Anda di halaman 1dari 26

ANALISIS KOMPARASI KUALITAS INFORMASI AKUNTANSI SEBELUM DAN

SESUDAH PENERAPAN IFRS DI INDONESIA


(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2007-2009 dan
2012-2014)

ARTIKEL

OLEH :
ROBY NOVERIZAL

NIM :
1202577/2012

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
Analisis Komparasi Kualitas Informasi Akuntansi Sebelum dan Sesudah Penerapan
IFRS di Indonesia

Roby Noverizal
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang
Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus Air Tawar Padang
E-mail : robynoverizal@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kualitas informasi akuntansi
sebelum dan sesudah konvergensi IFRS. Penelitian ini menggunakan kualitas akrual,
persistensi laba, prediktabilitas, dan perataan laba untuk mengukur kualitas informasi
akuntansi. Jenis penelitian ini adalah penelitian komparatif. Penelitian ini menggunakan data
sekunder yang diperoleh dari situs www.idx.co.id. Populasi pada penelitian ini adalah
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama tahun 2007-2009 dan 2012-2014.
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan sampel sehingga
diperoleh 34 perusahaan manufaktur.
Teknik analisis data menggunakan uji Paired-sample T Test dan Wilcoxon Signed Rank
Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan baik
pada kualitas akrual, persistensi laba, prediktabilitas, maupun perataan laba sebelum dan
sesudah konvergensi IFRS. Disarankan kepada peneliti selanjutnya memperluas cakupan
penelitian dan periode pengamatan yang lebih panjang sehingga hasil yang diperoleh akan
dapat digeneralisasi dan lebih menggambarkan kondisi sesungguhnya.

Kata Kunci : Kualitas Informasi Akuntansi, Kovergensi IFRS, Kualitas Akrual, Persistensi
Laba, Prediktabilitas, Perataan Laba

ABSTRACT
This study aimed to analyze the differences of accounting quality before and after the
IFRS convergence. This study used accrual quality, earnings persistence, predictability, and
income smoothness for assessing the quality of accounting. This Study was a comparative
research. This study used secondary data obtained from the site www.idx.co.id. The
population in this research manufacturing companies listed on the Indonesian Stock
Exchange (IDX) during the years 2007-2009 and 2012-2014. This study used purposive
sampling technique and obtain 34 manufacturing companies.
This study analyzed using Paired-sample T Test and Wilcoxon Signed Rank Test. The
results indicated that there is no significant differences either on accrual quality, earnings
persistence, predictability, and income smoothness before and after the IFRS convergence. It
suggested to further research to expand the scope of research and a longer observation
period so that the results can be generalized and more describe the actual condition.
Keywords:Quality of Accounting Information, IFRS Convergence, Accrual Quality,
Earnings Persistence, Predictability, and Income Smoothing
1

1. PENDAHULUAN dalam laporan keuangan. Standar


A. Latar Belakang akuntansi ini juga digunakan agar
Era globalisasi mendorong laporan keuangan antar perusahaan
berkembangnya dunia usaha yang memiliki keseragaman dalam
menyebabkan pertumbuhan ekonomi penyajiannya, sehingga memudahkan
juga menjadi tinggi sehingga timbul pengguna untuk memahami informasi
persaingan yang semakin tajam dan yang terkandung dalam laporan
kompetitif dalam dunia usaha. Dengan keuangan tersebut. Agar tidak
adanya persaingan tersebut, perusahaan menimbulkan ambiguitas dan salah
dituntut untuk mampu menciptakan paham terhadap laporan keuangan,
atau meningkatkan nilai perusahaan standar akuntansi tidak hanya harus
serta mampu untuk mengelola faktor- dipahami oleh penyusun laporan
faktor produksi yang ada secara efektif keuangan dan auditor tetapi juga harus
dan efisien agar tujuan perusahaan dipahami oleh pembaca. Namun, seperti
untuk memperoleh laba yang maksimal yang kita ketahui masing-masing
dan optimal tercapai. Oleh karena itu negara memiliki perbedaan antara
perusahaan juga dituntut untuk mampu negara satu dengan negara lain.
meningkatkan kinerja keuangan Internasional Financial Reporting
perusahaan dengan meningkatkan Standards (IFRS) merupakan standar
kualitas informasi akuntansi perusahaan akuntansi atas penyusunan laporan
sehingga membantu investor dalam keuangan yang diberlakukan oleh
mengambil keputusan investasi InternastionalAccounting Standards
Informasi keuangan yang (IAS). Adanya standar ini untuk
dihasilkan oleh proses akuntansi disebut mewujudkan konvergensi standar
laporan keuangan. Laporan keuangan akuntansi dan laporan keuangan agar
merupakan sarana utama untuk pengguna lebih memahami laporan
mengetahui kondisi perusahaan karena keuangan di berbagai negara. Dengan
di dalam laporan keuangan terdapat pengadopsian IFRS akan merubah
informasi-informasi keuangan yang sudut pandang penerima informasi
dibutuhkan oleh pihak eksternal suatu negara yang dapat mengakibatkan
maupun internal yang berkepentingan informasi ini dapat diterima secara
dengan perusahaan. Laporan keuangan global.
memiliki tujuan utama yaitu Standar akuntansi di Indonesia
menyediakan informasi yang relevan dikenal dengan sebutan Pernyataan
bagi investor, kreditor, dan pengguna Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
lainnya. Informasi yang disajikan dalam yang digunakan untuk menyusun
laporan keuangan harus dapat laporan keuangan perusahaan yang
mencerminkan kondisi perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik.
sesungguhnya dan diharapkan dapat Akuntabilitas publik dalam hal ini
menjadi pedoman untuk pemegang merupakan suatu konsep yang
saham dan investor potensial dalam menyajikan laporan keuangan untuk
menentukan kepentingan investasi. dipublikasikan kepada masyarakat.
Untuk menghasilkan informasi Pengadopsian IFRS di Indonesia
keuangan yang berkualitas, sebuah dimulai pada tahun 2008 dimana
laporan keuangan harus disusun dilakukan adopsi seluruh IFRS terakhir
berdasarkan standar akuntansi yang ke dalam PSAK sampai tahun 2010.
berlaku umum. Standar akuntansi Pada tahun 2011 dilakukan persiapan
diantaranya berisi tentang aturan-aturan infrastruktur pendukung untuk
dalam pengakuan, pengukuran, implementasi PSAK yang sudah
pengungkapan dan penyajian suatu pos mengadopsi IFRS dan tahun 2012
2

pengadopsian penuh IFRS bagi terwujudnya manfaat penerapan IFRS


perusahaan-perusahaan yang memiliki untuk meningkatkan transparansi
akuntabilitas publik (Purba, 2009). perusahaan dan kualitas laporan
Meskipun banyak pro dan kontra keuangan.
konvergensi IFRS dengan PSAK Di Indonesia sendiri, hanya
(Pedoman Standar Akuntansi beberapa penelitian saja yang dapat
Keuangan) merupakan hal yang sangat memberikan bukti empiris dari adanya
penting untuk menjamin daya saing pengaruh IFRS terhadap kualitas
nasional. Pengadopsian ini merubah informasi akuntansi. Prastika, et al.
kiblat standar akuntansi Indonesia yang (2015), menggunakan manajemen laba,
semula mengacu pada rule based persistensi laba, relevansi nilai serta
(berbasis aturan) menjadi principal kerugian ketepatwaktuan sebagai
based (berbasis prinsip). pengukuran dari kualitas informasi
Penerapan IFRS diharapkan dapat akuntansi dan menghasilkan terdapat
meningkatkan transparansi perusahaan perbedaan pada manajemen laba dan
dan kualitas informasi laporan persistensi laba setelah mengadopsi
keuangan yang bermanfaat bagi IFRS sedangkan pada relevansi nilai
investor. Namun faktanya, hal tersebut dan ketepatwaktuan tidak terdapat
masih menjadi perdebatan hingga perbedaan. Sedangkan penelitian
sekarang, bukti empiris yang lainnya Sianipar dan Marsono (2013),
mendukung hal ini adalah hasil menggunakan manajemen laba,
penelitian Barth et al. (2008) dan Alali relevansi nilai, dan ketepatwaktuan dan
dan Foote (2012) yang ditunjukkan dari menghasilkan tidak terdapat perbedaan
penggunaan IFRS dapat meningkatkan setelah adopsi IFRS pada ketiga atribut
kualitas informasi akuntansi jika tersebut. Ayu, et al. (2015) yang
dibandingkan dengan standar memfokuskan penelitiannya pada
sebelumnya. Sehingga, IFRS diyakini atribut kualitas informasi akuntansi
dapat meningkatkan kualitas informasi berbasis pasar yaitu relevansi nilai,
akuntansi karena penggunaan fair value konservatisme dan pengakuan kerugian
yang bisa menggambarkan kondisi tepat waktu menghasilkan bahwa hanya
ekonomi perusahaan dengan baik pengakuan kerugian tepat waktu saja
(Cahyonowati, 2012). yang memiliki perbedaan setelah adopsi
Bukti empiris lainnya dari hasil IFRS.
penelitian Meulen (2007) dan Kualitas informasi akuntansi
Karampinis dan Hevas (2011), tidak menjadi hal penting dalam
ada perubahan signifikan dalam kualitas penggambilan keputusan yang akan
informasi akuntansi sebelum dan digunakan oleh pengguna laporan
sesudah adopsi IFRS. Hal ini didukung keuangan. Kualitas informasi akuntansi
oleh argumen La Porta et al. (1998), yang baik tentunya tidak menyesatkan
“Dalam literatur bisnis internasional, pengguna, dapat dibandingkan, dan
Indonesia diklasifikasikan dalam kluster relevan. Perubahan standar dari standar
negara code law”. Dimana, negara code lokal ke IFRS yang bersifat global
law, umumnya mempunyai model diharapkan akan meningkatkan kualitas
sistem keuangan yang lebih berorientasi informasi akuntansi. Berdasarkan
pada pemangku kepentingan penelitian-penelitian terdahulu yang
(Karampinis dan Hevas, 2011). Selain memiliki hasil yang beragam, maka
itu, lemahnya perlindungan terhadap penting untuk dilakukan kembali
investor dan sistem hukum yang kurang penelitian mengenai dampak
berjalan dengan baik (La Porta, 1998). konvergensi IFRS terhadap kualitas
Hal ini akan menjadi penghambat informasi akuntansi.
3

Menurut Francis, et al (2004), mengintepretasikan kualitas pelaporan


pada prinsipnya informasi akuntansi keuangan. Selain itu, empat atribut
yang berkualitas dapat dipandang dalam berbasis akuntansi juga digunakan
dua sudut pandang. Pandangan pertama dalam penelitian Pagalung (2006)
menyatakan bahwa kualitas pelaporan dalam menganalisis fundamental laba
keuangan berhubungan dengan kinerja perusahaan.
keseluruhan perusahaan yang tercermin Kualitas akrual (accrual quality)
dalam laba perusahaan. Pandangan ini menentukan sejauh mana akrual (dan
menyatakan bahwa laba yang laba pada umumnya) mewakili arus kas
berkualitas tinggi terefleksikan pada operasi. Francis et al. (2005)
laba yang dapat berkesinambungan menggunakan kualitas akrual sebagai
(sustainable) untuk suatu periode yang ukuran dari risiko informasi yang
lama. Pandangan kedua menyatakan berkaitan dengan laba. Adanya risiko
bahwa kualitas pelaporan keuangan informasi disebabkan perilaku manajer
berkaitan dengan kinerja pasar modal. dalam melakukan rekayasa laba guna
Pandangan yang sama dilakukan oleh menaikkan atau menurunkan angka
Schipper (2004) dengan menyebutnya akrual dalam laporan laba-rugi. Adanya
sebagai atribut-atribut berbasis penerapan IFRS pada perusahaan akan
akuntansi untuk pandangan pertama, menurunkan tindakan rekayasa laba
dan atribut-atribut berbasis pasar untuk tersebut karena terdapat pembatasan
pandangan kedua. Atribut kualitas kebijakan manajemen dalam hal ini
pelaporan keuangan berbasis akuntansi adalah kebijakan dalam pemilihan
meliputi kualitas akrual, persistensi, metode akuntansi yang semakin sedikit
prediktabilitas dan perataan laba, akibat adanya penerapan IFRS.
sedangkan atribut kualitas pelaporan Persistensi (persistence) laba
berbasis pasar adalah relevansi nilai, mengacu pada sejauh mana laba masa
ketapatwaktuan dan konservatisme. lalu merefleksikan laba masa depan.
Fokus pada penelitian ini adalah Adanya penerapan IFRS dengan
mengkaji kualitas pelaporan keuangan karakteristiknya yang menekankan fair
yang berbasis akuntansi. Kualitas value menyebabkan beberapa
pelaporan keuangan berbasis akuntansi perubahan metode akuntansi yang akan
dapat digolongkan ke dalam dua berdampak pada laba perusahaan antara
golongan pengukuran, yaitu pertama lain, perubahan prosedur pembebanan
pengukuran kualitas informasi laba biaya depresiasi, metode persediaan dan
yang berkaitan dengan kedekatan lain-lain. Akibatnya perubahan tersebut
hubungan antara laba arus kas (Kualitas maka akan berdampak pada
Akrual dan Perataan laba) dan peningkatan atau penurunan laba
pengukuran yang berkaitan dengan perusahaan, dampak tersebut tentunya
daya prediksi laba tahun lalu terhadap akan menimbulkan sejauh mana
laba tahun depan yang dihasilkan persistensi laba sesudah penerapan
(Persistensi dan Prediktabilitas). Alasan IFRS.
peneliti memilih empat pengukuran Prediktabilitas (predictability)
tersebut dikarenakan pada penelitian menyiratkan bahwa data yang disajikan
Francis et al. (2004) menghasilkan harus memberikan informasi yang dapat
bahwa empat atribut berbasis akuntansi digunakan sebagai peramal yang baik
(kualitas akrual, persistensi laba, dalam proses penilaian perusahaan.
prediktabilitas, dan perataan laba) lebih Perubahan laba akibat penggunaan fair
unggul daripada atribut berbasis pasar value IFRS tentu juga mempengaruhi
(relevansi nilai, ketepatwaktuan, dan kemampuan prediktif dari laba tersebut.
konservatisme) dalam
4

Perataan labamerupakan salah perusahaan ini memiliki sifat yang


satu upaya yang dilakukan manajer berbeda dengan industri yang lain.
dalam mempertahankan hubungan Akun-akun yang dipakai dalam laporan
baiknya dengan pemegang saham. keuangan perusahaan manufaktur lebih
Standar Akuntansi Keuangan komprehensif dan menerima dampak
Internasional yaitu IFRS diharapkan dari adopsi IFRS. Selain itu jumlah
akan meningkatkan kualitas informasi perusahaan manufaktur memiliki
laporan keuangan serta meminimalisir jumlah terbesar yang terdaftar di Bursa
praktik income smoothing. Santi et al. Efek Indonesia (BEI) dibandingkan
(2012) dalam penelitiannya menyatakan perusahaan pada industri lainnya
bahwa salah satu isu dari IASB adalah sehingga penggunaan perusahaan
bahwa standar internasional bertujuan manufaktur dianggap lebih mewakili.
untuk menyederhanakan berbagai Berdasarkan alasan yang telah
alternatif kebijakan akuntansi yang disebutkan peneliti tertarik untuk
diperbolehkan dan diharapkan untuk melakukan penelitian mengenai
membatasi pertimbangan kebijakan perbandingan kualitas informasi
manajemen (managements discretion) akuntansi sebelum dan setelah
terhadap manipulasi laba sehingga konvergensi IFRS pada perusahaan
dapat meningkatkan kualitas laba. manufaktur yang terdaftar di BEI. Maka
Penelitian ini penting dan menarik penelitian ini mengambil judul tentang
untuk dilakukan karena peneliti “Analisis Komparasi Kualitas
menggunakan rentang waktu yang lebih Informasi Akuntansi Sebelum dan
panjang dengan cut off yang tepat yaitu Sesudah Penerapan IFRS di
menggunakan tahun 2007-2009 Indonesia”.
(sebelum penerapan adopsi IFRS) dan
tahun 2012-2014 (setelah penerapan 2. TELAAH LITERATUR DAN PERU-
adopsi IFRS). Pemilihan 2012 sebagai MUSAN HIPOTESIS
tahap sesudah penerapan adopsi IFRS A. Kajian Teori
dikarenakan sesuai dengan roadmap 1. Teori Kegunaan Keputusan
adopsi IFRS oleh Dewan Standar Teori ini membahas beberapa
Akuntansi Keuangan (DSAK) per 1 komponen yang harus dipertimbangkan
Januari 2012 seluruh perusahaan yang oleh para akuntan sebagai penyedia
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) informasi. Informasi akuntansi merupakan
diwajibkan menerapkan Standar salah satu komponen penting yang
Akuntansi Keuangan (SAK) hasil mempunyai pengaruh terhadap
adopsi IFRS dalam menyusun laporan pengambilan keputusan khususnya bagi
keuangan. Dalam penelitian ini, untuk manajer dan investor. Investor
tahun 2010-2011 tidak masuk dalam membutuhkan informasi yang relevan dan
sampel penelitian karena pada tahun- reliabel agar dapat mengambil keputusan
tahun tersebut konvergensi IFRS masih dengan baik dan tepat. Informasi yang
bersifat gradual, artinya konvergensi relevan digunakan oleh investor untuk
IFRS masih bersifat tidak wajib atau menilai perusahaan di masa depan,
hanya perusahaan yang merasa siap sedangkan informasi yang reliabel artinya
yang menerapkan IFRS sebagai acuan tepat, bebas dari kesalahan atau rekayasa
dalam penyusunan laporan manajer (Rahmawati, 2012:6). Oleh
keuangannya. karena itu, laporan keuangan merupakan
Objek penelitian merupakan media informasi yang dibutuhkan oleh
perusahaan manufaktur yang terdaftar investor yang diharapkan mengandung
di Bursa Efek Indonesia Perusahaan informasi yang relevan dan reliabel.
manufaktur dipilih karena kelompok
5

2. Teori Keagenan (Agency Theory) Kualitas informasi akuntansi tidak


Agency theory menggambarkan terlepas dari konflik keagenan. Ketika
model hubungan antara principal dan pemilik (prinsipal) menyerahkan
agent. Jensen dan Meckling (1976) wewenang pengambilan keputusan kepada
mendefinisikan hubungan keagenan manajemen (agen), akibatnya manajemen
sebagai kontrak yang terjadi ketika antara memiliki informasi yang lebih luas
satu atau lebih individu (principal) daripada pemilik. Hal semacam ini
mengikat perjanjian dengan individu mengakibatkan adanya sifat manajemen
lainnya (agent) yang melibatkan yang melaporkan laba secara oportunis
pendelegasian wewenang kepada agen untuk kepentingan pribadinya. Kualitas
dalam pembuatan keputusan. Pada informasi akan menjadi rendah jika hal
perusahaan yang struktur modalnya dalam semacam ini terjadi pada perusahaan.
bentuk saham, pemegang saham bertindak Suatu laba juga dapat diragukan
sebagai prinsipal, dan dewan direksi kualitasnya apabila tidak dilaporkan sesuai
sebagai agen mereka. Pemegang saham fakta yang terjadi.
mempekerjakan para dewan direksi untuk 3. Teori Regulasi
bertindak sesuai dengan kepentingan Adanya berbagai krisis dalam
prinsipal dalam hal ini adalah pemegang penentuan standar mendorong munculnya
saham. kebijakan regulasi. Oleh karena
Menurut Eisenhard (1989)ada tiga permintaan terhadap kebijakan atau
asumsi yang melandasi teori keagenan, standar semacam itu didorong oleh krisis
yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi yang muncul, pihak penentu standar
keorganisasian, dan asumsi informasi. akuntansi menanggapi dengan cara
a) Asumsi sifat manusia menekankan menyediakan kebijakan tersebut (Ghozali
bahwa manusia mempunyai sifat dan Chariri, 2007). Teori regulasi
mementingkan diri sendiri, memiliki menyatakan bahwa perekonomian terpusat
keterbatasan rasional (bounded adalah alasan dalam melindungi
rationality) dan tidak menyukai kepentingan umum. Dalam teori ini
resiko. legislatif membuat aturan untuk
b) Asumsi keorganisasian menekankan melindungi pengguna laporan keuangan
tentang adanya konflik antara dengan meningkatkan kinerja ekonomi.
anggota organisasi, efisiensi sebagai Para ahli teori menyatakan bahwa hampir
kriteria efektifitas, dan adanya tanpa kecuali regulasi itu terjadi sebagai
asimetri informasi antara principal reaksi terhadap suatu krisis yang tidak
dan agents. dapat di identifikasi. Adanya IFRS
c) Asumsi informasi mengemukakan menimbulkan beberapa argumen tentang
bahwa informasi dianggap sebagai perubahan yang terjadi terhadap angka
komoditi yang daat diperjualbelikan. keuangan yang akan sekaligus
Berdasarkan asumsi yang melandasi mempengaruhi kualitas laporan keuangan
teori keagenan tersebut maka sifat dasar yang dihasilkan. Menurut Baruch Lev
manusia tersebut manajer sebagai manusia dalam Hendriksen (2002) yang
akan bertindak mengutamakan menyatakan bahwa perubahan standar
kepentingan pribadinya, asumsi yang berlaku memiliki pengaruh yang
keorganisasian terdapat konflik yang nyata pada operasi keuangan. Teori
sangat jelas pada pihak-pihak yang regulasi dalam penelitian ini digunakan
berkepentingan, sedangkan pada asumsi karena tema yang terkait adalah tentang
informasi maka informasi menjadi sesuatu standar akuntansi yaitu IFRS, dengan
yang sangat penting adanya dan informasi adanya IFRS maka akan menimbulkan
bisa juga digunakan sebagai penambah kebijakan terhadap penyeragaman laporan
keuntungan atau pendapatan. keuangan serta kualitas akuntansi yang
6

terkandung dalam masing-masing laporan Berkaitan dengan literatur pada


keuangan. Dengan kebijakan atau regulasi kualitas informasi akuntansi, tidak terdapat
yang digunakan, penulis ingin kesepakatan tentang definisi atau kerangka
mengkomparasi antara kualitas akuntansi kerja untuk menentukan kualitas laba yang
sebelum dan sesudah diterapkannya dilaporkan itu ada. Sebagai
standar akuntansi keuangan internasional, konsekuensinya, peneliti menentukan
apakah dengan teori tersebut dapat kualitas laba dalam berbagai cara, yaitu
meningkatkan komparabilitas laporan melihat aspek yang berbeda dari laba
keuangan serta transparansi bagi para seiring dengan pandangan mereka tentang
pengguna laporan keuangan tersebut apa yang merupakan aspek penting dari
terkait adanya standar baru yang muncul. laba. Laporan ini mencoba untuk
4. Kualitas Informasi Akuntansi memberikan gambaran umum tentang
Informasi tentang laba sangat kualitas laba pada IFRS dan US-GAAP
penting bagi perusahaan karena laba dan akan mencakup beberapa atribut laba
digunakan sebagai ukuran kinerja yang pada gilirannya dapat memberikan
perusahaan oleh sejumlah besar pengguna pandangan umum tentang kualitas laba
laporan keuangan. Ketika melakukan yang dilaporkan.
penelitian tentang kualitas informasi Francis et al. (2004) merangkum
akuntansi, laba merupakan hal utama kriteria yang banyak digunakan untuk
dalam menentukan kualitas informasi mengukur kualitas laba dalam penelitian
akuntansi. Dalam literatur akademik, akuntansi dalam artikel dasar mereka
kualitas informasi akuntansi sangat sering "Cost of equity and earnings attributes".
ditentukan oleh kualitas laba yang Berdasarkan literatur tersebut Francis et
dilaporkan.Untuk hal-hal ini, peneliti telah al., membahas tujuh atribut earning yang
membuat kualitas informasi akuntansi dapat dibagi menjadi atribut berbasis pasar
dapat dioperasikan secara empiris dengan dan atribut berbasis akuntansi. Atribut
mengembangkan beberapa atribut untuk berbasis akuntansi terdiri dari kualitas
menentukan kualitas laba. (Schipper dan akrual, prediktabilitas, persistensi dan
Vincent; 2003) perataan. Atribut berbasis pasar terdiri dari
Dikarenakan laba dapat diuraikan ke relevansi nilai, ketepatan waktu dan
dalam arus kas dan akrual, beberapa konservatisme.
peneliti menggunakan kualitas akrual Berdasarkan motivasi peneliti,
untuk menarik kesimpulan tentang kualitas penelitian ini akan membatasi pembahasan
laba. [Dechow Dichev, 2002; Francis et terhadap atribut pelaporan keuangan yang
al., 2004]. Peneliti lain pada gilirannya berbasis akuntansi, yaitu kualitas akrual,
menginterpretasikan kualitas laba bila laba persistensi laba, prediktabilitas, dan
persisten [misalnya. Penman, 2002, perataan laba.
Richardson, 2003]. Mikhail et al. (2003) a. Kualitas Akrual (accrual quality)
menjelaskan kualitas laba dalam hal Akrual merupakan salah satu dasar
kemampuan prediksi laba. Mereka dari bagian akuntansi. Salah satu
menemukan bahwa laba menjadi karakteristik umum laporan keuangan
berkualitas ketika laba masa lalu suatu adalah dasar akrual. Dalam asumsi dasar
perusahaan sangat terkait dengan laba akrual, pendapatan diakui saat diperoleh
yang akan datang. Peneliti lain dan pengeluaran saat dibebankan tanpa
menemukan bahwa laba menjadi mempertimbangkan waktu pembayaran
berkualitas bila laba memiliki nilai yang diterima dan dikeluarkan. Asumsi ini
relevan, yaitu laba yang sangat terkait merupakan kebalikan dari asumsi kas yang
dengan harga sekuritas [Francis dan mencatat penerimaan ketika kas diterima
Schipper, 1999]. atau dikeluarkan.
7

Akuntansi berbasis akrual membantu Predictability of earning


dalam memprediksi arus kas di masa (prediktabilitas laba) merupakan salah satu
depan dengan melaporkan transaksi dan ukuran kualitas laba. Predictabiliy
kejadian lain dengan konsekuensi kas yang mencerminkan kemampuan laba dalam
diterima saat transaksi atau kejadian memprediksi sebuah variabel kepentingan
terjadi, bukan saat kas diterima atau (Vincent 2004), misalnya laba masa
dibayar (Kieso et al., 2011:51). datang, komponen dari laba masa datang,
Pengukuran akrual dapat dibedakan ke arus kas atau item lainnya yang diinginkan
dalam dua kelompok yaitu kualitas akrual oleh pengguna. Menurut Cornell dan
dan level akrual. Kualitas akrual Wayne (2003) ukuran prediktabilitas
merupakan estimasi dari arus kas operasi mengukur seberapa baik nilai masa lalu
periode sebelumnya, saat ini, dan periode dari ukuran laba untuk memprediksi future
yang akan datang pada perubahan modal values–nya. Hubungan laba dengan arus
kerja. Residual dari estimasi tersebut kas masa datang telah diuji oleh beberapa
merefleksikan akrual yang tidak periset, diantaranya oleh Dechow et al.
berhubungan dengan realiasi arus kas; dan (1998) yang berhasil membuktikan bahwa
standar deviasi dari residual tersebut laba memprediksi futurecash flow lebih
merupakan kualitas akrual pada level baik dibandingkan current operating cash
perusahaan, dimana standar deviasi yang flow, dengan masa prediksi 1-3 tahun yang
tinggi menunjukkan kualitas akrualnya akan datang. Barth et al. (2001)
rendah. Selanjutnya, kualitas akrual menyimpulkan bahwa current cash flows
digunakan sebagai pengukur kualitas laba dan diaggregated accrual memprediksi
(Dechow dan Dichev, 2002; Francis, future cashflow lebih baik dari pada
2004). agregated earning.
b. Persistensi (persistence) d. Perataan (smoothness)
Persistensi laba merupakan laba yang Perataan laba merupakan atribut
dapat digunakan sebagai indikator future dari pelaporan keuangan sekaligus
earnings. Persistensi laba yang sustainable merupakan salah satu bentuk dari
dinyatakan sebagai laba yang mempunyai manajemen laba. Perataan laba dilakukan
kualitas tinggi; sebaliknya jika laba perusahaan dengan cara meratakan laba
unsustainable dinyatakan sebagai laba yang dilaporkan sehingga dapat
yang mempunyai kualitas kurang baik mengurangi fluktuasi laba yang terlalu
(Penman dan Zhang, 2002). Ketika para besar karena pada umumnya investor
pemakai laporan keuangan (terutama menyukai laba yang relatif stabil.
investor) memandang laba perusahaan Berdasarkan penelitian Eckel (1981)
sustainable, maka expected dividend yield terdapat dua jenis income smoothing
tumbuh secara stasioner (Fama dan yaitu naturally smooth dan intentionally
French, 2002). Menurut Sunarto, (2008), smooth.
persistensi laba didefinisikan sebagai laba 5. IFRS
yang dapat digunakan sebagai pengukur Choi (2005) menyatakan bahwa
laba itu sendiri. Artinya, laba saat ini dapat “konvergensi dapat berarti harmonisasi
digunakan sebagai indikator laba periode atau standardisasi, namun harmonisasi
mendatang (future earnings). Laba yang dalam konteks akuntansi dipandang
semakin persisten menunjukkan laba sebagai suatu proses meningkatkan
semakin informatif; sebaliknya jika laba kesesuaian praktik akuntansi dengan
kurang persisten, maka laba menjadi menetapkan batas tingkat keberagaman”.
kurang informatif (Tucker dan Zarowin, Jika dikaitkan dengan IFRS maka
2006). konvergensi dapat diartikan sebagai proses
c. Prediktabilitas menyesuaikan Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) terhadap IFRS.
8

IFRS memiliki karakteristik menunjukkan relevansi nilai dan ketepatan


menggunakan “Principles Base” yaitu : waktu meningkat setelah konvergensi
a) Lebih menekankan Interpretasi dan IFRS, sedangkan persistensi dan
aplikasi atas standar sehingga harus prediktabilitas laba tidak terdapat
berfokus pada penerapan prinsip perbedaan.
tersebut. Günther & Zoltan (2010) meneliti
b) Standar membutuhkan penilaian atas the effects of IFRS adoption on the
substansi transaksi dan evaluasi financial reporting quality of European
apakah presentasi akuntansi banks. Hasil penelitiannya menyatakan
mencerminkan realitas ekonomi bahwa adopsi IFRS dapat mengurangi
c) Membutuhkan professional judgement adanya praktek perataan laba di bank,
pada penerapan standar akuntansi. diperkuat dengan adanya peraturan bank
IFRS juga menggunakan fair value yang ketat, sedangkan diperlemah dengan
dalam penilaian, jika tidak ada nilai pasar struktur kepemilikan yang luas.
aktif harus melakukan penilaian sendiri Nurhikmah Esti Prastika, Yohani,
atau menggunakan jasa penilai. Selain itu Haifa’ Kurniawati (2015) meneliti analisis
IFRS mengharuskan pengungkapan komparasi terhadap kualitas akuntansi
(disclosure) yang lebih banyak baik sebelum dan sesudah penerapan standar
kuantitatif maupun kualitatif. akuntansi keuangan internasional di
Pengadopsian IFRS di Indonesia Indonesia. Hasil penelitin
berlaku secara penuh pada tahun 2012. mengindikasikan bahwa terdapat
Dengan mengadopsi IFRS, perusahaan- perbedaan sebelum dan sesudah
perusahaan di Indonesia diharapkan dapat implementasi IFRS di Indonesia pada
meningkatkan daya informasi dari laporan manajemen laba dan persistensi laba,
keuangan. Selain itu, konvergensi IFRS sedangkan pada pegakuan kerugian tepat
adalah salah satu kesepakatan pemerintah waktu dan relevansi nilai tidak terdapat
Indonesia sebagai anggota G20 forum di perbedaan.
Washington, 15 November2008. C. Pengembangan hipotesis
Tahap adopsi dilakukan pada periode 1. Kualitas Akrual dengan Penerapan
2008-2011 meliputi aktivitas adopsi IFRS
seluruh IFRS ke PSAK (Pernyataan Dalam proses penyusunan laporan
Standar Akuntansi Keuangan), persiapan keuangan, dasar akrual memungkinkan
infrastruktur, evaluasi terhadap PSAK adanya risiko informasi yang disebabkan
(Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) perilaku manajer dalam melakukan
yang berlaku. rekayasa laba guna menaikkan atau
B. Penelitian terdahulu menurunkan angka akrual dalam laporan
Sianipar dan Marsono (2013) laba-rugi. SAK memberikan kelonggaran
meneliti analisis komparasi kualitas dalam memilih metode akuntansi yang
informasi akuntansisebelum dan sesudah digunakan oleh tiap perusahaan dalam
pengadopsian penuh IFRS diIndonesia. penyusunan laporan keuangan.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Kelonggaran dalam metode ini yang dapat
tidak terdapat perbedaan antara sebelum dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai
dengan sesudah pengadopsian IFRS pada laba yang berbeda-beda di tiap perusahaan.
relevansi nilai, ketepatan waktu, serta Perusahaan yang memilih metode
manajemen laba. penyusutan garis lurus akan berbeda hasil
Martij Beijerink (2008) meneliti laba yang dilaporkan dengan perusahaan
tentang information quality of IFRS and yang menggunakan metode angka tahun
US-GAAPa comparison of multiple atau saldo menurun. Praktik seperti ini
earnings attributes under IFRS and US- dapat memberikan dampak terhadap
GAAPdimana hasil penelitian ini kualitas laba yang dilaporkan (Boediono,
9

2005). Dengan demikian adanya pada perusahaan manufaktur yang tercatat


penerapan IFRS pada perusahaan akan di Bursa Efek Indonesia ketika sebelum
menurunkan tindakan rekayasa laba (2007-2009) dan sesudah (2011-2013) full
tersebut karena terdapat pembatasan adopsi IFRS.
kebijakan manajemen dalam hal ini adalah 2. Persistensi Laba dengan Penerapan
kebijakan dalam pemilihan metode IFRS
akuntansi yang semakin sedikit akibat Menurut teori yang dikemukakan
adanya penerapan IFRS. oleh Sunarto (2008), persistensi laba
Francis et al. (2005) menggunakan didefinisikan sebagai laba yang dapat
kualitas akrual sebagai ukuran dari risiko digunakan sebagai pengukur laba itu
informasi yang berkaitan dengan laba. sendiri. Artinya, laba saat ini dapat
Alasannya yaitu dengan menggunakan digunakan sebagai indikator laba periode
kualitas akrual dapat dilihat seberapa besar mendatang (future earning). Laba yang
ketepatan workingcapital accruals menjadi semakin persisten menunjukkan laba
realisasi arus kas operasi sehingga dapat semakin informatif. Sebaliknya jika laba
dilihat kualitas laba yang dilaporkan kurang persisten, maka laba menjadi
perusahaan. Penggunaan model kualitas kurang informatif (Tucker dan Zarowin,
akrual tersebut berdasarkan dari prinsip 2006).
akuntansi yaitu basis akrual. Pendapatan Salah satu perubahan yang terjadi
dan beban merupakan komponen akrual akibat adopsi IFRS adalah karakteristik
yang pengakuannya berdasarkan kriteria utama IFRS yang menekankan pada
tertentu. Salah satu kriteria pengakuan fairvalue. Fair value sendiri menekankan
pendapatan yaitu pendapatan diakui bila pada penyajian nilai yang relevan dengan
kemungkinan besar manfaat ekonomi kondisi saat ini, seperti penilaian kembali
masa depan akan mengalir ke entitas dan aset-aset perusahaan dengan menggunakan
manfaat ini dapat diukur dengan andal. bantuan appraisal. Hartono (2005),
Pengakuan pendapatan dan beban tersebut beberapa perubahan metode akuntansi
melibatkan estimasi, pilihan kebijakan akan berdampak pada laba perusahaan
akuntansi, dan justifikasi manajemen. antara lain, perubahan prosedur
Berkaitan dengan estimasi tersebut, pembebanan biaya depresiasi, metode
kualitas akrual dipengaruhi oleh persediaan dan lain-lain. Akibatnya
perhitungan kesalahan (error) dalam nilai perubahan tersebut akan berdampak pada
estimasi akrual, terlepas dari faktor intensi peningkatan atau penurunan laba
manajemen. Francis et al. (2005) perusahaan.
memberikan bukti empiris bahwa kualitas Penelitian yang dilakukan oleh
akrual yang buruk akan meningkatkan Pahlevi (2014) yang meneliti tentang
risiko informasi dan akan meningkatkan peningkatan persistensi laba sesudah
biaya modal. adopsi IFRS yang dilakukan pada
Putri (2015) dalam penelitiannya perusahaan perbankan yang mengadopsi
tentang kualitas informasi pada pelaporan IFRS pada tahun 2011 dan 2012 serta
keuangan yang diuji menggunakan belum mengadosi IFRS pada tahun 2008
pengukuran dua dimensi yaitu, dimensi dan 2009 dengan tahun 2010 sebagai
akuntansi (kualitas akrual) dan dimensi cutoff. Hasil penelitiannya menunjukkan
pasar (relevansi nilai). Penelitian tersebut bahwa terjadi peningkatan persistensi laba
terfokus pada masa sebelum penerapan sesudah adopsi IFRS pada perusahaan
IFRS (2007-2009) dan sesudahnya (2011- perbankan di Indonesia. Menurut Pahlevi
2013). Dari hasil penelitian ini (2014) hasil ini berhubungan dengan laba
disimpulkan bahwa terdapat perubahan yang dihasilkan perusahaan setelah adopsi
kualitas informasi akuntansi yang di ukur IFRS mengalami penurunan dibandingkan
melalui kualitas akrual dan relevansi nilai dengan laba sebelum adopsi IFRS,
10

sehingga fenomena ini perlu mendapat periode sebelum dan sesudah


perhatian lebih bagi investor di dalam pengadopsian di Indonesia dengan
mengambil keputusan investasi. prediktabilitas sebagai salah satu
3. Prediktabilitas dengan Penerapan pengukurannya menemukan bahwa adanya
IFRS perbedaan nilai standar deviasi
Menurut Mekani (2012), Informasi prediktabilitas laba namun hal tersebut
laba yang berkualitas dan relevan tidak terbukti signifikan.
bermanfaat untuk menilai kinerja 4. Perataan Laba dengan Penerapan
perusahaan saat ini dan dalam IFRS
memprediksi prospek perusahaan di masa Standar akuntansi keuangan
depan. Informasi laba yang mengandung merupakan salah satu prasarana penting
nilai prediktif akan lebih direspon oleh untuk mewujudkan transparasi terkait
investor, yang akan menimbulkan dengan laba. Standar Akuntansi
keyakinan akurat yang tercermin di dalam Internasional lebih dikenal sebagai IFRS
harga saham yang mengikuti (International Financial Reporting
pengungkapannya. Informasi akuntansi Standards). Rohaeni dan Aryati (2012)
harus mampu membuat perbedaan dalam menyatakan penerapan IFRS sebagai
pengambilan keputusan. Jika tidak mampu standar global akan berdampak semakin
mempengaruhi keputusan maka informasi sedikitnya pilihan-pilihan metode
dikatakan tidak relevan terhadap akuntansi yang dapat diterapkan sehingga
keputusan yang diambil. Informasi yang meminimalisir praktik kecurangan
relevan akan membantu para pengguna akuntansi. Trisanti (2012) meneliti tentang
dalam membuat prediksi tentang hasil efek adopsi IFRS terhadap praktik income
akhir dari kejadian masa lalu, masa kini, smoothing yang terjadi di Indonesia.
dan masa depan. Agar relevan, informasi Penelitian tersebut mengambil sampel
juga harus tersedia kepada pengambil perusahaan-perusahaan yang terdaftar di
keputusan sebelum kehilangan Bursa Efek Indonesia. Penelitiannya dibagi
kapasitasnya untuk mempengaruhi menjadi dua periode yaitu dengan
keputusan yang diambil. membandingkan frekuensi terjadinya
Salah satu perubahan yang terjadi praktik income smoothing pada saat
akibat adopsi IFRS adalah karakteristik sebelum pengadopsian IFRS (2000-2004)
utama IFRS yang menekankan pada dan pada saat pengadopsian IFRS (2005-
fairvalue. Fair value sendiri menekankan 2009). Hasil penelitiannya menunjukkan
pada penyajian nilai yang relevan dengan bahwa praktik income smoothing menurun
kondisi saat ini, seperti penilaian kembali setelah pengadopsian IFRS namun
aset-aset perusahaan dengan menggunakan perusahaan smoother lebih banyak
bantuan appraisal. Hartono (2005), dibandingkan perusahaan non smoother
beberapa perubahan metode akuntansi baik pada saat sebelum pengadopsian
akan berdampak pada laba perusahaan IFRS maupun pada saat adopsi IFRS.
antara lain, perubahan prosedur Praktik income smoothing
pembebanan biaya depresiasi, metode merupakan salah satu upaya yang
persediaan dan lain-lain. Akibatnya dilakukan manajer dalam mempertahankan
perubahan tersebut maka akan berdampak hubungan baiknya dengan pemegang
pada peningkatan atau penurunan laba saham. Standar Akuntansi Keuangan
perusahaan, perubahan tersebut tentunya Internasional yaitu IFRS diharapkan akan
juga akan mempengaruhi daya prediksi meningkatkan kualitas informasi laporan
dari laba tersebut. keuangan serta meminimalisir praktik
Dalam penelitian yang dilakukan income smoothing. Santi et al (2012)
oleh Famila (2013) yang membahas dalam penelitiannya menyatakan bahwa
tentang perbandingan kualitas laba antara salah satu isu dari IASB adalah bahwa
11

standar internasional bertujuan untuk B. Populasi dan Sampel


menyederhanakan berbagai alternatif Populasi dalam penelitian ini adalah
kebijakan akuntansi yang diperbolehkan seluruh perusahaan manufaktur yang ter-
dan diharapkan untuk membatasi daftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-
pertimbangan kebijakan manajemen 2009 dan 2012-2014. Untuk memilih
(managements discretion) terhadap sampel dalam penelitian ini, peneliti
manipulasi laba sehingga dapat menggunakan metode purposive sampling
meningkatkan kualitas laba. dengan kriteria tertentu. Berdasarkan
D. Kerangka Konseptual kriteria pengambilan sampel, dari 174
Maka dari penjelasan tersebut, dapat populasi, perusahaan yang terpilih menjadi
digambarkan kerangka konseptual sebagai sampel dalam penelitian ini adalah
berikut: sebanyak 34 perusahaan.
C. Jenis Data dan Sumber Data
Sebelum Setelah Jenisdata adalahdata
Konvergensi IFRS Konvergensi IFRS
(2007-2009) (2012-2014) dokumenter,yaitu berupalaporan keuangan
perusahaan industri manufaktur yang
terdaftar di BursaEfek Indonesia(BEI)
Kualitas Informasi Kualitas Informasi pada tahun 2007-2009 dan tahun 2012-
Akuntansi: Akuntansi:
 Kualitas Akrual  Kualitas Akrual
2014.
 Persistensi Laba  Persistensi Laba Sumberdata adalah data sekunder
 Prediktabilitas  Prediktabilitas yang diperoleh dari situs www.idx.co.id.
 Perataan Laba  Perataan Laba D. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan teknik
UJI BEDA dokumentasi, teknik ini dimaksudkan
Gambar 1: Kerangka Konseptual sebagai cara untuk mengumpulkan data
dengan mempelajari dan mencatat bagian-
E. Hipotesis bagian yang dianggap penting dari
Berdasarkan latar belakang berbagai risalah resmi.
permasalahan dan teori yang telah E. Variabel dan Pengukurannya
dikemukakan sebelumnya, maka dapat Dalam penelitian ini kualitas
dirumuskan hipotesis sebagai berikut: informasi akuntansi diproksikan menjadi
H1Terdapat perbedaan antara accrual empat variabel yaitu kualitas akrual,
quality sebelum dan sesudah persistensi laba, prediktabilitas, dan
dilakukannya pengadopsian penuh perataan laba.
IFRS 1. Kualitas Akrual
H2 Terdapat perbedaan antara persistensi Untuk mengukur kualitas akrual
laba sebelum dan sesudah dalam penelitian ini menggunakan model
dilakukannya pengadopsian penuh Dechow dan Dichev (2002) yang
IFRS dimodifikasi oleh Francis et al.
H3 Terdapat perbedaan prediktabilitas (2005).Model yang dibangun Francis et al.
sebelum dan sesudah dilakukannya yaitu :
pengadopsian penuh IFRS
H4 Terdapat perbedaan antara perataan TCAj,t = k0 + k1CFOj,t1 + k2CFOj,t +
laba sebelum dan sesudah k3CFOj,t+1 + k4∆Revj,t + k5PPEj,t +
µj,t
dilakukannya pengadopsian penuh
IFRS Dimana:
3. METODE PENELITIAN TCA= total current accruals perusahaan j
A. Jenis Penelitian pada tahun t
Penelitian ini digolongkan jenis CFO= arus kas bersih dari aktivitas operasi
penelitian komparatif. ∆REV= perubahan revenue
12

PPE= nilai kotor property, plant, and 1. Statistik Deskriptif


equipment Analisis deskriptif dilakukan
Kualitas akrual dihitung dari dengan bantuan SPSS yang akan
standard deviasi residual persamaan di menghasilkan informasi berkaitan
atas. Standar deviasi yang tinggi dengan dispersion (standar deviation,
mengindikasikan kualitas akrual rendah. variance, range, min, max, standar error
2. Persistensi Laba of mean) (Idris, 2010).
Model persistensi laba menurut 2. Uji Normalitas
Francis et al (2004) adalah sebagai Untuk menguji apakah data
berikut: terdistribusi normal atau tidak dapat
Eit=β0+β1Eit-1+εit dilakukan dengan metode Kolmogorov-
Dimana: Smirnov. Jika nilai Sig. uji Kolmogorov-
Eit =laba akuntansi (earnings) Smirnov >0,05 berarti distribusi data
perusahaan i pada tahun t dinyatakan normal, dan begitu
Eit-1 =laba akuntansi (earnings) sebaliknya (Idris, 2010).
perusahaan i sebelum tahun t Jika data tersebut berdistribusi
Persistensi laba dalam penelitian normal, maka pengujian hipotesis
ini dilihat dari koefesien determinasi penelitian menggunakan uji Paired
(R2), Koefesien determinasi yang tinggi Sample t-Test tapi jika data yang diteliti
mengindikasikan laba perusahaan berdistribusi tidak normal maka
tersebut highly persistent. pengujian hipotesis dilakukan dengan
3. Prediktabilitas uji statistik non parametrik wilcoxon
Pengukuran prediktabilitas dengan signed rank test.
melakukan regresi laba sebelum pos 3. Uji Hipotesis
akuntansi periode t terhadap arus kas a. Paired Sample t-Test
aktivitas operasi perusahaan t+1 yang Pengujian hipotesis untuk menguji
diskalakan dengan total penjualan ada tidaknya perbedaan rata-rata (jika
(Dechow 1998). Modelnya adalah distribusi data penelitian adalah normal)
sebagai berikut: atau perbedaan median (jika distribusi
CFOi,t+1= α0 + α1 Ei,t data penelitian tidak normal) atas
Dimana: akuntansi kualitas informasi akuntansi
CFOit+1 : Arus kas operasi perusahaan i sebelum dan sesudah konvergensi IFRS.
pada tahun setelah t Uji t dilakukan dengan bantuan program
Eit-1 : laba akuntansi (earnings) SPSS. Kriteria pengujian hipotesis
perusahaan i pada tahun t menggunakan taraf signifikan α= 0,05.
Prediktabilitas dalam penelitian ini b. Wilcoxon signed ranked test
dilihat dari koefesien determinasi (R2). Sama halnya dengan uji-t, uji
4. Perataan Laba wilcoxon ini dilakukan untuk
Pengukuran perataan laba diukur menentukan apakah terdapat perbedaan
dengan menggunakan model Index kualitas informasi akuntansi sebelum
Eckel. Aplikasi dari model tersebut dan sesudah konvergensi IFRS. Hanya
adalah: saja, uji wilcoxon ini dilakukan ketika
Income Smoothing index= CV ∆I / CV sudah diketahui bahwa data yang diteliti
∆S termasuk dalam kategori data yang
Keterangan: berdistribusi tidak normal. Uji wilcoxon
∆l : perubahan laba pada suatu periode signed rank test digunakan untuk
∆S : perubahan penjualan pada suatu menguji apakah ada perbedaan kualitas
periode informasi akuntansi sebelum dan
CV : koefisien variasi sesudah IFRS. Uji ini menggunakan dua
F. Teknik Analisis Data sisi (twotailed).
13

4. HASIL ANALISIS DATA DAN 2. Persistensi Laba


PEMBAHASAN Variabel persistensi laba minimum
A. Deskriptif Statistik sebelum dilakukan penerapan standar
akuntansi keuangan (Konvergensi IFRS)
adalah sebesar 0,016 dan maksimum
sebesar 0,996. Sedangkan variabel
persistensi laba minimum sesudah
dilakukan penerapan Standar Akuntansi
Keuangan (Konvergensi IFRS) adalah
sebesar 0,001 dan maksimum sebesar
0,998. Nilai rata-rata variabel persistensi
laba sesudah konvergensi IFRS
mengalami penurunan.
Hal ini terlihat dari rata-rata variabel
Berdasarkan data yang ada pada
persistensi laba sebelum penerapan
Tabel 1 di atas, hasil dari statistik
standar akuntansi keuangan
deskriptif dapat dijelaskan sebagai berikut:
(Konvergensi IFRS) adalah 0,648
1. Kualitas Akrual
dengan nilai berkisar antara 0,016 -
Variabel kualitas akrual minimum
0,996 sedangkan sesudah penerapan
sebelum dilakukan penerapan standar
standar akuntansi keuangan
akuntansi keuangan (Konvergensi IFRS)
(Konvergensi IFRS) adalah 0,516
adalah sebesar 0,0034 dan maksimum
dengan nilai berkisar antara 0,001 -
sebesar 0,2487. Sedangkan variabel
0,998. Dari keadaan ini terlihat
kualitas akrual minimum sesudah
penyimpangan variabel persistensi laba
dilakukan penerapan Standar Akuntansi
sesudah penerapan standar akuntansi
Keuangan (Konvergensi IFRS) adalah
keuangan (Konvergensi IFRS)
sebesar 0,0059 dan maksimum sebesar
cenderung meningkat tapi dengan angka
0,2558. Nilai rata-rata variabel kualitas
yang cukup kecil, dilihat dari standar
akrual sesudah konvergensi IFRS
deviasi yang meningkat dengan nilai
mengalami penurunan.
sebesar 0,322 sebelum penerapan
Hal ini terlihat dari rata-rata variabel
Standar Akuntansi Keuangan
kualitas akrual sebelum penerapan
(Konvergensi IFRS) menjadi 0,378
standar akuntansi keuangan
sesudah penerapan Standar Akuntansi
(Konvergensi IFRS) adalah 0,607
Keuangan (Konvergensi IFRS) terjadi.
dengan nilai berkisar antara 0,0034 -
0,2487 sedangkan sesudah penerapan 3. Prediktabilitas
Variabel prediktabilitas minimum
standar akuntansi keuangan
sebelum dilakukan penerapan standar
(Konvergensi IFRS) adalah 0,599
akuntansi keuangan (Konvergensi IFRS)
dengan nilai berkisar antara 0,0059 -
adalah sebesar 0,005 dan maksimum
0,2558. Dari keadaan ini terlihat
sebesar 1,00. Sedangkan variabel
penyimpangan variabel kualitas akrual
prediktabilitas minimum sesudah
sesudah penerapan standar akuntansi
dilakukan penerapan Standar Akuntansi
keuangan (Konvergensi IFRS)
Keuangan (Konvergensi IFRS) adalah
cenderung meningkat tapi dengan angka
sebesar 0,001 dan maksimum sebesar
yang cukup kecil, dilihat dari standar
1,00. Nilai rata-rata variabel
deviasi yang meningkat dengan nilai
prediktabilitas sesudah konvergensi
sebesar 0,0474 sebelum penerapan
IFRS mengalami penurunan.
Standar Akuntansi Keuangan
Hal ini terlihat dari rata-rata variabel
(Konvergensi IFRS) menjadi 0,0491
prediktabilitas sebelum penerapan
sesudah penerapan Standar Akuntansi
standar akuntansi keuangan
Keuangan (Konvergensi IFRS) terjadi.
14

(Konvergensi IFRS) adalah 0,635 B. Uji Normalitas


dengan nilai berkisar antara 0,005 – 1,00
sedangkan sesudah penerapan standar
akuntansi keuangan (Konvergensi IFRS)
adalah 0,572 dengan nilai berkisar antara
0,001 – 1,00. Dari keadaan ini terlihat
penyimpangan variabel prediktabilitas
sesudah penerapan standar akuntansi
keuangan (Konvergensi IFRS)
cenderung meningkat tapi dengan angka
yang cukup kecil, dilihat dari standar
deviasi yang meningkat dengan nilai
sebesar 0,326 sebelum penerapan
Standar Akuntansi Keuangan Berdasarkan Tabel 2 hasil uji
(Konvergensi IFRS) menjadi 0,339 normalitas di atas, diketahui bahwa pair
sesudah penerapan Standar Akuntansi difference dari variabel kualitas akrual,
Keuangan (Konvergensi IFRS) terjadi. persistensi laba, dan prediktabilitas
4. Perataan Laba terdistribusi normal dengan nilai
Variabel perataan laba minimum signifikansi 0,200>0,05, maka uji beda
sebelum dilakukan penerapan standar untuk variabel kualitas akrual, persistensi
akuntansi keuangan (Konvergensi IFRS) laba, dan prediktabilitas menggunakan uji
adalah sebesar -1395, dan maksimum Paired Sample t-test, sedangkan pair
sebesar 525,35. Sedangkan variabel difference dari variabel perataan laba tidak
perataan laba minimum sesudah terdistribusi secara normal dengan
dilakukan penerapan Standar Akuntansi signifikansi 0,000<0,05, maka uji beda
Keuangan (Konvergensi IFRS) adalah untuk variabel perataan laba menggunakan
sebesar -62,13 dan maksimum sebesar uji non parametik, yaitu menggunakan uji
68,29. Nilai rata-rata variabel perataan Wilcoxon.
laba sesudah konvergensi IFRS
mengalami peningkatan. C. Uji Hipotesis
Hal ini terlihat dari rata-rata variabel
perataan laba sebelum penerapan standar
akuntansi keuangan (Konvergensi IFRS)
adalah -23,22 dengan nilai berkisar
antara -1395,15 – 525,34 sedangkan
sesudah penerapan standar akuntansi
keuangan (Konvergensi IFRS) adalah
1,672 dengan nilai berkisar antara -62,13
– 68,29. Dari keadaan ini terlihat
penyimpangan variabel perataan laba
sesudah penerapan standar akuntansi
keuangan (Konvergensi IFRS)
cenderung menurun dengan angka yang
cukup tinggi, dilihat dari standar deviasi
yang menurun dengan nilai sebesar
258,49 sebelum penerapan Standar
Akuntansi Keuangan (Konvergensi
IFRS) menjadi 19,85 sesudah penerapan
Standar Akuntansi Keuangan
(Konvergensi IFRS) terjadi.
15

Tabel 3 diatas memperlihatkan Penerapan Standar akuntansi


hasil pengujian paired sample t-test untuk Keuangan (Konvergensi IFRS). Dari
perbedaan kualitas informasi akuntansi hasil analisis dapat diketahui bahwa
dari segi kualitas akrual, persistensi laba, nilai t-hitung sebesar 0,766 kecil dari
dan prediktabilitas, sedangkan Tabel 4 nilai t-tabel sebesar 2,034. Nilai
diatas memperlihatkan hasil pengujian signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar
wilcoxon untuk perbedaan kualitas
informasi akuntansi dari segi perataan maka H0 diterima. Hal ini berarti
laba. Perbedaan tersebut dijelaskan sebagai hipotesis kedua dalam penelitian ini
berikut: ditolak. Dengan demikian dapat
1) Hipotesis 1: Terdapat perbedaan disimpulkan bahwa untuk seluruh
kualitas akrual sebelum dan sesudah sampel yang diteliti dalam
penerapan Standar Akuntansi pengamatan, tidak terdapat perbedaan
Keuangan (Konvergensi IFRS). Dari prediktabilitas yang signifikan sebelum
hasil analisis dapat diketahui bahwa dan sesudah penerapan Standar
nilai t-hitung sebesar 0,104 kecil dari Akuntansi Keuangan (Konvergensi
nilai t-tabel sebesar 2,034. Nilai IFRS).
signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar 4) Hipotesis 4: Terdapat perbedaan
perataan laba Sebelum dan Sesudah
maka H0 diterima. Hal ini berarti Penerapan Standar akuntansi
hipotesis pertama dalam penelitian iini Keuangan (Konvergensi
ditolak. Dengan demikian dapat IFRS).Berdasarkan hasil perhitungan
disimpulkan bahwa untuk seluruh Wilcoxon Signed Rank Test, maka nilai
sampel yang diteliti dalam Z yang didapat sebesar -0,795 dengan
pengamatan, tidak terdapat perbedaan signifikansi (Asymp. Sig 2 tailed)
kualitas akrual yang signifikan sebesar 0.427 dimana besar dari batas
sebelum dan sesudah penerapan kritis penelitian ɑ = 0.05 (0.427 > 0.05)
Standar Akuntansi Keuangan sehingga hipotesis H0 diterima. Hal ini
(Konvergensi IFRS). berarti hipotesis keempat dalam
2) Hipotesis 2: Terdapat perbedaan penelitian ini ditolak. Dengan
persistensi laba Sebelum dan Sesudah demikian dapat disimpulkan untuk
Penerapan Standar akuntansi seluruh sampel yang diteliti dalam
Keuangan (Konvergensi IFRS). Dari periode pengamatan, tidak terdapat
hasil analisis dapat diketahui bahwa perbedaan perataan laba akuntansi
nilai t-hitung sebesar 1,536 kecil dari sebelum dan sesudah penerapan
nilai t-tabel sebesar 2,034. Nilai standar akuntansi keuangan
signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar (konvergensi IFRS).

maka H0 diterima. Hal ini berarti


hipotesis kedua dalam penelitian ini 5.PEMBAHASAN
ditolak. Dengan demikian dapat A. Terdapat Perbedaan Kualitas Akrual
disimpulkan bahwa untuk seluruh Sebelum dan Sesudah Penerapan
sampel yang diteliti dalam Standar Akuntansi Keuangan
pengamatan, tidak terdapat perbedaan (Konvergensi IFRS)
persistensi laba yang signifikan Berdasarkan hasil deskripsi data
sebelum dan sesudah penerapan pada Tabel 1, nilai mean (rata-rata)
Standar Akuntansi Keuangan variabel kualitas akrual sesudah
(Konvergensi IFRS). penerapan Standar Akuntansi Keuangan
3) Hipotesis 3: Terdapat perbedaan (Konvergensi IFRS) lebih rendah dari
prediktabilitas Sebelum dan Sesudah rata-rata variabel kualitas akrual
16

sebelum penerapan Standar Akuntansi terhadap pembuat laporan keuangan


Keuangan (Konvergensi IFRS). Nilai dan bahwa kualitas laporan keuangan
tersebut diperoleh dari standar deviasi pada akhirnya ditentukan oleh faktor
estimasi error dari rumus kualitas akrual ekonomi dan politik di negara
dimana nilai yang rendah bersangkutan yang mempengaruhi
mengindikasikan kualitas akrual yang insentif manajer dan auditor, dan bukan
tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semata-mata ditentukan oleh standar
setelah adanya penerapan standar akuntansi.
akuntansi keuangan pada perusahaan B. Terdapat Perbedaan Persistensi laba
manufaktur di Indonesia dapat Sebelum dan Sesudah Penerapan
meningkatkan kualitas akrual. Standar Akuntansi Keuangan
Meskipun secara absolut terdapat (Konvergensi IFRS)
perbedaan nilai rata-rata kualitas akrual Berdasarkan hasil deskripsi data
namun hasil pengolahan data secara pada Tabel 1, nilai mean (rata-rata)
statistik dan secara generalisasi variabel persistensi laba sesudah
memperlihatkan bahwa tidak terdapat penerapan Standar Akuntansi Keuangan
perbedaan yang signifikan antara (Konvergensi IFRS) lebih rendah dari
kualitas akrual sebelum dan sesudah rata-rata variabel persistensi laba
penerapan Standar Akuntansi Keuangan sebelum penerapan Standar Akuntansi
(Konvergensi IFRS). Keuangan (Konvergensi IFRS). Nilai
Dengan demikian dapat tersebut diperoleh dari koefesien
disimpulkan bahwa kebijakan determinasi (R2) dari rumus persistensi
penerapan Standar Akutansi Keuangan laba dimana nilai semakin mendekati 1
yang berbasis IFRS pada perusahaan mengindikasikan laba perusahaan yang
manufaktur, tidak mampu semakin persisten. Hal ini menunjukkan
meningkatkan kualitas informasi bahwa setelah adanya penerapan
akuntansi yang pada penelitian ini standar akuntansi keuangan pada
diukur dengan kualitas akrual. Atau perusahaan manufaktur di Indonesia
bisa dijelaskan bahwa penerapan dapat menurunkan persistensi laba.
Standar Akuntansi Keuangan Meskipun secara absolut terdapat
(Konvergensi IFRS) tidak perbedaan nilai rata-rata persistensi laba
menyebabkan perubahan atau namun hasil pengolahan data secara
perbedaan yang signifikan terhadap statistik dan secara generalisasi
kualitas akrual perusahaan manufaktur memperlihatkan bahwa tidak terdapat
selama tahun penelitian secara perbedaan yang signifikan antara
keseluruhan. persistensi laba sebelum dan sesudah
Penelitian ini sama hasilnya penerapan Standar Akuntansi Keuangan
dengan penelitian Kristanto, et al (Konvergensi IFRS).
(2014) yang menggunakan Dengan demikian dapat
discretionary accrual sebagai proksi disimpulkan bahwa kebijakan
dari kualitas laba yang menemukan penerapan Standar Akutansi Keuangan
bahwa kualitas laba tidak mengalami yang berbasis IFRS pada perusahaan
perubahan setelah adanya keharusan manufaktur, tidak dapat mampu
mengadopsi IFRS. Penelitian Kristanto, meningkatkan kualitas informasi
et al.(2014) juga menunjukkan bahwa akuntansi yang pada penelitian ini
standar berkualitas tinggi tidak selalu diukur dengan persistensi laba. Atau
menghasilkan informasi akuntansi bisa dijelaskan bahwa penerapan
berkualitas tinggi. Penelitian tersebut Standar Akuntansi Keuangan
menyimpulkan bahwa hal ini (Konvergensi IFRS) tidak
diakibatkan oleh buruknya insentif menyebabkan perubahan atau
17

perbedaan yang signifikan terhadap prediktabilitas. Meskipun secara absolut


persistensi laba perusahaan manufaktur terdapat perbedaan nilai rata-rata
selama tahun penelitian secara prediktabilitas namun hasil pengolahan
keseluruhan. data secara statistik dan secara
Tidak terdapatnya perbedaan yang generalisasi memperlihatkan bahwa
signifikan tersebut dikarenakan tidak tidak terdapat perbedaan yang
adanya perubahan yang berarti antara signifikan antara prediktabilitas
metode sebelum dan sesudah sebelum dan sesudah penerapan Standar
diadopsinya IFRS di Indonesia yang Akuntansi Keuangan (Konvergensi
masih didominasi oleh historical cost. IFRS).
Sanboy (2010) menjelaskan bahwa Dengan demikian dapat
sampai sekarang penggunaan historical disimpulkan bahwa kebijakan
cost masih lebih dipercaya oleh penerapan Standar Akutansi Keuangan
perusahaan dibandingkan penggunaan yang berbasis IFRS pada perusahaan
fair value. Hal tersebut dikarenakan fair manufaktur, tidak dapat mampu
value tidak dapat sepenuhnya berguna meningkatkan kualitas informasi
untuk pengambilan keputusan karena akuntansi yang pada penelitian ini
tidak memiliki reliabilitas.Meskipun diukur dengan prediktabilitas. Atau bisa
bermaksud baik namun perkiraan dijelaskan bahwa penerapan Standar
manajemen tentang fair value bisa Akuntansi Keuangan (Konvergensi
menjadi salah pada luas berbagai IFRS) tidak menyebabkan perubahan
prediksi dan asumsi yang salah, atau perbedaan yang signifikan
disaamping itu oportunistik dan terhadap prediktabilitas perusahaan
ketidakjujuran manajemen dapat manufaktur selama tahun penelitian
mengambil keuntungan dari penilaian secara keseluruhan.
dan estimasi yang digunakan dalam Penelitian ini sama hasilnya dengan
proses manipulasi dan mengurutkan penelitian Famila (2013), yang
angka pada hasil dalam angka menggunakan prediktabilitas sebagai
pendapatan yang diingin-kan. salah satu alat ukur kualitas laba yang
C. Terdapat Perbedaan Prediktabilitas menemukan bahwa tidak signifikannya
Sebelum dan Sesudah Penerapan nilai prediktabilitas antara laba sebelum
Standar Akuntansi Keuangan dan sesudah pengadopsian IFRS
(Konvergensi IFRS) dikarenakan tidak adanya perubahan
Berdasarkan hasil deskripsi data yang berarti antara metode sebelum dan
pada tabel 4.13, nilai mean (rata-rata) sesudah diadopsinya IFRS di Indonesia
variabel prediktabilitas sesudah yang masih didominasi oleh historical
penerapan Standar Akuntansi Keuangan cost, sehingga peningkatan kualitas laba
(Konvergensi IFRS) lebih rendah dari dari sisi prediktabilitas pada periode
rata-rata variabel prediktabilitas setelah pengadopsian IFRS kedalam
sebelum penerapan Standar Akuntansi PSAK tidak terbukti signifikan.
Keuangan (Konvergensi IFRS). Nilai D. Terdapat Perbedaan Perataan Laba
tersebut diperoleh dari koefesien Sebelum dan Sesudah Penerapan
determinasi (R2) dari rumus Standar Akuntansi Keuangan
prediktabilitas dimana nilai semakin (Konvergensi IFRS)
mendekati 1 mengindikasikan laba Berdasarkan hasil deskripsi data
perusahaan yang semakin prediktif. Hal pada tabel 4.13, nilai mean (rata-rata)
ini menunjukkan bahwa setelah adanya variabel perataan laba sesudah
penerapan standar akuntansi keuangan penerapan Standar Akuntansi Keuangan
pada perusahaan manufaktur di (Konvergensi IFRS) lebih tinggi dari
Indonesia dapat menurunkan rata-rata variabel perataan laba sebelum
18

penerapan Standar Akuntansi Keuangan IFRS yaitu IASB memiliki anggota


(Konvergensi IFRS). Nilai tersebut yang sebagian besar adalah negara
diperoleh dari rumus perataan laba maju. Oleh karena itu, IFRS belum
dimana nilai yang dari kurang dari satu tentu sesuai apabila diimplementasikan
1 mengindikasikan bahwa perusahaan di negara yang memiliki karakteristik
tersebut melakukan perataan laba. Hal berbeda dengan negara maju, sehingga
ini menunjukkan bahwa setelah adanya IFRS harus disesuaikan dengan jalan
penerapan standar akuntansi keuangan harmonisasi agar prosesnya dapat
pada perusahaan manufaktur di mengakomodasi perbedaan
Indonesia dapat mengurangi praktik karakteristik negara tersebut.
perataan laba. Meskipun secara absolut Konvergensi IFRS yang baru
terdapat perbedaan nilai rata-rata berlaku di Indonesia, belum sepenuhnya
perataan laba namun hasil pengolahan dapat diterapkan secara efektif sehingga
data secara statistik dan secara masih memungkinkan untuk terjadinya
generalisasi memperlihatkan bahwa praktik perataan laba.
tidak terdapat perbedaan yang Hasil menyeluruh dari penelitian ini
signifikan antara perataan laba sebelum dapat disimpulkan bahwa baik
dan sesudah penerapan Standar informasi akuntansi pada periode
Akuntansi Keuangan (Konvergensi sebelum maupun setelah pengadopsian
IFRS). IFRS memiliki kualitas yang relatif
Dengan demikian dapat sama. Hasil penelitian ini secara
disimpulkan bahwa kebijakan keseluruhan konsisten dengan
penerapan Standar Akutansi Keuangan penelitian Sianipar dan marsono (2013)
yang berbasis IFRS pada perusahaan yang menyatakan bahwa tidak terdapat
manufaktur, tidak dapat mampu perbedaan antara periode sebelum dan
meningkatkan kualitas informasi sesudah pengadopsian IFRS.
akuntansi yang pada penelitian ini Menurutnya, seperti yang dialami oleh
diukur dengan perataan laba. Atau bisa negara berkembang lainnya dalam
dijelaskan bahwa penerapan Standar melakukan konvergensi IFRS,
Akuntansi Keuangan (Konvergensi Indonesia diperkirakan akan
IFRS) tidak menyebabkan perubahan memperoleh dampak kurang siapnya
atau perbedaan yang signifikan infrastruktur yang mengakibatkan
terhadap tindakan perataan laba yang belum terlihatnya peningkatan dalam
dilakukan perusahaan manufaktur informasi laporan keuangan setelah
selama tahun penelitian secara adopsi penuh IFRS. Infrastruktur disini
keseluruhan. meliputi DSAK (Dewan Standar
Hasil ini konsisten dengan Akuntansi Keuangan) sebagai financial
penelitian Idris (2014), yang accounting standardsetter di Indonesia,
menyatakan bahwa tidak terdapat kondisi peraturan perundang-undangan
perbedaan praktik income smoothing yang belum tentu sinkron dengan IFRS
yang pada periode sebelum dan sesudah serta kurang siapnya sumber manusia
konvergensi IFRS. Idris (2014) dan dunia pendidikan di Indonesia.
menyatakan bahwa karakteristik suatu DSAK adalah perumus SAK yang
perusahaan atau negara yang berbeda- ada di Indonesia. Pada prakteknya
beda dapat menyebabkan konvergensi DSAK mendapatkan berbagai macam
IFRS tidak berjalan secara efektif. kritik. Diantaranya adalah minimnya
Karakteristik negara, partisipasi dari pihak-pihak yang
perusahaan,kondisi ekonomi dan berkepentingan dalam setiap exposure
perkembangan pasar dapat menjadi draft hearing PSAK yang baru akan
pertimbangan lain. Standard setter diberlakukan. Padahal untuk dapat di
19

“cap” kualitas generally accepted haruslah dapat memahami dengan baik


accounting principle / GAAP adalah apa itu IFRS. Tentunya SDM-SDM
harus melewati tahapan-tahapan yang yang berhubungan langsung dengan
diantaranya melibatkan seluruh laporan keuangan baik praktisi,
stakeholder yang terlibat. pemerintah, hingga akademisi. Salah
Regulasi yang berkaitan dengan satu kelemahan SDM Indonesia adalah
standar akuntansi dan pelaporan kesulitan dalam menerjemahkan IFRS.
keuangan di Indonesia tidak begitu Jadi dalam menerjemahkan dan
jelas. Terdapat banyak perundang- memahami IFRS membutuhkan waktu
undangan yang kurang mendukung yang tidak singkat. Padahal perubahan-
terhadap standar akuntansi dan perubahan di IFRS sangat cepat,
pelaporan keuangan. Di dalam IAS 16, sehingga saat IFRS yang sudah selesai
standar internasional memperbolehkan diterjemahkan terkadang IFRS yang
pengukuran aktiva tetap memakai tidak lagi berlaku. Kondisi ini
revaluation model(ditahun berikutnya berbanding terbalik dengan Negara lain
setelah aktiva di nilai berdasarkan nilai yang langsung mengambil teks asli
perolehannya. Perusahaan-perusahaan IFRS tanpa menerjemahkannya terlebih
di Indonesia dapat menerapkan dahulu.
revalution model(fair value accounting) 6.KESIMPULAN DAN SARAN
dalam pencatatan PPE (Property, Plan, A. Kesimpulan
and Equipment) mulai tahun 2008. Hal Berdasarkan hasil pengujian dan
ini adalah perubahan yang cukup besar analisis statistik data yang telah
karena selama ini revalution diuraikan sebelumnya dapat
modelbelum dapat diterapkan di disimpulkan bahwa:
Indonesia dan hanya bisa dilakukan jika 1. Tidak terdapat perbedaan yang
ketentuan pemerintah mengijinkan. signifikan antara kualitas akrual
Revaluation modelmemperbolehkan sebelum dan sesudah penerapan
PPE dicatat berdasarkan nilai wajarnya. standar akuntansi keuangan
Permasalahannya di Indonesia adalah (konvergensi IFRS).
sistem perpajakan yang tidak 2. Tidak terdapat perbedaan yang
mendukung standar ini. Bila aturan signifikan antara persistensi laba
perpajakan tidak mendukung, maka sebelum dan sesudah penerapan
dapat dipastikan perusahaan akan standar akuntansi keuangan
enggan menerapkan revaluation model. (konvergensi IFRS).
Selain karena sistem pajak, pemakaian 3. Tidak terdapat perbedaan yang
revaluation model dapat menambah signifikan antara prediktabilitas
pengeluaran perusahaan untuk sebelum dan sesudah penerapan
menyewa jasa penilai. Hal ini standar akuntansi keuangan
dikarenakan banyaknya aset tetap yang (konvergensi IFRS).
tidak memiliki nilai pasar sehingga 4. Tidak terdapat perbedaan yang
ketergantungan kepada jasa penilai signifikan antara perataan laba
(assessor) akan besar untuk menilai sebelum dan sesudah penerapan
aset-aset ini. standar akuntansi keuangan
Pada hakekatnya, IFRS hanyalah (konvergensi IFRS).
alat untuk mencapai kemudahan dalam B. Keterbatasan Penelitian
berinvestasi. Sumber daya manusia Beberapa keterbatasan penelitian
berperan penting dalam menggunakan ini antara lain:
dan mengoptimalkan alat tersebut 1. Penelitian ini hanya menggunakan
meskipun akan sedikit di bantu dengan sampel 34 perusahaan sektor
teknologi informasi. SDM di Indonesia
20

manufaktur, sehingga belum dapat Ayu, Dwi Sutra, Yeasy Darmayanti, Popi
menggeneralisasi hasil penelitian. Fauziati.2015.Analisis Komparatif
2. Penelitian ini hanya terbatas pada Kualitas Informasi Akuntansi
sampel yang digunakan serta periode Sebelum dan Sesudah Konvergensi
pengamatan yang masih terbilang IFRS. Padang: Jurnal Akuntansi
pendek pada perusahaan manufaktur Fakultas Ekonomi, Universitas
yang terdaftar di Bursa Efek Bung Hatta
Indonesia. Ball, R., Brown, P. 1968. An empirical
C. Saran evaluation of accounting income
Berdasarkan kesimpulan dan number, Journal of Accounting
keterbatasan penelitian di atas, maka Research
saran yang diberikan adalah sebagai Ball, R., Brown, S. P.2000. Kothariand A.
berikut: Robin, The effect of international
1. Bagi pihak investor, hasil penelitian institutional factor on properties of
ini dapat dijadikan sebagai dasar accounting earnings, Journal of
pertimbangan dalam pengambilan Accounting and Economics, 29:1-
ke-putusan investasi.Karna tinggi 51.
rendahnya kualitas informasi Barth, M. E., Landsman, W. R. dan Lang,
akuntansi akan mempengaruhi M.2008.International Accounting
keputusan investor dalam penanaman Standards and Accounting
investasi. Quality.Journal of Accounting
2. Bagi DSAK sebagai Financial Research, 46, 467-498
Accounting Standard Setter, Boediono, SB., Gideon. 2005. “Kualitas
sebaiknya lebih meingkatkan Laba : Studi Pengaruh Mekanisme
evaluasi kinerja. Corporate Governance dan
3. Bagi pihak pembuat regulasi, agar Dampak Manajemen Laba dengan
meningkatkan sinkronisasi antara Menggunakan Analisis Jalur”.
perundang-undangan dengan standar Simposium Nasional Akuntansi X.
akuntansi dan pelaporan keuangan Beijerink, M. 2008. Information Quality
sehingga dapat meminimalisir between IFRS and US GAAP.
kesulitan yang dihadapi oleh Enschede: Universiteit Twente
perusahaan dalam penerapan SAK Cahyonowati, Nur dan Dwi
berbasis IFRS. Ratmono.2012.Adopsi IFRS dan
4. Bagi peneliti selanjutnya disarankan Relevansi Nilai Informasi
untuk menambah sampel penelitian Akuntansi.Jurnal Akuntansi dan
pada perusahaan-perusahan Keuangan, Vol. 14, No. 2, 105-115
manufaktur yang terdaftar di Bursa Choi, Frederick. 2005. International
Efek Indonesia dan periode Accounting. Prentince Hall, New
pengamatan yang lebih panjang Jersey
sehingga hasil yang diperoleh akan Cornell, B and R.L. Wayne . 2003.
lebih menggambarkan kondisi Accounting Valuation: Is Earning
sesungguhnya. Quality an Issue? Financial
Analysts Journal, 59(6).
7. DAFTAR PUSTAKA Dechow, P. and I. Dichev. 2002. The
Alali, F. A. dan Foote, P.S.2012.The Value Quality of Accruals and Earnings:
Relevance Of International The Roleof Accrual estimation
Financial Reporting Standards: Errors. The Accounting Review,
Empirical Evidence in an Emerging 77 (Supplement), 35-59.
Market.Journal of Accounting Dechow, P., S. Kothari., and R. Watts.
Research,40(4), 965-986 1998. The Relation between
21

Earnings and Cash Flows. Journal Research Training Network: The


of Accounting andEconomics, 25, IFRS Revolution Compliance,
133-168. Consequences and Policy lessons.
Eckel, N. 1981. The Income Smoothing Ghozali, Imam. Dan Chariri, Anis. 2007.
Hypothesis Revisited. Journal of “Teori Akuntansi.” Edisi 3,
Accounting, Finance and Business Semarang: Badan Penerbit
Studies, (Online), Vol. 17, No. 1. Universitas Diponegoro.
Ecker, F.; J. Francis; I. Kim; P.M. Olsson; Hartono, Jogiyanto, 2005, “Pasar Efisien
and K. Schipper. 2006. “A Secara Keputusan”, Penerbit
ReturnBased Representation of Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Earnings Quality.” The Accounting Hendriksen, Eldon S. 2002. “Teori
Review, Vol. 81, No. 4, July: 749 – Akuntansi”, Edisi Keempat, Jilid I,
780. Erlangga, Jakarta.
Eisenhardt, Kathleem. (1989). Agency Idris. 2010. Aplikasi Model Analisis Data
Theory: An Assesment and Review. Kuantitatif dengan Program SPSS:
Academy of Management Review, Edisi Revisi III. Padang: Fakultas
14. Hal 57-74. Ekonomi UNP.
Fama, E.F. and K.R. French. 2002. “The Idris, Ika Puspita. 2014. “Perbandingan
Equity Premium.” The Journal Income Smoothing Sebelum dan
ofFinance, Vol. LVII, No. 2, April: Sesudah Konvergensi IFRS“.
637 – 659. Skripsi Fakultas Ekonomi dan
Famila, M. A. 2012. Perbandingan kualitas Bisnis Universitas Hasanuddin
laba antara periode sebelum dan Makassar.
setelah pengadopsian IFRS di Ikatan Akuntansi Indonesia. 2012. Standar
Indonesia. Depok: Skripsi pada Akuntansi Keuangan
Universitas Indonesia. Jensen, M. C and Meckling, W.H. 1976.
Francis et al. 2004. Cost of Equity and Theory of the Firm : Managerial
Earnings Attributes. The Behavior, Agency Costs and
Accounting Review Vol. 79 No. 4 Ownership Structure . Journal of
pp. 967-1010. Financial Economics,Oktober,
Francis J., Schipper, K.1999. Have 1976, V. 3, No. 4, pp. 305-360.
Financial Statement Lost Their Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt,
Relevance?, Journal of Accounting Terry D. Warfield. 2011.
Reseacrh. Intermediate Accounting. Edisi 14
Francis, Jennifer; Ryan LaFond; Per John Wiley and Sons, Inc.
Olsson; and Katherine Schipper. Leuz, C., Nanda, Dhananjay, Wyshocki,
2005. The Market Pricing of P.D. 2001. Erning Management
Accruals Quality. Available at : and Investors protection: an
www.papers.ssrn.com. internal comparison, Journal of
Freeman, R.N., Ohlson, J.A. and Penman, Financial Economics,
S.H. 1982. “Book rate-of return Mekani Vestari. 2012. “Pengaruh
and prediction of earnings EarningsSurprise Benchmark
changes: an empirical terhadap Prediktabilitas Laba dan
investigation‟, Journal of Return Saham”. Prestasi Vol.9
Accounting Research, Vol. 20, pp. No.1. Hal: 62-84
639-53. Meulen, van der, S., Gaeremynck, A., dan
Gurther, G. and Zoltan, N.2010. “ The Willekens, M.2007.Attribute
Effects of IFRS Adoption on the Differences Between US GAAP
Financial reporting Quality of and IFRS Earnings: An exploratory
European Banks.” MarieCurie
22

study.The International Journal Universitas Lampung, Bandar


ofAccounting, 42(2), 123-142 Lampung.
Karampinis, N. dan Hevas, Penman and X.J. Zhang. 2002.
D.2011.Mandating IFRS in an “Accounting Conservatism, the
Unfavorable Enviroment: The Quality of Earnings, and Stock
Greek Experience.The Return.” The Accounting Review,
International Journal of Vol. 77, No. 2, April: 237 – 264.
Accounting, 46, 304-332 Penman, S.H. 2003. Financial Statement
Kristanto, Septian Bayu, Krisnawati Analysis and Security Valuation.
Tarigan, Malem Ukur Tarigan. Second Editon: McGraw Hill.
2014. “Dampak Konvergensi IFRS Petreski, Marjan, 2006. “The Impact of
Terhadap Kualitas Laba dengan International Accounting Standard
Ukuran KAP Sebagai Variabel on Firms”.
Moderasi.” 3rd Economic & Putri, Firsty Kurnia. 2015. Menguji
Research Festival, ISBN: 978-979- Perubahan Kualitas Akrual dan
3775-55-5 Relevansi Nilai Laporan Keuangan
La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., Sebelum Dan Sesudah Full Adopsi
Shleifer, A. dan Vishny, IFRS. Jurnal Fakultas Ekonomi,
R.1998.Law and Finance.Journalof Universitas Surabaya
Political Economy, 106(6), 1113- Purba, Marisi P. 2010. “IFRS:Konvergensi
1155 dan Kendala Aplikasi di
Lipe, Robert. 1990. "The Relation Between Indonesia”. Yogyakarta:Graha
Stock Returns and Accounting Ilmu.
earnings Given Alternative Rahmawati.2012.Teori Akuntansi
Information." The Accounting Keuangan Edisi Pertama.
Review (January 1990): 49-71. Yogyakarta:Graha Ilmu
Mikhail, Michael B., Beverly R. Walther Richardson, S.2003. Earning Surprices and
and Richard H. Willis, 2003, “The Security Valuation, New York.
effects of experience on security NY: McGraw-Hill/Irwin
analyst underreaction”, Journal of Rohaeni, D. dan Aryati, T . 2012.
Accounting and Economics 35, Pengaruh Konvergensi IFRS
101-116. terhadap IncomeSmoothing dengan
Prastika, Nurhikma Esti, Yohani, Haifa Kualitas Audit sebagai Variabel
Kurniawati. 2014. “Analisis Moderasi. Simposium Nasional
Komparasi Terhadap Kualitas Akuntansi XV. Banjarmasin.
Informasi Akuntansi Sebelum dan Santi, P., Tawakkal, dan Pontoh, G.
Sesudah Penerapan Standar T.2012. Pengaruh Adopsi IFRS
Akuntansi Keuangan Internasional terhadap Manajemen Laba pada
di Indonesia”. Perusahaan Perbankan di Bursa
journal.stiemuhpkl.ac.id Efek Indonesia.
Pagalung, G. 2006. “Kualitas Laba: http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files.
Faktor-Faktor Penentu dan Schipper, K, and Vincent, L.2003, Earning
Konsekuensi Ekonominya.” Quality, Accounting Horizon
Disertasi, Universitas Gajah Mada Schipper, K.2004. “Earnings Quality.”
Yogyakarta,. Working Paper in Asia Pacific
Pahlevi. M.R. 2014. “Persistensi Laba Journal of Accounting and
Sesudah Adopsi Standar Akuntansi Economics Conference, Kuala
Internasional (IFRS)”, Program Lumpur, Malaysia.
Pascasarjana Ilmu Akuntansi, Sianipar, Glory Augusta E. M. Dan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Marsono.2013.Analisis Komparasi
23

Kualitas Informasi Akuntansi Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis.


Sebelum dan Sesudah Alfabeta, CV. Bandung.
Pengadopsian Penuh IFRS di Sunarto.2008. Peran Persistensi Laba
Indonesia.Diponegoro Journal of Memperlemah Hubungan
Accounting, Vol.2 No.3 Hal 1Santi, AntaraEarnings Opacity Dengan
P., Tawakkal, dan Pontoh, G. T. Cost Of Equitydan Trading
(2012). Pengaruh Adopsi IFRS VolumeActivity. Disertasi. Program
terhadap Manajemen Laba pada Studi Doktor Ilmu Ekonomi.
Perusahaan Perbankan di Bursa Universitas Diponegoro .Semarang.
Efek Indonesia. Tucker, J.W. and P.A. Zarowin. 2006.
Sloan, R. G. 1996.”Do Stock Prices Fully “Does Income Smoothing Improve
Reflect Information in Accrual and Earnings Informativeness?” The
Cash Flow about Future Accounting Review, Vol. 81, No. 1,
Earnings?”.The Accounting January: 251 – 270.
Review, Vol.71, No.3, July:289- Vincent, Linda. 2004. The Assessment and
315 Implications of Earning Quality:
Sonbay, Yolinda Yanti. 2010. An Investor’s Perspective. The Q-
“Perbandingan Biaya Historis dan Group.
Nilai Wajar”, Kajian Akuntansi,
Vol.2 No.1 Hal.1-8