Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi kehidupan
manusia. Kebutuhan akan energi listrik cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal ini
disebabkan karena semakin banyaknya penduduk memerlukan dan menyadari arti
pentingnya listrik untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan
kenyataan bahwa pada masa sekarang ini, hampir semua kegiatan dan proses
produksi yang menggunakan energi listrik. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri
lagi bahwa energi listrik sangat dibutuhkan. PT. PJB Unit Pembangkitan Paiton
merupakan badan usaha milik Negara (BUMN) anak Perusahaan Listrik Negara
(PLN) yang bertugas melayani salah satu kebutuhan listrik daerah Jawa dan Bali. PT.
PJB Unit Pembangkitan Paiton menggunakan sistem suplai listrik tenaga uap. PT.
PJB Unit Pembangkitan Paiton memiliki dua unit pembangkit yaitu unit 1 dan 2
dengan daya setiap unit 400 MW. PLTU ini menyalurkan daya ke sistem interkoneksi
Jawa-Bali.
Salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan PJB tersebut berupa
penyelenggaraan program pendidikan & pelatihan operasi dan pemeliharaan
pembangkit tenaga listrik yang merupakan perluasan Sekolah Menengah Kejuruan,
yaitu pendidikan vokasi jangka pendek (D-1) yang bertujuan meningkatkan kualitas
ketenagakerjaan. Dikti menunjuk Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
sebagai mitra PJB. Sehingga kurikulum perkuliahan disusun bersama oleh kedua
belah pihak. Demikian pula dengan tim pengajar yang akan diisi oleh dosen-dosen
dari PENS serta karyawan PJB yang memiliki kompetensi sesuai. Proses perkuliahan
berlangsung selama satu tahun yang masing-masing semester akan dilakukan di
kampus PENS selama empat bulan untuk pembekalan teori serta di Unit Pembangkit
milik PT. PJB selama dua bulan untuk studi lapangan.
Dengan alasan tersebut, program Akademi Komunitas PJB bekerjasama
dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya mewajibkan kepada setiap
mahasiswanya untuk malksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) guna menunjang
teori pembelajaran di bangku perkuliahan sesuai dengan bidang keahliannya.

1
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

1.2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktek kerja lapangan dilaksanakan pada :
tanggal : 26 Januari – 26 Maret 2015
tempat : PT Pembankitan Jawa-Bali (PJB) Unit Pembangkitan Paiton
Divisi Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Alamat : Jl. Raya Surabaya - Situbondo km 142 Paiton (67291), Probolinggo,
Jawa Timur .
Telepon : (031) xxxx

1.3. Dasar Pemikiran


Dasar-dasar pemikiran yang melandasi diadakannya praktek kerja lapangan ini,
seperti tersebut di bawah ini :
a. Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia
Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi
pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil,
berdisiplin, beretoskerja, professional, bertanggung jawab dan produktif serta
sehat jasmani dan rohani.
b. Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat.
c. Tujuan Pendidikan PENS Surabaya, yaitu kepemimpinan, keahlian, berpikir
ilmiah, dan sikap hidup bermasyarakat.
d. Masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan relevansi terhadapmutu
pendidikan dan penelitian.
e. Sebagai syarat kelulusan mata kuliah praktek kerja lapangan di program AK PJB
yang mempunyai strata diploma 1 dengan program 4 bulan kuliah dan 2 bulan
praktek.
f. Diperlukan keselarasan antara system pendidikan tinggi dan dunia kerja.
g. Diperlikan sarana untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang diperoleh di
bangku perkuliahan pada dunia kerja.

2
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

1.4. Tujuan
Tujuan pelaksanaan prajtek kerja lapangan :
1.4.1. Umum
1) Meningkatkan kepedulian dan partisipasi dunia kerja dalam
memberikan kontribusinya terhadap system pendidikan nasional.
2) Terciptanya suatu hubungan yang sinergia, jelas dan terarah antara
dunia perguruan tinggi dan dunia kerja sebagai pengguna outputnya.
3) Membuka wawasan mahasiswa agar dapat mengetahui dan memahami
aplikasi ilmunya di dunia industri pada umumnya dan mampu menyerap
serta berasosiasi dengan dunia kerja secara utuh.
4) Mahsiswa memahami dan mengetahui system kerja di dunia industri
serta mampu melakukan pendekatan masalah secara umum.
5) Menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir konstruktif yang lebih
berwawasan bagi mahasiswa.
1.4.2. Khusus
1) Mengenal secara khusus bidang yang dipelajari mahasiswa, serta
aplikasinya di dunia kerja.
2) Mengetahui bagaimana proses dan produksi di PT PJB UP Paiton yaitu
proses PLTU.
3) Mempermudah dan memperjelas pelaksanaan teori dan praktek yang
diperoleh selama kuliah dalam dunia kerja yang sesungguhnya.
4) Memantapkan kemampuan praktek dalam penguasaan di dalam unit
pembangkitan sebagai produsen listrik.
5) Mampu menyerap dan berasosiasi dengan dunia kerja secara utuh,
sekaligus dapat mengetahui dan memahami system kerja di dunia
industri.
6) Untuk mengaplikasikan dan melakukan koreksi dalam kajian
keilmuannya.

3
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

1.5. Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Perguruan Tinggi
Sebagai tambahan referansi khususnya mengenai perkembangan industri di
Indonesia maupun proses dan teknologi mutakhir, yang dapat dipergunakan oleh
pihak-pihak yang memerlukan.
2. Bagi PT PJB
Hasil analisa dan penelitian yang dilakukan selama kerja praktek dapat menjadi
bahan masukan bagi perusahaan untuk menentukan kebijaksanaan perusahaan di
masa yang akan dating.
3. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat mengetahui secara lebih mendalam tentang kenyataan yang ada
di dunia industri (di unit pembangkit) sehingga nantinya diharapkan mampu
menerapkan ilmu yang telah didapat dalam bidang industri yang tak lain nantinya
setelah lulus dari AK PJB akan dipekerjakan di PT PJB itu sendiri.

1.6. Metode Penulisan


Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Metode Studi Literatur
Merupakan metode pengumpulan data dengan cara membaca, mempelajari, dan
memahami buku-buku raferensi dari beberapa sumber, baik itu dari perpustakaan
PT. PJB UP Paiton, manual book perusahaan, pencarian di textbook perusahaan,
atau diktat penelitian.
2. Metode Observasi
Merupakan metode pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung pada
obyek penelitian.

1.7. Sistematika Penulisan


Dalam penulisan laporan praktek kerja lapangan ini penulis membaginya dalam enam
bab dan tiap-tiap bab terdiri dari sub bab. Sistematika laporan praktek kerja lapangan
ini adalah sebagai berikut :

4
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

1. BAB I PENDAHULUAN
Berisi penjelasan tentang latar belakang, maksud dan tujuan penulisan laporan,
pembatasan masalah, metodologi penulisan serta sistematika penulisan dari
laporan.
2. BAB II PROFIL PERUSAHAAN
Berisi tentang sejarah perusahaan, struktur organisasi serta garis besar kegiatan di
PT.PJB UP Paiton.
3. BAB III PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PEMELIHARAAN
Berisi penjelasan mengenai definisi pemeliharaan serta jenis-jenis pemeliharaan
dalam siklus kerja produksi PT.PJB UP Paiton.
4. BAB IV OPERASI PLTU
Berisi penjelasan tentang siklus kerja PLTU Paiton Unit 1&2, serta sistem yang
terjadi di dalamnya.
5. BAB V PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran dari apa yang telah dibahas pada laporan kerja
praktek.
6. DAFTAR PUSTAKA
Berisi referensi – referensi yang digunakan untuk melakukan penyusunan dari
laporan kerja praktek.

5
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

BAB II
PROFIL UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Singkat dan Profil Perusahaan


Unit Pembangkitan Paiton terbentuk berdasarkan surat keputusan direksi PLN
No.030K/023/DIR/1993, tanggal 15 Maret 1992 merupakan unit kerja yang dikelola
oleh PT. PLN (Persero) Pembangkitan dan Penyaluran Jawa Bagian Timur dan
Bali (PLN KJT dan BALI) Sektor Paiton. Restrukturisasi di PT. PLN pada tahun
1995 mengubah PT. PLN menjadi PT. PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali
I dan PT. PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali II. Kemudian pada tahun
1997 Sektor Paiton namanya menjadi PT. PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-
Bali II Unit Pembangkitan Paiton (UP Paiton).
Berdasarkan surat keputusan direksi No.039K/023/DIR/1998 tentang
pemisahan fungsi pemeliharaan dan fungsi operasi PT. PLN Pembangkitan
Tenaga Listrik Jawa-Bali II Unit Pembangkitan Paiton. Organisasi UP. Paiton sejak
tanggal 3 Juni 1999 mengalami perubahan mengikuti perkembangan organisasi di
PT. PLN. PJB. II yang fleksibel dan dinamis sehingga mampu menghadapi dan
menyesuaikan situasi bisnis yang selalu berubah. Perubahan yang mendasar dari
Unit Pembangkitan adalah dipisahkan fungsi operasi dan fungsi pemeliharaan,
sehingga Unit Pembangkitan menjadi organisasi yang Lean and Clean, dan hanya
mengoperasikan pembangkitan untuk menghasilkan GWh.

Gambar 2.1 Logo PT. PJB

Dengan perkembangan organisasi dan kebijaksanaan manajemen, maka


sejak tanggal 3 Oktober 2000, PT. PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali II
berubah menjadi PT. PLN Pembangkitan Jawa-Bali (PT. PJB) dengan unit
Pembangkitan Paiton sebagai satu unit pembangkitan utama. Pembangkitan PLTU

6
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

tersebut diawali dengan pembangunan 2 unit (unit1 dan unit2) dalam rangka
pelaksanaan pembangunan unit-unit pembangkitan tersebut, pemerintah menetapkan
dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 35 tahun 1957 untuk Pelaksanaan
Pengawasan dan Koordinasi Pembangunan PLTU Unit Pembangkitan Paiton.
Sesuai dengan program yang dirancang oleh pemerintah dalam rangka
penghematan bahan bakar minyak dan deversifikasi sumber energi, maka PLTU
Paiton telah didesain untuk menggunakan batu bara sebagai bahan bakar
utamanya. Total kapasitas unit 1 dan unit 2 sebesar 2x400 MW atau sama dengan 800
MW, yang telah beroperasi sejak tahun 1993/1994 untuk tahap 1.

2.2 Perencanaan PLTU Paiton


Dalam pelaksanan pembangunannya, di areal komplek PLTU Paiton terdiri8
unit dengan perencanaan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Perencanaan PLTU Paiton

Kapasitas Per Unit Kapasitas Total


Perencanaan Unit Keterangan
(MW) (MW)
Tahap 1 1&2 400 800 PT.PJB UP Paiton
Tahap 2 3 800 800 PT.IPMOMI
Tahap 3 5&6 600 1200 PT.YTL
Tahap 4 7&8 600 1200 PT.IPMOMI
Tahap 5 9 600 600 PJB Sevices

Kebutuhan akan bahan bakar batu bara PLTU Paiton dipasok dari tambang batu
bara Kalimantan Selatan. Jumlah pemakaian untuk operasional direncanakan sesuai
dengan perencanaan desain Unit Pembangkitan Paiton.
Konsultan Sargent dan Lundy dari Amerika-Kanada adalah konsultan yang
oleh PT. PLN dalam rangka membantu perencanaan dan pelaksanaan pengawasan
proses pembangunan PLTU Paiton, sedangkan konsultan yang mendampingi adalah
PT. JITACONA. Dalam pembangunan PLTU Paiton, pelaksanaannya diatur
dalam surat dokumen kontrak dimana didalamnya diatur hal-hal mengenai jenis
pekerjaan, jadwal pekerjaan, spesifikasi, besarnya nilai kontrak, cara pembayaran
dan lain sebagainya. Efektivitas serta aktivitas karyawan PLTU Paiton sangat
tergantung pada:

7
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

1. Struktur organisasi yang baik


2. Skill karyawan
3. Buku-buku panduan tentang operasional dan pemeliharaan yang tesedia.
Disamping itu juga diberikan training up dan upgrading bagi karyawan yang
bertugas sebagai operator, mekanik, maupun maintenance.

2.3 Lokasi dan Plan Lay Out PLTU Paiton


PT. PJB UP. Paiton yang berlokasi di Jl. Raya Surabaya-Situbondo Km 142,
Paiton-Probolinggo, Jawa Timur. Lokasi tersebut terletak kurang lebih 52 Km dari
Probolinggo atau kurang lebih 142 Km dari Surabaya ke arah timur. Sedangkan total
area proyek Paiton adalah kurang lebih 476 Ha, termasuk kurang lebih 200 Ha untuk
Ash Disposal Area (area pembuangan abu) dan kurang lebih 32 Ha untuk komplek
perumahan karyawan.

Gambar 2.2 Lay Out PLTU Paiton

Tabel 2.2 Kondisi Meteorologi di Paiton


No. Kondisi Keterangan
1 Suhu rata-rata 30,87 oC
2 Curah Hujan 1219 mm
3 Kelembaban udara rata-rata 71,33 %
4 Kecepatan angina rata-rata/bulan/km/jam 0-33,2 m/s atau 0-12 km/jam
5 Bulan-bulan basah November – April
6 Bulan-bulan kering Mei – Oktober
7 Bulan terbasah Januari (curah hujan rata-rata 453 mm)
8 Arah angina dominan Selatan, Barat

8
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 2.3 Kompleks PLTU Paiton

Gambar 2.4 Peta Lokasi PLTU Paiton

2.4 Struktur Organisasi

Dalam menjalankan kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan PT.PJB UP


Paiton, terdapat struktur organisasi yang menjalankan kegiatan tersebut. Dapat
digambarkan dalam bentuk orchart dibawah :

9
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 2.5 Struktur Organisasi PT.PJB UP Paiton

2.5 Visi dan Misi Perusahaan

2.5.1 Visi Perusahaan


“Menjadi Perusahaan Pembangkit Tenaga Listrik Indonesia yang Terkemuka
dengan Standar Kelas Dunia ”

2.5.2 Misi Perusahaan


 Menjadikan PT. PJB sebagai perusahaan publik yang maju dan dinamis
dalam bidang pembangkitan tenaga listrik.

10
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

 Memberikan hasil yang terbaik pada pemegang saham,


pegawai,pelanggan – pemasok, pemerintah, dan masyarakat serta
lingkungannya.
 Memenuhi tuntutan pasar.

2.6 Tata Nilai Perusahaan


 INTEGRITAS : adalah kepribadian yang selalu memperjuangkan
kebenaran melalui kejujuran dan tanggung jawab
 KEUNGGULAN : adalah kondisi dimana kualitas kerja melampaui standar
yang telah ditetapkan
 KERJASAMA : adalah menyatukan kemampuan dan bakat tiap orang untuk
mencapai tujuan bersama
 PELAYANAN : adalah sikap dan perilaku mementingkan kepuasan
pelanggan, pemegang saham, masyarakat dan bangsa
 SADAR LINGKUNGAN : adalah kesadaran untuk selalu memelihara alam dan
lingkungan kerjanya sebagai sumberdaya demi kelestarian perusahaan

2.7 Bahan Baku Produksi Listrik


Pada PLTU Paiton ini, proses produksi listriknya memerlukan beberapa
komponen-komponen penting. Selain itu juga diperlukan bahan baku untuk
membangkitkan listrik. Proses produksi listrik akan dijelaskan selanjutnya.
Adapun bahan baku yang digunakan untuk membangkitkan listrik pada PLTU Paiton
antara lain:
1. High Speed Diesel (Solar)
High Speed Diesel menggunakan bahan bakar solar. Solar yang diangkut
oleh kapal laut ditampung terlebih dahulu dan selanjutnya akan dialirkan menuju
Boiler. Solar hanya digunakan untuk memulai proses firing pada Boiler (furnace)
mencapai 30% dari suhu maksimum yang dibutuhkan pada ruang bakar Boiler.
2. Batu bara
Batu bara setelah diangkut dari CHCB (Coal Handling Control Board) akan
mengisi Silo. Dari silo batu bara dialirkan menuju Feeder yang mengontrol
banyaknya batu bara yang masuk pada Mill, yang selanjutnya akan melanjutkan

11
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

proses firing yang sebelumnya telah diawali dengan menggunakan High Speed
Diesel.
3. Air
Air murni (Demin) yang telah diproses dari WTP ditampung akan dialirkan
menuju Kondenser dan air akan mengalami pemanasan yang bertingkat. Untuk
mengurangi terjadinya korosi dibagian dalam pipa ketel akibat gas – gas yang
larut dalam air pengisi ketel uap, seperti CO2 dan O2, maka gas – gas tersebut
perlu dikeluarkan (dibuang) sebelum air pengisi masuk ke dalam ketel. Dengan
adanya pemanasan bertingkat ini kondisi air sudah memiliki suhu di atas suhu
normal air, sehingga akan mempermudah proses pemanasan dalam Boiler dan
waktu pemanasannya menjadi lebih cepat.

12
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

BAB III
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PEMELIHARAAN

3.1. DEFINISI DAN TUJUAN PEMELIHARAAN (MAINTENANCE)

3.1.1. Definisi Pemeliharaan


Pemeliharaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan
dengan tujuan agar peralatan selalu memiliki kondisi yang sama dengan keadaan
awalnya. Pemeliharaan bermaksud sebagai suatu kombinasi dari berbagai tindakan
yang dilakukan untuk menjaga suatu barang , atau memperbaikinya sampai mencapai
kondisi yang diterima.
Maintenance perlu dilakukan didalam sebuah unit pembangkitan terhadap
fasilitas pendukung proses produksi, hal ini perlu dilakukan agar fasilitas atau
peralatan tetap dalam kondisi yang baik dan mampu bekerja sesuai proses agar proses
produksi berjalan dengan lancer, sehingga nantinya akan diperoleh keandalan,
kontinuitas, dan kinerja suatu unit prmbengkitan.

3.1.2. Tujuan Pemeliharaan


Tujuan dari kegiatan pemeliharaan (maintenance) yang paling utama yaitu
untuk melayani kebutuhan operasi untuk pengoperasian pada keadaan Base Load dan
Emergency sesuai kemampuan. Secara umum, tujuan dari kegiatan pemeliharaan
yaitu sebagai berikut :
1) Agar kemampuan produksi dapat terpenuhi sesuai dengan rencana produksi,
2) Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan
oleh produksi itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu,
3) Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang diluar batas
dan menjaga modal yang di investasikan
4) Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin, dengan
melaksanakan kegiatan pemeliharaan secara efektif dan efisien,
5) Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat membahayakan keselamatan para
pekerja,

13
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

3.2. JENIS PEMELIHARAAN

Pemeliharaan dilihat dari jenis pelaksanaannya dapat dibagi menjadi 2 jenis


yaitu sebagai berikut:
3.2.1. In Service Maintenance
In Service Maintenance adalah Pemeliharaan dalam keadaan beroperasi yakni
pekerjaan yang dilakukan tanpa mengganggu jalannya operasi turbin. Pada umumnya
pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan-pekerjaan ringan seperti pembersihan,
pengukuran, pengamatan dan sebagainya pada turbin maupun peralatan bantunya.
3.2.1.1.Preventive Maintenance
Pemeliharaan pencegahan adalah pemeliharaan yang dibertujuan untuk
mencegah terjadinya kerusakan, atau cara pemeliharaan yang direncanakan
untuk pencegahan.
3.2.1.2.Running Maintenance
Pemeliharaan berjalan dilakukan ketika fasilitas atau peralatan dalam
keadaan bekerja.Pemeliharan berjalan diterapkan pada peralatan-peralatan yang
harus beroperasi terus dalam melayani proses produksi.
3.2.1.3.Predictive Maintenance
Pemeliharaan prediktif ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya
perubahan atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari system
peralatan. Biasanya pemeliharaan prediktif dilakukan dengan bantuan panca
indra atau alat-alat monitor yang canggih.
3.2.1.4.Routine maintenance
Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilaksanakan secara rutin
atau terus-menerus. Beberapa pemeliharaan rutin yang dapat dilakukan pada
saat turbin beroperasi, diantaranya :
 Penambahan grease pada bagian yang memerlukannya
 Menambah minyak pelumas ke dalam tangki
 Membersihkan minyak pelumas melalui instalasi pemurniminyak pelumas.
 Membuang air dan lumpur melalui drain tangki minyak pelumas dan
memeriksa kondisi minyak pelumas.
 Mengencangkan baut-baut yang longgar
 Menutup atau mengurangi kebocoran pada seal katup-katup

14
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

 Membersihan bagian-bagian tertentu.


 Melakukan perbaikan pada peralatan cadangan ( standby )

3.2.2.Outage Service Maintenance


Outage Service Maintenance merupakan Pemeliharaan dalam keadaan tidak
beroperasi dapat dilakukan pada saat periodic inspection yaitu pada simple
inspection, mean inspection dan seirous inspection.
3.2.2.1.Corrective Maintenance
Pemeliharaan korektif adalah pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan
untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fasilitas/peralatan sehingga
mencapai standar yang dapat di terima.Dalam perbaikan dapat dilakukan
peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau
modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik.
3.2.2.2.Breakdown Maintenance
Pekerjaan pemeliharaan ini dilakukan ketika terjadinya kerusakan pada
peralatan, dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, alat-alat
dan tenaga kerjanya.
3.2.2.3.Emergency Maintenance
Pemeliharan darurat adalah pekerjaan pemeliharaan yang harus segera
dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga
sebelumnya
3.2.2.4.Shutdown maintenance
Pemeliharaan berhenti adalah pemeliharaan yang hanya dilakukan selama
mesin tersebut berhenti beroperasi biasa juga dikenal dengan Overhoul.
Pemeliharaan ini merupakan kegiatan pemeliharaan yang didasarkan pada
fungsi waktu juga, dan dalam skala unit.

15
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

BAB IV
OPERASI PLTU

4.1. Definisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Pembangkit listrik tenaga uap adalah suatu sistem pembangkit thermal dengan
menggunakan uap air sebagai fluida kerjanya, yaitu dengan memanfaatkan energi
kinetik uap untuk menggerakkan poros sudu – sudu turbin.
Pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap, energi panas dalam bahan bakar tidak
langsung diberikan ke turbin, akan tetapi terlebih dahulu diberikan ke Steam
Generator atau bisa disebut Boiler / Ketel Uap. Uap yang dihasilkan inilah oleh
Boiler, tekanan maupun temperaturnya cukup tinggi kemudian baru dimasukkan ke
turbin uap.

Gambar 4.1 Diagram alur PLTU Paiton 1&2

4.5 Sistem Penanganan Batubara (Coal Handling System)


Coal Handling system merupakan suatu unit pada Unit Pembangkitan Paiton
yang berfungsi sebagai penyedia atau service dalam hal pengangkutan dan pengaturan
batu bara dari Ship Unloader (SU) atau Unloader Jetty hingga ke sistem penampungan
pada boiler (silo) sebelum terjadi proses pembakaran pada boiler.

16
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Adapun tahapan-tahapan yang berperan dalam Coal Handling System pada


Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton adalah sebagai berikut.
4.2.1 Ship unloading system
Proses pembongakaran batubara di tongkang, dengan alat pembongkar (ship
unloader), untuk dipindahkan ke stock pile, dengan sistem konveyor. Ship
Unloader adalah alat pengangkut (crane) yang di pakai untuk pembongkaran
material padat dari tongkang atau kapal dengan kapasitas rata-rata 1750 ton/jam.

Gambar 4.1 Jetty ship unloader UP Paiton 1&2

4.2.2 Coal conveyor unloading system


Setelah batubara dicurahkan ke hoper, batubara kemudian dipindahkan ke
stock pile dengan menggunakan sistem konveyor. Conveyor Adalah suatu alat
yang berfungsi untuk memindahkan batubara dari suatu tempat menuju ketempat
lain. Sistem ini memiliki kelebihan mampu memindahkan batubara dengan cepat,
mudah, ekonomis dan kapasitas besar.

Gambar 4.3 Konveyor PJB UP Paiton

17
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.2.3 Transfer house


Adalah suatu konstruksi dimana beberapa ujung conveyor saling bertemu
untuk merubah aliran atau rute batubara dari jalur conveyor satu ke jalur yang
lainnya.

Gambar 4.4 Transfer house PLTU Paiton 1&2


a. Transfer House 1, batubara dari konveyor A1 dan A2 dicurahkan ke konveyor
B1 dan B2 dengan kapasitas 3500T/h, yang kemudian diteruskan ke TH2.
Pada TH1 ini dilengkapi magnetic separator.
b. Transfer House 2, batubara dari konveyor B1& B2 dicurahkan ke konveyor
C1 & C2 dengan kapasitas 3500T/h, yang kemudian diteruskan ke TH3. TH2
juga menerima supply batubara dari yard reclaim hopper.
c. Transfer House 3, batubara dari conveyor C1&C2 dicurahkan ke conveyor
D1&D2 dan melalui spliter gate, curahan batubara dapat disimpangkan ke
conveyor E2 menuju stock pile.
d. Transfer House 4, batubara dari conveyor D1&D2 melalui spliter gate dapat
dicurahkan ke conveyor J1&J2 atau ke E1. Selain itu, batubara dari stock pile
F1 melalui diverter gate juga dapat dicurahkan ke J1&J2. Pada conveyor J1
& J2 juga dilengkapi belt scale, flow rate metter dan totalizer.
e. Transfer House 5, batubara dari conveyor J1&J2 dicurahkan ke conveyor
K1&K2 melalui diverter gate yang kemudian diteruskan ke Transfer Tower /
tripper. Pada conveyor K1&K2 juga dilengkapi electric belt scale dengan
lokal dan remote flow rate meter dan totalizer.

18
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.2.4 Stock pile area


Stock Out Pile merupakan tempat penumpukan batu bara sementara
berdasarkan nilai Higher Heating Value (HHV) dan Hardgrove Grindability Index
(HGI). Batu bara dengan nilai HHV > 5100 kCal/Kg dan HGI > 41 (Adaro)
ditumpuk pada Stock Out Pile 2, sedangkan batu bara dengan nilai HHV < 5100
kCal/Kg dan HGI < 41 (Spot) ditumpuk pada Stock Out Pile 1. Masing-masing
mempunyai kapsitas 350.000 ton.

Gambar 4.5 Stock pile area PJB UP Paiton


4.2.5 Reclaim hopper system
Reclaim hopper merupakan tempat penampungan batu bara yang berada di
ruang bawah tanah pada stock pile area sebelum di angkut oleh konveyor menuju
silo. Proses pemindahan batubara dari stock pile ke silo melalui reclaim hopper
yang kemudian diteruskan konveyor – konveyor yang berhubungan.
4.2.6 Silo
Merupakan tempat penampungan sementara batubara yang akan diproses
untuk dibakar. Pada PLTU Paiton unit 1&2 masing-masing memiliki lima buah
silo untuk menampung batu bara sebelum dihaluskan untuk proses pembakaran.

Gambar 4.6 Silo PLTU paiton Unit 2

19
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.5 Sistem Pembakaran (Firing System)


Pembakaran adalah reaksi kimia yang cepat antara oksigen dan bahan yang
dapat terbakar, disertai timbulnya cahaya dan menghasilkan kalor. PLTU Paiton,
Firing System menggunakan 2 jenis bahan bakar yaitu Fuel Pulverizer Coal. dan
Fuel Oil.
4.3.1. Fuel Pulverizer Coal
Pulverizer berfugsi mengiling batu bara menjadi butiran halus (powder)
dengan ukuran kehalusan butiran (finess) yang telah ditentukan, kemudian
butiran halus dihembuskan menuju ruang bakar. Untuk batu bara lower
ranked finess nya 65-75% dari mesh 200. Untuk batu bara higher ranked
finessnya 70-75% dari mesh 200.

Gambar 4.6 Pulverizer Coal

Serbuk batubara dari mill melalui coal burner atau alat pembakar yang
jumlahnya 4 corner dan masing-masing corner 3 elevasi coal burner (3 mill).
4.3.2. Fuel Oil
Fuel Oil digunakan untuk ignition (pembakaran) dan start up (awal
pengoperasian), diesel generator, diesel Fire Pump dan untuk Auxiliary
Boiler. Fuel Oil Storage Tank (tangki penyimpanan minyak) dilengkapi dua
transfer pump pengisian Fuel Oil Day Tank dan mempunyai tiga main header
untuk dua boiler. Satu Stand By untuk dua boiler.

20
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.4. Siklus uap dan air (steam and water system)


4.4.1.Siklus uap
Bahan bakar yang merupakan bentuk dari energi kimia diubah dalam ruang
bakar menjadi energi panas. Energi panas tersebut diterima oleh air sehingga air
tersebut berubah wujud menjadi uap. Uap yang mempunyai energi panas
selanjutnya mendorong sudu - sudu turbin sehingga menjadi energi mekanik dalam
bentuk putaran turbin.
4.4.1.1.Economizer
Alat yang berfungsi untuk pemanas air pengisi boiler mendekati
temperatur titik didih memanfaatkan gas buang sisa pembakaran. Alat ini
memiliki keuntungan yaitu Efisiensi lebih baik (memanfaatkan gas sisi
pembakaran), ukuran evaporator menjadi kecil (sisi konstruksi),dan menjaga
termalstres antara pipa steam drum dengan pipa reiser.

Gambar 4.7 Economizer

4.4.1.2.Steam drum
Suatu tempat yang berfungsi untuk penampung air dan uap, memisahkan
antara air dan uap basah, serta mendistribusikan air dan uap basah. Kualitas air
dipertahankan dengan cara injeksi bahan kimia dan continous blowdown

21
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Air dari steam drum di sirkulasikan dengan BCWP melewati downcomer,


kemudian air di tampung di lower drum dan selanjutnya masuk ke furnace
untuk di panaskan melalui water wall dan kembali lagi ke steam drum,
sedangkan uap yang di steam drum keluar menuju superheater.

Gambar 4.8 Steam drum PJB UP Paiton Unit 1

4.4.1.3.BWCP ( Boiler Water Circulating Pump )


BWCP berfungsi pompa air untuk mensirkulasikan air dari steam drum
melewati down comer menuju lower header yang diteruskan kembali
menuju wall tube untuk dijadikan uap dan akan kembali menuju steam
drum

Gambar 4.9.(a) Konstruksi BWCP PJB UP Paiton

4.4.1.4.Downcomer dan Boiler Water Circulating Pump


Downcomer berfungsi mengalirkan air dari steam drum ke lower drum
baik secara alami ataupun paksa (menggunakan pompa). Sedangkan BCWP
(Boiler Circulating Water Pump) berfungsi untuk memastikan sirkulasi air
dirangkaian wall tubes boiler.

22
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 4.9.(b) Downcomer PJB UP Paiton Unit 1

4.4.1.5.Superheater dan Reheater


Superheater adalah suatu rangkaian pipa-pipa yang tertata berbentuk
elemen-elemen pemanas berfungsi untuk menaikkan temperatur uap basah
menjadi uap kering (uap panas lanjut) dengan memanfaatkan panas gas buang
bekas pembakaran.

Gambar 4.10 Skema letak Superheater

Reheater adalah suatu rangkaian pipi-pipa yang tertata berbentuk elemen-


elemen pemanas berfungsi untuk menaikkan temperatur uap bekas memutar HP
Turbine menjadi uap kering (uap panas lanjut) dengan memanfatkan panas gas
buang bekas pembakaran.

23
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.4.2.Siklus air
Secara umum siklus pengolahan air pada PLTU Paiton Unit 1 dan 2 dapat
terbagi menjadi dua, yaitu siklus air penambah yang diperoleh melalui proses
pengolahan air dari sumber mata air Klontong dan siklus air pendingin dengan
menggunakan air laut.

Gambar 4.11 sistem siklus air PLTU Paiton 1&2

4.4.2.1. Sistem Pengolahan Air (Water Treatment Plant)


Water treatment plant merupakan bagian dari sistem pengolahan air dalam
pembangkit. Air yang dihasilkan oleh bagian pengolah air digunakan sebagai air
penambah (make-up water) dalam siklus pembangkit, pendingin peralatan,
(pelumas turbin, pompa-pompa kapasitas besar, kompresor, dll) serta digunakan
untuk kebutuhan sehari-hari dalam unit atau biasa disebut service water.
Sumber air untuk mengisi boiler untuk dijadikan steam diambil dari desa
kelontong, yang dipompa oleh Kelontong Transfer Pump. Tujuan dari proses
Water Treatment Plant adalah sebagai tempat memproses air menjadi air demin
agar memenuhi standar atau kriteria agar bisa di ubah menjadi steam diboiler.

a) Well Water Tank, yaitu tangki penampung sementara air sebelum diproses
di WTP, dengan kapasitas 5000 kl.

24
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 4.12 Well Water Tank

b) Servis Water Tank, sebagai tempat penampungan sebelum air digunakan


menuju ke clarifier dan juga menjadi air service di unit contohnya air pengisi
toilet untuk menyiram bunga dan sebagai air pemadam kebakaran dan
kebutuhan lainya
c) Clarifier, Berfungsi sebagai tempat pengolahan air tahap pertama yaitu
proses penjernihan air untuk menghilangkan zat padat yang terkandung
dalam air dengan cara di endapkan.

Gambar 4.13 Clarifier Tank PJB UP Paiton

d) Grafity Sand Filter, di grafity sand filter akan menyaring kotoran dalam
pasir sehingga air menjadi lebih jernih dan bebas dari sisa zat-zat padat yang
terbawa dari clarifier.

25
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 4.14 Grafity Sand Filter

e) Clear Well, terbagi menjadi 2 jalur:


• Tempat penampungan air yang sudah di proses pada grafity sand filter
dan dipompa ke potable water tank dan menuju ke admin.
• Sedangkan untuk air pengisi boiler dipompa oleh filter water transfer
pump menuju cation exchanger.
f) Cation Exchanger, di dalamnya akan terjadi penukaran ion positif yang
terkandung di dalam air akan diserap oleh resin kation.

Gambar 4.15 Cation Exchanger PJB UP Paiton

26
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

g) Decarbonator, berfungsi menghilangkan gas CO2. dengan cara dispray


dengan udara yang di hasilkan oleh Decarbonator Blower.

Gambar 4.16 Decarbonator PJB UP Paiton

h) Anion Exchanger, di dalam Anion exchanger akan terjadi penukaran ion


negatif yang terkandung dalam air akan diserap oleh resin anion.

Gambar 4.17 Anion Exchanger PJB UP Paiton

i) Mixbed Exchanger, di dalam Mixbed Exchanger terjadi dua proses yakni


penukar kation dan penukar anion. Jadi mixbed exchanger ini hanya
penyaring sisa supaya hasil menjadi lebih baik.dan termasuk treatment
terakhir.

27
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 4.18 Mixbed Exch. PJB UP Paiton

j) Condensate Storage Tank, air dari demin storage tank dipompa oleh demin
water transfer pump menuju ke condensate storage tank dengan kapasitas
725 kl.

Gambar 4.19 CST PJB UP Paiton

k) Demin Storage Tank, tempat penampungan sementara air demin yang telah
diproses di wtp dengan ph 6,5-7,5. tangki ini memiliki kapasitas 1800 kl.

28
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 4.20 Demin Storage Tank PJB UP Paiton

l) Low Preassure Heater, air demin kemudian dipompa oleh Condensate


Extraction Pump (CEP) menuju ke LPH 1 – LPH 2 - LPH 3 untuk
dipanaskan terlebih dahulu agar tidak memberatkan kerja boiler.

(a) (b)
Gambar 4.21 (a) Demin Storage Tank PJB UP Paiton
(b) Condensate Extraction Pump PJB UP Paiton

29
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.4.2.2. Sistem Air Penambah Feed Water System


Feedwater System ( sistem air pengisi ) adalah unit kerja pada
pembangkit yang berfungsi mensuplai dan mengkondisikan air sebelum masuk
boiler secara kontinyu.
4.4.2.2.1. Deaerator, berfungsi memisahkan gas ( O2 dan CO2 ) yang terlarut
dalam air pengisi serta memberi Pressure (tekanan) positip pada sisi
hisap BFP.

Gambar 4.22 Deaerator PJB UP Paiton

4.4.2.2.2. Boiler Feed Pump, adalah pompa centripugal multi stages yang
berfungsi untuk menaikkan tekanan dan memompa air pengisi dari
Deaerator Storage Tank ke Steam Drum melalui pemanas tekanan
tinggi dan economizer.

Gambar 4.23 Boiler Feed Pump PJB UP Paiton

30
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.4.2.2.3. High Pressure Heater, adalah menaikkan Plant Eficiency dengan


menaikkan temperatur air pengisi sebelum masuk economizer dan
steam drum.

Gambar 4.24 HPH 6 PJB UP Paiton

4.4.2.3. Sistem Sirkulasi Air (Circulation Water System)


Cooling water system adalah suatu sistem pendinginan yang
memanfaatkan fluida air untuk mendinginkan peralatan-peralatan yang ada di
dalam proses produksi unit pembangkitan.

4.4.2.3.1 Sistem pendingin utama (Main Cooling Water System)


a) Siklus terbuka(Circulating Water System)
Air laut dialirkan untuk pendinginan di kondensor dimana setelah air
di gunakan pendinginan air laut akan di buang kembali ke laut. Circulating
Water System terdiri dari 3 Circulating Water Pumps dengan tipe Vertical
Centrifugal Pumps. Pada saat kondisi operasi Normal cukup 2 Circulating
Water Pump yang beroperasi dengan Discharge Pressure 0.5 ~ 0.7 Kg/Cm²
dan satunya dalam kondisi standby,dimana setiap discharge valve terdapat
motor operating valve.

31
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Screening plant
V-2
E-3 P-14 P-14 P-17
P-6 P-7

E-4
CWP P-27
Screening
E-1
plant P-16 P-16
V-5 V-8
Condensor P-25
P-1 P-2 V-3

P-17 P-26
P-25
E-2 V-4 V-9
CWP
Screening
E-6
plant P-15 P-15

P-8 P-9 V-1

outlet Inlet E-5


CWP
P-20

P-13 P-5 P-12

Gambar.4.25 Circulating Water System

 Circulating Water Pump, adalah suatu alat yang berfungsi memompa


air laut untuk pendinginan di kondensor.

Gambar 4.26 CWP PJB UP Paiton

 Bar Screen berfungsi untuk menyaring kotoran yang terbawa air laut
yang ukuranya agak besar.
 Trash Rake berfungsi membersihkan sampah atau kotoran yang ada
pada Bar Screen.
 Drum Screen berfungsi untuk menyaring kotoran yang lolos dari bar
screen yang ukuranya relatif lebih kecil.
 Screen wash Pump berfungsi membersihkan sampah atau kotoran yang
ada pada Drum Screen untuk selanjutnya dibuang menuju trash basket.

32
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

 Trash Basket berfungsi untuk menampung sampah dari bar screen dan
drum screen.
b) Siklus tertutup (Close Cooling Water System)
adalah suatu system yang berfungsi mengalirkan air pendingin (demin
water) untuk pendinginan peralatan - peralatan pembangkit.dimana setelah
air digunakan untuk pendinginan peralatana air akan didinginkan kembali di
CCWHE untuk kemudian di gunakan proses pendinginan kembali.

Gambar 4.27 Close Cooling Water System

Closed cooling water pump terdiri dari 2 x 100% pompa dengan tipe
Horizontal Centrifugal Pump. Close Cooling Water Heat Exchanger
Adalah suatu alat yang berfungsi mendinginkan (air demin) yang telah di
gunakan untuk mendinginkan peralatan di unit pembangkit, dimana outlet
air idealnya 30 ºC ~ 37 ºC dan pressurenya 6 Kg/Cm.

Gambar 4.28 Close Cooling Water Pump

33
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4.4.2.3.2 Sistem pendingin bantu (Auxiliary Cooling Water System)


Auxiliary Cooling Water System adalah suatu sistem yang berfungsi
mengalirkan air laut untuk air pendingin di Heat Exchanger Close Cooling
Water System dan Heat Exchanger Bottom Ash dimana air setelah di gunakan
untuk pendinginan akan berkumpul dengan sisi outlet CWP untuk di
kembalikan ke laut.
Auxiliary Cooling water System juga mensupply chlorination plant sistem,
bearing injection system dan digunakan untuk awal pengisian dari Circulating
Water System.

Gambar 4.29 Auxilary Cooling Water System

4.5 Peralatan Listrik


4.5.1 Generator
4.5.1.1.Definisi Generator
Generator adalah mesin yang mengubah Energi mekanik menjadi
Energi Listrik. Generator merupakan peralatan utama dan vital pada PLTU
Paiton disamping peralatan utama lainnya yaitu Boiler dan Turbin. Jika dilihat
dari sistem pendinginan, generator pada PLTU UP Paiton termasuk dalam
generator Generator dengan sistem pendinginan hidrogen (H2) yakni
Mendinginkan temperatur di belitan stator dan rotor menggunakan hydrogen
didalam generator -celah belitan stator dan rotor sehingga terjadi sirkulasi
udara secara terus menerus melalui alat pendinginan hidrogen.

34
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

Gambar 4.30 Generator PJB UP Paiton

Gambar 4.31 Type Generator PJB UP Paiton

4.5.1.2.Komponen Utama Generator


(a) Casing (rumah generator) adalah tempat untuk menempatkan dan mengikat
dengan ketat belitan Stator.
(b) Stator adalah bagian Generator yang diam , berupa belitan logam tembaga
yang bertegangan Listrik akibat induksi medan magnet rotor generator.
(c) Rotor adalah bagian yang berputar. Bagian ini berupa kutub magnet yang
mempunyai medan magnet, yang diberi belitan arus penguat medan
magnet.

35
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

(a) (b)

Gambar 4.32 (a) Rotor Generator PJB UP Paiton


(b) Stator Winding Generator PJB UP Paiton

(d) Exiter adalah Generator listrik kecil yang berfungsi memberikan arus
penguat medan magnet pada kutub Rotor Generator.
(e) Proteksi Generator, yakni peralatan pengaman generator yang terdiri dari :
 Relay Proteksi Arus lebih (51) I >
 Relay Proteksi Tegangan lebih (59) U >
 Differential Relay (87) Δ I
 Ground fault Relay (64)
 Over Excitation Relay (59/81) V/f
 Relay Jarak (21) Z <

4.5.2 Transformator
Transformator atau transformer atau trafo adalah komponen
electromagnet yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain.
Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator dikelompokkan menjadi
2 (dua) bagian, yaitu:

1. Transformator Daya (Transformator Distribusi), yakni transformator yang


digunakan untuk menaikkan (Step-Up) ataup menurunkan (Step-Down)
tegangan sebagai sumber daya

36
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

2. Transformator Pengukuran (Transformator arus dan Tegangan), berfungsi


untuk menurunkan tegangan atau arus pada sisi tegangan tinggi (primer)
menjadi tegangan rendah (sekunder) dengan menggunakan perbandingan
belitan.

Gambar 4.33 Main Generator Transformator PJB UP Paiton

Unit Pembangkit PLTU Paiton, mempunyai tegangan output dan


disalurkan ke SUTET melalui transformator generator (Generator Transformer)
18/500 KV, 470 MVA dan pemakaian sendiri unit bus 10 KV melalui unit
Auxiliary Tarnsformator (UAT 1A, UAT 1B, UAT 2A, dan UAT 2B) Auxiliary
Transformator 10/3 KV, 6 MVA. Pada unit bus 10 KV (1A, 1B, 2A, dan 2B)
dihubungkan ke interconnection Bus A dan Bus B (10 KV). Sub
interconnection 500 KV disalurkan melalui SUTET 500 KV Krian 1 dan Krian
2 ke GITET Krian juga disalurkan melalui Tie Transformator (TT1 Dan TT2)
masing – masing 500/150 KV, 500 MVA ke sub interconnection 150 KVA.
Sub interconnection 150 KV disalurkan melalui SUTT 150 KV.
1. Situbondo 1 dan Situbondo 2 ke Gardu Induk Situbondo.
2. Probolinggo 1 dan Probolinggo 2 ke GI Probolinggo, disalurkan melalui
Town Feeder Transformator (TFT) 150/20 KV, 40 MVA, disalurkan
melalui Station Service Transformator (SST 1 dan SST 2) masing–masing

37
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

150/10 KV, 60 MVA ke interconnection Bus SB1 dan SB2 untuk


pemakaian unit pada waktu start.
Adapun Transformator dengan pendingin minyak yang digunakan di
PLTU Paiton adalah sebagai berikut :
1. UAT (Unit Auxiliary Transformer)

Gambar 4.34 UAT Transformer PJB UP Paiton

Transformator Tenaga : ABB ESAS Trafo Sanay 1 A.S Turkey


Manufacture Serial Number : GT – 072 – 92
Lokasi : Out door
Type : TSPH – 1511 – 900
Frekuensi : 50 Hz
Tegangan : 18 KV P/Hv , 10 KV S/LV
Tingkat Isolasi : 125/50 KV P/HV, 75/28 KV S/LV
Highest System Voltage HV/LV : 24/12 KV
Rates Power : 20/26, 7/33, 4 MVA
Type dari pendingin : Onan / Onaf 1/ Onaf 2
Fasa :3
Standart : IEC 76
Vektor Group : Dyn 11
Temperature Rise : Oil : 60° C
Date : 1992

38
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

3. GT (Generator Transfomer) 18 – 500 KV

Gambar 4.35 GT Transformer PJB UP Paiton

Pabrik / manufaktur : ABB Trafo Gmbh Jerman


Type of Cooling : Onan / Onaf 1 / Onaf 2
Rate Power : 282 / 376 / 470 MVA
Rate ratio : 525 / 18 KV
Vektor Group : Ynd 1
Lokasi : Out Door
No. Seri : 11115074
Date : 1992
Standart : IEC 76
Phasa :3
Frekuensi : 50 Hz
Power Definition : Powerconstan on all tapping
Temperature rise W/O : 58 oK / 53 oK

39
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

4. SST (Station Service Transformer) 150 – 10 KV

Gambar 4.36 SST Transformer PJB UP Paiton

Type No. : TSPH – 91513-900


Frekuensi : 50 Hz
Rated Voltage : HV : 150, LV : 10,5
Insulation Level : HV : 650/275 KV, LV : 75/28 KV
Rated Power : 36/48/75 MVA
Phasa :3
Standart : IEC 76
Temperature Rise W / O : 65° C / 60° C
Highest System Voltage HV / LV : 170/12 KV
Type of Cooling : Onan / Onaf 1/ Onaf 2

40
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
AK PJB UP PAITON 1&2 TAHUN 2015

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Setelah melaksanakan Praktek Keja Lapangan di PT. PJB Unit Pembangkitan


Paiton, penyusun dapat menuliskan beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1. PLTU Paiton merupakan suatu unit pembangkit yang didirikan dengan tujuan untuk
memberikan energi listrik guna memenuhi kebutuhan kelistrikan di seluruh wilayah
Jawa dan Bali.
2. PLTU Paiton merupakan salah satu PLTU yang menggunakan batu bara sebagai
bahan bakar utama, hal tersebut juga menjadi solusi dalam permasalahan Sumber
Daya Alam yang mana persediaan bahan bakar minyak semakin menipis sehingga
perlu dikembangkan penggunaan bahan bakar alternatif.
3. Pengoperasian pada sistem kelistrikan yang sesuai dengan petunjuk pengoperasian
sesuai dengan peralatan masing-masing fungsi akan tercipta keamanan dan
terpeliharanya pada personil operator maupun pada peralatan.
4. Dengan adanya pengontrolan air pengisi boiler baik secara eksternal dan internal,
maka kemungkinan terjadinya kerusakan boiler dapat dihindari.
5. Dalam melaksanakan kegiatan produksi, PLTU memilki berbagai peralatan utama
dan peralatan pendukung sebagai suatu system kerja guna menghasilkan pasokan
energy listrik. Agar komponen-komponen tersebut dapat terus digunakan, maka
dibutuhkan kegiatan-kegiatan pemeliharaan dan perawatan.

5.2 SARAN
Saran yang dapat disampaikan oleh penulis yaitu Perlu adanya evaluasi ulang
terhadap koordinasi pengaman secara periodik agar sistem pengaman dapat bekerja
secara optimal.

41

Anda mungkin juga menyukai