Anda di halaman 1dari 9

TUGAS RUTIN II BAHASA INGGRIS

NAMA : ELIANA PURBA (8186181003)


MASLENI HARAHAP (8186181013)
TEORI-TEORI BELAJAR
TEORI TOKOH ISI IMPLEMENTASI
BEHAVIOUR Edward Lee Bahwa supaya tercapai Merencanakan materi
Thorndike hubungan antara stimulus pembelajaran yang akan
(1874-1949) dan respon, perlu adanya dibelajarkan Idealnya proses
kemampuan untuk pembelajaran yang
memilih respon yang tepat dilaksanakan oleh guru
serta melalui usaha-usaha benar-benar sesuai dengan
atau percobaan-percobaan apa yang diharapkan oleh
(trial) dan kegagalan – siswa dan juga sesuai
kegagalan (erorr) terlebih dengan kondisi siswa,
dahulu. Bentuk paling sehingga di sini guru tidak
dasar dari belajar adalah akan over-estimate dan
trial dan ​erorr d​ an atau under-estimate
berlangsung menurut terhadap siswa.
hukum-hukum tertentu. Namun kenyataan tidak
Oleh karena itu teori demikian adanya. Sebagian
belajar yang dikemukakan siswa ada yang sudah tahu
oleh Thorndike adalah dan sebagian yang lain
teori belajar belum tahu sama sekali
koneksionisme atau tentang materi yang akan
asosiasi. dibelajarkan di dalam kelas
Tiga hukum utama
dalam proses belajar yaitu
:
a. Hukum Latihan,
hukum ini
menjelaskan
kemungkinan kuat
atau lemahnya
hubungan stimulus
dan respon.

b. Hukum Pengaruh,
hukum ini menunjuk
kepada kuat atau
lemahnya hubungan
stimulus dan respon
tergantung.

c. Hukum Kesiapan,
menurut hukum ini
hubungan antara
stimulus dan respon
akan mudah terbentuk
mana kala ada
kesiapan dalam diri
individu (Sanjaya :
2008, 238-240).

Burhus Dalam proses belajar


Fredederic skinner, ​classical
Skinner conditioning ​menekankan
(1904-1990) pentingnya stimulus untuk
memunculkan respons
yang dikehendaki. Tipe ini
dikenal sebagai pilihan
stimulus yang
mengutamakan “apa yang
dilakukan agar timbul
perubahan tingkah laku
peserta didik. skinner
dalam teorinya guru
memberi penghargaan
sebagai pengelolah tingkah
laku, teori ini disebut
sebagai teori operant
conditioning diaman suatu
proses penguatan perilaku
operant yang dapat
mengakibatkan perilaku
tersebut diulang kembali
atau menghilang sesuai
keiinginan (Istiqomah
2016 : 27).
David Ausubel kebanyakan
ausabel orang belajar terutama
denga menerimadari orang
lain (reception learning).
Ausubel menonjolkan
corak berpikir deduktif.
Sebagai
konsekuensinya, Ausubel
mencanangkan mengajar
yang disebutkan
“mengajar dengan
menguraikan” (expository
teaching). Psikologi
pendidikan yang
diterapkan oleh Ausubel
adalah bekerja untuk
mencari hukum belajar
yang bermakna (Istiqomah
: 2016, 27).

Robert Menurut Gagne bahwa


Gagne dalam pembelajaran terjadi
proses penerimaan
informasi, untuk kemudian
diolah sehingga
menghasilkan keluaran
dalam bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya
interaksi antara
kondisi-kondisi internal
dan kondisi-kondisi
eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan
dalam diri individu yang
diperlukan untuk mencapai
hasil belajar dan proses
kognitif yang terjadi dalam
individu. Sedangkan
kondisi eksternal adalah
rangsangan dari
lingkungan yang
mempengaruhi individu
dalam proses
pembelajaran. Hal ini
memunculkan pemikiran
Gagne bahwa
pembelajaran harus
dikondisikan untuk
memunculkan respons
yang diharapkan.

Teori ini merupakan


Ivan sebuah prosedur
Petrovich penciptaan refleks baru
Pavlov dengan cara memberikan
stimulus sebelum
terjadinya refleks tersebut
sehingga dari eksperimen
tersebut mengangkat
beberapa prinsip (1)
Pengetaraan merupakan
suatu rangsangan alami
dapat membangkitkan
reaksi sel-sel sehingga
menghasilkan tindakan
balasan. (2) penularan
dimana reksi dari sel-sel
yang berada disekitar
berkenaan dengan
rangsangan alami. (3)
Generalisasi rangsangan
keadaan dimana organisme
memberikan balasan yang
sama terhadap rangsangan
tertentu. (4) Penghapusan
dimana suatu tindak balas
akan hilang secara
perlahan.

Konsep penting teori Hal-hal yang perlu


Teori psikologi yaitu phi diperhatikan dalam
KOGNITIF Kognitif phenomeon yaitu penerapannya:
Gestalt bergeraknya obejek satis (1)Mementingkan pengaruh
menjadi rangkaian gerakan linkungan.(2)Mementingkan
yang dinamis setelah bagian-bagian.(3)Mementin
dimunculkan dalam waktu gkan peranan reaksi.(4)
singkat dan demikian Mengutamakan mekanisme
memungkinkan manusia terbentuknya hasil belajar
melakukan interpretasi melalui prosedur stimulus
respon. (5) Mementingkan
Teori pembentukan kebiasaan
kognitif Proses belajar seseorang melalu latihan dan
piaget akan mengikuti pola dan pengulangan. (6)
tahap-tahap Mementingkan peranan
perkembangan sesuai kemampuan yang sudah
dengan umurnya. Piaget terbentuk sebelumnya. (7)
membagi tahap Hasil belajar yang dicapai
perkembangan kognitif adalah muncul perilaku
menjadi empat, yaitu : (1) yang diinginkan.
Tahap sensorimotor (0–1,5
tahun) (2) Tahap pra
operasional (1,5–6 tahun)
(3) Tahap operasional
konkret (6–12 tahun) (4)
Tahap operasional formal
(11/12 tahun ke atas)
(Rusman 2017:124-126).
Teori
Kognitif Langkah-langkah dalam
Ausubel menerapkan belajar
bermakna : (a)Advance
organizer Penyampaian
awal tentang kerangka isi
materi yang akan dipelajari
siswa, contoh : hand out
pelajaran. (b) Progressive
differensial materi
pelajaran disampaikan
bertahap, di awali konsep
umum kemudian
dilanjutkan ke hal yang
khusus. (c) Integrative
reconciliation Penjelasan
tentang kesamaan dan
perbedaan antara
kosep-kosep yang telah
dimiliki dengan konsep
yang baru dipelajari. (d)
Consolidation pemantapan
materi dengan
menghadirkan banyak
contoh
Teori
Kognitif Menurut Bruner,
Joronr perkembangan kognitif
Burner seseorang terjadi melalui
tiga tahap, yaitu : Tahap
enaktif : dalam memahami
dunia anak mengunakan
pengetahuan motorik :
sentuhan, pegangan dll.
Tahap ikonik : Seseorang
memahami objek-objek
atau dunianya melalui
gambar-gambar atau
visualisasi verbal. Tahap
simbolik : seseorang
memahami dunia melalui
simbol-simbol bahasa,
logika, matematika dll
Teori
Kognitif Ada delapan tingkat
Robert kemampuan belajar
Gagne menurut Gagne, dimana
kemampuan belajar pada
tingkat tertentu ditentukan
oleh kemampuan belajar
ditingkat sebelumnya.
Delapan tingkat
kemampuan belajar
tersebut adalah sbb : (1)
Signal Learning : dari
signal yang dilihat, anak
akan memberi respon
tertentu. (2) Stimulus –
response learning : seorang
anak akan memberi respon
fisik atau vokal setelah
mendapat stimulus
tertentu. (3) Chaining :
kemampuan anak untuk
menggabungkan dua atau
lebih hasil belajar S – R
yang sederhana (4) Verbal
assosiation : bentuk
penggabungan hasil
belajar yang melibatkan
unit bahasa seperti
memberi nama sebuah
obyek atau benda (5)
Multiple discrimination :
kemampuan untuk
menghubungkan beberapa
kemampuan chaining
sebelumnya (6) Concept
learning : anak mampu
memberi respon terhadap
stimulus yang hadir
melalui karakteristik
abstraknya. (7) Principle
learning : kemampuan
siswa untuk
menghubungkan satu
konsep dengan konsep
lainnya. (8) Problem
solving : siswa mampu
menerapkan
prinsip-prinsip yang telah
dipelajari untuk mencapai
satu sasaran (merupakan
tipe belajar yang paling
tinggi)

MASLOV Pembelajaran student


HUMANISTI Proses belajar yang ada centered learning dimana
K pada diri manusia adalah siswa diberi peran penting
proses untuk sampai pada dalam pengambilan
aktualisasi diri. Dalam keputusan. Sedangangkan
situasi ini belajar adalah guru adalah sebagai
memahami bagaimana fasilitator.
perbedaan individuals dan
menjadi manusia sama
seperti manusia yang
CARL lainnya.
RANSOM Organisme, pengalaman,
ROGER diri sendiri.

JOHN
DEWEY ● Kurikulum dirancang
KONSTRUK ● Belajar harus bersifat
sedemikian rupa
TIVIS
aktif, langsung terlibat,
sehingga terjadi situasi
berpusat pada siswa
yang memungkinkan
(SCL
pengetahuan dan
= Student-Centered
keterampilan dapat
Learning) dalam
dikonstruksi oleh peserta
konteks pengalaman
didik.
sosial
● Latihan memecahkan
JEAN ● Kesadaran sosial
PIAGET masalah seringkali
(1896-1980) menjadi tujuan dari
dilakukan melalui belajar
semua pendidikan
kelompok dengan
● Guru bertindak sebagai
menganalisis masalah
fasilitator
dalam kehidupan
sehari-hari
● Belajar mendasari pd
● Peserta didik diharapkan
pengamatan yg
selalu aktif dan dapat
melibatkan seluruh
menemukan cara belajar
indra, menyimpan
yang sesuai bagi
kesan lebih lama dan
dirinya.
menimbulkan sensasi
● Guru hanyalah berfungsi
Jerome yang membekas pada
Brunner sebagai mediator,
siswa
fasilitor, dan teman yang
membuat situasi yang
● Proses belajar terdiri kondusif untuk
dari 3 tahapan, yaitu terjadinya konstruksi
asimilasi,​ ​akomodasi,​ pengetahuan pada diri
dan ​equilibrasi peserta didik​.​
(penyeimbangan)
● Guru memfasilitasi
proses terjadinya
ketidakseimbangan
(disequilibrium)
Tiga tahap perkembangan
kognitif anak
- Enaktif (0 – 3
tahun),
- Ikonik (3-8 tahun),
- Simbolik (>8
tahun)
Belajar : upaya
membebaskan siswa untuk
belajar sendiri : ​discovery
(belajar dengan cara
menemukan)
Kurikulum spiral
pemberian materi dari
yang sederhana sampai
yang kompleks

KARAKTERISTIK SISWA
KLASIFIKASI KARAKTERISTIK SISWA
1. Pribadi dan Lingkungan
Umur, jenis kelamin, keadaan ekonomi orangtua, kemampuan pra sekolah, lingkungan
tempat tinggal
2. Psikis
Tingkat kecerdasan, perkembangan jiwa anak, modalitas belajar, motivasi, bakat dan minat
KLASIFIKASI KARAKTERISTIK SISWA BERDASARKAN POTENSI
1. Nativisme dimana anak yang baru lahir membawa bakat dan sifat tertentu.
2. Empirisme dimana perkembangan pribadi dipengaruhi oleh dunia diluar dirinya.
3. Konvergensi
CIRI-CIRI GURU
Dilihat dari kompetensinya ciri guru adalah sebagai berikut
1. Kompetensi pedagogik
Memiliki kemampuan dalam mengelola pembelajaran
2. Kompetnsi kepribadian
Berahlak mulia, arif, dan beribawa teladan bagi peserta didik
3. Kompetensi sosial
Kemampuan dalam berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik
4. Kompetensi profesional
Kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas
Ciri-ciri guru dapat dilahat dari aspek berikut ini
1. Selalu punya energi untuk siswanya
2. Punya tujuan yang jelas untuk pelajaran
3. Punya ketrampilan mendisiplinkan yang efektif
4. Punya ketrampilan manajemen kelas yang baik
5. Bisa berkomunikasi dengan orangtua yang baik
6. Pengetahuan tentang kurikulum
7. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
8. Selalu memberikan yang terbaik pada saat proses belajar mengajar
9. Punya hubungan yang berkualitas dengan siswa