan topic-topik yang lain.
4) Media hiburan
Penyampaian informasi kesehatan dapat disampaikan melalui media hiburan baik
digedung (panggung terbuka) maupun dalam gedung, biasanya dalam bentuk dongeng,
sosiodrama, kesenian tradisional dan pameran.
c. Pembagian alat peraga berdasarkan pembuatan dan penggunaannya
1) Alat peraga yang rumit (complicated) seperti film, film strip, dan slide. Dalam
penggunaannya alat peraga ini memerlukan listrik dan proyektor.
2) Alat peraga yang sederhana/ mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan setempat yang
mudah diperoleh seperti bamboo, karton, kaleng bekas, dan kertas Koran. Ciri-ciri alat
peraga sederhana adalah mudah dibuat, bahan-bahannya dapat diperoleh dari bahan-
bahan local, mencerminkan kebiasaan, kehidupan dan kepercayaan setempat, ditulis
(gambar) dengan sederhana, bahasa setempat dan mudah dimengerti oleh masyarakat
dan memenuhi kebutuhan petugas kesehatan dan masyarakat.
4. Sasaran yang Dicapai Alat Bantu Pendidikan
Pengetahuan tentang sasaran pendidikan yang akan dicapai alat peraga, penting untuk
dipahami dalam menggunakan alat peraga. Ini berarti penggunaan alat peraga harus
dicapai. Hal yang perlu diketahui tentang sasaran adalah sebagai berikut:
a. Individu atau kelompok
b. Kategori sasaran, seperti aspek demografi dan social
c. Bahasa yang mereka gunakan
d. Adat istiadat serta kebiasaan
e. Minat dan perhatian
5. Penggunaan alat peraga
Cara penggunaan alat peraga sangat bergantung pada jenis alat peraga, termasuk perlu
di pertimbangkan faktor sasaran pendidikan. Penggunaan alat peraga tidak dapat berlaku
umum. Hal yang cukup penting dalam penggunaan alat peraga adalah bahwa alat yang
digunakan harus menarik sehingga menimbulkan minat para pesertanya. Pada waktu
menggunakan alat peraga, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a. Senyum adalah lebih baik, untuk mencari simpati
b. Tunjukkan perhatian bahwa hal yang akan dibicarakan adalah penting
c. Pertahankan kontak mata
d. Gaya bicara hendaknya bervariasi agar peserta tidak bosan dan mengantuk
e. Libatkan peserta atau pendengar dan beri kesempatan mencoba alat-alat tersebut
f. Jika perlu, berikan selingan humor agar tidak membosankan
6. Pengaruh warna dalam desain media
Suatu media atau alat peraga yang baik seharusnya mengandung keseimbangan antara
berbagai factor, terutama daya tarik sasaran, kejelasan petunjuk dan kesesuain dengan
kondisi setemppat. Salah satu factor penting dalam mendesain media alat peraga kesehatan
adalah warna. Warna berhubungan erat secara psikologis, bahkan warna dapat menjadi obat
berbagai jenis penyakit.
a. Warna merah
Warna merah merangsang vitalitas, mempertajam penglihatan, pendengaran, perasaan
dan menambah energy.Warna ini dapat menghangatkan tubuh, memperlancar
peredaran darah, mengobati lumpuh, membersihkan tubuh dari lender-lendir yang
menumpuk.Jadi, warna merah harus dikurangi terhadap orang-orang yang emosional
dan terlalu aktif. Eksperimen pada tumbuhan yang ditutup gelas berwarna merah akan
lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan warna lain, yang mendapatkann sinnar
matahari biasa. Oleh karena itu, warna merah sering disebut “cahaya pemberi hidup”.
b. Warna merah tua
Warna ini diyakini dapat menolong penderita asma dan gangguan pada rongga hidung,
menaikkan tekanan darah, memperlancar peredaran darah, meringankan sakit waktu
haid, menambah selera seks dan merangsang emosi.
c. Warna jingga
Warna jingga termasuk warna hangat sehingga dapat merangsang penyerapan dan
peredaran darah serta merangsang tubuh untuk memuntahkan makanan yang tidak
dapat dicerna, membantu pekerjaan paru-paru dan kelenjar gondok, meredakan batuk,
membuar gas dalam perutdan meredakan bersin.
d. Warna kuning
Kuning emas dapat meredakan perasaan depresi atau stress, merangsang selera makan
dan mengadakan pengasimilasian makanan itu sendiri didalam tubuh. Disamping itu,
warna ini merangsang kerja jantung dan memperlancarkan peredaran darah, menolong
fungsi hati dan empedu serta dapat merangsang penglihatan dan pendengaran. Warna
kuning dapat pula mengobati borok perut, mengenakkan perut, serta membuang atau
membereskan pengapuran dari dalam tubuh. Sinar kuning dapat digunakan untuk
mengobati infantile paralysis atau poliomyelitis.
e. Warna hijau
Warna hijau dapat membantu mengatasi ketegangan dan menegangkan otot
syaraf. Warna hijau dari daun yang mengandung klorofil hijau daun, mempunyai unsur
pembersih tubuh, melancarkan darah yang membeku, merangsang kelenjar hipofisis
(kelenjar hormone) agar dapat mengendalikan kelenjar-kelenjar lain yang baik.
f. Warna biru
Warna biru adalah penenang, menghilangkan hati berderbar-debar dan menghilangkan
peradangan. Seperti warna hijau, warna biru yang bersifat terapeutik.
g. Warna biru hijau (Turguoise)
Warna tuguoise diyakini dapat melegakan kepenatan dalam belajar atau kelelahan saat
berpikir. Warna ini juga dapat mengurangi rasa gatal, capek, keracunan, sulit tidur dan
sakit kepala.
h. Warna ungu
Warna ungu merupakan warna yang dapat membuat orang tidur nyenyak dan
menurunkan emosi yang meluap-luap.Warna ini juga menurunkan tekanaan darah
tinggi, meredakan sakit gigi, meringankan sakit kepala, menurunkan demam dan
mengurangi keinginan seks.
i. Warna merah ungu (magenta)
Warna ini dapat menimbulkan keseimbangan emosi, menyelaraskan keadaan tubuh dan
menolong penderita jantung.
j. Warna nila
Warna ini membantu mengatasi gangguan pernapasan, perdarahan, mengurangi
pembengkakan, menekan rasa sakit dan berfungsi sebagai obat penenang.
k. Warna hitam
Warna hitam pekat diyakini dapat menimbulkan penyakit dan mempercepat ketuaan.
Media sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Alat-alat bantu tersebut
mempunyai fungsi sebagai berikut (Notoadmojo, 2012) :
a. Menimbulkan minat sasaran pendidikan
b. Mencapai sasaran yang lebih banyak
c. Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
d. Menstimulasi sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan–pesan yang diterima oran
lain
e. Mempermudah penyampaian bahan atau informasi kesehatan
f. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran/ masyarakat
g. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami,
dan akhirnya mendapatkan pengertian yang lebih baik
h. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh
Dengan kata lain media ini memiliki beberapa tujuan yaitu :
a. Tujuan yang akan dicapai
1. Menanamkan pengetahuan/pengertian, pendapat dan konsep- konsep
2. Mengubah sikap dan persepsi
3. Menanamkan perilaku/kebiasaan yang baru
b. Tujuan penggunaan alat bantu
1. Sebagai alat bantu dalam latihan/penataran/pendidikan
2. Untuk menimbulkan perhatian terhadap suatu masalah
3. Untuk mengingatkan suatu pesan/informasi
4. Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan

Ada beberapa bentuk media penyuluhan antara lain (Notoadmojo, 2012) :


a. Berdasarkan stimulasi indra
1. Alat bantu lihat (visual aid) yang berguna dalam membantu menstimulasi indra
penglihatan
2. Alat bantu dengar (audio aids) yaitu alat yang dapat membantu untuk menstimulasi
indra pendengar pada waktu penyampaian bahan pendidikan/pengajaran
3. Alat bantu lihat-dengar (audio visual aids)
b. Berdasarkan pembuatannya dan penggunaannya
1. Alat peraga atau media yang rumit, seperti film, film strip, slide, dan sebagainya yang
memerlukan listrik dan proyektor
2. Alat peraga sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan–bahan setempat
c. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur media kesehatan
1. Media Cetak
a. Leaflet
Merupakan bentuk penyampaian informasi kesehatan melalui lembaran yang dilipat.
Keuntungan menggunakan media ini antara lain : sasaran dapat menyesuaikan
dan belajar mandiri serta praktis karena mengurangi kebutuhan mencatat, sasaran
dapat melihat isinya disaat santai dan sangat ekonomis, berbagai informasi dapat
diberikan atau dibaca oleh anggota kelompok sasaran, sehingga bisa didiskusikan,
dapat memberikan informasi yang detail yang mana tidak diberikan secara lisan,
mudah dibuat, diperbanyak dan diperbaiki serta mudah disesuaikan dengan
kelompok sasaran. Sementara itu ada beberapa kelemahan dari leaflet yaitu : tidak
cocok untuk sasaran individu per individu, tidak tahan lama dan mudah hilang, leaflet
akan menjadi percuma jika sasaran tidak diikutsertakan secara aktif, serta perlu
proses penggandaan yang baik. (Lucie, 2005)
b. Booklet
Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam
bentuk tulisan dan gambar. Booklet sebagai saluran, alat bantu, sarana dan sumber
daya pendukungnya untuk menyampaikan pesan harus menyesuaikan dengan isi
materi yang akan disampaikan.
Menurut Kemm dan Close dalam Aini (2010) booklet memiliki beberapa kelebihan
yaitu:
1. Dapat dipelajari setiap saat, karena disain berbentuk buku.
2. Memuat informasi relatif lebih banyak dibandingkan dengan poster.
Menurut Ewles dalam Aini (2010), media booklet memiliki keunggulan sebagai
berikut :
1. Klien dapat menyesuaikan dari belajar mandiri.
2. Pengguna dapat melihat isinya pada saat santai.
3. Informasi dapat dibagi dengan keluarga dan teman.
4. Mudah dibuat, diperbanyak dan diperbaiki serta mudah disesuaikan.
5. Mengurangi kebutuhan mencatat.
6. Dapat dibuat secara sederhana dengan biaya relatif murah.
7. Awet
8. Daya tampung lebih luas
9. Dapat diarahkan pada segmen tertentu.
Manfaat booklet sebagai media komunikasi pendidikan kesehatan adalah :
1. Menimbulkan minat sasaran pendidikan.
2. Membantu di dalam mengatasi banyak hambatan.
3. Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat.
4. M erangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan- pesan yang diterima
kepada orang lain.
5. Mempermudah penyampaian bahasa pendidikan.
6. Mempermudah penemuan informasi oleh sasaran pendidikan.
7. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui lalu mendalami dan akhirnya
mendapatkan pengertian yang lebih baik.
8. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh.
c. Flyer (selembaran)
d. Flip chart (lembar balik)
Media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk buku di mana
tiap lembar berisi gambar peragaan dan lembaran baliknya berisi kalimat sebagai
pesan kesehatan yang berkaitan dengan gambar. Keunggulan menggunakan media ini
antara lain : mudah dibawa, dapat dilipat maupun digulung, murah dan efisien,
dan tidak perlu peralatan yang rumit. Sedangkan kelemahannya yaitu terlalu kecil
untuk sasaran yang berjumlah relatif besar, mudah robek dan tercabik. (Lucie, 2005)
e. Rubrik (tulisan – tulisan surat kabar), poster, dan foto
2. Media Elektronik
a. Video dan film strip
Keunggulan penyuluhan dengan media ini adalah dapat memberikan realita yang
mungkin sulit direkam kembali oleh mata dan pikiran sasaran, dapat memicu diskusi
mengenai sikap dan perilaku, efektif untuk sasaran yang jumlahnya relatif penting
dapat diulang kembali, mudah digunakan dan tidak memerlukan ruangan yang gelap.
Sementara kelemahan media ini yaitu memerlukan sambungan listrik, peralatannya
beresiko untuk rusak, perlu adanya kesesuaian antara kaset dengan alat pemutar,
membutuhkan ahli profesional agar gambar mempunyai makna dalam sisi artistik
maupun materi, serta membutuhkan banyak biaya. (Lucie, 2005)
b. Slide
Keunggulan media ini yaitu dapat memberikan berbagai realita walaupun terbatas,
cocok untuk sasaran yang jumlahnya relatif besar, dan pembuatannya relatif murah,
serta peralatannya cukup ringkas dan mudah digunakan. Sedangkan kelemahannya
memerlukan sambungan listrik, peralatannya beresiko mudah rusak dan memerlukan
ruangan sedikit lebih gelap. (Lucie, 2005)
3. Media Papan
Perencanaan Promosi Kesehatan
Perencanaan promosi kesehatan merupakan bagian dari siklus administrasi yang
terdiri dari tiga fase, yaitu : fase perencanaan atau menyusun kegiatan yang akan dilaksanakan
dengan cara-cara yang sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. Implementasi yaitu
pelaksanaan rencana dan evaluasi atau mengukur hasil yang diperoleh melalui upaya
pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. Evaluasi juga diperlukan untuk pemantauan
promosi kesehatan atau sebagai alat bantu untuk membuat perencanaan selanjutnya.
Langkah-langkah perencanaan dalam promosi kesehatan adalah:
a. Menentukan kebutuhan promosi kesehatan
1) Diagnosis masalah
2) Menetapkan prioritas masalah
b. Mengembangkan komponen promosi kesehatan
1) Menentukan tujuan
2) Menentukan sasaran
3) Menentukan isi
4) Menentukan metode
5) Menentukan media
6) Menentukan evaluasi
7) Jadwal pelaksanaan.
Masalah penting pada saat menyusun rencana promosi kesehatan adalah menentukan
kebutuhan masyarakat atau mengidentifikasi permasalahan yang ada pada masyarakat.
Dengan demikian, diharapkan apa yang direncanakan sesuasi dengan apa yang dibutuhkan
oleh masyarakat sehingga permasalahan yang ada dapat diselesaikan dan masyarakat dapat
langsung merasakan manfaatnya. Dalam program promosi kesehatan juga dikenal dengan
diagnosis masalah. Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010) diagnosis masalah
dapat digunakan untuk membuat perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan, yang
meliputi PRECEDE (Predisposing, Reinforcing, and Enabling, Causes in Educational
Diagnosis and Evaluation). Pendekatan ini digunakan pada fase diagnosis masalah,
penetapan prioritas, dan tujuan program. Pada tahun 1991 kerangka tersebut
dikembangkan menjadi PRECEDE-PROCEED (Polecy, Regulatory, Organizational
Construct in Educartional and Environmental Development) untuk menertapkan sasaran,,
kriteria, kebijakan, implementasi, dan evaluasi
Pada umumnya saat dilakukan identifikasi masalah, biasanya ditemukan lebih dari satu
masalah bahkan mungkin banyak masalah kesehatan teridentifikasi. Oleh karena itu, perlu
disusun prioritas masalah berdasarkan tingkatan kepentingan masalah tersebut bagi
masyarakat. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menetapkan prioritas masalah,
misalnya: menentukan status kesehatan masyarakat, menentukan pola pelayanan kesehatan
masyarakat yang ada, menentukan hubungan antara status kesehatan dan pelayanan kesehatan
di masyarakat, menentukan determinan masalah kesehatan masyarakat (tingkat pendidikan,
umur, jenis kelamin, ras, letak, geografis, kebiasaan/perilaku, dan kepercayaan yang dianut).
Di samping itu, juga harus dipertimbangkan beratnya masalah dan akibat yang ditimbulkan,
pertimbangan politis, sumber daya yang ada di masyarakat
2. Langkah-langkah PRECEDE
Fase 1. Diagnosis Sosial (Social Need Assessment), fase ini merupakan Proses
penentuan persepsi masyarakat terhadap kebutuhannya atau terhadap kualitas
hidupnya serta aspirasi untruk meningkatkan kualitas melalui partisipasi.
Penilaian dapat dilakukan atas dasar data sensus, vital statistik yang ada atau
pengumpulan data secara langsung dari masyarakat. Jika data dikumpulkan
langsung dari masyarakat dapat dilakukan melalui wawancara dengan
informan kunci, forum yang ada di masyarakat, diskusi kelompok terarah
(DKT), dan Survai.
Fase 2. Diagnosis Epidemiologi, adalah identifikasi faktor yang berpengaruh
terhadap kualitas hidup seseorang/masyarakat. Identifikasi kelompok yang
rawan terkena masalah kesehatan dengan mempertimbangkan umur, jenis
kelamin, lokasi/tempat tinggal, dan sebagainya. Identifikasi akibat yang
ditimbulkan oleh masalah kesehatan yang ada jika tidak segera
diselesaikan seperti mortalitas, morbiditas, disability, tanda dan gejala yang
ditimbulkan. Cara menanggulangi masalah antara lain, imunisasi,
perawatan, perubahan lingkungan, atau faktor perilaku masyarakat. Informasi
tersebut sangat diperlukan untuk menetapkan prioritas yang didasarkan
pada pertimbangan besarnya masalah, akibat, dan kemungkinan untuk diubah.
Fase 3. Diagnosis Perilaku dan Lingkungan merupakan identifikasi masalah perilaku
dan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang
berpengaruh terhadap masalah kesehatan. Indikator perilaku meliputi
penggunaan sarana pelayanan kesehatan, preventive action, pola konsumsi,
kepatuhan, dan self care. Indikator lingkungan meliputi, keadaan sosial,
ekonomi, dan fisik sementara dimensi pelayanan kesehatan meliputi
keterjangkauan, kemampuan, pemerataan, dan mutu pelayanan. Langkah
diagnosis perilaku dan lingkungan merupakan upaya untuk memisahkan faktor
perilaku dan nonperilaku. Identifikasi perilaku yang dapat mencegah dan
perilaku yang menjadi penyebab. Eliminasi faktor perilaku yang tidak dapat
diubah (genetis dan demografis).Urutkan faktor perilaku dan lingkungan
berdasarkan besarnya pengaruh terhadap masalah kesehatan
masyarakat.Urutkan faktor perilaku dan lingkungan berdasarkan kemungkinan
bisa atau tidak bisa diubah. Tetapkan sasaran dan tujuan perubahan perilaku
dan lingkungan.
Fase 4. Diagnosis Promosi dan Organisasional adalah kegiatan untuk
mengidentifikasi Faktor predisposisi yang meliputi pengetahuan, sikap,
persepsi, kepercayaan dan nilai atau norma yang diyakini masyarakat setempat.
Faktor pemungkin atau enabling merupakan faktor lingkungan yang
memfasilitasi perilaku seseorang. Faktor penguat atau reinforcing adalah
perilaku orang lain yang berpengaruh yang dapat mendorong munculnya
perilaku yang diharapkan.
Setelah faktor-faktor tersebut dapat teridentifikasi langkah selanjutnya adalah
menetapkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu, berdasarkan
faktor pemungkin dan penguat yang telah diidentifikasi, ditetapkan tujuan
organisasional yang akan dicapai melalui upaya pengembangan organisasi dan
sumber daya.
Diagnosis Administrasi dan Kebijakan adalah kegiatan untuk analisis
kebijakan, sumber daya, dan peraturan yang dapat memfasilitasi atau
menghambat pengembangan promosi kesehatan. Kebijakan dalam hal ini adalah
seperangkat peraturan yang digunakan sebagai petunjuk untuk melaksanakan
suatu kegiatan. Sementara peraturan merupakan penerapan kebijakan dan penguatan
hukum serta perundang-undangan. Organisasinal artinya kegiatan memimpin atau
mengkoordinasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program.
Untuk kelancaran kegiatan tersebut pelaksana promosi kesehatan dapat
memperoleh data dari dokumen yang ada, langsung dari masyarakat, petugas
kesehatan di lapangan, tokoh masyarakat setempat. Oleh karena itu, penting bagi
seorang promotor kesehatan penguasaan komunikasi yang baik sehingga program
promosi kesehatan di masyarakat dapat berjalan dengan lancar.
Di samping itu pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara Key informant
approach, Community forum approach. Sample survey approach.
Key informant approach pengumpulan data dengan cara ini berarti data
diperoleh dari informan kunci melalui Wawancara Mendalam (WM) atau DKT.
Pengumpulan data melalui cara ini cukup sederhana dan representatif sehingga dapat
membantu proses perencanaan serta implementasi kegiatan promosi. Community
forum approach adalah pengumpulan data di mana promotor kesehatan bersama
masyarakat mendiskusikan masalah kesehatan yang ada. Dilihat dari sudut program
cara ini sangat ekonomis karena promotor dapat memahami masalah dari berbagai
sudut pandang masyarakat. Sample survey approach adalah pengumpulan data
melalui wawancara dan observasi. Cara ini merupakan cara pengumpulan data yang
paling valid dan akurat, namu paling mahal jika dibandingkan dengan kedua cara
sebelumnya karena melalui survey/penelitian..
Setelah dapat menentukan prioritas masalah dengan benar, langkah
selanjutnya adalah mengembangkan komponen promosi kesehatan, yang meliputi
menentukan tujuan, menentukan sasaran promosi kesehatan, menentukan isi promosi
kesehatan, menentukan metode, menentukan media, menyusun rencana evaluasi,
menyusun jadwal pelaksanaan, menentukan tujuan.

3. Menentukan Tujuan Promosi


Ada tiga tujuan utama promosi kesehatan, yaitu peningkatan pengetahuan dan
atau sikap masyarakat, peningkatan perilaku masyarakat yang mendukung status
kesehatan, peningkatan status kesehatan masyarakat. Tujuan promosi yang baik harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Specific/operational artinya berupa perilaku khusus yang mencerminkan
perilaku baru yang diharapkan.
b. Measurable artinya dapat diukur/terukur karena pada setiap akhir program
atau akhir kegiatan akan ada evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan yang
telah ditetapkan.
c. Appropiate artinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau sesuai dengan
permasalahan yang ada sehingga program atau kegiatan yang dilaksanakan
memberi manfaat konkrit kepada masyarakat.
d. Reasonable berarti didasari alasan yang logis, subjektivitas atau pertimbangan
yang tidak wajar dan tidak masuk akal tidak dapat digunakan sebagai dasar
penyusunan tujuan promosi kesehatan.
e. Time bound ada batas waktu pencapaian. Suatu program dikatakan berhasil
apabila dapat mencapai tujuan dalam batas waktu yang telah ditetapkan. Oleh
karena itu, seorang pendidik kesehatan harus dapat memberi batas waktu yang
jelas dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada.
f. Dinyatakan dalam bentuk performance bukan effort.
Menurut Green ada 3 tingkatan tujuan promosi kesehatan yaitu Tujuan
Program (Program Objective), Tujuan Promosi (Educational Objective), Tujuan
Perilaku (Behavioral Objective).Tujuan Program adalah Pernyataan tentang apa
yang ingin dicapai dalam periode tertentu. Ditinjau dari kerangka PRECEDE-
PROCEED tujuan program merupakan refleksi dari fase sosial dan epidemiologi. Tujuan
ini harus mencakup who will do how much of what by when sehingga sering disebut
tujuan jangka panjang. Contoh: Kasus baru HIV-AIDS menurun 50% setelah promosi
kesehatan berjalan 5 tahun.
Tujuan Promosi (Educational Objective) adalah deskripsi perilaku yang akan
dicapai untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada. Sering juga disebut sebagai tujuan
jangka menengah, misalnya: Cakupan imunisasi dasar meningkat 75% setelah promosi
kesehatan berjalan selama 3 tahun.
Tujuan Perilaku (Behavioral Objective) merupakan proses pembelajaran yang
harus dicapai untuk mewujudkan perilaku yang diinginkan. Tujuan ini berhubungan
dengan pengetahuan dan sikap, disebut juga sebagai tujuan jangka pendek. Contoh:
pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS meningkat 60% setelah promosi
kesehatan berjalan 6 bulan.
Setelah menentukan tujuan promosi kesehatan, langkah selanjutnya adalah
menentukan sasaran promosi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat?.
Kemudian, menentukan isi promosi kesehatan yang dibuat sesederhana mungkin
agar mudah dipahami (bila perlu menggunakan gambar dan bahasa daerah
setempat).selanjutnya metode sesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai,
misalnya untuk aspek pengetahuan dengan penyuluhan, untuk aspek sikap dengan
contoh konkrit yang menggugah emosi seperti foto, slide, film, dan sebagainya,
untuk aspek keterampilan dengan pelatihan, dan sebagainya.
Selanjutnya menentukan media yang sesuai dengan sasaran, tingkat promosi
sasaran, aspek yang ingin dicapai, metode yang digunakan, dan sumber daya yang
ada media. Kemudian menyusun rencana evaluasi yang meliputi kapan dan di mana
akan dilaksanakan, siapa sasarannya, siapa yang mengevaluasi, materi evaluasi?.
Langkah yang terakhir harus dilakukan adalah menyusun jadwal pelaksanaan yang
merupakan penjabaran dari rencana keseluruhan termasuk yang menyangkut waktu,
tempat, dan pelaksanaan.
4. Satuan Acara Pembelajaran/Penyuluhan (SAP)
Di atas telah banyak dibahas mengenai hal-hal yang perlu disiapkan sebelum
melaksanakan kegiatan promosi kesehatan. Persiapan tersebut adalah persiapan
untuk terselenggaranya program promosi kesehatan yang jangka waktunya bisa satu
minggu, satu tahun atau lebih. Salah satu bentuk implementasi program promosi
kesehatan adalah kegiatan pendidikan kesehatan. Penting bagi seorang pendidik
kesehatan untuk menyiapkan sebuah satuan acara pembelajaran (SAP.
SAP merupakan persiapan kegiatan pendidikan yang harus dibuat atau disiapkan oleh
siapapun yang akan menyelenggarakan kegiatan penddidikan kesehatan. Dalam
kegiatan pendidikan kesehatan diarahkan mengunakan SAP mengingat pelaksanaan
pendidikan kesehatan bersifat incidental dan topik atau pokok bahasannya disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat saat dilakukan dentifikasi masalah. Sementara, dalam
kegiatan pendidikan formal sebaiknya menggunakan SAP (Satuan Acara
Pembelajaran).
Satuan Acara Pembelajaran adalah persiapan yang lebih spesifik untuk membahas
topik-topik tertentu. Dengan kata lain SAP disusun sebagai pedoman bagi pendidik
mengenai materi yang akan disampaikan sehingga satuan waktunya adalah pertemuan.
Oleh karena itu, SAP dibuat sangat spesifik untuk pertemuan-pertemuan tertentu.
Satuan Acara Penyuluhan merupakan persiapan untuk kegiatan belajar-mengajar,
memuat secara spesifik mengenai pokok materi, metode, media, alat dan bahan, serta
evaluasi bagi kegiatan pengajaran. Pada SAP masih menggunakan istilah tujuan
instruksional umum yang sering dikenal dengan sebutan TIU dan tujuan
instruksional khusus yang dikenal juga dengan istilah TIK Lebih jelas mengenai SAP
akan langsung dibuat bersama-sama dan sebelumnya silakan mempelajari SAP
terlampir.

C. MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN DI SEKOLAH


1. Pengertian:
Pendidikan kesehatan di sekolah (health promoting school) adalah
kegiatan yang menggabungakan program pendidikan dan kesehatan untuk
menumbuhkan perilaku sehat. Hal ini sangat penting mengingat pendidik atau
guru merupakan sosok yang istimewa bagi para peserta didik sehingga hampir setiap
kata atau perintahnya dipatuhi oleh peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru
dituntut untuk mampu memanfaatkan kesempatan ini untuk menanamkan konsep-
konsep perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak didiknya. Dengan demikian,
diharapkan akan tumbuh perilaku sehat dengan landasan yang kuat yaitu
kesadaran sehingga perilaku tersebut akan konsisten. Misalnya seorang anak yang
pada awalnya tidak mau makan sayuran, jikadi sekolah guru berhasil menanamkan
konsep pentingnya sayuran bagi tubuh kita anak tersebut akan mau makan sayuran
karena memahami akibat yang akan terjadi pada dirinya jika tidak mau makan
sayuran. Hal ini akan lebih kuat tertanam jika di rumah orang tua di samping
menanamkan hal yang sama juga memberi contoh mau mengkonsumsi sayur dan
selalu menyediakan hidangan sayuran.
2. Pemikiran Dasar
Sekolah merupakan lembaga yang didirikan untuk membina dan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik fisik, mental, moral, maupun
intelektua sesuai dengan tujuan pendidikan di sekolah yaitu meningkatkan
pengetahuan, membentuk sikap yang baik, dan mengubah perilaku/terjadinya
perubahan perilaku.sebagai. Contoh seorang siswa SMA sebelumnya tidak tahu
bahwa HIV dapat menular melalui jarum suntik, perilakunya tidak baik
(menggunakan narkoba dengan jarum suntik secara bergantian), kemudian di sekolah
disampaikan materi belajar tentang cara penularan HIV dan berhasil meningkatkan
pengetahuan siswa tersebut. Diharapkan selanjutnya siswa tersebut akan menjauhi
teman-teman pengguna narkoba (terbentuk sikap positif) dan pada akhirnya berhenti
mengkonsumsi narkoba (ada perubahan perilaku).
Promosi kesehatan melalui komunitas sekolah paling efektif sebagai upaya
pengembangan perilaku hidup sehat. Sekolah merupakan lembaga pendidikan
formal sehingga dimungkinkan penanaman pengetahuan untuk munculnya
perilaku melalui peraturan-peraturan. Dengan kondisi demikian peserta didik
tidak punya pilihan lain untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan sekolah. Jika
kondisi ini berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama akan terbentuk
perilaku yang diharapkan, seperti membuang sampah pada tempatnya,tidak merokok,
makan dengan gizi seimbang, dan lain-lain..
Anak usia sekolah (6 tahun-18 tahun) merupakan kelompok terbanyak
jika dibandingkan dengan kelompok umur lain. Secara teoritis usia merupakan salah
satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan seseorang. Artinya,
seiring dengan pertambahan usia seseorang eksplorasi terhadap lingkungan semakin
luas sehingga pemahaman terhadap segala sesuatu juga meningkat. Selain itu, pada
usia remaja keinginan untuk mengenal dan mengetahui lingkungan sangat
besar. Oleh karena itu, seorang pendidik yang mampu mengelola kondisi ini akan
berpeluang besar untuk membentuk perilaku anak didik di bidang kesehatan. Untuk
anak-anak sekolah dasar mulai dibentuk perilaku hidup bersih dan sehat yang
dilandasi oleh pemahaman terhadap alasan yang melatarbelakangi perilaku tersebut.
Dengan kata lain, peserta didik berperilaku tertentu bukan sekedar ikut-ikutan teman
temannya melainkan karena punya keyakinan bahwa perilaku itu adalah perilaku
terbaik baginya. Misalnya pentingnya gosok gigi setelah makan dan sebelum tidur,
memotong kuku jari tangan dan jari kaki secara rutin, memelihara kebersihan
lingkungan, dan sebagainya.
Sekolah merupakan komunitas yang terorganisasi sehingga pelaksanaannya
lebih mudah. Proses pendidikan akan efektif jika disampaikan secara terorganisasi
dengan baik. Namun, tidak semua kondisi memungkinkan mengumpulkan banyak
orang sekaligus sementara di sekolah telah ada komunitas yang dari beberapa segi
sudah homogen. Oleh karena itu, secara teknis memberikan pendidikan kesehatan di
sekolah sangat menguntungkan jika dibandingkan dengan pendidikan kesehatan yang
lain karena sudah jelas peserta didiknya dengan jadwal yang sudah pasti sekaligus
dengan sikap mental siap belajar.
Anak sekolah merupakan kelompok yang paling peka menerima
perubahan atau pembaharuan (mudah dibimbing, diarahkan, dan ditanamkan
kebiasaan hidup sehat. Seperti telah disampaikan di atas bahwa mental anak didik di
sekolah sudah terkondisi untuk siap menerima hal-hal baru. Oleh karena itu,
pelaksanaaan pendidikan kesehatan di sekolah lebih mudah dibandingkan dengan
pemberian pendidikan kesehatan di tempat lain karena kondisi belajar harus
dibuat atau direncanakan.

3. Tujuan Pendidikan Kesehatan di Sekolah


Secara umum pendidikan kesehatan di sekolah mempunyai tujuan jangka
panjang untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarkat, khususnya komunitas
sekolah. Dengan tujuan ini bukan berarti bahwa setelah selesai kegiatan belajar
mengajar dengan materi tentang kesehatan secara otomatis derajat kesehatan
masyarakat/komunitas meningkat. Namun, melalui penyampaian materi-materi
tentang kesehatan pada lembaga pendidikan formal ini diharapkan akan tumbuh
generasi baru yang memiliki pengetahuan kesehatan yang baik, memiliki
kesadaran pentingnya pemeliharaan kesehatan, serta berperilaku hidup bersih dan
sehat. Harapan selanjutnya adalah kelompok ini akan menjadi pioner bagi kelompok
lain atau generasi selanjutnya.
Di samping itu, pendidikan kesehatan di sekolah juga bertujuan untuk
mencegah dan memberantas penyakit menular di kalangan masyarakat khususnya di
sekolah. Komunitas selalu menjadi tempat yang sangat baik untuk berkembangnya
penyakit menular sehingga sekolah rawan akan munculnya suatu penyakit menular
bahkan ancaman munculnya kejadian luar biasa (KLB). Hal ini di dukung oleh letak
geografis Indonesia di wilayah tropis yang merupakan surga bagi virus. Oleh karena
itu penting bekal pengetahuan bagi anak didik mengenai berbagai jenis penyakit
menular, penyebab, cara penularan, cara pencegahan, dan sebagainya. Dengan
diberikannya informasi tersebut sedini mungkin diharapkan peserta didik mampu
melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap merebaknya penyakit menular.
Selain itu, pendidikan kesehatan di sekolah mempunyai tujuan untuk
memperbaiki dan memulihkan kesehatan masyarakat. Pada umumnya kondisi
kesehatan yang tidak baik salah satu penyebabnya adalah karena pengetahuan tentang
kesehatan juga tidak baik. Oleh karena itu, diharapkan dengan pemberian materi
kesehatan di sekolah-sekolah dapat membantu meningkatkan pengetahuan,
mengubah sikap dan perilaku peserta didik yang sesungguhnya juga anggota
masyarakat. Sesuai dengan teori HL Blum bahwa faktor perilaku mempunyai peranan
penting dalam menentukan status kesehatan masyarakat.(Notoatmojo, 2010).

4. Kegiatan Pendidikan Kesehatan di Sekolah


Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, dilakukan beberapa hal seperti
mengikutsertakan guru, murid, dan orang tua dalam upaya, menanamkan
kebiasaan hidup sehat.Hal ini penting mengingat dengan adanya kerja sama antara
sekolah dan keluarga upaya tersebut terjamin kontinuitasnya. Pembentukan perilaku
atau pembiasaan kalau tidak terus menerus akan sangat sulit terwujud. Misalnya,
di sekolah guru mengajari tentang pentingnya mengajari pentingnya mengkonsumsi
sayuran, ternyata di rumah orang tuanya sangat sibuk sehingga setiap hari
mengkonsumsi makanan instan tanpa sayuran. Apabila kondisinya demikian,
perilaku konsumsi sayuran akan sulit terwujud.
Upaya lain dalam pendidikan kesehatan di sekolah adalah memonitor
kesehatan peserta didik untuk mengenal kelainan sedini mungkinya sehingga ada
kesempatan untuk upaya pengobatan atau pencegahan agar tidak menjadi kendala
dalam kehidupannya kelak. Dengan demikian, pendidikan kesehatan di sekolah tidak
hanya penyampaian materi kesehatan semata tetapi juga mengidentifikasi kasus-kasus
kesehatan yang dialami oleh peserta didik.
Kegiatan pendidikan kesehatan di sekolah antara lain melakukan pertolongan
pertama pada kecelakaan dan pengobatan sederhana. Oleh karena itu hampir setiap
sekolah memiliki kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK) dan ruang unit
kesehatan sekolah (UKS). Kegiatan ini dimaksudkan agar kasus kesehatan mendadak
dapat segera teratasi. Artinya, jika pertolongan utama belum dapat diberikan ada
bantuan sementara. Dalam rangka mewujudkan upaya pencegahan penyakit menular,
dalam pendidikan kesehatan di institusi dapat juga dilaksanakan program imunisasi.
Untuk kegiatan ini sekolah harus bekerja sama dengan dinas kesehatan atau pihak-
pihak yang berwenang.
Selain itu, dapat juga diselenggarakan pengobatan gigi dan
pencegahannya jadwal pemeriksaan bekerja sama dengan dokter atau perawat gigi,
agar jadwal pemeriksaan gigi setiap enam bulan dapat terselenggara sesuai jadwal. Di
sampingitu upaya pengobatan bagi yang mempunyai masalah dengan kesehatan gigi.
Dengan demikian, masalah kesehatan gigi tidak menjadi kendala bagi pengembangan
potensi yang dimiliki. Upaya perbaikan gizi, menciptakan kehidupan lingkungan
sekolah yang sehat juga merupakan bagian dari pendidikan kesehatan di sekolah baik
melalui kegiatan pemberian makanan tambahan (PMT) maupun peningkatan
pengetahuan makanan sehat, pola konsumsi sehat.
Dengan demikian, pendidikan kesehatan di sekolah pada prinsipnya adalah
menciptakan sekolah sebagai komunitas yang mampu meningkatkan kesehatan,
dengan 3 kegiatan pokok. Yaitu, menciptakan lingkungan sekolah yang sehat
(healthful school living) yang berarti terciptanya lingkungan fisik yang bersih dan
kondusif untuk belajar dan lingkungan nonfisik atau situasi yang sehat secara
psikologis sehingga peserta didik merasa nyaman dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar. Menurut Notoatmodjo (2010) pendidikan kesehatan (Health
Education) diselenggarakan baik melalui penyampaian materi tentang kesehatan
maupun kegiatan praktik seperti membersihkan lingkungan sekolah, imunisasi,gosok
gigi dan cuci tangan dengan baik dan benar. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan
di sekolah (health services in school) merupakan kegiatan penanggulangan masalah
kesehatan peserta didik oleh sekolah agar tidak berlanjut. Lebih rinci mengenai
upaya pendidikan kesehatan di sekolah adalah sebagai berikut:
a. Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat (healthful school living)
1) Lingkungan nonfisik atau suasana mental-sosial di sekolah yang ini sangat
penting bagi peserta didik agardapat mengikuti proses belajar mengajar
dengan baik.mental yang sehat akan selalu optimis memandang masa
depan sehinga dapat menimbulkan motivasi untuk belajar. Sementara suasana
ssosial yang sehat membuat pesertadidik merasa berada di lingkungan
keluarga sehingga peserta didik lebih terbuka jika menghadapi masalah.
Dengan demikian diharapkan masalah yang ada dapat segera terselesaikan dan
tidak menjadi pengganggu dalam kegiatan pendidikan selanjutnya.
Hubungan komunitas sekolah antara guru, murid, dan karyawan terjalin
harmonis setiap individu menyadari benar posisi, tugas, tanggung jawab, hak,
dan kewajiban masing-masing dan menempatkan diri sesuai dengan posisi
tersebut. Tidak ada individu yang merasa lebih terhormat dari yang lain,ada
suasana saling menghormati, saling dan membutuhkan. Diharapkan kondisi
demikian yang tercipta sehingga sangat kondusif untuk belajar. Di samping
itu, juga menjamin tumbuh kembang anak-anak yang baik termasuk perilaku
hidup sehat.
2) Lingkungan fisik
Terdiri dari bangunan sekolah dan lingkungannya yang memenuhi syarat
seperti:
a) Letaknya tidak berdekatan dengan tempat keramaian agar peserta didik
dapat berkonsentrasi pada saat mengikuti kegiatan pendidikan.
b) Konstruksinya kuat dan besarnya memadai (luasnya sebanding dengan
penghuni) untuk keamanan pendidik,peserta didik, serta pihak lain yang
terkait.
c) Tersedia halaman dan kebun sekolah di samping untuk menghijaukan
lingkungan sekolah juga sebagai laboratorium bagi peserta didik untuk
lebih mengenal alam sehingga kegiatan belajar tidak selalu dibatasi oleh
dinding-dinding kelas.
d) Ventilasi dan penerangan memadai agar kebutuhan peserta didik akan udara
segar dapat terpenuhi.
e) Ada saluran pembuangan limbah penting mengingat komunitas sekolah
yang berjam-jam berada di sekolah juga melakukan kegiatan yang
menghasilkan limbah.
f) Tersedia sarana mandi, cuci, kakus (MCK) dan tempat sampah yang
memadai karena peserta didik juga banyak melakukan kegiatan yang
membutuhkan kedua sarana tersebut.
g) Tersedia kantin/warung sekolah, dikelola oleh sekolah agar pemantauan
kesehatan dan kebersihannya dapat dilakukan dengan baik apalagi dengan
makin maraknya penggunaan pewarna dan pemanis sintetik yang
berbahaya bagi kesehatan manusia.
2. Pemeliharaan kebersihan perorangan dan lingkungan
Pemeliharaan kebersihan perorangan dan lingkungan merupakan faktor yang
sangat penting dalam menciptakan lngkungan kehidupan sekolah yang sehat.
Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah kebersihan individu yang
menyangkut kebersihan kulit, kuku, rambut, telinga, dan hidung.termasuk
kebersihan mulut dan gigi. Di samping itu, juga kebersihan dan kerapian pakaian
agar peserta didik memiliki kebiasaan hidup bersih dan sehat termasuk
penggunaan alas kaki. Kebiasaan hidup sehat yang lain tidak merokok,
kebiasaan makan dengan menu seimbang, dan lain-lain.

3. Keamanan Umum Sekolah dan Lingkungannya


Keamanan merupakan faktor penting dalam kegiatan pendidikan karena proses
belajar baru dapat terjadi jika keamanan tercipta. Untuk itu, untuk keamanan
lingkungan sekolah setidaknya ada pagar sekolah agar aktivitas peserta didik
selama berada di sekolah dapat dipantau dengan baik. Gang atau jalan masuk ke
sekolah memadai artinya tidak becek pada musim hujan, dan tidak berdebu pada
saat kemarau agar tidak menjadi penganggu proses belajat mengajar. Pintu dan
jendela yang memadai dalam kuantitas dan kualitas agar peserta didik dapat
mengikuti proses belajar dengan baik. Ada tanda lalu lintas khusus sebagai
pemberitahuan kepada pemakai jalan agar pada jam-jam sibuk (masuk dan pulang)
peserta didik dapat menyeberang dengan tenang dan aman. Tersedia PPPK untuk
memberikan pertolongan awal sebelum pertolongan utama diberikan ketika
terjadi kasus-kasus tertentu.
Pendidikan Kesehatan (Health Education) ditujukan kepada murid-murid
untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat agar dapat bertanggung jawab terhadap
kesehatan diri sendiri dan lingkungannya. Diperlukan tahap-tahap memberikan
pengetahuan tentang prinsip dasar hidup sehat, menimbulkan sikap dan
perilaku hidup sehat, dan membentuk kebiasaan hidup sehat.

5. Materi Dasar Pendidikan Kesehatan di Sekolah


a. Personal hygiene dan kebersihan lingkungan.
b. Penceghan dan pemberantasan penyakit menular, dengan PHBS.
c. Penyakit tidak menular (penyebab dan cara penularannya)
d. Gizi (mengenal berbagai macam makanan bergizi, kebersihan makanan,
penyakit akibat kekurangan/kelebihan gizi)
e. Pencegahan keselakaan atau keamanan diri
f. Mengenal fasilitas kesehatan yang professional

a. Pemeliharaan dan Pelayanan Kesehatan di Sekolah (health services in


school)
1) Pemeriksaan kesehatan secara berkala
2) Pemeriksaan dan pengawasan kebersihan lingkungan
3) Usaha penceghan dan pemberantasan penyakitmenular
4) Usaha perbaikan gizi
5) Usaha kesehatan gigi di sekolah.
6) Mengenal kelainan yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
7) Mengirim anak yang memerlukan perawatan khusus ke Puskesmas/RS.
8) Memberikan pertolongan pertama ada kecelakaan & pengobatan ringan.
b. Kemitraan dalam Pendidikan Kesehatan di Sekolah
1) Pend.kesehatan di sekolah merupakan perwujudan partnership dari
berbagai pihak.
2) Pilar utama kemitraan Promosi kesehatan di sekolah terdiri dari guru,
petugas kesehatan, orang tua murid, dan organisasi yang ada di sekolah
tersebut
6. Partisipasi Guru
a. Melaksanakan pendidikan kesehatan kepada murid baik melalui mata ajaran
terstruktur (sesuai kurikulum) maupun yang dirancang khusus dalam rangka
penyuluhan kesehatan, seperti masalah imunisasi, penyakit HIV-AIDS, narkoba,
dsb.
b. Memonitor tumbuh kembang anak didik mealui penimbangan berat badan
rutin atau berkala.
c. Memonitor kemungkinan ada anak dengan kelainan tertentu untuk mendapat
penanganan sedini mungkin.
d. Peran guru dalam promosi kesehatan di sekolah
1) Menanamkan kebiasaan hidup sehat
2) Melaksanakan bimbingan dan pengamatan kesehatan dengan jalan
mengadakan pemeriksaan kuku, ulit, rambut, telinga, gigi, dsb.
3) Membantu petugas kesehatan dalam melaksanakan P3K
4) Melakukan deteksi dini terhadap penyakit yang terjadi dan mengirim ke
puskesmas bila perlu.
5) Memberdayakan masyarakat sekolah untuk memelihara dan meningkatkan
kebersihan lingkungan, melakukan pencatatan dan pelaporan tentang upaya
kesehatan yang dilaksanakan dan hasilnya menjadi model/contoh perilaku
hidup sehat bagi siswa.
e. Peran Petugas Kesehatan
1) Secara umum membina dan mengembangkan upaya kesehatan sekolah.
2) Membimbing guru dalam melasanakan UKS
3) Melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan yang tidak dapat dilakukan
oleh guru, seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dsb.
4) Turut serta dalam pengawasan lingkungan sekolah yang sehat.
5) Memberikan pelatihaan kepada guru rangka meningkatkan kemampuan
upaya kesehatan.
6) Membantu sekolah dalam mengembangkan materi kesehatan.
7) Menjalin kerja sama dengan pihak lain dalam upaya kesehatan di sekolah.
8) Memberdayakan masyarakat di lingkungan sekolah.
7. Partisipasi Murid
a. Murid merupakan calon penerus generasi bangsa yang masih mudah
menerima, melaksanakan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
b. dalam mendidik siswa perlu diperhatikan:
1) Lingkungan keluarga
2) Sosial ekonomi keluarga siswa.
3) Tumbuh kembang secara individual
4) Pengalaman khusus siswa
c. Peran Murid
1) Mempraktikan dan membiasakan perilaku hidup sehat.
2) Menjadi penghubung antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam
menjalankan kebiasaan atau perilaku hidup sehat.
3) Menjadi contoh perilaku hidup sehat bagi mayarakat luas.
4) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada kawan-kawan atau murid lain.
5) Mengawasi kebersihan lingkungan sekolah.
6) Menimbang berat dan mengukur tinggi badan secara teratur.
8. Peran Orang Tua
a. Ikut serta dalam perencanaan dan penyelenggaraan program promosi
kesehatan di sekolah.
b. Menyesuaikan diri dengan program kesehatan di sekolah untuk mengetahui
apa yang dilaksanakan di sekolah.
9. Komponen Promosi kesehatan di Sekolah
a. Penerapan Kebijakan Kesehatan (implement healthy polecy)
b. Tersedianya sarana dan prasarana pencegahan dan pengobatan sederhana di
sekolah (provide access preventive and curative health services)
c. Tersedianya lingkungan yang sehat (provide a safety and health
environment)
d. Adanya program penyuluhan kesehatan (provide skill based health
education)
e. Partisipasi orang tua murid dan masyarakat (improved community health
through parent and community participation)
10. Penerapan Kebijakan Kesehatan (implement healthy polecy)
Pimpinan sekolah bersama guru membuat dan melaksanakan kebijakan yang
berkaitan dengan kesehatan untuk menanamkan perilaku hidup sehat. Misalnya:
perilaku terkait dengan personal hyangiene. larangan jajan dan membuang
sampah di sembarang tempat, larangan merokok, larangan membawa benda tertentu
tajam, dsb.
11. Tersedia sarana dan prasarana pencegahan
a. Tersedia tempat cuci tangan
b. Tersedia klinik atau ruang P3K
c. Ada tenaga terlatih
d. Tersedia alat medis sederhana
12. Tersedia lingkungan yang sehat (provide a safety and health environment)
a. Semua ruangan memiliki ventilasi yang memadai b.
Tersedia air bersih
c. Tersedia tempat sampah disetiap kelas
d. Tersedia keset
e. Tersedia halaman sekolah/taman bermain f.
Tersedia tempat olah raga
13. Adanya program penyuluhan kesehatan (provide skill based health
education)
Promosi kesehatan di sekolah bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan
sendiri yang memerlukan kemampuan khususnya yang berkaitan dengan
a. Pentingnya personal hygiene
b. Pemilihan makanan bergizi
c. Pentingnya aktivitas fisik
d. Bahaya merokok dan narkoba
e. Kesehatan reproduksi
f. Cara mencegah penyakit, dll.

PENDIDIKAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA (PKdTK)


1. Urgensi PKdTK
a. Sejarah Singkat
Menurut Goetsch, 1996 dalam Notoatmodjo, 2010 Pada abad ke -18
Bernardino Ramazzini membuktikan bahwa penyakit para pekerja tambang
disebabkan oleh penanganan bahan berbahaya yang tidak terkontrol dan gerakan
yang tidak lazim dan tidak alamiah.Beberapa hasil penelitian juga menunjukan
kaitan yang erat antara pekerjaan dan kesehatan pekerja.Kemudian lahir berbagai
kebijakan untuk melindungi pekerja dari bahaya kerja dan akhirnya upaya tersebut
dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pekerja yang dikemas dalam disiplin
ilmu kesehatan dan keselamatan kerja atau K-3 (Occupational Health and
safety).Perkembangan selanjutnya PKdTK dikembangkan dan ditujukan agar
pekerja mematuhi peraturan perusahaan termasuk dalam penggunaan alat
pelindung kerja.Semakin disadari bahwa produktivitas pekerja tidak hanya
ditentukan oleh desain pekerja tetapi juga oleh perilaku sehat pekerja. Pekerja
adalah mereka yang bekerja dan menerima upah atau imbalan tertentu (SK
Menakerstrans No: KEP/68/IV/2004 pasal 1) sementara yang dimaksud perilaku
sehat pekerja adalah perilaku yang mendukung kondisi pekerja agar tetap sehat
misalnyamakan siang tidak selalu mie instan, banyak minum air putih jika bekerja
di ruang AC.

b. Contoh kasus:
Disebuah pabrik garmen setiap hari beberapa pekerja yang pingsan pada pukul
10.00.waktu yang diperlukan untuk istirahat ± 2 jam kondisi ini jelas menggangu
produktivitas perusahaan. Kemudian perusahaan menganggap kasus ini cukup
diselesaikan dengan upaya kuratif. Padahal, inti masalahnya adalah karyawan tidak
terbiasa makan pagi.Sementara, upaya yang selama ini dilakukan hanya upaya kuratif
untuk menyembuhkan gejala sehingga tidak menyelesaikan masalah yang ada.

c. Tujuan.
Perkembangan selanjutnya dari kasus ini adalah munculnya ilmu baru yaitu
promosi atau pendidikan kesehatan ditempat kerja (PKdTK) atau Health promotion in
workplace.Kegiatan ini bertujuan untuk menurunkan angka penyakit akibat kerja,
menumbuhkan kebiasaan kerja dan gaya hidup sehat, menciptakan lingkungan kerja
yang sehat kondusif dan aman dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan
kerja di mayarakat.

2. Tema
Kegiatn
Tingkat I : Pemberian Informasi
Dilakukan berbagai strategi untuk memberikan informasi kesehatan pada pekerja,
misalnya dengan mengadakan pameran, menyediakan leaflet dan lain- lain.Tujuannya
untuk memancing minat atas topik kesehatan tertentu.Perubahan perilaku pada tingkat
ini masih kecil dan lemah karena pemberian informasi tidak mempunyai daya tekan
dalam upaya perubahan perilaku.Artinya, tidak ada sanksi apapun yang dapat dikenakan
kepada seseorang yang telah mendapat informasi kesehatan namun tidak mau
melakukannya. Misalnya: setelah diberi penjelasan tentang bahaya rokok seorang
pekerja tetap merokok tidak dapat dikenai sanksi apapun.

Tingkat II : Penjajakan Risiko Kesehatan


Mengidentifikasi masalah kesehatan pada pekerja saat ini dan masa yang akan
datang. Bentuk kegiatanya misalnya pemeriksaan kesehatan secara
rutin/berkala.Biasanya seseorang akan mengalami perubahan perilaku pada saat
mengetahui bahwa dirinya memiliki faktor risiko penyakit tertentu.Oleh karena itu
sangat penting pemberian informasi mengenai faktor risiko terhadap masalah kesehatan
yang dihadapi. Diharapkan melalui informasi yang jelas dan akurat akan menumbuhkan
kesadaran pentingnya perilaku baru yang harus diperjuangkan. Misalnya,setelah
mengetahui asmanya semakin berat karena perilaku merokoknya, seorang pekerja
termotivasi untuk berhenti merokok.

Tingkat III : Pemberian Resep


Memberitahu pekerja mengenai faktor risiko yang teridentifikasi dan apa yang
harus dilakukan. Memberikan layanan konseling bagi pekerja agar berperilaku sehat
sehubungan dengan faktor risiko yang teridentifikasi.Dalam fase ini informasi yang
diberikan lebih spesifik berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi.Disamaikan
dengan lebih intensif dan seksama dan konselor harus yakin bahwa pekerja memahami
informasi yang disampaikan. Misalnya ada pekerja yang terdiagnosis hipertensi
diberitahu bagaimanacara mengurangi atau menghilangkan faktor risiko tersebut dengan
mengurangi makanan sumber kolesterol dan lebih banyak mennkonsumsi buah dan
sayuran.

Tingkat IV :Menciptakan Lingkungan yang Mendukung


Pada fase ini pekerja diminta berperilaku hidup sehat daan perusahaan atau
tempat kerja harus menyediakan fasilitas agar perilaku sehat dapat dipraktikan di
tempat akerja.Yang menjadi masalah adalah kenyataannya meskipun telah disediakan
fasilitas yang memadai, sudah ada peraturan untuk berperilaku sehat namun banyak
pekerja yang tetap berperilaku semaunya sendiri.Secara teoritis mengubah perilaku
memang bukan hal yang mudah.Hal ini terjadi karena perilaku sehari-hari sudah
merupakan kebiasaan yang muncul secara otomatis sehingga untuk mengubahnya perlu
upaya yang maksimal dan motivasi intrinsik dari yang bersangkutan.Oleh karena itu
perlu dibuat peraturan atau sistem tertentu untuk mengatur perilaku para karyawan. Hal
ini sesuai dengan pepatah yang berbunyi Don’t change the people but change the
system, artinya jika orangnya sulit diubah perilakunya maka harus dibuat sistem untuk
mengubah perilaku pekerja. Misalnya, Jika teridentifikasi banyak karyawan yang
hipertensi, menu yang disediakan adalah yang rendah kalori, membuat ruangan untuk
perokok untuk menciptakan kawasan bebas asap rokok.

3. Waktu dan Durasi


Secara umum pendidikan kesehatan di tempat kerja dapat dilakukan kapan saja sesuai
kebutuhan institusi. Pada jam kerja dapat dilakukan dengan memutarkan lagu – lagu
yang dapat mengendurkan urat- urat syaraf diluar jam kerja misalnya pada saat makan
siang diputar kaset tentang kesehatan atau nutrisi. Durasi PKDT dapat diselenggarakan
untuk periode waktu tertentu (one shot) atau terus menerus (on going).
Dalam kondisi tertentu perusahaan dapat bekerja sama dengan institusi kesehatan untuk
menyampaikan isu-isu mutakhir mengenai penyakit tertentu. Misalnya, mengenai HIV-
AIDS yang sebenarnya dapat dicegah melalui perilaku sehat.Selain hal tersebut, jika
terjadi kasus tertentu diperusahaan juga dapat dijadikan momentum yang tepat untuk
menghadirkan pakar yang dapat mengupas tuntas tentang penyakit tersebut.Misalnya
jika ada karyawan yang meninggal karena kanker lambung dan pekerja tersebut telah
memiliki kebiasaan makan mie instan sejak masih duduk di SMP.

4. Lokasi
Pada prinsipnya pendidikan kesehatan di tempat kerja dapat dilakukan di luar atau di
dalam ruangan tergantung kebutuhan dan media yang digunakan. Diluar ruangan
misalnya dengan kegiatan outbond Diluar tempat kerja juga dapat dilakukan dengan
rekreasi bersama pekerja, penyuluhan kesehatan kepada para penjaja makanan di sekitar
tempat kerja.Didalam tempat kerja dengan cara merekrut pekerja untuk menjadi kader
kesehatan. Kemudian kepadanya diberikan pelatihan secara khusus selanjutnya diberi
tugas untuk memantau kondisi kesehatan karyawan. Jika ditemukan kasus-kasus
tertentu segera dilaporkan kepada pimpinan untuk dicari solusi terbaik untuk perusahaan
dan karyawan.Selain itu, pemasangan poster dan himbauan berkaitan dengan perilaku
hidup bersih dan sehat di lokasi-lokasi strategis di perusahaan juga dapat dikategorikan
pendidikan kesehatan di tempat kerja.

5. Penyelenggara
Perusahaan besar biasanya memiliki divisi khusus yang diberi tangung jawab mengenai
kesehatan kerja para karyawan lengkap dengan dokter perusahaaan.Namun, tidak
sedikit perusahaan yang baru mencari tenaga kesehatan jika ditemukan kasus kesehatan
ada karyawannya. Bahkan sebagian yang lain mengganggap pendidikan kesehatan di
perusahaan dapat merusak citra perusahaan. Misalnya jika paerusahaan memberikan
pendidikan kesehatan mengenai HIV-AIDS bagi karyawannya khawatir di cap sebagai
perusahaan yang bereputasi buruk karena menganggap ada karyawan yang menderita
HIV-AIDS. Dalam hal ini pengetahuan dan komitmen pimpinan menjadi hal yang
sangat penting. Selain itu, penyelenggara dapat mengndang pihak ketiga yang dianggap
ahli, misalnya departement trining, general affair, dsb. Perusahaan juga dapat bekerja
sama dengan LSM yang berperan memfasilitasi program PKDT yang meliputi,
merancang program, menyediakan SDM/ narasumber, menyediakan berbagai media
pendidikan kesehatan, hingga melakukan evaluasi.

6. Efektivitas Program PKDT


Seperti kegiatan pendidikan pada umumnya keberhasilan sebuah program pendidikan
kesehatan juga dilakukan dengan pre and post design. Hal ini dipandang tepat dilakukan
karena pendidikan kesehatan di tempat kerja juga merupakan sebuah intervensi yang
keberhasilannya dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah
intervensi.Beberapa hasil penelitian mengenai efektivitas PKDT menemukan bahwa
terjadi penurunan yang tajam proporsi pekerja yang mempunyai pengetahuan buruk
mengenai gizi, dari 56,1% (2000) menjadi 14.9% (2003) pekerja yang merokok
menurun dari 44,4% (2000) menjadi 34,7% (2003). Proporsi pekerja yang berperilaku
makan yang sehat meningkat dari 32,2% du tahun 2000 menjadi 47,1% di tahun 2003.
7. Manfaat PKD
Implementasi pendidikan kesehatan di tempat kerja memberikan manfaat
yang banyak baik bagi pekerja maupun bagi perusahaan. Manfaat bagi pekerja antara
lain lebih memahami dan mampu berperilaku sehat, kepuasan kerja meningkat karena
menyadari kepedulian prusahaan, dan menurunkan abstenteism sehingga
meningkatkan produktivitas. Kondisi ini akan meningkatkan loyalitas pekerja
terhadap perusahaan dan pada akhirnya perusahaan juga diuntungkan.
Bagi perusahaan pendidikan kesehatan di tempat kerja sangat bermanfaat seperti
menunjukan kepedulian terhadap karyawan sehingga karyawan lebih loyal kepada
perusahaan atau institusi, angka turn-over rendah sehingga rekrutmen dan pelatihan
untuk karyawan baru juga rendah sehingga meningkatkan produktivitas
perusahaan. Selain itu juga menurunkan biaya kompensasi pengobatan
karyawan,menurunkan angka penyakit akibat kerja, menumbuhkan kebiasaan kerja
dan gaya hidup sehat, menciptakan lingkungan kerja yang sehat kondusif dan aman,
memberikan dampak positif terhadap lingkungan kerja di mayarakat. Pada akhirnya
perusahaan mempunyai citra positif dari masyarakat dan mitra bisnis sehinga
maendapatkan kepercayaan baik dari masyarakat maupun mitra bisnis.

Promosi Kesehatan Di Rumah Sakit


1. Prinsip Dasar
Pendidikan kesehataan di rumah sakit sangat penting karena rumah sakit merupakan
salah satu tatanan institusi pelayanan kesehatan.Selain itu, pendidikan kesehatan tidak
hanya diperlukan dalam pelayanan preventif dan promotif saja tetapi juga pada pelayanan
kuratif dan rehabilitatif. Secara konseptual pendidikan kesehatan dimasyarakat sama
dengan pendidikan kesehatan di rumah sakit namun berbeda sasarannya.Sasaran
pendidikan kesehatan di rumah sakit adalah pasien, pengunjung, dan keluarga pasien
yang tidak hanya membutuhkan pengobatan saja tetapi juga informasi, nasehat, dan
petunjuk yang berkaitan dengan sakit yang dialaminya. Pendidikan kesehatan di rumah
sakit khusus ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar dapat membantu proses
penyembuhan dan pemulihan pasien yang bersangkutan.
Pendidikan kesehatan di rumah sakit pada prinsipnya adalah pengembangan
pengertian /pemahaman pasien dan keluarganya terhadap penyakit yang diderita.Promosi
kesehatan dirumah sakit mempunyai prinsip pemberdayaan pasien dan keluarganya agar
lebih mampu bersikap dan berperilaku preventif promotif dikemudian hari.Promosi
kesehatan di rumah sakit pada prinsipnya adalah penerapan "proses belajar" kesehatan
di rumah sakit artinya pasien dan keluarganya disamping memperoleh kesembuhan juga
memperoleh pengalaman baru yang berupa nasihat, informasi, berkaitan dengan
penyakitnya dan sebagainya.
2. Tujuan Promosi kesehatan di Rumah Sakit
a. Tujuan Promosi kesehatan Bagi Pasien
1) mengembangkan perilaku kesehatan dengan meningkatkan pengetahuan yang
menyangkut jenis penyakit, gejala, epidemiologi, cara penularan, pencegahan, dan
sebagainya.
2) diharapkan sikap dan perilaku ini mempunyai pengaruh positif seperti:
a) mempercepat penyembuhan dan pemulihan.
b) mencegah terulangnya terkena penyakit yang sama.
c) mencegah penularan penyakit.
d) menyebarluaskan pengalaman penyembuhan suatu penyakit.
e) mengembangkan perilaku pemanfaatan fasilitas kesehatan modern.
b. Tujuan Promosi kesehatan Bagi Keluarga
1) membantu mempercepat proses penyembuhan mengingat sebagai lingkungan yang
terdekat diharapkan dapat menciptakan kondisi yang nyaman bagi penderita karena
kesembuhan tidak hanya melalui pengobatan yang diberikan oleh rumah sakit tetapi
juga situasi dan kondisi sekitarnya.
2) tidak menularkan penyakit pada orang lain baik keluarga maupun tetangga. Artinya
dengan meningkatnya pengetahuan tentang pengertian yang benar tentang
penyakitnya, cara penularan, pengobatan yang benar, serta pencegahan
penyakit diharapkan setiap individu yang berdekatan dengan penderita dapat
melakukan tindakan pencegahan sehingga tidak tertular penyakit tersebut.
c. Tujuan Promosi kesehatan Bagi Rumah Sakit
1) M eningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Perlu dipahami oleh rumah
sakit bahwa pasien yang datang ke rumah sakit tidak hanya untuk mencari
kesembuhan tetapi menuntut pelayanan yang holistik termasuk pelayanan
psikososial.
2) M eningkatkan citra rumah sakit, yang akan terwujud jika promosi kesehatan di
rumah sakit diberikan disetiap sudut layanan rumah sakit sehingga masyarakat bisa
menilai bahwa pelayanan rumah sakit sudah baik.
3) Mmeningkatkan angka hunian rumah sakit (Board Occupancy Rate)rumah sakit
yang berhasil melaksanakan promosi kesehatan biasanya berhasil menurunkan
jangka waktu kesembuhan pasien (hari rawat). Dampak lebih lanjut dari hal ini
pamor rumah sakit dan biasanya pasien yang ingin dirawat lebih banyak.
3. Sasaran Promosi kesehatan di Rumah Sakit
a. Pasien dengan berbagai macam penyakit: akut, kronis, rawat inap, rawat jalan, dan
sebagainya dijadikan dasar untuk menentukan metode dan strategi pendidikan
kesehatan di institusi.
b. Kelompok orang sehat (keluarga pasien dan pengunjung), dipandang penting agar
mereka dapat membantu proses penyembuhan pasien pada saat dirawat dan setelah
pulang ke rumah.
c. Petugas rumah sakit antara lain petugas medis, paramedis, pimpinan,
administrasi, tenaga teknis karenadisamping tugas utama merawat pasien para petugas
ini mempunyai tugas tambahan untuk memberikan penyuluhan kesehatan. Untuk itu,
perlu pelatihan baik mengenai teknis penyelenggaraan Promosi kesehatan maupun
substasi atau materi promosi kesehatan sebelum memberikan pendidikan kesehatan.
d. Pengelola manajemen RS yang bertanggung jawab atas operasional rumah sakit
juga perlu memahami pentingnya Promosi kesehatan di RS sehingga akan diperoleh
dukungan dalam bentuk komitmen pimpinan untuk penyelenggaraan Promosi
kesehatan di RS.
4.Tempat Promosi kesehatan di Rumah Sakit
a. Ruang Tunggu
Ruang tunggu tempat berkumpulnya pasian rawat jalan atau keluarga pasien rawat
inap berkumpul sehingga merupakan kesempatan yang baik untuk pelaksanaan promosi
kesehatan karena biasanya pengunjung berkumpul untuk waktu yang relatif
lama.Menunggu merupakan situasi yang sangat membosankan. Untuk mengurangi
kejenuhan akibat menunggu terlalu lama dapat dilakukan penyuluhan kesehatan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Pemberian informasi kesehatan dapat
membantu menghilangkan rasa jenuh selama menunggu panggilan.Selain itu, dapat
disediakan leafletyang dibaca dan dibawa pulang. Diharapkan melalui kegiatan ini
pengunjung dapat meningkatkan pengetahuaannya mengenai kesehatan.
b. Kamar Periksa
Di kamar periksa merupakan tempat dan kesempatan yang baik untuk menyampaikan
pesan-pesan kesehatan, khususnya berkaitan dengan penyakit pasien.Penyampaian
pesan dipandang lebih efektif karena pasien dalam kondisi ingin sembuh (ada
kebutuhan ingin tahu penyakitnya).Untuk menunjang keberhasilan promosi kesehatan
sebaiknya ada alat peraga pada kamar periksa.
c. Ruang Perawatan
Pendidikan kesehatan di ruang perawatan penting karena ditempat ini perawat
mempunyai waktu yang relatif banyak untuk berkomunikasi dengan pasien
dibandingkan dengan petugas kesehatan yang lain.Penyuluhan kesehatan dapat
dilakukan sambil melakukan tugas perawatan seperti mengukur tekanan darah,
mengambil sampel darah, memberi obat, disampaikan pesan dan anjuran-anjuran yang
harus dipatuhi oleh pasien.
5.Materi Promosi kesehatan di Rumah Sakit meliputi
a. Pesan kesehatan terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Misalnya
pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat setiap hari. Misalnya dengan melakukan
1) makan dengan menu seimbang dan secukupnya.
2) aktivitas fisik yang memadai secara rutin.
3) tidak merokok, minum-minuman keras dan mengkonsumsi narkoba.
4) dapat mengelolah stres.
5) istirahat cukup.
b. Pesan kesehatan terkait dengan pencegahan penyakit terutama penyakit yang sedang
diderita pasien. Jika penyakitnya menular penting disampaikan bagaimana agar yang
bersangkutan tidak menjadi sumber penularan penyakit tersebut bagi orang lain
khususnya keluarganya.Perilaku Pencegahan Penyakit dapat dilakukan dengan
mengenali
1) gejala atau tanda-tanda penyakit.
2) penyebab penyakit.
3) cara penularan penyakit.
4) cara pencegahan penyakit.
c. Pesan kesehatan terkait dengan proses penyembuhan dan pemulihan.
Perlu ditanamkan bahwa setiap penyakit mempunyai proses penyembuhan yang
berbeda- beda sehingga perlu pengertian dan kesabaran dari pasien dan keluarganya
dalam melakukan perawatan pasien.Misalnya, meminum obat sesuai dengan petunjuk
dokter, kapan harus kontrol dan bertemu dokter dan bagaimana memelihara kesehatan
setelah sembuh.
5.Metode Promosi kesehatan di Rumah Sakit
Sebagai institusi kesehatan rumah sakit harus bisa menjadi contoh baik dari bangunan,
lingkungan sekitar, maupun orang-orang yang menjadi bagian dari rumah sakit harus bias
menjadi contoh bagi para pengunjung. Pemberian contoh perlu mengubah kesan
rumah sakit yang menyeramkan seperti identik dengan sakit berat/ keras dan kematian
menjadi lingkungan yang lebih ramah, antara lain:
a. Bangunan bersih, rapi bisa digunakan
b. Kamar mandi bersih dan tidak ada jentik nyamuk, terawat, dan tersedia air bersih
yang memadai.
c. Tersedia tempat sampah baik di dalam maupun di luar ruangan.
d. Tersedia taman hidup di sekitar rumah sakit.
e. Kebersihan, kerapian, dan keramahan petugas rumah sakit.
Selain metode pemberian contoh metode pendidikan kesehatan lain juga dapat digunakan
seperti curah pendapat, diskusi, tanya jawab, ceramah, dll sesuai kebutuhan dan
kesempatan. Namun, lebih tepat digunakan metode konseling karena masalah
kesehatan yang ada biasanya bersifat individual sehingga membutuhkan pendekatan
yang berbeda antara individu yang satu dan yang lainnya.

6. Penggunaan Media
Pemilihan dan penggunaan media yang tepat dalam proses pendidikan akan sangat
mendukung keberhasilan kegiatan karena media merupakan alat bantu untuk
menyampaikan pesan kesehatan kepada pasien dan pengunjung rumah sakit.Beberapa
media cetak yang dapat digunakan antara lain: leaflet, booklet, poster, spanduk. Selain itu,
media elektronik seperti: radio, CD, video, sound systemtertentu dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan-pesan kesehatan melalui musik, siraman rohani untuk menghibur,
memberi semangat untuk sembuh, dan memperkuat iman para pasien.
Pemasangan poster tentang kesehatan pada tempat-tempat yang strategis di rumah sakit
juga merupakan media pendidikan kesehatan.
Penyuluhan langsung juga merupakan salah satu bentuk metode pendidikan kesehatan
di rumah sakit.Penyuluhan dapat dilakukan secara terstruktur atau terprogram oleh
petugas khususnya yang mempunyai dibidang promosi kesehatan secara
berkala.Penyuluhan dapat juga dilaksanakan secara langsung oleh paramedis ketika
berhadapan dengan pasien.

Pendidkan Kesehatan Masyarakat.


1. Pengertian
Pendidikan kesehatan di masyarakat merupakan upaya menyadarkan
masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat atau pentingnya perilaku sehat, melalui
peningkatan pengetahuan masyarakat. Melalui kegiatan ini potensi masyarakat digali
dan dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Pada pendidikan
kesehatan di masyarakat dilakukan bimbingan bagi masyarakat setempat untuk
menemukan sendiri permasalahan yang ada kemudian didiskusikan pemecahanya
sehingga mereka terlibat langsung dalam penemuan dan penyelesaian masalah tersebut.
Tujuan akhir dari kegiatan pendidikan kesehatan di masyarakat adalah kemandirian
masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan khususnya di bidang kesehatan.
Pendidikan kesehatan di masyarakat pelaksanaanya dapat dilakukan melalui
beberapa pendekatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat atau tergantung
permasalahan yang ada pada masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan
kesehatan di masyarakat bervariasi. Artinya berbeda antara masyarakat di satu
wilayah dengan masyarakat di wilayah yang lain. Dibawah ini pendekatan yang biasa
digunakan dalam pendidikan kesehatan di masyarakat (Notoatmodjo, 2010).

2. Jenis-jenisPendekatan dalam Pendidikan Kesehatan di Masyarakat


a. Pendekatan Direktif
Pendekatan direktif berasumsi bahwa petugas tahu apa yang dibutuhkan dan apa
yang baik untuk masyarakat dan biasanya ditujukan untuk masyarakat yang belum
berkembang. Peran petugas kesehatan lebih dominan karena prakarsa kegiatan dan
sumberdaya yang dibutuhkan berasal dari petugas. Oleh karena itu, interaksi antara
petugas kesehatan dan masyarakat yang lebih bersifat instruktur dan masyarakat
dilihat sebagai objek.
b. Non- direktif
1) Didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat sudah tahu kebutuhan dan apa yang
baik untuk mereka sendiri.
2) Petugas hanya menggali dan mengembangknan potensi yang ada pada
masyarakat.
3) Sifat interaksinya adalah interaktif dan masyarakat dilihat sebagai subjek.
c. Kondisi untuk tumbuhnya self- directed action/nondirektif
1) Adanya sejumlah orang yang tidak puas terhadap keadaan dan sepakat tentang
apa sebenarnya yang menjadi dibutuhkan.
2) Menyadari bahwa kebutuhan tersebut dapat terpenuhi jika mereka berusaha
memenuhi kebutuhan tersebut.
3) Memiliki sumberdaya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
(termasuk pengetahuan, keterampilan, sarana dan kemauan yang kuat untuk
melasanakan keputusan yang telah ditetapkan bersama).
d. Keuntunganpendekatan non- direktif
1) Memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih baik dalam keterbatasan
sumber daya.
2) Membantu perkebangan masyarakat
3) Menumbuhkan rasa kebersamaan(we- feeling)
e. Keterbatasanpendekatan non- direktif
1) Petugas tidak dapat sepenuhnya menetapkan isi dalam proses kegiatan
serta tidak dapat menjamin bahwa hasil akhir akan sesuai dengan
keinginanya.
2) Masyarakat yang sudah biasa dengan pendekatan direktif sulit untuk
terlibat secara aktif dan ikut bertanggung jawab sepenuhnya atas
kebutuhan yang ditetapkan.

3. Penetapan PPM
a. Dilandasi pada pemikiran bahwa proses belajar berlangsung secara betahap yang
disesuaikan situasi dan kondisi kelompok sasaran
b. Penetapan gaji menggambarkan proses pendelegasian wewenang dari petugas
kepada kelompok sasaran agara semakin mandiri
c. Keterlibatan sasaran yang pada awalnya lebih banyak pada kegiatan yang
bersifat pelaksanaan secara bertahap ditingkatkan pada kegiatan pemantauan,
perencanaan, dan penilaian.

Secara skematis penerapan pendekatan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :


Tahap peran petugas peran masyarakat
Persiapan Petugas
a. Dinamisasi Kelompok +++++
b. Advokasi +++++
c. Penyiapan Lapangan +++++

Persiapan Sosial
a. Pengenalan masyarakat ++++ +
b. Pengenalan masalah + + ++ +
c. Penyadaran +++ ++
Penyusunan rencana ++ +++
Pelaksanaan ++ +++
Monitoring dan evaluasi ++ +++
Perluasan + ++++

5. Konsep Gotong Royong


Konsep gotong royong erat kaitanya dengan konsep kelompok primer dan
sekunder, artinya konsep gotong royong lebih sesuai untuk kelompok primer
karena mempunyai kesempatan untuk berkomunikasi lebih secara intensif. Hal ini
penting karena penerapan konsep gotong royong harus mempertimbangkan sifat-
sifat kelompok. Pada masyarakat kota konsep gotong royong dapat diterapkan
dengan cara yang berbeda.

6. Kegiatan PPM SebagaiPengalaman Belajar


Required Outcome Situation (situasi belajar yang diwajibkan )
Adalah kondisi pembelajaran di mana petugas mengharuskan masyarakat
berperilaku tertentu dan jika masyarakat tidak mau melaksanakan dapat
memberikan sanksi atas pelanggaran terhadap instruksinya. Skenario seperti ini
diberlakukan jika ada ancaman terhadap orang banyak seperti wabah dan
bencana. Misalnya, setiap keluarga diwajibkan bebas jentik nyamuk, kemudian
jumantik akan melakukan pemantauan jika ada keluarga yang kedapata nada
jentik pada penampungan airnya diberi sanksi 1 jentik harus bayar Rp10.000,00.
Recomended Outcome Situation (Situasi belajar yang disarankan). Petugas berperan
sebagai narasumber dan perilaku tertentu namun tidak ada sanksi jika perilaku
tersebut tidak dilaksanakan. Misalnya pada upaya perbaikan gizi petugas
menyarankan untuk mengkonsumsi menu seimbang.
Self Directed Outcome Situation (Situasibelajar yang ditetapkan sendiri) dalam
kondisi ini, masyarakat sudah mandiri karena status sosial ekonomi dan
pendidikanya yang memadai sehingga dapat menentukan upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan. Misalnya, jika ada keluarga yang
memiliki bayi dan balita diinformasikan bahwa asap rokoks angat berbahaya
bagi tumbuh kembang bayi dan balita. Kemudian kepada orang tuanya yang
merokok, jika ingin bayi dan balitanya bertumbuh dan berkembang dengan baik
orang tua disarankan berhenti merokok.

7. Partisipasi Masyarakat
a. Pembangunan bertujuan untuk menciptakan kemandirian masyarakat yang
dapat dicapai dengan partisipasi masyarakat.
b. Partisipasi mengandung 3 komponen yaitu interaksi, pengambilan keputusan,
dan kesederajatan.
c. Partisipasi juga mengandung konsekuensi berbagi kekuasaan antara yang
mengajak berpartisipasi dan yang diajak berpartisipasi.
d. Dalam pembangunan kesehatan berpartisipasi merupakan proses yang harus
dikembangkan dalam setiap upaya kesehatan. Misalnya dalam program
posyandu.
e. Secara bertahap kualitas partisipasi masyarakat harus selalu ditingkatkan.

8. Peran Serta MasyarakatdalamPublic Health Community (PHC)


Prinsip penting dalam PHC adalah partisipasi masyarakat dengan konsekuensi
tindakan kesehatan yang semula merupakan hakeksklusif profesi kesehatan
dialihteknologikan kepada kader kesehatan sehingga menimbulkan tantangan dari
kelompok profesi kesehatan. Karena jumlah profesi kesehatan tidak sebanding
dengan banyaknya perasalahan kesehatan, kehadiran kader kesehatan dalam PHC
dapat diterima. Partisipasi menadi penting dalam PHC karena upaya kesehatan
primer merupakan kontak pertama dari suatu proses pemecahan masalah kesehatan.
Disamping itu partisipasi mempunyai nilai positif antara lain:
a. Menjembatani kesenjangan antara provider dengan consumer
b. Dengan partisipasi potensi setempat dapat digali dan didayagunakan sehingga
proses belajar dapat berlangsung secara efektif, masyarakat menjadi mandiri, dan
tujuan pembangunana kesehatan dapat dicapai.

9. Peran dan Kedudukan Kader Kesehatan dalam PHC


a. Bentuk konkrit partisipasi masyaraka dalam PHC adalah menjadi kader
kesehatan, yaitu masyarakat terpilih yang diberi keterampilan melalui pelatihan oleh
petugas kesehatan.
b. Kader kesehatan menjadi motor penggerak upaya kesehatan primer secara
preventif, promotif , kuratif dan rehabilitatif.
c. Upaya kesehatan primer yang dikelola oleh kader kesehatan merupakan hal baru bagi
masyarakat sehingga kadang-kadang kurang mendapat kepercayaan dari
masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan dari petugas kesehatan untuk
menyakinkan masyarakat agar kader kesehatan ini memiliki kredibilitas di
masyarkat.
d. Dengan kata lain kader kesehatan memerlukan adanya competent credibility.

10. Competent Credibility Kader Kesehatan


a. Competent Credibility diperoleh melalui keterampilan dalam bidang teknik-
teknik sederhana agar dapat memberikan nasehat teknis kepada masyarakat yang
memerlukanya.
b. Melalui keterampilan ini akan dapat mengembangkan citra diri sebagai orang
yang dapat dipercaya (safety credibility) sehingga dapat menjalankan perananaya
sebagai pengelola upaya kesehatan.
c. Kredibilitas dapat dimiliki kader kesehatan jika ada interaksi partnership dan edukatif
antara petugas kesehatan yang profesional dan kader kesehatan.
d. Dengan kredibilitas yang dimiliki upaya kesehatan primer yang dikelola kader
kesehatan akan dapat berjalan dengan baik dan lancar.
11. Hal Penting Berkaitan dengan Kader Kesehatan
a. Kader kesehatan merupakan tugas sosial sehingga harus ada volunteerism
b. Meskipun demikian seorang kader kesehatan tetap memerlukan penghargaan
(reward) baik materi maupun non materi.
c. Hingga saat ini belum ada mekanisme pemberian penghargaan untuk kader
sehngga perlu dikembangkan suatu cara agar kader mendapat kepuasan dari
perananya sebagai kader kesehatan.
d. Kepusan ini akan timbul jika kader merasakan bahwa kredibilitasnya meningkat
dengan aktivitasnya sebagai kader.

12. Lembaga Swadaya Masyarakat


a. Merupakan wadah dari organisasi yang mau berkontribusi dalam pembangunan
b. Dalam beberapa kegiatan LSM dapat menjadi pionir seperti PKBI dalam kegiatan
KB
c. Dalam kontribusinya mepunyai keunikan terutama kemampuanya menerapkan
pendekatan partisipatif karena sifatnya yang tidak terlalu birokratis sehingga lebih
mudah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.

13. Model- Model PPM


PPM diartikan sebagai bentuk intervensi kepada masyarakat yang diarahkan untuk
peningkatan atau perubahan lembaga masyarakat. (Fred. Cox et al., 1979 dalam
Notoatmodjo, 2010) ada tiga model PPM yaitu:
a. Model A ( Locality Development)
1) Asumsi: Perubahan masyarakat berlangsung secara optimal jika ada
partisipasi masyarakat dalam penetapan tujuan dan pelaksanaan tindakan.
2) Berorientasi pada proses yang nampak dari banyaknya penggunaan metode
dinamika kelompok.
3) Strategi dasar: pencapaian konsensus dan menghindari konflik
4) Peran petugas sebagai enabler yang memberi kesempatan kepada masyarakat
untuk mengalami proses balajar melalui kegiatan pemecahan masalah
5) Orientasi terhadap struktur kekuasaan diikutsertakan sebagai mitra dalam usaha
mencapai tujuan
b. Model B (Social Planning)
1) Menekankan aspek teknis dalam penyelesaian masalah melalui perencanaan
yang baik dan rasional, sementara pola partisipsi masyarakat berfariasi
tergantung permasalahanya yang dihadapi.
2) Berorientasi pada penugasan.
3) Strategi dasar: menekankan pentingnya pengumpulan data dan analisisnya
sebelum meyusun perencanaan.
4) Peran petugas sebagai ahli (expert) dengan kemampuan teknis untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat.
5) Orientasi terhadap struktur kekuasaan diikutsertakan sebagai sponsor dalam
usaha mencapai tujuan.
c. Model C ( Social Action)
1) Mempunyaitujuanutamauntuk mengadakan perubahan mendasar pada
lembaga- lembaga kemasyarakatan (restrukturisasi).
2) Berorientasipadaproses atau penugasan.
3) Strategi dasar banyak memanfaatkan konflik, konfrontasi dan aksi- aksi
langsung.
4) Struktur kekuasaan dijadikan sasaran perubahan.
5) Dalam praktik ketiga model tersebut sering digunakan secara kombinasi
untuk lebih meningkatkan peran serta masyarakat dalam social planning, sebagai
usaha awal social action.

Metode Pendidikan Kesehatan


Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Notoatmodjo (2010), menyatakan bahwa pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah
suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan pada masyarakat, kelompok, atau
individu, dengan adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok atau individu
dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan lebih baik. Diharapkan pengetahuan akan
berpengaruh terhadap perilaku. Artinya, melalui pendidikan diharapkan akan muncul sikap
positif sesuai dengan apa yang diketahuinya selanjutnya terjadi perubahan perilaku sasaran.
Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang pendidik dituntut mampu memilih metode yang
tepat dalam proses pendidikan atau pembelajaran. Untuk itu, seorang pendidik kesehatan
harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai metode-metode mengajar dan mampu
menggunakannya secara efektif. Perlu dipahami bahwa setiap metode memiliki kelebihan
dan kekurangan karena itu disarankan sebaiknya penggunaan metode lebih dari satu dalam
setiap kegiatan pendidikan
Penggunaan metode mengajar dalam pendidikan kesehatan biasanya disesuaikan dengan
tujuan yang ingin dicapai, jumlah sasaran, kasus yang ditemukan. Sebagai contoh, jika
pendidikan kesehatan diberikan dengan tujuan agar peserta didik memiliki perilaku
menggosok gigi secara rutin dengan baik dan benar metode yang tepat adalah demonstrasi
dan pembiasaan. Beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendidikan kesehatan
individual, kelompok, dan massa (public) antara lain (Notoatmodjo, 2010):
1. Metode Pendidikan kesehatan Individual (Perorangan)
Metode pendidikan kesehatan yang individual digunakan dengan tujuan untuk
membina perilaku baru atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu
perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya, membina seorang ibu yang mulai tertarik dengan
program imunisasi karena baru saja memperoleh atau mendengarkan pendidikan kesehatan.
Pendekatan ini digunakan agar ibu tersebut bersedia mengimunisasikan anaknya secara
rutin, pendekatan dilakukan secara perorangan. Dengan kata lain, metode pendidikan
kesehatan akan dipilih dan dipertimbangkan by case atau sesuai dengan kasus yang
teridentifikasi.
Pendekatan perorangan tidak hanya berarti hanya dilakukan kepada yang
bersangkutan, tetapi juga kepada anggota keluarga yang lain dari keluarga tersebut
untuk memperoleh dukungan. Dasar digunakannya pendekatan individual ini adalah setiap
orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda sehubungan dengan
penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui dengan tepat
serta dapat membantunya metode ini lebih tepat digunakan. Di samping itu, dengan
pendekatan individual dapat dilakukan pendidikan kesehatan yang lebih intensif sehingga
pemahaman masyarakat mengenai informasi kesehatan benar yang pada akhirnya
terjadi perubahan perilaku. Bentuk pendekatan ini, antara lain.
a. Jenis Metode Pendidikan Individu
1) Bimbingan dan Penyuluhan Kesehatan (Guidance and conceling) Melalui metode
ini ada kontak langsung antara klien dan petugas secara intensif dalam
suasana informal sehingga klien mempunyai keberanian untuk
mengungkapkan permasalahan kesehatan yang dihadapi. Dengan demikian
dapat dilakukan identifikasi masalah secara langsung dan selanjutnya
dibantu penyelesaiannya. Pada akhirnya diharapkan ada peningkatan
pengetahuan klien yang diikuti dengan perubahan sikap yang positif sehingga
dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran dan penuh pengertian akan
menerima perilaku baru tersebut (mengubah perilaku).
2) Wawancara (Interview)
Metode ini merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan kesehatan di mana
identifikasi masalah digali melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
petugas (penyuluh). Artinya, wawancara antara petugas kesehatan dan klien
dimaksudkan untuk menggali informasi latar belakang belum munculnya
perilaku yang diharapkan. Misalnya, mengapa seseorang tidak/belum menerima
perubahan (belum bersedia mengimunisasikan anaknya), apakah perubahan
tersebut menarik/penting atau tidak, bagaimana persepsi seseorang terhadap
perubahan yang diharapkan. Disamping itu, untuk mengetahui apakah perilaku
yang sudah atau akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran
yang kuat. Apabila belum maka perlu pendidikan kesehatan yang lebih mendalam
lagi.
b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Individual
1) Kelebihan Metode Individual
a) Dapat menggali akar masalah
b) Dapat membina hubungan baik secara personal yang dapat digunakan
untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap petugas kesehatan.
c) Dibutuhkan keterampilan/kemampuan komunikasi interpersonal yang baik
dari pendidik kesehatan.
2) Keterbatasan Metode Individual
a) M embutuhkan waktu yang lama untuk mencapai target wilayah.
b) Tidak mudah untuk melakukan pendekatan perorangan agar yang
bersangkutan dapat terbuka terhadap masalah yang dihadapi.
2. Metode Pendidikan Kesehatan Kelompok
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan tidak hanya secara individual tetapi juga secara
berkelompok. Dari segi efektivitas dan efisiensi, pendidikan kesehatan kelompok lebih
efektif dan efisien karena dalam waktu singkat dapat disampaikan informasi kesehatan
kepada sejumlah orang. Namun, kalau mengingat tujuan yang ingin dicapai seperti telah
dikemukaan dalam metode individual setiap metode memiliki nilai efektivitas dan
efisiensinya masing- masing.
Dalam memilih metode pendidikan kesehatan kelompok, harus diingat besarnya
kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran termasuk perubahan
perilaku yang diharapkan. Semakin homogen latar belakang pendidikan peserta didik
akan semakin mudah menentukan metode atau merencanakan pendidikan kesehatan
yang akan dilaksanakan. Di samping itu, besar kecilnya kelompok peserta didik juga
akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan kesehatan yang dilaksanakan. Metode
yang digunakan untuk kelompok besar berbeda dengan metode yang digunakan pada
kelompok kecil. Efektivitas suatu metode tergantung pada besar kecilnya sasaran. Di
bawah ini disajikan metode pendidikan kesehatan untuk kelompok besar dan metode
pendidikan kesehatan untuk kelompok kecil.
a. Kelompok besar
Besar kecilnya sebuah kelompok dilihat dari banyak sedikitnya anggota kelompok.
Kelompok besar adalah sebuah kelompok yang memiliki jumlah anggota lebih dari
15 orang. Jumlah anggota kelompok ini menjadi salah satu pertimbangan untuk
menentukan metode pendidikan yang akan digunakan agar informasi yang
disampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.
Beberapa metode pendidikan untuk kelompok besar ini, antara lain:
1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan metode pendidikan yang tertua, artinya
sebelum ditemukan metode-metode lain metode ini sudah digunakan sebagai cara
untuk menyampaikan pesan kepada pihak lain/peserta didik. Metode ceramah
adalah cara menyampaikan pesan/informasi kepada sejumlah orang secara lisan
yang bersifat satu arah. Artinya peran yang dominan ada pada pihak penyampai
pesan sementara penerima pesan hanya mendengarkan.
Metode apapun yang digunakan sebenarnya diawali atau dikombinasi
dengan metode ceramah. Misalnya, seorang pendidik akan menggunakan
metode diskusi tentu tidak mungkin begitu masuk kelas peserta didik disuruh
berdiskusi namun namun harus diawali dengan pengarahan, pembentukan
kelompok diskusi, pembagian tugas, dan lain-lain. Dalam kegiatan pengarahan,
pembentukan kelompok diskusi, pembagian tugas, dan lain-lain inilah metode
ceramah digunakan. Oleh karena itu, diharapkan setiap pendidik dapat menjadi
penceramah yang baik, dan berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan metode ceramah:
(a). Persiapan
Metode ceramah akan berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai
materi yang akan diceramahkan. Untuk itu penceramah harus
mempersiapkan diri dengan seperti:
(1). Mempelajari materi dengan baik dan sistematis. Lebih baik kalau
disusun dalam diagram atau skema untuk memudahkan peserta didik
memahami informasi yang disampaikan.
(2). Mempersiapkan alat-alat bantu pendidikan kesehatan, misalnya
makalah singkat, slide, transparan, soundsystem, dan sebagainya agar
ceramah lebih menarik.
(b). Pelaksanaan
Penggunaan metode ceramah akan berhasil apabila penceramah tersebut
dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk itu penceramah dapat melakukan
hal-hal sebagai berikut :
(1). Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap
ragu-ragu atau gelisah
(2) Suara hendaknya cukup keras dan jelas (dapat didengarkan oleh seluruh
peserta didik namun tidak memekakan telinga)
(3 ) Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah
(5) Berdiri di depan (di pertengahan) sebaiknya tidak dan duduk dapat
bergerak sesuai kebutuhan namun tidak berlebihan
(6) Menggunakan alat-alat bantu audio visual aids (AVA) semaksimal
mungkin untuk menghindari verbalisme dan mempermudah peserta didik
memahami informasi yang disampaikan.
(c) Kelebihan Metode Ceramah
(1) Dapat menyampaikan materi yang banyak dalam waktu singkat kepada
sejumlah besar peserta didik
(2) Penceramah dapat menguasai seluruh arah pembiaraan
(3) Tidak terlalu banyak membutuhkan alat bantu.
(4) Ekonomis karena hanya bermodalkan suara
(d) Keterbatasan Metode Ceramah
(1) Dapat menimbulkan verbalisme dan salah persepsi
(2) Membosankan jika pendidik tidak menguasai teknik presentasi
yang baik.
(3) Peserta didik pasif, bertentangan dengan azas kurikulum berbasis
kompetensi.
(4) Seringkali perhatian peserta tidak penuh.

b). Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan
menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli
atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting, dan biasanya
dianggap hangat dimasyarakat. Sebagai metode pendidikan kesehatan,
penyampaian materi harus dikemas sedemikian rupa dan disampaikan benar-
benar oleh ahlinya. Oleh karena itu, kelebihan metode ini adalah materi
disampaikan oleh ahlinya sehingga jika peserta didik merasa belum jelas
akan mendapat penjelasan yang memuaskan. Sementara, kelemahan metode ini
adalah karena dalam seminar dibutuhkan peran aktif dari peserta didik sehingga
dibutuhkan peserta didik yang mempunyai latar belakang pendidikan yang
memadai.
(1) Kelebihan
(a) Mengaktifkan peserta didik
(b) Dapat memperoleh informasi langsung dari pakar
(c) Memberi kesempatan peserta didik untuk berbicara dihadapan
banyak orang dan menghargai pendapat orang lain.
(2) Keterbatasan
(a) untuk satu materi perlu mencari beberapa pakar
(b) untuk pelaksanaan yang baik perlu persiapan yang matang
(c) harus ada manajemen waktu yang baik.

1) Kelompok kecil
Apabila peserta kegiatan ini kurang dari 15 orang biasanya kita sebut
kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok ini antara
lain :
a) Diskusi Kelompok
Agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam
diskusi maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa
sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu
sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi empat.
Pemimpin diskusi juga duduk di antara peserta sehingga tidak
menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Dengan kata lain peserta
harus merasa berada dalam posisi yang sama, sehingga tiap anggota
kelompok mempunyai kebebasan atau keterbukaan untuk
mengeluarkan pendapat. Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi
harus memberikan umpan yang dapat berupa pertanyaan-pertanyaan
atau kasus sehubungan dengan topik yang dibahas. Agar terjadi diskusi
yang hidup maka pemimpin kelompok harus mengarahkan dan
mengatur jalannya diskusi sehingga semua orang dapat kesempatan
berbicara dan tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta.
(1) Kelebihan
(a) M emberi kesempatan peserta didik untuk mengemukakan
pendapat
(b.) Demokratis dan belajar bekerja sama
(c) Mengembangkan dan menghargai kepemimpinan dalam peer
group.
(2) Keterbatasan
(a) Peserta didik mendapat informasi yang terbatas
(b) Jika moderator kurang berpengalaman diskusi dapat berlarut-
larut.
(c) Dibutuhkan kemampuan berpikir ilmiah
(d) Dapat didominasi oleh orang yang suka bicara.

b). Curah pendapat


Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok.
Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya pada
permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan
kemudian tiap peserta wajib memberikan jawaban atau tanggapan (curah
pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan
ditulis dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta
mencurahkan pendapatnya, tidak boleh diberi komentar oleh siapapun.
Baru setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota
dapat mengomentari, dan akhirya terjadi diskusi.
(1) Kelebihan
(a) Mengaktifkan peserta didik
(b) Memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk
menyampaikan pendapat, ide, dan lain-lain.
(c) Dapat menjadi sarana pembelajaran peer group, artinya teman
sendiri dapat menjadi sumber pengetahuan.
(2) Keterbatasan
(a) D apat dilaksanakan jika peserta didik telah mempunyai bekal
pengetahuan mengenai topik diskusi.
(b) Fasilitator dapat terjebak ikut dalam curah pendapat.
(d) Jika fasilitator kurang terampil curah pendapat dapat
berkembang keluar topik.
c). Bola salju (snowballing)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang)
kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah. Setelah lebih
kurang 5 menit maka tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka
tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya.
Kemudian tiap-tiap pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini
bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya
sehingga akhirnya akan terjadi diskusi seluruh anggota kelompok.
(1) Kelebihan
(a) Mengaktifkan semua peserta didik
(b) Pembahasan dapat meluas dan mendalam seiring pertambahan
anggota kelompok.
(c) Memberi kesempatan peserta didik untuk berbicara dihadapan
banyak orang dan menghargai pendapat orang lain.
(2) Keterbatasan
(a) Peserta didik yang tidak menguasai topik akan sulit mengikuti
perkembangan diskusi/kelompok
(b) Jika fasilitator tidak terampil, akan sulit mengendalikan arah
pengembangan topik.
(c) Harus ada manajemen waktu yang baik.
d). Kelompok-kelompok kecil (buzz group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (buzz
group) yang kemudian diberi suatu permasalahan yang sama atau tidak
sama dengan kelompok lain. Setiap kelompok mendiskusikan masalah
tersebut. Selanjutnya hasil dari tiap kelompok didiskusikan kembali dan
dicari kesimpulannya.
(1) Kelebihan
(a) Semua peserta didik dituntut aktif
(b) Dapat memotivasi kelompok untuk mengembangkan
kreativitasnya dalam mengerjakan tugas dengan berkompetisi
dengan kelompok lain.
(c) Memberi kesempatan peserta didik untuk berbicara dihadapan
banyak orang dan menghargai pendapat orang lain.
(2) Keterbatasan
(a) Jika topik berbeda-beda pendidik harus mempunyai wawasan
yang luas untuk setiap topik agar jika ada permasalahan dapat
dipecahkan dengan baik dan benar.
(b) Untuk pelaksanaan yang baik perlu persiapan yang matang
(c) Harus ada manajemen waktu yang baik.

e). Memainkan peranan (role play)


Metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang
peran tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter
puskesmas, pasien, perawat atau bidan, dan sebagainya, sedangkan anggota
yang lain sebagai pasien atau anggota masyarakat. Mereka memperagakan,
bagaimana interaksi atau komunikasi sehari- hari dalam melaksanakan
tugas dalam rangka menyelesaikan masalah kesehatan.

f). Permainan simulasi (simulation game)


Metode ini merupakan gabungan antara roleplay dengan diskusi kelompok.
Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti
permainan monopoli. Cara memainkannya sama seperti bermain monopoli
atau ular tangga, dengan menggunakan dadu, gaco (petunjuk arah), selain
beberan atau papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan
sebagian lagi berperan sebagai narasumber/fasilitator. Sebagai metode
pendidikan kesehatan, cara memainkannya sama artinya, peserta melempar
gaco, kemudian melangkah sesuai angka yang keluar saat dadu dilempar.
Kemudian pemain melangkah sesuai angka tersebut dan berhenti pada satu
titik. Pada saat berhenti melangkah sudah ada perintah/soal yang harus
dijawab. Misalnya gejala demam berdarah yaitu ......dst.
3. Metode Pendidikan Massal
Adalah metode pendidikan yang digunakan untuk menyampaikan pesan-
pesan kesehatan secara massal, misalnya pidata Menteri Kesehtan RI dalam
rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional yang disiarkan melalui televisi
nasional, penyampaian dara melakukan gerakan 3 M melalui televisi, pesan
tentang tanda dan gejala DBD melalui surat kabar nasional dan televisi
nasional, termasuk pesan kesehatan melalui spanduk, baliho dan poster
yang dipajang secara nasional.
TEKNIK PRESENTASI INTERAKTIF

1. Pengetian
Adalah metode untuk melaksanakan proses alih pengetahuan atau penyampaian pesan
dengan pemberian materi/teori secara verbal dari seorang /pengajar
pelatih/penyuluh/presenter di dalam kelas Metode ini akan lebih efektif jika dilengkapi
dengan teknik bertanya dan teknik menjawab yang efektif dan menggunakan perangkat
audiovisual seperti OHP, LCD, Lembar Balik, Slide Projektor, Video tape dsb. Hal ini
penting untuk menghindari terjadinya verbalisme atau tahu katanya tidak tahu makna atau
bendanya.
2. Kelebihan dan Keterbatasan
a. Kelebihan
1) Jika dirancang dengan baik presentasi interaktif akan memperlihatkan hasil
yang efektif diterapkan gabungan kelompok belajar cepat dan lambat.
2) Dapat digunakan untuk menyampaikan sejumlah besar informasi dalam waktu
yang relatif singkat.
3) Dapat digunakan untuk kelompok belajar yang jumlahnya cukup besar
dibandingkan dengan kelompok diskusi, curah pendapat, bermain peran, atau studi
kasus.
4) Pelatih dapat mengendalikan pokok bahasan dan metode penyampaian materi.
b. Keterbatasan
1) Kurang berhasil bila pelatih dan peserta tidak mampu menjaga konsentrasi
dan perhatian secara penuh dan cukup lama.
2) Kontribusi dan keterlibatan peserta akan minimal jika pelatih tidak mampu
menciptakan interaksi yang sehat.
3) Karena penyampaian materi didominasi oleh pelatih maka pemahaman peserta
harus dimonitor melalui pertanyaan umpan balik secara berkala.
4) Dapat terjadi materi yang diberikan terlalu banyak sehingga melebihi kapasitar
memori peserta.
3. Langkah-Langkah Presentasi Interaktif
a. Menentukan tujuan presentasi
1) Menentukan tujuan yang diharapkan dari peserta latih setelah mengikuti presentasi
(kompetensi peserta setelah mengikuti presentasi)
2) menggunakan kata-kata yang spesifik (menjelaskan, menyebutkan, menghitung,
mengukur, menceritakan, menjumlahkan, membuat, menunjukkan, melakukan
dsb) supaya kompetensi dapat diukur pada akhir presentasi.
3) Pertanyaan berikut dapat membantu menyusun tujuan presentasi
a) Setelah presentasi apa yang kita ingin peserta lakukan? katakan?, yakini?
b) Presentasi ini dilakukan untuk membujuk, mengilhami,
menginformasikan, meyakinkan, memberi instruksi, menghibur ?
b. Mengecek kembali tujuan presentasi, bila perlu direvisi
1) Pada saat menentukan presentasi tidak hanya menentukan apa yang dilakukan
oleh pendengar, tetapi bayangan mengenai persepsi/pengetahuan peserta tentang
subjek yang dipresentasikan. Perhatikan homogenitas peserta karena semakin
variatif goal yang berbeda semakin banyak.
2) Merupakan tugas presenter memilah bahan presentasi yang sesuai dengan peserta.
3) Hampir dalam setiap komunikasi memiliki lebih dari satu tujuan yang ingin
dicapai, bahkan mungkin ada tujuan tersembunyi yang dapat mengganggu
tercapainya tujuan presentasi. Oleh karena, itu harus mengecek tujuan presentasi.
4) Tujuan tersembunyi kadang-kadang bersifat pribadi, misalnya ingin dianggap
sebagai pembicara yang hebat, ingin memberikan impresi tertentu pada khalayak.
c. Menciptakan pembuka presentasi yang menarik
1) Kata-kata yang paling didengar oleh audience biasanya adalah kalimat- kalimat
awal sehingga keberhasilan sebuah presentasi dapat diprediksi dari 2 menit
awal presentasi. Artinya jika pada 2 menit pertama kita dapat menguasai kelas
atau mampu menarik perhatian audience maka presentasi akan berhasil dan
sebaliknya.
2) Berikut ini adalah cara untuk menarik minat dan mempertahankan perhatian
selama presentasi
a) ajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif yang ada hubungannya dengan
materi yang akan dipresentasikan.
b) gunakan pertanyaan popular yang relevan dengan materi/subjek
c) berikan sentuhan yang menarik minat misalnya pengalaman pribadi yang
ada hubungannya dengan materi presentasi (jangan berlebihan).
d) kaitkan dengan hal-hal yang baru terjadi dan ada relevansinya dengan subjek.
3) Hal yang harus dihindari
a) menggunakan humor pada situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan
dan bukan humoris.
b) menjelaskan arti kata secara leksikal dari materi presentasi
c) menunjukan skema organisasi dan menjelaskan sejarah
departemen/organisasi yang tidak berkaitan dengan substansi presentasi.
d) tidak hanya membaca tulisan yang ada pada layar/gambar .
d. Menyiapkan isi/materi presentasi
Susun materi sesingkat dan semenarik mungkin dalam bentuk poin-poin dan dalam
satu tampilan maksimal berisi 12 poin (setiap poin didukung oleh data yang
memadai), besar huruf (font) yang digunakan pada setiap slide 28.
e. Hal penting dalam presentasi
1) dilaksanakan setelah kurang lebih 6-8 menit untuk mempertahankan minat dan
perhatian pendengar, dan harus ada relevansinya dengan materi yang
diresentasikan.
2) Beberapa contoh hal yang dapat menigkatkan daya tarik presentasi
a) visual aids yang menarik
b) penggunaan humor yang tepat
c) cerita yang up to date dan sedang diminati
d) pernyataan/ tokoh yang populer.
3) Biasanya untuk kelompok tertentu bumbu yang ditambahkan semakin efektif
jika ditambahkan dengan sex, uang, popularitas, peluang, kesusahan, kesehatan,
keuntungan, cinta, ketakutan, kemenangan/kesuksesan
f. Menyiapkan visual aid
1) Mengapa menggunakan visual aids? Karena
a) Dengan AV orang 43% lebih mudah diyakinkan dibandingkan daripada
tidak memakai AV.
b) Orang bersedia membayar 26% untuk produk/jasa yang sama.
c) Kita dapat menyampaikan cerita yang sama dengan waktu 25-40% lebih
sedikit
2) Jika sebuah gambar setara dengan sejuta kata, berarti satu gambar setara dengan 8
menit berbicara.
3) Visual aids yang baik dapat menstimulr minat, memperjelas dan
menguatkan yang disampaikan/diucapkan.
4) Visual Aids yang baik yang seperti apa?
5) Tampilan slide (yang terpenting adalah)
a) Sederhana
d) Gunakan warna tapi bukan pelangi
e) Terjemahkan angka ke bagan
f) Minimalkan kata, poin (bukan kalimat lengkap)
g) Gunakan gambar, simbol, kartun yang relevan dengan materi
h) Hanya ada satu poin penting tiap visualisasi
i) Gambar terbaik adalah riil, kedua terbaik adalah gambar dari yang riil.
j) Pilih AV yang nyaman dan yakin digunakan.
k) Biar lampu terang benderang sedapat mungkin tidak dimatikan agar audiens
dapat melihat presenter dengan jelas. Karena AV terbaik adalah diri presenter
yang menguasai materi dan etode dengan baik.
g. Menyiapkan catatan
Catatan disini dimaksudkan untuk :
1) Memastikan tidak ada yang terlupakan
2) Mengingatkan, agar tidak harus nebghafal seluruh bagian
3) Mengoptimalkan penggunaan kata-kata kunci yang telah disiapkan. Oleh karena
itu panduan sebaiknya:
a) D iketik supaya mudah dibaca
b) U kuran kertas disesuaikan agar mudah dibaca.
c) T erdiri atas 3-5 kata pertama dari tiap poin
d) S ketsa/grafik
e) Kata-kata kunci.
h. Pastikan memang untuk audien
Mengecek kembali untuk memastikan bahwa seluruh materi telah sesuai dengan
audiens baik dalam pembuka, isi, penutup, bahasa yang digunakan, cara
penyampaian, termasuk “bumbu” nya, humor, dsb.
4. Cara menyajikan presentasi efektif
Ada sejumlah keterampilan yang dapat membuat suatu presentasi menjadi lebih menarik
dan efektif. Presenter yang kompeten akan menggunakan berbagai teknik untuk
melibatkan peserta, memelihara konsentrasi, dan menghindari gaya penyajian yang
membosankan. Beberapa teknik berikut sering digunakan:
a) Ikuti rencana presentasi dan siapkan catatan khusus yang Anda perlukan misalnya
pengantar presentasi dan sebagainya.
b) Berkomunikasi pada tingkat individu. Banyak peserta yang belum mengenal istilah,
akronim, jargon dan bahasa presentasi yang baru. Sebaiknya presenter menggunakan
bahasa dan istilah yang sudah dikenal serta membina komunikasi dengan peserta
selama peserta.
c) Mempertahanan kontak mata dengan para peserta sehingga peserta dapat
menangkap suasana belajar, memberikan umpan balik, menilai tingkat pemahaman
peserta, menunjukkan perhatian, dan menciptakan suasana yang positif.
d) Melantangkan suara sehingga mencapai seluruh ruangan dan dapat menguasai
kelas. Atur volume, irama dan intonasi secara variatif untuk mempertahankan
perhatian peserta. Hindarkan intonasi monoton karena membuat peserta mengantuk
dan tidak memperhatikan.
e) Hindarkan pengulangan kebiasaan, kata-kata, ungkapan yang dapat mengganggu
peserta.
f) Perlihatkan antusiasme selama presentasi dengan menunjukkan sikap semangat,
ceria, memperhatikan, menanggapi, dan berinteraksi dengan peserta.
g) Bergerak bebas dan leluasa sehingga terkesan dekat dengan peserta (sebaiknya
susunan kursi audiens berformasi setengah lingkaran atau seperti bentuk U
h) Gunaan AV yang tepat dan dikuasai cara penggunaannya.
i) Ajukakan ertanyaan yang sederhana maupun yang menantang.
j) Berikan umpan balik yang positif keada para peserta (misalnya, terima kasih atas
pendapatnya, pertanyaan yang sangat bagus, dsb.
k) Sebutkan nama peserta sesering mungkin.
l) Lakukan perpindahan antartopik secara lembut dengan baik yang dapat dilakukan
dengan cara
1) membuat ringkasan yang relevan dengan topik berikutnya.
2) Melontarkan pertanyaan
3) Menghubungkan topik bahasan dengan kegiatan praktik atau tugas
kelompok (studi kasus, bermain peran, dsb.) sebelum pindah ke topik berikutnya.
m) Berlaku sebagai model ideal bagi suatu peran dalam berpakaian, penampilan,
antusiasme, disiplin, dsb.
5. Teknik bertanya
Bertanya merupakan teknik utama yang tepat guna dalam pelatihan/pendidikan orang
dewasa karena peserta telah memiliki pengalaman hidup dengan pengetahuan
dan keterampilan sehingga dapat berbagi sesama peserta. Pertanyaan juga dapat
digunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan diskusi. Disarankan seorang
presenter memiliki kebiasaan menuliskan pertanyaan dalam lesson plan. Berikut
adalah beberapa teknik bertanya yang dapat digunakan
a) Teknik bertanya gantung yaitu pertanyaan dibiarkan menggantung sehingga
merangsang pemikiran karena peserta tidak tahu siapa yang akan menjawab,
semua peserta cenderung berpikir.
b) Lemparkan pertanyaan kepada semua peserta tanpa menyebutkan nama audiens.
c) Tunggu hingga peserta menjawab secara suka rela setelah sekitar 4 menit tidak ada
yang menjawab presenter boleh penunjuk salah satu audiens untuk menjawab
pertanyaan tersebut. Penting diperhatikan oleh presenter bahwa audiens perlu
diberi kesempatan untuk mencari/memikirkan jawaban dari pertanyaan yang
disampaikan.
Misalnya: “Apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan?”
d) Teknik bertanya langsung biasanya untuk mendisiplinkan “si pengantuk” atau
“si banyak bicara” dapat juga ditujukan pada si pemalu. Gambaran pokok
pertanyaan langsung
1) Sebut nama seorang peserta yang sedang tidak memperhatikan presentasi
2) Sampaikan pertanyaan. Misalnya:”Pak Aji” (diam) “Mengapa promosi
kesehatan penting bagi masyarakat?”
e) Teknik bertanya kombinasi untuk melibatkan semua peserta agar turut berpikir
dan mencegah kekosongan yang terlalu lama karena tidak seorangpun yang
menjawab. Gambaran pokok
1) Lemparkan pertanyaan
2) Sebutkan nama seorang peserta (dalam 3 hitungan)
Misalnya:”Mengapa pertanyaan harus direncanakan sebelumnya?”
(diam)”Bu Ira?”
f) Teknik bertanya pantul → memantulkan kembali pertanyaan dari peserta
kepada forum karena lebih baik jika peserta menemukan sendiri jawaban/informasi
yang diperlukan dari pada informasi selalu datang dari presenter/pelatih.
Gambaran pokok:
1) Ada pertanyaan dari seorang peserta
2) Fasilitator mengembalikan pertanyaan tersebut kepada forum.
g) Teknik bertanya Retorik → adalah eretanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan
jawaban karena jawabannya sudah diketahui oleh banyak orang. Pertanyaan
diajukan untuk menarik perhatian atau memperbanyak variasi sehingga peserta
tidak bosan.
1. C a r a bertanya secara umum
a) Lakukan
1) Sampaikan pertanyaan secara merata pada peserta.
2) Gunakan teknik bertanya langsung pada orang yang nampaknya kurang
memperhatikan presentasi.
b) Gunakan pertanyaan yang mudah pada awal sesi untuk menarik
perhatian dan menghidupkan suasana.
c) Tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan secara lengkap dalam
lesson plan
1) Ulangi pertanyaan bila peserta tidak mengerti apa yang ditanyakan.
2) Kendalikan rasa ingin cepat menjawab pertnyaan yang diajukan.
d) Jangan lakukan
1) B ertanya kepada peserta secara berurutan
2) M enggunakan pertanyaaan yang terlalu panjang dan kompleks
3) Mengajukan pertanyaan dikotomi karena kurang berarti bagi kegiatan
belajar mengajar. Bila terpaksa harus menggunakan pertanyaan jenis ini
lanjutkan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan jawaban
sebeumnyai. Jangan menggunakan pertanyaan ambigu yang
menimbulkan perdebatan apalagi jika pelatih tidak tahu persis jawaban
yang benar.
h) Teknik mendengar
Dalam kegiatan presentasi, seorang presenter harus mendengarkan secara aktif
dengan tujuan:
1) Memahami apa yang dikemukakan pembicara karena itu biarkan
pembicara mengatakan semua yang ingin disampaikan, ungkapkan kembali apa
yang dimaksudkan oleh pembicara sehingga tidak terjadi salah paham.
2) Mendorong peserta untuk berbicara dengan memperlihatkan bahwa pelatih
mendengarkan misalnya mengunakan pesan-pesan nonverbal seperti senyum
tanda setuju, anggukan kepala, dsb. serta kontak mata dengan pembicara.
Dengan demikian, nampak bahwa memberi perhatian dan menghargai
pembicara.
3) Menumbuhkan perilaku mendengar yang baik bagi semua peserta dalam
kelompok misalnya meminta pembicara berbicara lebih keras
i) Umpan balik atau tanggapan
Agar umpan balik yang diberikan dapat menumbuhkan semangat belajar dan
motivasi ada baiknya memperhatikan beberapa tip berikut:
1) Ungkapkan sisi kebaikan dan kekurangan dari jawaban peserta. Analisis
kebaikan jawaban untuk memberikan alasan terhadap “kebaikaan” tersebut
sehingga menumbuhkan motivasi positif bagi peserta. Analisis kekurangan
untuk memberikan alasan spesifik terhadap kekurangan tersebut.
2) Berikan komentar yang beorientasi kepada jawaban bukan kepada
orangnya.. Misalnya “Terima kasih, jawaban yang cukup baik, bila kita lihat,
masih ada hal lain yang belum masuk yaitu…”
3) Berikan komentar yang spesifik terhadap kekurangan dan beri saran- saran
perbaikan berdasakan teknik atau konsep yang telah dikuasai peserta.
4) Berlakulah objektif agar tanggapan dapat diterima secara objektif dan
realistik.
5) Ikuti pemberian umpan balik dengan perilaku mendengar yang efektif agar
peserta dapat mengungkapkan persepsi mereka terhadap masalah belajar
karena pada umumnya orang dewasa mempunyai pendapat tentang
bagaimana mereka belajar dan mereka ingin mengembangkan pendapat ini
dalam forum.
6) Sesuaikan tanggapan yang diberikan dengan situasi dan kondisi,
upayakan dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda dari setiap peserta. Misalnya
ada peserta yang dapat menerima kritik ada juga peserta yang tidak dapat
menerima kritik.
7) Berikan penguatan untuk perilaku menjawab pertanyaan.
Misalnya,”Terima kasih Bu Ira jawabannya sangat bagus mari kita
diskusikan …” Tidak fokus pada kesalahan jawaban karena akan
mematahkan semangat menjawab pertanyaan dan diskusi menjadi buntu.
6. Rancang penutup presentasi
a. Penutup presentasi merupakan kesimpulan dan alasan dilaksanakannya presentasi
sehingga merupakan bagian terpenting dalam sebuah presentasi.
b. Penutup juga merupakan kesempatan terakhir bagi untuk menyenangkan dan
memenangkan peserta sehingga kita perlu fokus pada momen ini baru kembali
ke pembahasan seluruh materi. Dengan demikian presentasi akan terstruktur
dengan baik, serta memiliki sasaran dan tujuan yang fokus dan jelas.
PENUNTUN BELAJAR KETERAMPILAN PRESENTASI
(DIGUNAKAN OLEH PESERTA)

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
o Perlu perbaikan : langkah-langkah tidak dilakukan dengan benar dan atau
tidaqk sesuai urutannya atau ada langkah yang tidak dlaksanakan.
o Mampu : langkah-langkah telah dilaukan dengan benar dan sesuai dengan
urutannya, tetapi penggunaan waktunya belum efisien.
o Mahir : langkah-langkah telah dilakukana dengan benar dan waktunya sangat
efisien.

PESERTA :………………………………… Tanggal Observasi:………………


DAFTAR TILIK KEERAMPILAN PRESENTASI
LANGKAH/KEGIATAN OBSERVASI
1 Menyampaikan pengantar dengan efektif
2 Menyebutkan /menyampaikaan tujuan presentasi
3 Bertanya kepada kelompok
4 Bertanya kepada perorangan
5 Bertanya dalam berbagai jenjang
6 Menggunakan nama peserta
7 Memberikan umpan balik positif
8 Menanggapi pertanyaan peserta
9 Menggunakan catatan pelatih atau bahan rujukan pribadi
10 Selalu melakukan kontak mata dengan peserta
11 Mengatur suara agar dapat didengar oleh seluruh eserta
12 Bergerak secara laluasa di dala ruangan
13 Menggunakan AVA secara efektif
14 Memasukkan humor positif
15 Menyampaikan ringkasan seara efektif
16 Memberi kesempatan untuk aplikasi atau mempraktikkan
bahan presentasi
Melakukan Presentasi Secara Efektif
EVALUASI
PELATIHAN
(diisi oleh
peserta)
Berikan penilaian menurut pendapat Anda terhadap komponen pelatihan
dengan memakai skala enilaian seperti di bawah ini:

5: sangat setuju 2. tidak setuju


4: setuju 1. sangat tidak setuju
3: tidak ada pendapat

NO KOMPONEN PELATIHAN NILAI

1 Kuesioner yang diberikan sebelum pelathan membantu saya


belajar lebh efektif
2 Sesi permainan peran dan praktik keterampilan melatih sangat
membantu
3 Waktu yang disediakan untuk praktik dan bermain peran cukup
memadai
4 Penyajian melalui Audiovisual membaqntu saya memahami
materi/keterampilan
5 Praktik dengan simulator/model membuat saya lebih mudah
untuk melakuan keterampilan lebih
6 Waktu yang disediakan untuk praktik keterampilan dianggap
cukup memadai
7 Saya sekarang lebih percaya diri melakukan pelatihana dan
Melatih
8 Saya sekarang lebih percaya diri untuk melakukan pelatihan dan
Melatih
9 Teknik pendekatan pelatihan yang digunakan dalam pelatihaan
ini, memudahkan saya untuk mengerti bagaimana cara melatih
10 Pelatihan srlama tiga hari ,
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional. Bandung : Remaja Rosdakarya. Darsono, Max.
2000. Belajar dan Pembelajaran . Semarang: IKIP Semarang Press.

Bahan ajar Ayubi Dian( 2010 ).Konsep Promosi Kesehatan. Departemen Promosi Kesehatan
dan Ilmu Perilaku FKM UI.

Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Dignan MB., Carr PA., 1992. Program Planning for Health Education and Promotion. Second
Edition.
USA : Lea & Febiger

Dimyanti, Mudjiono. (2006) Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Efendi, F & Makhfudli.( 2009 ). Keperawataan kesehatan Komunitas teoti dan praktik dalam
keperawatan. Jakarta; Salemba Medika

Evans, dkk.( 2011 ). Health Promotion and Public Health for Nursing Students. Exeter Great
Britain; Learning Matters Ltd.

Fertman, Cl., & Allensworth, DD.2010. Health Promotion Program. San Francisco, US : A
Wiley Imprint.

Ginting. (2011) Panduan Promosi Kesehatan .Kementrian Kesehatan RI


Gochman, David S (Ed.). 1988. Health Behaviour: Emerging Research Perspectives.New
York: Plenum Press

Green, L.W, dan Kreuter, M.W. 2000.Health Promotion Planning; An Educational and
Environmental Approach, second edition, Mayfield Publishing
Company, London.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Harbardinah, Bagus Widjanarko, Kusyogo Cahyo. 2003. Renval PKM. Semarang: FKM
UNDIP

Indah Pratiwi Wibawati,Soesilo Zauhar,Riyanto, 2014. Iplementasi kebijakan promosi


kesehatan (Studi pada Pusat Kesehatan Masyarakat Dinoyo, Kecamatan
Lowokwaru, Kota Malang.. Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2,
No.11. (diakses pada 30 Oktober 2018). http: //
media.neliti.com/media/publications/80389-ID-implementasi-kebijakan-
promosi-kesehatan.pdf
Iqbal Mubarak, W., Nurul Chayatin, Khoirul Rozikin, Supradi. 2007. Promosi Kesehatan:
Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Graha Ilmu

Keleher, H., MacDougall, C., & Murphy, B. 2007. Understanding Health Promotion. Victoria,
Australia : Oxford University Press.

Munib, Achmad. 2005. Pengantar Ilmu Pendidikan, Semarang: UNNES PRESS.

Munir, Baderel. 1997. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dengan Pendekatan


Antropologi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Munir, Baderel. 2001. Dinamika Kelompok. Penerbit: Universitas Sri Wijaya

Notoatmodjo,S. 2010. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam. 2008. Pendidikan Dalam Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta

Slamet, M.. 2008. Panduan Pengajaran Mikro. Yogyakarta: UPPL Universitas Negeri
Yogyakarta

Slamet, M. 2005. Panduan Praktik Pengalaman Program Pembentukan Kemampuan


Mengajar. Yogyakarta. Fakultas Ilmu Pendidikan UNY.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya . Jakarta : Rineka


Cipta.

Syah M. (2008) Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung., Remaja


Rosdakarya Offset.

Thoha. M. 2005. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.

Undang-undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Undang-undang Republik Indonesia No.20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wina Sanjaya, 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Zaraz Obella Nur Adliyani. 2015. Pengaruh Perilaku Individu terhadap Hidup Sehat.Majority
volume 4 Nomor 7 Juni 2015. Fakultas kedokteran Universitas Lampung.
[diakses pada 30 Oktober
2018].http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewF
ile/1458/1293.

Anda mungkin juga menyukai