Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MANDIRI

MAKALAH KEPERAWATAN SISTEM MUSKULOSKELETAL


KONSEP GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN TERKAIT INFEKSI
“TETANUS”

Dosen Pembimbing :

(Ns.Okky Rachmad Ngakili, S. Kep.,M.Kep)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2017
KEPERAWATAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

KONSEP GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL TERKAIT


INFEKSI (TETANUS)

Dosen Pembimbing :
Okky Rachmad Ngakili, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :

Tyas Solit Naomiyah (151.0053)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2017
BAB 1

PENDAHULUAN

Sistem muskuloskeletal manusia merupakan jalinan berbagai jaringan,


baik itu jaringan pengikat , tulang, maupun otot yang saling berhubungan, sangat
khusus dan kompleks. Fungsi utama sistem ini adalah sebagai penyususn bentuk
tubuh dan alat untuk bergerak. Oleh karena itu jika terdapat kelainan pada sistem
ini maka kedua fungsi tersebut juga akan terganggu. Infeksi muskuloskeletal
merupakan penyakit umum yang terjadi, dapat melibatkan seluruh struktur dari
sistem muskuloskeletal dan dapat berkembang menjadi penyakit yang berbahaya
bahkan membahayakan jiwa.
Tetanus adalah Sampai saat ini tetanus masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat signifi kan di negara berkembang karena akses program
imunisasi yang buruk, juga penatalaksanaan tetanus modern membutuhkan
fasilitas intensive care unit (ICU) yang jarang tersedia di sebagian besar populasi
penderita tetanus berat. Di negara berkembang, mortalitas tetanus melebihi 50%
dengan perkiraan jumlah kematian 800.000-1.000.000 orang per tahun, sebagian
besar pada neonatus.
Tetanus adalah penyakit yang dapat dicegah. Implementasi imunisasi
tetanus globa telah menjadi target WHO sejak tahun 1974. Sayang imunitas
terhadap tetanus tidak berlangsung seumur hidup dan dibutuhkan injeksi booster
jika seseorang mengalami luka yang rentan terinfeksi tetanus. Akses program
imunisasi yang buruk dilaporkan menyebabkan tingginya prevalensi penyakit ini
di negara sedang berkembang.
Tetanus adalah penyakit infeksi akut disebabkan eksotoksin yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani, ditandai dengan peningkatan kekakuan umum
dan kejang-kejang otot rangka.
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 TEORI KONSEP GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL


TERKAIT INFEKSI (TETANUS)
2.1.1 Pengertian Tetanus
Tetanus merupakan penyakit infeksi akut yang menunjukkan diri
dengan gangguan neuromuscular akut dan ditandai dengan trismus,
kekakuan, dan kejang otot akibat eksotoksin spesifik kuman anaerob
clostridium tetani (Sjamsuhidayat, 2012).
Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin
kuman clostridium tetani, yang bermanifestasi dengan kejang otot secara
proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini
selalu tampak pada otot masseter dan otot rangka (Muttaqin, 2012).
2.1.2 Etiologi
Tetanus disebabkan oleh clostridium tetani yang bersifat anaerob
murni. Spora clostridium tetani dapat bertahan bertahun-tahun bila tidak
terkena sinar matahari. Spora ini terdapat ditanah atau debu, tahan
terhadap antiseptic, pemanasan 100C. dan bahkan otoklaf 120C selama
15/20 menit. Dari berbagai studi yang berbeda, spora ini tidak jarang
ditemukan pada feses manusia, tapi juga pada feses kuda, anjing dan
kucing. Toksin di produksi oleh bentuk vegetatifnya (Sjamsuhidajat,
2012).
2.1.3 Patofisiologi
Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka.
Semua jenis luka dapat terinfeksi oleh kuman tetanus, seperti luka laserasi,
luka tusuk, luka tembak, luka bakar, luka gigitan manusia atau binatang,
luka suntikan, dan sebagainya. Sebanyak 60% pasien tetanus terdapat di
daerah kaki terutama pada luka tusuk. Infeksi tetanus juga dapat terjadi
melalui uterus pasca persalinan atau pasca abortus profokatus
(Sjamsuhidajat, 2012).
Kuman tetanus dapat berbentuk 2 macam eksotoksin, yaitu
tetanolisin dan tatanospasmin. Tetanospasmin berperan menyababkan
sindrom klinis tetanus. Tetanospasmin adalah suatu polipeptida dua rantai,
rantai pendeknya bekerja di prasinaps untuk mencegah pelepasan
neurotransmitter, rantai panjangnya bertujuan untuk mempermudah
masuknya molekul-molekul neurotransmitter ke dalam sel. Tetanospasmin
memecah sinaptrobevin yang merupakan suatu protein yang diperlukan
untuk pelepasan neurotransmitter. Periode inkubasi berkisar 1-60 hari
(rata-rata 7-10 hari). Pemulihan akibat tetanus terjadi sebagai akibat
destruksi toksin dan pertumbuhan kembali terminal akson (Hartanto,
2012).
2.1.4 Manifestasi Klinis
Menurut Mandal (2013) tanda dan gejala tetanus dibagi menjai 3 tahap,
yaitu:
1. Tahap kaku otot:
a. Trismus (kekakuan otot rahang yang nyeri) sering terjadi pada
gejala pertama
b. Kesulitan membuka mulut (lockjaw)
c. Dapat timbul disfagia
d. Demam ringan
e. Dalam 24 jam kekakuan menyebar ke leher, punggung, dada, dan
otot dinding perut. Lengan dan tungkai hanya sedikit terkena
2. Tahap spasmodik
a. Biasanya 1-2 hari timbul kontraksi otot yang nyeri, bersifat
intermitten dan spasmodic, sering ditandai dengan pucat dan
berkeringat
b. Spasme menyebabkan mimic wajah menyeringai (ricus
sardonicus), dan lengkungan leher dan punggung (opistotonus)
c. Spasme otot laring dan otot pernafasan menyebabkan gagal nafas
d. Spasme terjadi secara spontan atau dapat dipicu oleh bising, batuk,
dan gerakan.
3. Pada kasus berat, tibul tanda-tanda overaktitas simpatis:
a. Keringat berlebihan, demam, hiprtensi/hipotensi, takikardia,
aritmia jantung
b. Pada pasien yang bertahan, spasme menghilang secara bertahap
setelah 2-3 minggu dan kekakuan otot menghilang setelah 1-2
minggu kemudian
c. Pada kasus ringan sering kali terdpat kekakuan otot saja, dan
kekakuan ini terlokalisasi terutama hanya pada lokasi trauma.
2.1.5 Komplikasi
Komplikasi potensialnya banyak sekali dan dapat meliputi aspirasi,
obstruksi jalan napas, sindrom gawat napas akut, arirmia jantung, gagal
jantung kongestif, gagl ginjal, statis lamung, ileus, diare, perdarahan
gastrointestinal, tromboembolus, sepsis, kegagalan multi organ, fraktur
vertebra, dan afulsi tendo selama spasme (Mandal, 2013)
2.1.6 Penatalaksanaan
1. Farmakologis
1) Antitetanus serum (ATS)
a. Dewasa 50.000 U/hari, selama 2 hari berturut-turut. Hari
pertama diberiakn infus glukosa 5% 100ml, hari kedua
diberikan IM. Lakukan uji kulit (skin test) sebelum pemberian
b. Anak 20.000 U/hari selama 2 hari. Pemberian secara drip infus
40.000 U bisa dilakukan sekaligus melewati IV line.
c. Bayi 10.000 U/hari selama 3 hari. Pemberian secara drip infus
20.000 U bisa dilakukan sekaligus melewati IV line.
2) Fenobarbital: dosis initial 50 mg umur (umur <1 tahun): 75 mg,
(umur > 1 tahun) dilanjutkan 5mg/kgBB/hari dibagi dalam 6 dosis
3) Diazepam dosis 4 mg/KgBB/hari dibagi dalam 6 dosis
4) Largactil: dosis 4 mg/KgBB/hari
5) Antimikroba
2. Nonfarmakologis
1) Diet tinggi kalori tinggi protein bila trismus diberi diet cair melalui
NGT
2) Isolaso penderita pada tempat yang tenang, kurangi rangsangan
yang membuat kejang
3) Debridement luka, biarkan luka terbuka
4) Oksigen 2 Lpm (Sjamsuhidajat, 2012).
2.1.7 Pencegahan
Ada 2 pencegahan tetanus, yaitu perawatan luka yang adekuat dan
imunisasi aktif dan pasif (Muttaqin, 2012)
1. Imunisasi aktif didapat dari penyuntikan toksoid tetanus untuk
merangsang tubuh membentuk antibody. Imunisasi pasif diperoleh dari
pemberian serum yang mengandung antioksin heterolog (ATS) atau
antitoksin homolog (immunoglobulin antitetanus). Berdasarkan
imunitas dan jenis luka, baru ditentukan pemberian antitetanus serum
atau toksoid . antitetanus serum (ATS) 1500 U/IM dan Toksoid tetanus
(TT), dengan memperhatikan status imunisasi
2. Perawatan luka efektif: semua luka harus di bersihkan sebelumnya
dengan mengangkat benda asing dan jaringan mati. Profilaksis
penisilin atau eritromisin untuk luka yang terkontaminasi atau
terinfeksi dapat mengirangi kemungkinan tetanus. Bersihkan potre
d’entrée dengan larutan H2O2 3%.
2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium: leukosit ringan, peninggian tekanan cairan oak, deteksi
kuman sulit

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TETANUS


2.2.1 Pengkajian
Pengkajian keperawatan tetanus meliputi anamnesa riwayat pnyakit,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostic, dan pengkajian psikososial
(pada anak perlu dikaji dampak hospitalisasi) (Muttaqin, 2012).
1. Anamnesa
Keluhan utama yang sering menjadi alasan pasien dibawa untuk
meminta pertelongan kesehatan adalah suhu badan sangat tinggi,
kejang, dan penurunan tingkat kesadaran
2. Riwayat penyakit saat ini
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk
mengetahui predisposisi penyebab sumber luka. Disini harus ditanya
dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan,
sembuh, atau bertambah buruk.
3. Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien pernah mengalami luka akibat tertusuk yang dalam,
seperti tertusuk paku, pecahan kaca atau luka yang menjadi kotor.
Adakah ported’entrée lainya seperti luka gores yang ringan kemudian
menjadi bernanah dan gigi berlobang yang dikorek dengan
menggunakan benda yang kotor
4. Riwayat Alergi
Mengkaji kemungkinan adanya riwayat alergi terhadap obat maupun
makanan untuk mengurangi kemungkinan yang dapat memperberat
serangan.
5. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Inspeksi apakah pasien batuk, terdapat sputum, sesak nafas. Pada
pasien tetanus sering didapatkan peningkatan frekuensi pernafasan.
Palapasi thorak didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan
kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti ronckhi pada pasien.
b. B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan syok
hipovolemik. TD biasanya normal, terjadi peningkatan heart rate,
adanya anemis karena hancurnya eritrosit
c. B3 (Brain)
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran pasien tetanus mengalami
penurunan pada tingkat latergi, stupor, dan simikomatosa. Biasanya
pada pasien tetanus akan mengeluh mengalami fotopobia atau
sensitive terhadap cahaya. Serta didapatkan kaku kuduk.
Ketegangan otot rahang dan leher. Sistem kekuatan otot menurun,
control keseimbangan dan koordinasi pada tetanus tahap lanjut
mengalami perubahan.
d. B4 (Blader)
Penurunan volume haluaran urine berhubungan dengan penurunan
perfusi dan penurunan crah jantung ke ginjal.
e. B5 (Bowel)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi
asam lambung. Pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien menurun
karena anoreksia. Adanya spasme otot menyebabkan kesulitan
BAB.
f. B6 (Bone)
Adanya kejang umum sehingga mengganggu mobilitas pasien dan
menurunkan aktivitas sehari-hari. Perlu dikaji apabila pasien
mengalami patah tulang terbuka yang memungkinkan porte
d’entrée kuman clostridium tetani, sehingga memerlukan
perawatan luka yang optimal. Adanya kejang memberikan resiko
fraktur vertebra pada bayi, ketegangan, spasme otot pada abdomen

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan spasme
jalan nafas (Judith M.Wilkinson, 2016)
2. Hambatan mobilikats fisik berhubungan dengan gangguan
neuromuscular (adanya kejang berulang) (Judith M.Wilkinson, 2016)
3. Resiko cedera berhubungan dengan adanya kejang, perubahan status
mental, dan penurunan tingkat kesadaran (Judith M.Wilkinson, 2016)

2.2.3 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


Kriteria Hasil
1. Ketidakefektifan Setelah 1. Kaji fungsi 1. Memantau
bersihan jalan dilakukan paru, adanya dan mengatasi
nafas keperawatan bunyi nafas komplikasi
berhubungan selama 1x24 tambahan, potensial.
dengan spasme jam bersihan perubahan
jalan nafas nafas kembali irama dan
efektif. Kriteria kedalaman
2. Atur posisi
Hasil: 2. Peninggian
1. Tidak ada sewi fowler
tempat tidur
sesak nafas
dapat
2. RR = 16-
memudahkan
20x/menit
3. Tidak pernafasan,
menggunak meningkatkan
an otot ekspansi dada
3. Ajarkan cara 3. Untuk
bantu nafas
4. Tidak ada batuk efektif membantu
suara nafas pasien
tambahan mengeluarkan
5. Dapat
sekret yang
mendemon
tertahan
strasikan 4. Membantu
4. Lakukan
cara batuk mengeluarkan
fisioterapi
efektif sputum
dada dan
dengan cara
vibrasi dada
batuk efektif
5. Pemenuhan
5. Berikan
oksigen
oksigen
terutama pada
sesuai klinis
pasien tetanus
dengan laji
metabolisme
yang tinggi
No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
Kriteria Hasil

2. Hambatan Setelah 1. Kaji 1. Mengidentifika


mobilikats dil5akukan kemampuan si kerusakan
fisik tindakan fisik dan fungsi dan
berhubungan keperawatan kerusakan yang menentukan
dengan selama 3x24 terjadi pilihan
gangguan jam pasien intervensi
2. Untuk
neuromuscular tidak terjadi 2. Kaji tingkat
mengetahui
(adanya kontraktur, imobilisasi,
tingkat
kejang gangguan gunakan skala
ketergantungan
berulang) integritas kulit, tingkat
pasien
serta ketergantunga
peningkatan n
kemampuan
3. Pertahankan
3. Mencegah
fisik. Kriteria
body aligment
terjadinya
hasil:
adekuat,
1. Skala kontraktur
berikan
ketergantung atau footdrop
latihan ROM
an pasien
pasief jika
meningkat
pasien sudah
menjadi
bebas panas
bantuan
dan kejang
minimal
4. Berikan 4. Memfasilitasi
perawatan sirkulasi dan
kulit secara mencegah
adekuat, gangguan
lakukan integritas kulit
massage, serta
pertahankan
tempat tidur
dalam
keadaan
kering

No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


Kriteria Hasil
3. Resiko cedera Setelah 1. Monitor 1. Untuk mencegah
berhubungan dilakukan kejang pada terjadinya
dengan adanya tindakan tangan, kaki, komplikasi
kejang, keperawatan mulut, dan
perubahan selama 3x24 otot-otot
status mental, jam pasien muka lainya
2. Persiapkan
dan penurunan terbebas dari 2. Melindungi
lingkungan
tingkat cidera yang pasien bila kejang
yang aman,
kesadaran disebabkan terjadi
seperti
oleh kejang
batasan
dan penurunan
ranjang,
kesadaran.
papan
Kriteria Hasil :
1. Pasien pengaman,
tidak dan alat
mengalami suction
cidera selalu berada
apabila di dekat
terjadi pasien
3. Pertahankan
kejang
3. Mengurangiresiko
bedrest total
beruang
jatuh/terluka jika
selama fase
vertigo, sincope,
akut
dan atraksia
4. Kolaborasi terjadi
4. Untuk mngurangi
pemberian
kejang
terapi
Catatan :
diazepam,
phenobarbital
phenobarbita
dapat
l
menyebabkan
respiratorius
depresi dan sedasi

2.2.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang akan diberikan

2.3 PASIEN SAFETY


Patient safety bebas dari cidera atau menghindarkan cidera pada pasien
akibat perawatan medis dan kesalahan pengobatan dalam perawatan pada
pasien kanker kulit system dimana rumah sakit membuat asuhan keperawatan
pada pasien kanker kulit supaya lebih aman dan untuk mencegah terjadinya
cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan tindakan atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi
pengenalan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar
dari inseden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan
risiko. Meliputi assesment risiko, identifikasi dan pengelolaan hal,
kemampuan belajar dari insenden dan tindak lanjutannya, implementasi solusi
untuk meminimalkan timbulnya risiko. Dan perawat harus mempelajari
asuhan keperawatan tentang kanker kulit terlebih dahulu sebelum bertindak
kepada pasien
2.4 LEGAL ETIK PADA PASIEN DENGAN TETANUS

2.4.1. Autonomi (otonomi)

Perawat menghargai hak-hak pasien dalam membuat keputusan tentang


perawatan dirinya. Setiap tindakan harus mendapat persetujuan dari pasien
dan tidak memaksa. Jadi dalam setiap tindakan pertama-tama kita harus
memberikan informasi secara jelas kepada pasien dan menghargai
keputusan klien tentang keputusanya.
2.4.2 Beneficience (Berbuat Baik)
Setiap apapun kesalahan yang ada pada pasien kepada perawat, kita harus
tetap berbuat baik dengan mengutamakan kesehatan pasien. Dan tidak
pernah memandang baik buruknya pasien
2.4.3 Justice (Keadilan)
Sebagai seorang perawat kita harus bersikap adil dan tidak membeda-
bedakan pelayanan antara pasien satu dengan yang lainya. Dan setiap
tindakan yang kita berikan tidak menimbulkan bahaya atau cidera fisik,
bahkan komplikasi khusunya pada pasien dengan infeksi tetanus
2.4.4 Veracity (Kejujuran)
Apabila terjadi masalah kepada pasien tentang perawatan yang kita berikan
seperti dalam kesalahan memberikan obat, kita harus jujur dan
memberitahukan kepada perawat lain tentang apa yang sebenarnya terjadi
demi keselamatan pasien
2.4.5 Fidelity (Menepati Janji)
Perawat setia pada komitmen dan menepati janji terhadap pelayanana yang
akan diberikan kepada pasien
2.4.6 Confidentiality
Informasi tentang pasien seperti segala sesuatu yang terdapat dalam
dokumen dan catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka
pengobatan klien. Kita sebagai perawat harur menjaga privasi pasien
2.4.7 Informed Concent
Informed artinya memberi informasi, Concent adalah persetujuan. Jadi
setiap tindakan yang akan diberikan, kita harus memberikan informasi
tersebut kepada pasien dan pasien memberikan persetujuan atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan serta resiko yang
berkaitan dengan tindakan tersebut

2.5 PERAN ADVOKASI PERAWAT PADA PASIEN DENGAN TETANUS


2.5.1 Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan
Sebagai perawat kita harus memperhatikan keaadaan kebutuhan
dasar manusia, salah satunyanya memberikan asuhan keperawatan. Pada
pasien dengan tetanus, pasien harus mengurangi berbagai komplikasi.
Dengan memberikan diagnosis keperawatan kemudian memberikan
perencanaan sesuai dengan diagnosa dan mengaplikasikan hasil rencana
tersebut kemudian mengevaluasi apakah tindakan yang sudah kita lakukan
berhasil.
2.5.2 Sebagai Advokat
Sebagai perawat kita harus memberikan seluruh informasi kepada
pasien atau keluarga tentang terapi apa yang harus dijalani dan membantu
pasien dalam mengambil keputusan. Perawat juga harus melindungii hak-
hak pasien.
2.5.3 Sebagai Educator
Sebagai perawat kita harus membantu pasien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan, Seorang perawat dapat memecahkan masalah
bersama dengan keluarga pasien melalui pendekatan proses keperawatan ,
karena keluarga pasien yang paling mengetahui kebutuhan pasien yang
mengalami penurunan kesadaran. Pendidikan kesehatan tentang
kebersihan penting disampaikan kepada keluarga untuk mengurangi resiko
tetanus.
2.5.4 Sebagai Koordinator
Perawat melaksanakan , merencanakan serta mengkoordinasi kepada
tim kesehatan lain. Dalam melakukan pelayanan kesehatan sehingga
pelayanan kesehatan dapat terarah sesuai dengan kebutuhan pasien.
2.5.5 Sebagai Kolaborator
Perawat berkolaborasi dengan tim kesehatan lain. Seperti memberikan
diit yang tepat kepada ahli gizi, dan latihan fisik kepada fisioterapi apabila
pasien mengalami gangguan mobilisasi serta kolaborasi dengan doter
dalam pemberian analgesic
2.5.6 Sebagai Konsultan
Perawat memberikan solusi terhadap masalah dan tindakan
keperawatan yang tepat .
2.5.7 Sebagai Pembaharu
Perawat mengadakan kerjasama, perencanaan serta pembaruan
sehingga tindakan keperawatan dapat terarah sesuai dengan metode
pemberiian pelayanan kesehatan
BAB 3
PEMBAHASAN
Dalam jurnal penelitian Ni Komang Saraswita Laksmi tahun 2014 yang
berjudul “penatalaksanaan tetanus “ bertujuan meneliti penatalaksanaan
pada orang dengan tetanus. Ada tiga sasaran penatalaksanaan tetanus: (1)
membuang sumber tetanospasmin; (2) netralisasi toksin yang tidak terikat;
(3) perawatan penunjang (suportif ) sampai tetanospasmin yang berikatan
dengan jaringan habis dimetabolisme. Sebagian besar kasus membutuhkan
4-6 minggu pengobatan suportif di ICU. Keberhasilan terapi suportif akan
menentukan outcome, di samping faktor beratnya penyakit.
Penatalaksanaan lebih lanjut terdiri dari terapi suportif sampai efek toksin
yang telah terikat habis. Semua pasien yang dicurigai tetanus sebaiknya
ditangani di ICU agar bisa diobservasi secara kontinu. Untuk meminimalkan
risiko spasme paroksismal yang dipresipitasi stimulus ekstrinsik, pasien
sebaiknya dirawat di ruangan gelap dan tenang.3-5,12 Pasien diposisikan
agar mencegah pneumonia aspirasi. Cairan intravena harus diberikan,
pemeriksaan elektrolit serta analisis gas darah penting sebagai penuntun
terapi.
DAFTAR PUSTAKA

 Quasim S. Management of tetanus.World Anaesthesia Tutorial of the


Week. Vol 87 No. 3. [Internet]. 2001 [cited 2013 Oct 20]. Available from:
http://www.aagbi. org/sites/default/fi les/17-management-of-tetanus.pdf.

 Brunner. Suddarth. 2013. Keperawatan Medikal Bedah, Ed.12. Jakarta:


EGC

 Hartanto. 2012. Teks Atlat Kedokteran Kedaruratan Greenberg jilid 3.


Jakarta: Eirlangga.

 LeMone, Priscilla. 2015. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Ed.5,


Vol.4. Jakarta: EGC

 Mandal B.K., dkk. 2013. Lecture notes Penyakit Infeksi. Jakarta: Eirlangga
 Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medik

 Noor, Zairin. 2016. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:


Salemba Medika

 Novitasari, Selvi. 2017. Risk Analyses Factor of Infant Mortality Caused


by Tetanus Neonatorum in East Java. Jurnal Berkala Epidemiologi,
Volume 5 Nomor 2. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Airlangga. Surabaya, Jawa Timur, Indonesia (Diakses tanggal 7 November
2017)

 Smeltzer, Susan C. 2014. Buku Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12


Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC

 Wilkinson. Judith M, 2016, Diagnosis Keperawatan, Jakarta. EGC