Anda di halaman 1dari 62

MINI PROJECT

PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA


KEHAMILAN DI PUSKESMAS PERAWATAN MEKARSARI
PERIODE NOVEMBER 2018

Oleh :
dr. Rachel Gabriela Elaeis Uliarta Sidabutar

Pendamping :
dr. Siti Fatimah

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DINAS KESEHATAN
KOTA BALIKPAPAN
JANUARI 2019
MINI PROJECT

PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA


KEHAMILAN DI PUSKESMAS PERAWATAN MEKARSARI
PERIODE NOVEMBER 2018

Disusun Sebagai Mini Project Program Internsip Dokter Indonesia

Oleh :
dr. Rachel Gabriela Elaeis Uliarta Sidabutar

Pendamping :
dr. Siti Fatimah

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DINAS KESEHATAN
KOTA BALIKPAPAN
JANUARI 2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

MINI PROJECT

PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA


KEHAMILAN DI PUSKESMAS PERAWATAN MEKARSARI
PERIODE NOVEMBER 2018

Laporan Mini Project ini diajukan dalam rangka memenuhi tugas internsip di
Puskemas

Balikpapan, Januari 2019

Pendamping Internsip Peserta Internship,

(dr. Siti Fatimah) (dr. Rachel Gabriela Elaeis Uliarta Sidabutar)

Plt. Kepala Puskesmas Mekar Sari

(drg. Lily Anggraini)

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kehadiratan-Nya yang telah

memberikan rahmat,kekuatan, dan kelancaran kepada peneliti sehingga dapat

menyelesaikan mini project berjudul “Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda –Tanda

Bahaya Kehamilan di Puskesmas Perawatan Mekarsari Periode November 2018”.

Mini Project ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Internship

Dokter Indonesia.

Dalam pelaksanaan penelitian hingga proses penulisan mini project, tidak

mungkin terlepas dari berbagai pihak yang turut membimbing, mengarahkan, memberi

petunjuk, bantuan, kritik, dan saran dalam membantu proses penyelesaian mini project

ini, oleh karena itu izinkanlah penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-

besarnya kepada :

1. Drg Lily Anggraini , selaku Plt. Kepala Puskesmas Perawatan Mekar Sari

2. Drg. Siti Sri Wahyutiarni, selaku mantan Kepala Puskesmas Perawatan

Mekar Sari

3. dr. Siti Fatimah, selaku dokter pendamping peneliti selama menjalankan

PIDI di Balikpapan khususnya saat rotasi di Puskesmas Mekar Sari

Balikpapan yang telah banyak memberikan semangat dan dukungan untuk

terus giat belajar dan menyelesaikan PIDI tepat waktu.

4. dr. Dewi Kartika, dr. Anna Haryanti, dr. Dwi Astuti Yulianawati, dr.

Hermawati, dan dr. Ayu Ratna Dewi yang telah membantu selama di kami

stase di Puskesmas Mekarsari

iii
5. Mbak Lita yang memberikan saran dalam melakukan penelitian ini dan

staff-staff KIA lainnya yang turut membantu dalam proses penelitian ini.

6. Rekan-rekan seperjuangan peserta PIDI Balikpapan khususnya Mufidah,

Santi, Kharisma, dan Atdis, terima kasih untuk dukungan dan bantuannya

selama menjalankan PIDI di Puskesmas Mekar Sari Balikpapan

7. Seluruh staff Puskesmas Mekar Sari dan berbagai pihak yang tidak dapat

disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu peneliti dalam

menyelesaikan mini proyek ini.

Penulis menyadari masih terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan

mini project ini. Namun harapan penulis semoga ini dapat bermanfaat bagi masyarakat

pada umumnya serta perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan pada khususnya.

Amin.

Balikpapan, Januari 2019

Peneliti

iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .............................................................................................. iiiii
DAFTAR ISI................................................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 6
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 6
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................ 10
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................... 11
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................................... 12
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 13
2.1 Pengetahuan ................................................................................................. 13
2.1.1 Definisi Pengetahuan......................................................................................13
2.1.2 Tingkat Pengetahuan......................................................................................13
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi pengetahuan.......................................................15

2.2 Kehamilan .................................................................................................... 21


2.2.1 Fisiologi Kehamilan........................................................................................21
2.2.2 Kunjungan Ibu Hamil.....................................................................................26
2.2.3 Deteksi Risiko Tinggi....................................................................................27
2.2.4 Angka Kematian Ibu.......................................................................................27
2.2.5 Tanda-tanda bahaya kehamilan.......................................................................29
2.2.6 Faktor Risiko Kehamilan................................................................................33

2.3 Kerangka Konsep ........................................................................................ 35


BAB 3 METODE PENELITIAN ............................................................................. 36
3.1 Desain Penelitian ......................................................................................... 36
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian...................................................................... 36
3.3 Populasi dan Besar Sampel Penelitian......................................................... 36
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ....................................................................... 38
2.5 Bahan dan Instrumen ................................................................................... 38
2.6 Identifikasi Variabel .................................................................................... 38
3.7 Definisi Operasional .................................................................................... 39
3.8. Alur Kegiatan .............................................................................................. 44
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ............................................ 46
4.1. Pengetahuan Ibu Hamil mengenai Tanda Bahaya Kehamilan .................... 46
4.2. Faktor Karakteristik Individu dalam Mengenali Tanda Bahaya Kehamilan 46
4.3. Analisa Bivariat .......................................................................................... 49
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 58
5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 58
5.2 Saran ............................................................................................................ 58
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 60
DAFTAR TABEL...................................................................................................... 62
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. 63
LAMPIRAN 1............................................................................................................ 64

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kematian Ibu menurut definisi WHO (2004) adalah kematian selama


kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat
semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau
penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/ cedera.
Angka kematian ibu merupakan indikator dari suatu sistem kesehatan. Tren
AKI hingga tahun 2007 mengalami penurunan, namun meningkat tajam pada
tahun 2012 (dari 228 pada tahun 2007 menjadi 359 di 2012). Jumlah kematian
ibu tertinggi di kelompok usia 25-29, 30-34, dan 35-39 (BKKBN, BPS,
Kemenkes RI, & ICFInternational, 2013).
Angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di Asia
Tenggara. Pada tahun 2017 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup, dan
berdasarkan kesepakatan global (MDGs) angka kematian ini diharapkan
menurun sebesar ¾ dalam kurun waktu 1990-2015 maka dengan hal ini
Indonesia mempunyai kesepakatan untuk menurunkan angka kematian ibu
menjadi 102/100.000 kelahiran hidup.

Angka kematian Ibu di Kota Balikpapan tahun 2017 meningkat dengan


jumlah kasus 10 atau (78/100.000 KH). Target penurunan AKI secara Nasional
yaitu 112/100.000 KH. Dengan demikian peningkatan AKI Kota Balikpapan
dari 72/100.000 KH tahun 2016 menjadi 78/100.000 KH tahun 2017 masih
dibawah target nasional (Dinas Kesehatan Kota Balikpapan,2017).
Berdasarkan data Profil Kesehatan Balikpapan (2017), terdapat peningkatan
angka kematian ibu di puskesmas perawatan mekar sari dari 0 kasus pada tahun
2016 menjadi 2 kasus pada tahun 2017. Didapatkan juga peningkatan angka
penanganan komplikasi kebidanan di Puskesmas Perawatan Mekar Sari dari 4
kasus (7,19%) pada tahun 2016 menjadi 20 kasus (36,76%) pada tahun 2017.

6
Berdasarkan data Direktorat Kesehatan Ibu tahun 2010-2013 , penyebab
kematian antara lain perdarahan, hipertensi, infeksi, partus lama, abortus, dan
lain-lain. Penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan sedangkan
penyebab kematian ibu terendah adalah partus lama. Sementara itu, penyebab
lain-lain yang berperan cukup besar dalam menyebabkan kematian ibu antara
lain penyebab kematian ibu secara tidak langsung seperti kondisi penyakit
kanker, ginjal, jantung, tuberkulosis atau penyakit lain yang diderita ibu
(Kemenkes RI, 2014).
Berdasarkan laporan rutin PWS tahun 2007 penyebab langsung kematian
ibu yang tertinggi adalah perdarahan yaitu sebesar 39% kemudian eklamsia
20%, infeksi 7% dan lain lain 33% selain itu kematian ibu juga disebabkan oleh
penyebab tidak langsung yaitu 3 terlambat, terlambat dalam mengambil
keputusan, terlambat tiba ke tempat rujukan dan terlambat mendapatkan
pelayanan di fasilitas kesehatan, kemudian disebabkan pula oleh empat terlalu
yaitu terlalu muda melahirkan, terlalu banyak anak, terlalu dekat jarak
kelahiran, yang melatarbelakangi hal ini karena rendahnya tingkat sosial
ekonomi, tingkat pendidikan, kedudukan dan peran perempuan , faktor sosial
budaya, serta transportasi (Depkes 2001). Angka kematian Ibu (AKI) atau
Martenity Mortality Rate (MMR) sangat erat hubunganya dengan tingkat
kesadaran perilaku sehat, status gizi, kesehatan ibu, akses ke sarana persalinan
, pembiayaan persalinan serta mutu pelayanan kesehatan ibu terutama saat ib
hamil, bersalin dan masa nifas.

Jumlah sasaran ibu hamil resiko tinggi kota Balikpapan tahun 2017 adalah
2.762 jiwa, deteksi resiko tinggi pada ibu hamil perlu dilaksanakan untuk
mencegah terjadinya komplikasi maternal pada saat hamil, persalinan maupun
nifas. Ada penurunan cakupan Deteksi Resti oleh masyarakat, menggambarkan
peran serta atau kepedulian masyarakat yang baik setelah mendapatkan
penyuluhan informasi tentang tanda-tanda bahaya pada persalinan. Dapat
dijelaskan juga bahwa peran kader – kader kesehatan yang telah diberikan
pengetahuan secara sederhana terhadap pemahaman tentang kriteria resiko
tinggi ternyata berkontribusi positif.

7
Kurangnya deteksi dini mengenali tanda-tada bahaya kehamilan dan
faktor-faktor risiko pada kehmilan dapat mengakibatkan kurangnya antisipasi
yang cepat pada saat kehamilan sampai proses persalinan sehingga beresiko
besar terjadinya kematian ibu.Yang dimaksud tanda-tanda bahaya pada
kehamilan adalah perdarahan pervaginam, nyeri adomen yang hebat,
berkurangnya gerakan janin, bengkak/ oedema, penglihatan kabur, sakit kepala
hebat, demam,muntah-muntah hebat,keluar cairan pervaginam secara tiba-tiba,
sedangkan faktor-faktor risiko pada ibu hamil adalah umur ibu kurang dari 20
tahun, umur ibu lebih dari 35 tahun, jumlah anak 4 atau lebih, jarak kehamilan
kurang dari 2 tahun, lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm, riwayat
kehamilan sebelumnya buruk.
Upaya penurunan AKI telah dilakukan sejak tahun 1980 melalui program
safe motherhood initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari
berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri, pada akhir 1990 dalam
menurunkan AKI mealui MPS (Making Pregnancy Saver) yang direncanakan
oleh pemerintah pada tahun 2000, strategi tersebut diatas seiring dengan grand
strategi DEPKES tahun 2004. Pemantapan strategi terfokus dalam penyediaan
dan pemantapan pelayannan kesehatan dengan 3 (tiga) pesan kunci MPS, yaitu
: (1) Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehtan terlatih , (2) Setiap
kompliksi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (3) Setiap
wanita usia subur mempunyai akses terhadap upaya pencegahan kehamilan
yang tidak diinginkan dan penanganan kmplikasi keguguran. Sedangkan untuk
upaya percepatan penurunan AKI ini dilaksanakan melalui empat strategi MPS
, yaitu : (1) Penigkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi
dan balita ditingkat dasar dan rujukan, (2) Membangun kemitraan yang efektif,
(3) Mendorong pemberdayaan perempuan keluarga dan masyarkat, (4)
Peningkatan sistem surveilans, pelayanan, daan monitoring (Depkes RI,2000).
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, diantaranya dapat dilihat dari indikator
Angka Kematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa
kehamilan, persalinan dan nifas atau pengelolaannya. Terdapat 2 penyebab
kematian ibu yaitu langsung yang disebabkan oleh kehamilan dan

8
persalinannya dan tidak langsung yaitu kematian ibu yang terjadi pada
kehamilan disebabkan oleh suatu penyakit (Prawirohardjo, 2008).
Upaya untuk menurunkan AKI salah satunya adalah dengan pemeriksaan
antenatal yang teratur. Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamila
yang dilakukan untuk memeeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang
diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan
sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin bisa terpantau (Prawirohardjo,
2008).
Pelayanan atau asuhan merupakan cara untuk memonitor dan mendukung
kesehatan ibu hamil dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Pelayanan
antenatal juga merupakan suatu kesempatan untuk menginormasikan kepada
para wanita mengenai tanda-tanda bahaya dan gejala yang memerlukan
bantuan segera dari petugas kesehatan. (Pusdiknakes, 2008).
Adanya peningkatan Angka Kematian Ibu di Puskesmas Perawatan Mekar
Sari pada tahun 2017 dan belum diketahuinya tingkat pengetahuan ibu hamil
mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Perawatan Mekarsari
serta faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu hamil menjadi latar
belakang utama penulis melakukan penelitian ini.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka


rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan ibu hamil
tentang tanda bahaya kehamilan di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Mekar
Sari dan faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pengetahuan ibu
hamil tentang tanda-tanda bahaya kehamilan di wilayah kerja Puskesmas
Perawatan Mekarsari.

9
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil


mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Perawatan
Mekarsari dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu
hamil.
1.3.2 Tujuan Khusus

1. Gambaran usia ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan di


Puskesmas Mekar Sari
2. Gambaran tingkat pendidikan mengenai tanda bahaya kehamilan di
Puskesmas Mekar Sari
3. Gambaran pekerjaan mengenai tanda bahaya kehamilan di Puskesmas
Mekar Sari
4. Gambaran jumlah kehamilan mengenai tanda bahaya kehamilan di
Puskesmas Mekar Sari
5. Gambaran usia kehamilan mengenai tanda bahaya kehamilan di
Puskesmas Mekar Sari

1.4 Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh Puskesmas Mekar Sari sebagai
informasi tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai
tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Mekar Sari untuk menentukan
kebijakan-kebijakan yang akan dibuat.
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data sekunder untuk
pengembangan penelitian selajutnya.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pedengaran, penciuman,
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo,2003).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting akan


terbentuknya tindakan seseorang. Karena itu berdasarkan pengalaman dan
penelitian ternyata perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng
daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003)

Pengetahuan merupakan hasil dari mengingat suatu hal, termasuk


mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak
sengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap
suatu obyek tertentu (Mubarok , et al. 2007)

2.1.2 Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif


mempunyai 6 tingkatan yaitu :

1. Tahu
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Yang termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

11
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan , menguraikan , mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham tehadap objek atau materi
materi harus dapat menjelaskan dan menyebutkan.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi
ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adlah suatu kemampuan untuk menjaarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur
oranisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap satu materi objek. Penilaian-penilaian itu berdasakan
suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-krteria
yang telah ada.
Pengukuran-pengukuran ini dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek peelitian atau
responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur

12
dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tesebut diatas (Notoatmodj,
2003)

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Individu

1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Penndidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan
seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
(Notoatmojo,1993). Semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat, salah satunya pengetahuan tentang
kesehatan.
Pengetahuan sagat erat kaitannya dengan pendidikan, dihaarapkan
seseorang dengan pendidikan tinggi , maka orang tersebut akan semakin
luas pula pengetahuannya. Namun, perlu ditekankan bahwa seseorang yang
berpendidikan rendah tidak berarti mutlak pengetahuan rendah pula.
Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal ,
akan tetapi juga adapat diperoleh dari pendidikan non formal. Pengetahuan
seseorang tentang suatu obyek juga mengandung 2 aspek yaitu aspek
possitif dan negatif. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang
diketahui , akan menumbuhkan sikap makin positif terhadp obyek tersebut.
Pendidikan yang diteliti pada penelitian ini adalah adalah pendidikan yang
bersifat formal.

Peningkatkan sumber daya manusia tidak terlepas dari standar


minimal pendidikan. Di Kota Balikpapan pada tahun 2017 prosentase
terbesar dari penduduk yang tamat pendidikan adalah pendidikan SLTA
sebesar 32,41%, sedangkan yang terendah adalah pendidikan S3 sebesar
0,006%. Data tingkat pendidikan Kota Balikpapan tahun 2017 adalah
sebagai berikut :

13
Gambar 2.1. Jumlah penduduk menurut pendidikan tahun 2017

2. Pekerjaan dan Ekonomi


Pekerjaan adalah sesuatu yang dikerjakan untuk mendapatkan
nafkah atau pencaharian. Masyarakat yang sibuk dengan kegiatan atau
pekerjaan sehari-hari akan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk
memperoleh informasi (Depkes RI,1996).
Sedangkan status ekonomi akan menentukan tersedianya suatu
fasilitas untuk menunjang kegiatan tertentu, salah satunya untuk menunjang
kesehatan. Adanya jaminan atau dukungan kesehatan akan mempermudah
seseorang menggunakan fasilitas kesehatan .
Menurut penellitian Departeemen Kesehatan RI pada tahun 1999,
pada status ekonomi masyarakat yang masih rendah , secara tidak langsung
keadaan ini dapat menimbulkan faktor risiko ancaman kesehatan. Tingkat
ekonomi dapat digolongkan menjadi rendah dan tinggi. Status ekonomi
tersebut didapatkan dengan menggunakan standar upah minimum regional
(UMR) di wilayah yang dilakukan penelitian. Berdasara SK Gubernur
Klimantan Timur Nomor 561/k.872/2017 tentang Upah Minimum Kota
Balikpapan tahun 2018, UMR kota Balikpapan Rp. 2.618.348,00.

14
3. Sumber informasi atau Media massa
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)
sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan . Adanya
informasi baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.
Menurut Bambang, et al (2001) sumber informasi dapat
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang . Faktor informasi yang
diterima secara berulag – ulang serta motivasi yang dimiliki untuk
memperoleh informasi tersebut akan meningkatkan pengetahuan seseorang
akan suatu hal.
Salah satu informasi kesehatan lainnya adalah melalui petugas
kesehatan yang memberikan pendidikan kesehatan atau penyuluhan
kesehatan baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Menurut Supardi (1998), penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan
pengetahuan seseorang dibandingkan dengan yang tidak diberi penyuluhan.
Penyuluhan dapat dilakukan oleh dokter, perawat bidan, atau petugas
kesehatan masyarakat lainnya.
Salah satu tempat untuk pendidikan kesehatan adalah ruang rawat
inap atau ruang pemeriksaan pada suatu fasilitas pelayanan kesehatan.
Mencakup di dalamnya peningkatan terhadap pegetahuan pasien tentang
masalah yang dihadapi sehingga diharapkan adanya perubahan pengetahuan
yang lebih baik saat pasien akan dipulangkan. Peningkatan pengetahuan
pasien ketika akan dipulangkan terdapat pada discharge planning yang
dimulai sejak pasien berkunjung ke fasilitas kesehatan sampai pasien
dipulangkan. Petugas kesehatan yang berperan aktif dalam pendidikan
kesehatan di fasilitas ksehatan aalah bidan, perawat dan dokter. Discharge
planning didefinisikan sebagai proses mepersiapkan pasien untuk
meninggalkan satu unit pelayanan kepada unit lain di dalam atau di luar
suatu agen pelayanan kesehatan umum. Adapun tujuan dari discharge
planning itu sendiri untuk meningkatkan kemajuan pasien , mencapai

15
kualitas hidup optimum, menurunkan komplikasi penyakit , mencegah
kekambuhan , dan menurunkan angka mortalitas serta morbiditas.
Media massa juga berperan dalam peningkatan pengetahuan ,
adanya media elektronik maupun cetak yang beredar di lingkungan atau
sekitar kehidupan seseorang akan mempermudah akses individu menerima
pengetahuan. Bermacam-macam media, baik cetak maupun eektronik
dengan berbagai macam informasi yang diberikan akan memberi banyak
informasi dibandingkan dengan orang yang tidak terpapar informasi.
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang, bila seseorang banyak memperoleh informasi maka
ia cenerung mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Notoatmojo,2010).
4. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi di
masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan
memberikan pengetahuan dan keetrampilan profesional serta pengalaman
belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil
keputusan yang merupakan masnifestasi dari keterpaduam menalar secara
ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.
(Pro Health, 2009).
Pengetahuan dibentuk dalam proses asimilasi dan akomodasi
terhadap skema pengetahuan seseorang . Supaya proses pembentukan
pengetahuan itu berkembang, pengalaman sangat menentukan. Semakin
orang mempunyai banyak pengalaman mengenai persoalan , lingkungan ,
atau objek yang dihadapi maka seseorang akan semakin mengembangkan
pemikiran dan pengetahuannya. Tanpa pengalaman, pemikiran seseorang
sulit untuk berkembang dan tanpa pengalaman, pengetauan seseorang sulit
maju.
Ibu yang hamil lebih dari satu kali (multigravida) memiliki
pengalaman lebih dalam deteksi dini tanda bahaya kehamilan dibandingkan

16
dengan ibu yang baru pertama kali hamil(primigravida), dengan hal ini
graviditas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan
ibu dalam deteksi dini tanda bahaya kehamilan (Nursalam dan Pariani,
2001).
5. Umur
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan.
Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berfikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat
yang lebih dewasa akan lebih percaya daripada orang belum cukup tinggi
kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa (Nursalam,
2003).
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin
bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola
pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik (Pro
Health, 2009). Pada usia dewasa muda hingga tua, individu akan lebih
berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial sehingga orang pada
usia ini akan lebih menggunakan banyak waktu untuk belajar, berlatih , dan
membaca. Kemampuan intelektual , pemecahan masalah, dan kemampuan
verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Diperkirakan
bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambanya usia, khususnya pada
beberapa kemampuan yang lain seperti misalnya kosakata dan pengetahuan
umum.

2.2 KEHAMILAN

2.2.1 Perubahan Fisiologi Kehamilan


Kehamilan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan baik
anatomis maupun fisiologis pada ibu. Perubahan-perubahan ini
mengakibatkan perubahan dalam nilai-nilai norma berbagai hasil
pemeriksaan laboratorium. Perubahan ini terjadi karena perubahan fungsi
endokrin maternal, tumbuhnya plasenta yang juga berfungsi sebagai alat

17
endokrin, dan kebutuhan metabolisme yang meningkat akibat pertumbuhan
janin.
Tanda kehamilan tidak pasti antara lain :
a. Amenorrhea
Bila seorang wanita dalam masa mampu hamil, apalagi sudah kawin
mengeluh terlambat haid, maka pikirkan bahwa ia hamil meskipun
keadaan-keadaan seperti ketidakseimbangan ovarium-hipofisis,
infeksi lokal, stress, obat-obatan, penyakit kronis dapat pula
mengakibatkan terlambat haid
b. Mual dan muntah
Mual dan muntah merupakan gejala umum, mulai dari rasa tidak
enak sampai muntah yang berkepanjangan. Penyebab gejala ini
belum jelas, tetapi kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya
estrogen yang mempengaruhi metabolisme hepar, serta menurunnya
motilitas lambung. Mual dan muntah diperberat oleh makanan yang
baunya menusuk dan juga oleh emosi penderita yang tidak stabil.
Untuk mengatasinya penderita perlu diberi makanan-makanan
ringan yang mudah dicerna dan janan lupa penerangan bahwa
keadaan ini masihh dalam batas normal pada orang hamil. Bila
berlebihan dapat pula diberikan obat antimuntah.
c. Mastodinia
Mastodinia adalah rasa kencang dan sakit pada payudara yang
disebabkan oleh pembesaran payudara. Vaskularisasi bertambah,
asinus dan duktus berproliferasi karena pengaruh progesteron dan
estrogen
d. Quickening
Quickening adalah persepsi gerakan janin pertama yang diteruskan
melalui peritoneum parietal yang memiliki inervasi somatik.
Biasanya disadari oleh wanita pada kehamila 18-20 minggu dan
lebih dini dirasakan oleh multigravida.
e. Keluhan kencing

18
Frekuensi kencing bertambah dan sering kencing malam disebabkan
oleh desakan uterus yang membesar dan tarikan oleh uterus ke
kranial
f. Konstipasi
Ini terjadi karena efek relaksasi progesteron pada tonus otot usus
atau dapat juga karena perubahan pola makan
g. Perubahan berat badan
Pada kehamilan 2-3 bulan sering terjadi penurunan berat badan
karena nafsu makan menurun dan muntah-muntah. Pada bulan
selanjutnya berat badan akan selalu meningkat sampai stabil
menjelang aterm
h. Perubahan temperatur basal
Kenaikan temperatur basal lebih dari 3 minggu biasanya merupakan
tanda telah terjadi kehamilan
i. Perubahan warna kulit
Perubahan ini antara lain kloasma yakni warna kulit yang kehitam-
hitaman pada dahi , hidung, dan kulit daerah tulang pipi . Pada areola
dan puting payudara, warna kulit menjadi lebih hitam.
j. Perubahan payudara
Pada usia keamilan 6-8 minggu tuberkel montgomery mulai
menonjol akibat stimulasi prolaktin dan HPL. Kemudian payudara
mensekresi kolustrum biasanya setelah kehamilan lebih dari 16
minggu
k. Perubahan pada pelvis
Dinding vagina mengalami kongesti, warna kebiru-biruan
(Chadwick’s sign).Cairan vagina keputihan encer, berisikan sel-sel
eksfoliasi vagina, yang terjadi kaena pengaruh estrogen dan
progesteron. Serviks warna kebiru-biruan (livid).
Hegar’s sign merupakan tanda pelunakan pada daerah ishmus uteri
sehingga daerah tersebut pada pemeriksaan bimanual mempunyai

19
kesan lebih tipis dan uterus mudah difleksikan (tanda ini mulai
terlihat pada minggu ke-6 )
l. Pembesaran perut
Pembesaran perut terasa nyata setelah minggu ke 16 karena pada
saat ini uterus telah keluar dari rongga pelvis dan menjadi organ
rongga perut.
m. Kontraksi uterus
Tanda ini muncul belakangan dan pasien mengeluh perutnya
kencang tapi tidak disertai rasa sakit
n. Balotemen
Tanda ini muncul pada minggu 16-20, setelah rongga rahim
mengalami obliterasi dan cairan amnion cukup banyak.

Tanda Kehamilan pasti antara lain :

a. Denyut jantung janin (DJJ)


DJJ dapat didengarkan dengan stetoskop Lanec pada mnggu 17-18.
Dengan stetoskop ultrasonik (Doppler) , DJJ dapat didengarkan
lebih awal, sekitar minggu ke 12.
b. Palpasi
Yang harus ditentukan adalah outline janin. Biasanya menjadi lebih
jelas setelah minggu ke 22. Gerakan janin dapat dirasakan dengan
jelas setelah minggu ke 24.
c. USG
Alat ini menjadi sangat penting untuk diagnosis kehamilan dan
kelainan-kelainan, karena gelombang suara sampai saat ini
dinyatakan tidak berbahaya. Pada minggu ke-6, sudah terlihat
adanya gestational sac atau kantong kehamilan. Pada minggu ke 7-8
sudah dapat mendeteksi denyut jantung, pada minggu ke 8-9 dapat
melihat gerakan janin.

20
d. Fetal ECG
Dapat direkam pada minggu ke 12 dengan menggunakan alat
fetalcardiography
e. Tes Laboratorium
Banyak tes yang dapat dipakai, tetapi yang paling populer adalah tes
inhibisi koagulasi. Tes ini bertujuan mendeteksi adanya HCG dalam
urin. Kepekaan tes ini sangat bervariasi antara 500-1000 mU/ml
urin. Dasar tes ini adalah inhibisi (hambatan ) koagulasi oleh anti
HCG
2.2.2 Kunjungan ibu hamil

Berdasarkan profil kesehatan Balikpapan 2017, didapatkan peningkatan


kunjungan K1 ibu hamil ke puskesmas yakni 13.679 ibu hamil pada tahun 2016
(98,30%) menjadi 13.734 ibu hamil pada tahun 2017 (99,44%), sedangkan untuk
kunjungan K4 terdapat peningkatan prosentase capaian jumlah dari 13.573
(95,99%) kunjungan ibu hamil pada tahun 2016 menjadi 13.333 kunjungan ibu
hamil pada tahun 2017 (96,53%) . (Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, 2016;
Dinas Kesehatan kota Balikpapan, 2017)

Jumlah kunjungan ibu hamil di Puskesmas Perawatan Mekarsari mengalami


penurunan dari 278 pada tahun 2016 menjadi 272 pada tahun 2017. Kunjungan
K1 ibu hamil ke Puskesmas Perawatan Mekarsari pada tahun 2016 adalah 269
(96,76%) dan pada tahun 2017 menjadi 268 (98,53%). Kunjungan K4 ibu hamil
di Puskesmas Perawatan Mekarsari pada tahun 2016 adalah 268 (96,4%) dan
pada tahun 2017 menjadi 266 (97,79%). (Dinas Kesehatan Kota Balikpapan,
2016; Dinas Kesehatan kota Balikpapan, 2017)

2.2.3 Deteksi Risiko tinggi


Jumlah sasaran ibu hamil resiko tinggi kota Balikpapan tahun 2017 adalah
2762 jiwa, deteksi resiko tinggi pada ibu hamil perlu dilaksanakan untuk
mencegah terjadinya komplikasi maternal pada saat hamil, persalinan, maupun
nifas. Adanya penurunan cakupan deteksi Resti oleh masyarakat,
menggambarkan peran serta atau kepedulian masyarakat yang baik setelah

21
mendapatkan penyuluhan informasi tentang tanda-tanda bahaya pada persalinan.
Dapat dijelaskan juga bahwa peran kader-kader kesehatan yang telah diberikan
pengetahuan secara sederhana terhadap pemahaman tentang kriteria resiko
tinggi ternyata berkontribusi positif.
2.2.4 Angka Kematian Ibu
Angka kematian ibu di kota Balikpapan tahun 2017 meningkat dengan
jumlah kasus 10 atau (78/100.000 KH) dibandingkan pada tahun 2016 sebanyak
9 kasus (72/100.000 KH). Angka kematian ibu di Puskesmas Perawatan
Mekarsari juga mengalami peningkatan dari 0 kasus pada tahun 2016 menjadi 2
kasus pada tahun 2017. Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan untuk
menurunkan AKI di kota Balikpapan tahun 2017 adalah dengan telah
diterbitkannya Perda KBLA nomor 9 tahun 2015, penguatan penggunaan buku
KIA, menjalankan kegiatan Audit Maternal Perinatal, meningkatkan koordinasi
program maternal provinsi Kalimantan timur, Pembentukan tim maternal
perinatal kota, penguatan SDM puskesmas PONED, meningkatkan program
kemitraan dengan organisasi profesi, Akademisi kebidanan, PKK, swasta dan
Lintas sektor terkait, membuka HOTLINE 08115306555 dan juga melakukan
akselerasi kegiatan promosi preventif kesehatan melalui program kunjungan
rumah ibu hamil, ibu nifas dan bantuan biaya Operasional Kesehatan (BOK) dari
Kemenkes RI.
Pencapaian penurunan AKI yang semakin baik ini tetap menjadi tolak ukur
untuk lebih mengoptimalkan kegiatan – kegiatan yang dapat lebih menjadi faktor
turunnya AKI di Kota Balikpapan, salah satunya adalah bahwa saat ini juga
SKPD Dinas Kesehatan Kota Balikpapan dalam proses bekerjasama dengan Tim
Konsultan dari UGM tentang Penyusunan Sistem Informasi Kegiatan Maternal
Perinatal agar diperoleh satu alur rujukan secara on line dalam rangka percepatan
penurunan AKI (on progress) di Kota Balikpapan dan tidak pernah berhentinya
tim Pembina dalam melakukan monitoring dan evaluasi hasil kegiatan maternal
perinatal di Kota Balikpapan (Dinkes Provinsi Kalimantan Timur dan Tim
Pembina dari Adeleide University Australia).

22
2.2.5 Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan
Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan
adanya bahya yang dapat terjadi selama kehamilan atau periode antenatal, yang
apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu.
Tanda bahaya kehamilan perlu diketahui oleh ibu hamil karena apabila tidak
diketahui secara dini dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin yang
dikandungnya. Untuk menurunkan angka kematian ibu secara bermakna,
kegiatan deteksi dini ini perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan KIA
maupun masyarakat (Salmah, 2006). Macam-macam tanda bahaya kehamilan
antara lain :
1. Perdarahan pervaginam
Perdarahan pervaginam pada kehamilan trimester 1 merupakan hal
yang fisiologis yaitu tanda Hartman pada awal kehamilan, ibu mungkin
akan mengalami bercak pendarahan, yang sedikit atau spotting, perdarahan
ini akibat implantasi dari proses nidasi blastosis ke endometrium yag
menyebabkan perlukaan . Pada waktu yang lain dalam kehamilan,
perdarahan ringan mungkin pertanda dari servik yang rapuh atau erosi.
Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin suatu tanda adanya
infeksi. Pada awal kehamilan trimester I, perdarahan yang tidak normal
adalah perdarahan yang berwarna merah, perdarahan yang banyak, atau
perdarahan dengan nyeri. Perdarahan ini dapat berarti abortus, kehamilan
mola, atau kehamilan ektopik. Pada kehamilan lanjut atau trimester II dan
III, perdarahan yang tidak normal adalah merah, jumlahnya banyak dan
kadang-kadang tidak disertai nyeri. Perdarahan semacam ini bisa berarti
plasenta previa dan solusio plasenta (Varney,2007)
2. Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam
kehamilan, skait kepala sering dirasakan diawal kehamilan dan umumnya
disebabkan oleh peregangan pembuluh darah di otak akibat hormon
kehamilan, khususnya hormon progesteron. Sakit kepala yang terjadi dalam
12 minggu terakhir sebelum kelahiran berpusat disekitar kening dan atas

23
mata. Keadaan ini bisa menjadi komplikasi serius karena dapat menjadi
preeklamsi (Varney, 2007). Sakit kepala yang menujukkan masalah yang
serius adalah sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan
beristirahat, sakit kepala dapat bertahan lebih dari 2-3 jam. Kadang-kadang
dengan sakit kepala yang hebat tersebut, penglihatan ibu menjadi kabur dan
berbayang. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan merupakan gejala dari
preeklampsi.
Gangguan lain yang sering terjadi adalah hipertensi. Penyebab utama
hipertensi pada kehamilan adalah hipertensi esensial dan penyakit ginjal.
Kehamilan dengan hipertensi esensial dapat berlagsung sampai aterm tanpa
gejala, menjadi preeklamsi tidak murni. Hanya sekitar 20% dapat menjadi
pre eklamsi murni yang disertai gejala proteinuria, edema, dan terdapat
keluhan sakit epigastrium, sakit kepala, pengliatan kabur, mual dan muntah.
Dengan adanya hipertensi dalam kehamilan maka sering ditandai dengan
adanya sakit kepala yang hebat (Varney, 2007).
3. Masalah penglihatan
Dikatakan masalah jika penglihatan tiba-tiba kabur dan berbayang,
gangguan peglihatan seperti peglihatan ganda , seperti melihat titik-titik atau
cahaya, hal ini merupakan gejala dari preeklamsi atau toksemia yang harus
segera dilaporkan pada petugas kesehatan. Jenis keluhan yang paling umum
adalah pandangan yang kabur disertai sakit kepala. Perubahan patologi pada
organ mata dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh
darah. Bila terdapat hal-hal tersebut, maka harus dicurigai sebagai
preeklamsi berat.
4. Bengkak pada muka dan tangan
Hampir separuh wanita hamil akan mengalami bengkak pada kaki dan
tungkai bawah, pada usia kehamilan 24 minggu ke atas, bengkak ini terjadi
karena penyumbatan yang disebabkan oleh tekanan yang menghalangi
sirkulasi jarigan. Bengkak biasanya hilang seelah beristirahat dan
meninggikan kaki. Keadaan ini dapat dikatakan normal, akan tetapi bengkak
dapat mennjukkan masalah serius jika muncul pada muka dan tangan, tidak

24
hilang setelah beristirahat, dan disertai dengan keluhan fisik lain dan
bertahan lebih dari 24 jam.Bila dibiarkan keadaan ini dapat membahayakan
ibu dan janin. Oedema yang terjadi merupakan aumulasi cairan yang
menyeluruh dan berlebihan dalam jaringan terutama pada tangan dan wajah
merupakan gejala dari preeklamsi.
5. Nyeri abdomen yang hebat
Nyeri abdomen yang terjadi pada kehamilan tua biasanya karena
adanya regangan otot ligamen yang mendukung rahim dan hal ini hampir
dialami semua ibu hamil. Nyeri abdomen yang tidak normal sama sekali
tidak berhubungan degan persalinan. Nyeri abdomen yang menunjukkan
masalah ditandai dengan nyeri peut yang hebat, terus menerus dan menetap.
Nyeri perut yang hebat dapat terjadi beupa kekejangan atau nyeri tajam dan
menusuk. Gejala ini merupakan gejala preeklamsi yang sewaktu waktu
dapat berubah menjadi eklamsi dan dapat membahayakan keselamatan ibu
dan bayinya.
Kondisi lain yang bisa menyebabkan nyeri abdomen adalah nyeri yang
disebabkan oleh kehamilan ektopik, appendisitis, aborsi, penyakit kantung
empedu, radang pelvic, persalinan preterm, iritasi uterus, abrupsi plasenta,
infeksi saluran kemih dan infeksi lainny.
6. Gerakan janin tidak seperti biasa
Ibu mulai merasakan gerakan janin pada minggu ke 18 sampai ke 20 pada
kehamilan pertama atau 2 mnggu lebih cepat pada kehmilan ke dua.
Beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Bayi harus
bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. Gerakan bayi akan lebih
mudah terasa jika ibu berbarig atau beristirahat dan jika ibu makan dan
minum yang baik. Jika ibu tidak merasakan gerakan janin selama 12 jam
atau sesudah kehamilan 22 minggu, kemungkinan dapat terjadi solusio
plasenta, ruptur uteri, gawat janin dan kematian janin. (Varney, 2007)
7. Demam

25
Adanya demam menunjukkan adanya infeksi, hal ini berbahaya bagi ibu
maupun janin, oleh karena itu harus segera mendapat pertolongan dari bidan
atau dokter.
8. Muntah-muntah yang hebat
Rasa mual dan muntah biasanya dialami oleh ibu hamil antara periode
pertama dan kedua terlambat haid. Kejadian mencapai 50-70%. Tetapi jika
keadaan tersebut berlebihan disebut hiperemesis. Hal ini akan menghambat
asupan gizi pada ibu hamil, berkurang sehingga kondisi ibu menjadi lemah,
dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembanganjanin, oleh karena itu
perlu segera ditangani.
9. Keluar cairan banyak pervaginam tiba-tiba
Cairan ini adalah cairan ketuban , ketuban seharusnya pecah menjelang
persalinan, tetapi jika ada ketuban keluar sebelum ibu mengalami tanda—
tanda persalinan maka janin dan ibu akan mudah terinfeksi. Hal ini akan
berbahaya baik bagi ibu maupun janin. (Depkes RI, 2007)
2.2.6 Faktor risiko Kehamilan
Ada beberapa faktor yang perlu diwaspadai , karena bila kehamilan
dengan kondisi tersebut bisa menimbulkan masalah. Kondisi yang perlu
diwaspadai adalah :
1. Umur ibu kurang dari 20 tahun
Ibu hamil pada usia ini kemungkinan akan mengalami persalinan
lama/macet, karena rahim dan panggul belum mencapai ukuran dewasa.
Kemudian secara mental ibu hamil dengan usia ini belum siap menerima
tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua sehingga dapat mengganggu
masa kehamilan dan persalinannya
2. Umur ibu lebih dari 35 tahun
Pada usia ini, keadaan kesehatan fisik ibu menurun, akibatnya akan
mempengaruhi kehamilan dan persalinan kemungkinannya akan lebih
besar.

26
3. Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun
Jika jarak kehamilan dengan kelahiran sebelumnya kurang dari 2 tahun,
kesehatan ibu belum pulih dengan baik, sehngga kehamilan dalam kondisi
ini mempunyai kemungkinan terjadi gangguan pertumbuhan janin,
persalinan yang lama, dan perdarahan.
4. Jumlah anak lebih dari 4
Keadaan rahim yang sering teregang karena kehamilan, dapat
mengakibatkan kelemahan pada otot-otot rahim, maka perlu diwasapadai
adanya gangguan pada sat kehamilan, persalinan dan nifas.
5. Tinggi badan kurang dari 145 cm
Kondisi ini perlu diwaspadai adanya kesempitan panggul yang
mengakibatkan sulit pada saat persalinan. Namun hal ini tidak selalu
demikian, maka sangat penting untuk bersalin dibantu oleh bidan atau
dokter.
6. Lingkar lengan atas kurang dari 23.5 cm
Keaadaan dimana ukuran lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm,hal ini
menunjukkan kemungkinan ibu menderita Kekurangan Energi Kronis
(KEK) dan dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan janin
7. Riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya yang buruk
Ibu hamil pada kehamilan dan persalinan sebelumnya buruk yang
dimaksud antara lain ibu hamil dengan riwayat perdarahan, kejang-kejang,
febris, persalinan lama (lebih dari 12 jam), melahirkan dengan cara operasi
dan bayi yang dilahirkan meninggal.

27
2.3 Kerangka Konsep

Variabel Bebas :

 Usia
 Pendidikan Variabel
 Pekerjaan tergantung :
 Jumlah
Kehamilan
Kuesioner  Pengetahuan
 Usia
Kehamilan

Gambar 2.2 Kerangka konsep penelitian

28
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif analitik dengan


pendekatan cross sectional untuk melihat gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil
tentang tanda-tanda bahaya kehamilan dan faktor-faktor yang berhubungan di
Puskesmas Perawatan Mekar Sari pada periode November 2018

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Perawatan Mekar Sari pada periode


November 2018.

3.3 Populasi dan besar sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Puskesmas Perawatan
Mekarsari, jumlah total kunjungan ibu hamil berdasarkan profil kesehatan
Balikpapan tahun 2017 di puskesmas perawatan Mekar Sari adalah 272. Populasi
terjangkau adalah ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilannya di
puskesmas Perawatan Mekar Sari pada periode November 2018.

Sampel adalah bagian populasi yang menjadi obyek penelitian yang akan
diambil dari ibu hamil yang berkunjung di Puskesmas Perawatan Mekar sari yang
bersedia ikut dalam penelitian. Sampel yang didapat adalah sampel yan sesuai
dengan kriteria inklusi dan eksklusi

Besar sampel adalah sebagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut, besar sampel diambil dari populasi yang sudah diketahui dengan
menggunakan rumus Lameshow, et al (1997), yaitu :

29
n= N Z21-α/2 p(1-p)

(N-1)d2 + Z21-α/2 p(1-p)

Keterangan :

n : Jumlah sampel yang diperlukan.

N : Jumlah populasi yang diketahui = 272

Z21-α/2: Tingkat kepercayaan 95% = 1,96

P : Proporsi ibu hamil yang mampu mengenali tanda-tanda kehamilan


berdasarkan penelitian sebelumnya (Agustini, 2012) = 0,063%

d : derajat akurasi (presisi ) yang diinginkan = 0,05

n= 272 x (1,96)2 x 0,063 (1-0,063)

(272-1) (0,05)2+ (1,96)2 x 0,063 (1-0,063)

n= 67,7 dibulatkan menjadi 68 sampel

Berdasarkan perhitungan rumus diatas, didapatkan besar sampel sebanyak 68


orang. Pengambilan sampel dilakukan di Puskesmas Perawatan Mekar Sari.Pada
consecutive sampling, semua subyek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan
dimasukkan dalam penelitian sampai subyek yang diperlukan terpenuhi .

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.4.1 Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Puskesmas
Mekarsari pada bulan November 2018 yang bersedia menjadi responden

3.4.2 Kriteria eksklusi

a. Ibu tidak dapat membaca

30
b. Ibu tidak mengisi kuesioner dengan lengkap

c. Ibu yang menolak mengisi kuesioner atau wawancara

3.5 Bahan dan Instrumen Penelitian

Sumber data adalah data primer yang diambil dengan menggunakan teknik
pengisian kuesioner terhadap ibu hamil di Puskesmas Mekarsari periode November
2018.

3.6 Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini digunakan variabel terikat (dependen) dan variabel bebas
(independen). Variabel terikat berupa tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda-
tanda bahaya kehamilan. Variabel bebas berupa usia ibu, tingkat pendidikan ibu,
pekerjaan, jumlah kehamilan, dan usia kehamilan.

3.7 Definisi Operasional

Definisi Alat Skala


Variabel Cara ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur Ukur

Variabel Dependen

Pegetahua Pemahaman Kuesioner Pengisian 1. Kurang : bila Ordinal


n tentang responden yang berisi Kuesioner responden
tanda mengenai tanda- 20 memperoleh skor
bahaya tanda bahaya pertanyaan ≤60% total skor (
kehamilan pada kehamilan. yang skor ≤ 12)
terbagi ke 2. Cukup : bila
Tanda-tanda dalam 11 responden
bahaya parameter memperoleh skor
kehamilan yaitu 60-80% total skor
adalah keluhan perdarahan (skor antara 12-16)
atau gejala yang pervaginam 3. Baik: bila
timbul dalam , sakit responden
kehamilan yang kepala yang memperoleh skor
dapat hebat, >80% total skor
mengancam kejang pada (skor ≥ 16)
keselamatan jiwa kehamilan,
ibu atau janin, gerakan
seperti : janin, nyeri
perut yang

31
1. Perdarah hebat,
an edema
pervagin muka
am tangan dan
2. Nyeri kaki,
abdomen demam
yang tinggi,
hebat mual dan
3. Berkuran muntah
gnya berlebih,
gerakan keluarnya
janin cairan yang
4. Bengkak banyak
/oedema secara tiba-
pada tiba
muka, pervaginam
tangan, , faktor
kaki risiko pada
5. Pengliha ibu hamil
tan beupa usia
kabur resiko
6. Sakit tinggi (
kepala kurang dari
hebat 20 tahun
7. Demam dan lebih
8. Muntah- dari 35
muntah tahun),
hebat serta
9. Keluar sumber
cairan informasi
yang ibu hamil.
banyak
secara
tiba-tiba
pervagin
am
Faktor risiko
yang dapat
menyebabkan
timbulnya tanda
bahaya
kehamilan antara
lain :
1. Umur
ibu
hamil <
20 tahun
2. Umur
ibu

32
hamil
>35
tahun
3. Jumlah
anak 4
orang
atau
lebih
4. Jarak
dengan
anak
sebelum
nya <2
tahun
5. Tinggi
badan
<145 cm
6. Lingkar
lengan
atas
<23,5
cm
7. Riwaya t
kehamila
n dan
persalina
n dengan
riwayat
salah
satu
berikut :
perdarah
an,
kejang,
demam
tinggi,
persalina
n lama
(>12
jam),
melahirk
an
dengan
cara
operasi ,
atau bayi
yang
dilahirka
n

33
meningg
al.
Responden
diharapkan dapat
menjawab 20
pertanyaan
mengenai tanda
bahaya
kehamilan.
Masing-masig
poin memiliki
skor 1, sehingga
skor yang
diharapkan dari
responden adalah
20. Skor yang
didapat
responden sesuai
dengan
banyaknya poin
yang bisa
dijawab

Variabel independen
Umur Usia responden Kuesioner Kuesioner 1. Usia < 20 tahun Nominal
yang terhitung 2. Usia 20-35 tahun
sejak dilahirkan 3. Usia > 35 tahun
sampai dengan
saat mengisi
kuesioner
penelitian ,
dalam satuan
tahun.
Umur responden
dikelompokkan
berdasarkan ada
tidaknya faktor
risiko yang dapat
menyebabkan
timbulnya tanda
bahaya dalam
kehamilan.
Jumlah Jumlah Kuesioner Kuesioner 1. Primigravida Ordinal
Kehamilan Kehamilan yang 2. Sekundigravida
pernah dialami 3. Multigravida
oleh responden,

34
dikelompokkan
menjadi :
1. Primigra
vida :
hamil
baru 1
kali
2. Sekundi
gravida:
Hamil 2
kali
3. Multigra
vida :
hamil
lebih
dari 2
kali
Usia Usia kehamilan kuesioner Kuesioner 1. Trimester I Ordinal
Kehamilan dikelompokkan 2. Trimester II
menjadi 3: 3. Trimester III
1. Trimeste
r1:
Untuk
usia
kehamila
n 1-13
minggu
2. Trimeste
r2:
untuk
usia
kehamila
n 13-27
minggu
3. Trimeste
r3:
untuk
usia
kehamila
n 27-40
minggu
Pendidikan Jenjang kuesioner Kuesioner 1. SD Ordinal
pendidikan 2. SMP
formal yang 3. SMA
telah 4. Diploma/S1
diselesaikan 5. S2
responden pada

35
saat penelitian
ini.
1. SD
2. SMP
3. SMA
Diploma
/S1
4. S2
Pekerjaan Kegiatan yang Kuesioner Kuesioner 1. Bekerja Nominal
dilakukan oleh 2. Tidak berkerja/ Ibu
responden untuk rumah tangga
memperoleh
penghasilan guna
memenuhi
kebutuhan
hidupnya dan
keluarganya
sehari-hari.
Pengkategorian
dalam pekerjaan
ini berdasarkan
peraturan
Departemen
Tenaga Kerja
mengenai jenis
pekerjaan yaitu :
Formal ( yang
bekerja dengan
waktu tertentu
dna peghasilan
tertentu ) dan
non formal (
yang bekerja
dengan
penghasilan
tidak tentu dan
tidak mempunyai
aturan-aturan
tertentu )
(Solihah, 2008)

36
3.8 Alur Kegiatan

a. Peneliti mengumpulkan bahan ilmiah dan merencanakan desain penelitian

b. Peneliti menentukan jumlah sampel minimal

c. Peneliti menyusun kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data

d. Peneliti melakukan uji coba dan koreksi kuesioner

e. Peneliti melapor, meminta izin dan persetujuan dari Puskesmas Mekarsari untuk
melakuka penelitian pada lingkungan wilayah kerja Puskesmas Mekarsari periode
November 2018

f. Peneliti melakukan pengumpulan data primer dengan meminta responden yang


memenuhi kriteria untuk mengisi kuesioner

g. Peneliti melakukan pengolahan data berupa editing, verifikasi , dan koding


terhadap data primer milik responden yang sudah dikumpulkan. Selanjutnya
dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program SPSS ( Statistical Package
for Social Science) versi 23.0

h. Data yang didapat disajikan dengan tekstular dan tabular

i. Peneliti melakukan pengolahan, analisis data dan interpretasi data

j. Pelaporan hasil penelitian dalam ruang besar Aula Puskesmas Mekarsari

37
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan

Distribusi pengetahuan responden dalam mengenali tanda bahaya kehamilan


dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1.1

Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di


Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Pengetahuan Jumlah Presentase


Kurang 9 13,2
Cukup 25 36,8
Baik 34 50
Total 68 100

Distribusi pengetahuan rsponden dalam mengenali tanda bahaya kehamilan yaitu


responden berpengetahuan kurang sebesar 13,2%, berpengetahuan cukup sebesar
36,8%, dan sisanya berpengetahuan baik yaitu 50%. Sebagian besar responden
berpengetahuan baik.

4.2 Faktor karakteristik individu dalam mengenali tanda bahaya kehamilan


Beberapa faktor yang diteliti terhadap karakteristik ibu hamil antara lain :
Umur, Jumlah kehamilan,Usia Kehamilan, Pekerjaan, dan Pendidikan ibu.

38
4.2.1 Umur
Distribusi responden menurut variabel umur dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1.2
Distribusi Responden Menurut Umur Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di
Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Usia Jumlah Presentase


<20 tahun 1 1,5
20-35 tahun 56 82,3
>35 tahun 11 16,2
Total 68 100
Distribusi responden menurut umur yaitu responden dengan usia < 20 tahun sebesar
1,5%, usia 20-35 tahun sebesar 82,3%, dan usia >35 tahun sebesar 16,2%.Sebagian
besar responden berada pada range usia 20-35 tahun.

4.2.2 Jumlah kehamilan


Distribusi responden menurut variabel jumlah kehamilan dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.1.3
Distribusi Responden Menurut Jumlah Kehamilan Tentang Tanda Bahaya
Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Jumlah Kehamilan Jumlah Presentase


Primigravida 26 38,3
Sekundigravida 19 27,9

Multigravida 23 33,8
Total 68 100

Distribusi responden menurut jumlah kehamilan yaitu responden dengan


primigravida sebesar 38,3%, sekundigravida 27,9% dan multigravida sebesar
33,8%. Sebagian besar responden merupakan primigravida.

39
4.2.3 Usia Kehamilan
Distribusi responden menurut Usia kehamilan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1.4
Distribusi Responden Menurut Usia Kehamilan Tentang Tanda Bahaya
Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Usia Kehamilan Jumlah Presentase


Trimester I 20 29,4
Trimester II 23 33,8
Trimester III 25 36,8
Total 68 100
Distribusi responden menurut usia kehamilan yaitu responden dengan usia
kehamilan trimester I 29,4%, trimester II 33,8% dan responden dengan usia
kehamilan trimester III berjumlah 36,8%.

4.2.4 Pendidikan Ibu


Distribusi responden menurut Pendidikan ibu dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1.5
Distribusi Responden Menurut Pendidikan Ibu tentang Tanda Bahaya Kehamilan
di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Tingkat pendidikan Jumlah Persentase


SD 5 7,4
SMP 11 16,2
SMA 33 48,5
Diploma/S1 18 26,5
S2 1 1,5
Total 68 100
Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan dari yang terbanyak antara
lain SMA (48,5%), Diploma/S1 (26,5 %), SMP (16,2%), SD (7,4%), dan S2(
1,5%). Responden terbanyak pada penelitian ini memiliki tingkat pendidikan
terakhir SMA.

40
4.2.5 Pekerjaan Ibu
Distribusi responden menurut Pekerjaan ibu dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1.6
Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Ibu tentang Tanda Bahaya Kehamilan di
Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Pekerjaa Ibu Jumlah Persentase


Tidak Bekerja (IRT) 48 70,6
Bekerja 20 29,4
Total 68 100
Distribusi responden berdasarkan pekerjaan, ibu yang tidak bekerja atau sebagai
ibu rumah tangga sebesar 70,6 % dan yang bekerja sebesar 29,4%. Responden
terbanyak merupakan ibu hamil yang tidak bekerja.

4.3 Analisa Bivariat

Hasil analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel


dependen dan variabel independen.

4.3.1 Distribusi responden menurut Usia dan Tingkat Pengetahuan

Tabel 4.1.7
Hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan ibu tentang Tanda Bahaya
Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun 2018

Usia Tingkat Pengetahuan Total p-value


Kurang Cukup Baik
n % N % N %
<20 tahun 0 0 1 1,5 0 0 1 0,471
20-35 tahun 7 10,3 19 27,9 30 44,1 56
>35 tahun 2 2,9 5 7,4 4 5,9 11

Total 9 13,2 25 36,8 34 50 68

41
Hasil analisis hubungan umur dengan tingkat pengetahuan menunjukkan
bahwa proporsi ibu yang berpengetahuan baik,cukup dan kurang paling banyak
pada range usia 20-35 tahun sebanyak 30 orang (44,1%), 19 orang (27,9 %) dan 7
orang (10,3 %). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square diperoleh
nilai p= 0,471 (p>0,05), maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang
bermakna antara umur dengan tingkat pengetahuan. Hal ini dapat disebabkan oleh
kurangnya sampel penelitian. Hasil ini mendukung hasil penelitian sebelumnya
oleh Eittah (2017) , Mahalingam et al (2014), dan Agustini (2012) dimana pada
penelitian tersebut didapatkan bahwa usia ibu hamil tidak berpengaruh terhadap
pengetahuan ibu hamil tentang tanda-tanda bahaya kehamilan.

Diagram 4.1 Distribusi responden berdasarkan range usia dan tingkat pengetahuan

4.3.2 Distribusi responden menurut Jumlah Kehamilan dan Tingkat


Pengetahuan

Hasil analisis distribusi responden menurut Jumlah Kehamilan dan tingkat


pengetahuan dapat dilihat dari tabel sebagai berikut

42
Tabel 4.1.8
Hubungan antara jumlah kehamilan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang
Tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari
Tahun 2018

Jumlah Tingkat Pengetahuan Total p-value


Kehamilan Kurang Cukup Baik
N % N % N %
Primigavida 1 1,5 11 16,2 14 20,6 26 0,437
Sekundigravida 3 4,4 9 13,2 7 10,3 19
Multigravida 5 7,4 5 7,4 13 19,1 23
Total 9 13,2 25 36,8 34 50 68

Hasil analisis hubungan jumlah kehamilan dengan tingkat pengetahuan


menunjukkan bahwa proporsi ibu yang berpengetahuan baik paling banyak pada
ibu primigravida (20,6%) , ibu yang berpengetahuan cukup paling banyak pada ibu
primigravida (16,2%) dan ibu dengan pengetahuan kurang paling banyak pada ibu
multigravida (7,4%). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square
diperoleh nilai p= 0,437 (p>0,05) , maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan
yang bermakna antara umur dengan tingkat pengetahuan. Hal ini dapat disebabkan
kurangnya jumlah sampel dalam penelitian ini. Jumlah kehamilan sebelumnya
dapat dianggap sebagai pengalaman ibu hamil sebelumnya. Pada penelitian ini
didapatkan bahwa ibu primigravida memiliki pengetahuan lebih baik, hal ini tidak
sesuai dengan pernyataan Nursalam dan Pariani (2001) bahwa Ibu yang hamil lebih
dari satu kali (multigravida) memiliki pengalaman lebih dalam deteksi dini tanda
bahaya kehamilan dibandingkan dengan ibu yang baru pertama kali hamil
(primigravida). Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya oleh
Agustini (2012), Mahalingam (2014) bahwa jumlah kehamilan tidak berhubungan
dengan pengetahuan ibu hamil.

43
Diagram 4.2 Distribusi responden berdasakan jumlah kehamilan dan tingkat pengetahuan
4.3.3 Distribusi responden menurut Usia Kehamilan dan Tingkat Pengetahuan

Hasil analisis distribusi responden menurut Usia Kehamilan dan tingkat


pengetahuan dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

Tabel 4.1.9
Hubungan antara usia kehamilan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang Tanda
Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun
2018

Usia Tingkat Pengetahuan Total p-value


Kehamilan Kurang Cukup Baik
N % N % N %
Trimester 1 1,5 5 7,4 14 20,6 20 0,062
I
Trimester 4 5,9 9 13,2 10 14,7 23
II
Trimester 4 5,9 11 16,2 10 14,7 25
III
Total 9 13,2 25 36,8 34 50 68

44
Hasil analisis hubungan usia kehamilan dengan tingkat pengetahuan
menunjukkan bahwa proporsi ibu yang berpengetahuan baik paling banyak pada
ibu trimester I (20,6%), ibu yang berpengetahuan cukup paling banyak pada ibu
trimester III sebanyak 16,2 %. Ibu dengan pengetahuan kurang paling banyak pada
ibu trimester II (5,9%) dan trimester III (5,9%). Hasil uji statistik dengan
menggunakan uji chi square diperoleh nilai p= 0,062 (p>0,05), maka dapat
disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara usia kehamilan dengan
tingkat pengetahuan. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah sampel
dalam penelitian ini. Usia kehamilan dapat menunjukkan seberapa sering seorang
ibu hamil mendapatkan informasi melalui kunjungan ANC. Pada pelayanan ANC
ibu diharapkan memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada
trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III (Depkes, 2009).
Seharusnya, kunjungan ANC pada ibu hamil adalah 14 kali, yaitu setiap 4 minggu
pada usia kehamilan 8-28 minggu, setiap 2 minggu pada usia kehamilan 28-36
minggu, dan setiap 1 minggu pada usia kehamilan 36-40 minggu (Varney, 2007).

Diagram 4.3 Distribusi responden berdasarkan usia kehamilan dan tingkat pengetahuan

45
4.3.3 Distribusi responden menurut Pendidikan dan Tingkat Pengetahuan

Hasil analisis distribusi responden menurut Pendidikan ibu dan tingkat pengetahuan
dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

Tabel 4.2.0
Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang
Tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari
Tahun 2018

Usia Tingkat Pengetahuan Total p-value


Kehamilan Kurang Cukup Baik
N % N % n %
SD 4 5,9 1 1,5 0 0 5 0,01
SMP 2 2,9 4 5,9 5 7,4 11
SMA 2 2,9 15 22,1 16 23,5 33
Diploma/S1 1 1,5 5 7,4 12 17,6 18
S2 0 0 0 0 1 1,5 1
Total 9 13,2 25 36,8 34 50 68
Hasil analisis hubungan tingkat pendidikan ibu hamil dengan tingkat pengetahuan
menunjukkan bahwa proporsi ibu yang berpengetahuan baik paling banyak pada
ibu yang memiliki tingkat pendidikan SMA (23,5%), ibu yang berpengetahuan
cukup paling banyak pada ibu yang memiliki tingkat pendidikan SMA (22,1 %).
Ibu dengan pengetahuan kurang paling banyak pada ibu dengan tingkat pendidikan
SD (5,9%). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square diperoleh nilai
p= 0,01 (p<0,005) , maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna
antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya oleh Bililign et al (2017), Eittah (2017), Solomon et al
(2015), Nambala dan Ngoma (2013), Sugiarto (2007) bahwa tingkat pendidikan
berhubungan dengan pengetahuan ibu hamil tentang tanda-tanda bahaya kehamilan.
Kurangnya pengetahuan dapat disebabkan rendahnya tingkat pendidikan sehingga
responden mengalami kesulitan dalam memahami dan mengingat hal yang telah
mereka pelajari (Nambala dan Ngoma,2013). Tingkat pendidikan ibu hamil

46
berpengaruh terhadap tingkat kewaspadaan ibu hamil megenai tanda-tanda bahaya
kehamilan (Solomon et al, 2015). Kurangnya tingkat pendidikan ibu hamil juga
dapat mempengaruhi kunjungan antenatal ibu hamil (Eittah,2017).

Diagram 4.4 Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan

4.3.3 Distribusi responden menurut Pekerjaan dan Tingkat Pengetahuan

Hasil analisis distribusi responden menurut Pekerjaan ibu dan tingkat pengetahuan
dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

47
Tabel 4.2.1
Hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang Tanda
Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari Tahun
2018

Pekerjaan Tingkat Pengetahuan Total p-value


Kurang Cukup Baik
N % N % n %
Tidak 3 4,4 19 27,9 26 38,2 48 0,044
Bekerja
(Ibu
Rumah
Tangga)
Bekerja 6 8,8 6 8,8 8 11,8 20
Total 9 13,2 25 36,8 34 50 68
Hasil analisis hubungan pekerjaan ibu hamil dengan tingkat pengetahuan
menunjukkan bahwa proporsi ibu yang berpengetahuan baik paling banyak pada
ibu yang tidak bekerja (38,2%), ibu yang berpengetahuan cukup paling banyak pada
ibu yang tidak bekerja (27,9%). Ibu dengan pengetahuan kurang paling banyak
pada ibu yang bekerja (8,8%). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square
diperoleh nilai p= 0,044 (p<0,05) , maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang
bermakna antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan sehingga ibu yang tidak
bekerja/ibu rumah tangga memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan ibu
yang bekerja. Notoatmodjo (1997) menyatakan bahwa dengan adanya pekerjaan,
seseorang akan memerlukan banyak waktu dan perhatian. Masyarakat yang sibuk
hanya memiliki sedikit waktu untuk memperoleh informasi sehingga pengetahuan
yang mereka peroleh kurang.

48
Diagram 4.5 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan ibu dan tingkat pengetahuan

49
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa ibu hamil di


puskesmas perawatan mekar sari rata-rata memiliki tingkat pengetahuan
yang baik mengenai tanda-tanda bahaya dalam kehamilan. Faktor yang
berhubungan secara signifikan terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil
mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan adalah tingkat pendidikan ibu dan
pekerjaan ibu. Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki
tingkat pengetahuan yang lebih baik dan ibu yang tidak bekerja atau bekerja
sebagai ibu rumah tangga memiliki pengetahuan yang lebih baik juga
mengenai tanda-tanda bahaya dalam kehamilan.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Dinas Kesehatan Kota Balikpapan

Peneliti ingin memberikan saran agar dilakukan supervisi pada kegiatan


program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) terutama terhadap kualitas
ANC dengan pembinaan untuk selalu memberikan
penyuluhan/informasi mengenai tanda bahaya kehamilan, melibatkan
peran serta lintas sektor untuk mmperluas penyebaran informasi tanda
bahaya kehamilan diantaranya bekerja sama dengan organisasi profesi
yang terlibat dalam pendistribusian buku KIA kepada setiap ibu hamil
yang ANC pada bidang praktek swasta, bekerja sama dengan pihak
yang terlibat untuk penyebarluasan informasi tanda bahaya kehamilan
melalui televisi, radio, dan mendorong peningkatan program promosi
kesehatan khususnya tentang tanda bahaya kehamilan

50
5.2.2 Bagi Puskesmas Perawatan Mekarsari Balikpapan

Saran dari peneliti adalah agar Puskesmas Perawatan Mekarsari


memberikan informasi mengenai tanda bahaya kehamilan pada ibu
hamil setiap kunjungan ANC dan setiap ibu hamil diberikan buku KIA
dan selalu mengingatkan ibu untuk membaca tanda-tanda bahaya
kehamilan didalam buku KIA, lebih giat dalam mempromosikan
kegiatan kelas ibu hamil yang sudah berjalan , memberikan pelatihan
kader tentang tanda bahaya kehamilan untuk meningkatkan fungsi
kegiatan penyuluhan pada kegiatan posyandu, melakukan kunjungan
rumah kepada ibu hamil yang tidak rutin memeriksakan kehamilan baik
ke posyandu maupun ke puskesmas dan memberikan penyuluhan
tentang tanda-tanda bahaya kehamilan kepada masyarakat luas,
pembuatan leflet yang sederhana tentang tanda bahaya kehamilan agar
mudah dipahami oleh ibu hamil dan masyarakat luas , di ruang tunggu
pelayanan KIA terdapat poster tanda bahaya kehamilan dan perangkat
televisi atau radio dengan program penyuluhan tentang tanda-tanda
bahaya kehamilan.

5.2.3 Bagi Peneliti selanjutnya

Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan variabel


independen lain untuk mengetahui lebih luas faktor yang mempengaruhi
pengetahuan ibu hamil dalam mengenali tanda bahaya kehamilan. Perlu
juga untuk diteliti lebih lanjut mengenai pengaruh kelas ibu hamil
terhadap pengetahuan ibu hamil secara khusus.

51
DAFTAR PUSTAKA

Agustini, S. (2012). Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan Di


Wilayah Kerja UPT Puskesmas Cimandala Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor
Tahun 2012. Jakarta: Universitas Indonesia.

Amasha, H. A., & Heeba, M. F. (2013). Maternal Awareness of Pregnancy Normal and
Abnormal Signs : An Exploratory Descriptive Study. IOSR Journal of Nursing and
Health Science, 2(5), 39-45.

Bililign, N., & Mulatu, T. (2017). Knowledge of Obstetric Danger Signs and Associated
Factors Among Reproductive Age Women in Raya Kobo District of Ethiopia : A
Community Based Cross-sectional Study. BMC Pregnancy and Childbirth, 17(70),
1-7.

Demissie, E., Dessie, F., Michael, F. W., Kahsay, T., & Tadele, N. (2015). Level of
Awareness on Danger Signs of Pregnancy Among Pregnant Women Attending
Antenatal Care in Mizan Aman General Hospital, Southwest, Ethiopia :
Institution Based Cross-sectional Study. Journal of Women's Healthcare, 4(8),
288.

Dinas Kesehatan Kota Balikpapan (2016). Profil Kesehatan Kota Balikpapan Tahun 2016.
Balikpapan: Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

Dinas Kesehatan Kota Balikpapan (2017). Profil Kesehatan Kota Balikpapan Tahun 2017.
Balikpapan: Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

Eittah, H. (2017). Pregnant Woman's Knowledge, Reaction to Danger Signs of Pregnancy


and Utiization of Antenatal Services. 5(6).

Mahalingam, G., & Venkateasan, M. (2014). Mother's Knowledge of Warning Signs of


Pregnancy, Labour, and Puerperium. International Journal of Medical Science
and Public Health, 3(6), 720-722.

Mekonnen, T., Girmaye, B., & Taye, F. (2018). Assessment of Knowledge and Attitude
Towards Obstetric Danger Signs During Pregnancy Among Pregnant Mothers
Attending Antenatal Care in Mizan Aman Public Health Facilities, Bench Maji
Zone, South West Ethiopia. Journal of Gynecology and Women's Health, 11(3), 1-
8.

Mwilike, B., Nalwadda, G., Kagawa, M., Malima, K., Mselle, L., & Horiuchi, S. (2018).
Knowledge of Danger Signs During Pregnancy and Subsequent Healthcare
Seeking Actions Among Women in Urban Tanzania : A Cross-sectional Study.
BMC Pregnancy and Childbirth, 18(4), 1-8.

Nambala, B. S., & Ngoma, C. (2013). Knowledge and Perception of Women Towards
Danger SIgns in Pregnancy in Choma Rural District, Zambia. Medical Journal of
Zambia, 40(2), 43-47.

52
Notoatmodjo, S. (1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan.
Yogyakarta: Andi Offset.

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan : Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Rineka


Cipta.

Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nursalam, & Pariani, S. (2001). Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.


Jakarta: CV Sagung Seto.

Solomon, A. A., Amanta, N. W., Chirkose, E. A., & Badi, M. B. (2015). Knowledge about
Danger Signs of Pregnancy and Associated Factors Among Pregnant Women in
Debra Birhan Town, Central Ethiopia. Science Journal of Public Health, 3(2), 269-
273.

Sugiarto, T. (2007). Knowledge and Practice of Maternal Healthcare in Indonesia. Jurnal


Kependudukan Indonesia, 2, 1-16.

Varney. (2007). Buku Ajar Asuhan Kebidanan (1 ed., Vol. 4). Jakarta: EGC.

Varney. (2007). Buku Ajar Asuhan Kebidanan (2 ed., Vol. 4). Jakarta: EGC.

53
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Tentang Tanda Bahaya


Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari
Tahun 2018.....................................................................................46

Tabel 4.1.2 Distribusi Responden Menurut Umur Tentang Tanda Bahaya


Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari
Tahun 2018.....................................................................................47

Tabel 4.1.3 Distribusi Responden Menurut Jumlah Kehamilan Tentang Tanda


Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar
Sari Tahun 2018..............................................................................47

Tabel 4.1.4 Distribusi Responden Menurut Usia Kehamilan Tentang Tanda


Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar
Sari Tahun 2018..............................................................................48

Tabel 4.1.5 Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Pendidikan Tanda


Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar
Sari Tahun 2018..............................................................................48

Tabel 4.1.6 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Tentang Tanda Bahaya


Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar Sari
Tahun 2018.....................................................................................49

Tabel 4.1.7 Hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan ibu tentang Tanda
Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Mekar
Sari Tahun 2018..............................................................................49

Tabel 4.1.8 Hubungan antara jumlah kehamilan dengan tingkat pengetahuan ibu
tentang Tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas
Perawatan Mekar Sari Tahun 2018.................................................51

54
Tabel 4.1.9 Hubungan antara usia kehamilan dengan tingkat pengetahuan ibu
tentang Tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas
Perawatan Mekar Sari Tahun 2018.................................................52

Tabel 4.2.0 Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu
tentang Tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas
Perawatan Mekar Sari Tahun 2018.................................................54

Tabel 4.2.1 Hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang
Tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan
Mekar Sari Tahun 2018...................................................................56

55
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Tahun 2017.......................17

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian...........................................................35

Diagram 4.1 Distribusi responden berdasarkan range usia dan tingkat pengetahuan ....50

Diagram 4.2 Distribusi responden berdasarkan jumlah kehamilan dan tingkat


pengetahuan .............................................................................................52

Diagram 4.3 Distribusi responden berdasarkan usia kehamilan dan tingkat pengetahuan
..................................................................................................................53

Diagram 4.4 Distribusi responden berdasarkan pendidikan dan tingkat pengetahuan ..55

Diagram 4.5 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan dan tingkat pengetahuan .....57

56
LAMPIRAN

57
58
59
60
61