Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS JURNAL

Pengaruh Implementasi Good Corporate Governance terhadap Permodalan dan Kinerja


Perbankan di Indonesia: Manajemen Risiko Sebagai Variabel Intervening

Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah


Manajemen Risiko dan Pasar Modal

Oleh

S1 AKUNTANSI

Achmad Galang Santoso 15080694014

Anis Riyanto 15080694082

Ratih Kusumawati 15080694110

Ilva Lasmuh Faruq 16080694029

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN AKUNTANSI

2018
ANALISIS JURNAL
Pengaruh Implementasi Good Corporate Governance terhadap Permodalan dan Kinerja
Perbankan di Indonesia: Manajemen Risiko Sebagai Variabel Intervening

1. Latar belakang jurnal

Jurnal tersebut ditulis dengan latar belakang masalah adanya risiko yang harus dihadapi
oleh perbankan, baik risiko internal maupun eksternal. Adanya risiko yang harus diahadapi
bank maka perlu dilaksanakan penilaian kesehatan bank umum di Indonesia yang
dimaksudkan agar bank-bank umum di Inodnesia dapat bertahan dalam menghadapi
tantangan dan risiko yang semakin kompleks. Aspek-aspek yang dimasukkan dalam
penilaian tingkat kesehatan bank antara lain adalah profil risiko, Good Corporate
Governance (GCG), rentabilitas, serta permodalan bank. Berbagai penelitian telah
membuktikan bahwa penerapan GCG berdampak positif terhadap permodalan dan kinerja
perbankan di Indonesia, contohnya penelitian yang dilakukan oleh Spong Sullivan (2007)
yang menemukan bahwa dewan direksi memiliki dampak positif terhadap kinerja
perbankan ketika direksi memiliki kepentingan keuangan yang sinifikan dalam bank,
selain itu posisi keuangan manajer dan direksi juga berpengaruh terhadap pengambilan
risiko serta risiko yang dihadapi oleh bank. Sedangkan berdasarkan penelitian oleh Chitan
(2012) yang menyatakan bahwa adanya komite GCG pada bank akan meningkatkan
kinerja perbankan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Athanasoglou (2011) menyatakan
bahwa bank dapat menjaga kelangsungan usahanya dengan meminimalkan risiko dan
meningkatkan modalnya. Namun pada penelitian Aebi et al (2011) justru menyatakan
bahwa manajemen risiko kredit berpengaruh negatif terhadap kinerja yang diukur dengan
ROE.

2. Metode penelitian
Penelitian tersebut dilakukan dengan mengambil objek seluruh industri perbankan yang
beroperasi di Indonesia pada tahun 2006-2012. Dalam penelitian ini variabel bebas
menggunakan nilai komposit GCG yang diperoleh dari laporan tahunan yang dierbitkan
perbankan. Variabel intervening adalah manajemen risiko yang diwakili dengan
manajemen risiko kredit yang diukur menggunakan NPL. NPL merupakan kredi
bermasalah dimana debitur tidak dapat memenuhi pembayaran pokok pinjaman dan bunga
dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Selain itu terdapat pula variabel terikat untuk
mengukur kinerja perbankan yakni ROE serta untuk mengukur permodalan yaitu dengan
menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR).

3. Hasil dan Kesimpulan


a. Pengaruh GCG terhadap manajemen risiko
Penerapan GCG yang baik dapat meminimalkan kredit macet yang ada pada bank.
b. Pengaruh Good Corporat Governanve terhadap dan permodalan bank
c. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap kinerja bank
Bank indonesia telah mengeluarkan peraturan tentang penilaian tingkat
kesehatan bank, dimana GCG termasuk salah satu indikator penilaiannya. GCG diukur
dengan menggunakan nilai komposit atau peringkat. Semakin tinggi nilai komposit
maka GCG yang diterapkan juga semakin buruk. Sedangkan kinerja bank diukur
menggunakan ROE. Semakin tinggi ROE pasti semakin baik pula kinerja suatu bank.
Namun berdasarkan hasil penelitian bahwasanya GCG tidak berpengaruh terhadap
Kinerja bank. Bank yang menerapkan GCG yang baik nilai ROE nya justru semakin
kecil. Hal ini dikarenakan kurangnya penyaluran kredit oleh bank kepada masyarakat
akibat penerapan prinsip kehati hatian. Sehingga berdampak pada penurunan laba serta
penurunan nilai ROE yang dimiliki bank.
d. Pengaruh manajemen risiko terhadap permodalan bank
Bank Indonesia telah menetapkan bahwa nilai NPL tidak boleh lebih dari 5%
dan nilai CAR minimal 8%. Sehingga apabila nilai NPL semakin rendah maka akan
semakin baik untuk perusahaan. Dan apabila semakin tinggi nilai CAR maka akan
semakin baik juga untuk perusahaan. CAR merupakan rasio kecukupan modal yang
menunjukkan kemampuan perbankan menyediakan dana yang digunakan untuk
mengatasi kemungkinan risiko kerugian. Hal ini penting arena menjaga CAR agar
tetap sesuai dengan batas yang ditentukan BI berarti juga melindungi nasabah dan
menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Seharusnya perusahaan yang
memiliki NPL tinggi akan memiliki CAR yang rendah, karena modal yang tersedia
digunakan untuk menutupi kredit yang bermasalah. Namun dari penelitian tersebut
Bank Anglomas menunjukkan NPL yang mencapai 2-4% memiliki nilai CAR yang
sangat tinggi yaitu 99,88%. Sehingga memiliki manajemen risiko kredit yang baik,
tidak menjamin akan dapat meningkatkan permodalan bank. Daoat disimpulkan bahwa
NPL tidak berpengaruh terhadap CAR
e. Pengaruh manajemen risiko terhadap kinerja Bank
Dengan adanya manajemen risiko kredit maka kredit macet diperbankan dapat
diminimalkan. Hal tersebut akan menjauhkan perbankan dari salah satu masalah yang
mengakibatkan kerugian. Semakin baik manajemen risiko dalam bank maka akan
semakin baik buka kinerja perbankan. Sehingga manajemen risiko berpengaruh
terhadap kinerja Bank.