Anda di halaman 1dari 9

SKALA PENILAIAN

Skala penilaian adalah salah satu bentuk pedoman observasi yang dipergunakan untuk
mengumpulkan data individu dengan menggolongkan, menilai tingkah laku individu atau
situasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
1. Bentuk-bentuk Skala Penilaian
Bentuk-bentuk skala yang dipakai antara lain: (1) kuantitatif; (2) deskriptif; (3) grafis.
Ketiga bentuk skala penilaian tersebut akan diuraikan satu-satu.
a. Skala penilaian kuantitatif
Skala penilaian kuantitatif adalah suatu bentuk pedoman observasi yang mendiskripsikan
aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam skala berbentuk bilangan atau
angka.Penilai cukup menandai indikasi tingkat sebuah karakteristik yang hadir.
b. Skala penilaian deskriptif
Skala penilaian deskriptif adalah suatu bentuk pedoman observasi yang mendiskripsikan
aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam skala berbentuk kata-kata diskriptif.
c. Skala penilaian dengan grafis
Skala penilaian grafis berbentuk rangkaian (continuum).
2. Langkah-langkah Penyelenggaraan Skala Penilaian
1) Tahap persiapan
2) Tahap pelaksanaan
3) Tahap analisis hasil
3. Keunggulan dan Kelemahan Skala Penilaian
a. Keunggulan-keunggulan Menggunakan Skala Penilaian
skala indicator yang digunakan lebih baik dari pada hanya sekedar jawaban ya atau tidak
dal ceklis, tidak seperti observasi yang lebih terbuka, skala penilaian memiliki indicator arahan
yang mewakili perilaku dan tingkat kerja sama dalm bersosialisasi.Skala penilaian tergolong
cepat dan mudah, karena dalam skala sudah tersedia bpenjelasan perilaku siswa, sehingga akan
lebih mudah melakukan penilaian. Skala penilaian dapat diaplikasikan secara langsung.
b. Kelemahan-kelemahan skala penilaian.
Guru biasanya menilai siswa berdasarkan interaksi sebelumnya atau berdasarkan emosi
dibandingkan dengan objektivitas. Penilaian yang berulang merepresentasikan sikap guru
terhadap siswa sebenarnya (linn & Gralund, 2000).
Skala penilaian adalah salah satu bentuk pedoman observasi yang dipergunakan untuk
mengumpulkan data individu dengan menggolongkan, menilai tingkah laku individu atau
situasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Skala penilaian memiliki kesamaan dengan ceklis.
Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dengan ceklis. Karena ceklis digunakan untuk
menandai apakah sebuah perilaku hadir atau tidak, sedangkan skala penilaian menghendaki
penilaian dilakukan menurut pertimbangan kualitatif menyangkut tingkat kehadiran sebuah
perilaku. Sebuah skala penilaian mengandung seperangkat karakteristik atau kualitas yang
harus diputuskan dengan menggunakan suatu prosedur yang sistematis. Skala penilaian
biasanya terdiri dari suatu daftar yang berisi gejala-gejala atau ciri-ciri tingkah laku yang harus
dicatat secara bertingkat, sehingga observer tinggal memberi tanda cek pada tingkat mana
gejala atau ciri-ciri tingkah laku itu muncul.

1. Bentuk-bentuk Skala Penilaian


Bentuk-bentuk skala yang dipakai antara lain: (1) kuantitatif; (2) deskriptif; (3) grafis.
Ketiga bentuk skala penilaian tersebut akan diuraikan satu-satu.
1) Skala penilaian kuantitatif
Skala penilaian kuantitatif adalah suatu bentuk pedoman observasi yang mendiskripsikan
aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam skala berbentuk bilangan atau
angka.Penilai cukup menandai indikasi tingkat sebuah karakteristik yang hadir. Sejumlah
nomor yang berurutan ditentukan untuk mendeskripsikan kategori-kategori. Keputusan penilai
diharapkan dalam menilai karakteristik-karakteristik tersebut. Satu system penilain dengan
angka yang umum digunakan sebagai berikut.
 Tidak memuaskan
 Di bawah rata-rata
 Rata-rata
 Di atas rata-rata
 Luar biasa
Skala angka menjadi sulit digunakan bila terdapat sedikit kesesuaian dalam penentuan nilai
atau angka. Dalam keadaan demikian maaka interpretasi bisa bervariasi. Contoh skala penilaian
dengan angka seperti pada Gambar 4 yang dikutip dari Gunarti dkk (2008).

Gambar 4: Contoh skala penilaian dengan angka


Evaluasi kegiatan anak di sentra bermain drama
Nama anak …………………………. Tema ……………………………
1
5 10
Skor Kemampuan Aspek Membutuhkan 3 7
Memuaskan Luar biasa
peningkatan
Kesesuaian dengan tema
yang kreatif dan tujuan
Keragaman peralatan yang
digunakan
Aktivitas bebas
Pengembangan keaksaraan
dan matematika awal
Sains, social dan kesehatan
terpadu
Evaluasi kegiatan siswa
Evaluasi sentra
bermaindrama

Total nilai …………………


Komentar …………………

2) Skala penilaian deskriptif


Skala penilaian deskriptif adalah suatu bentuk pedoman observasi yang mendiskripsikan
aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam skala berbentuk kata-kata diskriptif.

Pedoman Observasi : Skala Penilaian Deskriptif


I. Identitas Siswa
1. Nama : ...............................................................
2. kelas / program : ...............................................................
3. No. Induk / absen : ...............................................................
4. Jenis Kelamin : ...............................................................
5. Tempat / tgl. Lahir : ...............................................................
6. Hari /tgl. Observasi : ...............................................................
7. Tempat observasi : ...............................................................
8. Waktu : ...............................................................
II. Aspek yang di observasi : aktifitas diskusi
III. Petunjuk : berikan tanda cek (v) pada kolom yang
sesuai dengan gejala perilaku pada
individu yang anda amati

Alternatif
Pernyataan
Sering aktif jarang tdk.aktif
1. Mempelajari materi sebelum-nya
2. Mempelajari aturan/ perintah diskusi
3. Mempersiapkan kelengkapan diskusi
4. Mendengarkan .
5. Mengajukan pertanyaan
6. Menyampaikan gagasan
7. Menyanggah pendapat dengan baik
8. Menjawab pertanyaan
9. Mengerjakan tugas isian
10. Merangkum hasil.

Komentar / kesimpulan : ......................................................................................


...............................................................................................................................,
......................
Observer : ............................

3) Skala penilaian dengan grafis


Skala penilaian grafis berbentuk rangkaian (continuum). Satu set kategori dideskripsikan
pada poin-poin tertentu sepanjang baris, namun penilai dapat menandai keputusannya pada
salah satu tempat pada baris tersebut. Sebagai tambahan, skala penilaian grafis menyediakan
gambaran serangkaian visual yang membantu penilai meletakkan posisi jawaban secara benar.
Contoh deskripsi skala penilaian grafis seperti berikut.
1) Tidak pernah
2) Jarang
3) Sekali-sekali
4) Seringkali
5) Selalu

Lembar Pengamatan Terstruktur


Nama anak : ………………
Kelompok : ………………
Minggu ke :……………….
Kategori
Hari/tanggal Aspek Keterangan
S K Tp
Emosi dan sosialisasi
Melamun
Menangis
Menggangu teman
Berterimakasih
Catatan : S= sering
K= kadang-kadang
Tp= tidak pernah
2. Keunggulan dan Kelemahan Skala Penilaian
1) Keunggulan-keunggulan Menggunakan Skala Penilaian
Skala penilaian umumnya dapat digunakan untuk menilai sebuah karakteristik social anak,
ketika guru mencoba untuk menetukan kemampuan anak dalam bersosialisasi di dalam kelas,
skala indicator yang digunakan lebih baik dari pada hanya sekedar jawaban ya atau tidak dal
ceklis, tidak seperti observasi yang lebih terbuka, skala penilaian memiliki indicator arahan
yang mewakili perilaku dan tingkat kerja sama dalm bersosialisasi.
Skala penilaian tergolong cepat dan mudah, karena dalam skala sudah tersedia bpenjelasan
perilaku siswa, sehingga akan lebih mudah melakukan penilaian. Skala penilaian dapat
diaplikasikan secara langsung. Hal ini dikarenakan skala penilaian umumnya mudah
dimengerti dan universal,disebabkan karena indikator memberikan penjelasan yang
dibutuhkan dalam menilai.Skala penilaian umumnya konsisten sehingga guru dapat dengan
mudah mengembangkannya. Secara keseluruhan skala penilaian memberikan banyak
kemudahandalam menilai, hampir sama dengan ceklis tetapi indikator dalam skala penilaian
lebih terarah.

2) Kelemahan-kelemahan skala penilaian.


Skala penilaian dapat dikatakan subjektif, karenanya banyak kesalahan dalam melihat rata-
rata dan kesamaan dalam setiap permasalahan. Guru biasanya menilai siswa berdasarkan
interaksi sebelumnya atau berdasarkan emosi dibandingkan dengan objektivitas. Penilaian
yang berulang merepresentasikan sikap guru terhadap siswa sebenarnya (linn & Gralund,
2000).
Dalam skala penilaian terdapat perbedaan mengenai indikator penjelas juga merupakan
kelemahan skala, adanya perbedaan interpretasi antara “kadang-kadang dan jarang”. Skala
penilaian memberikan gambaran yang sedikit tentang perilaku. Seperti ceklis yang
mengindikasikan keberadaan perilaku, maka skala penilaian tidak memberikan informasi
tambahan dalam menjelaskan suasana yang sebenarnya. Tidak seperti observasi yang
membahas lebih komprehensif informasi mengenai keseluruhan aspek, namun juga
memberikan penjelasan mengenai sebab akibat.

Mengembangkan skala penilaian


Mutu skala penilaian juga tergantung dari kespesifikan dalam deskripsi penilaian ketika
merancang skala penilaian, ikuti beberapa langkah berikut:
a) Identifikasi hasil pembelajaran dari tugas yang diharapkan untuk dinilai.
b) tentukan karakteristik hasil pembelajaran yang sesuai untuk dinilai dalam skala. Karakteristik
haruslah bisa diamati secara langsung dan point-point dalam skala ditunjukkan dengan jelas.
c) Sediakan antara tiga atau tujuh posisi penilaian dalam skala. Jumlah point dalam skala akan
tergantung dari berapa banyak perbedaan yang jelas dalam level pemenuhan yang diperlukan
dalam penilaian.

B. Skala sikap
Skala sikap adalah berkenaan dengan perasaan (kata hati) dan manifestasinya berupa
perilaku yang bersifat positif (favorable) atau negatif (unfavorable) terhadap objek tertentu.
Objek tersebut bisa diri sendiri, orang lain, kegiatan, keadaan,lingkungan, dan lain sebagainya.
Thurstone mendefinisikan sikap sebagai derajat perasaan positif atau negatif terhadap suatu
objek yang bersifat psikologis. Sikap positif bisa diartikan sebagai menyukai, menyenangi,
menunjang, atau memihak terhadap objek tadi. Sedangkan sikap negatif bisa diartikan
sebaliknya.

Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.


 Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya, misalnya sikapterhadap
kebersihan.
 Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan denganobjek penilaian
sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah dipelajari dansebagainya.
 Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
 Menentukan skala dan penskoran.
 Penilaian tes skala sikap atas 3 komponen berikut :
a). Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap objek.
b). Komponen kongnisi adalah kepercayaan atau keyakinan yang menjadi pegangan seseorang.
c). Komponen konasi adalah kecenderunan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara
tertentu terhadap sesuatu objek.

1. Skala Likert
Dalam skala Likert, responden (subjek) diminta untuk membaca dengan seksama setiap
pernyataan yang disajikan, kemudian ia diminta untuk menilai pernyataan-pernyataan itu.
Penilaian terhadap pernyataan-pernyataan itu sifatnya subjektif, tergantung dari kondisi sikap
masing-masing individu. Faktor dari luar yang bisa mempengaruhi diusahakan tidak ada.
Derajat penilaian siswa terhadap suatu pernyataan terbagi ke dalam 5 (lima) kategori yang
tersusun secara bertingkat, mulai dari Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Netral
(N), Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS) atau bisa pula disusun sebaliknya. Dalam menganalisis
hasil angket, skala kualitatif di atas ditransfer ke dalam skala kuantitatif. Untuk pernyataan
yang bersifat positif (favorable) kategori SS diberi skor tertinggi, makin menuju ke STS skor
yang diberikan berangsur-angsur menurun. Sebaliknya untuk pernyataan yang bersifat negatif
(unfavorable) untuk kategori SS diberi skor terendah, makin menuju ke STS skor yang
diberikan berangsur-angsur makin tinggi. Jika secara cermat kita teliti, biasanya setiap
pernyataan yang disajikan dalam skala Likert ini, masing-masing memiliki konstribusi yang
berlainan terhadap sikap individu tersebut. Sehingga sudah seharusnya pemberian bobot (skor)
untuk setiap pernyataan berlainan pula. Pemberian skor untuk setiap pernyataan dengan
memperhatikan hal tersebut di atas tidak sembarang bisa ditentukan, melainkan harus melalui
uji coba terlebih dahulu. Bobot untuk setiap pernyataan tersebut sangat tergantung dari hasil
uji coba yang dilakukan. Pembicaraan mengenai bobot untuk setiap pernyataan untuk angket
yang dibuat akan ditentukan secara kasar saja, dengan mengasumsikan bahwa setiap
pernyataan yang disajikan memiliki konstribusi yang sama terhadap sikap individu secara
keseluruhan. Hal ini dimaksudkan agar pembuatan angket skala sikap model Likert ini bisa
mudah dipahami dan dilaksanakan.
Jika kita tidak menghendaki jawaban responden yang ragu-ragu (netral), dengan kata
lain siswa dituntut untuk menjawab angket secara konsekuen, bisa saja alternatif jawaban yang
disajikan menjadi 4 buah, tanpa alternatif N (netral). Dengan demikian pemberian skor untuk
setiap pernyataan adalah 1 (STS), 2 (TS), 4 (S), 5 (SS) untuk pernyataan favorable, sebaliknya
diberi skor 1 (SS), 2 (S), 4 (TS), 5 (STS) untuk pernyataan favorable.
2. Skala Thurstone
Selain skala Likert, skala lain yang banyak dipergunakan untuk mengungkapkan sikap
individu adalah Skala Thurstone. Skala Thurstone memuat jumlah pernyataan yang harus
dipilih oleh responden, yang masing-masing telah diberi skor (bobot) tertentu. Pada skala
Likert pembuat angket bisa saja mengasumsikan bahwa kontribusi setiap pernyataan terhadap
sikap dari seorang individu sama, tetapi dalam skala Thurstone justru hal ini dipentingkan.
Pernyataan yang kontribusinya terhadap sikap lebih tinggi diberi skor lebih besar, sebaliknya
pernyataan yang kontribusinya lebih rendah diberi skor lebih kecil. Dengan demikian dalam
skala ini pernyataan-pernyataan yang disajikan tidak dipilah ke dalam pernyataan yang
favorable dan unfavorable.
Berikut ini disajikan contoh angket yang disajikan dengan menggunakan model skala
Thurstone. Petunjuk: Pilihlah 5 (lima) buah pernyataan yang paling sesuai dengan sikap Anda
terhadap pelajaran matematika, dengan cara membubuhkan tanda cek () di depan nomor
pernyataan di dalam tanda kurung. ( ) 1. Saya senang belajar matematika. ( ) 2. Matematika
adalah segalanya buat saya. ( ) 3. Jika ada pelajaran kosong, saya lebih suka belajar matematika.
( ) 4. Belajar matematika menumbuhkan sikap kritis dan kreatif. ( ) 5. Saya merasa pasrah
terhadap ketidak-berhasilan saya dalam matematika. ( ) 6. Penguasaan matematika akan sangat
membantu dalam mempelajari bidang studi lain. ( ) 7. Saya selalu ingin meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan saya dalam matematika.
Dibandingkan dengan skala Likert, skala Thurstone hanya menyajikan butir pernyataan
yang sedikit sehingga aspek sikap yang bisa diungkapkan relatif sedikit pula. Namun demikian
skala Thurstone mempunyai kelebihan pada ketajaman pernyataan untuk mengungkapkan
sikap tersebut, sehingga lebih sedikit kemungkinan responden untuk menjawab dengan cara
menebak. Untuk mengurangi kelemahan di atas, di samping cara pemberian skor yang cukup
rumit, untuk setiap aspek mengenai sikap bisa dibuat satu set (10 butir) pernyataan. Misalkan
dari segi materi matematika, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, sistem evaluasi, sarana
dan prasarana, masing-masing 10 butir pernyataan sehingga seluruh aspek sikap terhadap
matematika bisa terungkap.

3. Skala Guttman
Pada skala sikap model Guttman, tingkat ketajaman kontribusi pernyataan terhadap sikap
yang akan diungkapkan lebih jelas lagi, sebab jawaban terhadap pernyataan pertama disusul
(dilacak) oleh pernyataan kedua, dan pernyataan kedua disusul lagi oleh pernyataan ketiga, dan
seterusnya. Pernyataan berikutnya merupakan pelacak tentang jawaban pada pernyataan
sebelumnya. Jadi setiap pernyataan yang disajikan saling terkait, tidak saling lepas satu sama lain.
4. Skala Diferensial Semantik
Skala Diferensial Semantik mula-mula dikembangkan oleh Osgood dan kawan-kawan.
Skala ini menuntut responden untuk memberikan penilaian tentang suatu obyek atau keadaan
dengan memberikan tanda pada kontinum (selang) pernyataan yang ditulis ekstrimnya, yaitu
ekstrim negatif dan ekstrim positif. Titik tengah kontinum itu sebagai titik netral (nol). Untuk
memberikan skor pada jawaban siswa, tempat-tempat tertentu pada kontinum itu diberi nilai, mulai
dari nilai negatif menuju nilai positif, dari kiri ke kanan. Skala penilaian yang biasa dipergunakan
adalah -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3 atau bisa juga ditulis sebaliknya. Jika nilai rerata yang diperoleh seorang
individu lebih besar daripada nol, maka ia mempunyai sikap positif, sebaliknya jika kurang
daripada nol maka ia bersikap negatif.