Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ASKEP HEMOROID

BAB I
LATAR BELAKANG

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum
terjadi pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena
yang terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang
meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon
menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan
oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah
melahirkan. Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemoroid yang
terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang mun cul di luar stingfer anal disebut hemoroid
eksternal. (Brunner & Suddarth, 1996)
Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk.
Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan
meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun. Walaupun keadaan
ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman.
Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas penyakit hemoroid.
BAB II
PENDAHULUAN
KONSEP PENYAKIT

A. Definisi
 Menurut asal katanya [Yunani, haem = blood (darah), rhoos = flowing (mengalir)]
(Oleh Andra Racikan Utama - Edisi September 2006 (Vol.6 No.2 )
 Masa Vaskular yang menonjol kedalam lumen rektumbagian bawah atau areal perineal
(Sandra M Nettina).
 Adalah pelebaran varises satu segmen / lebih pembuluh darah vena hemoroidales (bacon) pada
poros usus dan anus yang disebabkan karena otot & pembuluh darah sekitar anus / dubur kurang
elastis sehingga cairan darah terhambat dan membesar
(Daldiyono).
 Terjadi pelebaran ( dilatasi ) vena pada anus maupun rectal ( fleksus haemorrhoidalis superior
dan media : haemorrhoid interna dan fleksus haemorrhoidalis inferior : haemorrhoid eksterna ).
 Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari
plexus hemorrhoidalis.
 Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi di dalam kanal anal. Hemoroid sangat umum
terjadi. Pada usia 50 tahunan, sekitar 50 % individu mengalami berbagai tipe hemoroid
berdasarkan luasnya vena yang terkena.

B. Klasifikasi
Pada dasarnya hemoroid di bagi menjadi dua klasifikasi, yaitu :
1) Hemoroid Interna
Merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media. Terdapat pembuluh darah
pada anus yang ditutupi oleh selaput lendir yang basah. Jika tidak ditangani bisa terlihat muncul
menonjol ke luar seperti hemoroid eksterna.
Gejala - gejala dari hemoroid interna adalah pendarahan tanpa rasa sakit karena tidak
adanya serabut serabut rasa sakit di daerah ini. Jika sudah parah bisa menonjol keluar dan terus
membesar sebesar bola tenis sehingga harus diambil tindakan operasi untuk membuang wasir.
 Hemoroid interna terbagi menjadi 4 derajat :
- Derajat I
Timbul pendarahan varises, prolapsi / tonjolan mokosa tidak melalui anus dan hanya dapat di
temukan dengan proktoskopi.
- Derajat II
Terdapat trombus di dalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat depikasi, tapi seterlah
depikasi selesai, tonjolan tersebut dapat masuk dengan sendirinya.
- Derajat III
Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan sendirinya tetapi harus di
dorong
- Derajat IV
Suatu saat ada timbul keaadan akut dimana varises yang keluar pada saat defikasi tidak dapat di
masukan lagi.

2) Hemoroid eksterna
Merupakan varises vena hemoroidalis inferior yang umumnya berada di bawah otot dan
berhubungan dengan kulit. Biasanya wasir ini terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada pinggir
anus yang terasa sakit dan gatal. Hemoroid eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya
perluasan hemoroid interna. Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu:
a. Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya
adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna akut.
Tanda dan gejala yang sering timbul adalah:
- Sering rasa sakit dan nyeri
- Rasa gatal pada daerah hemorid
Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung – ujung saraf pada kulit merupakan
reseptor rasa sakit .
b. Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau “Skin Tag” terdiri atas satu lipatan atau lebih dari kulit
anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.
C. Etiologi
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena
hemoroidalis. Beberapa factor etiologi telah digunakan, termasuk konstipasi/diare, sering
mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prosfat; fibroma arteri dan tumor rectum.
Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena
hemoroidalis superior mengalirkan darah ke dalam system portal. Selain itu system portal tidak
mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.
Faktor resiko hemoroid :
1. Keturunan
Dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis
2. Anatomic
Vena darah anorektal tidak mempunyai katup dan plexus hemorhoidalis kurang mendapat
sokongan otot dan fasi sekitarnya
3. Pekerjaan
Orang yang harus berdiri dan duduk lama atau harus mengangkat barang berat, mempunyai
predisposisi untuk hemoroid
4. Umur
Pada umur tua timbul degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter menjadi tipis dan
atonis
5. Endokrin
Misalnya pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstermitas dan anus (sekresi hormon kelaksin)
6. Mekanis
Semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang meninggi dalam rongga perut.
Misalnya penderita hipertrofi prostat
7. Fisiologis
Bendungan pada peredaran darah portal misalnya pada penderita dekompensiasio hordis atau
sikrosis hepatis
8. Radang
Adalah faktor penting yang menyebabkan fitalitas jaringan di daerah itu berkurang.
D. Patofisiologi
Faktor penyebab faktor-faktor hemoroid adalah mengedan saat defekasi, konstipasi
menahun, kehamilan dan obesitas. Keempat hal diatas menyebabkan peningkatan tekanan intra
abdominal lalu di transmisikan ke derah anorektal dan elevasi yang tekanna yang berulang-ulang
mengakibatkan vena hemoroidalis mengalami prolaps. Hasil di atas menimbulkan gejala gatal
atau priritus anus akibat iritasi hemoroid dengan feses, perdarahan akibat tekanan yang terlalu
kuat dan feses yang keras menimbulkan perdarahan, dan ada udema dan peradangan akibat
infeksi yang terjadi saat ada luka akibat perdarahan.

Mengedan saat defekasi,Konstipasi menahun,Kehamilan,Obesitas

Peningkatan tekanan intra abdominal

Transmisike daerah anorektal

Elevasitekanan yang berulang-ulang

Venaheroidalis mengalami prolaps

Hemoroid
E. Manifestasi Klinis
Hemoroid menyebabkan rasa gatal dan nyeri dan sering menyebabkan perdarahan
berwarna merah terang pada saat defekasi. Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri hebat
akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis.Trombosis adalah pembekuan darah
dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut dan nekrosis. Hemoroid
internal tidak selalu menimbulkan nyeri sampai hemoroid ini membesar dan menimbulkan
perdarahan atau prolaps.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche (colok dubur).

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab
tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba
apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis
dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini
untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

2. Pemeriksaan dengan teropong yaitu anoskopi atau rectoscopy.

Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop
dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan
penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita
disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke
dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan
membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak
,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus
diperhatikan.
3. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh


proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan
fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa terhadap adanya darah samar.

4. Rontgen (colon inloop) dan/atau kolonoskopi.


5. Pemeriksaan darah, urin, feses sebagai pemeriksaan penunjang

G. Penatalaksanaan Medis
HemorRoid interna diterapi sesuai dengan gradenya. Tetapi hemorroid eksterna selalu
dengan operasi. Konservatif indikasi untuk grade 1-2, < 6 jam, belum terbentuk trombus.
Operatif indikasi untuk grade 3-4, perdarahan dan nyeri.

 Gejala hemorroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan:


 Higiene personal yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi.
 Diet tinggi serat yang mengandung buah dan sekam, bila gagal dibantu dengan menggunakan
laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati usus.
 Tindakan untuk mengurangi pembesaran dengan cara: rendam duduk dengan salep, supositoria
yang mengandung anestesi, astringen (witch hazel) dan tirah baring.
 Beberapa tindakan nonoperatif untuk hemorroid:
 Foto koagulasi infra merah, diatermi bipolar, terapi laser adalah tehnik terbaru untuk melekatkan
mukosa ke otot yang mendasarinya
 Injeksi larutan sklerosan efektif untuk hemorrhoid yang berukuran kecil.
 Tindakan bedah konservatif hemorrhoid internal
Adalah prosedur ligasi pita karet. Hemorrhoid dilihat melalui anosop, dan bagian proksimal
diatas garis mukokutan dipegang dengan alat. Pita karet kecil kemudian diselipkan diatas
hemorrhoid. Bagian distal jaringan pada pita karet menjadi nekrotik setelah beberapa hari danm
dilepas. Terjadi fibrosis yang mengakibatkan mukosa anal bawah turun dan melekat pada otot
dasar. Meskipun tindakan ini memuaskan beberapa pasien, namun pasien lain merasakan
tindakan ini menyebabkan nyeri dan mengakibatkan hemorroid sekunder dan infeksi perianal.
 Hemoroidektomi kriosirurgi
Adalah metode untuk menghambat hemorroid dengan cara membekukan jaringan hemorroid
selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis. Meskipun hal ini kurang menimbulkan nyeri,
prosedur ini tidak digunakan dengan luas karena menyebabkan keluarnya rabas yang berbau
angat menyengat dan luka yang ditimbulkan lama sembuh.

 Laser Nd: YAG


Digunakan dalam mengeksisi hemorroid eksternal. Tindakan ini cepat dan kurang menimbulkan
nyeri. Hemoragi dan abses jarang menjadi komplikasi pada periode paska operatif.

 Metode pengobatan hemorroid tidak efektif untuk vena trombosis luas, yang harus diatasi
dengan bedah lebih luas.
 Hemorroidektomi atau eksisi bedah, dapat dilakukan untuk mengangkat semua jaringan sisa
yang terlibat dalam proses ini. Selma pembedahan, sfingter rektal biasanya didilatasi secara
digital dan hemorroid diangkat dengan klem dan kauter atau dengan ligasi dan kemudian
dieksisi. Setelah prosedur operasi selesai, selang kecil dimaukkan melalui sfingter untuk
memungkinkan keluarnya flatus dan darah; penempatan Gelfoan atau kasa Oxigel dapat
diberikan diatas luka kanal.
H. Komplikasi

1. Terjadi trombosis

Karena hemoroid keluar sehinga lama - lama darah akan membeku dan terjadi trombosis.

2. Peradangan

Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan meradang karena
disana banyak kotoran yang ada kuman - kumannya.

3. Terjadinya perdarahan

Pada derajat satu darah keluar menetes dan memancar. Perdarahan akut pada umumnya jarang,
hanya terjadi apabila yang pecah adalah pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk
pintasan portal sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam ini mengalami
perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih sering terjadi yaitu perdarahan kronis
dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak
bisa mengimbangi jumlah yang keluar. Anemia terjadi secara kronis, sehingga sering tidak
menimbulkan keluhan pada penderita walaupun Hb sangat rendah karena adanya mekanisme
adaptasi. Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk lagi(inkarserata/ terjepit) akan mudah
terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan kematian.

I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien

b. Keluhan utama

Pasien datang dengan keluhan perdarahan terus menerus saat BAB. Ada benjolan pada anus atau
nyeri pada saat defikasi.

c. Riwayat penyakit
1. Riwayat penyakit sekarang

Pasien di temukan pada beberapa minggu hanya ada benjolan yang keluar dan beberapa hari
setelah BAB ada darah yang keluar menetes.

2. Riwayat penyakit dahulu

Apakah pernah menderita penyakit hemoroid sebelumnya, sembuh / terulang kembali. Pada
pasien dengan hemoroid bila tidak di lakukan pembedahan akan kembali RPD, bisa juga di
hubungkan dengan penyakit lain seperti sirosis hepatis.

3. Riwayat penyakit keluarga

Apakah ada anggota keluaga yang menderita penyakit tersebut

4. Riwayat sosial

Perlu ditanya penyakit yang bersangkutan.

2. Pemeriksaan Fisik
Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan
Tanda : takikardi, takipnea/hiperventilasi (respon terhadap aktivitas)
Sirkulasi
Gejala : kelemahan/nadi periver lemah
Tanda : Warna kulit pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah)
Membran kulit
Eliminasi
Gejala : Perubahan pola defekasi
Perubahan Karakteristik
Tanda : Nyeri tekan abdomen , distensi
Karakteristik feses : darah bewarna merah terang (darah segar)
Akonstipasi dapat terjadi
Nutrisi :
Gejala : Penurunan berat badan
Anoreksia
Tanda : konjungtiva pucat, wajah pucat, terlihat lemah
Pola tidur
Gejala : Perubahan pola tidur
Terasa nyeri pada anus saat tidur
Tanda : muka terlihat lelah, kantung mata terlihat gelap
Mobilisasi
Gejala : membatasi dalam beraktifitas
Tanda : wajah terlihat gelisah , banyak berganti posisi duduk dan berbaring

3. Diagnosa Keperawatan
Pre Operatif

1. Resiko kekurangan nutrisi (defisiensi zat ) berhubungan dengan pecahnya vena plexus
hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus - menerus waktu BAB.
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus, yang ditandai
benjolan didaerah anus, terasa nyeri dan gatal pada daerah anus.
3. Personal hygene pada anus kurang berhubungan dengan massa yang keluar pada daerah
eksternal.
Postoperasi

1. Nyeri berhubungan dengan adanya jahitan pada luka operasi dan terpasangnya cerobong
angin.
2. Resikol terjadinya infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat
3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan
dirumah.

Intervensi

Preoperatif

No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil

1. Resiko Setelah  Observasi tanda-tanda Tanda – tanda anemis diduga


kekurangan dilakukan anemis adanykekurangan zat besi (Hb
nutrisi tindakan turun)
berhubungan keperawatan  Diet rendah sisa atau  Dapat mengurangi
dengan pecahnya selama 3 x 24 serat selama terjadinya perangsangan pada daerah
vena plexus jam, resiko perdarahan anus sehingga tidak terjadi
hemmoroidalis kekurangan  Berikan penjelasan perdarahan.
ditandai dengan nutrisi tentang pentingnya  Pendidikan tentang diet,
perdarahan yang terpenuhi. diet kesembuhan membantu keikut sertaan
terus - menerus penyakitnya pasien dalameningkatkan
waktu BAB. KH:  Beri kompres es pada keadaan penyakitnya.
 Tidak terdapat daerah terjadinya
anemis,  Pasien dengan pecahnya vena
perdarahan
 perdarahan plexus hemoriodalis perlu obat

terhenti yang dapat membantu

 BB tidak turun. pencegahan terhadap


perdarahan yang
mememrlukan penilaian
 Beri obat atau terapi terhadap respon secara
sesuai dengan pesanan periodik.
dokter
 Pasien dengan pecahnya vena
flexus hemmoroidalis perlu
obat yang dapat membantu
pencegahan terhadap
perdarahanyangmemerlukan
penilayan terhadap respon
obat tersebut secara periodik.

2. Defisit personal Setelah  Berikan sit 


bath Meningkatkan kebersihan dan
hygene pada dilakukan dengan larutan memudahkan terjadinya
anus tindakan permagan 1/1000% penyembuhan prolaps.
berhubungan keperawatan pada pagi dan sore
dengan massa selama 2 x 24 hari. Lakukan
yang keluar pada jam, terjaganya digital(masukan
daerah eksternal. kebersihan prolaps dalam tempat
anus. semula setelah di
KH: bersihkan)
 tidak ada Obserpasi keluhan
tanda-tanda dan adanya tanda- Peradangan pada anus
infeksi. tanda perdarahan anus menandakan adanya suatu
 tidak terasa Beri penjelasan cara infeksi pada anus
gatal-gatal pada membersihkan anus
daerah anus. dan menjaga Pengetahuan tentang cara
 rasa gatal pada kebersihanya membersihkan anus
anus berkurang membantu keikutsertaan
pasien dalam mempercepat
kesembuhanya.

Postoperatif
No. Diagnosa Tujuan dan Intervenasi Rasional
keperawatan kriteria hasil

1. Nyeri Setelah  
Beri posisi tidur yang Dapat menurunkan tegangan
berhubungan dilakukan menyenangkan pasien. abdomen dan meningkatkan
dengan adanya tindakan  Ganti balutan setiap rasa kontrol.
jahitan pada luka keperawatan pagi sesuai tehnik Melindungi pasien dari
operasi dan selama 2 x 24 aseptik kontaminasi silang selama
terpasangnya jam, gangguan penggantian balutan. Balutan
cerobong angin. rasa nyaman basah bertindak sebagai
terpenuhi. penyerap kontaminasi
eksternal dan menimbulkan
rasa tidak nyaman.
KH:  menurunkan masalah yang
 Tidak terdapat Latihan jalan sedini terjadi karena imobilisasi.
rasa nyeri pada mungkin  Perdarahan pada jaringan,
luka operasi,. imflamasi lokal atau
 pasien dapat Observasi daerah terjadinya infeksi dapat
melakukan rektal apakah ada meningkatkan rasa nyeri.
aktivitas ringan. perdarahan  Meningkatkan fungsi
 skala nyeri 0-1. fisiologis anus dan
 klien tampak memberikan rasa nyaman
rileks.  Cerobong anus pada daerah anus pasien
dilepaskan sesuai karena tidak ada sumbatan.
advice dokter Pengetahuan tentang manfaat
(pesanan) cerobong anus dapat membuat
pasien paham guna cerobong
anus untuk kesembuhan
 Berikan penjelasan lukanya.
tentang tujuan
pemasangan cerobong
anus (guna cerobong
anus untuk
mengalirkan sisa-sisa
perdarahan yang
terjadi didalam agar
bisa keluar).

2. Resiko terjadinya Setelah  Observasi tanda vital Respon autonomik meliputi


infeksi pada luka dilakukan tiap 4 jam TD, respirasi, nadi yang
berhubungan tindakan berhubungan denagan keluhan
dengan keperawatan / penghilang nyeri .
pertahanan selama 2 x 24 Abnormalitas tanda vital perlu
primer tidak jam,resiko di observasi secara lanjut.
adekuat infeksi teratasi.  Deteksi dini terjadinya proses
KH: infeksi dan / pengawasan
 tidak terdapat Obserpasi balutan penyembuhan luka oprasi
tanda-tanda setiap 2 – 4 jam, yang ada sebelumnya.
infeksi (dolor, periksa terhadap Mencegah meluas dan
kalor, rubor, perdarahan dan bau. membatasi penyebaran luas
tumor,  Ganti balutan dengan infeksi atau kontaminasi
fungsiolesa). teknik aseptik silang.
 radang luka  mengurangi / mencegah
mengerin  Bersihkan area kontaminasi daerah luka.
 hasil LAB : perianal setelah setiap
- leukosit depfikasi  mengurangi ransangan pada
- trombosit
anus dan mencegah mengedan
 Berikan diet rendah pada waktu defikasi.
serat/ sisa dan minum
yang cukup
3. Kurang Setelah  
Diskusikan Pengetahuan tentang diet
pengetahuan dilakukan pentingnya berguna untuk melibatkan
yang tindakan penatalaksanaan diet pasien dalam merencanakan
berhubungan keperawatan rendah sisa. diet dirumah yang sesuai
dengan kurang selama 3 x 24 dengan yang dianjurkan oleh
informasi tentang jam,kurangnya ahli gizi.
perawatan pengetahuan  Pemahaman akan
dirumah. teratas.  Demontrasikan meningkatkan kerja sama
perawatan area anal pasien dalam program terapi,
KH: dan minta pasien meningkatkan penyembuhan
 klien tidak menguilanginya dan proses perbaikan terhadap
banyak bertanya penyakitnya.
tentang
penyakitna.  Meningkatkan kebersihan dan

 Pasien dapat kenyaman pada daerah anus


(luka atau polaps).
menyatakan  Berikan rendam
atau mengerti  Melindungi area anus
duduk sesuai pesanan
tentang terhadap kontaminasi kuman-
kuman yang berasal dari sisa
perawatan  Bersihakan area anus
dirumah. defekasi agar tidak terjadi
dengan baik dan
 keluarga klien infeksi.
keringkan seluruhnya
paham tentang setelah defekasi.
 Melindungi daerah luka dari
proses penyakit.
kontaminasi luar.
 
klien Berikan balutan

menunjukkan  Pengenalan dini dari gejala


wajah tenang infeksi dan intervensi segera
 Diskusikan gejala
dapat mencegah progresi
infeksi luka untuk
situasi serius.
dilaporkan kedokter.

 Mencegah mengejan saat


 Diskusikan difekasi dan melunakkan
mempertahankan feces.
difekasi lunak dengan
menggunakan pelunak
feces dan makanan
laksatif alami.
 Menurunkan tekanan intra
 Jelaskan pentingnya
abdominal yang tidak perlu
menghindari dan tegangan otot.
mengangkat benda
berat dan mengejan.